buku penghubung 2

Click here to load reader

Post on 09-Jul-2016

29 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

ini buku penghubung dan komunikasi

TRANSCRIPT

PENDAHULUAN

A.Latara Belakang

Penerapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan pada era globalisasi dan pasar bebas dewasa ini dihadapkan pada kenyataan perubahan kultur masyarakat yang tidak menguntungkan. Hal ini ditandai dengan terjadinya hubungan yang tidak linier antara kemajuan pendidikan dan kemajuan masyarakat, apa yang terjadi di masyarakat sulit diikuti oleh dunia pendidikan, maka wajar jika terjadi kesenjangan. Bertitk tolak dari kenyataan itu, untuk membangun pendidikan pada Satuan Pendidikan Dasar perlu di bangun dengan meletakkan pembangunan pendidikan pada empat pilar berikut:

Belajar untuk mengetahui (learning to know);

Belajar melakukan (learning to do);

Belajar hidup dalam kebersamaan (learning to live together); dan

Belajar menjadi diri sendiri (learning to be).

Kultur seperti inilah yang perlu dikembangkan dalam pembangunan manusia Indonesia pada Satuan Pendidikan Dasar, karena sesungguhnya aspek kultural dari kehidupan manusia jauh lebih penting daripada pertumbuhan ekonomi. Guna mewujudkan semua itu, kita perlu berpikir, berbuat, dan bertindak sesuai hal-hal berikut: Visi Departemen Pendidikan Nasional

Visi Departemen Pendidikan Nasional adalah terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Sejalan dengan Visi Pendidikan Nasional tersebut, Depdiknas berhasrat untuk pada tahun 2025 menghasilkan INSAN INDONESIA CERDAS DAN KOMPETITIF (Insan Kamil / Insan Paripurna). Yang dimaksud dengan insan Indonesia cerdas adalah insan yang cerdas secara komprehensif, yang meliputi cerdas spiritual, cerdas emosional, cerdas sosial, cerdas intelektual, dan cerdas kinestetis.

Visi Depdiknas lebih menekankan pada pendidikan transformatif yang menjadikan pendidikan sebagai motor penggerak perubahan dari masyarakat berkembang menuju masyarakat maju. Pembentukan masyarakat maju selalu diikuti oleh proses transformasi struktural, yang menandai suatu perubahan dari masyarakat yang potensi kemanusiannya kurang berkembang menuju masyarakat maju dan berkembang yang mengaktualisasikan potensi kemanusiannya secara optimal. Bahkan di era global sekarang, transformasi itu berjalan dengan sangat cepat yang kemudian mengantarkan pada masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge based society).

Di dalam masyarakat berbasis pengetahuan, peranan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat dominan. Masyarakat Indonesia yang indeks teknologinya masih rendah belum secara optimal memanfaatkan Iptek sebagai penggerak utama (prime mover) perubahan masyarakat. Pendidikan memfasilitasi peningkatan indeks teknologi tersebut. Namun demikian, peningkatan indeks teknologi tidak semata-mata ditentukan oleh pendidikan, melainkan juga oleh transfer teknologi yang biasanya menyertai investasi. Oleh karena itu, kebijakan pendidikan harus sinkron dengan kebijakan investasi. Untuk itu, pendidikan harus terus-menerus melakukan adaptasi dan penyesuaian dengan gerak perkembangan ilmu pengetahuan modern dan inovasi teknologi maju, sehingga tetap relevan dan kontekstual dengan perubahan zaman. Pendidikan bertugas untuk menyiapkan peserta didik agar dapat mencapai peradaban yang maju melalui perwujudan suasana belajar yang kondusif, aktivitas pembelajaran yang menarik dan mencerahkan, serta proses pendidikan yang kreatif.

Pendidikan juga menciptakan kemandirian baik pada individu maupun bangsa. Pendidikan yang menumbuhkan jiwa kemandirian menjadi sangat penting justru ketika dunia dihadapkan pada satu sistem tunggal yang digerakkan oleh pasar bebas. Bangsa Indonesia sulit bertahan jika tidak memiliki kemandirian karena hidupnya semakin tergantung pada bangsa-bangsa yang lebih kuat. Selain itu, pendidikan harus menjadi bagian dari proses perubahan bangsa menuju masyarakat madani, yakni masyarakat demokratis, taat, hormat, dan tunduk pada hukum dan perundang-undangan, melestarikan keseimbangan lingkungan, dan menjunjung tinggi hak asasi manusia.

Misi Departemen Pendidikan Nasional

Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Misi Pendidikan Nasional adalah:

1. Mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi seluruh rakyat Indonesia;

2. Membantu dan memfasilitasi pengembangan potensi anak bangsa secara utuh sejak usia dini sampai akhir hayat dalam rangka mewujudkan masyarakat belajar;

3. Meningkatkan kesiapan masukan dan kualitas proses pendidikan untuk mengoptimalkan pembentukan kepribadian yang bermoral;

4. Meningkatkan keprofesionalan dan akuntabilitas lembaga pendidikan sebagai pusat pembudayaan ilmu pengetahuan, keterampilan, pengalaman, sikap, dan nilai berdasarkan standar nasional dan global; dan

5. Memberdayakan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan berdasarkan prinsip otonomi dalam konteks Negara Kesatuan RI.

Selaras dengan Misi Pendidikan Nasional tersebut, Depdiknas untuk tahun 2005-2009 menetapkan Misi sebagai berikut: MEWUJUDKAN PENDIDIKAN YANG MAMPU MEMBANGUN INSAN INDONESIA CERDAS KOMPREHENSIF DAN KOMPETITIF. Untuk mewujudkan misi tersebut, Sekolah perlu menetapkan beberapa strategi dan program yang disusun berdasarkan suatu skala prioritas. Salah satu bentuk dari prioritas tersebut adalah penggunaan dana APBS dan dana masyarakat yang lebih ditekankan pada: (1) Upaya pemerataan dan perluasan akses pendidikan; (2) Peningkatan mutu, relevansi, dan daya saing keluaran pendidikan; dan (3) Peningkatan tata kelola, akuntabilitas, dan citra publik pengelolaan pendidikan. Untuk kebutuhan itulah BUKU PENGHUBUNG penting diwujudkan oleh setiap Satuan pendidikan Dasar. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

Pemberlakuan KTSP sesungguhnya merupakan pengejawantahan dari pelaksanaan dan pengembangan kurikulum, proses pendidikan dan pembelajaran, serta penilaian. Ketiga komponen tersebut merupakan komponen penting yang perlu dituangkan dalam Rencana Strategis Penyusunan Kurikulum Sekolah Dasar. Kurikulum Satuan Pendidikan Dasar merupakan penjabaran dari tujuan pendidikan (sekolah) yang selanjutnya menjadi landasan operasional pada pada keseluruhan proses pendidikan. Proses pendidikan dan pembelajaran merupakan upaya nyata untuk mencapai tujuan yang dirumuskan dalam kurikulum tersebut. Sedangkan penilaian merupakan alat ukur untuk mengukur dan menilai tingkat pencapaian tujuan pendidikan dan pembelajaran. Selain itu, penilaian dapat pula digunakan sebagai umpan balik, pengambilan keputusan, dan perbaikan proses pendidikan dan pembelajaran yang telah dilakukan. Oleh karena itu, penerapan, pelaksanaan, dan pengembangan Kurikulum Satuan Pendidikan Dasar, proses pendidikan dan pembelajaran, serta penilaian yang baik menjadi indikator penting untuk mengukur pencapaian visi sekolah.

Rencana Strategis Penyusunan Kurikulum Satuan Pendidikan Dasar ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Kepala Sekolah. Surat Keputusan tersebut dibuat dengan memedomani prosedur yang berlaku dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar. Dengan demikian, menyusun dan menetapkan Kurikulum Satuan Pendidikan Dasar yang sesuai dengan KTSP.

Kurikulum Satuan Pendidikan Dasar tersebut disusun sebagai hasil dari proses dinamika pendidikan yang sangat cepat dan akan digelar secara total mulai tahun pelajaran 2007/2008. Kurikulum Satuan Pendidikan Dasar yang tersusun merupakan pedoman untuk memberikan arah pada pelaksanaan seluruh kegiatan proses pendidikan yang akan dilaksanakan oleh seluruh jajaran civitas sekolah. Oleh karena itu, Kurikulum Satuan Pendidikan Dasar yang disusun mutlak memerlukan suatu pemikiran dan penilaian integral, baik secara kualitatif maupun kuantitatif oleh pihak yang berkompeten.B.Penyelenggaraan Pendidikan

Secara teoretis ada dua jenis penyelenggaraan pendidikan, yakni pendagogi dan andragogi. Pendagogi adalah suatu ilmu seni mengajar - murid diperlakukan sebagai kanak-kanak, karena dianggap tidak memiliki pengetahuan dan pengalaman. Sebaliknya andragogi suatu ilmu dan cara mengajar yang memperlakukan anak didiknya sebagai manusia dewasa. Sistem pengajaran kanak-kanak mengharuskan tersedianya guru-guru yang memiliki paradigma pemikiran, bahwa pendidikan adalah wilayah yang dapat dicapai melalui latihan, pengawasan yang ketat terhadap anak didik dan evaluasi hasil pembelajaran. Setidaknya, pola seperti ini seringkali dipakai oleh tenaga pendidik pada Satuan Pendikan Dasar, hal ini dipakai pendidik dengan asumsi bahwa:

Peserta didik perlu mengetahui alasan mengapa mereka harus belajar. Sehingga peserta didik dapat menentukan berapa jauh mempelajari objek belajarnya.

Peserta didik perlu dibantu dengan terus dievaluasi untuk pemecahan masalah yang susah terselesaikan.

Pendidikan dasar dianggap baik dan berhasil ketika persoalan yang dipelajari memiliki nilai langsung , sehingga dapat terukur prestasinya.

Peserta didik harus difasilitasi agara terlibat dalam perencanaan dan evaluasi hasil pembelajaran.

Cactatan kesalahan pada anak didik, dapat dijadikan salah satu landasan untuk tersus belajar memperbaikaninya.

Peserta didik dipola menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan kelak menjadi warga negara yang kriritis, demokratis serta bertanggungjawab.

C.Maksud dan Tujuan

Secara konseptual penulisan BUKU PENGHUBUNG (Komunikasi Guru dan Orang Tua Murid) bagi satuan pendidikan dasar ini berdasar pada keyakinan, bahwa satuan pendidikan dasar merupakan institusi terdepan dalam melakukan inovasi pembelajaran. Diharapkan buku penghubung ini menjadi media lan

View more