community based early warning system guideline

Download Community Based Early Warning System Guideline

Post on 19-Jan-2015

1.292 views

Category:

Education

3 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

 

TRANSCRIPT

  • 1. PANDUAN SISTEM PERINGATAN DINI BERBASIS MASYARAKAT

2. PANDUAN SISTEM PERINGATAN DINI BERBASIS MASYARAKAT Tim Penyusun 1.Abidin (PMI Kab. Bogor)14.Dwi Handoko (PMI Provinsi Jawa Tengah)2.Achmad Djaelani (PMI Pusat)15.Irvan Perdana (PMI Provinsi Lampung)3.Akbar Eka Prasetya (PMI Pusat)16.Lala Jalaluddin (PMI Kab. Bandung)4.Ari Andriyanto (PMI Provinsi DKI Jakarta)17.Librianus Lake (PMI Pusat)5.Arifin Muh. Hadi (PMI Pusat)18.Lukman Dahlan (PMI Provinsi Sulawesi Barat)6.Bevita Dwi M. (PMI Pusat)19.Marbon Sani (PMI Kota Jakarta Barat)7.Budi Suharjo (PMI Provinsi Bali)20.Nuzlan Huda (PMI Provinsi Sumatera Barat)8.Deasy Sujatiningrani (PMI Pusat)21.Rano Sumarno (PMI Kota Jakarta Barat)9.Deni Kurnia Rahman (PMI Kab. Sarolangun)22.Ridha Warsa (PMI Kab. Pasaman Barat)10.Dewa Ayu Sri Cahyaningsih (PMI Kab. Gianyar)23.Ridwan (PMI Pusat)11.Dewa Gede Rika Priantana (PMI Provinsi Bali)24.Sumiyanto (PMI Provinsi Lampung)12.Dr. Jumatil Fajar (PMI Kab. Kapuas)25.Teguh Wibowo (PMI Pusat)13.Drs. Imam Santoso (PMI Kab. Kudus)26.Thamalia Haristiani (PMI Kab. Tegal)Design Sampul, Illustrasi & Tata Letak eLBe Creative (khonkkhonk@gmail.com) Penyusunan Didukung oleh: Palang Merah Amerika Palang Merah Denmark Palang Merah Kanada Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) Penerbit:Dicetak atas dukungan:Copyright @2013 Cetakan Pertama, November 2013 ISBN : 978-979-3575-74-2 3. KATA PENGANTARPeringatan dini sebagai salah satu komponen penting dalam penanggulangan bencana dilakukan untuk mempersiapkan tindakan tanggap darurat, melakukan penyelamatan serta menghindari korban jiwa. Agar dapat berjalan efektif sistem peringatan dini harus dikelola secara terpadu dan menyeluruh, serta melibatkan masyarakat secara aktif dan para pemangku kepentingan terkait. Sesuai dengan mandatnya dalam membantu pemerintah, PMI memiliki potensi untuk mendukung penguatan sistem peringatan dini di masyarakat. Dalam pengelolaan sistem peringatan dini, PMI memiliki peran dan tanggung jawab untuk mengumpulkan informasi peringatan dini, melakukan analisis, menyebarluaskan informasi peringatan dini kepada pihak terkait khususnya kepada masyarakat rentan serta mendukung masyarakat dalam mempersiapkan diri mengantisipasi risiko bencana dan melakukan upaya-upaya pencegahan, kesiapsiagaan dan penyelamatan. Dalam praktiknya, sistem peringatan dini harus dilihat sebagai sebuah sistem bukan hanya sebagai kegiatan-kegiatan untuk mengumpulkan informasi. Sistem peringatan dini harus dilihat sebagai bagian dari pengurangan risiko bencana serta meningkatkan upaya-upaya kesiapsiagaan dalam merespon bencana. Dengan menggunakan pendekatan People Centred Early Warning System (sistem peringatan dini berpusat pada manusia), diharapkan masyarakat terlibat aktif dalam melakukan analisis risiko bencana, memantau tingkat ancaman bencana dan layanan peringatan dini, menyebarluaskan serta mengkomunikasikan peringatan dini, serta membangun kapasitasnya dalam melakukan aksi dini. Melalui pendekatan ini diharapkan sistem peringatan dini dapat dibuat lebih fleksibel dan adaptif sesuai dengan kapasitas lokal serta berkelanjutan di masyarakat. i 4. Panduan ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi PMI maupun masyarakat untuk membangun sistem peringatan dini berbasis masyarakat. Penyusunan Buku Panduan ini dilakukan melalui serangkaian lokakarya yang diikuti oleh praktisi Pengurangan Risiko Bencana, Tanggap Darurat Bencana, Kesiapsiagaan Bencana di lingkungan PMI. Dalam kesempatan ini, atas nama pengurus Pusat PMI mengucapkan penghargaan dan terima kasih yang sebesar-besarnya atas dukungan, ide serta saran dari berbagai pihak yang berkontribusi terhadap pengembangan Buku Panduan ini.Jakarta, November 2013 Pengurus Pusat PALANG MERAH INDONESIA Ketua Bidang Penanggulangan BencanaSumarsonoii 5. DAFTAR ISI Kata Pengantar ................................................................................ Daftar Isi ....................................................................................... Daftar Istilah ...................................................................................i iii ivBAB 1. PENDAHULUAN Latar Belakang ................................................................................ Tujuan .......................................................................................... Dasar Pelaksanaan ............................................................................ Pengertian .....................................................................................2 3 4 4BAB 2. BENCANA, PERUBAHAN IKLIM DAN SISTEM PERINGATAN DINI Bencana ........................................................................................ Perubahan Iklim ............................................................................... Sistem Peringatan Dini ....................................................................... Pentingnya Peringatan Dini dalam Pengurangan Risiko Bencana ......................8 9 11 15BAB 3. SISTEM PERINGATAN DINI DI MASYARAKAT Masyarakat yang Aman dan Tangguh ........................................................ Sistem Peringatan Dini di Tingkat Nasional ................................................ Dukungan Kebijakan Daerah untuk Kesiapsiagaan dan Tanggap Darurat Bencana .................................................................... Peran PMI dalam Sistem Peringatan Dini ................................................... Peran Pemangku Kepentingan dalam Pengembangan Sistem Peringatan Dini di Masyarakat ....................................................... Langkah-Langkah dalam Membangun Sistem Peringatan Dini di Masyarakat .............................................................................21 26 27 28 30 31BAB 4. PENGELOLAAN SISTEM PERINGATAN DINI Persiapan ....................................................................................... Analisa .......................................................................................... Pengembangan dan Pelaksanaan ............................................................ Mekanisme Peninjauan Kembali dan Pemutakhiran ......................................36 39 52 60Lampiran .......................................................................................64Daftar Pustaka .................................................................................93iii 6. DAFTAR ISTILAH BMKG BNPB BPBD BPPTK Kemen PU Kemen Hut Kemen Kes KIE KLB KRB Linmas MMI PKK PB PMI Posko Posyandu PP PVMBG SK SMS SOP VCA VSI: Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika : Badan Nasional Penanggulangan Bencana : Badan Penanggulangan Bencana Daerah : Badan Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian : Kementrian Pekerjaan Umum : Kementrian Kehutanan : Kementrian Kesehatan : Komunikasi Informasi Edukasi : Kejadian Luar Biasa : Kawasan Rawan Bencana : Perlindungan Massa : Modified Mercally Intensity : Pembinaan Kesejahteraan Keluarga : Penanggulangan Bencana : Palang Merah Indonesia : Pos Komando : Pos Pelayanan Terpadu : Peraturan Pemerintah : Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi : Surat Keputusan : Short Messaging System : Standard Operating Procedure : Vulnerability and Capacity Assessment (Asesmen Kerentanan dan Kapasitas) : Volcanology Survey Indonesiaiv 7. BAB IPENDAHULUAN 8. PENDAHULUANPENDAHULUAN 1. Latar Belakang. Indonesia merupakan salah satu negara yang paling rawan bencana di dunia. Wilayah Indonesia tepat berada pada cincin api (ring of fire) yakni pertemuan tiga lempeng tektonik besar yaitu Indo-Australia, Eurasia dan Pasific. Tabrakan antar lempeng tektonik tersebut membentuk jalur gempa dengan ribuan titik pusat gempa yang menjadikan Indonesia sangat rawan gempa bumi. Wilayah Indonesia memiliki sabuk vulkanik sepanjang 7.000 km dari Pulau Sumatra, Jawa, Bali, NTB, serta NTT. Terdiri dari 129 gunung berapi aktif (70 di antaranya sangat aktif) serta 500 gunung tidak aktif. Gunung berapi aktif di Indonesia merupakan 13 % dari seluruh gunung berapi aktif di dunia. Selain itu, wilayah pantai Indonesia sepanjang 81.000 km dengan pemukiman padat merupakan wilayah dengan kerentanan dan berisiko terhadap bencana tsunami dan gelombang pasang. Seiring dengan terjadinya pemanasan global akibat degradasi ozon, juga telah memicu terjadinya perubahan iklim yang berdampak adanya gangguan sistem iklim yang sifatnya irreversible. Perubahan iklim ini menyebabkan naiknya suhu permukaan bumi, meningkatnya penguapan di udara, berubahnya pola musim serta mempengaruhi parameter-parameter iklim. Dampak langsung yang bisa dirasakan di Indonesia adalah meningkatnya temperatur antara 0,1C/ dekade hingga 0,3C/ dekade. Perubahan iklim juga menyebabkan peningkatan kejadian bencana seperti banjir, kekeringan, wabah penyakit (malaria, demam berdarah, diare, dan lain-lain), tanah longsor, kebakaran hutan dan lahan, badai/ topan. Dampak bencana terkait dengan iklim terhadap manusia selain adanya kehilangan harta dan jiwa, juga terjadinya bencana lanjutan (dampak lebih jauh dari kejadian bencana) seperti perubahan ekosistem dan perubahan keanekaragaman hayati. Masyarakat yang hidup disekitar ancaman bencana terkadang tidak menyadari bahwa ancaman dan tingkat risiko bencana dapat terjadi kapan saja. Di samping itu, kerugian apapun yang ditimbulkan oleh bencana alam selalu mengakibatkan dampak yang berkepanjangan terhadap menurunnya kualitas hidup manusia, khususnya masyarakat yang paling rentan. Realita ini mendorong perlu adanya sistem peringatan dini yang terpadu dengan upaya kesiapsiagaan bencana dan tanggap darurat bencana di masyarakat. Dengan adanya peringatan dini dan prakiraan bencana pada masa pra bencana, masyarakat dapat melakukan aksi dini untuk mendukung upaya-upaya kesiapsiagaan 2Panduan Sistem Peringatan Dini Berbasis Masyarakat 9. PENDAHULUANbencana, mitigasi bencana dan adaptasi perubahan iklim. Agar sistem peringatan dini dapat berjalan secara efektif dibutuhkan partisipasi aktif masyarakat yang berad

Recommended

View more >