case lbp anggi dr.vico

of 26 /26
STATUS PASIEN I. IDENTITAS -  Nama : Tn. S - Jenis Kelamin : Laki-laki - Usia : 50 tahun - Alamat : KP Warung Salak RT01/ RW011, Kecamatan Lewiliang - Status Pernikahan : Menikah - Suku : Sunda - Pekerjaan : Tukang bensin eceran - Pe nd idik an Ter akhi r : SD - Ta ng ga l Masuk RS : 28 J anua ri 20 13 II. ANAMNESA Keluhan Utama Pinggang terasa nyeri 10 hari sebelum masuk rumah sakit Riwayat Penyakit Sekarang Pasi en dat ang ke IGD RSMM Bog or den gan keluhan nye ri pad a pin ggang yan g menj al ar ke kaki kanan da n ki ri sej ak 10 hari sebelum masuk RS. Nyer i pert ama kali dirasakan tiba-tiba saat pasien mengangkat jirigen minyak. Nyeri terasa seperti ditusuk-tusuk, hilang timbu l ataup un saat tidur miring ke arah kanan atau kiri. Karena merasa nyeri pasien membawa ke tukang pijat. Nyeri semakin terasa setelah dipijat dan jika sedang batuk atau mengejan. Nyeri juga membuat pasien tidak dapat duduk. Pagi hari setelah bangun tidur, terkadang pasien mengalami kaku-kaku pada daerah pinggang. Pasien mengatakan sering merasa kesemutan pada telapak kaki kanan dan kiri. Pasien mengatakan sudah berbulan-  bulan sulit BAB. Kesemutan tidak disertai dengan baal. BAK pasien lancar, tidak nyeri dan  berwarna kuning jernih. Riwayat Penyakit Dahulu Pasie n pernah me ngala mi kecelakaan lalu li nt as pada tahun 1998. Saki t pa da  pinggang pertama kali dirasakan pada tahun 2010 dan sakitnya menjalar ke paha sampai 1

Author: intan-soraya

Post on 14-Apr-2018

215 views

Category:

Documents


0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • 7/29/2019 Case LBP Anggi Dr.vico

    1/26

    STATUS PASIEN

    I. IDENTITAS

    - Nama : Tn. S

    - Jenis Kelamin : Laki-laki

    - Usia : 50 tahun

    - Alamat : KP Warung Salak RT01/ RW011, Kecamatan Lewiliang

    - Status Pernikahan : Menikah

    - Suku : Sunda

    - Pekerjaan : Tukang bensin eceran

    - Pendidikan Terakhir : SD

    - Tanggal Masuk RS : 28 Januari 2013

    II. ANAMNESA

    Keluhan Utama

    Pinggang terasa nyeri 10 hari sebelum masuk rumah sakit

    Riwayat Penyakit Sekarang

    Pasien datang ke IGD RSMM Bogor dengan keluhan nyeri pada pinggang yang

    menjalar ke kaki kanan dan kiri sejak 10 hari sebelum masuk RS. Nyeri pertama kali

    dirasakan tiba-tiba saat pasien mengangkat jirigen minyak. Nyeri terasa seperti ditusuk-tusuk,

    hilang timbul ataupun saat tidur miring ke arah kanan atau kiri. Karena merasa nyeri pasien

    membawa ke tukang pijat. Nyeri semakin terasa setelah dipijat dan jika sedang batuk atau

    mengejan. Nyeri juga membuat pasien tidak dapat duduk. Pagi hari setelah bangun tidur,

    terkadang pasien mengalami kaku-kaku pada daerah pinggang. Pasien mengatakan sering

    merasa kesemutan pada telapak kaki kanan dan kiri. Pasien mengatakan sudah berbulan-

    bulan sulit BAB. Kesemutan tidak disertai dengan baal. BAK pasien lancar, tidak nyeri dan

    berwarna kuning jernih.

    Riwayat Penyakit Dahulu

    Pasien pernah mengalami kecelakaan lalu lintas pada tahun 1998. Sakit pada

    pinggang pertama kali dirasakan pada tahun 2010 dan sakitnya menjalar ke paha sampai

    1

  • 7/29/2019 Case LBP Anggi Dr.vico

    2/26

    betis. Pasien menyangkal memiliki penyakit darah tinggi, kencing manis, penyakit jantung,

    paru, ginjal, maupun alergi terhadap makanan maupun obat.

    Riwayat Penyakit Keluarga

    Pasien mengatakan tidak ada anggota keluarganya yang memiliki gejala penyakit

    yang sama sepertinya. Tidak ada riwayat darah tinggi, kencing manis, penyakit jantung, paru,

    ginjal maupun alergi terhadap makanan atau obat.

    III. STATUS INTERNA SINGKAT

    1. Keadaan Umum: Tampak sakit sedang

    2. Tanda Vital:

    a. Kesadaran : GCS E4M6V5

    b. Tekanan darah: 130/80 mmHg

    c. Nadi : 88x/menit

    d. Suhu : 36,50C

    e. Pernapasan : 20x/menit

    f. BB : 60 kg

    g. TB : 162 cm

    3. Jantung : Bunyi jantung I-II reguler, murmur (-), gallop (-)

    4. Paru : Suara napas vesikuler, rhonki (-/-), wheezing (-/-)

    5. Abdomen : Datar, supel, bising usus (+) 4x/menit

    6. Extremitas : Akral hangat (+/+/+/+), oedem (-/-/-/-)

    IV. STATUS PSIKIATRI SINGKAT

    - Emosi dan Afek : stabil, serasi

    - Proses Berpikir : baik

    - Kecerdasan : baik

    V. STATUS NEUROLOGI

    Kesan Umum

    Kesadaran : compos mentis, GCS E4M6V5

    Pembicaraan

    Disartri : tidak

    2

  • 7/29/2019 Case LBP Anggi Dr.vico

    3/26

    Monoton : tidak

    Scanning : tidak

    Afasia : tidak

    Kepala

    Besar : normocephali

    Asimetris : tidak

    Tortikolis : tidak

    Mask (topeng) : tidak

    Fullmoon : tidak

    Lain-lain : tidak

    Pemeriksaan Khusus

    1. Rangsang selaput otak

    Kaku kuduk : (-)

    Kernig : >1350/>1350

    Brudzinski I : -/-

    Brudzinski II : -/-

    2. Saraf Otak

    N I

    Hyp/anosmia : (-)

    N II

    Visus : 6/6 6/6

    Campus warna: tidak dilakukan

    Melihat warna : baik

    Funduscopi : tidak dilakukan

    N III, IV, VI

    Kedudukan bola mata: ortoforia/ortoforia

    Pergerakan bola mata

    Ke atas : (+)/(+)

    Ke temporal : (+)/(+)

    Ke bawah : (+)/(+)

    Ke temporal bawah: (+)/(+)

    Eksopthalmus : (-)/(-)

    Celah mata (ptosis) : (-)/(-)

    3

  • 7/29/2019 Case LBP Anggi Dr.vico

    4/26

    Pupil

    Bentuk : bulat/bulat

    Lebar : 3mm/3mm

    Anisokoria : tidak

    Reaksi cahaya langsung : +/+

    Reaksi cahaya konsensuil :+/+

    Reaksi akomodasi :+/+

    Reaksi konvergensi :+/+

    N V

    Cabang motorik

    Otot masseter : dalam batas normal

    Otot temporal : dalam batas normal

    Otot pterygoidus int./eks. : dalam batas normal

    Cabang sensorik

    I : baik

    II : baik

    III : baik

    Refleks kornea langsung : +/+

    Refleks kornea konsensuil : +/+

    N VII

    Waktu diam

    Kerutan dahi : simetris

    Tinggi alis : simetris

    Sudut mata : simetris

    Lipatan nasolabial : simetris

    Sudut mulut : simetris

    Waktu gerak

    Mengerut dahi : simetris

    Menutup mata : simetris

    Bersiul : simetris

    Memperlihatkan gigi : simetris

    Pengecapan 2/3 depan lidah : tidak dilakukan

    Hiperakusis : tidak dilakukan

    Sekresi air mata : tidak dilakukan

    4

  • 7/29/2019 Case LBP Anggi Dr.vico

    5/26

    N VIII

    Vestibular

    Vertigo : (-)

    Nistagmus : (-)

    Tinnitus aureum : tidak dapat dilakukan

    Cochlear

    Weber : tidak dilakukan

    Rinne : tidak dilakukan

    Schwabach : tidak dilakukan

    N IX, X

    Bagian motorik

    Suara biasa/ parau/ tidak bersuara : biasa

    Kedudukan arcus faring : simetris

    Kedudukan uvula : di tengah

    Pergerakan arcus faring/ uvula : simetris

    Detak jantung : reguler, murmur (-), gallop (-)

    Bising usus : (+)

    Menelan : dapat

    Bagian sensorik

    Pengecapan 1/3 belakang lidah : tidak dilakukan

    Refleks muntah : tidak dilakukan

    Refleks palatum molle : tidak dilakukan

    N XI

    Mengangkat bahu : baik

    Memalingkan kepala : baik

    N XII

    Kedudukan lidah waktu istirahat : di tengah

    Atrofi : tidak

    Fasikulasi/tremor : tidak

    Kekuatan lidah menekan pada bagian dalam pipi: baik

    5

  • 7/29/2019 Case LBP Anggi Dr.vico

    6/26

    3. Sistem motorik

    Kekuatan otot

    Tubuh

    Otot perut : baik

    Otot pinggang : baik

    Kedudukan difragma :

    Gerak : simetris

    Istirahat : simetris

    Lengan

    M. deltoid (adduksi lengan atas) : 5/5

    M. biceps (fleksi lengan atas) : 5/5

    Fleksi sendi pergelangan tangan : 5/5

    Ekstensi sendi pergelangan tangan : 5/5

    Membuka jari-jari tangan : 5/5

    Menutup jari-jari tangan : 5/5

    Tungkai

    Fleksi artic. Coxae : 5/5

    Ekstensi artic. Coxae : 5/5

    Fleksi sendi lutut : 5/5

    Ekstensi sendi lutut : 5/5

    Fleksi plantar kaki : 5/5

    Ekstensi dorsal kaki : 5/5

    Gerakan jari-jari : 3/5 (ibu jari kaki kanan)

    Besar otot

    Atrofi : (-)

    Pseudoatrofi : (-)

    Palpasi otot

    Nyeri : (-)

    Kontraktur : (-)

    Konsistensi : baik

    6

  • 7/29/2019 Case LBP Anggi Dr.vico

    7/26

    Tonus otot

    Tonus otot Lengan Tungkai

    Hipotoni (-) (-)

    Spastik (-) (-)Rigid (-) (-)

    Rebound phenomen (-) (-)

    Gerakan involunter

    Tremor : (-)

    Chorea : (-)

    Athetose : (-)

    Myokloni : (-)

    Ballismus : (-)

    Torsion spasme: (-)

    Fasikulasi : (-)

    Myokymia : (-)

    Koordinasi

    Jari tangan-jari tangan : baik Jari tangan-hidung : baik

    Ibu jari kaki-jari tangan : tidak dilakukan

    Tumit-lutut : baik

    Pronasi-supinasi : baik

    Tapping dengan jari-jari tangan: tidak dilakukan

    Station

    Romberg test: jatuh ke: tidak dilakukan

    4. Sistem sensorik

    Rasa eksteroseptif

    Rasa nyeri superfisial :baik(kecuali pada daerah anus tidak terasa)

    Rasa suhu (panas/dingin) : tidak dilakukan

    Rasa raba ringan : baik

    Rasa propioseptif

    7

  • 7/29/2019 Case LBP Anggi Dr.vico

    8/26

    Rasa getar : tidak dilakukan

    Rasa tekan : baik

    Rasa nyeri tekan : baik

    Rasa gerak dan posisi lengan tungkai: baik

    Rasa enteroseptif

    Referred pain : tidak dilakukan

    5. Gangguan fungsi luhur

    Apraksia : (-)

    Alexia : (-)

    Agraphia : (-)

    Membedakan kanan dan kiri : (-)

    Acalculia : (-)

    6. Refleks

    Refleks tendon/periost

    Refleks biceps : +/+

    Refleks triceps : +/+

    Refleks patella : +/+

    Refleks achilles : +/+

    Refleks patologik

    Tungkai

    Babinski : -/-

    Chaddock : -/-

    Oppenheim : -/-

    Rossolimo : -/-

    Gonda : -/-

    Gordon : -/-

    Schaefer : -/-

    Lengan

    Hoffman-tromer : -/-

    Leri : -/-

    Mayer : -/-

    7. SSO

    8

  • 7/29/2019 Case LBP Anggi Dr.vico

    9/26

    Miksi : baik

    Defekasi : terganggu

    Sekresi keringat : baik

    Salivasi : baik

    Gangguan vasomotor : tidak ada

    Gangguan tropic kulit, kuku, rambut : tidak ada

    8. Columna vertebralis

    Kelainan lokal

    Skoliosis : (-)

    Khyposis : (-)

    Khyposkoliosis : (-)

    Nyeri tekan/ketok lokal : (-)

    Gerakan cervical vertebrae

    Fleksi : baik

    Ekstensi : baik

    Lateral deviasi : baik

    Rotasi : baik

    Gerakan dari tubuh

    Membungkuk : nyeri berkurang

    Ekstensi : nyeri

    Lateral deviasi : nyeri

    9. Tes Provokasi

    DS

    - Tes Laseque :

  • 7/29/2019 Case LBP Anggi Dr.vico

    10/26

    VI. RESUME

    Pasien Laki-laku usia 50 tahun dating ke RSMM dengan keluhan pinggang terasa

    nyeri selama 10 hari. Nyeri pada pinggul dirasakan menjalar ke kaki kanan dan kiri. Nyeri

    pertama kali dirasakan tiba-tiba saat pasien mengangkat jirigen minyak. Nyeri terasa seperti

    ditusuk-tusuk, hilang timbul ataupun saat tidur miring ke arah kanan atau kiri. Nyeri semakin

    terasa setelah dipijat dan jika sedang batuk atau mengejan. Nyeri juga membuat pasien tidak

    dapat duduk. Pagi hari setelah bangun tidur pasien mengalami kaku-kaku pada daerah

    pinggang. Pasien mengatakan sering merasa kesemutan pada telapak kaki kanan dan kiri.

    Pasien mengatakan sudah berbulan-bulan sulit BAB.

    Pada pemeriksaan fisik ditemukan:

    Keadaan Umum: Tampak sakit sedang

    Kesadaran : compos mentis

    Tanda Vital:

    Tekanan darah: 130/80 mmHg

    Nadi : 88x/menit

    Suhu : 36,50C

    Pernapasan : 20x/menit

    Status generalis : dalam batas normal.

    Status neurologis : GCS E4M6V5

    Tanda Rangsang Meningeal: dalam batas normal

    Saraf kranialis : dalam batas normal

    Sistem motorik : Tungkai Gerakan jari-jari : 3/5 (ibu jari kaki kanan)

    Sistem sensorik : Rasa nyeri superficial : baik (kecuali pada daerah anus tidak

    terasa)

    Refleks fisiologis : dalam batas normal

    Refleks patologis : (-)

    Columna vertebralis:

    Gerakan dari tubuh

    Membungkuk : nyeri berkurang

    Ekstensi : nyeri

    Lateral deviasi : nyeri

    Test provokasi : Laseque

  • 7/29/2019 Case LBP Anggi Dr.vico

    11/26

    VII. DIAGNOSIS

    Diagnosis Klinis : Low Back Pain

    Diagnosis Topis : Vertebra lumbalis

    Diagnosis Etiologi : HNP

    VIII. PEMERIKSAAN PENUNJANG

    - Foto rontgen

    - Pemeriksaan laboratorium

    Jenis Nilai Nilai Rujukan

    Hemoglobin 15 g/dl 13-18 g/dl

    Hematokrit 43 % 40-54 %

    Leukosit 16.330 mm3 4.000-10.000 mm3

    Trombosit 386.000 mm3 150.000-400.000 mm3

    GDS 107 mg/dl

  • 7/29/2019 Case LBP Anggi Dr.vico

    12/26

    Edukasi : hindari faktor resiko dan ubah kebiasaan hidup

    Operasi : Laminectomi

    Fisioterapi:

    o TENS paralumbal kanan dan kiri

    o Senam punggung

    o Massage paralumbal kanan dan kiri

    Medikamentosa:

    I.M ketorolax 2x1

    I.V Ranitidin 2x150 mg

    X. PROGNOSIS

    Ad vitam : bonam

    Ad fungsionam : dubia ad bonam

    Ad sanationam : dubia ad bonam

    TINJAUAN PUSTAKALOW BACK PAIN

    12

  • 7/29/2019 Case LBP Anggi Dr.vico

    13/26

    I. DEFINISI

    Low Back Pain adalah nyeri yang dirasakan daerah punggung bawah, dapat merupakan nyeri lokal

    maupun nyeri radikuler atau keduanya. Nyeri ini terasa diantara sudut iga terbawah sampai lipat

    bokong bawah yaitu di daerah lumbal atau lumbo-sakral dan sering disertai dengan penjalaran nyeri

    ke arah tungkai dan kaki. LBP yang lebih dari 6 bulan disebut kronik.

    II. ETIOLOGI

    Penyebab LBP dapat dibagi menjadi:

    1. Diskogenik (sindroma spinal radikuler).

    Sindroma radikuler biasanya disebabkan oleh suatu hernia nukleus pulposus yang merusak saraf-

    saraf disekitar radiks. Diskus hernia ini bisa dalam bentuk suatu protrusio atau prolaps dari

    nukleus pulposus dan keduanya dapat menyebabkan kompresi pada radiks. Lokalisasinya paling

    sering di daerah lumbal atau servikal dan jarang sekali pada daerah torakal. Nukleus terdiri dari

    megamolekul proteoglikan yang dapat menyerap air sampai sekitar 250% dari beratnya. Sampai

    dekade ke tiga, gel dari nukleus pulposus hanya mengandung 90% air, dan akan menyusut terus

    sampai dekade ke empat menjadi kira-kira 65%. Nutrisi dari anulus fibrosis bagian dalam

    tergantung dari difusi air dan molekul-molekul kecil yang melintasi tepian vertebra. Hanya

    bagian luar dari anulus yang menerima suplai darah dari ruang epidural. Pada trauma yang

    berulang menyebabkan robekan serat-serat anulus baik secara melingkar maupun radial.

    Beberapa robekan anular dapat menyebabkan pemisahan lempengan, yang menyebabkan

    berkurangnya nutrisi dan hidrasi nukleus. Perpaduan robekan secara melingkar dan radial

    menyebabkan massa nukleus berpindah keluar dari anulus lingkaran ke ruang epidural dan

    menyebabkan iritasi ataupun kompresi akar saraf.

    2. Non-diskogenik

    Biasanya penyebab LBP yang non-diskogenik adalah iritasi pada serabut sensorik saraf perifer,

    yang membentuk n. iskiadikus dan bisa disebabkan oleh neoplasma, infeksi, proses toksik atau

    imunologis, yang mengiritasi n. iskiadikus dalam perjalanannya dari pleksus lumbosakralis,

    daerah pelvik, sendi sakro-iliaka, sendi pelvis sampai sepanjang jalannya n. iskiadikus (neuritis n.

    iskiadikus).

    III.FAKTOR RISIKO

    13

  • 7/29/2019 Case LBP Anggi Dr.vico

    14/26

    Faktor risiko terjadinya LBP adalah usia, kondisi kesehatan yang buruk, masalah psikologik dan

    psikososial, artritis degeneratif, merokok, skoliosis mayor (kurvatura >80o), obesitas, tinggi badan

    yang berlebihan, hal yang berhubungan pekerjaan seperti duduk dan mengemudi dalam waktu lama,

    duduk atau berdiri berjam-jam (posisi tubuh kerja yang statik), getaran, mengangkat, membawa

    beban, menarik beban, membungkuk, memutar, dan kehamilan.

    IV.ANAMNESIS

    Harus dilakukan anamnesis yang teliti yang biasanya nantinya akan dilengkapi oleh pemeriksaan

    fisik, disertai pemeriksaan radiologis dan elektrodiagnosis.

    Nyeri pinggang bawah dapat dibagi dalam 6 jenis nyeri, yaitu:

    1. Nyeri pinggang lokal

    Jenis ini paling sering ditemukan. Biasanya terdapat di garis tengah dengan radiasi ke kanan

    dan ke kiri. Nyeri ini dapat berasal dari bagian-bagian di bawahnya seperti fasia, otot-otot

    paraspinal, korpus vertebra, sendi dan ligamen.

    2. Iritasi pada radiks

    Rasa nyeri dapat berganti-ganti dengan parestesi dan dirasakan pada dermatom yang

    bersangkutan pada salah satu sisi badan. Kadang-kadang dapat disertai hilangnya perasaan

    atau gangguan fungsi motoris. Iritasi dapat disebabkan oleh proses desak ruang pada foramen

    vertebra atau di dalam kanalis vertebralis.

    3. Nyeri rujukan somatis

    Iritasi serabut-serabut sensoris dipermukaan dapat dirasakan lebih dalam pada dermatom

    yang bersangkutan. Sebaliknya iritasi di bagian-bagian dalam dapat dirasakan di bagian lebih

    superfisial.

    4. Nyeri rujukan viserosomatis

    Adanya gangguan pada alat-alat retroperitonium, intraabdomen atau dalam ruangan panggul

    dapat dirasakan di daerah pinggang.

    5. Nyeri karena iskemia

    Rasa nyeri ini dirasakan seperti rasa nyeri pada klaudikasio intermitens yang dapat dirasakan

    di pinggang bawah, di gluteus atau menjalar ke paha. Dapat disebabkan oleh penyumbatan

    pada percabangan aorta atau pada arteri iliaka komunis.

    6. Nyeri psikogen

    14

  • 7/29/2019 Case LBP Anggi Dr.vico

    15/26

    Rasa nyeri yang tidak wajar dan tidak sesuai dengan distribusi saraf dan dermatom dengan

    reaksi wajah yang sering berlebihan.

    Harus dibedakan antara LBP dengan nyeri tungkai, mana yang lebih dominan dan intensitas dari

    masing-masing nyerinya, yang biasanya merupakan nyeri radikuler. Nyeri pada tungkai yang lebih

    banyak dari pada LBP dengan rasio 80-20% menunjukkan adanya radikulopati dan mungkin

    memerlukan suatu tindakan operasi. Bila nyeri LBP lebih banyak daripada nyeri tungkai, biasanya

    tidak menunjukkan adanya suatu kompresi radiks dan juga biasanya tidak memerlukan tindakan

    operatif.

    Gejala LBP yang sudah lama dan intermiten, diselingi oleh periode tanpa gejala merupakan gejala

    khas dari suatu LBP yang terjadinya secara mekanis.

    Walaupun suatu tindakan atau gerakan yang mendadak dan berat, yang biasanya berhubungan

    dengan pekerjaan, bisa menyebabkan suatu LBP, namun sebagian besar episode herniasi diskus

    terjadi setelah suatu gerakan yang relatif sepele, seperti membungkuk atau memungut barang yang

    enteng.

    Harus diketahui pula gerakan-gerakan mana yang bisa menyebabkan bertambahnya nyeri LBP, yaitu

    duduk dan mengendarai mobil dan nyeri biasanya berkurang bila tiduran atau berdiri, dan setiap

    gerakan yang bisa menyebabkan meningginya tekanan intra-abdominal akan dapat menambah nyeri,

    juga batuk, bersin dan mengejan sewaktu defekasi.

    Selain nyeri oleh penyebab mekanik ada pula nyeri non-mekanik. Nyeri pada malam hari bisa

    merupakan suatu peringatan, karena bisa menunjukkan adanya suatu kondisi terselubung seperti

    adanya suatu keganasan ataupun infeksi.

    Faktor-faktor lain yang penting adalah gangguan pencernaan atau gangguan miksi-defekasi, karena

    bisa merupakan tanda dari suatu lesi di kauda ekuina dimana harus dicari dengan teliti adanya

    hipestesi peri-anal, retensio urin, overflow incontinence dan tidak adanya perasaan ingin miksi dan

    gejala-gejala ini merupakan suatu keadaan emergensi yang absolut, yang memerlukan suatu

    diagnosis segera dan dekompresi operatif segera, bila ditemukan kausa yang menyebabkan kompresi.

    Suatu radikulopati tanpa nyeri menandakan kemungkinan adanya suatu penyakit metabolik seperti

    polineuropati diabetik, namun juga harus diingat bahwa hilangnya nyeri tanpa terapi yang adekuat

    dapat menandakan adanya suatu penyembuhan, namun dapat pula berarti bahwa serabut nyeri hancur

    sehingga perasaan nyeri hilang, walaupun kompresi radiks masih ada.

    15

  • 7/29/2019 Case LBP Anggi Dr.vico

    16/26

    Suatu nyeri yang berkepanjangan akan menyebabkan dan dapat diperberat dengan adanya depresi

    sehingga harus diberi pengobatan yang sesuai. Terdapat 5 tanda depresi yang menyertai nyeri yang

    hebat, yaitu anergi (tak ada energi), anhedonia (tak dapat menikmati diri sendiri), gangguan tidur,

    menangis spontan dan perasaan depresi secara umum.

    V. PEMERIKSAAN FISIK

    Inspeksi :

    Pemeriksaan fisik dimulai dengan inspeksi dan bila pasien tetap berdiri dan menolak untuk

    duduk, maka sudah harus dicurigai adanya suatu herniasi diskus.

    Gerakan aktif pasien harus dinilai, diperhatikan gerakan mana yang membuat nyeri dan juga

    bentuk kolumna vertebralis, berkurangnya lordosis serta adanya skoliosis. Berkurang sampai

    hilangnya lordosis lumbal dapat disebabkan oleh spasme otot paravertebral.

    Gerakan-gerakan yang perlu diperhatikan pada penderita:

    o Keterbatasan gerak pada salah satu sisi atau arah.

    o Ekstensi ke belakang(back extension) seringkali menyebabkan nyeri pada tungkai bila

    ada stenosis foramen intervertebralis di lumbal dan artritis lumbal, karena gerakan ini

    akan menyebabkan penyempitan foramen sehingga menyebabkan suatu kompresi pada

    saraf spinal.o Fleksi ke depan (forward flexion) secara khas akan menyebabkan nyeri pada tungkai bila

    ada HNP, karena adanya ketegangan pada saraf yang terinflamasi diatas suatu diskus

    protusio sehingga meninggikan tekanan pada saraf spinal tersebut dengan jalan

    meningkatkan tekanan pada fragmen yang tertekan di sebelahnya (jackhammer effect).

    o Lokasi dari HNP biasanya dapat ditentukan bila pasien disuruh membungkuk ke depan

    ke lateral kanan dan kiri. Fleksi ke depan, ke suatu sisi atau ke lateral yang meyebabkan

    nyeri pada tungkai yang ipsilateral menandakan adanya HNP pada sisi yang sama.

    o Nyeri LBP pada ekstensi ke belakang pada seorang dewasa muda menunjukkan

    kemungkinan adanya suatu spondilolisis atau spondilolistesis, namun ini tidak

    patognomonik.

    Palpasi :

    16

  • 7/29/2019 Case LBP Anggi Dr.vico

    17/26

    Adanya nyeri (tenderness) pada kulit bisa menunjukkan adanya kemungkinan suatu keadaan

    psikologis di bawahnya (psychological overlay).

    Kadang-kadang bisa ditentukan letak segmen yang menyebabkan nyeri dengan menekan pada

    ruangan intervertebralis atau dengan jalan menggerakkan ke kanan ke kiri prosesus spinosussambil melihat respons pasien.

    Pada spondilolistesis yang berat dapat diraba adanya ketidak-rataan (step-off) pada palpasi di

    tempat/level yang terkena.

    Penekanan dengan jari jempol pada prosesus spinalis dilakukan untuk mencari adanya fraktur

    pada vertebra.

    Pemeriksaan fisik yang lain memfokuskan pada kelainan neurologis.

    Refleks yang menurun atau menghilang secara simetris tidak begitu berguna pada diagnosis

    LBP dan juga tidak dapat dipakai untuk melokalisasi level kelainan, kecuali pada sindroma

    kauda ekuina atau adanya neuropati yang bersamaan.

    Refleks patella terutama menunjukkan adanya gangguan dari radiks L4 dan kurang dari L2

    dan L3. Refleks tumit predominan dari S1.

    Harus dicari pula refleks patologis seperti babinski, terutama bila ada hiperefleksia yang

    menunjukkan adanya suatu gangguan upper motor neuron (UMN).

    Dari pemeriksaan refleks ini dapat membedakan akan kelainan yang berupa UMN atau LMN.

    Pemeriksaan motoris : harus dilakukan dengan seksama dan harus dibandingkan kedua sisi untuk

    menemukan abnormalitas motoris yang seringan mungkin dengan memperhatikan miotom yang

    mempersarafinya.

    Pemeriksaan sensorik : Pemeriksaan sensorik akan sangat subjektif karena membutuhkan perhatian

    dari penderita dan tak jarang keliru, tapi tetap penting arti diagnostiknya dalam membantu

    menentukan lokalisasi lesi HNP sesuai dermatom yang terkena. Gangguan sensorik lebih bermakna

    dalam menunjukkan informasi lokalisasi dibanding motoris.

    Test Provokasi :

    Tanda Laseque atau modifikasinya yang positif menunjukkan adanya ketegangan pada saraf spinal

    khususnya L5 atau S1.

    Secara klinis tanda Laseque dilakukan dengan fleksi pada lutut terlebih dahulu, lalu di panggulsampai 900 lalu dengan perlahan-lahan dan graduil dilakukan ekstensi lutut dan gerakan ini akan

    17

  • 7/29/2019 Case LBP Anggi Dr.vico

    18/26

    menghasilkan nyeri pada tungkai pasien terutama di betis (tes yang positif) dan nyeri akan berkurang

    bila lutut dalam keadaan fleksi. Terdapat modifikasi tes ini dengan mengangkat tungkai dengan lutut

    dalam keadaan ekstensi (stright leg rising). Modifikasi-modifikasi tanda laseque yang lain semua

    dianggap positif bila menyebabkan suatu nyeri radikuler. Cara laseque yang menimbulkan nyeri

    pada tungkai kontra lateral merupakan tanda kemungkinan herniasi diskus.

    Tanda laseque, makin kecil sudut yang dibuat untuk menimbulkan nyeri makin besar kemungkinan

    kompresi radiks sebagai penyebabnya. Demikian juga dengan tanda laseque kontralateral.

    Tanda Laseque adalah tanda pre-operatif yang terbaik untuk suatu HNP, yang terlihat pada 96,8%

    dari 2157 pasien yang secara operatif terbukti menderita HNP dan pada hernia yang besar dan

    lengkap tanda ini malahan positif pada 96,8% pasien.

    Adanya tanda Laseque lebih menandakan adanya lesi pada L4-5 atau L5-S1 daripada herniasi lain

    yang lebih tinggi (L1-4), dimana tes ini hanya positif pada 73,3% penderita.

    Harus diketahui bahwa tanda Laseque berhubungan dengan usia dan tidak begitu sering dijumpai

    pada penderita yang tua dibandingkan dengan yang muda (

  • 7/29/2019 Case LBP Anggi Dr.vico

    19/26

    Disease or

    condition

    Patient

    age

    (years)

    Location of

    pain

    Quality of

    pain

    Aggravating or

    relieving factors Signs

    Back strain 20 to 40 Low back,

    buttock,

    posterior

    thigh

    Ache, spasm Increased with

    activity or bending

    Local tenderness,

    limited spinal motion

    Acute disc

    herniation

    30 to 50 Low back to

    lower leg

    Sharp, shooting

    or burning

    pain,

    paresthesia in

    leg

    Decreased with

    standing; increased

    with bending or

    sitting

    Positive straight leg

    raise test, weakness,

    asymmetric reflexes

    Osteoarthritis or

    spinal stenosis

    >50 Low back to

    lower leg;

    often

    bilateral

    Ache, shooting

    pain, "pins and

    needles"

    sensation

    Increased with

    walking, especially

    up an incline;

    decreased with

    sitting

    Mild decrease in

    extension of spine;

    may have weakness or

    asymmetric reflexes

    Spondylolisthesis Any age Back,

    posterior

    thigh

    Ache Increased with

    activity or bending

    Exaggeration of the

    lumbar curve, palpable

    "step off" (defect

    between spinous

    processes), tight

    hamstrings

    Ankylosing

    spondylitis

    15 to 40 Sacroiliac

    joints,

    lumbar spine

    Ache Morning stiffness Decreased back

    motion, tenderness

    over sacroiliac joints

    Infection Any age Lumbar

    spine,

    sacrum

    Sharp pain,

    ache

    Varies Fever, percussive

    tenderness; may have

    neurologic

    abnormalities or

    decreased motion

    Malignancy >50 Affected

    bone(s)

    Dull ache,

    throbbing pain;

    slowly

    Increased with

    recumbency or

    cough

    May have localized

    tenderness, neurologic

    signs or fever

    19

  • 7/29/2019 Case LBP Anggi Dr.vico

    20/26

    progressive

    VII. TES DIAGNOSTIK

    Laboratorium:

    Pada pemeriksaan laboratorium rutin penting untuk melihat; laju endap darah (LED), kadar Hb,

    jumlah leukosit dengan hitung jenis, dan fungsi ginjal.

    Pungsi Lumbal (LP) :

    LP akan normal pada fase permulaan prolaps diskus, namun belakangan akan terjadi transudasi dari

    low molecular weight albumin sehingga terlihat albumin yang sedikit meninggi sampai dua kali level

    normal.

    Pemeriksaan Radiologis :

    Foto rontgen biasa (plain photos) sering terlihat normal atau kadang-kadang dijumpai

    penyempitan ruangan intervertebral, spondilolistesis, perubahan degeneratif, dan tumor

    spinal. Penyempitan ruangan intervertebral kadang-kadang terlihat bersamaan dengan suatu

    posisi yang tegang dan melurus dan suatu skoliosis akibat spasme otot paravertebral.

    CT scan adalah sarana diagnostik yang efektif bila vertebra dan level neurologis telah jelas

    dan kemungkinan karena kelainan tulang.

    Mielografi berguna untuk melihat kelainan radiks spinal, terutama pada pasien yang

    sebelumnya dilakukan operasi vertebra atau dengan alat fiksasi metal.

    CT mielografi dilakukan dengan suatu zat kontras berguna untuk melihat dengan lebih jelas

    ada atau tidaknya kompresi nervus atau araknoiditis pada pasien yang menjalani operasi

    vertebra multipel dan bila akan direncanakan tindakan operasi terhadap stenosis foraminal

    dan kanal vertebralis.

    MRI (akurasi 73-80%) biasanya sangat sensitif pada HNP dan akan menunjukkan berbagai

    prolaps. Namun para ahli bedah saraf dan ahli bedah ortopedi tetap memerlukan suatu EMG

    untuk menentukan diskus mana yang paling terkena.

    MRI sangat berguna bila:

    o vertebra dan level neurologis belum jelas

    o kecurigaan kelainan patologis pada medula spinal atau jaringan lunak

    o untuk menentukan kemungkinan herniasi diskus post operasi

    o kecurigaan karena infeksi atau neoplasma

    20

  • 7/29/2019 Case LBP Anggi Dr.vico

    21/26

    Mielografi atau CT mielografi dan/atau MRI adalah alat diagnostik yang sangat berharga

    pada diagnosis LBP dan diperlukan oleh ahli bedah saraf/ortopedi untuk menentukan

    lokalisasi lesi pre-operatif dan menentukan adakah adanya sekwester diskus yang lepas dan

    mengeksklusi adanya suatu tumor. Diskografi dapat dilakukan dengan menyuntikkan suatu zat kontras ke dalam nukleus

    pulposus untuk menentukan adanya suatu annulus fibrosus yang rusak, dimana kontras hanya

    bisa penetrasi/menembus bila ada suatu lesi. Dengan adanya MRI maka pemeriksaan ini

    sudah tidak begitu populer lagi karena invasif.

    Elektromiografi (EMG) :

    Pemeriksaan EMG dilakukan untuk :

    o

    Menentukan level dari iritasi atau kompresi radikso Membedakan antara lesi radiks dengan lesi saraf perifer

    o Membedakan adanya iritasi atau kompresi radiks

    Elektroneurografi (ENG)

    Pada elektroneurografi dilakukan stimulasi listrik pada suatu saraf perifer tertentu sehingga

    kecepatan hantar saraf (KHS) motorik dan sensorik (Nerve Conduction Velocity/NCV) dapat

    diukur, juga dapat dilakukan pengukuran dari refleks dengan masa laten panjang seperti F-

    wave danH-reflex. Pada gangguan radiks, biasanya NCV normal, namun kadang-kadang bisa

    menurun bila telah ada kerusakan akson dan juga bila ada neuropati secara bersamaan.

    Potensial Cetusan Somatosensorik(Somato-Sensory Evoked Potentials/SSEP)

    Kadang-kadang pemeriksaan SSEP diperlukan untuk membuat diagnosis lesi-lesi yang lebih

    proksimal sepanjang jaras-jaras somatosensorik.

    VIII. PENATALAKSANAAN

    Penanganan konservatif

    Tujuan penatalaksanaan secara konservatif adalah menghilangkan nyeri dan melakukan

    restorasi fungsional. Harus diberikan penerangan yang jelas tentang perjalanan penyakitnya,

    tes-tes diagnostik, cara-cara pencegahan, peran pembedahan sehingga pasien dapat menilai

    keadaan dirinya dan mengerti tindakan yang diambil oleh dokter dengan konsekuensi dari

    terapi yang dipilih. Dalam penanganan umum penderita diberikan informasi dan edukasi

    tentang hal-hal seperti: sikap badan, tirah baring dan mobilisasi. Medikamentosa diberikan

    terutama untuk mengurangi nyeri yaitu dengan analgetika. Cara pemberian analgetikmengacu seperti pada petunjuk tiga jenjang terapi analgetik WHO. Sering obat yang sesuai

    21

  • 7/29/2019 Case LBP Anggi Dr.vico

    22/26

    untuk penanganan dimulai dengan asetaminofen dan/atau nonsteroidal anti-inflammatory

    drug (NSAID). Untuk LBP akut secara fakta didapatkan bahwa tidak terdapat NSAID

    spesifik yang lebih efektif terhadap yang lainnya.Medikasi lain yang dapat diberikan sebagai

    tambahan adalah relaksan otot, antidepresan trisiklik, dan antiepileptika seperti fenitoin,

    karbamazepin, gabapentin, dan topiramat.

    Dari segi rehabilitasi, modalitas penanganan penderita HNP tergantung dari stadium dampak

    dari penyakit tersebut yang dibedakan atas:

    o Stadium impairment; fisioterapi

    o Stadium disabilitas; latihan penguatan otot

    o Stadium handicap; analisa sifat pekerjaan dan diikuti penyesuaian cara bekerja/alih

    pekerjaan.

    Penanganan operatif

    Tindakan operatif pada HNP harus berdasarkan alasan yang kuat yaitu berupa:

    o Skiatika dengan terapi konservatif selama lebih 4 minggu: nyeri berat/ intractable/

    menetap/ progresif.

    o Defisit neurologik memburuk

    o Sindroma kauda ekuina. Stenosis kanal; setelah terapi konservatif tak berhasil.

    o Terbukti adanya kompresi radiks berdasarkan pemeriksaan neurofisiologik dan

    radiologik.

    Penanganan Fisioterapi

    o TENS (Transcutaneous electrical nerve stimulation)

    22

    http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&ved=0CDAQFjAA&url=http%3A%2F%2Fen.wikipedia.org%2Fwiki%2FTranscutaneous_electrical_nerve_stimulation&ei=TJMRUc32GITLrQfcroGYDg&usg=AFQjCNED7tETgQogJd81Omvd6a0_61lAYA&sig2=rlMpBzO_E48WCrOHWJFyjw&bvm=bv.41934586,d.bmkhttp://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&ved=0CDAQFjAA&url=http%3A%2F%2Fen.wikipedia.org%2Fwiki%2FTranscutaneous_electrical_nerve_stimulation&ei=TJMRUc32GITLrQfcroGYDg&usg=AFQjCNED7tETgQogJd81Omvd6a0_61lAYA&sig2=rlMpBzO_E48WCrOHWJFyjw&bvm=bv.41934586,d.bmk
  • 7/29/2019 Case LBP Anggi Dr.vico

    23/26

    o Senam punggung

    23

  • 7/29/2019 Case LBP Anggi Dr.vico

    24/26

    IX. PROGNOSIS

    24

  • 7/29/2019 Case LBP Anggi Dr.vico

    25/26

    Dengan operasi 90% perbaikan fungsi secara baik dalam 1 tahun. Perbaikan motoris biasanya

    lebih cepat dari pada sensorik. Menurut Anderson, faktor-faktor yang mempengaruhi

    penyembuhan/prognosis adalah: diagnosis etiologi spesifik, usia lanjut, pernah nyeri

    pinggang sebelumnya dan gangguan psikososial. Sebagian besar pasien sembuh secara cepat

    dan tanpa gangguan fungsional. Rata-rata 60-70% sembuh dalam 6 minggu, 80-90% dalam

    12 minggu. Penyembuhan setelah 12 minggu berjalan sangat lambat dan tak pasti. Diagnosis

    sangat berkaitan dengan penyembuhan, penderita nyeri pinggang bawah dengan iskialgia

    membutuhkan waktu lebih lama dibanding dengan tanpa iskialgia. Dari penelitian Weber,

    tahun pertama terdapat perbaikan secara signifikan pada kelompok yang dioperasi dibanding

    tanpa operasi, namun kedua kelompok baik dioperasi maupun tidak, pada observasi tahun ke

    4-10 terlihat perbaikan yang ada tidak berbeda secara signifikan.

    Alasan penanganan non operatif didukung oleh penelitian secara klinis dan otopsi yang

    memperlihatkan protrusi dan ekstrusi dari material diskus dapat diabsorbsi dikemudian hari.

    Dimana 90% dari pasien yang sudah diagnosis definitif herniasi diskus lumbal dan

    radikulopati, adanya kriteria jelas untuk operasi, berhasil ditangani dengan cara rehabilitasi

    secara agresif dan medikamentosa.

    DAFTAR PUSTAKA

    25

  • 7/29/2019 Case LBP Anggi Dr.vico

    26/26

    1. Sadeli HA, Tjahjono B. Nyeri punggung bawah. Dalam: Nyeri Neuropatik, patofisiologi dan

    penatalaksanaan. Editor: Meliala L, Suryamiharja A, Purba JS, Sadeli HA. Perdossi, 2001:145-

    167.

    2. Anderson GBJ. Epidemiological features of chronic low back pain. Lancet 1999; 354:581-5.

    3. Wheeler AH, Stubbart JR. Pathophysiology of Chronic Back Pain. (Cited Jan 2004) Available

    from: URL http://www.emedicine.com/neuro/topic516.htm .

    4. Sidharta P. Anamnesa kasus nyeri di ekstermitas dan pinggang. Sakit pinggang. In: Tata

    pemeriksaan klinis dalam neurologi. Jakarta : Pustaka universitas, 1980: 64-75.

    5. Fieldman DE, Rossignol M, Shrier I, Abenheim L. Smoking a risk factor for development of low

    back pain in adolescents. Spine 1999: 24; 2492.

    6. Feske SK, Greenberg SA. Degenerative and compressive structural disorders. In: Textbook of

    Clinical Neurology. 2nd Ed., Ed. Goetz CG. Philadelphia: Saunders 2003; 583-600.

    http://www.emedicine.com/neuro/topic516.htmhttp://www.emedicine.com/neuro/topic516.htm