bab iii desertasi anggi

Author: kiki-nur-ambar-ahyani

Post on 19-Jul-2015

79 views

Category:

Documents


0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

Comprehension Menyusun:

O O

M

Deskripsi Pembelajaran Menyusun Instumen: Deskripsi Pembelajaran Eksperimentasi / Validasi Menyusun Instrumen: Soal-soal Tes Angket / quesioner Observasi Penelitian

Ujicoba terbatas. O X2 Survei BAB III Penyusunan StudiPengujian Studi Draft Produk PustakaPendahuluan PostPerlakuantest testPre Pengembangan lapangan Ujicoba tX2 erbatas M O METODE PENELITIAN lebih luas

A. Metode dan Desain Penelitian.Pedoman Interview/ Wawancara & Studi dokumentasi.

ini dirancang dengan menggunakan pendekatan Research and

Development (Penelitian &Pengembangan) Metode pnelitian dan pengembangan PretestPembekalan Model dalam pendidikan didefinisikan oleh Gall and Brog (2003:569), sebagai berikut: Model Pembelajaran Reading Bahasa Inggris di SMA

Educational research and development (R&D) is a process used to develop and validate educational products. Goal of educational used to develop product, but rather to descover new knowledge (through basic research) or to answer specific questions about practical problems (through applied research).Pasca test

Penelitian pendidikan dan pengembangan adalah suatu proses untuk

Analisis Statistik

mengembangakan dan memvalidasi produk. Tujuan penelitian pendidikan dan pengembangan adalah tidak hanya untuk mengembangkan produk, namun lebih dari itu untuk menemukan pengetahuan baru (melalui penelitian dasar) atau untuk pertanyaan khusus mengenai masalah-masalah praktis (melalui penelitian terapan). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan pendekatan campuran. Creswell (2003: 3) Mengemukakan tiga pendekatan penelitian, yaitu pendekatan kuantitatif, pendekatan kualitatif, dan pendekatan metode gabungan (mixed method approach). A mixed methods research design is a procedur for collecting, analyzing, and mixing both quantitative and qualitative research and methods in a single to understand a research problem (Cresswell & Plano Clark, 2008: 552). Untuk memahami ketiga pendekatan tersebut menurut Creswell, penelitian perlu memperhatikan tiga elemen kerangka kerja,yaitu asumsi-asumsi filosofis tentang apa yang membentuk tuntutan pengetahuan (knowledge claims); prosedur umum penelitian yang disebut strategies of incuiry; dan prosedur detail pengumpulan data, analisis, dan penulisan, yang disebut metode. 1

2

Selanjutnya Brewer & Hunter, (1089 :.28) the basic assumption is that the use of both quantitative and qualitative method in combination, provides a better undersatanding of the research problem and questions than either method by itself. It is a legatimate inquire approachMasing-masing pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan metode gabungan mempunyai kerangka yang berbeda tentang elemen-elemen itu. Penelitian dalam pengajaran bahasa asing mempunyai peran yang sangat penting untuk meningkatkan hasil dari proses belajar mengajar bahasa tersebut. Hasil penelitian dalam pengajaran bahasa asing dapat memberi masukan kepada guru maupun siswa tentang proses pembelajaran yang dialami oleh seseorang, situasi dan kondisi yang membuat proses pembelajaran tersebut berlangsung lebih efektif serta aspek-aspek yang mempengaruhi proses tersebut.

B. Prosedur dan Langkah-Langkah Penelitian Pengembangan. Prosedur model penelitian dan pengembangan (R & D) menurut Sukmadinata (2009 :169-170) langkah-langkah tersebut : 1. Penelitian dan pengumpulan data (research and information collecting).

Pengukuran kebutuhan, studi literatur, penelitian dalam skala kecil, dan perrtimbangan dari segi nilai. Melakukan studi pendahuluan berupa, kajian pustaka, menelaah data-data sekunder dan mengkaji laporan-laporan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran bahasa Inggris membaca SMA KLS XI. Dan hasil kajian dan telaah naantinya akan melahirkan draft desain, selanjutnya didiskusikan secara intensif dengan rekan-rekan seangkatan.

3

2.

Perencanaan

(planning).

Menyusun

rencana

penelitian,

meliputi

kemampuan-kemampuan tujuan yang diperelukan dalam pelaksanaan penelitian, rumusan tujuan yang hendak dicapai dengan penelitian tersebut, desain atau langkah-langkah penelitian kemungkinan pengujian dalam lingkup terbatas. Mengembangkan desain penelitian berdasarkan kerangka berpikir. 3. Pengembangan draf produk (develop preliminiary form of product).

Pengembangan bahan pembelajaran, proses pembelajaran dan instrument evaluasi. 4. Uji coba lapangan awal (preliminiary field testing). Uji coba di lapangan

pada 1 sampai 3 sekolah dengan 6 sampel dengan 12 subjek uji coba (guru). Selama uji coba diadakan pengamatan, wawancara dan pengedaran angket. 5. Merevisi hasil uji ciba (main product revision). Memperbaiki atau

menyempurnakan hasil uji coba. 6. Uji coba lapangan (main field testing). Melakukan uji coba yang lebih luas

pada 5 sampai dengan 15 sekolah dengan 30 sampai dengan 100 orang subjek uji coba. Data kuantitatif penampilan guru sebelum dan sesudah menggunakan model yang dicobakan dikumpulkan. Hasil-hasil pengumpulan data dievaluasi dan kalau mungkin dibandingkan dengan kelompok pembanding. 7. Penyempurnaan produk hasil uji lapangan (operasional product revision).

Menyempurnakan produk hasil uji lapangan . 8. Uji pelaksanaan lapangan (operasional field testing). Dilaksanakan pada

10 sampai 30 sekolah melibatkan 40 sampai dengan 200 subjek. Pengujian dilakukan melalui angket, wawancara, dan observasi dan analisis hasilnya.

4

9.

Penyempurnaan produk akhir (field product revision). Penyempurnaan

didasarkan masukan dari uji pelaksanaan lapangan. 10. Diseminasi dan implementasi (Dissemination and implementation).

Melaporkan hasilnya dalam pertemuan profesioanal dan dalam jurnal. Bekersama dengan penerbit untuk menerbitkan. Memonitor penyebaran untuk pengeontrolan kualitas. Dengan demikian, langkah-langkah penelitian dan pengembangan ini dapat digambarkan sebagaimana tampak dalam gambar 3.1 Berikut:

Gambar 3.1 Langkah-langkah penelitian dan pengembangan Sukmadinata (2009 : 189)

Dari kerangka dan alur penelitian pengembangan tersebut diatas, terdapat tiga langkah desain pengembangannya yakni: studi pendahuluan, pengembangan dan pengujian. 1. Studi Pendahuluan. Menurut Sukmadinata (2009:172) Untuk mengembangkan suatu produk pendidikan diperlukan studi literatur. Studi ini ditujukan untuk menemukan konsepkonsep atau landasan-landasan teoritis yang memperkuat suatu produk. Berdasarkan studi pendahuluan diatas, paling tidak terdapat tiga persoalan pokok yang perlu

5

dilakukan peneliti yakni : kajian pustaka, survey lapangan dan penyusunan draf produk. a. Penelitian prasurvei. Dalam penelitian pra survey ini perlu dilakukan oleh peneliti, agar bisa mengetahui tentang data awal berkenaan dengan perkembangan yang terjadi di sekolah, baik yang berhubungan dengan situasi proses pembelajaran yang berlangsung, serta keadaaan fasilitas lingkungan sekolah dan faktor-faktor pendukung termasuk guru, dan media pembelajaran yang di gunakan di sekolah-sekolah. Survei termasuk studicross-sectional dan longitudionall yang menggunakan kuesioner atau interview terstruktur untuk mengumpulkan data, dengan pemusatan perhatian pada penggeneralisasian dari suatu sampel ke populasi ( Babbie,2001 dalam Creswell,2003 : 14) dalam mengetahui tentang objek dan subjek suatu keseluruhan yang terintegrasi, tujuan adalah untuk mengembangkan pengetahuan yang mendalam mengenai objek yang bersangkutan dengan demikian, dapat dikatakan pula bahwa jenis penelitian ini bersifat deskriptif.Kasus yang dipilih sebagai bagian penelitian ini adalah pengajaran bahasa Inggris reading sebagai bahasa asing untuk siswa SMA kelas XI. Hasil studi awal ini digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk merancang draft model yang akan dikembangkan sekaligus memilih dan menetapkan lokasi sekolah sebagai tempat dilakukannya penelitian pengembangan.

b. Pengembangan Model pembelajaran bahasa Inggris reading (membaca)

6

Dalam tahap pengembangan ini peneliti telah mempersiapkan draf model yang kemudian dapat di kembangkannya. Menurut Sukmadinata (2009: 174-175) Dalam proses pengembangan produk yang akan dihasilkan, perlu dirumuskan lebih rinci, mulai dari penentuan produk, penyusunan draf atau produk awal, uji coba draft/produk awal di lapangan, penyempurnaan draft, uji coba draft yang sudah disempurnakan, pengujian produk akhir, sampai dengan distribusi dan diseminasi produk yang dihasilkan. Kegiatan selanjurtnya adalah merencanakan subjek uji coba dan lokasi uji coba, baik untuk uji coba awal, uji coba lebih luas maupun pengujian produk akhir. Karena produk yang akan dihasilkan merupakan produk standar, maka jumlah subjek yang terlibat dan lingkup lokasi penelitian dan pengembangan harus representatif untuk populasi nasional, propinsi atau kota/kabupaten. Dari pengembangan pada tahap uji coba terbatas ini peneliti, menggunakan standar dengan melibatkan tiga sekolah SMA, dan selanjutnyua uji coba lebih luas peneliti menggunakan sebanyak lima sekolah SMA, dan pengujian produk akhir dapat disesuaikan dengan kondisi yang ada. Mengingat karena dengan ketrebatasnya jumlah sekolah SMA yang ada di kabupaten kota di lokasi penelitian, sehingga pada tahap coba akhir dan disemenisi akan disesuaikannya. Hasil-hasil pengukuran dan analisis kebutuhan memberikan masukan tentang jenis-jenis produk pendidikan apa yang diperlukan oleh sekolah saat ini. Hasil-hasil studi literatur memberikan masukan tentang beberapa karakteristik penting dari produk yang akan dikembangakan, serta bentuk-bentuk produk yang telah

dikembangkan di tempat lain. Hasil-hasil penelitian dalam lingkup terbatas

7

memberikan gambaran tentang embrio/ atau produk-produk sejenis yang telah digunakan, pelaksanaan produk yang ada dan kemungkinan faktor-faktor yang akan mendukung dan menghambat penggunaan produk yang akan dikembangakan. Berdasarkan masukan dari ketiga kegiatan tersebut, dapat dirumuskan sosok atau bangun tentatif dari produk yang akan dikembangakan. Sososk atau bangun produk tersebut masih merupakan produk awal, bersifaat tentatif yang akan disempurnakan melalui serentetan kegiatan uji coba.

c. Pengujian model Salah satu hal yang sangat berguna dalam tahapan ketiga ini, yakni tahap pengujian terhadap model yang dikembangkan. Pada tahap satu dan dua, yang

menjadi landasan pengembangan atau desain model, maka perlu diadakanya pengujian terhadap komponen-komponen yang diteliti dengan beberapa cara. Pada tahap ini, dilakukan uji validasi terhadap model pengembangan reading yang telah dikembangkan. Hal hal yang diteliti dalam tahap ini, antara lain (1) dampak penerapan model terhadap kinerja guru, (2) dampak penerapan model terhadap kemampuan kognitif akademik siswa. Untuk itu, uji validasi dilakukan sesudah menjelang akhir proses pembelajaran dan sebelum dilakukannya uji validasi model diberikan dahulu pretest selanjutnya sesudah model di implementasikan, dilakukan post test untuk kemudian kedua hasil tersebut dibandingkan.

2.

Pengembangan model awal

8

Untuk pengembangan sebuah model pembelajaran khususnya dalam mata pelajaran bahasa Inggris SMA KLS XI, dalam hal ini dapat dikembangkan dengan mengidentifikasi berbagai kebutuhan serta syarat-syarat yang telah ditentukan dalam standar kompotensi dalam Kurikulum KTSP. Adapun kompotensi yang dikembangkan dalam model ini adalah Kompetensi membaca, dan dalam pengembangannya penulis, dapat menggunakan isi materi yang adap pada buku KTSP bahasa Inggris KLS XI yang dianggap sebagai buku wajib sekolah, dan juga berupa bahan-bahan bacaan yang relefansi berdasarkan kompetensi membaca tingkat SMA. Bertolak dari itulah , maka penulis dapat menyusun draft awal model pembelajaran bahasa Inggris sebagai berikut seperti disampaikan pada tabel 3.2.

9

C. Lokasi, Sampel dan Subjek penelitian Sesuai dengan rencana penelitian, lokasi penelitian tersebut di laksanakan di Propinsi Maluku, Kabupaten Maluku Tenggara dan Kota Tual, tahap penelitian prasurvai telah dilakukan pada empat sekolah masing-masing SMAN 1 Kei Kecil Maluku Tenggara, SMA Alhilal Maluku Tenggara, SMAN 1 Kota Tual, dan SMA Muhammadiyah Kota Tual, Pada tahap pengembangan model akan menggunakan tiga dari empat sekolah tersebut. Sejumlah SMA yang digunakan sebagai tempat

penelitian ini, dapat dikalasifikasi sebagai berikut : Tingkat Rendah, Menengah dan Bagus. Dalam klasifikasi Sekolah masing-masing pada penelitian tersebut, juga dibagi secara homogen,baik terhadap sekolah itu sendiri, maupun terhadap guru dan siswa, sehingga peneliti dengan mudah memperoleh sebuah keragaman dan objektifitas dalam lapangan. Sampel Menurut Sukmadinata (2009: 252 ) , bahwa Pengambilan sampel merupakan suatu proses pemilihan dan penentuan jenis sampel dan perhitungan

besarnya sampel yang akan menjadi subjek atau objek penelitian . sementara Sampel penelitian menurut Suharsimi (1998:117) adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Dalam penelitian ini sampel diambil dengan menggunakan sampel random dengan sistem undian dengan maksud agar setiap kelas mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi sampel dalam penelitian. Adapun tekniknya dengan mengundi gulungan kertas sejumlah kelas yang didalamnya tertulis nomor kelas, sehingga didapatkan satu kelompok eksperimen dan satu kelompok kontrol.Sementara Creswell ( 1994 : 61 ) merekomendasikan sampel random yaitu setiap anggota sampel memiliki kesempatan yang sama untuk dipilh ( sampel sistematis). Sampling

10

berikutnya adalah bentuk sampel purposif atau sampel pertimbangan, yaitu responden potensial dipilih berdasarkan waktu dan ketersediaan prosedur random merupakan prosedur sampel yang paling teliti, yang memungkinkan peneliti untuk

menggeneralisasi penemuan studi terhadap populasi. Subjek penelitian terutama adalah guru dan murid yang ada di SMA kelas II di Kabupaten Maluku Tenggara dan Kota Tual Propinsi Maluku. Proses pengambilan dan penetapan lokasi penelitian, sampel dan responden penelitian dilakukan berikut: Penelitian pra survei Peneliti telah melakukannya di empat Sekolah yang disebutkan diatas, fokus pada kelas XI, materi yang dikembangkan adalah membaca dalam bahasa Inggris dan penetapan masing-masingsekolah tersebut, telah sesuai dengan standar dan level sekolah yang ada, berdasarkan latar belakang dimana situasi dan kondisi pembelajaran yang sedang berlangsung termasuk media pengajaran dan fasilitas yang digunakan. Sebagai data awal subjek penelitian antara lain : SMAN 1 Kei Kecil Malra, 1 orang guru , 80 orang siswa, SMA Alhilal Malra, 1 orang guru, 65 orang siswa, SMAN 1 Kota Tual, 1 orang guru, 78 orang siswa dan SMA Muhammadiyah Kota Tual, 1 orang guru, 66 orang siswa. Terkait dengan persyaratan uji coba terbatas, maka peneliti telah menetapkan 3 sekolah dari 4 sekolah yang di jadikan sebagai pelaksana penelitian awal atau uji coba model terbatas. Sekolahsekolah tersebut dapat dibuat dalam tabel 3.4. sebagai

11

Tabel 3.4 Sampel sekolah untuk penelitian uji validasi jumlh No 1 2 3 Sekolah SMAN 1 Tual SMAN 1 Malra SMA Alhilal JumlahExperiment Kls Xi IPA1 Kls XI IPA 1 Kls XI IPS 1 Jmlh 38 40 30 108

KontrolKls XI IPS1 Kls XI IPS 2 Kls XI IPA

jmlh 40 40 35 115

78 80 65 223

Dari ketiga sekolah yang dijadikan sebagai lokasi pelaksanaan uji coba terbatas atau sebagai tempat uji coba model.sekaligus dilakukan uji validasi sebagaiman dalam format penelitian tersebut, adapun sekolah masaing-masing dapat diidentifikasi sebagai berikut level bagus, sedang dan kurang. Penetapan sampel baik terhadap kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol dilakukan berdasarkan klasifikasi kondisi sekolah. Berdasarkan jumlah sampel yang diambil pada sekolah dengan jumlah siswa yang begiti besar dalam ukuran sampel menurut Sukmadinata (2005 : 260-261) bebrapa pertimbangan pemilihan dan pengambilan sampel merupakan hal yang sangat penting dalam penelitian. Ketetapan jenis dan jumlah anggota sampel yang diambil akan sangat mempengaruhi keterwakilan (representativeness) sampel terhadap populasi. Keterwakilan populasi akan akan sangat menentukan kebenaran kesimpulan dari hasil penelitian. Kebutuhan sampel besar jika terdapat sejumlah variabel yang tidak bisa dikontrol. Banyak penelitian yang tidak mungkin mengontrol semua variabel, dalam situasi seperti itu para peneliti dapat mengatasinya dengan menggunakan sampel besar. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini dianggap cukup besar selain itu, berdasarkan prosedur penelitian tersebut dapat dikaitkan

12

sebagai sampel bertujuan (Moleong, 1989:181). Karena itu penelitian ini tidak terikat pada proses formal akan tetapi didasarkan pada tujuan penelitian. Dalam hal ini, peneliti dapat menentukan atau memilih berapa saja jumlah sampel yang dibutuhkan sesuai dengan tujuan dan sasaran penelitian. Dalam penelitian tahap pertama, untuk mencari infomasi yang relevan dan terkait penting maka di dalam pengumpulan data melalui wawancara dan obsevasi, penelitian menggunakan teknik sampling bola salju (snowball sampling techique) (Bogdan dan Biklen, 1990; Milles dan Huberman, 1984). Teknik snowball sampling diibaratkan sebagai bola salju yang terus menggelinding, semakin lama semakin besar.Besar dalam arti memperoleh informasi secara terus-menerus dan baru berhenti setelah informasi yang diperoleh peneliti sama antara satu informan dengan informan yang lainnya. Inilah yang disebut informasi yang diperlukan itu telah jenuh. Kejenuhan informasi itu berarti informasi yang diperoleh tidak berkembang lagi. Kejenuhan infomasi menandakan bahwa peneliti tidak perlu lagi mengejar informasi lain karena informasi tersebut dianggap cukup. D. Pengembangan Instrumen Penelitian ini berdasarkan pada tiga hal masing-masing: (1) kondisi pembelajaran bahasa Inggris di kelas pada saat sekarang sebagai bagian dari penelitian, (2) pengembangan model bahasa Inggris reading untuk meningkatkan kemampuan membaca siswa SMA kls XI dan mengetahui persoalan pembelajaran sebagai suatu yang akan dihasilkan serta (3) uji validasi model yang telah dikembangkan tersebut. Adapun teknik dan cara pengumpulan data dalam penelitian ini dikaitkan dengan kebutuhan berdasarkan tahap-tahap penelitian yaitu (a) untuk

13

tahap penelitian pra survai dikembangkan panduan observasi, Angket, wawancara dan Studi dokumentasi serta sebagai instrumen utama. (b) pada tahap perkembangan model penelitian dikembangkan proses pemecahan masalah pembelajaran bahasa Inggris di kelas instrumen catatan kejadian, obsevasi kelas, dan rekaman studi dokumen, dan pada tahap tiga untuk uji validasi dikembangkan instrumen tes dengan materi pembelajaran bahasa Inggris reading berupa teks atau bacaan bahasa InggrisKTSP SMA KLS XI sebagai bahan uji test kemampuan kognitif serta prestasi belajar siswa. Tes berupa kemampuan membaca teks bahasa Inggris ini dilakukan untuk melihat kemampuan kognitif siswa baik melalui pemahaman bacaan, pemahaman isi teks, cara pengucapan/penguasaan terhadap ucapan-ucapan kata (words) sesuai dengan pronounciation yang benar dan jelas, atau kemampuan menjawab soal-soal yang ada dalam teks bacaan itu sendiri.Selain itu, digunakan pedoman obsevasi kelas. Hal ini semua komponen yang terkait di atas, diperoleh melalui proses dan pengumpulan data di lapangan dengan harapan agar informasi yang diperoleh lebih mendalam, objektif dan dapat dipercaya dalam penelitian tersebut, sebagai perangkat pengumpulan data dalam penelitian. Untuk itu secara lengkap menurut Sukmadinata (2009: 216-222) terdapat

beberapa cara yakni dengan cara (1) Wawancara(interview) merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang banyak digunakan dalam penelitian deskriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif. Wawancara dilaksanakan secara lisan dalam pertemuan tatap muka secara individual, (2) Angket atau (questionnaire) merupakan suatu teknik atau cara pengumpulan data secara tidak langsung ( peneliti tidak langsung bertanya-jawab dengan responden). Instrumen atau alat pengumpulan datanya juga disebut angket

14

berisi sejumlah pertanyaan atau pernyataan yang harus dijawab atau direspon oleh responden. Sama dengan pedoman wawancara, bentuk pertanyaan bisa bermacammacam, yaitu pertanyaan terbuka, pertanyaan berstruktur dan pertanyaan tertutup, (3) Observasi (observation) atau pengamatan merupakan suatu teknik atau cara pengumpulan data dengan jalan mengadakan pengamatan terhadap kegiatan yang sedang berlangsung. Kegiatan tersebut bisa berkenaan dengan cara guru mengajar, siswa belajar, kepala sekolah yang sedang memberikan pengarahan, personil bidang kepegawaian yang sedang rapat dsb. Observasi dapat dilakukan secara partisipatif ataupun nonpartisipatif. Dan (4) Studi dokumentasi(documentary study) merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan menghimpun dan menganalisis dokumendokumen tertulis, gambar maupun elektronik. 1. Wawancara Teknik wawancara digunakan untuk ketiga tahapan penelitian, baik tahap penelitian prasurvei, tahap pengembangan model, maupun tahap penelitian eksperimental. Data yang ingin diperoleh melalui wawancara dengan guru bahasa Inggris meliputi data mengenai latar belakang pendidikan, pekerjaan mengajar, kegiatan pendidikan lainnya, bidang studi bahasa Inggris, kurikulum KTSP mekanisme perencanaan pengajaran, produk perencanaan pengajaran, mekanisme pemilihan bahan pengajaran, buku paket yang digunakan, mekanisme kegiatan belajar-mengajar, tujuan kegiatan mengajar, bahan kegiatan belajar-mengajar, aktivitas belajar-mengajar di kelas, mekanisme evaluasi belajar, pandangannya megnenai siswa, kegiatan belajar siswa, hasil evaluasi belajar, hasil evaluasi belajar siswa,dan sebagainya.

15

Data yang diperoleh melalui wawancara dengan siswa meliputi kemampuan/ keterampilan siswa terhadap kempauan belajar bahsa Inggris reading mencakup keterampilan megungkapakan /ucapaan kata-kata, pemahaman terhadap text bacaan. Kegiatan belajar siswa diluar sekolah; bahan belajar yang siswa membaca baik di dalam ataupun di luar kelas. Tertutama mencakup KTSP, Materi buku paket, LKS, Silabus, RPP, SATPEL dan metode serta strategi yang digunakan dalam proses pembelajaran di kelas. Langkah-langkah yang dilakukan dalam wawancara oleh peneliti meliputi pertama, persiapan mengenai pertanyaan yang berkaiatan dengan implementasi kurikulum, Silabus RPP, Satpel dalam mata pelajaran bahasa Inggris. Pertanyaan penelitian ini, hasil observasi kegiatan belajar mengajar dari dokumen mengenai implementasi/pelaksanaan kurikulum. Kedua, mengadakan wawancara biasanya pada saat setelah observasi di kelas pada waktu istirahat, atau pada akhir waktu akhir pelajaran. Ketiga, membuat catatan dari hasil wawancara tersebut. Keempat,

menyesuaikan cacatan hasil wawancara tersebut dengan catatan wawancara sebelumnya dengan guru tersebut atau dengan pihak lain seperti ahli pengajaran bahasa Inggrisdan siswa. Kelima, menyusun hasil wawancara yang dapat digunakan untuk mendeskripsikan atau menguraikan data hasil penelitian sebagai bagian yang terpenting dalam memperoleh data. Inilah bentuk dan cara yang dipakai sebagai alat wawancara.

2. Angket

16

Menurut Fraenkel dan Wallen, ( 1993: 101 ) tentang profil implementasi pembelajaran bahasa Inggris di SMA yang sekarang dan sedang belangsung, kemampuan dan dan aktifitas belajar siswa, kinerja guru, kondisi dan pemanfaatan sarana, media fasilitas dan lingkungan pemebelajaran. Dalam penelitian strategi belajar bahasa dengan menggunakan kestioner, Oxford (1990) sudah mengembangkan kalsifikasi strategi belajar yang sudah dipakai di beberapa negara. Kuesioner yang dikembangkannya, yang sering disebut SILL ( Strategi Inventory for Languiage Learning ) mempunyai enam kelompok strategi belajar, yaitu memory strategies, cognitive strategies, compensation strategies, metacognitive starategies, evective strategies dan social strategies. Untuk penelitian uji coba ini peneliti telah membuat bentuk pertanyaan untuk guru sebanyak 40 butir pertanyaan terlamir pada lampiran 1 angket guru. Dalam mengumpul data berhubungan dengan aspek-aspek aktualisasi diri, pengembangan rencana pembelajaran, implementasi pembelajaran dan prasarana atau fasilitas yang digunakan, dan berikut instrumen untuk siswa yang dibuat sebanyak 20 butir pertanyaan terlampir pada lampiran 2 angket siswa, guna

memperoleh data berkenaan dengan aspek-aspek pendapat siswa tentang bersekolahan serta pendapat siswa terkait dengan pembelajaran bahasa Inggris reading di SMA KLS XI. yang ada pada lokasi penelitian yakni Kabupaten Maluku Tenggara Dan Kota Tual Provinsi Maluku.

3. Observasi Dalam mengumpulkan dan memperoleh data dari penelitian ini, maka salah satu teknik yang digunakan adalah berupa observasi. peneliti memperhatikan saran yang

17

dikemukakan Bogdan (1990) bahwa peneliti baru dianggap berhasil apabila peneliti berhasil mengintegrasikan antara frame of reference-nya dengan frame of reference. Subjek yang diteliti. Namun pada saat mengerjakan dan mengelola data serta menganalisis data peneliti benar-benar memperhatikan pilah dan jarak antara peneliti dengan subjek yang diteliti. Oleh karena itu, dalam penelitian pengembangan ini, observasi digunakan untuk mendapatkan informasi atau data tentang situasi, kegiatan, perilaku, dan dampaknya sehingga peneliti dapat memperoleh makna dari observasi. Terlamir pada lampiran 6 observasi guru, dan 7 observasi siswa. Teknik ini

memungkinkan untuk memperoleh data dari sumber langsung dan mencatatnya sebagaimana apa adanya. Dengan observasi, peneliti mendapatkan manfaat sebagaiman dikemukakan oleh Patton (1989:124-126): 1. 2. Dengan berada dilapangan peneliti lebih mampu memahami konteks data dalam keseluruhan situasi, jadi ia dapat memperoleh pandangan yang holistik atau menyeluruh. Pengalaman langsung memungkinkan peneliti menggunakan pendekatan infuktif, jadi tidak dipengaruhi oeh konsep-konsep atau pandangan atau pandangan sebelumnya. Pendekatan induktif memuka kemungkinan melakukan penemuan atau discovery; Peneliti dapat melihat hal-hal yang kurang atau yang tidak akan terungkap oleh responden dalam wawancara karena bersifat sensitif atau ingin ditutupi karena dapat merugikan nama lembaga; Peneliti dapat menemukan hal-hal diluar persepsi responden, sehingga peneliti memperoleh gambaran yang lebih komprehensif; dan Dalam lanpangan peneliti tidak hanya dapat mengadakan pengamatan akan tetapi juga memperoleh kesan-kesan pribadi, misalnya merasakan suasana situasi sosial yang ada di lapangan atau di masyarakat setempat.

3. 4. 5.

Dalam penelitian ini, peneliti mengadakan observasi (mengamati) kelas. Kegiatan ini dilakukan pada saat berlangsungnya kegiatan belajar-mengajar bahasa Inggris. duduk di kelas, mengamati kegiatan belajar-mengajar, dan membuat catatan. Selain kegiatan belajar-mengajar, peneliti mengamati keadaan kelas dan lingkungan

18

sekolah. Setelah observasi kelas, peneliti mengadakan wawancara tentang kejadian di kelas yang diamati.

4. Dokumentasi. Dalam bidang pemblajaran bahasa Inggris dukumen dapat berupa catatan harian seseorang tentang proses dia belajar bahasa asing. Dari catatan pribadi tersebut dapat dianalisa bagaimana proses perkembangan kebahsaanya. Catatan pribadi dapat pula digunakan sebagai sumber data penelitian tentang strategi belajar yang dipakai dalam pembelajaran bahasa Inggris/ asing. Secara umum catatan data dapat dibagi menjadi dua jenis: catatan deskriptif atau descreptive field note dan catatan reflectif atau reflective field note (Spradley, 1979 :250 ) catatan deskreptif mempunyai data yang diperoleh melalui observasi, wawancara atau dokumen sehingga catatan tersebut masih merupakan catatan data mentah. Terdapat dua hal yang terpenting sebagai catatan dokumentasi yaitu catatan tentang aktifitas guru, dengan menggunakan berbagai metode dan startegy pembelajaran dalam bahasa Inggris di sekolah, dan bagaimana pengenalan terhadap kurikulum yang belangsung, pengembanagan perencanaan pembelajaran dengan mengemabangkan Silabus, RPP dan SATPEL serta unit-unit pembelajaran bahasa Inggris dan sampai pencatatan terhadap evaluasi pembelajaran. Dan yang kedua adalah pencatatan terhadap perekembangan

perkembangan peserta didik, dari segi penguasaan terhadap materi , isi teks bacaan dan juga terhadap perkembangan belajar pada nilai-nilai rapot atau nilai ebtanas, dan bahkan nilau ujian Akhir (NEM). Terpenting disini dokumentasi dapat dilakukan sebatas isi teks buku bacaan dan nilai-nilai yang diperoleh siswa pada pelaksanaan tes

19

dalam penelitian. dan dokumentasi yang lain seperti pengambilan gambar atau potret yang di lakukan peneliti, pada saat proses pembelajaran yang terjadi di kelas dan aktivitas guru-siswa, serta peneliti yang bergabung dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas. Dekumentasi yang diambil di sini berdasarkan kegiatan yang dilakukan saat pelaksanaan penelitian berlangsung, hal ini dapat dilihat pada bab IV dal lampiranlampiran kegiatan pembeljaran.

E. Analisa data 1. Hasil prasurvai Sebagai bagian awal gambaran tentang perkembangan proses pembelajaran di lokasi penelitian , maka paling tidak data yang diperoleh saat prasurvai dijadikan sebagai model awal sekaligus dikaji dan danalisis berdasarkan kondisi yang terkait dengan pengembangan, perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran bahsa Inggris di SMA kelas XI , dengan latar belakang kemampuan kinerja guru, belajar siswa dan media pembelajaran dalam proses pembelajaran yang ada sebagai bagian yang

terpenting untuk dikembangkan, dengan pertimbagn kekurangan dan kelebihan yang terjadi di lokasi peneliatian saat sekarang dan akan datang.

2.

Hasil Pengembangan Model Beberapa langkah yang dilakukan dalam analisa data pada penelitian

pengembangan tersebut dengan cara (a) hasil dari observasi kelas data dianalisis dengan pendekatan kualitatif dan selanjutnya diperbaharui untuk uji coba selanjutnya, (b) Untuk mengahsilkan model yang diinginkan dalam pengembangan ini perlu

20

dilakukan tes terhadap siswa untuk melihat perkembangan pemahaman materi bahasa Inggris dalam kompetensi membaca dan selanjutnya dari hasil tes tersebut dilakukan nalisis secara kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan instrumen penilitan yang memenuhi persyaratan validitas dan reliabilitas. Analisa data dimulai dengan analisis statistik deskreptif menghitung rata-rata dan simpangan baku. Selanjutnya dilakukan analisis yang lebih mendalam dengan ststistik inferensial.Emzir (2010 :126) mengurutkan beberapa alat ukur dalam penelitian dan analisis data secara ststistik deskreptif, (1) Menggunakan t-tes untuk melihat perbedaan rata-rata (mean) pada kedua kelompok (2) Menggunakan anova untuk melihat perbedaan rata-rata untuk tiga kelompok atau lebih, (3) Menggunakan square test atau chi-kuadrat untuk membandingkan frekuensi kelompok (jika peristiwa muncul lebih sering dalam satu kelompok). Desain instrument yang akan digunakan dalam penelitian terdapat beberapa yang digunakan dalam penelitian ini :

The Matching Only Pretest-Posttest Control Group design.

Sukmadinata (2009 : 188)

Untuk pelaksanaan pembelajaran yang terjadi di kelas eksperiment guru menggunakan model pembelajaran tekhnik membaca Skimming, scanning dan PQ4R. sementara untuk pembelajaran yang dilaksanakan di kelas kontrol guru menggunakan sistem model pembelajaran tradisonal atau yang sifatnya baku.

21

1. Pretest-Posttest Control Group Design R R O O X O O

Sumber: John W Creswell (1994:70)

Desain ini dikenal dengan desain klasik atau desain tradisional. Desain ini menggunakan penetapan subjek secara rancom untuk dua kelompok melakukan pretest dan postest untuk kedua kelompok, dan perlakaan dilakukan hanya pada kelompok A sebagai kelompok eksperimen. 2. Pretest-Postes Contol Group Desain Desain ini mengontrol pengaruh pembauran dari pretest dan merupakan suatu desain eksperimental yang populer. Subyek ditetapkan secara random untuk kelompok, pretest dan perlakuan diberikan hanya pada kelompok eksperimen dan postest diberikan pada kedua kelompok.

3.

Tahap penelitian uji validasi. Tahap ini dilakukan agar dapat mengetahui sejauhmana evektivitas model maka

digunakan dua pendekatan analisis yaitu; analisis kualitatif untuk membandingkan hasil observasi kelas yang dilakukan serta analisis kuantitatif menggunakan statistik uji t dan anova untuk melihat perkembangan model yang dikembangkan menurut Hansiswany kamarga (2000: 116-117).

22

Analisis perbandingan secara kualitatif dilakukan untuk melihat peningkatan kinerja guru jika menggunakan model pembelajaran yang dikembangkan (efektifitas model terhadap kinerja guru), sedangkan uji t dilakukan dengan membandingkan hasil tes (pretest dan posttest) antar kelompok ekperimen dan kelompok kontrol, baik secara keseluruhan maupun perbandingan antara masing-masing sekolah. Berdasarkan hasil hasil pengukuran melalui statistik uji t inilah kemudian dapat dilihat perbedaan rata-rata hasil tes antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol yang memperlihatkan efektifitas model terhadap peningkatan prestasi belajar murid. Uji anova dilakukan untuk melihat perbedaan antara kelompok yakni perbedaan antara kelompok eksperimen yang terdiri atas stratifikasi kelompok atas (sekolah yang dianggap baik), kelompok tengah (sekolah yang dianggap sedang) dan kelompok bawah (sekolah yang dianggap kurang, dan kelompok kontrol dengan stratifikasi yang sama (kelompok atas, tengah, dan bawah). Dengan demikian dalam menganalisis secara keseluruhan hasil penelitian ini, peneliti selain menggunakan rumus-rumus diatas, juga dengan menggunakan analisis statistik parametrik yaitu suatu uji modelnya menetapkan adanya syarat-syarat tertentu (asumsi-asumsi ) tentang variabel random atau populasi yang merupakan sumber sampel penelitian. Dengan perhitungan statistik sederhana atau menggunakan korelasi, t tes, dan SPSS.

F. Tahap-tahap pelaksanaan penelitian. Dalam pelaksanaan penelitian ini peneliti melakukan beberapa persiapan berupa: Persiapan teknis dan administaratif, penilaian dan uji coba isntrumen, pelaksanaan penelitian prasurvei, pengembangan model pemebelajaran untuk

23

meningkatakan kemampuan reading/membaca bahasa Inggris SMA KlS XI dan pelakasanaan uji coba model pembelajaran reading/membaca bahasa Inggris SMA KlS XI dan terakhir adalah pelaksanaan uji model pembelajaran reading/membaca.

24

Gambar 3.6 Alur penelitian

25

Nama Kegiatan, waktu pelaksanaan dan jumlah sekolah yang digunakan dalam penelitian Tahap 1- 3. Dikabupaten Malra dan Kota Tual provmal. 2011. N mar april mei juni Nama Kegiatan o * 1 2 3 4 5 6 II 7 8 * * 1 2 II 3 4 * **I sti me wa Pelaksanaan hanya satu kali Evaluasi / ujian akhir produk UNTUK 10 Sekolah.

Jumla h sekolah

et 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 Uji Coba terbatas Penyampaian surat ke diknas & sekolah Pelaksanaan angket untuk guru Pelaksanaan instrument instrument

Kapasi tas

112 1-3 1-3 1-3 1-3 1-3 1-3 1-3

angket untuk siswa Pelaksanaan observasi untuk guru dan siswa Pelaksanaan I Pelaksanaan Pelaksanaan III Evaluasi / tes Uji coba lebih luas Pelaksanaan Pembelajaran I Pelaksanaan Pembelajaran Pelaksanaan III Evaluasi / tes Pengujian produk akhir Pembelajaran pembelajaran pembelajaran pembelajaran

1-5 1-5 1-5 1-5

110

26

Jumlah item kegiatan Warna kuning peneliti menggunakan untuk mengkonsultasi dengan promoter I, II & III. (hasil perbaikan di pakai untuk selanjutnya pengujian produk akhir.

Ket : Sekolah yang digunakan untuk masa uji coba terbatas, uji coba lebih luas dan pengujian produk akhir. Dalam penelitian an : M. Faqih Seknun. Di Kab. Malra & Kota Tual Provinsi Maluku tahun 2011. Jml A N o M et 1 pr M ei 3 Ju ni 4h Sek ola h

N ar il a2

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4 1

1

mS M A N 1 Ke i Ke cil M alr a. S M A

2

1

27

Al hil al Ke i Ke cil M alr a S M A N 1 Ko ta Tu al

3

1

4 5 6

SMA Muhammadiyah Tual SMAN 2 Dullah Tual S M A N 2 Ke i Ke cil M alr a

1 1 1

7A

S M Ra ud

1

28

ah Tu al

8A

S M Kr ist en Tu al S M K N 1 M alr a S M A Pel ay ara n M alr a

1

9

1

10

1

10 3 Ju m la h Catatan : lapangan.

1

1

1

3

1

2

2

5

0

0

0

10

10

Sewaktu-waktu jadwal berubah sesuai dengan kondisi di

29

Bandung 10 Januari 2011. Peneliti, M. Faqih Seknun. SPd. M.Pd Nim : 0808760.