dampak kelangkaan pupuk bersubsidi terhadap …

of 120/120
i DAMPAK KELANGKAAN PUPUK BERSUBSIDI TERHADAP PRODUKSI DAN PENDAPATAN PETANI PADI SAWAH DI DESA SIRU KECAMATAN LEMBOR KABUPATEN MANGGARAI BARAT PUTRA KAHIR 105961105416 PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 2021

Post on 26-Feb-2022

3 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

PRODUKSI DAN PENDAPATAN PETANI PADI SAWAH
DI DESA SIRU KECAMATAN LEMBOR
KABUPATEN MANGGARAI BARAT
PRODUKSI DAN PENDAPATAN PETANI PADI SAWAH
DI DESA SIRU KECAMATAN LEMBOR
KABUPATEN MANGGARAI BARAT.
Strata satu (S-1)
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “Dampak Kelangkaan
Pupuk Bersubsidi Terhadap Produksi dan Pendapatan Petani Padi Sawah di
Desa Siru Kecamatan Lembor Kabupaten Manggarai Barat” adalah benar
merupakan hasil karya yang belum diajukan dalam bentuk apapun kepada
perguruan tinggi apapun. Semua sumber data dan informasi yang berasal atau
dikutip dari karya yang diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan teks dan
dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Makassar, Agustus 2021
Putra Kahir. 105961105416. Dampak Kelangkaan Pupuk Bersubsidi Terhadap
Produksi dan Pendapatan Petani Padi Sawah di Desa Siru Kecamatan Lembor
Kabupaten Manggarai Barat. Dibimbing Oleh RATNAWATI TAHIR dan
KHAERIYAH DARWIS
bersubsidi dan dampaknya terhadap produksi dan pendapatan petani padi sawah.
Populasi dalam penelitian keseluruahan subjek atau objek yang menjadi
sasaran dalam penelitian ini sebanyak 340 orang petani. Penentuan sampel
dilakukan secara simple random sampling dengan menggunakan rumus slovin
sehingga sampel yang yang diambil sebesar 39 orang petani padi sawah Analisis
data yang digunakan analisis data deskriptif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dampak kelangkaan pupuk
bersubsidi terdapat perbedaan produksi dan pendapatan antara tiga kelompok
petani responden. Produksi padi sawah tertinggi adalah petani pengguna pupuk
bersubsidi yakni sebesar 43.152 ton/ha dengan rata-rata 2.271 ton/ha (GKP)
28.833 ton/ha dengan rata-rata 1.518 (Beras), dan yang paling terendah adalah
petani padi sawah pengguna dua jenis pupuk yaitu bersubsidi dengan nonsubsidi
yakni 18.769 ton/ha dengan rata-rata 2.346 (GKP) 12.188 ton/ha dengan rata-rata
1.524 (Beras). Sedangkan rata-rata pendapatan tertinggi di proleh petani yang
hanya menggunakan jenis pupuk bersubsidi yakni sebesar Rp 3.692.806/ha (GKP)
sebesar Rp 6.110.491/ha (Beras), dan rata-rata pendapatan terendah diperoleh
petani pengguna dua jenis pupuk yaitu pupuk bersubsidi dengan nonsubsidi yakni
sebesar Rp 1.964.071/ha (GKP) sebesar Rp 3.853.446/ha (Beras).
Solusi yang diperoleh petani mengantisipasi terjadinya kelangkaan pupuk
bersubsidi belum teratasi. Sehingga sampai pada tahun 2020 pemerintah Desa
Siru Manggarai Barat melakukan terobosan untuk bekerjasama dengan pihak yang
mampu memberikan pinjaman modal bagi petani. Hal itu dilakukan karena ketika
terjadi kelangkaan pupuk bersubsidi, masyarakat dapat beralih ke penggunaan
pupuk non subsidi.
vii
ABSTRACT
Son of Kahir. 105961105416. The Impact of Scarcity of Subsidized Fertilizer on
Production and Income of Rice Farmers in Siru Village, Lembor District, West
Manggarai Regency. Supervised by RATNAWATI TAHIR and KHAERIYAH
DARWIS.
This study aims to determine the factors causing the scarcity of subsidized
fertilizers and their impact on the production and income of lowland rice farmers.
The population in the study of all subjects or objects that were targeted in
this study were 340 farmers. Determination of the sample was done by simple
random sampling using the slovin formula so that the sample taken was 39 rice
farmers. The data analysis used was descriptive data analysis.
The results show that the impact of the scarcity of subsidized fertilizers is
that there are differences in production and income between the three groups of
respondent farmers. The highest lowland rice production is farmers using
subsidized fertilizers, which is 43,152 tons/ha with an average of 2,271 tons/ha
(GKP) 28,833 tons/ha with an average of 1,518 (Rice), and the lowest is lowland
rice farmers using two types of rice. fertilizer, namely subsidized and non-
subsidized, namely 18,769 tons/ha with an average of 2,346 (GKP) 12,188 tons/ha
with an average of 1,524 (Rice). Meanwhile, the highest average income is
obtained by farmers who only use subsidized fertilizers, which is Rp.
3,692,806/ha (GKP) of Rp. 6,110,491/ha (Rice), and the lowest average income is
obtained by farmers who use two types of fertilizers, namely subsidized and non-
subsidized fertilizer, which is Rp. 1,964,071/ha (GKP) of Rp. 3,853,446/ha
(Rice).
The solution obtained by farmers to anticipate the scarcity of subsidized
fertilizer has not been resolved. So that until 2020 the West Manggarai Siru
Village government made a breakthrough to cooperate with parties who were
able to provide capital loans for farmers. This is done because when there is a
shortage of subsidized fertilizers, people can switch to using non-subsidized
fertilizers.
viii
Puji syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Allah swt atas segala
limpahan rahmat dan hidayah-Nya yang senantiasa dilimpahkan kepada penulis.
begitupula shalawat dan salam kepada Nabiullah Muhammad saw serta kepada
para keluarga, sahabat, dan pengikutnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan
skripsi dengan judul “Dampak Kelangkaan Pupuk Bersubsidi Terhadap Produksi
dan Pendapatan Petani Padi Sawah di Desa Siru Kecamatan Lembor Kabupaten
Manggarai Barat”.
Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak akan terwujud
tanpa bantuan dan dorongan berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini
dan melalui tulisan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada yang
terhormat:
1. Ibu Prof. Dr. Ir. Hj. Ratnawati Tahir, M.Si., selaku pembimbing utama, dan Ibu
Khaeryah Darwis, S.P., M.Si., selaku pembimbing pendamping, yang
senantiasa meluangkan waktunya untuk membimbing penulis dalam
menyelesaikan skripsi ini.
2. Bapak, Dr. Ir. Muh. Arifin Fatatah, M.Si selaku penguji 1 dan Ibu, Asriyanti
Syarif, S.P., M.Si selaku pembimbing 2, yang senantiasa memberikan waktu
dan kesempatan dalam menguji penulis.
3. Ibu Dr. Ir. Hj. Andi Khaeriyah, M.Pd., selaku Dekan Fakultas Pertanian
Universitas Muhammadiyah Makassar.
4. Ibu Dr. Sri Mardiyati, S.P., M.P., selaku Ketua Program Studi Agribisnis
Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Makassar.
ix
5. Kedua orang tua ayahanda Rahman dan Ibunda Siti Fatima serta keluarga
tercinta yang senantiasa memberikan motivasi dan bantuan kepada penulis
sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.
6. Seluruh Dosen Prgram Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas
Muhammadiyah Makassar yang telah memberikan ilmunya kepada penulis
selama proses perkuliahan.
7. Kepada semua pihak yang telah membantu penulis selama proses penyelesaian
proposal penelitian.
Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang
terkait dalam penulisan skripsi ini, semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat
serta sumbangsi kepada semua pihak yang membutuhkan. Semoga Allah swt
senantiasa meridhoinya. Aamiin.
Makassar, Agustus 2021
xi
Teks
1. Luas Panen dan Produksi Padi sawah di Kabupaten Manggarai Barat 2014–
2018 ............................................................................................................ 2
4. Distribusi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin di Desa Siru Kecamatan
Lembor Kabupaten Manggarai Barat ......................................................... 38
5. Distribusi Penduduk Berdasarkan Usia di Desa Siru Kecematan Lembor
Kabupaten Manggarai Barat ...................................................................... 39
6. Distribusi Penduduk Berdasarkan Pendidikan di Desa Siru Kecamatan Lembor
Kabupaten Manggarai Barat ...................................................................... 40
7. Distribusi Penduduk Berdasarkan Jenis Pekerjaan di Desa Siru Kecamatan
Lembor Kabupaten Manggarai Barat ......................................................... 41
8. Distribusi Petani Responden Berdasarkan Kelompok Umur di Desa Siru
Kecamatan Lembor Manggarai Barat ........................................................ 43
9. Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Desa Siru
Kecamatan Lembor Kabupaten Manggarai Barat ...................................... 44
10. Distribusi Responden Berdasarkan Jumlah Tanggungan Keluarga di Desa Siru
Kecamatan Lembor Kabupaten Manggarai Barat ...................................... 45
11. Distribusi Responden Berdasarkan Luas Lahan di Desa Siru Kecamatan
Lembor Kabupaten Manggarai Barat ......................................................... 46
12. Distribusi Responden Berdasarkan Pengalaman Berusaha tani di Desa Siru
Kecamatan Lembor Kabupaten Manggarai Barat. ..................................... 47
13. Rata-Rata Produksi Usaha tani Padi Sawah Petani Pengguna Pupuk Bersubsidi
dan Nonsubsidi, Pupuk nonsubsidi, dan Pupuk Bersubsidi di Desa Siru
Kecamatan Lembor Kabupaten Manggarai Barat. ..................................... 58
xii
Barat. ......................................................................................................... 60
15. Rata-Rata penerimaan, Biaya Produksi, dan pendapatan Usaha tani Padi
Sawah Petani Pengguna Pupuk Bersubsidi dan Nonsubsidi, Pupuk nonsubsidi,
dan Pupuk Bersubsidi di Desa Siru Kecamatan Lembor Kabupaten Manggarai
Barat ........................................................................................................... 61
1. Kuesioner Penelitian Petani Responden di Desa Siru Kecamatan Lembor
Kabupaten Manggarai Barat ................................................................................... 75
2. Identitas Petani Responden di Desa Siru Kecamatan Lembor Kabupaten Manggarai
Barat ....................................................................................................................... 81
3. Biaya Pembelian Pupuk Petani Pengguna Pupuk Nonsubsidi di Desa Siru Kecamatan
Lembor Kabupaten Manggarai Barat ...................................................................... 82
4. Biaya Pembelian Pupuk Petani Pengguna Pupuk Bersubsidi dan Nonsubsidi di Desa
Siru Kecamatan Lembor Kabupaten Manggarai Barat ........................................... 82
5. Biaya Pembelian Pupuk Petani Pengguna Pupuk Bersubsidi di Desa Siru Kecamatan
Lembor Kabupaten Manggarai Barat ...................................................................... 83
6. Biaya Pestisida Petani Pengguna Pupuk Bersubsidi dan Nonsubsidi di Desa Siru
Kecamatan Lembor Kabupaten Manggarai Barat ................................................... 84
7. Biaya Pestisida Petani Pengguna Pupuk Nonsubsidi di Desa Siru Kecamatan
Lembor Kabupaten Manggarai Barat ...................................................................... 86
8. Biaya Pestisida Petani Pengguna Pupuk Bersubsidi di Desa Siru Kecamatan
Lembor Kabupaten Manggarai Barat ...................................................................... 87
9. Biaya Tenaga Kerja Petani Pengguna Pupuk Bersubsidi dan Nonsubsidi di Desa
Siru Kecamatan Lembor Kabupaten Manggarai Barat ........................................... 88
10. Biaya Tenaga Kerja Petani Pengguna Pupuk Bersubsidi dan Nonsubsidi di Desa
Siru Kecamatan Lembor Kabupaten Manggarai Barat ........................................... 88
11. Biaya Tenaga Kerja Petani Pengguna Pupuk Nonsubsidi di Desa Siru Kecamatan
Lembor Kabupaten Manggarai Barat ...................................................................... 89
12. Biaya Tenaga Kerja Petani Pengguna Pupuk Bersubsidi di Desa Siru Kecamatan
Lembor Kabupaten Manggarai Barat ...................................................................... 90
13. Biaya Benih Petani Pengguna Pupuk Bersubsidi dan Nonsubsidi di Desa Siru
Kecamatan Lembor Kabupaten Manggarai Barat ................................................... 92
xiv
14. Biaya Benih Petani Pengguna Pupuk Nonsubsidi di Desa Siru Kecamatan Lembor
Kabupaten Manggarai Barat ................................................................................... 92
15. Biaya Benih Petani Pengguna Pupuk Bersubsidi di Desa Siru Kecamatan Lembor
Kabupaten Manggarai Barat ................................................................................... 92
16. Total Produksi dan harga Pengguna Pupuk Bersubsidi dan Nonsubsidi di Desa Siru
Kecamatan Lembor Kabupaten Manggarai Barat ................................................... 93
17. Total Produksi dan harga Pengguna Pupuk Nonsubsidi di Desa Siru Kecamatan
Lembor Kabupaten Manggarai Barat ..................................................................... 93
18. Total Produksi dan harga Pengguna Pupuk Bersubsidi di Desa Siru Kecamatan
Lembor Kabupaten Manggarai Barat ..................................................................... 94
19. Total Biaya Produksi Petani pengguna Pupuk Bersubsidi dan Nonsubsidi di Desa
Siru Kecamatan Lembor Kabupaten Manggarai Barat ........................................... 94
20. Total Biaya Produksi Petani pengguna Pupuk Nonsubsidi di Desa Siru Kecamatan
Lembor Kabupaten Manggarai Barat ..................................................................... 95
21. Total Biaya Produksi Petani pengguna Pupuk Bersubsidi di Desa Siru Kecamatan
Lembor Kabupaten Manggarai Barat ..................................................................... 95
22. Total Peneriman, Total Biaya Produksi, dan Pendapatan Petani Pengguna Pupuk
Bersubsidi dan Nonsubsidi di Desa Siru Kecamatan Lembor Kabupaten Manggarai
Barat ....................................................................................................................... 96
23. Total Peneriman, Total Biaya Produksi, dan Pendapatan Petani Pengguna Pupuk
Nonsubsidi di Desa Siru Kecamatan Lembor Kabupaten Manggarai Barat ............ 96
24. Total Peneriman, Total Biaya Produksi, dan Pendapatan Petani Pengguna Pupuk
Bersubsidi di Desa Siru Kecamatan Lembor Kabupaten Manggarai Barat ............. 97
25. Dokumentasi Penelitian ......................................................................................... 98
27. Surat Keterangan telah melakukan Penelitian ............................................... 106
28. Turnitin .......................................................................................................... 107
2.2. Kelangkaan Pupuk Bersubsidi ............................................................. 13
2.3Produksi ………………………………………………………………. 14
2.9 Kerangka Pikir ....................................................................................... 25
3.2 Teknik Penentuan Sampel ................................................................... 31
3.3 Jenis dan Sumber Data .......................................................................... 32
3.4 Teknik Pengumpulan Data .................................................................... 33
3.5 Teknik Analisis Data ............................................................................. 34
3.6 Defenisi Operasional ............................................................................ 35
4.1. Letak Geografis .................................................................................... 37
4.2. Kindisi Demografis .............................................................................. 38
4.3. Kondisi Pertanian ................................................................................. 41
5.1. Hasil Penelitian..................................................................................... 43
5.4. Dampak kelangkaan Pupuk Bersubsidi terhadap Produksi .................. 54
5.5. Dampak kelangkaan Pupuk Bersubsidi Terhadap pendapatan ............. 59
VI. KESIMPULAN DAN SARAN.................................................................. 65
6.1. Kesimpulan ........................................................................................... 65
6.2. Saran ..................................................................................................... 66
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 67
dalam jumlah yang cukup besar dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya di
Indonesia. Pertanian berperan penting dalam mendukung keberlangsungan
hidup suatu negara. Selain itu, pertanian sebagai aspek penting dalam
mendukung ketersediaan pangan di suatu negara (Muchlisin, 2016).
Saat ini sektor pertanian dihadapkan pada permasalahan pemenuhan
kebutuhan pangan dan kesejahteraan petani. masalah pemenuhan kebutuhan
pangan bagi seluruh penduduk setiap saat di suatu wilayah menjadi sasaran
utama kebijakan pangan bagi pemerintahan suatu negara. Indonesia sebagai
negara dengan jumlah penduduk yang besar menghadapi tantangan yang
sangat kompleks dalam memenuhi kebutuhan pangan penduduknya, sehingga
masalah ketahanan pangan menjadi isu sentral dalam pembangunan dan
menjadi fokus dalam pembangunan pertanian. Oleh karena itu, untuk
memenuhi kebutuhan pangan yang terus meningkat menuntut petani untuk
selalu berproduksi.
Indonesia selain menjadi salah satu makanan pokok, padi juga sebagai
sumber pendapatan masyarakat karena sebagian besar penduduk di Indonesia
bekerja sebagai petani, namun masih banyak permasalahan yang terdapat di
dalamnya (Purnamaningsih, 2006).
meningkatkan produksi tanaman pangan khususnya padi sawah, sehingga
keberadaan dan pemanfaatannya memiliki posisi yang strategis.Program
pemberian pupuk bersubsidi menjadi program prioritas pemerintah yang
bertujuan untuk meringankan beban petani agar ketika mereka memerlukan
pupuk untuk tanaman pangannya, tersedia dengan harga yang terjangkau
(Sularno. Dkk. 2016).
yang utama dimana tanaman pangan masih banyak ditanami oleh masyarakat.
Salah satu tanaman pangan yang diproduksi di Manggarai Barat adalah padi
sawah.
Perkembangan luas panen dan produksi padi sawah sejak tahun 2015 -
2019 di Kabupaten Manggarai Barat dapat dilihat pada tabel berikut:
Table 1. Luas Panen dan Produksi Padi sawah di Kabupaten Manggarai
Barat 2015–2019
1 2 3
2015 32 564,00 176 194,00
2016 33 797,00 195 533,00
2017 36 477,70 216 945,56
2018 48 038,90 280 083,40
2019 43 937,10 260 793,50 Sumber : Statistik Pertania Kabupaten Manggarai Barat 2020.
Selama kurun waktu 2015-2018 luas panen padi sawah cenderung
mengalami peningkatan dan terjadi penurunan pada tahun 2019 yang disertai
naik turunnya produksi.
sebesar 260 793,50 ton.Terjadi penurunan sebesar 19 289,90 ton (6,89
persen) jika dibandingkan dengan tahun 2019.Kecamatan Lembor memiliki
kontribusi sekitar (72 097,82 ton) 25,28 persen. (Statistik Pertanian
Kabupaten Manggarai Barat, 2020).
Kecamatan Lembor Kabupaten Manggarai Barat dan sebagian besar
penduduknya bekerja sebagai petani. Akan tetapi hasil produksi padi sawah
dari 2015 ke tahun-tahun berikutnya justru mengalami penurunan Produksi.
Penurunan pruduksi padi sawah yang dihasilkan tentunya disebabkan oleh
berbagai faktor, seperti kelangkaan pupuk bersubsidi sehingga petani tidak
dapat memaksimalkan pemupukan pada tanaman padi.
Konsistenya hasil produksi padi yang dicapai bukan hal mudah akan
tetapi, dibutuhkan berbagai faktor pendukung agar dapat berhasil. Salah satu
peran pemerintah adalah memberikan subsidi pada sektor pertanian guna
untuk mengurangi beban masyarakat dengan membayar sebagian harga yang
seharusnya dibayar oleh masyarakat atau kelompok masyarakat tertentu agar
ketika mereka memerlukan pupuk untuk tanaman padinya, tersedia dengan
harga yang terjangkau.
mampu menjamin ketersediaan pupuk yang memadai dengan Harga Eceran
Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan. Secara realitas masih sering terjadi
4
lapangan.
berbeda dengan sebelumnya. Saat ini petani sangat sulit untuk mendapatkan
pupuk bersubsidi, ketika petani membutuhkan pupuk harus membeli pupuk
nonsubsidi yang dijual di toko dengan harga mahal, sehingga biaya yang di
keluarkan petani bertambah dan berdampak terhadap kurangnya pendapatan
petani.Oleh karena itu, penulis tetarik untuk melakukan penelitian tentang
“Dampak Kelangkaan Pupuk Bersubsidi Terhadap Produksi dan
Pendapatan Padi sawah di Desa Siru Kecamatan Lembor Kabupaten
Manggarai Barat”.
penelitian ini yaitu:
petani padi sawah?.
usaha tani padi sawah?.
usaha tani padi sawah?.
penelitian ini adalah sebagai berikut:
5
padi sawah.
usaha tani padi sawah.
usaha tani padi sawah.
berikut:
khususnya kelangkaan pupuk bersubsidi dan dampaknya bagi petani
padi, serta sebagai bahan referensi, untuk melengkapi penelitian lebih
lanjut yang masih ingin mencari permasalahan yang berkaitan dengan
penelitian ini.
pembinaan dan sosialisasi intensif kepada petani terkait kelangkaan
pupuk bersubsidi.
Peraturan presiden Nomor 15 Tahun 2011 tentang Perubahan atas
Peraturan Presiden Nomor 77 tahun 2005 tentang Penetapan Pupuk Bersubsidi
Sebgai Barang dalam Pengawasan. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor
15/M-DAG/PER/4/2013 tentang Pengadaan dan Penyaluran Pupuk Bersubsidi
Untuk Sektor Pertanian. Pupuk bersubsidi merupakan barang dalam
pengawasan yang diprogramkan oleh pemerintah yang dalam pengadaan dan
penyalurannya mendapat subsidi dari pemerintah untuk kebutuhan petani di
sektor pertanian.Sedangkan Pupuk non subsidi adalah dalam pengadaan dan
penyalurannya tidak mendapat subsidi dari pemerintah atau di luar program
pemerintah (Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Republik
Indonesia Nomor: 70/MPP/Kep/2/2003).
rantai yang menjembatani antara produsen dengan konsumen dalam rangka
pelaksanaan menyalurkan produk atau jasa agar sampai ke tangan konsumen
secara efisien dan mudah dijangkau. Pengadaan dan penyaluran pupuk
bersubsidi dilaksanakan sesuai Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 15/M-
DAG/Per/2015 tentang Pengadaan Penyaluran Pupuk Bersubsidi Untuk
Sektor Pertanian. Pelaksana Subsidi Pupuk ditugaskan pada PT Pupuk
Indonesia (Persero) yang bertugas untuk melaksanakan pengadaan dan
7
masing.
bersubsidi antar produsen dilakukan oleh PT. Pupuk Indonesia (Persero)
sesuai dengan kemampuan produksi, dengan tujuan agar dapat lebih efisien,
efektif dan fleksibel. Pengadaan dan penyaluran pupuk bersubsidi pada lini III
dilakukan melalui produsen kepada distributor resmi yang telah ditunjuk di
wilayah kerjanya. Selanjutnya pada penyalur lini IV dilakukan oleh
distributor kemudian menyalurkan kepada Pengecer resmi yang ditunjuk di
wilayah kerjanya. Untuk petani/kelompok tani, penyaluran pupuk bersubsidi
dilakukan oleh pengecer resmi yang telah ditunjuk di wilayah kerjanya.
Sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Menteri Pertanian tentang Alokasi
dan HET Pupuk Bersubsidi Untuk Sektor Pertanian, penyaluran pupuk
bersubsidi dilakukan dengan sistem tertutup melalui Rencana Definitif
Kebutuhan Kelompok (RDKK) dengan Harga Eceran Tertinggi (HET).
2.2.3 Harga Eceran Tertinggi (HET) Pupuk Bersubsidi
Efektivitas penggunaan pupuk bersubsidi diarahkan pada penerapan
pemupukan berimbang sesuai rekomendasi spesifik lokasi atau standar teknis
penggunaan pupuk bersubsidi yang dianjurkan. Dalam penerapan pemupukan
berimbang, perlu didukung dengan aksesibilitas dalam memperoleh pupuk
dengan harga yang terjangkau. Guna menjamin ketersediaan pupuk dengan
Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan, maka pada tahun 2018
melalui Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2017 tentang Anggaran Pendapatan
8
tersebut, Pemerintah menerbitkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor
47/Permentan/SR.310/12/2017tentang Alokasi dan Harga Eceran Tertinggi
Pupuk Bersubsidi Untuk Sektor Pertanian Tahun Anggaran 2018. Penyalur di
Lini IV (pengecer resmi) yang ditunjuk wajib menjual pupuk bersubsidi
kepada petani/kelompok tani berdasarkan RDKK sesuai Peraturan Menteri
Perdagangan tentang Pengadaan dan Penyaluran Pupuk Bersubsidi Untuk
Sektor Pertanian, dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) sebagaimana diatur
dalam Peraturan Menteri Pertanian tentang Kebutuhan dan Harga Eceran
Tertinggi (HET) Pupuk Bersubsidi Untuk Sektor Pertanian yang
berlaku.Harga Eceran Tertinggi (HET) Pupuk Bersubsidi yang ditetapkan
dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor 47/Permentan/SR.310/12/2017,
sebagai berikut:
No JENIS PUPUK HARGA
Sumber. Kementrian Pertanian 2020
untuk pembelian oleh petani, petambak dan/atau kelompoktani di Lini IV
(pengecer resmi) secara tunai dalam kemasan 50 Kg untuk pupuk Urea, SP36,
ZA dan NPK serta dalam kemasan 40 Kg untuk pupukorganik.
2.2.4 Pola Disrtibusi Pupuk Bersubsidi
Pola disrtibusi pupuk bersubsidi merupakan suatu kegiatan
penyaluran pupuk oleh perusahaan kepada petani sebagai konsumen
(pemakai pupuk) yang telah disubsidikan pemerintah. Sampai saat ini PT.
Pupuk Sriwijaya yang bertanggungjawab sebagai suatu perusahan utama
dari seluh perusahan BMUN pupuk di Indonesia dalam melakukan
pendistribusian dan penjualan pupuk. Pola distribusi pupuk yang diawali
dari lini I (Pabrik-Pelabuhan) ke lini II (Pelabuhan-Penyimpan Provensi),
danke lini III ke lini IV (Kecamatan) dilakukan oleh para penyalur, dan
penjualan kepada petani di lakukan oleh para pengecer resmi atau yang
bertanggungjawab pada suatu wilaya di lini IV (Santosa, 2008). Kurangnya
pengawasan pemerintah proses pendistribusian pupuk membuka
kemungkinan adanya penimbunan pupuk oleh para pengecer yang akan
menyebabkan terjadinya kelangkaan pupuk bersubsidi.
2.2.5 Pengunaan Pupuk Dalam Produksi Padi
Pupuk bersubsidi merupakan salah satu sarana input atau sarana
produksi yang diberikan ke dalam tanah sebagai salah satu penentu dalam
peningkatan produksi guna untuk menggantikan unsur hara dari dalam tanah,
baik pupuk organik maupun pupuk anorganik. Pupuk organik merupakan
10
jenis pupuk alami seperti pupuk kandang, pupuk Organik Cair (POC),
kompos dan sebagainya. Adapun fungsinya adalah untuk menggemburkan
lapisan tanah, meningkatkan populasi makhluk yang teramat kecil dalam
tanah, mempertinggi daya serap dan daya simpan air, dan meningkatkan
kesuburan tanah.
Pupuk anorganik merupakan jenis pupuk yang dibuat oleh pabrik
dengan proses fisik, kimia, dan biologis. Jenis pupuk anorganik ini diantarnya
pupuk Urea, ZA SP-36, dan NPK (Rohmayani N, 2016). Sesuai dengan
peraturan Menteri Perdagangan RI Tahun 2009 mengenai pengadaan dan
penyalurannya pupuk bersubsidi bahwa jenis pupuk yang disubsidikan oleh
pemerintah adalah pupuk anorganik yang di produksikan lansung oleh
produsen tanah air, yaitu pupuk Urea, SP-36, NPK, ZA dan dan pupuk
organik. Ririn (2017) menjelaskan terdapat beberapa manfaat penggunaan
pupuk berdasarkan jenisnya, yaitu :
1. Pupuk Urea mengandung kadar nitrogen yang tinggi yang bermanfaat
dalam proses fotosintesis tanaman, mempercepat pertumbuhan anakan,
dan cabang tanaman.
pertumbuhan perakaran dan pembungaan pada tanaman, selain itu
memperkuat batang tanaman.
3. Pupuk ZA di dalamnya mengandung Nitrogen (N) dan sulfur (S) yang
bekerja dalam meningkatkan jumlah anakan pada tanaman padi, dan
menjadikan tanaman lebih sehat.
11
4. Pupuk NPK dilamnya mengandung unsur Nitrogen (N) Phospat (P) dan
Kalium (K) yang dapat membantu proses fotosintesis pada tanaman,
mencegah kerdil.
5. Pupuk Organik terdiri dari beberapa jenis kandungan didalamnya yaitu
sisa-sisa dedaunan tanaman, sisa kotoran pada hewan, yang masing-
masingnya dapat membantu tanaman dalam proses pembusukan dalam
proses pembusukan oleh mikroorganisme yang terdapat didalamnya.
Dalam membantu meningkatkan produksi padi salah satunya adalah
dengan cara pemberian pupuk. Pemberian pupuk yang efektif dan efesien
haruslah didasarkan pada konsep 5 tepat pemupukan yaitu, tepat dosis, tepat
jenis, tepat waktu, tepat cara, dan tepat bentuk (Agus et al, 2018). Adapun
anjuran pemakaian pupuk bersubsidi pada tanaman berdasarkan 5 tepat
yaitu:
yang disesusuaikan dan dibandingkan dengan rekomendasi pupuk.
Ketepatan penentuan dosis anjuran pemakaian atau rekomendasi pupuk
yang dilakukan dengan berbagai cara salah satunya adalah dengan cara
analisis daun dan tanah. Analisis daun dan tanah ini diukur untuk
mengetahui produktivitas dan kandungan unsur hara yang tersedia pada
lahan sehingga penggunaan pupuknya dapat disesuaikan dengan lahan serta
dapat mencapai produksi yang maksimal dengan sejumlah pupuk yang
tepat.
12
petani harus sesuai dengan yang direkomendasikan. Untuk menentukan
penetapan dalam jenis pupuk biasanya harus mempertimbangkan
keseimbangan hara yang terkandung dimana biasanya setiap jenis pupuk
memiliki kandungan unsur hara utama yang berbeda-beda dan tingkat
responsif yang berbeda pula. Adapun jenis pupuk yang
direkomendasikan merupakan jenis pupuk bersubsidi yang sudah terdapat
label pengawasan dan terdiri dari pupuk anorganik dan organik.
3. Tepat Waktu
tanah yang membutukan pupuk, serta adanya sifat sinergis dan antagonis
antar unsur hara yang dimaksud dengan ketepatan waktu dalam
pemupukan yaitu, pengaplikasian pupuk harus sesuai dengan jadwal
tanam dan pemupukan yang telah ditetapkan, dengan tujuan untuk dapat
memaksimalkan fungsi dari masing-masing pupuk terhadap lahan.
Sejatinya pengaplikasian pupuk yang optimal berada pada fase 7-10
HST, 21 HST, dan 42 HST. Tidak efektifnya pemupukan apabila
pengaplikasianya dilakukan pada saat fase generatif, karena pada fase
tersebut tanaman tidak akan mampu lagi untuk menyerap pupuk dengan
maksimal. Sehingga ketepatan waktu dalam pemupukan menjadi hal
yang sangat penting untuk mencapai keefektifan dalam pemupukan.
13
sesuai dengan yang direkomendasikan. Pengaplikasian yang umum
dilakukan dalam tanaman padi saat ini masih dilakukan dengan
pengaplikasian secara manual. Berdasarkan rekomendasi pemupukan
yang tepat yaitu dengan cara dengan ditebar ataupun ditugal. Selain itu
pemupukan yang baik harus diaplikasikan di sekitar tajuk tanaman,
karena dengan ditebar pada bagian tajuk tanman maka penyerapan pupuk
oleh perakaran tanaman bisa terserap dengan maksimal.
5. Tepat Bentuk
bentuknya dimana terdapat 2 bentuk fisik dari pupuk, yaitu pupuk
berbentuk cair dan pupuk berbentuk padat atau butiran. Spesifikasi lahan
menjadi pertimbangan utama dalam pemilihan bentuk fisik pupuk yang
digunakan, dimana untuk lahan padi pada dataran tinggi sebaiknya
menggunakan pupuk cair, dan untuk dataran rendah sebaiknya
menggunakan pupuk berbentuk padat seperti butiran.
2.2 Kelangkaan Pupuk Bersubsidi
petani sebagai pemanfaat pupuk bersubsidi sulit dalam mendapatkan pupuk
bersubsidi baik dari segi jumlah maupun waktunya. Pupuk bersubsidi ini
merupakan barang yang selalu dalam pengawasan dan biasanya disalurkan ke
kios resmi pupuk atau melalui kelompok tani yang terdapat pada setiap
14
terbantu dari aspek pembiayaan, dan jika ketersediaan pupuk bersubsidi ini
terbatas maka akan menjadi masalah bagi petani (Rohmayani, 2016).
Ketersediaan pupuk di sektor pertanian sudah dianggarkan oleh pemerintah
sesuai dengan kebutuhan petani, namun yang terjadi kebutuhan pupuk setiap
tahunnya terus mengalami peningkatan, sementara produksinya terbatas
sehingga hal ini menyebabkan kelangkaan pupuk. kelangkaan sebenarnya
tidak terjadi di kalangan petani, namun adanya keterlambatan pendistribusian
pupuk ke petani. Keterlambatan yang terjadi karena pasokan pupuk subsidi
dari pemerintah tidak tepat waktu dalam pengiriman. Dengan demikian
Keterlambatan pupuk bersubsidi secara tidak langsung akan berpengaruh
pada pola tanam, karena keterlambatan pupuk akan menunda penanaman
padi yang seharusnya di tanam pada saat musim tanam menundanya
penanaman padi akan berpengaruh pada musim yang seharusnya menanam
tapi tidak menanam dan akan berdampak pada hasil produksi dan pendapatan
petani (Muchlisin, 2016).
Produksi merupakan suatu kegiatan memproses input (faktor
Produksi) menjadi output. Produksi dalam arti lain sebagai hasil dari suatu
proses atau aktivitas ekonomi dengan memanfaatkan beberapa masukan
(Input). Dengan demikian, kegiatan produksi adalah menggabungkan
berbagai input untuk menghasilkan output (Agung, 2008).
15
pemanfaatan sumber daya yang mengubah suatu komoditi menjadi komoditi
lainnya yang sama sekali berbeda. Dalam ekonomi kegiatan tersebut disebut
fungsi produksi. Fungsi produksi menunjukkan jumlah maksimum output
yang dapat dihasilkan dari sejumlah input yang dipakai dengan menggunakan
teknologi tertentu.
digunakan untuk menghasilkan output. Faktor-faktor prodoksi dapat
dibedakan menjadi empat golongan, yaitu lahan, modal, tenaga kerja, dan
keahlian yang dimiliki manusia. Dalam berusaha tani khususnya padi sawah
faktor-faktor produksinya meliputi luas lahan, pupuk, pestisida, dan tenaga
kerja serta faktor-faktor lainya.
dapat di jelaskan sebagai berikut: faktor produksi adalah benda-benda yang
disediakan oleh alam atau diciptakan oleh manusia yang dapat digunakan
untuk memproduksi barang dan jasa. Pada umumnya, keberlangsungan
proses produksi karena adanya Faktor-faktor produksi yang tersedia, yaitu
tanah (lahan), modal, dan tenaga kerja. Faktor produksi yang tersedia dalam
perekonomian adalah sebagai berikut :
16
baik. Pupuk yang diperlukan tanaman untuk menambah unsur hara dalam
tanah ada beberapa macam. Pupuk dapat digolongkan menjadi dua yaitu
pupuk alam dan pupuk buatan (Muin,2017).
Agar tanaman dapat tumbuh dengan baik dan menghasilkan
produksi yang tinggi, diperlukan unsur hara atau makanan yang cukup.
Seperti pemberian pupuk untuk dapat meningkatkan produksi karena
pupuk merupakan sarana produksi yang sangat penting. Pupuk dapat
berupa bahan organik dan maupun bahan anorganik. Selain untuk
ketahanan tanaman pupuk juga sangat berpengaruh terhadap
meningkatnya jumlah produksi panen padi.
3 Lahan
dalam pertanian di Indonesia. Tanah sebagai salah satu faktor produksi
yang merupakan pabrik dari hasil-hasil pertanian yaitu, tempat dimana
produksi terjadi dan darimana hasil produksi dihasilkan. Maka dapat
dikatakan luas lahan salah satu faktor yang mempengaruhi produksi
pertanian. Luas lahan dengan produksi padi memiliki hubungan yang
positif karena semakin luas lahan maka akan menyebabkan produksi padi
semakin meningkat dan semakin sempit luas lahan maka produksi padi
akan mengalami penurunan (Satriagasa, 2019).
Afandi, (2011) menerangkan perubahan lahan sawah dapat
mempengaruhi terhadap produksi padi dan produksi beras, selain
17
lahan sawah mengalami perubahan maka akan terjadi perubahan pada
produksi padi, namun ada pula luas lahan sawah berkurang justru
produksi padi meningkat dan luas lahan bertambah untuk produksi padi
justru menurun ini terjadi karena adanya pengaruh dari produktivitas
pertanian seperti intensifikasi, ekstensifikasi dan diversifikasi.
Berkurangnya tanah atau lahan pertanian di Indonesia di pengaruhi
oleh keputusan petani dalam alih fungsi lahan pertanian menjadi
permukiman. Yang jadi permasalahannya saat ini dalam proses alih
lahan tersebut, harga yang diterima petani belum sepenuhnya
mencerminkan nilai sebenarnya dari lahan, sehingga kalau terus
dibiarkan dikhwatirkan kedepannya tetap seperti itu, dikarenakan lahan
sawah merupakan lahan paling sesuai sebagai media tanam guna menjaga
kestabilan pangan sehingga perlu dipertahankan agar tidak terjadi
perubahan fungsi lahan sawah ke fungsi lahan lainnya. Berkaitan
dengan kecendrungan alih fungsi lahan tersebut, diharapkan kepada
pemerintah agar perketat dalam berbagai peraturan untuk mencegahnya
alih fungsi lahan dan mampu melindungi lahan sawah (Subagiyo dkk,
(2020).
bermacam-macam, seperti serangga, walangsangit, gulma, tikus,
18
pertaniannya dan bahkan mampu melindungi petani dari kerugian paska
panen (Departemen Pertanian Republik Indonesia, 2014).
Haryono dalam Ahusilawane (2020) menerangkan bahwa dalam
pengelolaan hama dan penyakit tumbuhan sering kali petani harus
memakai bahan-bahan kimia (pestisida kimia). Pestisida yang
disemprotkan dapat juga bereaksi dengan senyawa lain menjadi senyawa
yang lebih kompleks dan tidak mudah terdeteksi. Jika senyawa baru
tersebut menjadi senyawa yang lebih racun, maka akan menjadi potensi
bahaya bagi lingkungan termasuk bagi manusia.
5 Tenaga Kerja
faktor produksi yang mempunyai peranan dalam melakukan proses
produksi. Dalam suatu kegiatan usaha tani tenaga kerja yang bekerja
berasal dari keluarga petani itu sendiri seperti ayah sebagai kepala
keluarga, istri, dan anak-anak petani. Tenaga kerja yang berasal dari
keluarga petani ini merupakan sumbangan keluarga pada produksi
pertanian secara keseluruhan yang tidak perlu lagi di
upah(Roswati,2016).
dana yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk membiayai aktivitas produksi
19
barang yang bermanfaat oleh perusahan tersebut.
1. Total Cost (TC)
Semua biaya produksi yang dikeluarkan dalam aktivitas produksi
dinamakan biaya total. Biaya produksi total atau total biaya didapat dari
menjumlahkan biaya tetap total (total fixed cost) dan biaya variable total
(total Variabel Cost). Dengan demikian biaya total dapat dihitung dengan
mengunakan rumus sebagai berikut:
produksi yang digunakan dalam satu priode kegiatan berusa taninya,
sehingga dapat mencerminkan kemajuan ekonomi masyarakat. Pendapatan
tersebut akan digunakan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan
rumah tangganya (Tito dalam Afika, 2019). Dengan kata lain pendapatan
usaha tani secara lebih fokus merupakan selisih antara penerimaan dengan
biaya total yang dikeluarkan melalui pengurangan antara jumlah penerimaan
20
dengan biaya yang dikeluarkan. Pendapatan total merupakan penjumlahan
dari seluruh pendapatan yang diperoleh dari hasil usaha tani yang dilakukan.
Penerimaan dalam usaha tani merupakan total pemasukkan yang
diterima oleh masyarakat atau petani dari kegiatan produksi yang telah
dilakukan dan sudah menghasilkan uang yang belum dikurangi oleh biaya-
biaya yang dikeluarkan selama melakukan proses produksi (Husni et al,
2014). Menurut Rahim dalam, Mira, (2019) menjelaskan bahwa penerimaan
usaha tani adalah hasil perkalian antara produksi yang di proleh dengan
harga jual produksi dan dinilai dengan uang untuk mengetahui berapa hasil
yang diperoleh. Dan hasil tersebut belum bisa dikatakan hasil bersih (Netto)
dan hasil akhir dari kegiatan usaha tani, karena hasil tersebut harus di
kurangi dengan biaya-biaya yang dikeluarkan untuk biaya usaha tani seperti
bibi, pupuk, pestisida, biaya pengolahan lahan, upah menanam, upah
membersihkan rumput, dan biaya panen. Setelah semua biaya tersebut
dikurangi barulah para petani memperoleh yang disebut dengan pendapatan
usaha tani. Pernyataan ini secara matematis dapat ditulis sebagai berikut:
TR = Y.Py
21
penerimaan dengan biaya usaha tani (soekartawi dalam Barokah dkk, 2014).
Hubungan antara pendapatan, penerimaan dan biaya dapat dihitung dengan
rumus:
Keseluruhan biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh (input)
faktor produksi yang tidak dapat diubah jumlahnya dinamakan biaya
tetap total. Biaya yang jumlahnya tidak berubah ketika kuantitas output
berubah seperti penyusutan peralatan usaha tani.
3. Total Variabel Cost (TVC)
Keseluruhan biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh faktor
produksi yang dapat diubah jumlahnya. Biaya yang jumlahnya berubah
ketika kuantitas output yang diproduksi berubah yang dinamakan biaya
variabel.
produksi seperti tanah (lahan), teknologi, pupuk, bibit, pestisida, dan tenaga
kerja dengan efektif dan efesien untuk menghasilkan produksi yang tinggi
sehingga pendapatan usaha taninya meningkat, karena padi yang dihasilkan
22
proses penggilingan yaitu beras (Jamil, 2020).
Menurut Kariyasa dalam Handayani dkk., (2018) usaha tani padi
sawah merupakan salah satu sumber pendapatan dan kesempatan kerja bagi
masyarakat pedesaan. oleh karena itu, kegiatan usaha tani yang dilakukan
oleh para petani tidak hanya meningkatkan produksi tetapi bagaimana
menaikkan pendapatan melalui pemanfaatan penggunaan faktor produksi,
karena sering terjadi penambahan faktor produksi tidak memberikan
pendapatan yang diharapkan oleh petani. Berdasarkan syarat tumbuh
tanaman padi sawah maka walaupun sarana produksi dapat dipenuhi tanpa
adanya ketersediaan air maka tanaman padi sawah tidak dapat tumbuh dan
berproduksi dengan optimal. Budidaya padi sawah sangat membutuhkan
ketersediaan air yang berasal dari jaringan irigasi teknis maupun tadah
hujan.
Penelitian terdahulu ini merupakan acuan sebagai bahan perbandingan.
Selain itu, untuk menjauhi dugaan adanya kesamaan dengan penelitian ini.
Maka dalam tinjauan pustaka ini perlu mencantumkan penelitian terdahulu
dalam bentuk tabel dibawah ini.
Tabel 3. Perbandingan penelitian ini dengan penelitian terdahulu No Nama, Tahun,
dan Judul
alurnya tidak sesuai
ketentuan resmi yang
yang digunakan oleh petani,
dan tidak tepatnya waktu
penelitian yang akan dilaksanakan.
distribusi pupuk bersubsidi secara keseluruhan cukup efektif namun
25
terkadang pupuk bersubsidi masih belum tepat jumlah dan tepat harga, dan
juga pola pendistribusian pupuk bersubsidi tidak berjalan sesuai dengan
ketetapan yang ditetapkan. Ketersediaan dan harga pupuk bersubsidi
berpengaruh signifikan terhadap produksi padi sawah. Selain itu pupuk
bersubsidi juga memberikan pengaruh positif terhadap produksi padi. Dengan
adanya kelangkaan pupuk bersubsidi yang terjadi menyebabkan tidak
tepatnya penggunaan jenis pupuk SP-36 dan ZA oleh petani. Hasil lain
menunjukan bahwa dengan adanya kelangkaan pupuk bersubsidi petani tidak
mengurangi penggunaan pupuk Urea pada usaha tani padi.
2.9 Kerangka Pikir
No. 70/MPP/Kep/2/2003 tanggal 11 Ferbruari 2003, tentang pengadaan dan
Penyaluran Pupuk Bersubsidi Untuk Sektor Pertanian. Dalam program
tersebut pupuk bersubsidi hanya diperuntukkan bagi usaha pertanian yang
meliputi petani tanaman pangan, peternakan dan perkebunan rakyat.
Setiap program pemerintah tidak terlepas dari kendala dan masalah,
terutama penyimpangan-penyimpangan dalam proses pencapaiannya,
termasuk pupuk bersubsidi. Sehingga perlu dilakukannya kordinasi dengan
berbagai pihak terkait seperti, Dinas Pertanian Kabupaten/Kota sebagai
kordinator yang bertanggungjawab dalam pengusulan pupuk bersubsidi dan
mengatur alokasi pupuk bersubsidi pada masing-masing kecamatan untuk
semua subsektor. Selanjutnya distributor menyalurkan kepada pengecer dan
kelompok tani yang telah ditunjuk wilayah kerjanya. Penyaluran pupuk
26
bersubsidi kepada petani akan dilakukan oleh pengecer resmi di masing-
masing kecamatan yang menjadi tanggungjawabnya.
Salah satu masalah yang terdapat dalam pupuk bersubsidi adalah
kelangkaan. Hal-hal yang terdapat dalam kelangkaan pupuk bersubsidi adalah
ketersediaannya terbatas dan harga tinggi. Walaupun pada kenyataanya tidak
terjadi, namun perlu untuk diantisipasi agar penyaluran pupuk besubsidi di
lapangan dapat berjalan lancar dan efektif.
Kegiatan usaha tani padi sawah petani seringkali diperhadapkan
dengan masalah kelangkaan pupuk bersubsidi. Hal tersebut disebabkan oleh
terbatasanya sarana produksi seperti pupuk bersubsidi dan harga
tinggi.Kelangkaan pupuk bersubsidi ini akan berdampak terhadap penurunan
produksi dan rendahnya pendapatan petani padi sawah, sehingga
mengakibatkan kerugian.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember sampai dengan
Januari 2021. Lokasi penelitian yaitu di Desa Siru Kecamatan Lembor
Kabupaten Manggarai Barat. Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara
sengaja dengan pertimbangan bahwa Desa Siru merupakan Sentra produksi
Padi yang mengalami kelangkaan pupuk bersubsidi.
3.2 Teknik Penentuan Sampel
secra acak (simple random sampling) tanpa memperhatikan strata yang ada
dalam populasi itu.
Populasi adalah keseluruahan subjek atau objek yang menjadi
sasaran dalam penelitian ini. Populasi yang diteliti pada penelitian ini adalah
petani padi sawah di Desa Siru sebanyak 340 orang petani. Sedangkan
sampel adalah perwakilan dari populasi yang akan diteliti.
Untuk menetukan banyaknya sampel yang akan diteliti
menggunakan rumus slovin seperti berikut:
n
Keterangan :
n = jumlah sampel
29
n
Dari perhitungan dengan menggunakan rumus slovin diatas maka,
yang menjadikan sampel penelitian ini adalah sebesar 39 orang petani padi
sawah di Desa siru Kecematan Lembor Kabupaten Manggarai Barat.
3.4 Jenis dan Sumber Data
Jenis penelitian yang digunakan merupakan penelitian deskriptif
dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Penelitian deskriptif adalah
suatu bentuk penelitian untuk mendeskripsikan permasalahan yang terdapat
pada objek penelitian yang berkaitan dengan kelangkaan pupuk bersubsidi.
Sedangkan sumber data yang digunakan pada penelitian ini yaitu data
sekundar dan primer:
1. Data Sekunder
perpustakaan, laporan penelitian terdahulu, kantor desa, literatur-
literatur yang berkaitan, dan data dipublikasi oleh instansi-instansi
yang terkait dengan penelitian ini seperti, Dinas Pertanian Tanaman
Pangan dan Holtikultura Kabupaten Manggarai Barat, dan Balai
Penyuluhan Pertanian Kecamatan Lembor, Badan Pusat Statistik (BPS),
dan instansi lainnya dan data ini dapat berupa data keadaan geografis,
Luas Lahan, produksi padi, dan lainnya.
30
peneliti di lapangan dengan cara observasi langsung terhadap objek
yang diteliti dan melakukan wawancara kepada petani atau
responden penelitian.
cara sebagai berikut:
yang diteliti di Desa Siru kecamatan Lembor kabupaten Manggarai
Barat.
dilakukan secara lisan antara pewawancara dengan respondenya
menggunakan pedoman kuesioner untuk mendapatkan informasi yang
lebih luas terkait objek yang diteliti.
3. Kuesioner
peneliti dalam mengumpulkan data yang berisi catatan dalam bentuk
pertanyaan untuk ditanyakan kepada responden.
4. Dokumentasi
dokumen berbentuk gambar atau dokumentasi sebagai bukti bahwa telah
dilaksanakan penelitian dan apa yang ditulis sesuai dengan kejadian di
lokasi penelitian.
Dalam penelitian ini, peneliti mengunakan alat analisis antara lain sebagai
berikut:
digunakan analisis deskriptif berdasarkan hasil wawancara dengan Kabid
PSP Dinas Pertanian Kabupaten Manggarai Barat.
2. Analisis dampak kelangkaan pupuk bersubsidi terhadap produksi
Untuk menjawab dampak kelangkaan pupuk bersubsidi terhadap
produksi menggunakan analisis deskripitif untuk menjelaskan
damapaknya terhadap produksi petani padi sawah.
3. Analisi dampak kelangkaan pupuk bersubsidi terhadap pendapatan
Untuk menganalisis dampak kelangkaan pupuk bersubsidi terhadap
pendapatan usaha tani padi maka, dilakukan analisis kuantitatif dengan
perhitungan sebagai berikut:
TC = TFC + TVC
TR = Y.Py
Pd = TR – TC
lebih terfokus maka peneliti memberikan definisi operasional terhadap
judul penelitian yang akan di laksanakan oleh peneliti. Adapun definisi
operasional tersebut adalah sebagai berikut:
1. Pupuk Bersubsidi adalah jenis pupuk diperoleh dari pengecer resmi dan
kelompok tani dengan harga terjangkau atas dasar program pemerintah.
33
prasarana dan sarana pertanian tanaman pangan kabupaten/kota.
3. Distributor pupuk bersubsidi adalah yang bertanggungjawab dalam
menyalurkan pupuk bersubsidi kepada pengecer (penyalur di Lini IV)
yang telah ditunjuk di wilayah kerjanya.
4. Kelangkaan pupuk bersubsidi adalah tidak tersedianya pupuk bersubsidi
ketika dibutuhkan (tidak mampu memenuhi kebutuhan petani).
5. Penggunaan pupuk bersubsidi dalam produksi padi adalah tingkat
terhadap penggunaan pupuk bersubsidi sesuai dosis anjuran pemupukan
pada usaha tani padi yaitu, Urea, SP-36, ZA, NPK, Organik.
6. Harga tinggi yang dimaksud adalah melebihi harga yang telah ditetapkan
sesuai Harga Enceran Tertinggi (HET).
7. Sedangkan harga merupakan harga beli Pupuk bersubsidi pada tingkat
petani.
8. Usaha tani padi sawah merupakan kegiatan petani dalam mengelola
lahanya menjadi lahan produktif.
mengkombinasi semua input untuk mendapatkan output seperti padi dan
beras.
10. Pendapatan usaha tani padi sawah merupakan penerimaan yang di
terima oleh setiap petani dalam satu kali berusaha tani dikurangi dengan
total biaya produksi yang dinyatakan
dalam satuan rupiah (Rp)
4.1. Letak Geografis
Desa Siru merupakan salah satu dari 13 desa yang ada di Kecamatan
Lembor Kabupaten Manggarai Barat. Secara geografis Desa Siru memiliki luas
wilayah sebesar 25,49 km 2
dengan jumlah jiwa sebanyak 2.073 jiwa terdiri 1.040
jiwa laki - laki 1.033 jiwa perempuan. Desa Siru memiliki 6 Dusun, terletak
disebelah utara kota Kecamatan, jarak tempuh Desa Siru dari pusat pemerintah
Desa yaitu, jarak ke ibu kota kecamatan 4,8 km dan lama jarak tempuh ¼ jam.
Sedangkan dari ibu kota Kabupaten + 58 km, dan jarak tempuh 2/5 jam. Dengan
batas administrasi adalah sebagai berikut:
a. Sebelah utara berbatasan dengan Golo Ronggot Kecamatan Welak
b. Sebelah timur berbatasan dengan Desa Poco Rutang Kecamatan Lembor
c. Sebelah selatan berbatasan dengan Lurah Tangge Kecamatan Lembor
d. Sebelah barat berbatasan dengan Desa Wae wako Kecamatan Lembor.
Kondisi umum iklim yang ada di Desa Siru yaitu dengan curah hujannya
pertahun 280 0C. Sedangkan ketinggiannya + 3000 meter dari permukaan laut
(dpl) dengan suhu udara 20-40 0C. Adapun jumlah curah hujan 3-4 bulan.
Sedangkan jenis warna tanah yang ada di Desa Siru adalah
merah/kuning/hitam/abu-abu dan tekstur tanahnya adalah Lampungan/ Pasir/
Debuan.
35
Kondisi demografis di Desa Siru berdasarkan keadaan penduduk di bagi
berdasarkan jenis kelamin, jumlah penduduk berdasarkan usia, jumlah penduduk
berdasarkan pendidikan, jumlah penduduk berdasarkan jenis pekerjaan, jumlah
penduduk berdasarkan agama sebagai berikut:
4.2.1. Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin
Jumlah penduduk di lokasi penelitian adalah 2.230 jiwa berasal dari
494 KK. Adapun jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin terdiri dari
1.040 jiwa laki-laki dan 1.033 jiwa perempuan. Untuk lebih jelasnya
gambaran tentang penduduk di Desa Siru menurut jenis kelaminnya maka
dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 4. Distribusi Penduduk Menurut Jenis Kelamin di Desa Siru Kecamatan
Lembor Kabupaten Manggarai Barat.
1. Laki – Laki 1040 50,16
2. Perempuan 1033 49,83
Sumber: Data Skunder 2020
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa dari total penduduk Desa Siru
lebih didominasi oleh penduduk jenis kelamin laki-laki adalah sebesar 1.040
jiwa dengan persentasi 50,16 % sedangkan yang jenis kelamin perempan
adalah 1.033 jiwa dengan persentasi 49,83 %.
4.2.2 Jumlah Penduduk Berdasarkan Usia.
Gambaran umum tentang keadaan penduduk berdasarkan usia di lokasi
penelitian dapat dilihat pada Tabel berikut:
36
Lembor Kabupaten Manggarai Barat.
1. 0 – 4 138 6,65
2. 5 – 9 208 10,03
3. 10 – 14 206 9,93
4. 15 – 19 288 13,89
5. 20 – 24 275 12,26
6. 25 – 29 186 8,97
7. 30 – 34 129 6,22
8. 35 – 39 144 6,94
9. 40 – 44 117 5,64
10. 45 – 49 103 4,96
11. 50 – 54 87 4,19
12. 55 – 59 83 4,00
13. 60 + 109 5,25
Dari tabel diatas menunjukkan bahwa jumlah penduduk paling banyak
adalah berada pada kelompok umur 15-19 tahun adalah sebanyak 288 orang
dengan persentasi 13,89%. Pada interval ini memiliki kelompok umur yang
produktif yaitu dimana seorang memiliki fisik yang lebih kuat sehingga dapat
menghasilkan barang dan jasa yang lebih efektif jika dibandingkan dengan
orang yang sudah produktif. Sedangkan jumlah penduduk yang umurnya
sudah tidak produktif berada pada umur 60+ tahun sebanyak 109 orang
dengan persentasi 98,93%.
Penduduk Desa Siru memiliki tingkat pendidikan yang serasi yakni
mulai dari SD, SMP, SMA, dan Sarjana. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat
pada tabel dibawah ini.
Kecamatan Lembor Kabupaten Manggarai Barat.
No Pendidikan Jumlah (Jiwa) Persentase (%)
1. Belum Tamat SD 461 22,23
2. SD 718 34,63
3. SMP 301 14,52
4. SMA 391 18,86
5. ≥ D1 202 9,74
Tabel diatas menunjukkan bahwa tingkat pendidikan penduduk Desa
Siru paling besar berada tingkat pendidikan SD sebesar 718 orang dengan
persentasi 34,63 %. Belum tamat SD sebanyak 461 dengan persentase 22,23
%, Sekolah Menegah Atas (SMP) yaiyu 301 orang dengan persentasi 14,52
%, kemudian Sekolah Menengah Pertama (SMA) sebanyak 391 orang dengan
persentasi 18,86 %. Sedangkan kecil adalah Sarjana ( ≥D1 ) sebanyak 202
dengan persentase 9,98 %.
Jumlah penduduk Desa Siru berdasarkan pekerjaan dapat
dikelompokkan berdasarkan pekerjaannya masing-masing. Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut.
38
Tabel 7. Distribusi Penduduk Berdasarkan Jenis Pekerjaan di Desa Siru
Kecematan Lembor Kabupaten Manggarai Barat.
No Pekerjaan Jumlah (Jiwa) Persentase (%)
1. Belum Kerja 215 10,37
2. IRT 178 8,58
3. Pelajar 782 37,72
4. Pensiunan 1 0,04
5. PNS 30 1,44
6. Buru 5 0,24
7. Petani 697 33,62
8. Sewasta 84 4,05
10. Guru 56 1,25
11. Pengusaha 1 0,04
12. Sopir 2 0,09
pekerjaannya sebagai petani yaitu sebesar 697 orang dengan persentasi 33,62
% dan paling sedikit adalah pekerjaannya sebagai pengusaha yaitu 1 orang
dengan persentasi 0,09 %.
3.3. Kondisi Pertanian
Kondisi pertanian di Desa Siru dapat menjadi indikator bahwa, Desa Siru
mampu mencukupi kebutuhan pangan pokok penduduk. Lahan sawah fungsional
yang ada di Desa Siru seluas 1388, 78 (Ha) yang terdiri dari Sawah irigasi seluas
13,78,78 (Ha) yang di tanami komuditas padi saja 3 kali panen dalam setahun.
Sedangakan sawah tada hujan seluas 10 (Ha) hanya ditanami komuditas padi satu
kali dalam setahun. Luas areal panen tanaman pangan tersebut menggambarkan
potensi yang dimilikinya, serta kemampuan untuk menghasilkan makanan pokok
penduduk yang ada didalamnya.
Komuditas padi merupakan prioritas utama dibudidayakan oleh penduduk
di Desa Siru, karena komuditas ini merupakan komuditas tanaman yang paling
cocok untuk ditanam sesuai dengan kondisi lahan yang ada di Desa Siru dan
kebiasaan penduduk, serta kebutuhan penduduk terhadap komuditas padi sebagai
kebutuhan ekonomi.
sehingga dapat mengelolah lahan usaha tani secara optimal.
40
memberikan keterangan dan data yang akurat terkait permasalahan yang akan
diteliti. Adapun identitas responden meliputi umur, tingkat pendidikan,
tanggungan keluarga, pengalaman berusaha tani, dan luas lahan.
1. Umur Petani Reponden
faktor yang dipengaruhi oleh umur. Petani yang masih termasuk dalam
kategori umur produktif secara fisik masih mampu bekerja jika dibandingkan
dengan yang sudah tidak produktif. Oleh sebab itu, indikator untuk menilai
tingkat produktivitas petani dalam mengelolah usaha taninya adalah umur.
Adapun tabel distribusi berdasarkan kelompok umur petani responden
sebagai berikut:
Tabel 9. Distribusi Petani Responden Berdasarkan Kelompok Umur di Desa
Siru Kecamatan Lembor Manggarai Barat.
No Umur Petani (Tahun) Jumlah (Jiwa) Persentase (%)
1 25 – 32 4 10
2 33 - 40 12 31
3 41 – 48 13 33
4 49 – 56 4 10
5 57 – 64 4 10
6 65 – 73 2 5
Jumlah 39 100
41
terbanyak berada pada golongan umur produktif yang berada pada kisaran
kelompok umur 41-48 tahun dengan jumlah 13 orang atau 33 %. Hal ini
menunjukan bahwa pengalaman yang dimilikinya dalam berusahatani padi
sawah sudah cukup lama sehingga dapat memperkirakan jumlah dosis pupuk
yang akan digunakan sesui dengan rekomendasi.
2. Tingkat Pendidikan Responden
Pendidikan dapat menghantarkan kepada sesuatu hal yang ingin
dicapai oleh setiap orang, begitu pula dalam kegiatan berusaha tani. Petani
dalam mengelolah usaha taninya pendidikan turut mempengaruhi
didalamnya, misalnya dalam hal kreatif berusaha tani dan mengadopsi
teknologi baru. Semakin tinggi pendidikan seseorang semakin mudah dalam
merespon sesuatu hal yang baru begitupun sebaliknya.
Tabel 10. Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Desa Siru
Kecamatan Lembor Kabupaten Manggarai Barat.
No Tingkat Pendidikan Jumlah (Jiwa) Persentase (%)
1 Tidak Tamat SD 8 21
2 SD 7 18
3 SMP 9 23
4 SMA 11 28
5 SARJANA 4 10
Tabel di atas menunjukan bahwa, responden yang mendominasi
adalah tingkat pendidikanya SMA yakni 11 orang dengan persentase 28%.
Dengan demikian, responden tersebut akan lebih kreatif dalam berpikir
terkait cara untuk mendapatkan pupuk bersubsidi juga dalam mengelolah
42
lebih dari yang tingkat pendidkanya terbilang rendah.
3. Jumlah Tanggungan Keluarga
usaha tani padi jika dimanfaatkan sebagai tenaga kerja dalam keluarga.
Banyaknya anggota dalam keluarga dapat memperkecil penggunaan tenaga
kerja luar yang dibutuhkan dalam kegiatan usaha tani padi sehingga dapat
mengurangi biaya produksi yang dikeluarkan. Untuk mengetahui lebih
jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 11. Distribusi Responden Berdasarkan Jumlah Tanggungan Keluarga di
Desa Siru Kecamatan Lembor Kabupaten Manggarai Barat.
No Tanggungan Keluarga Jumlah (Jiwa) Persentase (%)
1 1 2 5
2 2 1 3
3 3 3 8
4 4 3 8
5 5 23 59
6 6 7 18
Hasil olahan data primer pada tabel 11 diatas menunjukkan bahwa
jumlah tanggungan keluarga tertinggi yaitu 5 orang sebanyak 23 responden
dengan persentase 59%. Dengan demikian, banyaknya jumlah tanggungan
keluarga dapat meminimalisir penggunaan waktu kerja yang terpakai dalam
kegiatan usaha taninya.
Lahan merupakan areal untuk dilakukanya kegiatan usaha tani petani
padi dalam hal ini adalah sawah. Luas lahan dapat dihitung menurut satuan
43
hectare (ha). Adapun luas lahan petani padi sawah di Desa Siru berstatus
lahan milik sendiri yang turun temurun di kelolah sebagai sumber mata
pencaharian untuk memenuhi kebutuhan hidup petani. Untuk mengetahui
lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel dibawah ini.
Tabel 12. Distribusi Responden Berdasarkan Luas Lahan di Desa Siru
Kecamatan Lembor Kabupaten Manggarai Barat.
No Luas Lahan (Ha) Jumlah (Jiwa) Persentase (%)
1 0,25 - 0,35 17 44
2 0,36 - 0,46 0 0
3 0,47 - 0,57 11 28
4 0,58 - 0,68 0 0
5 0,69 - 0,79 4 10
6 0,80 - 1 7 18
Jumlah 39 100
Tabel luas lahan diatas didominasi oleh responden yang memiliki
lahan garap kurang dari satu hektare sehingga tidak membutuhkan pupuk
bersubsidi dengan jumlah yang banyak namun, ketersediaan pupuk bersubsidi
terbatas maka petani merasakan kelangkaan pupuk bersubsidi karna tidak
mampu memenuhi kebutuhan pupuk untuk kegiatan usahatani padi sawah.
5. Pengalaman Berusaha tani Responden
Selain beberapa karakteristik responden yang sudah disajikan
sebelumnya, karakteristik yang satu ini juga merupakan faktor yang berperan
penting terhadap pengelolaan usaha tani, yakni pengalaman berusaha tani.
Petani yang cukup lama berprofesi sebagai petani padi tentunya memiliki
banyak pengalaman yang diperoleh, baik itu yang berkaitan dengan
pengelolaan usaha taninya maupun dalam penerapan teknologi baru.
44
Desa Siru Kecamatan Lembor Kabupaten Manggarai Barat.
No Pengalaman Berusaha tani Jumlah (Jiwa) Persentase (%)
1 5 – 12 8 21
2 13 – 20 19 49
3 21 – 28 3 8
4 29 – 36 8 21
5 37 – 44 0 0
6 45 – 52 1 3
Jumlah 39 100
Tabel 8 menunjukkan hubungan anatara pengalaman berusahatani
responden yang diukur berdasar lama tidakyan pengalaman dalam
mengelolah usahatani padi sawah. Responden yang mendominasi memiliki
pengalaman berusahatani lebih darai 10 tahun. Responden tersebut sudah
memiliki pengalaman yang cukup dalam mengelolah usahatani padi
sawahnya dan sudah cukup aktif dalam organisasi kelompoktani sehingga
cepat dalam memproleh informasi terkait pengunaan pupuk sesuai
rekomendasi.
Salah satu tujuan kebijakan pemberian pupuk bersubsidi adalah untuk
meringankan beban petani dalam penyediaan dan penggunaan pupuk
bersubsidi untuk usaha taniya sehingga dapat meningkatkan produksi
komuditas tanaman pangan guna mendukung ketahanan pangan.
Alur distribusi pupuk bersubsidi telah ditetapkan melalui Peraturan
Menteri Perdagangan Repoblik Indonesia No.15/M-DAG/PER/4/2013 tentang
Pengadaan dan Penyaluran Pupuk Bersubsidi untuk Sektor Pertanian. Dimana
agar pupuk bersubsidi yang diperoleh petani dapat memenuhi prinsip enam
45
tepat (tepat tempat, tepat jumlah, tepat jenis, tepat waktu, tepat mutu, dan tepat
harga) serta efektifitasnya dalam sistem pendistribusian pupuk bersubsidi
sebagai berikut:
Adapun mekanisme penebusan pupuk bersubsidi di Desa Siru
Kecamatan Lembor Kabupaten Manggarai Barat, dimulai dari musyawarah
antara ketua kelompok dengan anggota kelompok tani untuk disusunnya
RDKK dua bulan sebelum musim tanam tiba. Rencana Devinitif Kebutuhan
Kelompok (RDKK) merupakan kebutuhan riil pupuk bersubsidi yang akan
diusul dan digunakan dari masing-masing anggota kelompok tani dengan
menetapkan jumlah pupuk, jenis pupuk, jenis komuditas yang akan ditanami,
dan waktu pupuk bersubsidi tersebut akan dibutuhkan.
Lini II/Gudang Kabupaten
pesanan pupuk bersubsidi petani/kelompok tani yang disetujui oleh kepala
desa, PPL, serta ketua kelompok tani kepada pengecer resmi yang
bertanggungjawab disuatu wilayah atau lini IV. Pengecer resmi akan merekap
RDKK dari petani/kelompok tani, kemudian di serahkan ke distributor.
Selanjutnya distributor menyerahkan RDKK ke PT. Petrokimia Gresik
Gresik-Indonesia utuk di proses. Dibagian penjualan, RDKK ini dikoreksi
mengenai jumlah pupuk, jenis pupuk, jenis komuditas yang akan ditanami,
dan waktu pupuk bersubsidi tersebut akan dibutuhkan. Dalam mengorksi
perusahan berlandaskan data yang di proleh dari Dinas Pertanian Kabupaten
Manggarai barat.
maka distributor mengirimkan surat permintaan pupuk bersubsidi yan berisi
jumlah pupuk yang diminta dari masing-masing pengecer. Kemudian pupuk
diangkut ke kois-kios pengecer yeng memerlukan dan ketua kelompok tani
mengambil pupuk di kios pengecr berdasarkan jumlah yang dibutuhkan
petani.
(RDKK) dan dilakukan penandatanganan oleh ketua kelompok tani yang
diketahui oleh kepala Desa setempat disetujui oleh Kepala cabang (KCD) atau
Pertanian Penyuluh Lapangan (PPL) dan ketika semuanya sudah
ditandatanagani maka, segera dikirimkan ke pengecer resmi sebagai pesanan
pupuk bersubsidi.
Pada peraturan pemerintah pupuk bersubsidi dan padi dalam berusaha
tani terdapat hubungan yang sangat erat, hubungan tersebut merupakan
hubungan fungsional antara input dan output. Meskipun dalan hubungan
tersebut masih terdapat berbagai faktor input (faktor produksi) lainya seperti
tenaga kerja, pestisida, lahan, dan berbagai faktor produksi lainya.
Hampir di setiap daerah di Indonesia masih banyak petani dijumpai
dengan permasalahan kelangkaan pupuk bersubsidi. Kelangkaan pupuk
bersubsidi sudah menjadi permasalahan yang sangat serius, yang banyak
dikeluhkan oleh masyarakat dalam kegiatan usaha taninya seperti yang
terjadi di lokasi penelitian pada bulan januari bertepatan musim tanam satu
(MT 1), petani mengalami kelangkaan pupuk bersubsidi. Bukan tidak
mungkin, dari permasalahan kelangkaan pupuk bersubsidi tersebut ada
berbagai faktor penyebab yang terdapat didalamnya yaitu:
1. Usulan Pupuk Bersubsidi Sesuai e-RDKK Lebih Tinggi dari Realisasi
Pupuk bersubsidi yang diusulkan tidak sebanding dengan alokasi
atau realisasi pupuk yang ditetapkan pemerintah sehingga tidak dapat
mencukupi kebutuhan pupuk petani.
sawah bapak (Y H) di Desa Siru Kabupaten Manggarai Barat:
“Saya dan beberapa teman petani disini selalu tidak mendapatkan
pupuk yang cukup untuk setiap musim tanam masalah serupa juga
dialami oleh petani desa seberang kami hanya dengar informasi yang
beredar bahwa faktornya karena kekurangan alokasi pupuk dari pusat
sementara itu kami merasa terancam akan akibat dari kelangkaan
pupuk ini seperti gagal panen untuk itu kami berharap sekali agar
48
2021)
bahwa terdapat persoalan serius yang mereka hadapi yaitu kelangkaan pupuk
bersubsidi. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa pupuk merupakan
kebutuhan yang sangat vital (kemanfaatan) bagi pertanian, sehingga
kelangkaan pupuk dapat berdampak buruk bagi pertanian masyarakat. Untuk
mengetahui lebih lanjut terkait respon pemerintah daerah, penulis
melakukanan wawancara dengan bapak (A R) yang merupakan Kabid PSP
Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan Manggarai Barat beliau
menuturkan hal berikut.
subsidi pupuk, tahun 2020 manggarai Barat jatah pupuknya hanya
7.813 ton. Semantara kebutuhan pupuk Manggarai barat berdasarkan
luas lahan yang diinput oleh Dinas Pertanian melalui aplikasi e-RDKK
dia harus mendapatkan kalau dikonversikan seharusnya mendapat 20.666 ton untuk tahun 2020”. (Wawancara Bapak AR pada tanggal 20
Januari 2021).
fokusnya adalah memastikan akan kebutuhan faktor produksi seperti
kebutuhan pupuk bersubsidi petani tetap terjaga. Akan tetapi, APBN yang
siapkan oleh pemerintah pusat hanya dapat menyalurkan 7.813 ton sementara
usulan kebutuhan pupuk bersubsidi seharusnya 20.666 tonuntuk Manggarai
49
Barat, sehingga antar usulan dengan relisasinya selisihnya sangat jauh yaitu
mencapai 12.853 ton.
yang menyebabkan usulan pupuk subsidi jauh lebih tinggi dari realisasi
pupuk bersubsidi di lapangan.
2. Pola Distribusi Pupuk
Dalam pelaksanaan di lapangan kelompok tani maupun kios pengecer belum
melaksanakan pendistrbusian pupuk dengan efektif dikarenakan pembelian
pupuk subsidi yang dilakukan petani tidak pada kios resmi yang sudah
ditetapkan wilayah kerjanya. Berdasarkan ketentuan alur penyaluran pupuk
subsidi seharusnya para petani membeli pupuk subsidi pada masing-masing
kelompok taninya atau pada kios resmi (Lini IV) sesuai wilayah kerjanya.
Dilanjutkan wawancara dengan ibu Tika bagian Admin Distributor
Pupuk Manggarai Barat:
sampai ke pengecer yang sudah ditunjuk wilayah kerjanya sesuai
dengan SK Dinas Pertanian bila ada kebutuhan dari petani. Untuk
selanjutya merupakan tanggungjawab penngecer hingga sampai ke petani.” (Hasil Wawancara ibu T pada tanggal 20 Januari 2021).
50
pupuk juga bersumber dari ketidakefektifan dilapangan, banyak kios pengecer
belum melaksanakan pendistribusian pupuk dengan efektif dikarenakan
banyak masyarakat atau petani membeli pupuk tidak pada kios resmi yang
sudah ditetapkan.
Kemudian hasil wawancara dengan bapak (Y S) selaku petani padi di
Desa Siru Kabupaten Manggarai Barat yang menyatakan bahwa:
“Kami berharap besar agar kebutuhan pupuk petani ditangani oleh
kelompok tani akan tetapi kebutuhan pupuk petani tidak ditangani
oleh kelompok tani karena pengurus kelompok tani tidak bekerja
secara optimal yang membuat petani sulit mendapatkan pupuk
bersubsidi begitupun juga kios pengecer resmi kemudian jangkaun
juga menjadi alasan petani mengapa harus membeli di pengecer lainnya” (wawancara bapak YS pada tanggal 22 Januari 2021).
Keterangan petani diatas dapat menggambarkan bahwa banyaknya
petani yang masih membeli pupuk pada kios pengecer lainnya dikarenakan
jarak antara tempat tinggal petani dengan kios resmi yang tergolong jauh
sehingga membutuhkan biaya dan tenaga yang lebih jika membeli di kios
resmi, selain itu terlambatnya ketersediaan pupuk subsidi di kios resmi
menyebabkan petani lebih memilih membeli pada kios pengecer lainnya
untuk memenuhi kebutuhan pupuk pada tanaman padinya. Tentunya jika para
petani membeli pupuk subsidi tidak pada kelompok taninya masing-masing
atau tidak pada kios resmi sesuai wilayah kerjanya hal ini akan berdampak
pada berkurangnya ketersediaan pupuk pada masing-masing kios pengecer
lainnya.
51
kebijakan pupuk bersubsidi di Kabupaten Manggarai Barat belum efektif
karena, masih banyak ditemukan petani membeli pupuk bersubsidi tidak
pada pengecer resmi. Selain itu petugas kelompok tani tidak menjalankan
tugasnya dengan baik sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan pupuk
bersubsidi petani.
peranan sangat penting dalam meningkatkan hasil dan kualiatas produksi padi
sawah. Keberadaan pupuk bersubsidi sangat membantu petani dalam kegiatan
usaha tani padi sawah karena, selain harganya terjangkau barangnya mudah
didapat.
Kelangkaan pupuk bersubsidi yang terjadi kepada petani padi sawah
bukan merupakan masalah yang hanya sekali terjadi di Desa Siru tetapi sudah
sering terjadi bahkan di daerah lain . Kondisi ini yang pada akhirnya tentu
akan berdampak terhadap produksi padi sawah petani karena dalam
melakukan pemupukan harus selalu memperhatikan 5 tepat yaitu,tepat dosis,
tepat waktu, tepat jenis, tepat cara, dan tepat bentuk, dimana dalam
penggunaan pupuk bersubsidi hal tersebut yang harus memperhatikan untuk
mencapai keefektifan dalam distribusi pupuk bersubsidi. Adapun ketepatan
dalam pemupukan adalah sebagai berikut:
52
petani dalam melakukan pada tanaman padi sawah. Ketepatan dosis tersebut
dapat dilakukan oleh petani jika pupuknya tersedia, begitupun sebaliknya.
Seperti ungkapan yang dituturkan oleh informan berikut.
“Tepatnya dosis penggunaan pupuk bersubsidi sebenarnya
tergantung ketersediaanya, sebab semua para petani disini selalunya
mengandalkan pupuk bersubsidi jika pupuknya tersedia di pengecer
juga kelompok tani. Akan tetapi, dengan adanya kelangkaan pupuk
bersubsidi ini kualitas dan kauntitas padi yang kami hasilkan menurun karna tidak mendapatkan pemupukan yang berimbang”. (
wawancara Bapak AJ pada tanggal 23 januari 2021).
Peneliti dapat menyimpulkan bahwa, selain kualitas dan kuantitas padi
yang hasilkan oleh petani. Faktor yang dapat menentukan terjadi peningkatan
produksi yang dihasilkan oleh para petani adalah ketersediaan pupuk
bersubsidi ditingkat pengecer dan kelompok tani, atau sesuai dengan
wawancara yang dilakukan oleh peneliti bersama bapak AJ mengatakan
bahwa, adanya penurunan produksi padi yang dihasilkan karena tidak
mendapatkan pemupukan yang berimbang disebabkan oleh terbatasnya
ketersediaan pupuk bersubsidi. Oleh karena itu dari penggunaan dosis pupuk
yang mengalami tidak adanya ketepatan, maka akan berdampak terhadap
penurunan produksi. Hal itu menjadi kendala bagi petani padi sawah dalam
meraih keuntungan yang banyak.
2. Tepat jenis Pupuk
merupakan aspek yang perlu diperhatikan dalam pemupukan. Kebiasaan
53
penggunaan jenis pupuk dapat disesuaikan dengan kebutuhan lahan. Seperti
halnya yang terjadi Desa Siru, dari lima jenis pupuk bersubsidi, mayoritas
petaninya masih terdapat ketidaktepatan penggunaan jenis pupuk bersubsidi
dari pemerintah. Seperti ungkapan yang diberikan petani informan berikut.
“Kalau berbicara jenis pupuk yang kami gunakan, sebenarnya kami
tidak menggunakan semua lima jenis pupuk bersubsidi dari
pemerintah. Akan tetapi, jika pupuk bersubsidi tersedia pada tingkat
pengecer dan kelompok tani maka petani mengandalkan seluruhnya
menggunakan pupuk bersubsidi, khusus pupuk SP-36, ZA, dan
Organik jarang sekali kami gunakan. Karena kami sudah terbiasa
menggunakan dua jenis pupuk saja yaitu, pupuk Urea dan pupuk NPK
Ponska dan jika kedua jenis pupuk bersubsidi tidak tersedia maka
kami memebeli jenis pupuk nonsubsidi yang di jual di toko”. (wawancara dengan Bapak R pada tanggal 23 Januari 2021).
Hasil dari wawancara yang dilakukan dengan Bapak R peneliti
menyimpulkan bahwa, dari kelima jenis pupuk bersubsidi untuk jenis pupuk
SP-36, pupuk ZA, dan Pupuk Organik dari pemerintah. Hampir semua petani
tidak menggunakannya dan untuk pupuk Urea dan NPK Ponska hampir
semua petani menggunakannya. Akan tetapi mengalami ketidaktepatan dalam
penggunaannya, Hal ini dikarenakan ketersediaannya terbatas pada tingkat
petani sehingga para petani terpaksa membeli pupuk nonsubsidi yang tersedia
di toko dengan harga yang mahal sehingga tidak sesusi dengan rekomendasi
ketetapan penggunaan jenis pupuk.
Ketepatan waktu pemupukan dalam budidaya tanaman padi
merupakan hal yang dapat membantu percepatan dalam pertumbuhan
tanaman padi. Ketidaktepatan penyaluran pupuk pada tingkat petani
54
yang diberikan oleh informan berikut.
“Penebusan pupuk yang kami lakukan selama ini baik pada pengecer
maupun pada kelompok tani adalah dengan cara membayar duluan
(DO) sehingga kami mengalami keterlambatan pemupukan samapai
lebih dari dua minggu, dikarenakan lambatnya pendistribusian pupuk sampai ketingkat petani” (Wawancara dengan bapak S pada tanggal
25 januari 2020).
Pernyataan dari hasil wawancara yang dilakukan peneliti dengan
Bapak S menunjukkan bahwa, hampir semua petani di Desa Siru mengalami
keterlambatan dalam pemupukan atau dalam kategori masih tidak tepatnya
pemakaian pupuk oleh petani, hal ini dikarenakan keterlambatan proses
penyaluran pupuk sampai ke tangan petani. Selain itu penyaluran pupuk
bersubsidi ke petani harus menunggu karena mekanisme penebusannya yang
belum efektif.
Cara pemupukan yang baik dan benar adalah dengan cara memberikan
sejumlah pupuk sesuai kebutuhan unsur hara pada tanah dengan menaburnya
kedalam tanah. Seperti ungkapan yang disampaikan informan berikut.
“Kalau masalah cara pemupukan, kami masih menggunakan
kebiasaan kami dalam melakukan pemupukan atau dengan cara
penebaran lansung, yang umumnya dilakukan oleh para petani disini”. (Wawancara dengan bapak A pada Tanggal 26 Januari 2021)
Berdasarkan penyampaian di atas peneliti menyimpulkan bahwa,
semua petani melakukan pengaplikasian pemupukan yang dilakukan sudah
sangat tepat dan sesuai dengan ajuran pemakaian. Meskipun adanya
55
kelangkaan pupuk yang terjadi tidak merubah tata cara pengaplikasian pupuk
yang dilakukan petani.
5. Tepat bentuk
sesuai dengan rekomendasi berdasarkan bentuknya. Maka, kelangkaan pupuk
bersubsidi yang terjadi tidak merubah pemakaian pupuk oleh petani.
Sehingga secara keseluruhan semuanya sudah sesuai dengan yang ditetapkan.
Tanam padi sawah dapat berproduksi dengan baik jika input (faktor
Produksi) memenuhi syarat begitupun sebaliknya. Adapun dampak
kelangkaan pupuk bersubsidi yang terjadi kepada petani padi sawah di Desa
Siru terhadap produksi dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 14. Rata-Rata Produksi Usaha tani Padi Sawah Petani Pengguna Pupuk
Bersubsidi dan Nonsubsidi, Pupuk nonsubsidi, dan Pupuk Bersubsidi di
Desa Siru Kecamatan Lembor Kabupaten Manggarai Barat.
Uraian
Sumber: Data Primer diolah, 2021
Berdasarkan tabel di atas diketahui perbandingan analisis produksi
usahatani padi sawah antara petani pengguna pupuk (bersubsidi dan
nonsubsidi), pengguna pupuk (nonsubsidi), dengan pengguna pupuk
(bersubsidi) di Desa Siru. Dapat dilihat bahwa rata-rata produksi padi sawah
petani dalam satu kali musim tanam produksi yang lebih besar diperoleh oleh
56
Dengan demikian kelangkaan pupuk bersubsidi di Desa Siru berdampak
pada terjadinya perbedaan produksi antara tiga kelompok petani responden.
Dimana jumlah produksi usaha tani padi sawah petani pengguna dua jenis
pupuk (pupuk bersubsidi dan nonsubsidi)18.769 ton/ha dengan rata-rata 2.346
ton/ha (GKP)12.188 ton/ha dengan rata-rata 1.524 (Beras), produksi petani
padi sawah pengguna pupuk (nonsubsidi) 23.236 ton/ha dengan rata-rata 1.939
(GKP) 14.962 ton/ha dengan rata-rata 1.247 (Beras), sedangkan produksi
petani pengguna pupuk (bersubsidi) 43.152 ton/ha dengan rata-rata 2.271
ton/ha (GKP) 28.833 ton/ha dengan rata-rata 1.518 ton/ha (beras).Kenyataan di
lapangan petani cenderung menggunakan dua jenis pupuk dalam pemupukan
padi (nonsubsidi dan bersubsidi) mengingat pupuk bersubsidi ketersediaannya
terbatas. Sehingga pertumbuhan padi petani kurang maksimal. Akibatnya
produksi padi petani pengguna dua jenis pupuk tersebut juga dibawah petani
pengguna pupuk bersubsidi.
Pupuk bersubsidi dikenal dengan salah satu input (Faktor Produksi)
yang memiliki peranan yang sangat penting dalam proses produksi khususnya
padi sawah.
utuk membayar sebagain harga beli pupuk petani, sehingga dapat dijangkau
oleh petani.Namun pada kenyataanya keberadaan pupuk bersubsidi tidak
57
yang bukan berasal dari program pemerintah atau pupuk nonsubsidi dengan
harga yang lebih tinggi. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel berikut:
Tabel 15. Perbandingan Rata-Rata Harga Beli Pupuk Bersubsidi Dengan Pupuk
Nonsubsidi Petanidi Desa Siru Kecamatan Lembor Kabupaten
Manggarai Barat.
Jenis Pupuk
Tabel diatas menunjukkan bahwa harga beli pupuk NPK petani
sebesar 2.500 per kilogram (kg) sedangkan pupuk nonsubsidi sebesar Rp
3.000 per kilogram (kg), adapun harga pupuk urea bersubsidi 1.900 per
kilogram (kg). Sehingga selisihnya samapai 500-1000 per kilogram (kg).
Selanjutnya peneliti melakukan analisis perbandingan biaya,
penerimaan dan pendapatan usahaha tani padi sawah petani yang
menggunakan pupuk bersubsidi dan nonsubsidi, penggunaan pupuk
nonsubsidi, dengan penggunaan pupuk bersubsidi. Hasil Rata-Rata biaya,
penerimaan, dan pendapatan usaha tani padi sawah yang menggunakan pupuk
bersubsidi dan nonsubsidi, penggunaan pupuk nonsubsidi, dengan
penggunaan pupuk bersubsidi di lokasi penelitian disajikan pada tabel
dibawah ini.
58
Tabel 16. Rata-Rata penerimaan, Biaya Produksi, dan pendapatan Usaha tani Padi
Sawah Petani Pengguna Pupuk Bersubsidi dan Nonsubsidi, Pupuk
nonsubsidi, dan Pupuk Bersubsidi di Desa Siru Kecamatan Lembor
Kabupaten Manggarai Barat.
2.Penerima Rata-Rata
Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa perbandingan analisis usaha
tani padi sawah antara petani pengguna pupuk bersubsidi dan nonsubsidi di
desa Siru. Dapat dilihat bahwa rata-rata pendapatan dalam satu kali musim
tanam petani diperoleh dengan luas lahan rata-rata 1 hektare (ha), bahwa
pendapatan petani pengguna pupuk bersubsidi lebih besar dibanding dengan
59
petani pengguna pupuk nonsubsidi. Dimana pendapatan yang di peroleh petani
yang menggunakan pupuk bersubsidi adalah sebesar Rp 3.692.806 (GKP)
sebesar Rp 6.110.491 (Beras), petani pengguna pupuk nonsubsidi sebesar Rp
3.756. 375 (GKP) sebesar Rp 2.323.375 (Beras), sedangkan petani pengguna
pupuk bersubsidi dan nonsubsidi sebesar Rp 1.964.071 (GKP) sebesar Rp
3.853.446 (Beras). Terjadi perbedaan pendapatan antara 3 kelompok petani di
Desa Siru.
dengan keterbatasan modal lebih cenderung memilih menggunakan pupuk
bersubsidi dengan harga yang masih bisa dijangkau meskipun pupuk bersubsidi
dalam pendistribusian mengalami keterlambatan. Selain itu perbandingan biaya
yang dikeluarkan petani pengguna pupuk bersubsidi dan nonsubsidi, pupuk
nonsubsidi, dengan pupuk bersubsidi lebih kecil dibanding pengguna pupuk
nonsubsidi yaitu Rp 9.766.554, 7.465.125, dan 7,925.878 terjadi selisih biaya
pupuk sebesar RP 1.840.676.
mahal. Seperti yang disampaikan oleh bapak M bawasanya.
“Wajar saja kalau pendapatan yang kami dapatkan berkurang jika
dibandingkan dengan biaya yang kami keluarkan karena, dalam
pemupukan kami juga berkurang. Kami hanya melakukan pemupukan
dua kali selama satu kali musim panen itupun untuk mencukupinya
kami membeli pupuk nonsubsidi yang harga Rp.150.00/karung,
padahal dulu waktuntunya tidak ada kelangkaan pupuk kami
60
melakukan pemupukan tiga kali dalam satukali musim tanam dan hasilnyapun memuaskan” (wawancara dengan bapak M pada Tanggal
5 februari 20221).
adalah kelangkaan pupuk bersubsidi dan biaya pupuk nonsubsidi yang sangat
mahal. Sehingga pada saat memulai usaha tani padi, para petani harus
mempersiapkan modal yang banyak untuk memenuhi kebutuhan pupuk.
Berdasarkan pernyataan tersebut, kelangkaan pupuk bersubsidi di
lokasi penelitian merupakan ancaman bagi petani. Hal itu karena berdampak
pada turunnya keuntungan atau pendapatan yang akan diperoleh petani.
Ketika terjadi kelangkaan pupuk bersubsidi, maka para petani akan beralih
pada pupuk non subsidi yang sangat mahal, sehingga para petani akan
memperoleh modal yang cukup banyak untuk biaya pupuk. Adapun jumlah
produksi penggunaan pupuk bersubsidi di lokasi penelitian yaitu sebesar
4.000 kg/satu kali musim tanam dengan rata-rata 211 kg/petani dalam satu
kali musim tanam. Sedangkan jumlah produksi penggunaan pupuk non
subsidi sebesar 1.250 kg dalam satu kali musim tanam dengan rata-rata 62,5
kg/satu kali tanam per tahun.
Sejauh ini solusi yang diperoleh petani untuk mengantisipasi
terjadinya kelangkaan pupuk bersubsidi belum teratasi. Selain itu, pemerintah
masih terus melakukan terobosan untuk menanggulangi permasalahan
tersebut. Sehingga sampai pada tahun 2020 pemerintah desa Siru Manggarai
Barat melakukan kerjasama dengan pihak Bank Nasional Indonesai (BNI),
61
Industri (KADIN) untuk bersama-sama membangun lembaga Kredit Usaha
Rakyat (KUR) sebagai lembaga yang memberikan pinjaman modal bagi
petani. Usaha tersebut merupakan solusi alternatif yang dianggap mampu
mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh petani. Solusi tersebut memang
tidak langsung mengatasi terjadinya kelangkaan pupuk bersubsidi. Namun
secara tidak langsung dapat memberikan bantuan modal berupa pinjaman
bagi petani agar memiliki modal yang cukup. Hal itu dilakukan karena ketika
terjadi kelangkaan pupuk bersubsidi, masyarakat dapat beralih ke penggunaan
pupuk nonsubsidi. Disamping itu, pemerintah juga selalu berusaha untuk
melakukan kordinasi dengan petugas yang berwenang seperti penyuluh
pertanian agar melukakan pengalokasian kembali sejumlah pupuk bersubsidi
(Relokasi) untuk menutupi kekurangan yang terjadi pada tingkat petani .
62
Berdasarkan hail penelitian dan hasil olahan data, maka dapat ditarik
kesimpulan sebagai berikut.
terjadinya ketidaksesuaian antara permintaan/usulan terhadap pupuk
bersubsidi dengan realisasi yang dilakukan oleh pihak pemerintah.
Dimana usulan tersebut lebih besar yaitu 20.666 ton sedangkan realisasi
hanya sebesar 7.813 ton dan selisihnya mecapai 12.853 ton. Penyebab lain
adalah keterlambatan pendistribusian pupuk bersubsidi hingga ke tangan
petani.
2. Terjadi perbedaan produksi antara tiga kelompok petani. Dimana produksi
usaha tani padi sawah petani pengguna pupuk (bersubsidi) lebih tinggi
dibandingkan pentani pengguna pupuk (bersubsidid dengan nonsubsidi),
dan pupuk (bersubsidi). Hal itu menunjukkan bahwa jumlah produksi
usaha tani padi sawah yang diperoleh petani pengguna pupuk (bersubsidi)
lebih tinggi dibandingkan dengan penggunaan pupuk (bersubsidi dengan
nonsubsidi), dan nonsubsidi.
pendapatan antara petani pengguna pupuk (bersubsidi dan nonsubsidi),
pengguna pupuk (nonsubsidi), dan pengguna pupuk (bersubsidi). Petani
63
pendapatan rata-rata petani padi sawah.
6.1. Saran.
1. Bagi Petani
anggotanya dan mampu memenuhi kebutuhan pupuk bersubsidi agar
anggotanya lebih sejahatra.
yang akan berimplikasi pada pendapatan.
2. Bagi Pemerintah
demi keamanan dalam pendistribusian pupuk bersubsidi.
b. Pemerintah disarankan agar terus berusaha memperhatikan dan
mendukung petani padi sawah dalam hal kebijakan pupuk bersubsidi.
melalui penyaluran pupuk bersubsidi tepat pada sasaranya yaitu
petani.
dibaca.
64
DAFTAR PUSTAKA
Agus, D. N., Abi. P. S., Erlinda. A., Yahya. S., dan Julia. I. K. 2018. Distribusi
Pupuk Bersubsidi di Kabupaten Bantul Provinsi Daerah Istimewa
Yogkayakarta. Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian. Vol. 2(1) : 70 – 82.
Fakultas Pertanian, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.
Aryanto., & Nizar, R., 2013. Dampak Subsidi Pupuk Terhadap Efisiensi
Usahatani padi di Provinsi Riau. Prosiding Seminar Nasional “Peranan
Teknologi dan Kelembagaan Pertanian dalam Mewujudkan Pembangunan
Pertanian yang Tangguh dan Berkelanjutan”, November 2013. Pekanbaru.
Ardiyanto, W., & Santosa, P. B. (2013). Kajian Pupuk Bersubsidi di Pekalongan
(Studi Kasus di Kecamatan Kesesi) (Doctoral dissertation, Fakultas
Ekonomika dan Bisnis).
Afandi. N. M. 2011. Analisis Kebijakan Alih Fungsi Lahan Pertanian Terhadap
Ketahanan Pangan Di Jawa Barat. Jurnal Ilmu Administrasi + Volume
VIII + No. 2 + Agustus 2011.
Agung, I Gusti Ngurah, N. Haidy A. Pasay, Sugiharso. 2008. Teori Ekonomi
Mikro (Suatu Analisis Produksi dan Terapan). Jakarta: Rajawali Pers.
Barokah, U., W. Rahayu dan M.T. Sundari. 2014. Analisis Biaya dan Pendapatan
Usahatani Padi di Kabupaten Karanganyar. Jurnal Agric Volume 26, No. 1
dan No. 2, Juli-Desember 2014. Halaman 12-19.
Darwis, V dan Supriyati. 2014. Subsidi Pupuk : Kebijakan, Pelaksanaan dan
Optimalisasi Pemanfaatannya. Analisis Kebijakan Pertanian. 11(1): 45-60.
Evitaria. Eka, 2019. Studi Rencana Definit