blok 19 c4(1)

Click here to load reader

Post on 11-Jul-2016

247 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

blok 19 makalah

TRANSCRIPT

Infark Miokardial dengan ST ElevasiC4

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Jalan Arjuna Utara No 6, Jakarta BaratAbstrakSerangan jantung memiliki beberapa tipe dan tidak semua serangan memperlihatkan gejala serta kedaruratan yang sama. Dimana dalam hal ini akan dibahas suatu sindrom koroner akut yaitu STEMI (ST segment Elevation Myocardial Infarction). Serangan jantung tipe ini ditentukan dari pemeriksaan rekam jantung (elektrokardiografi atau EKG). STEMI ini terjadi karena adanya sumbatan tiba-tiba dari pembuluh darah koroner yang menyebabkan otot jantung mengalami kematian atau kerusakan akibat kurangnya asupan darah yang kaya oksigen. Akan tetapi, dalam sindrom koroner akut tidak menutup kemungkinan terjadinya NSTEMI (Non ST segment Elevation Myocardial Infarction) atau UAP (Unstable Angina Pectoris).Kata kunci: STEMI, EKG, NSTEMI, UAPAbstract

Have some type of heart attack and all attack symptoms and the same emergency . Which in this case will be discussed , namely an acute coronary syndrome STEMI ( ST segment Elevation Myocardial Infarction ) . This type of heart attack is determined from the examination of the record of the heart ( electrocardiogram or ECG ) . STEMI is due to the sudden blockage of the coronary arteries that cause heart muscle death or damage due to lack of oxygen-rich blood . However , in acute coronary syndromes does not close the possibility of NSTEMI (Non ST Segment Elevation Myocardial Infarction ) or UAP ( Unstable angina pectoris ) .Keywords: STEMI, ECG, NSTEMI, UAPPendahuluan

Sindroma koroner akut nerupakan sindroma klinis yang terdiri dari infark miokard akut dengan atau tanpa elevasi segmen ST serta angina pectoris tidak stabil. Walaupun presentasi klinisnya berbeda tetapi memiliki kesamaan patofisiologi. Keluhan utama adalah nyeri dada dan klasifikasi berdasarkan gembaran elektrokardiogram (EKG), yaitu yang pertama, pasien dengan nyeri dada khas disertai elevasi segmen ST : terjadi oklusi total akut arteri koroner sehingga tujuan utama pengobatan adalah reperfusi secara cepat dan komplit dengan fibrinolitik atau angioplasti primer. Yang kedua adalah pasien dengan nyeri dada khas tanpa elevasi segmen ST: gambaran EKG berupa depresi segmen ST persisten atau transien, gelombang T yang inverse atau mendatar atau EKG normal.1 STEMI umumnya terjadi jika aliran darah koroner menurun secara mendadak setelah oklusi thrombus pada plak aterosklerotik yang sudah ada sebelumnya.2

Anamnesis

Merupakan suatu wawancara antara pasien dengan dokter untuk mengetahui riwayat kondisi pasien, riwayat penyakit pasien dahulu, riwayat penyakit keluarga, gejala-gejala yang dialami pasien. Jenis anamnesis yang dapat dilakukan adalah autoanamnesis dan alloanamnesis. Autoanamnesis dapat dilakukan jika pasien masih berada dalam keadaan sadar. Sedangkan bila pasien tidak sadar, maka dapat dilakukan alloanamnesis yang menyertakan kerabat terdekatnya yang mengikuti perjalanan penyakitnya.31. Identitas pasien

Menanyakan kepada pasien : Nama lengkap pasien, umur pasien ,tanggal lahir, jenis kelamin,agama, alamat, umur (orang tua), pendidikan dan pekerjaan (orang tua) ,suku bangsa.

2. Keluhan utama : pasien datang dengan keluhan nyeri pada dada kiri yang menjalar ke lengan kiri yang muncul tiba tiba 3 jam yang lalu.3. Riwayat Penyakit Sekarang : nyeri yang muncul tiba tiba pada dada kiri dan menjalar ke lengan kiri berkurang saat istirahat namun terus menerus muncul kembali dan semakin memberat.

4. Riwayat Penyakit Dahulu

Menanyakan riwayat penyakit dahulu (penyakit sebelumnya). Apakah sebelumnya pasien pernah mengalami penyakit yang sama, ataupun penyakit lain yang pernah pasien derita: sebelumnya pernah merasakan nyeri dada kiri namun tidak terlalu sakit dan hanya sekitar 5 menit.

5. Riwayat Penyakit Keluarga

Tanyakan apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit yang sama. Tanyakan pula tentang kebersihan perorangan atau kebiasaan bermain: ayah pasien meninggal saat berusia 40 tahun karena serangan jantung.

6. Pertanyaan-pertanyaan khusus yang dapat ditanyakan berhubungan dengan infark miokard akut antara lain mengenai keluhan sakit dada, dan faktor resiko.4 Faktor pencetus yang paling sering : kegiatan fisik, emosi berlebihan atau setelah makan.

Kualitas sakit dada : didaerah mid sternal, rasa sakit tidak jelas akan tetapi banyak yang menggambarkan seperti ditusuk, dibakar atau ditimpa beban berat.

Penjalaran : ke rahang, leher, bahkan ke lengan dan jari tangan.

Gejala atau tanda penyerta : mual, muntah, keringat dingin dan berdebar-debar dan sesak nafas.

Lama sakit pada pada infark : lebih dari 30 menit dan tidak hilang dengan pemberian obat-obatan antiangina, biasanya akan hilang dengan pemberian analgesik seperti Morfin atau Petidin. Sedangkan angina : tidak lebih dari 30 menit dan umumnya masih respon dengan obat anti angina baik oral maupun parenteral.

Faktor resiko PJK berupa usia, jenis kelamin, keturunan, kepribadian tipe a, obesitas, merokok, dm, hiperkolesterolemia, maupun hipertensi.4Pemeriksaan Fisik

Dalam kasus ini, pemeriksaan fisik yang digunakan adalah pemeriksaaan fisik jantung patologis. Yang perlu dilakukan saat pemeriksaan fisik yaitu inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi.5Inspeksi

Pada inspeksi yang kita lihat yaitu pada kulit toraks apakah terjadi perubahan warna kulit, apakah terdapat lesi kulit, benjolan, pelebaran kapiler (mis. Spider naevi) dan sebagainya. Kemudian perhatikan bentuk toraks, apakah simetris atau asimetris, dan apakah terdapat deformitas seperti pectus excavatum, pectus carinatum, barrel chest, dan lain lain. Salah satu kelainan bentuk toraks yang dapat dijumpai adalah Voussure cardia que (pectus carinatum), adalah tonjolan lokal yang lebar antara sternum dan apex kordis. Di tempat tersebut sering dijumpai pulsasi jantung.5 Inspeksi yang cermat pada dada anterior dapat menggambarkan lokasi iktus cordis atau apical impulse (PMI : Point of maximal Impulse) atau yang lebih jarang lagi, gerakan pada ventrikel kiri pada S3 atau S4 sisi kiri.Pemeriksaan jugular venous pressure (JVP) juga merupakan hal penting dalam pemeriksaan fisik. JVP mencerminkan tekanan atrium kanan atau central venous pressure (CVP), yang paling baik diperiksa melalui inspeksi pada pulsasi vena jugularis. Namun pemeriksaan ini sulit dilakukan pada anak dibawah 12 tahun. Setelah pemeriksaan JVP, lakukan pemeriksaan denyut arteri karotis, dimana akan menggambarkan fungsi jantung dan terutama dalam mendeteksi adanya stenosis atau insufisiensi katup aorta.5

Palpasi

Pada pemeriksaan palpasi dalam keadaan patologis dapat teraba adanya pulsasi yang keras dan bergelombang, yang disebut ventricular heaving. Kelainan ini sering dijumpai pada kasus mitral insufisiensi dan aneurisma ventricel. Sedangkan pada pulsasi yang keras seperti pukulan di daerah ventrikel kanan disebut ventrikular lift. Bila impuls apikal ini sulit diraba pasa posisi pasien berbaring terlentang, mintalah pasien untuk berbaring miring ke sisi kiri (left lateral decubitus), dan mintalah pasien untuk ekshalasi maksimal dan stop nafas untuk beberapa detik.5

Perkusi

Dengan perkusi dapat ditentukan batas- batas jantung, yang pada keadaan patologis seperti pembesaran jantung kanan maupun kiri, maka pinggang jantung akan melebar ke arah kiri atau kanan, disertai menghilangnya pinggang jantung.5

Auskultasi

Keadaan patologis yang harus diidentifikasi dengan cara auskultasi adalah gallop dan murmur. Gallop yaitu bunyi jantung seperti derap kaki kuda yang sedang berlari. Sering dijumpai pada decompensatio kordis. Murmur adalah bising jantung yang harus didengar baik baik dan dibedakan. Ada pula aritmia yaitu denyut jantung yang tidak teratur atau ireguller, yang dapat berupa percepatan atau perlambatan irama sinus (takikardia dan bradikardia) atau irama yang melompat seperti pulsus bigeminus, trigerminus dll, atau irama yang benar benar irreguler, yang dapat ditemukan stenosis mitral, stenosis trikuspid.5

Tanda fisik lain pada disfungsi ventricular adalah S4 dan S3 gallop, penurunan intensitas bunyi jantung pertama dan split paradoksikal bunyi jantung kedua. Dapat ditemukan murmur midsistolik atau late systolic apical yang bersifat sementara karena disfungsi apparatus katup mitral dan pericardial friction rub. Peningkatan suhu sampai 38C dapat dijumpai dalam minggu pertama paska STEMI.2

Pemeriksaan Penunjang

EKG

Pemeriksaan elektrokardiogram (EKG) 12 sadapan harus dilakukan pada semua pasien dengan nyeri dada atau keluhan yang dicurigai STEMI. Pemeriksaan ini harus dilakukan segera dalam 10 menit sejak kedatangan IGD. Jika pemeriksaan EKG awal tidak diagnostic untuk STEMI tetapi pasien tetap simtomatik dan terdapat kecurigaan kuat STEMI, EKG serial dengan interval 5-10 menit atau pemantauan EKG 12 sandapan secara kontinyu harus dilakukan untuk mendeteksi potensi perkembangan elevasi segmen ST. pada pasien dengan STEMI inferior. EKG sisi kanan harus diambil untuk mendeteksi kemungkinan infark pada ventrikel kanan.2Sebagian besar pasien dengan presentasi awal elevasi segmen ST mengalami evolusi menjadi gelombang Q pada EKG yang akhirnya didiagnosis infark miokard gelombang Q. sebagian kecil menetap menjadi infark miokard gelombang non Q. Jika obstruksi thrombus tidak total, obstruksi bersifat sementara atau ditemukan banyak kolateral, biasanya tidak ditemukan elevasi segmen ST. Pasien tersebut biasanya mengalami angina pectoris tak stabil atau Non STEMI. Pada sebagian pasien tanpa elevasi ST berkembang tanpa menunjukkan gelombang Q disebut infark non Q. sbelumnya istilah infark miokard transmural digunakan jika EKG menunjukkan gelombang Q atau hilangnya gelombang R dan infark miokard non transmural jika EKG hanya menunjukkan perubahan sementara segmen ST dan gelombang T, nam