bab iv desertasi anggi

Author: kiki-nur-ambar-ahyani

Post on 19-Jul-2015

137 views

Category:

Documents


0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

BAB IV PENGEMBANGAN DAN PENGUJIAN MODEL

A. Prasurvey Prasurvey merupakan studi awal yang dilakukan terhadap guru dan siswa yang bersifat deskriptif dengan menggunakan angket yang disebar kepada seluruh siswa dan guru yang menjadi responden pada penelitian ini. Hal ini perlu dilakukan untuk mengetahui sejauhman kondisi guru dan siswa yang akan dijadikan responden. Untuk pengembangan sebuah model pembelajaran khususnya mata

pelajaran bahasa Inggris SMA Kls XI, dalam hal ini dapat dikembangkan dengan mengidentifikasi berbagai kebutuhan serta syarat-syarat yang telah ditentukan dalam standar kompetensi dalam kurikulum KTSP. Adapun kompetensi yang dikembangkan dalam desain model ini adalah kompetensi membaca (reading), dan dalam pengembangannya penulis, dapat menggunakan isi materi yang ada pada buku KTSP bahasa Inggris Kls XI yang dianggap sebagai buku wajib sekolah, dan juga berupa bahan-bahan bacaan yang relefansi berdasarkan tujuan pengembangan itu sendiri. Proses pembelajaran dimulai dengan fase persiapan untuk mengembangakan kompetensi dasar, indikator hasil belajar, dan materi standar bahasa Inggris kelas XI SMA sedemikian rupa. Ornstein (1990) merekomendasikan bahwa untuk membuat rencana pelaksanaan pembelajaran yang efektif harus berdasaarkan

162

163

pengetahuan terhadap tujuan umum sekolah, tujuan mata pelajaran,dan unit-unit pelajaran yang disediakan dalam mata pelajaran, serta teknik-teknik pembelajaran jangka pendek. Terkait dengan pengembangan model awal, pada fase pelaksanaan penelitian tahap pertama, peneliti telah menggunakan tiga SMA dengan bobot tingkat kualitas sekolah dengan kualifikasi level biasa, sedang dan bagus. Dari ketiga bobot level sekolah tersebut, penulis secara langsung telah mengetahui bobot dari kemampuan siswa-siswi yang ada di sekolah masing-masing. Pada prinsipnya pelaksanaan penelitin yang dilakukakn di kabupaten Maluku Tenggara dan Kota Tual Provinsi Maluku selaku peneliti, berusaha untuk melakukan proses pelaksnaan penelitian tersebut dengan baik, beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain, melakukan pendekatan awal dengan pihak sekolah terutamaa dengan guru mata pelajaran bahasa Inggris, guna mengetahui berbagai sumber buku yang diguanakan/dipakai oleh guru mata pelajaran bahasa Inggris khusus yang mengajar di kelas XI.

1. Kondisi Sekolah Berdasarkan kenyataan masing-masing sekolah SMA tempat pelaksanaan penelitian menunjukan bahwa tiap guru mempunyai hand book/buku pegangan yang berbeda-beda, hal ini membuat peneliti sedikit kendala dalam hal mengkoordinir perbedaaan tersebut. Maka salah satu yang dilakukan oleh peneliti adalah menyesuaikan proses pembelajaran dan materi pembelajaran bahasa Inggris berdasarkan kebutuhan guru di masing-masing sekolah yang ada.

164

Dalam pelaksanaan penelitian tersebut, peneliti

telah mengidentifikasi

berbagai pendapaat baik terhadap guru maupun siswa dengan cara mengedarkan angket questioner dan hasil observasi terhadap latara belakang guru siswa dan serta proses pelaksanaan pembelajaran yang terjadi di kabupaten Maluku Tenggara dan Kota Tual Provisni Maluku. Hal ini dilakukan agar mengetahui sejauh mana kopetensi dan mengajar guru dan pemahaman siswa terhadap materi serta latar belakang dari masing-masing siswa. Jumlah guru sebagai responden sebanyak 11 0rang guru dan siswa sebanyak 230 orang yang beredar di 10 sekolah di kabupaten Maluku Tenggara Dan Kota Tual Penelitian awal dilakukan survey terhadap 10 sekolah terdiri dari 11 guru untuk mengetahui kondisi awal yang mendasar dari guru yang ada di Kabupaten Maluku Tenggara dan Kota Tual dengan klasifikasi sekolah tersaji pada tabel 4.1. Tabel 4.1 Klasifikasi Sekolah No 1. 2. 3 Nama Sekolah SMA Negeri SMA Swasta SMKN Total Klasifikasi 4 Sekolah 5 Sekolah 1 Sekolah 10 Sekolah

Dilihat dari Jumlah sekolah yang ada di Provinsi Maluku terutama kabupaten Maluku Tenggara dan Kota Tual terdapat 4 sekolah negeri, 5 sekolah swasta, dan satu sekolah menengah kejuruan, negeri yang artinya setiap kategori sekolah akan mempunyai keragaman yang berbeda dalam proses pembelajaran. Sedangkan mengenai latar belakang dari masing-masing guru dapat dilihat pada tabel 4.2.

165

Tabel 4.2 Latar Belakang Responden Guru Guru A B C D E F G H I J K Pendidikan Terakhir S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 S1 D3 S1 Masa Tugas 2003 2008 2009 1992 2008 2006 2006 2005 2009 1980 2009 Lama Mengajar 4 tahun 3 tahun 2 tahun 12 tahun 3 tahun 2 tahun 5 tahun 6 tahun 3 tahun 20 tahun 2 tahun Status PNS PNS PNS PNS PNS PNS PNS PNS PNS Pensiunan Honorer

Dari data di atas dapat dilihat bahwa pendidikannya berasal dari latar belakang yang dapat menunjang penelitian karena dianggap tinggi sesuai dengan kualifikasi kebutuhan pelajaran Bahasa Inggris, namun tampak juga jelas bahwa setiap guru yang mengajar bahasa Inggris di SMA yang ada di lokasi penelitian tersebut memiliki pengalaman yang bervariasi. Kemudian semuanya memiliki pengalaman mengajar karena lamanya mengajar yang sudah di atas 1 tahun yaitu berkisar antara 2-20 tahun, artinya para guru sudah dianggap paham benar mengenai apa yang harus dilakukan dalam proses pembelajaran untuk embuat siswa memahami dan menjadi output pembelajaran yang sesuai dengan kriteria ketuntasan minimal yang diharapkan. B. Pelaksanaan Pembelajaran Bahasa Inggris. Terkait latar belakang guru yang mengajar mata pelajaran bahasa Inggris yang ada di kabupaten Maluku Tenggara dan Kota Tual sesuai dengan latar belakang yang teridentifikasi pada table 4.2 diatas, menunjukkan adanya pengalaman yang dimiliki masing-masing guru cukup bagus, kompetensi dalam

166

bidang bahasa Inggris.ada salah satu yanhg sangat unik dari keberadaan masingmasing guru tersebut adalah mereka tidak terbatas pada mengajar pada sekolah tertentu saja, akan tetapi juga ngajar pada sekolah yang berbeda, mengingat di sekolah tertentu masih kekurangan guru mata pelajaran bahasa Inggris, sehingga mereka mengajar secara pergantian pada sekolah tersebut. Untuk pengembangan sebuah model pembelajaran khususnya mata

pelajaran bahasa Inggris SMA Kls XI, dalam hal ini dapat dikembangkan dengan mengidentifikasi berbagai kebutuhan serta syarat-syarat yang telah ditentukan dalam standar kompetensi dalam kurikulum KTSP.Adapun kompetensi yang dikembangkan dalam desain model ini adalah kompetensi membaca (reading), dan dalam pengembangannya penulis, dapat menggunakan isi materi yang ada pada buku KTSP bahasa Inggris Kls XI yang dianggap sebagai buku wajib sekolah, dan juga berupa bahan-bahan bacaan yang relefansi berdasarkan tujuan pengembangan itu sendiri. Proses pembelajaran dimulai dengan fase persiapan untuk mengembangakan kompetensi dasar, indikator hasil belajar, dan materi standar bahasa Inggris kelas XI SMA sedemikian rupa. Ornstein (1990) merekomendasikan bahwa untuk membuat rencana pelaksanaan pembelajaran yang efektif harus berdasaarkan pengetahuan terhadap tujuan umum sekolah, tujuan mata pelajaran,dan unit-unit pelajaran yang disediakan dalam mata pelajaran, serta teknik-teknik pembelajaran jangka pendek. Terkait dengan pengembangan model awal, pada fase pelaksanaan penelitian tahap pertama, peneliti telah menggunakan tiga SMA dengan bobot

167

tingkat kualitas sekolah dengan kualifikasi level biasa, sedang dan bagus. Dari ketiga bobot level sekolah tersebut, penulis secara langsung telah mengetahui bobot dari kemampuan siswa-siswi yang ada di sekolah masing-masing. Pada prinsipnya pelaksanaan penelitin yang dilakukan di kabupaten Maluku Tenggara dan Kota Tual Provinsi Maluku, selaku peneliti berusaha untuk melakukan proses pelaksnaan penelitian tersebut dengan baik, beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain, melakukan pendekatan awal dengan pihak sekolah terutama dengan guru mata pelajaran bahasa Inggris, guna mengetahui berbagai sumber buku yang diguanakan/dipakai oleh guru mata pelajaran bahasa Inggris khusus yang mengajar di kelas XI. Berdasarkan kenyataan masing-masing sekolah SMA tempat pelaksanaan penelitian menunjukan bahwa tiap guru mempunyai handbook/buku pegangan yang berbeda-beda, hal ini membuat peneliti sedikit kendala dalam hal mengkoordinir perbedaaan tersebut. Maka salah satu yang dilakukan oleh peneliti adalah menyesuaikan proses pembelajaran dan materi pembelajaran bahasa Inggris berdasarkan kebutuhan guru di masing-masing sekolah yang ada. Dalam pelaksanaan penelitian tersebut, peneliti telah mengidentifikasi berbagai pendapaat baik terhadap guru maupun siswa dengan cara mengedarkan angket questioner dan hasil observasi terhadap latara belakang guru-siswa dan serta proses pelaksanaan pembelajaran yang terjadi di kabupaten Maluku Tenggara dan Kota Tual Provisni Maluku. Hal ini dilakukan agar mengetahui sejauhmana kompotensi mengajar guru dan pemahaman siswa terhadap materi serta latar belakang dari masing-masing siswa. Jumlah guru sebagai responden

168

sebanyak 11 0rang guru dan siswa sebanyak 230 orang yang beredar di 10 sekolah di kabupaten Maluku Tenggara Dan Kota Tual. Dari isi angket guru terdapaat beberapa klasifikasi jenis pertanyaan baik yang berkenaan dengan kompetensi disiplin guru maupun berhubungan dengan perkembangan proses pembelajaran yang terjadi di SMA kls XI (kelas

penelitian). Untuk memudahkan dalam mengetahui isi pertanyaan yang ada di angket dimaksud maka, dapat diidentifikasi antara lain: 1) Kondisi pembelajaran saat ini, 1. Kondisi Pembelajaran Saat Ini. Dalam persiapan proses pembelajaran baik secara makro maaupun mikro semua aspek perlu di perhatikan. Sejalan dengan hal itu, Shambaugh ( 2006 : 67 ) menjelaskan seorang desian pembelajaran yakni sebagai An intellectual peocess to help teachers systematically analyze learner needs and construct sstructures possibilities to responsively address those needs. Dengan demikian, suatu desain pembelajaran diarahkan untuk menganalisis kebutuhan siswa dalam pembelajaran kemudian berupaya untuk membantu dalam menjawab kebutuhan tersebut.dengan demikian proses pembelajaran yang berlangsung dapat dilihat dari semua aspek terutama pada kesiapan siswa dan guru. Terkait dengan itu pendapat yang dikemukakan lebih spesifik oleh Genry (1994 : 67), yang berpendapat bahwa desain pembelajaran berkenaan dengan proses menentukan tujuan pembelajaran, strategi dan teknik untuk mencapai tujuan serta merancang media yang dapat digunakan untuk efektivitas pencapaian tujuan. Selanjutnya ia menguaraikan, penerapan suatu desain pembelajaran

169

memerlukan dukungan dari lembaga yang akan menerapkan, pengelolaan kegiatan, serta pelaksanaan yang intensif berdsasarkan analisis kebutuhan. Hal ini peneliti secara langsung mengetahu sejauhmanakah implikasi pelaksanaan proses pembelajaran yang di lakukan oleh para guru yang mengajar bahasa Inggris di SMA kelas XI di Kabupaten Maluku Tenggara dan Kota Tual, hal ini secara umum dapat diketahui melalui beredarnya angket untuk 11 orang guru yang mengajar pada 10 sekolah di lokasi penelitian. Dalam pelaksanaan penelitian ini peneliti, telah melakukan tiga kali kegiatan yang berkenaan dengan penelitian tersebut. Pada tahap pertama penelitian dilakukan di 3 (tiga) sekolah yang meliputi SMA Negeri 1 TUAL, SMA Negeri 1 Malra dan SMA Al Hilal Malra. Dari ketiga sekolah tersebut pada minggu pertama saya diperkenanknan untuk melakukan berbagai kegiatan yang berhubungan dengan peneltian tersebut dengan terbuka. Untuk memudahkan kegiatan di sekolah terutama pendekatan dengan guru yang mengajar bahasa Inggris kelas XI di sekolah masing-masing pertemuan tersebut untuk mengecek terhadap buku dan referensi yang di gunakan . untuk lebih jelas lokasi penelitian tahap pertama dapat dilihat dalam tabel 4.3.dibawah ini:

170

Tabel 4.3 Lokasi Penelitian

No 1 2 3

Sekolah SMAN 1 Tual SMAN 1 Malra SMA Alhilal Jumlah

Experiment Kls XI IPA1 Kls XI IPA 1 Kls XI IPS 1

Jmlh 38 40 30 108

Kontrol Kls XI IPS1 Kls XI IPS 2 Kls XI IPA

jmlh 40 40 35 115

jumlh 78 80 65 223

Dari ketiga sekolah diatas, digunakan sebagai penelitian tahap pertama, dan dari berbagai aktivitas dan kegiatan yang di lakukan oleh guru dapat beragam hal ini sehubungan sangat padatnya jam pembelajaran di msing-masing sekolah tersebut, sehingga secara spesifik peneliti, tidak bisa dapat mengetahui terhadap keberadaan secara mendalam terutama yang berkaitan dengan aktifitas pembelajaran antara guru dan siswa dimaksud. Secara umum dapat digambarkan bahwa proses yang terjadi di ketiga sekolah pada saat kami melakukan penelitian dapat berlangsung dengan baik, terutama pada SMA Negeri 1 Tual dan SMA Negeri 1 Malra proses pelaksanaan pembelajaran dapat berlangsung sesuai

dengan jadwal dan waktu yang sudah di tentukan, untuk SMA Alhilal , kelihatan masih belum aktif khususnya mata pelajaran bahasa Inggris di kelas XI, karena di sana guru tetap mata pelajaran bahasa Inggris belum ada. Sehingga mengalami keterlambatan dalam proses pembelajaran tersebut. Pada uji coba dalam penelitian ini sesuai dengan hasil beberapa pengamatan dan observasi awal yang di lakukan di ketiga sekolah dapat berlangung dengan baik dan normal.Dari sisi pelaksanaan pembelajaran guru dapat mengajar

171

berlangsung dengan apa yang diharapkan, sementara bahan atau materi bahasa Inggris kelas XI literature yang di gunakan oleh setiap guru masih berbeda-beda bahkan buku paket siswa pun belum ada, sementara siswa masih kesulitan belajar bahasa Inggris kalau terpakasa dapat diperoleh melalui kopian dari masing-masing guru bahasa Inggris yang ada. Hal ini peneliti belum bisa menggunakan salah satu diantara buku-buku tersebut sebagai pegangan yang di pakai untuk sekolah yang lain. Pelaksanaan kegiatan penelitian Tahap pertama ini sebagaimana dalam format pnelitian R & D yang sedang dikembangkan, ketiga sekolah dengan klasifikasi jumlah kelas dan siswa sebagaimana dalam table 4.3 diatas digunakan seutuhnya dalam pelaksanaan penelitian tersebut. Dan hasil pelaksaan uji coba 1,2, 3 dari model pembelajaran bahasa Inggris reading pada tujuan penelitian ini dapat digambarkan hasilnya pada uji coba dalam bagan 4.1 perbandingan hasil test pada kelas Experiment dan control . sementara kegiatan yang dilakukan oleh guru yang ada di ketiga sekolah terutama berkenaan dengan aktivitas sehari-hari dapat diperoleh melalui edaran kuesioner dan angkat serta wawancara hasilnya disatukan dengan guru-guru yang lain lihat pada kegiatan yang dilakukan oleh guru dibawah ini :

2. Kegiatan yang Dilakukan oleh Guru. Berkaitan dengan aktivitas guru di sekolah hal ini dapat dilihat dari hasil angket yang di berikan kepada 11 orang guru yang mengajarkan materi bahasa

172

Inggris di kelas XI di SMA kabupaten Maluku Tenggara dan kota Tual, lokasi pelaksanaan penelitian. Tabel 4.4 Pendapat Mengenai Mengajarkan Bahasa Inggris Untuk Keterampilan Reading Saat Ini

Mengajarkan cara membaca yang baik kepada siswa Menemukan kesulitan-kesulitan pada kemampuan membaca siswa Memberikan motivasi kepada siswa dengan menunjukkan cara-cara membaca Menyelesaikan materi pembelajaran Bahasa Inggris reading/membaca

Frekuensi 3 1 5 2

Persentase 27 % 9% 45 % 18 %

Dari Tabel 4.4 di atas dapat dilihat bahwa terdapat 5 orang guru atau (Terdapat 45 %) memberikan pendapat berkenaan dengan guru selalu memberikan motivasi dan dorongan yang positif kepada siswa dengan cara-cara membaca teks bahasa Inggris yang terjadi selama ini di sekolah. Tabel 4.5 Pendapat tentang penting tidaknya keterampilan Bahasa Inggris Frekuensi 9 2 Persentase 81 % 19 %

Ya Tidak

Pertanyaan pada kuesioner terlihat terdapat mayoritas guru sebanyak 9 orang atau (81%) menyatakan merasa penting terhadap ketrampilan membaca dalam bahasa Inggris. Pada pertanyaan ini diambil beberapa jawaban guru yang sesuai dengan alasan mereka masing-masing yaitu : menurut Yusak Sedubun S.Pd guru bahasa Inggris kelas XI SMAN 1 Malra, Karena skill pada vocab, pronounciation tercakup lewat reading text (2) membaca merupakan salah satu

173

skill dari keempat skill penting yang harus dikuasai, Adolfina J. M. Ubra, S.Pd Guru bahasa Inggris kelas XI SMA Kristen Tual. (3) seorang siswa harus paham isi teks dan harus mampu membaca (mengucapkan) setiap kata dengan baik. (Imelda Romian S.Pd Guru bahasa Inggris kelas XI SMA Negeri 2 Tual.) (4) penguasaan bahasa Inggris siswa masih sangat kurang. (Z. P Balubun S.Pd guru bahsa Inggris SMA kelas XI Malra ) (5) karena jika siswa bisa membaca dengan baik (menggunakan tanda baca, intonasi, tekanan) siswa bisa langsung memperoleh informasi, dan text yang dibaca ( Marlina Fatubun, S.Pd Guru bahasa Inggris kelas XI SMA Alhilal Malra. (6) untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca dan melatih siswa dalam cara pengucapan kata yang baik sehingga disaat berbicara bahsa Inggris (speaking) atau skill-skill yang lainnya seperti (writing and listening), mereka sudah tidak merasa kakuh dll. (Sri Endang Toatubun S,Pd Guru bahasa Inggris kelas XI SMA Raudah Tual.) (7). untuk memahami bahasa Inggris pada ketrampilan membaca ( Moh. R. Raharusun Guru bahasa Inggris SMA Alhilal Malra. Tabel 4.6 Pendapat tentang Kepuasan Penguasaan Materi Saat ini Frekuensi 1 8 2 Persentase 9% 72 % 18%

Sudah Belum Tidak menjawab

Secara mayoritas sebanyak 8 orang guru (72 %) guru sudah merasa cukup puas dengan penguasaan materi bahasa Inggris reading (membaca) dalam menyampaikan /mengajar kepada siswa sekarang ini. Pada pertanyaan tersebut secara mayoritas guru berpendapat bahwa strategi yang digunakan belum

174

sepenuhnya dikuasai hal ini dapat dilihat pada beberapa pendapat guru bahasa Inggris yang mengajar bahasa Inggris antara lain : (1) John B. Ohoilulin Guru bahasa Inggris kelas XI SMA Pelayaran Tual ) penguasaan bahsa Inggris dasar di pendidikan dasar SMP sangat kurang. (2) umumnya ilmu pengetahuan terus berkembang khusus untuk materi bahasa Inggris, materi, metode, serta model pembelajaran juga mengalami perkembangan jadi saya masih terus belajar serta mengikuti diklat maupun bintek untuk menyesuaikan kemampuan yang dimiliki sekarang dengan perkembangan-perkembangan yang ada. Guru Adolfina J. M. Ubra, SPD Guru bahasa Inggris kelas XI SMA Kristen Tual. (3) belum cukup sumber yang dimiliki untuk menguasai materi. Marlina Fatubun, S.Pd Guru bahasa In ggris kelas XI SMA Alhilal Malra.(4) fasilitas belum memadai. Moh. R. Raharusun Guru bahsa Inggris SMA Alhilal Malra. Dan (5) semua strategi reading belum diterapkan secara maksimal . (Yusak Sedubun S.Pd guru bahasa Inggris kelas XI SMAN 1 Malra.) dengan alasan yang disampaikan oleh para guru diatas, menujukkan adanya pentingnya perluasan pengetahuan bahasa Inggris sangat perlu dan penting. Tabel 4.7 Tanggapan mengenai perlu tidaknya memperbaiki cara mengajar Frekuensi 9 1 1 Persentase 82 % 9% 9%

Perlu Tidak perlu Tidak menjawab

Mayoritas sebanyak 9 orang guru (81 % ) guru merasa perlu untuk memperbaiki cara membaca dalam teks bahasa Inggris kepada siswa.guru merespon dengan beberapa alasan yang berkaitan dengan pertanyaan antara lain

175

(1) Marlina Fatubun, S.Pd Guru bahasa Inggris kelas XI SMA Alhilal Malra. (2) harus disesuaikan dengan perkembangan metode dan model pembelajaran. (Adolfina J. M. Ubra, SPd, Guru bahasa Inggris kelas XI SMA Kristen Tual.dan (3)perlu, untuk lebih baik lagi. (Imelda Romian S.Pd Guru bahasa Inggris kelas XI SMA Negeri 2 Tual.) karena begitu banyaknya kekurangan fasilitas yang ada pad wilayah penelitian, maka guru lebih aktif dan madiri dalam menyikapi persoalan yang ada. Tabel 4.8 Tanggapan terhadap mata Pelajaran Bahasa Inggris untuk Keterampilan Mengajar Membaca Frekuensi keterampilan 7 3 1 Persentase 63 % 27 % 9%

Pelajaran Bahasa Inggris untuk membaca Teks yang ada perlu ditambah Waktu yang digunakan terlalu singkat

Terdapat 7 orang guru atau (63 %) mengatakan bahwa mata pelajaran bahasa Inggris reading (membaca) sangat bermanfaat bagi mereka.

Tabel 4.9 Tanggapan Pengaruh Buku Teks Bahasa Inggris Terhadap Kemajuan Siswa Frekuensi Buku tersebut dapat membantu kemajuan siswa 9 Buku tersebut dapat mengarahkan murid untuk lebih 2 aktif membaca Persentase 82 % 18 %

Pada pertanyaan tersebut terdapat 9 orang atau (81 % ) guru berpendapat pengaruh buku teks bahasa Inggris dapat membantu untuk kemajuan siswa.

176

Tabel 4.9 Tanggapan Sejauh mana mengajar materi bahasa Inggris reading digunakan Frekuensi 9 2 Persentase 82 % 18 %

Buku ajar yang sesuai dengan pilihan guru dan siswa Buku di luar pilihan guru dan siswa, yang terpenting terdapat bahan bacaan/reading

Sebanyak 9 orang guru atau (81 % ) dapat mengajar materi bahasa Inggris reading sering menggunakan buku ajar yang sesuai dengan pilihan guru dan siswa. Tabel 4.10 Tanggapan kesulitan dalam pelajaran membaca Frekuensi 2 8 1 Persentase 18 % 72 % 18 %

Tidak Jawaban lain Tidak menjawab

Terdapat 8 orang atau (72 %) guru dalam proses pembelajaran sering mengalami kesulitan terutama pada siswa-siswa yang kurang mampu dalam penyesuaian materi atau teks tersebut.dari berbagai alasan guru hal ini dapat dilihat antara lain : Imelda Romian S.Pd Guru bahasa Inggris kelas XI SMA Negeri 2 Tual.) ketika anak tidak memahami text dan tidak bisa menerjemahkan dengan baik, (2) Z. P Balubun S.Pd guru bahsa Inggris SMA kelas XI Malra ) mengatakan natara lain kosa kata siswa yang kurang. (Z. P Balubun S.Pd guru bahsa Inggris SMA kelas XI Malra ) (3) John B. Ohoilulin Guru bahasa Inggris kelas XI SMA Pelayaran Tual )pengetahuan kosa kata siswa sangat kurang. 4. (Yusak Sedubun S.Pd guru bahasa Inggris kelas XI SMAN 1 Malra.) terkadang

materi bacaan bagi siswa. (Yusak Sedubun S.Pd guru bahasa Inggris kelas XI SMAN 1 Malra.) (5) Sri Endang Toatubun S,Pd Guru bahasa Inggris kelas XI

177

SMA Raudah Tual.). tidak adanya buku pegangan untuk siswa sehingga sedikit mempersulit. melihat pendapat diatas secara mayoritas guru memberi alasan bahwa masih banyak terdapat kesulitan yang mereka mengalami teruta,ma pada pembelajaran bahasa Inggris se level SMA di kabupaten Maluku Tenggara dan Kota Tual sebagai tempat penelitian. Tabel 4.11 Tanggapan Alasan Kesulitan Pelajaran Membaca Frekuensi 1 8 1 Persentase 9% 72 % 18 %

Sering kali merasa kurang menguasai materi Secara mayoritas kesulitan berada pada siswa Kurangnya bahan ajar

Pada point ini 8 orang guru atau (72 % ) guru sering mengalami problem siswa dalam memahami materi. Hal ini disebabkan karena selama ini siswa tidak dibiasakan untuk melakukan latihan-latihan membaca teks bahasa Inggris secara mandiri. Sehingga pada saat diperhadapakan dengan materi teks bahasa Inggris selalu dalam keadaan sulit. Tiap siswa mendapatkan peluang yang sama untuk memiliki kemampuan yang diharapkan, disesuaikan dengan kecepatan belajar masing-masing. Pembelajaran dirancang dan dilaksanakan agar para siswa belajar. Semua upaya peningkatan pembelajaran diarahkan agar mereka belajar secara optimal ( Sukmadinata 2004:155/ 2007 :443).

Tabel 4.12 Tanggapan guru mengenai pembelajaran reading di SMA kelas XI Frekuensi Dapat memberi manfaat bagi siswa 6 Sebagai suatu disiplin ilmu pengetahuan yang harus 4 Persentase 54 % 36 %

178

dikuasai siswa Sebagai pelengkap saja

1

9%

Terdapat 6 orang guru atau (54 % ) menurut guru pembelajaran bahasa Inggris SMA kelas XI adalah salah satu mata pelajaran yang sangat bermanfaat bagi siswa.

3. Pengembangan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) Pelaksanaan pembelajaran yang disampaikan guru melalui hasil angket secara total guru mengaku telah berupaya untuk meningkatkan belajar siswa terutama pada kompetensi reading membaca. Perlu dilihat pula bahwa secara utuh guru sudah melakukan berbagai cara dalam membangkitkan belajar siswa terutam di kelas XI, yang menjadi persoalan disini adalah karena sebagian besar siswasiswa masih kesulitan menguasai bacaan teks bahasa Inggris dan sukar pula memahami isi teks tersebut. Untuk mengetahui seberapa besarkah guru dalam menyiapkan dan mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) secara detail hal ini dapat diketahui melalui pertanyaan dalam angket guru dari nomor 11 sampai dengan nomor 18. Disampaikan pada tabel berikut ini.

Tabel 4.13 Tanggapan yang harus Dilakukan saat menerima tugas mengajar pada awal tahun 2010/2011 Frekuensi 5 2 3 1 Persentase 45 % 18 % 27 % 9%

Mempelajari standar isi, SKL, standar proses dan standar penilaian Membaca buku-buku sumber Membaca silabus bahasa Inggris Membaca buku pegangan siswa

179

Terdapat 5 orang guru atau (45 % ) menyampaikan

bahwa sebelum

mengajar terlebih dulu mempelajari kurikulum Bahasa Inggris secara keseluruhan. Pada tahun ajaran yang berlangsung.

Tabel 4.14 Tanggapan tentang mempelajari RPP sebelum mengajar Frekuensi 11 Persentase 100 % -

Ya Tidak

Secara keseluruhan sebanyak 11 orang guru atau (100 % ) menyampaikan dalam hal sebelum mengajar yang perlu dilakukan sebelumnya adalah membuat rencana pembelajaran bahasa Inggris.

Tabel 4.15 Tanggapan alasan mempersiapkan RPP Frekuensi 10 1 Persentase 91 % 9% 0% 0%

Sebagai pedoman dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar Mengetahui kekurangan sehingga dapat dipersiapkan Sebagai bahan pembanding dengan hasil karya teman lainnya Untuk laporan kepada kepala sekolah dan pengawas

Terdapat 10 orang guru atau (91%) sebelum mengajar terlebih dahulu mempersiapkan rencana pembelajaran (RPP) sebagai pedoman dalam pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar di kelas, dan sisanya sebanyak 9% hanya menggunakan rencana pmebelajaran bahasa Inggris untuk mengetahui kekurangan sehingga dapat dipersiapkan.

180

Tabel 4.16 Tanggapan alasan mempersiapkan RPP Frekuensi Disesuaikan dengan materi yang ada dalam buku 1 pegangan murid Selain disesuaikan dengan materi yang ada dalam 5 buku pegangan siswa juga diperluas dengan sumber lain Berdasarkan pokok bahasan/sub pokok bahasan yang 4 ada dalam SAP dan RPP Mengembangkan dahulu materi pembelajaran 1 Persentase 9% 45 %

36 % 9%

Terdapat 5 orang guru atau (45%) mengembangkan materi pembelajaran bahasa Inggris reading (membaca) selain disesuaikan dengan materi yang ada dalam buku pegangan siswa juga diperluas dengan sumber yang lain. Hal ini di lakukan guru karena membantu guru dan juga proses pembelajaran yang berlangsung di sekolah tersebut.

Tabel 4.17 Tanggapan Pengembangan Strategi Pembelajaran untuk keterampilan membaca Frekuensi 2 5 5 3 3 Persentase 11 % 28 % 28 % 17 % 17 %

Membaca kata perkata Membaca teks secara keseluruhan Menggunakan teknik membaca scanning Menggunakan teknik membaca skimming Lainnya

Dalam pertanyaan tersebut berkenaan dengan sejauh mana dan apa saja yang digunakan oleh guru dalam mengembangkan strategi pembelajaran bahasa Inggris membaca, maka guru secara komprehensip memberikan pendapat yang sama yakni sebanyak 5 orang atau 28 % terhadap dua kegiatan bahwa strategi yang digunakan adalah membaca teks keseluruhan dan menggunakan teknik membaca

181

scanning, walaupun demikian ada beberapa guru menggunakan teknik membaca skiming dan teknik lainnya sebanyak 17% dan membaca dari kata perkata sebanyak 11 persen. Dengan alasan menggunakan yang sudah biasa digunakan dan petunjuk penyampaian metode-metode yang digunakan guru selama ini dilihat dari perkembangan dan hasil angket guru tersebut menunjukan adanya belum ada metode yang baru yang digunakan oleh guru untuk mengajar selain respon diatas, beberapa guru berpendapat antara lain : Yusak Sedubun S.Pd guru bahasa Inggris kelas XI SMAN 1 Malra.) terkait dengan pertanyaan diatas guru memberikan komentar : Tergantung ketersediaan waktu, semua strategi diatas digunakan (2) P Balubun S.Pd guru bahsa Inggris SMA kelas XI Malra ) read aloud dan intensive and reading between the lines. Secara spontan guru-guru yang mengajar bahasa Inggris masih punya semangat untuk peningkatan ketrampilan mengajar reading melaului berbagai tehnik dan metode yang sesuai dengan mereka. Tabel 4.18 Tanggapan Pengembangan Alat Evaluasi Hasil Belajar Bahasa Inggris untuk Keterampilan Reading/Membaca Frekuensi Mengembangkan pertanyaan berdasarkan materi buku 1 pegangan murid Mengembangkan pertanyaan berdasarkan materi yang 6 sudah diajarkan Mengembangkan pertanyaan yang disesuaikan dengan 6 SK dan KD Mengembangkan pertanyaan yang disesuaikan dengan 3 kisi-kisi yang bermuatan keluasan dan kedalaman materi membaca Lainnya 1 Persentase 6% 35 % 35 % 18 %

6%

182

Dalam hal mengembangkan evaluasi hasil belajar bahasa Inggris. Terutama pada siswa, hal ini terdapat sebanyak 6 orang guru atau (35 %) memberikan alasan yang sama pada yaitu mengembangkan pertanyaan berdasarkan materi yang sudah diajarkan dan mengembangkan pertanyaan yang disesuaikan dengan SK dan KD, dengan alasan bahwa tahap evaluasi dapat mengembangkan pertanyaan berdasarkan materi yang sudah diajarkan, dan dalam pertanyaan tersebut disesuaikan dengan SK dan KD. Sedangkan 18% guru mengemukakan bahwa dalam mengembangkan proses evaluasi dalam pembelajaran bahasa Inggris untuk keterampilan Reading adalah dengan mengembangkan pertanyaan yang disesuaikan dengan kisi-kisi yang bermuatan keluasan dan kedalaman materi membaca. Sebanyak 6% menanggapi untuk mengembangkan evaluasi

pembelajaran dengan melalui Mengembangkan pertanyaan berdasarkan materi buku pegangan murid, dan 6% lainnya menggunakan cara lainnya untuk mengembangkan alat evaluasi hasil belajar dalam mengembangkan keterampilan membaca. Tabel 4.19 Tanggapan Pengembangan Inovasi dalam Pembelajaran Bahasa Inggris untuk Ketrampilan Reading/Membaca Frekuensi 11 0 Persentase 100 % 0%

Ya Tidak

Dalam proses pelaksanaan pembelajaran terutama yang berkaitan dengan menerima dan menerapkan pembaharuan atau inovasi dalam bidang pendidikan khususnya pengajaran bahasa inggris reading (membaca). Sebanyak 11 orang guru atau (100 %) beralasan ya, artinya secara mayoritas mendukung adanya

183

terjadi perubahan atau pembaharuan dalam bidang pembelajaran bahasa Inggris tersebut. Tabel 4.20 Tanggapan Kesulitan dalam Mengajarkan Bahasa Inggris untuk Keterampilan Reading/Membaca Frekuensi Kurang bahan bacaan yang sesuai dengan SKKD 1 Perpustakaan yang kurang menunjang 6 Belum tersedia media pengajaran di Sekolah 4 Belum mengetahui cara mengajarkan strategi 10 membaca kepada siswa Lainnya Persentase 5% 29 % 19 % 48 % 0%

Pada bagian ini guru sebanyak 10 orang atau (90 % ) memberikan pendapat bahwa kesulitan dan problem yang diperoleh adanya terdapat kemampuan siswa yang kurang khususnya siswa SMA kelas XI. kurangya waktu dan minat siswa terhadap bahasa Inggris tidak mendukung kemampuan belajar bahasa Inggris (Yusak Sedubun S.Pd guru bahasa Inggris kelas XI SMAN 1 Malra.) 4. Pelaksanaan Pembelajaran Hasil angket yang diberikan menunjukan adanya berbagai persyaratan persiapan perangkat pembelajaran yang dilakukan guru sebelum mengajar. Hal ini guru selalu secara sepenuhnya menyiapkan perangakt pembelajaran sebelum mengajar. Tabel 4.21. Pelaksanaan pembelajaran Reading pada Bahasa Inggris Pernyataan Mengajarkan kompetensi membaca bahasa Inggris kepada siswa mulai dari pengenalan huruf dan ucapannya Mengidentifikasi teks bacaan tersebut secara spesifik 0 1 1 1 2 1 4 3 6 3 4 4 4

184

Menggunakan media pengajaran dalam proses pembelajaran membaca dalambahasa lnggris pada teks bacaan tertentu Memberikan teks bacaan untuk siswa dengan ketrampilan membaca skimming Mengarahkan siswa untuk menangkap isi bacaan dengan tekhnik ketrampilan membaca scanning Memberi contoh-contoh tekhnik membaca pemahaman kepada siswa dalam teks bacaan bahasa lnggris Menjelaskan fungsi dan kegunaan cara membaca teks bahasa lnggris yang baik dan benar kepada siswa Mengarahkan siswa untuk menemukan ide- ide pokok dalam suatu teks bacaan secara komprehension Membaca nyaring bermakna wacana ragam tulis yang dibahas dengan ucapan dan intonasi yang benar Mengidentifikasi topik dari teks yang dibaca. Menjelaskan isi teks bacaan kepada siswa Memberikan teknik-teknik membaca yang relevan kepada siswa Mengidentifikasi kata-kata yang sukar dan atau bentuk sinonim, antonim dari teks reading yang diajarkan kepada siswa. Mengemukakan kata-kata baru dalam suatu teks bahasa lnggris kepada siswa Memandu siswa dengan berbagai strategi membaca scanning dan skimming Memberi balikan terhadap kesalahan siswa dalam menerapkan strategi membaca Memandu siswa membedakan program utama dan program yang terdapat di dalam teks Penjelasan: 0 = 1 = 2 = 3 = 4 =

2 1 2 3

5 2 2 4 4 1 1 1 1 1 1 2

4 5 4 5 4 7 7 6 5 4 5 7 4 7 5 1 2 2 3 3 3 5 5 4 5 3 2 2 1

1

1

3 2 5

jarang sekali dilakukan (antara 0-20%) jarang dilakukan (antara 20-40%) kadang-kadang dilakukan (antara 40-60%) sering dilakukan (anatara 60-80%) sering sekali dilakukan (80-100%) guru yang

Berdasarkan hasil data angket yang diberikan kepada melaksanakan pembelajaran diatas, menunjukan adanya

berbagai langkah-

langkah proses pembelajaran dari berbagai pertanyaan yang dijawab oleh guru berfariasi antara lain guru terlebih dahulu mempersiapkan perangkat pembelajaran

185

yang dikembangkan mulai dari teks-teks yang sederhana, serta cara membaca yang diajarkan kepada siswa mulai dari pengenalan huruf dan ucapnya. Selain itu pula guru sering kali menggunakan media sebagai salah satu teknik peningkatan siswa dalam membaca teks-teks bahasa Inggris. sambil dari buku teks maupun literatur di luar buku teks tersebut. Pada tabel 4.21. diatas, menunjukan pada dasarnya tiap guru selalu memberikan teks-teks bahasa Inggris kepada siswa secara kontinyu dalam mengembangkan model reading teks , guru secara mayoritas menyediakan bahan ajar baik kepada siswa. Selain dari pendapat guru terhadap pertanyaan dalam kuesioner tersebut, peneliti telah melakukan pengamatan berupa observasi langsung di beberapa sekolah terkait dengan pembelajaran pada saat di kelas berlansungnya proses belajar mengajar, guru-guru masih mengandalkan metode baku, yaitu dengan pendekatan konvensional.

5. Proses Pembelajaran Pemahaman Bacaan Teks Bahasa Inggris Untuk mendapatkan mengenai gambaran proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru, hal dilakukan melalui sejumlah pertanyaan yang dikembangkan dalam angket yang disebarkan kepada 11 orang guru dengan hasil sebagaimana disampaikan pada tabel-tabel di bawah ini. Tabel 4.22 Cara Mengajarkan Keterampilan Reading Frekuensi 2 9 Persentase 18 % 82 %

Membiarkan mereka sendiri yang membacannya Memandu siswa dalam menerapkan strategi membaca

186

Penyebaran kepada 11 orang guru yang mengajar bahasa Inggris pada pertanyaan proses pembelajaran pemahaman bacaan teks bahasa Inggris yang diterapkan oleh guru-guru SMA yang mengajarkan materi reading (membaca) kepada siswa kelas XI secara mayoritas sebanyak 9 orang guru atau (63 % ) memandu siswa dalam menerapkan strategi membaca, dan 2 (18%) orang guru menjawab membiarkan mereka sendiri membacanya. Dari hasil angket tersebut menunjukan adanya guru selalu memulai pengajaran membaca dilakukan secara mendasar, artinya setiap proses pembelajaran guru-guru selalu melakukan strategi membaca yang baik kepada sisiwa. Tabel 4.23 Strategi membaca keras Frekuensi 9 1 Persentase 82 % 18 %

Ya Tidak

Untuk penyebaran kuesioner kepada 11 orang guru dalam pertanyaan nomor 37, pada prinsipnya penerapan strategi membaca keras atau bunyi yang diajarkan guru kepada siswa terdapat 9 orang guru atau (82 %) guru beralasan bahwa untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca teks bahasa Inggris perlu guru membaca keras atau bunyi kuat sebagai bagian dari proses pembelajaran yang perlu dilakukan. Sementara 2 orang guru (18%) terdapat 9 orang guru atau (82 %) guru beralasan bahwa untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca teks bahasa Inggris perlu guru membaca keras atau bunyi kuat sebagai bagian dari proses pembelajaran yang perlu dilakukan.

187

Tabel 4.24 Cara Mengenal Sebuah Teks Frekuensi 10 1 Persentase 91 % 9%

Ya Tidak

Sementara dalam pertanyaan nomor 38 terdapat 10 orang guru (91 %) dalam proses pembelajaran bahasa Inggris, guru sering memberikan siswa cara mengenal dan memahami sebuah teks bacaan dengan baik dan hanya satu orang guru saja yang menjawab tidak pernah memberikan siswa cara mengenal dan memahami sebuah teks bacaan, hal ini berdasarkan identifikasi pendapat guru yang secara langsung mengetahui proses pembelajaran yang terjadi di kelas. Tabel 4.25 Perbedaan siswa dalam Memahami sebuah Teks Frekuensi 4 2 7 Persentase 31 % 0% 15% 54%

Memberikan motivasi terhadap perbedaannya Membiarkannya Merespon perbedaannya Mencari solusi yang terbaik terhadapnya

Terdapat 7 orang guru atau (54 %) memberikan respon bahwa mencari solusi adalah cara terbaik agar siswa dapat memahami kemampuan pemahaman sebuah teks bacaan bahasa Inggris , dan hanya 4 orang (31%) guru dapat mengatasi berbagai perbedaan siswa dalam kemampuan pemahaman pada sebuah teks bacaan bahasa Inggris dengan memberi motivasi terhadap perbedaan

tersebut, dan dua orang guru saja (15%) yang merespon perbedaan siswa. Tabel 4.25 Pola dan Tahapan-Tahapan Membaca Teks Bahasa Inggris Frekuensi Persentase

188

Pra membaca Pasca membaca Membaca dengan yang lainnya

9 1 1

82 % 9% 9%

Pertanyaan nomor 40. Terdapat sujumlah 9 orang guru atau ( 81 % ) member pola dan cara pemnbelajaran yang dikembangkan mulai dari pola dasar serta tahapan-tahapan membaca teks bahasa Inggris yang dimulai dari pra

membaca, hal ini guru dalam menyampaiakan materi bahasa Inggris khususnya yang dikembangkan di kelas XI tiap teks yang diberikan selalu dengan pra membaca. Hedge (2001 : 668) mencoba memformulasikan peran siswa dalam kelas yang menganut faham pembelajaran yang berpusat pada siswa yang dibedakan dari peran siswa dalam kelas yang tradisional yang berpusat pada guru yang kecendurungannya guru mendominasi kelas. Hedge menyatakan bahwa siswa dapat berperan sebagai peneliti yang mencoba menelusuri kebutuhan belajarnya dan juga sebagai negosiator dari content atau materi pembelajaran. Dengan demikian dalam proses pembelajaran terutama bahasa diperlukan keaktifan kedua belah pihak, yaitu antara siswa dan guru. Kompetensi yang diharapkan siswa dalam belajar materi bahasa Inggris adalah siswa secara mampu mengetahui dan mampu melakukanya sesuai dengan empat kompetensi yang ada. Dalam mengajar guru harus memahami tiga aspek besar, yaitu teori belajar, teori mengajar, dan teori bahasa. Brown ( 2001 : 668 ) mewadaihnya dalam bentuk prinsip-prinsip yang harus diperhatikan guru dalam mengajar yaitu prinsip-prinsip kognitif, afektif, dan linguistic. Dalam pengajaran bahasa , guru perlu mempertimbangkan teaching beliefs yang harus dijadikan panduan di dalam

189

kegiatan kelas bahasa asing.Dalam hal ini Brown (2001 : 668) mengemukakan prinsip-prinsip yang harus diketahuai oleh guru bahasa yang meliputi prinsipprinsip kognitif, afektif, dan linguistik. Prinsip kognitif terdiri atas otomatisasi, pembelajaran kebermaknaan, pujian atau imbalan, dan motivasi instinsik. Prinsif afektif meliputi egoism bahasa, percaya diri, pengambilan resiko, dan kaitan budaya dengan bahasa. Prinsip linguistic terdiri atas pengaruh bahasa ibu, tingkat kemahiran berbahasa, dan prinsip komunikatif. Untuk mengetahui sejauh mana keterkaitan antara proses pelaksanaan pembelajaran bahasa Inggris bagi siswa kelas XI SMA, yang ada, terutama pada materi atau kompetensi Reading, dengan mengajar guru sebagai pelaksana lapangan, terutama pada saat pelaksanaan pembelajaran bahasa Inggris, reading sebagai langkah yang terukur maka dapat dilihat pada pendapat guru sesuai dengan apa yang ada. Dalam proses pembelajaran yang diharapkan disini adalah sejauh mana keberhasilan siswa melalui memahami serta mampu mentransferkan pegetahuan mereka dalam berbagai disiplin ilmu dalam bidang kebahasaan.Untuk keberhasilan siswa semakin perluasan tugas dan tanggung jawab guru, akan membawa konsekuensi timbulnya fungsi-fungsi khusus yang menjadi bagian integral dalam kompetensi yang dimaksudkan disini adalah penguasaan atau keahlian seorang guru dalam mengelola proses belajar mengajar agar mencapai tujuan.Gagne berpendapat bahwa fungsi guru sebagai : 1. Perancang pengajaran, yaitu senantiasa mampu siap merancang kegiatan belajar-mengajar

190

2. Pengelola pengajaran, yaitu kemampuan guru dalam mengelola tahapan proses belajar mengajar, serta 3. Penilaian prestasi belajar, yaitu sebagai hasil pembelajaran subyek didik. Selain dari pendapat di atas, prinsip-prinsip dalam belajar mengajar merupakan prinsip-prinsip yang harus diketahui serta diinternalisasikan sehingga prinsip-prinsip tersebut akan mewarnai kegiatan pengajarnya. Kalau mengacu pada model pembelajaran yang dikemukakan Stren (1994) ada beberapa aspek yang menentukan proses belajar di antaranya aspek siswa,dan konteks belajar yang didalamnya terdapat karakteristik guru, kurikulum dan metode-metode. Dalam model tersebut diperlihatkan bahwa aspek metodologi mempunyai pengaruh langsung terhadap hasil belajar, oleh karena itu dengan didukung aspek lainnya, masalah metode sering menjadi perhatian utama dalam upaya peningkatan kualitas dan hasil belajar. Pada aspek hasil belajar yang diperoleh siswa tidak terlepas dari kerja keras guru, khususnya pengembangan model pembelajaran bahasa Inggris. Beberapa kompetensi dasar yang harus dikuasai guru terutama pada kompetensi reading atau membaca. Berdasarkan hasil angket, menunjukkan bahwa adanya pelaksanaan pembelajaran bahasa Inggris dan khususnya kompetensi reading (membaca) masih bersifat umum, dan belum terlihat adanya spesifikasi guru terhadap materi reading teks tersebut belum maksimal. Sesuai hasil pengamatan langsung disekolah terhadap sepuluh sekolah dengan melibatkan 11 guru bahasa Inggris dan melalui pengamatan tersebut

191

perbedaan diantara guru di masing-masing sekolah secara kebanyakan guru belum melaksanakan suatu metode atau strategis yang baik terhadap kemajuan siswa, guru menggunakan buku ajar yang bervariasi. Hal ini setiap sekolah menggunakan buku bahasa Inggris yang berbeda-beda, secara mayoritas guru lebih banyak memberikan tugas ( PR) kepada siswa, dan disini guru tidak dapat banyak menjelaskan kepada siswa. Untuk menyamakan presepsi terhadap guru-guru yang mengajar bahasa Inggris kelas XI, khususnya guru-guru yang ada pada kabupaten Maluku Tenggara dan kota Tual masih sulit, di mana setiap guru menggunakan buku bahasa Inggris yang beda pula dalam rangka menyatukan pelaksanaan pembelajaran bahasa Inggris sulit dilakukan, mengingat konsep, dan materi atau topic yang diajarkan oleh guru, sesuai dengan keinginan guru saja, sehingga masih belum ditemukan keseragaman dalam penggunaan buku ajar disekolah. Adapun proses belajar mengajar bahasa Inggris, disepuluh sekolah SMA baik swasta atau negeri yang ada di lokasi penelitian. Berkaitan dengan kompetensi atau penguasaan materi ajar dapat dikatakan masih belum maksimal, dan baik. Hal ini terlihat adanya ketidakseriusan guru dalam menyampaikan materi bahasa Inggris, masih bersifat umum, dan guru lebih banyak menggunakan buku pegangan guru dan buku paket dalam hal ini sebagai alternative saja. Untuk melihat sejauhmana dan seberapa besar kemajuan guru dalam mengajarkan bahasa Inggris pada siswa kelas XI, hal ini dapat diukur dari seberapa besar kemampuan siswa dalam memahami dan mengetahui isi materi pembelajaran dimaksud.

192

Rendahnya kemampuan membaca siswa SMA kelas XI terhadap text bahasa Inggris cukup signifikan, hal ini posisi guru, sebagai penanggung jawab. Dari hasil angket/koestener yang diberikan kepada 11 orang guru selain guru mengisi abtion yang relevansi pada tiap pertanyaan juga guru-guru dapat mempunyai terhadap proses pembelajaran bahasa Inggris reading atau membaca saat ini di SMA kelas XI. Dari berbagai pendapat guru berkaitan dengan proses pembelajaran bahasa Inggris reading yang berlangsung saat ini di SMA kelas XI, secara spesifik guru telah berusaha dengan serius untuk kemajuan siswa. Namun jika dikaitkan dengan hasil observasi, langsung oleh penulis, di sekolah masih terdapat beberapa kelamahan yang ada di lapangan. Ada sejumlah fasilitas sebagimana sekolah masih terdapat kekurangan tempat duduk yaitu kursi dan meja. Hal ini mengakibatkan proses pembelajaran yang dialami oleh siswa tersebut terganggu. Selain itu, terdapat beberapa SMA, selain kekurangan tempat duduk pada SMA Negeri 2 Tual dua kelas yang menjadi tempat penelitian semuanya belum ada meja dan kursi sehingga saat proses pembelajaran berlangsung siswa terpaksa duduk di lantai lihat pada gambar 01 : siswa-siswi saat sedang belajar di kelas.

193

Gambar 01: foto belajar siswa Kls XI SMA N 2 Tual. Untuk semangat belajar siswa tidak mengurangi semangat belajarnya. proses pembelajaran dapat berlangsung walaupun tidak teratur, dan jumlah siswa yang ada di kelas XI jumlahnya sangat sedikit, hal ini dilihat dari segi geografis/kedudukanya sekolah ini masih terisolasi. bahkan keadaan guru sangat jarang masuk hal ini mengakibatkan siswa jarang masuk pula. Secara umum guruguru masih belum sepenuhnya melaksanakan tugas dengan baik, dan juga jumlah siswa yang masih relatif sedikit jumlahnya. Dan guru juga tidak terlalu aktif dalam mengajar, artinya jarang masuk, buku pegangan siswa atau buku paket siswa belum ada , siswa memperoleh materi melalui catatan atau foto kopy dari guru saja.

194

C. Kemampuan Dan Kegiatan Pembelajaran Siswa. Untuk mengetahui sejauhmana keberadaan proses belajar siswa yang ada di sekolah tersebut, dapat dilihat pada hasil angket/ questioner pada tabel-tabel berikut ini Tabel 4.25 Pendapat Siswa tentang Bahasa Inggris Frekuensi 166 45 15 2 6 Persentase 70 % 19 % 6 % 0, 85 % 2%

Menyenangkan Sukar Tidak menyenangkan karena terlalu banyak yang harus dipelajari Membosankan Lainnya

Dari penyebaran angket kepada 234 orang siswa bahwa mempelajari bahasa Inggris sangat menyenangkan ini terbukti dari 166 orang siswa (70%) yang memilih jawaban tersebut, sedangkan 45 orang (19%) menyatakan sukar, 15 (6%) orang menyatakan tidak menyenangkan, 2 orang (0,85%) menyatakan membosankan dan sisanya 6 (2%) orang menjawab lain-lain. Tabel 4.26 Pendapat Siswa tentang Penguasaan Keterampilan Reading Frekuensi 58 98 63 Persentase 26 % 44 % 28 %

Harus dikuasai Perlu dikuasai Harus dipelajari sesuai kompetensi

Terdapat 98 orang siswa atau (44 %) berpendapat bahwa ketrampilan reading (membaca) perlu dikuasai siswa, 58 orang (26%) harus dikuasai siswa dan 63 (28%) menyatakan perlu dikuasai sesuai dengan kompetensi. Berdasarkan pengakuan siswa bahwa pembelajaran bahasa Inggris khususnya kompetensi

195

reading perlu dan harus benar-benar dikuasai siswa, hal ini membutuhkan kerja keras guru dalam mengembangkan kompetensi reading kepada siswa.

Gambar 02 : Sisw kelas XI SMAN 2 Malra, saat disampaikan materi oleh peneliti.

Tabel 4.27 Pendapat Siswa tentang Cara Memahami dan Mengetahui sebuah teks bacaaan Frekuensi 76 17 50 83 16 Persentase 31 % 7% 20 % 34 % 31 %

Harus serius membacanya Memembaca teks tersebut perlu baca secara komprehension Mengulangi secara terus-menerus dalam bacaan tersebut Bersama guru mempelajarinya Lain-lain

Sebanyak

83 orang siswa (34 %) untuk mengetahui dan memahami

sebuah teks bacaan yang diberikan guru perlu siswa mengulangi secara terus menerus dalam bacaan tersebut. Dari apa yang direspon oleh siswa menunjukkan

196

bahwa siswa masih memiliki semangat belajar yang tinggi terutama dalam bidang studi bahasa Inggris reading comprehension. Tabel 4.28 Kompotensi yang diperlukan dalam Penguasaan Membaca Frekuensi 174 23 26 Persentase 58 % 10 % 11 %

Mengetahui dan memahami kandungan teks tersebut Menemukan ide-ide utama dalam teks tersebut Adanya kata-kata yang sulit dalam penguasaan isi dan pesan bacaan tersebut

Pada pertanyaan ini terdapat 174 orang atau (54 % ) siswa berasalan bahwa kompetensi yang diperlukan dalam penguasaan membaca dengan cara mengetahui dan memahami kandungan teks tersebut. Hal ini secara mayoritas siswa sangat mengharapkan untuk mengetahui dan memahami teks-teks bacaan yang diberikan guru khusunya materi bahasa Inggris. Tabel 4.29 Tanggapan Siswa tentang Reading Frekuensi 128 34 41 7 8 Persentase 58 % 15 % 18 % 3% 3 %

Sukar untuk dipahami Terlalu banyak hafalan Terlalu banyak latihannya Membosankan Kurang dirasakan manfaatnya

Secara mayoritas siswa memberikan pendapat berkaitan dengan reading atau membaca merupakan pelajaran yang dianggap di kelas sukar untuk dipahami hal ini terdapat 128 orang siswa atau (58 %) .dari hasil pertanmyaan tersebut menandakan bahwa siswa merasa sulit dan sukar dalam memahami dan mempelajari materi bahasa Inggris.

197

Tabel 4.30 Tanggapan Siswa tentang Guru Bahasa Inggris Ya Apakah setiap materi reading yang diberikan oleh guru, kalian dapat memahami dengan baik? Apakah guru bahasa Inggris ,memberikan teknik membaca pemahaman dan membaca cepat kepada anda? Apakah guru memberikan tugas pekerjaan Rumah (PR) Bahasa Inggris reading kepada kamu setiap minggu? 92 38% 90 37% 60 24% Kadangkadang 122 35% 94 27% 128 37% Tidak 11 12% 44 50% 32 26%

Tanggapan siswa terkait dengan pertanyaan Tersebut Siswa memberikan tanggapan bervariasi antara lain, siswa yang menjawab ya sebanyak 92 orang atau (38 %) siswa mengatakan bahwa setiap materi reading yang diberikan oleh guru dapat dipahami dengan baik oleh siswa. Selain itu terdapat 128 orang siswa atau (37 %) menjawab kadang-kadang. Hal ini guru bahasa Inggris memberikan teknik membaca pemahaman dan membaca cepat kepada siswa. Dari kenyataan tersebut secara nyata guru memberikan teknik membaca pemahaman dan cepat kepada siswa dilakukan kadang-kadang. Dan tidak semua saat guru memberikan teks bacaan siswa secara cepat dan paham. Dan untuk penugasan guru memberikan tugas pekerjaan Rumah (PR) bahasa Inggris reading kepada siswa tiap minggu siswa sebanyak 44 orang siswa atau (50 %) siswa menjawab tidak. Siswa diberikan tugas PR dari guru dapat memberikan harapan tugas yang baik untuk siswa. Berkenaan dengan pendapat siswa terhadap pembelajaran membaca bahasa Inggris di sekolah melalui angket/kuesioner pada tabel di bawah ini.

198

Tabel 4.31 Tanggapan Siswa tentang materi Reading Frekuensi 61 89 5 84 Persentase 25 % 57 % 2 % 35 %

Sangat menarik Menarik Tidak menarik Kurang dirasakan manfaatnya

Untuk ketertarikan siswa terhadap materi reading terdapat 89 orang siswa atau ( 37 % ) siswa berpendapat bahwa pelajaran bahasa inggris khususnya materi reading atau membaca di sekolah menarik, 84 orang siswa (35%) menyatakan kurang dirasakan manfaatnya, 61 orang siswa (57%) yang menyatakan sangat menarik, dan 5 orang siswa (2%) yang menyatakan bahwa materi reading tidak menarik. Hal ini menunjukkan masih ada sesuatu kurang disukai oleh siswa berkaitan dengan materi reading.

Tabel 4.32 Keterampilan Bahasa Inggris yang Dianggap Perlu Oleh Siswa Frekuensi 34 61 48 17 93 Persentase 13 % 24 % 18 % 6 % 36 %

Listening (mendengar) Speaking (berbicara) Reading (membaca) Writing (menulis) Diperlukan semuanya

Pada pertanyaan ini terdapat 93 orang siswa atau (36 % ) siswa memilih bahwa kompetensi yang harus dimiliki siswa harus mencakup, mendengar, berbicara, membaca dan menulis, hanya 61 (24%) orang siswa saja yang memilih speaking lebih penting dari yang lainnya, 48 orang siswa (18%) mengganggap reading yang lebih penting dibanding kompetensi lainnya, 34 orang siswa (13%)

199

menganggap

bahwa

Listening

(mendengar)

lebih

diperlukan

dibanding

kompetensi lain, dan 17 orang siswa (6%) menganggap writing (menulis) lebih diperlukan dibanding kompetensi lainnya. Tabel 4.32 Kesempatan untuk membaca dengan cara Frekuensi 55 52 76 26 14 Persentase 24 % 23 % 34 % 11 % 6%

Mengeja huruf dan kosakata bahasa Inggris Membaca nyaring Membaca teliti Membaca pemahaman Lainnya

Terdapat 76 orang siswa atau (34 %) mengatakan bahwa setiap guru yang mengajar dapat memberikan kesempatan untuk membaca secara teliti terhadap teks bahsa Inggris, 55 orang siswa (24%) menyatakan bahwa guru mengajarkan untuk mengeja huruf dan kosa kata bahasa Inggris, 52 orang siswa menyatakan bahwa guru mengajarkan membaca nyaring ketika memberi kesempatan untuk membaca, dan 26 orang siswa (11%) menyatakan bahwa guru mengajarkan pemahaman ketika menyampaikan keterampilan membaca. Tabel 4.33 Tanggapan terhadap Pelajaran bahasa Inggris Frekuensi 24 60 25 3 Persentase 10 % 60 % 25 % 3%

Sangat sulit Sulit Mudah Sangat Mudah

Pertanyaan terhadap sejauhmana tingkat kesukaran siswa terhadap materi reading teks yang dipelajari di kelas XI secara mayoritas 60 orang siswa atau ( 60 % ) siswa memberi argument bahwa membaca teks bahasa Inggris selalu sulit.

200

Tabel 4.34 Tanggapan terhadap penguasan Reading Frekuensi 111 93 23 15 Persentase 45 % 38 % 9% 6%

Penting sekali Penting Kurang penting Tidak penting Biasa saja

Secara mayoritas 111 orang siswa atau ( 45 % ) siswa mengatakan bahwa belajar bahasa Inggris reading (membaca) penting untuk dikuasai oleh siswa. berdasarkan pendapat siswa diatas, menunjukkan adanya motivasi siswa yang cukup tinggi dalam penguasaan materi bahasa Inggris dan khususnya lagi pada kompetensi reading ( membaca).melihat motivasi siswa terhadap mata pelajaran bahasa Inggris cukup tinggi, namun terlihat pada motivasi dari guru dalam pengembangan pembelajaran bahasa Inggris kepada siswa masih kurang. Persoala yang dialami rata-rata siswa pada lokasi penelitian berdasarkan hasil angket, menunjukan adanya masih sangat kurang dan strategi yang dibangun guru kepada siswa khususnya peningkatan belajar siswa terhadap materi bahasa Inggris secara umum dan khusunya lagi pada kompetensi reading atau membaca. Dalam mata pelajaran bahasa Inggris diantara empat kompetensi yang terkandung didalamnya yakni kompetensi speaking, listening, writing dan reading dan kompetensi reading sangat berpengaruh dan penting dalam empat kompetensi tersebut. Dengan demikian pembelajaran reading atau membaca perlu mendapat posisi yang sangat penting dalam pengembangan ketiga kompetensi yang ada. Dengan demikian unuk melihat berbagai kekurangan yang dialami siswa

201

khususnya kompetensi membaca perlu diperhatikan sebaik mungkin mulai dari saat ini. Mulai dari tingkat SMP hingga Perguruan Tinggi.

Tabel 4.35 Perasaan jika mendapatkan nilai yang buruk Frekuensi 10 9 35 175 Persentase 4% 3% 15 % 76 %

Senang sekali Senang Biasa saja Tidak senang

Pendapat siswa terhadap bagaimana perasaan mereka bila mendapat nilai bahasa Inggris reading buruk, hal ini secara mayoritas 175 orang siswa atau ( 76 % ) mengatakan tidak senang. Presentasi ini menunjukkan betapa keinginan siswa terhadp prestasi belajara bahasa Inggris melalui nilai yang diperoleh. Artinya pada prinsipnya semua peserta didik sudah terdapat motivasi diri pada pengembangan mata pelajaran bahasa Inggris. Keterkaitan nilai yang diperoleh para peseta didik menunjukkan adanya keinginan tahuan penguasaan mata pelajaran bahasa Inggris pada siswa semakin tinggi. lihat pada perkembangan tanggapan siswa pada table 4.35 diatas. Tabel 4.36 Cara mengerjakan PR Bahasa Inggris Frekuensi 94 9 110 6 4 Persentase 21 % 3% 48 % 2% 1%

Kapan saja sebelum waktu pengumpulan PR Menjelang jam pelajaran Setiba di rumah untuk persiapan PR Tidak mengerjakan, kecuali kalau dipaksa oleh guru Mengharapkan teman yang mengerjakan

202

Mayoritas sebanyak 110 siswa atau ( 48 % ) berpendapat cara mereka untuk mengerjakan pekerjaan rumah (PR) bahasa Inggris dapat dilakukan setiba di rumah. Tabel 4.37 Cara belajar bahasa Inggris di Luar Sekolah Frekuensi 49 37 117 26 2 Persentase 21 % 16 % 50 % 11 % 0%

Mengikuti kursus secara teratur Belajar keluar kalau ada PR saja Belajar sendiri di rumah secara teratur Tidak pernah belajar Lainnya

Secara mayoritas sebanyak 117 orng siswa atau ( 50 % ) mengatakan cara belajar bahasa Inggris di luar sekolah yaqng sesuai dan baik adalah belajar di rumah secara teratur.

Tabel 4.38 Lama Belajar Bahasa Inggris Frekuensi 41 21 10 85 0 Persentase 25 % 13 % 6% 53 % 0%

Kurang dari 1 jam Antara 1 sampai 2 jam Lebih dari 2 jam Tidak menentu Lainnya

Terkait dengan waktu yang digunakan siswa dan secara mayoritas 85 orang siswa atau ( 53 % ) siswa dapat menyampaikan bahwa dalam mengerjakan tugas PR tidak menentu.

203

Tabel 4.39 Pengaruh Lingkungan terhadap bahasa Inggris Frekuensi 67 25 49 96 Persentase 28 % 10 % 20 % 40 %

Memperoleh bahasa Inggris dari siaran televisi Mengikuti kursus Bahasa Inggris Belajar bahasa Inggris di sekolah saja Memperoleh bahasa Inggris dari membaca buku

Mayoritas siswa menjawab pertanyaan sebanyak 96 orang atau ( 40 % ) siswa mengatakan bahwa selain belajar bahasa Inggris di sekolah, mereka memperoleh bahasa inggris dari membaca buku.

Tabel 4.40 Media pendukung belajar bahasa Inggris Frekuensi 6 3 184 39 Persentase 2% 1% 78 % 16 %

Surat Kabar Majalah Kamus Di luar ketiganya

Berkenaan dengan media mana yang sangat dibutuhkan siswa dalam belajar bahasa inggris, hal ini secara mayoritas sebanyak 184 orang siswa atau (78 %) menyatakan media yang mendukung adalah kamus. Tabel 4.41 Cara menyampaikan materi reading Frekuensi 109 3 44 60 9 Persentase 48 % 1% 19 % 26 % 4%

Menarik Membosankan Selalu dipahami Biasa-biasa saja Tidak paham

204

Mayoritas sebanyak 109 orang siswa atau ( 48 % ) siswa beranggapan setiap guru menyempaikan materi reading selalu baik dan tertarik. Berikut juga pendapat siswa bagaimana seharusnya guru menerangkan pelajaran bahasa Inggris reading.

Tabel 4.42 Metode yang dianggap tepat oleh siswa dalam menerangkan Bahasa Inggris

Ya guru memperkenalkan dahulu cara-cara membaca yang baik sesuai dengan materi teks bahasa Inggris kelas XI guru memberi kesempatan membaca bahasa Inggris secara sederhana memeberikan latihan-latihan (drills) membaca sehingga siswa lebih mengerti terhadap materi /teks tersebut. guru memberi contoh-contoh pengucapan / spelling terhadap kata-kata/ cara baca yang baik sehingga kalian lebih mengerti materi pelajaran bahasa Inggris reading guru memberikan tugas pekerjaan rumah (PR ) guru memeriksa tugas PR dan menjelasakan kalau ada kesalahan guru menyampaikan empat ketrampilan yaitu speaking, listening, reading dan writing dapat dipahami dengan baik. 174

Kadangkadang 38

tidak 10

-

162 175

46 38

7 2

-

178

33

3

-

137 164 103

79 35 97

1 12 4

Dari total penyebaran angket kepada siswa pada 10 sekolah yang ada di kabupaten Maluku Tenggara dan Kota Tual Provonsi Maluku selaku tempat penelitian, hasil yang diperoleh dari pertanyaan nomor 19 pada angket yang diberikan kepada siswa/siswi yang ada di sekolah tersebut dapat dipresentasikan yang pertama dari 212 orang siswa terdapat 164 orang atau terdapat ( 77 % ) siswa mengatakan Ya.yaitu guru memperkenalkan dahulu cara-cara membaca

205

yang baik sesuai dengan materi teks bahasa Inggris kelas XI. Dan siswa yang mengatakan kadang-kadang sebanyak 38 orang atau ( 17 % ) selain itu juga terdapat 10 orang siswa atau ( 4 %) yang mengatakan tidak. Selain itu dalam

proses pembelajaran yang terjadi di SMA kelas sebelas dimana setiap guru memeberi kesempatan memebaca teks bahasa Inggris secara sederhana hal ini menurut pendapat siswa sebanyak 215 orang siswa terdapat 162 orang siswa atau ( 75 % ) mengatakan Ya. Dan terdapat 46 orang siswa atau ( 21 % ) mengatakan kadang-kadang, dan 7 orang siswa atau ( 3 % ) mengatakan tidak. Untuk melihat sejauhmanakah siswa menaggapi terkait dengan apakah guru memberikan latihan-latihan (drills) memabaca sehingga siswa lebih mengerti terhadap materi/teks tersebut. Lihat pada latihan siswa saat berlangsungnya

proses belajar mengajar di kelas XI SMA kelas pada gambar foto 03

Gambar 03 : Saat dilakukan latihan-latihan drills baca teks bahasa Inggris kelas XI SMA Negeri 1 Malra.

206

Dalam hal ini dari jumlah siswa sebanyak 215 orang diantaranya terdapat 174 orang siswa atau (81 %) menjawab Ya, artinya secara total kebanyakan siswa dapat memberi tanggapan secara total menyetujui hal itu, dan selain itu terdapat 38 orang siswa atau (17 %) siswa mengatakan hal itu dlilakukan kadang-kadang, dan juga terdapat 2 orang siswa atau ( 0 % ) siswa mengatakan tidak. Selain itu khususnya terkait dengan materi reading atau membaca terutama berkenaan dengan seberapa jauhkan guru melihat setiap kemampuan siswa dari teks yang ada. Dari ketiga pendapat tersebut terhadap apakah guru memberi contoh-contoh pengucapan/spelling terhadap kata-kata/ cara baca yang baik sehingga siswa lebih mengerti materi pelajaran bahasa Inggris reading. Dalam hal ini terdapat 214 orang siswa atau (83 %) siswa mengatakan Ya, dan 33 orang siswa atau (15 %) mengatakan kadang-kadang dan 3 orang siswa atau(1 %) mengatakan tidak. Sehubungan dengan peningkatan pembelajaran baik di sekolah maupun di rumah seorang guru senantiasa berusaha untuk meningkatkan kemampuan siswa tersebut dapat melalui pemberian tugas pekerjaan rumah. Dalam statement ini apakah guru memberikan tugas pekerjaan rumah (PR) hal ini terdapat 217 orang siswa dan diantaranya terdapat 137 orang siswa atau (63 %) siswa mengatakan Ya, dan 73 orang atau (36 %) mengatakan kadang-kadang, dan 1 orang atau (0 %) mengatakan tidak. Untuk peningkatan prestasi siswa dari proses pembelajaran maka seorang guru bagaimana dan selalu berusaha untuk memberikan tugas-tugas tambahan yang semestinya dapat dikerjakan siswa di luas sekolah. Selain hal diatas, maka seorang guru pun berkewajiban untuk selalu mengoreksi pekerjaan yang

207

dilakukan oleh siswa dalam hal ini apakah guru memeriksa tugas PR dan menjelasakan kalau ada kesalahan, hal ini tanggapan dari 211 orang siswa diamana dianataranya terdapat 164 orang atau (77 %) siswa mengatakan Ya, dan 35 oranga atau (16 %) siswa mengatakan kadang-kadang, dan 12 orang atau (5 %) mengatakan tidak. Selain dari berbagai persoalan yang dikatakan diatas, maka yang paling penting pembelajaran bahasa Inggris seorang guru harus menguasai dan mengetahaui terhadap empat kompotensi yang ada yaitu ketrampilan

spesking, listening, raeading dan writing dengan baik, hal ini dari 204 orang siswa terdapat 103 orang atau ( 50 %) mengatakan Ya, dan 97 orang siswa atau (47 %) mengatakan kadang-kadang, dan 4 orang siswa atau (1 %) mengatakan tidak. Terkait dengan pertanyaan nomor 19 diatas ,lebih menekankan pada kemampuan siswa dalaam membaca reading teks dalam bahasa Inggris. Rendahnya kemampuan efektif membaca para siswa di sekolah dalam pandangan penulis, merupakan cermin utama kegagalan pembelajaran membaca yang dilakukan di sekolah. kegagalan ini dapat dimaklumi sebab berbagai pokok bahasan membaca yang disajikan di sekolah tidak pernah disertai dengan bagaimana cara membaca wacana tulis tersebut. Tidak diterapkannya strategi baca yang tepat ini menyebabkan rata-rata siswa hanya mampu memebaca secara monoton, menerapkan gaya membaca yang yang sama untuk setiap bahan bacaan, bahkan lebih buruk lagi siswa tidak pernah tahu bagaimana cara praktis dalam memahami bacaan. Kondisi krisis dalam pembelajaran membaca ini tentu saja

208

harus kita sikapi bersama dan dicari solusinya agar ke depan pembelajaran membaca mampu dilakukan oleh siswa secara baik dan betul mengetahuai. Selaku peneliti, berkenaan dengan perkembangan pembelajaran mata pelajaran bahasa Inggris yang ada di kabupaten Maluku Tenggara dan Kota Tual, peneliti telah melakukan observasi dalam proses pembelajaran di kelas, hal ini mayoritas guru tidak dapat memberikan kesempatan yang baik kepada siswa untuk proses membaca. Terutama mengajarkan siswa bagaimana mengajarkan membaca dengan yang sebenarnya bagaimana cara mengucapkan huruf serta bunyi yang sesuai dengan hurufnya. Dalam hal yang lain waktu pembelajaran yang begitu sangat singkat di kelas sehingga tidak banyak kompetensi yang diajarkan guru pada siswa. Hal ini untuk mengetahui seberapa jauh proses pembelajaran yang terjadi di kelas XI SMA se kabupaten Maluku Tenggara dan Kota tual sebagai lokasi penelitian sejumlah sekolah yang di lakukan observasi oleh peneliti dapat di jelaskan pada Tabel 4.42 sebagai berikut : pada 5 (lima) sekolah sebagaimana di lihat dibawah ini : Tabel 4.42 Lokasi Penelitian Tahap Ke 2 (Dua)No 1. 2. 3. 4. 5. Sekolah SMA N 2 TUAL SMU Muhamadiyah Tual SMA Kristen Tual SMA N 2 MALRA SMKN MALRA JUMLAH Experiment Kls XI IPA1 Kls XI IPA Kls XI IPS 2 Kls XI IPA1 Kls XI Akuntansi 32 34 28 33 38 165 Kontrol Kls XI IPS Kls XI IPS Kls XI IPA 1 Kls XI IPS2 Kls XI Informatika 40 32 33 36 28 169 Juml ah 72 66 61 69 66 334

Hasil penelitian tahap dua ini dapat dilakukan tiga kali pengujian. Selain pelaksanaan pengujian bahan materi bahasa Inggris kelas XI SMA juga di edarkan

209

angket/questioner kepada guru dan siswa sebagai data tambahan dalam penelitian dimaksud. Terkait pelaksanaan penelitian uji coba ke dua ini seperti yang

diungkapkan Sukmadinata ( 2009 : 180 ) pelaksanaan uji coba tahap kedua sama dengan tahap pertama: para guru melaksanakan pembelajaran dengan tekanan pada latihan ketrampilan mengajar, para pengembang melakukan pengamatan dan pencatatan terhadap penampilan guru, dan respons siswa terhadap penampilan guru, dan respons siswa terhadap penampilan guru, selesai penampilan pengembang mengadakan diskusi dengan guru membahas apa yang tampilkan, mengapa penampilannya demikian, kesulitan yang dihadapi serta masukan bagi penyempurnaan pada penampilan berikutnya. Masukan dari hasil pengamatan dan diskusi dengan guru-guru menjadi bahan dalam rapat para pengembang bagi penyempurnaan paket latihan. Demikian seterusnya pengamatan, diskusi dengan guru, serta rapat antar tim pengembang dilakukan secara berulang-ulang sampai semua paket selesai diuji cobakan dan disempurnakan, yang diperoleh paket pelatihan final. Pelaksanaan uji coba tahap kedua ini peneliti telah menemukan beberapa kendala yang berhubungan langsung dengan kompetensi materi bacaan bahasa Inggris, yang pertama guru memberikan materi bahasa Inggris kepada siswa dalam bentuk kopian, dan tidak dengan buku paket atau buku pegangan siswa, dan secara pribadi guru-guru memiliki buku pegangan tersendiri yang tidak banyak diberikan kepada siswa. Pada saat memberikan materi dianjurkan siswa untuk mengopy sendiri-sendiri, yang kedua cara mengajikan atau mengelola materi bahasa Inggris, khususnya reading tidak sekalipun memberikan cara baca atau

210

ucapan secara langsung kepada siswa, akan tetap dalam hal ini ada person guru yang memberi bahan foto kopy sekalian dengan rekaman guru yang sudah dibuat dan siswa dapat mengikuti suara rekaman kaset yang dibuat guru.dan apabila kesalahan dalam bacaan siswa jarang sekali guru dapat membetulkanya, hal ini dikarenakan guru lebih mengutamakan kemampuan diri sendiri ketimbang kemampuan siswanya. Dan hal yang ketiga guru tidak membiasakan untuk siswa megulangi hal-hal dalam bacaan, ketika salah atau keliru dalam proses membacanya. Dari ketiga persoalan diatas terkait dengan apa yang di lakukan oleh guru yang mengajar pada kelas XI di beberapa SMA tersebut, sehingga peneliti melakukan suatu pertemuan yang intinya memecahkan berbagai persoalan yang yang berkaitan dengan permasalahan pembelajaran bahasa Inggris di lokasi penelitian.isu-isu yang diangkat dalam pembicaraan dalam pertemuan tersebut antara lain :

Gambar 04 : Saat pertemuan dengan guru-guru bahasa Inggris (1) Metode mengajar guru, sebagaimana dalam kuestioner nomor 17 kebanyakan guru memberi alasan bahwa masih perlu mencari metode yang lebih

211

efektif lagi dalam mengajarkan materi bahasa Inggris reading, (angket guru : 4 ). (2) system penyampaian materi, sebagaimana dapat diketahui proses pembelajaran yang dilakukan pada tiap-tiap sekolah yang ada pada wilayah penelitian , dapat diketahui lewat hasil angket guru yang diedarkan pada nomor 15 secara spontan guru-guru menyampaikan bahwa penyampaian materi bahasa Inggris selama ini selalu dengan beberapa strategi membaca yakni menggunakan teknik membaca scanning dan skimming sebagai tehnik utama dalam proses pembelajaran reading, selain itu guru-guru juga menggunakan tehnik tulisan yakni dengan cara intensive reading, reading between the lines. Artinya sambil melakukan membaca juga diarahkan untuk siswa menggaris bawahi hal-hal yang dianggap sulit dan baru bagi mereka. (questioner Nomor 15: 3), (3) penggunaan materi dan buku / literatur yang digunakannya. Perluasan dan pengembangan materi bahasa Inggris di sekolah perlu adanya guru selalu kreatif untuk mencari lebih luas dan dalam hal ini insiatif guru-guru tidak terbatas saja pada apa yang ada, akan tetapi perlu juga lebih dari itu, sebagaimana dalam tanggapan guru-guru pada questioner secara mayoritas mengatakan bahwa penggunaan materi selain yang sudah ada disesuaikan dengan materi dalam buku pegangan siswa juga diperluas dengan sumber lain. (questioner nomor 14:3) Dan (4) kurikulum yang digunakan. Untuk penggunaaan kurikulum khususnya bahasa Inggris maupun mata pelajaran yang lain, semuanya menggunakan kurikulum standar kita yaitu KTSP. Dimana

kurikulum KTSP semuanya sudah dibuat secara lengkap, tinggal bagaimana guruguru dapat mengelola saja apa yang tersirat dalam kurikulum tersebut.

212

Agar menjadi guru yang efektif, guru tidak cukup hanya dengan trampil dikelas atau hanya dengan memiliki pengetahuan yang luas, seorang guru yang efektif harus mampu memahami, menginterpretasikan, dan mengimplementasikan kurikulum. Bahkan seorang guru yang profesional dituntut untuk mampu menganalisis bahkan mengembangkan sebuah kurikulum ( Richards 2001 ) menyatkan bahwa seorang guru harus mencoba meyakini bahwa mengajar itu adalah bagian dari proses pengembangan kurikulum adalah hal yang sangat penting. Seorang guru harus belajar bagaimana mengadopsi dan mengembangkan materi, merencanakan dan mengevaluasi program menyesuaian metodoloogi dengan kebutuhan siswa, dan berfungsi bagi institutnya. : Dalam konteks pengembangan kurikulum, John Mc Neil (1985 : dalam sanjaya 2009 : 91-92) mendefinisikan need assessment sebagai; the process by which one defines educational needs and decides what their priorities are. Jadi menurut McNeil, assessment atu adalah proses menentukan prioritas kebutuhan pendidikan. Selanjutnya, ia mendefinisikian tentang kebutuhan sebagai .a condition in which there is a discrepancy between an acceptable state of learner behavaiour or attitude and an observed learner state. Berkaitan dengan pendapat tersebut, kebutuhan dalam kurikulum pada jenjang pendidikan SMA sangat diperlukan, hal ini khususnya pembelajaran bahasa Inggris sangat diperlukan terutama peran guru untuk merancang atau mendesain kurikulum yang ada. Uraian bagian pertama yang berkaitan dengan metode mengajar guru.dari 5 sekolah sebagai tempat pelaksanaan penelitian tahap kedua ini, dapat digunakan

213

sebanyak sepuluh kelas dengan klasifikasi sebagai berikut, 5 (lima) kelas sebagai kelas experiment dan 5 (lima) kelas sebagai kelas kontrol.lihat pada table 4.42. pada kelas experiment peneliti, telah melaksanakan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan proses pembelajaran dan dalam waktu yang sama peneliti, melakukan observasi/pengamatan ketika proses pembelajaran berlangsung terutama berkaitan dengan aktifitas guru dan belajar siswanya yang ada di dalam kelas Experiment untuk hasil pengamatan/observasi sementara untuk kelas kontrol peneliti peneliti langsung melakukan tes materi reading yang sudah dirancang sebelumnya.Dan dari hasil keduanya baik kelas eksperiment maupun kontrol akan menjadi bahan evaluasi selanjutnya. Untuk melihat perbandingan kemajuan hasil belajar bahasa Inggris dalam penelitian tersebut dapat digambarkan pada table 4.48. D.pengembangan model pembelajaran bahasa Inggris yang dikembangkan 1. Model Pembelajaran Bahasa Inggris Yang Dikembangkan. Berdasarkan berbagai masukan dan hasil yang diperoleh melalui pnelitian ini, secara umum menunjukkan masih banyak yang perlu diperbaki terutama pada tingkat kemampuan kognitif belajar siswa maupun mengajar guru. Salah satu peneliti dalam hal mengembangkan model pembelajaran bahasa Inggris ini lebih berfokus pada tahapan kemamapuan dasar membaca siswa SMA kelas XI.

Pengembangan Pembelajaran The Interactive Compensatory Method didalam penelitian ini didefinisikan sebagai pola atau desain yang berisi kerangka konseptual dan prosedur atau langkah-langkah sistematik dalam

mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran

214

tertentu. Dalam hal ini model pembelajaran membaca yang dikembangkan adalah model pengembangan pembelajaran membaca yang berakar dari dua teori utama dalam pembelajaran membaca yaitu konsep pendekatan membaca Part-Centered Skills Approach dan pendekatan membaca Socio-Psycholinguistic Approach pada mata pelajaran bahasa Inggris di Sekolah Menengah Atas (SMA). Masing-masing pendekatan menggambarkan perbedaan konsep tentang proses-proses yang terlibat dalam pembelajaran membaca. Pembelajaran membaca dirancang, dilaksanakan dan dievaluasi hasilnya, melibatkan guru dan siswa serta faktor-faktor pendukung lainnya seperti bahan ajar, alat Bantu belajar mengajar, dan lingkungan belajar untuk memperoleh hasil yang baik.

Foster (2001; 132) show indeed, all teachers needs to develop cultural compotence in order top effectively teach students with background different from their own. Dengan definisi dan tujuan pendapat diatas, adanya seorang guru perlu memiliki kompotensi dan pengalaman yang cukup sebagai latar belakang dalam mengajar. pengembangan program pengajaran yang ada didasarkan atas pertimbangan sifat dan jenis akademik untuk itu, terdapat tiga hal yang menjadi rencana pengembangan program pembelajaran yang dikatakan sebagai program pembelajaran semester dan tahunan.). Demikian dalam ( Muslich 2007:53-54) mengemukakan bahwa rencana pembelajaran pada umumnya, rencana rencana berbasis kompetensi melalui pendekatan kontekstual dirancang oleh guru yang akan melaksanakan pembelajaran di kelasnya berisi skenario tentang apa yang akan dilakukan siswanya sehubungan topik yang akan dipelajarinya. Secara teknis rencana pembelajaran minimal mencakup kompenen-kompenen sbb:

215

1.Standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator pencapaianhasil (2) belajar, (3) tujuan pembelajaran (4) materi pembelajaran (5) materi pembelajaran (6) pendekatan dan metode pembelajaran (7) langkah-langkah kegiatan pembelajaran (8) alat dan sumber belajar dan (9) evaluasi pembelajaran. Dalam hal ini perlu dilakukan beberapa langkah dalam persiapan proses pembelajaran: tahap pertama: mempersiapkan materi pembelajaran, dan tahap kedua , memperkenalakan materi pembelajaran atau presentasi awal tahap ketiga, mengidentifikasi berbagai kemampuan kognitif siswa dengan cara pemberikan pre-test kepada siswa untuk menghetahui kemampuan awal siswa.

216

2.langkah langkah pengembangan model.

Model Pembelajaran

1. Menyusun Kurikulum 2. Mengatur Materi pembelajaran 3. Memeberi petunjuk dalam pembelajaran A. Analisa Kurukulum KTSP 1. Pengertian, tujuan, fungsi, & ruang ringkup 2. Struktur RPP SMA KLS XI Semester I / II B. Analisa Materi Pembelajaran Bahasa Inggris Membaca 1. Pokok bahasan / Sub pokok Bahasan 2. Uraian Materi 3. Prosedur pembelajaran C. Temuan Studi Pendahuluan 1. Bahan / text Bacaan, 2. Pembaca 3. Pembelajaran membaca yang berlangsung di SMA Kls XI

D. Implementasi Model Pembelajaran Bhasa Inggris Reading. 1. Tujuan pembelajaran 2. 3. 4. 5. Materi pembelajaran Prosedur pembelajaran Pelaksanaan Evaluasi dan umpan balik

217

2.Model awal . Dari beberapa langkah yang telah diuraikan diatas, terhadap konsep dasar model pembelajaran, maka langkah selanjutnya adalah menyusun model awal pembelajaran membaca untuk pelajaran bahasa Inggris. Berikut ini adalah model awal pembelajaran yang sedang dikembangkan sesuai dengan kompetensi KTSP dalam tujuan penelitian.

1. Presentase awal 2. Presentase materi 3. Memperkuat organisasi kognitif .

Skenario Model Yang dikembangkan.Waktu 10 Menit untuk masing-masing pertemuan Tahap 1.guru memberi salam Membuka pelajaran/ Kegiatan2.guru menyapa nama siswa 3 guru memberi instruksi tentang materi yang dipelajari baik yang sebelumnya maupun akan di baca siswa 4.guru dan siswa mendiskusikan hasil membaca siswa sambil Menyediakan sarana pembelajaran seperti kamus dan media yang akan digunakan.a. guru membagikan bacaan dan meminta mereka

Presentasi awal

waktu untuk masing-masing point 60 menit untuk tiap pertemuan.

Presentasi materi

membacanya b. guru dan siswa mulai membahas bacaan dilihat dari kosakata bacaanya dengan memanfaatkan media atau dengan bantuan guru c guru dan siswa mulai membahas bacaan dilihat dari kalimat- kalimat yuang digunakan di dalam bacaan. d.guru dan siswa mulai membahas gagasan utama dilihat dari penempatan kalimat utama setiap paragraph atau inti dari bacaan yang dibaca berhubungan dengan pemahaman teks atau isinya. e.guru dan siswa mulai membahas organisasi karangan untuk mengidentifikasi aspek pendahuluan, isi, dan penutup sebuah bacaan dan jenis karangan dan dilanjutkan dengan f. guru dan siswa mulai membahas substansi bacaan secara menyeluruh, baik yang tersurat maupun yang tersirat.

15 menit untuk

Mmemperkuat a.Siswa aktif

membahas bacaan dilihat dari berbagai

218

masing-masing pertemuan.

organisasi kognitif

aspek, seperti kosakata baca, kalimat, posisi letak kalimat utama, organisisi karangan, dan isi bacaan yang ada pada teks reading tersebut dan b.Siswa mengerjakan tes secara lisan dan tulisan dari hasil belajar yang dilakukannya.

10 menit untuk masing-masing pertemuan

Penutup

*Guru mengucapkan salam.

KRITERIA KETUNTASAN MINIMAL KURUKULUM KTSP KELAS / SEMESTER MATA PELAJARAN : XI 1/II : Bahasa Inggris.( Membaca )

Kriteria KKMNo

KKM KD

KKM SK

KKM MP

Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar

Indikator

Kom pleks itas 5

Daya serap

Daya duku ng 7

1 01

2 Membaca. Memahami makna teks monolog/esei terbentuk report, narrative dan analytical exposition secara akurat, lancar dan berterima dalam konteks kehidupan sehari-hari & mengakses ilmu pengetahuan

3

4 *Mengidentifika si makna dalam teks *Mengidentifika si langkahlangkah retorika dalam wacana report, narrative & analytical exposition

6

KK M indik ator 866,66

9

10

11

3.1.Memahamidan merespon makna dalam teks monolog/esei yang menggunakan ragam bahasa tulis secara akurat,lancer dan berterima dalam teks berbentuk report, narrative & analytical exposition.

2

2

2

66,66

66,66

2

2

2

66,66

219

PEMETAAN STANDAR ISIStandar Kompeten siMemahami makna teks monolog/es ei terbentuk report, narrative dan analytical exposition secara akurat, lancar dan berterima dalam konteks kehidupan sehari-hari & mengakses ilmu pengetahua n

Kompetens i Dasarmerespon makna dalam teks fungsional pendek (misalnya banner,post er, pamphlet,dll ) resmi dan tak resmi yang menggunak an ragam bahasa tulis secara akurat, lancar & berterima dalam konteks kehidupan sehari-hari.

TH P

INDIKATOR

TH P

MATERI POKOK

Aloka si 1 2 3 4 5 6 Waktu

Ruang Lingkup

C3

5.1.1 Membaca nyaring bermakna wacana ragam tulis yang dibahas dengan ucapan dan intonasi yang benar. 5.1.2 mengidentifik asi topic dari teks yang dibaca 5.1.3 Mengidentifik asi informasdi tertentu dari teks fungsional pendek

C1

Teks fungsiona l pendek berbentuk : -Banner -Poster Pamphlet Dan lainlain dapat disesuaik an dengan materi bacaan dari guru. 8X35 Menit.

C2

C3

220

SILABUS Satuan pendidikan Mata pelajaran Kelas / Semester Alokasi Waktu Standar kompetensi : SMA : Bahasa Inggris : XI / II : 8 x 35 Menit: ( Membaca / Reading ) 5. Memahami makna teks fungsional pendek dan esei sederhana berbentuk report, narrative dan analyztical exposition dalam konteks kehidupan sehari-hari dan untuk mengakses ilmu pengetahuan. Kegiatan Pembelajaran Guru memandu siswa membaca nyaring teks fungsional pendek berbentuk banner, poster, dan pamplet. Duru memandu siswa melakukan diskusi mengenai topic dan informasi tertentu dari teks fungsioanla pendek berbentuk banner, poster, dan pamphlet. Materi Pembelajaran Penilaian Aloka si waktu Sumber/Bah an /Alat.

Kompotensi Dasar

Indikator

- Membaca nyaring 5.1 Meresponmakna dalam teks fungsional pendek (misalnya banner, poster, pamphlet,dll) resmi dan tak resmi yang menggunakan ragam bahasa tulis secara akurat, lancer dan berterima dalam konteks lkehidupan sehari-hari. bermakna wacana dengan ucapan dan intonasi yang benar. - Mengidentifikasi topic dan informasi tertentu dan teks fungsional pendek. - Merespon makna yang terdapat dalam teks fungsional pendek.

Teks fungsional pendek -Banner -Poster -Pamphlet -Materi teks yang lain disesuaikan dari guru.

-PedomanAssessment/ Penilaian

2x 35

-Sikap

Sumber Buku referensi; look ahead2. and adapted book from teacher.

5.2. Merespon makna dalam teks monolog/ esei yang menggunakan ragam bahasa tulis secara akurat, lancar dan berterima dalam teks berbentuk : report, narrative & analytical exposition.

1.Mengidentifikasi makna kata dalam teks yang dibaca 2. Mengidentifikasi alur dalam sebuah cerita narasi. 3. Mengidentifikasi cirri-ciri dari benda org yang dilaporkan 4. mengidentifikasi kasus dan argument yang diberikan dalam teks 5. Mengidentifikasi langkah-langkah retorika dan tujuan komonikasi teks yang dibaca 6. Merespon makna dan unsur kebahasaan dalam

Membaca nyaring bermakna teks narrative/report/ analytical expositon secara individu

Teks Lisan berbentuk Report Ex: ( The Kangoro) Naarrative Ex (the legend of Centipede lake) Analytical Exposition Ex: (The Importence of Rain Forest).

Tes Tertulis Performance assessment /penilaian

6x35 Bahan Teks Handout Student paper/ copy teks

Mendiskusikan berbagai aspek Dario teks seperti isi, struktur teks, secara berkolompok.

-Sikap -proyek.

Alat Laptop, Speakerst, LCD projector and other.

221

wacana.

Dari Silabus yang dapat di kembangkan menjadi

Rencana Pembelajaran.Guru : Mata pelajaran : Bahasa Inggris Waktu : 2 X 45 Topik : Pokok Bahasan : Sub poko bahasan : Stndar Kompetensi Dasar (SK) : (Uraikan tujuan pembelajaran berdasarkan SK ) Kompetensi Dasar (KD) : (Uraikan KD secara rinci dan terukur ) Materi pembelajaran : ( uraikan materi pembelajaran berdasarkan analisis materi ) Prosedur pembelajaran : (a) presentase awal 1.mengkomunikasikan tujuan 2. bertanya jawab untuk mengenal struktur kognitif (b) Presentase materi : 1. Membaca bacaan yang telah disediakan 2. Menganalisis dan mengulangi bacaan sesuai dengan konteks materi yang ada 3.bertanya jawab dan mendiskusikan hasil analisis (c). Pengetahuan organisasi kognitif 1. mengingatkan kembali masalah yang dibaca 2. Menanyakan kembali substansi bacaan Sumber belajar dan media Pemb : Buku pegangan siswa, guru, sumber lain dan Kamus serta instrumen lainnya. Pendekatan Metode Evaluasi : Pendekatan Komunikative approach (CA) : (Membaca, tanya jawab dan diskusi) : Kembangkan pertanyaan berdasarkan KD

222

Pelaksanaan pembelajaran berdasarkan uraian kompetensi.Silabus Mata Pelajaran.

Nama sekolah Kelas / kelas Jurusan Prasyarat/kompotensi

: : : :siswa/siswi, terutama dalam membangun dan mengembangkan kominikasi lisan dan tulisan baik dalam dunia akademik mupun pergaulan sehari-hari.

Deskripsi mata pelajarn. : Memberikan bekal pengetahuan bahasa Inggris kepada para

Pertemuan ke

Kompotens i Dasar 2

indikator

1

3

1

Pokok bahasan/sub pokok bahasan 4 Informasi tentang kegiatan penelitian pada kelas masingmasing

II

Siswa memahami tentang bagaimana cara membaca dalam bahasa Inggris dengan baik dan benar

Siswa/I mampu : 1.membaca teks dengan benar. 2.dapat membaca dengan baik, serta membedakan bentuk bunyi &ucapan pada teksnya.

Pengertian dan ruang lingkup pembahasanya :1. Pengertian reading scanning . 2.pengertian reading skimming. Pokok pembehasan: 1.pembahasan About Tom 2.kinds of story 3.what kinds of Tom get from father

Kegiatan pembelajara n 5 Penjelasan umum komponenkomponen dalam proses pembelajara n secara keseluruhan Guru menjelaskan ttg membaca secara scanning dan skimming serta komponen car a baca lainya & memberikan kesempatan kpd siswa untuk memberikan tanggapan terhadap materi yg

media

Evaluas i 7 Tes tulisan. Pree test.

Rujukan utama 8 Ditrect speaker teacher and students

waktu

6

9

Papan tulis -Foto kopy

90 menit & disesu aikan.

-Paan tulis -Foto kopy

-tes lisan -tes tulisan.

Primar English guide 3 all in one Charmain e Han B.A. App. Ling, Dip. Ed 2010.

90 menit & disesu aikan.

223

diajarkan.

III.

Siswa/I memahami dab mengetahui ttg reading teks secara utuh dalam bacaan bahasa Inggris.

Siswa mampu : 1.mengucapka n bunyi huruf sesuai denganteksnya. 2.membaca secara komprehenssip ttg teks bacaan. 3.memberikan arti dan pengertian tentang kalimat, paragraph dan judul materi.

Pokok pembahasan 1.pembahasan -ALane Going up The Hill. -kinds of the story -about the story. .

IV

Siswa memahami makna teks fungsional pendek & essai sederhan berbentuk narrative descreptive dan news items.

Siswa mampu : 1.merespon makna yg terdpt dlm teks lisan fungsional pendek resmi dan tak resmi secara akurat, lancer dan benar. 2.merespon makna dlm teks monolog yg menggunakan ragam bahasa lisan secara akurat, lancer dlm bentuk, report, narrative, dan analytical exposition. Merespon makna dlm teks monolog sederhana yg menggunakan ragam bahasa lisan secara akurat, lancer & berterima dlm berbagai konteks kehidupan

Pengertian serta lingkup pembahasan. 1.judul bacaan dan pengertiannya 2.apa saja yang penting dalam teks tersebut. Present arguments of an issue.

V

Siswa memahami berbagai bentuk wacana tulis, bahan bacaan pendek singkat dan secara structural.

Pengertian dan ruang lingkup pembahasan : 1.respected professions 2.membedakan perbedaan masing-masing fungsi dan jenisnya. 3.mengidentifi kasi dan

Guru menjelaskan ttg pengertian a Lane Going Up The Hill. Dan tujuan spesifikasi bacaan tersebut.dan memberikan kesempatan kepada siswa/I untuk menanggapi materi dan mengkaji serta membaca teks yang ada. Guru memberikan kesempatan kepada siswa/I untuk membaca teks bacaan secara sempurna. Selanjutnya diadakan Tanya jawab ttg materi yg diajarkan & siswa memberi tanggapan, atau dapat menjelaskan pengertianpengertian dari judul dan isi teks yg ada. Guru memberikan kesempatan untuk siswa membaca teks yg judulnya , respected professions serta ruang lingkupnya, siswa

-Papan tulis -Foto kopy

tes lisan -tes tulisan.

Look ahead an English course for senior high achool students year XI 2. Th. M.Sudarw ati 2007. Penerbit Erlangga. Take from : adapted (from:ww w.storytot ell,com)

90 menit & disesu aikan

KTSP 2006. Creative Engliah workbook , Ng foo Mun, Ng lai Foong,Ng How Seng Gabriel Mich.Kia Tolok. For SMA Year XI.penerb t Erlangga. 2008

Papan tulis -Foto kopy

tes lisan -tes tulisan

90 menit

papan tulis -foto kopy

tes lisan -tes tulisan.

KTSP Standar Isi 2006 Real English for senior high school grade XI 2 peter 90 menit.

224

sehari-hari dalam teks, recount, narrative, dan procedure. VI Siswa memahami nuansa makna dan langkahlanhkah retorika dalam teks tertuls berbentuk recount dan narrative. Siswa mampu : 1.membaca nyaraing ,kuat bermakna (linguistic). 2.merespon teks dengan menjawab pertanyaan (tindak berbahasa)

mencocokan dalm fungsinya.

memberikan tangapan terhadap mteri yang pelajarinya. Guru membaca secara umum, dengan suara keras/kuat pada text bacaan/readi er dan siswa dapat mengikiti dengan pola, selanjutnya siswa mengidentifi kasi makna dan fungsi setiap kaliamt dalam teks dan siswa memahami kerangka wacana.

james. 2008. Esis .penerbit Ciratas Jakarta. Primar English guide 3 all in one Charmain e Han B.A. App. Ling, Dip. Ed 2010.

Jenis-jenis teks bacaan. 1.comprehensi of text. 2.reading quickly.

papan tulis -foto kopy.

tes lisan -tes tulisan.

90 menit

VII

Evaluasi .

*

Proses pelaksanaan penelitian pertama, kedua dan ketiga dapat berlangsung secara bertahap dan berencana. Pelaksanaan penelitian tahap pertama peneliti dapat melakukan uji coba lapangan awal atau disebut ( preliminary field testing) pada pelaksanaan uji coba bahan yang dirancang oleh peneliti, dan dibantu oleh guru berlangsung dengan baik, namun pada pelaksanaan terdapat beberapa perubahan terhadap bahan atau materi yang digunaka. Untuk pertemuan pertama dalam penelitian tersebut, peneliti tidak melakukan proses pembelajaran . Dan yang diberikan dalam pertemuan tersebut berupa membagikan bahan tes awal sebelum dilakukan proses pembelajaran.Catatan : pemberian tes a