bukan sekedar hitam putih edisi revisi

Download Bukan Sekedar Hitam Putih Edisi Revisi

Post on 30-Jun-2015

1.751 views

Category:

Documents

5 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

BUKAN SEKEDAR HITAM PUTIH: Kontroversi Pemahaman Ahmadiyah M. A. Suryawan M. A. Suryawan, 2005 dan Azzahra Publishing, 2005 xxx + 236 halaman: 20.5 x 14.5 cm. ISBN: 979-25-4100-4 Rancang Sampul: Team Azzahra Publishing Cetakan I: Januari 2006

Penerbit/Distribusi: Azzahra Publishing CV Azzahra Multimedia Jl. Daan Mogot Km 21 P.O. Box 442 Tangerang 15001, Indonesia Tel: 021-3011868 Fax: 021-5531816 E-mail: publishing@azzahra.co.id

Hak cipta pada Penulis dan Penerbit Dilarang memproduksi/memperbanyak buku ini dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Penulis dan atau Penerbit. All rights reserved.

Untuk putri-putriku jika sudah besar nanti, Azzahra Alya Suryawan Aziza Adelya Suryawan

Persembahan: Untuk semua yang berminat mengenal Imam Mahdi/Masih Mauud a.s. dan Jemaat Ahmadiyah

iii

iv

SAMBUTANAMIR NASIONAL JEMAAT AHMADIYAH INDONESIA Assalamualaikum wa Rahmatullahi wa BarakatuhDi tengah badai fitnah terhadap Ahmadiyah, telah terbit buku Bukan Sekedar Hitam Putih yang disusun oleh Saudara M. A. Suryawan, yang isinya cukup memadai untuk menjawab segala fitnah yang ditujukan kepada Jemaat Ahmadiyah. Mudah-mudahan buku ini dapat menghilangkan kesalahpahaman terhadap Jemaat Ahmadiyah dan dapat membantu pembaca untuk memahami paham Ahmadiyah secara benar, karena sesuai firman Allah SWT dalam Al-Quran: Dan janganlah engkau ikuti apa yang tentang itu engkau tidak mempunyai ilmu. Sesungguhnya telinga dan mata dan hati semuanya akan ditanya mengenai itu. (Bani Israil : 37) Terima kasih kepada Saudara M. A. Suryawan. Jazakumullah ahsanal jaza, dan selamat membaca bagi pencari kebenaran. Semoga kita semua senantiasa mendapat ridho Ilahi. Amin. Wassalam, H. Abdul Basit

v

vi

PENGANTARGERAKAN AHMADIYAH DALAM KRISISOleh: M. Dawam Rahardjo Jemaat Ahmadiyah, demikian mereka memanggil dirinya, di Pakistan, negara kelahirannya sendiri, sejak 1889, secara konstitusional pada tahun 1984, dianggap sebagai kelompok non-Muslim dan golongan minoritas, namun diberi hak hidup, bahkan mempunyai perwakilan di parlemen. Sedang di dunia Islam, organisasi-organisasi Dunia Islam, semacam Rabithah Alam Islami yang berpusat di Saudi Arabia itu, juga menganggap Ahmadiyah sebagai kelompok yang sesat dan menyesatkan dan karena itu tidak diizinkan mendirikan organisasi formal yang menyelenggarakan kegiatan pengembangannya. Di kebanyakan negara-negara Islam, Ahmadiyah dilarang menyebarkan ajaran-ajarannya, tidak boleh menamakan masjid sebagai tempat beribadah dan juga tidak diperbolehkan menyerukan adzan sebagai cara memanggil orang bersembahyang. Di Indonesia, baru-baru ini, menjelang Hari Raya Idhul Fitri, Jemaat Ahmadiyah oleh Front Pembela Islam, dilarang mengikuti sholat Id, dan hanya boleh melakukan ibadah itu di dalam rumah mereka masing-masing. Ketika anggota Jemaat Ahmadiyah akan melaksanakan sholat Id di Parung, maka polisi mencegah mereka, karena khawatir akan terjadi tindak kekerasan. Padahal Ahmadiyah sendiri tidak menganggap dirinya sebagai kelompok non-Muslim. Mereka hanya mengaku sebagai sebuah sekte atau mazhab dalam Islam. Bahkan mereka juga menganggap diri mereka sebagai salah satu bentuk dan manifestasi gerakan kebangkitan Islam pada abad ke-19.

vii

Namun, karena mereka ditolak identifikasinya sebagai bagian umat Islam, maka mereka melakukan kegiatannya sendiri. Bagaikan kaum Muslim di zaman Nabi dalam periode awal, karena ditolak di negeri kelahirannya sendiri, sehingga terpaksa hijrah ke Negeri Kristen Abesenia dan kemudian Yathrib yang sudah merupakan suatu masyarakat plural, gerakan Ahmadiyah juga terpaksa hijrah ke negara-negara nonMuslim atau negara-negara sekuler. Sejak tahun 1985, Mirza Thahir Ahmad, Khalifah gerakan Ahmadiyah, memindahkan pusat kegiatannya ke London. Tapi justru di negara-negara sekuler itulah Ahmadiyah berkembang pesat, bukan saja karena gelombang migrasi orang-orang India-Pakistan, tetapi juga karena bertambahnya penganut Islam di kalangan orangorang Eropa Barat sendiri. Pemerintah Inggris, dengan alasan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia, terutama kebebasan beragama, orang-orang Ahmadiyah diberi kemudahan untuk berpindah ke Inggris dan negara-negara Eropa Barat lainnya, sehingga banyak orang yang sebenarnya bermotivasi untuk bermigrasi ke Eropa Barat yang lebih makmur, masuk Ahmadiyah agar mendapatkan kemudahan meninggalkan tanah airnya yang masih dililit kemiskinan dan penindasan politik. Faktor ini juga memberikan kontribusi yang berarti bagi perkembangan gerakan yang mula pertama didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad di India-Pakistan itu. Gerakan Ahmadiyah, sebagai organisasi sudah dikenal di Indonesia sejak 1924 dengan berdirinya sempalan gerakan ini, yaitu Ahmadiyah Lahore yang dipimpin oleh Mohammad Ali. Ini disusul dengan masuknya Ahmadiyah yang lebih asli yaitu Ahmadiyah Qadian, lewat Tapak Tuan Aceh. Namun, di Indonesia, yang lebih dikenal adalah Ahmadiyah Lahore, karena penerbitan-penerbitan mereka tentang Islam dalam bahasa Inggris. Dari penerbitan-penerbitan itulah, terutama

viii

karangan Mohammad Ali dan Kwaja Kamaluddin, tokoh pergerakan Islam HOS Tjokroaminoto, banyak belajar Islam, karena ia tidak bisa berbahasa Arab sehingga tidak bisa membaca literatur Islam berbahasa Arab. Belajar Islam dari Ahmadiyah ini diikuti pula oleh Bung Karno muda, seorang nasionalis Muslim yang mulai tertarik pada ajaran Islam. Bung Karno sendiri suka membaca literatur Ahmadiyah yang dinilainya mampu menjelaskan ajaran Islam secara rasional, sementara itu ia melihat Islam tradisional sebagai ajaran yang penuh dengan kekolotan, sehingga ia menyebutnya Islam Sontoloyo. Karena simpatinya yang terbuka kepada gerakan inilah maka Bung Karno pernah dituduh sebagai telah masuk Ahmadiyah bahkan menjadi agen penyiaran, sehingga ia terpaksa menulis sebuah artikel yang berjudul Saya Tidak Percaya Ghulam Muhammad Sebagai Nabi. Jadi Bung Karno tertarik dengan dakwah Ahmadiyah, tetapi tidak bisa menerima salah satu unsur aqidahnya, yaitu tentang kepercayaan kepada nabi. Pada waktu itu persepsi umum di kalangan umat Islam adalah bahwa orang Ahmadiyah mempercayai adanya nabi baru sesudah Muhammad saw. yang dipercaya sebagai nabi dan rasul, pungkasan (khataman Nabi) dengan seruan la nabiya badah, tak ada nabi sesudah itu. Menganggap Ghulam Ahmad sebagai Nabi adalah sebuah penyelewengan aqidah yang hukumnya sesat dan menyesatkan. Namun, dalam gerakan sempalan Lahore, Mirza Ghulam Ahmad tidak diakui sebagai nabi, melainkan hanya seorang mujaddid. Sebenarnya pengakuan inipun ditolak oleh kebanyakan umat Islam. Mereka menganggap Jamaluddin Alafghani dan Muhammad Abduh sebagai mujaddid. Karena itu maka Ahmadiyah Lahore tidak dipandang sesat dan karena itu dakwahnya masih bisa diikuti. Apalagi, buku-buku

ix

Mohammad Ali memang berisikan pemikiran-pemikiran yang cemerlang dan mengagumkan. Ia telah menerjemahkan al Quran ke dalam bahasa Inggris, dalam bahasa sastra Inggris yang tinggi mutunya, dengan judul The Holy Quran (1909). Ia juga telah menyusun sebuah buku pengantar Islam (introduction to Islam) dalam bahasa Inggris dalam suatu narasi yang anggun dan dapat diterima oleh golongan berpendidikan. Ia juga mengarang sebuah buku mengenai sejarah Muhammad yang disadur oleh HOS Tjokroaminoto. Dakwah gerakan Ahmadiyah ini telah memberikan sumbangan yang sangat besar terhadap pembentukan persepsi Islam secara modern dalam gerakan Islam di Indonesia. Namun Islam dalam wacana Ahmadiyah bukan merupakan Islam ideologis-politis, melainkan lebih sebagai Islam-kultural. Di situ Islam dipersepsikan sebagai suatu agama yang rasional dan cocok dengan masyarakat modern. Ahmadiyah Qadian juga ikut berkembang, tetapi lebih secara diam-diam, terutama setelah mendidik sejumlah anak muda dari Madrasah Thawalib, Padang Panjang. Jika Ahmadiyah bergerak di tataran cendekiawan dan kaum terpelajar, maka Qadian lebih banyak bergerak di tingkat bawah dengan membentuk kelompok-kelompok masyarakat oleh mubaligmubalig muda yang terdidik. Karena itu dakwah keduanya juga berbeda. Jika Ahmadiyah Lahore mengenalkan Islam sebagai agama yang rasional, maka Ahmadiyah Qadian lebih mengutamakan pendidikan akhlak dalam rangka pembentukan masyarakat ethis (ethical community). Selain itu Ahmadiyah Qadian lebih menekankan ortodoksi yang tak berbeda dengan Islam Sunni pada umumnya, walaupun lebih bercorak teologi daripada fiqih.

x

Di Indonesia, Ahmadiyah dikenal dengan Tafsir al Quran yang dikarang oleh Khalifah Kedua, Bashiruddin Mahmud Ahmad. Tafsir inilah yang dijadikan bahan siaran tafsir al Quran RRI yang disampaikan oleh Ustadz Zulkifli Mahmud yang terkenal. Buku tafsir ini juga luar biasa menarik, karena mampu menggali arkeologi agama-agama sebelum Islam, dalam menjelaskan ayat-ayat al Quran. Pemikiran Bashiruddin Mahmud Ahmad ini, pada tahun 1950-an dipopulerkan di Indonesia oleh seorang sastrawan Muslim terkemuka, Bahrum Rangkuti. Pengaruh ini nampak dalam buku sastrawan Angkatan 45 itu Kandungan Alfatihah, sebuah wacana teologi bercorak sastra. Sebagaimana diketahui Bahrum Rangkuti juga dikenal sebagai seorang yang memperkenalkan puisi dan filsafat Mohammad Iqbal di Indonesia, dengan bukunya yang terkenal Rahasia Pribadi (Asraril Khudi). Sekalipun berkembang dalam wacana publik, tidak ada kelompok umat Islam yang menentang wacana itu, bahkan disambut hangat di dunia kebudayaan. Bahrum Rangkuti sendiri pada zaman awal Orde Baru, pernah menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Departemen Agama di bawah Menteri A. Mukti Ali. Pada menteri intelektual itu tahu persis apa itu Ahmadiyah dan siapa Bahrum Rangkuti yang pengikut Ahmadiyah Qadian itu. Tidak adanya reaksi dari kalangan umat Islam itu menunjukkan bahwa gerakan Ahmadiyah tidak mengembangkan ajaran yang aneh-aneh yang dianggap menyimpang dari ajaran Islam, sehingga umat Islam seolaholah lupa, bahwa Ahmadiyah memiliki unsur aqidah kenabian yang dianggap menyimpang.

Recommended

View more >