cabai dan masyarakat minahasa

Download Cabai Dan Masyarakat Minahasa

Post on 28-Jan-2016

220 views

Category:

Documents

1 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

ulasan antropologi gizi tentang aspek sosial budaya pada pangan di Indonesia salah satunya adalah cabai

TRANSCRIPT

Cabai : Ciri Khas Masakan Minahasa Sulawesi Utara

Cabai : Ciri Khas Masakan Minahasa Sulawesi UtaraOleh :ISMI NURWAQIAH IBNUP1803214018MK Aspek Sosial Budaya Pangan dan GiziOleh Dr.dr.Burhanuddin BaharCabai rawit di Manado disebut rica. Pedagang di pasar Tomohon, Manado dan Tondano bisa menjual 40-90 kilogram cabai setiap hari. Karena masyarakat Manado meyakini pentingnya cabai sama dengan garam.

Hampir semua masakan khas Minahasa, etnis mayoritas di Sulawesi Utara, mengandung cabai. Kehadiran makanan pedas ini berkaitan dengan perebutan kekuasaan dan penyebaran agaram di sana beberapa abad silam.Ada dua sumber makanan Minahasa. Yaitu dari hutan pedalaman, mereka mendapatkan sayuran, satwa liar, dan ikan air tawar. Dari pesisir, ada ikan laut, kerang dan udang. Meski berbeda bahan, rasa keduanya sama-sama menyengat karena lumuran rica. Satwa liar seperti tikus, kelelawar, dan ular awalnya diburu untuk membasmi hama jagung dan padi. Sedikitnya 1 jenis tikus hutan yang mereka ketahui. Yang paling disukai adalah saluan-tikus pohon yang memiliki ekor dan perut putih. Semua hewan itu harus dimasak dengan cabai yang banyak untuk menghilangkan aroma tanah dan hutan.Makanya cabai selalu diburu, walaupun harganya melampaui 100 ribu per kilogram. Setiap bulan penduduk sulawesi utara menghabiskan 200-800 ton cabai, atau 15 gr perhari untuk satu orang, yang dipasok sekitar 30 ribu petani. Karena stok lokal sering kurang, cabai harus dikirim dari Gorontalo, bahkan Jawa Timur.

Sejarah Cabai di Sulawesi Utara

Cabai merah merupakan salah satu jenis tanaman dari suku terung-terungan (Solanaceae atau Nightshade). Tanaman ini merupakan tanaman semusim yang mudah tumbuh di dataran rendah maupun di dataran tinggi. Kebutuhan akan cabai ini semakin meningkat setiap tahunnya.Capsaisin adalah zat utama yang mengakibatkan rasa pedas pada cabai. Capsaisin yang telah diekstraksi dari cabai akan diperoleh dalam bentuk oleoresin. Oleoresin adalah suatu ekstrak berbentuk gel atau pasta yang memiliki kandungan utama dari bahan yang diekstrak. Selain digunakan sebagai bahan pangan yaitu sebagai flavour, oleoresin capsaicin juga dapat dimanfaatkan dibidang farmasi dalam pembuatan berbagai obat-obatan.

Kandungan capsaicin dalam Capsicum frutescens dalam kadar tertentu dapat bersifat toksik dan menimbulkan ancaman kesehatan. Ancaman kesehatan tersebut dapat berupa reaksi inflamasi, gangguan fungsi sel, bahkan sampai kematian sel. Selain capsaicin, beberapa senyawa yang terkandung dalam buah cabai rawit adalah alkaloid, flavonoid, dan sterol atau terpenoid. Biji cabai rawit mengandung beberapa senyawa golongan alkaloid yaitu solanine, solamidine, solamargine, solasodine, solasomine, serta mengandung capsacidin yang termasuk golongan steroid saponin. Pada kadar tertentu, senyawa tersebut di duga dapat bersifat toksik.

Hasil Penelitian TerkaitPemberian cabai rawit dapat meningkatkan jumlah nekrosis sel hepar dan meningkatkan kadar SGOT dan SGPT secara signifikan bila dibandingkan dengan pemberian tomat ranti (tanpa cabai rawit). Penambahan cabai rawit meningkatkan kerusakan struktur dan fungsi hepar yang diinduksi tawas.(Sulistyowati, dkk. Jurnal Kedokteran Brawijaya, Vol. 27, No. 3, Februari 2013)Pengaruh Diet Sambal Tomat Ranti pada Struktur dan Fungsi Hepar Tikus yang Diinduksi Tawas.

Efek bawang putih (Allium sativum) dan cabe jawa (Piper retrofractum Vahl.) terhadap jumlah neutrofil pada tikus yang diberi suplemen kuning telur (Utami, An Nisaa. 2009)Bawang putih (Allium sativum) dan cabe jawa (Piper retrofractum Vahl.) memiliki khasiat antioksidan yang dapat menghambat terjadinya stress oksidatif pada endotel pembuluh darah dalam proses aterosklerosis, sehingga akan menurunkan profil neutrofil yang berperan sebagai makrofag lipid. Kombinasi minyak atsiri bawang putih dan minyak atsiri cabe jawa dengan dosis 0,05 ml selama 3 minggu per sonde lambung tidak menurunkan jumlah neutrofil tikus wistar yang diinduksi dengan diet kuning telur Makanan Etnik Minahasa dan Kejadian Penyakit Jantung Koroneroleh Debbie Grace (KESMAS, Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 4, No. 1, Agustus 2009)Diketahui efek murni dari orang yang makan makanan babi putar dengan frekuensi > 2x/bulan mempunyai kemungkinan lebih besar 4,43 kali (95% CI: 1,55-12,65) untuk terkena PJK dibanding orang yang makan babi putar dengan frekuensi 1x/bulan. Setelah dikontrol oleh babi hutan, kotey/saut, merokok, usia, jenis kelamin dan hipertensi. Apabila dilakukan analisis penggabungan jenis makanan berisiko babi putar dengan beberapa jenis makanan lain yang mengandung rica-rica. (Cabe rawit/capsicum fretescens) yang sering dikonsumsi oleh masyarakat etnik Minahasa dan makanan yang berserat seperti sayur pait (daun pepaya). Hasilnya menunjukkan risiko babi putar agak menurun dibandingkan jika babi putar itu sendiri (2,87 kali lebih besar (OR=2,87 95%CI: 1,77-4,67).Cabe rawit mempunyai khasiat yang baik untuk kesehatan jantung, karena berfungsi sebagai antioksidan dan antikoagulan serta anti fibrinolitik. Namun, yang unik dari makanan etnik Minahasa ada beberapa jenis makanan yang terbuat dari jenis daging hewan yang tidak lazim dimakan oleh kebanyakan orang pada umumnya, yaitu antara lain kelelawar (Paniki), anjing (RW), tikus hutan dan sayur yang terbuat dari batang pisang (Saut/Kotey).

Identitas Minahasa: Sebuah Praktik Kuliner. Oleh Gabriele Weichart. Antropologi Indonesia 74, 2004Penggunaan cabai dalam jumlah banyak memang dilakukan di seluruh Indonesia, tetapi masyarakat Minahasa menggunakannya lebih sering dan lebih banyak daripada masyarakat lain. Makanan Minahasa dikenal karena kepedasannya sehingga para pengunjung yang datang dari luar dan diundang untuk bersantap bersamadan karena orang Minahasa tampaknya menyukai makanan lebih dari apa pun juga, pengunjung sulit sekali mengelak dari undangan semacam inidinilai berdasarkan kemampuan mereka mengatasi rasa tersebut. Pertanyaan yang sering ditanyakan adalah sudah bisa tahan makan makanan Minahasa? Jika jawabannya adalah ya, orang tersebut dianggap cocok hidup di Minahasa. Banyak orang Indonesia menganggap penggunaan cabai yang berlebihan (tentu dari sudut pandang mereka) oleh orang Minahasa sebagai bukti kesombongan dan kecenderungan untuk pamer.Di luar musim cabai, saat harga-harga melonjak tinggi, jumlah cabai yang digunakan dalam santapan sehari-hari dikurangi tetapi tetap tidak menghilang sama sekali. Seperti halnya nasi, cabai merupakan bumbu dasar yang harus ada di setiap waktu makan. Tidak mengherankan bahwa harga cabai dan beras merupakan topik diskusi favorit kaum perempuan yang bertanggung jawab atas tersedianya makanan untuk seluruh keluarga.