crs schizophrenia paranoid

Download CRS Schizophrenia Paranoid

Post on 04-Nov-2015

214 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

crs

TRANSCRIPT

  • Atika KamiliaFitta Putri AndryanFarzana Rabbani

  • IDENTITAS PASIEN

    Nama: Ny. N.STanggal Lahir: 05-10-959Umur: 65 tahunJenis Kelamin: PerempuanAlamat: SumedangPerkerjaan: PNSStatus Marital: Tidak kawinAgama: IslamTanggal Masuk: 24/03/2015

  • PENANGGUNGJAWAB PASIEN

    Diperoleh dari:Nama: Bp. SUmur : 70tahunAlamat: SumedangHubungan dengan penderita: Kakak kandungLama perkenalan: Sejak lahirSifat perkenalan: AkrabKebenaran anamnesa: Dapat dipercaya

  • Keluhan Utama: Tidak mau bicara dan mengurung diri di kamar

    HETEROANAMNESISRiwayat Penyakit Sekarang:Dua puluh delapan tahun yang lalu sejakpasien pindah bekerja dari sebagai guru ekonomi pembangunan di SMP menjadi guru ekonomi di SMK, pasien mengalami perubahan perilaku. Pasien yang awalnya periang menjadi pendiam, sering melamun, sering mengurung diri di kamar, dan jarang keluar rumah. Pasien selalu takut keluar rumah tanpa alasan yang jelas. Pasien mulai merasa curiga terhadap orang-orang akan mengambil barang- barang miliknya. Pasien tidak mau merawat diri dan sering mendengar suara-suara yang menghina pasien dan mengajak pasien berbincang-bincang. Karena keluhannya pasien dirawat di RS Hurip Waluya, pasien dirawat selama 2 minggu.

  • Setelah dirawat, pasien mengalami perbaikan dan dapat bekerja, pasien dipindahkan ke bagian perpustakaan. Dua puluh enam tahun yang lalu, karena pasien tidak meminum obat gejala-gejala yang seperti sebelumnya muncul kembali. Kemudian pasien dibawa kembali ke RS Hurip waluya selama 2 minggu, karena alasan biaya pasien minta dirujuk ke RSHS dan dirawat selama 2 minggu. Pasien kemudian mengalami perbaikan. Pasien bekerja kembali sebagai pustakawati di SMK dan dapat merawat diri, tapi tidak dapat menjalankan fungsinya sebagai pustakawati.

  • Delapan tahun yang lalu , pasien mulai tidak mua minum obat. Sejak saat itu pasien mengalami peubahan perilaku. Pasien tidak mau bekerja dan selalu mengurung diri di kamar. Pasien sering curiga terhadap saudara-saudaranya akan mengambil barang-barang dikamarnya. Pasien kembali mendengar suara-suara yang mengajak pasien berbincang-bincang dan mengomentari dirinya. Pasien tidak mau mandi dan hanya keluar jika mau menghambil makan. Kemudian pasien dirawat kembali di RS Hurip waluya.

  • Setelah dirawat, pasien mau melakukan aktivitas sehari-hari dan mandi namun mulai jarang masuk kerja. Setahun yang lalu, kakak lelaki pasien anak ke 7 meninggal dunia. Sejak saat itu, pasien mulai menjadi pendiam, sering melamun, sering bicara sendiri, dan selalu mengurung diridi kamar. Pasien mengunci kamarnya karena curiga saudaranya akan mengambil barang-barang pasien. Pasien keluar kamar, hanya jika ingin mengambil makan dan buang air.

  • Empat bulan sebelum masuk rumah sakit, pasien tidak mau lagi menandatangani surat pengambilan gaji, karena pasien curiga tanda tangannya akan disalahhgunakan oleh keluarga pasien.Tiga hari sebelum masuk rumah sakit, pasien menjadi lebih sering memasak baik di siang maupun malam hari. Pasien sering meninggalkan makannanya sampai gosong, dan mengunci kamar karena curiga saudara-saudaranya akan mengambil barang-barangnya.Pasien jadi sering berbicara sendiri dan mengurung diri tanpa penerangan apapun.Pasien tidak mau mandi dan tidak mau berkomunikasi dengan saudara-saudaranya, karena keluhan ini pasien dibawa ke RSHS.

  • Riwayat penyakit dulu:Tidak mempunyai riwayat gangguan jiwa sebelumnyaRiwayat keluargaPasien beragama islam dan dibesarkan dalam budaya sunda. Pasien merupakan anak kedelapan dari sepuluh bersaudara. Pasien tinggal serumah dengan adik laki-laki pasien yang kesembilan. Sebelumnya pasien pernah tinggal dengan kakak laki-laki ketujuh. Hubugan pasien dengan kakal laki-laki ketujuh ini sangat dekat karena pasien sering dibela jika ada tetangga yang mencemooh. Kaka laki-laki pasien ini meninggal tahun 2014. Hubungan pasien dengan adik laki-laki kesembilan kurang dekat. Ayah dan ibu pasien bekerja sebagai pedagang. Ayah pasien meninggal tahun 2004 dan ibu pasien meninggal tahun 2000. sumber pendapatan pasien dan keluarga adalah dari gaji pns dan jualan bensin di depan rumah.

  • Riwayat pribadi:Masa kanak awal ( sampai 3 tahun ):Pasien lahir cukup bulan, spontan dan ditolong oleh dukun beranak.

    Masa kanak pertengahan ( usia 3 sampai 11 tahun): keluarga tidak mengetahui riwayat pasien.

    Masa kanak akhir (prapubertas hingga remaja): pasien aktif di berbagai kegiatan sekolah, seperti ekstrakurikuler olahraga basket dan voli. Pasien memiliki nilai akademik yang bagus. Memiliki banyak teman. Pasien melanjutkan pendidikan ke IKIP bandung jurusan ekonomi pembangunan. Pasien tidak memilki riwayat penggunaan obat-obatan terlarang dan konsumsi alkohol.

  • Masa dewasa

    Riwayat pekerjaan Setelah lulus IKIP bandung, pasien diterima sebagai PNS dan mengajar ekonomi pembangunan di SMP Sumedang. Setahun kemudian pasien dipindahkan ke SMK sumedang dan setahun setelahnya pasien dipindahkan ke bagian perpustakaan.

    b. PenghasilanPenghasilan pasien berasal dari gaji pasien sebesar Rp. 2,500.000 sebulan dan dari penghasilan adik laki-laki pasien berjualan bensin didepan rumah

  • c. Aktivitas seksualPasien tidak mengetahui aktivitas seksual sebelum nikah pasien. Pasien pernah memiliki teman dekat saat kuliah, namun belum pernah dikenalkan kepada keluarga

    d. Aktivitas sosialSemasa di sekolah dan kuliah pasien sering aktif di kegitatan ekstrakurikuler seperti olahraga dan karate.

    e. Riwayat pelanggaran hukum : tidak ada

    f. Sistem nilai : sebelum sakit pasien memang bercita-cita menjadi guru. Setelah sakit, pasien jadi takut berbicara dengan orang lain

  • AUTOANAMNESA

    Pasien mengatakan bahwa saudara-saudaranya akan mengambil uangnya. Pasien juga kecewa dengan saudara-saudaranya karena sebelumnya pasien pernah menggadaikan SK nya utuk meminjamkan uang kepada saudara-saudaranya. Setelah itu, saudaranya mengembalikan uang pinjamannya kepada pasien, tetapi pihak bank tetap memotong gajinya karena pinjaman tersebut, sejak saat itu pasien sangat kecewa dengan saudara-saudaranya.

  • Pasien juga tidak mengakui saudara kandungnya, dan pasien mengatkan harus melihat daftar keluarga di kantor kelurahan untuk memastikan saudara kandungnya. Pasien mengatakan bahwa ia mendengar suara-suara yang mengatakan bahwa ia dilarang keluar kamar.Pasien juga mengaku bahwa dia tidak sakit dan seharusnya tidak dirawat di RS dan diberikan obat-obatan.

  • Aksis I : SkizofreniaAksis II : Ciri kepribadian belum ada diagnosisAksis III : Belum ada diagnosisAksis IV : Masalah support kurang dari keluargaAksis V : GAF scale 51-60

  • Rencana Terapi

    UmumPerawatan adeniumPsikoterapiBelum dilakukanFarmakoterapiHaloperidol 5mg 2x1/2 tablet peroralChlorpromazine 100mg 0-0-1 tablet peroral

  • PrognosisQuo ad vitam : dubia ad malamQuo ad fuctionam : ad malam

  • Axis 1:Pedoman Diagnostik Skizofrenia (PPDGJ III) :Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya 2 gejala bila gejala-gejala itu kurang tajam atau kurang jelas) Thought echo, thought insertion atau withdrawal, dan thought broadcasting. Delusion of control, delusion of influence, atau passivity; persepsi delusional. Halusinasi auditorikWaham menetap jenis lain.Atau paling sedikit 2 gejala di bawah ini yang harus selalu ada secara jelasHalusinasi yang menetap daripanca indera apa saja Arus pikiran yang terputus atau yang mengalami sisipan yang berakibat inkoherensi atau neologisme Perilaku katatonik : excitement, posturing, cerea flexibility, negativism, mutisme, stuporGejala-gejala negatif: apatis, pembicaraan terhenti, respons emosional menumpul, penarikan diri dari pergaulan sosial, menurunnya kinerja sosial.

  • Gejala khas itu berlangsung 1bulan, tidak termasuk fase prodromalPerubahan konsisten dan bermakna dlm aspek perilaku perorangan hilangnya minat, tak bertujuan, sikap malas, berdiam diri (self-absorbed attitude), dan penarikan diri secara sosial.

  • Pedoman Diagnostik Skizofrenia Paranoid (PPDGJ III):Memenuhi kriteria umum diagnostik skizofreniaSebagai tambahan, halusinasi dan/atau waham harus menonjol. Contoh: Suara-suara halusinasi yang mengancam/memberi perintah, atau berupa bunyi peluit, mendengung, atau bunyi tawaHalusinasi pembauan/pengecapan rasa, atau bersifat seksual Waham dapat berupa hampir setiap jenis, tetapi waham dikendalikan,waham dipengaruhi, keyakinan dikejar adalah yang paling khasGangguan afektif, dorongan kehendak, dan pembicaraan serta gejala katatonik secara relatif tidak nyata

  • Kriteria Berkelanjutan Tidak ada remisi dari gejala psikotik selama periode observasi.Pada pasien ini didapatkan: waham curiga yang menetap dan menonjol, yang berlangsung 1bulangejala-gejala negatif: apatis, pembicaraan terhenti, respons emosional menumpul, penarikan diri dari pergaulan sosial, menurunnya kinerja sosialtidak terdapat gangguan afektif, dorongan kehendak, dan pembicaraan serta gejala katatonik Tidak ada remisi dari gejala psikotik selama periode observasi.

  • Axis II : belum ada diagnosis karena tidak didapatkan keterangan yang lengkap mengenai kondisi kepribadian pasien sebelum sakit.Axis III : tidak ada diagnosis karena pemeriksaan fisik status interna dan hasil laboratorium dalam batas normal

    Axis IV : masalah primary support group : ancaman ketidakharmonisan dengan suami serta keluarga yang lainmasalah sosial : ancaman dikucilkan dari pergaulanAxis V :GAF scale saat datang : 60-51, karena terdapat gejala sedang dan disabilitas sedang

  • skizofrenia

  • skizofrenia

  • Menurut Kaplan, ada beberapa faktor yang mempengaruhi prognosis :

    BaikBurukTuaFaktor presipitasi yang jelasOnset akutPremorbid baikGejala gangguan moodMenikahRiwayat keluarga gangg