bab iv profil pedagang kaki lima (pkl) di lapangan ... iv... · pdf fileprofil pedagang...

Click here to load reader

Post on 09-Apr-2019

227 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

1

BAB IV

PROFIL PEDAGANG KAKI LIMA (PKL) DI LAPANGAN PANCASILA

KOTA SALATIGA

4.1. Sekilas Tentang Kota Salatiga

Kota Salatiga merupakan salah satu kabupaten/kota yang menjadi bagian dari

propinsi Jawa Tengah. Wilayah Kota Salatiga terletak antara 007.17 dan

007.17.23 Lintang Selatan dan antara 110.27.56,81 dan 110.32.4,64 Bujur

Timur. Secara morfologis Kota Salatiga berada di daerah cekungan, kaki Gunung

Merbabu diantara gunung-gunung kecil antara lain Gajahmungkur, Telomoyo dan

Payung Rong1.

Kota Salatiga berada di tengah-tengah wilayah dari Kabupaten Semarang.

Kota Salatiga dibatasi oleh beberapa Desa yang berada di wilayah Kabupaten

Semarang, adapun batas-batas dari Kota Salatiga adalah sebagai berikut2:

Di sebelah utara Kota Salatiga berbatasan dengan Kecamatan Pabelan (Desa

Pabelan, Desa Pejaten), dan Kecamatan Tuntang (Desa Kesongo, Desa

Watuagu).

Sebelah timur Kota Salatiga berbatasan dengan Kecamatan Pabelan (Desa

Ujung-ujung, Desa Sukoharjo dan Desa Glawan), dan Kecamatan Tengaran

(Desa Bener, Desa Tegalwaton dan Desa Nyamat).

Sebelah barat Kota Salatiga berbatasan dengan Kecamatan Tuntang (Desa

Candirejo, Desa Jombor, Desa Sraten dan Desa Gedongan), dan Kecamatan

Getasan (Desa Polobogo).

1SalatigaDalamAngka, 2013 2SalatigaDalamAngka, 2013

2

Sebelah selatan Kota Salatiga berbatasan dengan Kecamatan Getasan (Desa

Sumogawe, Desa Samirono dan Desa Jetak), dan Kecamatan Tengaran (Desa

Patemon, Desa Karangduren).

Gambar 2. Peta Kota Salatiga

3

4.2. Sejarah Terbentuk Paguyuban PKL Lapangan Pancasila

Paguyuban PKL Pancasila dibentuk oleh pemerintah dalam rangka untuk

mengatasi permasalahan yaitu banyaknya gubuk tempat PKL berdagang di sekitar

jalan raya pancasila yang menyebabkan jalan menjadi sempit dan terlihat kumuh. Hal

ini sesuai dengan hasil wawancara dari Bapak Andi Saputra3 bahwa:

Dulu itu kami berjualan di pinggir jalan mas, dulu

sekitar 7 PKL berjualan dipinggir jalan diatas trotoar

dan dekat pagar mas, namun karena jalan menjadi

sempit dan terlihat kotor maka pada jamannya pak

Totok Walikota, kami di pindahkan ke dalam wilayah

Pancasila. Sampai sekarang sudah 3 kali digeser, jadi

pertama dari dekat jalan di luar pagar Pancasila, lalu

kedalam samping pagar namun karena dijadikan tempat

untuk jalan, kami di geser lagi ke bawah ke tempat

yang sekarang.

Penuturan tersebut diperkuat oleh Bapak Bowo4 yang mengatakan bahwa:

Dulu itu kami berjualan di pinggir jalan mas, dekat

pagar jalan, lalu karena sempit dan terlihatnya kumuh

maka kami di pindahkan ke dalam mas oleh dinas

pasar, supaya lebih rapi dan tidak terlihat kotor mas.

Berdasarkan petikan wawancara diatas menunjukkan bahwa pembentukan

paguyuban dilakukan dalam rangka untuk mengatasi terjadinya kemacetan dan

kesemrawutan yang diakibatkan oleh pedagang kaki lima. Dengan adannya

paguyuban pemerintah mengharapakan pedagang lebih tertib, dapat menjaga

kebersihan dan menjaga ketentraman dari Kota Salatiga.

Paguyuban terbentuk pada Tahun 2004 dengan nama Paguyuban PKL

Pancasila. Berikut hasil wawancara dengan Bapak Andi Saputra5 bahwa:

3Wawancara dengan Bapak Andi Saputra sebagai anggota paguyuban Pancasila pada hari selasa 17

Oktober 2017, pukul 18.24 19.00 Wib di Warung Pak andi di Lapangan Pancasila. 4Wawancara dengan Bapak Bowo sebagai anggota paguyuban Pancasila pada hari selasa 17 Oktober

2017,pukul 20.00 00.25 Wib di Warung Pak Bowo di Lapangan Pancasila.

4

Ya terbentuknya paguyuban semenjak jamannya pak

totok, walikotanya pak totok sekitar tahun 2004.

Inisiatornya pak totok mas, kalau sekarang udah keluar

udah pensiun kayaknya. Pak totok yang mengatur

rencana usaha usaha ini. Namanya paguyubannya

Paguyuban PKL Pancasila. Dulu jumlahnya banyak

sekali mas, seluruh lapangan pancasila penuh mas

dengan PKL, kalau dulu ada 107 tenda mas pada

waktu pak totok wali kota sekarang kurang lebih

tinggal 47 pedagang saja. Penyebabnya modal habis

akibat dulu sering terjadi hujan dan pembelinya

semakin berkurang mas.

Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat terlihat bahwa yang menjadi

inisiator terbentuknya paguyuban lapangan Pancasila merupakan pihak pemerintah

dalam hal ini Walikota Salatiga. Jika dilihat dari jumlah PKL yang hingga saat ini

dapat disimpulkan bahwa usaha PKL tidak berjalan dengan baik ditandai dengan

banyaknya PKL yang gulung tikar atau tidak mampu melanjutkan usaha mereka

akibat dari permodalan yang sulit serta pembeli yang semakain berkurang dari tahun

ke tahun.

Adapun fungsi dari Paguyuban PKL Pancasila adalah sebagai berikut menurut

Bapak Andi Saputra6 bahwa:

Ya paguyuban hanya tempat untuk kumpul dan juga

paguyuban yang mengkoordinir kalau ada masalah

seperti kebersihan ya kita kumpul bersama untuk

bagaimana menjaga kebersihan. Dalam pemasangan

tenda, supaya kita memasang tenda yang terpal satu

warna saja, misalkan sekarangkan tendanya warna

biru semua hal karena rapat paguyuban mas. Jadi

lewat paguyuban kita dibuat menjadi kompak mas.

6Wawancara dengan Bapak Andi Saputra sebagai anggota paguyuban Pancasila pada hari selasa 17

Oktober 2017, pukul 18.24 19.00 Wib di Warung Pak andi di Lapangan Pancasila.

5

Penuturan tersebut diperkuat dengan pernyataan Bapak .Bowo7 mengatakan

bahwa:

Melalui paguyuban PKL di pancasila, kita pedagang

bisa diberikan informasi-informasi dari Pemda

mengenai kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan di

lapangan pancasila seperti kegiatan musik. Selain itu

kalau misalnya ada libur, kalau ada rapat informasi

lapangan untuk kegiatan apa. Jadi melalui paguyuban

informasi-informasi di sampaikan ke PKL Pancasila.

Berdasarkan petikan hasil wawancara diatas menunjukkan bahwa paguyuban

memiliki fungsi yang sangat sentral didalam menjaga keamanan, kekompakan dari

PKL di Pacasila, menjaga kebersihan Lapangan Pancasila serta tempat perantara

informasi dari semua pihak yang akan melakukan kegiatan di Lapangan Pacasila.

Pemilihan pengurus harian paguyuban dilakukan berdasarkan hasil rapat

pemilihan yang dilakukan oleh seluruh PKL anggota Paguyuban PKL Lapangan

Pancasila. Berikut merupakan kutipan wawancara dari Bapak Bowo8 bahwa:

Anggota yang memilih mas melalui rapat dulu. Dulu

itu bukan pak is yang ketua tapi ada tentara mas,

namun karena tentaranya sibuk gak pernah kelihatan

maka pak is yang mengambil alih pekerjaan ketua

sehingga sejak itu pak is jadi ketua sampai sekarang,

gak pernah dilakakukan pergantian ketua atau

pengurus gak pernah sejak tahun 2003, 2004 kalau

gak slaah mas terakhir kali pemilihan ketua dan

pengurusnya.

Dalam proses pemilihan ketua paguyuban melalui rapat dengan para anggota

PKL. Melalui rapat tersebut para PKL bisa menentukan siapa yang menjadi ketuanya

dan juga tugas dari ketua tersebut yaitu supaya bisa mengkorordinir para PKL.

7Wawancara dengan Bapak Bowo sebagai anggota paguyuban Pancasila pada hari selasa 17 Oktober

2017,pukul 20.00 00.25 Wib di Warung Pak Bowo di Lapangan Pancasila. 8Wawancara dengan Bapak Bowo sebagai anggota paguyuban Pancasila pada hari selasa 17 Oktober

2017,pukul 20.00 00.25 Wib di Warung Pak Bowo di Lapangan Pancasila.

6

Anggota PKL yang ada di Lapangan Pancasila terkahir memilih ketua paguyuban

sejak tahun 2003/2004 serta pengurus-pengurusnya.

4.3. Profil PKL di Lapangan Pancasila

Profil lengkap dari para pedagang kaki lim (PKL) di Lapangan Pancasila

menjadi beberapa bagian yaitu profil paguyuban PKL, tipologi dan sistem berjualan

para PKL di Lapangan Pancasila.

4.3.1. Profil Paguyuban PKL di Lapangan Pancasila

Dalam proses terbentuknya paguyuban PKL di Lapangan Pancasila, dulu para

PKL masih berjualan di luar Lapangan Pancasila dan setelah ada tatanan kota para

PKL baru di pindahkan ke Lapangan Pancasila yang di bawa naungi Dinas

perdagangan, dan terbentuk/terpilihnya ketua paguyuban tahun 2010, hal ini terlihat

dari pernyataan Bapak Djoko Sulistyo (Pak Munying) sebagai ketua paguyuban yang

mengatakan sebagai seberikut:

Terbentuk yang resmi nya 2010 jadi waktu belum

ada lapangan nya belum di bangun itu istilahnya kita

masih liar,kita buka nya di pinggir-pinggir jalan jadi

setelah lapangan ini di bangun harusnya ada peresmian

tapi itu ndak ada terus dari LH (Lingkungan Hidup)

ini kan,dulu tatanan kota terus dari tata kota kita PKL

akhirnya di jadikan satu di kasih surat ijin dagang lalu

dimasukan di titipkan di lapangan pancasila seperti itu

mas. Jadi istilahnya kita itu titipan dari Disperindag

dulu nya Disperindagkop kalau sekarangkan Dinas

Perdagangan itu kira-kira tahun dari 201