bertani umbi porang yang menjanjikan

Download Bertani Umbi Porang Yang Menjanjikan

Post on 24-Dec-2015

239 views

Category:

Documents

8 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

umbi porang

TRANSCRIPT

BERTANI UMBI PORANG YANG MENJANJIKAN

IPB : UMBI PORANG POTENSI BARU GUNUNG WALAT

BOGOR, KOMPAS.com - Mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) memperkenalkan budi daya umbi porang sebagai potensi baru bercocok tanam bagi pemuda dan masyarakat Desa Hegarmanah, Gunung Pendidikan Gunung Walat, Jawa Barat.

"Budi daya umbi porang ini cukup berpotensi bagi masyarakat di Desa Hegarmanah, selain membuka usaha baru juga menghindari konflik penyerobotan lahan hutan di wilayah tersebut," kata Juanda, Ketua Tim Mahasiswa Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Pengabdian Masyarakat, IPB, di Bogor, Kamis (15/8/2013).

Juanda menyebutkan, melalui program PKM, dirinya bersama empat rekannya dari Fakultas Kehutanan telah menawarkan program budi daya umbi porang kepada masyarakat yang tinggal di Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW) Jawa Barat melalui program PKM di bawah bimbingan Dr Soni Trisno, S.Hut, MSi.

Dikatakannya, umbi porang sebagai salah satu kultivar atau tanaman yang cocok untuk Desa Hegarmanah yang merupakan desa yang berbatasan langsung dengan HPGW. "Kebanyakan masyarakat di sana bekerja sebagai petani, namun tidak memiliki lahan," katanya.

Juanda menjelaskan, kebutuhan masyarakat setempat terhadap lahan pertanian telah memicu adanya penyerobotan lahan hutan milik HPGW.

Pihak HPGW telah mengatasi masalah tersebut dengan menyewakan lahan miliknya kepada masyarakat setempat untuk ditanami tanaman bawah tegakan seperti kapulaga, kopi dan pisang. "Namun, usaha masyarakat ini kurang memberikan hasil panen yang produktif," katanya.

Dari hasil penelitian Tim PKM IPB, lanjut Juanda, pihaknya melihat Umbi Porang memiliki potensi dan syarat tumbuh yang sesuai dengan kondisi biofisik di wilayah sekitar HPGW.

Hal ini dikarenakan Umbi Porang adalah umbi jenis salah satu tanaman yang dapat ditanam di bawah naungan. "Selain itu, pemeliharaan umbi porang ini tidak perlu dilakukan secara intensif," ujarnya.

Lebih lanjut Juanda menjelaskan, permintaan pasar terhadap umbi porang saat ini cukup tinggi. Banyak negara seperti Jepang, Taiwan, dan Korea yang mengolah umbi ini menjadi sumber makanan.

Negara-negara tersebut, lanjut dia, mengimpor umbi ini salah satunya dari Indonesia. Sayangnya, penyedia umbi porang di Indonesia masih terbatas. Menurut Juanda, peluang ini dapat dimanfaatkan warga Desa Hegarmanah dengan membudidayakan umbi porang di lahan-lahannya yang terlantar.

"Selain membuka lapangan pekerjaan, kesibukan mengolah lahan terlantar yang mereka miliki mampu mengalihkan fokus masyarakat terhadap penyerobotan lahan hutan milik HPGW," ujar Juanda.

Ide inilah yang disampaikan Juanda bersama teman-temannya kepada masyarakat di Desa Hegarmanah yang berjumlah sebanyak 8.322 jiwa itu. Dikatakannya, melalui PKM ini, ia dan kawan-kawannya mahasiswa Fakultas Kehutanan IPB melakukan penyuluhan budidaya umbi porang.

Penyuluhan yang diberikan berupa pemberian materi di ruangan mengenai budidaya umbi porang, dan demplot percontohan agroforestry umbi porang. Diungkapkannya, pada aspek budidaya, sebelum penyuluhan masyarakat yang mengetahui budidaya umbi porang sebesar 22,22 persen, sedangkan setelah penyuluhan sebesar 82,88 persen.

Sedangkan pada aspek pengolahan, sebelum penyuluhan masyarakat yang mengetahui cara pengolahan umbi porang sebesar 10 persen, setelah penyuluhan sebesar 89,57 persen.

Serta pada aspek pemasaran, sebelum penyuluhan masyarakat yang mengetahui pemasaran umbi porang sebesar 0 persen, jumlah ini meningkat setelah penyuluhan sebesar 60 persen.

"Kami memberikan pelatihan kepada masyarakat berkaitan dengan umbi porang secara umum, teknik penanaman, perawatan, dan pasca panen umbi porang untuk dijadikan komoditi ekspor yang memiliki nilai ekonomi tinggi," katanya.

Selanjutnya kata Juanda, pihaknya juga memberikan penyuluhan pembuatan demplot percontohan agroforestry umbi porang dengan luas 200 meter persegi dimaksudkan sebagai media percontohan sekaligus promosi kepada masyarakat sekitar area demplot tentang tanaman umbi porang.

Setelah panen, lanjutnya, umbi ini akan diterima distributor yang berada di Desa Klangon, Saradan Jawa Timur. Distributor di Desa Klangon tersebut akan mengumpulkan porang yang telah dijadikan "chips" dan kemudian dikirim ke pabrik pengolahan tepung porang di Mojokerto yang kemudian tepung tersebut diekspor ke China, Korea dan Jepang.

Menurut Juanda, peluang pasar porang sangat besar, baik untuk pasar dalam negeri maupun pasar luar negeri. Untuk pangsa pasar dalam negeri, umbi digunakan sebagai bahan pembuat mie yang dipasarkan di swalayan, serta untuk memenuhi kebutuhan pabrik kosmetik sebagai bahan dasar.

Sementara itu, untuk pangsa pasar luar negeri, masih sangat terbuka terutama untuk tujuan Jepang, Taiwan, Korea dan beberapa negara Eropa.

"Penurunan nilai ekspor komoditas porang, bukan karena permintaan pasar yang menurun, tetapi keterbatasan bahan baku olahan. Selama ini pasokan hanya dipenuhi dari pedagang kecil yang mengumpulkan umbi yang tumbuh liar di hutan atau di sekitar perkebunan dan lama kelamaan akan habis jika tidak diupayakan penanamannya," katanya.

Juanda mengatakan, umbi porang laku dijual, saat ini harganya menembus Rp 2.500 per kg basah atau baru petik. Umbi porang kering atau "chips porang" dihargai lebih mahal lagi, yakni Rp 20.000 per kg.

Masih ada yang lebih mahal yakni tepung porang. Namun, sangat disayangkan kemampuan masyarakat belum sampai ke sana sehingga teknologi pembuatan tepung masih dikuasai pabrik besar.

Juanda menambahkan, dengan kegiatan ini harapannya dapat meningkatkan pendapatan masyarakat di Desa Hegarmanah. "Perkiraan jumlah orang yang mendapatkan dampak dari kegiatan ini adalah 80 orang dengan nilai pendapatan sekitar Rp 100 juta per tahun," katanya.Sumber : AntaraEditor : BNJPorang vs Suweg, Bukan saudara kembar..

Meski judul di atas terlihat profokatif, bukan berarti saya bermaksud membenturkan kedua komoditi tersebut. Saya ingin memaparkan data data fisik yang menjadi ciri khas yang membedakan kedua tanaman ini. Beberapa kali saya temui rekan yang menganggap suweg sebagai porang yang bernilai ekonomis tinggi.

Sampai saat ini saya cukup bisa memahami kenapa begitu sulit mengajak teman, saudara atau kenalan, apalagi yang tidak kenal - untuk beramai-ramai membudidayakan Porang di kebun mereka yang menganggur karena tidak bisa ditanami dengan tanaman palawija atau tanaman pangan yang membutuhkan sinar matahari langsung.Ada lagi alasan yang menyebabkan pemaparan saya mengenai potensi ekonomis porang kurang mereka minati (mungkin loh), adalah mereka menganggap suweg sama dengan Porang. Jadi mereka pikir tidak masuk akal jika makanan desa tersebut bisa laku dijual mahal.Satu lagi alasan keengganan menanam Porang adalah, umbi tanaman ini tidak bisa langsung dikonsumsi, sementara jika dibandingkan dengan suweg, dengan sekedar direbus saja sudah bisa dimakan sebagai pengganti nasi.

Suweg bukan porang, begitu pula sebaliknya. Yang sering membingungkan adalah, karena nampak fisik luarnya 80% mirip. Tetapi meski begitu, kita masih memiliki kesempatan 20% untuk mengenali perbedaan diantara keduanya.1. Keduanya memiliki daun yang 100% sama. Bentuk menjari, pangkal daun 3, kadang daun berwarna hijau cenderung gelap, kadang juga hijau cerah. Tetapi daun porang masih bisa kita kenali dengan melihat titik pangkal daunnya, pada tempat itu akan terlihat bulatan kecil berwarna hija cerah hingga coklat sebagai bakal tumbuhnya bulbil, titik tersebut mulai terlihat sejak tanaman berusia kurang lebih 2 bulan. Titik bulbil tersebut sangat kentara, jadi tidak perlu khawatir salah. Lebih jelas lagi pada tanaman dengan usia lebih dari satu tahun, karena titik pertumbuhan bulbil lebih banyak lagi, pada pangkal daun yang bercabang menyebar di banyak tempat.

2. Keduanya memiliki batang yang sama, berwarna hijau cerah dengan totol-totol putih. Tapi tunggu dulu, cobalah meraba batang tersebut dengan seksama. Tidak akan terlalu lama untuk memastikan bahwa salah satunya bertekstur kasar, sedang yang lainnya halus mulus. Batang yang halus inilah yang merupakan batang tanaman Porang, tidak akan salah.

3. Ketika umbi sudah dipanen, lihatlah kondisi fisik luarnya. Jika umbi memiliki titik-titik percabangan umbi, seperti terlihat berupa benjolan ke samping, maka pastilah itu umbi suweg, karena umbi porang berupa umbi tunggal. Lalu irislah sedikit umbinya, semakin terlihat dengan jelas perbedaan umbinya. Karena umbi suweg berwarna putih kadang cenderung berwarna ungu atau merah jambu, sedangkan umbi porang kuning cerah (ingat bendera partai Golkar? tidak akan salah lagi, warnanya seperti itu). Tetapi akan ada sedikit masalah jika anda menemui umbi berwarna kuning cerah, tetapi ada benjolan titik tumbuh, di beberapa daerah menamai umbi semacam itu dengan nama walur, dan bisa dipastikan itu bukan porang, karena serat umbinya kasar, sedangkan porang serat umbinya halus nyaris tak terlihat, hanya berupa titik-titik saja.VIVAnews - Umbi porang yang ditanam di lahan Perum Perhutani Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Nganjuk BKPH Tritik, Jawa Timur, memiliki nilai jual yang cukup menguntungkan bagi petani. Hal ini diutarakan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Dahlan Iskan, saat mengunjungi tempat itu pada Minggu, 6 Januari 2013.

"Harga jualnya bagus, rata-rata Rp2.800-Rp3.000 per kilogram dalam kondisi basah. Jika rata-rata lahan bisa menghasilkan 10-15ton per hektare, petani akan mendapat keuntungan sekitar tiga puluh juta rupiah per hektare," ujarnya melalui Humas BUMN, Faisal Halimi, kepada VIVAnews, Minggu 6 Januari 2013.

Umbi porang (Amorphophallus oncophillus), atau iles-iles dalam bahasa Jawa, berguna untuk bahan industri dan makanan, seperti lem, pengganti media tumbuh mikroba, campuran kertas agar kertas menjadi lemas, pengental sirup, da