diktator konstitusional dan hukum pengecualian dalam kenyataan sejak zaman romawi kuno bahwa...

Download DIKTATOR KONSTITUSIONAL DAN HUKUM PENGECUALIAN dalam kenyataan sejak zaman Romawi kuno bahwa pemerintahan

Post on 26-Jun-2020

2 views

Category:

Documents

1 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • 1

    DIKTATOR KONSTITUSIONAL DAN HUKUM PENGECUALIAN

    Oleh Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH.

    A. PENDAHULUAN

    Di semua negara konstitusional modern, ketika merumuskan apa saja aturan-aturan

    dasar bernegara yang perlu dituangkan dalam satu naskah konstitusi sebagai kesepakatan

    tertinggi mengenai pola-pola yang diidealkan dalam hubungan (i) di antara sesama warga

    negara, (ii) antara warga negara dengan organ-organ atau jabatan-jabatan pemerintahan

    negara, dan (iii) antar organ, lembaga, atau jabatan-jabatan bernegara itu satu sama lain

    dalam praktik kehidupan berbangsa dan bernegara, serta (iv) dalam hubungan antara negara

    dan warganegara dengan subjek hukum asing, baik dengan warga negara asing, dengan

    negara lain yang berkepentingan, atau dengan organisasi internasional lainnya, di dalam

    wilayah Indonesia atau di luar wilayah Indonesia. Pola-pola hubungan itu, selalu menekankan

    prinsip kebebasan dan kemerdekaan, prinsip keadilan dan kesetaraan, prinsip kesejahteraan,

    prinsip kerukunan, perdamaian dan solidaritas.

    Dalam struktur dan sistem ketatanegaraan yang bersifat domestik, biasanya selalu

    ada pengaturan mengenai pola-pola hubungan saling mengimbangi dan saling

    mengendalikan antar fungsi-fungsi kekuasaan negara (checks and balances) di antara antar

    organ-organ negara, prinsip-prinsip jaminan kebebasan dan hak asasi manusia, mekanisme

    pengambilan keputusan yang demokratis dan berdasar atas hukum dan konstitusi, sesuai

    dengan prinsip demokrasi dan negara hukum modern dengan menempatkan cabang

    kekuasaan kehakiman secara tersendiri sebagai kekuatan pengimbang dan pengendali yang

    bersifat independen. Jka kepentingan politik dan bisnis bersengketa, harus ada pihak ketiga

    yang diharapkan bersikap imparsial untuk memutus dengan keadilan. Jika cabang kekuasaan

    eksekutif dan legislatif tidak menemukan solusi untuk keluar dari persengketaan, maka

    kekuasaan pengadilanlah yang dipercaya untuk memutuskan solusi yang berkeadilan.

    Namun, semua aturan-aturan konstitusional yang baik itu seringkali terbentur dengan

    kasus-kasus keadaan tidak normal yang sering terjadi dalam praktik. Misalnya, jika timbul

    perang atau terjadi konflik bersenjata di suatu negara, atau bencana alam di luar kuasa

    manusia, seperti banjir bandang, gelombang tsunami, angin badai, liquipaksi, gunung

    meletus, ataupun kebakaran hutan yang luas, yang merusak lingkungan sekitar,

    menghancurkan suatu pemukiman di banyak kota, menyebabkan timbulnya keadaan darurat

    yang memerlukan tindakan-tindakan pemerintahan yang cepat dan mendesak, yang

    seringkali harus dilakukan dengan menabrak dan menerobos segala aturan yang berlaku

    dalam keadaan normal, atau bahkan dengan cara melanggar aturan-aturan konstitusi itu

    sendiri. Karena itu, konstitusi modern di dunia biasanya memuat ketentuan yang khusus

    untuk menghadapi keadaan yang bersifat darurat seperti itu. Inilah yang biasa dinamakan

    sebagai “the state of emergency”.

    Di dalamnya diatur pemberian kewenangan khusus dalam keadaan darurat

    (emergency powers) kepada presiden sebagai pemegang kekuasaan pemerintahan atau

  • 2

    kepada otoritas konstitusional lainnya untuk (i) mendeklarasikan dan menetapkan berlakunya

    dan berakhirnya keadaan darurat itu, (ii) menerbitkan aturan-aturan yang bersifat sementara

    selama dalam keadaan darurat dengan menangguhkan pelbagai jaminan hak dan kebebasan,

    menangguhkan pelbagai proses penegakan hukum dan sebagainya, dan (iii) memerintahkan

    tindakan-tindakan pemerintahan yang dalam keadaan normal dapat dinilai melanggar

    undang-undang dalam rangka mengatasi dan memulihkan keadaan agar segera kembali

    menjadi normal serta melakukan tindakan penyelamatan untuk kepentingan seluruh

    penduduk.

    Tujuan paling konservatif dengan pemberian kekuasaan darurat (emergency powers)

    ini tidak lain agar ancaman bahaya dapat diatasi sedemikian rupa sehingga keadaan negara

    dapat segera kembali pulih dengan sistem hukum yang normal kembali berfungsi. Menurut

    hasil studi John Ferejohn dan Paquale Pasquino,1 tujuan konservatif demikian juga tercermin

    dalam kenyataan sejak zaman Romawi kuno bahwa pemerintahan eksekutif tidak

    diperbolehkan mengadakan perubahan sepihak secara permanen terhadap sistem hukum

    dan konstitusi, kecuali hanya untuk sementara waktu karena timbulnya keadaan darurat.

    Karena itu, dikatakan bahwa:

    “Emergency powers, exercised in this conservative way, have long been thought to be a

    vital and, perhaps, even an essential component of a liberal constitutional—that is, a

    rights-protecting—government. They are the key to resolving the dilemma faced by such

    governments when they are under either external or internal attack.”

    B. MODEL-MODEL KEKUASAAN DARURAT (Models of Emergency Power)

    Menurut John Ferejohn dan Pasquale Pasquino, ada tiga yang mereka sebut sebagai

    “models of emergency powers” dalam perkembangan sejarah, yaitu:

    1) Roman Dictatorship model;

    2) Neo-Roman Model of Constitutional Emergency Power) Konstitusi Weimar 1919 dan

    Konstitusi Perancis 1958); “Vested in the elected executive head of government).

    3) Legislative Model of Emergency Powers; the law of exception menurut John Ferejohn dan

    Pasquale Pasquino.

    Pemerintahan darurat model Romawi menurut Ferejohn dan Pasquino ditemukan

    Kembali oleh para filosof modern seperti Nicollo Machiavelli, Baron de Montesquieu, dan J.J.

    Rousseau2 dalam mengembangkan ide-ide modern tentang republic. Atas rujukan

    1 John Ferejohn dan Paquale Pasquino, The Law of the Exception: A Typology of Emergency Powers (2004), hal. 210-212. John Ferejohn adalah Carolyn S. G. Munro Professor of Political Science and Senior Fellow, The Hoover Institution, at Stanford, University and Vis iting Professor at New York University School of Law. Sedangkan Paquale Pasquino adalah Research Director, CNRS, France, and Visit ing Professor of Politics and Law and New York University. 2 Niccolo Machiavelli, Discources on Livy, ch. 34; James Harrington, The Commonwealth of Oceana 88 (1656), Lihat http://www. constitution.org /jh/oceana.htm (“But whereas it is incident to commonwealths, upon emergencies requiring extraordinary speed or secrecy, either through their natural delays or unnatural haste, to incur equal danger, while holding to the slow pace of the ir orders, they come not in time to defend themselves from some sudden blow; or breaking them for the greater speed, they but haste to their own destruction; if the Senate shall at any time make election of nine knights-extraordinary, to be added to the Council of War, as a juncta for the term of three months, the Council of War with the juncta so added, is for the term of the same Dictator of Oceana, having power to levy men and money, to make war and peace, as also to enact laws, which shall be good for the space of one year (if they be not sooner repealed by the Senate and the people) and for no longer time, except they be confirmed by the Senate and the people. And the whole

    http://www/

  • 3

    pengalaman dari pemerintahan darurat dari zaman Romawi itulah maka para perancang

    Konstitusi Weimar Jerman tahun 1919, dan Konstitusi Perancis tahun 1958 berkeyakinan

    mengenai pentingnya merumuskan pasal yang memberikan kekuasaan khusus kepada

    penguasa untuk menghadapi ancaman bahaya yang mendesak terhadap rezim atau terhadap

    eksistensi negara.

    “Roman Dictatorship” yang ditemukan kembali oleh para filosof modern yang

    menggambarkannya sebagai pemerintahan darurat (emergency powers) yang kekuasaannya

    diberikan oleh Senate yang terdiri atas 10 orang wakil rakyat kepada pejabat pemerintahan

    yang terdiri atas 2 orang Consuls untuk memegang kendali pemerintahan tertinggi dan

    termasuk untuk memegang komando atas kekuatan tentara (armies). Namun kekuasaan

    dalam keadaan darurat itu hanya diberikan untuk sementara waktu, yaitu hanya selama 6

    bulan saja. Selain itu, seperti dikatakan oleh Sanford Levinson dan Jack M. Balkin, “The Roman

    dictatorship limited the time of the dictatorship and separated the institution that declared

    the emergency from the person who exercised power.”3 Yang mendeklarasikan adalah Senate,

    dan yang memimpin pelaksanaannya adalah Consuls.

    Selama masa 6 bulan itu, penguasa keadaan darurat memimpin pemerintahan

    dengan cara-cara yang di luar aturan yang biasa untuk maksud mengatasi semua ancaman

    bahaya sampai keadaan dapat dipulihkan kembali dan kehidupan berjalankan sebagaimana

    sebelumnya. Menurut Niccolo Machiavelli, dalam keadaan normal, kedudukan Senate

    Romawi memang sangat menentukan. Senate kota Romawi berwenang menerbitkan

    peraturan-peraturan, keputusan-keputusan, dan bahkan efektif memimpin operasional

    pemerintahan dalam hal kedua Consuls sedang bepergian keluar kota. Ke-10 orang wakil

    rakyat itu bertanggungjawab kepada “popular assemblies”, dan setiap wakil rakyat itu

    mempunyai hak veto atas semua keputusan dan tindakan yang dilakukan oleh Senate sebagai

    institusi yang pada awal sejarah pembentukannya beranggotakan 10 orang anggota yang

    mewakili warga kota Romawi, dan 2 orang Consuls yang dit