balai besar pom di semarang

of 103/103
Rencana Strategik i KATA PENGANTAR Permasalahan kesehatan dan cita-cita pemerintah mengalami pergeseran menuju kondisi yang semakin unggul. Sejalan dengan prioritas pembangunan jangka menengah nasional tahun 2015-2019, program pengawasan Obat dan Makanan diprioritaskan untuk percepatan keunggulan produk Obat dan Makanan yang diproduksi dan beredar di Indonesia, utamanya provinsi Jawa Tengah. Permintaan Obat dan Makanan yang semakin meningkat itu, menjadi peluang dalam pengembangan mutu dan kuantitas produksi. Disisi lain hal tersebut menjadi tantangan penyelenggaraan pengawasan karena mendorong masuknya produk dari luar negeri masuk ke wilayah Indonesia. Dengan berlakunya era pasar bebas, pengawasan Obat dan Makanan bergeser menjadi semakin komplek. Menyadari hal tersebut, Pengawasan Obat dan Makanandi Jawa Tengah perlu terus ditingkatkan, dengan memanfaatkan dan mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki. Target kinerja pengawasan harus dioptimalkan untuk menjaga mutu, kemanan dan manfaat, agar produk Obat dan Makanan menjadi unggul dalam penguasaan pasar global. Terkait dengan target dimaksud, maka Balai Besar Pengawas Obat Makanan di Semarang dalam melaksanakan pengawasan dilakukan pengembanganpemberdayaan sumber daya secara optimal, melibatkan pemangku kepentingan secara tersinergi, percepatan tindak lanjut terhadap temuan ketidak sesuaian. Diharapkan langkah percepatan dapat memberikan capaian target kinerja secara produktif dan efisien. Untuk hal tersebut pelaksanaan pengawasan Obat dan Makanan di Jawa Tengah disusun dalam Rencana Strategis tahun 2015-2019 melalui kajian risiko secara komprehensif sehingga mampu menghasilkan keunggulan produk yang berdampak kesejahteraan sejalan dengan tujuan Pembangunan Jangka Menengah Nasional. Dokumen Rencana Strategis Balai Besar POM di Semarang ini, selanjutnya akan menjadi acuan utama dalam penyusunan rencana program dan kegiatan selama lima tahun ke depan. Semarang, Mei 2015 Kepala Balai Besar POM di Semarang Drs. Agus Prabowo. MS,Apt. Pembina Utama Madya NIP. 195601061981031001

Post on 11-Sep-2021

0 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

menuju kondisi yang semakin unggul. Sejalan dengan prioritas
pembangunan jangka menengah nasional tahun 2015-2019, program
pengawasan Obat dan Makanan diprioritaskan untuk percepatan
keunggulan produk Obat dan Makanan yang diproduksi dan beredar di
Indonesia, utamanya provinsi Jawa Tengah.
Permintaan Obat dan Makanan yang semakin meningkat itu, menjadi peluang dalam
pengembangan mutu dan kuantitas produksi. Disisi lain hal tersebut menjadi tantangan
penyelenggaraan pengawasan karena mendorong masuknya produk dari luar negeri masuk ke
wilayah Indonesia. Dengan berlakunya era pasar bebas, pengawasan Obat dan Makanan
bergeser menjadi semakin komplek.
Menyadari hal tersebut, Pengawasan Obat dan Makanandi Jawa Tengah perlu terus
ditingkatkan, dengan memanfaatkan dan mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki. Target
kinerja pengawasan harus dioptimalkan untuk menjaga mutu, kemanan dan manfaat, agar
produk Obat dan Makanan menjadi unggul dalam penguasaan pasar global.
Terkait dengan target dimaksud, maka Balai Besar Pengawas Obat Makanan di Semarang
dalam melaksanakan pengawasan dilakukan pengembanganpemberdayaan sumber daya
secara optimal, melibatkan pemangku kepentingan secara tersinergi, percepatan tindak lanjut
terhadap temuan ketidak sesuaian. Diharapkan langkah percepatan dapat memberikan capaian
target kinerja secara produktif dan efisien.
Untuk hal tersebut pelaksanaan pengawasan Obat dan Makanan di Jawa Tengah disusun
dalam Rencana Strategis tahun 2015-2019 melalui kajian risiko secara komprehensif
sehingga mampu menghasilkan keunggulan produk yang berdampak kesejahteraan sejalan
dengan tujuan Pembangunan Jangka Menengah Nasional.
Dokumen Rencana Strategis Balai Besar POM di Semarang ini, selanjutnya akan menjadi
acuan utama dalam penyusunan rencana program dan kegiatan selama lima tahun ke depan.
Semarang, Mei 2015
Drs. Agus Prabowo. MS,Apt.
Undangan……………………………………………….....
2
1.1.3 Tugas dan Fungsi Balai Besar POM di Semarang…...........
1.1.4 Pencapaian Program dan Kegiatan Periode Renstra Balai
Besar POM di Semarang tahun 2010-2014..........................
9
10
1.2.5 Perubahan Iklim..................................................................
1.2.8 Desentralisasi dan Otonomi Daerah...................................
1.2.9 Perkembangan Teknologi...................................................
1.2.11 Jejaring Kerja.....................................................................
1.2.13 Menipisnya Entry Barier....................................................
1.2.15 Harmonisasi Standar di Tingkat.........................................
1.2.16 Dampak Krisis Ekonomi.....................................................
1.2.19 Produk Ilegal......................................................................
1.2.24 Komitmen Terselenggaranya Good Governance…………
1.2.25 Penataan dan Penguatan Struktur Organisasi…………….
1.2.26 Penataan Tatalaksana..........................................................
45
45
45
2.1 V I S I………………………………………..……………….....
2.2 M I SI…………………………………...………….……...........
2.2.2 Mendorong Kemandirian Pelaku Usaha.............................
2.2.3 Meningkatkan Kapasitas Kelembagaan BPOM..................
2.3 BUDAYA ORGANISASI.………...………………...................
2.4.2 Meningkatnya daya saing Obat dan Makanan di pasar.....
2.5 SASARAN STRATEGIS ........…………………………..........
2.5.2 Meningkatnya Kemandirian Pelaku Usaha........................
2.5.3 Meningkatnya Kualitas Kapasitas Kelembagaan...............
50
50
50
50
51
53
53
54
54
54
54
54
54
54
54
54
55
55
56
58
3.1 ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI NASIONAL................
3.2 ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI BALAI BESAR..........
3.3 KERANGKA REGULASI...........................................................
3.4 KERANGKA KELEMBAGAAN................................................
4.1 TARGET KINERJA....................................................................
Lampiran
1. Target dan Kamus Indikator Renstra Balai Besar POM di Semarang.
2. Matriks Kinerja dan Pendanaan Balai Besar POM di Semarang.
3. Matriks Kerangka Regulasi Balai Besar POM di Semarang.
Rencana Strategik
Pencapaian Indikator Kinerja pada Sasaran ke-1
Balai Besar POM di Semarang Tahun 2011-2014........................
Upaya-Upaya Pengawasan yang Dilakukan BPOM......................
Profil beban penyakit berdasar sebab th 1990-2010......................
Penguatan peran BPOM tahun 2015-2019.....................................
Jumlah Cakupan Pengawasan Sarana Produksi.............................
Visi, MinJumlah Cakupan Pengawasan Sarana Distribusi............................
8
12
17
25
37
38
39
Tabel 1.8. Pemenuhan sarana-prasarana di Balai Besar POM di Semarang.. 46
Tabel 1.9.
Tabel 2.1.
Tabel 2.2.
Tabel 3.1.
Rangkuman Analisis SWOT..........................................................
Besar POM di Semarang periode 2015-2019 ...............................
Visi, Misi, Tujuan Sasaran Strategis dan Indikator Kegiatan Balai
Besar POM di Semarang Periode 2015 – 2019……………………
Sembilan Agenda Prioritas Pembangunan (Nawa Cita)………….
47
60
61
63
Indikator Balai Besar POM di Semarang………….......................
78
Besar POM diSemarang….............................................................
87
88
Gambar 1.2.
Gambar 1.3.
pendidikan tahun 2014....................................................................
Penjabaran Bisnis Proses Utama kepada Kegiatan Utama BPOM
Diagram Peran dan Permasalahan Badan POM………………….
Logframe Balai Besar POM di Semarang………………………...
Ilustrasi Penguatan Kerangka Kelembagaan BPOM untuk
peningkatan daya saing Obat dan Makanan.....................................
Kerangka Kelembagaan Pelaksanaan Mandat BPOM.....................
36
36
48
77
84
85
NOMOR : HK.04.95.05.15.2212
TAHUN 2015 – 2019
Menimbang:a. bahwa dengan telah ditetapkannya Rencana Pembangunan
JangkaMenengahNasional (RPJMN) 2015 - 2019, setiap instansi
pemerintahharus menyusun Rencana Strategis Kementrian/Lembaga;
b.bahwa dalam rangka mendukung pencapaian program-program prioritas
pemeritah agar pembangunan dapat berjalan dengan efektif, efisien
diperlukan adanya dokumen rencana pembangunan,
c. bahwa Rencana Strategis Badan Pengawas Obat dan Makanantelah
ditetapkan dengan Peraturan Kepala Badan Pengawas Obatdan
Makanan;
PerencanaanPembangunan Nasional;
Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005 – 2025;
3. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2006 tentang Tata Cara
Penyusunan Rencana Pembangunan Nasional (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 97, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4664);
4. Peraturan Presiden Republik lndonesia Nomor 2 Tahun 2015 tentang
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015 -
2019;
BAPENNAS Nomor 5 Tahun 2014 TentangPedoman Penyusunan dan
Penelaahan Rencana Strategis Kementrian/Lembaga (Renstra K/L) 2015
– 2019;
Indonesia Nomor. 02001/SK/KBPOM Tahun 2001 tentang Organisasi
dan Tata KerjaOrganisasi Badan POM sebagaimana telah diubah dengan
Keputusan Kepala Badan POM Nomor HK.00.05.21.4231 Tahun 2004;
7. Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 14 Tahun
2014 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis di
Lingkungan Badan POM (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2014
Nomor 1714);
8. Peraturan Kepala Badan POM Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2015
tentang Rencana Strategis Badan Pengawas Obat dan Makanan Tahun
2015-2019;
TENTANG RENCANA STRATEGIS BALAI BESAR POM DI
SEMARANG TAHUN 2015-2019.
PERTAMA : Rencana Strategis Balai Besar POM di Semarang Tahun 2015-2019 yang
selanjutnya disebut Renstra Balai Besar POM di Semarang Tahun 2015-2019
mengacu pada Renstra BadanPOM Tahun 2015-2019 yang disusun
berdasarkan RPJMN tahun 2015-2019 dan Pedoman Penyusunan dan
Penelaahan Rencana Strategis Kementerian/Lembaga (Renstra-K/L) 2015-
2019;
KEDUA : Pelaksanaan Rencana Strategis Balai Besar POM di Semarang Tahun 2015-2019
dituangkan dalam Rencana Kerja (Renja) Tahunan dan digunakan sebagai
dasar acuan bagi setiap Bidang dalam penyelenggaraan Sistem Akuntabilitas
Kinerja Instansi Pemerintah di lingkungan Balai Besar POM di Semarang;
KETIGA : Rencana Strategis Balai Besar POM di Semarang Tahun 2015-2019 dievaluasi
secara berkala pada paruh waktu dan tahun terakhir periode Rencana
Strategis, bertujuan untuk menilai hasil pelaksanaan program Badan
PengawasObat dan Makanan.Hasil evaluasi digunakan sebagai
dasarpenyusunan perubahan Rencana Strategis Balai Besar POM di
Semarang Tahun 2015-2019.
KEEMPAT : Renstra Balai Besar POM di Semarang Tahun 2015-2019 sebagaimana
dimaksud butir PERTAMA tersebut di atas, tercantum dalam Lampiran yang
merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan ini.
KELIMA : Pada Peraturan ini mulai berlaku, Rencana Strategis Balai Besar POM di
Semarang Tahun 2010-2014 dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
KEENAM : Peraturan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
Ditetapkan di Semarang
KEPALA BALAI BESAR
NIP. 195601061981031001
Rencana Strategik
Perencanaan Pembangunan Nasional, perencanaan pembangunan nasional disusun
dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) untuk jangka
waktu 20 tahun, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan
Rencana Strategis (Renstra) Kementerian/Lembaga untuk jangka waktu 5 tahun,
serta Rencana Pembangunan Tahunan yang selanjutnya disebut Rencana Kerja
Pemerintah (RKP) dan Rencana Kerja Kementerian/Lembaga (Renja K/L).
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025 yang
ditetapkan melalui Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 memberikan arah
sekaligus menjadi acuan bagi seluruh komponen bangsa (pemerintah, masyarakat
dan dunia usaha) di dalam mewujudkan cita-cita dan tujuan nasional. Selanjutnya
RPJPN ini dibagi menjadi empat tahapan Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Nasional (RPJMN), salah satunya adalah RPJMN 2015-2019 yang merupakan tahap
ketiga dari pelaksanaan RPJPN 2005-2025. RPJMN tahap ketiga ditujukan untuk
lebih memantapkan pembangunan secara menyeluruh di berbagai bidang dengan
menekankan pada pencapaian daya saing kompetitif perekonomian yang
berlandaskan keunggulan sumber daya alam, kualitas sumber daya manusia serta
kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus meningkat.
Sebagaimana amanat tersebut dan dalam rangka mendukung pencapaian
program-program prioritas pemerintah, Balai Besar PengawasObat dan Makanan di
Semarang sebagai unit pelaksana teknis Badan Pengawas Obat dan Makanan sesuai
kewenangan, tugas dan fungsinya menyusun Rencana Strategis (Renstra) yang
memuat visi, misi, tujuan, strategi, kebijakan serta program dan kegiatan untuk
periode 2015-2019. Penyusunan Renstra ini berpedoman pada RPJMN periode
2015-2019. Proses penyusunan Renstra tahun 2015-2019 dilakukan sesuai dengan
amanat peraturan perundang-undangan yang berlaku dan hasil evaluasi pencapaian
kinerja tahun 2010-2014, serta memperhatikan harapan pemangku kepentingan
terkait. Diharapkan Renstra 2015 – 2019 ini dapat meningkatkankinerja Balai Besar
POM di Semarang seperti yang dirumuskan dalam tujuan dan sasaran.
Rencana Strategik
Badan Pengawas Obat dan Makanan merupakan salah satu Lembaga
Pemerintah Non Kementerian (LPNK) yang bertugas mengawasi peredaran obat,
obat tradisional, suplemen kesehatan, kosmetika dan makanan di wilayah Indonesia.
Balai Besar POM di Semarang sebagai unit pelaksana teknis Badan POM diberi
tugas mengawasi peredaran obat, obat tradisional, suplemen kesehatan, kosmetik
dan makanan di Wilayah Propinsi Jawa Tengah. Tugas, fungsi dan kewenangan
BPOM diatur dalam Keputusan PresidenNomor 103 Tahun 2001 tentang
Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja
Lembaga Pemerintah Non Departemen yang telah diubah terakhir kali dengan
Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2013 tentang Perubahan Ketujuh atas Keputusan
Presiden Nomor 103 Tahun 2001. Sesuai amanat ini, Badan POM
menyelenggarakan fungsi: (1) pengkajian dan penyusunan kebijakan nasional di
bidang pengawasan Obat dan Makanan; (2) pelaksanaan kebijakan tertentu di
bidang pengawasan Obat dan Makanan; (3) koordinasi kegiatan fungsional dalam
pelaksanaan tugas Badan POM; (4) pemantauan, pemberian bimbingan dan
pembinaan terhadap kegiatan instansi pemerintah dan masyarakat di bidang
pengawasan Obat dan Makanan; (5) penyelenggaraan pembinaan dan pelayanan
administrasi umum di bidang perencanaan umum, ketatausahaan, organisasi dan
tatalaksana, kepegawaian, keuangan, kearsipan, hukum, persandian, perlengkapan
dan rumah tangga.
Undang-undang dan peraturan Pemerintah lainnya yang menjadi landasan
teknis pelaksanaan tugas fungsi Badan POM antara lain (i) UU Nomor 18 Tahun
2012 tentang Pangan; (ii) UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan juncto PP
Nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif
berupa Produk Tembakau bagi Kesehatan; (iii) UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang
Narkotika; (iv) PP Nomor 40 Tahun 2013 tentang Pelaksanaan UU Nomor 35 Tahun
2009 tentang Narkotika; (v) PP Nomor 44 Tahun 2010 tentang Prekursor; (vi) PP
Nomor 21 Tahun2005 tentang Keamanan Hayati Produk Rekayasa Genetika; (vii)
PP Nomor 28 Tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu dan Gizi Pangan; serta (viii) PP
Nomor 72 Tahun 1998 tentang Pengamanan Sediaan Farmasi.
Dilihat dari fungsinya secara garis besarterdapat 3 (tiga) kegiatan Badan
POM, yakni: (1) Penapisan produk dalam rangka pengawasan Obat dan sebelum
Rencana Strategik
pengawasanObat dan Makanan serta dukungan regulatori kepada pelaku usaha
untuk pemenuhan standar dan ketentuan yang berlaku; b) Peningkatan
registrasi/penilaianObat dan Makanan yang diselesaikan tepat waktu; c) Peningkatan
inspeksi sarana produksi dan distribusi Obat dan Makanan dalam rangka pemenuhan
standar Good Manufacturing Practices (GMP) dan Good Distribution Practices
(GDP) terkini; dan d) Penguatan kapasitas laboratorium Badan POM. (2)
Pengawasan Obat dan Makananyang beredar di masyarakat (post-market) melalui a)
Pengambilan sampel dan pengujian; b) Peningkatan cakupan pengawasan sarana
produksi dan distribusi Obat dan Makanan, termasuk Pasar Aman dari Bahan
Berbahaya; c) Investigasi awal dan penyidikan kasus pelanggaran di bidang Obat
dan Makanan di Pusat dan Balai. (3) Pemberdayaan masyarakat melalui Komunikasi
Informasi dan Edukasi serta penguatan kerjasama kemitraan dengan pemangku
kepentingan dalam rangka meningkatkan efektivitas pengawasan Obat dan Makanan
di Pusat dan Balai melalui a) Public Warning; b) Pemberian Informasi dan
Penyuluhan/Komunikasi, Informasi, dan Edukasi kepada masyarakat dan pelaku
usaha di bidang Obat dan Makanan, serta; c) Peningkatan Pengawasan terhadap
Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS), peningkatan kegiatan BPOM Sahabat Ibu,
dan advokasi kepada masyarakat.
Tugas dan fungsi tersebut melekat pada Badan POM sebagai lembaga
pemerintah yang merupakan garda depan dalam hal perlindungan terhadap
konsumen. Di sisi lain, tugas dan fungsi Badan POM ini juga sangat penting dan
strategis dalam kerangka mendorong tercapainya Agenda Prioritas Pembangunan
(Nawa Cita) yang telah dicanangkan Presiden Joko Widodo, khususnya pada butir 5.
Meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia, khususnya di sektor kesehatan;
pada butir 2. Membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif demokratis
dan terpercaya; pada butir3. Membangun Indonesia dari pinggiran dengan
memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka Negara Kesatuan; pada butir 6.
Meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional; serta pada
butir 7. Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor
strategis ekonomi domestik. Oleh karena itu, BPOM sebagai lembaga pengawasan
Obat dan Makanan sangat penting untuk diperkuat, baik dari sisi kelembagaan
maupun kualitas sumber daya manusia, serta sarana pendukung lainnya seperti
laboratorium, sistem teknologi informasi.
4
Terkait dengan tugas dan fungsi Balai Besar POM di Semarang, kegiatan
yang diprioritaskan dalam kurun waktu 2015 – 2019 meliputi (1) Pengawasan Obat
dan Makanan sebelum beredar (pre-market) melaluia) Peningkatan inspeksi sarana
produksi dan distribusi Obat dan Makanan dalam rangka pemenuhan standar Good
Manufacturing Practices (GMP) dan Good Distribution Practices (GDP) terkini;
dan b) Penguatan kapasitas laboratorium BPOM. (2) Pengawasan Obat dan
Makanan beredar di masyarakat dilakukan optimalisasi melaluia) Pengambilan
sampel dan pengujian dengan memperhatikan risiko kritis; b) Peningkatan cakupan
pengawasan sarana produksi dan distribusi Obat dan Makanan, termasuk Pasar
Aman dari Bahan Berbahaya; c) Investigasi awal dan penyidikan kasus pelanggaran
di bidang Obat dan Makanan. (3) Pemberdayaan masyarakat melalui Komunikasi
Informasi dan Edukasi serta penguatan kerjasama kemitraan dengan pemangku
kepentingan dalam rangka meningkatkan efektivitas pengawasan Obat dan Makanan
di Pusat dan Balai melalui a) Pemberian Informasi dan Penyuluhan/Komunikasi,
Informasi, dan Edukasi kepada masyarakat dan pelaku usaha di bidang Obat dan
Makanan; b) Peningkatan peran dalam bimtek kepada kader keamanan pangan desa
dan pasar; c) Peningkatan peran dalam bimtek tenaga penyuluh dan pengawas
keamanan pangan Kabupaten/Kota; d) Pengawasan terhadap Pangan Jajanan Anak
Sekolah (PJAS), peningkatan kegiatan Badan POM Sahabat Ibu, dan advokasi
kepada masyarakat. Badan POM idealnya dapat menjalankan tugasnya secara lebih
proaktif, tidak reaktif, yang hanya bergerak ketika sudah ada kasus-kasus yang
dilaporkan. Namun, dengan luas wilayah darat Indonesia yang mencapai 1.922.570
km² merupakan salah satu faktor utama yang sangat sulit bagi Badan POM
melakukan fungsi pengawasan secara komprehensif. Negara Indonesia ini berbentuk
kepulauan yang tentu saja terdapat banyak pintu masuk bagi berbagai Obat dan
Makanan ke Indonesia. Namun hal ini tidak menjadi hambatan, bahkan justru
menjadi tantangan tersendiri bagi Badan POM untuk melakukan revitalisasi tehadap
kinerjanya dalam hal pengawasanObat dan Makanan, baik produksi dalam negeri
maupun impor yang beredar di masyarakat.
Rencana Strategik
Propinsi Jawa Tengah merupakan catchment area Balai Besar POM di
Semarang, dengan luas wilayah 3.254.412 ha dan jumlah penduduk 33.264.339
orang (tahun 2013), mencakup 35 Kabupaten/Kota (gambar 1). Posisi Jawa Tengah
berada diantara 2 (dua) propinsi besar yaitu Jawa Barat dan Jawa Timur.Jarak
tempuh terpanjang dari kota Propinsi ke kota Kabupaten adalah Kabupaten Cilacap
berjarak 282 km, dengan waktu tempuh 6 jam menggunakan kendaraan roda 4, dan
jarak terpendek adalah Kabupaten Demak yaitu 26 km dengan waktu tempuh kira-
kira 1,5 jam. Letak geografis wilayah Propinsi Jawa Tengah dimana dikelilingi
lautan, pintu masuk peredaran obat dan makanan selain melalui daratan banyak yang
melewati perairan, tentu merupakan permasalahan tersendiri. Untuk itu diperlukan
kerjasama lintas sektor yang kuat dalam penanganan permasalahan peredaran obat
dan makanan.
Balai Besar POM di Semarang berkantor di Jalan Madukoro Blok AA-BB
No 8 di Kota Semarang, menempati bangunan dua lantai dengan luas bangunan
3500 m² dari luas tanah 6000 m². Bangunan gedung kantor yang posisinyaberada
cukup dekat dengan pantai (± berjarak 3 km dari pantai) menyebabkan sering terjadi
banjir yang menggenangi gedung lantai satukarena rob air laut dan genangan
semakin pada saat musim penghujan.Kondisi ini sangat mempengaruhi kinerja
pegawai dalam melaksanakan tugasnya, karena akses jalan ke gedung kantor rawan
tertutup genangan air.Air laut selain dapat mempercepat korosi kendaraan juga uap
air laut akan menyebabkan kerusakan alat laboratorium.Kondisi tanah yang
Rencana Strategik
peninggian jalan dan halaman kantor dirasa kurang efektif dalam menanggulangi
banjir karena rob dan air hujan.
Dalam rangka mengatasi permasalahan tersebut di atas, Balai Besar POM di
Semarang memerlukan dukungan anggaran untuk pengadaan lahan dan
pembangunan gedung baru. Upaya yang telah dilakukan pada tahun 2013 yaitu
pengadaan tanah di lokasi yang jauh dari pantai dan bebas banjir (di Kecamatan
Banyumanik, Semarang) seluas 9845 m2 dengan nilai Rp. 23,5 M. Pada tahun 2014
telah dilakukan pembangunan talud dan pagar keliling di lokasi tersebut senilai Rp
1,2 M,pengadaanperencana DEDdan master plan untuk gedung Sub Bagian Tata
Usaha, Bidang Pemeriksaan dan Penyidikan serta Bidang Sertifikasi dan Layanan
Informasi Konsumen senilai Rp. 650 juta.Secara bertahap pada tahun 2015 akan
dilakukan pembangunan gedung tersebut senilai Rp.12,5 M dan pengadaan
Perencana DED gedung Laboratorium senilai Rp. 1,1 M. Pada tahun 2016 akan
dilaksanakan pembangunan gedung Laboratorium senilai Rp. 33,5 Mdan Konsultan
Pengawas senilai Rp. 750 juta. Selanjutnya pada tahun 2017 direncanakan dapat
dilakukan pembangunan gudang dan pendukung lainnya senilai Rp 22 M.
Diharapkan anggaran pembangunan seperti yang telah direncanakan dapat tersedia
sesuai kebutuhan dandengan terpenuhinya kebutuhan sarana dan prasarana, Balai
Besar POM di Semarangdapat lebih optimal dalam pelaksanaan kegiatan, dalam
memberikan pelayanan kepada masyarakat terkait pengawasan Obat dan Makanan.
1.1.2. Struktur Organisasi dan Sumber Daya Manusia
Stuktur Organisasi dan Tata Kerja Balai Besar POM di Semarang disusun
berdasarkan Keputusan Kepala Badan POM Nomor 05018/SK/KBPOM Tahun 2001
tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis di Lingkungan Badan
Pengawas Obat dan Makanan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir
dengan Peraturan Kepala Badan POM Nomor 14 Tahun 2014.Struktur organisasi
Balai Besar POM di Semarang sebagai berikut:
Rencana Strategik
Dalam mendukung pelaksanaan tugas-tugas Balai Besar POM di Semarang
diperlukan SDM yang memiliki keahlian dan kompetensi memadahi. Untuk pemenuhan
hal tersebut akan terus-menerus dilakukan peningkatan kompetensi SDM, sehingga tugas
fungsi dapat dilaksanakan secara optimal. Jumlah SDM Balai Besar POM di Semarang
pada awal tahun 2015 sebanyak 140 pegawai yang tersebar pada5 Bidang dengan 4
Seksi dan 1 Sub Bagian Tata Usaha sebagai pendukung kegiatan teknis.
Dihitung berdasarkan analisis beban kerja, dari target yang ditetapkan pada tahun
2015, untuk pelaksanaan tugas dan fungsi Balai Besar POM di Semarang belum
didukung dengan SDM yang memadahi baik dalam hal jumlah maupun proporsi
Terampil dan Ahli, dimana secara keseluruhan masih ada kekurangan SDM sejumlah 31
orang.
Dengan adanya kebijakan Pemerintah untuk melakukan moratorium pegawai
selama 5 (lima) tahun mulai tahun 2015-2019 berarti tidak ada penambahan pegawai
selama kurun waktu tersebut. Hal ini menyebabkan terjadinya kesenjangan jumlah
Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan
Sub Bag Tata Usaha
8
pegawai, karena sejumlah pegawai akan pensiun, pindah dan sebagainya dalam lima
tahun tersebut, sementara beban kerja makin meningkat. Jumlah pegawai yang akan
memasuki pensiun dari tahun 2015 sampai dengan 2019 sebanyak 20 orang dengan
perincian pada tahun 2015 sebanyak 1 (satu) orang, tahun 2016 sebanyak 5 (lima) orang,
tahun 2017 sebanyak 8 (delapan) orang, tahun 2018 sebanyak 5 (lima) orang dan pada
tahun 2019 sebanyak 1 (satu) orang. Adanya kekurangan pegawai yang signifikan
tersebut menyebabkan beberapa tugas dan fungsi pengawasan belum dapat dilakukan
secara optimal.
Adapun profilpegawai Balai Besar POM di Semarangpada Bidang/Seksi dan Sub
Bag TU berdasarkan ABK tahun 2015dan pegawai pensiun sampai dengan tahun 2019
seperti pada tabel berikut.
Tabel 1.1. Kebutuhan SDM Balai Besar POM di Semarang berdasarkan Analisa Beban
Kerja (ABK) Tahun 2015
Jumlah
Yang tersedia Th
Kekurangan
SDM 12 0 1 -2 4 0 1 15 31
Pensiun
1 (th 2015)
1 (th 2017)
20
Komposisi SDM Balai Besar POM di Semarang sampai dengan awal tahun
2015, Apoteker dan S2 lain 50 orang, S1 39 orang, D3 17 orang, Asisten Apoteker
dan SLA lain 27 orang, SLP kebawah 7 orang. Dengan komposisi tenaga tersebut
terlihat tenaga dengan pendidikan S1 dan S2 61,43%. Tenaga D3 pada bidang teknis
pengujian dan pengawasan jumlahnya belum memadai dibandingkan dengan beban
kerja yang harus dikerjakan oleh pengawas terampil pada Balai Besar POM di
Semarang. Hal tersebut diperlukan terobosan agar beban kerja yang ada dapat
diselesaikan oleh tenaga yang ada.Berikut disajikan jumlah SDM berdasarkan
tingkat pendidikan.
Rencana Strategik
Gambar 1.3. Profil Pegawai Balai Besar POM di Semarang berdasarTingkat
PendidikanTahun 2015
Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Semarang dalam
melaksanakan tugas dan fungsinya, sebagaimana dimaksud dalam Keputusan Kepala
Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor :
05018/SK/KBPOM, tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis di
lingkungan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), adalah sebagai berikut :
a. Tugas
Psikotropika dan Zat Adiktif lain, Obat Tradisional, Kosmetika, Produk
Komplemen, Pangan, dan Bahan Berbahaya.
b. Fungsi
2). Pelaksanaan pemeriksaan secara laboratorium, pengujian dan penilaian
mutu produk terapetik, narkotika, psikotropika dan zat adiktif lain, obat
tradisional, kosmetik, produk komplemen, pangan dan bahan berbahaya.
3). Pelaksanaan pemeriksaan laboratorium, pengujian dan penilaian mutu
produk secara mikrobiologi.
pada sarana produksi dan distribusi.
5). Pelaksanaan penyelidikan dan penyidikan pada kasus pelanggaran hukum.
Rencana Strategik
6). Pelaksanaan sertifikasi produk, sarana produksi dan distribusi tertentu yang
ditetapkan oleh Kepala Badan.
8). Evaluasi dan penyusunan laporan pengawasan Obat dan Makanan.
9). Pelaksanaan urusan tata usaha dan kerumahtanggaan.
10). Pelaksanaan tugas lain yang ditetapkan oleh Kepala Badan, sesuai dengan
bidang tugasnya.
Besar POMdi SemarangTahun 2010 – 2014
Selama periode 2010 – 2014 capaian kegiatan adalah sebagai berikut :
a. Sertifikasi
Untuk menjamin agar Obat dan Makanan yang diproduksi dan diedarkan di
wilayah Jawa Tengah memenuhi persyaratan mutu, keamanan, manfaat dan unggul,
maka penerapan jaminan mutu pada sarana produksi dan distribusi harus dijaga dan
ditingkatkan terus. Sebanyak 23 industri Obat yang ada telah menerapkan cara
pembuatan obat yang baik (CPOB), industri Kosmetika yang aktif berproduksi36,
industri Obat Tradisional yang ada sebanyak 14industri telah melakukan cara
pembuatan Obat Tradisional yang baik (CPOTB), sedangkan yang masih skala
usaha kecil menengah sebanyak 92 masih perlu didorong untuk penerapan CPOTB
sehingga produk yang dihasilkan akan mampu bersaing dengan produk dari luar.
Sedangkan industri Pangan besar yang telah teregistrasi MD sebanyak 285 dan
industri rumah tangga pangan (IRTP) kurang lebih 11.364 industri serta 4 industri
minuman keras yang harus dijaga.
Pelayanan audit dalam rangka pencantuman tulisan Halal, selama tahun 2014
dilakukan audit pada 8 industri pangan dan 140 IRTP. Terhadap sertifikat Halal
yang diterbitkan MUI untuk 102 IRTP telah diterbitkan 102persetujuan
pencantuman tulisan Halal dan 8 rekomendasi persetujuan pencantuman tulisan
Halal pada produk dengan nomor MD.
Layanan sertifikasi yang telah dilaksanakan dalam rangka menjamin kualitas
produk adalah dengan sertifikasi terhadap industri Obat dan Makanan, rekomendasi
halal, layanan pengujian sampel pihak ketiga, penerbitan sertifikat impor (SKI) dan
ekspor (SKE) dll.Jenis layanan informasi yang dilakukan antara lain talkshow,
pameran, penyuluhan, bimtek, iklan layanan masyarakat, layanan informasi,tindak
Rencana Strategik
lanjut pengaduan, maupun layanan sebagai narasumber. Dalam upaya untuk
menjaga masuk dan beredarnya produk ke wilayah Jawa Tengah selama tahun 2014
telah diterbitkan 2228 surat keterangan impor. Sedang untuk memberikan jaminan
terhadap produk yang di ekspor telah diterbitkan 1175surat keterangan ekpor. Dari
rekapitulasi nilai yang dilakukan dari bulan Agustus hingga Desember 2014 nilai
ekspor sebesar US$ 240.270.547 sedang impor sebesar US$ 222.773.036.
Diharapkan kedepan jumlah dan nilai ekspor jauh lebih besar meninggalkan impor
yang terjadi di Jawa Tengah.
Selama tahun 2014 jumlah layanan kepada masyarakat sebanyak 4025, dan
akanterus ditingkatkan setiap tahun baik frekuensi maupun metode
penyampaiannya.Masyarakat selaku konsumen diharapkan lebih cerdas dalam
memilih dan menentukan produk yang aman untuk dikonsumsi dalam rangka
membentengi diri terhadap produk yang berisiko terhadap kesehatan.
b. Pengawasan Produk Beredar, Sampling, dan Pengujian Laboratorium
Pelaksanaan pembelian sampel produk beredar dan pengujian, menyesuaikan
dengan target yang telah ditetapkan. Selama tahun 2014 telah dilakukan pembelian
sampel dan dilakukan uji terhadap 4003 sampel. Rincian sampel yang diuji
adalahobat sebanyak752sampel, narkotika dan psikotropika 35sampel, obat
tradisional 560sampel, suplemen kesehatan240 sampel, kosmetika 1200sampel,
pangan 748sampel, garam 131 sampel dan makanan jajanan anak sekolah 295
sampel. Hasil uji terhadap sampel tersebut bervariasi untuk setiap kelompok
komoditi. Dari tahun ke tahun persentase sampel tidak memenuhi persyaratan
menunjukkan gambaran yang berfluktuasi.Kondisi tahun 2014 rerata sampel tidak
memenuhi persyaratan mutu 17% dari sampel yang diuji. Selama 4 tahun periode
renstra 2011-2014 rata-rata hasil uji memenuhi syarat untuk komoditi Obat 98,9%,
Obat Tradisional 60,75%, Kosmetika 97,05% dan Pangan 68,66%. (Tabel 1.2).
Rencana Strategik
Balai Besar POM di Semarang Tahun 2011-2014
Proporsi Obat yang Memenuhi Syarat (%)
Tahun 2011 Tahun 2012 Tahun 2013 Tahun 2014 T
A H
U N
2 0
1 0
S E
B A
G A
I B
A S
E L
IN E
Target Real Capaian Target Real Capaian Target Real Capaian Target Real Capaian
98.94 98.96 100.02 99.04 99.12 100.08 99.14 98.73 99.59 99.24 98.86 99.62
Proporsi Obat Tradisional yang Memenuhi Syarat (%)
Tahun 2011 Tahun 2012 Tahun 2013 Tahun 2014
Target Real Capaian Target Real Capaian Target Real Capaian Target Real Capaian
58.16 60.59 104.80 58.41 60.68 103.89 58.66 64.44 109.85 58.91 57.32 97.30
Proporsi Kosmetik yang Memenuhi Syarat (%)
Tahun 2011 Tahun 2012 Tahun 2013 Tahun 2014
Target Real Capaian Target Real Capaian Target Real Capaian Target Real Capaian
97.52 97.37 99.85 97.77 99.09 101.35 98.02 98.33 100.32 98.27 93.42 95.06
Proporsi Suplemen Makanan yang Memenuhi Syarat (%)
Tahun 2011 Tahun 2012 Tahun 2013 Tahun 2014
Target Real Capaian Target Real Capaian Target Real Capaian Target Real Capaian
98.90 97.93 99.02 99.40 95.40 95.98 99.90 96.12 96.22 100 98.75 98.75
Proporsi Makanan yang Memenuhi Syarat (%)
Tahun 2011 Tahun 2012 Tahun 2013 Tahun 2014
Target Real Capaian Target Real Capaian Target Real Capaian Target Real Capaian
82.47 66.03 80.07 86.22 69.18 80.24 89.97 69.74 77.51 93.72 69.72 74.39
Parameter kritis pengawasan untuk obat tradisional adalah keberadaan
bahan kimia obat (BKO). Sampel obat tradisional yang diuji tahun 2014 ditemukan
16%mengandung BKO. Parameter kritis untuk kosmetika dan pangan adalah
keberadaan bahan berbahaya. Sampel yang diuji tahun 2014 ditemukan bahan
berbahaya pada kosmetika yang diuji sebesar 2,61% dan bahan berbahaya pada
pangan 3,2%. Kecenderungan fluktuasi hasil uji tidak memenuhi syarat (TMS) yang
bervariasi antar produk menjadi dasar penetapan target persentase produk yang
memenuhi syarat (MS) pada 5 tahun kedepan. Diharapkan hasil uji produk MS terus
meningkat setiap tahun seiring tumbuhnya kesadaran pelaku usaha sehingga
mencerminkan semakin baik kualitas produk obat dan makanan yang beredar di
Indonesia.
produksi dan distribusimeliputi industri obat, industri makanan, industri obat
tradisional, industri kosmetika, sarana distribusiobat dan makanan, dan sarana
pelayanan obat. Dari sarana yang diperiksa masih ditemukan kondisi yang tidak
sesuai dengan ketentuan cara yang baik untuk produksi ataupun mendistribusikan
produk Obat dan Makanan. Hasil pemeriksaan tahun 2014 sebagai awal kondisi
tahun 2015, hampir semua sarana yang diperiksa dilaporkan ada temuan. Hal ini
disebabkan selama ini simpulan hasil pemeriksaan belum dikelompokkan dalam
kajian kritikal, mayor dan minor. Diharapkan pelaksanaan pengawasan kedepan
dikaji lebih cermat sehingga hasil pemeriksaan sesuai dengan paparan kondisi yang
senyatanya.
Capaianpemeriksaan sarana produksi Obat dan Makanan di Jawa Tengah
pada tahun 2014 sebesar 250 dari 623 sarana target atau sebesar 40%.Sedangkan
cakupan pengawasan sarana distribusi obat dan makanan baru mencapai 1425 sarana
dari 5.300 sarana yang ada (12,7%). Sarana distribusi yang diperiksa meliputi 7
jenis sarana terdiri dari sarana distribusi obat (Apotek/PBF), obat tradisional,
kosmetik, serta pangan dan bahan berbahaya. Dari ketujuh jenis sarana tersebut,
Apotek dan PBF relatif sering terdapat temuan tidak memenuhi ketentuan Cara
Distribusi Obat yang Baik, sehingga masih perlu dikhawal dan didorong agar
menerapkan ketentuan distribusi yang benar untuk menjamin obat yang beredar
aman, manfaat dan berkualitas.Angka capaian pengawasan untuk sarana Produksi
maupun Distribusi tersebut akan ditingkatkan pada tahun-tahun berikutnya,
sehingga cakupan pengawasan dapat semakin luas dilakukan terutama untuk sarana
yang memiliki dampak risiko tinggi terhadap produk TMS.
Pengawasan premarket dan pos market produk Obat dan Makanandilakukan
terhadap pemenuhan ketentuan peraturan perundang-undangan yang telah ada. Dari
pemeriksaan selain ditemukan sarana yang belum sepenuhnya menerapkan cara
yang baik ditemukan pula produk tidak memenuhi ketentuan yang dapat
membahayakan kesehatan. Pelanggaran ketentuan tentang kewenangan
pendistribusian produk obat dan makanan tanpa ijin edar (TIE) dan penggunaan
bahan kimia obat (BKO) menempati urutan pertama pelanggaran. Pada tahun 2014
dilakukan ivestigasi terhadap 225 sarana terdiri dari 89 sarana produksi/distribusi
Obat, 38 pangan, 23 kosmetika dan 75 sarana obat tradisional. Investigasi dilakukan
Rencana Strategik
melalui operasi penyidikan mandiri, operasi penertiban satuan tugas pemberantasan
obat dan makanan ilegal, operasi gabungan daerah (OGD) dan operasi gabungan
nasional (OGN). Hasil investigasitelah ditangani sebanyak 36 kasus tindak pidana,
21 kasus ditangani secara Pro Justitia dan 15 kasus Non Justitia. Data temuan dan
pemusnahan tahun 2014dari 36kasus tindak pidana, berhasil diamankan produk
yang tidak memenuhi ketentuan berupa obat tradisional, kosmetik dan pangan
dengan nilai ± Rp.5,65 Milyar. Diantara temuan tersebut + Rp. 4,5 Milyar telah
dimusnahkan.
maupun distribusi obat dan makanan.
d. Pengawasan Iklan dan Label
Pemantauan / pengawasan iklan dan label dilakukan terhadap produk Obat,
Obat Tradisional, Suplemen Makanan, Makanan/Minuman, Kosmetika, Alat
Kesehatan, PKRT dan Rokok. Pemantauan / pengawasan dilakukan melalui media
cetak, media elektronik, media luar ruang dan leaflet/brosur.
Pemantauan iklan yang dilakukan pada tahun 2014sebanyak2965, 1391 iklan
(46,9%) tidak memenuhi ketentuan(TMK) dengan rincian :
1) Iklan Obat : 242 iklan ( TMK 97 )
2) Iklan Rokok : 1027 iklan ( TMK 463 )
3) Iklan Kosmetika : 295 iklan ( TMK 37
4) Iklan OT : 586 iklan ( TMK 424 )
5) Iklan Suplemen Kesehatan : 422 iklan ( TMK 333 )
6) Iklan Makanan/Minuman : 393 iklan ( TMK 37 )
Pemantauan label tahun 2014 sebanyak 2124, diketahui 604 label (28,4%)
tidak memenuhi ketentuan(TMK) dengan rincian :
1) Label Obat : 266 ( TMK 58 )
2) Label Rokok : 95 ( TMK 65 )
3) Label Kosmetika : 1115 ( TMK 318)
4) Label OT : 376 ( TMK 103 )
5) Label Suplemen Kesehatan : 122 ( TMK 8 )
6) Label Makanan/Minuman : 150 ( TMK 52 )
Rencana Strategik
Dalam konteks pengawasan Obat dan Makanan, pelayan informasi dan
komunikasi timbal balik dengan konsumen mempunyai arti yang penting untuk
pemberdayaan konsumen. Semakin tinggi pengetahuan masyarakat akan semakin
tinggi pula kepedulian dan kesadarannya sehingga mampu untuk melindungi dirinya
sendiri dari penggunaan produk yang tidak berkualitas yang dapat merugikan.
Tingginya tingkat pelanggaran di bidang Obat dan Makanan antara lain disebabkan
oleh ketidaktahuan dan ketidakpedulian baik konsumen maupun produsen.
Pemberdayaan masyarakat akan berujung pada kepatuhan produsen dalam
memenuhi aturan-aturan di bidang Obat dan Makanan. Masyarakat yang telah
diberdayakan akan mampu “menyeleksi” produk yang memenuhi syarat sehingga
produk-produk yang tidak berkualitas tidak akan laku di pasaran.
f. Layanan Pengaduan Konsumen (ULPK)
Balai Besar POM di Semarang telah menerima pengaduan/pertanyaan
mengenai Obat dan Makanandari tahun ke tahun mengalami peningkatan akibat
masyarakat semakin sadar terhadap upaya perlindungan diri. Selama tahun 2014
diterima 541 pengaduan. Berdasarkan jenis komoditi, dari pertanyaan yang diterima
dapat dilihat bahwa kelompok pertanyaan berkaitan dengan produk pangan 316,
disusul berturut-turut tentang obat tradisional 84, Kosmetik 52 dan obat 43, sisanya
berkaitan dengan suplemen makanan, napza, bahan berbahaya, Alat Kesehatan
(Alkes), Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga (PKRT), dan informasi umum
lainnya.
Kegiatan Lintas Sektor dilaksanakan Balai Besar POM di Semarang guna
meningkatkan keberhasilan pengawasan Obat dan Makanan. Menyadari bahwa
keamanan produk obat dan makanan yang beredar adalah tanggung jawab bersama
antara Pemerintah, masyarakat dan pelaku usaha, maka kegiatan bersama lintas
sektor perlu terus ditingkatkan. Kegiatan lintas sektor yang dilakukan antara lain:
peningkatan kompetensi penyidik, perkuatan mekanisme operasi penyidikan,
pemusnahan barang bukti,pelayanan sebagai saksi ahli maupun saksi pemusnahan
barang bukti, layanan konsultasi, jejaring pangan fortifikasi (PKK, puskesmas,
Kelurahan,organisasi wanita, dll), pengawasan kualitas pangan jajan anak sekolah -
Rencana Strategik
Kota/Kabupaten, disperindag, UMKM, puskesmas, dll), pengawasan pangan dan
bahan berbahaya (perguruan tinggi, pemda), FGD kemitraan keamanan pangan
tingkat propinsi (PKK, Bapeda, BKD, perguruan tinggi, dll), Food Safety Masuk
Desa (FSMD). Sasaran yang akan dicapai antara lain meningkatkan koordinasi,
mempererat jaringan dalam rangka dukungan dan komitmen dengan instansi di
daerah maupun perguruan tinggi dan komunitas lain untuk turut serta dalam
pengawasan obat dan makanansehingga produk yang beredar memenuhi persyaratan
keamanan, gizi dan mutu.
1.2. POTENSI DAN PERMASALAHAN
dan permasalahan yang semakin kompleks. Arus informasi dan modal berdampak
pada meningkatnya pemanfaatan sumber daya alam yang memicu perubahan iklim,
percepatan penyebaran penyakit, dll merupakan tantangan yang harus dihadapi
Badan POM. Hal tersebut menuntut peningkatan peran dan kapasitas Badan POM
dalam pengawasan peredaran Obat dan Makanan. Secara umum lingkungan strategis
yang dihadapi Balai Besar POM di Semarang adalah sebagai berikut :
1.2.1. Sistem Kesehatan Nasional
pengelolaan kesehatan yang diselenggarakan oleh semua komponen
BangsaIndonesia secara terpadu dan saling mendukung guna menjamin tercapainya
derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Salah satusubsistem SKN
adalah sediaan farmasi, alat kesehatan dan makanan, yang meliputi berbagai
kegiatan untuk menjamin: (i) aspek keamanan, kasiat/kemanfaatan dan mutu sediaan
farmasi, alat kesehatan dan makanan yang beredar; (ii) ketersediaan, pemerataan dan
keterjangkauan obat terutama obat esensial; (iii) perlindungan masyarakat dari
penggunaan yang salah dan penyalahgunaan obat yang rasional; serta (iv) upaya
kemandirian di bidang kefarmasian melalui pemanfaatan sumber daya dalam negeri.
Subsistem ini terkait dengan subsistem lainnya sehingga pengelolaan kesehatan
dapat diselenggarakan dengan berhasil guna dan berdaya guna.
Rencana Strategik
kesehatan dan makanan, utamanya untuk menjamin aspek keamanan khasiat atau
kemanfaatan dan mutu obat dan makanan yang beredar serta upaya kemandirian di
bidang pengawasan Obat dan Makanan. Pengawasan sebagai salah satu unsur dalam
subsistem tersebut dilaksanakan melalui berbagai upaya sacara komprehensif oleh
BPOM, yaitu :
No Upaya terkaitjaminan keamanan,
No Upaya terkait kemandirian
bertanggungjawab.
melakukan usahanya dengan
memadahi secara kualitas maupun
kuantitas, sistem manajemen mutu,
ilmiah, kerja sama internasional,
laboratorium pengujian mutu yang
dan standar nasional
makanan. Upaya ini merupakan
suatu kesatuan utuh, dilakukan
setelah pemasaran, serta pemantauan
label/penandaan, iklan dan promosi.
dengan efek jera yang tinggi untuk
setiap pelanggaran, termasuk
represif, preventif, kuratif dan
persyaratan.
Beberapa upaya tersebut di atas, telah dilakukan oleh BPOM dan kedepan
harus lebih ditingkatkan melalui pembinaan, pengawasan dan pengendalian secara
profesional, bertanggungjawab, independen, transparan dan berbasis bukti ilmiah,
sesuai dengan amanat dalam SKN.
Rencana Strategik
JKN merupakan salah satu bentuk perlindungan sosialuntuk menjamin agar
setiap rakyat dapat memenuhi kebutuhan dasar hidup yang minimal layak menuju
terwujudnya kesejahteraan sosial yang berkeadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Program JKN diatur dalam UU Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan
Sosial Nasional (SJSN). Dalam JKN juga diberlakukan penjaminan mutu obatyang
merupakan bagian tak terpisahkan dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan.
Implementasi JKN dapat membawa dampak secara langsung dan tidak
langsung terhadap pengawasan Obat dan Makanan. Dampak langsung adalah
meningkatnya jumlah permohonan pendaftaran produk obat, baik dari dalam
maupun luar negeri, karena industri obat akan berusaha menjadi supplier obat untuk
program pemerintah tersebut. Selain peningkatan jumlah obat yang akan diregistrasi,
jenis obatpun akan sangat bervariasi. Hal ini disebabkan adanya peningkatan
demand terhadap obat sebagai salah satu produk yang dibutuhkan. Dampak tidak
langsung dari penerapan JKN adalah terjadinya peningkatan konsumsi obat, baik
jumlah maupun jenisnya.
melakukan pengembangan fasilitas dan peningkatan kapasitas produksi dengan
perluasan sarana yang dimiliki. Dengan peningkatan kapasitas dan fasilitas tersebut,
diasumsikan akan terjadi peningkatan permohonan sertifikasi CPOB. Dalam hal ini
tuntutan terhadap peran BPOM akan semakin besar, antara lain adalah peningkatan
pengawasan pre-market melalui sertifikasi CPOB dan post-market melalui
intensifikasi pengawasan obat pasca beredar termasuk Monitoring Efek Samping
Obat (MESO).
Seiring dengan penerapan JKN, akan banyak industri farmasi yang harus
melakukan resertifikasi CPOB yang berlaku 5 (lima) tahun. Sampai dengan tahun
2014, industri farmasi yang melakukan sertifikasi CPOB baru sekitar 207 sarana.
Dari sisi penyediaan (supply side) JKN, kapasitas dan kapabilitas
laboratorium pengujian BPOM harus terus diperkuat. Begitu pula dengan
pengembangan dan pemeliharaan kompetensi SDM pengawas Obat dan Makanan
(penguji, evaluator maupun inspektur), serta kuantitas SDM yang harus terus
ditingkatkan sesuai dengan beban kerja.
Rencana Strategik
Dengan akan berakhirnya agenda Millennium Development Goals (MDGs)
padatahun2015, banyak negara mengakui keberhasilan dari MDGs sebagai
pendorong tindakan-tindakan untuk mengurangi kemiskinan dan meningkatkan
pembangunan masyarakat. Khususnya dalam bentuk dukungan politik. Kelanjutan
program ini disebut Sustainable Development Goals (SDGs), yang meliputi 17
goals. Dalam bidang kesehatan faktanya individu yang sehat akan memiliki
kemampuan fisik dan daya pikir yang lebih kuat, sehingga dapat berkontribusi
secara produktif dalam pembangunan masyarakatnya.
Terkait goals2. End hunger, achieve food security and improved nutrition,
and promote sustainable agriculture, selain ketahanan pangan, kondisi yang harus
diciptakan antara lain adalah masyarakat miskin, kelompok rentan termasuk bayi
memiliki akses untuk mendapatkan makanan yang aman, bergizi dalam jumlah yang
cukup sesuai kebutuhannya. Kontribusi terhadap kondisi ini adalah tersedianya
pangan dengan nilai gizi yang cukup, misalnya pangan diet khususmengandung
angka kecukupan gizi (AKG) yang cukup untuk pasien diabetes, garam dan terigu
difortifikasi dengan mikronutrisi, AKG tertentu dalam susu formula bayi dan lansia.
Hal ini hanya dapat terjadi jika produsen pangan yang telah diinspeksidan dibina
BPOM menerapkan Good Manufacturing Practices (GMP) dan menjamin mutu
produknya termasuk nilai nutrisi sesuai dengan kebijakan teknis yang dibuat
BPOM/Standar Nasional Indonesia/ Standar Internasional. Tantangan bagi BPOM
kedepan adalah penyusunan kebijakan teknis terkini tentang standar gizi pangan
olahan, pengawalan mutu, manfaat dan keamanan pangan olahan, serta KIE kepada
masyarakat.
Terkait Goals 3. Ensure healty lives and promote well-being for all at all
ages, salah satu kondisi yang harus tercipta adalah pencapaian JKN, termasukdi
dalamnya akses masyarakat terhadap obat dan vaksin yang aman, efektif dan
bermutu. Asumsinya, jaminan kesehatan memastikan masyarakat mendapatkan dan
menggunakan hanya obat dan vaksin yang aman, efektif dan bermutu untuk upaya
kesehatan preventif, promotif maupun kuratif, sehingga kualitas hidup masyarakat
meningkat. Kontribusi untuk mencapai kondisi ini adalah ketersediaan obat yang
aman, berkhasiat dan bermutu di sarana pelayanan kesehatan. Hal ini bisa tercapai
hanya jika PBF serta rantai distribusi obat menerapkan Good Distribution Practices
untuk mengawal mutu obat JKN. Tantangan bagi BPOM ke depan adalah
Rencana Strategik
agar secara mandiri menjamin mutu produknya.
1.2.4. Globalisasi, Perdagangan Bebas dan Komitmen Internasional
Globalisasi merupakan suatu perubahan interaksi manusia secara luas, yang
mencakup banyak bidang dan saling terkait. Proses ini dipicu dan dipercepat dengan
berkembangnya teknologi, informasi dan transportasi yang sangat cepat. Era
globalisasi dapat menjadi peluang sekaligus tantangan bagi pembangunan kesehatan,
khususnya dalam rangka mengurangi dampak yang merugikan, sehingga
mengharuskan adanya suatu antisipasi dengan kebijakan yang responsif.
Dampak dari pengaruh lingkungan eksternal khususnya globalisasi tersebut
telah mengakibatkan Indonesia masuk dalam perjanjian-perjanjian internasional,
khususnya dibidang ekonomi yang menghendaki adanya area perdagangan bebas /
free trade area (FTA). Ini dimulai dari perjanjian ASEAN-6 (Brunei Darussalam,
Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura dan Thailand) Free Trade Area, ASEAN-
China FTA, ASEAN-Japan Comprehensive Economic Partnership (AJCEP),
ASEAN-Korea Free Trade Agreement (AKFTA), ASEAN-India Free Trade
Agreement (AIFTA) dan ASEAN-Australia-New Zealand Free Trade Agreement
(AANZFTA). Dalam hal ini, negara-negara tersebut dimungkinkan membentuk
kawasan bebas perdagangan yang bertujuan untuk meningkatkan daya saing
ekonomi kawasan regional, berpeluang besar menjadikan ASEAN sebagai basis
produksi dunia, serta menciptakan pasar regional. Hal ini membuka peluang
peningkatan nilai ekonomi sektor barang dan jasa serta memungkinkan sebuah
produk Obat dan Makanan Indonesia akan lebih mudah memasuki pasaran domestik
yang tergabung dalam perjanjian pasar regional tersebut. Dalam menghadapi FTA
dan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akhir tahun 2015, diharapkan industri
farmasi, obat tradisional, kosmetika, suplemen kesehatan dan makanan dalam negeri
mampu untuk menjaga daya saing terhadap produk luar negeri.
Masuknya produk perdagangan bebas tersebut merupakan persoalan krusial
yang perlu segera diantisipasi. Realitas menunjukkan bahwa saat ini Indonesia telah
menjadi pasar bagi produk Obat dan Makanan dari luar negeri yang belum tentu
terjamin keamanan dan mutunya untuk dikonsumsi. Untuk itu masyarakat
membutuhkan proteksi yang kuat dan rasa aman dalam mengkonsumsi Obat dan
Makanan tersebut.
Rencana Strategik
Perdagangan bebas juga membawa dampak tidak hanya terkait isu ekonomi
saja, namun juga merambah pada isu kesehatan. Terkait isu kesehatan, masalah yang
akan muncul adalah menurunnya derajat kesehatan yang dipicu oleh perubahan gaya
hidup dan pola konsumsi masyarakat tanpa diimbangi dengan pengetahuan dan
kesadaran masyarakat akan kesehatan.
terjangkau sehingga terdapatnya risiko beredarnya obat ilegal (tanpa ijin edar, palsu
dan substandar) dan makanan yang mengandung bahan berbahaya. Hal ini
merugikan masyarakat. Berdasarkan data BPOM, jumlah pelanggaran dibidang Obat
dan Makanan yang ditemukan pada operasi gabungan Nasional 2014 sebanyak 166
kasus, temuan produk tidak memenuhi syarat (TMS) sebanyak 5.640 item dengan
nilai ekonomi sebesar Rp. 10,978 M. Dari Operasi Gabungan Daerah ditemukan
produk TMS sebanyak4.632 item dengan nilai ekonomi sebesar Rp. 9,297 M. Hal
ini menjadi tantangan yang sangat serius bagi BPOM.
Dalam pasar bebas dan era JKN, pasar farmasi nasional masih menjanjikan.
Menurut data BPOM tahun 2014, jumlah perusahaan farmasi di Indonesia mencapai
217 perusahaan, sebanyak 34 diantaranya merupakan perusahaan multinasional.
Tahun 2014, Indonesia Pharmaceutical Manufacturing Global (IPMG) menyatakan
pasar farmasi di Indonesiabernilai sekitar USD 6,24M atau USD26 per kapita per
tahun. Rata-rata penjualan obat di tingkat nasional selalu tumbuh 12-13% setiap
tahun dan sekitar 75% total pasar obat di Indonesia didominasi perusahaan nasional.
Namun ketergantungan impor bahan baku obat masih tinggi, bahkan 96% diimpor
dari China, India dan Eropa. Pemerintah perlu menyiapkan strategi kemandirian
produksi bahan baku dalam negeri, sehingga mengurangi ketergantungan impor
bahan baku pada pasar farmasi nasional.
Selain produsen farmasi, Indonesia juga memiliki industri obat tradisional
dengan pangsa pasar yang cukup besar. Saat ini terdapat sekitar 87 Industri Obat
Tradisional (IOT) dan 1148 industri kecil obat tradisional termasuk di dalamnya
Usaha Menengah Obat Tradisional (UMOT) dan Usaha Kecil Obat Tradisional
(UKOT), namun baru 61 IOT yang mendapat sertifikat Cara Pembuatan Obat
Tradisional yang Baik (CPOTB) terdiri dari 34 industri berdasarkan CPOTB 2005
dan 27 industri berdasarkan CPOTB 2011.
Rencana Strategik
maupun makanan perlu dibenahi. Rendahnya kemampuan dan pengetahuan teknis
untuk memenuhi persyaratan pendaftaran/standar mutu, rendahnya kesadaran dalam
mendaftarkan produk, keterbatasan kemampuan akses terhadap aplikasi elektronik,
keterbatasan pembiayaan penyesuaian standar dan sertifikasi internasional maupun
rendahnya penguasaan teknologi pelaku UMKM obat tradisional dan makanan perlu
mendapat perhatian BPOM. Perlu adanya intervensi pembinaan dan kebijakan yang
berpihak kepada UMKM. Misalnya penurunan tarif Penerimaan Negara Bukan
Pajak (PNBP) untuk pendaftaran produk Obat Tradisional risiko rendah produksi
UMKM.
Indonesia, maka pemerintah harus selalu mendukung dan melindungi industri Obat
dan Makanan di Indonesia. Dengan adanya FTA, maka pemerintah harus
mengembangkan kesiapan industri Obat dan Makanan untuk dapat mendukung
pemerataan, keterjangkauan dan ketersediaan obat yang bermutu, aman dan
berkhasiat sehingga mampu bersaing dengan produk obat dari luar negeri.
1.2.5. Perubahan Iklim
pertanian khususnya produk bahan pangan di Indonesia. Perubahan iklim dapat
mengakibatkan berkurangnya ketersediaan pangan yang berkualitas, sehat,
bermanfaat dengan harga yang kompetitif. Dari sisi ekonomi makro,industri
makanan minuman di masa yang akan datang perannya akan semakin penting
sebagai pemasok pangan dunia.
Selain dari sisi pangan,perubahan iklim juga dapat mengakibatkan
munculnya bibit penyakit baru hasil mutasi gen dari beragam virus. Bibit penyakit
baru tersebut diantaranyavirus influenza yang variannya sekarang menjadi cukup
banyak dan mudah tersebar dari satu negara ke negara lain.
Menurut Kementerian Kesehatan yang bekerja sama dengan Research
Centre for Climate Change University of Indonesia (RCCC-UI) tahun 2013, dalam
pelaksanaan kajian dan pemetaan model kerentanan penyakit infeksi akibat
perubahan iklim, terdapat tiga penyakit yang perlumendapat perhatian khusus terkait
perubahan iklim dan perkembangan vektor yaitu malaria, demam berdarah dengue
(DBD) dan diare. Selain dari ketiga jenis penyakit tersebut, masih ada lagi penyakit
Rencana Strategik
yang banyak ditemukan akibat adanya perubahan iklim seperti penyakit infeksi
saluran pernafasan (ISPA) dan penyakit batu ginjal.
Dengan adanya potensi permasalahan serta peluang dari proses perubahan
iklim, diperlukan peranan dari BPOM dalam mengawasi peredaran varian obat baru
darijenis penyakit tersebut. Selain dari obat kimia, varian obat baru ini juga diikuti
pula dengan varian obat herbal tradisional Indonesia dan China yang paling banyak
beredar di pasar. Kondisi ini menuntutkerja keras dari BPOM melakukan
pengawasan terhadap perkembangan produksi dan peredaran obat tersebut.
1.2.6. Perubahan Ekonomi dan Sosial Masyarakat
Kemajuan ekonomi Indonesia dapatdilihat dari indikator makro ekonomi,
yakni pendapatan perkapita sebesar USD 3.500 tahun 2013 dan pada tahun 2014
telah ditetapkan World Bank menjadi 10 (sepuluh) besar negara yang mendominasi
kekuatan ekonomi dunia. Indikator ini menunjukkan besarnya daya beli yang ada
pada masyarakat Indonesia. Secara teori dan fakta, semakin tinggi pendapatan maka
semakin besar pula konsumsi masyarakat terhadap Obat dan Makanan yang
memiliki standar dan kualitas. Berdasarkan data konsumsi obat yang dilakukan
masyarakat Indonesia, sebagian besar penduduk masih banyak yang mengkonsumsi
obat modern dibandingkan dengan obat tradisional. Konsumsi obat modern pada
tahun 2013 mencapai 90,94%, sedangkan obat tradisional sebanyak 21,41%. Untuk
mengatasi beberapa penyakit degeneratif, yakni penyakit yang dimiliki para kaum
lanjut usia, justru banyak digunakan obat-obatan dalam jangka waktu yang relatif
lebih lama. Terkait hal ini, tantangan BPOM adalah melakukan pengawasan post-
market termasuk farmakovigilans.
Rata-rata laju pertumbuhan penduduk Indonesia menurutsensus penduduk
tahun 2010, dalam 10 (sepuluh) tahun terakhir sebesar 32,5 juta jiwa (sebesar 1,49%
per tahun). Dengan laju pertumbuhan sebesar itu,diperkirakan jumlah penduduk
Indonesia pada tahun 2035 akan mencapai 450 juta jiwa dan populasi terbesar
berada pada kelompok umur remaja 15-19 tahun. Sementara usia produktif antara
30-54 tahun justru menunjukkan tren meningkat dari waktu ke waktu. Sedangkan
usia 55-64 tahun dan usia diatas 65 tahun menunjukkan tren yang meningkat tetapi
Rencana Strategik
25
dalam jumlah yang berbeda. Semakin meningkat usia harapan hidup, artinya tingkat
kesehatan masyarakat juga semakin meningkat.
Indonesia sebagai negara ke-4 dengan populasi lanjut usia tertinggi, yakni
9,079 juta tahun 2010 dan akan naik menjadi 29,047 juta pada tahun 2020, akan
mengalami perubahan pola penyakit yaitu meningkatnya beban kronik untuk kaum
lansia. Hal ini membutuhkan obat untuk penggunaan jangka panjang yang lebih
berkualitas. Berikut profil penyakit di Indonesia yang kemungkinan besar
mendorong perkembangan variasi obat.
Secara umum transisi demografi juga akan menimbulkan efek pada transisi
kesehatan di masyarakat, sehingga terjadi peningkatan dalam penggunaan layanan
kesehatan baik secara personal, korporat maupun masyarakat luas. Efek ini akan
mempengaruhi besarnya beban fasilitas kesehatan dan sistem jaminan kesehatan
masyarakat Indonesia dan sekaligus akan menambah beban kerja BPOM.
Konsumsi obat baik farmasi maupun herbal serta bahan makanan akan cukup
besar pada kelompok usia produktif, karena pola hidup dan orientasi konsumsi juga
akan mengarah pada kesehatan jangka panjang dan juga penampilan, sehingga
vitamin dan suplemenkesehatan menjadi komponen obat yang cukup besar
konsumsinya. Hal ini menjadi tambahan tugas bagi BPOM untuk melakukaan
penilaian dan pengawasan terhadap berbagai jenis obat dan suplemen yang semakin
bervariasi dan meningkat jumlahnya.
Indonesia, maka permintaan terhadap obat dan makanan juga akan semakin
Rencana Strategik
26
meningkat. Potensi pasar yang besar membuat para produsen obat dan makanan baik
lokal maupun internasional semakin meningkatkan volume produksi maupun
variasinya. Bertambahnya jumlah volume produksi dan variasi obat dan makanan ini
tentunya menuntut semakin besarnya peran BPOM dalam proses penilaian dan
pengawasannya. Kurangnya pemenuhan GMP oleh produsen dalam memproduksi
obat dan makanan menjadi tantangan BPOM dalam melakukan pengawasan dan
pembinaan.
Peningkatan jumlah penduduk jika ditata dengan baik akan menjadi potensi
berupa sumber daya manusia bagi pembangunan ekonomi. Kondisi inimenjadi
tantangan dan peluang bagi pemerintah untuk dapat memanfaatkan fase bonus
demografi Indonesia untuk menciptakan aktifitas ekonomi yang sangat besar dan
mampu memberikan kontribusi yang besar juga dalam APBN.
Berdasarkan peta demografi, penduduk Indonesia dalam usia produktif telah
mencapai 80%. Penduduk ini telah mempunyai daya beli lebih tinggi ditambah
dengan kenaikan jumlah penduduk kelas menengah (middle class) yang terjadi pada
tahun 2040. Laporan Mc Kinsey (2012) menunjukkan bahwa kelompok middle class
atau consuming class Indonesia naik dari waktu ke waktu, yakni tahun 2010 hanya
45 juta orang, maka proyeksi tahun 2020 naik menjadi 85 juta orang dan pada tahun
2030 sudah mencapai 135 juta orang. Kelompok ini akan banyak mempengaruhi
pola konsumsi obat dan makanan serta gaya hidup masyarakat Indonesia.
Syarat agar bonus demografi dapat dimanfaatkan dengan baik adalah dengan
mempersiapkan dari mulai perencanaan sampai dengan implementasinya di tingkat
lapangan. Persiapan ini antara lain melalui a). Peningkatan pelayanan kesehatan
masyarakat termasuk jaminan mutu obat; b). Peningkatan kualitas dan kuantitas
pendidikan; c). Pengendalian jumlah penduduk; d). Kebijakan ekonomi yang
mendukung fleksibilitas tenaga kerja dan pasar, serta keterbukaan perdagangan dan
tabungan nasional.
BPOM dalam hal ini harus membuat kebijakan yang mendukung kualitas
SDM Indonesia. Kebijakan yang dibuat harus berorientasi pada keamanan, manfaat
dan mutu obat dan makanan juga persyaratan dan ketentuan yang harus dipenuhi
oleh pelaku usaha sehingga bisa menjamin obat dan makanan yang sampai di
masyarakat aman, bermanfaat dan bermutu. Pengawasan keamanan, manfaat dan
mutu ini harus dibangun untuk menghindari dan mengurangi risiko Obat dan
Rencana Strategik
27
Makanan yang tidak memenuhi syarat dikonsumsi oleh penduduk non usia kerja
yang kedepan akan menjadi penduduk usia kerja.
Di samping menyiapkan pemanfaatan bonus demografi, juga harus mulai
dipikirkan permasalahan-permasalahan yang timbul pasca berakhirnya masa bonus
demografi, dimana jumlah lansia meningkat.
1.2.8. Desentralisai dan Otonomi Daerah
Dengan perubahan paradigma sistem penyelenggaraan pemerintah yang
semula sentralisasi menjadi desentralisasi atau otonomi daerah, maka urusan
kesehatan menjadi salah satu kewenangan yang diselenggarakan secara konkruen
antara pusat dan daerah. Hal ini berdampak pada pengawasan obat dan makanan
yang tetap bersifat sentralistik dan tidak mengenal batas wilayah (borderless),
dengan on line command (satu komando), sehingga apabila ada suatu produk obat
dan makanan yang tidak memenuhi syarat maka dapat segera ditindaklanjuti.
Desentralisasi dapat menimbulkan permasalahan dibidang pengawasan obat
dan makanan diantaranya kurangnya dukungan dan kerjasama dari pemangku
kepentingan di daerah sehingga tindaklanjut hasil pengawasan obat dan makanan
belum optimal.
Untuk menunjang tugasdan fungsi BPOM dalam pengawasan diperlukan
komitmen yang tinggi, dukungan dan kerjasama yang baik dari para pemangku
kepentingan antara pemerintah pusat dan daerah, masyarakat, termasuk swasta
dengan mendayagunakan potensi yang dimiliki masing-masing untuk menghasilkan
tata penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang baik. Dengan berlakunya
UUNo. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah, merupakan tantangan bagi
BPOM untuk menyiapkan norma, standar, pedoman dan kriteria bagi Pemerintah
Daerah dalam melaksanakan kegiatan terkait Obat dan Makanan.
1.2.9. Perkembangan Teknologi
meliputiperkembangan vaksin baru dan produk biologilain termasuk produk darah,
jaringan, terapi gen, stem cell, hormon, pangan hasil rekayasa genetika, pangan
iradiasi, perkembangan teknologi nano untuk produk dan kemasannya serta produk
hasil inovasi lainnya. Ini adalah sebagian hasil kemajuan teknologi produksi yang
diprediksi akan semakin meningkat seiring dengan perkembangan ilmu
Rencana Strategik
pengetahuan. Kondisi ini menuntut BPOM meningkatkan kapasitas kapabilitas
sebagai lembaga pengawas, utamanya pengetahuan dan teknologi laboratorium
pengujian POM selaku “diagnosis pasti” adanya risiko yang beredar di masyarakat.
Kemajuan teknologi telah memungkinkan industri di bidang obat dan
makanan untuk berproduksi dalam skala besar dengan cakupan yang luas. Selain itu,
dengan kemajuan teknologi transportasi baik darat, laut dan udara maupun jasa
pengiriman barang, berbagai produk itu dimungkinkan dalam waktu relatif singkat
mencapai wilayah negeri ini hingga ke pelosok-pelosoknya. Bagi pengawasan Obat
danMakanan, ini merupakan potesial problem, karena bila terdapat produk yang sub
standar, peredarannya dapatmenjangkau areal yang luas dalam waktu yang relatif
singkat. Untuk ituantisipasi pengawasanObat danMakanan juga harus sama
cepatnya.
Perkembangan teknologi informasi jugadapat menjadi potensi bagi BPOM
untuk dapat melakukan pelayanan secara online, yang dapat memudahkan akses dan
jangkauan masyarakat. Juga dapat dimanfaatkan untuk melakukan sosialisasi,
komunikasi, dan edukasi kepada masyarakat. Namun disisi lain, teknologi informasi
juga dapat menjadi tantangan bagi BPOM terkait tren pemasaran dan transaksi
produk obat dan Makanan secara online, yang juga perlu mendapatkan pengawasan
dengan berbasis pada teknologi.
Salah satu upaya di dalam mendukung Arah Kebijakan Nasional Perbaikan
Kualitas Konsumsi Pangan dan Gizi Masyarakat dilakukan melalui peningkatan
peran industri dan pemerintah Daerah dalam ketersediaan pangan beragam, aman
dan bergizi diantaranya dengan dukungan fortifikasi mikronutrien penting.
Fortifikasipangan merupakan salah satucara dalam menangani
permasalahan tingginya angka kekurangan gizi mikro. Sebagai langkah awal,
pemerintah menetapkan fortifikasi pada garam dan tepung terigu, mengingat masih
tingginya masalah gangguan kesehatan karena kekurangan yodium (GAKI).
Penerapan fortifikasi harus diiringi dengan pengawasan oleh BPOM. Hasil
pengawasan garam beryodium dalam kurun waktu tiga tahun terakhir (2010-2013)
menunjukkan bahwa jumlah sampel yang TMS mengalami kenaikan, yaitu berkisar
29%-43%. Hasil pengawasan tepung terigu dalam kurun waktu tiga tahun terakhir
Rencana Strategik
kenaikan, yaitu berkisar 4%-23%.
Untuk mengawal program ini, BPOM mendapatkan mandat strategis baik
dalam Rencana Aksi Pangan dan Gizi (RAD-PG), utamanya pada Pokja III Bidang
Mutu dan Keamanan Pangan. Upaya tersebut dilakukan melalui verifikasi terhadap
pemenuhan Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB), baik penerapan
CPPOB pada produsen pangan dan penerapan Cara Ritel Pangan yang Baik di
sarana peredaran. Selain itu juga dilakukan pengawasan terhadap produk pangan
baik di sarana produksi maupun di sarana peredaran dan penegakan hukum terhadap
pelaku pelanggaran di bidang pangan, pengujian laboratorium terhadap parameter
keamanan dan mutu pangan dan gizi pangan, pengawasn terhadap kesesuaian label
serta pengawasan terhadap keamanan kemasan pangan yang beredar melalui
sampling dan pengujian.
1.2.11. Jejaring Kerja
lembaga-lembaga, baik di pusat, daerah maupun internasional. Jaringan yang luas
ini sangat strategis posisinya dalam mendukung tugas-tugas BPOM maupun
pemangku kepentingan. Beberapa jejaring kerja yang sudah dimiliki BPOM yaitu
Jejaring Kemanan Pangan Nasional/Daerah, Indonesia Rapid Alert System for Food
and Feed (INRASFF), World Health Organization (WHO), Codex Alimentarius
Commision, Forum Kerjasama Asia Pasifik dalam harmonisasi regulasi bidang obat
(RHSC), ASEAN Referrences Laboratories (AFL), Pharmaceutical Inspection
Convention and Pharmaceutical Inspection Cooperation Scheme (PIC/S),
International Crime Police Organizatuion Interpol. Peluang kerjasama ini terbuka
karena citra BPOM yang baik di internasional.
Jejaring kerjasama ini perlu penguatan karena belum semuanya berjalan
efektif. Sebagai contoh adanya INRASFF akan mendukung pengawasan secara
cepat tanggap terhadap adanya outbreak dan risiko pada pangan. Namun ada
beberapa hal yang masih menjadi tantangan yaitu: (i) Upstream Notification masih
belum optimal, (ii) Asesmen risiko keamanan pangan impor masih belum optimal,
(iii) Tindak lanjut notifikasi di Competent Contact Point (CCP) belum cepat, dan
(iv) Sistem traceability di rantai suplai pangan masih lemah. Untuk itu ke depan
Rencana Strategik
akan dilakukan pembentukan Local Competent Contact Point (LCCP) di lima
propinsi : Medan, Lampung, Surabaya, Denpasar dan Manado, serta Pengembangan
Pusat Kewaspadaan dan Respon Keamanan Pangan Nasional, yang juga akan
dikembangkan untuk Obat, Obat Tradisional, Kosmetika dan Suplemen Kesehatan.
Contoh lain Indonesia Risk Assesment Centre (INA-RAC). Sejak
pencanangan oleh menteri Kesehatan pada 20November 2014, masih menghadapi
beberapa kendala, seperti ketersediaan data nasional kajian risiko keamanan pangan
yang minim dan belum terintegrasi. Tantangan kedepan adalah meningkatnya
jumlah kajian risiko keamanan pangan nasional di sepanjang rantai pangan;
Pembentukan poll of expert database untuk Komite Ilmiah dan Panel Pakar; serta
Melaksanakan National Capacity Building untuk Risk Assesment.
1.2.12. Komitmen dalam Pelaksanaan Reformasi Birokrasi
Untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik, BPOM
melaksanakan reformasi birokrasi (RB) sesuai PP Nomor 81 Tahun 2010 tentang
Grand Design 2010-2025. Upaya atau proses RB yang dilakukan BPOM
merupakan pengungkit dalam pencapaian sasaran sebagai hasil yang diharapkan dari
pelaksanaan RB.
Dalam pelaksanaan tugas dan fungsi, BPOM memiliki instansi vertikal atau
UPT BB/Balai POM di tingkat Provinsi. Selain itu, untuk mendukung
pengawasan obat dan Makanan di wilayah perbatasan dengan negara lain dan
daerah-daerah yang sulit dijangkau dari ibukota provinsi, BPOM memiliki Pos
POM. Peran BB/Balai POM dan Pos POM perlu dilakukan penataan dan
penguatan baik dari segi struktur organisasi, kompetensi dan kuantitas SDM,
sarana dan prasarana, maupun koordinasi dengan lintas sektor agar pelaksanaan
tugas dan fungsi pengawasan Obat dan Makanan dapat dilakukan secara lebih
optimal. Tantangan BPOM ke depan adalah melakukan kajian, penataan dan
evaluasi organisasi dalam rangka meningkatkan efisiensi dan efektifitas
organisasi secara proporsional menjadi tepat fungsi dan tepat ukuran sesuai
dengan kebutuhan pelaksanaan tugas dan fungsi BPOM.
b. Penataan Tatalaksana
untuk melindungi masyarakat dari Obat dan Makanan yang berisiko terhadap
Rencana Strategik
BPOM tersebut dilakukan melalui penerapan sistem mutu secara konsisten dan
ditingkatkan secara berkelanjutan yang dibuktikan dengan pemenuhan atau
perolehan Quality Management System ISO 9001:2008, Akreditasi
Laboratorium IEC 17025:2005; PIC/S Quality System Requirement for
Pharmaceutical Inspectorate (PI 0023), OHSAS 18001:2007; ISO
27001:2013Information Security Management System, WHO Quality System
Requirement for National GMP Inspectorates (TRS 902 Annex 8, 2002): dan
Persyaratan Akreditasi Pranata Penelitian dan Pengembangan untuk sistem riset
dan pengembangan (KNAPPP02:2007).
informasi di lingkungan BPOM, diantaranya pendaftaran produk (pangan, obat,
obat tradisional) dan berbagai penyelenggaraan manajemen pemerintahan
lainnya yang dilakukan secara elektronik serta keterbukaan informasi publik
bagi masyarakat. Berbagai sistem mutu dan pengembangan e-government yang
dapat meningkatkan kinerja BPOM tersebut seyogyanya dapat diintegrasikan
sesuai dengan ruang lingkupnya agar pelaksanaannya dapat dilakukan secara
efektif dan efisien.
Telah banyak Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah yang menjadi
landasan teknis pelaksanaan tugas fungsi BPOM. Namun, Peraturan Perundang-
undangan yang ada selama ini kurang mendukung tercapainya efektivitas
pengawasan Obat dan Makanan. Demikian pula sanksi yang diberikan terhadap
pelanggaran di bidang Obat dan Makanan belum memberikan efek jera
sehingga sering terjadi kasus berulang.
Beberapa kerangka regulasi yang diasumsikan dapat mendukung
pencapaian tujuan pengawasan Obat dan Makanan dibahas pada
KerangkaRegulasi. Adanya kerangka regulasi sebagai bagian tak terpisahkan
dari kaidah pelaksanaan RPJMN/RKP membuka peluang untuk menciptakan
harmonisasi peraturan perundang-undangan dan meminimalkan ego sektoral.
BPOM perlu mengambil kesempatan ini dengan mengusulkan peraturan
Rencana Strategik
bersamaan dengan penyusunan rencana kerja. Selain itu sesuai kerangka
regulasi, untuk memastikan bahwa setiap norma kebijakan yang akan
diratifikasi memberikan manfaat bagi masyarakat, BPOM perlu membuat cost-
benefit analysis. Sedangkan terhadap regulasi teknis yang dikeluarkan BPOM,
perlu dilakukan regulatory impact assessment.Kaitannya dengan pengawasan
Obat dan Makanan di daerah, selain ketersediaan NSPK, perlu didorong
terbitnya aspek legal berupa Peraturan/SK Gubernur dan ditindaklanjuti dengan
Peraturan/SK Bupati/Walikota.
yang jelas untuk acuan dalam pengawasan Obat dan Makanan, juga
menerbitkan standar mutu lainnya, seperti standar produksi dan distribusi Obat
dan Makanan. Ketersediaan peraturan perundangan sampai dengan pedoman
teknis yang dilegalkan dalam bentuk Peraturan Kepala BPOM tersebut sangat
mendukung penegakan hukum.
hukum seperti memperkuat kemitraan untuk pengawasan, penindakan, maupun
persamaan persepsi dengan kepolisian, kejaksaan, dan instansi terkait,
menggeser pengawasan ke area preventif, serta memperkuat kerjasama di Free
Trade Zone Area. Upaya ini pun perlu diikuti dengan peningkatan kajian
BPOM mengenai kerugian negara secara ekonomi maupun kesehatan akibat
pelanggaran Obat dan Makanan.
d. Penguatan Akuntabilitas Kerja
BPOM telah mengimplementasikan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi
Pemerintah (SAKIP) dengan baik, dibuktikan dengan hasil evaluasi
KemenPAN-RB tahun 2014 memperoleh nilai B.
Komitmen pimpinan yang sangat tinggi terhadap pelaksanaan SAKIP menjadi
kekuatan penting dalam upaya penguatan akuntabilitas kinerja BPOM. Namun,
BPOM masih perlu melakukan penyempurnaan dalam penatausahaan
manajemen pemerintahan (keuangan dan BMN) dalam mewujudkan
pemerintahan yang akuntabel. Ke depan, untuk menjawab ekspektasi
Rencana Strategik
telah menargetkan Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) terhadap opini laporan
keuangan BPOM dari BPK.
pemerintahan yang bersih dan bebas Korupsi, Kolusi, Nepotisme (KKN).
Melalui upaya pengawasan yang dilakukan BPOM, diharapkan dapat
meningkatkan kepatuhan dan efektivitas pengelolaan keuangan negara di
lingkungan BPOM serta menghindari tingkat penyalahgunaan wewenang.
Pengawasan yang dilakukan BPOM antara lain melalui kebijakan
penanganan gratifikasi, penerapan Sistem Pengendalian Internal Pemerintah
(SPIP), pengelolaan pengaduan masyarakat, implementasi whistle-blowing
system, penanganan benturan kepentingan, pembangunan zona integritas
menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan
Melayani (WBBM), dan pendayagunaan Aparat Pengawasan Internal
Pemerintah (APIP) dalam perencanaan dan penganggaran. Untuk mendapatkan
hasil yang lebih optimal, upaya pengawasan yang dilakukan BPOM tersebut
masih perlu dievaluasi agar dapat ditingkatkan pelaksanaannya. Salah satu hal
yang dapat dilakukan adalah penguatan peran APIP dan unit pengawas
fungsional (Inspektorat) sebagai internal-consultant yang melaksanakan fungsi
pembinaan, penataan, pengawasan, dan pentaatan dengan dukungan SDM yang
memadai secara kualitas dan kuantitas serta berfokus pada pemeriksaan kinerja
berbasis risiko untuk mencegah potensi kesalahan yang mengganggu efektivitas
pencapaian sasaran organisasi dan dapat menimbulkan kerugian negara.
f. Penataan Sistem Manajemen SDM Aparatur
Penataan sistem manajemen SDM aparatur bertujuan untuk meningkatkan
profesionalisme SDM aparatur BPOM yang didukung oleh sistem rekrutmen
dan promosi aparatur berbasis kompetensi, transparan, serta memperoleh gaji
dan bentuk jaminan kesejahteraan yang sepadan, sesuai dengan Undang-
Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara(ASN).
Perencanaan kebutuhan pegawai BPOM dilakukan sesuai dengan kebutuhan
organisasi dan proses penerimaan pegawai dilakukan secara transparan,
Rencana Strategik
objektif, akuntabel, dan bebas KKN serta promosi jabatan dilakukan secara
terbuka.Pengembangan pegawai yang dilakukan BPOM berbasis kompetensi
yang selanjutnya capaian penilaian kinerja individu pegawai akan dijadikan
dasar untuk pemberian tunjangan kinerja. Hal ini diimbangi dengan penegakan
aturan disiplin dan kode etik serta pemberian sanksi. Seluruh aktivitas
manajemen SDM tersebut didukung oleh sistem informasi kepegawaian.
Saat ini, SDM BPOM telah memiliki kualitas yang memadai, namun dari sisi
kuantitas SDM BPOM belum mencukupi kebutuhan untuk menjalankan tugas
dan fungsi yang tersebar di seluruh Indonesia. Sistem manajemen pemerintah
menuntut adanya ukuran keberhasilan, baik di tingkat organisasi sampai ke
level individu. Untuk saat ini, sistem manajemen kinerja belum optimal
diterapkan, sehingga perlu dilakukan penerapan sistem manajemen kinerja yang
lebih efektif dan efisien terutama dalam hal pelaksanaan evaluasi terhadap peta
dan kelas jabatan yang telah disusun. Pemanfaatan sistem informasi
kepegawaian yang telah dibangun juga perlu dioptimalisasi sebagai pendukung
pengambilan kebijakan manajemen SDM BPOM.
g. Manajemen Perubahan
Manajemen perubahan bertujuan untuk mengubah secara sistematis dan
konsisten dari sistem dan mekanisme kerja organisasi serta pola pikir dan
budaya kerja individu atau unit kerja di dalamnya menjadi lebih baik sesuai
dengan tujuan dan sasaran RB. Untuk menggerakkan organisasi dalam
melakukan perubahan, BPOM telah membentuk agent of change sebagai
rolemodel serta forum bagi pembelajaran atau inovasi dalam proses
perubahanyang dilakukan. Komitmen dan keterlibatan pimpinan dan seluruh
pegawai BPOM secara aktif dan berkelanjutan merupakan unsur pendukung
paling utama dalam perubahan pola pikir dan budaya kerja dalam rangka
pelaksanaan RB.
timbulnya resistensi terhadap perubahan dibutuhkan media komunikasi secara
reguler untuk mensosialisasikan RB atau perubahan yang sedang dan akan
dilakukan, termasuk pentingnya peran agent of change dan manfaat dari forum
pembelajaran atau inovasi.
BPOM sebagai lembaga pengawasan Obat dan Makanan masih perlu terus
dilakukan penataan dan penguatan, baik secara kelembagaan maupun dukungan
regulasi yang dibutuhkan, terutama peraturan perundang-undangan yang
menyangkut peran dan tugas pokok dan fungsinya agar pencapaian kinerja di
masa datang semakin membaik dan dapat memastikan berjalannya proses
pengawasan Obat dan Makanan yang lebih ketat dalam menjaga keamanan,
khasiat/manfaat dan mutu Obat dan Makanan.
Kondisi lingkungan strategis dengan dinamika perubahan yang sangat
cepat, menuntut BPOM dapat melakukan evaluasi dan mampu beradaptasi
dalam pelaksanaan peran-perannya secara tepat dan sesuai dengan kebutuhan.
Dengan etos tersebut, BPOM diharapkan mampu menjadi katalisator yang pada
akhirnya diharapkan dapat memberikan kontribusi yang maksimal bagi
pembangunan kesehatan nasional. Untuk itu, ada tiga isustrategis dari
permasalahan pokok yang dihadapi BPOM sesuai dengan peran dan
kewenangannya agar lebih optimal, yaitu:
1. Penguatan sistem dalam pengawasan Obat dan Makanan,
2. Peningkatan pembinaan dan bimbingan dalam rangka mendorong
kemandirian pelaku usaha Obat dan Makanan, serta peningkatan
kemitraan dengan berbagai pemangku kepentingan dan partisipasi
masyarakat,
Dalammelaksanakan peran dan kewenangan yang optimal sesuai dengan
peran dan kewenangan BPOM sebagai lembaga yang mengawasi Obat
danMakanan, maka diusulkan penguatan peran dan kewenangan BPOM sesuai
dengan bisnis proses BPOM untuk periode 2015-2019 sebagaimana pada
gambar dan tabel di bawah ini.
Rencana Strategik
36
Gambar 1.4. Peta Bisnis Proses Utama BPOM sesuai Peran dan Kewenangan
Gambar 1.5. Penjabaran Bisnis Proses Utama kepada Kegiatan Utama BPOM
Rencana Strategik
Sistem Makanan (NSPK)
dan Makanan dan Makanan
• Pengawasan sarana produksi Obat dan Makanan sesuai
standar
standar
• Penyidikan dan penegakan hukum
Informasi dan termasuk peringatan publik
Edukasi Publik • Pengelolaan data dan informasi Obat dan Makanan
• Menentukan peta zona rawan peredaran Obat dan
Makanan yang tidak sesuai dengan standar
• Penyebaran informasi bahaya obat dan makanan yang
tidak memenuhi standar
Globalisasi perdagangan, menyebabkan entry barrier menjadi semakin tipis,
dan karena itu arus barang (termasuk didalamnya Obat dan Makanan) ke luar masuk
dari dan ke berbagai negara menjadi semakin bebas, tanpa hambatan tarif maupun
non tarif. Dengan demikian Obat dan Makanan yang diproduksi oleh berbagai
negara memungkinkan untuk memasuki wilayah Jawa Tengah.
Posisi strategis Propinsi Jawa Tengah yang berada diantara dua propinsi
besar di Pulau Jawa yakni Jawa Barat dan Jawa Timur, memungkinkan mudahnya
lalu lintas berbagai pruduk Obat dan Makanan antar dua Propinsi tersebut.
Konsekuensinya selain akan terus meningkat jenis produk beredar di Jawa Tengah,
juga jumlah serta jenis pelanggaran dibidang Obat dan Makanan akan semakin
beragam. Untuk menjaga agar Obat dan Makanan yang beredar di Jawa Tengah
mempunyai jaminan mutu manfaat dan keamanan sesuai standar, Balai Besar POM
di Semarang harus meningkatkan kompetensinya sehingga mampu melakukan
pengawasan produk, mulai produk tersebut dalam proses produksi dimanapun
tempatnya, di tempat-tempat pemasukan produk ke dalam wilayah Jawa Tengah.
Rencana Strategik
38
Luas wilayah Propinsi Jawa Tengah seluruhnya 3,25 ribu hektar atau 25%
dari wilayah Pulau Jawa dengan jumlah penduduk yang relatif tinggi yaitu 33,26
juta jiwa merupakan potensi sekaligus tantangan yang dihadapi dalam pengawasan
Obat dan Makanan. Catchment areadi Propinsi Jawa Tengah yang mencakup 35
Kabupaten/Kota, dimana sarana produksi dan distribusi terutama Pangan, Obat
Tradisional dan Kosmetika hampir merata pada setiap Kabupaten/Kota.Sedangkan
untuk sarana produksi Obat sebagian besar berada di kota besar seperti Semarang
dan Surakarta. Sarana produksi Obat Tradisional yang ada di Jawa Tengah sebanyak
122 buah meliputi Industri Obat Tradisional (IOT), Industri Kecil Obat Tradisional
(IKOT) dan Usaha Mikro Obat Tradisional (UMOT). Industri Rumah Tangga
Pangan (IRTP) di Jawa Tengah mencapai puluhan ribu yaitu kurang lebih sekitar
12.521 buah dan jumlah ini diperkirakan akan terus bertambah sejalan dengan
peningkatan pertumbuhan ekonomi. Dengan adanya pembagian peran antara pusat
dan daerah maka pengawasan IRTP yang dilakukan oleh Badan POM melalui
samplingberdasarkan analisis risiko. Secara terperinci jumlah cakupan sarana
produksi dan distribusi seperti pada tabel berikut:
Tabel 1.6. Jumlah Cakupan Sarana Produksi Obat dan Makanan
Balai Besar POM di Semarang
No
2 Sarana Produksi
3 Sarana Produksi
4 Sarana
Balai Besar POM di Semarang
No
2 Instalasi Farmasi
4 Puskesmas 867 15 30
5 Apotek 3063 220 220
6 Toko Obat 21 5 15
7 Klinik 735 35 45
8 Obat Tradisional 431 190 220
9 Kosmetika 92 200 230
10 Pangan 499 615 520
11 Bahan Berbahaya 14 10 20
Jumlah 6.299 1.420
harga terjangkau. Diharapkan pelaku usaha di Jawa Tengah cerdas mengelolanya
sehingga mampu mendapatkan keunggulan. Langkah menuju hal tesebut dilakukan
dengan pengawasan konsisten untuk menjaga jaminan mutu dan kepercayaan
pelanggan.
Kemajuan teknologi, mendorong industri Obat dan Makananakan
menerapkan dalam proses produksinya. Perkembangan demikian menuntut
kemampuan pengawas untuk meningkatkan diri sehingga mampu mendeteksi
kelemahan-kelemahan teknologi dalam proses produksi dan selanjutnya mampu
memberikan jalan keluar dalam perbaikan sehingga perkembangan teknologi tetap
Rencana Strategik
dihasilkan.
Semakin majunya teknologi transportasi, mempercepat Obat dan Makanan
beredar secara luas di masyarakat, tentu perkembangan demikian harus tetap dapat
dilakukan pengawasan secara efektif agar produk yang siap dikonsumsi selalu dalam
kondisi memenuhi persyaratan yang ditetapkan pemerintah Republik Indonesia.
Kemajuan teknologi promosi di berbagai media, semakin efektif dalam
mempromosikan nilai lebih dan menutup risiko suatu produk serta menggeser
perilaku dan permintaan masyarakat. Kehebatan perkembangan promosi menuntut
Balai Besar POM untuk dapat mengendalikan semua model promosi sehingga
setiap promosi dapat memaparkan hal-hal yang menguntungkan bagi konsumen
tanpa ada risiko tersembunyi.
Dengan disepakatinya harmonisasi baik tingkat regional maupun global,
proses pembuatanproduk harus memberlakukan standar yang sama. Keunggulan
persaingan perdagangan hanya dapat dilakukan atas dasar ilmiah. Menghadapi hal
tersebut agar produk yang diproduksi di Jawa Tengah dan produk yang masuk dan
atau beredar memberikan perlindungan, manfaat dan daya saing yang lebih tinggi
perlu dijaga dengan sistem pengawasan yang lebih baik.
1.2.16 Dampak Krisis Ekonomi
lemah. Dengan kemampuan yang lemah, pemenuhan kebutuhan menjadi kurang
sehingga kondisi kesehatan cenderung menjadi lebih rendah dan kemampuan untuk
memenuhi kebutuhan akan pengobatan secara mandiri juga kurang. Agar
masyarakat lebih terjaga dari resiko kesehatan, maka pengawasan harus
dioptimalkan.
Jawa Tengah memiliki iklim yang sangat bagus untuk pertumbuhan mikroba.
Dengan penduduk yang banyak, pertumbuhan penjaja makanan berkembang dengan
pesat. Kondisi demikian tentu membuat potensi pangan yang tercemar mikroba
termasuk toksin yang dihasilkan serta penggunaan bahan dengan tujuan untuk
Rencana Strategik
pengawet cukup besar. Tentu hal tersebut harus dilakukan antisipasi secara cerdas
agar masyarakat tetap terlindungi kesehatannya.
1.2.18 Penyalahgunaan Narkotika dan Psikotropika
Penyalahgunaan narkotika dan psikotropika, cenderung terus meningkat
seiring dengan upaya sistematis pihak luar untuk memperlemah tingkat ketahanan
nasional. Jenis narkotika dan psikotropika yang disalahgunakan, diperkirakan tetap
jenis narkotika dan psikotropika yang tidak digunakan dalam pengobatan, dan
diproduksi oleh clandestine laboratory, dan diedarkan secara ilegal. Dalam
pemberantasan penyalahgunaan narkotika dan psikotropika ini, Balai Besar POM di
Semarang harus semakin proaktif dalam perannya sebagai penjuru, khususnya untuk
pengawasan prekursor, bersama mitra kerja dari sektor terkait.
1.2.19 Produk Ilegal
Peredaran produk ilegal dan palsu di jalur gelap, diperkirakan akan tetap
marak. Hal ini terjadi karena belum menyatunya komitmen, pengawasan yang
kurang efektif, meningkatnya permin