back cover penelitian difabel - ?· mereka yang dihambat laporan pemeringkatan indeks...

Download Back Cover Penelitian Difabel - ?· MEREKA YANG DIHAMBAT Laporan Pemeringkatan Indeks Aksesibilitas…

Post on 20-Mar-2019

215 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

MEREKA YANG DIHAMBATLaporan Pemeringkatan Indeks AksesibilitasFasilitas Publik bagi Kelompok Difabel

di DKI Jakarta Tahun 2015

MEREKA YANG DIHAMBAT Laporan Pemeringkatan Indeks Aksesibilitas Fasilitas Publik bagi Kelompok Difabel di DKI

Jakarta Tahun 2015

PELINDUNG: Alghiffari Aqsa Pratiwi Febry

PENULIS:

Alldo Fellix Januardy Revan Tambunan

Tigor Gempita Hutapea Reindra Jasper H. Sinaga

TIM PENELITI:

LBH Jakarta Young Voices Indonesia

Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia Gerakan Untuk Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia

Masyarakat Peduli Anak Autis Karya Latihan Bantuan Hukum LBH Jakarta angkatan 36

DESAIN SAMPUL: Aditya Megantara

ISBN: 978-602-14487-7-9 DKI Jakarta, 30 November 2015

Diterbitkan oleh:

Lembaga Bantuan Hukum Jakarta Jl. Diponegoro No. 74, Menteng, Jakarta Pusat

DKI Jakarta 10320, Indonesia Telp: (021) 3145518 | Fax: (021) 3912377

Website: www.bantuanhukum.or.id

Mereka yang Dihambat : Laporan Pemeringkatan Indeks Aksesibilitas Fasilitas Publik bagi Kelompok Difabel di DKI Jakarta Tahun 2015

PELINDUNG:

Alghiffari Aqsa

Pratiwi Febry

PENULIS:

Alldo Fellix Januardy

Revan Tambunan

Tigor Gempita Hutapea

Reindra Jasper H. Sinaga

ISBN: 978-602-14487-7-9

DKI Jakarta, 30 November 2015

TIM PENELITI:

LBH Jakarta

Young Voices Indonesia

Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia

Gerakan Untuk Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia

Masyarakat Peduli Anak Autis

Karya Latihan Bantuan Hukum LBH Jakarta angkatan 36

DESAIN SAMPUL:

Aditya Megantara

Cetakan Pertama, Desember 2015

Penerbit Lembaga Bantuan Hukum Jakarta

Jl. Diponegoro No. 74, Menteng, Jakarta Pusat

DKI Jakarta 10320, Indonesia

Telp: (021) 3145518 | Fax: (021) 3912377

Website: www.bantuanhukum.or.id

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk apapun dan dengan cara apapun tanpa izin tertulis dari penerbit.

i

Kata Pengantar

Direktur LBH Jakarta

Fasilitas Publik yang aksesibel selalu menjadi masalah yang kerap menghantui kelompok difabel. Kelompok difabel selalu terhambat untuk mendapatkan haknya akibat fasilitas publik yang tidak inklusif. Padahal, fasilitas publik merupakan hak setiap warga negara yang seharusnya dapat diakses oleh siapapun, tidak terkecuali kelompok masyarakat difabel.

Dewasa ini, pemenuhan hak bagi kelompok difabel merupakan salah satu isu utama Hak Asasi Manusia. Hal ini diakibatkan adanya perubahan paradigma di dalam memandang isu difabel. Dahulu, masyarakat memandang kelompok difabel dengan model kesehatan (Medical Model) yang menempatkan permasalahan terkait kelompok difabel seolah ditimpakan hanya kepada kelompok difabel sebagai objek dari intevensi klinis, yang harus selalu ditopang oleh medis dan dibantu. Hal ini, secara tidak langsung, mengakibatkan pembatasan hak bagi kelompok difabel untuk mengakses hak-hak mereka di ranah publik.

Kini, perubahan paradigma dalam mengkaji isu difabel bergeser kepada paradigma Hak Asasi Manusia (Human Rights Model). Paradigma ini berfokus kepada martabat yang melekat pada seorang manusia dan kemudian, jika diperlukan, melekat pula pada karakteristik medis seseorang. Implikasi dari pergesaran paradigma ini adalah perubahan sudut pandang masyarakat dalam menganalisis hambatan yang dialami oleh kelompok difabel bahwa hambatan tersebut justru berada di luar kelompok difabel sendiri, yakni ada pada masyarakat secara umum yang kelompok difabel merupakan bagian di dalamnya. Akibat perubahan paradigma tersebut, kini mulai disadari bahwa negara dan masyarakat belum responsif dalam memenuhi hak bagi kelompok difabel. Inilah yang kemudian menciptakan hambatan dalam pemenuhan penghormatan penuh kepada martabat yang melekat dan kesamaan hak dari kelompok difabel.

Berangkat dari hal tersebut, laporan ini merupakan salah satu bentuk dokumentasi yang dibuat oleh LBH Jakarta untuk menyadarkan masyarakat bahwa pelanggaran HAM terhadap kelompok difabel nyata terjadi di sekitar kita. LBH Jakarta juga turut aktif mempromosikan pemenuhan fasilitas bagi kelompok difabel, salah satunya memperjuangkan pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Disabilitas. Terbitnya laporan ini diharapkan dapat memicu percepatan pengesahan RUU tersebut dan menjadi dorongan bagi pengelola fasilitas publik untuk mewujudkan pembangunan ramah difabel.

Jakarta, 3 Desember 2015 Merayakan Hari Disabilitas Internasional

Alghiffari Aqsa Direktur LBH Jakarta

ii

DAFTAR ISI

BAB I: PENDAHULUAN

Latar Belakang 1

Tujuan Penelitian 1

Kerangka Konseptual 2

Struktur Laporan 2

BAB II: METODE PENELITIAN

Kolektor Data 4

Objek Observasi 4

Standar Acuan 6

Metode Pembobotan 8

BAB III: PEMERINGKATAN AKSESIBILITAS SARANA DAN PRASARANA TRANSPORTASI PUBLIK TRANSJAKARTA

Pemeringkatan Umum Fasilitas Transportasi Publik TransJakarta 9

Pemeringkatan Berdasarkan Kondisi Keluar Masuk Terminal & Pengadaan Jalur Khusus 10

Pemeringkatan Berdasarkan Konstruksi Tempat Pemberhentian Kendaraan Umum yang Sejajar dengan Permukaan Pintu Masuk Kendaraan Umum 11

Pemeringkatan Pemberian Kemudahan dalam Pemberian Tiket 12

Pemeringkatan Kelengkapan Papan Informasi tentang Daftar Trayek yang Dilengkapi dengan Rekaman Petunjuk yang Dapat Dibunyikan atau Braile 13

Pemeringkatan Ketersediaan Ruang yang Dirancang dan Disediakan secara Khusus untuk Difabel dan Orang Sakit Guna Memberikan Kemudahan dalam Bergerak 14

Pemeringkatan Ketersediaan Personil yang Dapat Membantu Difabel dan Orang Sakit 15

BAB IV: PEMERINGKATAN AKSESIBILITAS SARANA DAN PRASARANA TRANSPORTASI PUBLIK KERETA API KOMUTER (COMMUTER LINE)

Pemeringkatan Umum Fasilitas Transportasi Publik Kereta Api Komuter 17

Pemeringkatan Kondisi Keluar Masuk Terminal & Pengadaan Jalur Khusus 18

Pemeringkatan Aksesibilitas Kondisi Peturasan 19

Pemeringkatan Ketersediaan Personil yang Dapat Membantu Difabel dan Orang Sakit 19

Pemeringkatan Kelengkapan Papan Informasi tentang Daftar Trayek Dilengkapi dengan Rekaman Petunjuk yang Dapat Dibunyikan atau Braile 21

Pemeringkatan Kemudahan Bagi Difabel untuk Mendapatkan Tiket Angkutan 21

iii

BAB V: PEMERINGKATAN AKSESIBILITAS FASILITAS PUBLIK BANGUNAN GEDUNG INSTANSI PEMERINTAH

Pemeringkatan Umum Aksesibilitas Bangunan Gedung Instansi Pemerintahan 23

Pemeringkatan Aksesibilitas Bagian Bangunan Dalam Gedung 24

Pemeringkatan Aksesibilitas Tapak Bangunan Gedung Instansi Pemerintahan 25

Pemeringkatan Aksesibilitas Bagian Luar Bangunan Gedung Instansi Pemerintah 26

BAB VI: PEMERINGKATAN AKSESIBILITAS FASILITAS PUBLIK BANGUNAN GEDUNG INSTANSI NON-PEMERINTAH

Pemeringkatan Umum Aksesibilitas Bangunan Gedung Instansi Non-Pemerintah 28

Pemeringkatan Aksesibilitas Bagian Bangunan Dalam Gedung Instansi Non-Pemerintah 29

Pemeringkatan Aksesibilitas Bagian Tapak Bangunan Gedung Instansi Non-Pemerintah 29

Pemeringkatan Aksesibilitas Bagian Luar Bangunan Gedung Instansi Non-Pemerintah 30

BAB VII: KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Kesimpulan 32

Rekomendasi 33

HALAMAN REFLEKSI Urgensi Pembentukan RUU Penyandang Disabilitas Sebagai Payung Hukum Implementasi Hak

Asasi Manusia 35

1

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Salah satu bentuk alat ukur demokrasi yang sedang diampu sebuah pemerintahan adalah dengan menimbang kemampuan negara tersebut dalam memenuhi dan menjamin hak-hak warga negaranya. Artinya, negara harus mampu menjadi penyedia sekaligus pelindung bagi hak-hak setiap warga negaranya. Beranjak dari pemikiran tersebut, dalam konteks pemenuhan hak terhadap akses fasilitas publik, negara berkewajiban menyediakan fasilitas publik yang dapat dinikmati dan benar-benar berangkat dari kebutuhan masyarakat. Namun, seringkali prinsip-prinsip ini sulit sekali diwujudkan. Demokratisasi yang lewat menembus berbagai wilayah, tak jarang lengah dari berbagai kepentingan warga negara, terutama bagi mereka yang termasuk kelompok rentan, seperti kelompok difabel.

Kesulitan untuk memperoleh akses terhadap fasilitas publik masih banyak dialami oleh kelompok difabel. Akar dari persoalan ini adalah karena mereka masih diasosiasikan sebagai kelompok masyarakat yang dianggap tidak normal. Padahal, data World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa terdapat 15% kelompok difabel yang hidup di Indonesia saat ini. Sehingga, label yang dilekatkan kepada mereka adalah sebuah bentuk diskriminasi yang diakibatkan oleh arus besar normalitas.

Bentuk diskriminasi oleh negara dan masyarakat juga tercermin dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat. Melalui ketentuan tersebut, negara justru memberikan label kepada kelompok difabel sebagai seseorang yang cacat, bukan difabel yang bersumber dari kata difable (differently able). Meski demikian, untuk memenuhi kebutuhan kelompok difabel, pemerintah telah menerbitkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 71 Tahun 1999 tentang Aksesibilitas bagi Penyandang Cacat dan Orang Sakit Pada Sarana dan Prasarana Perhubungan (Kepmenhub 71/1999) dan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 30/PRTM/2006 tentang Pedoman Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan (PermenPU 30/2006).

Tapi, efektivitas penegakan ketentuan tersebut masih sangat kurang di lapangan. Secara umum, masih banyak fasilitas pub

Recommended

View more >