budiaya tebu

Download budiaya tebu

Post on 26-Jun-2015

823 views

Category:

Documents

10 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

BUDIDAYA TANAMAN TEBU

DIREKTORAT DITJEN PERKEBUNAN DEPARTEMEN PERTANIAN

KARAKTERISTIK TANAMAN TEBU 1. PENDAHULUANTanaman tebu (Saccharum officinarum L) merupkan tanaman asli tropika basah. Penanaman tebu di Indonesia dimulai pada saat sistim Tanam Paksa (Tahun 1870) yang memberikan keuntungan besar untuk kas negara pemerintahan kolonial Belanda. Setelah sistim Tanam Paksa dihentikan, usaha perkebunan tebu dilakukan oleh pengusaha-pengusaha swasta. Perluasan perkebunan tebu tidak pernah melampaui Pulau Jawa karena memang jenis tanaman dan pola pertanian di Pulau Jawa lebih sesuai untuk penanaman tebu. Daerah jantung perkebunan tebu yang tumbuh sejak tahun 1940-an dan berkembang sampai sekarang adalah daerah pesisir utara dari Cirebon hingga Semarang di sebelah selatan Gunung Muria hingga Madiun, Kediri, Besuki, disepanjang Probolinggo hingga ke Malang melalui Pasuruan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Gula Indonesia (P3GI) Pasuran telah berperan melakukan penelitian-penelitian untuk menghasilkan varietas unggul dan berbagai produk turunannya seperti fermentasi pembuatan etanol dari tetes, pembuatan ragi roti, pakan ternak, gula cair, pulp, karton dan particle board dari ampas tebu, pembuatan kompos dari blotong, pemanfaatan pucuk tebu dari empulur ampas tebu untuk pakan ternak.

-

-

II. POTENSI DAN KINERJA INDUSTRI GULA

- Indonesia sebagai negara produsen gula memiliki 58 pabrik gula putih berbahan baku tebu dengan kapasitas 195.810 TTH serta 5 pabrik gula rafinasi berbahan baku gula mentah impor (raw sugar)dengan kapasitas 2 juta ton per tahun. Dewasa ini Indonesia belum dapat memenuhi kebutuhan gula dalam negeri. - Dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi gula dalam negeri, di rencanakan akan dilakukan perluasan areal pengembangan tebu dibeberapa lokasi yang menurut survey tanah telah teridentifikasi mempunyai kesesuaian lahan dan agroklimat yang cocok untuk pengembangan tebu. Dengan pertimbangan aspek-aspek seperti tersebut diatas, pemerintah mencanangkan program Swasembada Gula pada tahun 2009 ini.

Selama kurun waktu 10 (sepuluh) tahun terakhir (1998 s/d 2008) luas areal tanaman tebu mengalami pasang surut. Dibawah ini adalah tabel luas areal dan produksi tanaman tebu dari tahun 1998 s/d 2008. Tabel 1 : Perkembangan Luas Areal, Produksi Tebu Indonesia, Tahun 1998 2008

No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11.

Tahun 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008

Luas Areal (Ha) 377.089 342.211 340.660 344.441 350.722 335.725 344.793 381.786 396.441 427.799 442.151

Produksi (Ton) 1.488.269 1.493.933 1.690.004 1.725.467 1.755.354 1.631.918 2.051.644 2.241.742 2.307.027 2.623.786 2.700.946

Tabel 2: Luas Areal dan Produksi Tebu di Indonesia Tahun 2007

No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Provinsi Jawa Timur Lampung Jawa Tengah Jawa Barat Sumatera Utara Sumatera Selatan Sulawesi Selatan Gorontalo DI Yogyakarta

Luas areal 206.234 103.459 51.425 23.661 13.416 12.499 10.894 10.022 6.430

Produksi 1.340.919 714.641 249.526 127.297 48.689 56.318 19.149 51.462 15.785

III. BUDIDAYA TANAMAN TEBU1. Persyaratan Tumbuh dan lokasi a. Tanah 1. Fisik Tanah Yang termasuk fisik tanah adalah struktur, tekstur dan kedalaman tanah. Struktur tanah yang ideal adalah tanah yang gembur sehingga aerasi udara dan perakaran berkembang sempurna. Pengolahan tanah dilaksanakan untuk memecahkan bongkahan tanah atau agregat tanah menjadi partikel-partikel kecil sehingga akar mudah menerobosnya. Tekstur tanah adalah perbandingan partikel-partikel kecil sehingga akar mudah menerobosnya. Tekstur tanah adalah perbandingan partikel-partikel tanah berupa lempung, debu dan liat. Tekstur tanah ringan sampai agak berat dengan berkemampuan menahan air cukup dan porositas 30 % merupakan tekstur tanah yang ideal bagi pertumbumbuhan tanaman tebu. Kedalaman (solum) tanah untuk pertumbuhan tanaman tebu minimal 50 cm dengan tidak ada lapisan kedap air dan permukaan air 40 cm. Pada lahan kering yang akan ditanami tebu, apabila lapisan tanah atasnya tipis, maka pengolahan tanah harus dalam. Demikian pula apabila ditemukan lapisan kedap air, lapisan ini harus dipecah agar sistim aerasi, air tanah dan perakaran tanaman berkembang dengan baik. 2. Drainase Tanaman tebu akan tumbuh baik pada tanah dengan kedalaman yang cukup dengan drainase yang baik dan dalam, lebih kurang 1 meter dalamnya, memungkinkan akar tanaman menyerap air dan unsure hara, pada lapisan yang lebih dalam. Sistim perakaran yang mencapai lapisan tanah yang dalam akan memberi peluang bagi tanaman tebu untuk bertahan hidup selama musim kemarau tanpa mengganggu pertumbuhan. Tanah dengan sistim drainase yang baik dapat menyalurkan pembuangan air selama musim penghujan. Kelebihan air pada daerah perakaran juga dapat dikurangi. Kelebihan air ditanah juga dapat menghambat pertumbuhan tanaman karena tanah akan kekurangan oksigen (zat asam) yang bagi tanaman sangan penting untuk aktivitas hidupnya. Pengolahan tanah dan sistim drainase yang dalam, mendorong sistim perakaran berkembang secara vertical sehingga dapat menyerap unsur hara lebih banyak dan tahan kekeringan.

3. Kimia Tanah Kimia tanah meliputi kandungan unsure hara, pH tanah dan bahan racun dalam tanah. Kemampuan tanah menyediaakan unsur hara untuk pertumbuhan tanaman dapat dilihat dari kemampuan pada kapasitas penukar kation dan kejenuhan basah. Tanah dengan kapasitas penukaran kation yang tinggi dapat memberikan hara yang baik. Untuk memberikan dosis pupuk yang tepat perlu dilakukan analisa tanah dan analisa daun. Dari hasil analisa, dapat diketahui kandungan unsure hara dalam tanah yang terbawah didaun, sehingga tambahan unsur hara yang diperlukan tanaman sesuai kebutuhan. PH tanah untuk pertumbuhan tanaman tebu yang paling optimal berkisar antara 6,0 7,5, namun masih toleran pada pH 4,5 8,5. Pada pH netral efisiensi pemupukan NPK lebih tinggi, sedangkan pada pH kurang dari 5,0 dapat menyebabkan tersedianya unsure P untuk Al dan Fe. Oleh karena itu pada tanah dengan pH dibawah 5 (tanah basah) perlu diberikan pemberian kapur (CaCo3). Dengan bantuan kapur fixasi dan keracunan oleh unsure Fe dan Al dapat dikurangi. Bahan racun dalam tanah utamanya adalah unsure Clor (Cl), Fe dan Al. Kadar Cl 0,06 0,1 % telah bersifat racun bagi akar tanaman. Tanah yang airnya buiruk dapat menimbulkan keracunan Fe, Al dan sulfat (SO4), sedangkan tanah ditepi pantai karena rembesan air laut, kadar Cl nya cukup tinggi sehingga bersifat racun. 4. Jenis Tanah Tanaman tebu dapat tumbuh baik pada berbagai jenis tanah sepeti tanah alluvial, grumosol, latosol dan regusol. Tanah yang baik untuk ditanamai tebu adalah tanah endapan abu kepulan seperti yang terdapat di Yogyakarta, Surakarta, Kediri, Jombang dan Jember. Tanah alluvial banyak ditanami tebu. Tanah grumosol tersebar dibagian selatan pantai utara Jawa di selatan dataran Yogyakarta, Surakarta, madiun Jombang dan Mojokerto. Jenis tanah yang ditanami tebu diluar Jawa pada umumnya pada tanah latosol dan posolik merah kuning dengan solum dalam, mempunyai struktur dan tekstur yang baik. b. Lahan 1. Tinggi Tempat Tanaman tebu dapat tumbuh baik dipantai sampai dataran tinggi antara 0 1400 m diatas permukaan laut, tetapi mulai ketinggian 1200 m diatas permukaan laut partumbuhan tanaman relative lambat.

2. Kemiringan Lahan Bentuk lahan sebaiknya bergelombang antara 0 15 %. Lahan terbaik bagi tanaman tebu dilahan kering/tegalan adalah lahan dengan kemiringan kurang dari 8 %, kemiringan sampai 10 % dapat juga digunakan untuk areal yang dilokalisir. Syarat lahan tebu adalah berlereng panjang, rata dan melandai sampai 2 % apabila tanahnya ringan dan sampai 5 % apabila tanahnya lebih berat. c. Iklim 1. Curah Hujan Tanaman tebu memerlukan curah hujan yang berkisar antara 1.000 1.300 mm pertahun dengan sekurang-kurangnya 3 bulan kering. Curah hujan yang ideal adalah selama 5 6 bulan dengan rata-rata curah hujan 200 mm, curah hujan yang tinggi diperlukan untuk pertumbuhan vegetatife yang meliputi perkembangan anakan, tinggi dan besar batang. Periode selanjutnya selama 2 bulan dengan curah hujan 125 mm dan 4 5 bulan berkaitan dengan curah hujan kurang dari 75 mm/bulan yang merupakan periode kering. Pada periode ini merupakan pertumbuhan generative dan pemasakan tebu. Sehubungan dengan curah hujan tersebut, maka wilayah yang dapat diusahakan untuk tebu lahan kering/tegalan adalah sebagai berikut: Tabel 5: Wilayah yang dapat diusahakan untuk tanaman tebu tegalan

Zona Iklim B1 B2 C2 C3 D2 D3Keterangan:

Jumlah Bulan Basah 79 79 56 56 56 34

Jumlah Bulan Keterangan Kering 2 Daerah basah 24 Daerah sedang 24 56 24 Daerah kering 56

- Zone iklim atas dasar klasifikasi menurut Odelman - Bulan basah yaitu bulan yang mempunyai curah hujan lebih dari 200 mm/bulan, bulan lembab antara 100 200 mm/bulan dan bulan kering kurang dari 100 mm/bulan.

Zone iklim digunakan untuk menentukan cara serta saat pengolahan tanah dan masa tanam. Penanaman periode I (menjelang musim kemarau untuk zona iklim B1 dan B2. Periode II ( menjelang musim hujan) untuk zona iklim D2 sedangkan zona iklim C2 dan C3 dapat dilakukan periode I dan atau periode II pada setiap zona memerlukan persyaratan tersendiri. Daerah dengan curah hujan tahun terbesar 1500-3000 mm diikutidengan penyebaran sesuai dengan kebutuhan tanaman tebu merupakan daerah yang baik untuk pengembangan tebu. Daerah dengan jumlah curah hujan terbesar 1200-1300 mm dengan bulan kering 6-7 bulan masih dapat dikembangkan asalkan kelembaban tanah cukup tinggi dan dapat diusahakan pengairan. Pada masa pertumbuhan vegetative, jumlah air yang diperlukan untuk evapotranspirasi (penguapan air dari tanah dan tanaman) sebesar 3-5 mm per hari,atau kebutuhan air hujan selama satu bulan ini minimal dengan curah hujan 100 mm. Selama periode pemanasan tebu dibutuhkan bulan kering, curah hujan diatas evapotranspirasi menga