buat semhas

Download buat semhas

Post on 28-Dec-2015

95 views

Category:

Documents

7 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

EFEKTIFITAS EKSTRAK BUAH KEMUKUS (Piper cubeba L) DAN MINYAK KEMUKUS SEBAGAI LARVASIDA NYAMUK Aedes aegypti

HASBI IBRAHIM105096003164

PROGRAM STUDI KIMIAFAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGIUNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAHJAKARTA2013 M / 1434 HKATA PENGANTARBAB IPENDAHULUAN1.1Latar BelakangNyamuk merupakan serangga yang sangat mengganggu karena selain menyebabkan rasa gatal dan sakit, beberapa jenis nyamuk merupakan vektor atau penular berbagai jenis penyakit berbahaya bagi manusia, misalnya penyakit kaki gajah, malaria, dan demam berdarah (dengue haemorrhagic fever) (Kardinan, 2007).Penyakit demam berdarah disebabkan oleh virus yang ditularkan nyamuk Aedes agepty L. saat ini nyamuk demam berdarah sudah tersebar di hampir seluruh Indonesia. Berbagai upaya sudah dilakukan untuk menanggulangi penyakit ini, antara lain dengan mengendalikan vektor penyebabnya (nyamuk Aedes aegypti), tetapi hasil yang dicapai belum memuaskan hal ini dapat dibuktikan oleh wabah penyakit demam berdarah yang masih terjadi setiap tahun. (Kardinan, 2007). Pengendalian menggunakan insektisida konvensional menimbulkan masalah yaitu pengaruhnya terhadap lingkungan dan sifat resistensinya sehingga perlu dicari alternatif bahan yang lebih ramah lingkungan. Salah satu alternatif pengendalian yaitu menggunakan ekstrak herbal dari tanaman tertentu yang didalamnya terkandung senyawa kimia yang bersifat bioaktif (Tarmidi, 2013).Berbagai jenis tanaman telah diketahui mengandung senyawa bioaktif seperti seperti fenilpropan, terpenoid, alkaloid, asetogenin, steroid dan tanin yang bersifat sebagai insektisida. Uji toksisitas beberapa tanaman telah dilakukan terhadap larva nyamuk, seperti minyak tumbuhan yang berasal dari tanaman (Camphor, Thyme, Amyris, Lemon, Cedarwood, Frankincense, Dill, Myrtle, Juniper, Black Pepper, Verbena, Helichrysum and Sandalwood) yang dilaporkan memiliki bioaktivitas sebagai larvasida nyamuk Aedes aegypti. Ekstrak daun dari tanaman Euphorbiaceae seperti Croton nepetaefolius, C. zehntneri, dan C. argyrophylloides terbukti mampu membunuh 100% larva Aedes aegypti skala laboratorium (Astuti, 2008).Penelitian tentang sifat insektisida buah kemukus masih terbatas. Di Amerika Serikat dilaporkan bahwa ekstrak heksana buah kemukus bersifat toksik dan repelen terhadap kumbang gudang Sitophilus oryzae dan Callosobruchus maculatus. Penyulingan buah kemukus menghasilkan minyak atsiri sebanyak 11,8 % (w/w) dan dari minyak atsiri tersebut berhasil di identifikasi 105 senyawa yang termasuk dalam golongan terpen dan seskuiterpen. Senyawa dalam dua kelompok tersebut banyak yang bersifat sebagai penghambat makan atau repelen terhadap serangga (Nugroho, 2008).Dengan memperhatikan kemampuan senyawa aktif buah kemukus (Piper cubeba L) sebagai insektisida dan larvasida maka perlu dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui potensi ekstrak buah kemukus. dengan cara menghitung persentase kematian larva (LC50) Aedes aegypti setelah pemberian ekstrak buah kemukus (Piper cubeba L).1.2Perumusan Masalah1. Berapakah rendemen yang dihasilkan dari hasil ekstrak etanol dan ekstrak n-heksana kemukus.2. Ekstrak manakah yang memberikan memberikan hasil paling efektif sebagai larvasida Aedes aegypti ?3. Senyawa apakah yang terkandung dalam kemukus dan berperan sebagai larvasida Aedes aegypti berdasarkan analisa GC-MS ?1.3Tujuan Penelitian 1. Menentukan rendemen yang dihasilkan dari ekstrak etanol buah kemukus dan n-heksan kemukus.2. Menentukan Nilai LC50 dan LC90 ekstrak etanol dan ekstrak n-heksana kemukus serta minyak kemukus untuk mengetahui efektifitasnya sebagi larvasida Aedes aegypti.3. Mengidentifikasi senyawa hasil ekstrak yang diduga berpotensi sebgai larvasida Aedes aegypti. 1.4ManfaatMenambah inventarisasi jenis tanaman yang berpotensi sebagai larvasida nyamuk Aedes aegypti. Selanjutnya dapat digunakan sebagai alternatif insektisida alami dalam upaya pengendalian penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA2.1 Ekstraksi2.1.1 Prinsip Dasar EkstraksiPada prinsipnya ekstraksi merupakan penerapan lanjut dari berbagai teknik pemisahan untuk mendapatkan salah satu komponen dalam jumlah yang optimal. Ekstraksi ini didasarkan pada perpindahan massa komponen zat terlarut kedalam pelarut dimana perpindahan mulai terjadi pada lapisan antar muka kemudian berdifusi kedalam pelarut (Syah, 2012).Secara definisi ekstraksi adalah proses memisahkan suatu penyusun yang diinginkan dari penyusun penyusun lain dalam suatu campuran dengan biasanya menggunakann pelarut seperti air atau pelarut organik lainnya tetapi bisa juga secara mekanis atau pemerasan (Pudjaatmaka, 2002). Ekstraksi disebut juga sebagai proses pemisahan suatu zat berdasarkan perbedaan sifat tertentu, terutama sifat kelarutannya terhadap dua cairan tidak saling larut, biasanya air dan yang lainnya pelarut organik (Dahrul Syah, 2012).Sedangkan menurut Tarmidi (2013) ekstraksi adalah suatu cara untuk memisahkan campuran beberapa zat menjadi komponen komponen terpisah. Ragam ekstraksi yang tepat tergantung pada tekstur dan kandungan air bahan tumbuhan yang di ekstraksi dan pada jenis senyawa yang diisolasi.2.1.2 Metode EkstraksiPrinsip dasar ekstraksi adalah mencari cara yang paling optimal untuk mengeluarkan komponen zat yang diinginkan. Beberapa prinsip dasar yang dapat digunakan antara lain ; maserasi, perkolasi, distilasi uap, ekstraksi cair cair dan pencucian (leaching) (Syah, 2012).Berdasarkan bentuk campuran yang di ekstraksi, dapat dibedakan dua macam ekstraksi (Tarmidi, 2012) :1. Ekstraksi padat cair yaitu jika substansi yang di ekstrak terdapat di dalam campuran yang berbentuk padat. Proses ini paling banyak ditemukan dalam usaha mengisolasi suatu substansi yang terkandung di dalam suatu bahan alam.2. Ekstraksi cair cair ; jika substansi yang di ekstraksi terdapat dalam campuran yang berbentuk cair.Berdasarkan proses pelaksanaannya, ekstraksi dapat dibedakan sebagai berikut (Tarmidi, 2012) :1. Ektraksi yang berkesinambungan (continuous extraction) dimana dalam ekstraksi ini pelarut yang sama dipakai berulang ulang sampai proses ekstraksi selesai.2. Ekstraksi bertahap (bath extraction) dimana dalam ekstraksi ini setiap tahap ekstraksi selalu dipakai pelarut yang baru sampai proses ekstraksi selesai. 2.2 Kemukus2.2.1 Morfologi KemukusKemukus (Piper cubeba linn) merupakan tanaman merambat dan termasuk dalam family piperaceae. Di Indonesia dikenal dengan beberapa nama daerah, misalnya di daerah jawa tengah disebut kemukus atau temukus, di daerah sunda dikenal dengan nama rinu atau sahang gunung, di Madura di kenal dengan nam pamukusu (Heyne, 1987).Buah kemukus (Gambar 1) mirip dengan buah lada, perbedaannya adalah pada bagian ujung buah kemukus terdapat bagian yang menyerupai ekor sehingga biasanya disebut dengan tailed pepper atau lada berekor (Susanti, 2007). Buah kemukus berbentuk bulat dengan diameter 3-6 mm, tetapi ada pula yang berbentuk lancip dengan ukuran panjang 7 mm. Buah kemukus akan berwarna jingga ketika masak, dengan ketebalan kulit buah 0,3 mm dan memiliki pericarp (dinding buah) berbentuk jala. Jika tanaman kemukus akan berbuah, pada ujung batang akan terdapat tiga buah stigma (kepala putik) dengan salah satu stigma akan memanjang dan berbentuk lancip. Kemudian pada stigma tersebut akan terbentuk batang batang kecil dengan panjang 4 mm, sebagai tempat menopang buah kemukus (Ketaren, 1985).

Gambar 1. Tanaman Kemukus (Piper cubeba L) (biodiversityexhibition.com) 2.2.2 Klasifikasi Sistematika tanaman kemukus sesuai dengan taksonominya adalah :Sinonim : Cubila Officinalis Miq.Divisi : SpermatophytaSub divisi : AngiospermaeKelas : DicotyledonaeBangsa : PiperalesSuku : PiperaceaeMarga : PiperJenis : Piper cubeba L.2.2.3Kandungan Kimia KemukusBuah kemukus mengandung 33 persen d-sabinen, 12 persen d-"4- karen dan sineol, 11 persen d-terpinen-4-ol dan alkohol lain, 14 persen 1-kadinen dan seskuiterpen lain, 17 persen seskuiterpen alkohol dan 13 persen komponen yang belum teridentifikasi (Putri, 2007).Buah kemukus mengandung minyak atsiri 10-20 % yang terdiri atas kadinen, sineol, karen, sabinen, pinen, kamfor, azulen dan terpineol. Asam kubebat kurang lebih 1 %, damar 2,5 3,5 %, zat pahit (kubebin 0,3 3 %), gom, pati dan minyak lemak (Perry L, 1980). Buah Piper cubeba L (kemukus) mengandung senyawa lignan yang terdiri dari kubebin, hinokinin, klusin, dihidrokubebin, dihidro-klusin, kubebin yatein, kubebino-lida, kordigerin, isoyatein. Buah kemukus juga mengandung minyak atsiri 10-15 % dan oleoresin 3% yang terdiri dari kubebin 2% dan asam kubebat 1% (Badheka et al, 1986). Beberapa senyawa kimia yang terkandung dalam buah kemukus (Putri, 2007) :a. SabineneSabinene (Gambar 2) adalah monoterpen bisikliks yang secara alami terdapat dalam bentuk dextro dan levo. Merupakan cairan tidak berwarna dan bersifat labil, memiliki berat jenis 0,844 g/ml dan titik didih 163 164oC. Sabinene mempunyai aroma lada, memiliki rasa khas rempah rempah dan pada konsentrasi diatas 50 ppm terasa panas dan sedikit tajam dimulut.

Gambar 2. Struktur Sabinene (4-methylidene-1-(propan-2-yl)bicyclo [3.1.0]hexane)b. EucalyptolEucalyptol merupakan monoterpen monosiklik berbentuk cairan bening tidak berwarna dan larut dalam alcohol, minyak, kloroform, ester, asam asetat glasial dan sedikit larut dalam air. Mempunyai titik didih 176 177oC, bobot molekul 154,249 g/mol dan berat jenis 0,9225 g/cm3. Memiliki bau segar, rasa pedas dan dingin. Digunakan dalam perasa, parfum dan kosmetik serta bahan tambahan pada rokok, juga merupakan bahan yang digunakan dalam penyegar mulut dan obat batuk.Eucalyptol (Gambar 3 )merupakan komponen utama dalam pembasmi serangga Eugania haileensisis. Eucalyptol memiliki aktifitas antiseptik, dan ekspektoran yang digunakan pada banyak pelega hidung dan tenggoroka