bahan baku dan proses pengolahan minyak di pertamina ru iii

45
http:// energishare.blogspot.com/ 2013/10/bahan-baku-dan-proses- pengolahan-minyak.html BAHAN BAKU DAN PROSES PENGOLAHAN MINYAK DI PERTAMINA RU III URAIAN PROSES PERTAMINA RU III PALEMBANG 2.1. Bahan Baku Bahan baku untuk PT PERTAMINA RU III berupa minyak mentah diperoleh dari wilayah Sumatera dan riau, yang didistribusikan melalui pipa dan kapal. 70% minyak mentah melalui pipa dariAdapun perbandingannya adalah 30% minyak mentah melalui kapal tanker. Jalur Penyaluranlapangan dan minyak mentah tersebut adalah : 1. Minyak mentah yang dikirim melalui sistem perpipaan adalah : - South Palembang District (SPD) dari DOH Prabumulih, - Talang Akar Pendopo Oil (TAP) dari DOH Prabumulih, - Jambi Asphalitic Oil (Paraffinic Oil), - Jene, dan - Ramba Crude Oil (RCO) dari DOH Jambi. 2. Minyak mentah yang dikirim menggunakan kapal tanker adalah : - Geragai Crude Oil (GCO) dari Santa Fe, Jambi, - Kaji Semoga Crude Oil (KSCO), - Sepanjang Crude Oil (SPO), - Sumatera Light Crude (SLC), dan - Duri Crude Oil (DCO) dari Riau. Setiap minyak mentah dari sumber yang berbeda tersebut akan ditampung dahulu di dalam tangki penampungan. Minyak mentah

Upload: findiagustianti

Post on 28-Dec-2015

61 views

Category:

Documents


0 download

TRANSCRIPT

Page 1: Bahan Baku Dan Proses Pengolahan Minyak Di Pertamina Ru III

http://energishare.blogspot.com/2013/10/bahan-baku-dan-proses-pengolahan-minyak.html

BAHAN BAKU DAN PROSES PENGOLAHAN MINYAK DI PERTAMINA RU III URAIAN PROSES PERTAMINA RU III PALEMBANG

2.1.    Bahan Baku Bahan baku untuk PT PERTAMINA RU III berupa minyak mentah diperoleh dari wilayah Sumatera dan riau, yang didistribusikan melalui pipa dan kapal. 70% minyak mentah melalui pipa dariAdapun perbandingannya adalah 30% minyak mentah melalui kapal tanker. Jalur Penyaluranlapangan dan minyak mentah tersebut adalah : 1.    Minyak mentah yang dikirim melalui sistem perpipaan adalah :-    South Palembang District (SPD) dari DOH Prabumulih,-    Talang Akar Pendopo Oil (TAP) dari DOH Prabumulih,-    Jambi Asphalitic Oil (Paraffinic Oil),-    Jene, dan-    Ramba Crude Oil (RCO) dari DOH Jambi.2.    Minyak mentah yang dikirim menggunakan kapal tanker adalah :-    Geragai Crude Oil (GCO) dari Santa Fe, Jambi,-    Kaji Semoga Crude Oil (KSCO),-    Sepanjang Crude Oil (SPO),-    Sumatera Light Crude (SLC), dan-    Duri Crude Oil (DCO) dari Riau.       Setiap minyak mentah dari sumber yang berbeda tersebut akan ditampung dahulu di dalam tangki penampungan. Minyak mentah tersebut seringkali masih mengandung kadar air yang cukup tinggi, baik dalam bentuk emulsi maupun air bebas. Adanya kandungan air dapat menyebabkan gangguan dalam unit-unit pengolahan sehingga sebelum dimasukkan ke dalam unit Distiller (CD), minyak mentah harus dipisahkan dari air terlebih dahulu.       

Setelah memiliki kandungan air yang sesuai spesifikasi, minyak mentah tersebut diumpankan ke Unit Crude Distiller dan Redistiller yang berbeda sesuai dengan komposisi dan sifat minyak tersebut. Minyak tersebut akan dijadikan umpan pada  Primary Process Unit (tabel 3) dan Secondary Process Unit (tabel 4).Tabel 3. Umpan Unit Primary Process

Page 2: Bahan Baku Dan Proses Pengolahan Minyak Di Pertamina Ru III

Nama    KeteranganCD II         SPD,Ramba,Jene,TAP,LalangCD III    SPD,Ramba,Jene,TAP,LalangCD IV    SPD,Ramba,Jene,TAP,LalangCD V    SPD,Ramba,JeneCD VI    Geragai,Bula,KajiSumber : Pertamina RU III Plaju, 2008

Tabel 4. Umpan Unit Secondary ProcessUnit                                            Bahan BakuHigh Vaccum Unit(HVU)RFCUUBB Distilling

Stabilizer C/A/BUnit PolimerisasiUnit Akilasi

Kilang Polipropylene    Long residueM/HVGO, long residueUnstab crack, comprimate (C5-C8),condensate gas, residual gasSR-TOPs(Straight Run-TOPs)Fresh Butane-ButyleneFresh Butane-Butylene dari BB DistillerRaw Propane-PropyleneSumber : Pertamina RU III Plaju, 2008

2.2. Deskripsi Proses    Dalam proses produksinya PT. Pertamina Persero RU III memiliki dua proses utama yaitu primary procces yang terdiri dari crude distiler (CD) II, III, IV, V, dan VI selain crude distiler unit di primary procces yaitu ReDistiller I/II. Sedangkan Secondary Procces terdiri dari Polimerisasi, Alkilasi, Stabilizer C/A/B, SRMGC, BBMGC, BB Distiller. High Vacuum Unit (HVU), Fluidized Cracking Catalityc Unit (FCCU) dan Stabilizer.

2.2.1    Primary ProccesPT PERTAMINA RU III memiliki 6 Crude Distiller yaitu Crude Distiller (CD) II, III, IV, V, dan ReDistiller I/II. Proses primer bertujuan untuk memisahkan komponen-komponen minyak mentah secara fisik dengan cara destilas. Pada awalnya ReDistiller I/II berfungsi untuk mendestilasi kembali slop oil(minyak tumpahan dan produk yang off spec)serta minyak mentah dengan spesifikasi khusus seperti kandungan pengotor yang tinggi pada crude oil yang kemudian diubah fungsinya sehingga menjadi sama seperti Crude Distiller (CD).

Proses yang dilakukan pada CD II, III, IV, V dan ReDistiller I/II disebut proses utama yang bertujuan untuk memisahkan komponen-komponen minyak mentah secara fisik dengan cara

Page 3: Bahan Baku Dan Proses Pengolahan Minyak Di Pertamina Ru III

distilasi. Pada awalnya ReDistiller I/II berfungsi untuk mendistilasi kembali slop oil (minyak tumpahan dan produk yang off spec) serta minyak mentah dengan spesifikasi khusus, tetapi kemudian diubah fungsinya sehingga menjadi sama seperti Crude Distiller (CD).

2.2.1.1    Crude Distiller  II (CD II)CD-II memiliki kapasitas 2000 ton/hari dengan tekanan 8,1 kg/cm2. Fungsi CD-II ini adalah untuk memisahkan fraksi-fraksi tertentu pada minyak mentah. Umpan unit berasal dari Sumatera Light Crude (SLC) dan Jene Crude. Unit ini terdiri atas 5 kolom fraksionator dan 1 kolom evaporator. Crude oil dipompakan kedalam preheater untuk pemanasan awal crude oil dipompakan dengan pompa P-31/32/33 menuju preheater 6-5/6 dan 6-1/2/3/4 sebagai pemanasan awal. Temperatur crude oil setelah keluar preheater yaitu 138˚C kemudian dialirkan ke dalam Furnace 1 untuk menaikan temperatur menjadi 256˚C. Crude oil dialirkan ke dalam evaporator 3-1 untuk memisahkan fase gas dan fase cair dengan tekanan 1,8 kg/cm2 dan temperatur 255˚C. Fase gas dari evaporator 3-1 masuk ke kolom destilasi-I sedagkan fase cair dipompakan dengan P-1/2 menuju funace 2 yang bertujuan untuk meningkatkan temperatur menjadi 344˚C dan selajutnya masuk ke dalam kolom destilasi-IV.Pada kolom destilasi-I terjadi proses detilasi bertingkat. Overheat kolom destilasi-I masuk ke kolom destilasi-V. Side stream kolom destilasi-I masuk ke kolom destilasi-II. Produk bawah kolom destilasi-II berupa LKD ( Light Kerosene Destillate ). Produk atas masuk ke reboiler yang bertujuan untuk menaikkan temparatur menjadi 118˚C sebelum masuk ke tangki accumulator dan diumpankan kembali sebagai reflux.  Produk  bawah kolom destilasi-I ditampung ke side striper (LCT stripper) 2-1 dan diumpankan ke top kolom destilasi-IV. Pada kolom destilasi V terjadi proses pemisahan berdasarkan fraksi gas dan nafhta. Temeperatur top kolom C. Produk atas kolomC dan temperatur bottom kolom yaitu 128yaitu  114 destilasi-V berupa fraksi gas kemudian dikondensasikan dan ditampung pada tangki akumulator 8-8. Pada tangki 8-8 terbagi menjadi 2 aliran, aliran ke atas berupa produk gas feed SRMGC, aliran kebawah dikembalikan ke kolom destilasi V sebagai reflux dan sebagian keluar sebagai produk Straight Run (SR)Top.  Aliran gas yang tidak terkondensasi dari produk atas kolom destilasi V berupa gas yang digunakan sebagai feed pada SRMGC dan sebagian lagi  dikondensasikan kembali sehingga menjadi Crude Residual (CR) Butane. Side stream kolom destilasi-V dipompakan ke kolom destilasi III untuk misahkan naptha. Produk bawah kolom destilasi V dikembalikan ke kolom destilasi-I sebagai reflux.Pada kolom destilasi IV, Temeperatur bagian atas kolom yaitu 181˚C dan temperatur bagian bawah  kolom yaitu 250˚C. Produk atas kolom IV dikondensasi dan dimasukkan ke tangki akumulator 8-6 dan digunakan sebagai reflux. Side stream kolom IV dimasukkan ke LCT Stripper bersama-sama dengan produk bawah kolom I. sebagian dimasukkan kembali ke kolom IV sebagai reflux dan sebagian sebagai produk Light Cold Test Gas Oil  (LCT), yang merupakan komponen produk solar. Produk bawah kolom destilasi IV didinginkan dan menghasilkan produk Long Residue sebagai feed HVU.

2.2.1.2    Crude Distiller  III (CD-III)Umpan masuk CD III berupa campuran Jene Crude Oil, Ramba Crude Oil dan SLC Crude Oil.  CD-III memiliki kapasitas 4000 ton/hari. Unit ini terdiri dari tiga kolom distilasi dan satu stabilizer.  Crude oil dipopakan ke dalam preheater 6-2, 6-1, 6-58, E-1008/A/B dan 6-3/4  untuk pemanasan awal, crude oil dengan temperatur 147˚C kemudian di alirkan ke dalam  stabilizer 1-4 untuk memisahkan gas dan cairan. Produk atas stabilizer 1-4 berupa fase gas dan  produk bawah

Page 4: Bahan Baku Dan Proses Pengolahan Minyak Di Pertamina Ru III

berupa cairan. Produk atas stabilizer masuk ke reboiler, sebagian produk atas stabilizer dikembalikan sebagai reflux dan sebagian lagi berupa Crude Butane dan gas umpan  unit SRMGC. Produk bawah stabilizer 1-4 masuk sebagai umpan kolom destilasi 1-1 dan sebagian lagi sebagai reflux.  Reboiling pada stabilizer 1-4 dilakukan memanfaatkan panas dari Furnace I.Pada C dan termperaturkolom destilasi 1-1, temperatur bagian atas kolom 143 C. Produk atas kolom destilasi 1-1 terjadibagian bawah kolom  273 proses destilasi bertingkat. Produk atas kolom destilasi 1-1 masuk  ke kolom 1-3 sebagai umpan.  Side stream kolom destilasi 1-1 masuk ke Side Stripper 2-4 dan Side Stripper 2-5 untuk dilakukan proses penguapan kembali. Dari Side Stripper sebagian keluar sebagai produk berupa Naphta III, IV dan sebagian  masuk kembali ke kolom 1-1 sebagai reflux. Produk bawah kolom 1-1 sebagian masuk ke Furnace I untuk meningkatkan temperatur menjadi 365˚C  dan diumpankan kembali ke kolom destilasi 1-1, sebagian lagi produk masuk kedalam furnace-II untuk proses pemanasan temperatur 311˚C  dan dijadikan umpan kolom destilasi 2-1.    Pada kolom destilasi 3-1, temperatur bagian atas  kolom 93˚C . Produk atas kolom destilasi I-3 dikondensasi pada kondenser 3-2 dan 5-1/2/3/5, dimasukkan ke tangki akumulator 8-3. Dari tangki ini sebagian dikeluarkan sebagai produk SR Tops, sebagian sebagai gas umpan ke SRMGC dan sebagian lagi dikembalika ke kolom 1-3. Pada kolom destilasi 1-2 umpan dari produk bawah kolom destilasi 1-1 yang telah di panaskan dengan memanfaatkan panas dari furnace II. Produk atas kolom destilasi 1-2 didinginkan dan kemudian ditampung pada tangki akumulator 8-2. Dari tangki akumulator 8-2 aliran dibagi menjadi dua. Aliran pertama dikembalikan sebagai reflux dan aliran lainnya sebagai produk LKD. Produk side strea terdiri dari 3 aliran side stream yang masuk ke dalam striper 2-1, 2-2, 2-3. Pada  masing- masing striper terjadi proses penguapan  kembali dan 2 proses kondensasi. keluaran dari striper sebagian berupa reflux dan sebagian lagi  berupa Heavy Kerosene Distillate (HKD), Light Cold Test Gas Oil (LCT) dan Heavy Cold Test Gas Oil (HCT). Produk bawah kolom I-2 ini menghasilkan long residue yang dikirim ke High Vacuum Unit (HVU). Reboiling kolom I-2 dilakukan menggunakan Furnace II yang juga digunakan untuk memanaskan umpan kolom I-2.

2.2.1.3    Crude Distiller (CD) IVUnit CD IV memiliki sistem pemrosesan produk serta perolehan produk yang sama dengan CD III. Namun penggunaan umpan di kedua crude distiller ini berbeda. CD IV hanya menggunakan umpan Ramba Crude Oil dan SLC Crude Oil saja.

2.2.1.4    Crude Distiller V (CD) Umpan dari unit ini adalah minyak mentah yang berasal dari South Palembang District (SPD) dan Talang Akar Pendopo (TAP). Umpan pada unit berasal dari 2 aliran. Aliran pertama yaitu aliran atas. Crude oil dengan laju alir 1200 Ton/hari dialirkan dengan  pompa P-27/28 menuju pre-heater 6-7/8/9/10 dan furnace F2C1 untuk  meningkatkan temperatur menjadi 250˚Cdan masuk ke kolom destilasi 1-1. Aliran kedua yaitu aliran bawah. Crude oil  dengan laju alir 3200 Ton/ hari aliran dipompakan dengan P-12/13 menjadi dua aliran. Aliran pertama, crude oil dialirkan melewati 5 pre-heater 6-1/2, 6-3/7A, 6-4,6-8,6-5A/6A untuk proses pemanasan awal. Aliran kedua, crude oil dialirkan melewati 2 pre-heater untuk prose pemanasan awal. Campuran crude oil dari aliran pertamadan kedua masuk ke flash colom. Pada flash colom terjaadi proses destilasi kilat. Produk atas flash colom masuk ke kolom destilasi 1-1, sedangkan produk bawah  dipompakan ke furnace 2 untuk meningkatkan temperatur menjadi 250˚C dan diumpanan ke

Page 5: Bahan Baku Dan Proses Pengolahan Minyak Di Pertamina Ru III

kolom destilasi 1-1.Pada kolom destilasi 1-1 temperatur top kolom 150˚C dan bottom kolom 243˚C. Produk bawah kolom destilasi 1-1 terbagi menjadi dua aliran. Sebagian produk bawah dipompakan ke furnace 3 dengan P-3/4A/B.  Sebagian side stream masuk side striper untuk proses penguapan kembali. Produk atas striper dikembalikan ke kolom 1-1 sedangkan produk bawah dikondensasi berupa LKD, dan sebagian lagi side stream digunakan sebagai reflux. Produk atas diumpankan ke kolom destilasi 1-3.Pada kolom destilasi 1-3 temperatur top kolom 105˚C dan bottom kolom 160˚C.  Produk bawah kolom destilasi berupa naphta IV, sebagian produk bawah digunakan sebagai reflux. Produk atas berupa fraksi gas yang dikondensasi dengan kondenser 5-5/6/7/8 dan ditampung pada accumulator 8-1. Fase yang tidak terkondensasi dalam accumulator keluar sebagai produk gas sedangkan fase cair dalikan ke kolom 1-4 sebagai umpan dan sebagian dialirkan kembali ke kolom destilasi 1-3. Side stream kolom destilasi 1-3 masuk ke striper untuk proses penguapan kembali. Produk atas berupa fase gas striper digunakan sebagai reflux dan produk bawah fase cair di kondensasi  berupa naphta II. Pada kolom destilasi 1-2 temperatur top kolom 200˚C dan bottom kolom 340˚C. Umpan yang berasal dari produk bawah kolom 1-1 dengan temperatur 325˚C masuk ke dalam kolom destilasi 1-2.  produk kolom 1-2 ditampung pada tangki akumulator kolom 8-3 yang berupa  produk Heavy Kerosene Destillate (HKD). Side stream  yang keluar terdiri dari 3 aliran. Side stream 1  didinginkan dan sebagian dikembalikan sebagai  Reflux dan sebagian menjadi produk BGO (Bandung Gas Oil) atau SGO (Special Gas Oil). Side stream  2 yang keluar masuk ke side stripper 2-1 untuk proses penguapan kembali. Fasa gas direfluks kembali dan fasa cair didinginkan sebagai produk LCT. Side stream 3 masuk ke side stripper 2-3 untuk proses penguapan kembali. Fasa gas direfluks kembali dan fasa cair didinginkan sebagai produk HCT. Produk bawah didinginkan dengan 4  HE berupa produk Long Residue, sebagian masuk ke HVU, sebagian sebagai (Low Sulphuric Waxy Residue) LSWR.Pada kolom destilasi 1-4 temperatur top kolom 70˚C  dan temperatur bottom kolom 100˚C. Umpan kolom destilasi 1-4 berasal dari side strean kolom destilasi 1-3. Produk atas kolom 1-4 dikondensasi. Produk yang tidak terkondensasi dijadikan produk gas untuk kemudian masuk SRMGC, sedangkan kondensat sebagian dikembalikan ke kolom 1-4 dan sebagi dijadikan produk SR TOP. Produk bawah dijadikan produk naptha I.2.2.1.6 Crude Distiller VI (CD VI) CD-VI ini digunakan untuk memisahkan fraksi-fraksi minyak bumi yang berasal dari Ramba, berdasarkan destilasi atmosferik. Kapasitas pengolahan CD-VI ini adalah 15.000 barrel per calendar day (15MBCD). Crude oil dipompakan dengan pompa P-1A/B/C. Terdapat 3 aliran crude oil. Aliran pertama, crude oil dialirkan ke Heat Exchanger E-7, E-6. Crude  oil digunakan sebagai media pendingin side stream kolom destilasi T-1 dan produk bawah kolom destilasi T-2, kemudian crude oil ditampung pada tangki D-2. Aliran kedua, crude oil dialirkan Heat Exchanger E-3 sebagai media pendingin produk atas kolom destilas Ti-2, kemudian ditampung pada tangki D-2. Aliran ketiga, crude oil dialirkan ke furnace dan bercampur dengan crude oil dari aliran 1 dan 2 pada tangki D-2. Crude oil dari tangki D-2 dialirkan melewati Furnace sebagai pemanasan awal sebelum memasuki kolom destilasi T-1 sebagai umpan. Pada kolom destilasi T-1, produk bawah yaitu fraksi berat yang berupa long residu. Side stream masuk ke striper untuk proses penguapan kembali. Produk atas striper digunakan sebagai reflux sedangkan produk bawah berupa diesel oil yang dikondensasi pada E-6. Produk atas kolom T-1 masuk ke kolom destilasi T-2 sebagai umpan. Pada kolom destilasi T-2, sebagian produk

Page 6: Bahan Baku Dan Proses Pengolahan Minyak Di Pertamina Ru III

bawahyang berupa kerosene dialirkan kembali ke top kolom destilasi T-1dan sebagian lagi dialirkan ke heat exchanger E-7 untuk dikondensasi. Produk atas kolom T-2 berupa naphta, kemudian dikondensasi dan ditampung pada tangki D-4. Sebagian naphta dari tangki D-4 di alirkan kembali ke kolom T-2 sebagai reflux dan sebagian lagi sebagai produk naphta.

2.2.1.5    Redistiller I/IIReDistiller I/II awalnya dibangun tahun 1937 (Red-I) dan 1940 (Red-II) dengan kapasitas masing-masing 600 ton/hari untuk mengolah produk off-spec. Kemudian dilakukan modifikasi untuk mengubah fungsinya untuk mengolah minyak mentah. Kedua kolom ini digabung dimana Red-I sebagai kolom-1 dan Red-II sebagai kolom 2. Kapasitas pengelolahannya adalah 1435 ton/hari.Umpan unit ini berasal dari SPD dan SLC. Sedangkan produk beserta perolehan dari Re-Distiller I/II disajikan pada Tabel 11 berikut.Tabel 11. Produk dan Perolehan ReDistiller I/II     Produk    Yield (%-wt)     Gas     Naptha     AvturDiesel (ADO)Long Residue    1.4914.997.8014.8960.83Sumber : Pedoman BPST Angkatan XIV. Penerbit PERTAMINA, Palembang. 2004

Umpan minyak mentah mengalami sejumlah pemanasan (pre-heating) sebelum masuk ke Furnace-I (F1C1) untuk menaikkan temperatur menjadi 258°C dan masuk ke Kolom 1-1. Produk atas akan didinginkan dan masuk ke tangki akumulator 8 1. Gas yang tak terkondensasi dijadikan produk Gas, sedangkan yang terkondensasi sebagian di-reflux dan sebagian sebagai produk naphta. Side stream yang keluar dari tray 19/20/21/22 masuk ke Avtur Side Striper 2-1 dengan 5 tray untuk memperbaiki flash point produk Avtur. Avtur Stripper dilengkapi dengan reboiler E-4. Produk stripper ini adalah Avtur. Reboiling Kolom 1-1 dilakukan pada Furnace-I (F1C2). Sedangkan produk bawahnya masuk sebagai umpan pada Kolom 1-2 pada tray-13Produk atas Kolom 1-2 didinginkan dan masuk pada tangki akumulator 8-2 dengan total reflux. Aliran dari tangki akumulator 8-2 sebagian direflux dan sebagian sebagai produk Automotive Diesel Oil (ADO). Reboiling dilakukan pada Furnace-II (F2C2). Sedangkan produk bawah kolom ini adalah Long Residue.

2.2.2    Secondary Procces           Secondary procces adalah proses pengolahan lanjut dari minyak bumi yang telah diolah dalam Primary Procces. Pada proses ini, dilakukan berbagai usaha untuk menghasilkan produk-produk yang lenih bernilai tinggi daripada residu pengolahan primer. PT. Pertamina Persero RU III memiliki 8 unit Secondary Procces (Proses sekunder) yaitu Butane-Butylene Motor Gas Compresor (SRMGC), Polimerisasi, Alkilasi, Stabilizer C/A/B, High Vacuum Unit, Riser Fluid Catalytic Cracking Unit (RFCCU).

Page 7: Bahan Baku Dan Proses Pengolahan Minyak Di Pertamina Ru III

2.2.2.1    Butane-Butylene Motor Gas Compressor (BBMGC)Unit ini berfungsi untuk meningkatkan tekanan umpan BB-Distiller menjadi 20 kg/cm2. Umpan berupa gas yang berasal dari SRMGC masuk ke tangki 1201. Fasa cair (condensate) akan ditingkatkan tekanannya dengan dan dijadikan umpan absorber 1-1 pada unit BB Distiller, sedangkan fasa gas dari tangki 1201 akan ditingkatkan tekanan dari 4 kg/cm2 menjadi 22 kg/cm2 menggunakan compressor. Kemudian aliran didinginkan pada cooler setelah mengalami peningkatan temperatur pada compressor, selanjutnya aliran masuk ke tangki akumulator 8-1/2/3/4. Gas dari tangki akumulator 8-1/2/3/4 akan disatukan sebagai residual gas, umpan dari unit BB-Distiller. Produk cair yang terbentuk akibat penurunan temperatur masuk ke tangki akumulator 8-5, dimana produk gas dari tangki ini akan digabungkan comprimate unit SRMGC.

2.2.2.2    BB Distiller Unit ini berfungsi untuk memisahkan gas hidrokarbon ringan ex CD. Unit ini terdiri dari kolom absorber 1-1, depropanizer 1-2, debuthanizer 1-3, dan stripper 1-4.Umpan yang berasal dari residual gas (BBMGC), comprimate, condenstate, dan unstab. Crack, masuk dalam kolom absorber 1-1. Tekanan operasi kolom ini adalah 20 kg/cm2, sedangkan temperatur bawah kolom 110°C dan temperatur atas 40°C. Sebagai absorber digunakan lean oil yang merupakan produk bawah kolom stripper 1-4. Tekanan operasi kolom ini tinggi agar proses absorbsi C3 dan fraksi berat lain dapat berjalan baik mengingat semakin tinggi tekanan semakin besar daya absorbsi gas. Selain itu agar Propan dapat dipisahkan pada kolom depropanizer 1-2 berikutnya.Gas C3 dan yang lebih berat diabsorbsi oleh lean oil dan keluar dari bagian bawah absorber, masuk ke surge tank 9-1, sedangkan gas C1 dan C2 tidak terabsorb dan masuk ke surge tank 9-4 sebagai refinery gas.Dari surge tank 9-1 aliran akan masuk ke kolom depropanizer 1-2. Aliran dari kolom 1-1, 1-2, 1-3, dan 1-4 berjalan berdasarkan beda tekan yang ada pada masing-masing kolom. Tekanan kolom 1-2 ini adalah 17 kg/cm2 dengan temperatur bottom 120°C dan top  42°C. Pada kondisi ini maka liquid Propan (C3) dapat dipisahkan sebagai produk atas. Gas yang terbentuk pada akumulator 8-11 akan digunakan sebagai refinery gas. Komponen C4 dan yang lebih berat akan keluar sebagai produk bawah dan diumpankan ke kolom debutanizer 1-3.Kondisi operasi debutanizer adalah pada tekanan 6 kg/cm2 dan temperatur bawah 120°C sedangkan temperatur atas 50°C. Pada kondisi ini, butane dan i-C4 (FBB) akan didapatkan sebagai produk atas sedangkan komponen-komponen C5 dan yang lebih berat akan keluar sebagai produk bawah dan masuk ke kolom stripper 1-4.Pada kolom stripper dengan tekanan 0,7 kg/cm2, maka sebagian fraksi  terutama pentana, akan menguap menjadi produk stab CR TOPS (sebagai LOMC). Produk bawah kolom stripper adalah minyak yang digunakan mengabsorb umpan pada kolom absorber (lean oil).Produk-produk yang dihasilkan pada unit ini adalah :a.    Refinery gas sebagai bahan bakar furnaceb.    Propana liquid sebagai LPG c.    FBB (Butane dan i-C4) sebagai LPG

Page 8: Bahan Baku Dan Proses Pengolahan Minyak Di Pertamina Ru III

d.    Stab. CR TOPS sebagai LOMC2.2.2.3    Straight Run Motor Gas Compressor (SRMGC)SRMGC berfungsi untuk menaikkan tekanan gas yang dihasilkan oleh CD, Stabilizer C/A/B dan  redistiller (idle). Gas bertekanan akan diumpankan ke BB Distiller. Penaikkan tekanan dengan dua tahap dilakukan untuk mengurangi kebutuhan energi, karena sebagian umpan (C4) dapat mencair pada tekanan 5 kg/cm2. Proses yang digunakan untuk membuat gas bertekanan adalah kompresi. SRMGC terdiri dari tiga buah kompresor, tiga buah cooler, buffer tank dan accumulator tank. Umpan gas masuk ke buffer tank (9-1) dengan tujuan untuk memisahkan komponen cair yang ada dalam gas. Fasa cair yang terbentuk pada tangki ini akan dipompa. Sedangkan fasa gas akan ditingkatkan tekanannya dari 0,8 kg/cm2 menjadi 5,5 kg/cm2 menggunakan kompressor C-1/2/3/4. Setelah itu gas didinginkan dengan menggunakan tiga buah cooler agar temperatur yang masuk ke BBMGC tidak terlalu tinggi. Gas kemudian dimasukkan ke dalam accu tank (tangki pengumpul). Pada tangki ini fasa cair terbentuk karena pendinginan dan peningkatan tekanan. Cairan tersebut dikenal sebagai comprimate dan harus dihilangkan dari fasa gas. Comprimate ini bersama dengan comprimate dari BBMGC dijadikan umpan BB Distiller. Sedangkan gas yang tidak terkondensasi juga diumpankan ke BBMGC.2.2.2.4    Unit PolimerisasiSebelum FBB (Fresh Butane-Buthylene) masuk ke unit alkilasi, FBB akan diolah terlebih dahulu di Unit Polimerisasi. Pada unit ini selain menghasilkan polimer sebagai HOMC (High Octane Mogas Component) juga dihasilkan gas yang menjadi umpan unit alkilasi. Umpan unit alkilasi diinginkan mempunyai perbandingan i-C4/C4= sebesar 0,97. Untuk mendapatkan perbandingan sebesar itu, cara yang terbaik adalah dengan cara polimerisasi. Umpan unit ini adalah alkilat dari Stabilizer 3 pada unit FCCU dengan kandungan C4= yang tinggi. Umpan terdiri dari C3=, C3, i-C4, n-C4, dan C4=.Pada unit ini terjadi reaksi polimerisasi dengan katalis P2O5. Reaksi berlangsung pada temperatur lebih tinggi dari 150 °C dan tekanan lebih besar dari 25 kg/cm2. Pada unit ini akan dihasilkan polimer yang merupakan HOMC dan produk gas yang dihasilkan akan menjadi umpan unit alkilasi.Unit ini terdiri dari 3 set konverter (reaktor), yang masing-masing set memiliki 3 buah konverter. Pada kondisi normal yang berjalan adalah 2 set sedangkan 1 set lain dalam kondisi penggantian katalis sampai siap digunakan. Katalis yang digunakan adalah P2O5. Umur katalis sekitar 3 bulan dengan penggantian katalis membutuhkan waktu sekitar 2-3 minggu. Umpan butan-butilen dipanaskan melalui pemanas dan kemudian masuk ke dalam konverter. Reaktor yang digunakan berjenis shell and tube, dimana pada bagian tube terdapat katalis dan tempat dimana reaksi terjadi. Pada bagian shell dialirkan oil (minyak) sebagai pengatur kestabilan temperatur reaksi. Produk polimerisasi yang keluar konverter dimasukkan ke dalam kolom stabilizer (1-1).  Produk atas kolom 1-1 dikondensasi dan ditampung pada tangki penampung (8-1) sebagai produk butan-butilen, sebagian produk dikembalikan ke kolom 1-1 dan sebagian dikirim ke tangki LPG. Produk bawah kolom dikirim ke rerun column. Produk atas rerun column dikondensasi dan ditampung pada tangki penampung untuk kemudian dikirim ke tangki high octane gasoline, sedangkan produk bawahnya ditampung sebagai produk mogas2.2.2.5    Unit AlkilasiAlkilasi merupakan suatu proses reaksi antara senyawa olefin dan isoparafin menggunakan katalis H2SO4. hasil dari reaksi ini adalah alkilat yang mempunyai berat molekulyang lebih besar dan bilangan oktannya tinggi. Disamping terjadi reaksi utama berupa alkilasi, dalam intensitas yang kecil juga terjadi reaksi samping berupa reaksi polimerisasi dan

Page 9: Bahan Baku Dan Proses Pengolahan Minyak Di Pertamina Ru III

perengkahan. Contoh reaksi alkilasi adalah reaksi antara butilen dengan isobutan yang dapat dilihat pada persamaan berikut:

Bahan baku unit ini adalah Raw Buthane-Buthylene (RBB) yang merupakan produk bawah dari Stabillizer 3. Rasio i-C4/C4= yang dijadikan feed adalah 0,97. Untuk mendapatkan rasio yang sesuai spesifikasi, maka umpan alkilasi diolah terlebih dahulu di Unit Polimerisasi. Raw Buthane-Buthylene hasil dari unit polimerisasi ditampung di tangki TK-1207/08 dan kemudian dipompakan melewati HE bersama-sama recyclei-buthane dari bagian bawah depropanizercolumn menuju reactor feed blending tank (8-8). Kemudian masuk ke reactor time tank (2-1/2/3) bersama-sama aliran bawah tangki dan diinjeksi dengan asam sulfat 98% menuju puncak tangki. Setelah terjadi sirkulasi, aliran keluar dari bawah dan didinginkan di chiller (3-1/2/3) dengan suhu antara 0-10 oC dan akhirnya kembali dimasukkan ke tangki (aliran atasnya) dan aliran bawahnya sebagai produk. Aliran masuk ke reaktor dari atas dan keluar dari reaktor masuk ke acid separator untuk memisahkan spent acid dan produk alkilat. Dari acid separator produk dialirkan ke final separator, selanjutnya masuk ke caustic settler (8-9) untuk menetralisasi spent acid yang terikut. NaOH akan bereaksi dengan asam sulfat membentuk garam dan air. Campuran ini akan keluar lewat aliran bawah settler, sedangkan produk alkilat keluar melalui bagian atas settler. Setelah melalui proses – proses di atas, produk masih terdiri dari campuran i-butan yang tidak bereaksi, propan, n-butan dan produk alkilat.2.2.2.6    Stabilizer C/A/BStabilizer C/A/B merupakan unit proses yang berfungsi untuk memisahkan SR Tops yang berasal dari CD dengan distilasi bertekanan. Unit ini berkapasitas 550 Ton/hari. Produk hasil pengolahan ini adalah gas, crude buthane, SBPX, dan Diisoheksan Top (DIH Top). Perolehan produk unit ini dapat dilihat pada Tabel 4.5.Tabel 12  Perolehan Produk Stabilizer C/A/BKomponen    %-wt  Gas    1,45 Crude buthane    17,27  SBPX 40    40,27  DIH Top    40,36  Loss    0,25Sumber : Pedoman BPST Angkatan XIV. Penerbit PERTAMINA, Palembang. 2004

Unit ini terdiri dari tiga buah kolom distilasi, yaitu C, A dan B. Diagram alir proses Stabilizer C/A/B dapat dilihat pada lampiran A. Umpan dari tangki K dibagi menjadi dua aliran. Aliran satu ke kolom C dan aliran dua ke kolom A. Sebelum masuk kolom kedua aliran ini dipanaskan oleh aliran bawah masing – masing kolom. Produk bawah dari kolom C dan A didinginkan pada HE dan cooler. Aliran ini merupakan produk DIH Top. Produk atas kolom C dan A masuk ke kondensor lalu ke tangki 8-1 dan 8-6. Gas yang tidak terkondensasi keluar sebagai refinery gas. Sedangkan kondensatnya sebagian direfluks dan sebagian masuk ke kolom B. Sebelum masuk ke kolom B, umpan dipanaskan terlebih dahulu dengan memanfaatkan panas dari aliran produk bawah kolom. Produk atas kolom B masuk ke kondensor lalu ke tangki pengumpul. Gas yang tidak terkondensasi keluar sebagai refinery gas. Sedangkan kondensatnya sebagian direfluks dan sebagian keluar sebagai crude butane. Produk bawah kolom B didinginkan pada HE. Sebagian dimasukkan ke dalam kolom A dan sebagian adalah produk SBPX.2.2.2.7 High Vacuum Unit (HVU)

Page 10: Bahan Baku Dan Proses Pengolahan Minyak Di Pertamina Ru III

HVU mengelolah long residue untuk mendapatkan kembali fraksi – fraksi ringan yang terkandung dalam residue. Fraksinasi dilakukan pada tekanan 70 mmHg absolut. Pemvakuman dilakukan dengan menggunakan tiga buah steamjet ejector yang disusun secara seri. Distilasi dilakukan pada tekanan dibawah tekanan kamar. Hal ini akan membuat titik didih dari umpan akan turun, sehingga pemanasan umpan tidak harus pada suhu yang tinggi. Pemanasan minyak pada suhu tinggi akan menyebabkan terjadi thermal cracking yang tidak diinginkan.HVU memiliki kapasitas maksimum sebesar 54.000 BPSD dengan produk-produk yang dihasilkan dapat dilihat pada Tabel 4.8.Tabel 13 Perolehan Produk HVUProduk    %-wtLVGO    22,18MVGO    20,46HVGO    18,06ShortResidue    39,31Sumber : Pedoman BPST Angkatan XIV. Penerbit PERTAMINA, Palembang. 2004

Long residue yang digunakan berasal dari dua sumber, yaitu hot feed dari long residue CD II-V dan cold feed dari tangki penyimpanan. Long residue dicampur dalam suatu drum, kemudian umpan dilewatkan pada preheater dengan media pemanas HVGO dilanjutkan dengan pemanasan seri oleh MVGO dan Vacuum Residue. Umpan yang keluar dari preheater dimasukkan ke furnace. Keluaran dari furnace dialirkan ke flash zone pada 400 oC pada tekanan 90 – 100 mmHg abs. Produk atas adalah LVGO yang merupakan komponen mogas sedangkan side stream merupakan MVGO dan HVGO yang merupakan hot feed FCCU. Produk bawah berupa vacuum residue yang merupakan komponen low sulfur waxes residue (LWSR).

2.2.2.8 Residue Fluid Catalytic Cracking Unit (RFCCU)RFCCU merupakan unit pengolahan minyak berdasarkan proses perengkahan (cracking) menggunakan katalis berbahan dasar silika-alumina (zeolit). Diagram alir RFFCU dapat dilihat pada Gambar B.17. RFCCU di R.U-III mengolah MVGO dan HVGO dari HVU dan long residue dari CD II-VI. Produk yang dihasilkan unit ini adalah minyak yang lebih ringan dengan bilangan oktan dan nilai ekonomi yang lebih tinggi. Produk utama yang dihasilkan adalah:-    Raw Propane-Propylene, sebagai bahan baku polipropilen-    Propan dan butan, sebagai komponen LPG-    Naphtha (HOMC)Sedangkan produk samping yang dihasilkan adalah:-    Dry gas sebagai refinery fuel gas-    Light Cycle Oil, sebagai thinner dan komponen blending LSWR-    Slurry sebagai komponen utama LSWR-    Coke, yang terdeposit pada katalisTujuan utama proses cracking adalah mengkonversi Medium Vacuum Gas Oil  dan Heavy Vacuum Gas Oil (M/HVGO) dari HVU dan minyak berat (long residue) menjadi produk minyak ringan yang memiliki nilai lebih tinggi. Produk utama yang dihasilkan keluaran dai RFCCU adalah :-    Raw Propane-Propilen, sebagai bahan baku polypropilen.-    Propane dan Butane, sebagai komponen LPG.

Page 11: Bahan Baku Dan Proses Pengolahan Minyak Di Pertamina Ru III

-    Naptha (HOMC).-    Selain itu, RFCCU juga menghasilkan produk sampingan, yaitu :-    Dry Gas sebagai refinery fuel gas.-    Light Cycle Oil, sebagai thinner dan komponen blending LSWR.-    Slurry sebagai komponen utama LSWR.-    Coke, yang terdeposit pada katalis.Deskripsi proses pada unit RFCCU :1.    Feed SystemUmpan RFCCU terdiri dari campuran antara VGO dan Long Residue dengan perbandingan 165.000 BPSD VGO dan 4.000 BPSD Long Residue. VGO yang berasal dari HVU dengan temperatur 2200C dipompakan ke vessel bersama-sama dengan Long Residue dari CD II/III/IV/V Plaju dengan temperatur 1500C.Untuk mencapai temperatur yang sesuai untuk feed reactor maka umpan tersebut dipanaskan di Furnace FC F-2 sehingga mencapai temperatur 3310C. sebelum masuk reactor, umpan diinjeksi dengan Antimony dengan kecepatan 0,75 – 2,1 kg/jam untuk mencegah adanya pengaruh metal content dalam umpan terhadap katalis. Metal Content tersebut dapat menyebabkan deaktivasi katalis.2.    Reaktor dan RegeneratorUmpan dengan kapasitas 120.600 kg/jam dan temperatur 3310C diinjeksikan ke dalam riser menggunakan 6 buah injector untuk direaksikan dengan katalis dari regenerator pada temperatur 650 – 7500C. Reaksi terjadi pada seluruh bagian riser dengan temperatur 5200C. untuk memperoleh sistem fluidisasi dan densitas yang baik, maka riser diinjeksikan dengan MP Steam. Di atas feed injector dipasang tiga buah MTC Injector Oil (HCO) atau heavy naphha. HCO digunakan untuk menambah terbentuknya coke pada katalis, sehingga dapat menaikkan temperatur regenerator, sedangkan heavy naphta diperlukan untuk menaikkan cracking selectivity.Tiga buah cyclone  mempunyai satu stage dipasang pada reactor dengan existing plenum chamber untuk meminimalkan terbawanya katalis ke kolom fraksionasi. Stripping steam diinjeksikan ke daerah stripper untuk mengurangi kadar minyak dalam katalis sebelum disirkulasikan ke regenerator. Hasil cracking yang berupa uap hidrokarbon dialirkan dari reaktor ke main fractionator untuk dipisahkan fraksi-fraksinya.Spent catalyst dari reaktor disirkulasikan ke regenerator yang dikontrol oleh Spent Slide Valve (SSV) untuk diregenerasi. Untuk memperlancar aliran spent catalyst di stand pipe maka dialirkan Control Air Blower (CAB) dengan laju alir 7.000 kg/jam dengan tekanan 2,49 kg/cm2g.Regenerasi katalis dilakukan dengan mengoksidasi coke pada katalis dengan udara yang di-supply oleh Main Air Blower (MAB). Flue Gas hasil pembakaran kemudian masuk ke lima buah cyclone yang memiliki dua stage untuk memisahkan partikel-partikel katalis yang terbawa. Flue Gas dengan temperatur 6760C yang keluar dari stack tersebut dimanfaatkan panasnya di Flue Gas Cooler untuk membangkitkan steam HHP.Temperatur dilute phase sedikit lebih tinggi daripada temperatur dense, yang disebabkan oleh adanya reaksi oksidasi CO. dengan adanya kondisi tersebut, maka perlu diperhatikan konsentrasi oksigen sebagai udara pembakar. Semakin banyak kandungan oksigen atau berkurangnya coke yang terbentuk, maka akan tercapai kondisi temperatur dilute phase yang tinggi (>7000C) sehingga terjadi kondisi after burning yang menyebabkan meningkatnya temperatur secara mendadak sehingga dapat merusak peralatan dan catalyst lost melalui stack.3.    Main Fractionator

Page 12: Bahan Baku Dan Proses Pengolahan Minyak Di Pertamina Ru III

Gas hasil cracking dengan temperatur 5200C dialirkan ke bottom kolom primary fractionator (FC -T1). Produk bawah dari primary fractionator yang berupa slurry oil ditarik dengan pompa FC P-4 menuju ke HE FC E-2 untuk memanaskan umpan. Produk atas (overhead vapour) dari primary fractionator ditransfer ke bottom kolom secondary fractionator FC T-20.Produk bawah secondary fractionator yang berupa (Light Crude Oil) LCO dibagi menjadi dua alian yaitu internal reflux dan sebagai umpan pada kolom stripper FC T-2. Internal reflux dikembalikan ke kolom primary absorber yang dikontrol oleh LIC 2005. Tujuh side stream dari kolom secondary fractionator digunakan sebagai reflux dan Total Pump Around (TPA). Reflux dikemballikan ke secondary fractionator yang dikontrol oleh level control LIC 2006. Sedangkan TPA dipompakan ke Sponge Absorber FLRS T-402 sebagai Lean Oil yang sebelumnya didinginkan oleh HE FLRS E-405. Aliran TPA dikontrol oleh FIC 2003, sedangkan temperatur dikontrol oleh TIC 2004 dengan mengoperasikan Air Fan Cooler FC E-21 (Top Pump Around Cooler). TPA kemudian dikembalikan ke puncak kolom secondary fractionator setelah dicampur dengan rich oil dari Sponge Absorber.Overhead vapour dari kolom secondary fractionator yang berupa gas dan gasoline dikondensasikan dengan partial condenser setelah dicampur dengan wash water. Condensed liquid dan vapour kemudian ditampung dalam drum FC D-20.Setelah dipisahkan dari kandungan air, condensed liquid dan vapour tersebut ditampung dalam distillate drum FC D-7. Setelah dipisakan airnya, maka condensed liquid (unstabilized gasoline) ditarik dengan pompa dan dipisahkan menjadi dua aliran, yaitu sebagai overhead reflux dan gasoline produk yang kemudian dikirim ke Primary Absorber FLRS T-401. Overhead reflux dikontrol oleh temperatur kontrol TIC-3 pada puncak Secondary Fractionator.Low pressure vapour (wet gas) dari distillate drum FC D-7 ditransfer ke Wet Gas Compressor FLRS C-101 dan akan dipisahkan kondensatnya di vessel compression suction drum FLRS D-401. Tekanan Main Fractionator dikontrol oleh PIC-1 yang dipasang pada Wet Gas Line.4.    Light End UnitFlue gas yang berasal dari FLRS D-401 dihisap dengan Wet Gas Compressor C-101 dan dimasukkan ke vessel interstage receiver (FLRS D-402). Sebagian gas keluaran compressor stage I disalurkan ke inlet partial condenser FC E-4 untuk mengatur press balance reactor. Outlet gas dari FLRS D-402 dengan temperatur 380C dan tekanan 3,72 kg/cm2g dihisap oleh comressor stage II dengan temperatur 1100C dan tekanan 15 kg/cm2g kemudian bergabungn dengan aliran-aliran :- Overhead kolom stripper FLRS T-403- Bottom product kolom Primary Absorber FLRS T-401- Wash water dari bottom vessel FLRS D-402.Gabungan keempat aliran tersebut dengan temperatur 720C sebelum masuk ke high vessel pressure receiver FLRS D-404 didinginkan terlebih dahulu dengan Air Fan Cooler FLRS E-401 (temperatur outlet 560C) dan cooler FLRS E-402 hingga diperoleh temperatur akhir 380C.Gas dari vessel FLRS D-404 dengan temperatur 380C dan tekanan 14,7 kg/cm2g, diumpankan ke kolom Primary Absorber FLRS T-401 dengan menggunakan Naphta dari distillate drum FC D-7 sebagai absorber. Gas dari overhead kolom Primary Absorber FLRS T-401 selanjutnya dimasukkan ke Sponge Absorber FLRS T-402. Sebagai absorber digunakan Lean Oil (dari Secondary Fractionator). Liquid dari vessel FLRS D-404 dialirkan dengan pompa menuju ke kolom stripper FLRS T-403. Sebelum masuk kolom fluida tersebut dipanaskan terlebih dahulu di HE FLRS E-406 hingga temperaturnya menjadi 610C. Bottom dari kolom stripper FLRS T-403 dengan temperatur 1220C dan tekanan 12 kg/cm2g, diumpankan ke kolom Debutanizer FLRS T-

Page 13: Bahan Baku Dan Proses Pengolahan Minyak Di Pertamina Ru III

102 untuk dipisahkan antara LPG dan Naphta. Umpan tersebut masuk ke kolom Debutanizer dipanaskan dulu oleh HE FLRS E-106 hingga temperatur 1260C. untuk kesempurnaan pemisahan maka pada bottom kolom debutanizer dipasang reboiler FLRS E-107 sehingga temperatur bottom adalah 1730C.Overhead dari kolom Debutanizer FLRS T-102 dengan tekanan 11 kg/cm2g dan temperatur 650C didinginkan dengan kondenser parsial FLRS E-108 dan ditampung di akumulator FLRS D-103. Fluida dari akumulator tersebut sebagian digunakan sebagai reflux, sebagian lainnya didinginkan lagi dan dialirkan ke stabilizer feed drum LS D-1.Bottom dari stabilizer feed drum LS D-1 diumpankan ke kolom Stabilizer LS T-1 dengan temperatur 780C. Overhead product dari kolom Stabilizer LS T-1 didinginkan dalam kondenser parsial LS E-4 dan ditampung di akumulator LS D-2 dengan kondisi tekanan 19,6 kg/cm2g dan temperatur 520C. Gas yang tidak terkondensasi kemudian digunakan sebagai fuel gas, sedangkan liquid yang terbentuk (propane-propylene) digunakan sebagai reflux dan sebagai umpan untuk unit polypropylene Plaju. Bottom product dari kolom Stabilizer LS T-1 yaitu C4 akan di-treating lebih lanjut.Untuk mempertajam pemisahan, bottom dari LS-T-1 ditarik dengan pompa LS-P-2 AB dimasukkan ke reboiler LS-E-6 untuk memperoleh pemanasan, agar fraksi propane propylene dapat naik puncak menara. Sebagian aliran dari bottom menara adalah fraksi LPG (C4 dan derivatnya) setelah didinginkan di cooler LS-E-5 AB dialirkan ke mericham LPG treater untuk dicuci dengan caustic soda agar senyawa belerang dalam LPG dapat dihilangkan/diturunkan.

2.2.3    Unit Produksi PolyPropyleneUnit PP di PERTAMINA RU-III Plaju mengolah RPP menjadi biji plastik dengan kapasitas produksi biji plastik/politam  (pellets) sebesar 45.200 ton/tahun. Biji Plastik/politam  (pellet) yang dihasilkan di PERTAMINA dibagi menjadi lima jenis sesuai dengan sifat fisiknya yaitu melt flow rate (MFR) dan fungsinya, yaitu:-     Injection Molding grade (PI), kapasitas 5,7 ton/jam-     Film grade (PF), kapasitas 5,7 ton/jam-     Tape atau Yarn grade (PY), kapasitas 5,7 ton/j-     Blow molding grade, kapasitas 4,5 ton/jam2.2.3.1    Deskripsi Proses Unit PolipropilenBahan baku PolyPropylene (PP) adalah raw propane-propylene (RPP) yang dihasilkan dari pengolahan minyak mentah di crude distiller and gas plant (CD&GP) dan crude destiller and light end (CD&L). Minyak mentah didestilasi dalam Crude Distiller Unit (CDU) di CD&GP. Fraksi berat CDU adalah residu yang kemudian diumpankan ke dalam HVU di CD&L. Produk bawah HVU direngkah secara katalitik dalam FCCU di CD&L sehingga menghasilkan beberapa produk, salah satunya adalah RPP.RPP yang dihasilkan dari FCCU mengandung komposisi 74% propylene, 17% propane, dan sisanya adalah pengotor yang berupa CO, CO2, H2S, merkaptan, dan air. RPP diumpankan ke dalam unit purifikasi dengan laju alir 9 ton/jam. Unit purifikasi terdiri atas:-    Ekstraktor Deethanol Amine (DEA) untuk menghilangkan CO dan H2S.-    Ekstraktor yang berisi NaOH untuk menghilangkan CO2.-    Dryer untuk menghilangkan kandungan air hingga kurang dari 7 ppm.-    Destilasi, sehingga menghasilkan Propane sebagai produk bawah yang diumpankan kembali ke CD&L, dan propylene sebagai produk atas dengan kemurnian 99,6%. Propylene ini kemudian diumpankan ke unit polimerisasi dengan laju alir 6 ton/jam.

Page 14: Bahan Baku Dan Proses Pengolahan Minyak Di Pertamina Ru III

 Unit polimerisasi terdiri dari impurities removal unit, reaktor, dan dryer. Di dalam impurities removal unit  terdapat stripper untuk menghilangkan metana dan etana, dehidrator untuk menghilangkan kadar air hingga kurang dari 1 ppm, COS adsorber, dan arsine adsorber. Dari arsine adsorber, propylene yang telah bersih dari pengotor dipolimerisasi di dalam reaktor.  Ada dua reaktor yang digunakan, yaitu primary reactor yang merupakan reaktor fasa cair dengan tekanan 32 kg/cm2 gauge dan temperatur 70oC, dan secondary reactor yang merupakan reaktor fasa gas dengan tekanan 18 kg/cm2 gauge dan temperatur 80oC. Reaksi polimerisasi ini berlangsung dengan bantuan katalis, yaitu TiCl3 yang merupakan main catalyst (MC), katalis AT berbahan dasar alumunium yang berfungsi sebagai pendukung katalis, dan katalis OF yang berfungsi untuk menyesuaikan isotactic index pada polimer yang akan dihasilkan. Ketiga katalis berbentuk serbuk, sehingga dibutuhkan pelarut heksana untuk mempermudah reaksi. Bahan lain yang digunakan dalam reaksi polimerisasi adalah hydrogen untuk memecahkan ikatan rangkap, dan mengatur MFR.Katalis MC dan OF dilarutkan dengan heksana, kemudian diumpankan bersama hidrogen dan propilen cair ke dalam primary reactor. Setelah itu diumpankan pula katalis AT ke dalam reaktor. Laju alir propilen yang diumpankan harus tinggi agar kecepatan reaksi berjalan lebih cepat dibandingkan laju polimerisasi untuk mencegah terjadinya penggumpalan. Pengadukan dilakukan selama reaksi berlangsung. Produk reaktor adalah slurry dan gas hidrogen. Slurry yang terbentuk dimasukkan ke fine separator. Fungsi fine separator adalah untuk memisahkan slurry dari gas hidrogen yang terbawa. Gas hidrogen tersebut dimasukkan kembali ke dalam primary reactor. Gas hidrogen keluaran primary reactor diumpankan ke bagian atas secondary reactor, yang kemudian dikeluarkan untuk dipompakan ke bagian bawah secondary reactor setelah dilewatkan pada kompresor. Slurry yang berasal dari fine partikel separator masuk ke bagian bawah secondary reactor, dan akan terfluidisasi dengan bantuan pengadukan dan udara bertekanan yang masuk dari bagian bawah reaktor. Hasil reaksi berupa bubuk yang kemudian dimasukkan ke dalam kondensor drum. Gas yang tidak terkondensasi diumpankan lagi ke dalam secondary reactor, sedangkan bubuk PP yang masih mengandung heksana dikeringkan dalam dryer.  Bubuk PP dengan laju alir 6 ton/jam dimasukkan bersama aditif  seperti pewarna, dan anti koagulan ke dalam extruder yang berputar dengan kecepatan 1000 rpm. Dengan putaran dan pemanasan, maka terbentuklah resin yang langsung dipotong dengan standar ukuran tertentu begitu keluar dari ujung ekstruder. Setelah pemotongan, resin PP dikontakkan dengan air sehingga membeku, dan terbentuklah biji plastik. Biji plastik tersebut dimasukkan ke dalam screener untuk memastikan ukuran biji plastik sesuai dengan product specification. Biji plastik tadi ditransportasikan dengan batuan N2 yang berasal dari plant tersendiri di unit PP, ke dalam silo sebelum dilakukan pengepakan. Setiap kantong pengepakan berisi 25  kg PP.

Diposkan 4th October 2013 oleh Ali Muslimin Label: BAHAN BAKU PENGOLAHAN CRUDE RU III 0

Page 15: Bahan Baku Dan Proses Pengolahan Minyak Di Pertamina Ru III

Tambahkan komentar

from share to share

Klasik Kartu Lipat Majalah Mozaik Bilah Sisi Cuplikan Kronologis

1.

Oct

4

BAHAN BAKU DAN PROSES PENGOLAHAN MINYAK DI PERTAMINA RU III URAIAN PROSES PERTAMINA RU III PALEMBANG

2.1.    Bahan Baku Bahan baku untuk PT PERTAMINA RU III berupa minyak mentah diperoleh dari wilayah Sumatera dan riau, yang didistribusikan melalui pipa dan kapal. 70% minyak mentah melalui pipa dariAdapun perbandingannya adalah 30% minyak mentah melalui kapal tanker. Jalur Penyaluranlapangan dan minyak mentah tersebut adalah : 1.    Minyak mentah yang dikirim melalui sistem perpipaan adalah :-    South Palembang District (SPD) dari DOH Prabumulih,-    Talang Akar Pendopo Oil (TAP) dari DOH Prabumulih,-    Jambi Asphalitic Oil (Paraffinic Oil),-    Jene, dan-    Ramba Crude Oil (RCO) dari DOH Jambi.2.    Minyak mentah yang dikirim menggunakan kapal tanker adalah :

Page 16: Bahan Baku Dan Proses Pengolahan Minyak Di Pertamina Ru III

-    Geragai Crude Oil (GCO) dari Santa Fe, Jambi,-    Kaji Semoga Crude Oil (KSCO),-    Sepanjang Crude Oil (SPO),-    Sumatera Light Crude (SLC), dan-    Duri Crude Oil (DCO) dari Riau.       Setiap minyak mentah dari sumber yang berbeda tersebut akan ditampung dahulu di dalam tangki penampungan. Minyak mentah tersebut seringkali masih mengandung kadar air yang cukup tinggi, baik dalam bentuk emulsi maupun air bebas. Adanya kandungan air dapat menyebabkan gangguan dalam unit-unit pengolahan sehingga sebelum dimasukkan ke dalam unit Distiller (CD), minyak mentah harus dipisahkan dari air terlebih dahulu.       

Setelah memiliki kandungan air yang sesuai spesifikasi, minyak mentah tersebut diumpankan ke Unit Crude Distiller dan Redistiller yang berbeda sesuai dengan komposisi dan sifat minyak tersebut. Minyak tersebut akan dijadikan umpan pada  Primary Process Unit (tabel 3) dan Secondary Process Unit (tabel 4).Tabel 3. Umpan Unit Primary ProcessNama    KeteranganCD II         SPD,Ramba,Jene,TAP,LalangCD III    SPD,Ramba,Jene,TAP,LalangCD IV    SPD,Ramba,Jene,TAP,LalangCD V    SPD,Ramba,JeneCD VI    Geragai,Bula,KajiSumber : Pertamina RU III Plaju, 2008

Tabel 4. Umpan Unit Secondary ProcessUnit                                            Bahan BakuHigh Vaccum Unit(HVU)RFCUUBB Distilling

Stabilizer C/A/BUnit PolimerisasiUnit Akilasi

Kilang Polipropylene    Long residueM/HVGO, long residueUnstab crack, comprimate (C5-C8),condensate gas, residual gasSR-TOPs(Straight Run-TOPs)Fresh Butane-ButyleneFresh Butane-Butylene dari BB DistillerRaw Propane-PropyleneSumber : Pertamina RU III Plaju, 2008

Page 17: Bahan Baku Dan Proses Pengolahan Minyak Di Pertamina Ru III

2.2. Deskripsi Proses    Dalam proses produksinya PT. Pertamina Persero RU III memiliki dua proses utama yaitu primary procces yang terdiri dari crude distiler (CD) II, III, IV, V, dan VI selain crude distiler unit di primary procces yaitu ReDistiller I/II. Sedangkan Secondary Procces terdiri dari Polimerisasi, Alkilasi, Stabilizer C/A/B, SRMGC, BBMGC, BB Distiller. High Vacuum Unit (HVU), Fluidized Cracking Catalityc Unit (FCCU) dan Stabilizer.

2.2.1    Primary ProccesPT PERTAMINA RU III memiliki 6 Crude Distiller yaitu Crude Distiller (CD) II, III, IV, V, dan ReDistiller I/II. Proses primer bertujuan untuk memisahkan komponen-komponen minyak mentah secara fisik dengan cara destilas. Pada awalnya ReDistiller I/II berfungsi untuk mendestilasi kembali slop oil(minyak tumpahan dan produk yang off spec)serta minyak mentah dengan spesifikasi khusus seperti kandungan pengotor yang tinggi pada crude oil yang kemudian diubah fungsinya sehingga menjadi sama seperti Crude Distiller (CD).

Proses yang dilakukan pada CD II, III, IV, V dan ReDistiller I/II disebut proses utama yang bertujuan untuk memisahkan komponen-komponen minyak mentah secara fisik dengan cara distilasi. Pada awalnya ReDistiller I/II berfungsi untuk mendistilasi kembali slop oil (minyak tumpahan dan produk yang off spec) serta minyak mentah dengan spesifikasi khusus, tetapi kemudian diubah fungsinya sehingga menjadi sama seperti Crude Distiller (CD).

2.2.1.1    Crude Distiller  II (CD II)CD-II memiliki kapasitas 2000 ton/hari dengan tekanan 8,1 kg/cm2. Fungsi CD-II ini adalah untuk memisahkan fraksi-fraksi tertentu pada minyak mentah. Umpan unit berasal dari Sumatera Light Crude (SLC) dan Jene Crude. Unit ini terdiri atas 5 kolom fraksionator dan 1 kolom evaporator. Crude oil dipompakan kedalam preheater untuk pemanasan awal crude oil dipompakan dengan pompa P-31/32/33 menuju preheater 6-5/6 dan 6-1/2/3/4 sebagai pemanasan awal. Temperatur crude oil setelah keluar preheater yaitu 138˚C kemudian dialirkan ke dalam Furnace 1 untuk menaikan temperatur menjadi 256˚C. Crude oil dialirkan ke dalam evaporator 3-1 untuk memisahkan fase gas dan fase cair dengan tekanan 1,8 kg/cm2 dan temperatur 255˚C. Fase gas dari evaporator 3-1 masuk ke kolom destilasi-I sedagkan fase cair dipompakan dengan P-1/2 menuju funace 2 yang bertujuan untuk meningkatkan temperatur menjadi 344˚C dan selajutnya masuk ke dalam kolom destilasi-IV.Pada kolom destilasi-I terjadi proses detilasi bertingkat. Overheat kolom destilasi-I masuk ke kolom destilasi-V. Side stream kolom destilasi-I masuk ke kolom destilasi-II. Produk bawah kolom destilasi-II berupa LKD ( Light Kerosene Destillate ). Produk atas masuk ke reboiler yang bertujuan untuk menaikkan temparatur menjadi 118˚C sebelum masuk ke tangki accumulator dan diumpankan kembali sebagai reflux.  Produk  bawah kolom destilasi-I ditampung ke side striper (LCT stripper) 2-1 dan diumpankan ke top kolom destilasi-IV. Pada kolom destilasi V terjadi proses pemisahan berdasarkan fraksi gas dan nafhta.

Page 18: Bahan Baku Dan Proses Pengolahan Minyak Di Pertamina Ru III

Temeperatur top kolom C. Produk atas kolomC dan temperatur bottom kolom yaitu 128yaitu  114 destilasi-V berupa fraksi gas kemudian dikondensasikan dan ditampung pada tangki akumulator 8-8. Pada tangki 8-8 terbagi menjadi 2 aliran, aliran ke atas berupa produk gas feed SRMGC, aliran kebawah dikembalikan ke kolom destilasi V sebagai reflux dan sebagian keluar sebagai produk Straight Run (SR)Top.  Aliran gas yang tidak terkondensasi dari produk atas kolom destilasi V berupa gas yang digunakan sebagai feed pada SRMGC dan sebagian lagi  dikondensasikan kembali sehingga menjadi Crude Residual (CR) Butane. Side stream kolom destilasi-V dipompakan ke kolom destilasi III untuk misahkan naptha. Produk bawah kolom destilasi V dikembalikan ke kolom destilasi-I sebagai reflux.Pada kolom destilasi IV, Temeperatur bagian atas kolom yaitu 181˚C dan temperatur bagian bawah  kolom yaitu 250˚C. Produk atas kolom IV dikondensasi dan dimasukkan ke tangki akumulator 8-6 dan digunakan sebagai reflux. Side stream kolom IV dimasukkan ke LCT Stripper bersama-sama dengan produk bawah kolom I. sebagian dimasukkan kembali ke kolom IV sebagai reflux dan sebagian sebagai produk Light Cold Test Gas Oil  (LCT), yang merupakan komponen produk solar. Produk bawah kolom destilasi IV didinginkan dan menghasilkan produk Long Residue sebagai feed HVU.

2.2.1.2    Crude Distiller  III (CD-III)Umpan masuk CD III berupa campuran Jene Crude Oil, Ramba Crude Oil dan SLC Crude Oil.  CD-III memiliki kapasitas 4000 ton/hari. Unit ini terdiri dari tiga kolom distilasi dan satu stabilizer.  Crude oil dipopakan ke dalam preheater 6-2, 6-1, 6-58, E-1008/A/B dan 6-3/4  untuk pemanasan awal, crude oil dengan temperatur 147˚C kemudian di alirkan ke dalam  stabilizer 1-4 untuk memisahkan gas dan cairan. Produk atas stabilizer 1-4 berupa fase gas dan  produk bawah berupa cairan. Produk atas stabilizer masuk ke reboiler, sebagian produk atas stabilizer dikembalikan sebagai reflux dan sebagian lagi berupa Crude Butane dan gas umpan  unit SRMGC. Produk bawah stabilizer 1-4 masuk sebagai umpan kolom destilasi 1-1 dan sebagian lagi sebagai reflux.  Reboiling pada stabilizer 1-4 dilakukan memanfaatkan panas dari Furnace I.Pada C dan termperaturkolom destilasi 1-1, temperatur bagian atas kolom 143 C. Produk atas kolom destilasi 1-1 terjadibagian bawah kolom  273 proses destilasi bertingkat. Produk atas kolom destilasi 1-1 masuk  ke kolom 1-3 sebagai umpan.  Side stream kolom destilasi 1-1 masuk ke Side Stripper 2-4 dan Side Stripper 2-5 untuk dilakukan proses penguapan kembali. Dari Side Stripper sebagian keluar sebagai produk berupa Naphta III, IV dan sebagian  masuk kembali ke kolom 1-1 sebagai reflux. Produk bawah kolom 1-1 sebagian masuk ke Furnace I untuk meningkatkan temperatur menjadi 365˚C  dan diumpankan kembali ke kolom destilasi 1-1, sebagian lagi produk masuk kedalam furnace-II untuk proses pemanasan temperatur 311˚C  dan dijadikan umpan kolom destilasi 2-1.    Pada kolom destilasi 3-1, temperatur bagian atas  kolom 93˚C . Produk atas kolom destilasi I-3 dikondensasi pada kondenser 3-2 dan 5-1/2/3/5, dimasukkan ke tangki akumulator 8-3. Dari tangki ini sebagian dikeluarkan sebagai produk SR Tops, sebagian sebagai gas umpan ke SRMGC dan sebagian lagi dikembalika ke kolom 1-3. Pada kolom destilasi 1-2 umpan dari produk bawah kolom destilasi 1-1 yang telah di panaskan dengan memanfaatkan panas dari furnace II. Produk atas kolom destilasi 1-2 didinginkan dan kemudian ditampung pada tangki akumulator 8-2. Dari tangki

Page 19: Bahan Baku Dan Proses Pengolahan Minyak Di Pertamina Ru III

akumulator 8-2 aliran dibagi menjadi dua. Aliran pertama dikembalikan sebagai reflux dan aliran lainnya sebagai produk LKD. Produk side strea terdiri dari 3 aliran side stream yang masuk ke dalam striper 2-1, 2-2, 2-3. Pada  masing- masing striper terjadi proses penguapan  kembali dan 2 proses kondensasi. keluaran dari striper sebagian berupa reflux dan sebagian lagi  berupa Heavy Kerosene Distillate (HKD), Light Cold Test Gas Oil (LCT) dan Heavy Cold Test Gas Oil (HCT). Produk bawah kolom I-2 ini menghasilkan long residue yang dikirim ke High Vacuum Unit (HVU). Reboiling kolom I-2 dilakukan menggunakan Furnace II yang juga digunakan untuk memanaskan umpan kolom I-2.

2.2.1.3    Crude Distiller (CD) IVUnit CD IV memiliki sistem pemrosesan produk serta perolehan produk yang sama dengan CD III. Namun penggunaan umpan di kedua crude distiller ini berbeda. CD IV hanya menggunakan umpan Ramba Crude Oil dan SLC Crude Oil saja.

2.2.1.4    Crude Distiller V (CD) Umpan dari unit ini adalah minyak mentah yang berasal dari South Palembang District (SPD) dan Talang Akar Pendopo (TAP). Umpan pada unit berasal dari 2 aliran. Aliran pertama yaitu aliran atas. Crude oil dengan laju alir 1200 Ton/hari dialirkan dengan  pompa P-27/28 menuju pre-heater 6-7/8/9/10 dan furnace F2C1 untuk  meningkatkan temperatur menjadi 250˚Cdan masuk ke kolom destilasi 1-1. Aliran kedua yaitu aliran bawah. Crude oil  dengan laju alir 3200 Ton/ hari aliran dipompakan dengan P-12/13 menjadi dua aliran. Aliran pertama, crude oil dialirkan melewati 5 pre-heater 6-1/2, 6-3/7A, 6-4,6-8,6-5A/6A untuk proses pemanasan awal. Aliran kedua, crude oil dialirkan melewati 2 pre-heater untuk prose pemanasan awal. Campuran crude oil dari aliran pertamadan kedua masuk ke flash colom. Pada flash colom terjaadi proses destilasi kilat. Produk atas flash colom masuk ke kolom destilasi 1-1, sedangkan produk bawah  dipompakan ke furnace 2 untuk meningkatkan temperatur menjadi 250˚C dan diumpanan ke kolom destilasi 1-1.Pada kolom destilasi 1-1 temperatur top kolom 150˚C dan bottom kolom 243˚C. Produk bawah kolom destilasi 1-1 terbagi menjadi dua aliran. Sebagian produk bawah dipompakan ke furnace 3 dengan P-3/4A/B.  Sebagian side stream masuk side striper untuk proses penguapan kembali. Produk atas striper dikembalikan ke kolom 1-1 sedangkan produk bawah dikondensasi berupa LKD, dan sebagian lagi side stream digunakan sebagai reflux. Produk atas diumpankan ke kolom destilasi 1-3.Pada kolom destilasi 1-3 temperatur top kolom 105˚C dan bottom kolom 160˚C.  Produk bawah kolom destilasi berupa naphta IV, sebagian produk bawah digunakan sebagai reflux. Produk atas berupa fraksi gas yang dikondensasi dengan kondenser 5-5/6/7/8 dan ditampung pada accumulator 8-1. Fase yang tidak terkondensasi dalam accumulator keluar sebagai produk gas sedangkan fase cair dalikan ke kolom 1-4 sebagai umpan dan sebagian dialirkan kembali ke kolom destilasi 1-3. Side stream kolom destilasi 1-3 masuk ke striper untuk proses penguapan kembali. Produk atas berupa fase gas striper digunakan sebagai reflux dan produk bawah fase cair di kondensasi  berupa naphta II. Pada kolom destilasi 1-2 temperatur top kolom 200˚C dan bottom kolom 340˚C. Umpan yang berasal dari produk bawah kolom 1-1 dengan temperatur 325˚C masuk ke dalam kolom destilasi 1-2.  produk kolom 1-2 ditampung pada tangki akumulator kolom 8-3 yang berupa  produk Heavy Kerosene Destillate (HKD). Side stream  yang keluar terdiri

Page 20: Bahan Baku Dan Proses Pengolahan Minyak Di Pertamina Ru III

dari 3 aliran. Side stream 1  didinginkan dan sebagian dikembalikan sebagai  Reflux dan sebagian menjadi produk BGO (Bandung Gas Oil) atau SGO (Special Gas Oil). Side stream  2 yang keluar masuk ke side stripper 2-1 untuk proses penguapan kembali. Fasa gas direfluks kembali dan fasa cair didinginkan sebagai produk LCT. Side stream 3 masuk ke side stripper 2-3 untuk proses penguapan kembali. Fasa gas direfluks kembali dan fasa cair didinginkan sebagai produk HCT. Produk bawah didinginkan dengan 4  HE berupa produk Long Residue, sebagian masuk ke HVU, sebagian sebagai (Low Sulphuric Waxy Residue) LSWR.Pada kolom destilasi 1-4 temperatur top kolom 70˚C  dan temperatur bottom kolom 100˚C. Umpan kolom destilasi 1-4 berasal dari side strean kolom destilasi 1-3. Produk atas kolom 1-4 dikondensasi. Produk yang tidak terkondensasi dijadikan produk gas untuk kemudian masuk SRMGC, sedangkan kondensat sebagian dikembalikan ke kolom 1-4 dan sebagi dijadikan produk SR TOP. Produk bawah dijadikan produk naptha I.2.2.1.6 Crude Distiller VI (CD VI) CD-VI ini digunakan untuk memisahkan fraksi-fraksi minyak bumi yang berasal dari Ramba, berdasarkan destilasi atmosferik. Kapasitas pengolahan CD-VI ini adalah 15.000 barrel per calendar day (15MBCD). Crude oil dipompakan dengan pompa P-1A/B/C. Terdapat 3 aliran crude oil. Aliran pertama, crude oil dialirkan ke Heat Exchanger E-7, E-6. Crude  oil digunakan sebagai media pendingin side stream kolom destilasi T-1 dan produk bawah kolom destilasi T-2, kemudian crude oil ditampung pada tangki D-2. Aliran kedua, crude oil dialirkan Heat Exchanger E-3 sebagai media pendingin produk atas kolom destilas Ti-2, kemudian ditampung pada tangki D-2. Aliran ketiga, crude oil dialirkan ke furnace dan bercampur dengan crude oil dari aliran 1 dan 2 pada tangki D-2. Crude oil dari tangki D-2 dialirkan melewati Furnace sebagai pemanasan awal sebelum memasuki kolom destilasi T-1 sebagai umpan. Pada kolom destilasi T-1, produk bawah yaitu fraksi berat yang berupa long residu. Side stream masuk ke striper untuk proses penguapan kembali. Produk atas striper digunakan sebagai reflux sedangkan produk bawah berupa diesel oil yang dikondensasi pada E-6. Produk atas kolom T-1 masuk ke kolom destilasi T-2 sebagai umpan. Pada kolom destilasi T-2, sebagian produk bawahyang berupa kerosene dialirkan kembali ke top kolom destilasi T-1dan sebagian lagi dialirkan ke heat exchanger E-7 untuk dikondensasi. Produk atas kolom T-2 berupa naphta, kemudian dikondensasi dan ditampung pada tangki D-4. Sebagian naphta dari tangki D-4 di alirkan kembali ke kolom T-2 sebagai reflux dan sebagian lagi sebagai produk naphta.

2.2.1.5    Redistiller I/IIReDistiller I/II awalnya dibangun tahun 1937 (Red-I) dan 1940 (Red-II) dengan kapasitas masing-masing 600 ton/hari untuk mengolah produk off-spec. Kemudian dilakukan modifikasi untuk mengubah fungsinya untuk mengolah minyak mentah. Kedua kolom ini digabung dimana Red-I sebagai kolom-1 dan Red-II sebagai kolom 2. Kapasitas pengelolahannya adalah 1435 ton/hari.Umpan unit ini berasal dari SPD dan SLC. Sedangkan produk beserta perolehan dari Re-Distiller I/II disajikan pada Tabel 11 berikut.Tabel 11. Produk dan Perolehan ReDistiller I/II     Produk    Yield (%-wt)     Gas

Page 21: Bahan Baku Dan Proses Pengolahan Minyak Di Pertamina Ru III

     Naptha     AvturDiesel (ADO)Long Residue    1.4914.997.8014.8960.83Sumber : Pedoman BPST Angkatan XIV. Penerbit PERTAMINA, Palembang. 2004

Umpan minyak mentah mengalami sejumlah pemanasan (pre-heating) sebelum masuk ke Furnace-I (F1C1) untuk menaikkan temperatur menjadi 258°C dan masuk ke Kolom 1-1. Produk atas akan didinginkan dan masuk ke tangki akumulator 8 1. Gas yang tak terkondensasi dijadikan produk Gas, sedangkan yang terkondensasi sebagian di-reflux dan sebagian sebagai produk naphta. Side stream yang keluar dari tray 19/20/21/22 masuk ke Avtur Side Striper 2-1 dengan 5 tray untuk memperbaiki flash point produk Avtur. Avtur Stripper dilengkapi dengan reboiler E-4. Produk stripper ini adalah Avtur. Reboiling Kolom 1-1 dilakukan pada Furnace-I (F1C2). Sedangkan produk bawahnya masuk sebagai umpan pada Kolom 1-2 pada tray-13Produk atas Kolom 1-2 didinginkan dan masuk pada tangki akumulator 8-2 dengan total reflux. Aliran dari tangki akumulator 8-2 sebagian direflux dan sebagian sebagai produk Automotive Diesel Oil (ADO). Reboiling dilakukan pada Furnace-II (F2C2). Sedangkan produk bawah kolom ini adalah Long Residue.

2.2.2    Secondary Procces           Secondary procces adalah proses pengolahan lanjut dari minyak bumi yang telah diolah dalam Primary Procces. Pada proses ini, dilakukan berbagai usaha untuk menghasilkan produk-produk yang lenih bernilai tinggi daripada residu pengolahan primer. PT. Pertamina Persero RU III memiliki 8 unit Secondary Procces (Proses sekunder) yaitu Butane-Butylene Motor Gas Compresor (SRMGC), Polimerisasi, Alkilasi, Stabilizer C/A/B, High Vacuum Unit, Riser Fluid Catalytic Cracking Unit (RFCCU).

2.2.2.1    Butane-Butylene Motor Gas Compressor (BBMGC)Unit ini berfungsi untuk meningkatkan tekanan umpan BB-Distiller menjadi 20 kg/cm2. Umpan berupa gas yang berasal dari SRMGC masuk ke tangki 1201. Fasa cair (condensate) akan ditingkatkan tekanannya dengan dan dijadikan umpan absorber 1-1 pada unit BB Distiller, sedangkan fasa gas dari tangki 1201 akan ditingkatkan tekanan dari 4 kg/cm2 menjadi 22 kg/cm2 menggunakan compressor. Kemudian aliran didinginkan pada cooler setelah mengalami peningkatan temperatur pada compressor, selanjutnya aliran masuk ke tangki akumulator 8-1/2/3/4. Gas dari tangki akumulator 8-1/2/3/4 akan disatukan sebagai residual gas, umpan dari unit BB-Distiller. Produk cair yang terbentuk akibat penurunan temperatur masuk ke tangki akumulator 8-5, dimana produk gas dari tangki ini akan digabungkan comprimate unit SRMGC.

Page 22: Bahan Baku Dan Proses Pengolahan Minyak Di Pertamina Ru III

2.2.2.2    BB Distiller Unit ini berfungsi untuk memisahkan gas hidrokarbon ringan ex CD. Unit ini terdiri dari kolom absorber 1-1, depropanizer 1-2, debuthanizer 1-3, dan stripper 1-4.Umpan yang berasal dari residual gas (BBMGC), comprimate, condenstate, dan unstab. Crack, masuk dalam kolom absorber 1-1. Tekanan operasi kolom ini adalah 20 kg/cm2, sedangkan temperatur bawah kolom 110°C dan temperatur atas 40°C. Sebagai absorber digunakan lean oil yang merupakan produk bawah kolom stripper 1-4. Tekanan operasi kolom ini tinggi agar proses absorbsi C3 dan fraksi berat lain dapat berjalan baik mengingat semakin tinggi tekanan semakin besar daya absorbsi gas. Selain itu agar Propan dapat dipisahkan pada kolom depropanizer 1-2 berikutnya.Gas C3 dan yang lebih berat diabsorbsi oleh lean oil dan keluar dari bagian bawah absorber, masuk ke surge tank 9-1, sedangkan gas C1 dan C2 tidak terabsorb dan masuk ke surge tank 9-4 sebagai refinery gas.Dari surge tank 9-1 aliran akan masuk ke kolom depropanizer 1-2. Aliran dari kolom 1-1, 1-2, 1-3, dan 1-4 berjalan berdasarkan beda tekan yang ada pada masing-masing kolom. Tekanan kolom 1-2 ini adalah 17 kg/cm2 dengan temperatur bottom 120°C dan top  42°C. Pada kondisi ini maka liquid Propan (C3) dapat dipisahkan sebagai produk atas. Gas yang terbentuk pada akumulator 8-11 akan digunakan sebagai refinery gas. Komponen C4 dan yang lebih berat akan keluar sebagai produk bawah dan diumpankan ke kolom debutanizer 1-3.Kondisi operasi debutanizer adalah pada tekanan 6 kg/cm2 dan temperatur bawah 120°C sedangkan temperatur atas 50°C. Pada kondisi ini, butane dan i-C4 (FBB) akan didapatkan sebagai produk atas sedangkan komponen-komponen C5 dan yang lebih berat akan keluar sebagai produk bawah dan masuk ke kolom stripper 1-4.Pada kolom stripper dengan tekanan 0,7 kg/cm2, maka sebagian fraksi  terutama pentana, akan menguap menjadi produk stab CR TOPS (sebagai LOMC). Produk bawah kolom stripper adalah minyak yang digunakan mengabsorb umpan pada kolom absorber (lean oil).Produk-produk yang dihasilkan pada unit ini adalah :a.    Refinery gas sebagai bahan bakar furnaceb.    Propana liquid sebagai LPG c.    FBB (Butane dan i-C4) sebagai LPGd.    Stab. CR TOPS sebagai LOMC2.2.2.3    Straight Run Motor Gas Compressor (SRMGC)SRMGC berfungsi untuk menaikkan tekanan gas yang dihasilkan oleh CD, Stabilizer C/A/B dan  redistiller (idle). Gas bertekanan akan diumpankan ke BB Distiller. Penaikkan tekanan dengan dua tahap dilakukan untuk mengurangi kebutuhan energi, karena sebagian umpan (C4) dapat mencair pada tekanan 5 kg/cm2. Proses yang digunakan untuk membuat gas bertekanan adalah kompresi. SRMGC terdiri dari tiga buah kompresor, tiga buah cooler, buffer tank dan accumulator tank. Umpan gas masuk ke buffer tank (9-1) dengan tujuan untuk memisahkan komponen cair yang ada dalam gas. Fasa cair yang terbentuk pada tangki ini akan dipompa. Sedangkan fasa gas akan ditingkatkan tekanannya dari 0,8 kg/cm2 menjadi 5,5 kg/cm2 menggunakan kompressor C-1/2/3/4. Setelah itu gas didinginkan dengan menggunakan tiga buah cooler agar

Page 23: Bahan Baku Dan Proses Pengolahan Minyak Di Pertamina Ru III

temperatur yang masuk ke BBMGC tidak terlalu tinggi. Gas kemudian dimasukkan ke dalam accu tank (tangki pengumpul). Pada tangki ini fasa cair terbentuk karena pendinginan dan peningkatan tekanan. Cairan tersebut dikenal sebagai comprimate dan harus dihilangkan dari fasa gas. Comprimate ini bersama dengan comprimate dari BBMGC dijadikan umpan BB Distiller. Sedangkan gas yang tidak terkondensasi juga diumpankan ke BBMGC.2.2.2.4    Unit PolimerisasiSebelum FBB (Fresh Butane-Buthylene) masuk ke unit alkilasi, FBB akan diolah terlebih dahulu di Unit Polimerisasi. Pada unit ini selain menghasilkan polimer sebagai HOMC (High Octane Mogas Component) juga dihasilkan gas yang menjadi umpan unit alkilasi. Umpan unit alkilasi diinginkan mempunyai perbandingan i-C4/C4= sebesar 0,97. Untuk mendapatkan perbandingan sebesar itu, cara yang terbaik adalah dengan cara polimerisasi. Umpan unit ini adalah alkilat dari Stabilizer 3 pada unit FCCU dengan kandungan C4= yang tinggi. Umpan terdiri dari C3=, C3, i-C4, n-C4, dan C4=.Pada unit ini terjadi reaksi polimerisasi dengan katalis P2O5. Reaksi berlangsung pada temperatur lebih tinggi dari 150 °C dan tekanan lebih besar dari 25 kg/cm2. Pada unit ini akan dihasilkan polimer yang merupakan HOMC dan produk gas yang dihasilkan akan menjadi umpan unit alkilasi.Unit ini terdiri dari 3 set konverter (reaktor), yang masing-masing set memiliki 3 buah konverter. Pada kondisi normal yang berjalan adalah 2 set sedangkan 1 set lain dalam kondisi penggantian katalis sampai siap digunakan. Katalis yang digunakan adalah P2O5. Umur katalis sekitar 3 bulan dengan penggantian katalis membutuhkan waktu sekitar 2-3 minggu. Umpan butan-butilen dipanaskan melalui pemanas dan kemudian masuk ke dalam konverter. Reaktor yang digunakan berjenis shell and tube, dimana pada bagian tube terdapat katalis dan tempat dimana reaksi terjadi. Pada bagian shell dialirkan oil (minyak) sebagai pengatur kestabilan temperatur reaksi. Produk polimerisasi yang keluar konverter dimasukkan ke dalam kolom stabilizer (1-1).  Produk atas kolom 1-1 dikondensasi dan ditampung pada tangki penampung (8-1) sebagai produk butan-butilen, sebagian produk dikembalikan ke kolom 1-1 dan sebagian dikirim ke tangki LPG. Produk bawah kolom dikirim ke rerun column. Produk atas rerun column dikondensasi dan ditampung pada tangki penampung untuk kemudian dikirim ke tangki high octane gasoline, sedangkan produk bawahnya ditampung sebagai produk mogas2.2.2.5    Unit AlkilasiAlkilasi merupakan suatu proses reaksi antara senyawa olefin dan isoparafin menggunakan katalis H2SO4. hasil dari reaksi ini adalah alkilat yang mempunyai berat molekulyang lebih besar dan bilangan oktannya tinggi. Disamping terjadi reaksi utama berupa alkilasi, dalam intensitas yang kecil juga terjadi reaksi samping berupa reaksi polimerisasi dan perengkahan. Contoh reaksi alkilasi adalah reaksi antara butilen dengan isobutan yang dapat dilihat pada persamaan berikut:

Bahan baku unit ini adalah Raw Buthane-Buthylene (RBB) yang merupakan produk bawah dari Stabillizer 3. Rasio i-C4/C4= yang dijadikan feed adalah 0,97. Untuk mendapatkan rasio yang sesuai spesifikasi, maka umpan alkilasi diolah terlebih dahulu di Unit Polimerisasi. Raw Buthane-Buthylene hasil dari unit polimerisasi ditampung di

Page 24: Bahan Baku Dan Proses Pengolahan Minyak Di Pertamina Ru III

tangki TK-1207/08 dan kemudian dipompakan melewati HE bersama-sama recyclei-buthane dari bagian bawah depropanizercolumn menuju reactor feed blending tank (8-8). Kemudian masuk ke reactor time tank (2-1/2/3) bersama-sama aliran bawah tangki dan diinjeksi dengan asam sulfat 98% menuju puncak tangki. Setelah terjadi sirkulasi, aliran keluar dari bawah dan didinginkan di chiller (3-1/2/3) dengan suhu antara 0-10 oC dan akhirnya kembali dimasukkan ke tangki (aliran atasnya) dan aliran bawahnya sebagai produk. Aliran masuk ke reaktor dari atas dan keluar dari reaktor masuk ke acid separator untuk memisahkan spent acid dan produk alkilat. Dari acid separator produk dialirkan ke final separator, selanjutnya masuk ke caustic settler (8-9) untuk menetralisasi spent acid yang terikut. NaOH akan bereaksi dengan asam sulfat membentuk garam dan air. Campuran ini akan keluar lewat aliran bawah settler, sedangkan produk alkilat keluar melalui bagian atas settler. Setelah melalui proses – proses di atas, produk masih terdiri dari campuran i-butan yang tidak bereaksi, propan, n-butan dan produk alkilat.2.2.2.6    Stabilizer C/A/BStabilizer C/A/B merupakan unit proses yang berfungsi untuk memisahkan SR Tops yang berasal dari CD dengan distilasi bertekanan. Unit ini berkapasitas 550 Ton/hari. Produk hasil pengolahan ini adalah gas, crude buthane, SBPX, dan Diisoheksan Top (DIH Top). Perolehan produk unit ini dapat dilihat pada Tabel 4.5.Tabel 12  Perolehan Produk Stabilizer C/A/BKomponen    %-wt  Gas    1,45 Crude buthane    17,27  SBPX 40    40,27  DIH Top    40,36  Loss    0,25Sumber : Pedoman BPST Angkatan XIV. Penerbit PERTAMINA, Palembang. 2004

Unit ini terdiri dari tiga buah kolom distilasi, yaitu C, A dan B. Diagram alir proses Stabilizer C/A/B dapat dilihat pada lampiran A. Umpan dari tangki K dibagi menjadi dua aliran. Aliran satu ke kolom C dan aliran dua ke kolom A. Sebelum masuk kolom kedua aliran ini dipanaskan oleh aliran bawah masing – masing kolom. Produk bawah dari kolom C dan A didinginkan pada HE dan cooler. Aliran ini merupakan produk DIH Top. Produk atas kolom C dan A masuk ke kondensor lalu ke tangki 8-1 dan 8-6. Gas yang tidak terkondensasi keluar sebagai refinery gas. Sedangkan kondensatnya sebagian direfluks dan sebagian masuk ke kolom B. Sebelum masuk ke kolom B, umpan dipanaskan terlebih dahulu dengan memanfaatkan panas dari aliran produk bawah kolom. Produk atas kolom B masuk ke kondensor lalu ke tangki pengumpul. Gas yang tidak terkondensasi keluar sebagai refinery gas. Sedangkan kondensatnya sebagian direfluks dan sebagian keluar sebagai crude butane. Produk bawah kolom B didinginkan pada HE. Sebagian dimasukkan ke dalam kolom A dan sebagian adalah produk SBPX.2.2.2.7 High Vacuum Unit (HVU)HVU mengelolah long residue untuk mendapatkan kembali fraksi – fraksi ringan yang terkandung dalam residue. Fraksinasi dilakukan pada tekanan 70 mmHg absolut. Pemvakuman dilakukan dengan menggunakan tiga buah steamjet ejector yang disusun secara seri. Distilasi dilakukan pada tekanan dibawah tekanan kamar. Hal ini akan membuat titik didih dari umpan akan turun, sehingga pemanasan umpan tidak harus pada

Page 25: Bahan Baku Dan Proses Pengolahan Minyak Di Pertamina Ru III

suhu yang tinggi. Pemanasan minyak pada suhu tinggi akan menyebabkan terjadi thermal cracking yang tidak diinginkan.HVU memiliki kapasitas maksimum sebesar 54.000 BPSD dengan produk-produk yang dihasilkan dapat dilihat pada Tabel 4.8.Tabel 13 Perolehan Produk HVUProduk    %-wtLVGO    22,18MVGO    20,46HVGO    18,06ShortResidue    39,31Sumber : Pedoman BPST Angkatan XIV. Penerbit PERTAMINA, Palembang. 2004

Long residue yang digunakan berasal dari dua sumber, yaitu hot feed dari long residue CD II-V dan cold feed dari tangki penyimpanan. Long residue dicampur dalam suatu drum, kemudian umpan dilewatkan pada preheater dengan media pemanas HVGO dilanjutkan dengan pemanasan seri oleh MVGO dan Vacuum Residue. Umpan yang keluar dari preheater dimasukkan ke furnace. Keluaran dari furnace dialirkan ke flash zone pada 400 oC pada tekanan 90 – 100 mmHg abs. Produk atas adalah LVGO yang merupakan komponen mogas sedangkan side stream merupakan MVGO dan HVGO yang merupakan hot feed FCCU. Produk bawah berupa vacuum residue yang merupakan komponen low sulfur waxes residue (LWSR).

2.2.2.8 Residue Fluid Catalytic Cracking Unit (RFCCU)RFCCU merupakan unit pengolahan minyak berdasarkan proses perengkahan (cracking) menggunakan katalis berbahan dasar silika-alumina (zeolit). Diagram alir RFFCU dapat dilihat pada Gambar B.17. RFCCU di R.U-III mengolah MVGO dan HVGO dari HVU dan long residue dari CD II-VI. Produk yang dihasilkan unit ini adalah minyak yang lebih ringan dengan bilangan oktan dan nilai ekonomi yang lebih tinggi. Produk utama yang dihasilkan adalah:-    Raw Propane-Propylene, sebagai bahan baku polipropilen-    Propan dan butan, sebagai komponen LPG-    Naphtha (HOMC)Sedangkan produk samping yang dihasilkan adalah:-    Dry gas sebagai refinery fuel gas-    Light Cycle Oil, sebagai thinner dan komponen blending LSWR-    Slurry sebagai komponen utama LSWR-    Coke, yang terdeposit pada katalisTujuan utama proses cracking adalah mengkonversi Medium Vacuum Gas Oil  dan Heavy Vacuum Gas Oil (M/HVGO) dari HVU dan minyak berat (long residue) menjadi produk minyak ringan yang memiliki nilai lebih tinggi. Produk utama yang dihasilkan keluaran dai RFCCU adalah :-    Raw Propane-Propilen, sebagai bahan baku polypropilen.-    Propane dan Butane, sebagai komponen LPG.-    Naptha (HOMC).-    Selain itu, RFCCU juga menghasilkan produk sampingan, yaitu :-    Dry Gas sebagai refinery fuel gas.

Page 26: Bahan Baku Dan Proses Pengolahan Minyak Di Pertamina Ru III

-    Light Cycle Oil, sebagai thinner dan komponen blending LSWR.-    Slurry sebagai komponen utama LSWR.-    Coke, yang terdeposit pada katalis.Deskripsi proses pada unit RFCCU :1.    Feed SystemUmpan RFCCU terdiri dari campuran antara VGO dan Long Residue dengan perbandingan 165.000 BPSD VGO dan 4.000 BPSD Long Residue. VGO yang berasal dari HVU dengan temperatur 2200C dipompakan ke vessel bersama-sama dengan Long Residue dari CD II/III/IV/V Plaju dengan temperatur 1500C.Untuk mencapai temperatur yang sesuai untuk feed reactor maka umpan tersebut dipanaskan di Furnace FC F-2 sehingga mencapai temperatur 3310C. sebelum masuk reactor, umpan diinjeksi dengan Antimony dengan kecepatan 0,75 – 2,1 kg/jam untuk mencegah adanya pengaruh metal content dalam umpan terhadap katalis. Metal Content tersebut dapat menyebabkan deaktivasi katalis.2.    Reaktor dan RegeneratorUmpan dengan kapasitas 120.600 kg/jam dan temperatur 3310C diinjeksikan ke dalam riser menggunakan 6 buah injector untuk direaksikan dengan katalis dari regenerator pada temperatur 650 – 7500C. Reaksi terjadi pada seluruh bagian riser dengan temperatur 5200C. untuk memperoleh sistem fluidisasi dan densitas yang baik, maka riser diinjeksikan dengan MP Steam. Di atas feed injector dipasang tiga buah MTC Injector Oil (HCO) atau heavy naphha. HCO digunakan untuk menambah terbentuknya coke pada katalis, sehingga dapat menaikkan temperatur regenerator, sedangkan heavy naphta diperlukan untuk menaikkan cracking selectivity.Tiga buah cyclone  mempunyai satu stage dipasang pada reactor dengan existing plenum chamber untuk meminimalkan terbawanya katalis ke kolom fraksionasi. Stripping steam diinjeksikan ke daerah stripper untuk mengurangi kadar minyak dalam katalis sebelum disirkulasikan ke regenerator. Hasil cracking yang berupa uap hidrokarbon dialirkan dari reaktor ke main fractionator untuk dipisahkan fraksi-fraksinya.Spent catalyst dari reaktor disirkulasikan ke regenerator yang dikontrol oleh Spent Slide Valve (SSV) untuk diregenerasi. Untuk memperlancar aliran spent catalyst di stand pipe maka dialirkan Control Air Blower (CAB) dengan laju alir 7.000 kg/jam dengan tekanan 2,49 kg/cm2g.Regenerasi katalis dilakukan dengan mengoksidasi coke pada katalis dengan udara yang di-supply oleh Main Air Blower (MAB). Flue Gas hasil pembakaran kemudian masuk ke lima buah cyclone yang memiliki dua stage untuk memisahkan partikel-partikel katalis yang terbawa. Flue Gas dengan temperatur 6760C yang keluar dari stack tersebut dimanfaatkan panasnya di Flue Gas Cooler untuk membangkitkan steam HHP.Temperatur dilute phase sedikit lebih tinggi daripada temperatur dense, yang disebabkan oleh adanya reaksi oksidasi CO. dengan adanya kondisi tersebut, maka perlu diperhatikan konsentrasi oksigen sebagai udara pembakar. Semakin banyak kandungan oksigen atau berkurangnya coke yang terbentuk, maka akan tercapai kondisi temperatur dilute phase yang tinggi (>7000C) sehingga terjadi kondisi after burning yang menyebabkan meningkatnya temperatur secara mendadak sehingga dapat merusak peralatan dan catalyst lost melalui stack.3.    Main FractionatorGas hasil cracking dengan temperatur 5200C dialirkan ke bottom kolom primary

Page 27: Bahan Baku Dan Proses Pengolahan Minyak Di Pertamina Ru III

fractionator (FC -T1). Produk bawah dari primary fractionator yang berupa slurry oil ditarik dengan pompa FC P-4 menuju ke HE FC E-2 untuk memanaskan umpan. Produk atas (overhead vapour) dari primary fractionator ditransfer ke bottom kolom secondary fractionator FC T-20.Produk bawah secondary fractionator yang berupa (Light Crude Oil) LCO dibagi menjadi dua alian yaitu internal reflux dan sebagai umpan pada kolom stripper FC T-2. Internal reflux dikembalikan ke kolom primary absorber yang dikontrol oleh LIC 2005. Tujuh side stream dari kolom secondary fractionator digunakan sebagai reflux dan Total Pump Around (TPA). Reflux dikemballikan ke secondary fractionator yang dikontrol oleh level control LIC 2006. Sedangkan TPA dipompakan ke Sponge Absorber FLRS T-402 sebagai Lean Oil yang sebelumnya didinginkan oleh HE FLRS E-405. Aliran TPA dikontrol oleh FIC 2003, sedangkan temperatur dikontrol oleh TIC 2004 dengan mengoperasikan Air Fan Cooler FC E-21 (Top Pump Around Cooler). TPA kemudian dikembalikan ke puncak kolom secondary fractionator setelah dicampur dengan rich oil dari Sponge Absorber.Overhead vapour dari kolom secondary fractionator yang berupa gas dan gasoline dikondensasikan dengan partial condenser setelah dicampur dengan wash water. Condensed liquid dan vapour kemudian ditampung dalam drum FC D-20.Setelah dipisahkan dari kandungan air, condensed liquid dan vapour tersebut ditampung dalam distillate drum FC D-7. Setelah dipisakan airnya, maka condensed liquid (unstabilized gasoline) ditarik dengan pompa dan dipisahkan menjadi dua aliran, yaitu sebagai overhead reflux dan gasoline produk yang kemudian dikirim ke Primary Absorber FLRS T-401. Overhead reflux dikontrol oleh temperatur kontrol TIC-3 pada puncak Secondary Fractionator.Low pressure vapour (wet gas) dari distillate drum FC D-7 ditransfer ke Wet Gas Compressor FLRS C-101 dan akan dipisahkan kondensatnya di vessel compression suction drum FLRS D-401. Tekanan Main Fractionator dikontrol oleh PIC-1 yang dipasang pada Wet Gas Line.4.    Light End UnitFlue gas yang berasal dari FLRS D-401 dihisap dengan Wet Gas Compressor C-101 dan dimasukkan ke vessel interstage receiver (FLRS D-402). Sebagian gas keluaran compressor stage I disalurkan ke inlet partial condenser FC E-4 untuk mengatur press balance reactor. Outlet gas dari FLRS D-402 dengan temperatur 380C dan tekanan 3,72 kg/cm2g dihisap oleh comressor stage II dengan temperatur 1100C dan tekanan 15 kg/cm2g kemudian bergabungn dengan aliran-aliran :- Overhead kolom stripper FLRS T-403- Bottom product kolom Primary Absorber FLRS T-401- Wash water dari bottom vessel FLRS D-402.Gabungan keempat aliran tersebut dengan temperatur 720C sebelum masuk ke high vessel pressure receiver FLRS D-404 didinginkan terlebih dahulu dengan Air Fan Cooler FLRS E-401 (temperatur outlet 560C) dan cooler FLRS E-402 hingga diperoleh temperatur akhir 380C.Gas dari vessel FLRS D-404 dengan temperatur 380C dan tekanan 14,7 kg/cm2g, diumpankan ke kolom Primary Absorber FLRS T-401 dengan menggunakan Naphta dari distillate drum FC D-7 sebagai absorber. Gas dari overhead kolom Primary Absorber FLRS T-401 selanjutnya dimasukkan ke Sponge Absorber FLRS T-402. Sebagai

Page 28: Bahan Baku Dan Proses Pengolahan Minyak Di Pertamina Ru III

absorber digunakan Lean Oil (dari Secondary Fractionator). Liquid dari vessel FLRS D-404 dialirkan dengan pompa menuju ke kolom stripper FLRS T-403. Sebelum masuk kolom fluida tersebut dipanaskan terlebih dahulu di HE FLRS E-406 hingga temperaturnya menjadi 610C. Bottom dari kolom stripper FLRS T-403 dengan temperatur 1220C dan tekanan 12 kg/cm2g, diumpankan ke kolom Debutanizer FLRS T-102 untuk dipisahkan antara LPG dan Naphta. Umpan tersebut masuk ke kolom Debutanizer dipanaskan dulu oleh HE FLRS E-106 hingga temperatur 1260C. untuk kesempurnaan pemisahan maka pada bottom kolom debutanizer dipasang reboiler FLRS E-107 sehingga temperatur bottom adalah 1730C.Overhead dari kolom Debutanizer FLRS T-102 dengan tekanan 11 kg/cm2g dan temperatur 650C didinginkan dengan kondenser parsial FLRS E-108 dan ditampung di akumulator FLRS D-103. Fluida dari akumulator tersebut sebagian digunakan sebagai reflux, sebagian lainnya didinginkan lagi dan dialirkan ke stabilizer feed drum LS D-1.Bottom dari stabilizer feed drum LS D-1 diumpankan ke kolom Stabilizer LS T-1 dengan temperatur 780C. Overhead product dari kolom Stabilizer LS T-1 didinginkan dalam kondenser parsial LS E-4 dan ditampung di akumulator LS D-2 dengan kondisi tekanan 19,6 kg/cm2g dan temperatur 520C. Gas yang tidak terkondensasi kemudian digunakan sebagai fuel gas, sedangkan liquid yang terbentuk (propane-propylene) digunakan sebagai reflux dan sebagai umpan untuk unit polypropylene Plaju. Bottom product dari kolom Stabilizer LS T-1 yaitu C4 akan di-treating lebih lanjut.Untuk mempertajam pemisahan, bottom dari LS-T-1 ditarik dengan pompa LS-P-2 AB dimasukkan ke reboiler LS-E-6 untuk memperoleh pemanasan, agar fraksi propane propylene dapat naik puncak menara. Sebagian aliran dari bottom menara adalah fraksi LPG (C4 dan derivatnya) setelah didinginkan di cooler LS-E-5 AB dialirkan ke mericham LPG treater untuk dicuci dengan caustic soda agar senyawa belerang dalam LPG dapat dihilangkan/diturunkan.

2.2.3    Unit Produksi PolyPropyleneUnit PP di PERTAMINA RU-III Plaju mengolah RPP menjadi biji plastik dengan kapasitas produksi biji plastik/politam  (pellets) sebesar 45.200 ton/tahun. Biji Plastik/politam  (pellet) yang dihasilkan di PERTAMINA dibagi menjadi lima jenis sesuai dengan sifat fisiknya yaitu melt flow rate (MFR) dan fungsinya, yaitu:-     Injection Molding grade (PI), kapasitas 5,7 ton/jam-     Film grade (PF), kapasitas 5,7 ton/jam-     Tape atau Yarn grade (PY), kapasitas 5,7 ton/j-     Blow molding grade, kapasitas 4,5 ton/jam2.2.3.1    Deskripsi Proses Unit PolipropilenBahan baku PolyPropylene (PP) adalah raw propane-propylene (RPP) yang dihasilkan dari pengolahan minyak mentah di crude distiller and gas plant (CD&GP) dan crude destiller and light end (CD&L). Minyak mentah didestilasi dalam Crude Distiller Unit (CDU) di CD&GP. Fraksi berat CDU adalah residu yang kemudian diumpankan ke dalam HVU di CD&L. Produk bawah HVU direngkah secara katalitik dalam FCCU di CD&L sehingga menghasilkan beberapa produk, salah satunya adalah RPP.RPP yang dihasilkan dari FCCU mengandung komposisi 74% propylene, 17% propane, dan sisanya adalah pengotor yang berupa CO, CO2, H2S, merkaptan, dan air. RPP diumpankan ke dalam unit purifikasi dengan laju alir 9 ton/jam. Unit purifikasi terdiri

Page 29: Bahan Baku Dan Proses Pengolahan Minyak Di Pertamina Ru III

atas:-    Ekstraktor Deethanol Amine (DEA) untuk menghilangkan CO dan H2S.-    Ekstraktor yang berisi NaOH untuk menghilangkan CO2.-    Dryer untuk menghilangkan kandungan air hingga kurang dari 7 ppm.-    Destilasi, sehingga menghasilkan Propane sebagai produk bawah yang diumpankan kembali ke CD&L, dan propylene sebagai produk atas dengan kemurnian 99,6%. Propylene ini kemudian diumpankan ke unit polimerisasi dengan laju alir 6 ton/jam. Unit polimerisasi terdiri dari impurities removal unit, reaktor, dan dryer. Di dalam impurities removal unit  terdapat stripper untuk menghilangkan metana dan etana, dehidrator untuk menghilangkan kadar air hingga kurang dari 1 ppm, COS adsorber, dan arsine adsorber. Dari arsine adsorber, propylene yang telah bersih dari pengotor dipolimerisasi di dalam reaktor.  Ada dua reaktor yang digunakan, yaitu primary reactor yang merupakan reaktor fasa cair dengan tekanan 32 kg/cm2 gauge dan temperatur 70oC, dan secondary reactor yang merupakan reaktor fasa gas dengan tekanan 18 kg/cm2 gauge dan temperatur 80oC. Reaksi polimerisasi ini berlangsung dengan bantuan katalis, yaitu TiCl3 yang merupakan main catalyst (MC), katalis AT berbahan dasar alumunium yang berfungsi sebagai pendukung katalis, dan katalis OF yang berfungsi untuk menyesuaikan isotactic index pada polimer yang akan dihasilkan. Ketiga katalis berbentuk serbuk, sehingga dibutuhkan pelarut heksana untuk mempermudah reaksi. Bahan lain yang digunakan dalam reaksi polimerisasi adalah hydrogen untuk memecahkan ikatan rangkap, dan mengatur MFR.Katalis MC dan OF dilarutkan dengan heksana, kemudian diumpankan bersama hidrogen dan propilen cair ke dalam primary reactor. Setelah itu diumpankan pula katalis AT ke dalam reaktor. Laju alir propilen yang diumpankan harus tinggi agar kecepatan reaksi berjalan lebih cepat dibandingkan laju polimerisasi untuk mencegah terjadinya penggumpalan. Pengadukan dilakukan selama reaksi berlangsung. Produk reaktor adalah slurry dan gas hidrogen. Slurry yang terbentuk dimasukkan ke fine separator. Fungsi fine separator adalah untuk memisahkan slurry dari gas hidrogen yang terbawa. Gas hidrogen tersebut dimasukkan kembali ke dalam primary reactor. Gas hidrogen keluaran primary reactor diumpankan ke bagian atas secondary reactor, yang kemudian dikeluarkan untuk dipompakan ke bagian bawah secondary reactor setelah dilewatkan pada kompresor. Slurry yang berasal dari fine partikel separator masuk ke bagian bawah secondary reactor, dan akan terfluidisasi dengan bantuan pengadukan dan udara bertekanan yang masuk dari bagian bawah reaktor. Hasil reaksi berupa bubuk yang kemudian dimasukkan ke dalam kondensor drum. Gas yang tidak terkondensasi diumpankan lagi ke dalam secondary reactor, sedangkan bubuk PP yang masih mengandung heksana dikeringkan dalam dryer.  Bubuk PP dengan laju alir 6 ton/jam dimasukkan bersama aditif  seperti pewarna, dan anti koagulan ke dalam extruder yang berputar dengan kecepatan 1000 rpm. Dengan putaran dan pemanasan, maka terbentuklah resin yang langsung dipotong dengan standar ukuran tertentu begitu keluar dari ujung ekstruder. Setelah pemotongan, resin PP dikontakkan dengan air sehingga membeku, dan terbentuklah biji plastik. Biji plastik tersebut dimasukkan ke dalam screener untuk memastikan ukuran biji plastik sesuai dengan product specification. Biji plastik tadi ditransportasikan dengan batuan N2 yang berasal dari plant tersendiri di unit PP, ke dalam silo sebelum dilakukan pengepakan. Setiap kantong pengepakan berisi 25  kg PP.

Page 30: Bahan Baku Dan Proses Pengolahan Minyak Di Pertamina Ru III

Diposkan 4th October 2013 oleh Ali Muslimin

Label: BAHAN BAKU PENGOLAHAN CRUDE RU III