bab ii tinjauan ii.pdfآ  2020. 1. 3.آ  pengangguran tersembunyi atau setengah pengangguran....

Download BAB II TINJAUAN II.pdfآ  2020. 1. 3.آ  pengangguran tersembunyi atau setengah pengangguran. Pertumbuhannya

Post on 24-Jan-2021

0 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • 12

    BAB II

    TINJAUAN PUSTAKA

    2.1. Pedagang Sayur Keliling

    Pedagang Sayur Keliling (Vegetable merchant circle) adalah salah satu

    usaha yang merupakan suatu kegiatan perdagangan eceran yang melaksanakan

    pemberian jasa. pedagang sayur keliling merupakan salah satu pekerjaan yang

    berperan dalam mengurangi pengangguran.

    Pedagang sayur keliling sering dihubungkan dengan proses urbanisasi,

    masalah dan kebijakan kesempatan kerja, serta tentang kerangka dan perencaan

    kota. Pedagang sayur keliling biasanya digambarkan sebagai perwujudan

    pengangguran tersembunyi atau setengah pengangguran. Pertumbuhannya pun

    semakin besar di desa dan perkotaan, karena adanya ketidakseimbangan antara

    lapangan kerja dengan angkatan kerja.

    Meskipun pedagang sayur keliling dipandang sebelah mata di masyarakat

    yang dianggap sebagai jenis pekerjaan yang sama sekali tidak relevan. Sekalipun

    produktivitas para pedagang sayur keliling itu sangat rendah jika dibandingkan

    dengan pedagang di sektor ekonomi modern, namun dunia mereka jauh lebih

    superior daripada dunia pengangguran. Betapapun sederhananya penampilan

    mereka dilihat dari segi estetika tata kota, namun jelas mereka itu memberi

    pelayanan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat desa dan kota, dan menjadi

    bagian intergral dari sistem ekonomi urban. Sekalipun produktivitasnya rendah,

  • 13

    namun sektor ini telah memberikan mata pencaharian kepada banyak orang

    berupa pekerjaan tetap maupun sampingan yang berpendapatan cukup.

    Meskipun usaha pedagang sayur keliling tersebut bersifat mandiri awalnya

    tergantung pada pihak terkait, namun diharapkan adanya pembinaan yang efektif

    agar mereka bisa mandiri dan berkembang dengan baik. Dengan kemandirian

    tersebut, Pedagang Sayur keliling tidak lagi tergantung kepada pihak terkait tetapi

    mempunyai kaitan yang sifatnya saling mendukung dan saling membutuhkan.

    Keterkaitan tersebut bertujuan untuk menciptakan kondisi pasar yang sehat dan

    dinamis. Sehat diartikan sebagai pasar yang didalamnya terdapat bermacam-

    macam usaha yang bergerak bersama-sama dalam persaingan yang sehat. Dinamis

    berarti bahwa keterkaitan usaha tersebut bukanlah hubungan antara pemberi dan

    penerima, melainkan hubungan rasional kedua belah pihak yang saling membantu,

    saling mendukung dan saling membutuhkan. Bukan merusak pasar yang hanya

    akan menguntungkan untuk dirinya sendiri tetapi merugikan bagi orang lain.

    Dengan melihat manfaat hadirnya pedagang sayur keliling, maka kegiatan

    usahanya perlu dibina dan ditata agar benar-benar bermanfaat, baik bagi pedagang

    sayur keliling sendiri maupun bagi masyarakat serta pemerintah.

    Penelitian tentang sektor informal di Indonesia mengambil daerah-daerah

    Bandung, Cirebon, Tasik Malaya, Semarang, Yogyakarta dan Surabaya. Hasilnya

    adalah bahwa pekerja sektor informal pada sub sektor perdagangan adalah

    penerima penghasilan terbesar. Keuntungan rata-rata per hari yang mereka

    peroleh adalah sebesar Rp.2.500,- untuk Pedagang Sayur Keliling dan Rp 2.400,-

    untuk pedagang yang telah menetap. Bila dilihat dari lamanya berusaha, pedagang

  • 14

    sayur keliling rata-rata baru berusaha selama 1-5 tahun. Kalau dilihat dari umur

    para pekerja, mereka berkisar antara 30-50 tahun, meskipun juga ada yang berusia

    di bawah 30 tahun.

    Salah satu potensi yang cukup menonjol dalam perekonomian Indonesia

    adalah kemampuannya sebagai penyedia lapangan kerja bagi kelebihan

    penawaran kerja di daerah perkotaan. Di samping itu, sektor informal juga dapat

    menggerakkan partisipasi wanita. Dengan anggapan bahwa sektor informal itu

    relatif kecil menyerap tenaga kerja dan tidak perlu mendapat perhatian khusus.

    Tinjauannya mengenai sektor informal menunjukkan bahwa perekonomian

    sektor informal relatif lebih stabil daripada sektor formal, karena sektor informal

    tidak tergantung pada perekonomian internasional, modal yang besar maupun

    ketrampilan yang tinggi. Kelesuan ekonomi relatif kurang dirasakan di sektor

    informal. Juga dikatakan bahwa pertumbuhan sektor informal dapat

    meningkatkan ekonomi daerah yang lemah.

    Selanjutnya Litbang DPP – FBSI menyebutkan bahwa penghasilan di

    sektor informal ini sangat tinggi. Di Jakarta pekerja sektor informal memperoleh

    penghasilan minimal Rp 1.050,- selain itu pedagang sayur keliling memperoleh

    antara Rp.2000 dan Rp 3000,- perhari. Demikian pula dari hasil-hasil penelitian

    yang telah dihimpun oleh Puslitbang Tenaga Kerja, Departemen Tenaga Kerja RI,

    1995 menyebutkan bahwa motor setengah pemilik (kreditan) untuk dibebani

    ongkos sewa tetapi dibebani cicilan, pendapatannya berkisar antara Rp 400,-

    sampai Rp 1.250 perhari.

  • 15

    Yang melakukan penelitian tentang pemupukan modal pedagang sayur

    keliling di Kecamatan Soko Kabupaten Tuban, menyimpulkan bahwa sebagian

    besar pedagang sayur keliling tidak atau kurang mampu memupuk modal. Modal

    produktif yang mereka miliki tidak berkembang dan atau lambat berkembang. Hal

    itu dikarenakan hasil atau laba dari pendapatan setiap harinya digunakan untuk

    mencukupi kebutuhan sehari-hari, jadi modal mereka jumlahnya tetap atau

    bertambah sedikit bahkan bisa berkurang. Sehubungan itu pula pendatan (dan

    taraf hidup) mereka tidak dapat atau kurang cepat meningkat. Dinyatakan bahwa

    80.32 persen Pedagang Sayur Keliling tergolong bukan wiraswasta dan

    kewiraswastaannya rendah 91,34 persen tidak memiliki sikap mengutamakan

    pengembangan usaha dagang. Data tentang tingkat pemupukan modal

    menunjukkan bahwa 7,87 persen pedagang mengalami penyusutan modal dan

    65,35 persen pedagang tidak mengalami perubahan dalam jumlah modalnya.

    Tampak bahwa sektor informal banyak terdapat di negara-negara sedang

    berkembang. Pekerjaannya pada umumnya berpendidikan rendah, terjadi akibat

    adanya migrasi dari desa ke kota, berpenghasilan rendah dan kurang memupuk

    modal serta mampu menyerap tenaga kerja yang cukup banyak.

    Hasil penelitian menunjukkan bahwa usaha pedagang sayur keliling dapat

    menyediakan lapangan pekerjaan bagi kelebihan angkatan kerja, tertutama yang

    berpendidikan rendah atau tidak berpendidikan. Usaha ini cenderung menjadi

    pekerjaan tetap bagi pedagang sayur keliling di Kecamatan Soko dan hanya

    sebagian dari pedagang yang menjadikan usaha ini sebagai pekerjaan sampingan.

    Umumnya para pedagang sayur keliling dalam memenuhi kebutuhan modalnya

  • 16

    meminjam pada keluarga, teman, menjual harta maupun mengambil tabungan

    sendiri yang tidak akan menanggung beban bunga. Terhadap keberhasilan usaha

    pedagang sayur keliling , diantara empat variabel bebas (modal usaha, tingkat

    pendidikan, pengalaman berusaha dan sikap usaha dagang), hanya variabel modal

    usaha dan sikap usaha dagang yang berpengaruh secara signifikan terhadap

    keberhasilan usaha pedagang sayur keliling. Namun dilihat dari rentabilitas

    ekonomis, variabel modal menunjukkan kecenderungan yang negatif. Ini berarti

    semakin tinggi modal usaha yang digunakan, justru semakin tidak efisien (web,

    id-jurnal blogspot, 2009).

    Menurut Peraturan Daerah nomor 13 tahun 2005 tentang penataan

    pedagang kaki lima. Pedagang kaki lima adalah penjual barang atau jasa yang

    secara perorangan dan atau kelompok berusaha dalam kegiatan ekonomi yang

    tergolong dalam skala usaha kecil yang menggunakan fasilitas umum dan bersifat

    sementara atau tidak menetap dengan menggunakan peralatan bergerak maupun

    tidak bergerak dan atau menggunakan sarana berdagang yang mudah dipindahkan

    dan dibongkar pasang.

    Menurut Gulo (2002), pedagang kaki lima diartikan sebagai usaha kecil

    masyarakat yang bergerak di bidang perdagangan dengan lingkungan usaha yang

    relatif kecil, terbatas dan tidak bersifat tetap. Dalam pengertian ini, pedagang kaki

    lima sering dilekati oleh ciri-ciri perputaran uang yang kecil, tempat usaha yang

    tidak meneetap, modal terbatas, segmen pasar pada masyarakat kelas menengah

    ke bawah dan jangkauan usaha yang tidak terlalu luas.

  • 17

    Karakter utama dari pedagang sayuran keliling adalah:

    1. Mengusahakan agar barang dagangannya habis terjual pada hari itu juga.

    Hal ini karena dagangannya bersifat tidak tahan lama atau jumlahnya

    sedikit sehingga diharapkan ada perputaran modal setiap harinya.

    Akibatnya pedagang sayur keliling akan berusaha sedekat mungkin

    dengan calon pembelinya agar barang dagangannya habis terjual.

    2. Bekerja setiap hari sesuai keinginan dan selama kondisinya

    memungkinkan.

    3. Cara penyajian dan pengemasan barang sangat sederhana tanpa

    memperhatikan kualitas produk baik secara fisik maupun estetika.

    4. Biasanya jenis sayuran yang dijajakan berbeda beda sesuai dengan musim

    tanam sayuran.

    5. Harga yang ditawarkan fluktuatif karena menyesuaikan dengan kondisi

    komoditi, dagangan dan waktu berdagang serta kelangkaan barang serta

    daya tawar menawar.

    2.2. Keuntungan Berdagang Sayur Keliling

    Para pedagang say