bab ii tinjauan pustaka - repository.uir.ac.idrepository.uir.ac.id/870/2/bab2.pdftingkat...

of 29/29
13 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Ketimpangan 2.1.1 Pengertian Ketimpangan Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ketimpangan” diartikan sebagai perbedaan, ketidaksinambungan, ketidaksimetrisan dan adanya jurang pemisah. Ketimpangan disini memiliki pengertian yang sama dengan kata kesenjangan, ketidakmerataan dan disparitas. Hal ini membuat satu masalah yang tak asing ditelinga kita dan ini bersifat umum bagi setiap wilayah di Indonesia. Ketimpangan berarti suatu gambaran terhadap fakta (kondisi) yang tidak homogen, yang di dalamnya terdapat perbedaan-perbedaan yang membutuhkan perhatian. juga terkandung informasi mengenai perbandingan wilayah yang maju dan tertinggal (BAPPENAS, 2011). Kemudian yang dimaksud dengan ketimpangan pembangunan adalah perbedaan-perbedaan yang terjadi berkaitan dengan proses pembangunan. ketimpangan pembangunan di Indonesia selama ini berlangsung dan berwujud dalam berbagai bentuk, aspek, atau dimensi. Ketimpangan sektoral dan ketimpangan regional dalam pembangunan dapat dilihat antara lain dengan menelaah perbedaan yang mencolok dalam aspek-aspek seperti jaringan jalan, listrik, sampah, dan air bersih. Pembangunan ekonomi dapat dikatakan berhasil apabila suatu wilayah/daerah dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi serta meningkatkan taraf hidup masyarakat secara merata atau yang lebih dikenal dengan Indeks

Post on 07-Apr-2019

215 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

13

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Ketimpangan

2.1.1 Pengertian Ketimpangan

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ketimpangan diartikan sebagai

perbedaan, ketidaksinambungan, ketidaksimetrisan dan adanya jurang pemisah.

Ketimpangan disini memiliki pengertian yang sama dengan kata kesenjangan,

ketidakmerataan dan disparitas. Hal ini membuat satu masalah yang tak asing

ditelinga kita dan ini bersifat umum bagi setiap wilayah di Indonesia.

Ketimpangan berarti suatu gambaran terhadap fakta (kondisi) yang tidak

homogen, yang di dalamnya terdapat perbedaan-perbedaan yang membutuhkan

perhatian. juga terkandung informasi mengenai perbandingan wilayah yang maju

dan tertinggal (BAPPENAS, 2011).

Kemudian yang dimaksud dengan ketimpangan pembangunan adalah

perbedaan-perbedaan yang terjadi berkaitan dengan proses pembangunan.

ketimpangan pembangunan di Indonesia selama ini berlangsung dan berwujud

dalam berbagai bentuk, aspek, atau dimensi. Ketimpangan sektoral dan

ketimpangan regional dalam pembangunan dapat dilihat antara lain dengan

menelaah perbedaan yang mencolok dalam aspek-aspek seperti jaringan jalan,

listrik, sampah, dan air bersih.

Pembangunan ekonomi dapat dikatakan berhasil apabila suatu

wilayah/daerah dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi serta meningkatkan

taraf hidup masyarakat secara merata atau yang lebih dikenal dengan Indeks

14

Pembangunan Manusia (IPM). Rendah atau tingginya IPM akan berdampak pada

tingkat produktivitas penduduk, semakin rendah IPM maka tingkat produktivitas

penduduk juga akan rendah kemudian produktivitas yang rendah akan

berpengaruh pada rendahnya pendapatan, begitu pula sebaliknya semakin tinggi

IPM maka akan semakin tinggi tingkat produktivitas penduduk yang kemudian

mendorong tingkat pendapatan menjadi semakin tinggi. Permasalahan yang

terjadi adalah IPM pada tiap daerah itu berbeda, hal ini menjadikan IPM salah

satu faktor yang berpengaruh pada ketimpangan pendapatan antar daerah/wilayah

(Tambunan, Tulus T.H. 2001).

Sementara itu, (Basri, 2002) menyatakan bahwa ketimpangan antardaerah

adalah realita yang menggambarkan jarak ekonomis dan sumberdaya manusia

(SDM) antar daerah di Indonesia akibat pembangunan yang terjadi puluhan tahun

terakhir ini. Jarak ekonomis yang dimaksud di sini adalah perbedaan pertumbuhan

ekonomi, sementara jarak SDM berarti Ketimpangan penduduk dalam hal

kuantitas maupun kualitas.

2.1.2 Faktor-faktor Penyebab Ketimpangan

Menurut Sjafrizal, 2012 faktor-faktor yang menentukan ketimpangan antar

wilayah, antara lain yaitu :

a. Perbedaan kandungan sumber daya alam

Perbedaan kandungan sumber daya alam akan mempengaruhi kegiatan

produksi pada daerah bersangkutan. Daerah dengan kandungan sumber daya alam

cukup tinggi akan dapat memproduksi barang-barang tertentu dengan biaya relatif

15

murah dibandingkan dengan daerah lain yang mempunyai kandungan sumber

daya alam lebih rendah. Kondisi ini mendorong pertumbuhan ekonomi daerah

bersangkutan menjadi lebih cepat. Sedangkan daerah lain yang mempunyai

kandungan sumber daya alam lebih kecil hanya akan dapat memproduksi barang-

barang dengan biaya produksi lebih tinggi sehingga daya saingnya menjadi lemah.

Kondisi tersebut menyebabkan daerah bersangkutan cenderung mempunyai

pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat.

b. Perbedaan kondisi demografis

Perbedaan kondisi demografis meliputi perbedaan tingkat pertumbuhan

dan struktur kependudukan, perbedaan tingkat pendidikan dan kesehatan,

perbedaan kondisi ketenagakerjaan dan perbedaan dalam tingkah laku dan

kebiasaan serta etos kerja yang dimiliki masyarakat daerah bersangkutan. Kondisi

demografis akan berpengaruh terhadap produktivitas kerja masyarakat setempat.

Daerah dengan kondisi demografis yang baik akan cenderung mempunyai

produktivitas kerja yang lebih tinggi sehingga hal ini akan mendorong

peningkatan investasi yang selanjutnya akan meningkatkan penyediaan lapangan

kerja dan pertumbuhan ekonomi daerah tersebut.

c. Kurang lancarnya mobilitas barang dan jasa

Mobilitas barang dan jasa meliputi kegiatan perdagangan antar daerah

dan migrasi baik yang disponsori pemerintah (transmigrasi) atau migrasi spontan.

Alasannya adalah apabila mobilitas kurang lancar maka kelebihan produksi suatu

daerah tidak dapat di jual ke daerah lain yang membutuhkan. Akibatnya adalah

16

ketimpangan pembangunan antar wilayah akan cenderung tinggi, sehingga daerah

terbelakang sulit mendorong proses pembangunannya.

d. Konsentrasi kegiatan ekonomi wilayah

Pertumbuhan ekonomi akan cenderung lebih cepat pada suatu daerah

dimana konsentrasi kegiatan ekonominya cukup besar. Kondisi inilah yang

selanjutnya akan mendorong proses pembangunan daerah melalui peningkatan

penyediaan lapangan kerja dan tingkat pendapatan masyarakat.

e. Alokasi dana pembangunan antar wilayah

Alokasi dana ini bisa berasal dari pemerintah maupun swasta. Pada

sistem pemerintahan otonomi maka dana pemerintah akan lebih banyak

dialokasikan ke daerah sehingga ketimpangan pembangunan antar wilayah akan

cenderung lebih rendah. Untuk investasi swasta lebih banyak ditentukan oleh

kekuatan pasar. Dimana keuntungan lokasi yang dimiliki oleh suatu daerah

merupakan kekuatan yang berperan banyak dalam menark investasi swasta.

Keuntungan lokasi ditentukan oleh biaya transpor baik bahan baku dan hasil

produksi yang harus dikeluarkan pengusaha, perbedaan upah buruh, konsentrasi

pasar, tingkat persaingan usaha dan sewa tanah. Oleh karena itu investai akan

cenderung lebih banyak di daerah perkotaan dibandingkan dengan daerah

pedesaan.

Dari penjelasan sebelumnya bahwa salah satu faktor penyebab

Ketimpangan adalah Kurang Lancarnya Mobilitas Barang dan Jasa. Upaya

untuk mendorong kelancaran mobilitas barangdan faktor produksi antar daerah

dapat dilakukan melalui penyebaran pembangunan prasarana dan sarana

17

perhubungan keseluruh pelosok wilayah. Prasarana perhubungan yang

dimaksudkan disini adalah fasilitas jalan, terminal dan pelabuhan laut guna

mendorong proses perdagangan antar daerah.

2.1.3 Dampak Ketimpangan

Ketimpangan pembangunan telah memberikan berbagai dampak terhadap

daerah dan masyarakat. Adapun yang menjadi dampak dari ketimpangan tersebut

adalah, banyak wilayah-wilayah yang masih tertinggal dalam pembangunan,

belum berkembangnya wilayah-wilayah strategis dan cepat tumbuh, wilayah

perbatasan dan terpencil kondisinya masih terbelakang, kesenjangan

pembangunan antara kota dan desa (Bappenas, 2016).

Dampak utama dari ketimpangan pembangunan adalah pengangguran,

kemiskinan dan rendahnya kualitas sumber daya manusia. Dampak ini merupakan

dampak turunan dari kurangnya lapangan kerja di suatu daerah bersangkutan,

yang disebabkan kurangnya investasi baik dari pemerintah maupun swasta, dan

mengakibatkan terjadinya pengangguran. Jika pengangguran terjadi maka

biasanya disusul terjadinya kemiskinan. Kemiskinan mengakibatkan kualitas

sumber daya manusia (generasi berikutnya) cenderung rendah, karena terbatasnya

kemampuan untuk menikmati pendidikan akibat rendahnya pendapatan

masyarakat bahkan cenderung tidak ada sama sekali, sehingga masyarakat lebih

fokus untuk memenuhi kebutuhan yang paling krusial yaitu makanan dan

minuman.

18

2.2 Infrastruktur

2.2.1 Pengertian Infrastruktur

Secara umum infrastruktur adalah seluruh fasilitas baik fisik maupun non

fisik yang sengaja dibangun oleh pemerintah atau perorangan untuk mendukung

terlaksananya kegiatan masyarakat. Pembangunan infrastruktur merupakan hal

penting yang pengadaannya harus disegerakan karna berhubungan dengan

kebutuhan dasar masyarakat sehari-hari dalam lingkup sosial dan ekonomi.

Menurut (Kodoatie, 2005). Infrastruktur adalah sistem yang menopang

sistem sosial dan sistem ekonomi yang sekaligus menjadi penghubung dengan

sistem lingkungan, dimana sistem ini dapat dipakai sebagai dasar didalam

mengambil kebijakan.

Infrastruktur menurut American Public Works Association (Stone, 1974

Dalam Kodoatie,R.J.,2005), adalah fasilitas-fasilitas fisik yang dikembangkan

atau dibutuhkan oleh agen-agen publik untuk fungsi-fungsi pemerintahan dalam

penyediaan air, tenaga listrik, pembuangan limbah, transportasi dan pelayanan-

pelayanan similar untuk memfasilitasi tujuan-tujuan sosial dan ekonomi. Jadi

infrastruktur merupakan sistem fisik yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan

dasar manusia dalam lingkup sosial dan ekonomi.

Keberadaan infrastruktur dapat memberikan gambaran tentang

kemampuan berproduksi masyarakat, dan tingkat kesejahteraan masyarakat.

Dengan demikian pembangunan infrastruktur merupakan kunci pertumbuhan

ekonomi. Penyediaan infrastruktur baik yang berupa penyediaan prasarana dan

sarana.

19

2.2.2 Faktor Pendorong Kebutuhan Infrastruktur

Pembangunan infrastruktur merupakan salah satu komponen penting yang

akan menentukan keberhasilan pembangunan suatu bangsa agar tidak menjadi

necropolis city. Ada beberapa faktor pendorong kebutuhan infrastruktur, antara

lain:

a. Pertumbuhan penduduk

Adanya pertambahan penduduk menyebabkan meningkatnya permintaan

kebutuhan masyarakat. Terutama untuk kebutuhan pokok, antara lain makanan,

pakaian, dan perumahan. Maka dari itu pemenuhan sarana prasarana sangat

diperlukan sebagai penunjang kebutuhan masyarakat.

b. Urbanisasi

Tingginya angka urbanisasi masuk ke kota menyebabkan meningkatnya

kebutuhan infrastruktur sebagai penunjang kehidupan masyarakat menjadi lebih

baik. Contoh-contoh infrastruktur tersebut antara lain: transportasi,

telekomunikasi, energi, perumahan, asilitas umum, dsb.

c. Bencana alam

Munculnya bencana alam seperti banjir, tanah longsor, air rob, gempa

bumi, dll merupakan salah satu faktor pendorong pembangunan infrastruktur.

Pembangunan akan infrastruktur sangat diperlukan saat terjadinya bencana alam

karena berfungsi sebagai alat pertolongan atau sebagai pengganti infrastruktur

yang rusak akibat bencana alam tersebut, contoh pembangunan infrastruktur

karena bencana alam misalnya pembangunan jalan dan jembatan, telekomunikasi,

perumahan, fasilitas umum, klinik, listrik, dll.

http://www.radarplanologi.com/2015/10/kota-yang-ditinggalkan-atau-necropolis-city.htmlhttp://www.radarplanologi.com/2015/10/dampak-negatif-dan-dampak-positif-urbanisasi.htmlhttps://id.wikipedia.org/wiki/Telekomunikasihttp://kuretase.com/

20

2.2.3 Dampak Pembangunan Infrastruktur

Dampak pembangunan Infrastruktur dapat menjadi pendorong

pertumbuhan ekonomi, dan sebaliknya pertumbuhan ekonomi sendiri juga dapat

menjadi tekanan bagi infrastruktur. Pertumbuhan ekonomi yang positif akan

mendorong peningkatan kebutuhan akan berbagai infrastruktur. Perannya sebagai

penggerak di sektor perekonomian akan mampu menjadi pendorong

berkembangnya sektor-sektor terkait sebagai multiplier dan pada akhirnya akan

menciptakan lapangan usaha baru dan memberikan output hasil produksi sebagai

input untuk konsumsi (Simposium XII FSTPT, 2009).

Dalam pembangunan ekonomi akan memberikan dampak pada

pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kualitas hidup. Pertumbuhan ekonomi

sendiri akan berpengaruh terhadap investasi. Sedangkan peningkatan kualitas

hidup akan berpengaruh terhadap kesejahteraan masyarakat, karena dengan

pembangunan infrastruktur dapat mengurangi kemiskinan dan jumlah

pengangguran suatu negara (Tri Wahyuni, Krismanti, 2009).

Sebagai penunjang kesejahteraan masyarakat dan investasi pembangunan

diperlukan berbagai infrastruktur. Antara lain jaringan jalan, jaringan listrik,

jaringan telekomunikasi, air bersih, dsb. Dorongan peningkatan pada subsektor

listrik, subsektor jalan, subsektor transportasi dan subsektor komunikasi tersebut

disebabkan karena tingkat permintaan dari subsektor tersebut terus mengalami

peningkatan. Disamping itu, respon permintaan yang terus meningkat terhadap

subsektor-subsektor tersebut diimbangi dengan banyaknya investasi

pembangunan infrastrukur di subsektor-subsektor tersebut.

21

Sebagai contohnya adalah kebutuhan akan listrik. Indonesia mengalami

permasalahan dalam listrik dimana suplai listrik tidak dapat memenuhi kebutuhan

akan listrik yang mengakibatkan pemadaman di beberapa daerah secara bergiliran.

Padahal listrik tidak hanya dibutuhkan pada rumah tangga-rumah tangga saja,

namun juga sangat dibutuhkan pada sektor-sektor industri yang akan berdampak

pada perekonomian masyarakatnya pula. Maka dari itu infrastruktur jaringan

listrik merupakan komponen penting dalam menunjang aktivitas masyarakat dan

juga sangat berpengaruh terhadap masalah perekonomian (Valeriani, Devi. 2010).

Begitu pula dengan pembangunan infrastruktur jaringan jalan.

Pembangunan jalan sangat tidak kalah penting dan diperlukan sebagai alat

penghubung suatu tempat dengan tempat yang lain. Dengan adanya akses jalan

yang mudah dijangkau akan mempengaruhi unsur strategis suatu tempat dan

dengan mudahnya akses akan mempengaruhi banyaknya pihak swasta yang mau

berinvestasi. Dengan banyaknya pihak swasta yang mau berinvestasi tersebut

akan mempengaruhi pada pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat. Selain itu

dengan adanya pembangunan-pembangunan infrastruktur salah satu contohnya

seperti jaringan jalan juga akan memberi manfaat kesejahteraan masyarakat

karena terbebas dari keterpencilan suatu tempat dan memberikan kemudahan

akses bagi masyarakat.

Berdasarkan peran dan fungsinya seperti yang telah diungkapkan di atas

(sebagai pendorong berkembangnya sektor-sektor terkait sebagai multiplier dan

pada akhirnya akan menciptakan lapangan usaha baru dan memberikan output

hasil produksi sebagai input untuk konsumsi), maka dapat disimpulkan bahwa

22

sektor infrastruktur merupakan fundamental perekonomian di Indonesia (Enik,

Widayanti. 2010).

2.2.4 Sistem Infrastruktur

Sistem infrastruktur didefinisikan sebagai fasilitas atau struktur dasar,

peralatan, instalasi yang dibangun dan yang dibutuhkan untuk berfungsinya

sistem sosial dan sistem ekonomi masyarakat (Kodoatie,R.J.,2005). Sistem

infrastruktur merupakan pendukung utama sistem sosial dan sistem ekonomi

dalam kehidupan masyarakat.

Disini, infrastruktur berperan penting sebagai mediator antara sistem

ekonomi dan sosial dalam tatanan kehidupan manusia dan lingkungan. Kondisi itu

agar harmonisasi kehidupan tetap terjaga dalam arti infrastruktur tidak

kekurangan (berdampak pada manusia), tapi juga tidak berlebihan tanpa

memperhitungkan daya dukung lingkungan alam karena akan merusak alam dan

pada akhirnya berdampak juga kepada manusia dan makhluk hidup lainnya.

Dalam hal ini, lingkungan alam merupakan pendukung sistem

infrastruktur, dan sistem ekonomi didukung oleh sistem infrastruktur, sistem

sosial sebagai obyek dan sasaran didukung oleh sistem ekonomi. Analoginya

seperti gambar dibawah ini :

23

Gambar 2.1. pengelompokan sistem menurut (Kodoatie,R.J.,2005)

Pengelompokan sistem insfrastruktur dapat dibedakan menjadi

(Kodoatie,R.J.,2005) :

1. Grup keairan

2. Grup distribusi dan produksi energi

3. Grup komunikasi

4. Grup transportasi (jalan, rel)

5. Grup bangunan

6. Grup pelayanan transportasi (stasiun, terminal, bandara, pelabuhan, dll)

7. Grup pengelolaan limbah

2.2.5 Komponen Infrastruktur

Menurut APWA (American Public Works Association) Komponen-

komponen di dalam infrastruktur adalah :

a. Sistem penyediaan air : waduk, penampungan air, transmisi dan distribusi,

fasilitas pengolahan air (water treatment)

LINGKUNGAN ALAM MERUPAKAN

PENDUKUNG SISTEM INFRASTRUKTUR,

SISTEM EKONOMI DIDUKUNG OLEH

SISTEM INFRASTRUKTUR,

SISTEM SOSIAL SEBAGAI OBYEK DAN

SASARAN DIDUKUNG OLEH SISTEM EKONOMI

Sitem Ekonomi

Sitem

Sosial

Infrastruktur Fisik

Lingkungan Alam

24

b. Sistem pengelolaan air limbah : pengumpul, pengolahan, pembuangan,

daur ulang

c. Fasilitas pengelolaan limbah padat

d. Fasilitas pengendalian banjir, drainase dan irigasi

e. Fasilitas lintas air dan navigasi

f. Fasilitas transportasi: jalan, rel, bandar udara (termasuk tanda-tanda lalu

lintas dan fasilitas pengontrol

g. Sistem transit publik

h. Sistem kelistrikan: produksi dan distribusi

i. Fasilitas gas alam

j. Gedung publik: sekolah, rumah sakit

k. Fasilitas perumahan publik

l. Taman kota sebagai daerah resapan, tempat bermain termasuk stadion

m. Komunikasi

Sedangkan menurut P3KT (Program Pembangunan Perasarana Kota Terpadu),

komponen-komponen infrastruktur antara lain:

a. Perencanaan kota

b. Peremajaan kota

c. Pembangunan kota baru

d. Jalan kota

e. Air minum

f. Drainase

g. Air limbah

25

h. Persampahan

i. Pengendalian banjir

j. Perumahan

k. Perbaikan kampung

l. Perbaikan prasarana kawasan pasar

m. Rumah sewa

Dilihat dari input - output bagi penduduk, komponen-komponen tersebut dapat

dikelompokkan menjadi tiga karakteristik, yaitu:

a. Komponen yang memberi input kepada penduduk. Jenis infrastruktur yang

termasuk dalam kategori ini adalah prasarana air minum dan listrik

b. Komponen yang mengambil output dari penduduk. Jenis infrastruktur

yang termasuk dalam kelompok ini adalah prasarana

drainase/pengendalian banjir, pembuangan air kotor/sanitasi, dan

pembuangan sampah.

c. Komponen yang dapat dipakai untuk memberi input maupun mengambil

output. Jenis infrastruktur yang termasuk dalam kelompok ini meliputi:

prasarana jalan dan telepon.

2.2.6 Kategori Infrastruktur

Menurut Kodoatie,R.J.,2005, ada enam kategori besar infrastruktur dan 12

fasilitas fisik infrastruktur yaitu :

a. Kelompok jalan (jalan, jalan raya, jembatan);

26

b. Kelompok pelayanan transportasi (transit, jalan rel, pelabuhan, bandar

udara);

c. Kelompok air (air bersih, air kotor, semua sistem air, termasuk jalan air);

d. Kelompok manajemen limbah (sistem manajemen limbah padat);

e. Kelompok bangunan dan fasilitas olahraga luar;

f. Kelompok produksi dan distribusi energi (listrik dan gas);

Fasilitas fisik Infrastruktur :

a. Sistem penyediaan air bersih, termasuk dam, reservoir, transmisi,

treatment, dan fasilitas distribusi;

b. Sistem manajemen air limbah, termasuk pengumpulan, treatment,

pembuangan, dan sistem pemakaian kembali;

c. Fasilitas manajemen limbah padat;

d. Fasilitas transportasi, termasuk jalan raya, jalan rel dan bandar udara.

Termasuk didalamnya adalah lampu, sinyal, dan fasilitas kontrol;

e. Sistem transit publik;

f. Sistem kelistrikan, termasuk produksi dan distribusi;

g. Fasilitas pengolahan gas alam;

h. Fasilitas pengaturan banjir, drainase, dan irigasi;

i. Fasilitas navigasi dan lalu lintas/jalan air;

j. Bangunan publik seperti sekolah, rumah sakit, kantor polisi, fasilitas

pemadam kebakaran;

k. Fasilitas perumahan;

l. Taman, tempat bermain, dan fasilitas rekreasi, termasuk stadion.

27

2.2.7 Infastruktur Dalam Penelitian

Dalam penelitian ini peneliti mengarah ke infrastruktur fisik yaitu sebagai

berikut :

1) Jaringan jalan

Jalan perumahan yang baik harus dapat memberikan rasa aman dan

nyaman bagi pergerakan pejalan kaki, pengendara sepeda dan pengendara

kendaraan bermotor. Selain itu harus didukung pula oleh ketersediaan prasarana

pendukung jalan, seperti perkerasan jalan, trotoar, drainase, lansekap, rambu lalu

lintas, parkir dan lain-lain.

2) Jaringan Air Bersih

Beberapa persyaratan, kriteria dan kebutuhan yang harus dipenuhi adalah:

a) Penyediaan kebutuhan air bersih

1) Lingkungan perumahan harus mendapat air bersih yang cukup dari

perusahaan air minum atau sumber lain sesuai dengan ketentuan yang

berlaku; dan

2) Apabila telah tersedia sistem penyediaan air bersih kota atau sistem

penyediaan air bersih lingkungan, maka tiap rumah berhak mendapat

sambungan rumah atau sambungan halaman.

b) Penyediaan jaringan air bersih

1) Harus tersedia jaringan kota atau lingkungan sampai dengan sambungan

rumah;

2) Ketersediaan komponen sumber penampung air bersih seperti,

penampung air hujan, sumur bor, penyulingan air laut dan sebagainya.

28

3) Jaringan Listrik

Beberapa persyaratan, kriteria dan kebutuhan yang harus dipenuhi adalah:

a) Penyediaan kebutuhan daya listrik

1) setiap lingkungan perumahan harus mendapatkan daya listrik dari PLN

atau dari sumber lain; dan

2) setiap unit rumah tangga harus dapat dilayani daya listrik minimum 450

VA per jiwa dan untuk sarana lingkungan sebesar 40% dari total

kebutuhan rumah tangga.

b) Penyediaan jaringan listrik

1) disediakan jaringan listrik lingkungan dengan mengikuti hirarki

pelayanan, dimana besar pasokannya telah diprediksikan berdasarkan

jumlah unit hunian yang mengisi blok siap bangun;

2) Disediakan tiang listrik sebagai penerangan jalan yang ditempatkan

pada area damija (daerah milik jalan) pada sisi jalur hijau yang tidak

menghalangi sirkulasi pejalan kaki di trotoar (lihat Gambar 1 mengenai

bagian-bagian pada jalan);

3) Disediakan gardu listrik untuk setiap 200 KVA daya listrik yang

ditempatkan pada lahan yang bebas dari kegiatan umum;

4) Adapun penerangan jalan dengan memiliki kuat penerangan 500 lux

dengan tinggi > 5 meter dari muka tanah;

5) Sedangkan untuk daerah di bawah tegangan tinggi sebaiknya tidak

dimanfaatkan untuk tempat tinggal atau kegiatan lain yang bersifat

permanen karena akan membahayakan keselamatan;

29

4) Jaringan Persampahan

Jenis-jenis elemen perencanaan yang harus disediakan adalah gerobak

sampah; bak sampah; tempat pembuangan sementara (TPS); dan tempat

pembuangan akhir (TPA). Lingkungan perumahan harus dilayani sistem

persampahan yang mengacu pada:

a) Tentang Tata cara teknik operasional pengolahan sampah perkotaan;

b) Tentang Tata cara pengelolaan sampah di permukiman; dan

c) Tentang Tata cara pemilihan lokasi tempat pembuangan akhir sampah.

2.3 persepsi

Persepsi merupakan salah satu aspek psikologis yang penting bagi

manusia dalam merespon kehadiran berbagai aspek dan gejala di sekitarnya.

Persepsi mengandung pengertian yang sangat luas, menyangkut intern danekstern.

Berbagai ahli telah memberikan definisi yang beragam tentang persepsi, walaupun

pada prinsipnya mengandung makna yang sama. Menurut Kamus Besar Bahasa

Indonesia, persepsi adalah tanggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu. Proses

seseorang mengetahui beberapa hal melalui panca inderanya.

Persepsi ialah proses di mana individu mengorganisasikan dan

mengintepretasikan impresi sensorik agar dapat memberikan arti kepada

lingkungan di sekitarnya (Robbini dalam Muchlas, 2005).

Sugihartono, dkk (2007) mengemukakan bahwa persepsi adalah

kemampuan otak dalam menerjemahkan stimulus atau proses untuk

menerjemahkan stimulus yang masuk ke dalam alat indera manusia. Persepsi

30

manusia terdapat perbedaan sudut pandang dalam penginderaan. Ada yang

mempersepsikan sesuatu itu baik atau persepsi yang positif maupun persepsi

negatif yang akan mempengaruhi tindakan manusia yang tampak atau nyata.

Bimo Walgito (2004) mengungkapkan bahwa persepsi merupakan suatu

proses pengorganisasian, penginterpre tasian terhadap stimulus yang diterima oleh

organisme atau individu sehingga menjadi sesuatu yang berarti, dan merupakan

aktivitas yang integrated dalam diri individu. Respon sebagai akibat dari persepsi

dapat diambil oleh individu dengan berbagai macam 10 bentuk. Stimulus mana

yang akan mendapatkan respon dari individu tergantung pada perhatian individu

yang bersangkutan. Berdasarkan hal tersebut, perasaan, kemampuan berfikir,

pengalaman-pengalaman yang dimiliki individu tidak sama, maka dalam

mempersepsi sesuatu stimulus, hasil persepsi mungkin akan berbeda antar

individu satu dengan individu lain. Setiap orang mempunyai kecenderungan

dalam melihat benda yang sama dengan cara yang berbeda-beda. Perbedaan

tersebut bisa dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya adalah pengetahuan,

pengalaman dan sudut pandangnya.

Persepsi juga bertautan dengan cara pandang seseorang terhadap suatu

objek tertentu dengan cara yang berbeda-beda dengan menggunakan alat indera

yang dimiliki, kemudian berusaha untuk menafsirkannya. Persepsi baik positif

maupun negatif ibarat file yang sudah tersimpan rapi di dalam alam pikiran bawah

sadar kita. File itu akan segera muncul ketika ada stimulus yang memicunya, ada

kejadian yang membukanya. Persepsi merupakan hasil kerja otak dalam

memahami atau menilai suatu hal yang terjadi di sekitarnya (Waidi, 2006).

31

Jalaludin Rakhmat (2007) menyatakan persepsi adalah pengamatan

tentang objek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan

menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan.

Sedangkan, Suharman (2005) menyatakan: persepsi merupakan suatu

proses menginterpretasikan atau menafsir informasi yang diperoleh melalui sistem

alat indera manusia.

Menurutnya ada tiga aspek di dalam persepsi yang dianggap relevan

dengan kognisi manusia, yaitu pencatatan indera, pengenalan pola, dan perhatian.

Dari penjelasan di atas dapat ditarik suatu kesamaan pendapat bahwa persepsi

merupakan suatu proses yang dimulai dari penglihatan hingga terbentuk

tanggapan yang terjadi dalam diri individu sehingga individu sadar akan segala

sesuatu dalam lingkungannya melalui indera-indera yang dimilikinya.

Persepsi bukanlah sesuatu yang statis, melainkan dapat berubah-ubah.

Proses perubahan persepsi pertama kali disebabkan oleh fisikologis dari sistem

saraf pada indera manusia. Ketika suatu stimulus tidak dapat lagi mengalami

perubahan maka yang terjadi ialah adaptasi atau habituasi yaitu respon terhadap

stimulus semakin melemah. Habituasi menunjukkan kecenderungan faali dari

reseptor yang kurang peka setelah menerima stimulus yang berlebihan.

Menurut Miftah Toha (2003), faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi

seseorang adalah sebagai berikut:

a. Faktor internal: perasaan, sikap dan kepribadian individu, prasangka,

keinginan atau harapan, perhatian (fokus), proses belajar, keadaan

fisik,gangguan kejiwaan, nilai dan kebutuhan juga minat,dan motivasi.

32

b. Faktor eksternal: latar belakang keluarga, informasi yang diperoleh,

pengetahuan dan kebutuhan sekitar, intensitas, ukuran, keberlawanan,

pengulangan gerak, hal-hal baru dan familiar atau ketidak asingan suatu

objek

Menurut Walgito (2003), sikap individu terhadap lingkungannya dapat

berupa :

a. Individu menolak lingkungannya yaitu apabila individu tidak sesuai

dengan lingkungannya.

b. Individu menerima lingkungan yaitu bila keadaan lingkungan cocok

dengan keadaan individu.

c. Individu bersikap netral, apabila individu tidak mendapat kecocokan

dengan lingkungan, tetapi dalam hal ini individu tidak mengambil

langkah-langkah yang lebih lanjut yaitu bagaimana sebaiknya bersikap.

2.4 Pembangunan

Pembangunan infrastruktur merupakan salah satu aspek penting dan vital

untuk mempercepat proses pembangunan nasional maupun regional. Infrastruktur

juga memegang peranan penting sebagai salah satu roda penggerak pertumbuhan

ekonomi. Laju pertumbuhan ekonomi dan investasi suatu negara maupun daerah

tidak dapat dipisahkan dari ketersedian infrastruktur seperti transportasi,

telekomunikasi, sanitasi, dan energi. Inilah yang menyebabkan pembangunan

infrastruktur menjadi fondasi dari pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.

33

Bertambahnya infrastruktur dan perbaikannya oleh pemerintah diharapkan

memacu pertumbuhan ekonomi (Suratno. 2010).

Pembangunan menjadi suatu proses kegiatan yang dianggap penting dan

wajib dilaksanakan oleh semua negara, karena globalisasi yang disertai dengan

kemajuan teknologi dan perkembangan ilmu pengetahuan telah berdampak pada

perubahan dan pembaharuan dalam semua aspek kehidupan manusia. Sehingga

dalam proses pembangunan harus mencakup seluruh aspek baik ekonomi maupun

sosial. Seperti yang terdapat dalam Todaro (2006), menyebutkan bahwa

pembangunan merupakan suatu kenyataan fisik sekaligus tekad suatu masyarakat

untuk berupaya sekeras mungkin melalui serangkaian kombinasi proses sosial,

ekonomi dan institusional demi mencapai kehidupan yang serba lebih baik.

Sebagai suatu proses perubahan tidak akan bisa lepas dari perencanaan

maka perencanaan pembangunan didefinisikan sebagai suatu proses perumusan

alternatif-alternatif atau keputusan-keputusan yang didasarkan pada data-data dan

fakta-fakta yang akan digunakan sebagai bahan untuk melaksanakan suatu

rangkaian kegiatan atau aktivitas kemasyarakatan,baik yang bersifat fisik

(material) maupun non fisik (mental dan spritual), dalam rangka mencapai tujuan

yang lebih baik (Riyadi dan Bratakusumah 2003). Namun demikian suatu

perencanaan pembangunan sangat terkait dengan unsur wilayah atau lokasi

dimana suatu aktivitas kegiatan akan dilaksanakan, sehingga Riyadi dan

Bratakusumah (2003) mendefinisikan perencanaan pembangunan wilayah/daerah

sebagai suatu proses perencanaan pembangunan yang dimaksudkan untuk

melakukan perubahan menuju arah perkembangan yang lebih baik, bagi suatu

34

komunitas masyarakat, pemerintah, dan lingkungan dalamwilayah/daerah tertentu,

dengan memanfaatkan atau mendayagunakan berbagai sumberdaya yang ada, dan

harus memiliki orientasi yang bersifat menyeluruh, lengkap, tapi tetap berpegang

pada azas prioritas.

Sedangkan Hadi (2001) mengartikan perencanaan pembangunan wilayah

sebagai suatu proses atau tahapan pengarahan kegiatan pembangunan di suatu

wilayah tertentu yang melibatkan interaksi antara sumberdaya manusia dengan

sumberdaya lain, termasuk sumberdaya alam dan lingkungan melalui investasi.

Pembangunan pada intinya bertujuan untuk menjadikan kehidupan

masyarakat yang lebih makmur dan sejahtera. Sejahtera merupakan kondisi tidak

miskin dan menjadi keinginan setiap orang, sedangkan kemakmuran merupakan

bagian yang memungkinkan orang-orang bermasyarakat dengan baik, tenang dan

tidak menimbulkan kecemburuan sosial. Untuk mencapai hal tersebut,

keberhasilan pembangunan sering diidentikan dengan tingkat pertumbuhan

ekonominya. Karena semakin tinggi tingkat pertumbuhan ekonomi suatu negara,

semakin tinggi pula tingkat kesejahteraannya.

2.5 Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu ini menjadi salah satu acuan penulis dalam melakukan

penelitian sehingga penulis dapat memperkaya teori yang digunakan dalam

mengkaji penelitian yang dilakukan. Dari penelitian terdahulu, penulis tidak

menemukan penelitian dengan judul yang sama seperti judul penelitian penulis.

Namun penulis mengangkat beberapa penelitian sebagai referensi dalam

35

memperkaya bahan kajian pada penelitian penulis. Berikut merupakan penelitian

terdahulu berupa beberapa skripsi dan jurnal terkait dengan penelitian yang

dilakukan penulis. Beberapa peneliti tersebut dapat kita lihat di Tabel 2.1 sebagai

berikut:

36

Tabel 2.1 Review Penelitian Terdahulu

No Peneliti Judul Tahun Hasil Penelitian

1. Fitri Ami

Handayani

Analisis Kesenjangan

Wilayah di Gerbang

Kertosusila ditinjau

Dari Aspek Ekonomi,

Sosial dan Lingkungan

2006 Dari hasil analisis diketahui bahwa kesenjangan wilayah di Gerbang

kertosusila ternyata lebih signifikan dalam indikator-indikator

ekonomi dan lingkungan daripada indikator-indikator sosial.

Kemudian, dari hasil analisis MDS, ternyata pola kesenjangan

ekonomi dan pola kesenjangan sosial menunjukkan hubungan yang

searah. Jadi, pertumbuhan ekonomi berbanding lurus dengan tingkat

kesejahteraan sosial. Sedangkan untuk kesenjangan lingkungan

memiliki pola yang berlawanan.

Pembangunan yang dilakukan di Gerbang kertosusila selama ini

ternyata berdampak pada peningkatan kesenjangan antar Kabupaten

dan Kota di wilayah tersebut. Kesenjangan terutama terjadi antara

Kota Surabaya dengan SMA-nya yang meliputi Kabupaten Gresik

dan Sidoarjo dengan wilayah-wilayah belakangnya, yaitu Kabupaten

Mojokerto, Lamongan dan Bangkalan. Selain itu, pembangunan di

Gerbang kertosusila juga berkontribusi terhadap peningkatan

kemiskinan, pengangguran, dan degradasi lingkungan.

37

Sumber : Hasil Analisis, 2018

No Peneliti Judul Tahun Hasil Penelitian

2. Desty

Nurhidayanti

Chaerunnisa

Pengaruh Infrastruktur

Terhadap Pertumbuhan

Ekonomi di Kota

Sukabumi tahun 1990 -

2012

2014 Infrastruktur air bersih dan ranjang rumah sakit berpengaruh positif

dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Kota Sukabumi.

Sedangkan infrastruktur listrik berpengaruh negatif dan tidak

signifikan sehingga tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan

ekonomi. Dan pada variabel panjang jalan dan sekolah berpengaruh

negatif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Kota

Sukabumi.

3. Zulham

Wildany

Ketimpangan

Pembangunan Antar

Kecamatan di Kabupaten

Lamongan

2011 Secara umum kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini

adalah selama periode 2002-2006 ketimpangan antar kecamatan di

kabupaten Lamongan terus mengalami peningkatan hal ini di

sebabkan oleh pembangunan yang dilakukan pemerintah kerang

merata di setiap kecamatan terutama pada sektor pertanian,

pendidikan dan kesehatan.

38

2.6 Sintesa Landasan Teori

Berdasarkan uraian landasan teori, maka penulis membuat sintesa landasan teori yang

mendukung dalam penelitian Analisis Ketimpangan Infrastruktur di Kecamatan Tebing

Tinggi.

Tabel 2.2 Sintesa Landasan Teori

No Defenisi Sumber Keterangan

1 Ketimpangan a. Besar Bahasa Indonesia

b. BAPPENAS (2011) c. World Bank (2016)

a. perbedaan, ketidaksinambungan, ketidaksimetrisan dan adanya jurang

pemisah

b. menjelaskan bahwa ketimpangan pembangunan di Indonesia selama

ini berlangsung dan berwujud dalam

berbagai bentuk, aspek, atau dimensi.

c. suatu gambaran terhadap fakta (kondisi) yang tidak homogen, yang

di dalamnya terdapat perbedaan-

perbedaan yang membutuhkan

perhatian

2 Faktor-faktor

penyebab

ketimpangan

Syafrijal (2012 ) 1. Perbedaan kandungan sumber daya alam.

Perbedaan kandungan sumber daya alam

akan mempengaruhi kegiatan produksi

pada daerah bersangkutan.

2. Perbedaan kondisi demografis

Perbedaan kondisi demografis meliputi

perbedaan tingkat pertumbuhan dan

struktur kependudukan.

3. Kurang lancarnya mobilitas barang

dan jasa

Mobilitas barang dan jasa meliputi

kegiatan perdagangan antar daerah dan

migrasi baik yang disponsori pemerintah

(transmigrasi) atau migrasi spontan

4. Konsentrasi kegiatan ekonomi

wilayah

Pertumbuhan ekonomi akan cenderung

lebih cepat pada suatu daerah p.

5. Alokasi dana pembangunan antar

wilayah

Alokasi dana ini bisa berasal dari

pemerintah maupun swasta.

3 Dampak

Ketimpangan

Bappenas (2016) Ketimpangan pembangunan telah

memberikan berbagai dampak terhadap

39

No Defenisi Sumber Keterangan

daerah dan masyarakat. Adapun yang

menjadi dampak dari ketimpangan

tersebut adalah, banyak wilayah-wilayah

yang masih tertinggal dalam

pembangunan, belum berkembangnya

wilayah-wilayah strategis dan cepat

tumbuh, wilayah perbatasan dan terpencil

kondisinya masih terbelakang,

kesenjangan pembangunan antara kota

dan desa.

4 Infrastruktur - Kamus Besar Bahasa Indonesia

- Kodoatie, 2005 - Badan Statistik

Nasional (Tata cara

perencanaan

lingkungan

perumahan di

perkotaan)

- Sjafrizal, 2012

- Infrastruktur adalah sistem yang

menopang sistem sosial dan sistem

ekonomi yang sekaligus menjadi

penghubung dengan sistem lingkungan,

dimana sistem ini dapat dipakai sebagai

dasar didalam mengambil kebijakan.

- fasilitas-fasilitas fisik yang

dikembangkan atau dibutuhkan oleh

agen-agen publik untuk fungsi-fungsi

pemerintahan dalam penyediaan air,

tenaga listrik, pembuangan limbah,

transportasi dan pelayanan-pelayanan

similar untuk memfasilitasi tujuan-tujuan

sosial dan ekonomi. Jadi infrastruktur

merupakan sistem fisik yang dibutuhkan

untuk memenuhi kebutuhan dasar

manusia dalam lingkup sosial dan

ekonomi.

5 Persepsi - Robbini dalam Muchlas (2005)

- Sugihartono, dkk (2007)

- Bimo Walgito (2004) - Waidi (2006) - Jalaludin Rakhmat (2007)

- Suharman (2005) - Miftah Toha (2003) - Walgito (2003)

Persepsi mempunyai arti dan kedudukan

yang sangat penting dalam diri manusia

sebab persepsi bersifat pribadi dan

subyektif. Persepsi merupakan

pandangan dan penafsiran seorang

individu terhadap aktivitas, lingkungan

dan obyek tertentu berdasarkan

pengalaman yang telah terstruktur dalam

pikirannya. Persepsi seseorang terhadap

obyek di lingkungannya diawali oleh

adanya kontak fisik antara seseorang tersebut dengan lingkungannya dan

kemudian menghasilkan suatu persepsi.

Jika obyek tersebut dipersepsikan

sebagai hal yang berada dalam batas

optimal, maka individu dikatakan dalam

keadaan serba seimbang. Namun,

40

No Defenisi Sumber Keterangan

apabila obyek dipersepsikan sebagai hal

di luar batas optimal, maka individu

tersebut dapat dikatakan mengalami

tekanan. Individu tersebut harus

menyesuakan diri dengan lingkungan

atau lingkungan yang menyesuaikan

dengan individu tersebut.

6 Pengembangan

wilayah

a. Suratno (2010) b. Todaro (2006) c. Riyadi dan

Bratakusumah (2003)

d. Hadi (2001)

Pembangunan infrastruktur merupakan

salah satu aspek penting dan vital untuk

mempercepat proses pembangunan

nasional maupun regional. Infrastruktur

juga memegang peranan penting sebagai

salah satu roda penggerak pertumbuhan

ekonomi. Laju pertumbuhan ekonomi

dan investasi suatu negara maupun

daerah tidak dapat dipisahkan dari

ketersedian infrastruktur seperti

transportasi, telekomunikasi, sanitasi, dan

energi. Inilah yang menyebabkan

pembangunan infrastruktur menjadi

fondasi dari pembangunan ekonomi yang

berkelanjutan. Bertambahnya

infrastruktur dan perbaikannya oleh

pemerintah diharapkan memacu

pertumbuhan ekonomi.

7 Peneliti

Terdahulu

Hasil Review, 2017 Penelitian-penelitian terdahulu terkait

analisa kesenjangan wilayah yang pernah

dilakukan oleh beberapa peneliti

disebagian wilayah di Indonesia

Sumber : Hasil Analisis, 2018

41

2.7 Variabel Penelitian

Dalam melihat ketimpangan infrastruktur di Kecamatan Tebing Tinggi, ada beberapa

indikator dalam penelitian yaitu sebagai berikut :

Tabel 2.3

Variabel Penelitian Analisis Ketimpangan Infrastruktur di Kecamatan Tebing Tinggi

Tujuan Variabel Indikator Sub Indikator

Mengetahui

Ketimpangan

Infrastruktur

di Kecamatan

Tebing

Tinggi

Identifikasi

Prasarana Jaringan

Jalan

Kondisi Jaringan Jalan

- Jalan baik - Jalan sedang - Jalan rusak

- Panjang jalan dengan kondisi baik

- Panjang jalan dengan kondisi sedang

- Panjang jalan dengan kondisi rusak

Indentifikasi

Prasarana Air

Bersih

Kondisi Prasarana Air

Bersih

- Penampung Air Hujan

- Sumur Bor - Penyulingan Air

Laut

- Jumlah layanan penyediaan penampung air hujan yang

di sediakan pemerintah

- Jumlah layanan penyediaan Sumur Bor yang di

sediakan pemerintah

- Penyaluran Air bersih dari hasil penyulingan Air Laut

Identifikasi

Prasarana

Persampahan

Kondisi Prasarana

Persampahan

- Bak Sampah Besar/kontainer/TP

S 12 m3

- Bak Sampah Kecil/TPS 6 m3

- Gerobak Sampah/Mobil

Sampah

- Penyediaan Bak Sampah dengan kapasitas besar

- Penyediaan Bak Sampah dengan kapasitas kecil

- Penyediaan gerobak sampah/mobil pengangkut

sampah

Identifikasi

Prasarana Jaringan

Listrik

Kondisi Prasarana

Jaringan Listrik

- Penyediaan Jaringan Listrik

- Tiang Listrik - Lampu Jalan

- Penyaluran aliran Listrik kesetiap rumah

- Kelengkapan Tiang listrik sebagai pendukung aliran

listrik

- Penyediaan penerang di ruas jalan

Sumber : Hasil Analisis, 2018