balai besar pom di semarang

Click here to load reader

Post on 11-Sep-2021

0 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

menuju kondisi yang semakin unggul. Sejalan dengan prioritas
pembangunan jangka menengah nasional tahun 2015-2019, program
pengawasan Obat dan Makanan diprioritaskan untuk percepatan
keunggulan produk Obat dan Makanan yang diproduksi dan beredar di
Indonesia, utamanya provinsi Jawa Tengah.
Permintaan Obat dan Makanan yang semakin meningkat itu, menjadi peluang dalam
pengembangan mutu dan kuantitas produksi. Disisi lain hal tersebut menjadi tantangan
penyelenggaraan pengawasan karena mendorong masuknya produk dari luar negeri masuk ke
wilayah Indonesia. Dengan berlakunya era pasar bebas, pengawasan Obat dan Makanan
bergeser menjadi semakin komplek.
Menyadari hal tersebut, Pengawasan Obat dan Makanandi Jawa Tengah perlu terus
ditingkatkan, dengan memanfaatkan dan mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki. Target
kinerja pengawasan harus dioptimalkan untuk menjaga mutu, kemanan dan manfaat, agar
produk Obat dan Makanan menjadi unggul dalam penguasaan pasar global.
Terkait dengan target dimaksud, maka Balai Besar Pengawas Obat Makanan di Semarang
dalam melaksanakan pengawasan dilakukan pengembanganpemberdayaan sumber daya
secara optimal, melibatkan pemangku kepentingan secara tersinergi, percepatan tindak lanjut
terhadap temuan ketidak sesuaian. Diharapkan langkah percepatan dapat memberikan capaian
target kinerja secara produktif dan efisien.
Untuk hal tersebut pelaksanaan pengawasan Obat dan Makanan di Jawa Tengah disusun
dalam Rencana Strategis tahun 2015-2019 melalui kajian risiko secara komprehensif
sehingga mampu menghasilkan keunggulan produk yang berdampak kesejahteraan sejalan
dengan tujuan Pembangunan Jangka Menengah Nasional.
Dokumen Rencana Strategis Balai Besar POM di Semarang ini, selanjutnya akan menjadi
acuan utama dalam penyusunan rencana program dan kegiatan selama lima tahun ke depan.
Semarang, Mei 2015
Drs. Agus Prabowo. MS,Apt.
Undangan……………………………………………….....
2
1.1.3 Tugas dan Fungsi Balai Besar POM di Semarang…...........
1.1.4 Pencapaian Program dan Kegiatan Periode Renstra Balai
Besar POM di Semarang tahun 2010-2014..........................
9
10
1.2.5 Perubahan Iklim..................................................................
1.2.8 Desentralisasi dan Otonomi Daerah...................................
1.2.9 Perkembangan Teknologi...................................................
1.2.11 Jejaring Kerja.....................................................................
1.2.13 Menipisnya Entry Barier....................................................
1.2.15 Harmonisasi Standar di Tingkat.........................................
1.2.16 Dampak Krisis Ekonomi.....................................................
1.2.19 Produk Ilegal......................................................................
1.2.24 Komitmen Terselenggaranya Good Governance…………
1.2.25 Penataan dan Penguatan Struktur Organisasi…………….
1.2.26 Penataan Tatalaksana..........................................................
45
45
45
2.1 V I S I………………………………………..……………….....
2.2 M I SI…………………………………...………….……...........
2.2.2 Mendorong Kemandirian Pelaku Usaha.............................
2.2.3 Meningkatkan Kapasitas Kelembagaan BPOM..................
2.3 BUDAYA ORGANISASI.………...………………...................
2.4.2 Meningkatnya daya saing Obat dan Makanan di pasar.....
2.5 SASARAN STRATEGIS ........…………………………..........
2.5.2 Meningkatnya Kemandirian Pelaku Usaha........................
2.5.3 Meningkatnya Kualitas Kapasitas Kelembagaan...............
50
50
50
50
51
53
53
54
54
54
54
54
54
54
54
54
55
55
56
58
3.1 ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI NASIONAL................
3.2 ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI BALAI BESAR..........
3.3 KERANGKA REGULASI...........................................................
3.4 KERANGKA KELEMBAGAAN................................................
4.1 TARGET KINERJA....................................................................
Lampiran
1. Target dan Kamus Indikator Renstra Balai Besar POM di Semarang.
2. Matriks Kinerja dan Pendanaan Balai Besar POM di Semarang.
3. Matriks Kerangka Regulasi Balai Besar POM di Semarang.
Rencana Strategik
Pencapaian Indikator Kinerja pada Sasaran ke-1
Balai Besar POM di Semarang Tahun 2011-2014........................
Upaya-Upaya Pengawasan yang Dilakukan BPOM......................
Profil beban penyakit berdasar sebab th 1990-2010......................
Penguatan peran BPOM tahun 2015-2019.....................................
Jumlah Cakupan Pengawasan Sarana Produksi.............................
Visi, MinJumlah Cakupan Pengawasan Sarana Distribusi............................
8
12
17
25
37
38
39
Tabel 1.8. Pemenuhan sarana-prasarana di Balai Besar POM di Semarang.. 46
Tabel 1.9.
Tabel 2.1.
Tabel 2.2.
Tabel 3.1.
Rangkuman Analisis SWOT..........................................................
Besar POM di Semarang periode 2015-2019 ...............................
Visi, Misi, Tujuan Sasaran Strategis dan Indikator Kegiatan Balai
Besar POM di Semarang Periode 2015 – 2019……………………
Sembilan Agenda Prioritas Pembangunan (Nawa Cita)………….
47
60
61
63
Indikator Balai Besar POM di Semarang………….......................
78
Besar POM diSemarang….............................................................
87
88
Gambar 1.2.
Gambar 1.3.
pendidikan tahun 2014....................................................................
Penjabaran Bisnis Proses Utama kepada Kegiatan Utama BPOM
Diagram Peran dan Permasalahan Badan POM………………….
Logframe Balai Besar POM di Semarang………………………...
Ilustrasi Penguatan Kerangka Kelembagaan BPOM untuk
peningkatan daya saing Obat dan Makanan.....................................
Kerangka Kelembagaan Pelaksanaan Mandat BPOM.....................
36
36
48
77
84
85
NOMOR : HK.04.95.05.15.2212
TAHUN 2015 – 2019
Menimbang:a. bahwa dengan telah ditetapkannya Rencana Pembangunan
JangkaMenengahNasional (RPJMN) 2015 - 2019, setiap instansi
pemerintahharus menyusun Rencana Strategis Kementrian/Lembaga;
b.bahwa dalam rangka mendukung pencapaian program-program prioritas
pemeritah agar pembangunan dapat berjalan dengan efektif, efisien
diperlukan adanya dokumen rencana pembangunan,
c. bahwa Rencana Strategis Badan Pengawas Obat dan Makanantelah
ditetapkan dengan Peraturan Kepala Badan Pengawas Obatdan
Makanan;
PerencanaanPembangunan Nasional;
Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005 – 2025;
3. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2006 tentang Tata Cara
Penyusunan Rencana Pembangunan Nasional (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 97, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4664);
4. Peraturan Presiden Republik lndonesia Nomor 2 Tahun 2015 tentang
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015 -
2019;
BAPENNAS Nomor 5 Tahun 2014 TentangPedoman Penyusunan dan
Penelaahan Rencana Strategis Kementrian/Lembaga (Renstra K/L) 2015
– 2019;
Indonesia Nomor. 02001/SK/KBPOM Tahun 2001 tentang Organisasi
dan Tata KerjaOrganisasi Badan POM sebagaimana telah diubah dengan
Keputusan Kepala Badan POM Nomor HK.00.05.21.4231 Tahun 2004;
7. Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 14 Tahun
2014 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis di
Lingkungan Badan POM (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2014
Nomor 1714);
8. Peraturan Kepala Badan POM Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2015
tentang Rencana Strategis Badan Pengawas Obat dan Makanan Tahun
2015-2019;
TENTANG RENCANA STRATEGIS BALAI BESAR POM DI
SEMARANG TAHUN 2015-2019.
PERTAMA : Rencana Strategis Balai Besar POM di Semarang Tahun 2015-2019 yang
selanjutnya disebut Renstra Balai Besar POM di Semarang Tahun 2015-2019
mengacu pada Renstra BadanPOM Tahun 2015-2019 yang disusun
berdasarkan RPJMN tahun 2015-2019 dan Pedoman Penyusunan dan
Penelaahan Rencana Strategis Kementerian/Lembaga (Renstra-K/L) 2015-
2019;
KEDUA : Pelaksanaan Rencana Strategis Balai Besar POM di Semarang Tahun 2015-2019
dituangkan dalam Rencana Kerja (Renja) Tahunan dan digunakan sebagai
dasar acuan bagi setiap Bidang dalam penyelenggaraan Sistem Akuntabilitas
Kinerja Instansi Pemerintah di lingkungan Balai Besar POM di Semarang;
KETIGA : Rencana Strategis Balai Besar POM di Semarang Tahun 2015-2019 dievaluasi
secara berkala pada paruh waktu dan tahun terakhir periode Rencana
Strategis, bertujuan untuk menilai hasil pelaksanaan program Badan
PengawasObat dan Makanan.Hasil evaluasi digunakan sebagai
dasarpenyusunan perubahan Rencana Strategis Balai Besar POM di
Semarang Tahun 2015-2019.
KEEMPAT : Renstra Balai Besar POM di Semarang Tahun 2015-2019 sebagaimana
dimaksud butir PERTAMA tersebut di atas, tercantum dalam Lampiran yang
merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan ini.
KELIMA : Pada Peraturan ini mulai berlaku, Rencana Strategis Balai Besar POM di
Semarang Tahun 2010-2014 dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
KEENAM : Peraturan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
Ditetapkan di Semarang
KEPALA BALAI BESAR
NIP. 195601061981031001
Rencana Strategik
Perencanaan Pembangunan Nasional, perencanaan pembangunan nasional disusun
dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) untuk jangka
waktu 20 tahun, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan
Rencana Strategis (Renstra) Kementerian/Lembaga untuk jangka waktu 5 tahun,
serta Rencana Pembangunan Tahunan yang selanjutnya disebut Rencana Kerja
Pemerintah (RKP) dan Rencana Kerja Kementerian/Lembaga (Renja K/L).
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025 yang
ditetapkan melalui Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 memberikan arah
sekaligus menjadi acuan bagi seluruh komponen bangsa (pemerintah, masyarakat
dan dunia usaha) di dalam mewujudkan cita-cita dan tujuan nasional. Selanjutnya
RPJPN ini dibagi menjadi empat tahapan Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Nasional (RPJMN), salah satunya adalah RPJMN 2015-2019 yang merupakan tahap
ketiga dari pelaksanaan RPJPN 2005-2025. RPJMN tahap ketiga ditujukan untuk
lebih memantapkan pembangunan secara menyeluruh di berbagai bidang dengan
menekankan pada pencapaian daya saing kompetitif perekonomian yang
berlandaskan keunggulan sumber daya alam, kualitas sumber daya manusia serta
kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus meningkat.
Sebagaimana amanat tersebut dan dalam rangka mendukung pencapaian
program-program prioritas pemerintah, Balai Besar PengawasObat dan Makanan di
Semarang sebagai unit pelaksana teknis Badan Pengawas Obat dan Makanan sesuai
kewenangan, tugas dan fungsinya menyusun Rencana Strategis (Renstra) yang
memuat visi, misi, tujuan, strategi, kebijakan serta program dan kegiatan untuk
periode 2015-2019. Penyusunan Renstra ini berpedoman pada RPJMN periode
2015-2019. Proses penyusunan Renstra tahun 2015-2019 dilakukan sesuai dengan
amanat peraturan perundang-undangan yang berlaku dan hasil evaluasi pencapaian
kinerja tahun 2010-2014, serta memperhatikan harapan pemangku kepentingan
terkait. Diharapkan Renstra 2015 – 2019 ini dapat meningkatkankinerja Balai Besar
POM di Semarang seperti yang dirumuskan dalam tujuan dan sasaran.
Rencana Strategik
Badan Pengawas Obat dan Makanan merupakan salah satu Lembaga
Pemerintah Non Kementerian (LPNK) yang bertugas mengawasi peredaran obat,
obat tradisional, suplemen kesehatan, kosmetika dan makanan di wilayah Indonesia.
Balai Besar POM di Semarang sebagai unit pelaksana teknis Badan POM diberi
tugas mengawasi peredaran obat, obat tradisional, suplemen kesehatan, kosmetik
dan makanan di Wilayah Propinsi Jawa Tengah. Tugas, fungsi dan kewenangan
BPOM diatur dalam Keputusan PresidenNomor 103 Tahun 2001 tentang
Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja
Lembaga Pemerintah Non Departemen yang telah diubah terakhir kali dengan
Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2013 tentang Perubahan Ketujuh atas Keputusan
Presiden Nomor 103 Tahun 2001. Sesuai amanat ini, Badan POM
menyelenggarakan fungsi: (1) pengkajian dan penyusunan kebijakan nasional di
bidang pengawasan Obat dan Makanan; (2) pelaksanaan kebijakan tertentu di
bidang pengawasan Obat dan Makanan; (3) koordinasi kegiatan fungsional dalam
pelaksanaan tugas Badan POM; (4) pemantauan, pemberian bimbingan dan
pembinaan terhadap kegiatan instansi pemerintah dan masyarakat di bidang
pengawasan Obat dan Makanan; (5) penyelenggaraan pembinaan dan pelayanan
administrasi umum di bidang perencanaan umum, ketatausahaan, organisasi dan
tatalaksana, kepegawaian, keuangan, kearsipan, hukum, persandian, perlengkapan
dan rumah tangga.
Undang-undang dan peraturan Pemerintah lainnya yang menjadi landasan
teknis pelaksanaan tugas fungsi Badan POM antara lain (i) UU Nomor 18 Tahun
2012 tentang Pangan; (ii) UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan juncto PP
Nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif
berupa Produk Tembakau bagi Kesehatan; (iii) UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang
Narkotika; (iv) PP Nomor 40 Tahun 2013 tentang Pelaksanaan UU Nomor 35 Tahun
2009 tentang Narkotika; (v) PP Nomor 44 Tahun 2010 tentang Prekursor; (vi) PP
Nomor 21 Tahun2005 tentang Keamanan Hayati Produk Rekayasa Genetika; (vii)
PP Nomor 28 Tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu dan Gizi Pangan; serta (viii) PP
Nomor 72 Tahun 1998 tentang Pengamanan Sediaan Farmasi.
Dilihat dari fungsinya secara garis besarterdapat 3 (tiga) kegiatan Badan
POM, yakni: (1) Penapisan produk dalam rangka pengawasan Obat dan sebelum
Rencana Strategik
pengawasanObat dan Makanan serta dukungan regulatori kepada pelaku usaha
untuk pemenuhan standar dan ketentuan yang berlaku; b) Peningkatan
registrasi/penilaianObat dan Makanan yang diselesaikan tepat waktu; c) Peningkatan
inspeksi sarana produksi dan distribusi Obat dan Makanan dalam rangka pemenuhan
standar Good Manufacturing Practices (GMP) dan Good Distribution Practices
(GDP) terkini; dan d) Penguatan kapasitas laboratorium Badan POM. (2)
Pengawasan Obat dan Makananyang beredar di masyarakat (post-market) melalui a)
Pengambilan sampel dan pengujian; b) Peningkatan cakupan pengawasan sarana
produksi dan distribusi Obat dan Makanan, termasuk Pasar Aman dari Bahan
Berbahaya; c) Investigasi awal dan penyidikan kasus pelanggaran di bidang Obat
dan Makanan di Pusat dan Balai. (3) Pemberdayaan masyarakat melalui Komunikasi
Informasi dan Edukasi serta penguatan kerjasama kemitraan dengan pemangku
kepentingan dalam rangka meningkatkan efektivitas pengawasan Obat dan Makanan
di Pusat dan Balai melalui a) Public Warning; b) Pemberian Informasi dan
Penyuluhan/Komunikasi, Informasi, dan Edukasi kepada masyarakat dan pelaku
usaha di bidang Obat dan Makanan, serta; c) Peningkatan Pengawasan terhadap
Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS), peningkatan kegiatan BPOM Sahabat Ibu,
dan advokasi kepada masyarakat.
Tugas dan fungsi tersebut melekat pada Badan POM sebagai lembaga
pemerintah yang merupakan garda depan dalam hal perlindungan terhadap
konsumen. Di sisi lain, tugas dan fungsi Badan POM ini juga sangat penting dan
strategis dalam kerangka mendorong tercapainya Agenda Prioritas Pembangunan
(Nawa Cita) yang telah dicanangkan Presiden Joko Widodo, khususnya pada butir 5.
Meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia, khususnya di sektor kesehatan;
pada butir 2. Membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif demokratis
dan terpercaya; pada butir3. Membangun Indonesia dari pinggiran dengan
memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka Negara Kesatuan; pada butir 6.
Meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional; serta pada
butir 7. Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor
strategis ekonomi domestik. Oleh karena itu, BPOM sebagai lembaga pengawasan
Obat dan Makanan sangat penting untuk diperkuat, baik dari sisi kelembagaan
maupun kualitas sumber daya manusia, serta sarana pendukung lainnya seperti
laboratorium, sistem teknologi informasi.
4
Terkait dengan tugas dan fungsi Balai Besar POM di Semarang, kegiatan
yang diprioritaskan dalam kurun waktu 2015 – 2019 meliputi (1) Pengawasan Obat
dan Makanan sebelum beredar (pre-market) melaluia) Peningkatan inspeksi sarana
produksi dan distribusi Obat dan Makanan dalam rangka pemenuhan standar Good
Manufacturing Practices (GMP) dan Good Distribution Practices (GDP) terkini;
dan b) Penguatan kapasitas laboratorium BPOM. (2) Pengawasan Obat dan
Makanan beredar di masyarakat dilakukan optimalisasi melaluia) Pengambilan
sampel dan pengujian dengan memperhatikan risiko kritis; b) Peningkatan cakupan
pengawasan sarana produksi dan distribusi Obat dan Makanan, termasuk Pasar
Aman dari Bahan Berbahaya; c) Investigasi awal dan penyidikan kasus pelanggaran
di bidang Obat dan Makanan. (3) Pemberdayaan masyarakat melalui Komunikasi
Informasi dan Edukasi serta penguatan kerjasama kemitraan dengan pemangku
kepentingan dalam rangka meningkatkan efektivitas pengawasan Obat dan Makanan
di Pusat dan Balai melalui a) Pemberian Informasi dan Penyuluhan/Komunikasi,
Informasi, dan Edukasi kepada masyarakat dan pelaku usaha di bidang Obat dan
Makanan; b) Peningkatan peran dalam bimtek kepada kader keamanan pangan desa
dan pasar; c) Peningkatan peran dalam bimtek tenaga penyuluh dan pengawas
keamanan pangan Kabupaten/Kota; d) Pengawasan terhadap Pangan Jajanan Anak
Sekolah (PJAS), peningkatan kegiatan Badan POM Sahabat Ibu, dan advokasi
kepada masyarakat. Badan POM idealnya dapat menjalankan tugasnya secara lebih
proaktif, tidak reaktif, yang hanya bergerak ketika sudah ada kasus-kasus yang
dilaporkan. Namun, dengan luas wilayah darat Indonesia yang mencapai 1.922.570
km² merupakan salah satu faktor utama yang sangat sulit bagi Badan POM
melakukan fungsi pengawasan secara komprehensif. Negara Indonesia ini berbentuk
kepulauan yang tentu saja terdapat banyak pintu masuk bagi berbagai Obat dan
Makanan ke Indonesia. Namun hal ini tidak menjadi hambatan, bahkan justru
menjadi tantangan tersendiri bagi Badan POM untuk melakukan revitalisasi tehadap
kinerjanya dalam hal pengawasanObat dan Makanan, baik produksi dalam negeri
maupun impor yang beredar di masyarakat.
Rencana Strategik
Propinsi Jawa Tengah merupakan catchment area Balai Besar POM di
Semarang, dengan luas wilayah 3.254.412 ha dan jumlah penduduk 33.264.339
orang (tahun 2013), mencakup 35 Kabupaten/Kota (gambar 1). Posisi Jawa Tengah
berada diantara 2 (dua) propinsi besar yaitu Jawa Barat dan Jawa Timur.Jarak
tempuh terpanjang dari kota Propinsi ke kota Kabupaten adalah Kabupaten Cilacap
berjarak 282 km, dengan waktu tempuh 6 jam menggunakan kendaraan roda 4, dan
jarak terpendek adalah Kabupaten Demak yaitu 26 km dengan waktu tempuh kira-
kira 1,5 jam. Letak geografis wilayah Propinsi Jawa Tengah dimana dikelilingi
lautan, pintu masuk peredaran obat dan makanan selain melalui daratan banyak yang
melewati perairan, tentu merupakan permasalahan tersendiri. Untuk itu diperlukan
kerjasama lintas sektor yang kuat dalam penanganan permasalahan peredaran obat
dan makanan.
Balai Besar POM di Semarang berkantor di Jalan Madukoro Blok AA-BB
No 8 di Kota Semarang, menempati bangunan dua lantai dengan luas bangunan
3500 m² dari luas tanah 6000 m². Bangunan gedung kantor yang posisinyaberada
cukup dekat dengan pantai (± berjarak 3 km dari pantai) menyebabkan sering terjadi
banjir yang menggenangi gedung lantai satukarena rob air laut dan genangan
semakin pada saat musim penghujan.Kondisi ini sangat mempengaruhi kinerja
pegawai dalam melaksanakan tugasnya, karena akses jalan ke gedung kantor rawan
tertutup genangan air.Air laut selain dapat mempercepat korosi kendaraan juga uap
air laut akan menyebabkan kerusakan alat laboratorium.Kondisi tanah yang
Rencana Strategik
peninggian jalan dan halaman kantor dirasa kurang efektif dalam menanggulangi
banjir karena rob dan air hujan.
Dalam rangka mengatasi permasalahan tersebut di atas, Balai Besar POM di
Semarang memerlukan dukungan anggaran untuk pengadaan lahan dan
pembangunan gedung baru. Upaya yang telah dilakukan pada tahun 2013 yaitu
pengadaan tanah di lokasi yang jauh dari pantai dan bebas banjir (di Kecamatan
Banyumanik, Semarang) seluas 9845 m2 dengan nilai Rp. 23,5 M. Pada tahun 2014
telah dilakukan pembangunan talud dan pagar keliling di lokasi tersebut senilai Rp
1,2 M,pengadaanperencana DEDdan master plan untuk gedung Sub Bagian Tata
Usaha, Bidang Pemeriksaan dan Penyidikan serta Bidang Sertifikasi dan Layanan
Informasi Konsumen senilai Rp. 650 juta.Secara bertahap pada tahun 2015 akan
dilakukan pembangunan gedung tersebut senilai Rp.12,5 M dan pengadaan
Perencana DED gedung Laboratorium senilai Rp. 1,1 M. Pada tahun 2016 akan
dilaksanakan pembangunan gedung Laboratorium senilai Rp. 33,5 Mdan Konsultan
Pengawas senilai Rp. 750 juta. Selanjutnya pada tahun 2017 direncanakan dapat
dilakukan pembangunan gudang dan pendukung lainnya senilai Rp 22 M.
Diharapkan anggaran pembangunan seperti yang telah direncanakan dapat tersedia
sesuai kebutuhan dandengan terpenuhinya kebutuhan sarana dan prasarana, Balai
Besar POM di Semarangdapat lebih optimal dalam pelaksanaan kegiatan, dalam
memberikan pelayanan kepada masyarakat terkait pengawasan Obat dan Makanan.
1.1.2. Struktur Organisasi dan Sumber Daya Manusia
Stuktur Organisasi dan Tata Kerja Balai Besar POM di Semarang disusun
berdasarkan Keputusan Kepala Badan POM Nomor 05018/SK/KBPOM Tahun 2001
tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis di Lingkungan Badan
Pengawas Obat dan Makanan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir
dengan Peraturan Kepala Badan POM Nomor 14 Tahun 2014.Struktur organisasi
Balai Besar POM di Semarang sebagai berikut:
Rencana Strategik
Dalam mendukung pelaksanaan tugas-tugas Balai Besar POM di Semarang
diperlukan SDM yang memiliki keahlian dan kompetensi memadahi. Untuk pemenuhan
hal tersebut akan terus-menerus dilakukan peningkatan kompetensi SDM, sehingga tugas
fungsi dapat dilaksanakan secara optimal. Jumlah SDM Balai Besar POM di Semarang
pada awal tahun 2015 sebanyak 140 pegawai yang tersebar pada5 Bidang dengan 4
Seksi dan 1 Sub Bagian Tata Usaha sebagai pendukung kegiatan teknis.
Dihitung berdasarkan analisis beban kerja, dari target yang ditetapkan pada tahun
2015, untuk pelaksanaan tugas dan fungsi Balai Besar POM di Semarang belum
didukung dengan SDM yang memadahi baik dalam hal jumlah maupun proporsi
Terampil dan Ahli, dimana secara keseluruhan masih ada kekurangan SDM sejumlah 31
orang.
Dengan adanya kebijakan Pemerintah untuk melakukan moratorium pegawai
selama 5 (lima) tahun mulai tahun 2015-2019 berarti tidak ada penambahan pegawai
selama kurun waktu tersebut. Hal ini menyebabkan terjadinya kesenjangan jumlah
Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan
Sub Bag Tata Usaha
8
pegawai, karena sejumlah pegawai akan pensiun, pindah dan sebagainya dalam lima
tahun tersebut, sementara beban kerja makin meningkat. Jumlah pegawai yang akan
memasuki pensiun dari tahun 2015 sampai dengan 2019 sebanyak 20 orang dengan
perincian pada tahun 2015 sebanyak 1 (satu) orang, tahun 2016 sebanyak 5 (lima) orang,
tahun 2017 sebanyak 8 (delapan) orang, tahun 2018 sebanyak 5 (lima) orang dan pada
tahun 2019 sebanyak 1 (satu) orang. Adanya kekurangan pegawai yang signifikan
tersebut menyebabkan beberapa tugas dan fungsi pengawasan belum dapat dilakukan
secara optimal.
Adapun profilpegawai Balai Besar POM di Semarangpada Bidang/Seksi dan Sub
Bag TU berdasarkan ABK tahun 2015dan pegawai pensiun sampai dengan tahun 2019
seperti pada tabel berikut.
Tabel 1.1. Kebutuhan SDM Balai Besar POM di Semarang berdasarkan Analisa Beban
Kerja (ABK) Tahun 2015
Jumlah
Yang tersedia Th
Kekurangan
SDM 12 0 1 -2 4 0 1 15 31
Pensiun
1 (th 2015)
1 (th 2017)
20
Komposisi SDM Balai Besar POM di Semarang sampai dengan awal tahun
2015, Apoteker dan S2 lain 50 orang, S1 39 orang, D3 17 orang, Asisten Apoteker
dan SLA lain 27 orang, SLP kebawah 7 orang. Dengan komposisi tenaga tersebut
terlihat tenaga dengan pendidikan S1 dan S2 61,43%. Tenaga D3 pada bidang teknis
pengujian dan pengawasan jumlahnya belum memadai dibandingkan dengan beban
kerja yang harus dikerjakan oleh pengawas terampil pada Balai Besar POM di
Semarang. Hal tersebut diperlukan terobosan agar beban kerja yang ada dapat
diselesaikan oleh tenaga yang ada.Berikut disajikan jumlah SDM berdasarkan
tingkat pendidikan.
Rencana Strategik
Gambar 1.3. Profil Pegawai Balai Besar POM di Semarang berdasarTingkat
PendidikanTahun 2015
Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Semarang dalam
melaksanakan tugas dan fungsinya, sebagaimana dimaksud dalam Keputusan Kepala
Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor :
05018/SK/KBPOM, tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis di
lingkungan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), adalah sebagai berikut :
a. Tugas
Psikotropika dan Zat Adiktif lain, Obat Tradisional, Kosmetika, Produk
Komplemen, Pangan, dan Bahan Berbahaya.
b. Fungsi
2). Pelaksanaan pemeriksaan secara laboratorium, pengujian dan penilaian
mutu produk terapetik, narkotika, psikotropika dan zat adiktif lain, obat
tradisional, kosmetik, produk komplemen, pangan dan bahan berbahaya.
3). Pelaksanaan pemeriksaan laboratorium, pengujian dan penilaian mutu
produk secara mikrobiologi.
pada sarana produksi dan distribusi.
5). Pelaksanaan penyelidikan dan penyidikan pada kasus pelanggaran hukum.
Rencana Strategik
6). Pelaksanaan sertifikasi produk, sarana produksi dan distribusi tertentu yang
ditetapkan oleh Kepala Badan.
8). Evaluasi dan penyusunan laporan pengawasan Obat dan Makanan.
9). Pelaksanaan urusan tata usaha…