bab ii tinjauan umum konsep hermeneutika a. mengurai asal ... bab ii tinjauan umum konsep...

Download BAB II TINJAUAN UMUM KONSEP HERMENEUTIKA A. MENGURAI ASAL ... BAB II TINJAUAN UMUM KONSEP HERMENEUTIKA…

Post on 10-Aug-2019

212 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • 34

    BAB II

    TINJAUAN UMUM KONSEP HERMENEUTIKA

    A. MENGURAI ASAL-USUL HERMENEUTIKA; PENGERTIAN DAN

    SEJARAHNYA

    Sejatinya, tidak mudah memberikan definisi yang tepat dan akurat tentang

    terminologi hermeneutika hanya dalam satu-dua kalimat. Terlebih, Hermeneutika

    secara umum memposisikan diri secara definitif sebagai suatu teori dan/atau

    filsafat tentang interpretasi makna.1 Posisi ini menjadi begitu urgen ketika ada

    kebutuhan untuk menempatkan teks (al-Qur’an) sebagai kitab suci yang

    mengandung ‘bejibun’ makna dan maksud dari penciptanya, yakni Tuhan.

    Sembari pada saat yang sama, al-Qur’an butuh lahan kontekstualisasi dan

    pembumian agar tetap “dihargai” oleh pembacanya, saat ini, maupun yang akan

    datang. Dari teks al-Qur’an, juga akan terus digali konsep hukum bagi

    penyelesaian problem kemanusiaan yang akan selalu berkembang dari waktu ke

    waktu. Sebagaimana yang diungkapkan oleh al-Syahrastani dalam bukunya yang

    berjudul al-Milal wa al-Nihal dengan adagiumnya yang terkenal: “teks-teks nash

    (al-Qur’an) itu terbatas sedangkan problematika hukum yang memerlukan solusi

    tidak terbatas, oleh karena itu diperlukan ijtihad (termasuk proses hermeneutik)

    1 Tulisan ini dikutip dari Josef Bleicher, Contemporary Hermeneutics: Hermenutics as Method, Philosophy, and Critique, London, Boston, and Henley: Routledhe & Kegan Paul, 1980, hlm. 1. lihat dalam Nafisul Atho’ dan Arif Fahrudin, Hermenutika Transendental: dari Konfigurasi Filosofis menuju Praksis Islamic Studies, Yogyakarta: IRCISOD, 2003, cet. I, hlm. 14.

  • 35

    untuk menginterpretasi nash yang terbatas itu agar berbagai masalah yang tidak

    dikemukakan secara eksplisit dalam nash dapat dicari pemecahannya.”2 Maka

    dari itu, untuk menangkap dan mendapatkan pesan dari Allah berwujud al-Qur’an

    secara utuh dan komprehensif, tentu saja membutuhkan perangkat dan metode

    yang komprehensif pula.

    Inilah yang akan kita sebut selanjutnya dalam pembahasan ini sebagai

    metode atau teori yang hangat akhir-akhir ini diperbincangkan: hermeneutika,

    sebuah metode dan/atau teori filsafat yang digunakan untuk menganalisis dan

    memecah kebuntuan tafsir, agar kemudian teks bisa dipahami secara benar dan

    komprehensif lagi membebaskan.

    Secara bahasa, akar kata Hermeneutika merujuk pada bahasa para filosuf

    kuno, Yunani: hermeneuein (menafsirkan, menginterpretasikan, menerjemahkan)

    dan hermeneia (penafsiran atau interpretasi).3 Hermeneuein memposisikan diri

    sebagai kata kerja, sementara hermeneia merepresentasikan diri sebagai kata

    benda.

    Istilah hermeneueine dan hermeneia dalam berbagai bentuknya dapat

    dibaca dalam sejumlah literatur peninggalan masa Yunanai Kuno, seperti

    2 Dikutip dari Abd. Salam Arief dalam Pembaruan Pemikiran Hukum Islam antara Fakta dan Realita, Kajian Pemikiran Syaikh Mahmud Syaltut, Yogyakarta: Lesfi, 2003, hlm. 15.

    3 Abd. Salam Arief, Ibid, lihat juga Richard E. Palmer, Hermeneutics: interpretation Theory in Schleirmacher, Dilthy, Heidegger, and Gadamer, terj. Musnur Hery & Damanhuri Muhammad, Hermeneutika: Teori Baru Mengenai Interpretasi, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003, cet. I. hlm. 14. Lihat juga Moh. Ali Topan dalam makalahnya berjudul Memahami Metode Hermeneutik dalam Studi Arsitektur dan Kota, (www.islamlib.com), 2003.

  • 36

    “Organon” karya Aristoteles4 yang didalamnya terdapat risalah terkenal pada bab

    logika proposisi yang bertajuk “Peri Hermeneias” (tentang penafsiran). Ia juga

    digunakan dengan bentuk nominal dalam epos Oedipus at Colonus, juga terdapat

    dalam karya Plato5 yang (dalam bahasanya) menyebut para penyair kala itu

    dengan sebutan hermenes (penafsir) para Tuhan.6 Kemudian, varian

    pemahamannya saat itu berkembang pesat oleh ‘sentuhan pena’ para penulis kuno

    terkenal seperti Xenophon, Plutarch, Euripides, Epicurus, Lucretius, dan

    Longinus7 yang mencurahkan nuansa makna hermeneutika pada signifikansi

    modern, khususnya pada sastra dan interpretasi kitab suci (baca: bibel).

    Masih dalam kerangka pemahaman bahasa, istilah Hermenutika seringkali

    diasosiasikan dengan kata Hermez8, yang bermakna Tuhan orang-orang Yunani,

    4 Aristoteles (384 SM – 322 SM) adalah murid plato yang mengajarkan hakikat tentang ada, ia membedakan ada menjadi dua: yang primer dan sekunder. Ia juga mengatakan bahwa tugas ilmu pengetahuan ialah mencari penyebab-penyebab objek yang diselidiki, yang menurutnya ada 4 penyebab: penyebab material (material cause); penyebab formal (formal cause); penyebab efisien (efficient cause); dan penyebab final (final cause). Lebih jelas lihat Rizal Muntasyir dan Misnal Munir, Filsafat Ilmu, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004, cet. IV, hlm. 59-65.

    5 Plato (428 SM – 348 SM) adalah murid Socrates yang meneruskan tradisi dialog dalam filsafat. Ia dikenal sebagai filosof dualisme, artinya ia mengakui adanya dua kenyataan yangterpisah dan berdiri sendiri, yaitu dunia ide dan dunia bayangan (inderawi). Dunia ide adalah dunia yang tetap dan abadi, di dalamnya tidak ada perubahan, sedangkan dunia bayangan (inderawi) adalah dunia yang berubah, yang mencakup benda-benda jasmani yang disajikan kepada indera. Lebih jelas Rizal Muntasyir dan Misnal Munir, ibid, hlm 63

    6 Lihat Alireza Alatas dalam makalahnya yang berjudul Menimbang Pandangan Hermeneutika, dalam situs www.islamalternatif.com. Himpunan Pelajar Islam Iran/HPI, 2005, di download pada sabtu, 15 Oktober 2005.

    7 Richard E.Palmer, op.cit 8 Dalam berbagai literatur sebagaian besar menyebutkan bahwa Hermes adalah bentuk bentuk

    dari mitologi Yunani yang mencitrakan diri sebagai Dewa yang bertugas menyampaikan dan menjelaskan pesan (message) dari sang Dewa (suara langit) kepada manusia (bumi). Oleh karenanya Hermes harus mampu menginterpretasikan atau menerjemahkan sebuah pesan ke dalam bahasa yuang dipergunakan oleh pendengarnya. Sejak saat itulah Hermes menjadi simbol seorang duta yang dibebani dengan sebuah misi tertentu.

  • 37

    dimana (dimaknai) sebagai utusan “Tuhan Perbatasan”. Tepatnya, Hermez

    diasosiasikan dengan fungsi transmisi apa yang ada di balik pemahaman manusia

    ke dalam bentuk yang dapat ditangkap intelegensia manusia. Di sinilah terjadi

    mediasi di mana pemahaman manusia awalnya tak dapat ditangkap lewat

    intelegensia, kemudian menjadi (sesuatu yang) dipahami.9

    Sehingga, para sarjana ilmu-ilmu al-Qur’an memahami kata tersebut

    (baca: hermez) mempunyai tiga gradasi (tingkatan) prinsip interpretasi, yang

    dapat menunjukkan variabel kegiatan manusia dalam proses pemahaman, yakni:10

    (1). Matan atau teks atau tanda (sign), yakni pesan yang muncul dari sumbernya,

    yang diasosiasikan sebagai pesan/teks yang di bawa oleh Hermez; (2). Perantara,

    yakni penafsir (hermez), dan (3). Perpindahan pesan ke pendengar (lawan bicara).

    Dari ketiga gradasi prinsip tersebut di atas, kita akan bisa meraba, bahwa

    proses sirkulasi tafsir akan segera dilakukan tatkala telah lengkap perangkatnya:

    teks (sign) selaku sumber hukum dari Tuhan, kemudian si-penafsir sebagai

    pembaca teks, dan pendengarnya sebagai proses pemindahan pesan dari Tuhan,

    pembaca hingga audiens teks tersebut turun (hadir). Dari sini, diketahui bahwa

    hermeneutika seringkali digunakan untuk mengembangkan kaidah-kaidah umum

    Secara teologis, peran hermes ini bisa dinisbatkan sebagai mana peran nabi utusan Tuhan. Sayyed Hossein Nashr memiliki hipotesis menarik, bahwa Hermes tersebut tak lain adalah nabi Idris AS yang disebut dalam al-Qur’an, dan dikenal sebagai manusia pertama yang mengetahui tulisan, teknologi tenun, kedokteran, astrologi dan lain-lain. lihat dalam Nafisul Atho’ dan Arif Fahrudin, Hermenutika Transendental: dari Konfigurasi Filosofis menuju Praksis Islamic Studies, op.cit, hlm 14, lihat juga E. Sumaryono, Hermeneutika: sebuah Metode Filsafat Yogyakarta: Kanisius, 1995, hlm. 23

    9 Richard E.Palmer, op.ci.t 10 Nafisul Atho’ dan Arif Fahrudin, op.cit, hlm. 23. lihat juga Fahrudin Faiz, Hermeneutika

    al-Qur’an: Tema-tema Kontroversial, Yogyakarta: eLSAQ, Press, 2005, hlm. 4, lihat juga tulisan Alireza Alatas dalam makalahnya yang berjudul Menimbang Pandangan Hermeneutika, op.cit.

  • 38

    penafsiran sehingga dengan bantuan metode penafsiran yang benar, dapat

    menghindarkan diri dari distorsi makna.

    Dari kerangka tersebut, kemudian muncul pemahaman bahwa kata

    hermeneutika yang diambil dari peran Hermes merupakan sebuah ilmu atau seni

    menginterpretasikan (the art of interpretation) sebuah teks. Sebagai sebuah ilmu,

    hermeneutika harus menggunakan cara-cara ilmiah dalam mencari (mengungkap,

    menyingkap) makna, rasional dan dapat diuji, dalam hal ini kita akan menemukan

    prinsip hermeneutika sebagai sebuah metode yang erat terkait dengan bahasa.

    Sampai di sini, Richard E. Palmer dalam karyanya yang berjudul

    Hermeneutics: Interpretation Theory in Schleirmacher, Dilthy, Heidegger, and

    Gadamer menjelaskan bahwa bahasa merupakan mediasi yang paling sempurna

    dalam proses (interpretasi). Mediasi dan proses membawa pesan “agar dipahami”

    yang diasosiasikan dengan Hermez ini terkandung di dalam semua tiga bentuk

    makna dasar dari hermeneuein dan hermeneia dalam penggunaan aslinya. Tiga

    bentuk ini

Recommended

View more >