bab ii oke

Download BAB II oke

Post on 07-Jul-2015

2.319 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian

Tuberkulosis

(TB)

adalah

suatu

penyakit

infeksi

menular

yang

disebabkanolehMycobacterium tuberculosis (MTB).Kuman batang aerobik dan tahan asam ini,merupakan organisme patogen maupun saprofit.Jalan masuk untuk organisme MTBadalah saluran pernafasan, saluran pencernaan, dan luka terbuka pada kulit.Sebagianbesar infeksi TB menyebar lewat udara, melalui terhirupnya nukleus droplet yangberisikan organisme basil tuberkel dari seseorang yang terinfeksi. (Price, Wilson. 2004) Tuberkulosis paru adalah penyakit akibat infeksi kuman Mycobacterium tuberculosis sistemis sehingga dapat mengenai hampir semua organ tubuh, dengan lokasi terbanyak diparu yang biasanya merupakan infeksi primer. Tuberculosis merupakan bakteri kronik dan ditandai oleh pembentukan granuloma pada jaringan yang terinfeksi dan hipersensivitas yang diperantarai sel (Cell Madiated Hipersensivity) (Arif, 2000) Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis). Sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya.(Depkes RI tahun 2008 )

B. Epidemiologi

Diperkirakan sekitar sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi oleh MTB.Pada tahun 1995, diperkirakan ada 9 juta pasien TB baru dan 3 juta kematian akibat TB diseluruh dunia.Diperkirakan 95% kasus TB dan 98% kematian akibat TB didunia, terjadi pada negara-negara berkembang. Demikian juga, kematian wanita akibat TB lebih banyak dari pada kematian karena kehamilan, persalinan dan nifas (Depkes RI,2009)

Gambar 1. Insidens TB didunia (WHO, 2004) . (dikutip dari 3)

Sekitar 75% pasien TB adalah kelompok usia yang paling produktif secara ekonomis (15-50 tahun). Diperkirakan seorang pasien TB dewasa, akan kehilangan rata-rata waktu kerjanya 3 sampai 4 bulan. Hal tersebut berakibat pada kehilangan pendapatan tahunan rumah tangganya sekitar 20-30%. Jika ia meninggal akibat TB, maka akan kehilangan pendapatannya sekitar 15 tahun. Selain merugikan secara ekonomis, TB

juga memberikan dampak buruk lainnya secara sosial bahkan dikucilkan oleh masyarakat (Depkes RI,2009) y Penyebab utama meningkatnya beban masalah TB antara lain adalah: Kemiskinan pada berbagai kelompok masyarakat, seperti pada negara negara yang sedang berkembang. y Kegagalan program TB selama ini. Hal ini diakibatkan oleh: o Tidak memadainya komitmen politik dan pendanaan o Tidak memadainya organisasi pelayanan TB (kurang terakses oleh masyarakat, penemuan kasus /diagnosis yang tidak standar, obat tidak terjamin penyediaannya, tidak dilakukan pemantauan, pencatatan dan pelaporan yang standar, dan sebagainya). o Tidak memadainya tatalaksana kasus (diagnosis dan paduan obatyang tidak standar, gagal menyembuhkan kasus yang telah didiagnosis) o Salah persepsi terhadap manfaat dan efektifitas BCG. o Infrastruktur kesehatan yang buruk pada negara-negara yangmengalami krisis ekonomi atau pergolakan masyarakat. y Perubahan demografik karena meningkatnya penduduk dunia dan perubahan struktur umur kependudukan y Dampak pandemi HIV (Depkes RI,2009) Situasi TB didunia semakin memburuk, jumlah kasus TB meningkat dan banyak yang tidak berhasil disembuhkan, terutama pada negara yang dikelompokkan dalam 22 negara dengan masalah TB besar (high burden countries). Menyikapi hal tersebut, pada tahun 1993, WHO mencanangkan TB sebagai kedaruratan dunia (global emergency).(Depkes RI,2009) Munculnya pandemi HIV/AIDS di dunia menambah permasalahan TB. Koinfeksi dengan HIV akan meningkatkan risiko kejadian TB secara signifikan. Pada saat yang sama, kekebalan ganda kuman TB terhadap obat anti TB(multidrug

resistance = MDR) semakin menjadi masalah akibat kasus yang tidak berhasil disembuhkan. Keadaan tersebut pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya epidemi TB yang sulit ditangani.(Depkes RI,2009) Di Indonesia, TB merupakan masalah utama kesehatan masyarakat. Jumlah pasien TB di Indonesia merupakan ke-3 terbanyak di dunia setelah India dan Cina dengan jumlah pasien sekitar 10% dari total jumlah pasien TB didunia. Diperkirakan pada tahun 2004, setiap tahun ada 539.000 kasus baru dan kematian 101.000 orang. Insidensi kasus TB BTA positif sekitar 110 per 100.000 penduduk (Depkes RI,2009)

C. Etiologi

Mycobacterium tuberculosis adalah suatu jenis kuman yang berbentuk batang dengan ukuran panjang 1-4/um dan tebal 0,3-0,6/um, mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam pada pewarnaan (Amin Z,Bahar.S, 2006) M. tuberculosismemiliki dinding yang sebagian besar terdiri atas lipid, kemudian peptidoglikan dan arabinomannan (seperti yang tampak pada gambar 2). Lipid inilah yang membuat kuman lebih tahan asam dan ia juga lebih tahan terhadap gangguan kimia dan fisis. Kuman dapat hidup dalam udara kering maupun dalam keadaan dingin ( dapat tahan bertahun - tahun dalam lemari es ) dimana kuman dalam keadaandormant. Dari sifat ini kuman dapat bangkit kembali dan menjadikan penyakit tuberkulosis menjadi aktif lagi (Amin Z,Bahar.S, 2006)

Gambar 2. Mikroskopik M. tuberculosis (dikutip dari 4) Kuman hidup sebagai parasit intraselular yakni dalam sitoplasma makrofag didalm jaringan.Makrofag yang semula memfagositosiskemudian disenanginyakarena banyak mengandung lipid. Sifat lain kuman ini adalah aerob. Sifat inimenunjukkan bahwa kuman lebih menyenangi jaringan yang tinggi kandunganoksigennya. Dalam hal ini tekanan oksigen pada bagian apikalparu lebih tinggi daribagian lain, sehingga bagian apikal ini merupakan tempat predileksi penyakittuberculosis (Amin Z,Bahar.S, 2006)

D. Faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit TBC

Untuk terpapar penyakit TBC pada seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti :

1. Faktor Sosial Ekonomi

Disini sangat erat dengan keadaan rumah, kepadatan hunian, lingkungan perumahan, lingkungan dan sanitasi tempat bekerja yang buruk dapat memudahkan penularan TBC. Pendapatan keluarga sangat erat juga dengan penularan TBC, karenapendapatan yang kecil membuat orang tidak dapat hidup layak dengan memenuhi syarat-syarat kesehatan (Roebiono.PS, 2009) WHO (2003) menyebutkan 90% penderita TB di dunia menyerang kelompok sosial ekonomi lemah atau miskin dan menurut Enarson TB merupakan penyakit terbanyak yang menyerang negara dengan penduduk berpenghasilan rendah. Sosial ekonomi yang rendah akan menyebabkan kondisi kepadatan hunian yang tinggi dan

buruknya lingkungan; selain itu masalah kurang gizi dan rendahnya kemampuan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak juga menjadi problem bagi golongan sosial ekonomi rendah (Enarson DA, 1999) Dengan garis kemiskinan yang pada dasarnya ditentukan untuk memenuhi kebutuhan pangan utama, maka rumah tangga yang tergolong miskin tidak akan mempunyai daya beli yang dapat digunakan untuk menjamin ketahanan pangan keluarganya. Pada saat ketahanan pangan mengalami ancaman (misal pada saat tingkat pendapatan mendekati suatu titik dimana rumah tangga tidak mampu membeli kebutuhan pangan) maka status gizi dari kelompok rawan pangan akan terganggu (Tabar SS, 2000) 14 Kriteria Rumah Tangga Miskin Versi BPS (Bistok Saing ) 2008 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Luas lantai bangunan kurang dari 8 m persegi per orang. Lantai rumah dari tanah, bambu, kayu murahan. Dinding rumah dari bambu, rumbia, kayu kualitas rendah, tembok tanpaplester. Tidak memiliki fasilitas jamban atau menggunakan jamban bersama. Rumah tidak dialiri listrik. Sumber air minum dari sumur atau mata air tak terlindungi, sungai, air hujan. Bahan baker memasak dari kayu bakar, arang, minyak tanah. Hanya mengonsumsi daging, ayam dan susu sekali seminggu. Hanya sanggup membeli baju sekali setahun.

10. Hanya sanggup makan dua kali sehari atau sekali sehari. 11. Tidak sanggup membayar biaya pengobatan di Puskesmas. 12. Sumber penghasilan kepala rumah tangga petani dengan luas lahan 0,5 hektar,buruh tani, nelayan, buruh bangunan dengan penghasilan < Rp.600 ribu per bulan. 13. Pendidikan tertinggi kepala rumah tangga tidak sekolah, tdk tamat SD/hanya SD.

14. Tidak punya tabungan atau barang dengan nilai jual dibawah Rp500 ribu seperti ternak, motor dan lain-lain. Interpretasi : y y y Kategori sangat miskin Kategori miskin Kategori mendekati miskin : skor 12 kriteria

: skor 6 - 10 kriteria : skor 5 -6 kriteria

(Kepala Bidang Sosial dan Budaya Bappeda Kota Padang Rusdi Jamil) Keadaan sosial ekonomi berkaitan erat dengan pendidikan, keadaan sanitasi lingkungan, gizi dan akses terhadap pelayanan kesehatan. Penurunan pendapatan dapat menyebabkan kurangnya kemampuan daya beli dalam memenuhi konsumsi makanan sehingga akan berpengaruh terhadap status gizi. Apabila status gizi buruk maka akan menyebabkan kekebalan tubuh yang menurun sehingga memudahkan terkena infeksi TB Paru (Depkes RI, 2001) Secara global telah diketahui bahwa penyakit TB paru banyak dijumpai di negara berkembang atau negara miskin.Hal ini dikarenakan status ekonomi yang rendah memiliki kontribusi yang besar terhadap kejadian penyakit TB paru.Keadaan ini terjadi karena dengan status ekonomi yang miskin menurut Mangtani (1995) dapat memicu rendahnya daya tahan tubuh seseorang akibat asupan makanan bergizi yang kurang, tidak sanggup berobat dan membeli obat. Selain itu, kemiskinan juga mengharuskan seseorang bekerja keras secara fisik sehingga kemungkinan sembuh akan menurun. Masalah kesehatan tidak tepat bila digunakan sebagai suatu

konsumsi.Kesehatan perlu dipandang sebagai suatu intervensi dalam upaya mencapai kesejahteraan masyarakat dan sebagai hak asasi manusia.Kaitan antara kemiskinan dengan kesakitan yaitu dipengaruhi oleh penyakit sehingga daya tahan tubuh menurun, tidak menggunakan pelayanan kesehatan, dan sanitasi lingkungan buruk.Hal tersebut dapat terjadi akibat kurangnya pendapatan dan pendidikan, kurang

terjangkaunya pelayanan kesehatan. Dengan terserang