ca-nasofaring oke nesty

Download CA-Nasofaring Oke Nesty

Post on 13-Sep-2015

41 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

CA-Nasofaring Oke Nesty

TRANSCRIPT

Gejala Klinis

38

BAB IPENDAHULUAN

1.1 Latar BelakangKarsinoma Nasofaring merupakan tumor ganas yang paling banyak dijumpai di antaratumor ganas THT di Indonesia, dimana karsinoma nasofaring termasuk dalam lima besar tumorganas dengan frekuensi tertinggi, sedangkan di daerah kepala dan leher menduduki tempatpertama. Hampir 60 % tumor ganas kepala dan leher merupakan karsinoma nasofaring.Diagnosis dini menentukan prognosis pasien, namun cukup sulit dilakukan, karenanasofaring tersembunyi di belakang tabir langit-langit dan terletak di bawah dasar tenggorokserta berhubungan dengan banyak banyak daerah penting di dalam tengkorak dan ke lateral maupun ke posterior leher.Oleh karena letak nasofaring tidak mudah diperiksa oleh mereka yang bukan ahli,seringkali tumor ditemukan terlambat dan menyebabkan metastasis ke leher sering ditemukansebagai gejala pertama.Penanggulangan karsinoma nasofaring samapai saat ini masih merupakan suatu problem,hal ini karena etiologi yang masih belum pasti, gejala dini yang yang tidak khas serta letaknasofaring yang tersembunyi, sehingga diagnosis sering terlambatPada stadium dini, radioterapi masih merupakan pengobatan pilihan yang dapat diberikan secara tunggal dan memberikan angka kesembuhan yang cukup tinggi. Pada stadium lanjut, diperlukan terapi tambahan kemoterapi yang dikombinasikan dengan radioterapi.

1.2EpidemiologiInsidens terjadinya karsinoma nasofaring pada penduduk daratan cina bagian selatan masih menduduki tempat tertinggi yaitu dengan 2500 kasus baru pertahun untuk propinsi Guang-dong (Kwantung) atau prevalensi 39.84/100.000 penduduk.Ras mongoloid merupakan faktor dominan timbulnya kanker nasofaring, sehingga kekerapan cukup tinggi pada penduduk Cina bagian selatan, Hongkong, Vietnam, Thailand, Malaysia, Singapura dan Indonesia. Sedangkan insidens yang terendah pada bangsa Kaukasian,Jepang dan India.Di Indonesia frekuensi pasien ini hampir merata di setiap daerah dan berdasarkan pengamatan, pasien karsinoma nasofaring dari ras cina relative sedikit lebih banyak dari suku bangsa lainnya.Penderita karsinoma nasofaring lebih sering dijumpai pada pria dibanding pada wanita dengan rasio 2-3 : 1. Penyakit ini ditemukan terutama pada usia yang masih produktif (30-60 tahun), dengan usia terbanyak adalah 40-50 tahun.

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Karsinoma Nasofaring Karsinoma nasofaring (KNF) adalah tumor ganas yang tumbuh didaerah nasofaring dengan predileksi di fossa Rossenmuller dan atap nasofaring.

2.2 Anatomi dan Fisiologi Nasofaring

Nasofaring merupakan suatu rongga yang berbentuk kerucut dengan dinding kaku di atas, belakang dan lateral yang secara anatomi termasuk bagian faring.Dasarnya dibentuk oleh palatum molle.Batas Nasofaring : Superior : basis kranii, diliputi oleh mukosa dan fascia Inferior : bidang horizontal yang ditarik dari palatum durum ke posterior, bersifat subjektif karena tergantung dari palatum durum. Anterior : choane, oleh os vomer dibagi atas choane kanan dan kiri. Posterior : - Vertebra cervicalis I dan II Fascia space = rongga yang berisi jaringan longgar Mukosa lanjutan dari mukosa atas Lateral : - Mukosa lanjutan dari mukosa atas dan belakang Muara tuba eustachii Fossa rosenmulleri

Bangunan yang penting pada nasopharing Ostium tuba eustachii pars pharyngealTuba eustachii merupakan kanal yang menghubungkan kavum nasi dan nasofaring dengan rongga telinga tengah. Mukosa ostium tuba tidak datar tetapi menonjol seperti menara, disebut torus tubarius. Fossa rosenmulleri Merupakan dataran kecil dibelakang torus tubarius. Daerah ini merupakan tempat predileksi karsinoma nasofaring. Fornix nasofaringAdalah dataran disebelah atas torus tubarius, merupakan tempat tumor angiofibroma nasofaring Adenoid = tonsil pharyngeal = luskhaSecara teoritis adenoid akan hilang setelah pubertas karena adenoid akan mencapai titik optimal pada umur 12-14 tahun. Lokasi pada dinding superior dan dorsal nasofaring sebelah lateral bursa pharyngea. Fungsinya sebagai mekanisme pertahanan tubuh terhadap kuman-kuman yang lewat jalan napas hidung.

Nasofaring akan tertutup bila palatum molle melekat ke dinding posterior pada waktu menelan, muntah, mengucapkan kata-kata tertentu seperti hak dan akan terbuka pada saat respirasi.Fungsi Nasofaring : Sebagai jalan udara pada respirasi Jalan udara ke tuba eustachii Resonator Sebagai drainage sinus paranasal kavum timpani dan hidungSecret dari nasofaring dapat bergerak ke bawah karena : Gaya gravitasi Gerakan menelan Gerakan silia ( kinosilia ) Gerakan usapan palatum molle2.3 EtiologiBerkaitan antara virus Epstein-Barr dan konsumsi ikan asin dikatakan sebagai penyebab utama timbulnya penyakit ini. Karena pada semua pasien nasofaring didapatkan titer anti-virus EB yang cukup tinggi. Titer ini lebih tinggi dari titer orang sehat, pasien tumor ganas leher dan kepala lainnya, tumor organ tubuh lainnya, bahkan pada kelainan nasofaring sekalipun. Virus tersebut dapat masuk ke dalam tubuh dan tetap tinggal di sana tanpa menyebabkan suatu kelainan dalam jangka waktu yang lama. Untuk mengaktifkan virus ini dibutuhkan suatu mediator. Kebiasaan untuk mengkonsumsi ikan asin secara terus-menerus mulai dari masa kanak-kanak, merupakan mediator utama yang dapat mengaktifkan virus ini sehingga menimbulkan karsinoma nasofaring.

Ada beberapa mediator yang dianggap berpengaruh untuk menimbulkan terjadinya karsinoma nasofaring :1. Zat nitrosaminDidalam ikan asin terdapat zat nitrosamin yang merupakan mediator penting. Zat nitrosamin juga ditemukan dalam ikan / makanan yang diawetkan di Greenland. Juga pada Qualid yaitu daging kambing yang dikeringkan di Tunisia, dan sayuran yang difermentasi ( asinan ) serta taoco di Cina 2. Keadaan sosio-ekonomi yang rendah, lingkungan dan kebiasaan hidup.Udara yang penuh asap di rumah-rumah yang kurang baik ventilasinya di Cina, Indonesia dan Kenya, meningkatkan jumlah kasus Karsinoma Nasofaring. Di Hongkong, pembakaran dupa rumah-rumah juga dianggap berperan dalam menimbulkan Karsinoma Nasofaring.3. Sering kontak dengan zat-zat yang dianggap karsinogen, seperti : Benzopyrene Benzoanthracene Gas kimia Asap industri Asap kayu Beberapa ekstrak tumbuhan4. Ras dan keturunanRas Kulit putih sering terkena penyakit ini. Di asia terbanyak adalah bangsa Cina, baik yang Negara asalnya maupun yang perantauan. Ras melayu yaitu Malaysia dan Indonesia termasuk yang agak banyak terkena penyakit ini.5. Radang kronis daerah nasofaringDianggap dengan adanya peradangan, mukosa nasofaring menjadi lebih rentan terhadap karsinogen lingkungan.

2.4 Gejala Klinis

Menegakkan diagnosis sedini mungkin sangat penting. Untuk itu diperlukan pengetahuan tentang gejala dini dari karsinoma nasofaring dan juga perluasannya, baik regional maupun metastase jauh. Akan tetapi tumor induk nasofaring boleh dikatakan sedikit sekali memberikan tanda yang jelas bahkan sudah memberi gejala-gejala sekunder yang nyata di tempat lain. Karena gejala tumor tidak nyata, sedangkan gejala sekunder yang seringkali lebih menonjol, maka mengakibatkan penderita datang ke dokter dalam keadaan sudah stadium agak lanjut. Kadang penderita datang pada stadium dini, tetapi gejala yang dikeluhkan sangat umum, sehingga tidak terpikir bahwa gejala itu adalah gejala karsinoma nasofaring.7Gejala-gejala tersebut ditentukan oleh hubungan anatomik nasofaring dengan organ sekitarnya, yaitu hidung, tuba eustachius, telinga, kelenjar limfe regional, dan dasar tengkorak.Gejala-gejala yang ditimbulkan oleh karsinoma nasofaring antara lain:1. Gejala Telingaa. Kataralis/oklusi tuba eustachiusPada umumnya karsinoma nasofaring bermula di fossa Rossenmuller, pertumbuhan tumor dapat menyebabkan penyumbatan muara tuba, sehingga mengakibatkan keluhan rasa penuh di telinga, gemrebeg, tinitus, gangguan pendengaran, rasa tidak nyaman di telinga sampai rasa nyeri di telinga (otalgia). Gejala ini merupakan gejala dini dari karsinoma nasofaring.7,24Gambar 5 Tumor nasofaring yang menutupi tuba Eusthachius, yang bertanda panahb. Otitis Media Serosa dan dapat berlanjut sampai terjadi perforasi dan gangguan pendengaran. 2. Gejala Hidunga. EpistaksisDinding tumor biasanya rapuh sehingga iritasi ringan saja dapat mengakibatkan perdarahan. Keluarnya darah biasanya berulang-ulang , jumlahnya sedikit dan bercampur dengan ingus, sehingga berwarna merah jambu.

b. Sumbatan HidungSumbatan hidung yang menetap terjadi akibat pertumbuhan tumor ke dalam rongga nasofaring dan menutupi koana. Gejala menyerupai pilek kronis kadang disertai gangguan penciuman dan adanya ingus kental.Gejala hidung ini merupakan gejala dini yang hanya berupa keluhan pilek yang lama, keluar ingus yang banyak, dapat nanah encer, kental atau berbau. Oleh karena itu ditekankan, harus dicurigai adanya karsinoma nasofaring bila ada gejala berikut:a. Bila penderita pilek-pilek lama, lebih dari 1 bulan, terutama pada penderita usia lebih 40 tahun, sedang pada pemeriksaan hidung tampak kelainan.b. Bila penderita pilek-pilek keluar ingus kental, berbau busuk, lebih-lebh kalau ada titik atau garis-garis darah, tanpa tampak adanya kelainan di hidung dan sinus paranasal.c. Pada penderita tua, usia lebih dari 40 tahun, sering keluar darah dari hidung atau mimisen. Pemeriksaan tekanan darah normal dan pada pemeriksaan hidung tidak ada kelainan.7Gejala telinga dan hidung bukan merupakan gejala yang khas pada penderita karsinoma nasofaring karena juga dijumpai pada infeksi biasa, misalnya pilek kronis, sinusitis, dan lain-lain. Epistaksis juga dijumpai pada anak yang sedang menderita radang. Namun jika keluhan ini timbul berulang kali, tanpa penyebab yang jelas, atau menetap walaupun telah diberikan pengobatan, harus waspada dan segera melakukan pemeriksaan yang lebih teliti terhadap nasofaring sampai terbukti bahwa bukan karsinoma nasofaring penyebabnya.73. Gejala NeurologiKarsinoma nasofaring dapat menyebabkan berbagai les