case report bi2

Download Case Report Bi2

Post on 06-Aug-2015

125 views

Category:

Documents

1 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

CASE REPORT

POLA ASUH ORANG TUA ANGKAT YANG BERPENGARUH TERHADAP PENGGUNAAN NARKOBA PADA REMAJA

DISUSUN OLEH : HABIBI (1102007132)

BLOK ELEKTIF BIDANG KEPEMINATAN DRUG ABUSE FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI Jakarta 2012

AbstrakLatar belakang Penggunaan (Narkotika dan obat- obat berbahaya) narkoba dikalangan remaja masih marak terjadi dibelahan dunia bahkan penggunanya semakin meningkat. Hal ini menjadi momok yang menakutkan bagi keluarga terutama orang tua dalam menjaga anak anaknya dari bahaya narkoba. Tetapi hal ini berbalik dengan beberapa kasus yang terjadi , salahnya pola didik dan kurangnya komunikasi antara anak dengan orang tua yang menyebabkan anak mencoba memakai narkoba. Presentasi kasus Pasien laki- laki bernama Joni (nama samaran) berumur 15 tahun diduga kecanduan narkoba yang berjenis ganja dan obat golongan analgetik (pemakaian dosis tidak wajar), dia sering mengalami kondisi tidak sadarkan diri, gelisah, berhalusinasi dan merasa flu. Dalam kesehariannya di Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RS. KO), Joni kurang bisa bergaul dengan pasien yang lainnya. Hal ini disebabkan Joni mempunyai perilaku austistik. Sebelum tinggal di RS.KO, Joni hidup terpisah dengan orangtua kandungnya dan dia hidup bersama orang tua angkatnya. Diskusi Narkoba merupakan kumpulan dari berbagai senyawa yang membuat para penggunanya mengalami kecanduan obat akut yang sebenarnya digunakan didalam dunia medis untuk menganastesi pasien yang akan dioperasi atau untuk obat dalam penyakit tertentu. Tetapi yang digunakan merupakan senyawa dari psikotropika yang berdosis rendah. Hal ini sangat disayangkan ketika remaja saat ini menyalahgunakan fungsi dari narkoba tersebut. Para remaja menggunakan narkoba sebagai obat penenang dalam menghadapi situasi hidup dan sebagai gaya hidup karena mereka berfikir memakai narkoba akan menjadikan mereka sebagai sosok remaja yang gaul.

Orang tua seharusnya berperan aktif dalam mengatasi masalah penyalahgunaan narkoba serta memberikan bimbingan akan dampak bahaya narkoba. Peran agama dalam menyikapi masalah pola didik orang tua terhadap anak. Simpulan Narkoba merupakan momok permasalahan terbesar dikehidupan remaja yang disebabkan karena psikologis remaja masih labil dimana masa remaja tersebut mencari identitas diri mereka. Sehingga hal ini dimanfaatkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab untuk menjerumuskan mereka. Dalam hal ini peran sebuah keluarga khususnya orang tua sangat penting dalam menghindari narkoba dan menjaga perilaku anaknya. Pola didik orang tua yang benar dapat menghindari anak- anak dari bahaya narkoba. Orang tua tidak boleh terlalu otoriter terhadap anaknya karena dapat mengganggu psikologis anak. Permasalahan yang timbul diantara keluarga sebaiknya tidak menggunakan anak sebagai pelampiasan akan kemarahan orang tua. Dengan cara ini anak khususnya remaja dapat bersikap baik dan menghindari dari segala sesuatu yang jelek khususnya menghindari narkoba.

i

DAFTAR ISI Abstrak.i Daftar isi..ii1. Latar Belakang.1 2. Presentasi Kasus...4 3. Diskusi..........6 3.1. 3.2.

Definisi Remaja7 Definisi Keluarga .....9

3.2.1. Bentuk- bentuk keluarga10 3.2.2. Fungsi Keluarga.12 3.2.3. Tugas-Tugas Keluarga Dalam Bidang Kesehatan.13 3.3.

Penggunaan dan Penyalahgunaan Narkoba pada Remaja...13

4. Kesimpulan..24 5. Daftar Pustaka.27

ii

iii

Latar belakang Belakangan ini berjuta-juta remaja di Asia telah menggunakan narkoba mulai dari menghirup bahan- bahan kimia sampai pemakaian narkoba berjenis ekstasi dan heroin oleh remaja. Sebenarnya ada banyak definisi dari narkoba yang kini beredar di masyarakat saat ini, di antaranya: Narkotika dan Obat-obatan Terlarang, Narkotika dan Obat-obatan berbahaya dan Narkotika, Psikotropika, dan Obat-obat berbahaya Dasar terjemahan narkoba sebenarnya memang sangat tidak jelas. Secara umum narkoba adalah terjemahan dari kata Narkotika, dan Bahan-bahan berbahaya. Bahan-bahan berbahaya ini termasuk di dalamnya obat-obatan yang tidak mempunyai kandungan Narkotika (sekarang disebut Psikotropika), alkohol, dan zat-zat cair atau padat lainnya seperti pestisida, limbahlimbah beracun. Selanjutnya muncul istilah NAPZA (Narkotika, Alkohol, Psikotropika, dan Zatzat Adiktif lainnya). Sebelum tahun 1997, permasalahan tentang narkoba sudah diatur dan tertera dalam UU No. 9 Tahun 1976. Sedangkan untuk psikotropika, belum ada undang-undang yang mengatur tentang hal tersebut. Psikotropika hanya diatur sebatas dalam UU Kesehatan dan berbagai Peraturan Pemerintah atau Peraturan Menteri Kesehatan. Berdasarkan pengalaman pada tahuntahun sebelumnya, ternyata psikotropika keberadaannya banyak disalahgunakan dan dijual dalam perdagangan gelap. Karena ketidaktegasan dalam aturan, maka dibuatlah UU No. 5 Tahun 1997. Dalam Pasal 1 ayat 1 terdapat pernyataan berbunyi, Psikotropika adalah zat atau obat, baik yang alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Disebutkan pula yang termasuk psikotropika adalah ekstasi, shabu-shabu, obat1

penenang/ obat tidur, obat anti depresi, dan obat anti psikosis. Undang-undang ini keluar bersamaan dengan UU No. 5 Tahun 1997 mengenai Psikotropika dan merupakan pengganti UU No. 9 Tahun 1976. Undang-undang ini ditambah dengan penambahan maksimal hukuman serta denda dan perubahan lainnya. Dalam undang-undang ini, pengertian mengenai narkotika dalam Pasal 1 ayat 1, yaitu Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan yang dibedakan ke dalam golongan-golongan. Dalam undang-undang ini, narkotika dibagi menjadi tiga golongan, yaitu: 1. Golongan opiate: heroin, morfin, candu, dll. 2. Golongan kanabis: ganja, hashis, dll.3. Golongan koka: kokain, crack, dll.

Masalah narkoba ini mulai muncul ke permukaan sebagai suatu sebab yang menakutkan dalam kaitannya dengan kehidupan generasi penerus bangsa sekitar awal tahun 80-an. Sebelum tahun itu, sering terdengar kata morphinis yang disandang oleh para pengguna narkoba. Hanya saja, saat itu belum banyak orang memperdulikan masalah ini karena pada umumnya penggunanya hanya merupakan kalangan elite saja. Seperti yang digambarkan dalam film-film, narkoba dalam bentuk morphin ini menjadi monopoli mafia-mafia dan menjadi komoditas berharga tinggi. Lama-kelamaan, narkoba telah merambah ke semua golongan, entah elite atau golongan kelas bawah secara pesat. Akibatnya semua golongan ikut merasakan kegelisahan akan hal ini, apalagi dampaknya yang tidak tanggung-tanggung.

2

Ada macam-macam jenis narkoba yang telah ditemukan. Namun di sini akan dijabarkan beberapa saja dari golongan narkoba maupun psikotropika. o Jenis narkoba:

Heroin: Putaw, Pete, Bedak, Morphin Cocain Ganja: mariyuana, gelek, rumput, cimeng, mBako Codein, dll. o Jenis psikotropika:

Shabu-shabu: SS, Kristal, Ubas, Blue eyes, Tawas

Ekstasy: Inex. X,kancing

Pil koplo: Magadhon, Rohipnol, Leksotan, BK, Valium, dan lain-lainya yang masuk daftar G. Penyebaran narkoba dikalangan remaja hingga kini tidak bisa dicegah. Hampir seluruh

penduduk dunia dapat dengan mudah mendapatkan narkoba dari oknum oknum yang tidak bertanggung jawab. Upaya pemberantasan narkoba sudah sering dilakukan untuk menghindarkan narkoba dari kalangan remaja. Hingga saat ini upaya yang paling efektif untuk mencegah penyalahgunaan narkoba yaitu pendidikan keluarga.

3

Tujuan dari penulisan laporan ini adalah untuk mengetahui pola didik orang tua terhadap anaknya yang berkaitan dengan penyalahgunaan narkoba pada remaja serta faktor penyebab remaja menggunakan narkoba. Penulisan ini bedasarkan hasil wawancara dengan seorang pasien dengan usia 15 tahun di Rumah Sakit Ketergantungan Obat Cibubur, Jakarta.

1. Presentasi kasus Pasien laki- laki bernama Joni (nama samaran) berumur 15 tahun diduga kecanduan narkoba yang berjenis ganja dan obat golongan analgetik (pemakaian dosis tidak wajar), dia sering mengalami kondisi tidak sadarkan diri, gelisah, berhalusinasi dan merasa flu. Dalam kesehariannya di Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RS. KO), Joni kurang bisa bergaul dengan pasien yang lainnya. Hal ini disebabkan Joni mempunyai perilaku austistik. Sebelum tinggal di RS.KO, Joni hidup terpisah dengan orangtua kandungnya dan dia hidup bersama orang tua angkatnya. Saat tinggal bersama orangtua angkatnya, Joni sering diperlakukan kasar, terutama oleh ibu angkatnya. Oleh sebab itu, Joni sering tidak berada dirumah melainkan dia senang mencari kegiatan lainnya bersama teman karibnya yang bernama Jono (nama samaran). Jono menawarkan obat jenis tramadol (dengan dosis tidak wajar). Dari Jono, Joni mengenal salah satu jenis narkoba, sehingga Joni mau mencoba menggunakan obat tersebut dan akhirnya dia menjadi ketergantungan dengan obat tersebut. Jono juga menawarkan narkoba jenis yang lain seperti ganja. Joni pun tertarik untuk menggunakan ganja tersebut sampai dia mengetahui efek dari penggunaan ganja dapat membuat Joni merasakan rileks. Efek ganja yang lain dirasakan oleh Joni juga membuatnya sering tidak sadarkan diri dan berhalusinasi. Hal ini menyebabkan Joni4

sangat ketergantungan sehingga dia bersama teman-temannya berusaha mendapatkan uang dengan cara mengamen untuk membeli narkoba. Pada suatu hari orangtua angkat Joni mengetahui bahwa dia menggunakan narkoba, sehingga dengan sigap orang tua angkatnya membawa Joni ke Rumah Sakit Islam Jakarta. Dari Rumah Sakit Islam Jakarta, Joni diberikan surat rujukan ke RS.KO yang menangani khusus masalah narkoba. Akhirnya Joni ditempatkan ke dalam ruang detoksifikasi. Selama di RS.KO, Joni mendapatkan pelayanan berupa makan