bekisting

44
http://niecovervil.blogspot.com/2011/10/ dasar-dasar-konstruksi-bangunan- kolom.htmlKamis, 20 Oktober 2011 DASAR-DASAR KONSTRUKSI BANGUNAN (KOLOM) KOLOM Pengertian Kolom dan Fungsinya Kolom adalah batang tekan vertikal dari rangka struktur yang memikul beban dari balok. Kolom merupakan suatu elemen struktur tekan yang memegang peranan penting dari suatu bangunan, sehingga keruntuhan pada suatu kolom merupakan lokasi kritis yang dapat menyebabkan runtuhnya (collapse) lantai yang bersangkutan dan juga runtuh total (total collapse) seluruh struktur (Sudarmoko, 1996). SK SNI T-15- 1991-03 mendefinisikan kolom adalah komponen struktur bangunan yang tugas utamanya menyangga beban aksial tekan vertikal dengan bagian tinggi yang tidak ditopang paling tidak tiga kali dimensi lateral terkecil. Fungsi kolom adalah sebagai penerus beban seluruh bangunan ke pondasi. Bila diumpamakan, kolom itu seperti rangka tubuh manusia yang memastikan sebuah bangunan berdiri. Kolom termasuk struktur utama untuk meneruskan berat bangunan dan beban lain seperti beban hidup (manusia dan barang-barang), serta beban hembusan angin. Kolom berfungsi sangat penting, agar bangunan tidak mudah roboh. Beban sebuah bangunan dimulai dari atap. Beban atap akan meneruskan beban yang diterimanya ke kolom. Seluruh beban yang diterima kolom didistribusikan ke permukaan tanah di bawahnya. Kesimpulannya, sebuah bangunan

Upload: saptr

Post on 22-Dec-2015

15 views

Category:

Documents


6 download

DESCRIPTION

bek

TRANSCRIPT

Page 1: bekisting

http://niecovervil.blogspot.com/2011/10/dasar-dasar-konstruksi-bangunan-kolom.htmlKamis, 20 Oktober 2011

DASAR-DASAR KONSTRUKSI BANGUNAN (KOLOM)

KOLOM

Pengertian Kolom dan Fungsinya

Kolom adalah batang tekan vertikal dari rangka struktur yang memikul beban dari

balok. Kolom merupakan suatu elemen struktur tekan yang memegang peranan penting dari

suatu bangunan, sehingga keruntuhan pada suatu kolom merupakan lokasi kritis yang dapat

menyebabkan runtuhnya (collapse) lantai yang bersangkutan dan juga runtuh total (total

collapse) seluruh struktur (Sudarmoko, 1996). SK SNI T-15-1991-03 mendefinisikan kolom

adalah komponen struktur bangunan yang tugas utamanya menyangga beban aksial tekan

vertikal dengan bagian tinggi yang tidak ditopang paling tidak tiga kali dimensi lateral

terkecil. Fungsi kolom adalah sebagai penerus beban seluruh bangunan ke pondasi. Bila

diumpamakan, kolom itu seperti rangka tubuh manusia yang memastikan sebuah bangunan

berdiri. Kolom termasuk struktur utama untuk meneruskan berat bangunan dan beban lain

seperti beban hidup (manusia dan barang-barang), serta beban hembusan angin. Kolom

berfungsi sangat penting, agar bangunan tidak mudah roboh. Beban sebuah bangunan dimulai

dari atap.

Beban atap akan meneruskan beban yang diterimanya ke kolom. Seluruh beban yang

diterima kolom didistribusikan ke permukaan tanah di bawahnya. Kesimpulannya, sebuah

bangunan akan aman dari kerusakan bila besar dan jenis pondasinya sesuai dengan

perhitungan. Namun, kondisi tanah pun harus benar-benar sudah mampu menerima beban

dari pondasi. Kolom menerima beban dan meneruskannya ke pondasi, karena itu pondasinya

juga harus kuat, terutama untuk konstruksi rumah bertingkat, harus diperiksa kedalaman

tanah kerasnya agar bila tanah ambles atau terjadi gempa tidak mudah roboh. Struktur dalam

kolom dibuat dari besi dan beton. Keduanya merupakan gabungan antara material yang tahan

tarikan dan tekanan. Besi adalah material yang tahan tarikan, sedangkan beton adalah

material yang tahan tekanan. Gabungan kedua material ini dalam struktur beton

memungkinkan kolom atau bagian struktural lain seperti sloof dan balok bisa menahan gaya

tekan dan gaya tarik pada bangunan.

 Jenis-Jenis kolomMenurut Wang (1986) dan Ferguson (1986) jenis-jenis kolom ada

tiga:

Page 2: bekisting

1. Kolom ikat (tie column)

2. Kolom spiral (spiral column)

3. Kolom komposit (composite column)

Dalam buku struktur beton bertulang (Istimawan dipohusodo, 1994) ada tiga jenis kolom

beton bertulang yaitu :

1.    Kolom menggunakan pengikat sengkang lateral. Kolom ini merupakan kolom beton yang

ditulangi dengan batang tulangan pokok memanjang, yang pada jarak spasi tertentu diikat

dengan pengikat sengkang ke arah lateral. Tulangan ini 

2.    Berfungsi untuk memegang tulangan pokok memanjang agar tetap kokoh pada tempatnya.

(gambar a.)

3.    Kolom menggunakan pengikat spiral. Bentuknya sama dengan yang pertama hanya saja

sebagai pengikat tulangan pokok memanjang adalah tulangan spiral yang dililitkan keliling

membentuk heliks menerus di sepanjang kolom. Fungsi dari tulangan spiral adalah memberi

kemampuan kolom untuk menyerap deformasi cukup besar sebelum runtuh, sehingga mampu

mencegah terjadinya kehancuran seluruh struktur sebelum proses redistribusi momen dan

tegangan terwujud. (gambar b)

4.    Struktur kolom komposit, merupakan komponen struktur tekan yang diperkuat pada arah

memanjang dengan gelagar baja profil atau pipa, dengan atau tanpa diberi batang tulangan

pokok memanjang. (gambar c)

Kolom Utama

Yang dimaksud dengan kolom utama adalah kolom yang fungsi utamanya menyanggah

beban utama yang berada diatasnya. Untuk rumah tinggal disarankan jarak kolom utama

adalah 3.5 m, agar dimensi balok untuk menompang lantai tidak tidak begitu besar, dan

apabila jarak antara kolom dibuat lebih dari 3.5 meter, maka struktur bangunan harus

dihitung. Sedangkan dimensi kolom utama untuk bangunan rumah tinggal lantai 2 biasanya

dipakai ukuran 20/20, dengan tulangan pokok 8d12mm, dan begel d 8-10cm ( 8 d 12

maksudnya jumlah besi beton diameter 12mm 8 buah, 8 – 10 cm maksudnya begel diameter 8

dengan jarak 10 cm).

Kolom Praktis

Page 3: bekisting

Adalah kolom yang berfungsi membantu kolom utama dan juga sebagai pengikat dinding

agar dinding stabil, jarak kolom maksimum 3,5 meter, atau pada pertemuan pasangan bata,

(sudut-sudut). Dimensi kolom praktis 15/15 dengan tulangan beton 4 d10 begel d8-20 .Letak

kolom dalam konstruksi. Kolom portal harus dibuat terus menerus dari lantai bawah sampai

lantai atas, artinya letak kolom-kolom portal tidak boleh digeser pada tiap lantai, karena hal

ini akan menghilangkan sifat kekakuan dari struktur rangka portalnya. Jadi harus dihindarkan

denah kolom portal yang tidak sama untuk tiap-tiap lapis lantai. Ukuran kolom makin ke atas

boleh makin kecil, sesuai dengan beban bangunan yang didukungnya makin ke atas juga

makin kecil. Perubahan dimensi kolom harus dilakukan pada lapis lantai, agar pada suatu

lajur kolom mempunyai kekakuan yang sama. Prinsip penerusan gaya pada kolom pondasi

adalah balok portal merangkai kolom-kolom menjadi satu kesatuan. Balok menerima seluruh

beban dari plat lantai dan meneruskan ke kolom-kolom pendukung. Hubungan balok dan

kolom adalah jepit-jepit, yaitu suatu sistem dukungan yang dapat menahan momen, gaya

vertikal dan gaya horisontal. Untuk menambah kekakuan balok, di bagian pangkal pada

pertemuan dengan kolom, boleh ditambah tebalnya.

http://kuliah-kuliaharchitecture.blogspot.com

FUNGSI KOLOM

Fungsi kolom adalah sebagai penerus beban seluruh bangunan ke pondasi. Bila

diumpamakan, kolom itu seperti rangka tubuh manusia yang memastikan sebuah bangunan

Page 4: bekisting

berdiri. Kolom termasuk struktur utama untuk meneruskan berat bangunan dan beban lain

seperti beban hidup (manusia dan barang-barang), serta beban hembusan angin. Kolom

berfungsi sangat penting, agar bangunan tidak mudah roboh.

Beban sebuah bangunan dimulai dari atap. Beban atap akan meneruskan beban yang

diterimanya ke kolom. Seluruh beban yang diterima kolom didistribusikan ke permukaan

tanah di bawahnya. Kesimpulannya, sebuah bangunan akan aman dari kerusakan bila besar 

dan jenis pondasinya sesuai dengan perhitungan. Namun, kondisi tanah pun harus benar-

benar sudah mampu menerima beban dari pondasi. Kolom menerima beban dan

meneruskannya ke pondasi, karena itu pondasinya juga harus kuat, terutama untuk konstruksi

rumah bertingkat, harus diperiksa kedalaman tanah kerasnya agar bila tanah ambles atau

terjadi gempa tidak mudah roboh.

Gambar: gambaran struktur kolom menggunakan beton bertulang. Pada dasarnya

merupakan rangka yang menopang beban seluruh bangunan.

Page 5: bekisting

Gambar: gambaran struktur kolom menggunakan beton bertulang. Pada dasarnya

merupakan rangka yang menopang beban seluruh bangunan.

Struktur dalam kolom dibuat dari besi dan beton. Keduanya merupakan gabungan

antara material yang tahan tarikan dan tekanan. Besi adalah material yang tahan tarikan,

sedangkan beton adalah material yang tahan tekanan. Gabungan kedua material ini dalam

struktur beton memungkinkan kolom atau bagian struktural lain seperti sloof dan balok bisa

menahan gaya tekan dan gaya tarik pada bangunan.

Letak kolom dalam konstruksi

Kolom portal harus dibuat terus menerus dan lantai bawah sampai lantai atas, artinya

letak kolom-kolom portal tidak boleh digeser pada tiap lantai, karena hal ini akan

menghilangkan sifat kekakuan dari struktur rangka portalnya. Jadi harus dihindarkan denah

kolom portal yang tidak sama untuk tiap-tiap lapis lantai. Ukuran kolom makin ke atas boleh

makin kecil, sesuai dengan beban bangunan yang didukungnya makin ke atas juga makin

kecil. Perubahan dimensi kolom harus dilakukan pada lapis lantai, agar pada suatu lajur

kolom mempunyai kekakuan yang sama.

Ilustrasi letak kolom-kolom dalam gambar kerja arsitektural rumah dua lantai

(berwarna kuning)

Page 6: bekisting

Tulangan kolom dibuat berkait dengan sloof tulangan ini memiliki besi utama (yang

tegak) dan besi begel (yang kotak-kotak untuk mengikat besi utama. Jarak antar begel/

sengkang berkisar antara 10 hingga 20 cm.

Gambar tulangan kolom, sedang dikerjakan bersama pembuatan dinding.

Page 7: bekisting

Pekerjaan kolom yang sudah jadi.

Hubungan kolom dengan pondasi dinding

Berat atap diterima secara merata oleh ring balok dan beban disalurkan ke pondasi

melalui media kolom. Selain menerima limpahan beban dari kolom, pondasi juga menahan

berat dinding yang ada diatasnya sehingga secara keseluruhan menahan beban bangunan.

Prinsip penerusan gaya pada kolom pondasi

Balok portal merangkai kolom-kolom menjadi satu kesatuan. Balok menerima seluruh

beban dari plat lantai dan meneruskan ke kolom-kolom pendukung. Hubungan balok dan

kolom adalah jepit-jepit, yaitu suatu sistem dukungan yang dapat menahan momen, gaya

vertikal dan gaya horisontal. Untuk menambah kekakuan balok, di bagian  pangkal pada

pertemuan dengan kolom, boleh  ditambah tebalnya.

 http://astudioarchitect.com/2009/03/kolom-dalam-konstruksi-rumah-

tinggal.html#ixzz1b8MW0RvD

METODE KERJA KOLOM PADA BANGUNAN GEDUNG

 Pekerjaan struktur atas melibatkan beberapa kegiatan antara lain adalah pekerjaan

pengukurаn, pembesian, bekisting,pengecoran pembongkaran bekisting, dan

perawatan beton yang dilakukan pada elemen-elemen struktur atas seperti kolom, shear

wall dan corelift, ok dan pelat lantai.

Page 8: bekisting

Kolom adalah struktur yang merupakan penyangga atau pilar yang akan menyalurkan beban atau gaya vertikal dan lateral ke pondasi. Konstruksi kekakuan kolom akan menentukan besarnya gaya lateral yang akan dipikul oleh kolom tersebut. Adapun besar kecilnya kolom (dimensi kolom) tergantung pada distribusi pembebanan. Urutan pelaksanaan pekerjaan kolom dapat dilihat pada gambar 1.1 berikut.

                     Stek Tulangan Kolom + Mаrkіnɡ

                     Pabrikasi Tulangan Kolom

                     Pemasangan Tulangan Kolom + Decking

                     Pemasangan Sepatu Kolom

                     Instalasi Pipa Elektrikal

                     Pabrikasi Bekisting Kolom

                     Instalasi Bekisting yang Telah Diberi Oil Form

                     Pemberian Beton Eksisting dengan Calbond

                     Pengecoran Kolom

                     Pembongkaran Bekisting Kolom

                     Perawatan Beton

Page 9: bekisting

Urutan Pelaksanaan Kolom

Marking Kolom

Page 10: bekisting

Fabrikasi Penulangan Kolom

Fabrikasi Bekisting Kolom

Page 11: bekisting

Sepatu kolom

Pelepasan Bekisting Kolom

Page 12: bekisting

Bekisting Kepala Kolom

Perapihan Kolom

Penentuan Aѕ Kolom (Pemberian Mаrkіnɡ)

Titik-titik аѕ kolom diperoleh dari hasil pekerjaan tim survey yang melakukan

pengukuran dan pematokan, yaitu mаrkіnɡ berupa titik-titik atau garis yang digunakan

sebagai dasar penentuan letak bekisting dan tulangan kolom. Penentuan аѕ kolom dilakukan

dengan menggunakan alat theodolite. Untuk pekerjaan pengukuran ini diperlukan juru ukur

(surveyor) yang berpengalaman, khususnya dalam pelaksanaan gedung bertingkat

Page 13: bekisting

(surveyor yang bersertifikat). Posisi аѕ kolom arah vertikal ditentukan berdasarkan аѕ kolom

pada lantai sebelumnya. Proses pemindahan titik аѕ (axis) kolom dari lantai bawah ke lantai

atas berikutnya dengan pembuatan lubang-lubang pada pelat lantai (gambar 1.2). Lubang-

lubang tersebut nantinya ditutup kembali setelah pemindahan titik аѕ kolom selesai.

Posisi аѕ kolom harus sentris kedudukannya terhadap аѕ pada lantai sebelumnya,

untuk itu dilakukan juga pengecekan dengan menggunakan benang dan unting-unting.

Dengan bantuan titik-titik acuan bangunan yang sentris disetiap lantainya, maka dapat

ditentukan letak аѕ kolom dan kemudian dibuat аѕ-аѕ yang lain dengan mengikuti jarak yang

telah disyaratkan dalam perencanaan awal. Pengecekan аѕ kolom dilakukan dengan

menempatkan alat theodolite pada mаrkіnɡ tersebut dan kemudian mengecek

kelurusan mаrkіnɡ kolom. Penempatan titik kontrol pada proyek ini dilakukan pada pagar di

salah satu sisi dan titik kontrol lainnya berada pada ɡƖіԁе over dikarenakan proyek ini berada

tepat di pinggir jalan yang dilintasi oleh ɡƖіԁе over tersebut.

Contoh Gambar Kerja Kolom

Page 14: bekisting

Metode Kerja Pembongkaran Bekisting Kolom

Persiapan Lahan

Pembersihan Area Kerja

Pada saat dilakukan bongkaran kolom area kerja harus bebas dari aktifitas pekerja dan

material proyek

Page 15: bekisting

Prosedur Pelaksanaan

Persiapan Alat TC (Tower Crane)

Persiapan Pekerja (2 Orang)

Tahap pertama melepas support bekisting kolom

Tahap kedua melonggarkan ikatan tie rod samping bekisting kolom

Tahap ketiga pengikatan sling TC ke bekisting Kolom

Tahap keempat pengangkatan bekisting kolom menggunakan TC

Bekisting Kolom diletakan ke area stock bekisting kolom

Pekerjaan Pelepasan Bekisting Kolom menggunakan Metode ini membutuhkan

kurang lebih 10 menit

Repair kolom yang kurang mulus

Sumber : maygunrifanto.blogspot.com

RANGKA & DINDING BANGUNAN

Rangka bangunan adalah bagian dari bangunan yang merupakan struktur utama

pendukung berat bangunan dan beban luar yang bekerja padanya. Untuk bangunan sederhana,

rangka bangunan dapat dibuat dari tiang-tiang kayu (kolom) yang saling dihubungkan oleh

batang-batang datar (balok). Pada bangunan rumah tinggal yang permanen, rangka bangunan

dibuat dari konstruksi beton bertulang dengan dinding dari pasangan batu bata atau batako.

Page 16: bekisting

Untuk bangunan bertingkat sederhana/rendah, umumnya berupa struktur rangka portal (frame

structure) yaitu kerangka yang terdiri dari kolom dan balok. Pada sistem rangka, dinding

penyekat tidak diperhitungkan ikut mendukung beban. Dinding berfungsi hanya sebagai

pembatas ruang. Dinding sebaiknya dibuat jangan terlalu tebal agar berat dinding dapat

seringan mungkin, sehingga ukuran rangka portal dan pondasi dapat dibuat menjadi lebih

kecil pula.

Rangka bangunan harus dibuat dengan beberapa syarat, antara lain :

                  Mempunyai kekuatan dan kestabilan yang mantap untuk memberikan bentuk yang permanen

dan mampu mendukung konstruksi atap

                  Dapat memberikan keindahan

                  Dibuat dengan bentuk sedemikian, sehingga dapat memberikan kenyamanan tinggal bagi

penghuni

Rangka portal harus direncanakan dan diperhitungkan kekuatannya terhadap beban-

beban seperti :

                     Beban mati : berat dari semua beban bangunan yang bersifat tetap, termasuk segala unsur

tambahan, pekerjaan pelengkap (finishing), alat atau mesin yang merupakan bagian tak

terpisahkan dari rangka bangunannya.

                     Beban hidup : berat dari penghuni dan atau barang-barang yang dapat berpindah

                     Beban angin : beban yang bekerja pada bangunan atau bagiannya karena adanya selisih

tekanan udara (hembusan angin kencang)

                     Beban gempa : besarnya getaran yang terjadi di dalam struktur rangka bangunan akibat

adanya gerakan tanah oleh gempa, dihitung berdasarkan suatu analisa dinamik

                     Beban khusus : beban kerja yang antara lain berasal dari adanya selisih suhu, penurunan

pondasi,susut bahan.

Untuk bangunan tidak bertingkat yang dinding-dinding penyekatnya dari pasangan

batu bata, harus diberi perkuatan konstruksi beton bertulang praktis yaitu balok sloof, kolom

praktis dan balok atas (ringbalk). Konstruksi beton bertulang praktis tidak diharuskan

dilakukan hitungan mekanik untuk perencanaan dimensi beton dan jumlah penulangannya.

Pemakaian konstruksi beton bertulang praktis pada bangunan tidak bertingkat selain sebagai

perkuatan pasangan batu bata juga sebagai syarat untuk bangunan tahan gempa.

Balok sloof dipasang di atas seluruh panjang pondasi, untuk mendukung dan

meratakan beban tembok di atasnya dan meneruskannya ke pondasi di bawahnya. Balok sloof

Page 17: bekisting

ini juga berfungsi sebagai trasraam yang dapat mencegah naiknya air dari bawah ke atas

tembok.

Ukuran balok sloof :

                     Untuk dinding ½ batu : 15/15 atau 15/20 atau 20/20

                     Untuk dinding 1 batu : 25/25 atau 25/30 atau 30/30

Agar balok sloof nantinya tidak mengganggu pemasangan bahan penutup lantai (tegel,

keramik ) lantai, maka tinggi pemasangannya harus berada 10 cm di bawah permukaan lantai

rencana. Tapi juga jangan terlalu jauh di bawah lantai, karena akan menyebabkan tinggi

pasangan bata trasraam menjadi besar dan urugan pasir di bawah lantai menjadi sangat tebal.

Kolom praktis sebagai perkuatan dipasang pada :

                     Setiap jarak 3 m pada pasangan tembok lurus

                     Pertemuan-pertemuan tembok (pertemuan sudut, persilangan, dan sebagainya)

                     Kanan – kiri lubang pintu dan jendela untuk pegangan dan jepitan kusen

Kolom praktis dapat berfungsi sebagai tiang pendukung yang berdiri bebas. Ukuran

tampang beton untuk kolom praktis ini dibuat sama dengan tebal temboknya, agar dapat

diperoleh permukaan dinding yang rata dan rapi, Untuk dinding ½ batu dapat digunakan

ukuran 15/15 atau 15/20. Untuk dinding 1 batu dapat digunakan ukuran 25/25 atau 25/30.

Kolom praktis ini dibagian bawah bertumpu dan dijepit pada balok sloof, sedang bagian atas

dirangkai menjadi satu oleh balok atas. Supaya antara kolom praktis dan tembok batanya

menjadi satu dan mempunyai hubungan yang kuat, maka pada kolom praktis diberi angker

yang mengait pasangan bata di bagian kanan – kiri kolom. Adukan betonnya di cor sesudah

pasangan bata selesai dikerjakan lebih dahulu. Pada bagian atas pasangan bata diberi suatu

balok penjepit yang disebut balok atas, Fungsinya untuk meratakan beban kuda-kuda dan

rangka plafon ke dinding atau kolom di bawahnya. Bila pasangan bata lebih dari 4 m, maka

balok atas harus dipasang di 2 (dua) tempat yaitu di tengah (di atas kusen pintu dan jendela)

dan di atas pasangan bata tersebut. Ukuran beton dan isi tulangan untuk balok atas dibuat

sama dengan ukuran balok sloof.Dinding pasangan bata di atas balok sloof harus dibuat

kedap air/ trasraam dengan campuran 1 semen : 2 pasir. Hal ini untuk mencegah naiknya air

Page 18: bekisting

secara kapiler ke atas. Tinggi pasangan trasraam dibuat 20 cm di bawah dan di atas lantai +/- 0,00. Apabila sudah dipakai balok sloof, tinggi trasraam mulai balok sloof sampai 20 cm di atas lantai +/- 0,00. Pasangan trasraam ini juga dibuat pada bagian-bagian lain yang selalu basah atau selalu terkena air seperti dinding kamar mandi, tempat cucian dan dinding di luar yang tidak terlindung atap. Untuk dinding kamar mandi pasangan trasraam dapat dibuat dengan ketinggian sampai dengan 1,50m dari atas lantai. Untuk merekatkan bata-bata sebagai pasangan tembok, dipakai adukan perekat 1 kapur : 1 semen merah : 2 pasir atau 1 semen : 5 pasir. Bahan-bahan ini dicampur dalam keadaan kering dan disaring halus. Bagian yang berbutir besar dibuang, yang dipakai hanya bahan yang dapat melewati saringan. Bahan-bahan tersebut kemudian dicampur air sampai diperoleh adonan yang lekat. Untuk adukan dari semen dan pasir, yang disaring cukup pasirnya saja dan butiran yang dapat lewat saringan yang dipakai sebagai campurannya. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemasangan dinding dari batu bata :

                     Bata harus dibasahi sampai gelembung udara dalam bata ke luar semua

                     Tidak boleh ada perekat tegak yang merupakan satu garis lurus dari bawah sampai ke atas.

Untuk pasangan ½ batu selisih perekat tegak ½ batu dan untuk pasangan 1 batu selisih

perekat tegak ¼ batu.

                     Bata potongan yang kurang dari ½ batu sebaiknya tidak dipergunakan lagi

                     Ketinggian pemasangan bata setiap harinya tidak lebih dari 1 m

                     Untuk memperoleh pasangan bata yang tegak dan lurus, dipakai bantuan batang kayu yang

dipasang berdiri tegak lurus pada kedua tepinya.

Untuk membuat dinding pasangan bata menjadi halus, rapi dan bersih dapat ditutup

dengan lapis penutup yang disebut plesteran. Bahan campuran untuk plesteran dibuat sama

dengan bahan untuk pasangan batanya. Pada plesteran tepi atau sponneng harus dibuat

dengan campuran 1 semen : 2 pasir agar kuat dan tidak mudah rusak. Tebal plesteran antara

1,5 – 2 cm. Pasangan bata yang akan diplester harus dibasahi, dibersihkan dari kotoran dan

Page 19: bekisting

lumut yang melekat. Untuk memberi warna pada plesteran dapat dipakai kapur atau cat

tembok. Pada dinding luar harus digunakan cat tembok yang tahan terhadap pengaruh cuaca

luar agar tidak mudah mengelupas dan luntur.

Sumber : architecturoby.blogspot.com

KAYU UNTUK PEMBUATAN BEKISTING KOLOM

Kayu yang sering digunakan sebagai bekisting semakin sulit didapat. Hutan sebagai

bahan baku kayu semakin berkurang. Penebangan hutan dihadapkan pada permasalahan yang

semakin hari semakin serius yaitu pemanasan global (Global Warming) Bekisting dari kayu

harusnya sudah sejak lama dicarikan penggantinya.

Dalam dunia konstruksi di Indonesia, penggunaan bekisting kayu hampir belum ada.

penggantinya. Proyek konstruksi di Indonesia sepertinya masih sangat menggantungkan kayu

sebagai material utama pembuatan bekisting. Ada alternatif dengan menggunakan material

baja atau besi namun penggunaannya masih terbatas karena material tersebut memiliki berat

jenis yang tinggi sehingga menimbulkan masalah kesulitan pelaksanaan dalam aplikasinya.

Selama ratusan tahun negara kita merupakan penghasil bahan baku dari hutan yang

besar. Bisa jadi merupakan salah satu yang terbesar di dunia. Itu dulu, namun sekarang

dengan banyaknya penebangan hutan secara liar dan eksploitasi yang besar-besaran dan tidak

terkendali hutan kita menyusut cukup banyak sehingga saat ini mulai sering kita hadapi

kelangkaan kayu sebagai bahan bekisting dalam pengerjaan proyek konstruksi di samping

masalah-masalah akibat mulai rusaknya hutan seperti banyaknya bencana alam banjir, tanah

longsor, perubahan iklim yang ekstrim, dan lainnya.

Berdasarkan pengalaman selama mengerjakan proyek, bekisting pekerjaan struktur

beton telah menghabiskan begitu banyak kayu yang setelah digunakan, tidak dapat diolah

kembali dan menjadi masalah baru yaitu sampah. Penggunaan kayu bekisting merupakan

satu-satunya hal yang membuat pelaksanaan konstruksi masih belum bisa dikatakan ”green”.

Penggunaan begitu banyak kayu telah membuat enviromental assesment pada perusahaan

kontraktor yang telah mendapatkan sertifikasi ISO 14000 tidak begitu bagus. Masalah ini

telah menjadi handycap yang harus diselesaikan.

Sudah saatnya kita mulai memikirkan alternatif lain selain kayu sebagai bahan

bekisting. Beberapa tahun terkahir telah ada produk bekisting yang menggunakan bahan

dasar plastik yang dikompositkan dengan bahan fiber glass. Bahan plastik yang

Page 20: bekisting

dikompositkan dengan fiber glass memiliki kemampuan yang sama bahkan lebih baik dari

kayu untuk digunakan sebagai bekisting.

Banyak pabrik di luar negeri telah memproduksi sistem bekisting plastik ini secara

massal. Bekisting plastik yang mereka buat dapat digunakan untuk elemen struktur pondasi,

kolom, dinding dan pelat lantai. Hal ini berarti hampir semua elemen struktur beton dapat

menggunakan sistem bekisting plastik yang mereka produksi. Beberapa perusahaan yang

telah memasarkan produk sistem bekisting plastik / Plastic Formwork System yang Saya

dapatkan di internet antara lain:

         Hangzhou Yongshun Plastic Industry

         EPIC ECO

         Moladi

Menurut saya pasti masih banyak lagi yang lain yang berarti bahwa aplikasi bekisting

plastik di luar negri sudah dimulai cukup lama. Jika Anda ingin mencari sistem bekisting

plastik ini dapat menggunakan search engine google dengan kata kunci plastic formwork.

Saya telah download beberapa foto bekisting plastik tersebut. Berikut adalah foto-fotonya.

Page 21: bekisting

Material plastik untuk pengganti kayu pada bekisting merupakan ide yang brillian. Hal

ini disebabkan karena plastik memiliki keunggulan yang lebih dari pada kayu disamping

untuk kepentingan pelestarian lingkungan. Berikut ini adalah keunggulan bekisting plastik:

         Bebas kelembaban dan tidak mengalami perubahan dimensi                           atau bentuk

         Pemasangan lebih mudah dan tanpa perlu minyak bekisting.

         Mempercepat waktu pelaksanaan bekisting

         Tidak berkarat

         Tidak gampang rusak oleh air sehingga cocok untuk konstruksi bawah tanah dan lingkungan

berair

         Efisien secara biaya

         Kualitas hasil yang lebih baik

         Gampang dipasang dan dilepas sehingga mengurangi biaya upah

         Daya tahan lama, dapat digunakan 40-70 kali. Ada produk yang dapat digunakan hingga

1000 kali.

Page 22: bekisting

         Tahan panas

         Ringan, Kuat dan kaku, bending modulus yang tinggi

         Ketahanan permukaan yang baik, tahan terhadap benturan dan abrasi

         Dapat dibor, dipaku, diketam, dan diproses seperti digerjaji

         Stabilitas yang tinggi terhadap sinar ultraviolet, tidak rapuh dan gampang retak, gampang

untuk dibersihkan

         Tidak membutuhkan syarat khusus dalam penyimpanan karena sifatnya yang tahan cuaca

         Sampah sisa material bekisting plastik ini dapat diolah kembali seluruhnya. Sangat ramah

lingkungan.

Terlihat bekisting plastik memiliki banyak keunggulan dibanding dengan bekisting

kayu baik dari sisi mutu, biaya, dan waktu. Bagi Owner dan Perencana, bekisting plastik akan

menurunkan biaya proyek. Sedangkan bagi kontraktor, bekisting plastik akan mempercepat

pelaksanaan. Bagi Pemerintah dan Masyarakat luas, bekisting plastik akan mengurangi

penggunaan kayu secara signifikan sehingga sangat membantu dalam pelestarian lingkungan.

Kayu adalah material yang telah lama digunakan sebagai bahan bekisting untuk

pekerjaan struktur beton bertulang. Sebagian besar kayu yang digunakan selama ini telah

berperan merusak hutan. Hutan semakin lama semakin berkurang dengan cepat. Kayu pun

semakin langka. Mari berhemat kayu…

KAYU UNTUK BEKISTING

Pada pekerjaan proyek konstruksi terutama pekerjaan struktur beton bertulang, kayu

diperlukan sebagai bahan utama pembuatan bekisting untuk membentuk dimensi beton.

Bekisting ini akan membentuk dimensi elemen struktur kolom, balok, plat, dinding, listplank,

dan lain-lain sesuai dengan dimensi rencana. Sejauh ini  di Indonesia, material yang

Page 23: bekisting

digunakan sebagai bekisting terutama adalah kayu. Kayu pada bekisting  digunakan sebagai

konstruksi penahan beban sementara dan sebagai pembentuk dimensi atau permukaan elemen

struktur beton bertulang.

Kayu bekisting semakin lama semakin sulit untuk didapat. Penyebab utamanya adalah

bahwa sumber bahan baku kayu bekisting yakni hutan semakin terbatas dan berkurang

disamping kebutuhan akan kayu itu sendiri semakin hari semakin meningkat. Maraknya

penebangan liar dan perubahan fungsi lahan menyebabkan luas hutan berkurang dengan

cepat. Dampak lebih serius akibat berkurang dengan cepatnya hutan adalah pada pemanasan

global (Global Warming).

Isu pemanasan global telah menjadi isu utama yang menyebabkan penggunaan sumber

daya hutan untuk industri semakin tertekan. Akibatnya penggunaan kayu hasil hutan menjadi

sangat dibatasi. Isu ini semakin lama akan semakin luas yang berarti pula pemanfaatan hasil

hutan termasuk kayu untuk bekisting akan semakin sulit.

MENGHEMAT KAYU

Sebagai salah satu langkah untuk mengurangi penggunaan kayu adalah dengan

menghemat kayu itu sendiri. Berdasarkan pengalaman, langkah penghematan dapat dilakukan

dengan beberapa cara sebagai berikut:

A.   Perencanaan Bekisting

Untuk membuat bekisting harusnya dibuat suatu perencanaan yang baik. Perencanaan

yang baik ini akan menghasilkan suatu kebutuhan akan kayu yang paling efisien. Pada bagian

kayu yang menopang beban yang tidak besar, dapat digunakan jenis kayu yang sesuai.  Kayu

juga jangan sampai  memikul beban melebihi kapasitasnya karena akan membuat kayu lebih

cepat rusak. Kayu sebagai penopang beban akan direncanakan cukup memadai . Potongan-

potongan kayu atau panel kayu akan direncanakan seseragam mungkin agar mengurangi

pemotongan yang tidak efisien.

B.   Metode Bekisting

Termasuk dalam metode bekisting ini adalah teknik untuk fabrikasi, memasang,

membongkar, dan memasang kembali. Fabrikasi harusnya juga direncanakan dengan baik.

Potongan kayu atau panel kayu harus dipotong sedemikian sisa material yang tidak terpakai

atau waste sesedikit mungkin. Pemasangan kayu juga harus direncanakan gampang

dibongkar agar kayu tidak cepat rusak. Pembongkaran bekisting harus dilakukan hati-hati

agar kayu tidak cepat rusak sehingga umur pemakaian kayu dapat lebih panjang.

C.   Reuse

Page 24: bekisting

Maksudnya adalah potongan kayu harus semaksimal mungkin dapat digunakan

kembali. Potongan kayu yang rusak harus dicek apakah dapat dipergunakan kembali untuk

ukuran yang lebih kecil dengan memotong bagian kecil dari potongan kayu tersebut. Begitu

juga dengan panel kayu plywood.

D.   Menggunakan Kayu Mutu Tinggi

Saat ini banyak tersedia kayu dengan mutu lebih tinggi dan lebih tahan lama. Kayu

tersebut tentu tidak gampang rusak. Sehingga dapat digunakan berulang kali dengan umur

pemakaian yang lebih lama. Hampir semua produsen sistem bekisting seperti PCH, PERI,

MESA, Ulma, dll memproduksi kayu ini. Walaupun biaya lebih mahal, namun dengan

efisiensi pemakaian yang tinggi, tentu berpeluang untuk menjadi lebih murah secara

keseluruhan.

E.   Menggunakan Sistem Precast

Sistem precast adalah sistem pengecoran beton yang dilakukan di tempat yang lain,

dimana beton tersebut kemudian baru dipasang ke lokasi struktur yang direncanakan. Sistem

precast akan membuat penggunaan bekisting sangat irit. Hal ini disebabkan karena tidak

dilakukan pembongkaran bekisting atau sedikit sekali dilakukan pembongkaran bekisting.

Akibatnya bekisting menjadi sangat awet terlebih dengan perawatan yang memadai.

F.   Menggunakan Plywood yang Dilapisi Polyfilm

Berdasarkan ada tidaknya lapisan pelindung permukaan, plywood dibagi atas dua jenis

yaitu yang dilapisi oleh polyfilm dan yang tidak dilapisi polyfilm. Plywood yang dilapisi

polyfilm memiliki keawetan yang lebih tinggi sehingga dapat digunakan berulang kali dan

lebih lama dibandingkan yang tidak dilapisi polyfilm.

G.   Perawatan Material Kayu

Kayu yang ada baik dalam bentuk stok maupun yang telah terpakai akan memiliki umur

yang lebih panjang apabila dirawat dengan baik. Kayu sebaiknya dilindungi dari cuaca

karena perubahan cuaca akan membuat kayu cepat lapuk.Perlindungan kayu terhadap cuaca

dapat dilakukan dengan menempatkan kayu pada daerah terlindung dari panas matahari dan

hujan misalnya dalam gudang atau melindungi tumpukan kayu dengan menggunakan terpal.

H.   Pengawetan Material Kayu

Pada bagian tertentu kayu bekisting seperti balok pikul, pada dasarnya menjadi bagian

yang paling sering digunakan dan tidak mengalami kerusakan akibat proses bongkar pasang

bekisting (mekanis). Balok pikul mungkin menjadi rusak hanya karena faktor cuaca ataupun

faktor non-mekanis. Untuk itu dapat dilakukan pengawetan kayu bagian tertentu dari

Page 25: bekisting

bekisting agar kayu lebih tahan lama. Pengawetan dapat dilakukan dengan merendam kayu

ke dalam cairan khusus.

I.   Melakukan Redesign

Salah satu redesign yang menghasilkan penghematan kayu yang cukup besar adalah

dengan melakukan redesign terhadap sistem pelat lantai. Secara konvensional, sistem pelat

lantai dan bekistingnya akan terdiri dari bekisting pelat dan tulangan bawah lantai. Sistem

tersebut dapat diredesign dengan menggunakan material pengganti spandeck, smartdeck,

bondeck, dan sejenisnya. Material tersebut telah secara cerdas mengganti kebutuhan bekisting

pelat dan tulangan beton pelat lantai sekaligus. Redesign lain yang berpotensi sering dapat

dilakukan adalah dengan mengganti elemen  struktural listplank yang kemudian akan

berfungsi sebagai penutup plafon, dengan sistem plafond. Hal ini berarti tidak diperlukan lagi

listplank sebagai struktur. Sistem struktur listplank akan diredesign menjadi elemen non-

struktural.

J.   Menggunakan Material Lain

Saat ini sudah mulai banyak dijumpai sistem bekisting tertentu yang sudah tidak

menggunakan material kayu. Di Indonesia umumnya digunakan baja dalam bentuk pelat atau

bentuk lain. Sistem bekisting kolom MESA atau disebut Adjustable steel faced column form

merupakan bekisting yang menggunakan material baja. Sama sekali tidak menggunakan kayu

dan sangat tahan lama hingga 400 kali pakai. Dengan jumlah kali pakai sangat sangat tinggi,

tentu secara ekonomis akan lebih hemat.

proyekindonesia.com/2011/03/menghemat-kayu-bekisting

Page 26: bekisting

KERUSAKAN PADA KOLOM BANGUNAN

A.       Tulangan Sudah Luluh Bila kondisi tulangan kolom sudah luluh dan tidak terlalu parah

sehingga bangunan tidak miring, tulangan yang rusak tadi bisa dipotong dan diganti dengan

tulangan yang baru. Periksalah apakah tulangan yang ada di kolom itu memang sudah cukup

aman menahan beban atau belum. Bila sudah cukup kuat maka langkah perbaikannya adalah

sebagai berikut.

1.      Tahan beban kolom yang akan diperbaiki dengan menggunakan kayu atau besi.

2.      Bongkarlah beton yang masih melekat di sekitar tulangan yang luluh.

3.      Besi yang luluh dipotong lalu diganti dengan tulangan yang baru. Perhatikan sambungan

tulangan baru dengan tulangan yang lama. Sebaiknya tulangan lama menindih tulangan baru

(overlaping) dengan panjang sama dengan diameter x 40. Jika diameter tulangan 12 mm

maka panjang overlaping tulangan sekitar 480 mm. Setelah itu, ikatlah sambungan dengan

kawat atau bisa juga dengan las.

4.      Pasanglah bekisting di sekitar kolom yang diperbaiki. Setelah itu, masukkan material beton

dengan mutu beton sesuai dengan kualitas mutu beton yang lama atau bisa juga dengan

material khusus untuk perbaikan beton.

B.        Tulangan belum luluh

Kerusakan dengan kondisi tulangan belum luluh yang kerap terjadi adalah retak, beton

hancur sebagian, dan selimut beton terlepas.  Ir. Sondra Gosali (Sales dan Marketing

Manager PT Sika Indonesia) menjelaskan bahwa ada tiga metode perbaikan, yaitu patching

(plester), grouting (menambah dengan campuran beton dan aditif), dan injection (suntik

dengan bahan kimia). Berikut proses perbaikan berdasarkan jenis kerusakannya.

1.                  Retak

            Jika permukaan kolom atau balok retak maka langkah pertama yang dilakukan adalah

mengecek apakah keretakan itu ada pada selimut beton atau pada “daging” betonnya.

Keretakan pada selimut beton bisa diatasi dengan menambal keretakan (patching)

menggunakan bahan material perbaikan struktur berbahan dasar polymer. Atau bisa juga

menggunakan campuran semen dan air. Bila ternyata keretakan ada pada “daging” betonnya,

maka metode perbaikannya bisa menggunakan metode grouting atau injection.

Proses pengerjaan metode grouting adalah dengan membongkar retakan hingga dasar

retakan atau sampai terlihat daging betonnya. Pastikan beton yang ada di sekeliling retakan

tidak rontok. Setelah itu, tuang material perbaikan struktur berbahan dasar semen pada celah

retakan.

Page 27: bekisting

Sebaiknya gunakan bounding agent (bahan seperti lem) untuk mempermudah proses

perekatan antara beton lama dengan material perbaikan struktur. Bounding agent bisa juga

diganti dengan air. Siram air pada permukaan beton lama pada celah retakan.

Sedangkan proses metode injeksi dimulai dengan menutup permukaan retakan

menggunakan material berbahan epoxy. Setelah itu, buatlah lubang di sepanjang retakan

dengan jarak antarlubang sekitar 25 cm dan tutuplah lubang dengan selang karet.

Masukkan material perbaikan struktur berbahan dasar epoxy ke dalam selang karet.

Jika material itu keluar pada salah satu selang karet maka segera tutup lubang selang itu.

Masukkan kembali material epoxy ke lubang yang lain. Ulangi proses itu hingga semua

selang karet tertutup. Jika semua selang karet tertutup, ini berarti semua celah pada retakan

sudah terisi material epoxy.

2.         Beton hancur sebagian

Untuk memperbaikinya, metode yang digunakan adalah metode grouting. Proses

perbaikan untuk kerusakan kolom adalah sebagai berikut:

         Tahan beban kolom dengan memberi kayu atau besi di sekeliling kolom.

         Bersihkan beton yang masih menempel di sekeliling pecahan beton. Ketuk di sekeliling

pecahan untuk memastikan sudah tidak ada lagi beton yang bisa terkelupas.

         Buatlah bekisting di sekeliling kolom.

          Cor kembali bagian kolom yang terkelupas tadi dengan campuran beton dan bahan aditif.

Bila tidak mau repot, saat ini di pasaran sudah tersedia material yang siap pakai untuk

memperbaiki struktur. Material yang berbahan dasar semen ini dikenal dengan nama cemen

grout.

3.         Selimut beton terkelupas

Kerusakan seperti ini tergolong kerusakan kosmetik. Maksudnya, hanya penampilannya

saja yang rusak. Untuk memperbaikinya, metode yang tepat adalah dengan metode patching.

Caranya adalah sebagai berikut:

         Bersihkan atau lepas selimut beton yang masih menempel di sekitar selimut beton yang

terkelupas.

         Lapisi permukaan beton yang terkelupas dengan bounding agent.

Berikan adukan plesteran khusus untuk perbaikan struktur pada permukaan beton yang

terkelupas. Biasanya material plesteran ini terdiri dari dua komponen.

www.gussuta.com/teknik/tip-mengatasi-masalah- pada - bangunan .html

Page 28: bekisting

DASAR- DASAR PERHITUNGAN

Menurut SNI-03-2847-2002 ada empat ketentuen terkait perhitungan kolom:

1.         Kolom harus direncanakan untuk memikul beban aksial terfaktor yang bekerja pada semua

lantai atau atap dan momen maksimum yang berasal dari beban terfaktor pada satu bentang

terdekat dari lantai atau atap yang ditinjau. Kombinasi pembebanan yang menghasilkan rasio

maksimum dari momen terhadap beban aksial juga harus diperhitungkan.

2.         Pada konstruksi rangka atau struktur menerus pengaruh dari adanya beban tak seimbang pada

lantai atau atap terhadap kolom luar atau dalam harus diperhitungkan. Demilkian pula

pengaruh dari beban eksentris karena sebab lainnya juga harus diperhitungkan.

3.         Dalam menghitung momen akibat beban gravitasi yang bekerja pada kolom, ujung-ujung

terjauh kolom dapat dianggap jepit, selama ujung-ujung tersebut menyatu (monolit) dengan

komponen struktur lainnya.

4.         Momen-momen yang bekerja pada setiap level lantai atau atap harus didistribusikan pada

kolom di atas dan di bawah lantai tersebut berdasarkan kekakuan relative kolom dengan juga

memperhatikan kondisi kekekangan pada ujung kolom.

Adapun dasar-dasar perhitungannya sebagai berikut:

1. Kuat perlu

2. Kuat rancang

No. Kondisi Faktor reduksi (ø)

1. Lentur tanpa beban aksial 0.8

2. Aksial tarik dan aksial tarik dengan lentur 0.8

3. Aksial tekan dan aksial tekan dengan lentur

a. Tulangan spiral maupun sengkang ikat

b. Sengkang biasa: 0.7, 0.65

Page 29: bekisting

Asumsi Perencanaan

ANALISA KOLOM

Kolom merupakan salah satu bagian struktur konstruksi yang penting. Untuk

merencanakan sebuah kolom, ada beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain :

A.             Analisa

1.               Jenis taraf penjepitan kolom. Jika menggunakan tumpuan jepit, harus dipastikan

pondasinya cukup kuat untuk menahan momen lentur dan menjaga agar tidak terjadi rotasi di

ujung bawah kolom.

2.               Reduksi Momen Inersia Untuk pengaruh retak kolom, momen inersia penampang kolom

direduksi menjadi 0.7Ig (Ig = momen inersia bersih penampang)

B.              Beban Desain (Design Loads)

Yang perlu diperhatikan dalam beban yang digunakan untuk desain kolom beton adalah:

1.               Kombinasi Pembebanan. Seperti yang berlaku di SNI Beton, Baja, maupun Kayu.

2.               Reduksi Beban Hidup Kumulatif. Khusus untuk kolom (dan juga dinding yang memikul

beban aksial), beban hidup boleh direduksi dengan menggunakan faktor reduksi beban hidup

kumulatif. Rujukannya adalah Peraturan Pembebanan Indonesia (PBI) untuk Gedung 1983

Tabelnya adalah sebagai berikut:

Page 30: bekisting

Contoh cara penggunaan: Misalnya ada sebuah kolom yang memikul 5 lantai. Masing-

masing lantai memberikan reaksi beban hidup pada kolom sebesar 60 kN. Maka beban hidup

yang digunakan untuk desain kolom pada masing-masing lantai adalah:

Lantai              5          :           1.0       x          60                    =          60        kN

Lantai              4          :           1.0       x          (2×60)             =          120      kN

Lantai              3          :           0.9       x          (3×60)             =          162      kN

Lantai              2          :           0.8       x          (4×60)             =          192      kN

Lantai              1          :           0.7      x          (5×60)             =          210     kN

Jadi, lantai paling bawah cukup didesain terhadap beban hidup 210 kN saja, tidak

perlu sebesar 5×60 = 300 kN. Dasar dari pengambilkan reduksi ini adalah bahwa kecil

kemungkinan suatu kolom dibebani penuh oleh beban hidup di setiap lantai. Pada contoh di

atas, bisa dikatakan bahwa kecil kemungkinan kolom tersebut menerima beban hidup 60 kN

pada setiap lantai pada waktu yang bersamaan. Sehingga beban kumulatif tersebut boleh

direduksi.

Catatan: Beban ini masih tetap harus dikalikan faktor beban di kombinasi

pembebanan, misalnya 1.2D + 1.6L.

D.        Gaya Dalam

1.      Gaya dalam yang diambil untuk desain harus sesuai dengan pengelompokan kolom apakah

termasuk kolom bergoyang atau tak bergoyang, apakah termasuk kolom pendek atau kolom

langsing.

2.      Perbesaran momen (orde kesatu), dan analisis P-Delta (orde kedua) juga harus

dipertimbangkan untuk menentukan gaya dalam.

Jumlah lantai yang dipikul Koefisien reduksi

1 1.0

2 1.0

3 0.9

4 0.8

5 0.7

6 0.6

7 0.5

8 atau lebih 0.4

Page 31: bekisting

C.        Detailing Kolom Beton

Untuk detailing, hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain:

1. Ukuran penampang kolom. Untuk kolom yang memikul gempa, ukuran kolom yang

terkecil tidak boleh kurang dari 300 mm. Perbandingan dimensi kolom yang terkecil

terhadap arah tegak lurusnya tidak boleh kurang dari 0.4. Misalnya kolom persegi

dengan ukuran terkecil 300mm, maka ukuran arah tegak lurusnya harus tidak lebih

dari 300/0.4 = 750 mm.

2. Rasio tulangan tidak boleh kurang dari 0.01 (1%) dan tidak boleh lebih dari 0.08

(8%). Sementara untuk kolom pemikul gempa, rasio maksiumumnya adalah 6%.

Kadang di dalam prakteknya, tulangan terpasang kurang dari minimum, misalnya

4D13 untuk kolom ukuran 250×250 (rasio 0.85%). Asalkan beban maksimumnya

berada jauh di bawah kapasitas penampang sih, oke-oke saja. Tapi kalau memang itu

kondisinya, mengubah ukuran kolom menjadi 200×200 dengan 4D13 (r = 1.33%)

kami rasa lebih ekonomis. Yang penting semua persyaratan kekuatan dan

kenyamanan masih terpenuhi.

3.      Tebal selimut beton adalah 40 mm. Toleransi 10 mm untuk d sama dengan 200 mm atau

lebih kecil, dan toleransi 12 mm untuk d lebih besar dari 200 mm. d adalah jarak antara serat

terluar beton yang mengalami tekan terhadap titik pusat tulangan yang mengalami tarik.

Misalnya kolom ukuran 300 x 300 mm, tebal selimut (ke titik berat tulangan utama) adalah

50 mm, maka d = 300-50 = 250 mm.

4.      Toleransi 10 mm artinya selimut beton boleh berkurang sejauh 10 atau 12 mm akibat

pergeseran tulangan sewaktu pemasangan besi tulangan. Tetapi toleransi tersebut tidak boleh

sengaja dilakukan, misanya dengan memasang “tahu beton” untuk selimut setebal 30 mm.

5.      Adukan plesteran dan finishing tidak termasuk selimut beton, karena adukan dan finishing

tersebut sewaktu-waktu dapat dengan mudah keropos baik disengaja atau tidak disengaja.

6.      Pipa, saluran, atau selubung yang tidak berbahaya bagi beton (tidak reaktif) boleh ditanam di

dalam kolom, asalkan luasnya tidak lebih dari 4% luas bersih penampang kolom, dan

pipa/saluran/selubung tersebut harus ditanam di dalam inti beton (di dalam

sengkang/ties/begel), bukan di selimut beton. Pipa aluminium tidak boleh ditanam, kecuali

diberi lapisan pelindung. Aluminium dapat bereaksi dengan beton dan besi tulangan.

Page 32: bekisting

7. Sengkang/ties/begel adalah elemen penting pada kolom terutama pada daerah

pertemuan balok-kolom dalam menahan beban gempa. Pemasangan sengkang harus

benar-benar sesuai dengan yang disyaratkan oleh SNI.

8.      Selain menahan gaya geser, sengkang juga berguna untuk menahan/megikat tulangan utama

dan inti beton tidak “berhamburan” sewaktu menerima gaya aksial yang sangat besar ketika

gempa terjadi, sehingga kolom dapat mengembangkan tahanannya hingga batas maksimal

(misalnya tulangan mulai leleh atau beton mencapai tegangan 0.85fc’).

9. Transfer beban aksial pada struktur lantai yang mutunya berbeda.Pada high-rise

building, kadang kita mendesain kolom dan pelat lantai dengan mutu beton yang

berbeda. Misalnya pelat lantai menggunakan fc’25 MPa, dan kolom fc’40 MPa. Pada

saat pelaksanaan (pengecoran lantai), bagian kolom yang berpotongan (intersection)

dengan lantai tentu akan dicor sesuai mutu beton pelat lantai (25 MPa). Daerah

intersection ini harus dicek terhadap beban aksial di atasnya. Tidak jarang di daerah

ini diperlukan tambahan tulangan untuk mengakomodiasi kekuatan akibat mutu beton

yang berbeda.                      Sumber : Dunia Teknik Sipil

Referensi:

Sumber buku

Anonim. 2002. Standar Nasional Indonesia Tata Cara Perhitungan Struktur Beton

Untuk Bangunan Gedung. Bandung: Beta Version.

Dipohusodo, istimawan.1994. Struktur Beton Bertulang. Jakarta: Gramedia

pustaka utama.

Pamudji, Ganjar, dkk. 2004. Diktat Kuliah Struktur Beton II Universitas

Jenderal Soedirman.

Sumber internet

http://www.pennridge.org/works/beamstruct.htm

http://struktur-rumah.blogspot.com/2008/07/kolom-beton-utama

praktis.html

http://probohindarto.wordpress.com