Catatan hitam lima presiden indonesia

Download Catatan hitam lima presiden indonesia

Post on 24-Jun-2015

4.467 views

Category:

Documents

4 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

<ul><li> 1. Catatan Hitam Lima Presiden Indonesia Sebuah Investigasi 1997- 2007, Mafia Ekonorni, dan Jalan Baru Mernbangun IndonesiaSehubungan dengan ebook digibook (format "'exe) yang sayadownload dad www.4shared.com rawan dihinggapi I dianggap virus oleh sebagian anti virus, maka saya ubah ebook ini menjadi format "'djvu. Perubahan format dilakukan semata-mata untuk kepentingan koleksi pribadi dan bukan untuk tujuan komersial. Semoga bermanfaat untuk kita semua. """"'Mad Berbagi Melalui Ebook"''''''' Jangan Lupa Membeli Buku Aslinya jandoy - 060112949 janinmu@yahoo.com</li></ul><p> 2. Daftar lsi CATATAN HIrAM liMA PRESIDEN INDON ESIA: Sebuah Investigasi 19 97- 2007, Mafia Ekonomi, dan Jalan Baru Membangun Indonesia karya Ishak Rafick Copyright 2007, Ishak RafickHak Cip ta Oilindungi Undang- undang All Rights Reserved Pewajah Sampul : Kas ta Waisya Pewajah lsi : Ufukrea tif House Ce takan I: Januari 2008Pengantar oleh Rizal Ramli . . . 9 Pengantar Penulis . . . 2 1 I. Merintis Jalan Baru Pembangunan Indonesia . . . 271. 2. 3. 4.Yang Tersemat Oi Pundak SBY- JK .. . 27 Oi an tara Korupsi, Kebodohann dan Ke takutan . . . 35 Pilihan- Pilihan yang Tersedia . . . 42 Sebuah Jalan Baru yang Terbuka . . . 60II. Indonesia Batal Tinggal Landas ... 9 1ISBN: 9 79- 1238- 63- 21 . Ca ta tan- Ca ta tan Menjelang Ja tuhnya Orde Baru . . 9 3 2 . Expatria t Memasuki Masa Suram . . . 105 .3 . Antara Perut Perusahaan dan Perut Rakya t ... 1 13 4 . Yang Menolong, Yang Teraniaya . 122 5. Ke tika Kesadaran i tu sampai Ba tasnya . . . 132 . .UFUK PU BliSHING HOUSE PT . Cahaya Insan Suci JI. Warga 23A, Pej a ten Bara t, Pasar Minggu, Jakarta Selatan 125 10, Indonesia Phone: 62- 2 1- 7976587, 79 1 92866 Homepag e : www . ufukpress . com Blog : h ttp://ufukpress .blogspot. com Email : info@ufukpress . com6 . Agenda Reformasi Politik, Menuju Indonesia Baru . . . 143 7. Peris tiwa di Belakang Panggung Reformasi 150 . . .8. GBHN Super dari Bawah Meja IMF . . . 160 A. Kebij aksanaan Moneter . . . 16 1 B . Kebij aksanaan anggaran Pemerintah . . . 162 3. 2. Mereka yang Masuk Daftar . . 374 3. Upaya- upaya Menggugat Pemamah BLB1 . . 378C. Res trukturisasi sektor Finansial . 163 D. Reformasi s truktural . . 166 9. Beberapa Bom Waktu yang Lain . 176 A. Proyek Listrik Swasta . . 176 ........B. Kehadiran Swasta di Sektor Air Bersih . . 186 C . Karamnya BUMN Kertas . . . 192 D. Sumber Dana Murah bernama Dana Reboisasi . . 201 E . Ron toknya 1ndus tri Hilir Berbahan Kayu . . . 2 1 1 F . Masalah- masalah Adminis trasi . . . 2 19 ..ill.Kabinet Transisi Habibie . . . 2371. 2. 3. 4. 5.Pait a Compli, Saat Kaum Reformis Lengah .. 237 Gerakan Reformasi Tambah Joki . . . 240 Mendayung Di Antara Dua Karang . . 247 Upaya Menjinakkan Harga Sembako ... 269 Kabine t 5 12 hari Habibie . . 277 ...6. Reformasi BUMN di bawah Tanri Abeng . . 284 7. Meraj u t Ekonomi Kerakya tan . . . 294 .IV.Pemilu dan Kematian Ideologi ... 3191. Terjebaknya Kaum Reformis . . . 3 1 9 2 . Peserta d a n Para Penyelenggara Pemilu . . 3 3 1 .3 . Perubahan P eta Politik yang Mengecewakan . . . 340 4. Mesin Politik Bernama Golkar . V. Krisis Perbankan . . 363 .1 . B1 dan Para DOT . . 365 .. .349VI. Indonesia di Tangan Kyai Abdurrahman Wahid . . . 39 1 1 . Oba t Mujarab i tu Bernama Abdurrahman Wahid . . . 3922. Mengambil Kembali Kedaul a tan Politik . . 396 3. Tekanan Dunia Luar terhadap Gus Dur . . 409 4. Gus Dur Menuai Badai ... 42 1 ..VII .Indonesia di Tangan Satrio Piningit . . . 4331 . Sebuah Skenario Nista ten tang Masa Depan . . . 435 2. Menuju Liberalisasi Ekonomi tanpa Ba tas . . . 437 3. Menjadi Negara 1ndus tri a tau Pasar ? . . . 453 Sebuah Kasus Menarik Bernama IPTN ... 469Sekilas Tentang Penulis . . . 485 Daftar Pus taka . . . 4 91 4. Pengantar Rizal RamliIshak Rafick adalah seorang jurnalis yang memiliki pengalaman belasan tahun, menulis berbagai artikel ten tang ekonomi politik, korporasi, manajemen dan lain lain. Ishak yang memiliki pendidikan tinggi alumni Universitas Indonesia ini, juga mendapatkan gelar Master of Art dari Rijks Universite i t Leiden Ne therland dengan tesis berjudul Het Beeld van Indonesie in the 20ste eewse koloniale li teratuur" (Wajah Indonesia Dalam Li teratur Kolonial Abad 20) . Ishak juga mengiku ti berbagai jenis training di dalam maupun luar negeri dalam bidang jurnalis tik maupun manajemen seperti Nij enrode Manage ment Insti tu te, Breukelen N e therland . Dengan l a tar belakang pendidikan yang sanga t luas dan m o tivasi yang sanga t kua t, Ishak menulis buku Catatan Hitam Lima Presiden Indonesia. Buku ini merupakan sebuah karya dan pres tasi yang menonjol karena jarang sekali jurnalis Indonesia menulis buku, terutama ten tang topik yang cukup serius. Sebagai seorang jurnalis, style penulisan Ishak sangat mudah dimengerti, enak dibaca walaupun memerlukan w aktu yang cukup panjang untuk dapat memahami garis merah dari buku sang penuli s . Jus tru i tu menjadi daya tarik tersendiri dari buku ini, karena penulis 11 5. tidak ingin menjejalkan kesimpulannya sendiri kepada pembaca . Dia lebih senang memaparkan duduk perkaranya daripada menggurui . Gaya bahasanya bukan 'telling', tapi 'showing'. Dia menantang pikiran, sekaligus menggugah nuranr. Ada kegelisahan yang sang a t mendalam dalam buku Ishak ten tang peranan dan ke tangguhan Negara serta korporasi dalam menghadapi gejolak krisis baik pada tahap awal maupun pasca krisis. Ishak, misalnya, mencoba memetakan dan melakukan analisa mengapa Indonesia gagal tinggal landas s e telah 32 tahun Orde Baru . Berbagai kelemahan s truktural dan penyimpangan priori tas masa Orde Baru dianalisa dengan tajam dan menarik secara jurnalistik. Di tengah pertumbuhan ekonomi yang lumayan, Ishak memaparkan berbagai ke timpangan yang terjadi dan kerawanan di dalam bidang ekonomi maupun sosial. Namun pada akhirnya, Soeharto tidak mampu menahan besarnya tekanan terhadap perubahan dan keinginan untuk demokra tisasi. Ishak j uga melakukan pembedahan yang kritis terha dap masa pemerintahan Habibie . Dalam banyak hal, Habibie berupaya memenuhi tuntu tan reformasi, dengan menyusun Undang- undang Kebebasan Pers, Undang undang Desentralisasi dan Undang- undang Pemilu. Habibie berhasil menegakkan landasan untuk demokra tisasi sebagai respon terhadap tuntu tan mahasiswa dan rakyat sebelum dan saat reformasi i tu terjadi. Di sisi lain Habibie melaksanakan banyak permintaan IMF dalam ben tuk berbagai Le tter of Inte nt teru tama dalam kai tannya dengan rekapi talisasi perbankan, BLBI &amp; MSAA. Ishak juga menjelaskan berbagai perdebatan internal dan diskus publik ten tang arah kebij akan ekonomi dalam masapemerintahan Habibie . Secara panjang lebar Ishak melakukan ana lisa ten tang dinamika poli tik sejak pemilu tahun 1999 - 2004. Secara gamblang Ishak menarik kesimpulan yang sang a t tepat yaitu kem a tian ideologi dalam proses politik di Indo nesia . Sehabis kej a tuhan pemerintahan o toriter Soeharto, ternyata ruang kosong demokra tisasi dengan cepat diisi dan diambil alih oleh oligarki politik dan ekonomi yang tumbuh pada masa Orde Baru . Dengan ka ta lain demokra tisasi Indonesia telah "dibajak" oleh tokoh- tokoh dan kekua tan lama Orde Baru yang telah berhasil melakukan akumulasi finansial maupun jaringan selama 32 tahun Orde Baru . Tidak aneh bahwa transisi dari sistem o tori ter ke sistem demokra tis tidak membawa manfa a t yang besar pada kemajuan negara maupun kesejahteraan rakyat. Seperti dike tahui, proses pemilu maupun pilkada sang a t diwarnai dan didominasi o l e h politik uang . Jika kecen derungan ini terus berlanjut, maka akan timbul banyak pertanyaan ten tang apakah demokrasi ada manfaa tnya untuk rakyat kebanyaka n . Seperti yang dika takan Ishak, m a tinya ideologi dalam proses politik Indonesia merupakan salah s atu penyebab u tama dari komersialisasi dan dominasi politik uang dalam proses demokrasi di Indonesia . Sangat sukar misalnya, untuk membedakan ideologi, visi dan s tra tegi berbagai partai poli tik yang ada di Indonesia karena dominannya komersialisasi dan prag m a tisme partai politik. Rakyat biasa diberikan pilihan partai- partai dengan nama dan simbol yang berbeda beda, te tapi sebe tulnya esensi maupun programnya tidak jauh berbeda . Dalam kon teks seperti i tu, demokra tisasi yang diharapkan mampu mengurangr kecenderungan 6. massa mengambang (floating mass), jus tru menimbulkan gejala sebaliknya, yaitu semakin mengua tnya kecende rungan massa mengambang . Dalam kondisi vakum ideologi, dominasi pragmatisme dan politik uang, Indonesia sang a t mudah sekali dipe ngaruhi oleh pandangan ekonomi ortodoks dan neoliberal yang semakin mengecilkan peranan negara dalam peningka tan kesejahteraan rakyat. Negara hanya mew akili dan memperj uangkan kepentingan elit, sementara rakyat dilepaskan kepada belas kasihan mekanisme pasar. Misal nya, berbagai subsidi di dalam bidang pendidikan dan keseha tan dihapuskan tanpa melihat perbedaan kemam puan ekonomis dari masyaraka t. Di negara- negara yang kapitalistik sekalipun, seperti di Eropa, te tap ada subsidi maupun ban tuan keuangan di bidang pendidikan dan keseha tan untuk masyaraka t yang tidak mampu. Ishak secara sang a t d e til menjelaskan berbagai tarik menarik dalam s tra tegi dan kebij akan ekonomi sejak pemerintahan Habibie, Gusdur, Mega dan SBY . Tampak jelas w alaupun ada upaya- upaya untuk mengembalikan kedaulatan ekonomi dan upaya untuk menghindari peranan yang sang a t besar dari lembaga- Iembaga inter na tional untuk menentukan arah dan kebijakan ekonomi nasional, te tapi karena kevakuman ideologi, dominasi pragmatisme serta kelemahan visi, pada akhirnya peranan lembaga- Iembaga internasional seperti IMF dan Bank Dunia sang a t dominan dalam menentukan arah dan kebij akan ekonomi Indonesia . Dalam buku ini, Ishak memberikan penjelasan sang a t d e til ten tang penyusunan "GBHN super dari bawah meja IMF" . Kondisi Indonesia sang a t berbeda dengan pengalaman Negara-negara Asia Timur yang berhasil mengejar ke tinggalannya dari negara-negara Bara t . Mereka lebih akomoda tif terhadap kepen tingan negara- negara besar dalam bidang politik luar negeri dan pertahanan, te tapi sang a t mandiri dalam penentuan s tra tegi dan arah kebij akan ekonomi. Ishak mengajukan pertanyaan penting, mengapa Indonesia batal tinggal landas? Pada tahun 1967, negara negara u tama di Asia nyaris memiliki posisi yang hampir sama secara sosial dan ekonomi s . Pada waktu i tu, GNP perkapita Indonesia, Malaysia, Thailand, Taiwan, Cina nyaris sama, yaitu kurang dari USS 100 per kapita . S e telah lebih dari 40 tahun, GNP perkapita negara- negara terse but pada tahun 2004, mencapai: Indonesia seki tar USS 1 . 100, Malaysia US$ 4 . 520, Korea Selatan USS 14. 000, Thailand USS 2 .490, Taiwan USS 14. 590, Cina USS 1 . 500 . Ternyata bahwa kekuasaan dan peranan Mafia Berkeley nyaris 40 tahun tidak mampu meningka tkan kesejahteraan rakyat Indonesia dan mewariskan p o tensi sebagai salah s atu negara gagal (failed state) di Asia . Sejumlah kemajuan dalam bidang ekonomi Indonesia terutama didukung oleh eksploitasi sumber daya alam (minyak bumi dan hutan) serta peningka tan pinjaman luar negeri . Sementara kemajuan ekonomi negara- negara Asia Timur dan Tenggara lainnya terutama didukung oleh indus trialisasi, ekspor, peningka tan produktifi tas dan daya saing nasional . Sejumlah kemajuan ekonomi Indonesia di masa Orde Baru juga diiku ti dengan kelemahan s truktural dalam bidang ekonomi, ke tergantungan terhadap u tang yang semakin besar, dispari tas pendapatan yang semakin tinggi dan sistem sosial politik yang semakin tidak demokra tis . Ke tergantungan terhadap u tang tersebu t menghasilkan sua tu elit pengambil kebij akan ekonomi yang sang a t tidak percaya diri dan secara mental dan 7. intelektual sang a t menggantungkan diri pada belas kasihan negara dan lembaga pemberi u tang . Sikap mental dan intelektual ini sang a t jauh berbeda dengan elit pengambil kebijakan ekonomi di negara- negara Asia lainnya seperti Goh Keng Swee dan Lee Kwan Yew (Singapura ), Mahathir Muhammad dan Daim Zainudin (Malaysia), Park Chung Hee (Korea) , dan Deng Xiao Ping / Jiang Zemin dan Zhu Rongji (Cina ) . Eli t pengambil kebij akan ekonomi di negara- negara Asia Timur memiliki rasa percaya diri yang besar dan tidak memiliki ke tergantungan mental dan intelektual kepada hutang . Mereka dengan sadar meningka tkan tabungan, inve s tasi dan produktifi tas. Sehingga ke tergantungan mereka kepada hutang luar negeri rel a tif kecil . Sementara elit pengambil kebij akan di Indonesia di nina- bobokan oleh sumber daya minyak dan hutan yang berlimpah dan hanya terl a tih menjadi hamba pencari hutang . Ke tika krisis ekonomi melanda Asia pada pertengah an 1 997, negara- negara Asia Timur dan Tenggara terse but jus tru memanfaa tkan krisis ekonomi sebagai momen tum his toris untuk melakukan berbagai langkah perbaikan s truktura l . Mahathir misalnya, dengan sadar menolak resep IMF karena pasti akan menimbulkan gejolak ekonomi dan politik di Malaysi a . Hasilnya sang a t menggembirakan dalam ben tuk s tabili tas ekonomi dan finansial Malaysi a ; pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja juga tinggi . Singapura, melanj utkan tradisi berfikir Goh Keng Swee (arsitek ekonomi Singapura) yang kritis terhadap dampak nega tif dari kapitalisme predatori, mengambil langkah- Iangkah penguatan lembaga keuangan dalam negeri dan perbaikan corporate govemance untuk mere-dam badai krisis moneter. Perdana Menteri Chuan Leekpai dari Thailand yang semula mengiku ti resep IMF dan banyak dipuji oleh kreditor akhirnya jus tru 'digulingkan' oleh rakyat melalui pemilu yang memilih PM Thaksin secara mu tlak. Nasib Chuan Leekpai sama dengan Megaw a ti dipuji oleh IMF te tapi dikalahkan secara telak oleh rakyat. Dengan mandat kemenangan yang besar, Thaksin dengan cepat mengubah kebijakan yang tadinya pro- IMF menjadi pro rakyat dan ternyata hasilnya sang a t menggembirakan baik dari segi pertumbuhan ekonomi, inve s tasi maupun penciptaan lapangan kerj a . Sayangnya kemudian, warna o tori ter Thaksin terlalu kua t sehingga memancing oposisi dari golongan menengah . Indonesia jus tru sebaliknya, krisis ekonomi semakin meningka tkan ke tergantungan kepada pola berfikir IMF terutama karena elit pengambil kebij akan ekonomi tidak kre a tif dan memiliki ke tergantungan mental dan intelektual yang sang a t kua t terhadap hutang dan pola berfikir IMF yang konserva tif dan sang a t monetaris . Sebagai akibat nya, to tal hutang meningka t menjadi dua kalinya, dan pengangguran sang a t tinggi . Sementara propaganda bahwa inves tasi akan masuk jika Indonesia manut IMF, cuman angin sorg a . Tim Ekonomi Megaw a ti yang pro IMF dan banyak dipuji kreditor jus tru menjadi salah s a tu faktor penyebab kekalahan telak Megaw a ti di Pemilu legisla tif maupun Pemilu Presiden . Nasib Megaw a ti nyaris sama dengan Perdana Menteri Chuan Leekpai di Thailand yang dipuji kreditor namun di tolak oleh rakyat karena fokusnya hanya pada s tabili tas finansial sementara banya...</p>