cover tesis

Download Cover Tesis

Post on 19-Jul-2015

367 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

Diskursivitas dan Kontestasi Kepentingan (Publik) dalam Kebijakan Kehutanan Lokal(studi kasus sengketa pengelolaan sumberdaya hutan Kabupaten Wonosobo pasca desentralisasi)

Tesisuntuk mencapai sebagian dari persyaratan meraih derajat sarjana S-2

oleh: TOTOK DWI DIANTORO 07/259484/PSP/3051

Program Studi Ilmu Politik

1

Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 2009

PERNYATAAN Dengan ini saya menyatakan bahwa berkaitan dengan tesis ini tidak terdapat karyatulisyangserupayangpernahdiajukanolehpihaklainuntukmemperoleh gelarkesarjanaandisuatuPerguruanTinggi.Dan,sepanjangsepengatahuansaya jugatidakterdapatkaryaataupendapatyangpernahditulisatauditerbitkanoleh pihak lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalamdaftarpustaka. Yogyakarta,Agustus2009

TotokDwiDiantoro

2

DaftarIsi HalamanJudul.. HalamanPengesahan... HalamanPernyataan............ KataPengantar.. DaftarIsi. DaftarSingkatan/Istilah... DaftarBagan.. DaftarKotak.. DaftarTabel........... Intisari Abstract.. BABI.PENDAHULUAN.... A.LatarBelakang.. B.Permasalahan C.TujuanPenelitian............. 1 1 14 17 i v viii xi xi xii xiii xiv Halaman

3

D.KerangkaPemikiran Relasikekuasaan,diskursusdankontestasikepentingan........ Diskursivitas publik pada konteks advokasi kebijakan yang demokratis........................................................................................ E.MetodePenelitian Periodisasi(lingkuppenelitian).................................................... Sifatpenelitian................................................................................. Lokasipenelitian............................................................................. Skopeanalisis................................................................................... Teknikpencarian,jenisdansumberdata.................................... Teknikpengolahandananalisisdata........................................... F.SistematikaPenulisan....................................................................... BAB II. SKETSA STRUKTURASI PENGUASAAN HUTAN JAWADAN(DIDALAMNYA)WONOSOBO.............................. A.SettingKekuasaandalamPengelolaanKehutananJawa........... B.BirokrasiKehutananJawayangSuiGeneris................................. C.Wonosobo:DalamProblemaSilangSengketa............................. BAB III. DISKURSIVITAS DALAM RUANG KONTESTASI KEPENTINGAN (PUBLIK) KEHUTANAN LOKAL 75 79 35 38 51 66 30 30 31 31 32 32 33 23 17

................................................................................................................... A.DudukPerkaraPSDHBMVsPHBM............................................. B. Desentralisasi dalam Perspektif Lokal (Wonosobo): Inisiasi

4

GerakanAmbilAlihHutan................................................................. C. Ruang Kontestasi: Dinamika Inisiasi, Konsekuensi, Ikhtiar RekognisidanTitikBalikPerdaPSDHBM C.1.PerjalananInisiasi......................................................................... C.2.KonsekuensikonsekuensiolehkarenaSubstansiPerda....... C. 3. Ketika Jakarta Berujar: BATALKAN PERDA PSDHBM! (Titik Balik Ikhtiar Rekognisi)

90

99 110

.................................................................................................................. D. Surat Keputusan Bersama Perhutani dan Bupati: Wonosobo KehilanganKepercayaanDiri............................................................. BABIV.PERNAHADAGELAGATDEMOKRASI,TAPIJUGA ADA GELAGAT MANGKIRNYA CIVIL SOCIETY

117

137

.................................................................................................................. A.1.KebijakanolehSiapadanbuatSiapa?...................................... A. 2. Ruang Publik dan Demokrasi yang Bermakna pada Perda PSDHBM ................................................................................................................... B.SenjakalaningCivilSociety............................................................... B. 1. Mengatakan Terus Berjuang Tapi Tak Lagi Lantang: MusimnyaStrategiKolaborasiMultipihak....................................... ARuPA: terlena dalam gagasan strategi kolaborasi multipihak ........................................................................................ Krisismakinmemperpurukeksistensi........................................

143 149

154 158

162

163 175

5

B. 2. Episode Menghangatkan Bara Harapan pada Sisa Energi (MemulaiLagiPerjuangan)................................................................. BABV.PENUTUP................................................................................ A.Kesimpulan....................................................................................... B.Refleksi............................................................................................... DaftarPustaka....................................................................................... Lampiran I. Perda Kabupaten Wonosobo No. 22/2001 tentang PSDHBM................................................................................................ Lampiran II. SK Dewan Pengawas Perum Perhutani No. 136/KPTS/DIR/2001tentangPHBM................................................... 198 220 190 183 183 188 177

6

DaftarSingkatan/Istilah ARuPA Aliansi Relawan untuk Penyelamatan Alam, yaitu LSM lokal yang bergerak di bidang sumberdaya alam (hutan) berbasisdiYogyakarta. Singkatan dari Adiministratur, yaitu Kepala Kesatuan PemangkuanHutan(KKPH). Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan, yaitu satuan organisasi pelaksana kehutanan Perhutani di bawah KPH. Kalau disejajarkan dengan struktur birokrasi kepolisian, BKPHsetingkatdenganPolsek. BadanUsahaMilikNegara. CommunityBasedForestManagement. DaerahAliranSungai. DewanPerwakilanRakyatDaerah. Forum Hutan Wonosobo, yaitu forum multipihak (stakeholders)kehutananlokalWonosobo. Forum Koordinasi Penanganan Penjarahan dan Penataan Hutan, dibentuk melalui SK Bupati Wonosobo Nomor: 522/200/2001, beranggotakan multipihak, dan mempunyai fungsi utama mengkoordinasikan kehutanan Wonosobo melaluiJedaLingkungan. Hutan Kemasyarakatan, yaitu skema pengelolaan hutan negara oleh kelompok masyarakat melalui mekanisme pemberian ijin oleh Bupati/Walikota. Untuk sebagian besar hutanJawatidakmemungkinkan,karenasudahadaotoritas pengelola;yaituPerhutani. HakPengusahaanHutan,yaitukonsesipengusahaanhutan yangdiberikankepadapihakswasta/BUMNdiluarJawa. Hak Pemanfaatan Hasil Hutan, yaitu konsesi pemanfaatan hasilhutan,yangpadaprakteknyasamadenganHPH. Praktek kehutanan yang dilakukan oleh masyarakat (community based), biasanya berupa kebun campur antara tanaman kayu kehutanan dan pertanian, serta lebih

Adm BKPH

BUMN CBFM DAS DPRD FHW FKP3H

HKm

HPH HPHH HutanRakyat

7

berorientasi pada pemenuhan kebutuhan ekonomi subsisten.Secarastatushukum,praktekinibiasanyaterjadi di atas lahan hutan hak, meskipun tidak menutup kemungkinan terjadi di atas lahan hutan bukan hak (hutan negara). HutanHak Adalah hutan yang berada pada tanah yang dibebani hak atastanah. HutanNegara Adalahhutanyang beradapada tanahyang tidakdibebani hakatastanah. JedaLingkungan Yaitu masa jeda (moratorium) kehutanan Wonosobo selama AprilhinggaSeptember2001,yangdisepakatisemuapihak diWonosobo,kecualiPerhutani. JKPM Jaringan Kerja Pesantren Masyarakat, yaitu LSM lokal berbasisdiWonosobo. Koling Konservasi Lingkungan, yaitu LSM lokal yang bergerak di bidang lingkungan dan kepecintaalaman berbasis di Wonosobo. KKPH Kepala Kesatuan Pemangkuan Hutan, atau lazim disebut denganAdm. KPH Kesatuan Pemangkuan Hutan, yaitu satuan organisasi pelaksana kehutanan Perhutani yang membawahi BKPH dan berada di bawah Unit. Luas otoritas dan areal kerja KPH biasanya meliputi beberapa wilayah administrasi kebupaten. Kalau disejajarkan dengan struktur birokrasi kepolisian,KPHsetingkatdenganPolres. NegaraLokal PemdaKabupatenWonosobo NegaraPusat PemerintahPusatJakarta LSM LembagaSwadayaMasyarakat. PAD PendapatanAsliDaerah. Pemda PemerintahDaerah PP PeraturanPemerintah. PHBM PengelolaanHutanBersamaMasyarakat. PSDHBM PengelolaanSumberDayaHutanBerbasisMasyarakat. Perda PeraturanDaerah. Perhutani Perusahaan Kehutanan Negara, yaitu BUMN kehutanan satusatunya di Jawa, dan dikukuhkan melalui PP No.

8

SK SKB UU UnitI

30/2003tentangPerumPerhutani. SuratKeputusan. Surat Keputusan Bersama, dalam hal ini antara Perhutani UnitIJawaTengahdanBupatiWonosobo. Undangundang. AdalahsatuanorganisasipelaksanakehutananPerhutanidi Jawa Tengah, mempunyai fungsi utama menyusun perencanaan sebagai tindak lanjut kebijakan Direksi Perhutani di Jakarta. Unit I Jawa Tengah mengelola dan membawahi 22 KPH. Kalau disejajarkan dengan struktur birokrasikepolisian,UnitsetingkatdenganPolda.Perhutani terdiri dari 3 Unit, yaitu Unit I Jawa Tengah, Unit II Jawa Timur, dan Unit III Jawa Barat dan Banten. Setiap Unit dipimpinolehseorangKepalaUnit(Kanit).

9

DaftarBagan Bagan.1 Bagan.2 Bagan.3 Bagan.4 Bagan.5 Bagan.6 Bagan.7 RelasiDemokrasi,KelembagaandanKontrolPublik StrukturBirokrasiPemeritahandanKehutananpada MasaPenjajahanBelanda StrukturBirokrasiOrganisasiPerumPerhutani StrukturPengelolaanHutandiJawapadaMasa PemerintahanOrdeBaru AlurProsesAdvokasiPerdaSDHBM KonteksPolitikdalamFormulasiKebijakan KebijakansebagaiProdukdanArenaKontestasi Halaman 28 52 58 63 108 151 155

DaftarKotak Kotak.1 Kotak.2 Kotak.3 Kotak.4 Kotak.5 Kotak.6 NegaraisasiHutandanLahan AntaraNegara,PemerintahdanPerhutani PenjarahanHutandiWonosobo BeritaDinamikaPenjarahanHutandiWonosobo DampakPenjarahanHutandiWonosobo BeberapaMitosyangMengemukakeRuangPublik perihalSistemPengelolaanHutandiKawasanPerhutani PerjalananKebijakan/PeraturanyangMengaturtentang SistemPemerintahanDaerah SikapWonosoboatasPengelolaanSumberdayaHutan AsasasasPenyelenggaraanPSDHBMdidalamPerda (Pasal2) PetikanPasal7dan8PerdaPSDHBM,dalamBabIII tentangPenetapanLokasi PetikanSuratPernyataanSikapPerwakilanRimbawan sertaAdministratur/KKPHseJawadanMadura NotaKesepahamanBersamaWonosobodanPerum PerhutanidiYogyakarta Halaman 41 50 68 70 73

86 Kotak.7 Kotak.8 Kotak.9 Kotak.10 Kotak.11 Kotak.12 92 97 114 115 118 120

10

Kotak.13

PernyataanSikapKoalisiuntukPenyelamatanDevolusi PengelolaanSumberDayaHutan(KUNDERA) 124 SuratSekjenDepdagrimengenaiHimbauanPenghentian PelaksanaandansekaligusPencabutanPerdaPSDHBM 127 AnalisisHukumSuratSekjenDepdagrikepadaBupati Wonosobo AksiPremanismeyangMenyertaiKontestasi KepentingandalamKebijakanPengelolaanSumberdaya HutanWonosobo SuratKeputusanMendagriyangMembatalkanPerda PSDHBMWonosobo

Kotak.14

Kotak.15 Kotak.16

128

134 135

Kotak.17

DaftarTabel Tabel.1 Tabel.2 Tabel.3 Tabel.4 PergeseranKonseptualmenujuPSDHBM PerbandinganKebijakanPSDHBMWonosobodan PHBMPerhutani KonsekuensidariMunculnyaPerdaPSDHBM SusunanKeanggotaanTimTeknisFHW Halaman 84 89 110 181

11

Intisari Penyebaran negarayaitu mewujudnya pembilahan pusat dan lokal yang begitu kuat, sebagai konsekuensi dari periode pasca reformasidalam konteks studi ini adalah munculnya fenomena Wonosobo yang sempat mbalelo, tidak taat, dan cenderung menentang pusat (Jakarta) dalam hal pengurusan sumberdaya hutan pada 20012005 silam. Tentu saja Wonosobo dalam pengertian sebagai entitas. Olehsebabitu,keterlibatanmasyarakatdanLSMadalahsangatbesardalamkisah mbalelo tadi. Ranah keterlibatan inilah yang lantas dilihat oleh studi ini, manakala civil society (melalui LSM) memainkan peran mendiseminasikan discoursedalamkontekspertarungan(kontestasi)kepentingan,untukselanjutnya munculkebijakan(PerdaPSDHBM)sebagaimuaraprosessekaligusperistiwa politik. Namun, seiring dengan perjalanan waktudi mana negara pusat cenderung menguat (resentralisasi)melalui pendekatan hirarkhis, kemudian PerdaPSDHBMWonosobodicabutdandibatalkanpadatahun2005.Peristiwaini menjadi momentum, di mana salah satunya adalah munculnya kecenderungan engage antara pemerintah lokal Wonosobo dengan pemerintah pusat (Perhutani), disampingjugalantasmemicukonsekuensibagigerakancivisociety(LSM)untuk ikutikutan nyaman dengan strategi kolaborasi multipihak, bersama Perhutani. Pada ranah inilah, keberadaan dan fungsi LSM kemudian menjadi urgent untuk dievaluasi manakala, dari sisi keagenannya (agency) nyatanya relatif. Terutama berkaitan dengan kuatlemahnya, ketika berhadapan dengan negara, sekaligus swasta/pasar.Ataubahkansebaliknya,bersinergidengannegaradanswasta/pasar untuk selanjutnya meninggalkan agenda masyarakat. Sebagai temuan dari studi ini, hal tersebut belum terjadi.Tetapi, gelagat lepas aspirasi (disenggagement), ada potensi. Studi kasus ini melalui pendekatan kepustakaan dan lapangan (partisipatif dan wawancara tidak terstruktur), dengan melihat konteks peristiwa pada dua episode; yaitu masa advokasi Perda PSDHBM (19992005) dan masa setelah Perda PSDHBM dibatalkan (2005sekarang). Hasil studi menunjukkan bahwa, diskursivitas di dalam proses perubahan kebijakan kehutanan lokal Wonosobo, sangat dipengaruhi oleh keberadaan dan peran civil society (LSM). Dengan demikian, manakala beradanya dan peran LSM ada potensi melemah, sudahsewajarnyauntukmemunculkankekhawatirantersendiri.

12

Abstract State dispersionemerged in local dan national strong dichotomy, as a consequence of the post reform peroidin this study is, the rised up of the Wonosobos phenomenon when became revolt, disobedient, and even tend to against the national (Jakarta), on the forest resource management in 20012005. Indeed, Wonosobo as an entity. So, the community and civil society (NGO) involvement were, a significant influence in the story earlier. This involvement thenwasseenbythestudy,atacertainpointintimewhencivilsociety(through theNGO)playedtheirroletodesiminatedthediscoursesandinterestcontestation, henceforth emerged the public policy (Perda PSDHBM, Wonosobos District Regulation) as the political process and circumtance. On the other hand, the national government tended to strengthen (recentralised) and, then through the hierarchy approach, afterwards Perda PSDHBM was pulled out and cancelled in 2005. Suddenly, the incident became as momentum, where there were trend of engagement between the Wonosobo locals government and the national government (Perhutani), nearby also triggered the consequences for the civil society (NGO) movement to slavishly, convinient with the multistakeholders collaborationstrategy,toPerhutani.Furthermore,itisurgenttoevaluatetheNGO existence, mainly from the agency side when we realized it is become relative. Especiallyregardingtotheirstrongandweakness,tobeingfacedwiththestate,or atthesametime,themarket.Orevenwasthecontrary,sinergisedtothestateand market, henceforth left the communitys agenda. The study shows, this matter didnt happen yet. But, the sign of lose from communitys aspiration (disenggagement),itwasthepotential.Thiscasestudythroughthedocumentand fieldresearchapproach(partisipatoryandwithnostructurequitioner),byseeing the context of the circumtance in two episodes; that are the period of Perda PSDHBMs advocacy (during 19992005) and time after Perda PSDHBM were annulled (2005now). The Results of the study show that, discursive processes in the Wonosobos local policy related to forest resource management, really was affectedbytheexistenceandtheroleofcivilsociety(NGO).Therefore,whenthe roleoftheNGOhadapotentialweakened,itisrelevancetoemergingthespecial concern.

13

BABIPENDAHULUANA. LatarBelakang Hutan, memiliki karakter sebagaimana halnya karakter sumberdaya alam1 yang kitasemuakenal.Darisisipemanfaatan,menurutsifatnyasumberdayaalamdapat dimasukkandalamkategorisebagaiyangbersifatterbarukan(renewable)danyang bersifattidakdapatterbarukan(unrenewble).Padakaraktersumberdayaalamyang

Kiranya perlu untuk dikemukakan, bahwa sumber alam (natural source) adalah cara pandang yang lekat dengan masyarakat asli, masyarakat adat, atau masyarakat subsistenmisalnya masyarakatpetani.Merekamelihatalamsebagaikesatuanspiritualtransendentaldenganmanusia di dalamnya yang melakukan aktivitas budaya, sosial, dan ekonomi. Peradaban pencerahan di Eropa yang membawa semangat penaklukan dalam ideologi kolonialisme memperkosa cara pandangtersebutdanmenggantikannyadengancarapandangsumberdayaalam(naturalresource). Penambahan kata daya menekankan pada kemampuan alam untuk memberikan kepuasan maksimalbagimanusia,dandalamkerangkainilahalammenjadibahanbakuyangterpisahdari manusia, atau dengan kata lain hanya menjadi obyek untuk dikuasai dan dieksploitasi. Pada negara yang baru lepas dari kolonisasi, pandangan ini dipertahankan dengan ideologi yang berbeda, didasari upaya untuk menjawab kesejahteraan masyarakat pasca penjajahan dengan semangat developmentalisme (pembangunanisme). Developmentalisme mempertahankan cara pandang alam sebagai sebuah sumberdaya produksi untuk menghasilkan devisa negara. Pergeseran makna alam ini membuat alam tidak lagi dianggap sebagai rahmat bagi semua manusia, tetapi menjadi obyek yang jumlahnya terbatas dan bisa diperebutkan. Alam menjadi sumbersumber konflik di dalam negara. Kecenderungan ini mendorong negara memproduksi ketentuanketentuan mengenai tata cara ekploitasi, hingga pada akhirnya mendorong pemusatan kekuasaan pada negara yang terutama diembankan kepada pemerintah. Periksa Mickael B. Hoelman,SengketaWajahKerakusanModaldanNegaraatasSumberAlamIndonesia,makalah disampaikan dalam kelas Seminar Politik Indonesia Kontemporer, Program Pasca Sarjana Ilmu PolitikUniversitasGadjahMada,2003.1

14

bersifatterbarukanmakapadanyamelekatdayarestorasisecaraalamiah,sehingga sustainibilitaspasokannyadapatbertahandanberlanjutuntukjangkawaktuyang lamabahkantakterbatas.Sementarasumberdayaalamyangmempunyaikarakter tidakdapatterbarukan,adalahberlakusebaliknya.Olehkarenanya,dalamrentang waktu tertentu, praktek eksploitasi atas sumberdaya alam yang bersifat tidak terbarukan ini akan membawa konsekuensi pada habisnya ketersediaan sumberdayatersebut. Meskipun demikian, bukan berarti bahwa terhadap sumberdaya alam yang bersifatterbarukan,pastiakanterjaminselaluketersediaanyasecaraberkelanjutan (sustainable)sehinggatidakakanhabis,musnah.Padakontekspraktekeksploitasi yang serampangan (baca: tidak terkendali) terhadap sumberdaya alam yang mempunyai sifat terbarukan, juga terdapat kecenderungan untuk habis ketersediaannya, oleh karena adanya sifat keterbatasan daya dukung (carrying capacity)sumberdayadimaksud. Apabila mencermati kasus pengurusan sumberdaya hutan nasional, kerusakan deforestasi dan degradasisumberdaya hutan selama ini, adalah fenomena konkrit yang mana menjadikannya cukup relevan guna menjelaskan proposisi tersebut di atas. Lebih kurang 40 persen dari luas hutan pada tahun 1950 telah ditebang dalam waktu 50 tahun berikutnya; tahun 2000. Jika dibulatkan, luas tutupan hutan di Indonesia turun dari 162 juta hektar menjadi 98 juta hektar. Mengutip data Potret Keadaan Hutan di Indonesia (state of forest report) yang diterbitkanolehForestWatchIndonesia(FWI)tahun2001,padatahun1980anlaju

15

kehilanganhutandiIndonesiarataratasekitar1jutahektarpertahun.Kemudian meningkat menjadi sekitar 1,7 juta hektar per tahun pada tahuntahun pertama 1990an. Dan sejak tahun 1996, laju deforestasi meningkat pada bilangan 2 juta hektar per tahun.2 FAO menyebutnya, laju kerusakan hutan di Indonesia sudah mencapai 1,8 juta ha per tahun dalam kurun waktu tahun 20002005.3 Merujuk padainformasitersebut,kiranyacukupmenjelaskanbahwajaminankeberlanjutan tersedianyasumberdayatersebut,adapotensiketerancaman. Dengandemikian,ceritasecarapartikularmengenaikondisihutanJawa,sayakira juga tidak lah jauh berbeda. Studi Greenomics pada Januari 2006 menunjukkan, selama kurun waktu tahun 20022004, deforestasi di Jawa mencapai 102 ribu hektar. Kondisi ini terjadi pada 40 ribu hektar kawasan konservasi dan 62 ribu hektar hutanlindung.JawaTimur,JawaBarat,danJawaTengahadalahprovinsi penyumbang terbesar deforestasi di Pulau Jawa. Akibat deforestasi itu, terjadi degradasi 330 ribu hektar hutan. Degradasi terjadi pada 76 titik di kawasan konservasi dan hutan lindung di Provinsi Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta,danJawaTimur.Degradasikawasankonservasideperkirakanseluas 133 ribu hektar, sementara hutan lindung mencapai 197 ribu hektar. Kerusakan hutan akibat degradasi dan deforestasi ini menyebabkan terganggunya 10,7 juta hektarlahandi123titikdaerahaliransungai(DAS).Akibatdegradasihutansaja, kerugian diperkirakan Rp 8,37 triliun per tahun. Sedangkan kerugian akibat

ForestWatchIndonesia,PotretKeadaanHutanIndonesia,ForestWatchIndonesia,Bogor,2001 Data FAO menunjukkan, Indonesia menghancurkan kirakira 51 kilometer persegi hutan setiap harinya,setaradenganluas300lapanganbolasetiapjam.2 3

16

rusaknyasektorperikanandanpertaniansawahmencapaiRp37triliunpertahun.4 Demikian, sesungguhnya tidak saja persoalan ekonomi yang kemudian menjadi poinpentingdarideplesipotensinilaisumberdayahutan,namunjugasayarasa, persoalan keterancaman potensi fungsi ekologidan sosialyang jauh lebih penting.5 Disamping melekat sifat terbarukan dan tidak terbarukan dari segi pemanfaatan, pada sumberdaya alam juga mempunyai karakter persebaran keberadaan dan ketersediaan yang tidak merata. Oleh sebab itu, pada konteks ruang dan waktu tertentu ketersediaan sumberdaya alam kemudian memungkinkannya menjadi terbatas (scarcity). Pada wilayah ketersediaan sumberdaya alam yang terbatas, dengan begitu membawa konsekuensi pada akses terhadap sumberdaya dimaksud menjadi contestable (dalam memperolehnya).6 Namun demikian, sebaliknya tidak pula terjamin bahwa sumberdaya alam akan menjadi contested hanya bilamana dia langka (terbatas). Pada ketersediaan sumberdaya alam yangKORANTEMPORabu,8Februari2006. Dari seluruh wilayah Jawa seluas 13.410,9 ribu ha, kurang lebih 23,4 % merupakan kawasan hutan,yangterdiridarikawasankonservasi(KawasanSuakaAlam/KSAdanKawasanPelestarian Alam/KPA)seluas454,3ribuhaatau14,5%dariluaskawasanhutan,HutanLinding(HL)seluas 750,8 ribu ha (23,9 %), Hutan Produksi Tetap (HP) seluas 1.558,9 ribu ha (49,7 %) dan Hutan ProduksiTerbatas(HPT)seluas371,8ribuha(11,8%).Secarakeseluruhanmaupunprosentaseluas kawasanhutanpadamasingmasingpropinsiyangadadiwilayahJawaMadura,masihjauhdari luasminimalsebesar30%,agarsecaraekologisdapatberfungsisebagaipenyanggalingkungandi wilayahini.PeriksaMoech.F.Fahada,PengurusanHutanJawaDitinjaudariPerspektifBencana Lingkungan, makalah dipublikasikan dalam http://rimbawan.org/peh/index.php?option=com_content&task=view&id=70&Itemid=40 diakses padatanggal20Febrari2009. 6Konteksketerbatasan(scarcity)sumberdayaalam/lingkungan,yangkemudianmenjadipenyebab utamakonfliksosialdankekerasanyangberkepanjangan,digambarkandengancukupjelasdalam kasusaksesterhadapsumberdayaalam/lingkungandinegaranegaradidataranAfrikasubSahara olehThomasHommerDixondalamEnvironment,Scarcity,andViolence,1996.4 5

17

melimpah pun, potensi kontestasi juga memungkinkan menjadi aktual manakala aktor yang mempunyai kepentingan untuk mengakses sumberadaya yang bersangkutancukupbanyakdanberagam.Lebihlebihpadasaatkebijakanformal yang ada dan berlaku, serta watak regulasinya bersifat membatasi akses atas sumberdaya dimaksud secara berbeda (diskriminatif) antara satu aktor dengan aktoryanglain. Kontestasi akses terhadap sumberdaya alam, hemat saya, erat kaitannya dengan paradigma yang melandasi praktek pengurusan sumberdaya alam. Paradigma praktek pengurusan sumberdaya alam yang dominan berjalan dalam dunia kehutanan moderndan sesungguhnya juga terhadap semua eksploitasi sumberdaya alamadalah pengurusan sumberdaya hutan yang berbasis negara (statebasedforestresourcemanagement).Dimana,dalampandanganparadigmaini, hutandiandaikansebagai(hanya)miliknegara,yangdengannyanegarakemudian memiliki otoritas penuh (full authority) untuk menentukan status

kepemilikan/penguasaan (ownership), termasuk bentukbentuk mekanisme relasi (hukum/aturan main) antar aktor terhadap sumberdaya hutan yang boleh berjalan. Sementara belakangan kini,7 ada tendensi yang mengemuka berkaitan dengan paradigma yang (sebelumnya) tidak terlalu populerlebihlebih oleh kaca mata7

Hal ini merujuk pada rentang waktu satu dekade terakhir pasca reformasi 1998, di mana keleluasaan dalam menyuarakan wacanayaitu paradigma pengelolaan hutandi luar atau bertentangan dengan arus utama (mainstream) wacana yang diproduksi oleh negara memiliki kesempatan mengemuka. Oleh sebab itu, saya melihatnya, sesunguhnya wacana ini bukanlah merupakan paradigma yang baru, karena pada level komunitasdengan strategi moralitas

18

kekuasaan formal negaranamun sekarang mempunyai cukup ruang untuk berkembang menjadi arus utama (setidaknya sebagai perspektif alternatif) yang mengiringidominannyaparadigmapengurusansumberdayahutanyangberbasis negara; yaitu pengurusan sumberdaya hutan berbasis masyarakat (community based forest resource management). Mengemukanya paradigma ini, saya melihatnya tidak lebih oleh karena konsekuensi dari pergeseran pola relasi masyarakat dengan negara. Kemunculanuntuk selebihnya memungkinkan memperoleh posisibisajadisangateratkaitannyaketikanegaramakinmelemahdihadapan masyarakat. Sehingga dengan kata lain, masyarakat semakin kuat posisinya terhadap negara. Reformasi 1998 adalah monumental point, manakala negara mengalami krisis legitimasi di mata masyarakat, sehingga kreativitaskreativitas masyarakatdan kalangan civil societymenjadi lebih mudah terekspos ke permukaan. subsistensinyapada hakekatnya praktek yang melandaskan pada paradigma ini telah lama berjalan.Padarentangwaktusatudekadeterakhirkinimenjadilebihmenyeruaktidaklebihkarena kegiatan promosi oleh kalangan civil society (LSM dalam hal ini)baik domestik maupun internasionalmelalui strategi kampanyenya guna menyandingi model pengelolaan hutan berbasis negara yang lebih banyak bersifat eksploitatif. Pada konteks itu pulalah, berhasilnya pewacanaan dalam hal ini, sehingga pengelolaan hutan berbasis masyarakat (PSDHBM) menjadi paradigma yang relatif mendapatkan tempat (existing)dengan negara kemudian juga mengafirmasinyamelaluiakseptasiterhadapkonsepiniadalahceritalain.Meskipunkemudian, sayakira,terlepasdarikontekskonsepsitersebutyangsebenarnyatetapsajamerupakancontested area manakala pada wilayah derivasi, semua pihak memiliki otoritas dalam menafsirkannya. ContohpalingsederhanadimananegaramengklaimsebagaiwujudafirmasiparadigmaPSDHBM, adalah ketika UU No. 5/1967 diganti dengan UU No. 41/1999 yang dalam Penjelasan Umumnya menyatakan: Dilihat dari sisi fungsi produksinya, keberpihakan kepada rakyat banyak merupakan kunci keberhasilan pengelolaaan hutan. Oleh karena itu praktekpraktek pengelolaaan hutan yang hanya berorientasi pada kayu dan kurang memperhatikan hak dan melibatkan masyarakat, perlu diubah menjadi pengelolaanyangberorientasipadaseluruhpotensisumberdayakehutanandanberbasispadapemberdayaan masyarakat.Yangdalamtatarankonkritisasikonseptual,menuruthematsaya,pernyataantersebut masihmenyisakanbiastafsiryangtidakmenjanjikan.Dengannya,sayarasamasihstatebased.

19

Dalam pandangan paradigma pengelolaan sumberdaya hutan berbasis masyarakat, penempatan masyarakat sebagai pelaku utama dalam pengurusan sumberdayahutanmenjadinilaidasaryangmelandasi.Negaratidakditempatkan sebagai pihak yang paling utama berperan dalam menentukan mekanisme relasi baik antara aktor, maupun aktor dengan obyek (sumberdaya hutan yang bersangkutan); bahkan aspek teknis turunannya. Mekanisme ditentukan dan dilakukansecarapartisipatif,sertadalamkontrololehlingkupinternalmasyarakat itusendiri. Pergeseran paradigma pengurusan sumberdaya hutan menjadi berbasis masyarakat, dalam benak saya, sangat mungkin berkaitan dengan kegagalan model paradigma pengurusan sumberdaya hutan berbasis negaramelalui praktek eksploitasinyaditambah dengan melemahnya kewibawaan negara di hadapan masyarakat,8 di mana posisi masyarakat memang lah mulai semakin menguat. Pada titik ini, paradigma pengurusan sumberdaya hutan berbasis masyarakat sebagai tawaran pilihan (alternatif) mengemuka, oleh sebab dalam prakteknya meletakkan watak kearifan masyarakat subsisten (community wisdom)di mana memiliki sensitifitas keberlanjutan fungsi (ekologis)pada posisi yang utama. Tidak ekstraktif, seperti halnya cara pandang yang melihat bahwa hutan tidak lebih merupakan resource bagi ritual industri kayu (timber

Pada konteks ini, masyarakat dihadapkan pada negara oleh karena nilai yang seringkali melandasi; yaitu civic virtue, di mana bentukbentuk kebaikan dari masyarakat (solidaritas, toleransi, kepercayaan, dan jalinan kerjasama) teraktualisasi kembali ketika negara gagal menghadirkanperandanfungsinyaolehkarenalebihbanyakmelayanidirinyasendiri.8

20

extraction) sebagaimana praktek pengurusan yang diterapkan oleh negara, dan jugaswasta. Dari konteks momentum, kemunculan paradigma ini menjadi semakin mendapatkan ruang manakala negara tidak lagi menjadi aktor tunggaldan otonomdalam dinamika kehidupan politik pasca reformasi 1998. Melemahnya negara membawa konsekuensi pada fragmentasi kekuasaan, sehingga tidak lagi terpusatbaikpadalocusmaupunpadaaktor.Haldemikian,jugaditandaidengan makin menguatnya iklim demokrasi yang disepakati melalui (setidaknya) kemunculan kebijakan liberalisasi politik secara nasional. Hal mana, liberalisasi politik selanjutnya juga membawa konsekuensi untuk menata ulang relasi kekuasaandidalamnegaraitusendiri. Saya melihat, bahwa kebutuhan menata ulang relasi kekuasaan di dalam negara pada ranah hubungan pusat dan daerah, kemudian mewujud sebagai tuntutan desentralisasi melalui pemberian otonomi daerah yang luas dan penuh. Oleh karenanya,selebihnyaberkaitandengantarikmenarikkewenangan,dimanasalah satudiantaranyaadalahsoalpengurusansumberdayaalam.Dalamtarikmenarik kewenangan ini, dicoba dijembatani melalui keluarnya kebijakan mengenai desentralisasi yaitu UU No. 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah yang belakangan kemudian diganti dengan UU No. 32/2004. Pada bidang pengurusan sumberdaya hutan muncul UU No. 41/1999 tentang Kehutanandi mana juga merujuk pada UU No. 22/1999yang menggantikan berlakunya undangundang

21

sebelumnya,yaituUUNo.5/1967yangmengaturtentangKetentuanPokokpokok Kehutanan. Pada derajad tertentu (dari sudut pandang otoritas formal administratif), terobosan kebijakan ini dianggap bisa menyelesaikan masalah tarikmenarik kewenangan antara negara pada tingkat nasional dengan negara pada tingkat lokal.Namunpadalevelyanglain,sayamembacanya,ternyatahalinitidakcukup memberikan solusi atas persoalan, sebabnya karena justru masih sebatas retorika formalitas. Satu diantaranya, adalah adanya asumsi dari sisi lokal yang menyatakan bahwa intervensi pusat masih sangat tinggi oleh sebab daerah sekedarberperanpadawilayahteknispelaksanaanstandar,prosedur,kriteria,dan indikatoryangtelahditentukanolehpusat.Daerahtidakmempunyaikeleluasaan dalam mendisain kebijakan atas jelajah otoritas teritorinyapengurusan sumberdayahutanlokalsendiri.9 Fenomena ini memantul pada kasus Kabupaten Wonosobo pada saat melakukan terobosandalammemaknaijelajahotoritasnyaataspengurusansumberdayahutan dengan mengeluarkan Perda No. 22/2001 tentang Pengelolaan Sumber Daya HutanBerbasisMasyarakat(PSDHBM).DalamPerdaPSDHBM,sayamenceramati adanya spirit Wonosobo untuk mengambil alih peran negara pada tingkat pusat

Lihat Pasal 5 ayat (3) UU No. 41/1999 tentang Kehutanan yang menyatakan bahwa pemerintah pusatberwenangmenetapkanstatushutan.Statushutantersebutadalahhutannegaradanhutan hak. Kewenangan ini membawa konsekuensi mengenai mekanisme pengurusan kawasan hutan yangbersangkutanterutamahutannegaradimanadaerahtidakpunyasedikitpunkewenangan untuk turut menentukannya meskipun hutan negara yang bersangkutan masuk dalam teritori adiministrasiwilayahnya.9

22

dalampengurusansumberdayahutanpada kawasanhutan negaradiwilayah administrasi Kabupaten Wonosobo melalui penetapan status dan fungsi hutan, serta konsekuensi mekanisme teknis turunannya sesuai dengan kondisi dan kebutuhan lokalitas Wonosobo. Ada nuansa mengingkari beradanya otoritas pusat. Terdapat alur nalar yang melatarbelakangi bangunan argumentasi Wonosobo,yangkuranglebihberkisarpadaupayapenyelamatanfungsiekologis sumberdaya hutan yang terancam pasca peristiwa penjarahan10 hutan pada Mei 1998, serta ikhtiar untuk memberdayakan masyarakat lokal setempat berkaitan denganaksesterhadaplahandikawasanhutannegara,yangsebelumnyaterbatasi oleh regulasi nasional. Lebihlebih manakala ada tanda kegagalan pusat dalam memerankan otoritasnya, di mana tidak kontributif secara signifikanpada dua manfaat:ekologidanekonomiterhadapentitaslokalsetempat.

Istilah penjarahan, pada penggunaannya menjadi problematik. Mengapa? Pada perspektif hukum pidana (hukum positif), secara konvensional istilah penjarahan hutanyang kemudian disamaartikan dengan illegal loggingtidak lebih merupakan permasalahan kriminalitas biasa (motifekonomibiasa),yaitutindakanmenguasaibarang/bendasecarapaksa(tanpahak).Namun sebagai sebuah fenomena sosial, hemat saya, tidaklah sesederhana itu. Pada konteks tertentu, penjarahanlebihbanyakbermaknasebagaisebuahbentukperlawanansosialatassistemproduksi kehutanan yang tidakadil. Bahkan, bila merujuk pada teorinya James Scott, sangat mungkin apa yangdisebutsebagaipenjarahanhutanadalahmanifestasidariperlawananharidemihari(dayto dayresistance)yangdilakukanolehmasyarakatatasstrukturdarisistemsosialyangmenindasdan tidak adil. Dengan demikian, saya kira, dapat juga untuk dibahasakan sebagai bentuk daripada protes. Namun begitu, pada perkembangannya, penjarahan hutan kini tidak lagi (telah bertransformasi)memaknasebagaiprotesatasstruktursistemproduksihutanyangmenindasdan tidak adil, tetapi merupakan bagian dari mesin besar kapitalisme yang serakah, di mana praktek menjarah tidak lagi berbeda dengan praktek kotor mencuri kayu karena tidak lebih merupakan perbanditan kapital yang terorganisir dengan baik (well crime organised). Periksa Rama Astraatmadja, Seputar Hutan Jawa, dipublikasikan dalam http://arupa.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=59&Itemid=39 diakses pada tanggal23Februari2009.10

23

Apalagi, pada konteks regulasi nasional yang juga berlaku pada saat ituyaitu UU No. 22/1999 (saya melihatnya Wonosobo mencandranya pada isu itu) memungkinkan bagi daerah untuk mengurus sumberdaya (alam) nasional yang ada di wilayahnya secara mandiri. Pasal 10 ayat (1) UU No. 22/1999 setidaknya yangmenjadilandaspijakpembenarannya,karenamenyatakansebagaiberikut:Daerah berwenang mengelola sumber daya nasional yang tersedia di wilayahnya dan bertanggung jawab memelihara kelestarian lingkungan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Di dalam persoalan ini kemudian menjadi lebih menarik, oleh karena dalam mamahami berwenang mengelola oleh Wonosobo, dimaksudkan sebagai pengambilalihan (beban) tanggungjawab atas potensi kerusakan fungsi lingkungandikawasanhutannegarayangdialamiolehWonosobo. Dalam wilayah inilah, yang menjadikan Wonosobo memiliki nilai pembeda dengan daerah lain manakala memaknai kewenangan mengelola sumberdaya nasionalyangadapadawilayahnya.Euforiasemangatdesentralisasidanotonomi daerah oleh daerahdaerah lain, terutama daerah yang kaya akan potensi sumberdaya alamnyadi mana samasama menggunakan Pasal 10 ayat (1) UU No.22/1999sebagaibasispijakpembenarnyamemaknaiberwenangmengelola sebagai otoritas untuk berupaya semaksimal mungkin menarik manfaat sebesar besarnya dari sumberdaya yang tersedia bagi peningkatan kesejahteraan dan kemakmurandaerah.Itulahsebabnya,kemudianyanglebihbanyakterjadiadalah eksploitasi besarbesaranterutama oleh daerah di luar Jawaatas potensi sumberdaya alamnya demi peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) tanpa

24

memperhatikan dengan cermat keselamatan fungsi ekologis serta keberlanjutan fungsisumberdayanya11. Namun demikian, bukanlah berarti bahwa pengambilalihan peran dan otoritas pusat oleh Wonosobo terjadi bukan tanpa penentangan (resistensi). Terdapat beberapa momentum yang bisa diketemukan, yang dapat ditengarai sebagai tonggak penentangan oleh pusat pada kasus ini. Tonggaktonggak penentangan tersebut terjadi sebelum dan menjelang, serta setelah keluarnya Perda PSDHBM. Sebelumdanmenjelangkeluarnyaperdaantaralain:munculnyaKeputusanKetua Dewan Pengawas Perum Perhutani No. 136/KPTS/DIR/2001 tentang Pengelolaan SumberdayaHutanBersamaMasyarakat(PHBM)yangterbitpada29Maret2001 dan Keputusan Gubernur Jateng No. 24/2001 tentang Pengelolaan Sumber Daya Hutan Bersama Masyarakat Di Propinsi Jawa Tengah yang keluar pada 26 September2001.12

Yang terjadi di lapangan, sebagai salah satu contoh sederhana adalah eksploitasi sumberdaya hutan,yaitupemberiankonsesiHakPengusahaanHutan(HPH)dalamskalakecil(50ribu100ribu ha)yangdiberikansecaraserentakolehhampirsemuapropinsidankabupatendiKalimantandan Sumatra. Terlebih ketika tindakan itu dibenarkan oleh pusat melalui keluarnya PP No. 6/1999 tentangPengusahaanHutandanPemungutanHasilHutanpadaHutanProduksi;yangkemudian belakanganditarikkembalimelaluiPPNo.34/2002tentangTataHutandanPenyusunanRencana Pengelolaan Hutan, Pemanfaatan Hutan dan Penggunaan Kawasan Hutan (Pasal 100); dan yang kemudiansudahdicabutjugamelaluiPPNo.7/2006tentangTataHutandanPenyusunanRencana PengelolaanHutansertaPemanfaatanHutan. 12 Perda PSDHBM Kabupaten Wonosobo No. 22/2001 disahkan pada tanggal 20 Oktober 2001. Nampak sekali agenda tersembunyi (hidden agenda) di balik diterbitkannya Keputusan Gubernur Jawa Tengah No. 24/2001, yaitu untuk mencegah keluarnya Perda PSDHBM mengingat proses inisiasi perda ketika itu telah berjalan cukup lamasejak tahun 1999dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan (multistakehoders) termasuk Perum Perhutani sendiri. Sementara teramat jelas bahwa kepentingan Perum Perhutani dimuatkan dalam keputusan gubernur tersebut mengingat bahwa substansi keputusan gubernur sama sekali persis dengan Keputusan Dewan Pengawas Perum Perhutani No. 136/2001dan bertujuan memupus kehendak keluarnya perda11

25

Pada pasca keluarnya perda antara lain: pertama, Bulan April 2002 Perhutani mengajukanpermohonanjudicialreview(PeninjauanKembali/PK)terhadapPerda No. 22/2001 kepada Mahkamah Agung RI.13 Meskipun hingga kini tidak pernah juga diketahui bagaimana hasil keputusan Mahkamah Agung atas permohonan tersebut. Kedua,MelaluisuratNo.1665/Menhut11/2002tanggal11September2002,Menteri KehutananmemintakepadaMenteriDalamNegeriagarmembatalkanPerdaNo. 22 Tahun 2001 dengan alasan bahwa ketentuan dalam Pasal 5 Perda tersebut bertentangandenganketentuanPasal5ayat(3)UUNo.41/1999danpasal2ayat (3) angka 4 huruf c PP No. 25/2000,14 karena yang berwenang menetapkan kawasan hutan negara termasuk hutan hak dan hutan adat berikut dengan perubahanstatusdanfungsinya,adalahPemerintah(pusat).

kabupaten melalui pendekatan hierarkis propinsi sebagai pemerintah daerah yang lebih tinggi serta merupakan perwakilan pemerintah pusat. Namun demikian, hal itu tidaklah menyurutkan niatanWonosobountuktetapmengeluarkanPerdaPSDHBM,lebihlebihkarenadiprovokasioleh wacana yang hangat pada masa itu di mana daerah kabupaten/kota dianggap merupakan titik utamaotonomidaerah.Bukanlahpropinsi. 13Nomorregisterperkara12P/HUM/2002. 14PPNo.25/2000tentangPembagianKewenanganantaraPemerintahPusat,PemerintahPropinsi danPemerintahKabupatenmerupakanaturanpelaksanaansetelahkeluarnyaUUNo.22/1999.PP tersebut mengundang kontroversi oleh sebab prinsip residualnya yang ternyata lebih banyak mengintroduksikewenangan pemerintah pusat dan pemerintahpropinsi, sementarakewenangan pemerintah kabupaten tidak lebih hanya sisanya; yang tidak disebutkan sebagai kewenangan pemerintah pusat dan propinsi. Kini peraturan tersebut juga telah dicabut (tidak berlaku)setelah keluarnya UU No. 32/2004 dan diterbitkannya PP pengganti yaitu PP No. 38/2007 tentang Pembagian Urusan Kewenangan Pemerintah Pusat, Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Kabupaten.

26

Ketiga,berdasarkanhasilkajiantimdanrekomendasiMenteriKehutanantersebut, tanggal 24 Oktober 2002 Departemen Dalam Negeri melalui Sekretaris Jenderal mengirim surat Nomor 188/342/2434/SJ kepada Bupati Wonosobo yang berisi permintaan agar bupati menghentikan pelaksanaan Perda PSDHBM, dan segera mengusulkan proses pencabutan kepada DPRD yang selambatlambatnya dalam waktu15harisudahharusdilaporkankepadaMendagri. Keempat, pada tanggal 11 Juni 2003 Pemerintah menetapkan PP No. 30/2003 tentang Perubahan PT Perhutani menjadi Perum Perhutanimenggantikan PP No. 14/2001 tentang Perubahan Perum Perhutani menjadi PT Perhutani. Dengan PP ini Pemerintah semakin menegaskan kembali mengenai pelimpahan kewenangannya kepada Perum Perhutani untuk menyelenggarakan pengurusan hutannegarayangterdapatdiProvinsiJawaTengah,JawaTimur,JawaBarat,dan Banten,kecualiuntukkawasanhutankonservasi.Sehinggasecaratidaklangsung inginmemperlihatkankembalikonteksotoritaspusatatashutandiJawaterhadap Wonosobo. Dan terakhir pada tahun 2005, pemerintah pusat yaitu, Mendagri melalui SK No. 9/2005mencabutdanmembatalkanberlakunyaPerdaPSDHBM. B. Permasalahan Pasca reformasi 1998 Indonesia memasuki babakan baru berkaitan dengan relasi kekuasaanpadadinamikadalamkehidupanbernegara.Babakanperubahandari iklim politik yang sebelumnya otoriter represif mengarah ke keadaan yang lebih

27

terbuka (liberal) dan demokratissalah satunyaadalah karakter yang utama. Hanya saja pada konteks peralihan (transisi), memang tidak jelas benar akan kemanabentukanbabakanbaruini(baca:perubahan)akandibawa.DalambahasaODonnell dan Schimitter keadaan ini kurang lebih dilabeli sebagai fase transisi dari otoritarianismeentahmenujukemana.15Padafasetersebuttatananrelasiantaraktor

baik dalam negara maupun di luar negara masih diwarnai oleh tarikmenarik pemaknaanotoritassehinggapenuhdenganketidakpastian.Padakonteksinternal negara,desakandesentralisasiyangkemudiandirealisasikandenganperumusan kebijakan desentralisasi dan otonomi daerahberbenturan dengan munculnya fenomena gerakan resentralisasi; yaitu PP No. 25/2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom, dan puncaknya adalahmunculnyaUUNo.32/2004tentangPemerintahanDaerahyangmencabut sekaligusmenggantikanUUNo.22/1999. Tarikmenarik kewenangan pengurusan sumberdaya hutan hanyalah salah satu symptom dalam konteks ketidakpastian ini. Hirukpikuk konflik kewenangan, menuruthematsaya,mengemukasebagaikonsekuensidarifenomenafragmentasi kekuasaan dalam internal negara. Pembilahan pusat dan lokal menguat oleh karena tuntutan untuk menata ulang pola relasi yang lebih equal serta tidak bias pusat. Oleh sebab itu, dengannya menjadi relevan untuk memperluas pandang bahwakonflikyangterjaditidaklahsekedarsebataspadapersoalanadministratif kewenangan yangterumuskan olehkebijakanformal. Namunlebih dariitu,oleh karenasubstansipermasalahannyaberanjakpadawilayahpertarungankekuasaan15

GuillermoODonneldanPhilippeC,TransisiMenujuDemokrasi:RangkaianKemungkinandan KetidakPastian,terj.NurulAgustina,LP3ES,Jakarta,2003.

28

yang sepintas direpresentasikan oleh kelembagaan formal negara: pusat dan daerah. Pertarungan kekuasaan dalam pengurusan sumberdaya hutan, yang dengannya kemudian memungkinkan guna dipahami mengenai sejauhmana kontekskontestasiinimembawamakna. Sementara itu, fenomena pemaknaan yang dilakukan oleh Kabupaten Wonosobo mengenai rentang jelajah otoritas pengurusan sumberdaya hutan melalui perumusan kebijakan lokal Perda PSDHBM adalah dinamika yang juga menarik. Kepekaannegarapadatingkatlokal(pemerintahandaerah)yangkemudiangayut dengan gerakan advokasi perubahan kebijakan publik pada level bawah masyarakat dan organisasi lokal non negara (civil society)saya memandangnya merupakanprototypehukumaspiratifyangtidaksematamatasekedarmerupakan persoalan legislasi formal (formal legislation). Discourse yang melibatkan berbagai stakeholderbaiksebagairepresentasiaktornegaramaupunnonnegarasehingga melahirkan konsep kebijakan pengurusan sumberdaya hutan lokal yang berbasis masyarakat memunculkan kecurigaan kuat mengenai adanya proses advokasi perubahankebijakanpublikyangsetidaknyacenderungdemokratis.Dinamika transaksional atas diskursus pengelolaan sumberdaya hutan dalam ruang publik lokal oleh berbagai elemen masyarakat yang tidak didominasi oleh negara, menurut hemat saya, merupakan gambaran yang terjadi dan berjalan dalam konstruksihukumlokaldisini.Danmanakalaadafenomenanegarapadatingkat lokal yang akomodatifyang bahkan juga terlibat dalam memfasilitasi proses advokasi perubahan kebijakanmaka menjadi pertanda baik bagi modal dasar demokrasi(lokal).

29

Dengan begitu, manakala realita ini diingkari oleh pemerintah nasional (negara pusat)melaluipembatalanPerdaPSDHBM,konteksupayamemahamikontestasi kepentinganpublikdalampengurusansumberdayahutanlokalWonosoboantara pusatdandaerahpascadesentralisasi,hematsayabisamenjadilebihrelevandan bermakna,manakaladicandramelaluirumusanpermasalahansebagaiberikut: 1. Bagaimana relevansi diskursivitas dan kontestasi kepentingan (publik) dalamprosesadvokasiperubahankebijakanlokalpengurusansumberdaya hutanWonosobo? 2. Sejauhmanademokrasitermaknaimelaluikeberadaandanperancivilsociety dalam konteks gerakan pembaruan kebijakan pengurusan sumberdaya hutanWonosobo? C. TujuanPenelitian Penelitianinimempunyaitujuanuntuk: 1. Menjelaskan relevansi pada dinamika diskursivitas dan kontestasi kepentingan (publik) dalam proses advokasi perubahan kebijakan pengurusansumberdayahutanlevellokal,Wonosobo. 2. Mencari tahu tentang sejauhmana gambaran demokrasi dan peran civil society, tampil dalam dinamika gerakan pembaruan kebijakan pengurusan sumberdayahutandiWonosobo. D. KerangkaPemikiran Relasikekuasaan,diskursusdankontestasikepentingan

30

Kekuasaan bisa dikatakan selalu ada (exist) dalam setiap konstruksi sosial. Terlepas apakah fenomena tersebut mewujud dalam bentuk yang paling kasat mata, atau entah ada dalam format yang bahkan sulit untuk dicandra melalui inderabiasa(fisik). Secara sederhana, saya memahami kekuasaan16 dalam rentang makna sebagai bentuk eksploitasi satu pihak terhadap pihak lain oleh karena adanya kekuatan (dengan atau tanpa ancaman) yang memungkinkan situasi tersebut terjadi. Ramlan Surbakti (1992), membahasakan kekuasaan yang diartikannya sebagai kemampuan mempengaruhi pihak lain untuk berpikir dan berperilaku sesuai dengankehendakyangmempengaruhi. Akan tetapi, jenis relasi yang bagaimanakah yang disebut relasi kekuasaan? Apakah setiap relasi merupakan kekuasaan? Menurut Johan Galtung (dalam I Marsana Windhu, 1992: 33), relasi yang represiflah yang disebut sebagai relasi kekuasaan. Pengandaian dasarnya adalah bahwa setiap pola relasi sosial merupakan relasi yang seimbang. Dengan demikian, kekuasaan menjadi nyata dalamrelasisosialyangtidakseimbang.Halinimengimplikasikanadayangkuat

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, kuasa berarti kemampuan atau kesanggupan untuk berbuatsesuatu;kewenanganatassesuatuatauuntukmenentukansesuatu.Kemudiankekuasaan berartikuasauntukmengurusataumemerintah;kemampuan;kesanggupandankekuatan.Dalam bahasaInggris,istilahpowerbersinonimdenganforce,energy,strengthyangartinyasecaraumum kemampuan untuk mengerahkan segala usaha untuk mencapai tujuan; kemampuan untuk mempengaruhi sesuatu atau seseorang. Periksa I. Marsana Windhu, Kekuasaan dan Kekerasan MenurutJohanGaltung,Kanisius,Yogyakarta,1992,hlm.3216

31

dan ada yang lemah. Perlu juga ditambahkan bahwa selama belum ada relasi, kekuasaanitubelumlahterjadi.17 Karakter kekuasaan yang tidak melulu berupa eksploitasikekerasan secara fisikmengemuka melalui berbagai bentuk reproduksi wacana (diskursus) dan pengetahuan sedemikia rupa. Muara dari reproduksi tersebut berujung pada wacana yang dominan sehingga lantas dianggap sebagai satusatunya pilihan yang paling sahih dan benar adanya. Oleh karena itu, setiap kekuasaan senantiasa menghasilkan rejim kebenaran tertentu yang disebarkan melalui wacana. Pihak yang berkuasa menganggap sebagai yang paling benar dan yang paling berhak mengendalikan semua perilaku, gerakgerik, pemikiran, bahkan wacanayangberkembang.18Dengandemikian,makapadapengertianiniwacana tidak dapat dibiarkan bebas berkembang, melainkan harus selalu ada institusi yangberperanuntukmengarahkanbahkanmenguasainya.19 Di sisi lain, saya setuju untuk membenarkan bahwa kuasa bekerja melalui normalisasi dan regulasi. Oleh sebab itu, sesungguhnya konteks dominasi ini

I.MarsanaWindhu,Ibid,hlm.33 Dalam berbagai aspek kehidupan manusia, wacanasecaraumum tidak pernah netraldanlahir berdasarkan asumsi alamiah. Wacana pada dasarnya sengaja dibentuk dan dikondisikan oleh institusiinstitusi yang lebih dominan atas aspekaspek yang didominasinya. Menurut Foucault, discourse is political commodity, a phenomenon of exclusion, limitation, prohibition (Gordon, 1980: 25 dalam Moch. Jalal, Praktik Diskursif The Theory of Truth Michel Foucault dalam Konstruksi Simbolisasi Bahasa di Indonesia, Jurusan Sastra Indonesia Unair, Surabaya, tidak diterbitkan, tanpatahun,hlm.3) 19Moch.Jalal,loccit.17 18

32

bekerjauntukdanbahkanmenjadibersifathegemonik.20Konsephegemoni,tidak hanya menjelaskan dominasi politik lewat kekuatan (force), akan tetapi dominasi lewat kepemimpinan intelektual dan moral (intellectual and moral leadership) di dalam sebuah relasi yang kompleks di antara sebuah sistem kekuasaan dan berbagaielemensosial.21 Di dalam hegemoni, dapatlah dikatakan bahwa kelompok yang mendominasi berhasil mempengaruhi kelompok yang didominasi untuk menerima nilainilai darikelompokyangberkuasa(therulingparty).Bahkandalammenerimanilainilai tersebut,kelompokyangdikuasai(dominated)seolahmenjalaninyasebagaisesuatu yang wajar sehingga ideologi kelompok dominan dapat menyebar dan dipraktekkan.22 Namundemikian,halinibukanlahberartibahwapraktekdominasitersebutakan selalu berjalan dan terjadi tanpa tentangan dalam relasinya. Tentu saja keteganganketegangan antara pihak yang menguasai dan dikuasai akan selalu

Hegemonibisadidefinisikansebagai:dominasiolehsatukelompokterhadapkelompoklainnya, denganatautanpaancamankekerasan,sehinggaideideyangdidiktekanolehkelompokdominan terhadapkelompokyangdidominasiditerimasebagaisesuatuyangwajar(commonsense).Antonio Gramsci, penggagas teori hegemoni (eugemonia), berpendapat bahwa tahapan sebelum terjadi hegemoni adalah dominasi (dominio). Periksa Yasraf A. Piliang, Minimalisme Ruang Publik: Budaya Publik di dalam Abad Informasi, sebagaimana mengutip Antonio Gramsci, dalam SunaryoHadiWibowo,RepublikTanpaRuangPublik,IREPress,Yogyakarta,2005. 21YasrafA.Piliang,Ibid,hlm.5 22 Ide dasarnya adalah, bahwa kelas penguasa memerintah tidak dengan kekerasan (atau dengan kekerasan sematamata) melainkan dengan persuasi. Persuasi ini bersifat tidak langsung: kelas yangdiperintahbelajarmelihatmasyarakatlewatcarapandangpenguasa,berkatpendidikandan juga posisi mereka dalam sistem masyarakat. Periksa Peter Burke, Sejarah dan Teori Sosial, YayasanOborIndonesia,Jakarta,2001,hlm.128.20

33

mewarnai bekerjanya praktek kekuasaan. Pada konteks keteganganketegangan (tentions) tersebut mengemuka, mengakibatkan munculnya pertarungan (kontestasi) sebagai bentuk perebutan pengaruh di antara para aktor dalam memperjuangkan kepentingan. Dengannya, ranah perjuangan dominasi ini menjadisangattergantungpadasituasi,sumberdaya,danstrategiaktor(pelaku).23 Parapihak(pelaku)dalamperjuangannyaakanselaluberusahamengubahaturan main (rule of game). Strategi ini terutama dipakai oleh mereka yang didominasi. Sedangkan pihak yang dominan (berkuasa) tentu saja lebih banyak memilih strategi perjuangan mempertahankan status quo atas kemapanan yang telah diraihnya,untukbilaperlumenguatkannya. Padakontekskehutanan,pembacaansayatentangrelasikekuasaanberkisarpada bekerjanya kekuasaan melalui tradisi pengelolaan sumberdaya hutan yang menyejarahdengannegarasebagaiaktoryangdominan.Konsepsihakmenguasai oleh negara atas seluruh bumi, air dan kekayaan alam yang terkadung di dalamnya untuk sebesarbesarnya kemakmuran rakyat24 menjadi landas justifikasi (wacana) bagaimana negara ditempatkan pada posisi yang strategis dalam melakukan kontrol atas penggunaan/pemanfaatan sumberdaya alam (hutan),termasuksegalabentukhubunganhukum(baca:aturanmain)yangboleh

Haryatmoko, Menyingkap Kepalsuan Budaya Penguasa, Majalah BASIS Tahun ke52, NovemberDesember2003,hlm.11. 24Selaindisebutdidalamkonsitusi(UUD45),jugaditegaskanpertamakalididalamUndang undangPokokAgraria(UUPANo.5/1960).Padamasakolonial,konsepsiinidikenalsebagaiasas domein verklaringdalam Agrarisch Wet 1870dimana negara menyatakan bahwa semua tanah (lahan)yangtidakdapatdibuktikankepemilikannya,makamerupakantanah(milik)negara.23

34

berjalan. Melalui perjalanan kesejarahan pula kemudian negara memproduksi bentukbentuk normalisasi dan regulasi pengelolaan sumberdaya hutan yang paling benar, termasuk klaim tentang kehutanan akademik yang dianggapnya palingilmiah25dantepatsebagaistrategipengelolaanhutan. Dalam paradigma kehutanan berbasis negara tersebut, pemisahan tegas antara sistem kehutanan dengan entitas sosial merupakan prasyarat utama, di mana kemudiansekaligussesungguhnyakonflikkehutananmenjadibermula.Demikian pertarungan oleh karena penentangan demi penentangan (resitensi) kemudian munculmenyertaipengelolaansumberdayahutan.Kadangkadang,penentangan seharihari kemudian berubah menjadi perlawanan terbuka atau semacam gerakansosial.26 Pada studi ini, konteks pihak (pelaku) dalam pertarungan pengurusan sumberdaya hutan tersebut, saya mencobanya untuk memilah pada wilayah (locus) internal negara sendiri, dan wilayah negara dengan masyarakat. Pada wilayahinternalnegara,keteganganantar pelakuyangterjadimelibatkannegara pada level pusat (pemerintah pusat dan Perhutani27) dengan negara pada level

MenurutHaryatmokosebagaimanamengutipFoucault(MengarahkanOpiniPublik,Kompas 2 Februari 2009)status ilmiah merupakan cara kekuasaan memaksakan pandangannya kepada publiktanpamemberikesanberasaldaripihaktertentu. 26PeterBurke,Ibid,hlm.132. 27 Perhutani merupakan Badan Usaha Milik Negara (state enterprise) yang berdiri sejak 1972 yang mewarisimanajemenpengelolaansumberdayahutanJawamelaluinasionalisasibekaspengelolaan oleh pemerintah kolonial (pasca kemerdekaan). Secara kronologis, kebijakan yang melandasinya berturutturutadalahPPNo8/1953tentangPenguasaanTanahtanahNegaraterutamaPasal2dan Pasal10danUUPokokKehutananNo.5/1967Pasal5ayat(1)yangmembenarkanbahwakawasan hutan (di Jawa) telah dikuasakan kepada Perusahaan Jawatan Kehutanan Negara. Kemudian25

35

lokal(pemerintahandaerah),lebihlebihsetelahdesentralisasi.Sementaraitupada aras wilayah negara dan masyarakat, pertarungan mengemuka antara Perhutani (baik pada pada struktur pusat maupun lokal) dengan masyarakat petani hutan bersamadengansejumlahorganisasinonnegara(LSM)dilainpihak. Diskursivitaspublikpadakonteksadvokasi28kebijakanyangdemokratis Kekuasaan disusun, dimapankan dan diwujudkan melalui wacana dan pengetahuan tertentu. Secara konkrit, pelembagaan lewat normalisasi dan regulasi. Oleh sebab itu, pada konteks ini saya memandang hukum (sebagai

PenyerahankekuasaanatashutankepadaPNPerhutanimelaluipenetapanPPNo.15/1972,yang kemudiandiperbaruidenganPPNo.2/1978berikutPPNo.36/1986yangmelimpahkankekuasaan kepada Perum Perhutani Unit I (Jawa Tengah), II (Jawa Timur) dan III (Jawa Barat). Pada era reformasi,seiringkuatnyatekananatasmodelkelolahutanJawaolehPerumPerhutani,kemudian munculPPNo.53/1999tentangPerusahaanUmumKehutananNegara(PerumPerhutani)dimana makin menekankan bahwa secara manajemen tunduk pada kebijakan tentang badan usaha milik negaranamunsecarateknismerujukpadabirokrasikehutanandibawahdepartemenkehutanan. Pada tahun 2001 muncul PP No. 14/2001 tentang alih status dari Perum Perhutani menjadi PT. (Persero)Perhutani,yangbelakangankemudiankembalilagimenjadiperusahaanumum(perum) melalui keluarnya PP No. 30/2003 tentang Perusahaan Umum Kehutanan Negara (Perum Perhutani). Pembacaan umum atas keberadaan Perum Perhutani ini juga menyiratkan bahwa karakter kolonial juga diwarisi olehnya oleh sebab ciri dalam pendekatan pengurusan yang dilakukannyayangtetapbersifatsentralistik,tertutupdanmonopolistik. 28 Berbeda dengan istilah advokasi yang digunakan dalam bidang hukum, yang secara spesifik memaknakan advokasi sebagai upaya memperjuangkan hak (kepentingan) pihak dalam konteks pertarunganhukum(legalbattle).Baikyangbersifatlitigasi(didalamlembagapengadilan)maupun nonlitigasi (di luar lembaga pengadilan). Terminologi advokasi dalam hal ini, dikenakan pada kontekssebagaiprosesikhtiar(upaya)memperjuangkanperubahankebijakankearahyangsesuai dan dicitacitakan oleh semua pihak. Dengan demikian, tentu saja arah yang sesuai dan dicita citakan oleh semua pihak adalah sejauh mana kepentingan mereka dapat diakomodir oleh kebijakan yang bersangkutan. Oleh karenanya, dapat saja bahwa ikhtiar memperjuangkan kepentingan ini, melalui kebijakan tersebut, menjadi merugikan (menegasikan) satu sama lain di antarapihakyangberkepentingan.Namun,hematsaya,istilahadvokasikebijakanyangdimaksud dalam hal ini, secara tendensius, mengarah pada proses ikhtiar/upaya perubahan kebijakan yang lebihadildandemokratis.

36

aturan main) menjadi sangat penting karena relasi kekuasaan di dalamnya menjadimemungkinkanterbaca,padasejauhmanatercermin. Pada wilayah para aktor memahami hukum (kebijakan) sebagai ranah pelembagaan normalisasi kekuasaan, dengannya menguat pula ketegangan kepentingan dalam rangka saling mempengaruhi dan mewarnai karakter kebijakan yang bersangkutan. Dari sisi pihak yang dominan, maka orientasi kepentingannya mengarah pada upaya memelihara dominasinya dengan mempertahankan status quobahkan bila perlu memodifikasinya agar lebih kuat dominasinya. Sementara itu, di lain pihak (kelompok yang didominasi) dihadapkanpadapilihanberupayamenuntutperubahanataskondisidanrealitas, dengandemikianmelaluigagasandanaturanmainyangbaru. Dalam membaca kebijakan sebagai ranah kontestasi (dengan membawa konsekuensimunculnyaketeganganketegangankepentingan)tersebut,makasaya rasa penting untuk mengemukakan bahwa konteks pergulatan pembentukan kebijakan mengindikasikan ada tidaknya debat publik yang memadai. Jika demikian halnya, maka menjadi relevan untuk mengajukan pertanyaan apakah proses yang berlangsung dan terjadijika dia memang sebuah fair kompetisi melibatkan peran publik, melalui diskursivitas sedemikian rupa, atau sekedar pemaksaan aspirasi sepihak, melalui manipulasi opini dan sebagainya, oleh kelompokyangdominan(berkuasa)?

37

Debat publik, saya kira, hanya memungkinkan manakala ruang publik29 (sebagai media)relatifmencukupi.Ruangpublik(publicsphere)dalampengertiannyayang umum adalah ruang tempat berbagai kepentingan publik bertemu, yang di dalamnya terbentuk otoritas publik (public authority).30 Sementara lain, menurut Mickael B. Hoelman (2005) sebagaimana mengadaptasi Zygmunt Bauman (1999), secaralebihdetailmencobamenguraikankonsepruangpubliksebagaitempatdi mana sumbersumber daya yang memunculkan energi, diefektifkan dengan menghubungkannya kepada upayaupaya untuk membawa kekuasaan kembali, kedalamsesuatuyangdapatterkelolasecarapolitis.Apayangdimaksudsebagai sumbersumber daya yang memunculkan energi di sini, ialah ketika anggota masyarakat memperdebatkan nilainilai mereka serta mendiskusikan hukum hukumyangdiperuntukkangunamenuntunmereka.31

RuangpubikyangdiintroduksiolehHabermas,secarakesejarahanmunculsekitarawalabadke 18 dalam komunitas borjuis. Ruang publik borjuis tersebut digambarkan sebagai jembatan yang menghubungkan kepentingan pribadi dari individuindividu dalam kehidupan keluarga dengan tuntutan serta kepentingan kehidupan sosial dan publik dalam konteks kekuasaan negara. Tujuannya, mengatasi perbedaanperbedaan dalam berbagai kepentingan dan pendapat pribadi itu,danakhirnyamenemukankepentinganumumsertakonsensusbersama.Ruangpublikterdiri dari organorgan penyedia informasi dan perdebatan politis seperti surat kabar dan jurnal; termasuk ruang publik adalah juga lembagalembaga diskusi politis seperti parlemen, klubklub politik, klubklub sastra, perkumpulanperkumpulan publik, rumah minum dan warung kopi, balaikota,dantempattempatpubliklainnyayangmenjadiruangterjadinyadiskusisosialpolitik. Di tempattempat itu, kebebasan berbicara, berkumpul, dan berpartisipsi dalam debat politik dijunjungtinggi.PeriksaB.HariJuliawan,RuangPublikHabermas:SolidaritasTanpaIntimitas, MajalahBASISNo.1112,Tahunke53,NovemberDesember2004,hlm.3233. 30YasrafA.Piliang,hlm.3. 31 Mickael B. Hoelman, Konstruksi Pengetahuan dalam Perlawanan Masyarakat Desa Sekitar Hutan terhadap Perum Perhutani: Studi Kasus Desa Temulus, Randublatung, Blora, tesis S2 ProgramStudiIlmuPolitik,PascaSarjanaUniversitasGadjahMada,Yogyakarta,2005,hlm.17.29

38

Olehsebabitu,prinsipprinsipbagimemadainyaruangpubliktersebutjugaharus terpenuhi,yaituapabilamelibatkansuatudiskusiterbukatentangsemuaisuyang menjadi keprihatinan umum (publik), di mana argumentasiargumentasi yang diskursif digunakan untuk menentukan kepentingan bersama (kolektif). Ruang publik dengan demikian mengandaikan adanya kebebasan berbicara dan berkumpul, pers bebas, serta hak untuk secara bebas berpartisipasi dalam perdebatan politik dan pengambilan keputusan.32 Karenanya, kepublikan (publicity) yang terjadi dalam ruang publik dengan sendirinya menjadi mengandung daya kritis terhadap prosesproses pengambilan keputusan yang tidakbersifatpublik.33 Sementara lain, saya kira, penting juga guna ditegaskan bahwa publik adalah bukan sekadar sekumpulan orang yang didorong sikap atau kepentingan saja. Merekaterciptaberkatwacanayangmenyatukandenganmenyesuaikanopininya. Lalu terbentuklah publik yang mengenali diri sebagai anggota kelompok yang lebih kurang sama. Oleh karena itu, opini yang terbentuk sesungguhnya merupakan proyeksi bagi suatu bentuk perubahan ke depan.34 Menurut Haryatmoko,publikdimengertisebagaibentukkoordinasikolektifyangmemiliki tiga hal. Pertama, identitas yang lebih kurang sama; kedua, setuju atas diagnostik masalah(sebab,tanggungjawab,danpemecahan);ketiga,ikutterlibatuntuksuatu

Konsep ruang publik yang diangkat Habermas adalah ruang bagi diskusi kritis, terbuka bagi semua orang. Pada ruang publik ini, warga privat (private people) berkumpul untuk membentuk sebuahpublik,dimananalarpubliktersebutakanbekerjasebagaipengawasterhadapkekuasaan negara. 33B.HariJuliawan,Ibid,hlm.33. 34Haryatmoko,MengarahkanOpiniPublik,Kompas2Februari200932

39

upaya kolektif.35 Atau dengan istilah lain, saya kira, dapat dibahasakan sebagai sekelompokorangyangdihadapkanpadasuatupermasalahan,berbagipendapat mengenai cara pemecahan permasalahan tersebut, dan terlibat dalam diskusi mengenaipersoalanitu. Prosesdiskursif dalam pembentukanopini dankehendakdiruang publik makin terjaminbiladiletakkandiatasbangunanstrukturpolitikdanhukum.Olehkarena itu, ruang publik tidak sekedar mendeteksi persoalan, tetapi juga memperkuat tingkat kemendesakan dari persoalanpersoalan beberapa tersebut dengan solusi, cara

merumuskannya,

menyodorkan

kemungkinan

bahkan

mendramatisasi persoalan supaya ditangkap oleh otoritas politik. Habermas dalam B. Hari Setiawan menyatakan bahwa, Ruang publik lebih tepat digambarkan sebagai suatu jaringan untuk mengkomunikasikan informasi dan berbagai cara pandang ...; arusarus informasi, dalam prosesnya, disaring dan dipadatkan sedemikian sehingga menggumpal menjadi simpulsimpul opini publik yang spesifik menurut topiknya. Harapannya, opini publik akan mempengaruhi pengambilan keputusan dalam struktur politik dan hukum yang mapan.36 Konteksadvokasi(perubahan)kebijakan,padawilayahinisayakira,menemukan simpul relevansinya ketika opini publik dibaca mempunyai kekuatan dalam mempengaruhi terbentuknya hukum (regulasi/aturan main) yang lebih aspiratif. Dalam teori demokrasi deliberatif, mengusung poin penting bukan pada jumlahHaryatmoko,Ibid. B.HariJuliawan,Ibid.

35 36

40

kehendak perseorangan maupun bukan juga kehendak umum yang menjadi sumber legitimasi, melainkan pada proses pembentukan keputusan politis yang selalu terbuka terhadap revisi secara deliberatif dan diskursifargumentatif di mana opini publik memegang peran penting. Oleh karenanya, sekali lagi ingin menegaskan bahwa pengambilan keputusan yang dilakukan manakala terdapat proses deliberasi (pertimbangan/konsultasi) secara fairdi mana alasanalasan untuk keputusan publik harus diuji secara diskursif dan publik lebih dahulu maka sesungguhnya barulah bisa dikatakan mempunyai legitimasi. Dengan kata lain, demokrasi deliberatif adalah suatu proses perolehan legitimitas melalui diskursivitas.37 Demikianlah hakekat demokrasi. Sebagaimana konteks peran dan partisipasi rakyat yang tidak hanya berkutat dan beranjak pada ranah prosedural yang (sepintas) mengasumsikan bahwa terpenuhinya prosedur mekanisme pelibatan rakyat sudahlah mencukupi. Dalam konteks itu maka, kontrol rakyat terhadap keputusan publik dan kesetaraan politik menjadi dua pilar nilai yang lain dalam proses berdemokrasi. David Beetham menggambarkannya sebagai pentingnya equal right of citizen to a voice in public affairs yang dikaitkan secara timbalbalik dengan civil and political rights and liberties serta institution of representative and accountable government.38 Kesetaraan hak politik dalam diri warga akan mendorongnya untuk turut mewarnai proses politik yang menyangkut kepentingan dirinya. Dengan begitu juga, kebebasan dan hak politik serta sipil

F. Budi Hardiman, Demokrasi Delibartif: Model untuk Indonesia PascaSoeharto?, Majalah BASISNo.1112,Tahunke53,NovemberDesember2004,hlm.18 38DavidBeetham,DemocracyandHumanRights,PolityPress,MaldenUSA,2007,hlm.92.37

41

oleh warga dapat juga mendorong bagi munculnya gugatan publik terhadap malpraktekpenyelenggaraanpemerintahandankekuasaannegara.Bagan. 1. Relasi Demokrasi, Kelembagaan dan Kontrol PublikEqual right of citizens to a voice in public affair

Civil and political rights and liberties

Institution of representative and accountable government

Democracy: Rights and Institutions (diadopsi dari Beetham, 2007)

Padastudiini,kontekstualisasidiskursivitaspubliklebihkurangdapatditelusuri dalam proses perumusan Perda Kabupaten Wonosobo No. 22/2001 tentang PSDHBM. Secara spesifik, penting untuk melihat tentang sejauh mana klaim diskursivitaspublikcukupmewarnaidalampengambilankeputusunpolitisketika itu, sehingga menghasilkan kebijakan yang relatif aspiratif merefleksikan opini dan kehendak kelompok petani hutan setempatdengan demikian diskursivitas publik mampu berkontribusi dalam menentukan substansi kebijakan yang berpihaknamundisisilaintidakmemenuhikeinginannegara(padalevelpusat); yaitu Departemen Kehutanan dan Perhutani, di mana masih berhasrat mempertahankanpraktekdominasinyaataspengurusansumberdayahutan. Sebaliknya,sayakirajugapentinguntukmelihattentangseberaparelevanketika pengambilan keputusan politis dilakukan tanpa melalui proses yang melibatkan public discursivities ini kemudian menghasilkan karakter kebijakan yang tidak aspiratif(berkarakterrepresif).DalamkonteksinilahmunculnyaSKMendagriNo.

42

9/2005 tentang Pencabutan Perda PSDHBM saya kira, sedikitnya dapat merefleksikan akan fenomena itu. Pada wilayah ini sekaligus pula akan menampakkan, bahwa keluarnya kebijakan tersebut bukanlah berarti tidak memunculkan kegelisahan baru. Posisi kekosongan hukum pasca pembatalan perdadankemudiandiikutidengankompromiPerhutaniUnitIJawaTengahdan Bupati Wonosobo melalui Surat Keputusan Bersama, menjadi menarik, oleh karenanya konflik (kehutanan) lama seolah menjadi nirkontestasi (pertarungan), di bawah bayangbayang melemahnya energi gerakan di kalangan civil society dalampilihanstrategikolaborasimultipihak. E. MetodePenelitian Periodisasi(lingkuppenelitian) Penelitian ini akan melihat pada dua episodesebagai ruang lingkupdi mana keduanya adalah masa setelah desentralisasi (pasca 1999); yaitu pada masa advokasikebijakanpubliklokalyangmenghasilkanPerdaPSDHBM(tahun2001) danmasapascapencabutanPerdaPSDHBM(tahun2005dansetelahnya). Sifatpenelitian Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat kualitatif dengan pendekatan emansipatoris.Penelitimerupakanpihakyangpernahterlibatsecaralangsungdi dalam fenomena yang diteliti, sebelum kemudian me(re)konstruksi sedemikian rupa gambaran (deskripsi) realitas sosial yang dihadapinya. Dengan begitu, subjektivitas nilai bisa jadi membawa pengaruh di dalam pembacaan atas fenomena yang bersangkutan. Di tengah ikhtiar untuk tetap objektif di dalam

43

upaya menggambarkan secara akurat, membaca serta menginterpretasikan maknamaknadariberbagaifenomenayangterjadidalamkonteksperistiwasosial yang berasangkutan. Sebagai studi kasus, penelitian ini berupaya melukiskan keutuhan (wholeness) dari target/sasaran yang diteliti. Oleh karenanya, data dan informasiyangdikumpulkandalamrangkastudikasustersebutdipelajarisebagai suatu keseluruhan yang terintegrasi (dan mendalam) untuk kemudian dinarasikan. Lokasipenelitian Lokasi penelitian dilakukan di Kabupaten Wonosobo di mana merupakan locus dari dinamika kontestasi kepentingan dan kewenangan pengurusan sumberdaya hutandalamkonteksini.LokasidifokuskandiWonosobodisampinglebihkarena peneliti berharap bisa merekonstruksi peristiwaperistiwa silam secara lebih jelasmelalui klarifikasi, cross check, dan konfirmasi dengan pihakpihak yang terlibat ketika itujuga guna mengup date data dan informasi dari peristiwa belakangan (masa pasca Perda PSDHBM dibatalkan pada 2005hingga sekarang) dimanapenulistidaklagimengikutisecaraintensifdinamikatersebut. Skopeanalisis Lingkup analisis dalam penelitian ini adalah pemangku kepentingan dalam pengelolaan sumberdaya hutankhususnya di Wonosobobaik yang sifatnya individualmaupuninstitusionalyangterlibatketikaitu,dansekarang.Padalevel negara, maka pemangku kepentingan dalam hal ini adalah pertama, pemerintah pusat dalam hal ini Perhutani Unit I Jawa Tengah, khususnya Kesatuan PemangkuHutan(KPH)KeduUtaradanKeduSelatan;kedua,pemerintahdaerah

44

yaitu Dinas Kehutanan Kabupaten Wonosobo, serta Komisi B DPRD Kabupaten Wonosobo.Padalevelcivilsociety,39pemangkukepentingandalamhalinidiwakili oleh Lembaga ARuPA (Aliansi Relawan untuk Penyelamatan Alam) Yogyakarta, Koling (Konservasi Lingkungan) Wonosobo, dan Sepkuba (Serikat Petani Kedu danBanyumas). Teknikpencarian,jenisdansumberdata Pencarian dan pengumpulan data dan informasi dalam penelitian ini ditempuh melalui kajian pustaka/dokumen dan wawancara terhadap narasumber yang bersangkutan. Kedua bentuk teknik pengumpulan data dan informasi ini dilakukan guna bisa saling melengkapi satu dengan yang lain manakala dipandang perlu mendalami peristiwa yang terjadi sehingga didapatkan pemahaman yang cukup untuk mengungkapkan bangun logika atas fenomena yangditeliti.Sementarajenisdansumberdatayangdigunakanadalah: 1. Data Primer, merupakan data yang didapat dari sumber dan

informan/narasumber kelembagaan.

pertama

yaitu

individu/perseorangan

2. Datasekunder,merupakandataprimeryangsudahdiolahlebihlanjutdan disajikan oleh pihak lain. Data sekunder ini salah satunya dapat berupa hasilpenelitian.

Civil society, dalam hal ini dibatasi pada pemahamannya dalam konteks asosiasional (organisasi/kelembagaan) yang secara sukarelaanggotaanggotanya secara voluntary terikat dalam nilainilai civility (bond of civility)bekerja untuk mewujudkan visi penguatan sosial, di hadapannegara,sertabersifatnirlaba.39

45

Teknikpengolahandananalisisdata Keseluruhan data dan informasi yang didapatkan selanjutnya diolah dan dianalisis secara deskriptif kualitatif melalui reduksi data, penyajian secara logis dansistematis,sertakemudianmenyimpulkannyasecarainduktif. F. SistematikaPenulisan Dalam penelitian ini, penulisan dimulai dengan pendahuluan (Bab I), yang menguraikan mengenai latar belakang, perumusan masalah, tujuan studi, kerangka pemikiran, metode yang digunakan dalam studi ini, serta sistematika penulisan. Selanjutnya pada Bab II, mencoba menguraikan konteks strukturasi penguasaan hutan Jawa, dari sudut pandang kesejarahan, konsekuensi birokrasi kehutanan Jawa,daneksistensiWonosoboberkaitandengantopikyangmengemukasebagai temastudi. PadaBabIII,berceritatentangdinamikadiskursivitasdankontestasikepentingan yangterjadidalamruangpubliklokalWonosobo.Babinidimulaidenganpaparan mengenai duduk perkara PSDHM dan PHBM. Kemudian cerita tentang latar belakang dan konteks bagaiamana Wonosobo memaknai jelajah otoritas atas pengelolaansumberdayahutandiwilayahnya.Selanjutnyaruangkontestasiyang menghasilkan perda, dari mulai proses inisiasi, substansi gagasan dalam perda dan konsekuensinya, dan hingga ketika Jakarta berikrar untuk menganulirnya.

46

Dalam Bab III ini pula, kemudian ditutup dengan uraian mengenai bentuk kompromi antara Wonosobo dan Perhutani, sebagai satu bentuk bertemunya negosiasi kepentingan, yang mana sesungguhnya dalam kaca mata lain saya mencandranyasebagaimanifestasiketidakpercayaandiriWonosobo. Lantas Bab IV, mencoba mengisahkan tentang adanya gelagat demokrasi dalam dinamika perubahan kebijakan kehutanan lokal Wonosobo, di samping mengungkap peran civil society(LSM) pada konteks itu. Dimulai dengan hakekat kebijakan publik semestinya adalah agenda rakyat (publik), untuk kemudian memberikan justifikasi terhadap proses advokasi Perda PSDHBM sebagai fenomena yang telah mengukuhkan makna demokrasi (deliberatif). Lantas dikaitkan dengan pengungkapan peran dan keberadaan civil society (LSM) dalam rangkaian cerita senjakalaning civil society, yang berkisah tentang perjalanan strategi gerakan yang ditempuh oleh LSM (khususnya ARuPA), latar belakang, konsekuensi dan pengaruhnya terhadap upaya perubahan sosial (relasi masyarakat dan negara). Kemudian ditutup dengan upaya tentang bagaimana gerakandankontribusiLSMdiWonosobosekarang,denganmembacanyasebagai masihadaharapanditengahenergiyangsemakinmenipis. Terakhir, Bab V, rangkaian penulisan studi ini ditutup dengan kesimpulan dan refleksi. Dalam Bab Penutup ini, mencoba mengungkap hikmah/makna (lesson learned)yangdapatdipetikkedepan,untukfenomenafenomenaserupa.

47

BABIISKETSASTRUKTURASIPENGUASAANHUTANJAWADAN(DI DALAMNYA)WONOSOBOBoleh jadi orang mencemooh kemiskinan kami. Namun, manakala kami memilih lahan hutan sebagai sandaran untuk bertahan, itu-pun otoritatif sikap setia kami. Meski intimitas hutan dan kami, toh sesungguhnya telah dipaksa koyak. Oleh sebab keterlanjuran sejarah yang tidak memihak, di mana kami tidak punya pilihan untuk menolak. (kesah komunitas pinggir hutan Jawa) SepintasmungkinkitaakanmengafirmasipandanganbahwadalamhutandiJawa sudah tidak ada persoalan. Kemiskinan yang mendera petani dan masyarakat sekitar hutan seolah takdir karena alam sebagai media yang mereka huni memanglah tidak banyak memberikan harapan. Namun, benarkah demikian? Apakah fenomena sosial pinggir hutan adalah keadaan normal dan alamiah? Pencermatan sepintas ini dengan sangat rapi diwacanakan dan disuguhkan oleh rejim Orde Baru dalam kurun waktu kuranglebih 3 dekade lamanya. Dan manakala kita dihentakkan oleh fenomena aksi sosialyang diiringi dengan penjarahan dan kekerasanterhadap sumberdaya lahan dan hutan pada medio 1998(bahkansecarasporadismasihterjadihinggakini),barulahkitasadarbetapa sesungguhnyaperistiwaituhanyalahsekedarpuncakdariekskalasikonfliksosial kehutanan.Denganbegitu,sesungguhnyapatutlahkitaberanggapanbahwapada dasarnya kehutanan Jawa menyimpan bara api sengketa (laten) yang berkepanjangan,yangbahkanmungkinabadidantakterselesaikan.40

Bahkan terdapat pendapat sinis yang menyatakan bahwa satusatunya produk yang berhasil dilestarikandalampengelolaanhutanJawaadalahkonfliknya.Adaberbagaimacamkonflik,yang paling sering terjadi adalah akibat pencurian kayu, masalah agraria, dan tindakan represif dari40

48

Carapandangataskonteksfenomenasosialkemiskinandimanateramatsering dituduh sebagai akar persoalan kerusakan hutan dan konflik kehutananpada dasarnyamembilahpadaduaperspektifbesaryangsalingbertolakbelakang.Satu sisi, cenderung melihat fenomena kemiskinan sebagai persoalan individual yang disebabkan oleh kelemahankelemahan dan/atau pilihanpilihan individu yang bersangkutan. Sedemikian, maka kelemahankelemahan pribadi menjadi sebab serta alasan utama atas timbulnya fenomena kemiskinan. Malas, pasrah, bodoh dan terbelakang, sehingga menjadi relevan ditempatkannya sebagai tuduhan pertama yang dihadapkan manakala tawaran solusi ingin mencandra sebab persoalanyangbersangkutanterjadi.41 Sementara itu di sisi lain, memandangnya bahwa kemiskinan bukan sebagai persoalan individual, melainkan persoalan struktural. Kemiskinan disebabkan oleh adanya ketidakadilan dan ketimpangan dalam struktur sosial masyarakat akibat tersumbatnya aksesakses kelompok tertentu terhadap berbagai sumber sumberkemasyarakatan.42Olehsebabitu,ketimpanganstrukturekonomi,politik

pengelola hutan. Konflik paling mendasar adalah persoalan tenurial. Tepatnya pada pertanyaan pokok, Atas hak apa dan mandat siapa orangorang ini menguasai hutan yang sebetulnya bisa kami kelola demi kesejahteraan kami? Mengapa kami tak pernah diajak bicara soal pengelolaan hutan ini? Dikutip dari Rama Astraatmaja, Seputar Hutan Jawa, makalah diakses pada http://arupa.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=59&Itemid=39 pada tanggal 4 Mei2009. 41 Di mana dalam konteks kehutanan Jawa, cara pandang ini yang selalu mendasari setiap pengambilankebijakandalampengelolaanhutanolehnegara(PerumPerhutani),tanpamenyadari bahwamerekalahyangsesungguhnyajugamerupakanbagiandaripersoalanitusendiri. 42 Edi Suharto, Konsep dan Strategi Pengentasan Kemiskinan Menurut Perspektif Pekerjaan Sosial, makalah dipublikasikan pada http://www.policy.hu/suharto/modul_a/makindo_13.htm, diaksespadatanggal4Mei2009.

49

serta ketidakadilan sosial, sesungguhnya merupakan konteks yang lebih relevan guna diduga sebagai biang keladi utamanya. Pada wilayah ini, maka pada hakekatnya peran negara sebagai institusi pengemban fungsi untuk menyejahterakan rakyat adalah jawabannya. Sehingga manakala fenomena kemiskinan tersebut muncul ke permukaan, menjadi pantas untuk dicuriagi mengenaihaladanyakesalahanpadaperandanfungsinegara. DiJawa,terdapatkuranglebih5.690desayangeksisdanbersinggungan(bahkan bertampalan) dengan kawasan hutan negara. Dalam desa tersebut, kurang lebih dihuniolehsekitar35jutajiwapendudukyangbergantunghidupnyadarihutan. Sekitar 3035 persen dari jumlah penduduk tersebut (10,512,25 juta orang) merupakanpendudukmiskin.43Faktorutamayangmenyebabkantingginyaangka kemiskinan ini, disebabkan karena tidak adanya akses yang memadai dalam pengelolaanlahandanhutan.44 Berangkat atas fakta itu, sedemikian saya memandang konteks struktural yang sesungguhnya lebih tepat merupakan faktor utama. Struktur penguasaan dan pengelolaansumberdayahutandengandemikianmerupakandinamikasosialdan politik, karena pada hakekatnya relasi kekuasaanlah yang banyak berpengaruh danmewarnai.Padawilayahini,konseptualisasihutansebagaisumberdayayang Data dikutip dari pernyataannya San Afri Awang, Guru Besar Fakultas Kehutanan UGM dan Ketua Pusat Kjian Hutan Rakyat FKt UGM, disampaikan dalam Diskusi Hutan Kemasyarakatan, Jakarta 19 Agustus 2006, diakses dari http://www.tempointeraktif.com/hg/ekbis/2006/08/19/brk,2006081982218,id.html, tanggal 4 Mei 2009. 44PetanihutanJawarataratahanyamenguasai0,2halahan.Padahalidealnyasetiappetanihutan palingtidakmenguasai0,5halahanuntukmengentaskanmerekadarigarisbataskemiskinan.43

50

bersifat politiskarena diperebutkan/contestedmelalui penentuan siapa boleh berbuatapa,sertasiapabisamendapatkanapadalaminstrumenkebijakanformal negara, adalah akar persoalannya; yaitu konflik bermula. Meskipun, ironinya kemiskinan yang justru lebih sering ditempatkan sebagai kambing hitam atas perkaramakinterdesakdanrusaknyahutanJawa. Studi terkait dengan konflik kehutanandan juga kemiskinan salah satunya dalam pengelolaan hutan Jawa secara komprehesif bisa kita cermati melalui karyanya Nancy Lee Peluso (1992) dalam Rich Forest, Poor People. Selain itu, ARuPA(2004)45telahpulamelakukanhalserupa,meskipunlebihspesifikmelihat kasusRandublatungdanWonosobomelaluiKonflikHutanJawa.Dalambabini, agartidakterkesansekedarmengulangkajianyangpernahdilakukandalamdua studitersebut,pembahasanmembatasipadaranahsketsastrukturasipenguasaan (dan pengelolaan) kehutanan Jawa melalui latar belakang singkat kronologis kesejarahan, struktur birokrasi kehutanan Jawa yang istimewa, serta kontekstualisasi dilema Wonosobo di dalamnya. Dengan demikian, sejak semula dalam pembahasan pada bab ini akan menghindari detail, khususnya dalam kronologis kesejarahan penguasaan hutan Jawa, dan lebih melihatnya sebagai narasiawalpembahasandinamikalokalitaskehutananuntukbabbabselanjutnya. A. SettingKekuasaandalamPengelolaanKehutananJawa PerkarapengelolaanhutandiJawa,secarakesejarahansudahsangatlamaberjalan. Jauh sebelum berdirinya institusi negara (modern) Indonesia, praktek eksploitasiStudikolaboratifyangdilakukanbekerjasamadenganICRAFSEAdanFordFoundataion,tidak diterbitkan.45

51

hutan telah melembaga dalam bentuk ritus menambang kayu guna memenuhi kebutuhan bahan baku industri kapal kayu oleh pengusaha Cina dan Eropa, di sepanjang pantai utara Pulau Jawa pada abad ke17 dan 18 silam. Hingga pada akhir abad ke18yaitu setelah kurang lebih 200 tahun eksploitasiancaman kerusakan hutan (alam) jati, baru memunculkan kesadaran penguasa kolonial di HindiaBelanda untuk secara serius mengagendakan pengurusan hutan. Karena itu, ketika pemerintah kolonial kemudian mengangkat Herman Willem Daendels sebagai Gubernur Jenderal di HindiaBelanda pada awal abad ke19tepatnya pada tanggal 14 Januari 1808salah satu tugas yang dibebankan kepadanya adalah merehabilitasi kawasaan hutan melalui kegiatan reforestasi pada lahan lahan hutan yang mengalami degradasi serius.46 Namun demikian, toh sesungguhnya hal ini terutama tidaklah lebih sekedar untuk mengantisipasi pemenuhan bahan baku industri perusahaanperusahaan kapal kayu yang bersumberasaldarikawasanhutan. Konteks keseriusan menerapkan manajemen kehutanan Jawa ini, membawa konsekuensinegaraisasikawasanhutanmelaluipenerbitankebijakankebijakan formal a la negara sebagai landas justifikasi di dalam relasi penguasaan. Dengan begitu, model pengelolaan melalui pendekatan pengurusan yang sentralistik dan tertutup,dimanapemerintahmemegangperansebagaipenguasatunggal,adalah karakteryangmelekatdalammanajemenkehutanansepertiitu.

46

I Nyoman Nurjaya, Sejarah Hukum Pengelolaan Hutan di Indonesia, Diskusi Terbatas PelatihanHukumSumberdayaAlam,HuMAdanELSAM,Bogor2000.

52

Melalui model yang dikembangkan di Jerman pada abad ke18 sebagai acuan, pembangunan hutan tanaman secara monokultur47yaitu dengan komoditas utama adalah kayu jati (tectona grandis)membuat sistem manajemen kehutanan di Jawa dianggap telah mapan sejak 1865.48 Model pengelolaan kehutanan masa kolonialtersebutlahyanglantasdiklaimsebagaitonggakdarisistempengelolaan hutan akademis dan modern.49 Di mana sistem pengelolaan hutan akademis ini pula, yang kemudian menjadi cara pandang yang diwarisi oleh kelembagaan negara pasca kolonial, yang berperan bagi upaya melindungi hutan beserta kepentingankepentingan yang diembannya; yaitu atas nama kepentingan nasional/negara. Dengan demikian, melekat di dalamnya filosofi dan caracara penguasaanolehnegara,atausentralisasididalampengurusankehutanan. Kebijakan yang diturunkan dari sistem pengelolaan macam ini pada hakekatnya berangkatatasbasiskebutuhanuntukmemaksimalkaneksploitasikekayaanalam setempat (baca: daerah koloni/jajahan), guna memenuhi kepentingan penguasa. Dengan demikian, melalui ideologi kolonialisme dan imperialisme, hutanPembangunanhutantanamansecaramonokultur,dikalangankeilmuankehutananmengundang perdebatan epistemologi yang berkepanjangan. Yaitu mengemuka pandangan bahwa hutan, adalahkontekskomposisitumbuhandanpepohonanyangjugamerupakankesatuanekosistem yang tersusun secara beragam (heterogen). Dengan demikian, manakala populasi tegakannya (vegetasi) bersifat homogen melalui hutan tanaman, maka sebenarnya lebih merupakan pola perkebunan (kayu). Meskipun begitu, karena faktor perjalanan kesejarahan yang panjang, toh orangtetapmengenalnyasebagaihutan. 48Padatahun1865terbitReglemenKehutanan(Boschreglemen1865)dimanadidalamnyaterdapat JawatanKehutanan(DienstvanhetBoschwezen). 49 Diklaim demikian karena kegiatan pengelolaan kehutanan ketika itu telah dilakukan dengan menerapkanteknikilmukehutanandaninstitusimodern,terutamasetelahDaendelsmembentuk Dienst van het Boschwezen (Jawatan Kehutanan) yang diberikan wewenang mengelola hutan di Jawa.(SupardiSupadi,1974dalamINyomanNurjaya,SejarahHukumKehutanandiIndonesia, 2000).47

53

kemudian menempati posisi mengemban kepentingan ekonomi dan politik, sebagai penyedia bahan baku serta merupakan instrumen penguasaansebagai barang politik/political goodterhadap masyarakat daerah jajahan. Semua kekayaan alam yang terdapat di wilayah teritori (negara) jajahan; hutan, kandungan mineral, bahan tambang, dan juga manusia, ditempatkannya sebagai sumberdaya(resources).Kotak 1. Negara-isasi Hutan dan Lahan Masa kolonial Dua prinsip utama pengelolaan hutan berbasis negara di Jawa yang dibangun oleh Daendels pada 1808 adalah: (1) kawasan hutan dinyatakan sebagai bagian dari tanah negara (staat landsdomein) dan akan dikelola untuk kepentingan negara; serta (2) diberlakukannya pembatasan-pembatasan bagi masyarakat yang tinggal di dalam atau di sekitar hutan untuk mengakses hasil hutan, khususnya kayu. Masyarakat hanya diperbolehkan memungut kayu-kayu patahan atau hasil-hasil hutan non kayu. Gubernur Jenderal menetapkan peraturan tentang penguasaan dan pengelolaan hutan oleh Jawatan Kehutanan (Dienst van het Boschwezen) dan dalam peraturan ini disebutkan bahwa pemungutan hasil hutan harus dilakukan sendiri oleh Boschwezen, dan perdagangan kayu oleh swasta (partikelir) dilarangnya. Tonggak monumental yang juga sangat penting pada masa kolonial ini, adalah terbitnya Agrarische Wet 1870 (Staatsblad 1870 No. 55) dan Agrarische Besluit 1870 (Staatsblad 1870 No. 118), di mana di dalamnya terdapat prinsip domein verklaring yang menyatakan bahwa: (1) memberikan legitimasi kepada negara sebagai penguasa tanah-tanah yang tidak digarap (woeste gronden); (2) memberi dasar kewenangan kepada negara untuk memberikan tanah-tanah tersebut pada pengusaha perkebunan dalam bentuk erfpacht (hak guna usaha) berjangka 75 tahun. Kemudian, Algemene Domeinverklaring (Staatsblad 1875 No. 119A) yang menyatakan bahwa: Tanah-tanah yang tak dapat dibuktikan adanya hak eigendom (eigendomsrecht) adalah di bawah kuasa (domein) negara. Pada awal abad ke-20, terbit Staatsblad 1911 No. 110, Staatsblad 1927 No. 227 dan Staatsblad 1940 No. 430 yang menyatakan bahwa tanah hutan dikuasai oleh instansi kehutanan negara (di Jawa dikuasai oleh Djatibedriff dan Dienst van het Wildhoutboschwezen). Masa Orde Lama/Baru PP No 8/1953, tentang Penguasaan Tanah-tanah Negara, Pasal 2. Kecuali jika penguasaan atas tanah Negara dengan undang-undang atau peraturan lain pada waktu berlakunya Peraturan Pemerintah ini, telah diserahkan kepada sesuatu Kementerian, Jawatan atau Daerah Swatantra, maka penguasaan atas tanah Negara ada pada Menteri Dalam Negeri. UU No. 5/1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria Pasal 2 ayat (1) menyatakan bahwa: Atas dasar ketentuan dalam pasal 33 ayat (3) Undang-undang Dasar dan hal-hal sebagai yang dimaksud dalam pasal 1, bumi, air dan ruang angkasa, termasuk kekayaan alam yang terkandung didalamnya itu pada tingkatan tertinggi dikuasai oleh Negara, sebagai organisasi kekuasaan seluruh rakyat. Hak menguasai

54

oleh Negara tersebut memberikan wewenang kemudian untuk: (a) mengatur dan menyelenggarakan peruntukan, penggunaan, persediaan dan pemeliharaan bumi, air dan ruang angkasa tersebut; b. menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dengan bumi, air dan ruang angkasa; c. menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dan perbuatan-perbuatan hukum yang mengenai bumi, air dan ruang angkasa [Pasal 2 ayat (2)]. UU No. 5/1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan mengkonstruksikan perihal hutan sebagai: suatu lapangan bertumbuhan pohon-pohonan yang secara keseluruhan merupakan persekutuan hidup alam hayati beserta alam lingkungannya dan yang ditetapkan oleh Pemerintah sebagai hutan. (Pasal 1 Butir 1). Kemudian dalam Pasal 5 ayat (1) dinyatakan: Semua hutan dalam wilayah Republik Indonesia termasuk kekayaan alam yang terkandung di dalamnya, dikuasai oleh Negara. Konsekuensi daripada klaim dikuasai oleh negara, memberi wewenang untuk: (a) Menetapkan dan mengatur perencanaan, peruntukkan, penyediaan dan penggunaan hutan sesuai dengan fungsinya dalam memberikan manfaat kepada rakyat dan Negara. (b) Mengatur pengurusan hutan dalam arti yang luas. (c) Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang atau badan hukum dengan hutan dan mengatur perbuatan-perbuatan hukum mengenai hutan [Pasal 5 ayat (2)]. Pasca Reformasi Pasca tersungkurnya rejim Orde Baru, sektor kehutanan termasuk wilayah yang juga kencang diterpa tekanan angin perubahan. Penyikapan (respon) atas desakan tersebut melahirkan UU No. 41/1999 tentang Kehutanan yang mencabut dan menggantikan UU No. 5/1967. Hanya saja, nuansa perubahan mendasar atas kebijakan kehutanan oleh UU 41/1999 tidaklah seperti yang diharapkan. Pasal 4 ayat (1) menyatakan: Semua hutan di dalam wilayah Republik Indonesia termasuk kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. konsekuensi dikuasai negara dalam ayat (1) tersebut memberi wewenang kepada pem