dinamika perekonomian eropa

Download Dinamika Perekonomian Eropa

Post on 17-Nov-2015

218 views

Category:

Documents

1 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Dinamika Perekonomian Eropa Dari Masa ke Masa

TRANSCRIPT

STUDI KAWASAN EROPADinamika Perekonomian Eropa pada Abad ke-20:Studi Kasus: Tindakan Prancis Terhadap Krisis Finansial di Eropa Tahun 2000an

Oleh: Kelompok PrancisAria Rahadi

115120402111001Nur Chanifah

125120400111006Muhammad Farizal Hanafi125120400111033

Kemala Putri Dewi 125120400111058

Akh. Rizki M.

125120400111047Dosen Pembimbing:

Firstyarinda Valentina Indraswari, S.Sos., M.Si

HUBUNGAN INTERNASIONAL

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2014Pendahuluan

Sebelum terjadinya Perang Dunia Pertama, Eropa merupakan penggerak perekonomian dunia. Eropa menjadi sumber modal, barang dan jasa, serta manusia ke seluruh dunia. mayoritas negara di Mediterania dan Eropa Timur menerima remitansi dari para emigrannya. Namun masa-masa ini kemudian berakhhir pada Agustus 1914 dengan meletusnya Perang Dunia Pertama.

Perang Dunia IEfek Terjadinya Perang

Seperti yang di katakan di atas bahwa perekonomian Eropa yang dahulu sangat maju kemudian dihancurkan oleh terjadinya Perang Dunia. Perang Dunia Pertama merusak Eropa Kuno, sedangkan Perang Dunia Kedua adalah yang secara jelas merubah tatanan perekonomian Eropa. Perang mengakhibatkan korban kemausiaan yang sangat besar, serta kerusakan fisik di sebagian besar wilayah Belgia, Prancis, Galicia atau bekas Kekaisaran Ottoman

Eropa dan Ekonomi GlobalPerang membuat pola baru dalam hubungan keuangan dan perdagangan. Produksi industri di luar Eropa meningkat secara dramatis. Perang Dunia Pertama memperjelas bahwa Amerika Serikat bukan lagi negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat dan bukan lagi pusat kekuatan pertumbuhan ekonomi, namun sudah menyebar pula di Samudra Atlantik. Meskipun begitu, Amerika Serikat memiliki status baru sebagai kreditur utama piutang antar pemerintah, dengan piutang kepada Inggris dan Prancis ($10.3 milyar) yang membuat dua negara ini melanjutkan keterlibatan mereka dalam perang. Posisi Inggris dan Prancis melemah karena mereka juga meminjam uang kepada pemerintah Rusia. Inggris meminjam $6.5 milyar dari AS, dan $10.4 milyar dari pemerintah lain. Revolusi 1917 mempersempit kesempatan membayar hutag-hutang tersebut.Masalah Keuangan DomestikPerang juga mengakhibatkan management keuangan domestik negara-negara yang berperang. Bagian besar dari perang idak bisa diacuhkan hanya dengan peminjaman domestik, layanan hutang tersebut hampir tidak bisa diacuhkan menghasilkan anggaran defisit. Setelah perang, semua pemerintah menghadapi sebuah pilihan untuk membayar hutang perang melalui moneter deffisit oleh bank sentral. Konsekuensi inflasi akan melongsorkan penghargaan klaim melawan pemerintah; meruntuhkan masa kejayaan perekonomian Eropa. Awal tahun 1920an, pemerintah Eropa Barat memilih untuk stabilisasi anggaran mereka dan reward the rentier. Biaya untuk mendeflasi dan tingkat pengangguran yang tinggi di Inggris dan Prancis.

Pilihan dari pemerintah Eropa tengah untuk tidak melakukan stabilisasi secara cepat berbuah malapetaka. Austria, Hungaria, Polandia dan Jermanmengalami inflasi dan hyper-inflasi. Ketidakstabilan harga membuat perencanaan bisnis dan strategi investasi jangka panjang menjadi mustahil. Ketika negara-negara itu distabilkan, mereka membutuhkan bantuan eksternal: Austria dan Hungarian oleh LBB (pada tahun 1922 dan 1923), Jerman oleh sebuah badan pinjaman konsorsium untuk perbaikan tahun 1924 (The Dawes Plan). Harapan dari semuanya dalam upaya stabilisasi adalah untuk mengembalikan keteraturan ekonomi yang kemudian akan mengembalikan kepercayaan diri dan juga pemasukan uang asing untuk rekonstruksi.

Short-lived Prosperity

Harapan tersebut kemudian terealisasikan. Pertengahan 1920an, investasi Amerika mengalir ke Eropa. Sebagian untuk membantu mereorganisasi bisnis Eropa dalam garis yang lebih modern. Produsen mobil Amerika mengakuisisi perusahaan Eropa: Ford menanam modal di Cologne, General Motors mengakuisisi pabrik Adam Opel.

Tapi kebanyakan investasi Amerika salah arah. Eropa tidak siap menerimanya. Contohnya, untuk membangun pelabuhan utama di sebuah pulau di Danubedekat Budapest di Csepel menghadapi realitas bahwa negara pengganti kekaisaran Astro-Hungaria menerapkan level tarif yang tinggi. Produsen mobi murah merasa bahwa pasar Eropa belum maju. Mobil pada masa itu masih merupakan barang mewah, pabrikan kecil, dan bisa menyediakan produk mahal, punya keunggulan kompetitif. Kesemuanya itu, investasi Amerika terikat pembelian: otoritas pemerintah kota, yang digunakan untuk ketetapan infratruktur kota, perumahan, jalan, membuatan ulang fasilitas, dll yang mempunyai keuntungan sosial yang tinggi (dan juga membawa keuntungan politis kepada pemerintah bertanggung jawab kepada mereka) tapi tidak membawa hasil yang langsung.

The Great Depression

Aliran modal Amerika mengering akhir tahun 1920an, sebagian karena keraguan terhadap pembangunan Eropa dan sebagian lagi karena keuntungan investasi AS meningkat. Pasca the crash of the New York stock market pada Oktober 1929, beberapa aliran kembali, tapi investor Amerika merasa khawatir dan pasca 1930, sehingga Eropa hanya memperoleh modal kecil dari AS. Menjelang Akhir tahun 1920an, prospek Eropa memburuk, situasi perdagangan yang memburuk adalah penyebab utama, tapi ditambah juga dengan masalah yang disebabkan oleh stabilisasi finansial.

Kembalinya standar emas dirasa oleh banyak ahli menjadi cara terbaik menjamin para investor melawan pegambilalihan dan juga cara terbaik untuk mendasari kebangkitan perdagangan internasional. Tahun 1925, Inggris kembali menggunakan emas pada paritas masa sebelum perang; tahun 1926 Prancis menstabilisasi mata uangnya. Namun awal 1930an, mata uang semua negara Eropa, kecuali Spanyol, menganut paritas pada emas.Mata uang paling penting di Eropa adalah Poun sterling dan French franc. Tarif tukar Inggris yang tinggi memerlukan keluarnya kebijakan deflasi moneter untuk mencegah laju dari Pondsterling. Prancis, yang memiliki pengalaman inflasi yang tinggi sebelum stabilisas, menerima masukan aliran yang cukup substansial dari emas pasca 1926, tapi menetralkannya (contoh tidak diizinkannya cadangan emas yang baru untuk digunakan sebagai basis penciptaan moneter tambahan). Hasilnya, sistem ini menumbuhkan bias deflasi: Inggris, sebagai negara yang defisit (karena overvalued), dipaksa menutup perjanjian dan Prancis (dan US yang juga punya gold inflow) tidak mengalami inflasi.

Dihadapkan pada diflasi di negara-negara utama, penggunaan tarif dimana-mana adalah respon yang logis sebagai bagian dari strategi untuk mencegah penyebaran deflasi secara internasional. Penyebaran proteksionisme menerima dorongan tambahan ketika tahun 1930 Amerika Serikat mengadopsi tarif Smoot-Hawley. Negara-negara lain merespon dengan menaikkan tarif, menerapkan kuota dan hambatan yang lainnya.. Masalah moneter dari Eropa menghasilkan perang perdagangan satu melawan yang lainnya. Dari sudut pandang setiap negara, respon tersebut rasional; tapi dampak dari semua itu adalah setiap orang harus membayar harga yang tinggi dalam rangka mengurangi output, kapasitas yang tidak digunakan serta jatuhnya investasi dan konsumsi. Dampak dari depresi yang terjadi masih terasa hingga pecahnya perang dunia kedua, di sebagian besar negara, meskipun produksi sudah bisa diatasi namun pengangguran masih dalam level yang tingggi.

Depresi Internasional yang terjadi pada akhir 1920an dan awal 1930an diperparah oleh 2 mekanisme tambahan. Sejak 1925, harga-harga barang agrikultur mulai turun. Pembanguna ini dapat diprediksi: pasar produk-produk agrikultur relatif kaku, dan produksi Eropa mengalami pemulihan yang lama dari pupuk dan kekurangan tenaga mausia pada perang mengalami surplus di pasar internasional memaksa harganya untuk turun. Bagi kebanyakan negara yang berhutang modal import di Eropa Timur dan Tengah (juga negara di Amerika Latin), satu-satunya cara untuk layana eksternal hanya bersandar pada ekspor produk-produk agrikultur. Ketika harganya turun, produsen harus menjual lebih banyak. Ketika produsen menjual lebih banyak, harganya akan semakin turun. Contohnya, Ekspor tepung Hungaria naik dua kali lipat antara tahun 1929 dan 1932, namun hasil dari ekspor menurun karena harganya turun.

Selain itu, perkembangan ekonomi riil mengganggu sektor keuangan, yang pada gilirannya mendorong guncangan lebih lanjut ke output. Turunnya harga yang dramatis mengurangi nilai aset bank dan membuat bank-bank Eropa bangkrut. Mereka merespon dengan memotong kembali kredit kepada kostumer mereka, kadang memaksa mereka menutup bisnis mereka. ketika para depositor baik dalam maupun luar negeri menyadari meluasnya masalah ini, semuanya menjadi panik, dan penarikan mengakhibatkan penutupan bank. Bank-bank Eropa bangkrut seperti domino pasca ditutupnya bank terbesar di Vienna, the Creditanstalt pada Mei 1931. Bank runtuh di Austria lalu di Hungaria dan Jerman, juga Amerika Serikat, yang semakin memperparah proses deflasi. Bank-bank juga berusaha menyelamatkan diri dengan menarik kredit, mereka mendorong perusahaan manufaktur yang masih rentan dalam kebangkrutan.

Respon terhadap depresi

Depresi ekonomi di masa antara 2 perang merupakan salah satu peristiwa paling traumatis, dimana para pengambil kebijakan dan ekonom berusaha mencari cara agar hal ini tak terulang kembali. Ekonom Inggris, Keynes, menulis sebuah artikel di 1933 yang menekankan pada pemenuhan kebutuhan nasional secara mandiri. Keynes menyarankan kebijakan tariff untuk menghentikan deflasi dan memutus hubungan dengan standar emas dalam sistem moneter internasional. Inggris yang sudah tidak memakai standar emas sejak tahun 1931, pelan-pelan mulai berhasil memperbaiki perekonomian mereka, ditandai dengan meningkatnya konsumsi dan kredit. Sedangkan negara-negara blok emas seperti Belgia, Perancis, Belanda, dan Swiss masih meng