diabetes mellitus

Click here to load reader

Post on 10-Dec-2015

214 views

Category:

Documents

1 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

DM

TRANSCRIPT

Diabetes Melitus Tipe 2

Giovanni Reynaldo10.2011.139Kelompok E8Fakultas Kedokteran, Universitas Kristen Krida WacanaJalan Arjuna Utara No. 6Email: gioreynaldo@yahoo.com

PendahuluanDiabetes melitus adalah suatu penyakit yang saat ini banyak diderita di kalangan masyarakat merupakan suatu penyakit dengan gangguan metabolisme yang bermanifestasi berupa hilangnya toleransi karbohidrat. Biasanya diabetes melitus terjadi pada orang yang berusia lebih dari 45 tahun, jarang berolahraga, dan memiliki tubuh yang gemuk (obesitas) yang mayoritas menandakan pola makan dan hidup yang tidak sehat. Namun, diabetes melitus juga dapet terjadi pada anak-anak, remaja, bahkan dewasa muda. Penyebab diabetes melitus bermacam-macam: autoimun, defek genetik, resistensi insulin, berkurangnya produksi insulin oleh pankreas, infeksi pankreas, dan lain sebagainya. Peran genetik sangat berpengaruh pada insidens terjadinya insulin.

AnamnesisAnamnesis merupakan wawancara terhadap pasien. Teknik anamnesis yang baik disertai dengan empati merupakan seni tersendiri dalam rangkaian pemeriksaan pasien secara keseluruhan dalam usaha untuk membuka saluran komunikasi antara dokter dengan pasien. Anamnesis dapat dilakukan dengan cara langsung pada pasien (auto anamnesis) atau pada orang tua atau sumber lain (allo anamnesis). Tujuan anamnesis yaitu: untuk mendapatkan keterangan sebanyak-banyaknya mengenai kondisi pasien, membantu menegakkan diagnosa sementara. Hal pertama yang perlu ditanyakan kepada pasien adalah mengenai identitas pasien (tanyakan nama lengkap dan cocokkan dengan tabel nama, tanyakan tanggal lahir atau umur, jenis kelamin, nama orang tua atau suami atau istri atau penanggung jawab, pendidikan, pekerjaan, alamat, suku bangsa dan agama) dan pastikan bahwa setiap rekam medis, catatan, hasil tes, dan sebagainya memang milik pasien tersebut.1Setelah menanyakan identitas pasien, langkah berikutnya adalah menanyakan keluhan utama pasien. Keluhan utama adalah keluhan terpenting yang dirasakan oleh pasien sehingga membawa pasien mencari pertolongan dokter atau petugas kesehatan lainnya. Keluhan utama biasanya dituliskan secara singkat disertai berapa lama pasien merasakan keluhannya.1 Pertanyaan-pertanyaan yang harus ditanyakan kepada pasien yang diduga menderita diabetes melitus yaitu pertanyaan yang berkaitan dengan keluhan khas DM dan keluhan tidak khas DM. Keluhan khas DM meliputi poliuria, polidipsi, polifagia, penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya. Sedangkan keluhan tidak khas DM meliputi lemah, kesemutan, gatal, mata kabur, disfungsi ereksi pada pria, pruritus vulvae pada wanita.2Diabetes melitus ditandai oleh kenaikan kadar gula darah dan disebabkan oleh berkurangnya sekresi atau efektivitas kerja insulin. Keadaan ini sering ditemukan dan prevalensi diabetes melitus tergantung insulin (insulin dependent diabetes melitus, IDDM) adalah sebesar 0,5%, sedangkan prevalensi diabetes yang tidak tergantung insulin (non-insulin dependent diabetes melitus, NIDDM) mendekati 2%. Diabetes melitus bisa timbul akut berupa ketoasidosis diabetik, koma hiperglikemik, disertai efek osmotik diuretik dari hiperglikemia (poliuria, polidipsia, nokturia), efek samping diabetes pada organ akhir (retinopati, penyakit vaskular perifer, neuropati perifer), atau komplikasi akibat meningkatnya kerentanan terhadap infeksi (misalnya ISK, ruam kandida). Keadaan ini juga bisa ditemukan secara tidak sengaja saat melakukan pemeriksaan darah atau rutin.1Setelah menanyakan keluhan utama dan riwayat penyakit sekarang, kita tanyakan juga riwayat penyakit dahulu, obat-obatan yang telah dikonsumsi dan alergi obat, riwayat keluarga, dan riwayat sosial. Untuk riwayat penyakit dahulu, hal-hal yang harus ditanyakan terhadap pasien adalah apakah pasien diketahui mengidap diabetes? Jika ya, bagaimana manifestasinya dan apa obat yang didapat? Bagaimana pemantauan untuk kontrol: frekuensi pemeriksaan urin, tes darah, HbA1C, buku catatan, kesadaran akan hipoglikemia? Tanyakan juga hal-hal seperti: 1) Riwayat masuk rumah sakit karena hipoglikemia/hiperglikemia; 2) Penyakit vaskular: iskemia, jantung (MI, angina, CCF), penyakit vaskular perifer (klaudikasio, nyeri saat beristirahat, ulkus, perawatan kaki, impotensi), neuropati perifer, neuropati otonom (gejala gastroparesis-muntah, kembung, diare). 3) Retinopati, ketajaman penglihatan, terapi laser; 4) Hiperkolesterolemia, hipertrigliserida; 5) Disfungsi ginjal (proteinuria mikroalbuminuria); 5) Hipertensi-terapi; dan 6) Diet/berat badan/olahraga. Untuk obat-obatan, hal yang perlu ditanyakan yaitu apakah pasien sedang menjalani terapi diabetes: diet saja, obat-obatan hipoglikemia oral, atau insulin? Tanyakan mengenai obat yang bersifat diabetogenik (misalnya kortikosteroid, siklosporin)? Tanyakan juga riwayat merokok atau penggunaan alkohol dan alergi pada pasien. Untuk riwayat keluarga dan sosial, tanyakan pada pasien adakah riwayat diabetes melitus dalam keluarga? Apakah diabetes mempengaruhi kehidupan? Siapa yang memberikan suntikan insulin/tes gula darah, dan sebagainya (pasangan/pasien/perawat)? Setelah semua anamnesis itu kita lakukan, maka kita dapat melaksanakan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang terhadap pasien.1

Pemeriksaan FisikUntuk pemeriksaan fisik, hal-hal yang harus kita perhatikan yaitu apakah pasien sakit berat akut? Bagaimana kadar gula darahnya? Apakah tercium bau keton? Adakah tanda-tanda takipnea atau pernapasan Kussmaul (cepat dan dalam)? Adakah tanda-tanda dehidrasi akibat hiperglikemia (takikardia, hipotensi, hipotensi postural, membran mukosa kering, turgor kulit menurun, dan sebagainya)? Apakah pasien mengantuk, bingung, atau koma? Bagaimana suhu tubuh pasien? Periksa sistem kardiovaskuler: TD? Adakah tanda-tanda gagal jantung? Periksa vaskularisasi perifer untuk: nadi, teraba, bruit? Periksa kaki untuk: ulkus selulitis, neuropati (sensasi raba halus), tusuk jarum, monofilamen, rasa getar, rasa posisi sendi, refleks, dan neuropati otonom (TD postural, respons Valsalva). Periksa mata untuk ketajaman penglihatan dan respons pupil. Lakukan funduskopi untuk: perdarahan bintik + bercak, retinopati proliferatif, makulopati. Periksa setiap perubahan hipertensif. Periksa urin untuk: proteinuria, glukosa, keton. Cari dan obati komplikasi akut berbahaya dari diabetes melitus (misalnya hipoglikemia, ketoasidosis diabetik). Pertimbangkan infeksi atau pemicu kemunduran lain serta periksa kerusakan organ-akhir akibat diabetes.1Pemeriksaan fisik yang penting untuk dilakukan bagi pasien yang diduga menderita diabetes melitus yaitu: 1 Inspeksi kaki a) Atrofi/hipotofi otot.b) Kontraktur/ sikatrik. c) Gerakan-gerakan terbatas.d) Lesi kulit (infiltrat, abses, ulkus, gangrene).1 Palpasi kaki a) Kulit dingin (vaskularisasi berkurang), hangat/panas (akibat adanya ulkus).b) Pulsasi arteri dorsalis pedis.c) Pulsasi arteri tibialis posterior.1 Refleks a) Sensibilitas : monofilament (sensorik)b) APR +menurun/+menurun (motorik)c) KPR +menurun/ +menurun (motorik)d) Babinsky : gerakan dorsofleksi ibu jari kaki yang sering disertai dengan pemekaran jari-jari menunjukan refleks babinsky.3Pemeriksaan PenunjangDiagnosis DM harus didasarkan atas pemeriksaan kadar glukosa darah. Dalam menentukan diagnosis DM harus diperhatikan asal bahan darah yang diambil dan cara pemeriksaan yang dipakai. Untuk diagnosis pemeriksaan yang dianjurkan adalah :2 Pemeriksaan glukosa dengan cara enzimatik dengan bahan darah plasma vena Sesuai dengan kondisi setempat dapat juga dipakai bahan darah utuh (whole blood), vena maupun kapiler dengan memperhatikan angka-angka kriteria diagnostik yang berbeda sesuai pembakuan oleh WHO Untuk pemantauan hasil pengobatan dapat diperiksa glukosa darah kapiler.Adapun kriteria diagnosis DM dapat kita lihat pada Tabel no.1.Tabel no.1 Kriteria Diagnosis DM2

Ada perbedaan antara uji diagnostik DM dan pemeriksaan penyaring. Uji diagnostik DM dilakukan pada mereka yang menunjukan gejala/tanda DM, sedangkan pemeriksaan penyaring bertujuan untuk mengidentifikasikan mereka yang tidak bergejala, yang mempunyai resiko DM. Serangkaian uji diagnostik akan dilakukan kemudian pada mereka yang hasil pemeriksaan penyaringnya positif, untuk memastikan diagnostik definitif.Kadar glukosa darah utuh (whole blood) :2 Dipengaruhi nilai hematokrit Kadar glukosa pada Ht tinggi lebih tinggi dari pada Ht rendah Kadar glukosa akan berkurang sesuai dengan berjalannya waktu Penurunan kadar glukosa darah7 mg/dL/jam pada suhu kamar2 mg/dL/jam pada 40C Perlu pengawet NaF 2 mg/mL.2Pemeriksaan penyaring dikerjakan pada kelompok dengan salah satu risiko DM sebagai berikut :a. Usia >45 tahunb. Berat badan lebih : >110% berat badan ideal atau indeks massa tubuh (IMT) >23 kg/m2.c. Hipertensi (TD 140/90 mmHg)d. Riwayat DM dalam garis keturunane. Riwayat abortus berulang, melahirkan bayi cacat, atau BB lahir bayi >4 kgf. Riwayat DM gestasionalg. Riwayat toleransi gula terganggu (GTT) atau glukosa darah puasa terganggu (GDPT)h. Penderita penyakit jantung koroner, tuberkulosis, hipertiroidisme.i. Kolesterol HDL 35 mg/dL dan atau trigliserida 250 mg/dLUntuk kelompok risiko tinggi yang hasil pemeriksaan penyaring negatif, pemeriksaan penyaring ulangnya dilakukan tiap tahun; sedangkan bagi mereka yang berusia >45 tahun tanpa faktor risiko, pemeriksaan penyaringnya dapat dilakukan setiap 3 tahun.2Pemeriksaan penyaring berguna untuk menjaring pasien DM, toleransi glukosa terganggu (TGT) dan glukosa darah puasa terganggu (GDPT), sehingga dapat ditentukan langkah yang tepat bagi mereka. Pasien dengan TGT dan GDPT merupakan tahapan sementara menuju DM. setelah 5-10 tahun kemudian 1/3 kelompok TGT akan berkembang menjadi DM. 1/3 tetap TGT dan 1/3 lainnya kembali normal. Adanya TGT sering berkaitan dengan resistensi insulin. Pda kelompok TGT ini risiko terjadinya aterosklerosis lebih tinggi dibandingkan kelompok normal. TGT sering berkaitan dengan penyakit kardiovaskular, hipertensi dan dislip