cover epilepsi

Download Cover Epilepsi

Post on 25-Jul-2015

349 views

Category:

Documents

4 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

REFERAT

EPILEPSI

Disusun oleh: Halimanda Denta Putra, S.Ked Windy Tiandini, S.Ked 2007.04.0.0059

2007.04.0.0072

RSU HAJIFAKULTAS KEDOKTERAN UMUM HANG TUAH SURABAYA 2012

LEMBAR PENGESAHANREFERAT EPILEPSI

Referat yang berjudul Epilepsi telah diperiksa dan disetujui sebagai salah satu tugas dalam rangka menyelesaikan studi kepanitraan Dokter Muda di bagian Ilmu Saraf. Referat ini dipresentasikan pada tanggal 1 Februari 2012.

Mengetahui, Pembimbiing

Dr. Neimy Novitasari, Sp.S

BAB I PENDAHULUAN

Kata epilepsi berasal dari kata Yunani epilambanein yang berarti serangan dan menunjukkan, bahwa sesuatu dari luar badan seseorang menimpanya, sehingga ia jatuh. Epilepsi tidak dianggap sebagai suatu penyakit, akan tetapi sebabnya diduga sesuatu di luar badan penderita, biasanya dianggap sebagai kutukan roh jahat atau akibat kekuatan gaib yang menimpa seseorang. Anggapan demikian masih terdapat pada sampai saat ini, terutama di kalangan masyarakat yang belum terjangkau oleh ilmu kedokteran dan pelayanan kesehatan. Epilepsi sudah dikenal sekitar 2000 tahun sebelum Masehi di daratan Cina, namun Hipocrates-lah orang pertama yang mengenal epilepsi sebagai gejala penyakit. Ia menduga, bahwa serangan epilepsi adalah akibat suatu penyakit otak yang disebabkan oleh keadaan yang dapat dipahami dan bukan akibat kekuatan gaib. Penelitian-penelitian di seluruh dunia mengenai berbagai aspek, termasuk dasar neurokimia dan neurofisiologi serangan epilepsi,

gambaran klinik, diagnosis, pengobatan, aspek-aspek psikososial dan lain-lain, telah banyak member sumbangan dalam meningkatkan

pengertian tentang epilepsi dan penanggulangannya. Meskipun demikian, baik pada Negara-negara maju, penanggulangan masalah epilepsi masih belum memuaskan. Sebab utama adalah kurangnya pengertian tentang epilepsi di kalangan masyarakat awam, pemerintah maupun kelangan profesi. Selain itu, anggapan bahwa penyandang epilepsi hanya dapat ditangani oleh seorang spesialis, menyebabkan dokter umum kurang berminat untuk mengetahui lebih banyak tentang masalah epilepsi.

BAB II EPILEPSI

2.1 Pengertian WHO menyatakan epilepsi adalah kelainan kronis otak karena berbagai macam penyebab yang ditandai oleh serangan/ bangkitan (seizures) yang berulang-ulang (recurrent) akibat lepasnya muatan listrik yang berlebih dari neuron-neuron di otak. (Ginsberg L, 2007). Bangkitan epilepsi (epileptic seizure) merupakan manifestasi klinik dari bangkitan serupa (stereotipik) yang berlangsung secara mendadak dan sementara dengan atau tanpa perubahan kesadaran, disebabkan oleh hiperaktivitas listrik sekelompok sel saraf di otak, bukan disebabkan oleh suatu penyakit otak akut (unprovoked). Epilepsy refrakter terhadap obat anti epilepsy adalah tetap adanya bangkitan epilepsy meskipun telah memakai obat anti epilepsy meskipun telah memakai OAE monoterapi optimal dengan 2 OAE lini pertama bergantian atau OAE kombinasi. Selanjutnya yang dimaksud dengan status epileptikus adalah suatu keadaan di mana terjadi kejang berulang ulang dan di antara dua serangan penderita tetap tidak sadar atau lebih dari 5 menit. Serial epilepsy adalah adanya fase sadar diantara dua fase kejang. Sindrom epilepsy adalah sekumpulan gejala dan tanda klinis epilepsy yang terjadi bersama-sama meliputi berbagai etiologi, umur, awitan (onset), jenis serangan, factor pencetus dan kronisitas.

2.2 Epidemiologi Hingga 1% dari populasi umum menderita epilepsi aktif, dengan 20-50 pasien baru yang terdiagnosis per 100.000 per tahunnya. Angka kejadian tertinggi terjadi pada usia muda, terutama pada dekade ke-2. Angka kejadian epilepsi merosot drastis setelah

melewati usia 30 tahun dan mulai menanjak lagi hingga mencapai puncak tertinggi ke-2 pada usia tua. Epilepsi juga sering berkembang pada negara bekembang daripada negara maju, karena negara berkembang memiliki tingkat kecukupan gizi, kebersihan lingkungan yang kurang, dan masih tingginya kasus-kasus infeksi. Perkiraan angka kematian pertahun akibat epilepsi adalah 2 per 100.000. Kematian dapat berhubungan langsung dengan kejang, misalnya ketika terjadi serangkaian kejang yang tidak terkontrol, dan di antara serangan tersebeut pasien tidak sadar (status epileptikus), atau jika terjadi cedera akibat kecelakaan atau trauma. Fenomena kematian mendadak yang terjadi pada penderita epilepsi (sudden unexplained death in epilepsi SUDEP) diasumsikan berhubungan dengan aktivitas kejang dan kemungkinan besar karena disfungsi kardiorespirasi. (PDSSI, 1996)

2.3 Etiologi Secara umum dapat dikatakan bahwa serangan epilepsi dapat timbul jika terjadinya pelepasan aktivitas energi yang berlebihan dan mendadak dalam otak, sehingga menyebabkan terganggunya fungsi otak. Ditinjau dari penyebab epilepsi dapat dibagi menjadi 2 golongan, yaitu epilepsi idiopatik (tidak ditemukan penyebabnya) dan epilepsi sekunder ( epilepsi yang penyebabnya diketahui). Pada epilepsi primer, tidak ditemukan kelainan pada jaringan otak. Diduga bahwa terdapat kelainan atau gangguan keseimbangan zat kimiawi dalam sel-sel saraf pada area jaringan otak yang abnormal. Gangguan keseimbangan kimiawi ini dapat menimbulkan cetusan listrik yang abnormal, tetapi mengapa tepatnya dapat terjadi suatu kelainan kimiawi yang hanya terjadi sewaktu-waktu dan menyerang orang-orang tertentu belum diketahui. Epilepsi sekunder berarti bahwa gejala yang timbul ialah sekunder atau akibat dari adanya kelainan pada jaringan otak.

Menurut Ginsberg L (2007), penyebab spesifik dari epilepsi antara lain: Kelainan yang terjadi selama perkembangan janin/ kehamilan ibu, seperti ibu mengalami infeksi, minum alcohol atau terjadi trauma. Kelainan yang terjadi selama proses kelahiran, seperti kurang oksigen yang mengalir ke otak (hipoksia), kerusakan karena tindakan (forsep) atau trauma lain pada otak bayi Cedera kepala yang dapat menyebabkan kerusakan pada otak. Tumor otak. Akan tetapi masih merupakan penyebab tidak umum pada epilepsi dan biasanya menyerang anak-anak. Penyumbatan pembuluh darah otak atau kelainan pembuluh darah otak. Radang atau infeksi. Misalnya radang selaput otak (meningitis) Penyakit keturunan seperti fenilketonuria, sklerosis tuberosa, dan neurofibromatosis dapat menimbulkan kejang berulang. Kecenderungan timbulnya epilepsi yang diturunkan. Hal ini disebabkan karena ambang rangsang serangan yang lebih rendah dari normalnya yang diturunkan pada anak. Bila salah satu orang tua atau saudara kandung menyandang epilepsi, maka

kesempatan mendapat epilepsi pada anak adalah 5%, tetapi bila kedua orang tua menyandang epilepsi, maka kesempatan anak dengan epilepsi adalah 10%.

Adapun menurut beberapa teori, terjadinya epilepsy dapat disebabkan: Berubahnya keseimbangan neurotransmitter Neurotransmitter eksitasi di SSP umumnya diwakili oleh asam amino Glutamat dan sebagian kecil oleh Aspartat. Sedangkan untuk pengendalian fungsi hambat/pengereman

diserahkan pada GABA (Gamma Amino Butiric Acid). Pada orang normal fungsi eksitasi dan inhibisi berada dalam keadaan yang seimbang. Namun pada epilepsy diduga terjadi pergeseran

keseimbangan ini sehingga fungsi ektasi menjadi berlebihan, atau sebaliknya terjadi penurunan fungsi inhibisi. Perubahan homeostatic ionic Menurunnya kemampuan untuk mengatur secara ketat milieu ion ekstra seluler. Secara teoritis diduga menjadi penyebab terjadinya seizure. Calcium dan Kalium banyak berperan disini. Namun chloride, Magnesium dan terkadang Zinc juga punya peranan. Ion-ion ini terlibat dalam stabilisasi potensial membran neuron, mengatur pelepasan neurotransmiiter dan memodulasi respon dari reseptor neurotransmitter. Penyusunan kembali sirkuat neuronal Pemutusan perjalanan neuron oleh sebab apapun dapat mengakibatkan terjadinya perubahan hubungan antar neuron yang dikenal sebagai Synaptic Rearrangement. Kemampuan untuk menyusun kembali hubungan antar neuron (synaps) ini adalah normal untuk otak yang sehat, yang juga terjadi sebagai sebagai reaksi terhadapnya adanya jejas (injury). Penyusunan kembali ini alamiahnya terjadi secara acak, sehingga lesi yang identik sekalipun tidak selalu mengakibatkan terjadinya epilepsy, tergantung keseimbanan komposisi antara synaps yang bersifat inhibisi dan eksitasi. Epilepsy timbul bila synaps yang bersifat inhibisi berkurang atau synaps yang bersifat eksitasi tumbuh berlebihan.

2.4 Patofisiologi Otak terdiri dari sekian biliun sel neuron yang satu dengan lainnya saling berhubungan. Hubungan antar neuron tersebut terjalin melalui impuls listrik dengan bahan perantara kimiawi yang dikenal sebagai neurotransmiter. Dalam keadaan normal, lalu-lintas impuls antar neuron berlangsung dengan baik dan lancar. Apabila mekanisme yang mengatur lalu-lintas antar neuron menjadi kacau dikarenakan breaking

system pada otak terganggu maka neuron-neuron akan bereaksi secara abnormal. Neurotransmiter yang berperan dalam mekanisme pengaturan ini adalah: - Glutamat, yang merupakan brains excitatory neurotransmitter - GABA (Gamma Aminobutyric Acid), yang bersifat sebagai brains inhibitory neurotransmitter. Golongan neurotransmiter lain yang bersifat eksitatorik adalah aspartat dan asetil kolin, sedangkan yang bersifat inhibitorik lainnya adalah noradrenalin, dopamine, serotonin (5-HT) dan peptida. Neurotransmiter ini hubungannya dengan epilepsy belum jelas dan masih perlu penelitian lebih lanjut. Epileptic seizure apapun jenisnya selalu disebabkan oleh transmisi impuls di area otak yang tidak mengikuti pola yang normal, sehingga terjadilah apa yang disebut sinkronisasi dari impuls. Sinkronisasi ini dapat mengenai pada sekelompok kecil neuron atau kelompok neuron yang lebih besar atau bahkan meliputi seluruh neuron di otak secara serentak. Lokasi yang berbeda dari kelompok neuron yang ikut terkena dalam proses sinkronisasi inilah yang secara klinik menimbulkan manifestasi yang berbeda dari jenis-jenis s