dosis obat.docx

Click here to load reader

Post on 27-Nov-2015

57 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

PendahuluanPeran perawat dalam pemberian obat dan pengobatan telah berkembang dengan cepat dan luas seiring dengan perkembangan pelayanan kesehatan. Perawat diharapkan terampil dan tepat saat melakukan pemberian obat. Tugas perawat tidak sekedar memberikan pil untuk diminum atau injeksi obat melalui pembuluh darah, namun juga mengobservasi respon klien terhadap pemberian obat tersebut. Oleh karena itu, pengetahuan tentang manfaat dan efek samping obat sangat penting untuk dimiliki perawat.Perawat memiliki peran yang utama dalam meningkatkan dan mempertahankan dengan mendorong klien untuk proaktif jika membutuhkan pengobatan. Dengan demikian, perawat membantu klien membangun pengertian yang benar dan jelas tentang pengobatan, mengkonsultasikan setiap obat yang dipesankan, dan turut bertanggung jawab dalam pengambilan keputusan tentang pengobatan bersama tenaga kesehatan lainnya.Keberhasilan promosi kesehatan sangat tergantung pada cara pandang klien sebagai bagian dari pelayanan kesehatan, yang juga bertanggung jawab terhadap menetapkan pilihan perawatan dan pengobatan, baik itu berbentuk obat alternative, diresepkan oleh dokter, atau obat bebas tanpa resep dokter. Sehingga, tenaga kesehatan terutama perawat harus dapat membagi pengetahuan tentang obat-obatan sesuai dengan kebutuhan klien.Obat dan PengobatanObatadalah substansi yang berhubungan fungsi fisiologis tubuh dan berpotensi mempengaruhi status kesehatan.Pengobatan / medikasiadalah obat yang diberikan untuk tujuan terapeutik / menyembuhkan.Obat atau medikasi dapat dikenal orang dengan nama-nama yang berlainan. Nama kimia suatu obat menunjukkan isi atau unsur-unsur kimia yang terdapat didalamnya. Nama tersebut menunjukkan susunan atom-atom kimia dalam rantai strukturnya, contoh : nama kimia dari agent anti-inflamasiibuprofenadalah 2-(4 isobutylpnenyl) asam propionate.Nama resmi suatu obat dibuat dan disetujui oleh lembaga resmi pemerintah yang bertanggung jawab. Di Indonesia lembaga yang bertanggung jawab adalah Badan Pengawasan Obat dan Makanan (POM) Depkes RI. Nama resmi obat lebih dikenal dengan sebutan nama generic obat atau obat generic. Setiap jenis obat hanya mempunyai 1 nama generic yang lebih sederhana bila dibandingkan dengan nama kimianya. Contohnya adalah obat-obat yang dikenal denganibuprofen, asetominofen atau morfin.Nama merk atau merk dagang suatu obat adalah nama obat terdaftar yang dibuat oleh produsen obat. Merk dagang suatu obat biasanya terdiri dari nama kimia dan nama produsen obat, contoh : Paramex adalah gabungan nama generic paracetamol dengan produsen obat yaitu konimex, afitamol, dll.Standar Pengobatan NasionalBanyaknya jenis obat yang diproduksi dan beredar di masyarakat, mendorong pemerintah untuk menetapkan standard danquality controlterhadap obat-obat yang akan dipasarkan kepada masyarakat. Pemerintah melalui Badan POM membagi produk obat berdasarkan bahan dasar obat, bentuk fisik dan kimia, tes atas keaslian zat penyusun, metode penyimpanan, kategori obat dan dosis normal per pengggunaan.Karena banyaknya jenis obat yang diproduksi (therapeutics explosion) oleh industri farmasi setiap tahunnya yang diikuti dengan informasi produk yang obyektifitasnya masih diragukan. Selain itu, bersamaan dengan perkembangan produk obat-obatan, informasi yang berkaitan dengan perkembangan obat tersebut juga semakin banyak, sehingga diperlukan suatu pelayanan informasi obat dan makanan kepada masyarakat yang dapat menjamin diperolehnya informasi yang benar dan obyektif.Pemerintah melalui Pusat Informasi Obat dan Makanan (PIOM) Badan POM menjadi rujukan pusat informasi obat yang ada di Indonesia dengan mengembangkan dan membina semua bentuk pelayanan informasi obat.Pemerintah melalui Kebijakan Obat Nasional yang ditetapkan pada tahun 1983 mengendalikan dan mengawasi semua obat sebelum diedarkan dipersyaratkan melalui penilaian kemanfaatan, keamanan dan mutu obat di BPOM RI. Peraturan ini tidak hanya berlaku untuk obat baru tapi juga obat copy atau termasuk juga obat generic. Obat copy adalah obat yang dibuat didalam negeri dengan mencontoh komponen obat inovatornya atau yang terlebih dulu dibuat dan diedarkan sebagai obat paten. Obat copy diperlukan untuk melakukan penilaian atas mutunya untuk membuktikan bahwa obat copy mempunyai kemanfaatan dan keamanan yang sama dengan inovatornya sehingga dalam penggunaannya dapat dipertukarkan dengan inovatornya. Metode pengujian yang diterima secara internasional adalah uji bioekivalensi. Prinsip dasar uji bioekivalensi adalah membandingkan proses penyerapan, metabolisme, dan pengeluaran dari tubuh inovatornya.Jenis dan Tipe ObatObat dapat diklasifikasikan melalui beberapa cara, antara lain berdasarkan bahan kimia penyusunnya, efek yang ditimbulkan baik didalam laboratorium maupun tubuh manusia. Pengetahuan tentang klasifikasi obat tentang manfaat, efek samping, dan indikasi obat dibutuhkan terutama untuk obat-obat yang belum dipublikasi secara umum.Dibawah ini adalah table tentang klasifikasi obat (Tabel 1.1) dan bentuk sediaan obat (Tabel 1.2).Tabel 1.1 Klasifikasi Obat yang Digunakan Untuk Meningkatkan Fungsi TubuhStatus kesehatanKelas ObatKerja Obat dalam Tubuh

Aktivitas dan LatihanAntihipertensiAntiaritmiaInotropikAntianginaAntikoagulanBronkodilatorMenurunkan tekanan darahMengatur irama jantungMenguatkan kontraksi jantungMeningkatkan aliran darah koronerMenghancurkan gumpalan darahMembersihkan jalan nafas

Nutrisi dan MetabolismeAntibiotikAntiemetikAntasidInsulinKortikosteroidTiroidVitamin & MineralMencegah dan menghilangkan infeksiMenurunkan rasa mual / nauseaMenurunkan asam lambungMenurunkan kadar gula darahMenurunkan reaksi peradangan / inflamasiMengatur laju metabolismeSuplemen untuk intake nutrisi inadekuat

EliminasiLaksativeAntidiareDiuretikMemperlancar pengeluaran fesesMenyembuhkan diareMeningkatkan produksi urine dan pengeluaran urine

Tidur dan IstirahatKognisi dan PersepsiSedative, HipnosisAnalgesikAntipsikotikMeningkatkan tidurMenurunkan nyeriMenurunkan gejala psikotik (halusinasi)

Koping dan Stress adaptasiSeksualitas dan ReproduksiAntiansietasAntidepresanHormon ovariumMenurunkan ansietasMenurunkan depresiMenghasilkan pengganti hormonMenghasilkan pengendalian kelahiran (KB)

Tabel 1.2 Tabel Bentuk Sediaan ObatBentuk SediaanKeterangan

Sediaan Obat OralKapsulEliksirEmulsiPelapis enteralLozenge (troche) / tablet hisapBubukSuspensi / LarutanSirupTabletTincturePembungkus terbuat dari gelatin yang berisi bubuk atau cairan obatSediaan obat cair dengan pelarut alcoholObat dalam bentuk suspensi / larutan kentalPelapis khusus yang hanya larut ketika berada di usus dan tidak dilambung karena sifatnya mengiritasi lambungTablet yang dapat dilarut dimulut (dihisap)Bentuk dasar obat, dilarutkan dengan air sebelum digunakanBentuk obat cair yang harus dikocok sebelum digunakan karena biasanya terpisah dari larutannyaObat dalam bentuk larutan air dan gulaBentuk padat bubuk obat (bulat, elips) yang dapat dibelah menjadi 2 bagian. Dapat dilapisi gula atau lapisan tipis untuk membantu daya kohesiLarutan sangat kental yang larut dalam alcohol, biasanya berasal dari tumbuhan dan dalam dosis kecil

Sediaan Obat TopikalKrimGel atau jellyLinimentLotionSalepPastaSuppositoriaTransdermal patchSediaan obat dalam bentuk semisolid, tidak lengket / berminyakSediaan semisolid yang transparan / bening yang mencair saat mengenai kulitCairan mengandung minyak yang digosokkan pada kulitSuspensi cair atau kental, digunakan pada kulitObat yang dikombinasikan dengan larutan minyakCairan / salep yang kental untuk kulitObat yang mengandung gelatin (dibuat agar mudah diserap tubuh), hancur sesuai dengan suhu tubuh dan perlahan diserap oleh tubuh.Obat dalam bentuk sediaan plester, digunakan pada kulit untuk secara bertahap mengontrol penyerapan obat pada kulit.

Obat dapat juga dikelompokkan menjadi obat tanpa diresepkan (obat bebas), dengan resep dan obat herbal.Obat bebasadalah obat yang dapat dibeli atau didapatkan tanpa adanya resep dari tenaga kesehatan yang berwenang. Obat-obat ini dijual bebas ditoko-toko atau apotik. Hal tersebut dikarenakan obat-obat yang dijual bebas telah dinyatakan aman untuk dikonsumsi tanpa adanya resep / pengawasan dari tenaga kesehatan. Contoh obat bebas yang umum dijual dan dikonsumsi masyarakat adalah obat pereda gejala flu dan analgesic ringan seperti aspirin dan asetominofen. Menjadi tugas Badan POM untuk mengkontrol keamanan, efektivitas, dan publikasi obat-obat bebas.Obat bebas masih dianggap aman ketika langsung dikonsumsi. Namun, bahaya obat-obatan bebas sering terjadi karena penyalahgunaan obat-obat tersebut. Banyak orang lebih memilih mengkonsumsi obat sendiri daripada datang kepada tenaga kesehatan untuk mendapatkan bantuan, bahkan banyak pula yang tidak dapat tertolong karena keterlambatan penanganan oleh tenaga kesehatan.Obat dengan resepadalah obat yang diperjualbelikan secara legal. Untuk pasien-pasien tertentu, dibutuhkan pengawasan medis dalam pengunaan obat-obatan dikarenakan keamanan akan efek terapi dan resiko keracunan akibat dosis yang diberikan. Dokter bertanggungjawab dalam meresepkan obat. Namun, dalam kondisi tertentu perawat atau asisten dokter dapat juga meresepkan obat.Obat herbal atau tumbuhan obatadalah obat-obatan yang digunakan berasal dari tumbuhan dan belum mengalami proses kimia dilaboratorium. Walaupun penggunaan obat-oabatan herbal ini sudah sangat luas dimasyarakat, namun penggunaannya masih jarang dimasukkan kedalam riwayat kesehatan klien. Perawat harus mengkaji penggunaan obat-obat herbal ini. Contoh tanaman obat adalah ginko biloba yang dapat digunakan untuk meningkatkan sirkulasi darah dan fungsi kognitif.Banyak orang mengira bahwa obat herbal sangat aman karena semua bahannya yang berasal dari alam. Namun, menilai hal tersebut menjadi sulit karena obat herbal tidak memiliki standar kualitas dan pengaturan yang resmi dari pemerintah. Beberapa obat herbal dapat mengakibatkan kegawat