bab iii konsep hermeneutika nasr hamid abu iii konsep hermeneutika nasr hamid abu zaid a. biografi...

Download BAB III KONSEP HERMENEUTIKA NASR HAMID ABU   III KONSEP HERMENEUTIKA NASR HAMID ABU ZAID A. Biografi Nasr Hamid Abu Zaid a. Sejarah Hidup, Latar belakang Pendidikan dan Kondisi Sosial Politik

Post on 11-Feb-2018

213 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • BAB III

    KONSEP HERMENEUTIKA NASR HAMID ABU ZAID

    A. Biografi Nasr Hamid Abu Zaid

    a. Sejarah Hidup, Latar belakang Pendidikan dan Kondisi Sosial Politik

    keagamaan

    Nashr Hamid Abu Zaid dilahirkan pada tanggal 10 Juli 1943 di desa

    Qahafah dekat kota Thantha, Mesir. Bapaknya adalah seorang aktifis Al-

    Ikhwan al-Muslimin dan pernah dipenjara menyusul dieksekusinya Sayyid

    Quthb.1 Sebagaimana kebiasaan di Mesir, anak-anak kecil sudah mulai

    belajar menulis kemudian menghafalkan al-Quran. Begitu juga dengan

    Abu Zaid, dia mulai belajar dan menulis semenjak umur empat tahun,

    kemudian menghafal al-Quran di Kuttab di desanya Qahafah. Dia mampu

    menghafal al-Quran pada usia delapan tahun, karena itulah, kawan-

    kawannya memanggil Syaikh Nashr.2 Di luar pendidikan non

    formalnya (mengaji), penulis kitab dia juga menempuh pendidikan formal

    pada Madrasah Ibtidaiyyah (SD) di kampung halamannya pada tahun

    1951. Setamat dari sini, dia sebenarnya ingin melanjutkan pada sekolah

    menengah umum, Al- Azhar. Namun orang tuanya tidak menghendakinya,

    dan akhirnya dia memenuhi kehendak orang tuanya dengan melanjutkan

    1 Moch. Nur Ichwan, Meretas Kesarjanaan Kritis Al-Quran: Teori Hermeneutika Nashr

    Hamid Abu Zaid, Jakarta: Teraju, 2003, hlm. 15-16. 2 Ibid., hlm. 150.

    49

  • pendidikannya di Sekolah Teknologi di Distrik Kafru Zayyad, Provinsi

    Gharbiyyah.3

    Meski gagal masuk di Al-Azhar, semangat Abu Zaid untuk

    mempelajari pemikiran Islam tidak surut. Di sela-sela aktifitasnya berse-

    kolah, ia menyempatkan untuk membaca buku-buku pemikiran Islam.

    Antara lain karya-karya Al-Manfaluthy, Yusuf Al-Syibaiy, Taufiq Al-

    Hakim, Al-Aqqad, Najib Mahfud dan Taha Husein. Bahkan dia sering

    mengadakan diskusi dengan pemikir Islam lainnya, semisal Jabir Ushfur,

    Sayyid al-Hulwu, Mohammad Mansi Qindil, Farid Abu Sadah, M. Shaleh

    dan Said Kafrawi. Aktivitasnya ini sempat dicurigai aparat setempat yang

    akhirnya menjebloskan dirinya ke penjara.4

    Selain aktif di dunia pemikiran/intelektual, Abu Zaid juga aktif dalam

    dunia gerakan, pada usianya yang masih sangat belia pada umur sebelas

    tahun, ia ikut bergabung dalam gerakan Al-Ikhwan al-Muslimin yang

    dipimpin Sayyid Qutbh pada tahun 1954. Dalam aktifitasnya meng-ikuti

    gerakan ini, dia pernah dijebloskan dalam penjara, tetapi karena usianya

    masih di bawah umur, akhirnya dia dibebaskan dari penjara.

    Pada awalnya, dia tertarik dengan pemikiran Sayyid Qutbh dalam

    bukunya Al-Islam wa al-Adalah al-Ijtimaiyyah (Islam dan Keadilan

    Sosial).5 Khususnya yang menekankan pada aspek keadilan dalam

    3 Hery Sucipto, Ensiklopedi Tokoh Islamdari Abu Bakar Hingga Nasr dan Qardhawi, Ban-

    dung: PT Mizan Republika, hlm, 349.. 4 Ibid,. 5 Moch. Nur Ichwan, Loc. Cit.

    50

  • menafsirkan Islam. Tetapi, dalam pengembaraan intelektualnya, akhirnya

    di yang mengkritik pemikiran-pemikiran Sayyid Qutb.

    Setelah kematian ayahnya, ketika ia berusia empat belas tahun, dia

    bekerja untuk membantu perekonomian keluarganya. Dia bekerja sebagai

    seorang teknisi elektronik pada Organisasi Komunikasi Nasional di Kairo

    pada tahun 1960 sampai tahun 1972.6 Dalam keterangan yang lain, se-

    tamat dari studi menengahnya, dengan meraih ijazah diploma (setingkat

    SMU) sambil bekerja di sebuah perusahaan kabel (1961-1968) 7

    Di tengah-tengah aktifitas bekerja, dia juga rajin menulis artikel. Pada

    tahun 1964 artikel pertamanya terbit dalam sebuah Jurnal yang dipimpin

    oleh Amin al-Khuli, Al-Adab. Ini adalah awal hubungan dia dengan

    seorang pemikir Islam dalam studi al-Quran di Mesir yang menawarkan

    tentang pendekatan susastra (al-manhaj al-adabi) atas teks al-Quran.8

    Tokoh inilah yang banyak mempengaruhi pemikiran dia di kemudan hari.

    Pada tahun 1968, Abu Zaid melanjutkan studinya di jurusan bahasa

    arab dan sastra arab di Universitas Kairo. Sambil tetap bekerja di siang

    hari dan masuk kuliah di malam hari. Kira-kira empat tahun ia me-

    nyelesaikan tugas studinya. Pada tahun 1972 dia berhasil menyelesaikan

    dengan predikat cum laude (memuaskan). Setelah itu dia diangkat sebagai

    asisten dosen.

    Sebagai sarat untuk menjadi asisten dosen adalah mengambil studi

    Islam sebagai bidang utama dalam riset master dan doktornya. Terpaksa

    6 Ibid. 7 Hery Sucipto, Loc. Cit., hlm, 349.. 8 Moch. Nur Ichwan, Op. Cit., hlm. 150.

    51

  • dia mengubah dari bidang murni linguistik dan kritik sastra menjadi studi

    Islam, al-Quran. Mulai saat itulah dia melakukan studi tentang al-Quran

    dan problem interpretasi dan hermeneutika.9 Setamat dari (S1), Abu Zaid

    langsung melanjutkan pascasarjana (S2) di universitas yang sama. Dalam

    tesis masternya Abu Zaid menulis tentnag konsep metafor dalam al-

    Quran yang dipakai oleh aliran mutazilah, The Concept of Metaphor as

    Applied to the Quran by Mutazilities.

    Pada tahun 1992, Abu Zaid diusulkan untuk dipromosikan menjadi

    professor (al-ustadz). Akan tetapi promosinya tersebut ditolak karena

    tesisnya dianggap telah keluar dari nilai-nilai keimanan. Sejak itu,

    tepatnya 16 Desember 1993, menyebar hujatan yang ditujukan kepadanya.

    Terutama dilakukan oleh Dr. Sabur Syahin. Dr Syahin mengumandangkan

    ke-kafir-an Abu Zaid ke seluruh mesir, melalui koran, majalah, dan

    khotbah-khotbah di mesjid-mesjid. Opini tentang kekafiran Abu Zaid me-

    maksa pengadilan menjatuhkan vonis murtad dan harus bercerai dengan

    istrinya.10

    Demikian berat konsekwensi bagi orang yang ingin mengem-bangkan

    pemikiran dalam dunia Islam. Kasus semacam ini bukanlah yang pertama

    kalinya, sebelumnya para pedahulunya seperti Ahmad Khalafullah (The

    Art Narration in the Quran), Ali Abd. Ar-Raziq (Islam and Principles of

    Political Authority) dan Taha Husain (Pre-Islamic Poetry) juga

    mengalami nasib yang sama. Semenjak peristiwa itu, Abu Zaid pindah ke

    9 Ibid., hlm 17 10 M. Hanif A, Nasr Hamid Abu Zaid, dalam Pemikiran Islam Kontemporer, Yogyakarta:

    Jendela, 2003, hlm. 356-357.

    52

  • Belanda dan menjadi guru besar di Universitas Leiden Belanda, sampi

    sekarang.

    Kondisi Sosial Politik Keagamaan

    Secara politis, Mesir merupakan bekas negara jajahan Perancis.

    Ketika itu, Napoleon melakukan ekspansi wilayah kekuasaannya setelah

    terjadinya revolusi Perancis pada tahun 1789. dan Mesir menjadi sasaran

    utama ekspansi yang dilakukan olehnya. Dengan pertimbangan bahwa

    Mesir merupakan wilayah yang strategis untuk dijadikan pijakan dalam

    menguasai kerajaan-kerajaan besar. Pada tanggal 22 juli 1798 Mesir jatuh

    di tangannya tanpa ada perlawanan yang berarti.11

    Yang menarik dari ekspedisi Napoleon adalah bahwa dia tidak hanya

    membawa tentara saja. Tetapi dia juga membawa 500 orang sipil dan 500

    orang wanita. Diantara kaum sipil tersebut ada sejumlah 167 ahli dalam

    berbagai cabang ilmu pengetahuan. Dia juga membawa dua unit

    percetakan dengan huruf Latin, Arab dan Yunani. Ternyata, tujuan ekspe-

    disi dia tidak hanya untuk kepentingan militer saja, tetapi juga untuk

    keperluan ilmiah dengan mendirikan lembaga ilmiah yang bernama

    Institut dEgypte.12 Dalam lembaga tersebut ada empat bagian keilmuan

    yang dipelajari: [1] bagian ilmu pasti, [2] bagian ilmu alam, [3] bagian

    ilmu ekonomi-politik, dan [4] bagian sastra-seni.

    11 Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan, Jakarta:

    2003, hlm. 22. 12 Ibid.

    53

  • Pemikiran Abu Zaid, juga tidak bisa lepas dari konteks wacana agama

    kontemporer dalam menyikapi turats (warisan intelektual) dan gelombang

    tajdid (pembaruan). Wacana keagamaan dihadapkan pada posisi dilematis

    antara mempertahankan identitas diri dan modernisasi. Desakan dari

    proses modernisasi, telah memunculkan reaksi kuat dari kelompok Islam

    radikal dengan menyerukannya diterapkannya syariat Islam dalam

    berbagai aspek kehidupan. Sementara di kutub lain juga muncul tuntutan

    untuk bersikap moderat atas nama pembaruan dan menjadikan Islam

    sebagai basis ideologi. Seruan ini dilakukan oleh Islam moderat sebagai

    anti-tesis dari Islam ekstrim.13

    Ada dua trend aliran besar yang mewarnai keberagamaan masyarakat

    Mesir. Yaitu: kelompok Islamis (al-Islamiyyun) dan kelompok sekuler (al-

    almaniyyun). Kelompok Islamis ini dibagi menjadi dua corak; Islamis

    radikal (al-mutatharrifun) dan Islamis moderat (al-mutadilun). Yang

    masuk Islamis radikal adalah kelompok Al-Jihad dan Al-Jamaah al-

    Islamiyyah, sedangkan yang masuk kelompok Islamis moderat adalah Al-

    Ikhwan al-Muslimun dan para Islamis lainnya yang tidak menggunakan

    kekerasan dalam menyebarkan agama. Sementara kaum sekularis adalah

    para intelektual muslim progresif independen, penulis dan akademisi,

    13 Sunarwoto, Nasr Hamid Abu Zaid dan Rekonstruksi Studi-Studi Al-Quran, dalam Herme-

    neutika Al-Quran Mazhab Yogya, Yogyakarta: Islamika, 2003, hlm. 105.

    54

  • yang menolak diberlakukannya Syariat Islam yang dipahami secara

    sempit sebagai hukum Islam, sebagai hukum