buku bsoekidjo

128
Beranda Tentang Kontak Saling Berbagi kumpulan makalah, file, puisi dan cerpen,, Berbagi fiLe " file PLS " Tulisan Lain-Lain Home resume buku Resume buku KesMas : Prof. Dr. Soekidjo Notoatmodjo (bag.1) Jumat, 01 Juni 2012 Resume buku KesMas : Prof. Dr. Soekidjo Notoatmodjo (bag.1) Resume buku KesMas : Prof. Dr. Soekidjo Notoatmodjo (bag.1) : resume buku kesehatan masyarakat ini sengaja aku Cari artikel.

Upload: dwi-rezqika

Post on 05-Dec-2014

31 views

Category:

Documents


0 download

DESCRIPTION

DFDFDSFDFDFDFDFFFFDFFSDSD CD FGDF DFDV DFDFDCCSK NSGHAGSA KSLAKSLASAJ

TRANSCRIPT

Page 1: Buku Bsoekidjo

Beranda Tentang Kontak

Saling Berbagi

kumpulan makalah, file, puisi dan cerpen,,

Berbagi fiLe " file PLS " Tulisan Lain-Lain

Home resume buku Resume buku KesMas : Prof. Dr. Soekidjo Notoatmodjo (bag.1)

Jumat, 01 Juni 2012

Resume buku KesMas : Prof. Dr. Soekidjo Notoatmodjo (bag.1)

Resume buku KesMas : Prof. Dr. Soekidjo Notoatmodjo (bag.1) : resume buku kesehatan masyarakat ini sengaja aku posting buat adeg-adeg angkatanku nanti dalam menempuh mata kuliah kesehatan masyarakat oleh Pak Hendra ^_^ . biar gag frustasi kayak aku yg harus ngetik buku setebal itu ... hhe

BAB 1KESEHATAN MASYARAKAT

Cari artikel.

Page 2: Buku Bsoekidjo

A.   Sekelumit Sejarah Kesehatan Masyarakat

Membicarakan kesehatan masyarakat tidak terlepas dari dua tokoh metologi Yunani, yakni

Asclepius dun Higia. Berdasarkan cerita mitos Yunani tersebut Asclepius disebutkan sebagai

seorang dokter pertama yang tampan dan pandai meskipun tidak disebutkan sekolah atau

pendidikan yang telah ditempuhnya, tetapi diceritakan bahwa ia dapat mangobati penyakit dan

bahkan melakukan bedah berdasarkan prosedur prosedur tertentu (surgical procedure) dengan

baik.

Higea, seorang asistennya, yang kemudian diceritakan sebagai istrinya, juga telah

melakukan upaya-upaya kesehatan. Beda antara Asclepius dengan Higeia dalam pendekatan/

penanganan tnasalah kesehatan sebagai berikut: 1) Asclopus melakukan pendekatan (pengobatan

penyakit) setelah penyakit tersebut terjadi pada seseorang. 2) Higeia mengajarkan kepada

pengikutnya dalam pendekatan masalah kesehatan malalui ‘hidup seimbang’, yaitu menghindari

makanan/minuman beracun, makan makanan yang bergizi (baik), cukup istirahat, dan melakukan

olahraga. Apabila orang sudah jatuli sakit, Higeia lebih menganjurkan melakukan upaya-upaya

sacara alamiah untuk menyembuhkan penyakitnya tersebut, antara lain lebih baik dengan

memperkuat tubuhnya dengan makanan yang baik, daripada dengan pengobatan/ pembedahan.

Dalam perkembangan selanjutnya, seolah-olah timbul garis pemisah antara kedua

kelompok profesi, yakni pelayanan kesehatan kuratif (curative health care), dan pelayanan

pencegahan atau preventif (preventive health care). Kedua kelompok ini dapat dilihat perbedaan

pendekatan yang dilakukan antara lain sebagai berikut.

Pertama, pendekatan kuratif pada umumnya dilakukan terhadap sasaran secara individual,

kontak terhadap sasaran (pasien) pada umumnya hanya sekali saja. Jarak antara petugas

kesehatan (dokter, drg, dan sebagainya) dengan pasien atau sasaran-cenderung jauh. Sedangkan

pendekatan preventif, sasaran atau pasien adalah masyarakat (bukan perorangan) masalah-

masalah yang ditangani pada umumnya juga masalah-masalah yang menjadi masalah

masyarakat, bukan masalah individu. Hubungan antara petugas kesehatan dengan masyarakat

(sasaran) lebih bersifat kemitraan, tidak seperti antara dokter-pasien.

Kedua, pendekatan kuratif cenderung bersifat-reaktif artinya kelompok ini pada umumnya

hanya menunggu masalah datang. Seperti dokter yang menunggu pasien datang di Puskesmas

atau tempat praktik. Kalau tidak ada pasien datang, berarti tidak ada masalah maka selesailah

tugas mereka bahwa masalah kesehatan adalah adanya penyakit. Sedangkan kelompok preventif

Page 3: Buku Bsoekidjo

lebih menggunakan pendekatan proaktif, artinya tidak menunggu adanya masalah, tetapi mencari

masalah. Petugas kesehatan masyarakat tidak hanya menunggu pasien datang di kantor atau di"

tempat praktik mereka, tetapi harus turun ke masyarakat mencari dan mengidentifikasi masalah

yang ada di masyarakat, dan melakukan tindakan.

Ketiga, pendekatan kuratif cenderung melihat dan menangani klien atau pasien lebih

kepada sistem biologis manusia atau pasien hanya dilihat secara partial, padahal manusia terdiri

dari kesehatan bio-psikologis dan sosial, yang terlihat antara aspek satu dengan yang lainnya.

Sedangkan pendekatan preventif melihat klien sebagai makhluk yang utuh, dengan pendekatan

yang holistik. Terjadinya penyakit tidak semata-mata karena terganggunya sistem biologi,

individual, tetapi dalam konteks yang luas, aspek biologis, psikologis dan sosial. Dengan

demikian pendekatannya pun tidak individual dan partial, tetapi harus secara menyeluruh atau

holistik.

Page 4: Buku Bsoekidjo

B.   Perkembangan Kesehatan Masyarakat

Sejarah panjang perkembangan masyarakat, tidak hanya dimulai pada munculnya ilmu

pengetahuan saja, melainkan sudah dimulai sebelum berkembangnya ilmu pengetahuan modern.

Oleh sebab itu, akan sedikit diuraikan perkembangan kesehatan masyarakat sebelum

perkembangan ilmu pengetahuan (pre-scientific period) dan sesudah ilmu pengetahuan itu

berkembang (scientific period).

a.       Periode Sebelum Ilmu Pengetahuan

Dari kebudayaan yang paling luas yakni Babylonia, Mesir, Yunani, dan Roma telah tercatat

bahwa manusia telah melakukan usaha untuk penanggulangan masalah-masalah kesehatan

masyarakat dan penyakit. Telah ditemukan pula bahwa pada zaman tersebut terdapat dokumen-

dokumen tertulis, bahkan peraturan-peraturan tertulis yang mengatur tentang pembuangan air

limbah atau drainase pemukiman pembangunan kota, pengaturan air minum, dan sebagainya.

Dari catatan-catatan tersebut dapat dilihat bahwa masalah kesehatan masyarakat khususnya

penyebaran penyakit menular sudah begitu meluas dan dahsyat. Namun, upaya pemecahan

masalah kesehatan masyarakat secara menyeluruh belum dilakukan pada zaman itu.

b.      Periode Ilmu Pengetahuan

Bangkitnya ilmu pengetahuan pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19 mempunyai

dampak yang luas terhadap segala aspek kehidupan mansuia, termasuk kesehatan. Di samping

itu, pada abad ilmu pengetahuan ini juga mulai ditemukan berbagai macam penyebab penyakit

dan vaksin sebagai pencegah penyakit.

Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 mulai dikembangkan pendidikan untuk tenaga

kesehatan yang profesional. Pada tahun 1893 John Hopkins, seorang pedagang wiski dari

Baltimore Amerika mempelopori berdirinya universitas, dan di dalamnya terdapat sekolah

(fakultas) kedokteran. Mulai tahun 1908 sekolah kedokteran mulai menyebar ke Eropa, Canada,

dan sebagainya. Dari kurikulum sekolah-sekolah kedokteran tersebut terlihat bahwa kesehatan

masyarakat sudah diperhatikan Mulai tahun kedua para mahasiswa sudah mulai melakukan

kegiatan penerapan ilmu di masyarakat. Pengembagan kurikulum sekolah kedokteran sudah

didasarkan pada to adumsi bahwa penyakit dan kesehatan itu merupakan basil interaksi yang

dinamis antara faktor genetik, lingkungan fisik, lingkungan sosial (termasuk kondisi kerja),

kebiasaan perorangan dan pelayanan kedokteran/kesehatan.

Page 5: Buku Bsoekidjo

Dan segi pelayanan kesehatan masyarakat,  pada tahun 1855 pemerintah Amerika

membentuk Departemen Kesehatan yang pertama kali. Fungsi departemen ini adalah

menyelenggrakan pelayanan kesehatan bagi penduduk (public), termasuk perbaikan dan

pengawasan sanitasi lingkungan.

C.   Kesehatan Masyarakat di Indonesia

Sejarah perkembangan kesehatan masyarakat di Indonesia dimulai sejak pemerintahan

Belanda abad ke-16. Kesehatan masyarakat di Indonesia pada waktu itu dimulai dengan adanya

upaya pemberantasan cacar dan kolera sangat ditakuti masyarakat pada waktu itu. Kolera masuk

di Indonesia tahun 1927 dan tahun 1937, terjadi wabah kolera eltor di Indonesia, kemudian pada

tahun 1948 cacar masuk ke Indonesia. Melalui Singapura dan mulai berkembang di Indonesia.

Sehingga berasal dari wabah kolera tersebut maka pemerintah Belanda pada waktu itu

melakukan upaya-upaya kesehatan masyarakat.

Namun demikian di bidang kesehatan masyarakat yang lain, pada tahun 1807 pada waktu

pemerintahan Gubernur Jenderal Daendels, dilakukan pelatihan dukun banyi dalam praktik

persalinan. Upaya ini dilakukan dalam rangka penurunan angka kematian bayi yang tinggi pada

waktu itu. Akan tetapi upaya ini tidak berlangsung lama, karena langkanya tenaga pelatih

kebinanan, kemudian baru pada tahun 1930 dimulai lagi dengan didafaftarnya para dukun bayi

sebagai penolong dan perawatan persalinan. Selanjutnya baru pada tahun 1952 pada zaman

kemerdekaan pelatihan secara cermat dukun bayi tersebut dilaksanakan lagi.

Pada tahun 1922 pes masuk Indonesia dan pada tahun , 1934, dan 1935 terjadi epidemi di

beberapa tempat, tama di pulau Jawa. Kemudian mulai tahun 1935 dilakukan ram pemberantasan

pes ini, dengan melakukan penyemtan DDT terhadap rumah-rumah penduduk dan juga inasi

massal. Tercatat sampai pada tahun 1941, 15.000.000 Wang telah memperoleh suntikan

vaksinasi. Pada tahun 1925 Kydrich seorang petugas kesehatan pemerintah Belanda melakukan

pengamatan terhadap masalah tingginya angka kematian dan kesakitan di Banyumas-Purwokerto

pada waktu. Dari hasil pengamatan dan analisisnya ia menyimpulkan bahwa penyebab tingginya

angka kematian dan kesakitan itu adalah karena jeleknya kondisi sanitasi lingkungan.

Masyarakat pada waktu itu membuang kotorannya di sembarang tempat, seperti di kebun, di kali,

di selokan, bahkan di pinggir jalan, padahal mereka mengambil air minum juga dari kali.

Selanjutnya ia berkesimpulan bahwa kondisi sanitasi lingkungan ini disebabkan karena perilaku

Page 6: Buku Bsoekidjo

penduduk. Oleh sebab itu, untuk memulai upaya kesehatan masyarakat Hydrich mengembangkan

daerah percontohan dengan melakukan 'propaganda' pendidikan) penyuluhan kesehatan. Sampai

sekarang usaha Hydrich ini dianggap sebagai awal kesehatan masyarakat di Indonesia.

Memasuki zaman kemerdekaan, salah satu tonggak panting perkembangan kesehatan

masyarakat di Indonesia adalah diperkenalkannya Konsep Bandung (Bandung '1(zrt) pada tahun

1951 oleh Dr. Y. Leimena dan dr yang Selanjutnya dikenal dengan Patah-Leimena Konsep ini

mulai diperkenalkan bahwa dalam pelayanan kesehatan masyarakat, aspek kuratif dan preventif

tidak dapat dipisahkan. Hal ini berarti dalam mengembangkan sistem pelayanan kesehatan di

Indonesia kedua aspek ini tidak boleh dipisahkan, baik di rumah sakit maupun di Puskesmas.

Pada tahun 1968 dalam rapat kerja kesehatan nasional, dicetuskan bahwa Puskesmas

merupakan sistem pelayanan kesehatan terpadu, yang kemudian dikembangkan oleh pemerintah

(Departemen Kesehatan) menjadi Pusat Pelayanan Kesehatan Masyakarat (Puskesmas).

Puskemas disepakati sebagai suatu unit pelayanan kesehatan yang memberikan pelayanan kuratif

dan preventif wore terpadu, menyeluruh dan mudah dijangkau, dalam wilayah kerja kecamatan

atau sebagian kecamatan di kota madya atau kabupaten. Kegiatan pokok Puskesmas mencakup:

1.      Kesehatan ibu dan anak.

2.      Keluarga Berencana.

3.      Gizi.

4.      Kesehatan lingkungan.

5.      Pencegahan penyalit menular.

6.      Penyuluhan kesehatan masyarakat.

7.      Pengobatan.

8.      Perawatan kesehatan masyarakat.

9.      Usaha kesehatan gizi.

10.  Usaha kesehatan sekolah.

11.  Usaha kesehatan jiwa

12.  Laboratorium

13.  Pencatatan dan pelaporan.

Pada tahun 1969, sistem Puskesmas hanya disepakati 2 yakni tipe A dan B, di mana tipe

A dikelola oleh dokter, sedangkan tipe B hanya dikelola oleh seorang paramedis saja. Dengan

Page 7: Buku Bsoekidjo

adanya perkembangan tenaga medis, maka akhirnya pada tahun 1979 tidak diadakan perbedaan

Puskesmas tipe A dan tipe B, hanya ada satu tipe Puskesmas saja, yang dikepalai oleh seorang

dokter. Pada tahun 1979 juga dikembangkan satu piranti manajerial guna penilaian Puskemas,

yakni stratifikasi Puskesmas sehingga dibedakan adanya:

a.       Strata satu : Puskesmas dengan prestasi sangat baik.

b.      Strata dua : Puskesmas dengan prestasi rata-rata atau standar.

c.       Strata tiga : Puskesmas dengan prestasi di bawah rata-rata.

Selanjutnya Puskesmas juga dilengkapi dengan dua piranti manajerial yng lain, yakni micro

planning untuk perencanaan dan, lokakarya mini (lokmin) untuk pengoperasian kegiatan dan

pengembangan kerja sama tim. Akhirnya pada tahun 1984 tanggung jawab Puskesmas

ditingkatkan lagi, dengan berkembangnya program paket terpadu kesehatan dan keluarga beren-

cana.

Program ini mencakup:

a.       Kesehatan ibu dan anak.

b.      Keluarga berencana.

c.       Gizi.

d.      Penanggulangan penyakit diare.

e.       Imunisasi

Puskemas mempunyai tanggung jawab dalam pembinaan dan pengembangan Posyandu di

wilayah kerjanya masin.gmasing.

Tujuan dikembangkannya Posyandu sejalan dengan tujuan pembangunan kesehatan yakni:

a.       Mempercepat penurunan angka kematian bayi dan anak balita, dan angka kelahiran.

b.      Mempercepat penerimaan norma keluarga kecil bahagian dan sejahtera (NKKBS).

c.       Berkembangnya kegiatan-kegiatan masyarakat sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya,

Pelayanan Posyandu menganut sistem 5 meja dengan urutan sebagai berikut:

Meja 1.         Pendaftaran pengunjung Posyandu dilayani oleh kader kesehatan.

Meja 2.         Penimbangan bayi, balita dan ibu hamil, dilayani oleh kader kesehatan.

Meja 3.         Pencatatan dan hasil penimbangan dari Meja 2 di dalam KMS, dilayani oleh kader kesehatan.

Meja 4.         Penyuluhan kepada ibu bayi/balita dan ibu hamil, oleh kader kesehatan.

Page 8: Buku Bsoekidjo

Meja 5.         Pemberian imunisasi, pemasangan alat kontrasepsi, atau pengobatan bagi yan€ memerlukan, dan

periksa hamil, dilayani olel kader kesehatan. Bila ada kasus- yang tidal dapat ditangani dirujuk

ke Puskesmas.

                                            

D.   Definisi Kesehatan Masyarakat

Kesehatan masyarakat adalah sama dengan sanitasi. Upaya memperbaiki dan

meningkatkan sanitasi lingkungan merupakan kegiatan kesehatan masyarakat. Kemudian pada

akhir abad ke-18 dengan diketemukan bakteri-bakteri penyebab penyakit den beberapa jenis

imunisasi, kegiatan kesehatan masyarakat adalah pencegahan penyakit yang terjadi dalam

masyarakat melalui perbaikan sanitasi lingkungan dan pencegahan penyakit Melalui imunisasi.

Dari pengalaman-pengalaman praktik kesehatan masyarakat yang telah berjalan sampai

pada awal abad ke-20, Winslow (1920) akhirnya membuat batasan kesehatan masyarakat yang

sampai sekarang masih relevan, yakni: kesehatan masyarakat (public health) adalah ilmu dan

seni: mencegah penyakit memperpanjang hidup, dan meningkatkan kesehatan, melalui Usaha-

usaha Pengorganisasi Masyarakat.

Dari perkembangan batasan kesehatan masyarakat tersebut dapat disimpulkan bahwa

kesehatan masyarakat itu meluas dari hanya berurusan sanitasi, teknik sanitasi, ilmu kedokteran

kuratif, ilmu kedokteran pencegahan sampai dengan ilmu sosial, dan itulah cakupan ilmu

kesehatan masyarakat.

E.    Ruang Lingkup Kesehatan Masyarakat

Seperti disebutkan di atas bahwa kesehatan masyarakat adalah ilmu dan seni. Oleh sebab

itu, ruang lingkup kesehatan masyarakat dapat dilihat dari dua hal tersebut. Sebagai ilmu,

kesehatan masyarakat pada mulanya hanya mencakup 2 disiplin keilmuan, yakni ilmu bio-medis

(medikal biologi) dan ilmu-ilmu sosial (social science). Akan tetapi-sesuai dengan

perkembangan ilmu, maka disiplin ilmu yang mendasari ilmu kesehatan masyarakat pun

berkembang. Sehingga sampai pada saat itu disiplin ilmu yang mendasari ilmu kesehatan

masyarakat antara lain, mencakup ilmu biologi, ilmu kedokteran, ilmu kimia, fisika, ilmu

lingkungan, sosiologi, antropologi, psikologi, ilmu pendidikan, dan sebagainya. Oleh sebab itu,

ilmu kesehatan masyarakat- merupakan ilmu yang multidisiplin.

Page 9: Buku Bsoekidjo

Secara garis besar, disiplin ilmu yang menopang ilmu kesehatan masyarakat, atau sering

disebut sebagai pilar utama ilmu kesehatan masyarakat ini, antara lain:

a.             Epidemiologi.

b.            Biostatistik/statistik kesehatan.

c.             Kesehatan lingkungan.

d.            Pendidikan kesehatan dan ilmu perilaku

e.             Administrasi kesehatan masyarakat.

f.             Gizi masyarakat.

g.            Kesehatan kerja.

Masalah kesehatan masyarakat adalah multi kausal maka pemecahannya harus secara

multidisiplin. Secara garis besar, upaya-upaya yang dapat dikategorikan sebagai seni atau

penerapan ilmu kesehatan masyarakat antara lain:

a.             Pemberantasan penyakit, baik menular maupun tidak menular.

b.            Perbaikan sanitasi lingkungan.

c.             Perbaikan lingkungan pemukiman.

d.            Pemberantasan vektor.

e.             Pendidikan (penyuluhan) kesehatan masyarakat.

f.             Pelayanan kesehatan ibu dan anak.

g.            Pembinaan gizi masyarakat.

h.            Pengawasan sanitasi tempat-tempat umum.

i.              Pengawasan obat dan minuman.

j.              Pembinaan peran serta masyarakat, dan sebagainya.

Page 10: Buku Bsoekidjo

BAB 2EPIDEMIOLOGI

A.   Pengertian dan Peranan Epidemiologi

Pada mulanya epidemiologi diartikan sebagai studi tentang epidemi. Hal ini berarti

epidemiologi hanya mempelajari penyakit-penyakit menular saja, tetapi dalam perkembangan

selanjutnya epidemiologi juga mempelajari penyakit-penyakit non-infeksi, sehingga

epidemiologi dapat diartikan sebagai studi tentang penyebaran penyakit pada manusia di dalam

konteks lingkungannya. Mencakup juga studi tentang pola-pola penyakit serta pencarian

determinan-determinan penyakit tersebut. Dapat disimpulkan bahwa epidemiologi adalah ilmu

yang mempelajari penyakit tersebut.

Dalam batasan epidemiologi ini sekurang-kurangnya mencakup 3 elemen, yakni:

a.             Mencakup semua penyakit

Epidemiologi mempelajari semua penyakit, baik penyakit infeksi maupun non-infeksi,

seperti kanker, penyakit kekurangan gizi (malnutrition), kecelaan lalu lintas maupun kecelakaan

kerja; sakit jiwa dan sebagainya. Bahkan di negara-negara maju epidemiologi ini mencakup juga

kegiatan pelayanan kesehatan.

b.            Populasi

Apabila kedokteran klinik berorientasi pada gambarangambaran penyakit individu, maka

epidemiologi ini memusatkan perhatiannya pada distribusi penyakit pada populasi (masyarakat)

atau kelompok.

c.             Pendekatan ekologi

Frekuensi dan distribusi penyakit dikaji dari latar belakang pada kesehatan lingkungan

manusia baik lingkungan fisik, biologis, maupun sosial. Hal inilah yang dimaksud pendekatan

ekologis. Terjadinya penyakit pada seseorang dikaji dari manusia dan total lingkungannya.

1.            Penyebaran Penyakit

Di dalam epidemiologi biasanya timbul pertanyaan yang  perlu direnungkan, yakni:

1)      Siapa (who). Siapakah yang menjadi sasaran penyebaran penyakit itu atau orang yang terkena

penyakit.

2)      Di mana (where). Di mana penyebaran atau terjadinya penyakit.

3)      Kapan (when). Kapan penyebaran atau terjadinya penyakit tersebut.

Page 11: Buku Bsoekidjo

Dengan kata lain terjadinya atau penyebaran suatu penyakit ditentukan oleh 3 faktor utama,

yakni: orang, tempest dan waktu.

2.            Kegunaan

Peranan epidemiologi, khususnya dalam konteks program kesehatan dan keluarga

berencana adalah sebagai tool (alat) dan sebagai metode atau pendekatan. Epidemiologi sebagai

alat diartikan bahwa dalam melihat suatu masalah KB-Kes selalu mempertanyan siapa yang

terkena masalah, di mana dan bagaimana penyebaran masalah, serta kapan penyebaran masalah

tersebut terjadi?

Demikian pula pendekatan pemecahan masalah tersebut selalu dikaitkan dengan masalah,

di mana atau dalam lingkungan bagaimana penyebaran masalah serta bilamana masalah tersebut

terjadi. Kegunaan lain dari epidemiologi khususnya dalam program kesehatan adalah dapat

digunakan dalam perhitungan-perhitungan: prevalensi, kasus baru, case fatality rate, dan

sebagainya.

Page 12: Buku Bsoekidjo

B.   Metode-metode Epidemiologi

Di dalam epidemiologi terdapat 2 tipe pokok pendekatan atom metode, yakni:

1.            Epidemiologi Deskritif (Descriptive Epidemiology)

Di dalam epidemiologi deskriptif dipelajari bagaimana frekuensi penyakit berubah menurut

perubahan variable-variable epidemiologi yang terdiri dari orang (person), tempat (place), dan

waktu (time).

Orang (Person)

Di sini akan dibicarakan peranan umur, jenis kelamin, kolas sosial, pekerjaan, golongan

etnik, status perkawinan, besarnya keluarga, struktur keluarga, dan paritas.

(1)         Umur

Umur adalah variable yang selalu diperhatikan di dalam penyelidikan-penyelidikan

epidemiologi. Angka-angka kesakitan maupun kematian di dalam hampir semua keadaan

menunjukkan hubungan dengan umur.

(2)         Jenis kelamin

Angka-angka dari luar negeri menunjukkan bahwa angka kesakitan lebih tinggi di kalangan

wanita sedangkan angka kematian lebih tinggi di kalangan pria pada semua golongan umur.

Untuk Indonesia masih perlu dipelajari lebih lanjut. Perbedaan angka kematian ini, dapat

disebabkan oleh faktor-faktor intrinsik.

(3)         Kelas sosial

Kelas sosial adalah variabel yang sering dilihat hubungannya dengan angka kesakitan atau

kematian, variabel ini menggambarkan tingkat kehidupan seseorang. Kelas sosial ini ditentukan

oleh unsur-unsur, seperti pendidikan, pekerjaan, penghasilan, dan banyak contoh ditentukan pula

tempat tinggal. Karena hal-hal ini dapat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan termasuk

pemeliharaan kesehatan maka tidaklah mengherankan apabila kita melihat perbedaan-perbedaan

dalam angka kesakitan atau kematian antara berbagai kelas sosial.

(4)         Jenis pekerjaan

Jenis pekerjaan dapat berperan di dalam timbulnya penyakit melalui beberapa jalan, yakni:

a.       adanya faktor-faktor lingkungan yang langsung dapat menimbulkan kesakitan seperti bahan-

bahan kimia, gas beracun, radiasi, benda-benda fisik yang dapat menimbulkan kecelakaan, dan

sebagainya.

Page 13: Buku Bsoekidjo

b.      situasi pekerjaan yang penuh dengan stres (yang telah dikenal sebagai faktor yang berperan pada

timbulnya hipertensi, dan ulcus lambung).

c.       ada tidaknya ‘gerak badan' di dalam pekerjaan; di Amerika Serikat ditunjukkan bahwa penyakit

jantung koroner sering ditemukan di kalangan mereka yang mempunyai pekerjaan di mana

kurang adanya gerak badan.

d.      karena berkerumum, dalam satu tempat yang relatif sempit maka dapat terjadi proses penalaran

penyakit antara para pekerja.

e.       penyakit, karena cacing tambang telah lama diketahui 'terkait pengan pekerjaan di tambang.

Penelitian mengenai hubungan jenis pekerjaan dan pola kesakitan banyak dikerjakan

Indonesia terutama pola penyakit kronis, misalnya penyakit jantung, tekanan darah tinggi, dan

kanker.

(5)         Penghasilan

Yang sering dilakukan ialah menilai hubungan antara tingkat penghasilan dengan

pemanfaatan pelayanan kesehatan maupun pencegahan. Seseorang kurang memanfaatkan

pelayanan kesehatan yang ada mungkin oleh karena tidak mempunyai cukup uang untuk

membeli obat, membayar transpor, dan sebagainya.

(6)         Golongan etnik

Berbagai golongan etnik dapat berbeda di dalam kebiasaan makan, susunan genetika, gaya

hidup, dan sebagainya yang dapat mengakibatkan perbedaan di dalam angka kesakitan atau

kematian.

(7)         Status perkawinan

Dari penelitian telah ditunjukkan bahwa terdapat hubungan antara angka kesakitan maupun

kematian dengan status kawin tidak kawin, cerai, dan jada; angka kematian karena penyakit-

penyakit tertentu maupun kematian karena semua sebab makin meninggi dalam urutan tertentu.

(8)         Besarnya keluarga

Di dalam keluarga besar dan miskin, anak-anak dapat menderita karena penghasilan

keluarga harus digunakan oleh banyak orang.

(9)         Struktur keluarga

Struktur keluarga dapat mempunyai pengaruh terhadap kesakitan (penyakit menular dan

gangguan gizi) dan pemanfaatan pelayanan kesehatan. Suatu keluarga besar karena besarnya

tanggungan secara relatif mungkin harus tinggal berdesak-desakan di dalam rumah yang luasnya

Page 14: Buku Bsoekidjo

terbatas hingga memudahkan penularan penyakit menular di kalangan anggota-anggotanya

karena persediaan harus digunakan untuk anggota keluarga yang besar maka mungkin pula tidak

dapat membeli cukup makanan yang bernilai gizi cukup atau tidak dapat memanfaatkan fasilitas

kesehatan yang tersedia; dan sebagainya.

Page 15: Buku Bsoekidjo

(10)     Paritas

Tingkat paritas telah menarik perhatian para peneliti dalam hubungan kesehatan si ibu

maupun si anak. Dikatakan umpamanya terdapat kecenderungan kesehatan ibu yang berparitas

rendah lebih baik dari yang berparitas tinggi, terdapat asosiasi antara tingkat paritas dan penyakit

penyakit tertentu, seperti asma bronchiole, ulkus peptikum, pilorik, stenosis, dan seterusnya.

Tetapi kesemuanya masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

Tempat (Place)

Pengetahuan mengenai distribusi geografis dari suatu penyakit berguna untuk perencanaan

pelayanan kesehatan dan dapat memberikan penjelasan mengenai etiologi penyakit.

Pentingnya peranan tempat di dalam mempelajari etiologi suatu penyakit menular dapat

digambarkan dengan jelas pada penyelidikan suatu wabah, yang akan diuraikan nanti.

Migrasi antardesa tentunya dapat pula membawa akibat terhadap pola dan penyebaran

penyakit menular di desa-desa yang bersangkutan maupun desa-desa di sekitarnya.

Peranan migrasi atau mobilitas geografis di dalam mengubah pola penyakit di berbagai

daerah menjadi lebih penting dengan makin lancarnya perhubungan darat, udara, dal laut.

Lihatlah umpamanya penyakit demam berdarah.

Walaupun telah diadakan standardisasi berdasarkan umur dan jenis kelamin,

memperbandingkan pola penyakit antardaerah di Indonesia dengan menggunakan data yang

berasal dari fasilitas-fasilitas kesehatan, harus dilaksanakan dengan hati-hati, sebab data tersebut

belum tentu representatifdan baik kualitasnya.

Waktu (Time)

Mempelajari hubungan antara waktu dan penyakit merupakan kebutuhan dasar di dalam

analisis epidemiologis. Oleh karena itu, perubahan-perubahan penyakit menurut waktu

menunjukkan adanya perubahan faktor-faktor etiologis. Melihat panjangnya waktu di mana

terjadi perubahan angka kesakitan maka dibedakan (1) fluktuasi jangka pendek, di mana

perubahan angka kesakitan berlangsung beberapa jam, hari, minggu, dan bulan. (2) perubahan-

perubahan secara siklus di mana perubahan-perubahan angka kesakitan terjadi secara berulang-

ulang dengan antara beberapa hari, beberapa bulan (musiman), tahunan, beberapa tahun, dan (3)

perubahan-perubahan angka kesakitan yang berlangsung dalam periode waktu yang panjang,

bertahun-tahun atau puluhan tahun, yang disebut 'secular trends.

Page 16: Buku Bsoekidjo

Fluktuasi jangka pendek

Pola perubahan kesakitan ini terlihat pada epidemi umpamanya epidemi keracunan

makanan (beberapa jam), epidemi influenza (beberapa hari atau minggu), epidemi cacar

(beberapa bulan).

Fluktuasi jangka pendek atau epidemi ini memberikan petunjuk bahwa:

1)      penderit terserang penyakit yang sama dalam waktu bersamaan atau hampir bersamaan waktu

inkkubasi rata-rata pendek.

2)      Perubahan perubahan secara siklus

Perubahan-perubahan secara siklus

Perubahan secara siklus ini didapatkan pada keadaan di mana timbulnya dan memuncaknya

angka-angka kesakitan atau kematian terjadi berulang-ulang tiap beberapa bulan, tiap tahun, atau

tiap beberapa tahun. Peristiwa semacam irii dapat terjadi baik pada penyakit infeksi maupun -

pada penyakit bukan infeksi.

Timbulnya atau memuncaknya angka kesakitan atau kematian suatu penyakit yang

ditularkan melalui vektor secara siklus ini adalah berhubungan dengan (1) ada tidaknya keadaan

yang memungkinkan transmisi penyakit oleh vektor yang bersangkutan, yakni apakah

termperatur dan kelembaban memungkinkan transmisi, (2) adanya tempat perkembangbiakan

alami dari vektor sedemikian banyak untuk menjamin adanya kepadatan vektor yang perlu dalam

transmisi. (3) selalu adanya kerentanan dan atau (4) adanya kegiatan-kegiatan berkala dari orang-

orang yang rentan yang menyebabkan mereka terserang oleh 'vektor bornedisease' tertentu. (5)

tetapnya kemampuan agen infektif untuk menimbulkan penyakit. (6) adanya faktor-faktor lain

yang belum diketahui. Hilangnya atau berubahnya siklus berarti adanya perubahan dart salah

satu atau lebih hal-hal tersebut.

Sebagai salah satu sebab yang disebutkan ialah berkurangnya penduduk yang kebal

(meningkatnya kerentanan) dengan asumsi faktor-faktor lain tetap. Banyak penyakit yang belum

diketahui etiologinya menunjukkan variasi angka kesakitan secara bermusim. Tentunya

observasi ini dapat membantu di dalam memulai dicarinya etiologi penyakit-penyakit tersebut

dengan catatan bahwa interpretasinya sulit karena banyak keadaan yang berperan terhadap

timbulnya penyakit pada perubahan musim, perubahan populasi hewan, perubahan tumbuh-

tumbuhan yang berperan tempat perkembangbiakan. Perubahan dalam susunan reservoir

Page 17: Buku Bsoekidjo

penyakit, perubahan dalam berbagai aspek perilaku manusia, seperti yang menyangkut

pekerjaan, makanan, rekreasi dan sebagainya.

Sebab-sebab timbulnya dan memuncaknya beberapa penyakit karena gangguan gizi secara

bermusim belum dapat diterangkan secara jelas.

Variasi musiman ini telah dihubung-hubungkan dengan perubahan secara bermusim dari

produksi, distribusi dan konsumsi dari bahan-bahan makanan yang mengandung bahan yang

dibutuhkan untuk pemeliharaan gizi, maupun keadaan kesehatan individu-individu terutama

dalam hubungan dengan penyakit infeksi dan sebagainya.

Page 18: Buku Bsoekidjo

2.            Epidemiologi Analitik (Analytic Epidemiology)

Pendekatan atau studi ini dipergunakan untuk menguji data dan informasi-informasi yang

diperoleh studi epidemiologi deskriptif.

Ada tiga studi tentang epidemiologi ini, yaitu:

1)      Studi riwayat kasus (case history studies). Dalam studi ini akan dibandingkan antara dua

kelompok orang, yakni kelompok yang terkena penyakit dengan kelompok orang tidak terkena

(kelompok kontrol).

2)      Studi Kohort (kohort studies). Dalam studi ini sekelompok orang dipaparkan (exposed) pada

suatu penyebab penyakit (agent). Kemudian, diambil sekelompok orang lain yang mempunyai

ciri-ciri yang sama dengan kelompok pertama, tetapi tidak dipaparkan atau dikenakan pada

penyebab penyakit. Kelompok kedua ini disebut kelompok kontrol. Setelah beberapa saat yang

telah ditentukan kedua kelompok tersebut dibandingkan, dicari perbedaan antara kedua

kelompok tersebut bermakna atau tidak.

3.            Epidemiologi Eksperimen

Studi ini dilakukan dengan mengadakan eksperimen (percobaan) kepada kelompok subjek,

kemudian dibandingkan dengan kelompok kontrol (yang tidak dikenakan percobaan).

C.   Pengukuran Epidemiologi

Di dalam uraian terdahulu telah diuraikan bagian dari epidemiologi yang bertujuan melihat

bagaimana penyebaran kesakitan dan kematian menurut sifat-sifat orang, tempat dan waktu. Di

dalam uraian ini akan diuraikan berbagai ukuran kesakitan dan kematian yang lazim dipakai

dalam survei atau penyelidikan-penyelidikan epidemiologi. Ukuran dasar yang akan dibicarakan

di sini adalah 'rate'.

Dalam hubungan dengan kesakitan akan dibicarakan insidence rate, prevalence rate (point

period prevalence rate), at-lock rate, dan dalam hubungan dengan kematian akan dibicarakan

crude death rate, disease specific  rate dan adjusted death rate. Sebelum membicarakan masing-

masing tersebut perlu dikemukakan hal-hal sebagai berikut:

1)      Untuk penyusunan rate dibutuhkan tiga elemen, yakni (a) jumlah orang yang terserang penyakit

atau yang meninggal, (b) jumlah penduduk dari mana penderita berasal (reference population),

dan (c) waktu atau periode di mana orang-orang terserang penyakit.

Page 19: Buku Bsoekidjo

2)      Apabila pembilang terbatas pada umur, seks, atau golongan. tertentu maka penyebut juga harus

terbatas pada umur, seks, atau golongan yang sama.

3)      Bila penyebut terbatas pada mereka yang dapat terserang atau terjangkit penyakit, maka

penyebut tersebut dinamakan populasi yang mempunyai risiko (population at risk).

D.   Epidemiologi Penyakit-penyakit Menular

1.            Konsep Dasar Terjadinya Penyakit

Suatu penyakit timbul akibat dari beroperasinya berbagai faktor baik dari agen, induk

semang atau lingkungan. Pendapat ini tergambar di dalam istilah yang dikenal luas dewasa ini,

penyebab majemuk (‘multiple causation of disease') sebagai an dari penyebab tunggal (‘single

causation’). Di dalam usaha ara ahli untuk mengumpulkan pengetahuan mengenai timbulnya

penyakit, mereka telah membuat model-model $timbulnya penyakit dan atas dasar model-model

tersebut dilakukanlah eksperimen terkendali untuk menguji sampai di mana kebenaran dari

model-model tersebut.

Tiga model yang dikenal dewasa ini ialah (1) segitiga epidemiologic (the epidemiologic

triangle), (2) jaring-jaring sebab akibat (the web of causation), dan (3) roda (the wheel).

Page 20: Buku Bsoekidjo

a.            Segitiga Epidemilogi

b.            Jaring-jaring sebab akibat

Menurut model ini perubahan dari salah satu faktor akan mengubah keseimbangan antara

mereka, yang berakibat bertambah atau berkurangnya penyakit yang bersangkutan.

Menurut model ini, suatu penyakit tidak bergantung pada satu sebab yang berdiri sendiri

melaninkan sebagai akibat dari serangkaian proses sebab dan akibat'. Dengan demikian  maka

timbulnya penyakit dapat dicegah atau dihentikan dengan memotong rantai pada berbagai titik.

c.             Roda

Model roda hanya memerlukan identifikasi dari berbagai faktor yang berperan dalam

timbulnya penyakit dengan tidak begitu mementingkan agent. Disini dipentingkan hubungan

antara manusia dengan lingkungan hidupnya. Besarnya peranan dari masing-masing lingkungan

bergantung pada penyakit yang bersangkutan. Sebagai contoh, peranan lingkungan biologis lebih

besar dari yang lainnya pada penyakit yang penularannya melalui vektor (vector home disease).

Page 21: Buku Bsoekidjo

2.            Penyakit menular

Yang dimaksud dengan penyakit menular adalah penyakit yang dapat ditularkan

(berpiundah dari orang yang satu ke orang yang lain, baik secara langsung maupun melalui

perantara). Penyakit menular ini ditandai dengan adanya (hadirnya) agent atau penyebab

penyakit yang hidup dan dapat berpindah.

Suatu penyakit dapat menular dari orang yang satu kepada yang lain karena 3 faktor

berikut:

a.             Agent (penyebab penyakit)

b.            Host (induk semang)

c.             Route of transmission (jalannya penularan).

Keadaan tersebut dapat dianalogikan seperti perkembangan suatu tanaman. Agent

diumpamakan sebagai biji, host sebagai tanah, dan route of transmission sebagai iklim

a.      Agent-agent infeksi (Penyebab infeksi)

Makhluk hidup sebagai pemegang peranan penting di dalam epidemiologi yang

merupakan penyebab penyakit dapat dikelompokkan menjadi:

1)      Golongan virus, misalnya influenza, trachoma, cacar dan sebagainya.

2)      Golongan riketsia, misalnya: tifus.

3)      Golongan bakteri, misalnya disentri.

4)      Golongan protozoa, misalnya malaria, filaria, schistosoma, dan sebagainya.

5)      Golongan jamur yakni bermacam-macam panu, kurap, dan sebagainya.

6)      Golongan cacing, yakni bermacam-macam cacing perut seperti ascaris (cacing gelang), cacing

kremi, cacing pita, cacing tambang, dan sebagainya.

Agar agent atau penyebab penyakit menular ini tetap hidup (survive), maka perlu persyaratan-

persyaratan sebagai berikut:

1)      Berkembang baik.

2)      Bergerak atau berpindah dari induk semang.

3)      Mencapai induk semang baru.

4)      Menginfeksi induk semang baru. tersebut.

Kemampuan agent penyakit ini untuk tetap hidup pada lingkungan manusia adalah suatu

faktor penting dalam epidemiologi infeksi. Setiap bibit penyakit -(penyebab penyakit)

Page 22: Buku Bsoekidjo

mempunyai habitat sendiri-sendiri, sehingga ia dapat tetap hidup. Dari sini timbul istilah.

reservoir, yang diartikan sebagai berikut 1) Habitat, tempat bibit penyakit tersebut hidup dan

berkembang, 2) Survival, tempat bibit penyakit tersebut sangat tergantung pada habitat, sehingga

dapat tetap hidup.

Reservoir di dalam manusia

Penyakit-penyakit yang mempunyai reservoir dalam tubuh manusia antara lain, campak

(measles), cacar air (small pox), tifus (typhoid), meningitis, gonoirhoea, dan sifilis Manusia

sebagai reservoir dapat menjadi kasus yang aktif dan carrier.

Carrier

Carrier adalah orang yang mempunyai bibit penyakit dalam tubuhnya, tanpa menunjukkan

adanya gejala penyakit, tetapi orang tersebut dapat menularkan penyakitnya kepada orang lain.

Convalescant Carriers adalah orang masih Mengandung bibit penyakit setelah sembuh dari suatu

penyakit.

Page 23: Buku Bsoekidjo

Reservoir pada binatang

Penyakit-penyakit yang mempunyai reservoir pada binatang umumnya adalah penyakit

zoonosis. Zoonosis adalah penyakit pada binatang vertabrata yang dapat menular pada manusia.

Penularan penyakit-penyakit pada binatang ini melalui berbagai cara, yakni:

1)      Orang makan daging binatang yang menderita penyakit misalnya, cacing pita.

2)      Melalui gigitan binatang sebagai vektornya, misalnya pes melalui pinjal tikus, malaria, filariasis,

demam berdarah melalui gigitan nyamuk.

3)      Binatang penderita penyakit langsung menggigit orang, misalnya rabies.

Benda-benda mati sebagai reservoir

Penyakit-penyakit yang mempunyai reservoir pada benda-benda mati pada dasarnya adalah

saprofit hidup dalam tanah. Pada umumnya bibit penyakit ini berkembang biak pada lingkungan

yang cocok untuknya. Oleh karena itu, bila terjadi perubahan temperatur atau kelembaban dari

kondisi di mana ia dapat hidup, maka ia berkembang biak dan siap infektif. Contoh clostradium

tetani penyebab tetanus, C. otulinum penyebab keracunan makanan, dan sebagainya.

b.      Sumber infeksi dan penyebaran penyakit

Yang dimaksud sumber infeksi adalah semua benda, termasuk orang atau binatang yang

dapat melewatkan menyebabkan penyakit pada orang. Sumber penyakit ini mencakup juga

reservoir seperti telah dijelaskan sebelumnya.

Macam-macam penularan (mode of transmission) suatu penyakit bias dengan kontak

langsung dengan penderita, melalui pernapasan, infeksi, penetresi pada kulit dan infeksi melalui

placenta.

Page 24: Buku Bsoekidjo

c.    Faktor induk semang (host)

Terjadinya suatu penyakit (infeksi) pada seseorang ditentukan oleh faktor-faktor yang ada

pada induk semang itu sendiri. Dengan kata lain penyakit-penyakit dapat terjadi pada seseorang

tergantung/ditentukan oleh kekebalan/ resistensi orang yang bersangkutan.

d.   Pencegahan dan penanggulangan penyakit menular

Untuk pencegahan dan penanggulangan ini ada 3 pendekatan atau cara yang dapat

dilakukan:

a)      Eliminasi reservoir (sumber penyakit)

Eliminasi reservoir manusia sebagai sumber penyebaran penyakit dapat dilakukan dengan:

(1)   Mengisolasi penderita (pasien), yaitu menempatkan pasien di tempat yang khusus untuk

mengurangi kontak dengan orang lain.

(2)   Karantina, adalah membatasi ruang gerak penderita dan menempatkannya bersama-sama

penderita lain yang sejenis pada tempat yang khusus didesain untuk itu. Biasanya dalam waktu

yang lama, misalnya karantina untuk penderita kusta.

b)      Memutus mata rantai penularan

Meningkatkan sanitasi lingkungan dan higiene perorangan merupakan usaha yang penting

untuk memutuskan hubungan atau mata rantai penularan penyakit menular.

c)      Melindungi orang-orang (kelompok) yang rentan

Bayi dan anak balita merupakan kelompok usia yang rentan terhadap penyakit menular.

Kelompok usia yang rentan ini perlu perlindungan khusus (specific protection) dengan imunisasi,

balk imunisasi aktif maupun pasif. Obat-obat prophylacsis tertentu juga dapat mencegah

penyakit malaria, meningitis dan disentri baksilus.

Pada anak usia muda gizi yang kurang akan menyebabkan kerentanan pada anak tersebut.

Oleh sebab itu, meningkatkan gizi anak merupakan usaha pencegahan penyakit infeksi pada

anak.

E.         Imunisasi

1.            Pengertian

Imunisasi berasal dari kata imun, kebal atau resisten. Anak diimunisasi, berarti diberikan

kekebalan terhadap suatu penyakit tertentu. Anak kebal atau resisten terhadap suatu penyakit,

tetapi belum tentu kebal terhadap penyakit yang lain.

Page 25: Buku Bsoekidjo

2.            Macam Kekebabalan

Kekebalan terhadap suatu penyakit menular dapat digolongkan menjadi 2, yakni-

a.    Kekebalan tidak spesifik (non-spesifik resistance)

Yang dimaksud dengan faktor-faktor non-khusus adalah pertahanan tubuh pada manusia

yang secara alamiah dapat melindungi badan dari suatu penyakit,- misalnya; kulit, air mata,

cairan-cairan khusus yang ke luar dari perut (usus), adanya reflek-reflek tertentu misalnya batuk,

bersin dan sebagainya.

b.   Kekebalan spesifik (specipic resistance)

Kekebalan spesifik dapat diperoleh dari dua sumber, yakni:

(1)   Genetik

Kekebalan yang berasal dari sumber genetik ini biasanya berhubungan dengan ras (warna

kulit) dan kelompok-kelompok etnis, misalnya orang kulit hitam (Negro) cenderung lebih

resisten terhadap penyakit malaria jenis vivax.

Page 26: Buku Bsoekidjo

(2)   Kekebalan yang diperoleh (acquaied immunity)

`Kebebalan ini diperoleh dari luar tubuh anak atau orang yang bersangkutan. Kekebalan

dapat bersifat aktif, dan dapat bersifat pasif. Kekebalan aktif dapat diperoleh setelah orang

sembuh dari penyakit tertentu.

3.      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kekebalan

Banyak faktor yang mempengaruhi kekebalan, antara lain umur, seks, kehamilan, gizi, dan

trauma.

a.       Umur

Untuk beberapa penyakit tertentu pada bayi (anak balita), dan orang tua lebih mudah

terserang. Sedangkan pada usia sangat muda atau usia tua lebih rentan, kurang kebal terhadap

penyakit-penyakit menular tentu.

b.      Seks

Untuk penyakit-penyakit menular tententu seperti polio dan diphteia lebih parah terjadi

pada wanita daripada pria.

c.       Kehamilan

wanita yang sedang hamil pada umumnya lebih rentan terhadap penyakit-penyakit menular

tertentu misalnya penyakit polio, pnemonia, malaria serta amebiosis. Sebaliknya untuk penyakit

typhoid dan meningitis jarang terjadi pada wanita hamil.

d.      Gizi

Gizi yang baik pada umumnya akan meningkatkan resistensi tubuh terhadap penyakit-

penyakit infeksi, sebaliknya kekurangan gizi berakibat kerentanan seseorang terhadap penyakit

infeksi.

e.       Trauma

Stres salah satu bentuk trauma merupakan penyebab kerentanan seseorang terhadap suatu

penyakit infeksi tertentu.

Kekebalan masyarakat (heard immunity)

Kekebalan yang terjadi pada tingkat komuniti disebut ‘heard immunity'. Apabila heard

immunity di masyarakat randah, masyarakat tersebut akan mudah terjadi wabah, sebaliknya

apabila heard immunity tinggi, maka wabah jarang terjadi pada masyarakat tersebut.

Masa  inkubasi

Page 27: Buku Bsoekidjo

Masa inkubasi adalah jarak waktu dari mulai terjadinya infeksi di dalam diri orang sampai

dengan munculnya gejalagejala atau tanda-tanda penyakit pada orang tersebut. Tiap-tiap

penyakit infeksi mempunyai masa inkubasi berbeda-beda, mulai dari beberapa jam sampai

beberapa tahun.

4.            Jenis-jenis Imunisasi

Pada dasarnya ada 2 (dua) jenis imunisasi:

a.       Imunisasi pasif (pasive immunization)

Imunisasi pasif ini adalah 'inmuno globulin jenis imunisasi ini dapat mencegah penyakit campak

(measles) pada anak-anak.

b.      Imunisasi aktif (active immunization)

lmunisasi yang diberikan pada anak adalah:

         BCG, untuk penyakit TBC.

         DPT, untuk mencegah penyakit-penyakit diptheri, partusis dan tetanus.

         Polio, untuk mencegah penyakit poliomilitis.

         Campak, untuk mencegah penyakit campak (measles).

lmunisasi pada ibu hamil dan calon pengantin adalah Imunisasi tetanus toxoid. Imunisasi ini

untuk mencegah terjadinya tetanus pada bayi yang dilahirkan.

Page 28: Buku Bsoekidjo

5.   Tujuan Program Imunisasi

a.       Tujuan

Program imunisasi bertujuan untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian dari

penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi- Pada saat ini penyakit-penyakit tersebut adalah

disentri, tetanus, batuk rejan (pertusis), campak (measles), polio, dan tuberkulosis.

b.      Sasaran

         Bayi di bawah umur 1 tahun (0 - 11 bulan)

         Ibu hamil (awal kehamilan - 8 bulan).

         Wanita usia subur (calon mempelai wanita).

         Anak sekolah dasar kelas I dan VI.

c.       Pokok-pokok kegiatan

1.      Pencegahan terhadap-bayi (imunisasi lengkap)

2.      Pencegahan terhadap anak sekolah dasar

3.      Pencegahan lengkap terhadap ibu hamil dan PUS/calon mempelai wanita

4.      Jadwal pemberian imunisasi seperti terlihat pada bagan.

5.      Petunjuk pemberian vaksinasi diphteri, terutama pada anak SD, seperti yang sudah ditentukan.

6.      Pemantauan

Pemantauan harus dilakukan oleh semua petugas baik pimpinan program, supevisor dan

petugas paksinasi. Tujuan pemantauan untuk mengetahui:

a.       Sampai di mana keberhasilan kerja kita.

b.      Mengetahui permasalahan yang ada

c.       Hal-hal yang perlu dilakukan untuk memperbaiki program.

d.      Bantuan yang diharapkan oleh petugas tingkat bawah.

Page 29: Buku Bsoekidjo

Hal-hal yang perlu dipantau (dimonitor)

1)            Coverage dan drop out.

2)            Pengelolaan vaksin dan colk chain.

3)            Pengamatan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.

Dilihat dari waktu, maka pemantauan dapat dilakukan dalam: Pemantauan ringan dan

Pemantauan Bulanan.

Cara memantau cakupan imunisasi dapat dilakukan melalui beberapa cara antara lain:

         Cakupan dari bulan ke bulan dibandingkan dengan garis target, dapat digambarkan masing-

masing bulan atau dengan cara komulatif.

         Hasil cakupan per triwulan untuk masing-masing desa.,

Page 30: Buku Bsoekidjo

BAB 3STATISTIK KESEHATAN

A.   Pengertian, Tujuan dan Peranan Statistik

Secara umum arti statistik dibedakan menjadi dua bagian besar yaitu:

Arti sempit:

Merupakan data ringkasan berbentuk angka, misalnya: Jumlah karyawan BKKBN, jumlah

akseptor KB, jumlah peserta KB aktif di desa/kelurahan, jumlah balita yang ditimbang pada

bulan tertentu, jumlah kelompok penimbangan yang melapor pada bulan tertentu, jumlah

PPKBD/Sub PPKBD, dan lain sebagainya.

Arti luas:

Merupakan ilmu yang mempelajari cara pengumpulan, pengolahan, penyajian dan analisis

data termasuk cara pengambilan kesimpulan dengan memperhitungkan unsur ketidakpastian

berdasarkan konsep propabilitas.

1.            Konsep statistik

Merupakan suatu pendekatan modern untuk menyajikan mengenai konsep-konsep dasar

dan metode statistik secara lebih jelas dan langsung dapat membantu seseorang di dalam

pengembangan daya kritik dalam suatu kegiatan pengambilan keputusan dengan menggunakan

cara-cara kuantitatif.

Semua jenis pertanyaan tersebut membutuhkan suatu keputusan yang baik yang sudah

memikirkan mengenai untung dan ruginya. Di dalam sebagian besar kasus-kasus pekerjaan yang

kita alami sehari-hari, benefit dan cost adalah faktor utama yang poling diasosiasikan dengan

pengambilan suatu keputusan: Akan tetapi kenyataan yang kita hadapi adalah bahwa suatu

keputusan harus dibuat, walaupun dasar di dalam mengambil keputusan tersebut adalah sangat

lemah, hal ini oleh karena data-data yang diperlukan juga tidak lengkap.

Oleh karena itu, penggunaan statistik adalah penting sifatnya dalam rangka membantu

memberi bobot dalam mengambil keputusan. Dengan demikian apakah yang dibutuhkan oleh

statistik dalam usaha untuk membantu mengambil keputusan?

Yang dibutuhkan adalah:

Data statistik atau bilangan yang mewakili suatu perhitungan atau pengukuran suatu objek.

Dengan demikian, melalui teori serta metodologi dari statistik kita dapat membantu dan

Page 31: Buku Bsoekidjo

menentukan mengenai data yang harus dikompilasikan, bagaimana data tersebut dikumpulkan,

diolah disajikan, dan dianalisis, serta kemudian ditarik kesimpulan.

Statistik menurut definisi dibagi menjadi dua bagian atau sub-kategori:

(1)   Descriptive Statistic

Adalah penggunaan statistik untuk tujuan menggambarkan sesuatu yang spesifik saja, dan

tidak memikirkan mengenai implikasi atau kesimpulan yang mewakili sesuatu yang besar dan

umum. Cara penyajiannya dapat berbentuk grafik dan tabel-tabel.

(2)   Inferencial Statistic

Adalah suatu cara penggambaran suatu kesimpulan dari suatu set data yang sedang- diteliti

dan hasilnya dapat dibuat suatu generalisasi.

2.            Peranan Statistik

Manfaat dan peranan statistik adalah membantu pars pengelola dan pelaksana program KB-

Kes khususnya dalam mengambil keputusan yang selanjutnya dipakai dasar perencanaan,

pelaksanaan dan evaluasi berbagai kegiatan yang dilakukan.

Page 32: Buku Bsoekidjo

Statistik sebagai bahan perencanaan

Statistik seperti telah dijelaskan pada butir terdahulu adalah pengetahuan yang

berhubungan dengan pengumpulan data, pengolahan penganalisisan, penyajian dan penarikan

kesimpulan serta pembuatan keputusan berdasarkan data dan kegiatan analisis yang dilakukan.

Dengan kata lain, setiap data yang dibutuhkan adalah data yang dapat dipercaya dan tepat waktu.

Melalui data yang dapat dipercaya dan tepat waktu diharapkan seluruh kegiatan pengolahan data

akan menghasilkan informasi untuk mengambil suatu keputusan yang tepat. Kemungkinan-

kemungkinan penyimpangan yang telah dicoba untuk dieliminasi sekecil mungkin melalui

berbagai metode yang dikembangkan dalam statistik, akan sagat membantu dalam setiap

kegiatan perencanaan program.

Statistik sebagai bahan monitoring

Seperti telah tersebut dalam anti sempit bahwa statistik adalah data ringkasan berbentuk

angka, maka hal ini sangat membantu di dalam suatu kegiatan monitoring. Oleh karena secara

umum yang dilakukan dalam kegiatan monitoring adalah memonitor seluruh kekuatan dan

kelemahan program yang menyangkut berbagai variabel yang berbentuk data ringkasan.

Statistik sebagai bahan evaluasi

Dengan mengetahui berbagai data yang dapat dipercaya maka selanjutnya kita dapat

menganalisis dan memutuskan yang baik dan yang buruk. Selain itu melalui berbagai data yang

ada kita dapat membandingkan dan selanjutnya membuat suatu generalisasi dari sampel yang

kecil kepada populasi.

B.   Statistik Kesehatan

Statistik kesehatan adalah suatu cabang dari statistik yang berurusan dengan cara-cara

pengumpulan, kompilasi, pengolahan dan interpretasi fakta-fakta numerik sehubungan dengan

sehat dan sakit, kelahiran, kematian, dan faktor-faktor yang berhubungan dengan itu pada

populasi manusia. Apabila kegiatan pencatatan ini ditunjukan khusus pada kejadian-kejadian

kehidupan manusia tertentu, yakni: kelahiran, kematian, perkawinan, dan perceraian, disebut

statistik vital (vital statistics), atau sering juga disebut statistik kehidupan (bio statistic).

Statistik kesehatan mencakup juga statistik kehidupan, dan data .lain yang berkaitan dengan

kehidupan itu

C.   Pengolahan dan Analisis Data

Page 33: Buku Bsoekidjo

Pengolahan data statistik dapat dilakukan dengan cara manual atau dengan bantuan

perangkat lunak (software) komputer. Pengolahan data secara manual dewasa ini sudah jarang

dilakukan. Namun, untuk data yang berskala kecil dan dengan kelangkaan prasarana komputer

dan kemampuan (keterampilan) sumber daya manusia, pengolahan secara manual masih

digunakan (dilakukan).

D.   Penyajian Data

Cara penyajian data Pada umumnya dikelompokkan menjadi tiga, yakni:

1.      Penyajian dalam Bentuk Tekstular

Penyajian secara tesktular adalah penyajian data hasil penelitian dalam bentuk kalimat.

Misalnya: penyebaran penyakit malaria di daerah pedesaan pantai lebih tinggi bila dibandingkan

dengan penduduk pedesaan pedalaman. Penyajian data dalam bentuk tabel adalah suatu

penyajian yang sistematik dari data numerik, yang tersusun dalam kolom atau jajaran. Sedangkan

penyajian dalam bentuk grafik adalah suatu penyajian data secara visual. Penyajian hasil

penelitian kuantitatif yang sering menggunakan bentul tabel atau grafik, oleh sebab itu yang akan

diuraikan lebih lanjut dalam bab ini adalah kedua bentuk penyajian tersebut.

2.      Penyajian dalam-Bentuk Tabel

Berdasarkan penggunaannya, tabel dalam statistik dibedakan menjadi dua, yakni tabel

umum (master table) dan tabel khusus. Tabel umum dipergunakan untuk tujuan umum, dan tabel

khusus untuk tujuan khusus.

a.       Tabel Umum

Yang dimaksud tabel umum di sini adalah suatu tabel yang berisi seluruh data atau variabel

hasil penelitian.

b.      Tabel Khusus

Tabel khusus merupakan penjabaran atau bagian dari tabel umum. Ciri utama dari tabel

khusus ialah angka-angka dapat dibulatkan, dan hanya berisi beberapa variabel saja. Gunanya

tabel khusus ini antara lain untuk menggambarkan adanya hubungan atau asosiasi khusus, dan

menyajikan data yang terpilih (selective) dalam bentuk sederhana.

3.      Penyajian dalam Bentuk Grafik

Penyajian data secara visual dilakukan melalui bentuk grafik, gambar, atau diagram.

Ketentuan umum untuk membuat grafik, diagram, atau gambar data antara lain:

Page 34: Buku Bsoekidjo

a.       Judul grafik, diagram, gambar atau skema harus jelas dan tepat. Judul terletak di atas tengah

gambar atau grafik, dan menggambarkan ciri data, tempat dan tahun data tersebut diperoleh

(what, where and when).

b.      Garis horizontal maupun garis vertikal sebagai koordinat harus di atas agar garis kurva tampak

jelas.

c.       Skala pada grafik atau gambar harus ada catatan tentang satuan yang dipakai, misalnya tahun,

hari, kilogram, celcius, dan sebagainya.

d.      Apabila data dari grafik atau gambar tersebut diambil dari sumber lain (bukan hasil penelitian

sendiri), maka sumber data harus ditulis di bawah kiri grafik atau gambar tersebut.

E.         Ukuran-ukuran Statistik Kesehatan

Purata (rate) adalah ukuran umum yang sering digunakan dalam analisis statistik,

khususnya statistik kesehatan. Rate adalah suatu jumlah kejadian dihubungkan dengan populasi

yang bersangkutan.

Rate yang dihitung dari total populasi di dalam suatu area sebagai denominator (penyebut)

disebut crude rate atau angka kasar (purata kasar). Sedangkan rate yang dihitung dari kelompok

atau segmen tertentu disebut specific rate atau angka spesifik (purata spesifik).

Page 35: Buku Bsoekidjo

BAB 4MANAJEMAN KESEHATAN MASYARAKAT

A.   Pengertian Manajemen Kesehatan

Dalam kegiatan apa saja, agar kegiatan tersebut dapat mencapai tujuannya secara efektif

diperlukan pengaturan yang baik. Demikian juga kegiatan dan atau pelayanan kesehatan

masyarakat memerlukan pengaturan yang baik, agar tujuan tiap kegiatan atau program itu

tercapai dengan baik Prosess pengaturan kegiatan ilmiah ini disebut manajemen, sedangkan

proses untuk mengatur kegiatan-kegiatan atau pelayanan kesehatan masyarakat disebut

'Manajemen Pelayanan Kesehatan Masyarakat'.

Manajemen adalah suatu kegiatan untuk mengatur orang lain guna mencapai tujuan atau

menyelesaikan pekerjaan. Apabila batasan ini diterapkan dalam bidang kesehatan masyarakat

dapat dikatakan sebagai berikut. "Manajemen kesehatan adalah suatu kegiatan atau suatu seni

untuk mengatur para petugas kesehatan dan non-petugas kesehatan guna meningkatkan

kesehatan masyarakat melalui program kesehatan."

Dengan kata lain manajemen kesehatan masyarakat adalah penerapan manajemen umum

dalam sistem pelayanan kesehatan masyarakat sehingga yang menjadi objek atau sasaran

manajemen adalah sistem pelayanan kesehatan masyarakat. Sistem adalah suatu kesatuan yang

utuh, terpadu yang terdiri dari berbagai elemen (sub-sistem) yang saling berhubungan dalam

suatu proses atau struktur dalam upaya menghasilkan sesuatu atau mencapai suatu tujuan

tertentu. Oleh sebab itu, kalau berbicara sistem pelayanan kesehatan adalah struktur atau

gabungan dari sub-sistem dalam suatu unit atau' dalam suatu proses untuk mengupayakan

pelayanan kesehatan masyarakat baik preventif kuratif, promotif maupun rehabilitatif. Sehingga

sistem pelayanan kesehatan ini dapat berbentuk Puskesmas, Rumah Sakit, Balkesmas, dan unit-

unit atau organisasi-organisasi lain yang mengupayakan peningkatan kesehatan.

fungsi-fungsi manajemen itu pada garisnya terdiri dari:

a.             Perencanaan (Planning)

b.            Pengorganisasian (Organizing)

c.             Penyusunan personalia (Staffing)

d.            Pengkoordinasian (Coordinating)

e.             Penyusunan anggaran (Budgeting)

Page 36: Buku Bsoekidjo

B.   Perencanaan Kesehatan

Perencanaan adalah suatu kegiatan atau proses penganalisisan dan pemahaman sistem,

penyusunan konsep dan kegiatan yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan-tujuan demi

masa depan yang baik. Dari batasan ini dapat ditarik kesimpulan-kesimpulan antara lain:

a.       Perencanaan harus didasarkan kepada analisis dan pemahaman sistem dengan baik.

b.      Perencanaan pada hakikatnya menyusun konsep dan kegiatan yang akan dilaksanakan untuk

mencapai tujuan dan misi organisasi.

c.       Perencanaan secara implisit mengemban misi organisasi untuk mencapai hari depan yang lebih

baik.

Secara sederhana dan awam dapat dikatakan bahwa perencanaan adalah suatu proses yang

menghasilkan suatu uraian yang terinci dan lengkap tentang suatu program atau kegiatan yang

akan dilaksanakan. Oleh sebab itu, hasil proses perencanaan adalah `Rencana' (plan). Perencaan

atau rencana itu sendiri banyak macamnya, antara lain:

a)            Dilihat dari jangka waktu berlakunya rencana

1)      Rencana jangka pendek (Long term planning), yang berlaku antara 10-25 tahun.

2)      Rencana jangka menengah (Medium range planning), yang berlaku antara 5-7 tahun.

3)      Rencana jangka pendek (Short range planning), umumnya berlaku hanya untuk 1 tahun.

b)            Dilihat dari tingkatannya

1)      Rencana induk (masterplan), lebih menitikberatkan uraian kebijakan organisasi. Rencana ini

mempunyai tujuan jangka panjang dan mempunyai ruang lingkup yang luas.

2)      Rencana operasional (operational planning), lebih menitikberatkan pada pedoman atau petunjuk

dalam meIaksanakan suatu program.

3)      Rencana harian (Day to day planning) ialah rencana harian yang bersifat rutin.

c)            Ditinjau dari ruang lingkupnya

1)      Rencana strategis (strategi planning), berisikan uraian tentang kebijakan tujuan jangka panjang

dan waktu pelaksanaan yang lama. Model rencan.a ini sulit untuk diubah.

2)      Rencana taktis (tactical planning) salah rencana yang berisi uraian yang bersifat jangka pendek,

mudah menyesuaikan kegiatan-kegiatannya, asalkan tujuan tidak berubah.

3)      Rencana menyeluruh (comprehensive planning), ialah rencana yang mengandung uraian secara

menyeluruh dan lengkap.

Page 37: Buku Bsoekidjo

4)      Rencana terintegrasi (integrated planning), ialah rencana yang mengandung uraian yang

menyeluruh bersifat terpadu, misalnya dengan program lain di luar kesehatan.

Meskipun ada berbagai jenis perencanaan berdasarkan aspek-aspek tersebut di atas, namun

praktiknya sulit untuk dipisah-pisahkan seperti pembagian tersebut.

Page 38: Buku Bsoekidjo

1.            Proses Perencanaan

Perencanaan dalam suatu organisasi adalah suatu proses, dimulai dari identifikasi masalah,

penentuan prioritas masalah, perencanaan pemecahan masalah, implementasi (pelaksanaan

pemecahan masalah) dan evaluasi. Dari hasil evaluasi tersebut akan muncul masalah-masalah

baru, kemudian dari masalah-masalah tersebut dipilih prioritas masalah, dan selanjutnya kembali

ke siklus semula.

Di bidang kesehatan khususnya, proses perencanaan ini pada umumnya menggunakan

pendekatan pemecahan masalah (problem solving), seperti digambarkan di atas. Secara terinci

langkah-langkah perencanaan kesehatan adalah sebagai berikut :

a.      Indentifikasi Masalah

Perencanaan pada hakikatnya adalah suatu bentuk rancangan pemecahan masalah. Oleh

sebab itu, langkah awal dalam perencanaan kesehatan adalah mengidentifikasi masalah-masalah

kesehatan masyarakat di lingkungan unit organisasi yang bersangkutan.

b.      Menetapkan Prioritas Masalah

Kegiatan identifikasi masalah menghasilkan segudang masalah kesehatan yang menunggu

untuk ditangani. Oleh karena keterbatasan sumber daya baik biaya, tenaga, dan teknologi, maka

tidak semua masalah tersebut dapat dipecahkan sekaligus (direncanakan pemecahannya). Untuk

itu maka harus dipilih masalah yang mana yang 'fleksible' untuk dipecahkan. Proses memilih

masalah ini disebut memilih atau menetapkan prioritas masalah. Pemilihan prioritas dapat

dilakukan melalui 2 cara, yakni-.

c.       Menetapkan Tujuan

Menetapkan tujuan perencanaan pada dasarnya adalah membuat ketetapan-ketetapan

tertentu yang ingin dicapai oleh perencanaan tersebut. Penetapan tujuan yang baik apabila

dirumuskan secara konkret dan dapat diukur. Pada umumnya dibagi dalam tujuan umum dan

tujuan khusus.

a)      Tujuan Umum

Adalah suatu tujuan masih bersifat umum, dan masih dapat dijabarkan ke dalam tujuan-

tujuan khusus, dan pada umumnya masih abstrak.

Contoh:

Meningkatkan status gizi anak balita di Kecamatan Cibadak.

b)      Tujuan Khusus

Page 39: Buku Bsoekidjo

Adalah tujuan-tujuan yang dijabarkan dari tujuan umum. Tujuan khusus merupakan

jembatan untuk tujuan umum, artinya tujuan umum yang ditetapkan akan tercapai, apabila

tujuan-tujuan khususnya tercapai. Contoh: Apabila tujuan umum seperti contoh tersebut di atas

dijabarkan ke dalam tujuan khusus menjadi sebagai berikut:

         Meningkatnya perilaku ibu dalam memberikan makanan bergizi kepada anak balita.

         Meningkatnya jumlah anak balita yang ditimbang di Posyandu.

         Meningkatnya jumlah anak yang berat badannya naik dan sebagainya.

d.      Menetapkan Rencana Kegiatan

Rencana kegiatan adalah uraian tentang kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan untuk

mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan. Pada umumnya kegiatan mencakup 3 tahap

pokok, yakni:

         Kegiatan pada tahap persiapan, yakni kegiatan-kegiatan yang dilakukan sebelum kegiatan pokok

dilaksanakan, misalnya: rapat-rapat koordinasi, perizinan dan sebagainya.

         Kegiatan pada tahap pelaksanaan yakni kegiatan pokok program yang bersangkutan.

         Kegiatan pada tahap penilaian yakni kegiatan untuk  mengevaluasi seluruh kegiatan dalam

rangka pencapaian program tersebut.

e.       Menetapkan Sasaran (Target Group)

Sasaran (target group) adalah kelompok masyarakat tertentu yang akan digarap oleh

program yang direncanakan  tersebut. Sasaran program kesehatan biasanya dibagi dua, yakni:

(a)    Sasaran langsung, yaitu kelompok yang langsung dikenal oleh program. Misalnya kalau tujuan

umumnya: meningkatkan status gizi anak balita seperti tersebut di atas, maka sasaran

langsungnya adalah anak balita.

(b)   Sasaran tidak langsung, adalah kelompok yang menjadi sasaran antara program tersebut, namun

berpengaruh sekali terhadap sasaran langsung.

Misalnya, seperti contoh di atas, anak balita sebagai sasaran langsung sedangkan ibu anak

balita sebagai sasaran tidak langsung. Ibu anak balita, khususnya perilaku ibu dalam memberikan

makanan bergizi kepada anak sangat menentukan status gizi anak balita tersebut.

f.        Waktu

Waktu yang ditetapkan dalam perencanaan adalah sangat tergantung dengan jenis

perencanaan yang dibuat serta kegiatan-kegiatan yang ditetapkan dalam rangka mencapai tujuan.

Page 40: Buku Bsoekidjo

Oleh sebab itu, waktu dan kegiatan sebenarnya dapat dijadikan satu, dan disajikan di dalam

bentuk matriks, yang disebut 'Gant Chart'.

g.      Organisasi dan Staf

Dalam bagian ini digambarkan atau diuraikan organiHasi dan sekaligus staf atau personel

yang akan melaksanak a ti kegiatan-kegiatan atau program tersebut. Di samping itu juga

diuraikan tugas (jobdescription) masing-masing pelaksana tersebut. Hal ini penting karena

masing-masing orang yang terlibat dalam program tersebut mengetahui dan melaksanakan

kewajiban.

Page 41: Buku Bsoekidjo

h.   Rencana Anggaran

Adalah uraian tentang biaya-biaya yang diperlukan untuk pelaksanaan kegiatan, mulai dari

persiapan sampai dengan evaluasi. Biasanya rincian rencana biaya ini dikelompokkan menjadi:

a)      Biaya personalia

b)      Biaya operasional

c)      Biaya sarana dan fasilitas

d)     Biaya penilaian

i.        Rencana Evaluasi.

Rencana evaluasi sering dilupakan oleh para perencana, padahal hal ini sangat penting.

Rencana evaluasi adalah suatu uraian tentang kegiatan yang akan dilakukan untuk menilai sejauh

mana tujuan-tujuan yang telah ditetapkan tersebut telah tercapai.

C.   Pengorganisasian

Setelah perencanaan telah dilakukan atau telah selesai (menjadi rencana), maka selanjutnya

harus dilakukan pengorganisasian. Yang dimaksud pengorganisasian adalah mengatur personal

atau staf yang ada dalam institusi tersebut agar semua kegiatan yang telah ditetapkan dalam

rencana tersebut dapat berjalan dengan baik, yang akhirnya semua tujuan dapat dicapai. Dengan

kata lain pengorganisasian adalah pengkoordinasian kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan

suatu institusi, guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pengorganisasian mencakup

beberapa unsur pokok, antara lain:

a.       Hal yang diorganisasikan ada 2 macam, yakni:

1)      Pengorganisasian kegiatan ialah pengaturan berbagai kegiatan yang ada di dalam rencana

sehingga mem bentuk satu kesatuan yang terpadu untuk mencapai tujuan.

2)      Pengorganisasian tenaga pelaksanaanialah mencakup pengaturan hak dan wewenang setiap

tenaga pelaksana sehingga semua kegiatan mempunyai penanggung jawabnya.

b.      Proses pengorganisasian ialah langkah-langkah yang harus dilakukan sedemikian rupa sehingga

semua kegiatan dan tenaga pelaksana dapat berjalan sebaik-baiknya.

c.       Hasil pengorganisasian ialah terbentuknya wadah atau sering disebut 'struktur organisasi' yang

merupakan perpaduan antara kegiatan dan tenaga pelaksana.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pengorganisasian adalah suatu proses yang

menghasilkan (struktur organisasi). Struktur organisasi adalah visualisasi kegiatan dan pelaksana

Page 42: Buku Bsoekidjo

kegiatan (personel) dalam suatu institusi. Dilihat dari segi pembagian kegiatan dan pelaksanaan

tugas, fungsi dan wewenang, maka organisasi secara umum dibedakan atas 3 jenis, yakni:

1.            Organisasi Lini (Line Organization)

Dalam jenis organisasi ini, pembagian tugas dan wewenang terdapat perbedaan yang tegas

antara pimpinan dan pelaksanaan. Peran pemimpin dalam hal ini sangat dominant di mana semua

kekuasaan di tangan pimpinan. Oleh sebab itu, dalam pelaksanaan kegiatan yang utama adalah

wewenang dan perintah. Memang bentuk organisasi semacam ini khususnya di dalam institusi-

institusi yang kecil sangat efektif, karena keputusan-keputusan cepat diambil dan pelaksanaan

keputusan juga cepat. Kelemahannya jenis organisasi semacam ini kurang  manusiawi, lebih-

lebih para pelaksana tugas bawahan hanya dipandang sebagai robot, yang senantiasa, siap

melaksanakan perintah.

2.            Organisasi Staf (Staff Organization)

Dalam organisasi ini, tidak begitu tegas garis pemisah antara pimpinan dan staf pelaksana

Peran staf bukan sekadar pelaksana perintah pimpinan, namun staf berperan sebagai pembantu

pimpinan. Bentuk organisasi ini muncul karena makin kompleksnya masalah-masalah organisasi

sehingga pimpinan sudah tidak dapat lagi menyelesaikan semuanya dan memerlukan bantuan

orang lain (biasanya para ahli) yang dapat memberikan masukan peinikiran-pemikiran terhadap

masalah-masalah yang dihadapi. Meskipun organisasi ini lebih baik dari yang perama, karena

keputusan-keputusan dapat lebih baik, namun kadang-kadang keputusan-keputusan tersebut akan

memakan waktu yang lama, karena melalui perdebatan-perdebatan yang kadang-kadang

melelahkan.

3.            Organisasi Lini dan Staf

Organisasi ini merupakan gabungan kedua jenis organisasi yang terdahulu disebutkan (lini

dan staf). Dalam organisasi ini staf bukan sekadar pelaksana tugas, tetapi juga diberikan

wewenang untuk memberikan masukan demi tercapainya tujuan secara baik. Demikian juga

pimpinan tidak sekadar memberi perintah atau nasihat, tetapi juga bertanggung jawab atas

perintah atau nasihat tersebut.

Keuntungan organisasi ini antara lain: keputusan yang diambil oleh pimpinan lebih baik

karena telah dipikirkan oleh sejumlah orang, dan tanggung jawab pimpinan berkurang karena

mendapat dukungan dan bantuan dari staf.

Page 43: Buku Bsoekidjo

Dalam kehitupan sehari-hari, apabila unit kerja (departemen, perusahaan, dan sebagainya)

akan melaksanakan suatu rencana tidak selalu langsung diikuti oleh penyusunan organisasi baru.

Struktur organisasi itu biasanya sudah ada terlebih dahulu dan ini relatif cenderung permanen,

lebih-lebih struktur organisasi departemen. Di samping itu, unit-unit kerja tersebut dijabarkan ke

dalam unit-unit yang lebih kecil dan masing-masing unit-unit kerja yang lebih kecil ini

mempunyai tugas dan wewenang yang berbeda-beda (Dirjen, Direktorat, Bidang, Seksi, Devisi-

devisi, dan sebagainya). Untuk pelaksanaan rencana rutin cukup oleh staf yang ada, sehingga

tidak perlu menyusun organisasi baru.

D.   Pengawasan dan Pengarahan

Pengawasan dan pengarahan adalah suatu proses untuk mengukur penampilan kegiatan

atau pelaksanaan kegiatan suatu program yang selanjutnya memberikan pengarahan - pengarahan

sehingga tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai. Agar pengawasan dapat berjalan dengan

baik sekurang-kurangnya 3 hal yang diperhatikan, yakni:

1.            Objek Pengawasan

Yaitu hal-hal yang diawasi dalam pelaksanaan suatu rencana. Objek pengawasan ini

banyak macamnya, tergantung dari program atau kegiatan yang dilaksanakan. Secara garis besar

objek pengawasan dapat dikelompokkan menjadi 4, yakni:

a)      Kuantitas dan kualitas program, yakni barang atau jasa yang dihasilkan oleh kegiatan atau

program tersebut. Untuk program kesehatan yang diawasi adalah pelayanan yang diberikan oleh

unit kerja tersebut.

b)      Biaya program, dengan menggunakan 3 macam standar, yakni modal yang dipakai, pendapatan

yang diperoleh, dan harga program. Dalam bidang kesehatan yang dijadikan ukuran pengawasan

adalah pembiayaan kegiatan atau pelayanan, hasil yang diperoleh dari pelayanan dan keuntungan

kegiatan atau pelayanan.

c)      Pelaksanaan (implementasi) program, yaitu pengawasan terhadap waktu pelaksanaan, tempat

pelaksanaan dan proses pelaksanaan apakah sesuai dengan yang telah ditetapkan dalam

perencanaan.

d)     Hal-hal yang bersifat khusus, yaitu penga.wasan yang ditujukan kepada hal-hal khusus yang

ditetapkan oleh pimpinan atau manajer.

2.            Metode Pengawasan

Page 44: Buku Bsoekidjo

Tujuan pokok pengawasan bukanlah mencari kesalahan, namun yang lebih utama adalah

mencari umpan balik (feedback) yang selanjutnya memberikan pengarahan dan perbaikan-

perbaikan apabila kegiatan tidak berjalan dengan semestinya. Pengawasan dapat dilakukan

dengan berbagai macam-macam, antara lain:

a)      Melalui kunjungan langsung atau observasi terhadap objek yang diawasi.

b)      Melalui analisis terhadap laporan-laporan yang masuk.

c)      Melalui pengumpulan data atau informasi yang khusus ditujukan terhadap objek-objek

pengawasan.

d)     Melalui tugas dan tanggung jawabpara petugas khususnya para pimpinan. Artinya fungsi

pengawasan itu secaraimplisit atau fungal pejabat (pimpinan) yang diberikan wewenang. Inilah:

yang Hering disebut pengawasan melekat (Waskat).

3.            Proses Pengawasan

Pengawasan adalah suatu proses, yang berarti bahwa suatu pengawasan itu terdiri dari

berbagai langkah, yakni:

1)      Menyusun rencana pengawasan. Sebelum melakukan pengawasan terlebih dahulu harus disusun

rencana pengawasan yang antara lain mencakup: tujuan pengawasan; objek pengawasan, cara

pengawasan, dan sebagainya.

2)      Pelaksanaan pengawasan: yaitu melakukan kegiatan pengawasan sesuai dengan rencana yang

telah disusun.

3)      Menginterpretasi .dan menganalisis hasil-hasil pengawasan. Hasil-hasil pengawasan yang antara

lain berupa catatan - catatan dan dokumen-dokumen, foto-foto, hasil-hasil rekaman dan

sebagainya diolah, diinterpretasi dan dinalisis.

4)      Menarik kesimpulan dan tindak lanjut. Dari hasil analisis tersebut kemudian disimpulkan, dan

menyusun saran atau rekomendasi untuk tindak lanjut pengawasan tersebut.

Pengarahan pada hakikatnya adalah keputusan-keputusan pimpinan yang direncanakan

dapat berjalan dengan baik. Dengan pengarahan (directing) diharapkan:

1.      Adanya kesatuan perintah (unity of command), artinya dengan pengarahan ini akan diperoleh

kesamaan bahasa yang hams dilaksanakan oleh para pelaksana. Sehingga tidak terjadi

kesimpangsiuran yang dapat membingungkan para pelaksana.

2.      Adanya hubungan langsung antara pimpinan dengan bawahan, artinya dengan pengarahan yang

berupa petunjuk atau perintah oleh atasan yang langsung kepada bawahan, tidak akan terjadi mis

Page 45: Buku Bsoekidjo

komunikasi. Di samping itu pengarahan yang langsung ini dapat mempercepat hubungan antara

atasan dan bawahan.

3.      Adanya umpan balik yang langsung: Pimpinan dengan cepat memperoleh umpan balik terhadap

kegiatan yang dilaksanakan. Selanjutnya umpan balik ini dapat segera digunakan untuk

perbaikan.

E.   Sistem Pelayanan Kesehatan Masyarakat

Sistem adalah gabungan dari elemen-elemen (sub-sistem) di dalam suatu proses atau

struktur dan berfungsi sebagai satu kesatuan organisasi. Di dalam suatu sistem terdapat elemen-

elemen atau bagian-bagian di mana di dalamnya juga membentuk suatu proses di dalam suatu

kesatuan, maka disebut sub-sistem (bagian dari sistem). Selanjutnya sub-sistem tersebut juga

terjadi suatu proses berfungai sebagai suatu kesatuan sendiri Sebagai bagian dari sub-sistem

tersebut.

Sistem terbentuk dari elemen atau bagian yang saling  berhubungan dan saling

mempengaruhi. Apabila salah satu bagian atau sub-sistem tidak berjalan dengan baik, maka akan

mempengaruhi bagian yang lain. Secara garis besarnya elemen-elemen dalam sistem itu adalah

sebagai berikut:

a)      Masukan (Input):

Adalah sub-elemen-sub-elemen yang diperlukan sebagai masukan untuk berfungsinya

sistem.

b)      Proses:

Ialah suatu kegiatan yang berfungsi untuk mengubah masukan sehingga menghasilan

sesuatu (keluaran) yang direncanakan.

c)      Keluaran (out put), ialah hal yang dihasilkan oleh proses.

d)     Dampak (impact), akibat yang dihasilkan oleh keluaran setelah beberapa waktu lamanya.

e)      Umpan balik (feed back), juga merupakan hasil dari proses yang sekaligus sebagai masukan

untuk sistem tersebut.

f)       Lingkungan (enviroment), ialah dunia di luar sistem yang mempengaruhi sistem tersebut.

Contoh: Di dalam pelayanan Puskesmas, yang menjadi input adalah: dokter, perawat, obat-

obatan, fasilitas lain, dan sebagainya.Prosesnya adalah kegiatan pelayanan Puskesmas tersebut,

out put-nya adalah pasien sembuh/tidak sembuh, jumlah ibu hamil yang dilayanani dan

Page 46: Buku Bsoekidjo

sebagainya, dampaknya adalah meningkatnya status kesehatan masyarakat. Sedangkan umpan

balik pelayanan Puskesman antara lain keluhan-keluhan pasien terhadap pelayanan, sedangkan

lingkungan adalah masyarakat dan instansi-instansi di luar Puskesmas tersebut.

Sistem pelayanan kesehatan mencakup pelayanan kedokteran (medical services) dan

pelayanan kesehatan masyarakat (public health services). Dalam buku ini hanya dibahas sistem

pelayanan kesehatan masyarakat saja. Secant umum pelayanan kesehatan masyarakat merupakan

sub-sistem pelayanan kesehatan, yang tujuan utamanya adalah pelayanan preventif (pencegahan)

dan promotif (peningkatan kesehatan) dengan sasaran masyarakat. Meskipun demikian, tidak

berarti bahwa pelayanan kesehatan masyarakat tidak melakukan pelayanan kuratif (pengobatan)

dan rehabilitatif (pemulihan).

F.          Sistem Rujukan

Kesehatan atau sehat-sakit adalah suatu yang kontinum dimulai dari sehat walafiat sampai

dengan sakit parah. Kesehatan seseorang berada dalam bentang tersebut. Secara umum dapat

dibagi dalam tiga tingkat, yakni: sakit. ringan (mild), saling sedang (moderate) dan sakit parah

(severe). Dengan ada 3 gradasi penyakit ini maka menuntut bentuk pelayanan kesehatan yang

berbeda pula. Untuk penyakit ringantidak memerlukan pelayanan canggih. Namun sebaliknya,

untuk penyakit yang sudah parah tidak cukup hanya dengan pelayanan yang sederhana saja,

melainkan memerlukan pelayanan yang sangat spesifik.

Hal yang dirujuk bukan hanya pasien saja, tetapi juga masalah-masalah kesehatan lain,

teknologi, sarana, bahan-bahan laboratorium, dan sebagainya. Di samping itu, rujukan tidak

berarti berasal dari fasilitas yang lebih rendah ke fasilitas yang lebih tinggi, tetapi juga dapat

dilakukan di antara .fasilitas-fasilitas kesehatan yang setingkat. Secara garis besar rujukan

dibedakan menjadi dua, yakni:

a)            Rujukan Medik

Rujukan ini berkaitan dengan upaya penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan

pasien. Di samping itu juga mencakup rujukan pengetahuan (konsultasi media), dan bahan-bahan

pemeriksaan.

b)            Rujukan Kesehatan Masyarakat

Rujukan ini berkaitan dengan upaya pencegahan penyakit (preventif) dan peningkatan

kesehatan (promosi). Rujukan ini mencakup rujukan teknologi, sarana dan operasional.

Page 47: Buku Bsoekidjo

G.  Monitoring dan Evaluasi Program Kesehatan

Monitoring dan evaluasi merupakan bagian yang penting dari proses manajemen, karena

dengan evaluasi akan diperoleh umpan -balik (feed back) terhadap porgram atau pelaksanaan

kegiatan. Tanpa adanya monitoring dan evaluasi, sulit rasanya untuk mengetahui sejauh

manatujuan yang direncanakan itu telah mencapai tujuan atau belum. Monitoring adalah kegiatan

untuk memantau proses atau jalannya suatu program atau kegiatan. Sedangkan evaluasi adalah

kegiatan untuk menilai hasil suatu program atau kegiatan.

Evaluasi adalah membandingkan antara hasil yang telah dicapai oleh suatu program dengan

tujuan yang direncanakan. Menurut kamus istilah manajemen evaluasi ialah suatu proses

bersistem dan objektif menganalisis sifat dan ciri pekerjaan di dalam suatu organisasi atau

pekerjaan.

Dalam kegiatan evaluasi itu mencakup langkah-langkah, yaitu:

a.       Menetapkan atau memformulasikan tujuan evaluasi, yakni tentang apa yang akan dievaluasi

terhadap program yang dievaluasi.

b.      Menetapkan kriteria yang akan digunakan dalam menentukan keberhasilan program yang akan

dievaluasi.

c.       Menetapkan cara atau metode evaluasi yang akan digunakan.

d.      Melaksanakan evaluasi, mengolah dan menganalisis data atau hasil pelaksanaan evaluasi

tersebut.

e.       Menentukan keberhasilan program yang dievaluasi berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan

tersebut, serta memberikan penjelasan-penjelasannya.

f.       Menyusun rekomendasi atau saran-saran tindakan lebih lanjut terhadap program

berikutnya,berdasarkan hasil evaluasi tersebut.

Dilihat dari implikasi hasil evaluasi bagi suatu program, dibedakan adanya jenis evaluasi,

yakni evaluasi formatif dan evaluasi sumatif. Evaluasi  formatif dilakukan  untuk-men diag nosis

suatu program, yang hasilnya digunakan untuk pengembangan atau perbaikan program. Biasanya

formatif dilakukan pada proses program (program masih berjalan). Sedangkan evaluasi sumatif

adalah suatu evaluasi yang dilakukan untuk menilai hasil akhir dari suatu program. Biasanya

evaluasi sumatif ini dilakukan pada waktu program telah selesai (akhir program). Meskipun

demikian pada praktik evaluasi program sekaligus mencakup kedua tujuan tersebut.

Evaluasi suatu program kesehatan masyarakat dilakukan terhadap tiga hal :

Page 48: Buku Bsoekidjo

a.       Evaluasi proses ditujukan terhadap pelaksanaan program, yang menyangkut penggunaan sumber

daya, seperti tenaga, dana, dan fasilitas yang lain.

b.      Evaluasi hasil program ditujukan untuk menilai sejauh mana program tersebut berhasil, yakni

sejauh mana tujuan-tujuan yang telah ditetapkan tercapai. Misalnya, meningkatnya cakupan

imunisasi, meningkatnya ibu-ibu hamil yang memeriksakan kehamilannya, dan sebagainya.

c.       Evaluasi dampak program ditujukan untuk menilai sejauhmana program ini mempunyak

dampak terhadap peningkatan kesehatan masyarakat. Dampak program-program kesehatan ini

tercermin dari membaiknya atau meningkatnya indikator-indikator kesehatan masyarakat.

Misalnya, menurunnya angka kemati bayi (IMR), meningkatnya status gizi anak balita,

menurunnya angka kematian ibu, dan sebagainya.

Dalam program kesehatan masyarakat, di samping evaluasi juga dilakukan monitoring atau

pemantauan program. Menitoring dilakukan sejalan dengan evaluasi, dengan tujuan agar

kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam rangka mencapai tujuan program tersebut berjalan

sesuai dengan yang direncanakan, baik waktunya maupun jenis kegiatannya. Dalam monitoring

tidak dilakukan penilaian seperti pada evaluasi, tetapi hanya mengamati dan mencatat. Apabila

terjadi ketidaksesuaian antara kegiatan dengan yang direncanakan dilakukan koreksi.

Page 49: Buku Bsoekidjo

BAB 5PENDIDIKAN DAN PERILAKU KESEHATAN

A.   Prinsip - prinsip Pendidikan Kesehatan

Pendidikan kesehatan itu penting untuk menunjang program-program kesehatan yang lain.

Akan tetapi program-program pelayanan kesehatan kurang melibatkan pendidikan kesehatan.

Pendidikan kesehatan itu tidak segera membawa manfaat bagi masyarakat dan yang mudah

dilihat atau diukur, karena pendidikan merupakan behavioral investmen jangka panjang.

Pengetahuankesehatan akan berpengaruh kepada perilaku sebagai hasil jangka menengah

dari pendidikan kesehatan. Selanjutnya perilaku kesehatan akan berpengaruh pada meningkatnya

indikator kesehatan masyarakat sebagai keluaran pendidikan kesehatan.

1.            Peran Pendidikan Kesehatan

Lingkungan yang mempunyai andil yang paling besar terhadap kesehatan. Kemudian

berturut disusul oleh perilaku pelayanan kesehatan. Peranan pendidikan kesehatan adalah

melakukan intervensi faktor perilaku sehingga perilaku individu, kelompok atau masyarakat

sesuai dengan nilai kesehatan. Dengan kata lain, pendidikan kesehatan adalah suatu usaha untuk

menyediakan kondisi psikologis dan sasaran agar mereka bererilaku sesuai dengan tuntunan

nilai-nilai kesehatan.

Persoalan proses adalah mekanisme dan interaksi terjadinya perubahan kemampuan pada

diri subjek belajar. Keluaran adalah hasil belajar itu sendiri, yaitu berapa kemampuan atau

perubahan perilaku dari subjek perilaku.

Page 50: Buku Bsoekidjo

B.   Ruang Lingkup Pendidikan Kesehatan

Ruang lingkup pendidikan kesehatan dapat dilihat dari berbagai dimensi antara lain

dimensi sasaran pendidikan, dimensi tempat pelaksanaan, dan dimensi tempat pelayanan

kesehatan.

Dari dimensi sasarannya dapat, dapatdikelompokkan menjadi 3 yaitu:

1.            Pendidikan kesehatan individual, dengan sasaran individu

2.            Pendidikan kesehatan kelompok dengan sasaran kelompok

3.            Pendidikan kesehatan masyarakat dengan sasaran masyarakat luas.

Dimensi tempat pelaksanaannya, pendidikan dapat berlangsung diberbagai tempat, dengan

sendirinya sasarannya berbeda pula. Dimensi tingkat pelayanan kesehatan, pendidikan kesehatan

dapat dilakukan berdasarkan lima tingkat pencegahan:

1.            Promosi kesehatan, diperlukan misalnya dalam peningkatan gizi.

2.            Perlindungan khusus, misalnya program imunisasi.

3.            Diagnosis dini dan pengobatan segera

4.            Pembatasan cacat

5.            Rehabilitasi, untuk memulihkan kecacatan dari suatu penyakit tertentu.

C.   Sub Bidang Keilmuan Pendidikan Kesehatan

Pendidikan kesehatan sebagai usaha intervensi perilaku diarahkan pada 3 faktor pokok,

yaitu faktor predisposisi, faktor pendukung, dan faktor pendorong. Dari perbedaan strategi dan

pendekatan tersebut berakibat dikembangkannya mata ajaran atau sub disiplin ilmu sebagai

bahan daripendidikan kesehatan. Mata ajaran tersebut : Komunikasi, Dinamika kelompok,

Pengembangan dan pengorganisasian masyarakat, Pengembangan kesehatan masyarakat desa

(PKMD), Pemasaran sosial, Pengembangan organisasi, Pendidikan dan pelatihan,

Pengembangan media, Perencanaan dan evaluasi pendidikan kesehatan, Antropologi kesehatan,

Sosiologi kesehatan dan Psikologi kesehatan.

D.   Metode Pendidikan Perilaku

Pendidikan kesehatan pada hakikatnya adalah suatu kegiatan atau usaha untuk

menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarakat, kelompok atau individu. Dengan harapan

bahwa dengan adanya pesan tersebut mereka dapat memperoleh pengetahuan tentang kesehatan

atau lebih baik dan pengetahuan tersebut dapat berpengaruh terhadap perilakunya.

Page 51: Buku Bsoekidjo

1.            Metode Pendidikan Individual

         Metode pendidikan yang bersifat individual ini digunakan untuk membina perilaku baru,

atau seseorang yang telah mulai tertarik pada suatu perubahan perilaku atau inovasi.

Bentuk pendekatan metode individual antara lain:

         Bimbingan dan penyuluhan. Dengan cara ini kontak antara klien dengan petugas lebih intensif

         Wawancara. Cara ini merupakan bagian dari bimbingan dan penyuluhan.

2.            Metode Pendidikan Kelompok

Dalam memilih metode pendidikan kelompok, harus mengingat besarnya kelompok

sasaran serta tingkat pendidikan formal pada sasaran.

               Kelompok Besar.

Yang dimaksud kelompok besar adalah apabila peserta penyuluhan lebih dari 15 orang.

Metode yang digunakan:

1)      Ceramah. Metode ini baik untuk sasaran yang berpendidikan tinggi maupun rendah.

2)      Seminar. Metode ini hanya cocok untuk sasaran kelompok besar denganpendidikan menengah

atas.

Page 52: Buku Bsoekidjo

3)                      Kelompok Kecil

Peserta kegiatan kurang dari 15 orang. Metode yang digunakan:

a.       Diskusi Kelompok. Agar semua anggota kelompok dapat bebas berpartisipasi dalam diskusi,

maka formasi duduk para peserta diatur sedemikian rupa sehingga mereka dapat berhadap-

hadapan.

b.      Curah Pendapat. Metode ini merupakan modifikasi metodediskusi kelompok.

c.       Bola Salju.kelompok dibagi dalam pasangan-pasangan.

d.      Kelompok kecil-kecil.

e.       Role Play (memainkan peranan)

f.       Permainan Simulasi, gambaran antara role play dengan diskusi kelompok.

3.            Metode Pendidikan Massa

Untuk mengonsumsikan pesan-pesan kesehatan yang ditujukan kepada masyarakat yang

sifatnya massa atau publik, cara yang paling tepat adalah pendekatan massa. Pesan-pesan

kesehatan yang akan disampaikan harus dirancangsedemikian rupa sehingga dapat ditangkap

oleh massa tersebut.

Contoh metode pendekatan massa :

a)      Ceramah umum

b)      Pidato-pidato diskusi tentang kesehatan melalui media

c)      Simulasi

d)     Sinetron

e)      Tulisan-tulisan di majalah atau koran, baik dalam bentuk artikel maupun dalam bentuk tanya

jawab.

f)       Bill board yang dipasang di pinggir-pinggir jalan.

E.         Alat Bantu dan Media Kesehatan

1.            Alat bantu (peraga)

a.      Pengertian

Page 53: Buku Bsoekidjo

Yang dimaksud alat bantu peraga alat-alat yang digunakan oleh pendidik dalam

menyampaikan bahan pendidik atau pengajaran. Alat peraga ini disusun berdasarkan prinsip

bahwa pengetahuan yang ada pada setiap manusia itu diterima atau ditangkap oleh panca indera.

b.      Faedah Alat Bantu Pendidikan

1)      Menimbulkan minat sasaran pendidikan

2)      Mencapai sasaran yang lebih banyak

3)      Membantu mengatasi hambatan bahasa, dll.

c.       Macam-macam Alat Bantu Pendidikan

1)      Alat bantu lihat

2)      Alat bantu dengar

3)      Alat bantu lihat-dengar

Ciri-ciri alat peraga kesehatan yang sederhana:

1.                  Mudah dibuat

2.                  Bahan-bahan dapat diperoleh dari bahan-bahan lokal

3.                  Ditulis/digambar dengan sederhana, dll.

Page 54: Buku Bsoekidjo

d.      Sasaran yang Dicapai Alat Bantu Pendidikan

Menggunakan alat peraga harus didasari pengetahuan tentang sasaran pendidikan yang

akan dicapai alat peraga tersebut.

Tempat memasang alat peraga:

1.            Di dalam keluarga

2.            Di masyarakat

3.            Di instansi-instansi.

Alat peraga tersebut sedapat mungkin dapat dipergunakan oleh:

1.            Petugas-petugas puskesmas

2.            Kader kesehatan

3.            Guru-guru sekolah dan tokoh-tokoh masyarakat lainnya

4.            Pamong desa.

e.       Merencanakan dan Menggunakan Alat Peraga

Biasanya kita menggunakan alat peraga sebagai pengganti objek-objek yang nyata sehingga

dapat memberikan pengalaman yang tidak langsung bagi sasaran.

Tujuan yang Hendak Dicapai:

               Tujuan pendidikan

               Tujuan penggunaan alat peraga

Persiapan penggunaan alat peraga

Semua alat peraga yang dibuat berguna sebagai alat bantu belajar dan tetap harus diingat bahwa

alat ini dapat berfungsi mengajar dengan sendirinya.

Page 55: Buku Bsoekidjo

Cara menggunakan alat peraga

Cara menggunakan alat peraga sangat tergantung pada alatnya. Dan yang lebih penting bagi alat

yang digunakan harus menarik, sehingga menimbulkan minat para pesertanya.

2. Media Pendidikan Kesehatan

Media pendidikan kesehatan pada hakikatnya adalah alat bantu pendidikan. Alat-alat

tersebut merupakan alat saluran (channel) untuk menyampaikan kesehatan karena alat-alat

tersebut digunakan untuk mempermudah penerimaan pesan-pesan kesehatan bagi masyarakat

atau klien.

a.       Media cetak, yaitu booklet, leaflet, flyer, flip chart, rubrik atau tulisan-tulisan pada surat kabar

atau majalah, poster, foto.

b.      Media elektronik, yaitu televis, radio, video, slide, film.

c.       Media papan, yaitu papan yang dipasang di tempat-tempat umum dapat diisi dengan pesan-

pesan kesehatan.

F.    Perilaku Kesehatan

1.            Konsep perilaku

Perilaku dan gejala perilaku yang tampak pada kegiatan organisme tersebut dipengaruhi

baik oleh faktor genetik (keturunan) dan lingkungan. Secara umum dapat dikatakan bahwa faktor

genetik dan lingkungan merupakan penentu dari perilaku makhluk hidup termasuk manusia.

Hereditas atau faktor keturunan adalah konsepsi dasar atau modal untuk perkembangan perilaku

makhluk hidup itu untuk selanjutnya. Sedangkan lingkungan adalah kondisi atau lahan untuk

perkembangan perilaku. Suatu mekanisme pertemuan antara kedua faktor dalam rangka

terbentunya perilaku tersebut disebut proses belajar.

Page 56: Buku Bsoekidjo

Prosedur pembentukan perilaku

1.      Melakukan identifikasi tentang hal-hal yang merupakan penguat berupa hadiah-hadiah bagi

perilaku yang akan dibentuk.

2.      Melakukan analisis ntuk mengidetifikasi komponen-komponen kecil yang membentuk

perilakuyang dikehendaki.

3.      Menggunakan secara urutkomponen-komponen itu sebagai tujuan-tujuan sementara.

4.      Melakukan pembentukan perilaku dengan menggunakan urutan komponen yang telah tersusun

itu.

2.            Perilaku Kesehatan

Perilaku kesehatan pada dasarnya adalah suatu respon seseorang terhadap stimulus yang

berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan, serta lingkungan.

Perilaku kesehatan itu mencakup:

(1)   Perilaku seseorang terhadap sakit dan penyakit. Tingkat pencegahan penyakit:

         Perilaku peningkatan pemeliharaan kesehatan

         Perilaku pencegahan penyakit

         Perilaku sehubungan dengan pencarian pengobatan

         Perilaku pemulihan kesehatan

(2)   Perilaku terhadap sistem pelayanan kesehatan.

(3)   Perilaku terhadap makanan

(4)   Perilaku terhadap lingkungan kesehatan

Perubahan-perubahan perilaku dalam diriseseorang dapat diketahui melalui persepsi.

Persepsi adalah sebagai pengalaman yang dihasilkan melalui panca indera. Belajar adalah suatu

perubahan perilakku yang didasari oleh perilaku terdahulu.

Faktor intern mencakup pengetahuan, kecerdasan, persepsi, emosi, motivasi, dan sebagainya

yang berfungsi untuk mangolah rangsangan dari luar. Sedangan faktor ekstern meiputi

lingkungan sekitar, baik fisik maupun non-fisik seperti iklim, manusia, sosial-ekonomi,

kebudayaan, dan sebagainya.

G.        Domain Perilaku Kesehatan

Tujuan suatu pendidikan adalah mengembangkan atau meningkatkan ketiga domain

perilaku yang terdiri dari ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotor. Domain kognitif

Page 57: Buku Bsoekidjo

dalam arti, subjek tahu terlebih dahulu terhadap stimulus yang berupa materiatau objek

diluarnya.

1.            Pengetahuan

Pengetahuan adalah hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan

terhadap suatu objek tertentu. Dari pengalaman dan penilitian ternyata perilaku yang didasarkan

oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan.

2.            Sikap

Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulus

atau objek. Sikap mempunyai 3 komponen penting yaitu kepercayaan, kehidupan emisional, dan

kecenderunga untuk bertindak.

Sikap ini terdiri dari beberapa tingkatan yaitu menerima, merespon, menghargai,

bertanggung jawab.

3.            Praktik dan Tindakan

Tingkat-tingkat praktik:

1.      Persepsi

2.      Respon terpimpin

3.      Mekanisme

4.      Adaptasi

Page 58: Buku Bsoekidjo

H.  Perubahan-perubahan Perilaku

Perubahan perilaku merupakan tujuan dari pendidikan atau penyuluhan kesehatan sebagai

penunjang program-program kesehatan lainnnya.

1.   Teori Stimulus-Organisme-Respon

Teori ini mendasarkan asumsi bahwa peyebab terjadinya perubahan perilaku tergantung

pada kualitas rangsang (stimulus) yang berkomunikasi dengan organisme.

Selanjutnya teori ini mengartikan bahwa perilaku dapat berubah hanya apabila stimulus yang

diberikan benar-benar melebihi dari stimulus semula.

2.   Teori Festinger (Dissonance Theory)

Teori ini berarti bahwa keadaan kognitif dissonance merupakan keadaan  ketidak seimbangan

psikologis yang yang diliputi oleh ketegangan diri yang berusaha untuk mencapai keseimbangan

kembali. Apabila terjadi keseimbangan dalam diri individu, maka berarti sudah tidak terjadi

ketegangan diri lagi, dan keadaan ini disebut keseimbangan.

3.       Teori Fungsi

Teori ini berdasarkan anggapan bahwa perubahan perilaku individu tergantung kepada

keutuhan. Hal ini berarti bahwa stimulus yang dapat mengakibatkan perubahan perilaku

seseorang apabila stimulus tersebut dapat mengerti dalam konteks kebutuhan orang tersebut.

Katz berasumsi bahwa:

1.      Perilaku itu memiliki fungsi instrumental, artinya dapat berfungsi dan memberikan pelayanan

terhadap kebutuhan.

2.      Perilaku dapat berfungsi sebagai pertahanan diri dalam menghadapi lingkungannya.

3.      Perilaku berfungsi sebagai penerima objek dan memberikan arti.

4.      Perilaku berfungsi sebagai nilai ekspresif dalam diri seseorang dalam menjawab suatu situasi.

4.       Teori Kurt Lewin

Kurt Lewin berpendapat bahwa perilaku manusia itu adalah suatu keadaan yang seimbang

antara kekuatan-kekuatan pendorong dan kekuatan-kekuatan penahan. Ada 3 kemungkinan

terjadinya perubahan perilaku dalam diri seseorang yaitu :

a.             Kekuatan pendorong meningkat

b.            Kekuatan penahan menurun

c.             Kekuatan pendorong meningkat, kekuatan pendorong menurun

I.      Perubahan Perilaku dan Proses Belajar

Page 59: Buku Bsoekidjo

Terbentuknya perilaku dapat terjadi karena proses kematangan dan dari proses interaksi

dengan lingkungan. Teori proses belajar:

1.            Teori Stimulus dan Transformasi

Perkembangan teori proses belajar yang ada dapat dikelompokkan kedalam 2 kelompok

besar, yaitu stimulus respon yang kurang memperhitungkan faktor internal dan teori transformasi

yang telah memperhitungkan faktor internal.

Kelompok teori proses belajar yang kedua sudah memperhitungkan faktor internal antara

lain :

a.       Teori transformasi yang berlandaskan pada psikologi kognitif seperti yang dirumuskan oleh

Neiser

b.      Teori Gestalt yang mendasarkan pada teori belajar pada psikologi gestalt

2.            Teori-teori Belajar Sosial

Untuk melangsungkan kehidupan manusia perlu belajar. Dalam hal ini ada 2 macam belajar

yaitu belajar secara fisik dan psikis. Dalam belajar psikis ini termasuk juga belajar sosial, dimana

seseorang mempelajari perannya dan peran-peran orang lain dalam kontek sosial.

Page 60: Buku Bsoekidjo

1        Teori belajar sosial dan tiruan dari Millers dan Dollard

Prinsip belajar ini terdiri dari 4 yaitu dorongan, isyarat, tingkah laku balas, dan ganjaran.

Keempat prinsip ini saling engkait satu sama lain, yaitu dorongan menjadi isyarat, isyarat

menjadi ganjaran, dst.

Dorongan adalah rangsangan yang sangat kuat terhadap manusia untuk berlaku isyarat adalah

rangsangan yang membutuhkan “bila” dan “dimana” suatu respon akan timbul dan terjadi.

Anjaran adalah rangsangan yang menetapkan apakah tingkh laku balas diulang atau tidak dalam

kesempatan yang lain.

Mekanisme tingkah laku tiruan, yaitu:

a.             Tingkah laku sama

b.            Tingkah laku tergantung

c.             Tingkah laku salinan

2        Teori belajar sosial dari Bandura dan Walter

Teori ini menyatakan bahwa tingkah laku tiruan adalah suatu bentuk asosiasi dari rangsang

dengan rangsang lainnya. Pengaruh tingkah laku model terhadap tingkah laku peniru:

a.             Efek modeling

b.            Efek menghambat

c.             Efek kemudahan

J.     Bentuk-bentuk Perubahan Perilaku

1.            Perubahan alamiah

Perilaku manusia selalu berubah, dimana sebagian perubahan itu disebabkan karena kejadian

alamiah. Apabila dalam masyarakat sekitar terjadi suatu perubahan lingkungan fisik atau social

budaya dan ekonomi, maka anggota-anggota masyarakat didalamnya akan mengalami

perubahan.

2.            Perubahan rencana

Terjadi karena memang direncanakan sendiri oleh objek.

3.            Kesediaan untuk berubah

Apabila terjadi suatu inovasipembangunan di dalam masyarakat. Maka yang sering terjadi adalah

sebagian orang sangat cepat menerima perubahan tersebut, tetapi sebagian lagi sangat lambat.

Page 61: Buku Bsoekidjo

Beberapa strategi untuk memperoleh perubahan perilaku oleh WHO dikelompokkan menjadi 3

yaitu:

1.            Menggunakan kekuatan/kekuasaan atau dorongan

Dalam hal ini perubahan perilaku dipaksakan pada sasaran sehingga ia mau melakukan seperti

yang diharapkan.

2.            Pemberian Informasi

Dengan memberikan informasi tentang sesuatu hal maka akan menimbulkan kesadaran

masyarakat untuk melakukan atau berperilaku sesuai informasi yang diterima.

3.            Diskusi dan Partisipasi

Cara ini adalah sebagai peningkatan cara yang kedua.

Page 62: Buku Bsoekidjo

BAB 6KESEHATAN LINGKUNGAN

A.   Pengertian dan Ruang Lingkup Kesehatan Lingkungan

Kesehatan lingkungan pada hakikatnya adalah suatu kondisi atau keadaan lingkungan yang

optimum sehingga berpengaruh positiv terhadap terwujudnya status kesehatan lingkungan

tersebut antara lain mencakup perumahan, pembuatan kotoran manusia, penyediaan air bersih,

pembuangan sampah, dll. Adapun yang dimaksud dengan usaha kesehatan lingkungan adalah

suatu usaha untuk memperbaiki atau mengoptimumkan lingkungan hidup manusia agar menjadi

media yang baik untuk terwujudnya kesehatan yang optimum bagi manusia yang hidup

didalamnya.

B.   Perumahan (Housing)

Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam membangun sebuah rumah

1)            Faktor lingkngan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial.

2)            Tingkat kemampuan ekonomi masyarakat

3)            Teknik yang dimiliki oleh masyarakat

4)            Kebijaksanaan (peraturan) pemerintah yang menyangkut tata guna tanah.

C.   Penyediaan Air Bersih

Air adalah sangat penting bai kehidupan manusia. Manusia akan lebih cepat meninggal

karena kekurangan air daripada kekurangan makanan.

Syarat-syarat air minum yang sehat:

a.       Syarat fisik, yaitu air harus bening, tidak berasa, suhu dibawah suhu udara diluarnya

b.      Bakteriologis, yaitu harus bebas dari segala bakteri terutama bakteri patogen

c.       Kimia, yaitu harus mengandung zat-zat tertentu dalam jumlah yang tertentu pula

Pengolahan air minum secara sederhana

1.            Pengolahan secara alamiah yaitu dalam bentuk penyimpangan

2.            Pengolahan air dengan menyaring

3.            Pengolahan air dengan menambahkan zat kimia

4.            Pengolahan air dengan mengalirkan udara

5.            Pengolahan air dengan memanaskan sampai mendidih

Page 63: Buku Bsoekidjo

D.   Pembuangan Kotoran Manusia

Yang dimaksud dengan kotoran manusia adalah semua benda atau zat yang sudah tidak

dipakai lagi oleh tubuh dan harus dikeluarkan oleh tubuh.

Beberapa penyakit yang dapat disebarkan oleh kotoran manusia yaitu tifus, disentri, kolera,

bermacam-macam cacing, schistosomiasis, dan sebagainya. Pembuangan kotoran harus disuatu

tempat tertentu atau jamban yang sehat.

Teknologi pembuangan kotoran manusia secara sederhana

1.            Jamban cemplung, kakus

2.            Jamban cemplung berventilasi

3.            Jamban empang

4.            Jamban pupuk

5.            Septik tank

E.   Pengolahan Sampah

Sampah mengandung prinsip-prinsip sebagai berikut

1.            Adanya suatu benda atau benda padat

2.            Adanya hubungan langsung/tidak langsung dengan kegiatan manusia

3.            Benda atau bahan tersebut tidak dipakai lagi

Pengelolaan Sampah

a.             Pengumpulan dan pengangkutan sampah

Pengumpulan sampah adalah menjadi tanggung jawab dari masing-masing rumah tangga

atau institusi yang menghasilkan sampah.

b.            Pemusnahan dan pengelolaan sampah dengan ditanam, dibakar, dan dijadikan pupuk.

F.          Pengolahan Air Limbah

Air limbah atau air buangan adalah sisa air yang dibuang yang berasal dari rumah tangga,

industri maupun tempat umum lainnya yang pada umumnya mengandung zat-zat yang dapat

membahayakan bagi kesehatan manusia serta menganggu lingkungan hidup. Sumber-sumber air

limbah:

1.            Air buangan yang bersumber dari rumah tangga

2.            Air buangan industri

3.            Air buangan kotapraja

Page 64: Buku Bsoekidjo

1)            Karakteristik Air Limbah

a.            Karakteristik fisik.

Sebagian besar terdiri dari air dan sebagian kecil terdiri dari bahan-bahan padat dan

suspensi

b.            Karakteristik kimiawi.

         Gabungan yang mengandung nitrogen

         Gabungan yang tidak mengandung nitrogen

c.             Karakteristik bakteriologi.

Kandungan bakteri patogen terdapat juga dalam air limbah.

Gangguan kesehatan akibat air limbah

a.       Menjadi transmisi atau media penyebaran penyakit terutama tifus, kolera, dll

b.      Menjadi media berkembang biaknya mikro-organisme patogen

c.       Menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk

d.      Menimbulkan bau yang tidak enak

e.       Merupakan sumber pencemaran air permuakaan, tanah

f.       Mengurangi produktifitas manusia.

2)            Cara Pengolahan Air Limbah

a.             Pengeceran

b.            Kolam oksidasi (pemanfaatan sinar matahari)

c.             Irigasi

Page 65: Buku Bsoekidjo

BAB 7KESEHATAN KERJAA.   Batasan

Kesehatan kerja adalah aplikasi kesehatan masyarakat dalam suatu tempat kerja, dan yang

menjadi pasien dari kesehatan kerja adalah masyarakat pekerja dan masyarakat sekitar

perusahaan tersebut. Dalam kesehatan masyarakat ciri pokoknya adalah upaya preventif

(pencegahan penyakit) dan promotif (peningkatan kesehatan), maka kedua hal tersebut juga

menjadi ciri pokok dalam kesehatan kerja.

Pedoman dalam kesehatan kerja ialah: ‘ penyakit dan kecelakaan akibat kerja dapat

dicegah’, maka upaya pokok kesehatan kerja ialah pencegahan kecelakaan akibat kerja.

Sedangkan upaya promotif berpedoman bahwa dengan meningkatnya kesehatan pekerja, akan

meningkatkan juga produktivitas kerja.

Meskipun fokus kegiatannya pada preventif dan promotif, tetapi tidak berarti meninggalkan

sama sekali upaya-upaya kuratif. Hal ini berarti kesehatan kerja dalam suatu perusahaan perlu

dilengkapi dengan pelayanan pemeriksaan dan pengobatan penyakit atau kecelakaan pada

pekerja atau keluarganya. Tujuan akhir dari kesehatan kerja adalah untuk meningkatkan

produktivitas seoptimal mungkin.

Tujuan utama kesehatan kerja adalah sebagai berikut:

a.       Pencegahan dan pemberantasan penyakit-penyakit dan kecelakaan-kecelakaan akibat kerja

b.      Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan dan gizi tenaga kerja.

c.       Perawatan dan mempertinggi efisiensi dan produktivitas tenaga kerja.

d.      Pemberantasan kelelahan kerja dan meningkatkan kegairahan serta kenikmatan kerja.

e.       Perlindungan bagi masyarakat sekitar perusahaan agar terhindar dari bahaya-bahaya pencemaran

yang ditimbulkan oleh perusahaan tersebut.

f.       Perlindungan masyarakat luas dari bahaya-bahaya yang mungkin ditimbulkan oleh produk-

produk perusahaan.

Tujuan akhir dari kesehatan kerja ini adalah untuk menciptakan tenaga kerja yag sehat dan

produktif.

B.   Determinan kesehatan kerja

Determinan kesehatan kerja mencakup tiga faktor utama, yakni:

1.            Beban kerja

Page 66: Buku Bsoekidjo

Beban ini dapat berupa beban fisik, beban mental, ataupun beban sosial sesuai dengan jenis

pekerjaan. Tingkat ketepatan penempatan seseorang pada suatu pekerjaan, di samping didasarkan

pada beban optimum juga dipengaruhi oleh pengalaman, keterampilan, motivasi dan sebagainya.

Kesehatan kerja berusaha mengurangi atau mengatur beban kerja para karyawan dengan cara

merencanakan suatu alat yang dapat mengurangi beban kerja.

2.            Beban tambahan

Beban tambahan adalah berupa kondisi atau lingkungan yang tidak menguntungkan bagi

pelaksanaan pekerjaan. Disebut beban tambahan karena lingkungan tersebut mengganggu

pekerjaan, dan harus diatasi oleh pekerja yang bersangkutan. Beban tambahan ini dapat

dikelompokkan menjadi 5 faktor, yaitu:

a.             Faktor fisik: penerangan yang tidak cukup, suhu udara panas dll.

b.            Faktor kimia: bau gas, bau asap, debu dll.

c.             Faktor biologi: nyamuk, lalat, kecoa, lumut dll.

d.            Faktor fisiologis: peralatan kerja yang tidak sesuai.

e.             Faktor sosial-psikologis: adanya klik, gosip, cemburu dll.

Agar faktor-faktor tersebut tidak menjadi beban tambahan kerja, maka lingkungan kerja harus

ditata secara sehat atau lingkungan kerja yang sehat. Lingkungan kerja yang tidak sehat akan

menjadi beban tambahan bagi pekerja atau karyawan, misalnya:

a.       Penerangan atau pencahayaan uang kerja yang tidak cukup dapat menyebabkan kelelahan mata.

b.      Kegaduhan dan bising dapat mengganggu konsentrasi, mengganggu daya ingat, dan dapat

menyebabkan kelelahan psikologis.

c.       Gas, uap, asap, dan debu yang terhirup lewat pernapasan dapat mempengaruhi berfungsinya

berbagai jaringan tubuh, yang akhirnya menurunkan daya kerja.

d.      Binatang, khususnya serangga (nyamuk, kecoa, lalat, dan sebagainya) disamping mengganggu

konsentrasi kerja, juga merupakan pemindahan (vektor) dan penyebab penyakit.

e.       Alat-alat bantu kerja yang tidak ergonomis (tidak sesuai dengan ukuran tubuh) akan

menyebabkan kelelahan dalam bekerja yang cepat.

f.       Hubungan atau iklim kerja yang tidak harmonis dapat menimbulkan kebosanan, tidak betah

kerja dan sebagainya, yang akhirnya menurunkan produktivitas kerja.

3.            Kemampuan kerja

Page 67: Buku Bsoekidjo

Kemampuan seseoarang dalam melakukan pekerjaan berbeda dengan seseorang yang lain,

meskipun pendidikan dan pengalamannya sama, dan bekerja pada suatu pekerjaan atau tugas

yang sama. Perbedaan ini disebabkan karena kapasitas orang tersebut berbeda. Kapasitas adalah

kemampuan yang dibawa dari lahir oleh seseorang yang terbatas. Artinya kemampuan tersebut

dapatberkembang karena pendidikan atau pengalaman, tetapi sampai pada batas-batas tertentu

saja.

Pekerja yang ketrampilannya rendah akan menambah beban kerja mereka, sehingga

berpengaruh pada kesehatan mereka. Oleh karena kebugaran, pendidikan, dan pengalaman

mempengaruhi tingkat ketrampilan pekerja maka ketrampilan atau kemampuan pekerja

senantiasa harus ditingkatkan melalui program-program pelatihan, kebugaran, dan promosi

kesehatan.

Peningkatan kemampuan tenaga kerja ini akan berdampak terhadap peningkatan

produktivitas kerja. Program perbaikan gizi melalui pemberian makanan tambahan bagi pekerja

kasar merupakan faktor yang sangat penting untuk meningkatkan produktivitas kerja.

C.   Faktor Fisik Dalam Kesehatan Kerja

Lingkungan dan kondisi kerja yang tidak sehat merupakan beban tambahan kerja bagi

karyawan atau tenaga kerja. Sebaliknya, lingkungan yang higienis tidak menjadi beban tambahan

juga meningkatkan gairah dan motivasi kerja. Lingkungan kerja ini dibedakan menjadi dua,

yakni lingkungan fisik dan lingkungan sosial, keduanya sangat berpengaruh terhadap kesehatan

kerja. Lingkungan fisik mencakup: pencahayaan, kebisingan, dan kegaduhan kondisi bangunan,

dan sebagainya.

D.   Faktor Kesehatan Manusia Dalam Kesehatan Kerja

1.            Ergonomi

Ergonomi bersal dari bahasa Yunani, ergon yang artinya kerja, dan nomos artinya

peraturan atau hukum. Sehingga secara herfiah ergonomi diartikan sebagai peraturan tentang

bagaimana melakukan kerja, termasuk menggunakan peralatan kerja. Batasan ergonomi adalah

ilmu penyesuaian peralatan dan perlengkapan kerja dengan kondisi dan kemampuan manusia,

sehingga mencapai kesehatan tenaga kerja dan produktivitas karja yang optimal.

Page 68: Buku Bsoekidjo

Dua misi pokok ergonomi adalah:

a.       Penyesuaian antara peralatan kerja dengan kondisi tenaga kerja yang digunakan.

b.      Apabila peralatan kerja dan manusia atau tenaga kerja tersebut sudah cocok maka kelelahan

dapat dicegah dan hasilnya lebih efisien.

Tujuan ergonomi ialah: mencegah kecelakaan kerja (meningkatkan produksi kerja).

Disamping itu, ergonomi juga dapat mengurangi beban kerja karena apabila peralatan kerja tidak

sesuai dengan kondisi dan ukuran tubuh pekerja akan menjadi beban tambahan kerja.

Cara mengangkat beban secara ergonomis, dapat dilakukan menurut prosedur sebagai

berikut:

a.       Beban yang akan diangkat harus dipegang tepat dengan semua jari-jari.

b.      Panggung harus diluruskan, beban harus diambil otot tungkai keseluruhan.

c.       Kaki diletakkan pada jarak yang tepat, sebelah kaki di belakang beban sekitar 60 derajat ke

sebelah, dan kaki yang satunya diletakkan di samping beban menuju ke arah beban yang akan di

angkat.

d.      Dagu di tarik ke belakang agar punggung dapat tegak lurus.

e.       Berat badan digunakan untuk mengimbangi berat badan.

f.       Lengan harus dekat dengan badan.

2.            Psikologi Kerja

Pekerjaan apapun akan menimbulkan reaksi psikologis bagi yang melakukan pekerjaan itu.

Reaksi ini dapat bersifat positif, misalnya senang, bergairah, dan merasa sejahtera, atau reaksi

yang bersifat negatif, misalnya bosan, acuh, tidak serius, dan sebagainya. Seorang pekerja atau

keayawan yang bersikap bosan, acuh, dan tidak bergairah melakukan pekerjaannya ini banyak

faktor yang menyebabkannya, antara lain tidak cocok dengan pekerjaan ini, tidak tau melakukan

pekerjaan yang baik, kurangnya insentif,lingkungan kerja yang tidak menyenangkan, dan lain-

lainnya.

Cara ergonomis yang sesuai dengan teori psikologis antara lain: ( Silalahi,1985 )

a.       Memberikan pengarahan dan pelatihan tentang tugas dan para pekerja, sebelum melaksanakan

tugas barunya.

b.      Memberikan uraian tugas tertulis yang jelas kepada pekerja atau karyawan.

c.       Melengkapi karyawan/pekerja dengan peralatan yang tidak sesuai/cocok dengan ukurannya.

Page 69: Buku Bsoekidjo

d.      Menciptakan lingkungan kerja yang aman dan nyaman.

Aspek lain dari psikologi kerja sering menjadi masalah kesehatan kerja adalah ‘stres’. Stres

terjadi hampir pada semua pekerja baik tingkat pimpinan maupun pelaksana. Stres dilingkungan

kerja memang tidak dapat dihindarkan yang dapat dilakukan adalah bagaimana

mengelolanya,mengatasi atau mencegah terjadinya/stres tersebut, sehingga tidak mengganggu

kesehatan.

E.   Kecelakaan Kerja

Terjadinya kecelakaan kerja disebabkan oleh kedua faktor utama seperti telah diuraikan

diatas, yakni faktor fisik dan faktor manusia. Oleh sebab itu, kecelakaan kerja juga merupakan

bagian dari kesehatan kerja. Kecelakaan kerja adalah kejadian yang tidak terduga dan tidak

diharapkan akibat dari kerja. Sumakmur(1989) membuat batasan bahwa kecelakan kerja adalah

suatu kecelakaan yang berkaitan dengan hubungan kerja atau perusahaan.

Page 70: Buku Bsoekidjo

BAB 8GIZI MASYARAKAT

A.   Gizi Dan Fungsinya

Dalam kehidupan manusia sehari – hari, orang tidak terlepas dari makanan karena makanan

adaalah salah satu persyaratan pokok untuk mausia, disamping udara (oksigen). Empat fungsi

pokok makanan bagi kehidupan manusia adalah untuk :

a.       Memelihara proses tubuh dalam pertumbuhan/ perkembangan serta mengganti jaringan tubuh

yang rusak

b.      Memperoleh energi guna melakukan kegiatan sehari – hari

c.       Mengatur metabolisme dan mengatur berbagai keseimbangan air,mineral, dan cairan tubuh yang

lain.

d.      Berperan dalam mekanisme pertahanan tubuh terhadap berbagai penyakit

Agar makanan dapat berfungsi seperti itu maka maakanan yang kita makan sehari-hari

tidak hanya sekedar makanan. Makanan harus mengandung zat-zat tertentu sehingga memenuhi

fungsi tersebut, dan zat-zat ini disebut gizi.

Ilmu yang mempelajari atau mengkaji masalah makanan yang dikaitkan dengan kesehatan

ini disebut gizi. Batasan klasik mengatakan bahwa ilmu gizi ialah ilmu yang mempelajari nasib

makanan sejak ditelan sampai diubah menjadi bagian tubuh dan energi serta diekresikan sebagai

sisa (Achmad Djaeni, 1987). Dalam perkembangan selanjutnya ilmu gizi mulai dari pengadaan,

pemilihan, pengolahan, sampai dengan penyajian makanan tersebut.

Untuk mencapai kesehatan yang optimal diperlukan makanan bukan sekedar makanan,

tetapi makanan yang mengandung gizi atau zat-zat gizi. Zat-zat yang diperlukan untuk menjaga

dan meningkatkan kesehatan ini dikelompokkan menjadi 5 macam, yakni protein, lemak,

karbohidrat, vitamin, dan mineral. Fungsi-fungsi zat makanan itu antara lain:

a.       Protein, diperoleh dari makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan(protein nabati), dan

makanan dari hewan (protein hewani). Fungsi protein bagi tubuh antara lain:

         Membangun sel-sel yang rusak

         Membentuk zat-zat pengatur, seperti enzim dan hormon

         Membentuk zat inti energi (1 gram energi kira-kira akan menghasilkan 4,1 kalori).

Page 71: Buku Bsoekidjo

b.      Lemak berasal dari minyak goreng, daging, margarin, dan sebagainya. Fungsi pokok lemak bagi

tubuh ialah:

         Menghasilkan kalori terbesar dalam tubuh manusia (1 gram lemak menghasilkan sekitar 9,3

kalori).

         Sebagi pelarut vitamin A, D, E, K.

         Sebagai pelindung terhadap bagian-bagian tubuh tertentu dan pelindung bagian tubuh pada

temperatur rendah.

c.       Karbohidrat, berdasarkan gugus penyusun gulanya dapat dibedakan menjadi monosakarida,

disakarida, dan polisakarida. Fungsi karbohidrat adalah salah satu pembentuk energi yang paling

murah karena pada umumnyasumber karbohidrat ini berasal dari tumbuh-tumbuhan(beras

jagung, singkong, dan sebagainya) yang merupakan makanan pokok.

d.      Vitamin-vitamin, yang diberikan menjadi dua, yakni vitamin yang larut dalam air (vitamin A

dan B), dan vitamin yang larut dalam lemak (vitmin A, D, E, dan K).

Fungsi masing-masing vitamin ini antara lain:

         Vitamin A berfungsi bagi pertumbuhan sel-sel epitel dan sebagai pengatur kepekaan rangsang

sinar pada saraf dan mata.

         Vitamin B1 berfungsi untuk metabolisme karbohidrat, keseimbangan air dalam tubuh, dan

membantu penyerapan zat lemak oleh usus.

         Vitamin B2 berfungsi dalam pemindahan rangsang sinar ke saraf mata dan enzim berfungsi

dalam proses oksidasi dalam sel-sel.

         Vitamin B6 berfungsi dalam pembuatan sel-sel darah dan dalam proses pertumbuhan serta

pekerjaan urat saraf.

         Vitamin C berfungsi sebagai aktivtor macam-macam fermen perombak protein dan lemak dalam

oksidasi dan dehidrasi dalam sel, penting dalam pembentukan trombosit.

         Vitamin D berfungsi mengatur kadar kapur dan fostor dalam bersama-bersama kelenjar anak

gondok, memperbesar kadar penyerapan kapur dan fosfor dari usus, dan mempengaruhi kerja

kelenjar endoktrin.

         Vitamin E berfungsi mencegah pendarahan bagi wanita hamil serta mencegah keguguran dan

diperlukan keguguran dan diperlukan pada sel-sel sedang membelah.

         Vitamin K berfungsi dalam pembentukan protombin yang berarti penting dalam proses

pembekuan darah.

Page 72: Buku Bsoekidjo

         Mineral, terdiri dari zat kapur (Ca), zat besi (Fe), zat flour (F), natrium (Na) dan chlor (Cl),

kalium (K), dan iodium (I). Secara umum fungsi mineral adalah sebagai bagian dari zat yang

aktif dalam metabolisme atau sebagai bagian penting dari struktur dan sel jaringan.

B.   Gizi Klinik Dan Gizi Masyarakat

Dilihat dari segi sifatnya ilmu gizi dibedakan menjadi dua, yakni gizi kesehatan perorangan

yang disebut gizi kesehatan perorangan dan gizi yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat

yang disebut gizi kesehatan masyarakat (public health nutrition). Kedua sifat keilmuan ini

akhirnya masing-masing berkembang menjadi cabang ilmu sendiri, yakni cabang ilmu gizi

kesehatan perorangan atau disebut gizi klinik (clinik clinical nutrition) dan cabang ilmu gizi

kesehatan masyarakat atau gizi masyarakat (comunity nutrition).

Penanganan gizi masyarakat tidak cukup dengan upaya terapi pada penderita saja karena

apabila mereka sudah sembuh akan kembali ke masyarakat. Oleh karena itu, terapi penderita

gangguan gizi masyarakat tidak saja ditunjukkan kepada penderitanya saja, tetapi seluruh

masyarakat tersebut.

Masalah gizi masyarakat bukan menyangkut aspek kesehatan saja,melainkan aspek-aspek

terkait yang lain, seperti ekonomi, sosial-budaya, pendidikan, kependudukan, dan sebagainya.

Oleh sebab itu, penanganan atau perbaikan gizi sebagai upaya terpai tidak hanya diarahkan pada

gangguan gizi atau kesehatan saja,melainkan juga ke arah-arah bidang yang lain. Misalnya,

penyakit gizi KKP ( Kekurangan Kalori dan Protein) pada anak-anak balita, tidak cukup dengan

hanya pemberian makanan tambahan saja (PMT), tetapi juga dilakukan perbaikan ekonomi

keluarga, peningkatan pengetahuan, dan sebagainya

C.   PENYAKIT-PENYAKIT KEKURANGAN GIZI

Konsumsi gizi makanan pada seseorang dapat menentukan tercapainya tingkat kesehatan,

atau sering disebut status gizi. Apabila  konsumsi gizi makanan pada seseorang tidak seimbang

dengan kebutuhan tubuh maka akan terjadi kesalahan akibat gizi (malnutrition). Malnutrition ini

mencakup kelebihan nutrisi gizi lebih (overnutrition), dan kekurangan gizi (undernutrition).

Penyakit-penyakit atau gangguan-gangguan kesehatan akibat dari kelebihan atau kekurangan zat

gizi, dan yang merupakan masalah kesehatan masyarakat, khususnya di  Indonesia, antara lain:

1.            Penyakit kurang kalori dan protein  (KKP)

Page 73: Buku Bsoekidjo

Penyakit ini terjadi karena ketidakseimbangan antara konsumsi kalori atau karbohidrat dan

protein dengan kebutuhan energi, atau terjadinya defisiensi dan defisi energi dan protein. Apabila

konsumsi makanan tidak seimbang dengan kebutuhan kalori maka akan terjadi defisiensi

tersebut (kurang kalori dan protein).

2.            Penyakit kegemukan (obesitas)

Penyakit ini terjadi karena ketidakseimbangan antara konsumsi kalori dan kebutuhan

energi, yakni konsumsi kalori terlalu berlebih dibandingkan dengan kebutuhan atau pemakaian

energi

Pada pendeita obesitas ini organ-organ tubuhnya dipaksa untuk bekerja lebih berat, karena

harus membawa kelebihan berat badan. Oleh sebab itu, pada umumnya lebih cepat gerah,

capai,dan mempunyai kecenderungan untuk membuat kekeliruan dalam bekerja. Akibat dari

penyakit obesitas ini, para penderitanya cenderung menderita penyakit-penyakit: kardio-

vaskuler, hipertensi, dan diabetes melitus.

3.            Anemia (penyakit kurang darah)

Penyakit ini karena kurang konsumsi zat besi (Fe) pada tubuh tidak seimbang atau urang

dari kebutuhan tubuh.  Zat besi merupakan mikro elemen yang esensial bagi tubuh, yang sangat

diperlukan dalam pembentuk darah, yakni dalam bentuk hemoglobin (Hb).

Defisiensi Fe atau anemia besi di Indonesia jumlahnya besar sehingga sudah menjadi

masalah kesehatan masyarakat. Program penanggulangan anemia besi, khususnya untuk ibu

hamil sudah dilakukan dengan pemberian Fe secara cuma-cuma melalui puskesmas dan

posyandu. Akan tetapi karena masih rendahnya pengetahuan sebagian besar ibu-ibu hamil masih

rendah maka program ini tampak berjalan lambat.

4.            Zerophthalmia (defisiensi vitamin A)

Penyakit ini disebabkan karena kekurangan konsumsi vitamin A dalam tubuh. Gejala-

gejala penyakit ini adalah kekurangan epithel biji mata dan kornea, karena glandula lacrimalis

menurun. Terlihat bola mata keriput dan kusam bila biji mata bergerak. Fungsi mata berkurang

menjadi hemeralopia atau nictalpia, yang oleh awam disebut buta senja atau buta ayam, tidak

sanggup melihat pada cahaya remang-remang. Pada stadium lanjut mata mengoreng karena sel-

selnya menjadi lunak yang disebut keratomalacia dan dapat menimbulkan kebutaan.

Page 74: Buku Bsoekidjo

Fungsi vitamin A sebenarnya mencakup 3 fungsi, yakni: fungsi dalam proses melihat,

dalam proses metabolisme, dan proses reproduksi. Gangguan yang diakibatkan karena

kekurangan vitamin A yang menonjol, khususnya di Indonesia adalah gangguan dalam peroses

melihat yang disebut zerophalmia. Oleh sebab itu, penanggulangan defisiensi kekurangan

vitamin A yang penting disini ditunjukkan pada pencegahan kebutaan pada anak balita.program

penanggulangan zerophalmia ditunjukkan pada anak balita dengan pemberian vitamin A secara

Cuma-Cuma melalui puskesmas dan posyandu. Disamping itu, program pencegahan dapat

dilakukan melalui penyuluhan gizi masyarakat tentang makanan-makanan yang bergizi,

khususnya makanan sebagaj sumber vitamin.

5.            Penyakit gondok endemik

Zat Iodium merupakan zat gizi esensial bagi tubuh karena merupakan komponen dari

hormon thyroxin. Zat Iodium ini dikonsentrasikan dalam kelenjar gondok (glandula thyroidea)

ditimbun dalam folikel kelenjar gondok, teronjugasi dengan protein (globulin) maka disebut

thyroglubolin. Apabila diperlukan thyroglubolin ini dipecah dan terlepas hormon thyroxin yang

dikeluarkan oleh folikel kelenjar ke dalam aliran darah.

Kekurangan zat iodium ini berakibat kondisi hypothyroidisme (kekurangan iodium) dan

tubuh mencoba untuk mengonpesasi dengan menambah jaringan kelenjar gondok. Akhirnya

tercapai hypertrophi (membesarnya kelenjar thyroid), yang kemudian disebut penyakit gondok.

Apabila kelebihan za iodium maka akan mengakibatkan gejala-gejala pada kulit yang disebut

iodium dermatis. Penyakit gondok ini di Indonesia merupakan endemik terutama di daerah

terpencil di pegunungan, yang air minumnya kekurangan zat iodium. Oleh sebab itu, penyakit

kekurangn iodium ini disebut gondok endemik.

D.   Kelompok Rentan Gizi

Kelompok rentan gizi adalah suatu kelompok dalam masyarakat yang paling mudah

menderita gangguan kesehatannya atau rentan kekurangan gizi. Biasanya kelompok rentan gizi

ini berhubungan dengan proses kehidupan manusia. Oleh sebab itu, apabila kekurangan zat gizi 

aka akan terjadi gangguan gizi atau kesehatannya. Kelompok-kelompok rentan gizi ini  terdiri

dari:

a.             Kelompok bayi umur 0-1 tahun

b.            Kelompok di bawah lima tahun (balita): 1-5 tahun

c.             Kelompok anak sekolah umur 6-12 tahun

Page 75: Buku Bsoekidjo

d.            Kelompok remaja umur 13-20 tahun

e.             Kelompok ibu hamil dan menyusui

f.             Kelompok usia (usia lanjut)

Kelompok usia lanjut termasuk kelompok rentan gizi, meskipun kelompok ini tidak dalam

proses pertumbuhan dn perkembangan. Hal ini disebabakan karena pada usia lanjut terjadi proses

degenerasi yang menyebabkan kelompok usia ini mengalami kelainan gizi.

Kelompok usia lanjut termasuk kelompok rentan gizi, meskipun kelompok ini tidak dalam

proses pertumbuhan dan perkembangan. Hal ini disebabkan karena pada usia lanjut terjadi proses

degenerasi yang menyebabkan kelompok usia ini mengalami kelainan gizi.

1.            Kelompok bayi.

Dalam siklus kehidupan manusia, bayi berada dalam masa pertumbuhan dan perkembangan yang

lebih pesat. Ayi yang dilahirkan dengan sehat, pada umur 6 bulan akan mencapai pertumbuhan

atau berat badan 2 kali lipat dari berat badan pada waktu dilahirkan. Untuk pertumbuhan bayi

dengan baik zat-zat gizi yang diperlukan ialah:

a.       Protein, dibutuhkan 3-4 gram/kilogram berat badan.

b.      Calsium (CI)

c.       Vitamin D, tetapi karena Indonesia berada di daerah tropis maka hal ini tidak begitu menjadi

masalah.

d.      Vitamin A dan K yang harus diberikan sejak post natal.

e.       Fe (zat besi) diperlukan karena dalam proses kelahiran sebagian Fe ikut terbuang.

Secara alamiah sebenarnya zat-zat gizi tersebut sudah terkandung dalam ASI (Air Susu

Ibu). Oleh sebab itu, apabila gizi makan ibu cukup baik, dan anak diberi ASI pada umur sampai

4 bulan, zat-zat gizi tersebut sudah dapat mencukupi. Disamping itu Asi juga mempunyai

keunggulan,  yakni mengandung immunoglobolin yang memberi daya tahan tubuh pada bayi,

yang berasal dari tubuh ibu. Immunoglobolin ini dapat bertahan pada nak sampai dengan bayi

berumur 6 bulan.

Peralihan ASI pada makanan tambahan (PMT) harus disesuaikan dengan kondisi anatomi

dan fungsional alat pencernaan bayi. Setelah masa pemberian ASI eksklusif berakhir, maka

mulai umur 4 bulan bayi diberi makanan tambahan, itu pun makanan yang sangat halus.

Kemudian mulai umur 9 bulan sudah dapat diberikan makanan tambahan yang lunak, sampai

dengan umur 18 bulan. Asi tetap diteruskan, dan mulai berumur 18 bulan dapat diberikan

Page 76: Buku Bsoekidjo

makanan tambahan agak keras (semi solid), sampai dengan umur 2 tahun. Akhirnya pada umur 2

tahun ASI dihentikan (anak disapih, dan sudah dapat diberi makanan seperti makana orang

dewasa).

2.            Kelompok anak balita.

Anak balita juga merupakan kelompok umur yang rawan gizi dan rawan penyakit.

Kelompok ini yang merupakan kelompok umur yang paling menderita akibat gizi (KKP), dan

jumlahnya dalam populasi besar. Beberapa kondisi atau anggapan yang menyebabkan anak balita

ini rawan gizi dan rawan kesehatan antara lain:

a.       Anak balita baru berada dalam transisi dari makanan bayi ke makanan orang dewasa.

b.      Biasanya anak balita ini sudah mempunyai adik, atau ibunya sudah bekerja penuh sehingga

perhatian ibu sudah berkurang.

c.       Anak balita sudah mulai main di tanah, dan sudah dapat main di luar rumahnya sendiri, sehingga

lebih terpapar dengan lingkungan yang kotor dan kondisi yang memungkinkan untuk terinfeksi

dengan berbagai macam penyakit.

d.      Anak balita belum bisa mengurus dirinya sendiri, termasuk dalm memilih makanan.  Dipihak

lain ibunya sudah tidak begitu memperhatikan lagi makanan anak balita, karena dianggap sudah

dapat makanan sendiri

Dengan adanya Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu), yang sasaran utamanya adalah anak

balita sangat tepat untuk meningkatkan gizi dan kesehatan anak balita.

3.            Kelompok anak sekolah.

Pada umumnya kelompok umur ini mempunyai kesehatan yang lebih baik dibandingkan

dengan kesehatan anak balita. Masalah-masalah yang timbul pada kelompok ini antara lain: berat

badan rendah, defisiensi Fe (kurang darah), dan defisiensi vitamin E. Masalah ini timbul karena

pada umur-umur ini anak sangat aktif bermain dan banyak kegiatan, baik disekolah maupun di

lingkungan rumah/tetangganya. Di pihak lain anak kelompok ini kadang-kadang nafsu makan

mereka menurun, sehingga konsumsi makanan tidak seimbang dengan kalori yang diperlukan.

4.            Kelompok remaja.

Pertumbuhan anak remaja pada umur ini juga sangat pesat, kemudian juga kegiatan-

kegiatan jasmani termasuk olah raga juga pada kondisi puncaknya. Oleh sebab itu, apabila

konsumsi makanan tidak seimbang dengan kebutuhan kalori untuk perumbuhan dan kegiatan-

kegiatannya, maka akan terjadi difesiensi yang akhirnya dapat menghambat pertumbuhannya.

Page 77: Buku Bsoekidjo

Upaya untuk membina kesehatan dan gizi kelompok ini juga dapat dilakukan melalui

sekolah (UKS), karena pada kelompok ini pada umumnya berada di bangku sekolah menengah

pertama maupun atas (SMP atau SMA).  Disamping itu, pembinaan melalui organisasi-

organisasi kemasyarakatan misalnya: karang taruna, remaja/pemuda gereja, remaja masjid, dan

sebagainya juga tepat. Karena kelompok padaremaja ini sudah mulai tertarik untuk

berorganisasi, atau senang berorganisasi.

5.            Kelompok ibu hamil.

Ibu hamil sebenarnya juga berhubungan dengan proses pertumbuhan, yakni pertumbuhan

janin yang dikandungnya dan pertumbuhan berbagai organ tubuhnya sebagai pendukung proses

kehamilan tersebut, misalnya mammae.

Apabila kebutuhan kalori, protein, vitamin, dan mineral yang meningkat ini tidak dapat

dipenuhi melalui konsumsi makanan oleh ibu hamil, akan terjadi kekurangan gizi. Kekurangan

gizi pada ibu hamil dapat berakibat:

a.       Berat badan bayi pada waktu lahir rendah atau sering disebut Berat Badan Bayi Rendah

(BBLR).

b.      Kelahiran prematur (lahir belum cukup umur kehamilan).

c.       Lahir dengan berbagai kesulitan, dan lahir mati.

6.            Ibu menyusui.

Air Susu Ibu (ASI) adalah makanan utama bayi oleh sebab itu, maka untuk menjamin

kecukupan ASi bagi bayi, ibu yang sedang menyusui harus diperhatikan. Dalam batas-batas

tertentu kebutuhan bayi akan zat-zat gizi ini diambil dari tubuh ibunya, tanpa menghiraukan

apakah ibunya mempunyai persediaan cukup atau tidak. Apabila konsumsi makanan ibu tidak

mencukupi, zat-zat dalam ASI akan terpengaruh.

7.            Kelompok usia lanjut.

Meskipun pada usia ini sudah tidak mengalami penurunan fungsinya maka sering terjadi

gangguan gizi. Contohnya, pada usila beberapa gigi-geligi, bahkan semunya tanggal, sehingga

terjadi kesulitan saat mengunyah makanan. Oleh sebab itu, apabila makanan tidak diolah

sedemikain rupa sehingga tidak memerlukan pengunyahan, maka akan terjadi gangguan dalam

pencernaan dan penyerapan oleh usus.

E.   Pengukuran Status Gizi Masyarakat

Page 78: Buku Bsoekidjo

Di antara kelompok yang rentan terhadap penyakit-penyakit kekurangan gizi adalah

kelompok bayi dan anak balita.oleh sebab itu, indikator yang paling baik untuk mengukur status

gizi masyarakat adalah melalui status gizi balita ( bayi dan anak balita). Selama ini telah banyak

dihasilkan berbagai pengukuran status gizi tersebut, dan masing-masing ahli mempunyai

argumentsi sendiri dalam mengembangkan pengukuran tersebut.

Wattelow (1973) menyarankan, untuk pengukuran status gizi pada saat ini digunakan

ukuran berat badan per tinggi badan. Sedangkan tinggi badan per umur hanya cocok mengukur

status gizi pada saat yang lalu. Ia menyebutkan pula bahwa berat badan per umur berguna bagi

pengukuran seri untuk anak dibawah 1 tahun.

Throwbridge, F. (1970) dari hasila studinya menyimpulkan bahwa ukuran berat badan per

umur tidak atau kurang mampu membedakan antara malnutrisi akut dengan malnutrisi kronik.

Oleh sebab itu, ia menyarankan berat badan per tinggi badan dann lingkar lengan atas adalah

indikator yang paling baik untuk mengetahui prevalensi malnutrisi akut pada anak. sedangkan

prevalensi malnutrisi kronik dipergunakan ukuran tinggi badan per umur.

Zetlin, N.F. (1673) menyarankan, untuk anak berumur kurang dari 2 tahun sebagai

indikator pertumbuhan anak cukup menggunakan ukuran berat badan per umur saja. Dari hasil

pengamatan, untuk anak berumur 2-5 tahun yang mempunyai berat badan rendah menunjukan

adanya gejala malnutrisi yang berat. Selanjutnya, ia menyarankan bahwa berat badan per umur

saja sudah dapat digunakan untuk mengukur status gizi pada anak di bawah 5 tahun, bahkan anak

yang lebih tua pun dapat mempergunakan ukuran tersebut.

Morley, D. (1971) membahas bahwa pengukuran berat dan tinggi badan mempunyai

beberapa kelemahan, antara lain kurang akuratnya dalam pelaksanaan pengukuran oleh para

petugas. Tetapi ia menyatakan bahwa ukuran lain pun tidak mempunyai wilayah dinamis untuk

pertumbuhan anak. Akhirnya ia berkesimpulan bahwa berat dan tinggi badan per umur dapat

mencerminkan status gizi anak, baik pada waktu yang lampau maupun status pada saat ini.

Dan akhirnya untuk berat dan tinggi per umur sebagai indikator status gizi anak, pada

umumnya para peneliti cenderung mengadu pada standar Harvard dengan berbagai modifikasi.

Di bawah ini akan diuraikan 4 macam cara pengukuran yang sering digunakan di bidang gizi

masyarakat serta klasifikasinya:

1.            Berat badan per umur

Page 79: Buku Bsoekidjo

Berdasarkan klasifikasi dari universitas harvard, keadaan gizi anak diklasifikasikan menjadi 3

tingkat, yakni:

         Gizi lebih (over weight)

         Gizi baik (well nourished)

         Gizi kurang (under weight), yang mencakup kekurangan kalori dan protein (KKP) tingkat I dan

II.

         Klasifikasi dari standar harvard yang sudah dimodifikasi tersebut adalah:

         Gizi baik, adalah apabila berat badan bayi/anak menurut umurnya lebih dari 89% standar

Harvard.

         Gizi kurang, adalah apabila berat badan bayi/anak menurut umur berada di antara 60,1% - 80%

standar Harvard

         Gizi buruk, adalah apabila berat badan bayi/anak menurut umurnya 60% atau kurang dari

standar harvard.

2.            Tinggi badan menurut umur

Pengukuran status gizi bayi dan anak balita berdasarkan tinggi badan menurut umur, juga

menggunakan modifikasi standar harvard, dengan klasifikasinya adalah:

         Gizi baik, yakni apabila panjang tinggi badan bayi/ anak menurut umurnya lebih dari 80%

standar Harvard.

         Gizi kurang, yakni apabila panjang tinggi badan bayi/anak menurut umurnya berada diantara

70,1% - 80% dari standar Harvard.

         Gizi buruk, yakni apabila panjang tinggi badan bayi/anak menurut umurnya 70% atau kurang

dari standar Harvard.

3.            Berat badan menurut tinggi

Pengukuran berat badan menurut tinggi badan ini diperoleh dengan mengombinasikan berat

badan dan tinggi badan per umur menurut standar harvard. Klasifikasinya adalah:

         Gizi baik, apabila berat badan bayi/anak menurut panjang/tingginya leih dari 90% dari standar

Harvard.

         Gizi kurang, apabila berat badan bayi/anak menurut panjang/tingginya berada diantara 70,1% -

90% dari standar Harvard.

         Gizi buruk, apabila berat badan bayi/anak menurut panjang/tingginya 70% atau kurang dari

standar Harvard.

Page 80: Buku Bsoekidjo
Page 81: Buku Bsoekidjo

BAB 9MENCERMATI GIZI BAYI,AWAL KESEHATAN MASYARAKAT

A.   Pendahuluan

Bayi atau anak balita yang kekurangan gizi sangat rentan terhadap penyakit-penyakit

infeksi, termasuk diare dan infeksi saluran akut, utamanya pneumonia. Oleh sebab itu, perbaikan

gizi masyarakat yang difokuskan pada perbaikan bayi dan anak balita merupakan awal dalam

meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Sebaliknya kekurangan gizi pada bayi akan

berakibat terhadap munculnya masalah kesehatan yang lain, dan akhirnya akan berdampak

terhadap menurunnya derajat kesehatan masyarakat.

Kekurangan zat-zat gizi pada makanan bayi dapat mengakibatkan terganggunya

pertumbuhan dan perkembangan. Di samping itu, bayi menjadi lebih rentan terhadap penyakit

infeksi dan selanjutnya bahkan dapat mengakibatkan kematian bayi tersebut. Oleh karena itu,

pemenuhan kebutuhan gizi bayi sangat perlu mendapat perhatian yang serius. Gizi untuk bayi

yang paling sempurna dan paling murah bagi bayi adalah Air Susu Ibu (ASI). Manfaat ASI saat

ini sudah tidak dapat diragukan lagi dan pemerintah juga telah menggalakkan pemberian ASI

secara ekslusif. Namun, setelah sekurang-kurangnya bayi berumur di atas 4 bulan, untuk

memenuhi kebutuhan akan zat gizi, bayi biasanya diberikan susu formula atau makanan

tambahan lainnya. Pada kenyataannya, kaum ibu khususnya di kota-kota besar, dewasa ini

cenderung memilih memberikan susu formula baik sebagai pengganti ataupun pendamping ASI

dalam memenuhi kebutuhan gizi bagi bayi mereka.

Secara teoretis maupun praktis berdasarkan pengalaman ibu-ibu di lapangan, susu formula

memang sangat dibutuhkan untuk menggantikan gizi makanan pada bayi. Namun, pada kenyata-

annya susu formula memang masih mahal, terutama bagi ibu-ibu dari kalangan ekonomi

menengah ke bawah. Oleh sebab itu, tantangan bagi praktisi kesehatan masyarakat adalah

menciptakan makanan lokal yang kaya akan protein, vitamin, dan mineral yang dapat

menggantikan susu formula.

B.   Pentingnya Gizi bagi Bayi

Page 82: Buku Bsoekidjo

Bayi memerlukan gizi pada makanan yang berbeda-beda sesuai dengan umurnya.

Misalnya, pada bayi yang berumur kurang dari 4 bulan, kebutuhannya akan zat-zat gizi berbeda

dengan bayi yang berumur di atas 4 bulan.

Menurut Karjadi (1986) banyak para peneliti yang menaruh perhatian terhadap

perkembangan Otak di mana sangat erat hubungannya dengan perkembangan mental dan

kemampuan berpikir. Jaringan otak anak yang tumbuh normal akan mencapai 80% berat otak

orang dewasa sebelum berumur 8 tahun, sehingga dengan demikian apabila pada masa ini terjadi

gangguan gizi kurang dapat menimbulkan kelainankelainan fisik maupun mental.

Sementara Stoch & Smythe (1963) mengemukakan dalam buku yang sama bahwa gizi

kurang pada masa bayi dan anak-anak mengakibatkan kelainan yang sulit atau tidak dapat

disembuhkan dan menghambat perkembangan selanjutnya. Pek Hiem Liang, dkk. dalam

Suhardjo (1986) dari basil penelitian terhadap kecerdasan (IQ) anak-anak usia 5-15 tahun (yang

pernah mengalami gizi kurang diri) perkembangan intelektual Berta perkembangan fisiknya

banyak dipengaruhi oleh status gizinya selama masa bayi sampai prasekolah. Dobbing (1974)

menyatakan bahwa terdapat 'masa kritis' dalam perkembangan otak manusia di mana pada masa

otak berkembang tepat akan sangat rawan terhadap gizi kurang dan ini berada sejak 2 bulan

&lam kandungan sampai dengan umur 2 tahun.

Pengaruh gizi kurang pada waktu bayi yang diteliti di kalangan anak-anak Jamaica

menunjukkan bahwa setelah umur 6-10 tahun, IQ anak-anak yang menderita gizi kurang pada

waktu bayi lebih rendah daripada IQ anak-anak yang cukup gizi pada masa bayinya.

Dalam keadaan gizi yang baik, tubuh mempunyai cukup kemampuan untuk

mempertahankan din terhadap penyakit infeksi. Jika keadaan gizi menjadi buruk maka reaksi

kekebalan tubuh akan menurun yang berarti kemampuan tubuh mempertahankan diri terhadap

serangan infeksi menjadi turun. Oleh karena itu, setiap bentuk gangguan gizi sekalipun dengan

gejala defisiensi yang ringan merupakan pertanda awal dari terganggunya kekebalan tubuh

terhadap penyakit infeksi. Penelitian yang dilakukan dj berbagai negara menunjukkan bahwa

infeksi protozoa pada anak-anak yang tingkat gizinya buruk akan jauh lebih parah dibandingkan

dengan anak-anak yang gizinya baik.

Gizi buruk mengakibatkan terjadinya gangguan terhadap produksi antibodi dalam tubuh.

Penurunan produksi antibodi tertentu akan mengakibatkan mudahnya bibit penyakit masuk ke

dalam tubuh seperti dinding usus. Dinding usus dapat mengalami kemunduran dan. juga dapat

Page 83: Buku Bsoekidjo

mengganggu produksi berbagai enzim untuk pencernaan makanan. Makanan tidak dapat dicerna

dengan baik dan ini akan menyebabkan terganggunya penyerapan zat gizi sehingga dapat

memperburuk keadaan gizi (Pudjiadi, 1990).

Meskipun data penyebab kematian bayi dan anak jarang menyebutkan secara eksplisit

peranan ragam gizi pada bayi, tetapi banyak para ahli gizi masyarakat menekankan pentingnya

gizi sebagai salah satu upaya untuk menurunkan AKB (Angka Kematian Bayi) dan anak serta

meningkatkan mutu hidup. Dengan kata lain dalam kebijaksanaan pembangunan kesehatan,

ragam gizi diakui sebagai salah satu penyebab penting tingginya mobilitas dan mortalitas bayi di

Indonesia khususnya, dan di negara-negara berkembang pada umumnya.

Telah banyak bukti penelitian yang menunjukkan bahwa penyebab utama dari kematian,

penyakit dari terlambatnya pertumbuhan anak (retarted growth) di negara-negara belum maju

merupakan kompleksitas hubungan timbal balik yang saling mendorong atau sinergisme antara

status gizi dan infeksi (Schrimshaw, dkk. 1968; Chen & Schimshaw, 1981).

C.   Gizi Bayi dan Susu Formula

Semua orang telah mengakui bahwa air susu ibu (ASI) tidak perlu diragukan lagi sebagai

makanan bayi yang paling baik. Akan tetapi kadang-kadang oleh suatu sebab tertentu ibu harus

menambah atau mengganti ASI ini dengan makanan lain. Keadaan yang mengaharuskan ibu

menggantikan ASI kepada bayi atau anaknya antara lain:

a.       Air susu ibu (ASI) tidak keluar.

b.      Ibu meninggal sewaktu melahirkan atau waktu bayi masih memerlukan ASI.

c.       ASI keluar tetapi jumlahnya tidak mencukupi kebutuhan bayi.

d.      ASI keluar tetapi ibu tidak dapat terus menerus menyusui bayinya karena ibu berada di luar

rumah (bekerja di kantor, kebun atau tugas lainnya).

European Society for Paediatric Gactroenterdogy and Nutrition (ESPGAN) Committe on

Nutrition dalam publikasinya pada tahun 1977 membagi formula bayi (infant formula) dalam 2

jenis, formula awal (starting formula) dan formula lanjutan (follow-up formula). Starting formula

dalam bentuk bubuk (di Amerika Serikat dan Eropa dipasarkan pula dalam bentuk cair) setelah

ditambah dengan sejumlah air sesuai dengan petunjuk produsennya dan jika pemberian sehari-

harinya cukup, harus dapat memenuhi kebutuhan energi dan zat-zat gizi esensial bagi bayi

sampai umur 4-6 bulan, dan bersama-sama dengan makanan tambahannya seperti buah, bubur

Page 84: Buku Bsoekidjo

susu, dan nasi tim sampai umur 1 tahun. Starting formula dibagi lagi dalam 2 golongan formula

adaptasi (adapted formula) dan formula awal lengkap (complete starting formula).

1.            Formula Adaptasi

Adapted berarti disesuaikan dengan kebutuhan bayi baru lahir. Formula adaptasi ini untuk

bayi baru lahir sampai umur 6 bulan. Susunan formula adaptasi sangat mendekati susunan ASI

dan sangat baik bagi bayi baru lahir sampai umur 4 bulan. Pada umur di bawah 3-4 bulan fungsi

saluran pencemaan dan ginjal belum sempurna hingga pengganti ASI-nya harus mengandung

zat-zat gizi yang mudah dicerna dan tidak mengandung mineral yang berlebihan.

Komposisi yang dianjurkan oleh ESPGAN (1977) setelah bubuk formula tersebut dicairkan

sesuai petunjuk produsennya ialah:

a.             Lemak

Kadar lemak disarankan antara 2,4-4,1 gr tiap 100 ml. Komposisi asam lemaknya harus

sedemikian hingga bayi umur 1 bulan dapat menyerap sedikitnya 8,5%. Disarankan juga bahwa

3-6% dari kandungan energi harus terdiri dari asam linoleat.

b.            Protein

Kadar protein harus berkisar antara 1,2 dan 1,9 gr/100 ml dengan rasio whey/kasein 60/40

oleh karena kandungan protein pada formula ini relatif rendah maka komposisi asam aminonya

harus identik atau hampir identik dengan yang terdapat dalam protein ASI.

c.             Karbohidrat

Disarankan untuk formula ini kandungan karbohidratnya antara 5,4 dan 8,2 gram bagi tiap

100 ml. Dianjurkan supaya hampir seluruhnya memakai laktosa, selebihnya glukosa atau

dekstrin-maltosa. Hal ini karena laktosa mudah dipecah menjadi glukosa dan galaktosa dengan

bantuan enzim laktase yang sudah ada dalam mukosa saluran pencernaan sejak lahir. Laktosa

juga merangsang pertumbuhan laktobasilus bificfus.

d.            Mineral

Konsentrasi sebagian besar mineral dalam susu sapi seperti natrium, kalsium, kalium,

fosfor, magnesium, dan klorida, lebih tinggi 3-4 kali dibandingkan dengan yang terdapat pada

ASI. Pada pembuatan formula adaptasi kandungan berbagai mineral harus diturunkan hingga

jumlahnya berkisar antara 0,25 dan 0,34 gram tiap 100 ml. Kandungan mineral dalam susu

formula adaptasi memang rendah dan mendekati yang terdapat pada ASI. Penurunan kadar mi-

neral diperlukan oleh bayi karena dapat mengganggu keseimbangan air dan dehidrasi hipertonik.

Page 85: Buku Bsoekidjo

2.            Formula AwaL Lengkap

Berbeda dengan formula adaptasi, pada formula ini terdapat kadar protein yang lebih tinggi

dan rasio antara fraksifraksi proteinnya tidak disesuaikan dengan rasio yang terdapat dalam susu

ibu. Selain itu kadar sebagian mineralnya lebih tinggi dibandingkan dengan formula adaptasi.

Keuntungan dari formula ini terletak pada harganya. Berhubung pembuatannya tidak begitu

rumit maka ongkos pembuatannya juga lebih murah sehingga dapat dipasarkan dengan harga

yang lebih rendah. Susu formula awal lengkap ini diberikan untuk bayi berusia 4-6 bulan.

3.            Formula Lanjutan

Formula ini diperuntnkkan bagi bayi berumur 6 bulan ke atas. Telah diuraikan bahwa

formula adaptasi dibuat sedemikian, sehingga tidak memberatkan fungsi pencernaan dan ginjal

yang pada waktu lahir belum sempurna. Maka dari itu dalam formula adaptasi zat-zat gizinya

cukup untuk pertumbuhan yang normal dan mencegah timbulnya penyakit- penyakit gizi yang

disebabkan oleh kekurangan maupun kelebihan masukan zat-zat gizi tersebut. Oleh karena pada

umur 4-5 bulan fungsi organ-organ sudah memadai maka kelebihan zat gizi dapat dikeluarkan

lagi oleh ginjal. Di samping itu, dengan pertumbuhan yang cepat dan aktivitas fisik yang

bertambah maka formula adaptasi tidak cukup lagi untuk memenuhi kebutuhan bayi di atas 6

bulan, pertumbuhan yang cepat memerlukan protein ekstra untuk perkembangan dan juga lebih

banyak mineral. Formula lanjutan dapat diberikan pada anak dari usia 6 bulan - 3 tahun.

D.               Makanan Tambahan

ASI dalam jumlah yang cukup memang merupakan makanan terbaik dan dapat memenuhi

kebutuhan gizi bayi selama 4-6 bulan pertama. Namun, setelah umur 4 bulan, kebutuhan gizi

bayi meningkat sehingga bayi memerlukan makanan tambahan yang tidak seluruhnya dapat

dipenuhi oleh ASI saja. Setelah bayi berumur 4 bulan secara berangsur-angsur perlu diberikan

makanan tambahan berupa sari buah atau buah-buahan segar, makanan lumat, dan akhirnya

makanan lembek.

1.            Pentingnya pemberian makanan tambahan

Tujuan dan pentingnya pemberian makanan tambahan menurut Persatuan Ahli Gizi

Indonesia (Persagi: 1992) antara lain:

a.       Melengkapi zat-zat gizi yang kurang terdapat dalam ASI

Page 86: Buku Bsoekidjo

b.      Mengembangkan kemampuan bayi-untuk menerima, bermacam-macam makanan dengan

berbagai rasa dan tekstur.

c.       Mengembangkan kemampuan bayi untuk mengunyah dan menelan.

d.      Melakukan adaptasi terhadap makanan yang mengandung kadar energi yang tinggi.

2.            Cara memberikan makanan tambahan

Agar makanan tambahan dapat diberikan dengan efisien, sebaiknya diperhatikan cara-cara

pemberiannya sebagai berikut.

a.             Diberikan secara berhati-hati, sedikit demi sedikit, dari: bentuk encer secara berangsur-

angsur ke bentuk yang lebih kental.

b.            Makanan baru diperkenalkan satu persatu dengan memperhatikan bahwa makanan betul-

betul dapat diterima dngan baik.

c.             Makanan yang menimbulkan alergi, yaitu sumber protein hewani diberikan terakhir.

d.            Makanan jangan dipaksakan, sebaiknya diberikan pada waktu bayi lapar.

E.   Kebutuhan Gizi pada Bayi

          Pemberian makanan tambahan sebagai makanan pendamping ASI harusdisesuaikan

dengan umur bayi. Karena itu alternative pemenuhan gizi bayi pun harus disesuaikan dengan

umur bayi.

Lainnya dari resume buku

Resume buku KesMas : Prof. Dr. Soekidjo Notoatmodjo (bag.1) Resume buku Psikologi Sosial : THEODORE M. NEWCOMB dkk. Resume buku Psikologi umum : SARLITO W. SARWONO Resume Buku Dinamika Kelompok : slamet santoso (Bag.1) Resume buku Metode pembelajaran PLS : M. DJAUZI MOEDZAKIR (Bag.1) KesMas : Prof. Dr. Soekidjo Notoatmodjo (bag.2)

Ditulis Oleh : ika putriey Hari: 12.57 Kategori: resume buku

di 12.57

0 komentar:

Poskan Komentar

Page 87: Buku Bsoekidjo

Link ke posting ini

Buat sebuah Link

‹ makalah profesi keguruan : 4 kompetensi yang harus di miliki guru (upaya meningkatkan kompetensi : pedagogik, kepribadian, sosial & profesional) Resume buku Psikologi Sosial : THEODORE M. NEWCOMB dkk. ›

posting terbaru

Kumpulan Puisi rindu

(27 Jun 2012)

(0 comments)

KesMas : Prof. Dr. Soekidjo Notoatmodjo (bag.2)

(04 Jul 2012)

(0 comments)

makalah antropologi : budaya dan integrasi sosial

(06 08 2012)

(2 comments)

Cerpen cinta : Janji

(06 08 2012)

(0 comments)

Page 88: Buku Bsoekidjo

MenU

cerita pendek (cerpen) (3) humor (1) jenis jenis teks dalam bahasa inggris ; contoh paragraf ( genre of text ) (13) kesehatan (3) makalah (7) mutiara kata (2) pendidikan (1) pendidikan luar sekolah (4) puisi cinta (6) resume buku (6)

Mengenai Saya

ika putriey Jurusan Pendidikan Luar Sekolah 2011 di FKIP UNIVERSITAS NEGERI JEMBER

Lihat profil lengkapku

Followers

 

Beranda Tentang Facebook Twitter

copyright 2011-2012 design by dadang herdiana