case report tetanus

Download Case Report Tetanus

Post on 13-Aug-2015

66 views

Category:

Documents

7 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

cr

TRANSCRIPT

STATUS NEUROLOGIS Pemeriksa : 1. Alessandri Perdana Putra 2. Chyntia Giska Aryunisari 3. Oktariana Amindyta Tgl. Pemeriksaan I. IDENTITAS PASIEN Nama Umur Jenis Kelamin Alamat Agama Pekerjaan Status Tgl. Masuk RS II. RIWAYAT PENYAKIT Anamnesa Anamnesa diambil dari keluarga pasien (alloanamnesa)dan pasien. Keluhan utama Keluhan tambahan Riwayat Perjalanan Penyakit Awalnya pasien, mengeluhkan nyeri punggung sebelah kanan,kemudian terdapat kekakuan otot disertai kesulitan menelan. Kemudian pasien mengeluhkan mulut kaku dan sulit dibuka pada awal masuk rumah sakit, semua hal ini terjadi setelah pasien mengorek-ngorek giginya menggunakan gunting kuku. Hal ini terjadi 5 hari sebelum masuk rumah sakit disertai demam,perut terasa tegang. Pasien juga merasakan kaku pada badannya,leher dan mengalami kejang. Pada saat dilakukannya pemeriksaan, pasien masih mengalami kejang sebanyak 5 x dalam sehari dengan durasi kejang sekitar 30 detik. Badan masih terasa kaku dan leher : : Kaku badan dan leher,kejang Lidah tidak bisa dijulurkan : : : : : : : : Kasman 48 tahun Laki-laki 22 Islam Petani Menikah 13 mei 2012 : 21 Mei 2012

kaku,tidak ada demam. Pasien tidak mengeluhkan rasa sakit dikepalanya. Riwayat di gigit binatang disangkal, riwayat imunisasi DPT tidak dilakukan. Riwayat Penyakit Dahulu Pasien pernah mengalami tertusuk paku pada telapak kaki sebelah kiri,sekitar 4 tahun yang lalu, gigi atas pasien sebelah kanan bolong. Riwayat hipertensi dan DM di sangkal pasien. Riwayat Penyakit Keluarga Dalam keluarga belum ada yang menderita penyakit seperti ini III.PEMERIKSAAN FISIK Status Present Keadaan umum Kesadaran : : : : : : : : : : : : Gizi Kepala Hitam, tidak mudah dicabut Sklera anikterik Simetris Normal, tidak ada deviasi septum Mulut simetris bila diam, oedem (-/-) , sianosis (-/-), oedem (-/-), sianosis(-/-), : : Tampak sakit sedang Compos mentis, GCS E4M6V5 = 15

Vital sign Tekanan darah Nadi RR Suhu 120/80 mmHg 80 x/menit 32 x/menit 37o C Sedang

Rambut Mata Telinga Hidung Mulut Extremitas Superior Inferior

Pupil isokor D: 4mm, reflex positif

IV. PEMERIKSAAN NEUROLOGIS Saraf cranialis N.VI) Kelopak mata Ptosis Endophtalmus Exopthalmus Ukuran Bentuk Isokor/anisokor Posisi Refleks cahaya Medial, lateral Superior, inferior Obliqus, superior Obliqus, inferior N.Trigeminus (N.V) :+ : (-/-) : (-/-) : (-/-) : (3 mm / 3 mm) : (Bulat / Bulat) : (Isokor / Isokor) : (Sentral / Sentral) : (+/+) : DBN : DBN : DBN : DBN N.Olfactorius (N.I) Daya penciuman hidung N.Opticus (N.II) Tajam penglihatan Lapang penglihatan Tes warna Fundus oculi : 3/60 / 3/60 : Normal/Normal : Tidak dilakukan : Tidak dilakukan : Baik

N.Occulomotorius, N.Trochlearis, N.Abdusen (N.III N.IV

Pupil

Gerakan bola mata

Buka Mulut

Gerakin Rahang Deviasi Diam Senyum Meringis Menutup mata Mengerutkan dahi Mengangkat alis Menutup mata kuat-kuat N.Acusticus (N.VIII) Ketajaman pendengaran Tinitus Test vertigo Nistagmus N.Fascialis (N.VII)

:+

Inspeksi wajah sewaktu : : : : : : : Simetris DBN DBN Simetris Simetris Tidak dilakukan Simetris

Pasien disuruh untuk

N.cochlearis : (+/+) : Tidak dilakukan : Tidak dilakukan. : Tidak dilakukan

N.vestibularis

N.Glossopharingeus dan N.Vagus (N.IX dan N.X) Suara bindeng/nasal N.Accesorius (N.XI) M.Sternocleidomastodeus M.Trapezius : (Tidak bisa dinilai) : (Tidak bisa dinilai) : (-)

N.Hipoglossus (N.XII) : (Tidak bisa dinilai karena lidah tidak bisa di julurkan).

-

Kaku kuduk Kekuatan otot Tonus Klonus

: (+) :Tidak bisa di nilai,karena spasme : Kaku : Tidak dilakukan

-

Refleks fisiologis

: : (Tidak dilakukan) : (Tidak dilakukan) : (Tidak dilakukan) : (Tidak dilakukan)

Biceps Pattela Triceps Achiles Refleks patologis : Hoffman trommer Babinsky Chaddock Oppenheim Schaefer Susunan saraf otonom Fungsi luhur Fungsi bahasa Afasia motorik Afasia sensorik Miksi Defekasi Salivasi Chvosteks sign

: (Tidak dilakukan) : (Tidak dilakukan) : (Tidak dilakukan) : (Tidak dilakukan) : (Tidak dilakukan)

: Baik : Belum BAB sejak masuk : Normal :-

rumah sakit

: Baik : (-) : (-)

Status Lokalis Muka Mulut Abdomen : Risus sardonikus (-), pada awal masuk + : Trismus (-),pada awal masuk + : Perut tegang seperti papan (+)

Status psikiatrikus Sikap Perhatian : Cukup Kooperatif : Ada

Pemeriksaan Penunjang ( tgl 13 mei 2012) Darah lengkap : 12,4 10e3/mm3 : 4,2810e6/mm3 : 13,5 g/dl : 92 % : 0,165 % : 139 mg/dl WBC RBC HGB MCV PCT Gula sesaat

Diagnosis Banding : Tetanus Ensefalitis Rabies

Diagnosis : Tetanus PENATALAKSANAAN 1. Umum

Tirah baring Penderita di tempatkan di ruang isolasi

2. Medikamentosa Infuse dextrose 5% Diazepam 4 ampul) ATS Cefotaxim : IV selama 7 hari, 1x/hari : 2x/hari IV 1 vial : IV tiap 8 jam 1 ampul dan drip ( 1 plabote

XI. Prognosa : Quo ad Vitam Quo ad Fungtionam : Bonam : Bonam

TINJAUAN PUSTAKA A. Definisi Tetanus adalah suatu berat. Tetanus ini biasanya akut dan menimbulkan paralitik spastik yang disebabkan tetanospasmin. Tetanospamin merupakan neurotoksin yang diproduksi oleh Clostridium tetani. Tetanus disebut juga dengan "Seven day Disease ". Dan pada tahun 1890, diketemukan toksin seperti strichnine, kemudian dikenal dengan tetanospasmin, yang diisolasi dari tanah anaerob yang mengandung tetanus. ( Nicalaier 1884, Behring dan Kitasato 1890 ). Spora Clostridium tetani biasanya masuk kedalam tubuh melalui luka pada kulit oleh karena terpotong , tertusuk ataupun luka bakar serta pada infeksi tali pusat (Tetanus Neonatorum ). B. Etiologi Tetanus disebabkan oleh bakteri gram positif; Cloastridium tetani Bakteri ini berspora, dijumpai pada tinja binatang terutama kuda, juga bisa pada manusia dan juga pada tanah yang terkontaminasi dengan tinja binatang tersebut. Spora ini bisa tahan beberapa bulan bahkan beberapa tahun, jika ia menginfeksi luka seseorang atau bersamaan dengan benda daging atau bakteri lain, ia akan memasuki tubuh penderita tersebut, lalu mengeluarkan toksin yang bernama tetanospasmin. bakteri. lmunisasi dengan mengaktivasi derivat tersebut menghasilkan pencegahan dari toksemia akut yang disebabkan oleh neurotoksin yang dihasilkan oleh Clostridium tetani ditandai dengan spasme otot yang periodik dan

Pada negara belum berkembang, tetanus sering dijumpai pada neonatus, bakteri masuk melalui tali pusat sewaktu persalinan yang tidak baik, tetanus ini dikenal dengan nama tetanus neonatorum. C. Patogenesis Tetanospasmin adalah toksin yang menyebabkan spasme,bekerja pada beberapa level dari susunan syaraf pusat, dengan cara : a. Tobin menghalangi neuromuscular transmission dengan cara menghambat pelepasan acethyl-choline dari terminal nerve di otot. b. Kharekteristik spasme dari tetanus ( seperti strichmine ) terjadi karena toksin mengganggu fungsi dari refleks synaptik di spinal cord. c. Kejang pada tetanus, mungkin disebabkan pengikatan dari toksin oleh cerebral ganglioside. d. Beberapa penderita mengalami gangguan dari Autonomik Nervous System (ANS ) dengan gejala : berkeringat, hipertensi yang fluktuasi, periodisiti takikhardia, aritmia jantung, peninggian cathecholamine dalam urine. Kerja dari tetanospamin analog dengan strychninee, dimana ia mengintervensi fungsi dari arcus refleks yaitu dengan cara menekan neuron spinal dan menginhibisi terhadap batang otak. Timbulnya kegagalan mekanisme inhibisi yang normal, yang menyebabkan meningkatnya aktifitas dari neuron Yang mensarafi otot masetter sehingga terjadi trismus. Oleh karena otot masetter adalah otot yang paling sensitif terhadap toksin tetanus tersebut. Stimuli terhadap afferen tidak hanya menimbulkan kontraksi yang kuat, tetapi juga dihilangkannya kontraksi agonis dan antagonis sehingga timbul spasme otot yang khas . Ada dua hipotesis tentang cara bekerjanya toksin, yaitu: Toksin diabsorbsi pada ujung syaraf motorik dari melalui sumbu silindrik dibawa kekornu anterior susunan syaraf pusat Toksin diabsorbsi oleh susunan limfatik, masuk kedalam sirkulasi darah arteri kemudian masuk kedalam susunan syaraf pusat.

D. Gejala Klinis Masa inkubasi 5-14 hari, tetapi bisa lebih pendek (1 hari atau lebih lama 3 atau beberapa minggu ). Karekteristik dari tetanus : Kejang bertambah berat selama 3 hari pertama, dan menetap selama 5 -7 hari. Setelah 10 hari kejang mulai berkurang frekuensinya Setelah 2 minggu kejang mulai hilang. Biasanya didahului dengan ketegangaan otot terutama pada rahang dari leher. Kemudian timbul kesukaran membuka mulut ( trismus, lockjaw ) karena spasme Otot masetter. Kejang otot berlanjut ke kaku kuduk ( opistotonus , nuchal rigidity ) Risus sardonicus karena spasme otot muka dengan gambaran alis tertarik keatas, sudut mulut tertarik keluar dan ke bawah, bibir tertekan kuat . Gambaran Umum yang khas berupa badan kaku dengan opistotonus, tungkai dengan Eksistensi, lengan kaku dengan mengepal, biasanya kesadaran tetap baik. Karena kontraksi otot yang ( pada anak ). sangat kuat, dapat terjadi asfiksia dan sianosis, retensi urin, bahkan dapat terjadi fraktur collumna vertebralis

E. Jenis dan Derajat Tetanus Ada beberapa jenis tetanus, seperti : a. Tetanus lokal (localited Tetanus) Pada lokal tetanus dijumpai adanya kontraksi otot yang persisten, pada daerah tempat dimana luka terjadi (agonis, antagonis, dan fixator). Hal inilah merupakan tanda dari tetanus lokal. Kontraksi otot tersebut biasanya ringan,

bisa bertahandalam beberapa bulan tanpa progressif dan biasanya menghilang secara bertahap. Lokal tetanus ini bisa berlanjut menjadi generalized tetanus, tetapi dalam bentuk yang ringan dan jarang menimbulkan kematian. Bisa juga lokal tetanus ini dijumpai sebagai prodromal dari klasik tetanus atau dijumpai secara terpisah. Hal ini terutama dijumpai sesudah pemberian profilaksis antitoksin. b. Cephalic tetan