bab xi · web viewdi luar negeri, antara lain untuk pembangunan pabrik pupuk, pabrik kertas dan...

Click here to load reader

Post on 25-Dec-2019

5 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

BAB XI

INDUSTRI

BAB XI

INDUSTRI

A. PENDAHULUAN

Peranan sektor industri akan semakin besar dalam menopang pertumbuhan ekonomi nasional. Strategi industrialisasi berperan penting selain sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi juga pada perkembangan perluasan kesempatan kerja, pemenuhan kebutuhan dasar rakyat, peningkatan dan pemerataan pendapatan masyarakat, serta pengentasan rakyat dari kemiskinan.

Pembangunan sektor industri dilakukan secara bertahap Repelita demi Repelita. Dalam Repelita VI, pembangunan sektor diarahkan untuk mencapai tingkat pertumbuhan industri yang cukup tinggi; memperluas kesempatan kerja dan meningkatkan ekspor melalui penciptaan iklim usaha yang kompetitif dan iklim investasi untuk mendukung pengembangan industri yang efisien serta penguatan struktur industri; meningkatkan kemampuan industri nasional melalui peningkatan kemampuan teknologi industri, sumber daya manusia

XI/3

industrial, serta pengembangan industri berwawasan lingkungan; mengembangkan industri kecil dan menengah; dan memperluas persebaran industri ke daerah-daerah. Kebijaksanaan deregulasi dan debirokratisasi turut mendukung percepatan pembangunan di sektor industri melalui paket-paket kebijaksanaannya, dengan semakin dikaitkannya kebijaksanaan industri dengan perdagangan.

Atas dasar harga konstan tahun 1993, industri pengolahan ter- masuk industri pengolahan migas, dalam kurun waktu 1993 - 1996 tumbuh rata-rata per tahun sebesar 11,6 persen, sedangkan industri pengolahan nonmigas tumbuh rata-rata sebesar 12,8 persen. Semen- tara itu sumbangannya terhadap PDB, atas harga berlaku, pada tahun 1996 masing-masing adalah 25,5 persen dan 22,8 persen. Secara kumulatif tenaga kerja yang terserap di sektor industri pengolahan sampai dengan tahun kedua Repelita VI berjumlah 9,9 juta orang atau meliputi 12,6 persen dari jumlah pekerja secara keseluruhan.

Sampai dengan tahun ketiga Repelita VI, perkembangan sektor industri ditandai bukan saja oleh kenaikan volume produksi, melain- kan juga oleh makin beragamnya jenis produk yang dihasilkan dan disertai dengan mutu produk yang semakin meningkat. Ekspor hasil industri pengolahan nonmigas pada tahun 1996 telah mencapai nilai sebesar US$32,1 miliar, atau meningkat sebesar 37,8 persen dibanding dengan nilai ekspor pada tahun terakhir Repelita V, sebesar US$23,3 miliar. Peranan ekspor industri nonmigas telah mencapai 64,5 persen dari keseluruhan ekspor nasional, atau 76,5 persen terhadap total ekspor non migas. Beberapa kelompok komoditas yang menunjukkan kenaikan nilai ekspor yang cukup tinggi terhadap total ekspor industri adalah industri tekstil, pengolahan kayu, dan elektronika. Di samping itu, ekspor jasa industri dalam bidang rancang bangun dan perekayasaan termasuk pembangunan pabrik secara utuh menunjukkan perkembangan yang cukup berarti.

XI/4

Peranan industri kecil juga makin nyata dalam perluasan kesem- patan berusaha dan kesempatan kerja, pengembangan ekonomi per- desaan, dan pemerataan termasuk pengentasan kemiskinan. Pengem- bangan industri kecil, terutama industri kerajinan dan rumah tangga di perdesaan, dilaksanakan melalui pembinaan sentra-sentra yang terse- bar di seluruh daerah meliputi antara lain bimbingan dan pelatihan keterampilan, pengembangan iklim usaha, serta pengembangan sistem pendukung. Keberhasilan pembinaan industri kecil ditunjukkan de- ngan perkembangan jumlah unit usaha industri kecil yang terus me- ningkat, khususnya di kawasan timur Indonesia (KTI). Hasil industri kecil telah semakin mampu menembus pasar dunia. Pada tahun 1996 nilai ekspor industri kecil telah mencapai sebesar US$2,5 miliar, atau 7,8 persen dari keseluruhan nilai ekspor industri pengolahan nonmi- gas, berarti kontribusinya meningkat dari 7,2 persen pada tahun 1995.

Strategi industrialisasi terus dilanjutkan dengan dukungan pencip- taan iklim usaha yang menunjang, serta dengan memberikan prioritas bagi perkembangan industri unggulan. Pembangunan industri tidak mungkin dilakukan hanya oleh sektor industri sendiri namun harus mendapatkan dukungan dari sektor penghasil bahan baku, prasarana, perdagangan, jasa, lembaga keuangan dan sektor-sektor produktif lainnya.

B. SASARAN, KEBIJAKSANAAN DAN PROGRAM

REPELITA VI

Sasaran pembangunan industri dalam Repelita VI sebagai bagian dari sasaran bidang ekonomi sesuai amanat GBHN 1993 adalah tertata dan mantapnya industri nasional yang mengarah pada penguatan, pendalaman, peningkatan, perluasan, dan penyebaran industri ke seluruh wilayah Indonesia, dan makin kukuhnya struktur industri

XI/5

dengan peningkatan keterkaitan antara industri hulu, industri antara, dan industri hilir serta antara industri besar, industri menengah, industri kecil, dan industri rakyat; serta keterkaitan antara sektor industri dengan sektor ekonomi lainnya.

Sasaran pembangunan industri dalam Repelita VI tersebut dijabar- kan lebih lanjut sebagai berikut: tercapainya tingkat pertumbuhan industri yang cukup tinggi, baik dalam nilai tambah, kesempatan kerja maupun ekspor, sehingga sektor industri makin efektif menjadi penggerak utama pembangunan ekonomi; terciptanya struktur industri yang makin kuat dan dalam, didukung oleh kemampuan teknologi yang makin meningkat dan pemanfaatan sumber daya ekonomi yang optimal; meningkatnya daya saing industri sehingga menghasilkan produk-produk unggulan yang mampu menerobos pasar internasional dan mengurangi ketergantungan pada impor; berkembangnya industri kecil dan menengah, termasuk industri-industri di perdesaan, sehingga makin meningkatkan peran serta masyarakat secara produktif dalam kegiatan industri; dan meluasnya persebaran lokasi industri ke daerah, termasuk KTI, sehingga mampu mengembangkan pusat-pusat partum- buhan ekonomi di daerah dan potensi sumber daya daerah, dalam upaya lebih memeratakan pembangunan.

Untuk mencapai sasaran dalam Repelita VI ditempuh serangkaian kebijaksanaan, yang pada dasarnya bertumpu pada strategi pemba- ngunan industri yang berspektrum luas dan berorientasi pada pasar internasional, baik yang meliputi industri padat sumber daya alam dengan memanfaatkan teknologi yang makin maju, industri padat karya yang makin padat keterampilan maupun industri padat tekno- logi; pembangunan industri dengan mempercepat penguasaan tekno- logi dalam rangka memantapkan basis industrialisasi untuk menghasil- kan produk industri unggulan; pembangunan industri yang bertumpu pada mekanisme pasar dengan dunia usaha sebagai pemeran

XI/6

utamanya; dan pembangunan industri yang mengutamakan tercapainya pertumbuhan bersamaan dengan pemerataan dengan memberikan prioritas pada berbagai industri yang mampu tumbuh dengan cepat dan meningkatkan peran serta masyarakat secara luas dan produktif.

Sebagai pelaksanaan kebijaksanaan pembangunan industri untuk mendukung tercapainya sasaran pembangunan industri dalam Repelita VI disusun program pembangunan industri. Program pembangunan industri terdiri dari tiga program pokok, yaitu program pengembangan industri rumah tangga, industri kecil dan menengah; program peningkatan kemampuan teknologi industri; dan program penataan struktur industri. Program-program tersebut didukung oleh program penunjang terdiri atas program pengendalian pencemaran lingkungan hidup, program pengembangan informasi industri, program pendidikan, pelatihan dan penyuluhan industri, dan program penelitian dan pengembangan industri.

C. PELAKSANAAN DAN HASIL PEMBANGUNAN

TAHUN KETIGA REPELITA VI

Pembangunan sektor industri yang dilaksanakan sampai dengan tahun ketiga Repelita VI telah memberikan sumbangan yang berarti bagi pembangunan ekonomi nasional.

Pada tahun 1996, atas dasar harga konstan tahun 1993, industri pengolahan termasuk industri pengolahan migas, tumbuh sebesar 11,6 persen sedangkan industri pengolahan nonmigas tumbuh sekitar 11,7 persen. Sementara itu sumbangannya terhadap PDB, atas dasar harga berlaku, masing-masing adalah sebesar 25,5 persen dan 22,8 persen.

XI/7

Industri makanan, minuman dan tembakau masih berperan besar dalam kontribusinya terhadap nilai tambah industri pengolahan nonmigas pada tahun 1996 yaitu sebesar 67,5 persen; industri pupuk, kimia dan barang dari karet sebesar 10,4 persen; industri tekstil, barang kulit dan alas kaki sebesar 7,6 persen; dan industri alat angkut, mesin dan peralatan sebesar 3,8 persen. Keempat kelompok industri tersebut memberikan sumbangan sebesar 89,3 persen dalam keseluruhan nilai tambah industri pengolahan nonmigas.

Perubahan yang cukup mendasar tampak pula pada semakin luasnya kesempatan kerja yang tercipta di sektor industri. Secara kumulatif, sampai dengan tahun 1995 penyerapan tenaga kerja di sektor industri pengolahan telah mencapai 9,9 juta orang, atau meliputi 12,6 persen dari keseluruhan jumlah tenaga kerja.

Walaupun terjadi pergeseran dalam struktur tenaga kerja ke KTI, kawasan barat Indonesia (KBI) masih mendominasi penyerapan tenaga kerja industri. Pada tahun 1993 struktur penyerapan tenaga kerja sektor industri di KBI dan KTI masing-masing adalah sebesar 88,6 persen dan 11,4 persen, sedangkan pada tahun 1996 masing-masing adalah 87,9 persen dan 12,1 persen. Meluasnya persebaran lokasi industri di daerah, khususnya di KTI, telah mengembangkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi di daerah dan mengoptimalkan potensi sumber daya daerah dalam upaya lebih memeratakan hasil-hasil pembangunan.

Meningkatnya pertumbuhan dan peranan industri yang cukup mantap dalam perekonomian nasional dimungkinkan karena adanya dukungan upaya debirokratisasi dan deregulasi yang berkesinambungan dan konsisten disertai manajemen ekonomi makro yang mantap. Perkembangan industri didukung pula oleh meningkatnya investasi baik penanaman modal dalam negeri maupun

XI/8

luar negeri, meningkatnya penguasaan teknologi industri termasuk rancang bangun dan perekayasaan industri, dan tersedianya prasarana dasar ekonomi secara lebih memadai. Industri hulu yang menghasilkan bahan baku dan bahan penolong yang mengolah sumber daya alam juga telah berkembang. Demikian pula mulai berkembang berbagai industri barang modal seperti mesin dan peralatan pabrik termasuk produk komponen dan subperakitan. Dengan demikian kemampuan industri dalam negeri meningkat baik untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun dalam menjalin keterkaitan antarindustri yang semakin kukuh.

1. Program Pokok

a. Program Pengembangan Industri Rumah Tangga,

Industri Kecil dan Menengah

Program pengembangan industri rumah tangga, industri kecil dan menengah dilaksanakan untuk menumbuhkembangkan kegiatan usaha ekonomi skala kecil dan menengah yang produktif, mendukung per- luasan kesempatan kerja dan pengentasan masyarakat dari kemiskinan, serta meningkatkan perolehan devisa. Industri kecil termasuk industri kecil kerajinan dan rumah tangga, telah berkembang menjadi bagian integral dari industri nasional sehingga mempunyai potensi besar sebagai sumber pertumbuhan industri dalam jangka panjang.

Dalam perkembangannya industri kecil dan menengah dapat dikelompokkan dalam tiga kategori, yaitu kelompok industri kecil kerajinan tradisional yang tersebar di sentra-sentra industri di seluruh daerah, terutama di perdesaan dan merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat setempat; kelompok industri kecil dan menengah hasil pertanian yang pengembangannya didukung oleh faktor-faktor alam yang menunjang; dan kelompok industri kecil dan menengah modern

XI/9

yang merupakan andalan masa depan dan berorientasi ekspor yang berkembang dengan menggunakan teknologi relatif maju dan tenaga kerja terampil.

Kegiatan pengembangan industri kecil sampai dengan tahun ketiga Repelita VI dilaksanakan baik oleh pemerintah maupun dunia usaha dengan memberikan bantuan dan bimbingan teknis serta pelatihan keterampilan dalam teknologi produksi, pemasaran, permo- dalan, pelayanan informasi dan manajemen. Industri kerajinan dan industri rumah tangga yang menghasilkan berbagai barang seni dan kerajinan tradisional, berkembang pula dengan memanfaatkan potensi daerah setempat, seperti hasil pertanian dan pertambangan bukan logam. Industri perdesaan yang menghasilkan peralatan dan mesin pengolah hasil pertanian juga berkembang. Industri kecil juga diupaya- kan untuk berkembang di daerah perbatasan, daerah terpencil, dan daerah transmigrasi.

Guna mendukung percepatan pengembangan industri kecil yang berorientasi ekspor pada tahun 1996/97 dilakukan pembinaan lang- sung (support at company level) kepada 150 perusahaan berupa ban- tuan teknis manajemen dan produksi, serta aksesibilitas pada sumber-sumber permodalan, dengan cara menempatkan tenaga ahli di perusahaan terpilih yang akan dibina.

Dalam Repelita VI sampai dengan tahun ketiga pengembangan industri kecil dilakukan melalui pola pengembangan sentra industri yang tersebar di 27 propinsi, khususnya industri kecil kerajinan dan rumah tangga yang berlokasi di perdesaan. Pendekatan ini memberi- kan dampak pada perkembangan industri kecil menjadi lebih efektif, karena selain para perajin tidak perlu disediakan lokasi khusus, juga pengadaan bahan baku, penyediaan informasi, bantuan teknologi, serta pembinaan kelembagaan usaha menjadi koperasi, dapat berlang-

XI/10

sung lebih efisien, terarah dan terpadu. Jumlah sentra industri yang telah dibina terus menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Sampai dengan tahun 1996/97 telah dibina sebanyak 10.500 sentra industri atau naik sebesar 7,5 persen dibanding tahun sebelumnya.

Sejalan dengan perkembangan jumlah sentra industri serta dengan didukung oleh iklim usaha yang makin membaik, jumlah unit usaha industri kecil memperlihatkan peningkatan dari tahun ke tahun. Apabi- la pada tahun 1993 tercatat sekitar 2.156,8 ribu unit usaha, maka pada tahun ketiga Repelita VI pertumbuhan jumlah usaha industri kecil meningkat sebesar 2,3 persen atau menjadi 2.206,0 ribu unit. Persebaran unit usaha industri kecil ini juga menunjukkan peningkatan di KTI. Pada tahun 1996 jumlah unit usaha di KTI berjumlah sebanyak 345,0 ribu unit atau meningkat 4,3 persen dibanding tahun 1995. Industri kecil juga menangani kegiatan produksi yang bertek- nologi tinggi, seperti industri kecil logam, permesinan dan elek- tronika.

Berbagai upaya tersebut telah memberikan dampak positif pada peningkatan jumlah tenaga kerja yang diserap oleh industri kecil. Secara kumulatif, sampai dengan tahun ketiga Repelita VI, industri kecil telah menyerap tenaga kerja sekitar 8,3 juta orang. Tambahan tenaga kerja baru di industri kecil pada tahun 1996/97 adalah sebanyak 360,0 ribu orang. Dari jumlah ini, penyerapan tenaga kerja industri kecil di KTI tumbuh lebih cepat dibanding dengan penyerapannya di KBI. Pertumbuhan tenaga kerja di KTI pada tahun 1996 mencapai sebesar 4,6 persen, meningkat dari 4,2 persen pada tahun 1995.

Sejalan dengan sasaran yang ingin dicapai dalam meningkatkan ekspor dan dalam rangka meningkatkan mutu dan daya saing hasil produksi, usaha industri kecil dibantu dengan upaya pengendalian dan

XI/11

manajemen mutu. Bimbingannya diberikan melalui kelompok atau gugus kendali mutu (GKM) pada unit usaha mereka. Upaya ini terus ditingkatkan agar kesadaran akan perlunya penerapan manajemen mutu membudaya dan menjadi bagian integral dalam kegiatan produk- si. Sampai dengan tahun 1996 industri kecil yang telah menerapkan GKM berjumlah 3.190 perusahaan, atau meningkat 13,8 persen dibanding tahun sebelumnya.

Dalam tahun 1996/97 perkembangan nilai produksi industri kecil adalah sebesar Rp.35,6 triliun, atau meningkat 14,5 persen dibandingkan dengan tahun 1995/96. Berdasarkan harga berlaku, sumbangan nilai tambah industri kecil dan menengah pada tahun 1995 terhadap industri pengolahan nonmigas telah mencapai 11,6 persen. Sejalan dengan perkembangan produksi tersebut, volume ekspor industri kecil pada tahun 1996 mencapai 948,6 ribu ton, dengan nilai mencapai sebesar US$2,5 miliar, atau meningkat sebesar 16,0 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Kinerja yang telah dicapai ini memberikan sumbangan 7,8 persen terhadap total nilai ekspor industri pengolahan nonmigas. Industri kecil yang memberikan kontribusi besar terhadap nilai ekspor tersebut adalah industri TPT, industri barang dari kulit, serta industri perhiasan dan kerajinan dari logam.

Sampai dengan tahun ketiga Repelita VI pemasyarakatan menge- nai penerapan ISO-9000 untuk mendukung industri kecil yang mem- punyai potensi ekspor dan mampu menerobos pasar internasional terus diperluas dan dipercepat pemanfaatannya. Pada tahun 1995/96, bim- bingan untuk menerapkan sistem manajemen mutu ISO-9000 (International Standards Organization 9000 series) pada kelompok industri kecil mencakup 67 perusahaan, dan pada tahun 1996/97 meningkat menjadi 109 perusahaan. Sebagai upaya untuk mengatasi lemahnya akses pada teknologi, termasuk pula fasilitas produksi, informasi dan pemasaran, unit pelayanan teknis (UPT) sebagai sarana

XI/12

penunjang pengembangan industri kecil ditingkatkan daya gunanya, antara lain melalui upaya restrukturisasi. Sampai dengan tahun ketiga Repelita VI telah beroperasi sebanyak 100 UPT yang tersebar di 24 propinsi.

Pelaksanaan pengembangan industri kecil tetap mengikutsertakan peran swasta dan masyarakat untuk mengembangkan usaha industri kecil melalui kemitraan usaha antara industri kecil dan menengah dengan pengusaha/industri besar, termasuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN), secara saling memperkuat dan menguntungkan. Bentuk kemitraan yang berkembang adalah melalui pola dagang, vendor, dan subkontrak. Sampai dengan tahun 1996 telah ditanda- tangani kerjasama antara sekitar 30,0 ribu perusahaan besar sebagai mitra usaha dengan 114,6 ribu industri kecil. Dalam rangka mening- katkan apresiasi kepada perusahaan besar dan perorangan yang ber- hasil membina serta mengembangkan usaha industri kecil, Pemerintah memberikan penghargaan Upakarti jasa kepeloporan dan jasa pengabdian. Pada tahun 1996 diberikan 67 penghargaan Upakarti yang meliputi 28 penghargaan jasa pengabdian, 18 penghargaan jasa kepeloporan, dan 21 penghargaan jasa kepedulian. Secara keseluruhan sampai dengan tahun ketiga Repelita VI telah diberikan sebanyak 863 penghargaan upakarti, yang meliputi 395 jasa pengabdian, 438 jasa kepeloporan, dan 30 jasa kepedulian.

Pembinaan dan pengembangan industri kecil semakin ditingkat- kan melalui upaya pembinaan yang komprehensif dalam mewujudkan kemandirian, peningkatan daya saing, produktivitas, dan efisiensi. Sejak tahun ketiga Repelita VI dilaksanakan beberapa program terobosan pembinaan industri kecil dan menengah antara lain melalui pemberian bantuan langsung pada tingkat perusahaan, serta melaksana- kan program keterpaduan pembinaan lintas sektoral dengan fokus pada 37 komoditas unggulan.

XI/13

b. Program Peningkatan Kemampuan Teknologi Industri

Program peningkatan kemampuan teknologi industri ditujukan untuk meningkatkan nilai tambah produk industri, dan secara bertahap mengubah struktur kandungan nilai tambah sehingga makin bersumber pada kemampuan teknologi dan sumber daya manusia yang berkua- litas; dan meningkatkan efisiensi, mutu dan daya saing produk hasil industri dengan ciri keunggulan kompetitif serta berkinerja tinggi. Upaya ini merupakan langkah strategis agar kemampuan industri dapat terus berkembang.

Berkembangnya proses penguasaan teknologi industri, baik teknologi manufaktur maupun teknologi produk, dilakukan secara bertahap dan telah menunjukkan kemajuan yang berarti. Penguasaan ini diperoleh antara lain melalui berbagai proses alih teknologi, adap- tasi teknologi, serta penelitian dan pengembangan (litbang) teknologi terapan, baik yang diselenggarakan melalui lembaga litbang industri milik pemerintah maupun dalam kegiatan industri sendiri. Balai litbang milik pemerintah diarahkan untuk membuat berbagai purwa- rupa peralatan yang sesuai dengan kebutuhan industri kecil, antara lain peralatan pengolahan hasil pertanian, industri kulit, industri logam dan mesin, serta kerajinan. Disamping itu, profesionalisme dan kemandirian balai-balai litbang milik pemerintah terus didorong agar jasa pelayanan teknis dari lembaga tersebut dapat lebih terarah yang selaras dengan perkembangan kebutuhan industri. Di bidang industri alat angkut, pengembangan produksi komersil pesawat N-250 terus dikembangkan dan sekarang tengah dikerjakan persiapan cetak biru pesawat jet penumpang N-2130.

Di bidang rancang bangun dan perekayasaan industri, beberapa perusahaan telah mampu memberikan jasa dalam pembangunan pabrik

XI/15

di luar negeri, antara lain untuk pembangunan pabrik pupuk, pabrik kertas dan pabrik aluminium fluorida, asam formiat, pabrik gula, pabrik tekstil dan serat sintetik, serta pabrik amoniak.

Dalam rangka peningkatan mutu produk dan efisiensi industri upaya standardisasi dan normalisasi produk industri terus dilanjutkan. Sejak ditetapkannya standar nasional Indonesia (SNI), sampai tahun 1995/96 standar industri yang telah ditetapkan sebagai SNI secara kumulatif berjumlah 3.331 SNI, dan telah diterbitkan sertifikat penggunaan tanda SNI untuk lebih dari 110 perusahaan industri. Sistem jaringan kalibrasi dan pengujian mutu produk hasil industri terus dikembangkan termasuk sistem jaringan akreditasi dan sertifikasinya, sehingga sampai dapat memperoleh pengakuan internasional. Demikian pula langkah-langkah untuk memasyarakatkan penerapan standar ISO 9000 juga ditingkatkan bersamaan dengan pengembangan kelembagaan dan pelatihan asesor ISO 9000. Sampai dengan tahun 1996/97 sekitar 330 perusahaan manufaktur telah mendapatkan sertifikat ISO 9000.

c. Program Penataan Struktur Industri

Pada hakikatnya upaya penataan struktur industri bertumpu pada kegiatan penguatan dan pendekatan struktur industri agar terwujud industri yang kuat, maju, dan mandiri.

Program penataan struktur industri ditujukan untuk meningkatkan kandungan nilai tambah hasil industri, mengurangi ketergantungan impor barang hasil industri secara ekonomis, memperluas basis produksi industri nasional secara vertikal dan horizontal termasuk mengembangkan industri baru dalam rangka mengisi rangkaian hulu-hilir yang masih kosong secara efisien, meningkatkan efisiensi dan daya saing serta memperluas jenis industri yang berorientasi ekspor,

XI/15

dan memperkuat struktur industri ditinjau dari aspek kelembagaan usaha dan pelaku industri. Penataan struktur industri juga berkaitan erat dengan upaya persebaran industri ke daerah untuk meningkatkan efisiensi alokasi sumber daya sekaligus mengembangkan pusat-pusat pertumbuhan industri.

1) Perkembangan Basis Produksi Hasil Industri

a) Perkembangan Industri Hasil Pertanian

Sampai dengan tahun ketiga Repelita VI, banyak kemajuan yang telah dicapai oleh industri hasil pertanian yang peranannya semakin penting dalam pembangunan industri keseluruhan bukan saja dalam memenuhi kebutuhan pokok rakyat dan berpotensi mengembangkan sumber daya nasional, tetapi juga telah tumbuh menjadi industri berorientasi ekspor.

Pada tahun 1996/97 dalam kelompok industri makanan dan minuman produksi minyak goreng kelapa dan minyak goreng kelapa sawit meningkat cukup pesat, yaitu masing-masing sebesar 38,6 persen dan 34,9 persen bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Produksi susu bubuk dan margarine meningkat masing-masing sebesar 13,5 persen dan 8,8 persen dibandingkan dengan produksi tahun 1995/96. Produksi komoditas industri lainnya dalam kelompok industri makanan dan minuman rata-rata mengalami peningkatan sekitar 5,0 persen, kecuali untuk komoditas rokok kretek dan tepung terigu meningkat masing-masing 1,7 persen dan 1,5 persen. Perkembangan produksi pada kelompok industri makanan dan minuman disebabkan baik oleh peningkatan permintaan dalam negeri maupun ekspor.

XI/16

Produksi kelompok industri kayu olahan pada tahun 1996/97 rata-rata menunjukkan peningkatan yang cukup baik, namun demikian produksi industri kayu lapis, kayu gergajian, dan papan partikel mengalami penurunan. Hal ini disebabkan karena pasokan bahan baku yang tidak sesuai dengan kebutuhan, baik jumlah maupun kualitasnya. Disamping itu, persyaratan eco-labelling cukup menjadi kendala untuk ekspor. Produksi kelompok industri kayu olahan yang mengalami peningkatan cukup besar adalah produksi kayu lapis dekoratif dan kusen/daun pintu/jendela masing-masing sebesar 57,4 persen dan 28,0 persen. Sedangkan jenis industri lainnya yang meningkat adalah mebel, pengolahan kayu lainnya, prefab housing, dan rotan olahan masing-masing meningkat sebesar 15,9 persen, 13,0 persen, 10,1 persen, dan 5,2 persen dibandingkan dengan produksi tahun 1995/96. Peningkatan produksi ini disebabkan selain karena permintaan pasar dalam negeri yang semakin besar akibat meningkatnya kebutuhan pembangunan perumahan juga pasar ekspor. Peningkatan nilai tambah industri pengolahan kayu didukung oleh semakin beragamnya produksi barang-barang kayu olahan yang semula hanya terdiri atas kayu gergajian dan kayu lapis saja.

Industri barang dari kulit dan alas kaki, meliputi produksi kulit, sepatu kulit, sepatu karet atau kanvas, dan kulit imitasi pada tahun 1996/97 umumnya menunjukkan peningkatan rata-rata sekitar sebesar 9,0 persen. Produksi sepatu karet atau kanvas dan sepatu kulit yang terus meningkat memberikan sumbangan yang cukup berarti terhadap peningkatan ekspor hasil industri.

Hasil produksi industri kertas dan pulpa meningkat cukup man- tap, bila dibandingkan dengan tahun 1995/96, produksi kertas dan pulpa pada tahun 1996/97 mengalami kenaikan cukup besar, yaitu 17,2 persen dan 12,1 persen dari produksi tahun sebelumnya, atau meningkat masing-masing sebesar 61,2 persen dan 73,8 persen diban-

XI/17

dingkan akhir tahun Repelita V. Produksi kotak karton meningkat 8,2 persen dari produksi tahun 1995/96. Meningkatnya produksi pulpa dan kertas seiring dengan meningkatnya permintaan bahan baku kertas untuk pasar ekspor disamping untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri tidak terlepas dari pengaruh peningkatan daya saing dan mutu produk nasional yang semakin tinggi.

Dalam kelompok industri barang dari karet, produksi ban sepeda motor roda dua, ban kendaraan bermotor roda empat, dan ban sepeda pada tahun 1996/97 masing-masing adalah sebesar 42,0 persen, 18,8 persen, 14,8 persen. Hanya produksi crumb rubber yang meningkat kecil yaitu sebesar 2,8 persen.

Secara keseluruhan perkembangan produksi dari beberapa jenis industri yang termasuk dalam industri hasil pertanian sampai dengan tahun ketiga Repelita VI dapat dilihat pada Tabel XI-1.

b) Perkembangan Industri Logam, Mesin, dan Elektronika

Pada umumnya kelompok industri ini relatif memiliki kandungan teknologi tinggi, dapat mempercepat proses alih teknologi dan ber- peran dalam menunjang kemajuan sektor produksi lainnya. Hasil industri logam, mesin dan elektronika pada umumnya merupakan barang modal yang diperlukan baik untuk kegiatan industri sendiri maupun untuk kegiatan sektor ekonomi lainnya seperti pertanian, pertambangan dan energi, perhubungan dan sektor jasa lainnya.

Sampai dengan tahun ketiga Repelita VI jenis-jenis industri logam, mesin dan elektronika yang telah berkembang, meliputi: industri permesinan, terutama industri mesin dan peralatan pabrik, industri alat-alat berat/konstruksi, industri alat dan mesin pertanian dan pengolahan hasil pertanian, industri mesin dan peralatan tenaga

XI/19

listrik, dan industri komponen mesin; industri elektronika, terutama industri alat komunikasi yang menunjang pembangunan jaringan komunikasi nasional, industri alat pengolah data, instrumentasi dan kontrol, baik perangkat keras maupun perangkat lunak serta industri elektronika konsumsi; berbagai jenis industri alat angkut yang menunjang sektor perhubungan, termasuk industri komponennya; dan industri logam yang menghasilkan bahan baku dan produk antara bagi industri hilir.

Secara umum produksi kelompok industri logam, mesin, dan elektronika menunjukkan perkembangan yang mantap walaupun produksi beberapa jenis industrinya masih berfluktuasi. Keadaan ini sangat dipengaruhi oleh permintaan pasar dalam negeri dan ekspor, serta perkembangan investasi di dalam negeri.

Dalam kelompok industri logam dasar produksi pipa las lurus, besi spons, besi beton/profile, dan aluminium foil pada tahun 1996/97 meningkat masing-masing sebesar 30,9 persen, 18,9 persen, 15,1 persen, dan 14,5 persen. Sedangkan produksi baja lembaran canai dingin, aluminium extrusion, slab baja, plat aluminium, dan batang tembaga, masing-masing naik sebesar 11,0 persen, 7,6 persen, 7,5 persen, 6,5 persen, dan 5,3 persen dibandingkan produksi tahun 1995/96. Di lain pihak, beberapa komoditas mengalami penurunan produksi antara lain batang kawat, baja lembaran lapis timah (tin plate), pipa las spiral, dan aluminium ingot. Kelompok industri ini cukup menentukan bagi proses industrialisasi, mengingat sebagian besar produk yang dihasilkan merupakan barang modal/bahan baku dan barang setengah jadi yang akan digunakan oleh industri hilir.

Hasil produksi industri permesinan sampai dengan tahun ketiga Repelita VI masih menunjukkan perkembangan yang berfluktuasi, mengingat industri permesinan pada umumnya masih mengandalkan

XI/19

pasar dalam negeri, dan produk yang dihasilkan masih belum mampu bersaing dengan barang-barang impor. Beberapa jenis industri yang meningkat pada tahun 1996/97 adalah industri mesin freis, mesin bubut, dan mesin gerinda rata masing-masing sebesar 13,6 persen, 11,8 persen dan 7,1 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Kelompok industri alat dan mesin pertanian, seperti produksi alat semprot hama, traktor besar, pompa irigasi, dan polisher pada tahun 1996/97 meningkat cukup berarti, masing-masing sebesar 23,6 persen, 19,2 persen, 18,2 persen, dan 11,4 persen dibandingkan tahun 1995/96.

Produksi industri alat berat dan konstruksi pada umumnya juga menunjukkan kenaikan yang berarti. Bila dibandingkan dengan produksi tahun 1995/96, produksi industri excavator dan buldozer mengalami peningkatan tertinggi pada kelompok industri ini, yaitu sebesar 176,2 persen dan 93,3 persen bila dibandingkan produksi tahun sebelumnya. Produksi mesin pemecah batu, asphalt sprayer, plate compactor pada tahun 1996/97 mencatat kenaikan masing-masing sebesar 25,0 persen, 15,0 persen, dan 9,4 persen. Beberapa jenis industri lainnya seperti motor grader, road/vibro roller, dan asphalt mixing plant pada tahun 1996/97 juga meningkat cukup besar, masing-masing sebesar 6,7 persen, 5,1 persen, dan 4,2 persen dibandingkan dengan tahun 1995/96.

Produksi industri mesin dan peralatan pabrik pada umumnya menunjukkan peningkatan kecuali produksi konstruksi baja dan mesin diesel non automotif. Peningkatan yang cukup tinggi pada tahun 1996/97 ada pada produksi konstruksi baja, boiler kecil, dan boiler besar yang dibandingkan dengan produksi tahun sebelumnya naik masing-masing sebesar 18,3 persen, 12,8 persen dan 12,0 persen.

XI/20

Kemampuan industri permesinan cor logam terus dikembangkan dengan didukung oleh peningkatan kemampuan jasa rancang bangun dan perekayasaan diharapkan kemampuan dalam memproduksi mesin baik untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun ekspor akan meningkat.

Kemampuan dalam negeri untuk memproduksi industri alat angkut terus berkembang. Perkembangannya terlihat pada produksi industri pesawat terbang dan helikopter serta komponennya yang telah mampu menembus pasaran ekspor. Produksi industri pesawat terbang dan helikopter pada tahun 1996/97 berjumlah masing-masing 9 unit dan 10 unit.

Sedangkan dalam industri alat angkut lainnya, industri kereta api yang memproduksi gerbong barang dan gerbong penumpang, pada tahun 1996/97 produksinya mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan produksi industri ini disebabkan karena berkurangnya permintaan pasar di dalam negeri.

Sejak diterbitkan deregulasi Juni 1993 perkembangan produksi kendaraan bermotor di Indonesia terus menunjukan peningkatan. Produksi kendaraan bermotor roda dua pada tahun 1996/97 meningkat sebesar 36,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sejalan dengan upaya pendalaman struktur industri kendaraan bermotor, produksi industri komponen dalam negeri telah meningkat pula. Dibandingkan dengan produksi tahun 1995/96, produksi komponen kendaraan bermotor pada tahun 1996/97 rata-rata mengalami peningkatan bervariasi antara 4,0 persen sampai dengan 9,0 persen. Sejak tahun 1996 industri kendaraan roda empat telah mampu menerobos pasar ekspor baru yaitu ke Taiwan dan Philipina. Seiiring dengan program peningkatan kandungan lokal yang sedang berjalan, pengembangan mobil nasional terus ditingkatkan.

XI/21

Sampai dengan tahun ketiga Repelita VI jumlah dok dan galangan kapal nasional ada 235 buah. Produksi kapal baja baru pada tahun 1996/97 tercatat 111.794 bruto registered tons (BRT) atau meningkat 5,0 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya, sedangkan kegiatan industri reparasi kapal baja dan industri bangunan lepas pantai mengalami peningkatan masing-masing sebesar 5,2 persen dan 5,0 persen. Kemampuan rekayasa dan rancang bangun industri perka- palan pada tahun 1996 terus berkembang, dengan telah mampu menyelesaikan pembuatan kapal penumpang dan kendaraan serba guna (Ferry Ro-Ro) pesanan luar negeri.

Hasil produksi industri mesin listrik pada tahun 1996/97 secara keseluruhan menunjukkan kecenderungan meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Perkembangan produksi yang cukup besar dialami oleh industri motor listrik, panel listrik tegangan rendah dan tinggi, generator listrik, dan kWh meter, masing-masing meningkat sebesar 39,4 persen, 37,1 persen, 25,4 persen, dan 16,1 persen bila dibandingkan dengan produksi tahun sebelumnya. Sedangkan produksi transformator distribusi dan welding generator masing-masing menunjukkan peningkatan sebesar 13,8 persen dan 5,0 persen.

Hasil produksi cabang industri elektronika menunjukkan perkem- bangan yang mantap. Produksi industri elektronika pada tahun ketiga Repelita VI seperti radio/casette recorder mobil, televisi, amplifier, radio mobil, lemari es, alat pendingin, dan komputer mikro menunjukkan peningkatan yang cukup pesat, masing-masing sebesar 29,0 persen, 28,9 persen, 27,2 persen, 27,0 persen, 26,8 persen, 26,8 persen dan 25,0 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Sedangkan produksi industri elektronika lainnya yang mengalami peningkatan, yaitu PCM/multiplex, sentral telpon dan PABX, radio broadcast, HF-SSB, dan radio transmitter, meningkat masing-masing

XI/22

sebesar 27,2 persen, 21,0 persen, 17,8 persen, 15,0 persen, dan 16,4 persen dibandingkan dengan produksi pada tahun 1995/96. Pertum- buhan ini disebabkan karena semakin meningkatnya industri elektro- nika/komponen elektronika dari negara maju yang direlokasikan ke Indonesia dan berperan makin besar dalam ekspor, serta meningkat- nya pemakaian dalam negeri.

Secara keseluruhan perkembangan produksi beberapa jenis industri yang termasuk dalam industri logam, mesin dan elektronika adalah seperti dalam Tabel XI-2.

c) Perkembangan Industri Kimia

Karakteristik industri kimia pada umumnya menggunakan teknologi maju, padat energi dan padat modal, serta menggunakan sumber daya alam setempat. Industri kimia ini berkembang sebagai industri penghasil bahan baku dan bahan setengah jadi untuk industri hilirnya. Oleh karena itu perkembangan industri ini berperan penting dalam penguatan dan pendalaman struktur industri, terutama yang berbasis pada pengolahan sumber daya alam yang dimiliki sehingga memperkukuh keterkaitan antara industri hulu dengan industri hilir maupun antara sektor industri dengan sektor ekonomi lainnya seperti pertanian dan pertambangan. Industri kimia meliputi berbagai jenis industri termasuk industri agrokimia, industri mineral bukan logam terutama industri semen, industri kimia organik, dan industri kimia anorganik.

Pemasaran produk hasil kelompok industri kimia sebagian besar masih ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri dan jika ada kapasitas lebih ditujukan untuk pasar ekspor. Perkembangan industri barang kimia pada tahun 1996/97 pada umumnya menunjukkan kenaikan produksi yang cukup mantap. Hal tersebut

XI/23

disebabkan adanya perluasan kapasitas produksi, dan pembangunan beberapa pabrik, serta peningkatan kebutuhan oleh industri pemakai. Di samping itu, beberapa industri kimia telah mampu menghasilkan produk ekspor yang terus meningkat.

Dalam tahun 1996/97 produksi industri agrokimia, produksi pupuk urea dan pupuk TSP, menunjukkan perkembangan masing-masing sebesar 13,7 persen dan 5,2 persen bila dibandingkan produksi pada tahun 1996/97, sedangkan produksi amoniak meningkat sebesar 5,0 persen. Peningkatan produksi pupuk ini antara lain disebabkan oleh semakin meluasnya perkebunan kelapa sawit di Indonesia.

Pada tahun ketiga Repelita VI, hasil produksi industri kimia organik meliputi sodakostik, zat asam, dan nitrogen pada umumnya menunjukkan peningkatan cukup berarti dengan kenaikan berkisar 5,0 persen dibandingkan dengan tahun 1995/96. Peningkatan ini disebabkan karena semakin berkembangnya industri kearah hulu serta makin beragamnya industri hilir yang mengolah sumber daya nabati.

Dalam kelompok industri kimia dasar, produk polystyrene pada tahun 1996/97 menunjukkan perkembangan yang cukup tinggi yaitu 41,9 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Sementara itu perkembangan produksi polypropylene, carbon black, ethylene diochloride, heavy alkylate, dan asam formiat sampai dengan tahun 1996/97 menunjukkan peningkatan produksi masing-masing berkisar 5,0 persen dibandingkan produksi pada tahun 1995/96.

Dalam kelompok industri kimia anorganik, produksi etil asetat pada tahun 1996/97 menunjukkan peningkatan yang cukup tinggi yaitu sebesar 16,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu

XI/24

produksi jenis industri lainnya meningkat rata-rata 5,0 persen dibandingkan dengan produksi tahun sebelumnya.

Produksi industri barang galian bukan logam antara lain industri insulator keramik, genteng semen, semen putih, asbes semen, sanitair, dan barang pecah belah dari keramik menunjukkan peningkatan yang cukup tinggi, masing-masing sebesar 126,3 persen, 28,0 persen, 24,3 persen, 16,7 persen, 15,7 persen, dan 13,0 persen dibandingkan tahun 1995/96. Sedangkan produksi industri semen pada tahun 1996/97 menunjukkan peningkatan rata-rata sebesar 5,0 persen.

Perkembangan produksi beberapa jenis industri kimia adalah seperti dalam Tabel XI-3.

d) Perkembangan Industri Barang Penting Lainnya

Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) masih tetap merupakan produk unggulan yang berperan besar dalam meningkatkan kinerja industri nasional. Industri ini telah tumbuh dan berkembang menjadi industri penyumbang terbesar dalam nilai ekspor dan penyerapan tenaga kerja, dan telah memacu pula tumbuhnya industri baru pada kelompok industri kimia yang menghasilkan bahan baku dan bahan penolong bagi industri TPT.

Industri tekstil/tekstil lembaran dan pakaian jadi pada tahun 1996/97 produksinya meningkat masing-masing sebesar 14,3 persen dan 13,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sedangkan produksi kantong plastik dan karung plastik dan jaring ikan masing-masing meningkat sebesar 17,0 persen, 17,0 persen, dan 9,4 persen.

Pada tahun ketiga Repelita VI, produksi hasil industri lainnya seperti ball point, organ/piano, dan pensil terus meningkat masing-

XI/25

masing sebesar 15,0 persen, 12,5 persen dan 10,0 persen dibandingkan tahun 1995/96.

Perkembangan produksi industri barang-barang penting lainnya pada tahun ketiga Repelita VI tampak dalam Tabel XI-4.

2) Perkembangan Industri Berorientasi Ekspor

Peningkatan ekspor hasil industri nonmigas telah merubah struktur ekspor Indonesia yang semula bertumpu pada hasil ekspor industri migas. Ekspor hasil industri pengolahan nonmigas pada tahun ketiga Repelita VI mencapai nilai sebesar US$32,1 miliar, atau meningkat sekitar 9,5 persen dari tahun sebelumnya. Jika pada tahun terakhir Repelita V, sumbangan ekspor hasil industri terhadap total ekspor maupun total ekspor non migas, masing-masing sebesar 63,3 persen dan 75,5 persen, maka tahun ketiga Repelita VI sumbangannya meningkat masing-masing menjadi 64,5 persen dan 76,5 persen. Perkembangan ini juga diikuti dengan bertambahnya keberagaman dan meningkatnya nilai tambah produk ekspor hasil industri.

Upaya mendorong pengembangan industri berorientasi ekspor digerakkan melalui perbaikan iklim investasi maupun melalui berbagai kemudahan ekspor dengan dukungan prasarana, pelayanan aparatur serta peningkatan efisiensi dan mutu yang dilakukan oleh dunia usaha sendiri.

Langkah-langkah deregulasi dan debirokratisasi di berbagai sektor riil yang ditempuh secara terus-menerus sejak tahun 1985 diarahkan untuk mendukung kegiatan ekspor. Dampak dari berbagai kebijaksanaan tersebut telah mendorong banyak industri yang sebelumnya berorientasi pada pasar dalam negeri berkembang dan beralih ke pasar luar negeri. Industri TPT dan industri elektronika

XI/26

yang sebelumnya berkembang sebagai industri substitusi impor, telah tumbuh pesat sebagai industri ekspor yang penting. Perubahan orientasi ini tidak saja mempercepat proses industrialisasi, tetapi telah berkembang menjadi sumber penting pertumbuhan ekonomi. Dengan demikian pengembangan industri berorientasi ekspor menjadi bagian penting dalam strategi pengembangan industri.

Jenis industri tertentu yang memberikan sumbangan cukup tinggi terhadap total ekspor industri pada tahun 1996 adalah produk industri tekstil, pengolahan kayu, elektronika, serta kulit, barang kulit dan sepatu/alas kaki. Sumbangannya masing-masing sebesar 19,9 persen, 17,9 persen, 10,4 persen dan 7,6 persen. Sedangkan jenis industri yang menunjukkan peningkatan pada tahun ketiga Repelita VI adalah industri hasil hutan ikutan yang naik sebesar 98,6 persen; industri kimia dasar 61,9 persen; industri makanan ternak 47,1 persen; dan industri pengolahan rotan olahan 35,4 persen dibandingkan dengan ekspor tahun 1995. Di samping itu, ekspor jasa industri dalam bidang rancang bangun dan perekayasaan termasuk pembangunan pabrik secara utuh menunjukkan perkembangan yang cukup berarti.

Pada tahun 1996, ekspor industri elektronika mencapai sebesar US$3,3 miliar atau meningkat 31,8 persen bila dibandingkan pada tahun 1995 sebesar US$2,5 miliar. Hal ini menunjukkan bahwa iklim investasi industri elektronika semakin menarik, dengan ditandai banyaknya industri elektronika dan komponen elektronika dari negara maju direlokasi ke Indonesia. Industri ini memberi sumbangan 10,4 persen terhadap nilai ekspor hasil industri nonmigas.

Nilai ekspor industri makanan dan minuman seperti ikan dalam kaleng dan buah/sayur dalam kaleng pada tahun 1996 cenderung meningkat yaitu menjadi sebesar US$100,8 juta dan US$134,3 juta atau masing-masing meningkat sebesar 4,1 persen dan 51,6 persen

XI/27

dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Sumbangan ekspor hasil industri makanan dan minuman terhadap total ekspor industri pada tahun ketiga Repelita VI adalah sebesar 2,9 persen.

Industri lainnya yang menunjukkan pertumbuhan ekspor yang pesat pada tahun 1996 adalah industri besi baja, mesin dan otomotif; industri pupuk; industri pengolahan karet; dan industri alat olah raga yang masing-masing meningkat sebesar 9,5 persen, 27,2 persen, 1,6 persen, dan 7,5 persen dibandingkan ekspor tahun sebelumnya.

Secara keseluruhan perkembangan ekspor industri sampai dengan tahun ketiga Repelita VI selain mengalami kenaikan juga menunjuk- kan adanya penguatan pada struktur industri yang berorientasi ekspor dibandingkan tahun sebelumnya.

3) Perkembangan Investasi Industri

Pada tahun 1996/97 rencana investasi di sektor industri mening- kat cukup pesat. Rencana penanaman modal yang telah mendapatkan persetujuan pada tahun 1996/97 secara keseluruhan terdiri dari pena- naman modal asing (PMA) sebesar US$15,722,0 juta dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) Rp.62,1 triliun. Jika dibanding- kan dengan tahun sebelumnya nilai PMA yang disetujui oleh peme- rintah menunjukkan penurunan, akan tetapi investasi yang terjadi pada PMDN mengalami kenaikan yaitu meningkat sebesar 19,9 persen dibandingkan dengan persetujuan rencana investasi yang diberikan pada tahun 1995/96.

XI/28

2. Program Penunjang

a. Program Pengendalian Pencemaran Lingkungan Hidup

Program ini bertujuan untuk mendukung pengembangan industri yang berwawasan lingkungan sehingga percepatan laju pembangunan industri senantiasa selaras dengan kelangsungan fungsi lingkungan hidup. Upaya pencegahan dan pengendalian pencemaran limbah industri dalam tahun 1996/97 dilanjutkan dengan memperluas peng- gunaan teknologi bersih serta teknologi pengolahan limbah industri, antara lain melalui pengkajian teknologi bersih (clean technology) bagi industri elektro plating dan flexible packaging, serta industri yang berpotensi bau, beracun, dan berbahaya (B3).

Dalam rangka meningkatkan kesadaran lingkungan, diadakan penyuluhan analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) di 3 propinsi, dan pengolahan limbah cair industri tekstil, galvanis dan elektroplating. Bimbingan dan bantuan teknis kepada industri kecil juga dilanjutkan dan ditingkatkan melalui sentra-sentra industri antara lain industri sandang dan kulit, industri pangan, industri pencelupan tekstil dan batik, bahan bangunan, industri logam, serta industri kerajinan.

Kegiatan AMDAL mulai efektif dilaksanakan sejak awal Repelita V. Secara kumulatif sampai dengan tahun ketiga Repelita VI, telah diselesaikan sebanyak 1.449 dokumen AMDAL, 286 upaya penge- lolaan lingkungan (UKL) dan upaya pemantauan lingkungan (UPL) dari perusahaan industri. Pada tahun 1996/97 upaya pemantauan dilakukan di 685 perusahaan industri yang tersebar di 15 propinsi, dan dari jumlah tersebut 411 perusahaan telah memiliki instalasi pengolahan air limbah (IPAL).

XI/29

Untuk meningkatkan kemampuan aparat dalam memantau baku mutu limbah, UKL dan UPL di perusahaan industri pada tahun 1996/97 telah dilaksanakan pelatihan kepada 54 orang aparat penga- was dari 27 propinsi. Dalam rangka bimbingan dan bantuan teknis bagi perusahaan industri pada tahun 1996/97 juga telah diselesaikan panduan pengendalian pencemaran udara.

b. Program Pengembangan Informasi Industri

Program ini bertujuan untuk terselenggaranya penyediaan be- bagai jenis informasi yang andal dan mutakhir sesuai dengan kebutuhan baik dalam rangka kebijaksanaan dan strategi pembangunan industri maupun sebagai sarana dalam rangka peningkatan dan perluasan kegiatan dunia usaha.

Sejalan dengan perkembangan teknologi informasi yang cepat berubah, semakin meningkatkan kebutuhan akan data informasi keindustrian, yang mencakup antara lain informasi teknologi, usaha industri, pemasaran hasil industri, peluang usaha dan investasi, profil komoditas industri, dan informasi industri penting lainnya. Sampai dengan tahun 1996/97 data dasar yang tersedia baik yang bersumber dari dalam maupun luar negeri telah mencapai 38 jenis data. Demikian pula perangkat lunak pendukung yang dikembangkan untuk melancarkan pelayanan informasi industri telah mencapai 38 jenis perangkat lunak.

Di dalam menunjang penyampaian informasi keindustrian tersebut sampai ke seluruh propinsi di Indonesia dilakukan kerjasama lintas sektor antara lain dengan Pos Wasantara yang telah memberikan pelayanan informasi industri melalui jaringan komunikasi internet melalui jaringan telepon.

XI/30

Sistem dan pelayanan informasi bagi industri kecil juga dikem- bangkan dalam rangka mendukung peningkatan ekspor hasil industri kecil terutama bagi industri yang masih lemah dalam akses kepada informasi. Diseminasi pelayanan informasi dilakukan pula dengan memanfaatkan jaringan internet kepada Warung Sistem Informasi (WARSI) yang saat ini berada di kota Sukohardjo dan Tasikmalaya, dan yang akan dikembangkan sehingga mencakup ke 27 propinsi. Dalam rangka meningkatkan penyebaran informasi agar dapat berlangsung secara cepat dan tepat, upaya pengembangan jaringan informasi industri antara Pemerintah dan dunia usaha, antardaerah, serta antara daerah di dalam negeri dan luar negeri telah diupayakan untuk diperbaiki dan ditingkatkan sistemnya melalui kerjasama dengan pihak swasta.

c. Program Pendidikan, Pelatihan, dan Penyuluhan

Industri

Program ini lebih ditujukan untuk mendorong pengembangan kemampuan lembaga pendidikan industrial dan memantapkan serta meningkatkan koordinasi pelaksanaan pendidikan dan pelatihan dalam rangka penyediaan tenaga-tenaga industrial yang terampil baik jumlah maupun kualifikasinya sesuai dengan kebutuhan industri yang terus berkembang, termasuk mengurangi ketergantungan pada tenaga ahli asing. Pada tahun 1996/97 upaya penyediaan dan peningkatan kualitas tenaga industrial itu antara lain diselenggarakan pada 17 unit pendidi- kan kejuruan industri baik di tingkat lanjutan atas maupun di tingkat pendidikan tinggi, pelatihan dan pengalaman kerja dengan sistem magang, dan penyusunan sistem dan pola pelatihan kerja industri. Sampai dengan tahun 1995/96 dilaksanakan pelatihan bagi 210 penyuluh industri, termasuk 60 penyuluh spesialis dalam rangka mendukung kegiatan penyuluhan industri.

XI/31

Sampai dengan tahun 1996/97, bekerja sama dengan berbagai lembaga pelatihan, telah dilaksanakan pelatihan sumber daya manusia industri dalam bidang manajemen, teknis maupun bisnis untuk dunia usaha industri sebanyak 7.830 orang.

d. Program Penelitian dan Pengembangan Industri

Program ini ditekankan pada pelaksanaan penelitian dan pengem- bangan, baik oleh Pemerintah maupun dunia usaha, untuk menghasil- kan berbagai informasi dan temuan dalam bidang teknologi dan manajemen industri guna memecahkan masalah praktis yang dihadapi oleh dunia usaha untuk mempercepat proses alih teknologi, mening- katkan daya saing, dan memperkukuh struktur industri.

Pada tahun 1995/96 kegiatan penelitian dan pengembangan dilak- sanakan melalui 253 pengkajian dalam rangka pengembangan industri prospektif yang mencakup aspek tekno-ekonominya serta iklim industri yang mendukung. Pada tahun 1995/96 dilakukan 59 kegiatan rancang bangun dan rekayasa, serta 24 kegiatan penelitian dan pengembangan kebijaksanaan industri. Hasil penelitian ini digunakan untuk lebih mendorong pertumbuhan, penguatan dan pendalaman struktur industri.

XI/32

TABEL XI – 1

PERKEMBANGAN PRODUKSI AGROINDUSTRI

1993/94, 1994/95 – 1996/97

1) Angka Diperbaiki

2) Angka Sementara

3) Termasuk “shortening”

4) Termasuk produksi industri kecil

XI/33

GRAFIK XI – 1

PRODUKSI MINYAK GORENG

1993/94, 1994/95 – 1996/97

XI/34

GRAFIK XI – 2

PRODUKSI KERTAS

1993/94, 1994/95 – 1996/97

XI/35

TABEL XI – 2

PERKEMBANGAN PRODUKSI INDUSTRI LOGAM, MESIN DAN ELEKTRONIKA

1993/94, 1994/95 – 1996/97

XI/36

(Lanjutan Tabel XI- 2)

XI/37

(Lanjutan Tabel XI- 2)

XI/38

GRAFIK XI – 3

PRODUKSI BESI BETON/PROFILE

1993/94, 1994/95 – 1996/97

XI/39

TABEL XI – 3

PERKEMBANGAN PRODUKSI INDUSTRI BARANG-BARANG DARI KIMIA

1993/94, 1994/95 – 1996/97

XI/40

(Lanjutan Tabel XI – 3)

1) Angka diperbaiki

2) Angka Sementara

XI/41

GRAFIK XI – 4

PRODUKSI PUPUK UREA

1993/94, 1994/95 – 1996/97

XI/42

GRAFIK XI – 5

PRODUKSI SEMEN PORTLAND

1993/94, 1994/95 – 1996/97

XI/43

TABEL XI – 4

PERKEMBANGAN PRODUKSI INDUSTRI BARANG-BARANG PENTING LAINNYA

1993/94, 1994/95 – 1996/97

1) Angka Diperbaiki

2) Angka Sementara

3) Termasuk rajut

XI/44

GRAFIK XI – 6

PRODUKSI TEKSTIL/TEKSTIL LEMBARAN

DAN PAKAIAN JADI

1993/94, 1994/95 – 1996/97

XI/45