cabai sulandari.pdf

Download cabai sulandari.pdf

Post on 07-Aug-2018

213 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • 8/20/2019 cabai sulandari.pdf

    1/48

    1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    1.1  Latar Belakang

    Cabai merupakan salah satu jenis sayuran penting yang dibudidayakan

    secara komersial di negara-negara tropis. Tercatat berbagai spesies cabai yang

    telah didomestikasi, namun hanya Capsicum annuum L. dan C. frutescens L. yang

    memiliki potensi ekonomis (Sulandari, 2004). Cabai yang dibudidayakan secara

    luas di Indonesia juga termasuk kedua spesies ini. Cabai besar dan cabai keriting,

    misalnya, termasuk spesies C. annuum  sedangkan cabai rawit termasuk C.

     frutescens.

    Penyakit mosaik yang disebabkan oleh virus merupakan salah satu faktor

     pembatas penting dalam budidaya cabai. Beberapa macam virus telah dilaporkan

    dapat menyerang berbagai kultivar cabai di Indonesia (Duriat   et al., 1995;

    Suryaningsih dkk., 1996), empat virus penting di antaranya yaitu cucumber

    mosaic virus (CMV), chilli veinal mottle virus (ChiVMV), potato virus Y  (PVY)

    dan tobaco mosaic virus (TMV) dapat menginduksi gejala mosaik (Nurdin, 1998),

    tiga di antaranya ditemukan berasosiasi dengan penyakit mosaik yaitu TMV,

    CMV dan ChiVMV.

    Penyakit mosaik menjadi penting karena kerugian yang ditimbulkannya

    cukup besar. Penurunan hasil panen akibat penyakit mosaik pada tujuh kultivar

    cabai berkisar mulai dari 32 sampai 75% (Sulyo, 1984). Bahkan hasil penelitian

    Sari dkk. (1997) menunjukkan bahwa serangan virus penyebab penyakit mosaik

    1

  • 8/20/2019 cabai sulandari.pdf

    2/48

    2

    dapat menurunkan jumlah dan bobot buah per tanaman berturut-turut sebesar 81,4

    dan 82,3%. Penurunan produksi juga semakin tinggi karena virus penyebab

     penyakit mosaik ini dapat dengan cepat tersebar ke pertanaman di sekitar sumber

    virus sesuai dengan aktivitas kutudaun (aphids) yang berfungsi sebagai vektornya.

    Sampai saat ini beberapa usaha yang dilakukan untuk pengendalian penyakit

    mosaik pada tanaman cabai belum memberikan hasil seperti yang diharapkan

    (Gallitelli, 1998; Suryaningsih dkk. 1996).

    Sampai sekarang tindakan pengendalian yang dilakukan masih kurang

    memberikan hasil yang memadai karena beberapa alasan, tanaman cabai yang

    terlanjur terinfeksi tidak dapat disembuhkan karena belum ada bahan kimia yang

    yang mampu membasmi virus, hampir semua varietas cabai yang dibudidayakan

    di Indonesia rentan terhadap infeksi virus ( Duriat, 1997; Sulandari, 2004; Taufik,

    2005); sumber inokulum virus di lapang selalu tersedia karena pola penanaman

    cabai yang umumnya tidak serempak; serangga vektor selalu pada tingkat

     populasi yang efektif menularkan virus, sehingga kedua faktor terakhir ini

    memberikan tekanan infeksi yang sangat berat pada tanaman cabai muda yang

     baru dipindahtumbuhkan ( transplanting ).

    Sifat-sifat bioekologi dari ketiga virus ini (TMV, CMV, dan ChiVMV)

    sudah banyak dipelajari (Palukaitis et al. 1992; Laemmlen, 2004; Taufik, 2005).

    Berdasarkan peta bioekologi ini beberapa desain tindakan pengendalian mungkin

    dapat disusun. TMV misalnya, dapat terbawa benih cabai namun tidak dapat

    ditularkan oleh serangga, sehingga penggunaan benih cabai bebas virus bisa

    digunakan sebagai alternatif pengendalian. Teknologi dry heat   treatment  

  • 8/20/2019 cabai sulandari.pdf

    3/48

    3

    (perlakuan panas) terhadap benih cabai mampu menghilangkan sumber inokulum

     primer di lapangan. CMV dan ChiVMV ditularkan oleh kutudaun, maka untuk

    menghindarkan tanaman cabai dari infestasi kutudaun yang membawa virus

    (viruliferous) perlu dicegah agar tidak terjadi infeksi. Dua pendekatan yang

    mungkin dapat dilakukan agar kutudaun infektif tidak mendatangi pertanaman

    cabai yaitu dengan pemasangan mulsa yang bersifat menolak (repellent )

    kedatangan kutudaun dan menggunakan tanaman penghalang. Di samping itu,

     pemanfaatan RNA satellite ( Satellite RNA/SatRNA) sebagai agen proteksi silang

     juga mungkin menjadi salah satu alternatif yang potensial untuk dikembangkan

    dalam pengendalian penyakit mosaik pada tanaman cabai.

    Beberapa penelitian pengendalian penyakit mosaik sudah dilakukan

     berdasarkan bioekologi virusnya di antaranya dengan perlakuan panas dan

     pemanfaatan strain virus lemah. Hasil penelitian Nyana, 2008 pada benih cabai

    dengan perlakuan dry heat  pada suhu 70°C selama 72 jam dapat menginaktifkan 

    TMV, dan meningkatkan daya kecambahnya. Hasil Penelitian Siadi, 2006 (belum

    dipublikasikan) pada tanaman cabai dengan perlakuan penggunaan strain lemah

    CMV-T1 dan CMV-T2 sebagai vaksin menunjukkan bahwa penggunaan vaksin

    CMV-T2 dapat meningkatkan hasil sebesar 57.68% dan 50.48% berturut-turut

    dibandingkan dengan perlakuan kontrol dan perlakuan attenuated-CMV -T1.

    Kemungkinan penelitian untuk menghindarkan tanaman cabai dari infestasi vektor

     belum ada dilaporkan.

    Pada kondisi udara tenang, kutudaun (vektor virus mosaik) akan lebih

     banyak terbang ke arah lokasi yang berwarna hijau seperti adanya pertanaman.

  • 8/20/2019 cabai sulandari.pdf

    4/48

    4

    Kutudaun mempunyai prevalensi terhadap warna dan warna yang disukai maupun

    yang tidak disukai sangat tergantung dari spesies kutudaun. Dari spesies-spesies

    kutudaun yang sudah diteliti ternyata hampir semuanya menghindari pantulan

    cahaya perak (Blackman dan Eastop, 2000). Sifat repellent  dari cahaya perak ini

    memberi peluang kepada kita untuk menggunakan mulsa plastik perak sebagai

     pemantul cahaya yang bersifat repellent   terhadap kutudaun. Penularan virus

    dilakukan secara non persisten dan cara penularan ini bisa menjadi celah untuk

    menghindari penularan virus ke tanaman utama dengan menggunakan suatu

    tanaman berukuran lebih tinggi sebagai tanaman penghalang.

    Oleh karena itu, cara pengendalian yang perlu dilakukan dan pendekatan

    yang digunakan dalam penelitian ini adalah mencegah kontak antara kutudaun

    infektif membawa virus (viruliferous) dengan tanaman cabai yang dibudidayakan.

    Pencegahan dapat dilakukan dengan menggunakan mulsa plastik hitam perak dan

    tanaman penghalang.

    1.2  

    Rumusan Masalah

    Beberapa masalah yang perlu dirumuskan dalam melaksanakan penelitian

    ini antara lain :

    1.  Apakah tanaman penghalang mampu menurukan persentase gejala mosaik

     pada pertanaman cabai.

    2.  

    Apakah mulsa plastik hitam perak mampu menurukan persentase gejala

    mosaik pada pertanaman cabai.

  • 8/20/2019 cabai sulandari.pdf

    5/48

    5

    1.3 Tujuan Penelitian

    Beberapa tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai

     berikut:

    1.  Penggunaan tanaman penghalang mampu menurukan persentase gejala

    mosaik pada pertanaman cabai.

    2.  Penggunaan mulsa plastik hitam perak mampu menurukan persentase gejala

    mosaik pada pertanaman cabai.

    1.4  

    Manfaat Penelitian

    Dari penelitian ini diharapkan dapat diperoleh luaran seperti:

    1.  

    Secara akademis, hasil penelitian ini akan memperkaya khasanah ilmu

     pengetahuan khususnya di bidang Virologi Tumbuhan, yang dapat

    digunakan sebagai dasar untuk merancang strategi pengendalian penyakit

    mosaik pada tanaman cabai.

    2.  

    Secara praktis, hasil penelitian ini bisa dijadikan acuan atau referensi

    untuk mengembangkan teknik pengendalian penyakit mosaik.

  • 8/20/2019 cabai sulandari.pdf

    6/48

    6

    BAB II

    TINJAUAN PUSTAKA

    2.1 Karakteristik Tanaman Cabai

    Tanaman cabai merupakan tanaman yang menyerbuk sendiri (self –

     pollinated crop). Namun demikian, persilangan antar varietas secara alami sangat

    mungkin terjadi di lapangan yang dapat menghasilkan ras-ras cabai baru dengan

    sendirinya (Cahyono,2003), sehingga bisa juga terjadi penyerbukan silang. 

    Beberapa sifat tanaman cabai yang dapat digunakan untuk membedakan antar  

    varietas di antaranya adalah percabangan tanaman, pembungaan tanaman, ukuran

    ruas, dan tipe buahnya (Prajnanta,1999).

    Bunga pada tanaman cabai terdapat pada ruas batang dan jumlahnya

     bervariasi antara 1-8 bunga tiap ruas tergantung pada spesiesnya. C. annuum

    mempunyai satu bunga tiap ruas. Sedangkan cabai rawit (C. frutescens)

    mempunyai 1-3 bunga tiap ruas. Ukuran ruas tanaman cabai bervariasi dari

     pendek sampai panjang. Makin banyak ruas makin banyak jumlah bunganya, dan

    diharapkan semakin banyak pula produksi buahnya. Buah cabai bervariasi antara

    lain dalam bentuk, ukuran, warna, tebal kulit, jumlah rongga, permukaan kulit dan

    tingkat kepedasannya. Berdasarkan sifat buahnya, terutama bentuk buah, cabai

     besar dapat digolongkan dalam tiga tipe, yaitu : cabai merah, cabai keriting dan

    cabai paprika (Prajnanta,1999). Karakteristik agronomi cabai merah (besar)

     buahnya rata atau halus, agak gemuk, kulit buah tebal, berumur genjah, kurang

    tahan simpan dan tidak begitu pedas. Tipe ini banyak diusahakan di Jawa Timur,

    6

  • 8/20/2019 cabai sulandari.pdf

    7/48

    7

    Jawa Tengah, Bali dan Sulawesi. Sedangkan cabai merah keriting buahnya

     bergelombang atau keriting, ramping, kulit buah tip