bab lima harus fix

of 98/98
BAB V ANALISIS POTENSI WILAYAH KECAMATAN 5. 1. Potensi, permasalahan serta tantangan wilayah studi dalam penataan ruang A. Potensi Kawasan peruntukan pertambangan minyak dan gas bumi, berupa kawasan potensi pertambangan minyak dan gas bumi Blok Enrekang yang terdapat di Kabupaten Enrekang ditetapkan di Kecamatan Masalle Desa Batu Ke’de, Kecamatan Alla, Kecamatan Baraka, Kecamatan Baroko, Kecamatan Enrekang, Kecamatan Cendana, Kecamatan Maiwa dan Kecamatan Anggeraja. KSK dengan sudut kepentingan pendayagunaan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi, terdiri atas; a. Kawasan potensi tambang batu bara di Kecamatan Enrekang; b. Kawasan PLTA di Desa Lebani Kecamatan Bungin dan di Desa Buttu Batu Kecamatan Enrekang;. 1 c. Kecamatan Enrekang merupakan Pusat Kegiatan Lokal ( PKL ) d. Kecamatan Enrekang merupakan pusat kegiatan perdagangan dan jasa di Kabupaten Enrekang. Adapun beberapa fungsi pusat permukiman di Kecamatan Enrekang antara lain : 1 Peraturan Daerah Kabupaten Enrekang Nomor 14 tahun 2011tentang rencana tata ruang wilayah Kabupaten Enrekang Tahun 2011 - 2031 TUGAS BESAR STUDIO PERENCANAAN WILAYAH 127

Post on 30-Nov-2015

65 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

tentang perencanaan

TRANSCRIPT

BAB VANALISIS POTENSI WILAYAH KECAMATAN5. 1. Potensi, permasalahan serta tantangan wilayah studi dalam penataan ruangA. PotensiKawasan peruntukan pertambangan minyak dan gas bumi, berupa kawasan potensi pertambangan minyak dan gas bumi Blok Enrekang yang terdapat di Kabupaten Enrekang ditetapkan di Kecamatan Masalle Desa Batu Kede, Kecamatan Alla, Kecamatan Baraka, Kecamatan Baroko, Kecamatan Enrekang, Kecamatan Cendana, Kecamatan Maiwa dan Kecamatan Anggeraja.KSK dengan sudut kepentingan pendayagunaan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi, terdiri atas; a. Kawasan potensi tambang batu bara di Kecamatan Enrekang; b. Kawasan PLTA di Desa Lebani Kecamatan Bungin dan di Desa Buttu Batu Kecamatan Enrekang;.[footnoteRef:1] [1: Peraturan Daerah Kabupaten Enrekang Nomor 14 tahun 2011tentang rencana tata ruang wilayah Kabupaten Enrekang Tahun 2011 - 2031]

c. Kecamatan Enrekang merupakan Pusat Kegiatan Lokal ( PKL )d. Kecamatan Enrekang merupakan pusat kegiatan perdagangan dan jasa di Kabupaten Enrekang.Adapun beberapa fungsi pusat permukiman di Kecamatan Enrekang antara lain : ekonomi, yaitu sebagai pusat produksi dan pengolahan barang; jasa perekonomian, yaitu sebagai pusat pelayanan kegiatan keuangan/bank, dan/atau sebagai pusat koleksi dan distribusi barang, dan/atau sebagai pusat simpul transportasi, pemerintahan, yakni sebagai pusat jasa pelayanan pemerintah; jasa sosial, yaitu sebagai pusat pemerintahan, pusat pelayanan pendidikan, kesehatan, kesenian, dan/atau budaya.

Dangke merupakan makanan khas masyarakat Kab.Enrekang dimana bahan bakunya berasal dari susu sapi.Pengrajin Dangke di Kab.Enrekang sebanyak 182. unit usaha dalam 2 (dua) kecamatan yaitu, Enrekang dan Kec.Curio dan mempunyai binaan sebanyak 6 buah dan memproduksi susu dalam satu tahun mencapai 96.000 liter yang terdiri dari susu sapi dan kerbau.B. PermasalahanDapat dilihat secara langsung bahwa Kecamatan Enrekang di kelilingi oleh gunung-gunung sehingga menyebabkan kecamatan ini sulit untuk berkembang walaupun kecamatan ini merupakan ibukota Kabupaten Enrekang. Sebab dalam perencanaan transportasi terutama jalan sebagai akses bilitas di Kecamatan Enrekang menyebabkan kawasan ini sulit untuk untuk di kembangkan karena kondisi fifik wilayah yang berbukit-bukit.Namun bukan hanya masalah letaknya yang berada di antara gunung-gunung, banjir juga menjadi masalah yang cukup menyesakkan warga dimana hampir setiap musim hujan terjadi banjir dikarenakan terdapat 2 sungai yang cukup besar yaitu sungai saddang dan sungai mata allo dan sungai ini memiliki titik pertemuan sehingga pada saat hujan, kedua sungai tersebut meluap sehingga tidak dapat menampung jumlah air yang sangat besar dan pada akhirnya air tersebut merembes masuk ke permukiman-permukiman warga setempat. C. Tantangan dalam penataan ruangDi dalam penataan ruang memiliki tantangan tertentu dalam merencanakan suatu wilayah sesuai dengan potensi yang di miliki masing-masing wilayah. Sumber daya sangat berpengaruh pada penataan ruang, sebab karakteristik sumber daya yang dimiliki merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat perkembangan dan pembangunan suatu wilayah. Potensi sumber daya yang dimiliki oleh Kecamatan Enrekang berproporsi pada sumber daya alam berupa sandang, pangan dan papan yang tentu akan membantu perkembangan wilayahnya, selain itu, dengan sumber daya manusia yang dimiliki Kecamatan Enrekang cukup memadai untuk mengelolah sumber daya alam yang ada memungkinkan untuk dapat berkembang pesat baik dalam sektor pertanian, perkebunan maupun perekonomian untuk menjual hasil buminya keluar dari daerah Kecamatan Enrekang.Selain potensi, hal yang menjadi subtansi pokok dalam penataan ruang suatu wilayah yaitu permasalahan-permasalahan seputar penataan ruang di wilayah tersebut dan tantangan dalam mewujudkan tata ruang yang kondusif dan berkelanjutan. Berdasarkan hasil survei, permasalahan paling berpengaruh sekaligus merupakan tantangan wilayah Kecamatan Enrekang dalam penataan ruang yaitu, kondisi topografi, merupakan kawasan rawan bencana serta permasalahan aksesbilitas yang belum memadai untuk menunjang tingkat perkembangan di Kecamatan Enrekang. Adapun berbagai permasalahan dan tantangan wilayah Kecamatan Enrekang dalam penataan ruang beserta arahan-arahannya dirangkum dalam tabel 5.1:Tabel 5.1Permasalahan dan Tantangan Serta Arahan Kecamatan Enrekang Dalam Penataan RuangNo.Permasalahan dan TantanganArahan

IndikatorUraian

1.Kondisi Topografi wilayahKecamatan Enrekang memiliki topografi 500-1000 mdpl yang merupakan daerah berbukit-bukit, dengan kemiringan lereng yang sangat berfariasi mulai dari daerah datar sampai kemiringan lereng yang cukup curam. Dengan demikian, sangat berpengaruh pada penataan ruang berupa tata letak pembangunan di Kecamatan Enrekang.Melakukan perencanaan berbasis lingkungan, yaitu dengan cara mengubah bentang alam yang ada, selain itu merencanakan berdasarkan peruntukannya. Karena kondisi topografi di Kecamatan Enrekang merupakan salah satu aspek wilayah yang menjadi karakteristik tersendirI dan cirri khas yang dimiliki oleh Kecamatan Enrekang itu sendiri.

2Kawasan rawan bencanaDengan kondisi fisik wilayah yang dimiliki oleh Kecamatan Enrekang menjadikan wilayah ini merupakan kawasan rawan bencana sebab memiliki kemringan lereng yang cukup curam serta diapit oleh dua sungai besar yaitu sungai saddang, sungai mata allo. Berdasarkan peta rawan bencana, beberapa Desa/ Kelurahan di Kecamatan Enrekang terdapat titik rawan bencana longsor dan banjir.Tidak melakukan pembangunan di daerah rawan Longsor di Kecamatan Enrekang adapun pengembangnnya dapat diarahkan untuk peningkatan disektor pertanian. Pada daerah yang memilki kondisi topografi yang memungkinkan tidak adanya pembanguan. Selain itu perlunya pencegahan terhadap daerah yang rawan banjir dan longsor dengan membangun tanggul pada daerah sekitar sungai serta daerah rawan longsor,

3AksesibilitasTingkat kenyamanan dan kemudahan akses antar Desa/Kelurahan di Kecamatan Enrekang relatif rendah, dikarenakan angkutan umum hanya beroperasi pada hari pasar dan sarana transportasi yang masih kurang, serta kondisi jalan yang kurang baik, memnyebabkan aksesbilitas tergangguPerlu adanya pemerataan perbaikan jalan, baik jalan kolektor, lokal maupun jalan lingkungan di Kecamatan Enrekang, serta perlunya pengadaan angkutan umum meski diluar hari pasar, untuk mengangkut masyarakat yang ada di sekitar wilayah Kecamatan Enrekang, aksesibilitas dan sistem transportasi sangat berpengaruh pada tingkat pengembangan dalam tujuan penataan ruang.

Sumber: Hasil Analisis Tahun 20135.2 Analisis Kedudukan dan kepentingan wilayah studi dalam kebijakan pembangunan wilayah kabupatenKecamatan Enrekang sebagai Pusat Kegiatan Lingkungan ( PKL ) Hal tersebut menjadi pertimbangan dalam satuan kebijakan pembangunan wilayah kabupaten Enrekang. Dalam rencana pengembangan kawasan andalan Kabupaten Enrekang, Kecamatan Enrekang diarahkan dalam pengembangan Kawasan Fungsional sebab Kecamtan Enrekang juga merupakan ibukota kabupaten dengan arahan sebagai kawasan unggulan industri, pariwisata, perdagangan dan jasa dengan memberdayakan masyarakat setempat dan tetap mempertahankan fungsi konservasi. Sehingga Kecamatan Enrekang perlu meningkatkan tingkat pembangunan wilayahnya dalam aspek sarana dan prasarana yang dapat meningkatkan wilayah Kecamatan EnrekangBerdasarkan arah pembangunan dan rencana struktur ruang Kabupaten Enrekang terhadap Kecamatan Enrekang, maka dapat disimpulkan bahwa wilayah Kecamatan Enrekang memiliki taraf kepentingan dan kedudukan yang sangat penting bagi pengembangan pembangunan khususnya dalam aspek perekonomian dan pusat sentral kegiatan Kabupaten Enrekang. Maka dari itu, pemerintah Kecamatan Enrekang perlu mengupayakan dengan kapasitas yang lebih pada pembangunan sarana dan prasarana yang sentralisirnya telah ditetapkan dalam kebijakan pembangunan Kabupaten Enrekang yakni berpusat pada pembangunan berbasis pusat kegiatan lingkungan, pusat kegiatan sentral serta perdagangan dan jasa. Dengan fasilitas yang memadai tentunya akan membantu wilayah lain dalam mengolah sumberdaya alam dalamnya dengan tujuan meningkatkan tingkat perkembangan wilayah Kabupaten Enrekang.Kedepan dengan adanya perkembangan kota yang diikuti dengan bertambahnya jumlah penduduk maka pengembangan kawasan perumahan dan permukiman melalui penciptaan lokasi-lokasi permukiman khususnya di daerah Kecamatan Enrekang, dengan ditunjang infrstruktur yang lengkap dan memadai seperti, fasilitas kesehatan, pendidikan, dan fasilitas lain yang akan meningkatkan tingkat perkembangan sumber daya manusia. Sehingga sumber daya alam yang ada di Kabupaten Enrekang di imbangi dengan sumber daya manusia yang kreatif dan unggul.5.3 Analisis Kondisi Fisik DasarA. Analisis topografi dan kemiringan lerengKondisi Topografi di Kecamatan merupakan wilayah dataran yang telah ditinjau dari aspek topografi. Kecamatan Enrekang mempunyai tingkat ketinggian berada pada ketinggian 50-2000 mdpl. Jadi Kecamatan Enrekang memiliki wilayah yang cukup tinggi sehingga penyerapan sinar matahari dapat mencukupidigunakan untuk pertanian, perkebunan dan objek wisata.Kondisi kemiringan lereng di Kecamatan ini yaitu 0-40%.Dengan daerah yang memiliki kemiringan lereng yang berfariasi tiap daerah dengan kemiringan 8-15%, 15-25%, dan 25-40%. Maka berdasarkan Pedoman Penyusunan Pola Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah, tahun 1986. Wilayah ini berada pada wilayah 0-8% atau landai, sehingga wilayah ini cocok untuk wilayah pengembangan permukiman yang didukung oleh fungsi penunjang lainnya seperti ketersediaan sarana dan prasarana. Sedangkan kemiringan 8-15% Dapat di lakukan pembangunan namun dalam taraf yang disesuaikan maksudnya bangunan-bangunan dengan ketinggian bangunan yang melebihi dua lantai diasumsikan untuk tidak dilakukan.Selain itu dengan kemiringan 8-25% cocok dimanfaatkan sebagai kawasan persawahan, perkebunan, dan peternakan dan pembangunan pemukiman namun disesuaikan dengan tingkat kerawanan bencana atau kesesuaian wilayah yang ada. Dan untuk kemiringan lereng 25-40% baik dimanfaatkan sebagai kawasan hutan yang dapat membantu jumlah RTH yang ada di Kecamatan Enrekang dan cocok sebagai kawasan lindung untuk mengembangkan tumbuhan-tumbuhan langkah serta sebagai habitat atau tempat hidup hewan-hewan hutan yang ada di Kecamatan Enrekang sehingga dapat dimanfaatkan sebagai kawasan pariwisata alam.B. Analisis Geologi dan Jenis TanahKecamatan Enrekang memiliki struktur geologi berupa batu gamping, batuan epiklasik dan batuan lava. Jenis tanah yang di Kecamatan Enrekang adalah tanah Aluvial, tanah Litosol, tanah Mediteran, dan tanah podsilik dengan tingkat kesuburan rendah maupun tinggi .Berdasarkan jenis tanah yang ada di Kecamatan Enrekang ,maka kawasan ini cocok untuk pertanian dan perkebunan jangka panjang ataupun jangka pendek berupa coklat, kacang-kacangan, sayur-sayuran, buah-buahan, serta umbi-umbian yang dapat dikelola sehingga membantu tingkat perkembangan wilayah.

Sedangkan untuk tanah yang memiliki tingkat kesuburan tanah yang kurang baik atau rendah dapat di manfaatkan sebagai kawasan terbangun pada ketinggian yang memungkinkan untuk mendirikan bangunan, dan untuk daerah yang tidak memungkinkan untuk terbangun dapat dimanfaatkan sebagai kawasan hutan yang dapat membantu jumlah RTH yang ada di Kecamatan Enrekang.C. Analisis Klimatologi dan Hidrologi1. KlimatologiIklim dan cuaca sangat mempengaruhi pola kehidupan penduduk di suatu wilayah tertentu. berdasarkan data curah hujan dan jumlah hari hujan di Kecamatan Enrekang, musim hujan terjadi berkisar antara bulan November sampai bulan juni, dimana kondisi iklim ini sangat mendukung untuk pengembangan kawasan budidaya pertanian terutama tanaman jangka pendek seperti padi, sayur, dan jagung .Sedangkang musim kemarau terjadi pada kisaran bulan Juli sampai bulan Oktober. Dimana dengan kondisi iklim ini menyebabkan tingginya suhu di Kecamatan Enrekang di mana kondisi ini sangat mendukung untuk pengembangnan kawasan budidaya perkebunan utamanya tanaman jangka panjang seperti buah coklat, rambutan, dan durian. 2. HidrologiKecamatan Enrekang merupakan daerah lintasan air sungai atau yang biasa disebut dengan wathershed. Di Kecamatan Enrekang memiliki beberapa genangan berupa air permukaan baik itu genangan temporer (sungai yang digunakan sebagai irigasi persawahan, dan pengairan untuk areal perkebunan) maupun genangan periodik yang terjadi saat musim penghujan yaitu areal persawahan. Sumber air yang melimpah menjadikan Kecamatan Enrekang memiliki potensi pertanian dan perkebunan yang tinggi karena seyogyanya tanaman membutuhkan air untuk hidup dan di Kecamatan Enrekang hal itu dapat terpenuhi. Kebutuhan air bersih yang bersumber dari PDAM sudah ada, namun tidak semua desa/kelurahan di Kecamatan Enrekang telah terjangkau air bersih dari PDAM, sebagian kecil masih bergantung pada sumur bor dan juga dari sungai.5.4 Analisis Penggunaan Pemanfaatan LahanPenggunaan dan pemanfaatan lahan di Kecamatan Enrekang di bagi 6 dan penggunan lahan yang paling luas yaitu hutan, baik hutan budidaya, hutan lindung, maupun hutan konservasi. Jadi dapat disimpulkan bahwa di Kecamatan Enrekang masih terdapat lahan yang belum di gunakan atau belum diolah. Namun pada saat sekarang pemerintah sudah mulai memanfaatkan hutan yang belum dimanfaatkan untuk pelestarian plasma nutfah, penahan dan penyaring partikel padat dari udara, peredam kebisingan, mengurangi bahaya hujan asam. Begitupun dengan penggunaan lahan lainnya yang dimana pemerintah terus berusaha mengembangkan fungsi lahan masing-masing seperti RTH yaitu pengembangan Kecamatan Enrekang. Berikut adalah tabel penggunaan lahan di Kecamatan Enrekang :Tabel 5.2Penggunaan Lahan di Kecamatan Enrekang Tahun 2012No.Penggunaan LahanLuas Lahan (Ha)Persentase

1Sarana 3144,91.08

2Peemukiman 9405,43,23

3Kebun Campuran 62547,621,48

4Ladang28740,49,87

5Sawah14792,45,08

6Hutan92656,631,82

7Semak5113317,56

8Padang Rumput28767,69,88

Jumlah 291,19100

Sumber : Kecamatan Dalam Angka dan Survey Lapangan 2013

5.5 Analisis Perekonomian WilayahA. Pertumbuhan Ekonomi WilayahKecamatan Enrekang yang di tunjang dengan tingkat kesuburan tanah sehingga kawasan ini berkembang dalam sektor pertanian dan perkebunan yang tiap tahunnya terus meningkat begitu pun dengan kecamatan yang lain yang ada di Kabupaten Enrekang sehingga kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi.Kondisi sektor riil belum menunjang untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi agar dapat menjaga kesinambungan pembangunan secara berkelanjutan. Hingga sekarang, sektor riil berupa hasil pertanian dan perkebuanan belum mampu di suplai Keluar daerah Kecamatan Enrekang maupun keluar kabupaten Enrekang sebab minimnya infrastruktur untuk mengelola hasil pertanian dan perkebuan sehingga belum mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi yang ditandai dengan lemahnya investasi, rendahnya daya saing dan tingkat inflasi tinggi terutama karena faktor aksesibilitas rendah yang mengakibatkan daerah ini selalu terjebak pada masalah ekonomi biaya tinggi. Tanpa pembenahan, kondisi ini diduga akan menjadi ancaman serius bagi Kecamatan Enrekang karena akan berdampak pada terbatasnya penciptaan peluang kerja, tingginya jumlah pengangguran dan jumlah penduduk miskin serta migrasi keluar penduduk.Berbagai kebijakan ekonomi akan diarahkan pada pencapaian pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkesinambungan. Kondisi ini akan terus dijaga dan harga komoditi unggulan daerah Kecamatan Enrekang sperti tanaman jangka panjang maupun jangka pendek perlu distabilkan/ditingkatkan guna menjaga supply-demand yang seimbang. Pengelolaan Sumber Daya Alam. Efektivitas pemanfaatan sumber daya alam sebagai modal pertumbuhan ekonomi, yang diiringi dengan infrastruktur yang memadai, dengan berbagai kebijakan penerapan pola pembangunan berkelanjutan (sustainable development) pada keseimbangan antara eksploitasi SDA dan pertumbuhan ekonomi agar tingkat pengurasan SDA tidak sampai pada tingkat yang mengancam kehidupan masyarakat di daerah.B. Komponen Pertumbuhan Ekonomi1. Analisis Growth PDRB Kabupaten EnrekangAnalisis Growth dilakukan untuk mengetahui tingkat pertumbuhan dari sektor ekonomi yang ada di suatu wilayah setiap tahunnya. Berdasarkan nilai PDRB Kabupaten Enrekang tiga tahun terakhir(2009, 2010, 2011), dapat diketahui nilai growth 2009-2010 dan growth 2010-2011. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel 5.3:Tabel 5.3Produksi Sektor Pertanian di Kabupaten Enrekang dan Produksi Kecamatan Enrekang Tahun 2011No.Sektor EkonomiPDRB Kabupaten EnrekangPersentase

2009201020112009-2010 (%)2010-2011 (%)

1Pertanian741.380,20909.612,491.085.451,9222,6919,33

2Pertambangan dan Penggalian10.991,8212.555,4014.260,5814,2413,59

3IndustriPengolahan41.088,0542.903,8759.817,604,4239,43

4Listrik,GasdanAir Bersih7.400,558.563,5910.186,2615,7318,96

5Bangunan93.314,03111.413,42121.611,9919,409,15

6Perdagangan,Hotel danRestoran138.937,91170.839,38201.709,3222,9618,07

7Angkutandan Komunikasi35.181,0543.609,3452.554,9923,9620,52

8Keuangan, PersewaandanJasa Perusahaan63.438,6277.765,9089.261,9722,5914,78

9Jasa-Jasa482.482,98544.145,46656.835,9112,7820,71

Sumber: PDRB Kabupten Enrekang dan Hasil Analisis Tahun 2013Berdasarkan perhitungan analisis growth pada tabel 5.3, PDRB Kabupaten Enrekang secara keseluruhan sektor perekonomian mengalami nilai pertumbuhan (+). Hal ini menujukkan seluruk sektor di Kabupaten Enrekang baik disektor pertanian, pertambangan, perdagangan, jasa dan lainnya berpotensi untuk mengalami perkembangan.2. Analisis Growth Kecamatan EnrekangKecamatan Enrekang sebagai pusat kegiatan lokal dan merupakan ibukota Kabupaten Enrekang yang dimana kawasan ini lebih bergerak pada kegiatan perkotaan yang dimana terdapat berbagai kegiatan perdagangan dan jasa. Selain itu, Kecamatan Enrekang yang masih bergerak dalam kegiatan produksi pertanian meliputi sektor tanaman pangan, perkebunan, perikanan dan peternakan dapat diketahui pada basis dan kurun waktu mana sektor tersebut mengalami pertumbuhan (+) atau penurunan (-) dengan menggunakan analisis growth yang dapat dilihat pada tabel 5.4 berikut:Tabel 5.4Analisis Growth Produksi Sektor Pertaniandi Kecamatan Enrekang Tahun 2009-2011NoSektor PertanianTahunNilai growth

2009201020112009-2010(%)2010-2011(%)

1.Tanaman Pangan (ton)24.872,6525.648,7528.615,33,1011,57

2.Perkebunan (ton)684.54713.87793,44,4311,29

3.Perikanan (ton)21,3722,1822,658,886,62

Sumber : Hasil Analisis Tahun 2013 4.Peternakan (ekor)45.316,6747.631,3948.3885,111,56

Berdasarkan tabel 5.4, dapat dilihat bahwa semua sektor ekonomi yang ada di Kecamatan Enrekang bernilai (+) baik sektor tanaman pangan atau pertanian, perkebunan, peternakan, maupun perikanan. 3. Analisis Share Kecamatan Enrekang Terhadap Prospek Ekonomi Kabupaten EnrekangKarakteristik ekonomi wilayah Kecamatan Enrekang dapat diketahui dengan menggunakan analisis share. Bila share bernilai x>2 diberi tanda (+) dan dinyatakan kontribusi yang diberikan besar dan bila share bernilai 134,8Sangat Tinggi

Intensitas Curah Hujan = Rata-rata CH / rata-rata HH= 179,58 / 8,5= 21,13Dengan berdasar pada standar nilai dan skor kelas intensitas curah hujan maka nilai kelas intensitas hujan Kecamatan Malua yakni berada pada kelas 3 atau memiliki intensitas curah hujan yang tergolong sedang.

2. Analisis Nilai Kelas (Pembobotan)Menganalisis nilai kelas atau pembobotan dimaksudkan untuk mengetahui skor total kesesuaian lahan di wilayah Kecamatan Malua dengan bersumber pada skor kelas kelerangan, kepekaan tanah terhadap erosi dan intensitas curah hujan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 5.19 berikut;

Tabel 5.19Hasil Pembobotan Nilai Kelas di Kecamatan MaluaVariabelKondisiNilaiBobotIndeks

1Kelerengan Lapangan33 x 2060

2Kepekaan Tanah11 x 2020

3Intensitas CH33 x 2060

Jumlah140

Sumber : Hasil Analisis Tahun 2013Dengan hasil pembobotan maka dapat diketahui penetapan kawasan yang sesuai dengan lahan di Kecamatan Malua. Adapun kriteria penetapan kawasan berdasarkan hasil skor yakni dapat dilihat pada tabel 5.20 berikut;

Tabel 5.20Kriteria Penetapan KawasanPenentuan KawasanKriteria

Kawasan Hutan LindungSkor 175 dan > 175

Hutan Produksi TerbatasSkor 125 124

Hutan Produksi Tetap< 124

Hutan Produksi Konversi< 124 diluar hutan suaka alam, hutan wisata, hutan produksi tetap dan terbatas

Pada tabel 5.19 dapat diketahui bahwa skor total kesesuaian lahan di Kecamatan Malua yakni 140. Dengan skor dan kriteria penetapan kawasan ditetapkan bahwa pemanfaatan ruang di Kecamatan Malua sebagian besar lahannnya dialokasikan untuk wilayah kawasan lindung yang mencakup kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup meliputi sumber daya alam dan sumber daya buatan.

A. Faktor Pembatas Kesesuaian Lahan Melihat Kondisi fisik wilayah yang dimiliki oleh Kecamatan Enrekang, sehingga memilki faktor pembatas kesesuaian lahan. Dengan kemiringan lereng yang dimiliki oleh Kecamatan Enrekang 0-40 % menyebabkan kawasan ini rawan longsor. Selain itu, wilayah ini di apit oleh sungai-sungai besar seperti sungai saddang dan sungai mata allo wilayah ini mengalami banjir ketika musim hujan terjadi. Oleh karena itu perlu adanya penyesuaian lahan yang ada di Kecamatan Enrekang sesuai dengan peruntukannya dengan melihat wilayah-wilayah yang dapat di manfaatkan dengan maksimal. Sebab pada wilayah ini memiliki kesuburan tanah yang cukup baik.B. Kesesuaian Lahan PotensialMelihat potensi yang ada di Kecamatan Enrekang perlu adanya kesesuaiaan lahan. Sehingga pada kawasan yang berpotensi untuk dikembangkan perlu melihat aspe-aspek yang ada dalam pemanfaatannya, agar pembangunan yang dilakukan memiliki manfaat yang maksimal. Kecamatan Enrekang yang merupakan ibukota Kabupaten Enrekang sehingga perlu adanya peningkatan Infrastruktur yang ada serta pemanfaatan lahan yang memiliki tingkat kesuburan tanah yang cukup baik berpotensi unuk dikembangkan pada sektor pertanian dan perkebunan dengan kata lain kawasan budidaya yang ada perlu dikembangkan dengan melihat faktor pembatas kesesuaian lahan. C. Kesesuaian Lahan AktualDengan adanya kesesuaian lahan yang ada di Kecamatan Enrekang, maka kawasan budaya perlu di perhatikan pemanfaatannya agar bermanfaat sesuai dengan peruntukannya karena melihat beberpa potensi yang dimilki oleh wilayah tersebut. Oleh karena itu, perlu mengembangkan kawasan tertentu cepat tumbuh atau potensial tumbuh (kawasan andalan) terutama dalam rangka meningkatkan keterkaitan kegiatan produksi pertanian dan perkebunan yang ada di Kecamatan Enrekang , dengan memperhatikan potensi sumber daya alam yang ada serta orientasinya dan keterkaitannya dengan pengembangkan kawasan-kawasan kaya sumberdaya alam dengan mengarahkan pembangunan seoptimal mungkin dan tetap menjaga kelestarian lingkungan (sustainable development). Dengan pemanfaatan kawasan yang ada, dengan melihat kesesuaian lahan, maka sumber daya yang ada tentunya akan di manfaatkan secara maksimal. Pada kawasan yang merupakan daerah rawan bencana, maka kawsan tersebut perlu di kendalikan dengan menjadikan wilayah tersebut sebagai Kawasan lindung dengan upaya pengendalian lingkungan, sehingga kawasan ini tidak dimanfaatkan akan tetapi sebagai pola pengelolaan kawasan yang memberikan perlindungan pada kawasan bawahannya yang terdiri dari kawasan hutan lindung, kawasan bergambut, dan kawasan resapan air sehingga mencegah terjadinya bencana banjir dan longsor di Kecamatan Enrekang. Dan kawasan lindung juga dapat berfungsi sebagai pengelolaan kawasan suaka alam, pelestarian alam dan cagar budaya atau pariwisata alam.

B. Analisis Sistem Jaringan PrasaranaDemi menciptakan kesejahteraan dan perkembangan suatu wilayah dapat kita lihat dengan ketersediaan dan kelayakan prasarana di wilayah tersebut. Dimana prasarana ini merupakan suatu sistem bagi masyarakat untuk melakukan suatu aktivitas atau kegiatan. Adapun hasil analisis system jaringan prasarana dapat di lihat pada tabel berikut:Tabel 5.19Analisis Sistem Jaringan Prasarana di Kecamatan EnrekangNoPrasaranaAnalisis

1.Jaringan JalanPerlu dilakukan perbaikan jalan demi kenyamana pengguna jalan. Melihat kondisi jaringan jalan di wilayah ini masih terdapat sedikit jalan yang rusak.

2.Jaringan DrainasePentingnya kesadaran masyarakat bahwa drainase adalah salah satu wadah tempat penampungan air hujan maupun air limbah, oleh karena itu perlu diadakannya pembangunan drainase di jalan-jalan yang belum terdapat drainase, serta tidak membuang sampah pada sembarang tempat.

3.Jaringan Air BersihSumber jaringan air bersih di Kecamatan Enrekang di dominasi oleh air PDAM, tetapi terkadang air mengalami kedangkalan, oleh karena itu perlu adanya perhatian ekstrim dar pemerintah.

4.Jaringan ListrikJaringan listrik sudah terjangkau di seluruh wilayah di Kecamatan Enrekang namun seiring dengan pertambahan jumlah penduduk dan perkembangan pembangunan di wilayah ini yang tentu membutuhkkan konstribusi jaringan listrik yang lebih besar. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengembangan pembangkit tenaga listrik.

5.Jaringan TelekomunikasiUntuk meningkatkan kelancaran berkomunikasi di daerah ini, dibuat penambahan sinyal telepon seluler hingga ke daerah-daerah yang lebih terpencil seperti desa buntu batuan. Selain itu, pembangunan telepon umum dan warung telepon juga bisa menjadi salah satu alternatif guna memenuhi kebutuhan masyarakat Kecamatan Malua dalam spasial kebutuhan komunikasi.

6.PersampahanDi Kecamatan Malua belum tersentuh oleh asumsi prasarana dalam pengolahan persampahan secara umum. Jadi sebaiknya di wilayah ini disediakan prasarana persampahan seperti tong sampah, gerobak sampah dan kontainer serta dilakukan pengolahan persampahan dengan sistem persampahan yang berujung pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Selain itu, kebiasaan masyarakat membuang sampah ke sungai harus dihentikan.

Sumber: Hasil Analisis Tahun 20135.8 Analisis Pola Pemanfaatan RuangKonsep pengembangan pola ruang akan dikembangkan sesuai dengan ketentuan dan peraturan ang berlaku serta sesuai dengan kaidah-kaidah pengembangan ruang. Pada dasarnya pembagian pola ruang ini akan terbagi berdasarkan 2 pola ruang utama yaitu kawasan budidaya dan kawasan lindung. Berikut ini akan diruaikan mengenai masing-masing jenis pemanfaatan ruang tersebut.A. Kesesuaian Lahan Kawasan LindungHutun lindung adalah kawasan yang karena keadaan dan sifat fisik wilayahnya perlu dibina dan dipertahankan sebagai hutan dengan penutupan vegetasi secara tetap guna kepentingan hidroorologi, yaitu tata air, mencegah banjir dan erosi serta memelihara keawetan dan kesuburan tanah, baik dalam kawasan hutan yang bersangkutan maupun kawasan yang dipengaruhi di sekitarnya. Luas kawasan lindung di Kecamatan Enrekang mencapai 291.190 Ha dari total kawasan lindung di Kabupaten Enrekang. Kawasan lindung yang terdapat Kecamatan Enrekang terdiri dari beberapa yaitu:1. Kawasan hutan lindungDaerah yang termasuk kawasan hutan lindung memiliki ketinggian dari 2000 meter serta memiliki kemiringan lebih dari 40%. Luas kawasan hutan lindung di Kecamatan Enrekang yaitu mencapai 121.426 Ha. Kawasan hutan lindung di Kecamatan Enrekang terdapat di Desa Rosoan, Desa Tokkonan, Desa Kallupini, Desa tungka, Ranga dan Desa Tallu Bamba.2. Daerah Rawan BencanaDi Kecamatan Enrekang terdapat daerah rawan bencana yang memiliki luas 5.728 Ha. Daerah rawan bencana alam yaitu di sekitar pertemuan antara sungai saddang dan sungai mata allo yaitu di Kelurahan Juppandang dan Kelurahan Galonta merupakan daerah rawan bencana banjir. Di Kecamatan Enrekang juga terdapat daerah rawan bencana longsor yaitu tepatnya di Desa Lembang, Kelurahan Tuara, Desa Rosoan, Desa Buttu Batu, dan Desa Tallu Bamba. Daerah rawan bencana merupakan kawasan lindung yang terdapat di Kecamatan Enrekang.3. Sempadan sungaiSempadan sungai merupakan salah satu kawasan lindung yang terdapat di Kecamatan enrekang dan memiliki luas mencapai 3.276 Ha. Di Kecamatan Enrekang memiliki berbagai sungai seperti sungai saddang, daite, lumika, mamasa, baban, naodan, bungin dan sungai mata allo.

Status lahan sangatlah penting dalam menentukan suatu bentuk manajemen pengelolaan. Penetapan status kawasan lindung merupakan aspek legal yang berkekuatan hokum. Strategi dan arahan dalam pola ruang adalah meninjau kembali dokumen RTRW terutama terhadap alokasi pemanfaatn ruang.Penetapan kawasan lindung pada dasarnya dilakukan untuk menjaga kelestaran lingkungan hidup. Inti pengelolaanya bertujuan agar tetap terjaganya fungsi lindung. Kerusakan fungsi lindung akan menjadi salah satu penyebab terjadinya bencana alam dan penurunan kualitas lingkungn hidup.

B. Kesesuaian Lahan Kawasan BudidayaKawasan budidaya merupakan wilayah yang dapat dibudidayakan dan difungsikan untuk kepentingan pembangunan dalam bentuk kegiatan usaha berbagai sektor atau sub sektor pembangunan yang relevan.1. Kawasan peruntukan hutan produksiKawasan peruntukan hutan produksi meliputi hutan produksi tetap, hutan produksi terbatas, dan hutan produksi yang dikonversi. Ketentuan lebih rinci untuk masing masing jenis peruntukan diatur dalam bagian ketentuan teknis. Fungsi utama Kawasan peruntukan hutan produksi memiliki fungsi antara lain: Penghasil kayu dan bukan kayu, sebagai daerah resapan air hujan untuk kawasan sekitarnya, membantu penyediaan lapangan kerja bagi masyarakat setempat, sumber pemasukan dana bagi Pemerintah Daerah (dana bagi hasil) sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.............................2. Kawasan peruntukan pertanianFungsi utama Kawasan peruntukan pertanian memiliki fungsi antara lain: Menghasilkan bahan pangan, palawija, tanaman keras, hasil peternakan dan perikanan, sebagai daerah resapan air hujan untuk kawasan sekitarnya, membantu penyediaan lapangan kerja bagi masyarakat setempat. Kegiatan kawasan peruntukan pertanian meliputi pertanian tanaman pangan dan palawija, perkebunan tanaman keras, peternakan, perikanan air tawar, dan perikanan laut. Luas pertanian pangan dan palawija di Kecamatan Enrekang yaitu 5.022 Ha yang terdapat di Desa Lewaja, Tallu Bamba, Lembang, Temban, Tungka, dan Desa Kaluppini. Luas perkebunan tanaman keras yaitu 34.746 Ha dan terdapat di Desa Lembang, Ranga, Tokkonan, Galonta, Cemba, Tobalu, Kelurahan Lewaja, serta Kelurahan Pusseren. kawasan yang diperruntukan untuk peternakan di Kecamatan Enrekang memiliki luas mencapai 3.012 Ha dan terdapat di Desa Rosoan, Tungka, Temban, Karuen, Buttu Batu, Kelurahan Leoran, Galonta, dan Kelurahan Lewaja. Sedangkan luas kawasan yang diperuntukan untuk perikanan air tawar di Kecamatan Enrekang yaitu 2.249 Ha dan terdapat di Kelurahan Juppandang, Desa Temban, Desa Tungka, dan Desa Karuen.3. Kawasan peruntukan permukimanFungsi utama Kawasan peruntukan permukiman memiliki fungsi antara lain: Sebagai lingkungan tempat tinggal dan tempat kegiatan yang mendukung peri kehidupan dan penghidupan masyarakat sekaligus menciptakan interaksi sosial, sebagai kumpulan tempat hunian dan tempat berteduh keluarga serta sarana bagi pembinaan keluarga. Kawasan peruntukan permukiman di Kecamatan Enrekang memiliki luas mencapai 3144,852 Ha dari luas keselurahan wilayah Kecamatan Enrekang yang tersebar di 12 Desa dan 6 Kelurahan yang terdapat di Kecamatan tersebut.4. Kawasan peruntukan pariwisataJenis obyek wisata yang diusahakan dan dikembangkan di kawasan peruntukan pariwisata dapat berupa wisata alam ataupun wisata sejarah dan konservasi budaya. Fungsi utama Kawasan peruntukan pariwisata memiliki fungsi antara lain: Memperkenalkan, mendayagunakan, dan melestarikan nilai-nilai sejarah/budaya lokal dan keindahan alam, mendukung upaya penyediaan lapangan kerja yang pada gilirannya dapat meningkatkan pendapatan masyarakat di wilayah yang bersangkutan. Di Kecamatan Enrekang hanya terdapat satu objek wisata yaitu permandian air terjun lewaja yang terdapat di Kelurahan Lewaja dengan luas ..............................5. Kawasan peruntukan perdagangan dan jasaFungsi utama Kawasan peruntukan perdagangan dan jasa memiliki fungsi antara lain: Memfasilitasi kegiatan transaksi perdagangan dan jasa antar masyarakat yang membutuhkan (sisi permintaan) dan masyarakat yang menjual jasa (sisi penawaran), dan menyerap tenaga kerja di perkotaan dan memberikan kontribusi yang dominan terhadap PDRB. Pemanfaatan ruang di kawasan peruntukan perdagangan dan jasa diperuntukan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, dengan tetap memelihara sumber daya tersebut sebagai cadangan pembangunan yang berkelanjutan dan tetap memperhatikan kaidah-kaidah pelestarian fungsi lingkungan hidup................5.9 Analisis Sosial dan KependudukanA. Perkiraan Laju Pertumbuhan PendudukProyeksi penduduk terhadap wilayah perencanaan yaitu Kecamatan Enrekang dengan memperhatikan kecenderungan pertumbuhan wilayah maka kami menggunakan pendekatan Ekstrapolatip/ekstrapolasi. Pendekatan ini digunakan untuk mengetahui kecenderungan pertumbuhan & perkembangan dengan menggunakan metode proyeksi sesuai mekanisme dan struktur wilayah perencanaan yg terjadi. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 5.21 dibawah ini :Tabel 5.21Jumlah Penduduk Kecamatan EnrekangTahun 2007-2011NoTahunJumlah PendudukPertumbuhan/Penurunan

1.200729.530-

2.200827.718-1.812

3.200930.260+2542

4.201030.568+308

5.201130.822+258

Rata-Rata148.898324

Jumlah148.8981.296

Sumber:Kecamatan Enrekang Dalam Angka 2012Berdasarkan data tabel 5.20, terlihat bahwa data Kecamatan Enrekang dalam angka jumlah penduduk Kecamatan Enrekang dari tahun ke tahun mengalami peningkatan dan penurunan, pada tahun 2007 sebanyak 29.530 jiwa dan hingga pada tahun 2011 sebanyak 30.822 jiwa.Laju pertumbuhan penduduknya mengalami penurunan sehingga untuk menganalisis proyeksi penduduk di tahun 2031, digunakan metode analisis penduduk ekstrapolasi. Adapun Persamaan proyeksi pola Ekstrapolasi, yaitu:

Pn = P0 + b.Keterangan:Pn= Jumlah penduduk yang akan diproyeksiP0 = Jumlah penduduk tahun akhirb= Rata-rata pertumbuhan penduduk= Tahun proyeksi-Tahun akhir

Dari hasil proyeksi penduduk 20 tahun kedepan (2031) di Kecamatan Enrekang, jumlah penduduknya yaitu 37.302 jiwa. Pertambahan jumlah penduduk dari tahun 2011 sampai tahun 2031 adalah 6480 jiwa. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 5.21 di bawah ini :Tabel 5.21Hasil Proyeksi Jumlah Penduduk 20 Tahun KedepanKecamatan EnrekangNo.TahunJumlah penduduk (jiwa)Pertambahan (jiwa)

1.201632.442-

2.202134.0621.620

3.202635.6821.620

4. 203137.3021.620

Rata-Rata penduduk dan persentase34.872-

Rata-rata Pertumbuhan Penduduk tiap 5 tahun-1.620

Sumber : Hasil Analisis Tahun 2013

Diagram 5.5Hasil Proyeksi Jumlah Penduduk 20 Tahun KedepanKecamatan Enrekang

Sumber : Hasil Analisis Tahun 2013Dari tabel 5.21dan diagram 5.5 dapat kita lihat bahwa pertambahan jumlah penduduk Kecamatan Enrekang dari tahun 2011-2031 sangat besar yaitu 37.302 jiwa.Pertambahan jumlah penduduk ini tentunya berpengaruh pada persediaan lahan, sarana maupun prasarana wilayah.Oleh karena itu dibutuhkan penambahan jumlah sarana dan prasaran di wilayah tersebut.Sebelum melakukan analisis kebutuhan sarana dan prasarana di Kecamatan Enrekang pada tahun 2031, data yang paling di butuhkan adalah sebaran penduduk tiap kelurahan. Untuk mengetahui jumlah penduduk tiap kelurahan, perhatikan tabel 5.22 berikut;Tabel 5.22Hasil Proyeksi Perkembangan Penduduk Berdasarkan KelurahanDi Kecamatan EnrekangNo.Kelurahan/DesaPersentase Penduduk 2011(%)Jumlah Penduduk Tahun 2011Jumlah Penduduk Hasil Proyeksi Tahun 2032 (jiwa)

1.Leoran5.5116972055

2.Galonta10.9233654073

3.Juppandang21.7867128124

4.Lewaja3.8811971447

5.Ranga3.4310581279

6.Kaluppini3.4510621287

7.Tobalu2.66819992

8.Tokkonan1.72531642

9.Pusserren8.6626693230

10Karueng5.4516772033

11.Cemba3.6111131347

12.Tungka5.0515561884

13.Temban2.62809977

14.Buttu Batu5.2516191958

15.Tallu Bamba6.1018812275

16.Tuara3.7611601403

17.Lembang2.47762921

18.Rosoan3.6811351373

Jumlah10030.82237.302

Sumber : Hasil Analisis Tahun 2012Berdasarkan tabel 5.22 diatas dapat disimpulkan bahwa dari hasil proyeksi 20 tahun kedepan yaitu tahun 2031, yang memiliki jumlah penduduk terbanyak ada pada Kelurahan Juppandang yaitu sebanyak 8.124 jiwa, sedangkan yang memiliki jumlah penduduk yang paling sedikit ialah ada pada Desa Tokkonan yaitu hanya sebanyak 642 jiwa dari total keseluruhan jumlah penduduk hasil proyeksi tahun 2031 yaitu sebanyak 37.302 jiwa.B. Distribusi kepadatan penduduk tahun 2031Wilayah Kecamatan Enrekang berdasarkan keadaan data pada tahun 2011 mempunyai jumlah penduduk sebanyak 30.822jiwa dengan luas wilayah sekitar 291,19km2 dan pada tahun 2031 dari hasil proyeksi 20 tahun kedepan jumlah penduduk Kecamatan Enrekang mencapai 37.302 jiwa. Adapun proyeksi kepadatan penduduk Kecamatan Enrekang pada tahun 2031 dapat kita lihat pada tabel 5.23 dibawah ini :

Tabel 5.23Jumlah Proyeksi Kepadatan Penduduk Perkelurahan Di Kecamatan EnrekangNo.Kelurahan/DesaLuas Wilayah (Km2)Hasil Proyeksi tahu 2032

Jumlah Penduduk (Jiwa)Kepadatan Penduduk (Jiwa/Km2)

1.Leoran11,222055183

2.Galonta6,404073636

3.Juppandang11,658124697

4.Lewaja7,721447187

5.Ranga23,98127953

6.Kaluppini13,90128792

7.Tobalu17,6899256

8.Tokkonan21,2364230

9.Pusserren5,503230587

10.Karueng8,402033242

11.Cemba9,201347146

12.Tungka31,18188460

13.Temban13,5497772

14.Buttu Batu31,50195862

15.Tallu Bamba43,44227552

16.Tuara8,751403160

17.Lembang12,9092171

18.Rosoan13,001373105

Jumlah291,1937.302128

Sumber: Hasil analisis Tahun 2012Dari tabel 5.23 dapat kita lihat bahwa peningkatan kepadatan penduduk di Kecamatan Enrekang pada proyeksi tahun 2032 lebih tinggi yaitu mencapai 128 jiwa / km2 dibandingkan pada tahun 2011 yang kepadatan penduduknya sebesar 105,85 jiwa/Km2. Oleh karena itu, perlu kiranya untuk melakukan pematangan konsep pembangunan atau arahan perencanaan kota sehingga penduduk tidak lebih leluasa menempatkan perumahan sesuai keinginannya atau lebih memerhatikan peruntukan untuk lokasi perumahan.

C. Indikator tingkat pendidikan masyarakatDalam suatu wilayah ada beberapa indikator penilaian yang berperan penting salah satunya ialah pendidikan masyarakat. Pendidikan masyarakat merupakan hal yang penting dalam meningkatkatkan taraf hidup dan sumber daya manusia. Pada mutu pendidikan sekarang ada beberapa tingkatan yaitu mulai dari tingkat TK, SD, SMP, dan SMA. Lebih jelasnya dapat dilihat dalam table berikut ini :Tabel 5.24Indikator Tingkat Pendidikan Masyarakatdi Kecamatan Enrekang Tahun 2011NoDesa / KelurahanSaranaPendidikan (P1)Tenaga Guru(P2)Murid TK(P3)

Jumlah%Jumlah%Jumlah%

1Leoran34233,69396,78

2Galonta1420,5810516,8511720,34

3Juppandang1217,6411217,9710918,95

4Lewaja34213,37356,08

5Ranga45,88375,93--

6Kaluppini22,94172,72--

7Tobalu34314,977913,73

8Tokkonan11,4791,44--

9Pusserren45,88436,90345,91

10Karueng22,94121,92--

11Cemba11,4781,28--

12Tungka34314,97345,91

13Temban22,94223,53--

14Buttu Batu34345,45--

15Tallu Bamba34416,58--

16Tuara45,88477,548715,13

17Lembang11,4771,12--

18Rosoan34233,69417,13

Jumlah68100623100575100

1Leoran1412,31----

2Galonta5328,72253138.83291349.82

3Juppandang5298,67130520.02293450.17

4Lewaja3635,95----

5Ranga5418,6866110.14--

6Kaluppini3125,11----

7Tobalu1432,34----

8Tokkonan1342,19----

9Pusserren4867,96----

10Karueng1893.0965910.11--

11Cemba1772.90----

12Tungka3495.72----

13Temban1913.1368410.49--

14Buttu Batu4777.8167710.38--

15Tallu Bamba5218.54----

16Tuara3375.52----

17Lembang1792.93----

18Rosoan4998.18----

Jumlah610010065171005847100

Sumber: Hasil analisis 2013D. Dinamika sosial masyarakatMasyarakat di berbagai belahan dunia, mengalami perkembangan yang makin lama kompleks. Kelompok sosial sebagai bentuk pengelompokan manusia, selalu berinteraksi dan memiliki sifat tidak statis. Berbagai Kelompok sosial yang terbentuk dalam masyarakat memiliki perkembangan yang tidak sama.Dinamika kelompok sosial dapat didefinisikan sebagai proses perubahan dan perkembangan akibat adanya interaksi dan interdependensi, baik antar anggota kelompok maupun antara anggota suatu kelompok dengan kelompok lain.Kelompok sosial yang terbentuk dalam masyarakat, berupa kelompok sosial kecil ( pertemanan dan kekerabatan ) dan kelompok sosial besar ( masyarakat desa, kota, dan bangsa ). Kelompok sosial tersebut bersifat dinamis, dalam arti selalu mengalami perkembangan dan perubahan. Perkembangan dan perubahan dalam kelompok tersebut memunculkan pengaruh terhadap kehidupan kelompok pada masa berikutnya. Faktor pendorong dinamika kelompok socialDinamika kelompok sosial dalam masyarakat menyebabkan perubahan dan perkembangan kelompok sosial yang makin kompleks. Perkembangan tersebut tidak lepas dari faktor pendorong yaitu sebagai berikut.a) Faktor pendorong dari luarFaktor pendorong dari luar atau ekstern merupakan pengaruh dari luar yang menyebabkan dinamisnya suatu kelompok sosial, yang meliputi berikut.1) Perubahan Situasi SosialTerjadinya situasi sosial yang berubah, misal pembentukan kabupaten baru atau provinsi baru, industrialisasi, ruralisasi, dan sebagainya dapat mendorong perkembangan kelompok sosial. Misal akibat industrialisasi, pola masyarakat yang berdasarkan nilai kebersamaan/gotong royong bergeser menjadi kelompok yang berpegang pada nilai individualistis.b) Perubahan Situasi EkonomiSituasi ekonomi masyarakat yang berubah, mendorong pula terjadinya perubahan pada kelompok sosial. Misal perubahan dari masyarakat pedesaan dengan segala karakterya menjadi masyarakat perkotaan yang memiliki karakteristik yang beerlainan.3) Perubahan situasi politik Tterjadinya pergantian pemegang kekuasaan atau sekitar elite kekuasaan atau perubahan kebijaksanaan penguasa dapat menyebabkan perkembangan kelompok sosial dalam masyarakat.

b) Faktor pendorong dari dalamFaktor dari dalam (intern) kelompok yang menyebabkan timbulnya dinamika kelompok sosial adalah sebagai berikut.1) Konflik Antar angggota KelompokKonfik yang terjadi antar anggota dalam kelompok sosial dapat membawa pengaruh keretakan dan berubahnya pola hubungan sosial. Akibat konflik teersebut akan menyebabkan teerpecahnya sebuah kelompok sosial. Misal seseorang yang menjadi anggota kelompok sosial, karena merasa tidak cocok dengan angggota lain (in group) maka menjadi out group dari kelompok sosial tersebut.2) Perbedaan kepentingan Dasar terbentuknya kelompok sosial adalah kepentingan yang sama. Begitu terjadi perbedaan kepentingan, maka kelangsunganhidup kelompok soaial tersebut akan teerpecah. Anggota kelompok yang merasa tidak lagi sepaham berusaha memisahkan diri dan bergabung dengan kelompok lain yang sepaham.3) Perbedaan PahamPerbedaan paham diantara anggota kelompok sosial dapat mempengaruhi kelangsungan kelompok tersebut. Perbedaan paham tersebut akan berpengaruh terhadap keberadaan kelompok sosial dalam mayarakat.5.10 Analisis Kebutuhan Sarana dan PrasaranaA. Analisis kebutuhan sarana wilayah1. PendidikanJumlah fasilitas pendidikan pada tahun 2011 di Kecamatan Enrekang sebanyak 68 unit, yang mana tersebar di semua kelurahan. Adapun jenis fasilitas yang ada di Kecamatan Enrekang berupa TK/PAUD, SD, SMP/MTs/ dan SMU/SMK/MA. Berdasarkan jumlah penduduk yang telah di proyeksi 20 tahun kedepan, yang jumlah penduduknya semakin meningkat maka pada fasilitas ini perlu adanya penambahan fasilitas seiring denga bertambahnya jumlah penduduk Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 5.25 berikut :Tabel 5.25Analisis Fasilitas Pendidikan di Kecamatan Enrekang Pada Tahun 2031NoJenis FasilitasEksisting 2011(unit)Jumlah Penduduk 2031 (jiwa)SPM(Jiwa)Penambahan Fasilitas

1TK/PAUD1537.302100022

2SD3560000

3SMP/MTs10250000

4SMA/SMK/MA8300000

Sumber : Hasil Analisis Tahun 2013

Berdasarkan hasil analisis pada tabel 5.25 di atas dapat kita ketahui bahwa jenis fasilitas di Kecamatan Enrekang yang mengalami penambahan adalah TK/PAUD sebanyak 22 unit. Jenis fasilitas yang lain tidak mengalami penambahan karena jumlahnya sudah memenuhi persyaratan.2. Kesehatan Pertambahan jumlah penduduk yang telah di proyeksi 20 tahun kedepan, mengakibatkan pula terjadi pertambahan pada setiap fasilitas seperti fasilitas kesehatan akan mengalami penambahan, mengingat bahwa fasilitas kesehatan adalah salah satu penunjang terwujudnya kesempurnaan aksesibilitas kota yang dimana sangatlah dibutuhkan bagi masyarakat untuk memeriksakan dan mengobati penyakit mereka. Jumlah fasilitas kesehatan pada tahun 2011 sebanyak 78 unit. Jika mau mengetahui jenis fasilitas kesehatan apa saja yang dibutuhkan lagi untuk 20 tahun kedepannya dapat kita lihat pada tabel berikut :

Tabel 5.26Analisis Fasilitas Kesehatan di Kecamatan Enrekang Pada Tahun 2031NoJenis FasilitasEksisting 2011(unit)Jumlah Penduduk 2031 (jiwa)SPM(Jiwa)Penambahan Fasilitas

1RS137.302240.0000

2Puskesmas/Pustu2030.0000

3Posyandu497501

4Rumah Praktek35.0004

Sumber : Hasil Analisis Tahun 20135Apotek510.0000

Dari hasil anlisis pada tabel 5.26 di atas dapat diketahui bahwa tidak semua jenis fasilitas kesehatan yang ada di Kecamatan Enrekang mengalami penambahan seperti RS, Puskesmas/Pustu, dan Apotik. Dan jenis fasilitas yang mengalami penambahan ada 2 fasilitas yaitu posyandu sebanyak 1 unit dan rumah praktek 4 unit dengan jumlah keseluruhan penambahan adalah 5 unit. Rumah Praktek disini biasa rumah praktek dokter, praktek bidan maupun praktek gigi. 3. Peribadatan Jumlah fasilitas peribadatan di Kecamatan Enrekang pada tahun 2013 sebanyak 98 unit. Jenis fasilitas peribadatan sangat tergantung pada kondisi setempat dengan memperhatikan struktur penduduk menurut agama yang dianut, dan tata cara atau pola masyarakat setempat dalam menjalankan ibadah agamanya. Adapun jenis fasilitas peribadatan yang direncanakan sebagai berikut :Tabel 5.27Analisis Fasilitas Peribadatan di Kecamatan Enrekang Pada Tahun 2031NoJenis FasilitasEksisting 2011(unit)Jumlah Penduduk 2031 (jiwa)SPM(Jiwa)Penambahan Fasilitas

1Mesjid7237.3022.5000

2Mushollah/Langgar24250125

3Gereja2-0

Sumber : Hasil Analisis Tahun 2013Berdasarkan hasil anlisis pada tabel 5.27 diatas, dapat disimpulkan bahwa fasilitas peribadatan yang mengalami penambahan

ialah mushallah sebanyak 125 unit. Adapun jenis fasilitas lainnya tidak perlu mengalami penambahan karena kebutuhannya yang diinginkan untuk kedepannya telah terpenuhi. 4. Perdagangan dan JasaHingga Tahun 2011 tersedia fasilitas perdagangan dan jasa berupa pasar, warung,/kios, pertokoaan, bank, bengkel, salon, laundry dan hotel di Kecamatan Enrekang. Pertambahan jumlah penduduk yang telah di proyeksi 20 tahun kedepan, mengakibatkan pula terjadi pertambahan pada setiap fasilitas seperti fasilitas perdagangan dan jasa akan mengalami penambahan, mengingat bahwa fasilitas perdagangan dan jasa adalah salah satu penunjang terwujudnya kesempurnaan aksesibilitas kota yang dimana sangatlah dibutuhkan bagi masyarakat untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan sehari-hari yang digunakan untuk beraktivitas. Jika mau mengetahui jenis fasilitas kesehatan apa saja yang dibutuhkan lagi untuk 20 tahun kedepannya dapat kita lihat pada tabel 5.28 berikut:Tabel 5.28Analisis Fasilitas Perdagangan dan Jasa di Kecamatan Enrekang Pada Tahun 2031NoJenis FasilitasEksisting 2011(unit)Jumlah Penduduk 2031 (jiwa)SPM(Jiwa)Penambahan Fasilitas

1Pasar237.30220.0000

2Kios/Warung3111.5000

3Pertokoan322.5000

4Bengkel, Salon, Bank, Laundry, Hotel2095000

Sumber : Hasil Analisis Tahun 2013Berdasarkan hasil anlisis pada tabel 5.28 di atas, Perdagangan dan Jasa untuk Kecamatan Enrekang tidak mengalami penambahan, karena semua jenis fasilitas yang ada telah memenuhi kebutuhan yang telah diinginkan untuk kedepannya.

5. Olahraga Setiap unit Kelurahan kawasan berpenduduk 30.000 jiwa diperlukan taman danlapangan olahraga untuk melayani kebutuhan kegiatan penduduk di area terbuka, seperti pertandingan olah raga, upacara serta kegiatan lainnya. Hingga Tahun 2011 tersedia sepak bola, volly ball. tenis, bulutangkis tenis meja, basket, dan sepak takraw. Untuk mengetahui fasilitas olahraga mengalami penambahan atau tidak dapat kita ketahui dari tabel 5.29 di bawah ini :Tabel 5.29Analisis Fasilitas Olahraga di Kecamatan Enrekang Pada Tahun 2031NoJenis FasilitasEksisting 2011(unit)Jumlah Penduduk 2031 (jiwa)SPM(Jiwa)Penambahan Fasilitas

1Sepak Bola1837.30230.0000

2Volly Ball7130.0000

3Tenis1730.0000

4Bulutangkis5530.0000

5Tenis Meja7930.0000

6Basket830.0000

7Sepak Bola7730.0000

Sumber : Hasil Analisis Tahun 2013Berdasarkan hasil anlisis pada tabel 5.29 diatas dapat disimpulkan bahwa fasilitas olahraga yang ada di Kecamatan Enrekang tidak perlu ada yang mengalami pertambahan karena fasilitas yang ada sekarang sudah mencukupi utnuk 20 tahun kedepan.B. Analisis Kebutuhan Prasarana1. Jalan Secara garis besar, prasarana jaringan jalan di Kecamatan sudah tergolong memiliki kondisi yang baik. Hanya saja jalan di beberapa Kelurahan perlu dilakukan perbaikan jalan terutama pada jalan-jalan lingkunganx serta menambah prsarana jalan guna peningkatan aksesibilitas dan pengembangan ekonomi wilayah.

Beberapa tahun yang akan datang, kepadatan pengguna jalan di Kecamatan Enrekang akan bertambah seiring dengan pertambahan jumlah penduduk dan dampak dari arus perkembangan Kabupaten Enrekang, sehingga peningkatan prasarana jalan harus sesuai dengan standarisasi penyediaan jalan yang berlaku serta tidak hanya berhenti pada pembangunan jalan tetapi melakukan pula pengawasan, pengendalian serta perbaikan prasarana agar stabilitas penataan wilayah tetap terjaga.2. DrainaseBerdasarkan standarisasi penyediaan prasarana drainase, serta dalam hal peningkatan prasarana drainase di Kecamatan Enrekang sebaiknya pembangunan drainase dibuat dengan saluran tertutup yang dilengkapi dengan lubang pemeriksa tiap ukuran tertentu agar kebersihan wilayah Kecamatan Enrekang tetap terjaga. Di Kecamatan Enrekang juga masih banyak jaringan jalan yang tidak dilengkapi dengan prasarana drainase, maka dari itu perlu pembangunan drainase di tiap-tiap jaringan jalan yang berada dalam kawasan pemukiman penduduk.Namun akan lebih baik jika sistem drainase tidak mengikuti sistem drainase yang menampung dua zat sekaligus yakni air hujan dan air limbah. Sebenarnya drainase yang baik hanya berfungsi untuk menampung air hujan dan air limbah memiliki wadahnya tersendiri sebab limbah dan air hujan yang bercampur akan terjadi pengendapan dan penggenangan di dalam saluran.3. Air bersih Kebutuhan air bersih untuk perumahan digolongkan untuk kebutuhan perjiwa penghuni (jumlah penduduk). Tiap 1 jiwa membutuhkan kurang lebih 60 liter/hari. Jadi air bersih yang dibutuhkan di Kecamtan Enrekang adalah 2.238.120 liter/hari. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 5.30 Berikut :

Tabel 5.30Kebutuhan Jaringan Air Bersih Di Kecamatan EnrekangTahun 2031NoJenis FasilitasJumlah kebutuha air bersih (liter/hari)SPMAir bersih(liter/unit/hari)Jumlah fasilitasKebutuhan air bersih 2033

1.2.3.4.Kesehatan PerkantoranPendidikanPeribadatan2.238.1201.550 1.000103.5007046965298108.50046.00096.520343.000

Sumber : Hasil Analisis Tahun 20134. ListrikProyeksi penduduk tahun 2031 untuk Kecamatan Enrekang yaitu 37.304 jiwa, dengan asumsi 37.304 : 4 = 9326 KK dan dengan asumsi jumlah rumah sebanyak 9326 unit rumah di Kecamatan Enrekang. Apabila diasumsikan semua rumah yang ada di Kecamatan Enrekang memerlukan daya sebesar 1300 watt. Jadi, kebutuhan listrik di Kecamatan Enrekang pada tahun 2031 sebesar 12.123.800 watt. Kebutuhan listrik bangunan sosial yaitu dengan asumsi 60 % dari kebutuhan rumah tangga. Kebutuhan listrik bangunan ekonomi dengan asumsi 25 % dari kebutuhan rumah tangga. Kebutuhan listrik penerangan jalan dengan asumsi 10% dari kebutuhan rumah tangga. Untu lebih jelasnya dapat kita lihat pada tabel 5.31 berikut :Tabel 5.31Kebutuhan Jaringan Listrik Di Kecamatan EnrekangTahun 2031NoJenis FasilitasJumlah kebutuhan listrik (watt)Kebutuhan listrik (watt)

1.2.3.Bangunan sosialbangunan. ekonomiPenerangan jalan12.123.8007.274.2803.030.9501.212.380

Sumber : Hasil Analisis Tahun 2013

5. Persampahan Jumlah kebutuhan fasilitas persampahan untuk timbunan sampah perorang yaitu 2,9 liter/hari atau 11,6 liter/KK, Untuk timbulan sampah pendidikan yaitu 1,15 liter/hari/siswa, untuk perdagangan 30% dari jumlah timbunan sampah rumah tangga dan untuk perkantoran 10 % dari timbunan sampah rumah tangga.Pada Kecamatan Enrekang dengan jumlah penduduk setelah proyeksi 20 tahun kedepan 37.302 jiwa, diasumsikan bahwa 37.302:4 = 9325 KK. Jadi timbulan sampah rumah tangga pada tahun 2031 diprediksikan sebesar 108.170 liter. Mengingat standar pelayanan minimun untuk 1 unit tong sampah yaitu 40 liter/150KK, 1 unit gerobak sampah yaitu 1000 liter/200 KK dan untuk 1 unit kontainer yaitu 8000 liter/1000 KK. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 5.32 berikut :Tabel 5.32Kebutuhan Jaringan Persampahan Di Kecamatan Enrekang Tahun 2031NoJenis FasilitasJumlah Timbulan sampahTimbulan SampahKebutuhan Fasilitas (Unit)

KontainerGerobakSampahTong Sampah

1.2.3.PerdaganganPerkantoranPendidikan108.17032.45110.81711.099411-2312212

Sumber : Hasil Analisis Tahun 20136. Telekomunikasi Pelayanan kebutuhan telepon didasarkan pada standar kebutuhan dengan rasio tingkat layanan kebutuhan telepon rumah dan umum. Adapun standar untuk telepon rumah yaitu 1:14 (1 unit telepon rumah melayani 14 kk dan telepon umum 1:250 (1 unit telepon umum melayani 250 jiwa).Proyeksi jumlah penduduk pada tahun 2031 di Kecamatan Enrekang adalah sebesar 37.302 jiwa, Asumsi tiap rumah terdari dari 1 KK dalam 5 jiwa yaitu 37.302: 5 = 7.460 KK, 1. Dengan standar minimal untuk telpon rumah adalah 1:14, maka pada tahun 2031 membutuhkan telpon rumah sebesar yaitu 7460: 14 = 532 unit. 2. Standar minimal untuk telpon umum adalah 1:250, maka pada tahun 2031 membutuhkan telpon umum sebesar yaitu 7460 : 250 = 29 unit.Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 5.33 Berikut :Tabel 5.33Kebutuhan Jaringan Telekomunikasi Di Kecamatan EnrekangTahun 2031NoJenis FasilitasJumlah PendudukSPMTelekomunikasiJumlah Fasilitas

1.2.Telepon rumahTelepon umum7.4601425053229

Sumber : Hasil Analisis Tahun 20135.11 Kesesuaian peruntukan ruang dengan rencana tata ruang wilayah (RTRW) A. Kawasan rawan banjir, termasuk dalam kawasan lindung karena daerah yang diidentifikasi sering dan berpotensi tinggi mengalami bencana banjir.Berdasarkan hasil analisis dan survey di Kecamatan Enrekang menunjukkan seringnya terjadi banjir akibat dari peetemuan 2 sungai besar yaitu sungai mata allo dengan sungai saddang. Kawasan-kawasan yang memiliki potensi tanah longsor dan banjir terutama di musim hujan adalah kawasan hutan yang telah mengalami penggundulan yang tidak terkendali. Kawasan yang memiliki potensi bencana alam longsor meliputi Kecamatan Masalle, Kecamatan Baroko dan Kecamatan Buntu Batu serta di Kecamatan Enrekang sebagai Ibukota KabupatenB. Wilayah Pengembangan Tengah, di Kecamatan Enrekang yang juga merupakan yang merupakan pusat wilayah pengembangan Kabupaten Enrekang secara keseluruhan. Ini ditandai dengan senakin berkembangnya Kecamatan Enrekang apalagi ketersediaan sarana dan prasarana yang sudah cukup atau sudah memadai.Contohnya yaitu hasil analisis pada tahun 2032 tak perlu lagi adanya penambahan fasilitas perdagangan dan jasa dan olahraga karena sudah cukup memadai. C. Di Kecamatan Enrekang juga di tentukan sebagai PPL meliputi pusat permukiman yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala antar desa. Drai hasil survey pada tahun 2013 dan data dari Kantor BPS (Kecamatan Enrekang Dalam Angka) dapat dilihat bahwa dengan lengkapnya sarana dan prasarana yang ada di Kecamatan Enrekang dapat memberikan konstribusi terhadap kecamatan-kecamatn lainnya.D. Termasuk dalam peruntukan kawasan peternakan, dapat kita lihat dari hasil analisis growth yaitu sebanyak 1,56 pada tahun 2011 dan memiliki nilai share sebesar 5,22 dan merupakan sektor unggulan dari beberapa sektor yang ada di Kecamatan Enrekang.E. Termasuk dalam kawasan peruntukan budidaya perikanan, dapat kita lihat dari hasil analisis growth yaitu sebanyak 6,62 pada tahun 2011 dan memiliki nilai share sebesar 5,57 dan merupakan sektor unggulan dari beberapa sektor yang ada di Kecamatan Enrekang.F. Termasuk dalam kawasan strategis provinsi (KSP) dalam pengembangan budidaya alternatif komoditas perkebunan unggulan seperti kopi. kakao, mente, dan jarak. dapat kita lihat dari hasil analisis growth yaitu sebanyak 11,29 pada tahun 2011 dan memiliki nilai share sebesar 0,11 dan merupakan sektor dominan dari beberapa sektor yang ada di Kecamatan Enrekang.G. Termasuk dalam pusat kegiatan lingkungan (PKL), dapat dilihat pada pusat perkotaan di Kecamatan Enrekang yaitu du Kelurahan Juppandang dimana kelengkapan sarana dan pasarana sudah cukup untuk mengembangkan kelurahan-kelurahan lainnya yang ada di Kecamatan Enrekang seperti adanya pasar, took-toko besar, pusat-pusat perbelanjaan misalnya alat-alat elektronik dan teknologi serta menjadi pusat pemerintahan di Kecamatan Enrekang bahkan dalam skala kabupaten. TUGAS BESAR STUDIO PERENCANAAN WILAYAH 167