contoh-proposal ekskursi 2009 upn yogya

Download Contoh-Proposal Ekskursi 2009 UPN Yogya

Post on 27-Dec-2015

55 views

Category:

Documents

2 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

contoh contoh proposal

TRANSCRIPT

PROPOSAL EKSKURSI

PROGRAM PASCASARJANA

MAGISTER TEKNIK GEOLOGI

UPN VETERAN YOGYAKARTA

2009EKSKURSI GEOLOGI

PROGRAM PASCASARJANA

PROGRAM STUDI MAGISTER TEKNIK GEOLOGI

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN YOGYAKARTA

2009

Perkembangan unsur-unsur tektonik di Pulau Jawa merupakan perwujudan dan produk dari interaksi konvergen antara Lempeng Hindia Australia dan Lempeng Asia / Eurasia (Hamilton 1975, Lowell 1979, Katili dan Reinemund 1984). Interaksi tersebut menyebabkan proses magmatisme vulkanisme di Jawa Tengah dan Jawa Barat dari Kala Eosen hingga saat ini.

Fenomena-fenomena geologi di sepanjang Lintasan Studi Ekskursi Geologi Daerah Jawa Tengah dan Jawa Barat, mulai dari Zona pegunungan Serayu Selatan hingga Zona Bogor akan membawa pemahaman mengenai proses-proses masa lalu tentang keberadaan dan perkembangan Pulau Jawa sebagai busur kepulauan dengan unsur-unsur tektonik, pola sebaran sedimentasi, pola afinitas batuan vulkanik dan lainnya. Dengan mempelajari geologi di sepanjang jalur Karangsambung, Pongkor dan Kamojang, diharapkan akan didapat gambaran model struktur geologi yang mempengaruhi proses mineralisasi dan geothermal serta pemanfaatan sumber daya alam sebagai sumber energi alternatif pengganti minyak dan gas bumi ataupun sebagai kawasan geowisata.

1. NAMA

Ekskursi Hubungan Tektonik dengan Mineralisasi dan Pembentukan Panas Bumi Daerah Jawa Tengah dan Jawa Barat, Indonesia, Program Pascasarjana, Magister Teknik Geologi, Universitas Pembangunan Nasional Veteran, Yogyakarta, 2009.2. MAKSUD, TUJUAN DAN SASARAN

Maksud Ekskursi Geologi adalah untuk memenuhi kurikulum Program Pascasarjana, Program Studi Magister Teknik Geologi, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta tahun ajaran 2008 / 2009.

Tujuan Ekskursi Geologi adalah untuk memperdalam pengetahuan geologi secara langsung di lapangan, sehingga mahasiswa dapat menganalisa dan menghubungkan aspek-aspek geologi daerah satu dengan lainnya.

Tujuan tersebut akan dapat dicapai dengan beberapa sasaran utama berupa :

Fisiografi, diharapkan mahasiswa mampu mendeskripsi kenampakan fisiografi mulai dari Zona Pegunungan Serayu Selatan hingga Zona Bogor. Sedimentasi dan Stratigrafi, ditargetkan mahasiswa mampu mendeskripsi lithologi (struktur, tekstur, komposisi), pola pengendapan dan mekanisme sedimentasi (progradasi, agradasi, retrogradasi, turbidit, traksi dll) serta menganalisa faktor pengontrol proses sedimentasi dan stratigrafinya.

Magmatisme dan Vulkanisme, diharapkan mahasiswa mampu mendeskripsikan lithologi (tekstur, struktur, komposisi dan jenis), genetik (plutonik, vulkanik, intrusi, ekstrusi, dll) serta proses dan fase-fase magmatisme-vulkanisme yang berhubungan dengan terjadinya hidrothermal serta alterasi dan mineralisasi. Geothermal, diharapkan mahasiswa mampu mengenali manisfestasi dari panas bumi yang terdapat di lapangan seperti fenomena fumarola, solfatara, boiling water, silica sinter, dan sebagainya, demikian pula diharapkan mahasiswa juga mampu memahami kegunaan geothermal sebagai energi terbarukan dan ramah lingkungan. Tatanan Tektonik, diharapkan mahasiswa mampu menjelaskan makna kerangka tektonik Pulau Jawa serta proses-proses geologi yang bekerja di sepanjang lintasan yang dilewati.

Potensi Sumber Daya Alam, berupa mineral, panas bumi, geowisata, dll dengan kendali geologi yang mempengaruhinya.3. PESERTA

Mahasiswa Angkatan X dan XI, Magister Teknik Geologi, Universitas Pembangunan Nasional Veteran, Yogyakarta sebanyak 21 orang.4. PEMBIMBING

Dosen Magister Teknologi Mineral, Universitas Pembangunan Nasional Veteran, Yogyakarta sebanyak 2 orang.

5. WAKTU & TEMPAT

Waktu

: 19 22 Juli 2009

Tempat: Jawa Barat, Indonesia6. STOP SITE YANG AKAN DI TUJU Subduction Zone (Karangsambung)

Gambar 1. Zona Fisiografi Pegunungan Serayu Selatan di Daerah Kompleks Luk Ulo dan sekitarnya (sumber google earth 2006)Van Bemmelen (1949) membagi daerah propinsi Jawa Tengah menjadi 7 (tujuh) zona. Umumnya zona ini sangat berhubungan erat dengan kedudukan batuan dasar, struktur dan keadaan topografinya. Zona tersebut antara lain : Zona Endapan Vulkanik Kwarter, Zona Aluvial Pantai Utara, Jalur Rembang-Madura, Jalur Bogor, Serayu Utara dan Kendeng, Dome dan Pegunungan di Zona Depresi, Zona Depresi Jawa Bagian Tengah dan Zona Randu Blatung serta Zona Pegunungan Selatan. Karangsambung terletak pada fisiografi pegunungan Serayu Selatan.

Gambar 2. Ekspresi Morfologi Batuan Pre-Tersier dan Tersier

Panorama dari Totogan ke arah timur, merupakan pemandangan yang sangat kontras. Bagian utara merupakan perbukitan yang ditempati kompleks mlange Pre-Tersier, dicirikan perbukitan berelief kasar, tidak beraturan yang menunjukkan perbedaan jenis batuan serta tingkat resistensi (Gunung Gliwang = Sekis pelitik dan mafik; Gunung Gemantung = meta greywacke; Gunung Celekep = serpentinit dan amfibolit; Gunung Paruk = basalt, sedimen pelagik dan rijang). Bukit-bukit tersebut merupakan bongkah atau boudin di dalam kompleks mlange. Bagian tengah yang merupakan lembah ditempati oleh Formasi Totogan (clay breccia/breksi lempung). Bagian selatan, berupa dua pegunungan memanjang terdiri dari sill basalt (depan) dan punggungan homoklin (belakang) adalah Formasi Waturanda yang disusun oleh batuan volkaniklastik (perlapisan breksi dan batupasir volkanik). Sill basalt bersama dengan lava bantal dan batuan piroklastik di daerah ini disebut batuan volkanik Dakah (Suyatno, 1999).

Daerah Karangsambung merupakan bagian dari Daerah Luh-Ulo (Jawa Tengah) yakni tempat di mana batuan Pra-Tersier tersingkap dengan tatanan dan struktur geologi yang rumit serta urut-urutan stratigrafi yang sulit untuk ditata

Gambar 3. Singkapan Lava Basalt dengan kekar-kekar kolomnyaKawasan ini termasuk Dome and Ridges in The Central Depresion Zone (Van Bemmelen, 1969) yang berada pada subduction zone dan umum dijumpai tectonic melange dan sedimentary melange (olisostrom) dengan batuan yang berasal dari kerak samudra seperti lava basalt dengan struktur pillow lava, rijang berselingan dengan batulempung merah dan batugamping non klastik dan terselipkan marmer, sekis hijau, fillit dan serpentinit. Batuan-batuan tersebut diolah untuk dijadikan hiasan kerajinan, onyx dan lainnya. Kamojang

Geologi lapangan menurut Robert (1988) menyebutkan, bahwa lapangan panasbumi Kamojang terletak dalam suatu rangkaian gunungapi yang besar dengan wilayah seluas 210 km2 dengan panjang 15 km dan lebar 14,5 km.

Gambar 4. Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP) KamojangDaerah tersebut dibatasi oleh Gunung Rakutak yang terletak di sebelah barat dan Gunung Guntur di sebelah timur. Sejarah eksploitasi lapangan panasbumi kamojang dimulai dengan pengeboran 5 buah sumur pada tahun (1926 1928 ) oleh pemerintah Belanda di kedalaman antara ( 66 125 )m. Di Kamojang pada tahun 1971 diadakan studi kelayakan oleh New Zealand Geothermal Project (GENZ) dan Geological Survey Indonesia tentang potensi energi Panasbumi Indonesia dan hasil penyelidikan menunjukkan, bahwa daerah Kamojang memiliki potensi listrik 200 MW untuk selama 30 tahun. Terhitung saat ini di lapangan panasbumi Kamojang memiliki 72 sumur dan menghasilkan listrik 140 MWe.

Gambar 5. Sumur Produksi KMJ-51

Daerah Kamojang tersusun oleh endapan vulkanik dengan komposisi batuannya dari andesit hingga basalt.

Pongkor

Berdasarkan tatanan tektonika, daerah mineralisasi Au-Ag Gunung Pongkor terletak di Busur Sunda dan berumur Tersier Akhir. Secara fisiografi Jawa Barat, daerah tersebut berada di batas antara Zona Bogor dan kompleks gunung api Kuarter. Mineralisasi emas di daerah Pongkor ini terkait erat dengan aktivitas gunung api yang berfungsi sebagai sumber panas sekaligus memancarkan gas asam disertai dengan unsur logam. Mineralisasi pada batuan gunungapi perlu dikenali posisinya terhadap fasies gunungapi, apakah berada di daerah sentral, proksimal, medial atau distal. Fasies gunung api dapat diidentifikasi berdasar pada penelitian geomorfologi dan stratigrafi. Penelitian geomorfologi didasarkan pada analisis peta rupa bumi dan citra satelit, sebelum dilaksanakan pengamatan langsung di lapangan.

Gambar 6. Lokasi Penambangan Pongkor

Asosiasi batuan di dalam stratigrafi akan memperkuat penentuan fasies gunung api. Sebagai tempat kedudukan mineralisasi, batuan induk yang berupa batuan gunung api terdiri atas tuf, tuf lapili, breksi, lava dan intrusi dangkal. Berdasarkan penelitian geomorfologi dan stratigrafi batuan yang ada daerah mineralisasi Gunung Pongkor diinterpretasikan sebagai fasies sentral gunung api purba yang sudah mengalami erosi. Bandung

Secara geologi, Cekungan Bandung dan sekitarnya tersusun oleh batuan gunung api, sehingga sumber daya geologinya yang berupa energi, lingkungan, dan mineral juga berasal dari kegiatan gunung api. Sumber daya energi yang sudah dimanfaatkan dan melewati tahap eksplorasi adalah energi air (PLTA Saguling) dan panas bumi (Lapangan Darajat, Kamojang, Wayang-Windu, dan Patuha). Berhubung secara stratigrafi di bawah batuan gunung api terdapat batuan sedimen, maka potensi sumber daya energi asal fosil patut pula dipertimbangkan. Sumber daya lingkungan, mulai dari air, tanah, lahan, dan keindahan alam sebagian besar sudah dipergunakan untuk sarana pemukiman, pariwisata, industri, dan kebutuhan hidup lainnya. Sumber daya mineral terdiri dari logam dan non logam.

Fisiografi

Secara fisik, bentang alam wilayah Bandung dan sekitarnya yang termasuk ke dalam Cekungan Bandung, merupakan cekungan berbentuk lonjong (elips) memanjang berarah timur tenggara barat barat laut. Cekungan Bandung ini dimulai dari daerah Nagreg di sebelah timur sampai ke Padalarang di sebelah barat dengan jarak horizontal lebi