briefing awal tahun menteri perdagangan ri: menjaga ... ?· indonesia adalah anggota g20 yang saat...

Download Briefing Awal Tahun Menteri Perdagangan RI: Menjaga ... ?· Indonesia adalah anggota G20 yang saat ini…

Post on 06-Mar-2019

212 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

SIARAN PERS Pusat HUMAS Kementerian Perdagangan

Gd. I Lt. 2, Jl. M.I Ridwan Rais No. 5, Jakarta 10110 Telp: 021-3860371/Fax: 021-3508711

www.kemendag.go.id

Briefing Awal Tahun Menteri Perdagangan RI: Menjaga Momentum Rekor Kinerja Ekspor Tahun 2010 ke Tahun 2011

dengan Meningkatkan Daya Saing Produk Indonesia Jakarta, 5 Januari 2011 Dinamika perekonomian dunia dan dalam negeri telah mewarnai perjalanan pembangunan di bidang perdagangan selama periode Januari-Desember 2010. Perekonomian global secara bertahap kembali pulih lebih baik dari yang diperkirakan semula, walaupun berlangsung dengan tingkat yang berbeda diantara negara-negara maju dengan negara sedang berkembang. Produk Domestik Bruto (PDB) dunia diperkirakan tumbuh mendekati 5% di tahun 2010 yang dipelopori kinerja ekonomi negara-negara berkembang yang tumbuh cepat (emerging market economies ), termasuk Indonesia. Perekonomian Indonesia mengalami pertumbuhan 5,9% sampai triwulan III 2010 dibanding tahun sebelumnya (2009), dan diperkirakan tumbuh 6% untuk seluruh tahun 2010. Ditinjau dari pertumbuhan sektor, kontribusi terbesar pertumbuhan adalah sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar 12,8%, yang diikuti sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 9,3%. Kinerja Perdagangan Luar Negeri 2010 Perbaikan kinerja di sektor perdagangan luar negeri Indonesia selama periode Januari-November 2010 telah menghasilkan ekspor nonmigas sebesar US$ 115,9 miliar atau naik 33,8% dibandingkan periode yang sama 2009 dan lebih tinggi dari 2008, US$ 107. Pertumbuhan ekspor tersebut jauh melampaui target RPJM sebesar 8,5%. Sementara itu, surplus neraca perdagangan nonmigas pada periode itu tercatat sebesar US$ 18,1 miliar, naik 6,6% dibandingkan tahun sebelumnya. Diperkirakan bahwa untuk seluruh 2010, surplus neraca perdagangan akan mendekati US$ 20 miliar atau sedikit lebih tinggi dari 2009 dan jauh lebih tinggi dari 2008, US$ 7 miliar. Pada bulan November 2010 ekspor mampu mencapai US$ 15,3 miliar, yang merupakan nilai ekspor bulanan tertinggi sepanjang sejarah ekspor Indonesia. Sementara itu, ekspor nonmigas bulan November 2010 mencapai US$ 12,6 miliar, meningkat 49,2% dari periode yang sama tahun 2009. Nilai ekspor tersebut merupakan kinerja ekspor nonmigas bulanan tertinggi sepanjang sejarah, melebihi rekor bulanan sebelumnya di bulan Agustus 2010 sebesar US$ 11,8 miliar, dan jauh di atas rata-rata nilai ekspor nonmigas bulanan sepanjang tahun 2010 sebesar US$ 10,5 miliar. Sementara itu, pemulihan investasi telah menyebabkan kenaikan total nilai impor nonmigas periode Januari-November 2010 mencapai US$ 97,8 miliar, yakni mengalami peningkatan 40,4% dibanding periode yang sama 2009. Peningkatan impor didominasi oleh kelompok bahan Baku dan Penolong mencapai 72,8% dari total impor, diikuti barang modal sebesar 19,9% dan Barang Konsumsi hanya 7,3%. Meningkatnya permintaan impor bahan baku/penolong dan barang modal merupakan respon terhadap kenaikan investasi (PMTB) sebesar 33,4% selama Januari-September 2010.

2

Diversifikasi Pasar Tujuan Ekspor Nonmigas Pencapaian rekor ekspor itu disebabkan oleh perbaikan pada kualitas ekspor, diversifikasi produk dan pasar tujuan ekspor yang disertai dengan peningkatan kapasitas produksi seiring dengan kenaikan investasi di berbagai sektor yang berbasis sumber daya alam maupun sektor-sektor seperti otomotif, elektronik, TPT, dan alas kaki. Daya saing produk-produk di luar 10 produk utama semakin meningkat yang ditandai dengan meningkatnya penetrasi ekspor produk-produk tersebut di negara-negara tujuan. Ketergantungan terhadap pasar seperti Jepang, AS, dan Eropa semakin diimbangi dengan sejumlah negara tujuan pasar yang baru, utamanya negara-negara sedang berkembang di Asia seperti RRT, India, Korea Selatan dan Negara ASEAN lainnya. Kini dan ke depan, ekspor Indonesia akan semakin merambah ke Amerika Latin, Timur Tengah dan negara-negara Afrika. Hal ini tercermin dari penurunan pangsa ekspor ke lima negara tujuan utama selama Januari-November 2010 yang mencapai 47%, atau mencapai target RENSTRA 2010-2014. Sesuai target RENSTRA ekspor ke negara tujuan utama diharapkan terus menurun hingga mencapai 43-47%.

5NEGARATUJUANUTAMA46%

INDIA7%

KORSEL5%

BELANDA3%

THAILAND3%

JERMAN2%

TAIWAN3%

SPANYOL2%

HONGKONG2%

INGGRIS2%

FILIPINA2%

LAINNYA22%

JanNov2009

5NEGARATUJUANUTAMA47%

INDIA8%

KORSEL5%

BELANDA3%

THAILAND3%

JERMAN2%

TAIWAN3%

SPANYOL2%

HONGKONG2%

INGGRIS1%

FILIPINA2% LAINNYA

22%

JanNov2010

MALAY6%

RRT9%

SING8%

JEPANG12%

AS11%

MALAY6%

RRT11%

SING8%

JEPANG13%

AS10%

Diplomasi Perdagangan dan Menjaga Akses Pasar Ekspor Dalam rangka meningkatkan akses pasar produk ekspor Indonesia dilakukan multitrack strategy di forum multilateral, regional, dan bilateral. Indonesia adalah anggota G20 yang saat ini menjadi salah satu negara dengan kondisi ekonomi yang semakin diperhitungkan dunia pasca krisis finansial. Posisi Indonesia juga semakin mantap di dalam kelompok CIVITS (China, India, Vietnam, Indonesia, Turkey, South Africa), sebagai sebuah hotspot investasi baru selain BRIC (Brazil, Russia, India, China). Mengingat bahwa pertumbuhan ekspor memang terjadi di emerging markets di Asia, arah kebijakan yang telah ditempuh selama ini dengan melakukan Comprehensive Economic Partnership (CEPA) melalui skema ASEAN dengan mitra dialog seperti RRT, Korea, Jepang, India dan Australia-New Zealand adalah tepat. Pengunaan fasilitas bea masuk yang lebih rendah yang merupakan bagian dari CEPA rata-rata sekitar 32% dari ekspor ke negara-negara tersebut, dimana untuk tujuan RRT dan Korea berada di posisi 40%. Bahkan untuk implementasi ASEAN-India yang baru beberapa bulan sudah $120 juta ekspor Indonesia yang ke India yang mengunakan fasilitas tersebut. Sementara itu, jumlah kasus tuduhan terhadap ekspor Indonesia yang ditangani pada periode tahun 2007 sampai dengan bulan Desember 2010 adalah sebanyak 78 kasus, yang terdiri dari

3

60 kasus tuduhan dumping, 3 kasus tuduhan subsidi dan 15 kasus tindakan safeguard. Dari berbagai tuduhan tersebut, 24 kasus telah dihentikan karena tidak terbukti melakukan dumping, subsidi dan tindakan safeguard dan 13 kasus yang masih dalam proses penanganan. Terkait kasus penarikan Indomie dari pasar di Taiwan, Pemerintah Indonesia telah berhasil menyelesaikan kasus ini ditandai dengan diperbolehkannya produk Indomie beredar kembali di pasar Taiwan oleh pihak Food & Drug Administration, Department of Health (FDA-DOH) Taiwan pada tanggal 6 Desember 2010. Penyelesaian kasus ini sangat penting bagi citra produk Indonesia karena produk Indomie telah tersebar setidaknya di 80 negara di dunia. Tren perkembangan ekspor mi Indonesia di Taiwan periode tahun 2005-2009 berdasarkan data Bureau of Foreign Trade Taiwan tercatat sebesar 875%. Pada tahun 2007, permintaan mi dari Indonesia meningkat pesat dari hanya 0,8 ton pada tahun sebelumnya menjadi 1.045 ton, sedangkan di tahun 2010 (Januari-September), ekspornya sebesar 1.079 ton. Pengamanan Pasar Dalam Negeri Untuk mengamankan pasar dalam negeri (trade defense), Kementerian Perdagangan telah mengenakan tindakan anti dumping terhadap 7 produk impor yang melakukan unfair trade pada tahun 2010. Produk yang telah ditetapkan dikenai Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) adalah antara lain aluminium mealdish (Malaysia), polyester staple fiber (India, RRT, Taiwan) dan H & I section (RRT), hot rolled coil (Malaysia, Rep. Korea) dan uncoated writing paper (Finlandia, Rep. Korea, India, Malaysia). Sedangkan untuk produk hot rolled plate (RRT, Singapura, Ukrania) masih dalam proses penyelidikan. Dalam rangka pengawasan terhadap barang beredar dan jasa, pemerintah melakukan pengawasan berkala/khusus terhadap 15 komoditi SNI Wajib dan 5 produk jasa di 15 daerah, distribusi 3 komoditi, yaitu Gula, Bahan Berbahaya (B2) dan Minuman Beralkohol, melakukan proses penarikan terhadap komoditi selang gas, lampu hemat energi, dan semen sebagai tindak lanjut dari kegiatan pengawasan tahun 2009. Fasilitasi Perdagangan Dalam upaya penciptaan iklim usaha yang kondusif Kementerian Perdagangan terus melakukan penyederhanaan jumlah perijinan, peningkatan pelayanan perijinan perdagangan luar negeri dengan pembentukan Unit Pelayanan Perdagangan (UPP) dan percepatan waktu penerbitan ijin. Pada tahun 2010 telah dilakukan penyederhanaan jenis perijinan sehingga total perijinan perdagangan luar negeri turun dari 108 jenis menjadi 89 jenis. Seluruh jenis ijin itu dapat diakses melalui UPP (Inatrade) dengan 53 perijinan diantaranya telah online dan rata-rata waktu pelayanan 4 hari. Sedangkan perijinan perdagangan dalam negeri yang telah online sebanyak 12 perijinan dari 21 perijinan, dengan rata-rata waktu pelayanan 6 hari. Untuk tahun 2011 ditargetkan 55 perijinan perdagangan luar negeri dapat dilayani secara online dengan rata-rata waktu pelayanan 3 hari dan perijinan perdagangan dalam negeri sebanyak 15 perijinan dengan rata-rata waktu pelayanan 6 hari. Saat ini perusahaan yang telah memiliki hak akses pengguna Inatrade online telah mencapai 1.536 perusahaan per 31 Desember 2010. Terkait dengan pelayanan perizinan untuk memulai usaha, yaitu terkait dengan TDP dan SIUP, telah dilakukan penyederhanaan prosedur sehingga dapat mempercepat waktu penyelesaian perijinan menjadi maksimal 3 hari. Penyederhanaan SIUP dan TDP berpedoman pada Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, Menteri Perdagangan, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal pada tanggal 17 Desember 2009. Terkait implementasi SIUP dan TDP di daerah, berdasarkan hasil monitoring dan e