blok 23 - special sense

Click here to load reader

Post on 29-Dec-2015

26 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

ulkus kornea

TRANSCRIPT

Ulkus Kornea et Causa Jamur

Beby Pricilia Tanesia102011011

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida WacanaAbstrak Indra adalah kumpulan dari reseptor yang membentuk organ atau alat khusus. Mata adalah salah satu alat indra yang memiliki fungsi sangat penting yakni untuk melihat. Organ mata yang didalamnya terdapat jaringan-jaringan indra penglihatan yang berhubungan langsung dengan dunia luar sehingga organ tersebut berpotensi menimbulkan penyakit atau kelainan dalam penglihatan. Kelainan tersebut tidak hanya berasal dari external yang disebabkan oleh lingkungan tetapi juga disebabkan oleh internal yang dapat menyebabkan kelainan refraksi, kelainan media refraksi atau jalur lintasan visual.Kata kunci: Mata, penyakit mata

AbstractIndra is a collection of receptors that form an organ or a special tool. Eyes are one of the senses that has a very important function which is to see. Organ eye tissues in which there is the sense of sight is directly related to the outside world so that the organs could potentially cause disease or abnormalities in vision. The disorder does not only come from the external environment but also caused by caused by internal disorder that can cause refraction, refractive abnormalities media or visual trajectory. Keywords: Eye, eye diseases.

MasalahPetani 40 tahun dengan keluhan mata kanan kabur, merah, berair dan sakit.HipotesisPetani 40 tahun dengan keluhan mata kanan kabur, merah, berair dan sakit dan pada pemeriksaan adanya hipopion menderita ulkus kornea.Sasaran BelajarMahasiswa mengetahui dan mampu menjelaskan : Pendekatan diagnostik (anamnesis, pemeriksaan fisik atau tanda klinis dan penunjang)pasien dengan keluhan mata kanan kabur, merah, berair dan sakit. Etiologi, epidemiologi, patogenesis, faktor resiko WD/ & DD/ serta komplikasinya. Penatalaksanaan ( farmakologik dan non farmakologik).Anatomi dan Fisiologi KorneaKornea adalah jaringan transparan, yang ukurannya sebanding dengan kristal sebuah jam tangan kecil. Kornea ini disisipkan ke sklera di limbus, lengkung melingkar pada persambungan ini disebut sulkus skelaris. Kornea dewasa rata-rata mempunyai tebal 0,54 mm di tengah, sekitar 0,65 di tepi, dan diameternya sekitar 11,5 mm dari anterior ke posterior, kornea mempunyai lima lapisan yang berbeda-beda: lapisan epitel (yang bersambung dengan epitel konjungtiva bulbaris), lapisan Bowman, stroma, membran Descement, dan lapisan endotel. Batas antara sclera dan kornea disebut limbus kornea. Kornea merupakan lensa cembung dengan kekuatan refraksi sebesar + 43 dioptri. Kalau kornea udem karena suatu sebab, maka kornea juga bertindak sebagai prisma yang dapat menguraikan sinar sehingga penderita akan melihat halo.1

Gambar 1. Anatomi Kornea (sumber www.uvehealth.com)Kornea terdiri dari 5 lapisan dari luar kedalam: Lapisan epitelTebalnya 50 m , terdiri atas 5 lapis sel epitel tidak bertanduk yang saling tumpang tindih; satu lapis sel basal, sel polygonal dan sel gepeng.Pada sel basal sering terlihat mitosis sel, dan sel muda ini terdorong kedepan menjadi lapis sel sayap dan semakin maju kedepan menjadi sel gepeng, sel basal berikatan erat dengan sel basal disampingnya dan sel polygonal didepannya melalui desmosom dan macula okluden; ikatan ini menghambat pengaliran air, elektrolit dan glukosa yang merupakan barrier.Sel basal menghasilkan membrane basal yang melekat erat kepadanya. Bila terjadi gangguan akan menghasilkan erosi rekuren. Epitel berasal dari ectoderm permukaan.

Membran BowmanTerletak dibawah membrana basal epitel kornea yang merupakan kolagen yang tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal dari bagian depan stroma. Lapis ini tidak mempunyai daya regenerasi. Jaringan StromaTerdiri atas lamel yang merupakan sususnan kolagen yang sejajar satu dengan yang lainnya, Pada permukaan terlihat anyaman yang teratur sedang dibagian perifer serat kolagen ini bercabang; terbentuknya kembali serat kolagen memakan waktu lama yang kadang-kadang sampai 15 bulan.Keratosit merupakan sel stroma kornea yang merupakan fibroblast terletak diantara serat kolagen stroma. Diduga keratosit membentuk bahan dasar dan serat kolagen dalam perkembangan embrio atau sesudah trauma. Membran DescementMerupakan membrana aselular dan merupakan batas belakang stroma kornea dihasilkan sel endotel dan merupakan membrane basalnya. Bersifat sangat elastis dan berkembang terus seumur hidup, mempunyai tebal 40 m. EndotelBerasal dari mesotelium, berlapis satu, bentuk heksagonal, besar 20-40 m. Endotel melekat pada membran descement melalui hemidosom dan zonula okluden.1

Gambar 2. Corneal Cross Section (sumber www.uvehealth.com)Kornea dipersarafi oleh banyak saraf sensorik terutama berasal dari saraf siliar longus, saraf nasosiliar, saraf ke V, saraf siliar longus berjalan supra koroid, masuk ke dalam stroma kornea, menembus membran Bowman melepaskan selubung Schwannya. Bulbus Krause untuk sensasi dingin ditemukan diantara. Daya regenerasi saraf sesudah dipotong di daerah limbus terjadi dalam waktu 3 bulan.Sumber nutrisi kornea adalah pembuluh-pembuluh darah limbus, humour aquous, dan air mata. Kornea superfisial juga mendapat oksigen sebagian besar dari atmosfir. Transparansi kornea dipertahankan oleh strukturnya seragam, avaskularitasnya dan deturgensinya.1PembahasanAnamnesisIdentitas. Identitas meliputi nama lengkap pasien, umur atau tanggal lahir, jenis kelamin, nama orang tua atau penanggung jawab, alamat, pendidikan, pekerjaan, suku bangsa dan agama. Keluhan Utama. Menanyakan keluhan yang dirasakan pasien sehingga pasien tersebut pergi ke dokter dan mencari pertolongan. Selain itu keluhan utama harus disertai dengan indikator waktu, berapa lama pasien mengalami hal tersebut.Riwayat Penyakit Sekarang. Riwayat penyakit sekarang juga harus di tanyakan, yaitu cerita yang kronologis, terinci dan jelas mengenai keadaan kesehatan pasien sejak sebelum keluhan utama sampai pasien datang berobat. Hal yang harus ditanyakan adalah: Waktu dan lamanya keluhan berlangsung Sifat dan beratnya serangan Lokalisasi dan penyebarannya, menetap, menjalar, atau berpindah-pindah Keluhan-keluhan yang menyertai serangan, misalnya keluhan yang mendahului serangan, atau keluhan lain yang bersamaan dengan serangan Apakah keluhan baru pertama kali atau sudah berulang kali Apakah ada saudara sedarah, atau teman dekat yang menderita keluhan yang sama Riwayat perjalanan ke daerah yang endemis untuk penyakit tertentu Perkembangan penyakit, kemungkinan telah terjadi komplikasi atau gejala sisa Upaya yang telah dilakukan dan bagaimana hasilnya, jenis-jenis obat yang telah diminum oleh pasien; juga tindakan medik lain yang berhubungan dengan penyakit yang saat ini dideritaRiwayat Penyakit Dahulu. Menanyakan kepada pasien atau penanggung jawabnya, apakah dulu pernah mempunyai penyakit yang berhubungan dengan penyakit yang di deritanya sekarang atau yang dapat memberatkan penyakitnya sekarang.Riwayat Penyakit dalam Keluarga. Menanyakan kepada pasien atau penanggung jawabnya, apakah di dalam keluarga pasien ada yang pernah atau sedang menderita penyakit menurun atau infeksi. Riwayat Pribadi. Menanyakan bagaimana kondisi sosial, ekonomi dan kebiasaan-kebiasaan pasien. Asupan gizi pasien juga perlu ditanyakan, meliputi jenis makanannya, kuantitas dan kualitasnya. Selain itu, harus ditanyakan juga bagaimana lingkungan tempat tinggal pasien, apakah termasuk lingkungan yang endemik.2PemeriksaanPemeriksaan FisikInspeksiPemeriksa duduk berhadapan dengan pasien, perhatikan posisi kedua mata (simetris atau tidak), mata sembab, keadaan sekitar orbita; Perhatikan alis mata apakah bagian lateral menipis atau rontok, perhatikan apakah kelopak mata dapat menutup dan membuka dengan sempurna; Perhatikan konjungtiva palpebra (membuka mata, menarik palpebra inferior, menekan canthus medialis); Perhatikan adakah ikterus warna ikterus , kuning kejinggaan atau kehijauan, apakah pucat (anemia), apakah kebiruan (sianosis), adakah pigmentasi lain, adakah petechie bercak perdarahan atau white centered spot, apakah ada obstruksi ductus nasolacrimalis. Pemeriksa duduk di lateral pasien, perhatikan adakah exopthalmos (Dengan penggaris, dibandingkan kanan dan kiri. normal sampai 16 mm dan pasti patologis apabila > 20 mm).PalpasiPalpasi dengan perlahan adanya pembengkakan dan nyeri tekan pada kelopak mata. Kemudian, palpasi bola mata dengan menempatkan kedua ujung jari telunjuk di kelopak mata di atas sklera sementara klien melihat ke bawah. Bola mata harus teras sama keras.Kemudian, palpasi kantong lakrimal dengan menekankan jari telunjuk pada lingkar orbital bawah pada sisi yang paling dekat dengan hidung klien. Sambil menekan, observasi adanya regurgitasi abnormal materi purulen atau air mata yang berlebihan pada punctum, yang dapat mengindikasikan adanya sumbatan dalam duktus nasolakrimal.3Pemeriksaan PenunjangHal yang harus dievaluasi dari kornea adalah transparansi (adanya opasitas stroma dan epitelium menunjukkan scarring atau infiltrasi) dan luster pada permukaan (absensi menunjukkan defek epitel atau lesi kornea superfisial).Pemeriksaan kornea hendaknya dilakukan dalam pencahayaan yang memadai, dapat pula dilakukan setelah pemberian agen anestetik lokal. Umumnya, seorang oftalmologis akan menggunakan slit lamp dalam pemeriksaan.Adapun pulasan dengan satu tetes larutan fluorescein atau rose bengal 1%, dengan sifatnya yang umumnya tidak diabsorbsi oleh epitelium, dapat memperjelas gambaran lesi epitel superfisial yang sulit terlihat pada pemeriksaan biasa, mulai dari keratitis pungtata superfisial hingga erosi kornea. Pencahayaan dengan cobalt blue filter akan mempertegas efek floresensi.Topografi permukaan kornea secara kasar dapat dievaluasi menggunakan keratoskop atau Placidos disk. Akan tetapi, hasil yang lebih akurat dapat diperoleh melalui pemeriksaan topografi kornea yang terkomputerisasi (videokeratoskopi).Sensitivitas kornea secara sederhana dapat dinilai dengan cotton swa