derajat kesehata1

Click here to load reader

Post on 15-Feb-2015

30 views

Category:

Documents

3 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

Derajat Kesehatan Written by Administrator

1. Umur Harapan HidupUmur Harapan Hidup (UHH) adalah salah satu indikator yang mencerminkan berapa lama seorang bayi baru lahir diharapkan hidup. Dari hasil Sensus Penduduk dan Susenas, didapatkan UHH meningkat dari tahun ke tahun,seperti terlihat pada tabel berikut : Tabel III.1 Umur Harapan Hidup di Kab. Tangerang Th. 2006 - 2008

Sumber : BPS Kabupaten Tangerang 2. Jumlah Kematian a. Jumlah Kematian Bayi Kematian bayi adalah kematian yang terjadi antara saat setelah bayilahir sampai bayi belum berusia tepat satu tahun. Banyak faktor yang dikaitkan dengan kematian bayi. Secara garis besar,dari sisipenyebabnya, kematian bayi ada dua macam yaitu endogen dan eksogen.Kematian bayi endogen atau yang umum disebut dengan kematian neonatal adalah kematian bayi yang terjadi pada bulan pertama setelah dilahirkan, dan umumnya disebabkan oleh faktor-faktor yang dibawa anak sejak lahir,yang diperoleh dari orang tuanya pada saat konsepsi atau didapat selama satu bulan sampai menjelang usia satu tahun yang disebabkan oleh faktor-faktor yang bertalian dengan pengaruh lingkungan luar. Angka Kematian Bayi atau Infant Mortality Rate (IMR) adalah jumlah kematian bayi dibawah satu tahun pada setiap 1.000 kelahiran hidup.Angka ini merupakan indikator yang sensitif terhadap ketersediaan,pemanfaatan pelayanan kesehatan terutama pelayanan perinatal disamping juga merupakan indikator terbaik untuk menilai pembangunan sosial ekonomi

masyarakat secara menyeluruh.

Gambar III.1 Jumlah Kematian Bayi di Wilayah Kabupaten Tangerang Tahun 2003-2009

Penyebab kematian Bayi di Kabupaten Tangerang , pada gambar berikut Gambar III.2 Penyebab Kematian Bayi di Wilayah Kabupaten Tangerang Tahun 2009

b.Jumlah Kematian Ibu (AKI)Angka Kematian Ibu (AKI) atau Maternal Mortality Rate (MMR) adalah banyaknya kematian perempuan pada saat hamil atau selama 42 hari sejak terminasi kehamilan tanpa memandang lama dan tempat persalinan, yang disebabkan karena kehamilannya atau

pengelolaannya, dan bukan karena sebab-sebab lain, per 100.000 kelahiran hidup. Angka ini berguna untuk menggambarkan tingkat kesadaran perilaku hidup sehat, status gizi dan kesehatan ibu, kondisi kesehatan lingkungan serta tingkat pelayanan kesehatan terutama pada ibu hamil, ibu melahirkan dan ibu pada masa nifas. Informasi mengenai tingginya MMR akan bermanfaat untuk pengembangan program peningkatan kesehatan reproduksi,terutama pelayanan kehamilan dan membuat kehamilan yang aman (making pregnancy safer) serta Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) oleh tenaga kesehatan terlatih, penyiapan sistim rujukan dalam penanganan komplikasi kehamilan, penyiapan keluarga dan suami siaga dalam menyongsong kelahiran, yang semuanya bertujuan untuk mengurangi Angka Kematian Ibu dan meningkatkan derajat kesehatan reproduksi. Angka Kematian Ibu di Indonesia berkisar antara 230 hingga 307 kematian ibu tiap 100.000 kelahiran hidup. Dengan demikian maka upaya menurunkan jumlah kematian ibu adalah salah satu prioritas tertinggi dalam lingkup kesehatan reproduksi. Jumlah kematian ibu di Kabupaten Tangerang pada tahun 2009 adalah sebanyak 22 orang dengan estimasi Angka Kematian Ibu sebesar 197/100.000 Kelahiran Hidup dan jumlah persalinan oleh tenaga kesehatan 83,13%. Gambar III.3 Jumlah Kematian Ibu di Wilayah Kabupaten Tangerang Tahun 2003-2009

Penyebab utama kematian ibu di Indonesia adalah perdarahan, hipertensi dan infeksi, faktor-faktor tersebut juga menjadi penyebab kematian ibu di Kabupaten Tangerang ,seperti pada gambar berikut

Gambar III.4 Penyebab Kematian Ibu di Wilayah Kabupaten Tangerang Tahun 2009

B. Angka Kesakitan 1. Duapuluh Besar PenyakitBerdasarkan hasil laporan Bulanan Penyakit (LB1) dari Puskesmas, didapatkan pola penyakit yang terjadi di Kabupaten Tangerang pada tahun 2009 menurut semua golongan umur, seperti pada grafik berikut ini : Gambar III.5 Grafik 20 Besar Penyakit di Kabupaten Tangerang Tahun 2009

Dari grafik dapat dilihat bahwa Penyakit ISPA merupakan penyakit terbanyak yang terjadi pada tahun 2009 kemudian disusul penyakit Batuk

2.Penyakit MenularDalam rangka penanggulangan penyakit menular dilakukan berbagai kegiatan antara lain: 1). Pencegahan dan pemberantasan demam berdarah dengue melalui pemberantasan sarang nyamuk. 2). Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Filariasis, dengan melakukan pengobatan masal Filariasis ke 2 3). Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Tuberkulosis 4). Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Kusta 5). Penemuan kasus,Pencegahan serta pengobatan HIV-AIDS 6). Penyakit menular langsung lainnya serta penyakit yang dapat dicegah dengan Imunisasi. Adapun data-data yang dapat disajikan adalah sebagai berikut : a.Penyakit Menular Bersumber Binatang 1.Demam Berdarah Dengue (DBD). Pada Tahun 2009, Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit DBD dititik beratkan pada kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) disemua wilayah, dan pemantauan jentik berkala untuk mencapai angka bebas jentik sesuai target ( >95 %), dengan

melakukan Lomba sekolah dan desa bebas jentik,penemuan penderita DBD melalui survey jentik dengan melakukan PE dan melaksanakan Foging Fokus sesuai indikasi. Jumlah penderita penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Tangerang dilaporkan sebagai berikut : Tabel III.2 Data Kasus Demam Berdarah Dengue di Kabupaten Tangerang Tahun 2004 2009

Gambar. III.6 Jumlah Kasus Demam Berdarah Dengue Menurut Puskesmas Tahun 2009

Dari Grafik di atas menunjukkan Puskesmas Kutabumi memiliki kasus yang terbanyak disusul Puskesmas Mauk dan Kelapa Dua. 2. Filariasis

Gambar III.7 Wilayah Puskesmas yang mendapat Kasus Filariasis Tahun 2009

Upaya kesehatan dalam rangka pemberantasan penyakit filaria tahun 2009 difokuskan pada kegiatan Pengobatan Massal (tahun kedua), penemuan penderita dan pengendalian vektor yang berpotensi di wilayah endemis. Jumlah seluruh kasus di th 2008 sebanyak 26 kasus yang tersebar di 12 wilayah kecamatan (termasuk Tangsel), 14 kasus di Kabupaten Tangerang dan semua kasus sudah ditangani (100%). Pada tahun 2009 ditemukan 6 kasus baru Penyakit filariasis di Kabupaten Tangerang, masing-masing di kec. Rajeg ,Mekar Baru, Gunung Kaler, Mauk, Sindang Jaya, dan Pakuhaji). Dapat dilihat pada gambar diatas. b. Penyakit Menular Langsung. 1. Penyakit Diare Penyakit diare adalah penyakit yang banyak menyerang golongan umur anak-anak terutama balita.Dimana hal ini dapat mempengaruhi perkembangan pertumbuhan dan kualitas hidup anak. Upaya program pemberantasan melalui edukasi dan peningkatan kemampuan penanggulangan kasus oleh petugas lapangan terus dilakukan. Pada tahun 2009 jumlah kasus diare untuk semua umur terlihat pada grafik dibawah ini : Gambar III.8 Jumlah Kasus Diare di Kabupaten Tangerang Tahun 2006 - 2009

Gambar III.9 Cakupan Penemuan Penderita Diare Se-Kabupaten Tangerang Tahun 2006 - 2009

Gambar III.10 Trend Kasus Penyakit Diare per bulan di Kabupaten Tangerang Tahun 2006 2009

Dari grafik diatas terlihat adanya peningkatan kasus diare pada tahun 2009 yaitu di bulan Juni, tetapi jumlah kasus pada bulan Juni tersebut relatif lebih rendah bila dibandingkan dengan puncak kasus diare di bulan Nopember tahun 2008, (sebanyak 3900 kasus diare pada Juni 2009 dibandingkan 5095 kasus diare di bulan Nopember 2008) .

2.Pneumonia Gambar III.11 Grafik Cakupan Penemuan Penderita Pneumonia Balita Di Kabupaten Tangerang Tahun 2005 - 2009

Dari grafik tersebut, terlihat penurunan cakupan penemuan Pneumonia,dibandingkan hasil di tahun.2008 yaitu sebesar 5,29%. Gambar III.12 Grafik penemuan kasus Pneumonia Di Kabupaten Tangerang Tahun 2009

Dari grafik tersebut terlihat bahwa Cakupan Penemuan kasus pneumonia terbanyak pada th.2009 ditemukan diwilayah Balaraja dan Suradita. 3.Penyakit Kusta

Gambar III.13 Kasus Baru Kusta Type PB dan MB Di Kabupaten Tangerang Tahun 2009

Secara keseluruhan jumlah penderita penyakit kusta di Kabupaten Tangerang pada tahun 2008 adalah 261 kasus baru terdiri dari 40 kasus PB dan 221 kasus MB.Pada th 2009 ditemukan 30 kasus baru PB dan 152 kasus baru MB, dari 40 kasus PB di tahun 2008 25 kasus sudah RFT di tahun 2009, sedangkan dari 373 kasus MB yang minum obat, sudah RFT sebanyak 169 kasus (45.31 %).

c.Penyakit HIV / AIDS Upaya pelayanan kesehatan dalam rangka penanggulangan penyakit HIV/AIDS, disamping ditujukan pada penanganan penderita yang ditemukan juga diarahkan pada upaya pencegahan melalui penemuan penderita secara dini yang dilanjutkan dengan kegiatan konseling. Berdasarkan pelaporan dari Puskesmas dan Rumah Sakit diketahui pada tahun 2008 terdapat 87 kasus HIV/AIDS, dari jumlah tersebut yang ditangani sebanyak 100%. Walaupun jumlah penderita HIV/AIDS secara kumulatif relatif kecil (Case Rate 1,60 per 100.000 penduduk), namun dalam perjalanan penyakit dari HIV (+) menjadi AIDS tidak diketahui dengan pasti periodisasinya karena adanya windows periods,sehingga kelompok ini menjadi potensial dalam penularan penyakit AIDS.Sedangkan untuk data kasus dapat dilihat pada grafik berikut. Gambar III.14 Kasus HIV - AIDS di Kabupaten Tangerang Tahun 2009

Berdasarkan grafik tersebut Kecamatan Kosambi menjadi urutan pertama tertinggi untuk kasus HIV,selanjutnya disusul oleh Kecamatan Cikupa dan Kelapa Dua. Untuk Kasus Infeksi Menular Seksual (IMS) ditemukan 884 kasus dan semua kasus tersebut telah ditangani . d.Penyakit Tuberkulosa Jumlah kasus TBC Paru BTA positif pada tahun 2009 diperkirakan 2638 orang, dari jumlah tersebut dilakukan pemeriksaan dan pengobatan pada 1927 orang sehingga diperoleh Case Detection rate (CDR) sebesar 73 %, angka ini meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya yaitu 71,1 %. Angka kesembuhan TBC Paru (Cure Rate) adalah kasus yang ditemukan dan diobati pada tahun 2008 dan dievaluasi di tahun 2009, CR yang diperoleh adalah