dental radiografi

Click here to load reader

Post on 08-Nov-2015

79 views

Category:

Documents

15 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Rini Riyanti punya

TRANSCRIPT

Identifikasi Usia Menggunakan Dental Radiografi Dalam Kedokteran Gigi ForensikRini Riyanti1, Barunawaty Yunus21. Mahasiswi Bagian Dental Radiologi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin2. Dosen Bagian Dental Radiologi Fakultas Kedoteran Gigi Universitas Hasanuddin

Bagian Dental Radiologi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas HasanuddinMakassar, Indonesia

ABSTRACTIn Dentistry radiographs known as Dental radiographs. Dental radiographs provide valuable information to help dentists evaluate the state of the oral cavity that can not be seen directly. There are two types of radiographic known in dentistry is intraoral and extraoral radiography. Radiography has clinical and non clinical benefit. The clinical benefit of course is already known that the said radiographs photo categories investigations in diagnosis. While the non clinical benefit particularly panoramic radiography photo has a tremendous role in the event of an accident involving mass casualties such as plane crashes, ships and natural disasters such as volcanic eruptions and tsunamis. Forensic examinations in the case of an individual is unknown, because there is no real identity. Identification is performed on accident victims usually done through the teeth. Through teeth - teeth age identification can be done quickly.Keywords: dental radiography, forensic examination, teeth - teeth, identification of age

ABSTRAKDalam Kedokteran Gigi pemeriksaan radiografi dikenal dengan istilah Dental radiografi. Dental radiografi memberikan informasi yang berharga membantu dokter gigi mengevaluasi keadaan rongga mulut yang tidak dapat terlihat secara langsung. Ada dua jenis radiografi yang dikenal di kedokteran gigi yaitu radiografi intraoral dan ekstraoral. Radiografi memiliki manfaat klinis dan non klinis. Manfaat klinis tentu sudah diketahui bahwa foto radiografi termaksud kategori pemeriksaan penunjang dalam penegakan diagnosis. Sedangkan manfaat non klinisnya foto radiografi khususnya foto panoramik memiliki peran yang luar biasa pada saat terjadi kecelakaan yang melibatkan korban massal seperti kecelakaan pesawat terbang, kapal laut dan bencana alam seperti gunung meletus dan tsunami. Pemeriksaan forensik dalam kasus seorang individu tidak diketahui, karena identitas asli tidak ada. Identifikasi yang dilakukan pada korban kecelakaan biasanya dilakukan melalui gigi geligi. Melalui gigi - geligi identifikasi usia dapat dilakukan dengan cepat. Kata kunci : dental radiografi, pemeriksaan forensik, gigi geligi, identifikasi usia

PENDAHULUAN

Kecelakaan merupakan suatu kejadian di luar kemampuan manusia, terjadi dalam sekejap dan dapat menimbulkan kerusakan baik jasmani maupun jiwa.1. Kejadian tersebut biasanya akan menghasilkan keadaan jenazah yang mungkin dapat intak, separuh intak,membusuk, tepisah berfragmen-fragmen, terbakar menjadi abu, separuh terbakar, terkubur ataupun kombinasi dari bermacam-macam keadaan.2 Identifikasi yang dilakukan bagi korban kecelakaan biasanya dilakukan melalui gigi, karena beberapa bagian tubuh lain yang diperlukan untuk identifikasi bisa saja tidak utuh lagi sedangkan gigi merupakan bagian tubuh yang paling keras sehingga masih dapat digunakan untuk keperluan identifikasi.3Pemeriksaan forensik dalam kasus dimana usia kronologis seorang individu tidak diketahui karena identitas asli tidak ada, pemeriksaan forensik diperlukan untuk memprakiraan usia. Prakiraan usia melalui gigi dapat dilakukan dengan metode pemeriksaan klinis, radiografis, histologis, atau biokimiawi. Salah satu metode pemeriksaan yang sangat membantu mengidentifikasi jasad korban adalah pemeriksaan radiografi.4 Dalam Kedokteran Gigi pemeriksaan radiografi dikenal dengan istilah Dental radiografi. Dental radiografi memberikan informasi yang berharga membantu dokter gigi mengevaluasi keadaan rongga mulut yang tidak dapat terlihat secara langsung.5 Terdapat dua jenis radiografi yang lazim dikenal di kedokteran gigi yaitu radiografi intraoral dan ekstraoral.6 Radiografi memiliki manfaat klinis dan non klinis. Manfaat klinis tentu sudah diketahui bahwa foto radiografi termaksud dalam kategori pemeriksaan penunjang dalam penegakan diagnosis. Sedangkan manfaat non klinis, foto radiografi khususnya foto panoramik memiliki peran yang luar biasa bermanfaat pada saat terjadi kecelakaan yang melibatkan korban massal seperti kecelakaan pesawat terbang, kapal laut dan bencana alam seperti gunung meletus dan tsunami.5Gigi geligi sebagai organ yang terkeras bahkan lebih keras daripada tulang akan bertahan lebih baik. Pada proses identifikasi tentu adanya foto panoramik korban sebelum terjadi kecelakaan akan sangat membantu proses identifikasi dengan cara membandingkan data antemortem dan postmortem-nya.5 Namun dikarenakan pemeriksaan radiografi belum menjadi standar pemeriksaan kesehatan gigi maka tidak semua korban memiliki foto radiografi.6

TINJAUAN PUSTAKA

Dental RadiografiDental radiografi memberikan informasi berharga yang membantu dokter gigi mengevaluasi kesehatan rongga mulut. Dengan bantuan radiografi, dokter gigi dapat melihat apa yang terjadi dibawah permukaan gigi dan jaringan pendukung gigi.6 Ada dua macam dental radiografi yang lazim dikenal dikedokteran gigi , yaitu :a. Intraoral radiografiRadiografi intraoral digunakan untuk melihat struktur jaringan keras pada gigi secara individual menggunakan film dengan ukuran kecil. Radiografi intraoral sangat diperlukan pada perawatan yang menuntut ketelitian tinggi seperti perawatan endodontik.6 b. Ekstraoral radiografi Radiografi ekstraoral menggunakan ukuran film yang lebih besar, Radiografi ekstra oral yang paling sering digunakan adalah jenis panoramik atau orthopantomograp (OPG), jenis lainnya adalah sefalometri.6

Radiografi memiliki manfaat klinis dan non klinis : 1. Manfaat klinis Tentu sudah diketahui bahwa foto radiografi termaksud dalam kategori pemeriksaan penunjang dalam penegakan diagnosis.5 Karena banyak penyakit gigi dan jaringan sekitarnya tidak dapat terlihat, dental radiografi sangat membantu dalam mengungkap : Adanya kelainan apikal yang tidak terdeteksi secara klinis Adanya kelainan pada rahang Adanya fraktur rahang atau akar gigi Karies yang tersembunyi ( pada proksimal atau karies akar ) karies sekunder, karies incipien, kedalaman karies dll.6 2. Manfaat non klinisFoto radiografi khususnya foto panoramik memiliki peran yang luar biasa bermanfaat pada saat kecelakaan yang melibatkan korban massal seperti kecelakaan pesawat terbang, kapal laut dan bencana alam seperti gunung meletus dan tsunami.5

Identifikasi Ilmu Kedokteran Gigi ForensikYang dimaksud dengan identifikasi ilmu kedokteran gigi forensik adalah aplikasi dari displin ilmu kedokteran gigi yang terkait dalam suatu penyidikan dalam memperoleh data data postmortem, berguna untuk menentukan otentitas dan identitas korban maupun pelaku demi kepentingan hukum dalam suatu proses peradilan dan menegakkan kebenaran.7 Identifikasi ilmu kedokteran gigi forensik terdapat beberapa macam antara lain : 1. Identifikasi ras korban maupun pelaku dari gigi geligi antaropologi ragawi.2. Identifikasi sex atau jenis kelamin korban melalui gigi geligi dan dan tulang rahang serta antropologi ragawi. 3. Identifikasi umur korban (janin) melalui benih gigi.4. Identifikasi umur korban melalui gigi sementara (decidui).5. Identifikasi umur korban melaui gigi campuran.6. Identifikasi umur korban melalui gigi tetap. 7. Identifikasi korban melalui kebiasaan menggunakan gigi.8. Identifikasi korban dari pekerjaan menggunakan gigi.9. Identifikasi golongan darah korban melalui saliva.10. Identifikasi golongan darah korban melalui pulpa gigi. 11. Identifikasi DNA korban dai analisa saliva dan jaringan dari sel sel rongga mulut. 12. Identifikasi korban melalui gigi palsu yang dipakainya. 13. Identifikasi wajah korban dari rekontrksi tulang rahang dan tulang fasial.14. Identifikasi wajah korban. 15. Identifikasi korban melalui pola gigitan pelaku. 16. Identifikasi korban melalui eksklusi pada korban massal. 17. Radiologi Ilmu kedokteran gigi forensik.18. Fotografi ilmu kedokteran gigi forensik.19. Victim Identification Form.7

Pada kesempatan ini, akan dibahas mengenai identifikasi usia. Identifikasi usia dimulai dari identifikasi usia melalui benih gigi. Benih gigi secara umum haruslah ditelusuri tiga hal penting antara lain prolifikasi benih gigi, kalsifikasi benih gigi, periode periode erupsi gigi sementara maupun gigi tetap.7 1. Perkembangan janin dan benih gigi Identifikasi umur dari benih gigi haruslah melalui janin, menurut Perdanakusuma (1984), terdapat bebrapa kemungkinan usia janin yaitu :a. Dalam arti janin pada umumnya, yakni sejak berusia dua, tiga atau empat minggu sampai dengan 40 minggu.b. Dalam arti embrio murni, yaitu sejak pembuahan sampai dengan akhir minggu ke-8 usia janin.c. Dalam arti embrio lanjutan, yaitu sejak janin berusia 9 minggu sampai mendekati 16 minggu.d. Dalam arti fetus murni, yaitu saat janin berusia 16 minggu.7

Identifikasi gigi janin haruslah berdasarkan periode periode pertumbuhan benih gigi yaitu priode proliferasi, periode formasi dan periode kalsifikasi : 1. Identifikasi umur dari benih gigi berdasarkan periode proliferasi Periode ini terjadi kira kira 6 minggu dengan sebelum lahir, untuk gigi susu sampai dengan 3 atau 4 bulan (foetus) sedangkan untuk gigi tetap posterior ( premolar dan molar) sampai dengan stadium III kehamilan sedangkan untuk gigi insisivus lateralis sampai stadium II kehamilan. 2. Identifikasi umur dari benih gigi berdasarkan periode formasi benih gigi. Pada periode ini benih gigi dimulai formasinya dari puncak cusp dan insisal edge. Formasi ini terus berkembang sesuai dengan periode proliferasi ke servikal, kearah akar, berakhir di foramen apikal gigi.3. Identifikasi umur dari benih gigi berdasarkan periode kalsifikasi Periode kalsifikasi yang mula mula terlihat pada pembentukan crypt terus berlanjut hingga periode erupsi berakhir pada gigi decidui.7 2. Periode Erupsi a. Identifikasi umur korban melalui gigi sementara (Decidui)Identifikasi umur korban melalui gigi sementara, dengan interpretasi roentgenogram yang berdasarkan atas periode periode pertumbuhan gigi antara lain periode proliferasi, periode kalsifikasi, periode formasi dan periode erupsi gigi.7 Periode proliferasi gigi decidui dimulai dari formasi gigi janin yang berakhir sampai dengan post natal, balita, anak anak hingga berumur 2,5 3 tahun. Begitupun dengan periode kalsifikasi dari gigi janin berakhir sampai dengan umur 2,5 atau 3,5 tahun oleh karena proses tersebut berakhir dengan formasi gigi kaninus seorang anak berusi 3,5 tahun. Sedangkan untuk gigi molar sementara atau decidui berakhir sampai berumur 3 tahun.7

Menurut logan dan Kronfeld, secara kronologis ia telah membuat suatu tabel dari tumbuh kembang gigi, formasi gigi dan erupsi hingga permanen.7GigiKlasifikasi AwalMahkota GigiErupsiAkar Lengkap

L1 atas3 4 bulan dalam uterus4 bulan 7,5 bulan 1,5-2 tahun

L1 bawah4,5 bulan dalam terus5 bulan 6,5 bulan 2,5-2 tahun

L2 atas4,5 bulan dalam uterus 6 bulan 8 bulan 3,5-2 tahun

L2 bawah4,5 bulan dalam uterus 7 bulan 7 bulan 4,5-2 tahun

C atas 5 bulan dlam uterus 8 bulan 16-20 bulan 2,5-3 tahun

C bawah5 bulan dalam uterus 9 bulan 16-20 bulan 2,5-3 tahun

M1 atas5 bulan dalam uterus 10 bulan 12-16 bulan 2-2,5 tahun

M1 bawah5 bulan dalam uterus 11 bulan 1,75 2,5 bulan 2-2,5 tahun

M2 atas6 bulan dalam uterus 12 bulan 1,75-2,5 bulan 3 tahun

M2 bawah6 bulan dalam uterus 13 bulan 1,75-2,5 bulan 3 tahun

Tabel tersebut sebagai berikut :

Menurut Schour dan Massler tahun (1941)

Sumber : https://dentosca.wordpress.com/category/paediatric-dentistry/page/6/

Denah gigi memperlihatkan formasi gigi sementara dari 6 bulan samapai dengan 3 tahun dan gambar disampingnya memperlihatkan gigi anak anak umur 4 -6 tahun.7

Periode erupsi gigi decidui sangat bervariasi tergantung dari beberapa faktor antara lain : Pertumbuhan memanjang dari gigi. Multiplikasi dari jaringan pulpa. Deposisi dari lapisan baru jaringan cemen. Pertumbuhan jaringan tulang rahang.7

b. Identifikasi umur korban melalui gigi campuran Periode pertumbuhan gigi campur menurut Schour dan Massler (1941), sebagai berikut :

Sumber : http://ww2.doktergigikita.com/?folio=7POYGN0G2Gambar denah memperlihatkan periode pertumbuhan gigi campur yang dimulai dari 7 tahun dengan deviasi kurang lebih 9 bulan sampai dengan anak usia 10 tahun dengan deviasi kurang lebih 9 bulan. Denah yang outline saja menggambarkan gigi tetap sedangkan denah yang hitam menandakan adanya gigi decidui/sementara.7

c. Identifikasi umur korban melalui gigi tetapIdentifikasi umur korban melalui gigi tetap dimulai dari umur 13 tahun sampai 21 tahun menurut periode erupsi akan tetapi bila menelaah lebih lanjut terdapat metode Gusstafson (1996). Metode Gusstafson, identifikasi umur dari gigi tetap terdapat kriteria yang disebut Six Changes Of The Physiological Age Process in Teeth . Dengan kata lain terdapat 6 kriteria dari perubahan jaringan gigi akibat penggunaan gigi sesuai dengan usia.7

Keenam kriteria tersebut antara lain :1. The Degrees Of Attrition

Sumber : https://www.google.co.id/?gws_rd=cr&ei=X0VRVdD- G8K9ugSHv4CwBQ#q=prakiraan+usia+individu+melalui+pemeriksaan+gigi+:pdf

The degrees of attrition yang dimaksud adalah derajat atau keparahan dari atrisinya permukaan kunyah gigi baik insisal maupun oklusal sesuai dengan penggunaaannya. Makin usia lanjut maka derajat atrisinya makin parah.7 2. Altertion In The Level Of Gingiva AttachmentPerubahan fisiologis akibat penggunaan gigi dari epitel attachment ditandai dengan turunnya atau dalamnya sulcus gingiva yang melebihi 2 mm bahkan makin usia lanjut, gingiva attachment turun keakar gigi terlihat seakan aan mahkota lebih panjang.7 3. The Amount Of Secondary Dentine Pembentukan sekunder dentin oleh karena penggunaan gigi atau atrisi dari permukaan oklusal biasanya terbentuk di atas atap pulpa sehingga makkin usia lanjut secara roentgenografi terlihat seakan akan pulpa jadi sempit karena sekunder dentinnya makin tebal.7 Menurut Yeager (1963), pembentukan sekunder dentin merupakan penyempurnaan pembentukan reparative dentin yang mempunyai estimasi kurang lebih 4 5 micron/hari.7 Menurut James (1958), bahwa ditemukannya kalsifikasi yang merata pada jaringan atap pulpa gigi geligi atap permanen sebagai reaksi traumatik oklusi.7

4. The Thickness Of Sementum Around The RootDengan bertambahnya usia maka akan bertambah tebal jaringan sementum pada akar gigi. Pembentukan ini oleh karena pelekatan serat serat periodontal dengan aposisi yang terus menerus dari gigi tersebut selama hidup merupakan faktor penting yang sangat mempengaruhi.7 5. Transluecency Of The Root Bertambahnya usia terjadi proses kristalisasi dari bahan bahan mineral akar gigi hingga jaringan dentin pada akar gigi kearah servikal menjadi transparan. Translusensi dentin ini dimulai pada dekade ketiga dari tebal tubulus dentin 5 milimicron sehingga pada usia 50 tahun tebal tubular dentin hanya 2 micron hingga pada usia 70 tahun tebal tubular dentin tinggal 1 micron.7 6. Root resorption

Sumber : https://www.google.co.id/?gws_rd=cr&ei=X0VRVdD- G8K9ugSHv4CwBQ#q=prakiraan+usia+individu+melalui+pemeriksaan+gigi+:pdf

Menurut Gusstafson (1950), bahwa resopsi akar gigi tetap akibat tekanan fisiologis dengan bertambahnya umur. Mili demi mili diukur oleh dalam penentuan umur akibat penggunaan gigi.7

Pencatatan Data Semasa Hidup Dan Data Setelah Kematian Pencatatan data semasa hidup disebut dengan data Antemortem sedangkan pencataan data setelah kematian disebut data Postmortem.8 Pencatatan data gigi dan rongga mulut semasa hidup, biasanya berisikan antara lain :1. Identitas pasien.2. Keadaan umum pasien. 3. Odontogram ( data gigi yang menjadi keluhan ).4. Data perawatan kedokteran gigi.5. Nama dokter gigi yang merawat.6. Surat pertujuan tindakan medik (Inform Consent).8Pencatatan data setelah kemaatian, berupa :1. fotoradiografi pembukaan rahang untuk memperoleh data gigi dan rongga mulut.2. Pencetakan rahang atas dan rahang bawah untuk mendapatkkan study model rahang. 3. Pencatatan gigi pada formulir odontogram.8

PEMBAHASANPemeriksaan forensik dalam kasus dimana usia kronologis seorang individu tidak diketahui karena identitas asli tidak ada ataupun adanya indikasi pemalsuan identitas, pemeriksaan forensik diperlukan untuk prakiraan usia. Usia dapat diprakirakan karena bertambahnya usia seiring dengan meningkatnya tahap pertumbuhan dan perkembangan struktur tubuh berupa perubahan fisik yang konstan sehingga setiap tahap dari proses perubahan tersebut dapat dihubungkan dengan usia seorang individu. Prakiraan usia dapat dilakukan pada individu hidup maupun mati. Sebagai contoh dalam kasus bencana massal, prakiraan usia dapat menjadikan identifikasi korban lebih sederhana dengan mengelompokkan usia korban.4 Bagian tubuh yang umumnya dipakai untuk memprakiraan usia adalah skeletal dan gigi. Kematangan skeletal sebagai media prakiraan usia memiliki keterbatasan karena hanya dapat memprakirakan usia pada rentang usia tertentu dengan simpangan baku usia yang besar. Sedangkan gigi sebagai media prakiraan usia memiliki beberapa keunggulan, salah satunya adalah dapat memprakirakan usia pada individu usia prenatal sampai usia dewasa. Prakiraan usia melalui gigi dapat dilakukan dengan metode pemeriksaan klinis, radiografis,histologis, atau biokimiawi.4 Pada kesempatan ini, akan dibahas identifikasi usia dengan metode pemeriksaan radiografi, dengan meginterpretasikan gambaran radiografi berdasarkan fase benih gigi dan fase erupsi gigi. A. Interpretasi benih gigi pada janin Interpretasi umur korban melalui janin, bila masih ditemukan rahang janin, maka harus dibuat roentgenogram dari rahang tersebut untuk interpretasi benih gigi atau crypt dan formasi mahkota serta formasi mahkota dan akar gigi. Teknik roentgenografi foto dilakukan dengan proyeksi true oklusal dengan menggunakan film oklusal.7 1. Interpretasi roentgenogram dari proyeksi oklusal rahang atas dan bawah janin 3 3,5 bulan memperlihatkan pembentukan crypt gigi insisivus kiri dan kanan.2. Interpretasi roentgenogram proyeksi oklusal rahang atas dan bawah janin usia 4 5 bulan memperlihatkan crypt dan tulang rahang yang terlihat lebih radioopak.3. Interpretasi dari roentgenogram proyeksi oklusal rahang atas janin yang berusia 6 -7 bulan memperlihatkan crypt pada gigi insisivus dan kaninus. Untuk rahang bawah formasi crypt gigi insisivus lateral lebih nyata. 4. Interpretasi dari roentgenogram proyeksi oklusal rahang atas dan bawah janin yang beumur 8 bulan memperlihatkan kalsifikasi crypt dan formasi mahkota untuk semua gigi decidui. 5. Interpetasi dari roentgenogram proyeksi oklusal rahang atas dan bawah janin berumur 9 bulan/ masa kelahiran memperlihatkan kalsifikasi dan formasi mahkota untuk seluruh gigi decidui kalsifikasi cusp dan insisal lebih radioopak sehingga mencerminkan pembentukan gigi hingga servikal.7

B. Interpretasi roentgenogram periode gigi decidui

Sumber : http://ilmucutpz.blogspot.com/2013/04/kelainan-pada-pertumbuhan-dan.html

Gambar 1 : Topografik oklusal anterior rahang bawah memperlihatkan terbentuknya formasi gigi tetap insisivus sentral dan insisivus lateral dibawah gigi decidui, yang sudah siap untuk erupsi. Namun belum terjadi proses resobsi dari akar gigi insisivus sentral dan lateral rahang bawah. Perkiraan usia 4 5 tahun.C. Interpretasi roentgenogram periode gigi bercampur

Sumber : http://medind.nic.in/jao/t11/i3/jaot11i3p222.htmGambar 2 : Topografi periapikal regio posterior rahang bawah memperlihatkan dimulainya erupsinya gigi molar permanen, yang menandakan dimulainya periode gigi bercampur. Perkiraan usia 6 tahun.

Sumber : http://jnynita.com/2013/03/19/macam-jumlah-waktu-tumbuh-dan-tanggal-gigi/Gambar 3 : Foto panoramik diatas memperlihatkan gigi Molar kedua Rahang atas dan bawah serta gigi Caninus Rahang bawah telah erupsi, namun belum mencapai dataran oklusal sedangkan gigi permanen yang lainya seperti gigi Insisivus, Premolar dan Molar erupsinya telah mencapai daran oklusal. Tampak juga telah terbentuknya formasi benih gigi permanen bagian corona Molar ketiga yang belum erupsi. Foto radiografi juga memperlihatkan ukuran rongga pulpa masih sangat besar. Perkiraan usia 9 12 tahun.

D. Interpretasi roentgenogram gigi permanen

Sumber : http://klinikjoydental.com/sebelum-pasang-kawat-wajibkah-rontgen-gigi/

Gambar 3 : Radiografi panoramik diatas memperlihatkan ruang pulpa pada gigi rahang atas dan rahang bawah telah menyempit, oleh karena terbentuknya dentin sekunder. Tampak seluruh gigi geligi permanen telah erupsi kecuali gigi geraham ke tiga yang baru akan erupsi. Perkirakan usia berkisar 17 21 tahun.

Sumber : https://dentistrymolar.wordpress.com/2013/03/31/cementoma/Gambar 4 : Radiografi panoramik memperlihatkan tampak gigi molar ketiga rahang bawah erupsinya telah mencapai dataran oklusi. Tampak pada gigi geligi yang masih ada di rahang atas dan bawah cups telah atrisi dan tampak juga crest alveolar telah mengalami resobsi pada rahang atas dan rahang bawah, perkiraan usia adalah 40 tahun keatas.

SIMPULANDental radiografi selain sangat membantu tugas seorang dokter gigi dalam menegakkan diagnosis, radiografi juga memiliki manfaat lain selain untuk kepentingan klinis yaitu untuk identifikasi korban saat terjadi musibah seperti kecelakaan dan bencana massal. Dengan dental radiografi usia korban musibah dapat dengan cepat diidentifikasi berpedoman pada teori periode pertumbuhan dan perkembangan gigi yang dicocokkan dengan data gigi geligi yang ditemukan sebagai data setelah kematian atau postmortem.

DAFTAR PUSTAKA1. Adisendjaja YH. Keselamatan dan keamanan laboratorium. Juni 2004. BIO-UPI. Available from : http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._BIOLOGI/195512191980021-YUSUF_HILMI_ADISENDJAJA/keselamatan_dan_keamanan_laboratorium_FINAL.pdf

2. Prawestiningtyas E, Algozi AM. Identifikasi forensic berdasarkan pemeriksaan primer dan sekunder sebagai penentu identitas korban pada dua kasus bencana massal. Vol.XXV/2 Agustus 2009. Jurnal Kedokteran Gigi Brawijaya. p. 87-94. Available from : http://www.jkb.ub.ac.id/index.php/jkb/article/download/175/176

3. Simarmata LR, Arifin AZ, Yuniarty A. Klasifikasi citra gigi berbasis tekstur dengan filter gabor. Surabaya, Indonesia. ITS. Available from : http://www.researchgate.net/profile/Agus_Zainal_Arifin/publication/265939104_KLASIFIKASI_CITRA_GIGI_BERBASIS_TEKSTUR_DENGAN_FILTER_GABOR/links/54cb84bd0cf2598f711749cd.pdf

4. Adisty PS, Nehemia B, Soedarsono N. Prakiraan usia individu melalui pemeriksaan gigi untukk kepentingan forensik kedokteran gigi. Vol. 62/3 September/Desember 2013. Jurnal PDGI. p. 55-63. Available from : https://www.google.co.id/?gws_rd=cr&ei=X0VRVdD-G8K9ugSHv4CwBQ#q=prakiraan+usia+individu+melalui+pemeriksaan+gigi+:pdf

5. Saputra CD. Memahami jejak rekam pasien melalui radiografi : Cerdas Beretika Dental & Dental. Edisi November Desember 2013. p. 14/7

6. Saputra CD. Radiografi di kedokteran gigi ( Pemeriksaan radiografi di dunia medis termaksud dalam kategori pemeriksaan dalam penegakan diagnosis ) : Cerdas Beretika Dental & Dental. Edisi November Desember 2013. p. 12/3

7. Lukman D. Identifikasi umur korban (janin) melalui benih gigi, gigi decidui, gigi campuran, gigi tetap: Buku Ajar Ilmu Kedokteran Gigi Forensik. Edisi ke-2. Jakarta: Penerbit Sagung Seto; 2006. p. 23-61

8. Lukman D.Pencatatan data semasa hidup dan data setelah kematian: Buku Ajar Ilmu Kedokteran Gigi Forensik. Edisi ke-1. Jakarta: Penerbit Sagung Seto; 2006. p. 45/8.