diabetes mellitus

Download Diabetes Mellitus

Post on 20-Jul-2016

64 views

Category:

Documents

7 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

tentang diabetes mellitus

TRANSCRIPT

EpidemiologiDM menduduki peringkat keenam (4,6%) penyebab kematian di kelompok masyarakat berumur 15-44 tahun di perkotaan. DM juga menduduki peringkat kedua (14,7%) penyebab kematian pada kelompok masyarakat berumur 45-54 tahun di daerah perkotaan dan peringkat keenam (5,8%) di daerah pedesaan. Berdasarkan diagnosis atau gejala, DKI Jakarta dan Aceh memiliki prevalensi DM tertinggi di Indonesia (2,6% dan 1,7%). Sementara itu, Lampung serta Sumatera Selatan, Bengkulu, dan Maluku memiliki prevalensi DM terendah (0,4% dan 0,5%). Berdasarkan morbiditas pasien rawat inap DM di Indonesia tahun 2009, kasus DM tertinggi pada kelompok pasien berumur 45-65 tahun, kemudian diikuti dengan kelompok pasien berumur di atas 65 tahun, dan pasien berumur 25-44 tahun. Mortalitas DM di rumahsakit menunjukkan 74,3% pasien meninggal disebabkan oleh DM tipe 2 dan 25,7% oleh DM tipe 1.4

Patog/patof

DiagnosisKriteria diagnosis:

1. A1C 6,5%. Uji A1C ini harus dilakukan di laboratorium yang telah disertifikasi oleh NGSP dan berstandarisasi DCCT assay. Atau:2. Kadar gula darah puasa 126 mg/dL (7 mmol/L). Puasa berarti tidak mengonsumsi kalori selama kurang lebih 8 jam sebelumnya. Atau:3. Kadar gula darah 2 jam 200 mg/dL (11,1 mmol/L) pada proses Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO). TTGO dilakukan sesuai dengan standar WHO. Pertama-tama lakukan sesuai prosedur menguji kadar gula darah puasa. Setelah mendapat hasil kadar gula darah puasa, pasien harus meminum 75 gram glukosa yang telah dilarutkan pada air. Kemudian pasien harus berpuasa kembali dan setelah 2 jam, pasien diperiksa kadar gula darahnya kembali. Atau:4. Pasien yang mengalami gejala klasik hiperglikemia atau krisis hiperglikemia dengan kadar gula darah sewaktu 200 mg/dL (11,1 mmol/L).Semua uji harus diulang apabila tidak terdapat gejala hiperglikemia yang jelas.12Diabetes kehamilan juga dapat didiagnosis berdasarkan nilai glukosa plasma yang diukur selama TTGO, caranya adalah pasien harus mendapat gizi cukup (karbohidrat 150 gram perhari) dan melakukan aktivitas fisik seperti biasanya, tanpa pantangan selama minimal 3 hari. Setelah itu, pasien harus berpuasa selama 8-14 jam. Pasien harus berdiam diri dan tidak merokok selama tes. Kemudian pasien diberikan minuman menggunakan 75 gram atau 100 gram glukosa dalam cairan untuk ujian. Kadar glukosa darah diperiksa empat kali selama tes (apabila menggunakan 100 gram glukosa) atau tiga kali (apabila menggunakan 75 gram glukosa). Minimal 2 kriteria harus positif.13

Tabel 1. Hasil TTGO diabetes kehamilan(13)100 gram glukosa75 gram glukosa

Pada puasa 95 mg/dL 95 mg/dL

Pada 1 jam 180 mg/dL 180 mg/dL

Pada 2 jam 155 mg/dL 155 mg/dL

Pada 3 jam 140 mg/dL.

KomplikasiDM tipe 2 dapat mengarah kepada komplikasi mikrovaskuler dan makrovaskuler. Komplikasi mikrovaskuler meliputi mata, ginjal, dan sistem saraf. Pada mata, biasanya terjadi retinopati mengenai makula (makulopati) dan dapat terjadi hilangnya penglihatan. Pada ginjal, biasanya terjadi nefropati dan mikroalbuminaria (ekskresi albumin di urin lebih banyak daripada normal dan tidak dapat terdeteksi dengan reagen urin biasa) menjadi gejala awal pada diabetes nefropati. Diabetes nefropati dapat mengarah pada gagal ginjal stadium akhir yang dengan itu membutuhkan transplantasi ginjal. Pada sistem saraf dapat terjadi neuropati dan sekuelnya seperti ulkus kaki dan perlu diamputasi. Komplikasi makrovaskuler seperti infark miokardial, struk, dan kelainan vaskuler perifer. DM dapat membuat terajdinya infark miokardial dan struk 2-4 kali lipat pada pria, dan sampai dengan 10 kali lipat pada wanita premenopause. Enam puluh sampai dengan tujuh puluh lima persen kematian pada pasien DM tipe 2 disebabkan oleh penyakit kardiovaskuler.21

Tatalaksana.

Tujuan utama dalam pengelolaan DM tipe 2 adalah untuk mencapai dan mempertahankan kadar gula darah, lipid, dan tekanan darah yang optimal, guna mencegah atau memperlambat terjadinya komplikasi kronis. Banyak pasien DM tipe 2 mencapai kadar gula darah optimal dengan melakukan modifikasi diet dan olahraga, menurunkan berat badan, menjalankan kebiasaan yang baik, dan meminum obat anti diabetes atau insulin. Diet dan olahraga merupakan pilar utama dalam terapi DM tipe 2, namun ketika intervensi farmakologis sudah diberikan, perubahan gaya hidup harus lebih diperhatikan.14

Modifikasi diet: Makanan yang mengandung lemak tinggi dapat menyebabkan penurunan toleransi glukosa oleh beberapa mekanisme termasuk penurunan ikatan insulin dengan reseptornya, transportasi glukosa yang terganggu, penurunan jumlah glikogen sintase dan akumulasi dari trigliserida yang disimpan di otot skeletal. Asam lemak yang terdapat dalam makanan akan mempengaruhi jaringan fosfolipid sehingga mengubah fluiditas membran dan sinyal insulin.15Prinsip utama dalam melakukan aktivitas fisik sebagai salah satu penanganan DM tipe 2 adalah mengurangi aktivitas pasif seperti menonton televisi dan menggunakan komputer, dan meningkatkan penggunaan energi dalam kegiatan sehari-hari seperti menggunakan tangga daripada elevator dan memarkir kendaraan di tempat yang lebih jauh.18

Aktivitas fisik: Aktivitas fisik yang direkomendasikan adalah olahraga aerobik minimal 150 menit perminggu dengan intensitas sedang.19 Olahraga aerobik yang dimaksud contohnya seperti berjalan, bersepeda, berenang, menari, atau jogging.17 Pada pasien yang kurang fit, intensitas dapat diatur hingga 50-60% dari denyut jantung maksimal atau yang dapat meningkatkan denyut jantung saat istirahat sebesar 20 kali per menit.2 Aktivitas tersebut harus dilakukan minimal 3 hari per minggu dengan jarak antara 2 olahraga minimal 2 hari karena efek dari sekali olahraga, sensitivitas insulin berlangsung selama 24-72 jam tergantung durasi dan intensitas olahraganya.19 Lima sampai 10 menit pertama dimulai dengan pemanasan dan harus selalu ditutup dengan pendinginan.2 Melakukan olahraga berat secara berlebihan 4 jam per minggu akan meningkatkan resiko terkena penyakit kardiovaskuler. Apabila tidak ada kontraidikasi, pasien dapat melakukan aktivitas resisten dengan tujuan semua kelompok otot 3 kali per minggu. Pada olahraga resisten, sensitivitas insulin berlangsung lebih lama daripada olahraga aerobik, mungkin karena efeknya dimediasi dengan peningkatan massa otot. Untuk memaksimalkan manfaat dari aktivitas ini dan mengurangi resiko cedera, perlu dilakukan pengawasan awal oleh para ahli.19Sebelum melakukan olahraga, sebaiknya pasien memeriksa kadar gula darahnya.20 Bagi pasien DM tipe 2 yang terapi farmakologisnya terdiri dari insulin atau secretagogue, harus memeriksakan kadar gula darah kapiler sebelum, setelah, dan beberapa jam setelah melakukan aktivitas fisik agar mngetahui kadar gula darah biasa mereka saat melakukan olahrafa tertentu. Apabila terdapat kemungkinan untuk terjadi hipoglikemia, beberapa strategi dapat dilakukan seperti menurunkan dosis insulin atau sekretagog sebelum olahraga atau dapat meningkatkan asupan karbohidrat sebelum atau selama olahraga. Kedua strategi ini dapat dipilih salah satu atau dapat dilakukan keduanya secara bersamaan.19Pasien harus diedukasikan untuk memulai dari durasi yang sebentar namun secara berkala ditingkatkan intensitas dan durasinya selama 15 hari sampai dengan 1 bulan. Tidak lupa untuk memperhatikan dari segi pemakaian sepatu yang nyaman dan sesuai dengan ukuran dan membawa makanan kaya karbohidrat selama olahraga. Pasien dengan masalah pada lutut atau yang sudah berkomplikasi pada kaki diabetes disarankan melakukan olahraga yang tidak menggunakan kaki.17

DM 1 Pancreas transplantation may eventually be considered for patients who cannot control glucose levels without frequent episodes of severe hypoglycemia.

In-Depth Report #42: Diabetes diet

Insulin cannot be taken orally because the body's digestive juices destroy it.Fast-Acting Insulin. Insulin lispro (Humalog) and insulin aspart (Novo Rapid, Novolog) lower blood sugar very quickly, usually within 5 minutes after injection. Insulin peaks in about 4 hours and continues to work for about 4 more hours. This rapid action reduces the risk for hypoglycemic events after eating (postprandial hypoglycemia). Optimal timing for administering this insulin is about 15 minutes before a meal, but it can also be taken immediately after a meal (but within 30 minutes). Fast-acting insulins may be especially useful for meals with high carbohydrates.Regular Insulin. Regular insulin begins to act 30 minutes after injection, reaches its peak at 2 - 4 hours, and lasts about 6 hours. Regular insulin may be administered before a meal and may be better for high-fat meals.Intermediate Insulin. NPH (Neutral Protamine Hagedorn) insulin has been the standard intermediate form. It works within 2 - 4 hours, peaks 4 - 12 hours later, and lasts up to 18 hours. Lente (insulin zinc) is another intermediate insulin that peaks 4 - 12 hours and lasts up to 18 hours.Long-Acting (Ultralente) Insulin. Long-acting insulins, such as insulin glargine (Lantus), are released slowly. Long-acting insulin peaks at 10 hours and lasts up to 20 hours. Researchers are studying new types of long-acting insulins including one called degludec that requires injections only three times a week.Combinations. Regimens generally include combinations of short and longer-acting insulins to help match the natural cycle. For example, one approach in patients who are intensively controlling their glucose levels uses 3 injections of insulin, which includes a mixture of regular insulin and NPH at dinner. Another approach uses 4 injections, including a separate short-acting form at dinner and NPH at bedtime, which may pose a lower risk for nighttime hypoglycemia than the 3-injection regimen.Insulin Pens. Insulin pens, which contain cartridges of insulin, have been available for some time. Until recently, they were fairly complicated and difficult to use. Newer, prefilled pens (