bab ii landasan teori a. pengertian ?· bab ii landasan teori a. pengertian bahasa bahasa...

Download BAB II LANDASAN TEORI A. Pengertian ?· BAB II LANDASAN TEORI A. Pengertian Bahasa Bahasa merupakan…

Post on 20-Mar-2019

216 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Pengertian Bahasa

Bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan oleh manusia. Dalam kelompok

masyarakat ada interaksi yang dihubungkan dengan komunikasi. Salah satu alat yang

digunakan untuk komunikasi adalah bahasa.

Menurut Chaer (2007: 32) bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang

digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan

mengidentifikasikan diri.

Dengan demikian manusia selalu membutuhkan bahasa sebagai alat komunikasi agar

dapat berhubungan dengan manusia yang lain. Bahasa merupakan alat komunikasi berupa

lambang bunyi dan ujaran yang dihasilkan oleh alat ucap manusia.

Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang dipergunakan oleh para anggota suatu

masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri (Kridalaksana,

2008: 24).

Dari beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa bahasa adalah sistem

lambang bunyi yang arbitrer dan sebagai alat komunikasi yang utama.

B. Bahasa Indonesia dan Bahasa Asing

6

Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Namun sekarang ini bahasa Indonesia

yang kita gunakan sebagai bahasa nasional tidak lagi sama dengan bahasa asalnya, bahasa

Melayu. Bahasa Melayu seperti bahasa Melayu Riau kini sama kedudukannya dengan bahasa-

bahasa daerah lain di Indonesia. Bahasa Indonesia telah tumbuh dan berkembang dengan pesat,

bukan lagi hanya sebagai bahasa pergaulan sehari-hari, tetapi telah tumbuh menjadi bahasa

ilmiah dan teknologi. Bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmiah digunakan untuk menulis buku,

skripsi, berpidato, kuliah, dan sebagainya. Selain itu bahasa Indonesia memperkaya dirinya

dengan mengambil unsur-unsur baik dari bahasa daerah maupun bahasa asing yang disesuaikan

dengan sistem fonologi, morfologi, dan sintaksisnya. Penyerapan kata-kata asing itu kemudian

diatur dalam buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan

Pedoman Umum Pembentukan Istilah.

Di dalam bahasa Indonesia, muncul bentuk-bentuk baru yang tidak dikenal dalam

bahasa Melayu atau dalam bahasa Indonesia dahulu. Bentuk-bentuk baru tersebut sebagai hasil

swadaya bahasa (Badudu, 1992: 10). Bentuk-bentuk tersebut seperti: diserahterimakan,

dibeberbentangkan, mempertanggungjawabkan, mengesampingkan, ketidakseragaman,

memberangkatkan, memberlakukan, pemersatu.

Masuknya struktur bahasa daerah dan bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia

memberikan pengaruh yang perlahan-lahan melembaga walaupun tidak sesuai dengan kaidah

bahasa Indonesia.

Misalnya: (1) Bangsa ini mau dikemanakan? Di mana kau ketemukan barang yang hilang itu?

Apa Anda yakin ia akan datang hari ini? (2) Kami adalah bangsa Indonesia.

Rumah di mana ia tinggal adalah rumah dinas. Orang dengan siapa dia bercakap-cakap adalah teman kuliahnya (Badudu,

1992: 11).

Dari contoh (1) bentuk dikemanakan, ketemukan dan penggunaan kata apa dalam

kalimat tanya yang tidak menanyakan benda adalah bentuk-bentuk yang dipengaruhi oleh

bahasa daerah. Sedangkan dari contoh (2) kata kerja gabung adalah, kata ganti penghubung di

mana dan dengan siapa benar-benar terjemahan bahasa Belanda atau Inggris.

Dengan demikian struktur asli terdesak pemakaiannya oleh struktur yang dipengaruhi

oleh bahasa asing. Dapat dikatakan bahwa sering dengan tidak sengaja pemakai bahasa yang

menguasai bahasa lain akan memasukkan pengaruh bahasa lain itu ke dalam bahasanya.

Penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara memerlukan pengembangan

kata dan istilah dalam berbagai bidang ilmu. Kekayaan kosakata suatu bahasa dapat menjadi

indikasi kemajuan bangsa pemilik bahasa tersebut. Penggunaan kosakata bahasa asing makin

meluas sejak terjadi perubahan tatanan kehidupan baru (globalisasi) yang telah mengubah pola

pikir dan perilaku masyarakat pada berbagai sendi kehidupan.

Moeliono (Peny.) (2007: 88) menyatakan bahwa bahasa asing adalah bahasa milik

bangsa lain yang dikuasai, biasanya melalui pendidikan formal dan yang secara struktural tidak

dianggap sebagai bahasa sendiri. Dalam penelitian ini lebih menekankan pada bentuk-bentuk

serapan dari bahasa asing di luar bangsa Indonesia yang meliputi: bahasa Sansekerta, Arab,

Inggris, dan Belanda.

C. Interferensi dan Integrasi

1. Interferensi

Menurut Kridalaksana (2008: 95) interferensi adalah penggunaan unsur bahasa lain

oleh bahasawan yang bilingual secara individual dalam suatu bahasa. Moeliono (Peny.)

(2007: 438) menyatakan interferensi adalah masuknya unsur serapan ke dalam bahasa lain

yang bersifat melanggar kaidah gramatika bahasa yang menyerap.

Istilah interferensi pertama kali digunakan oleh Weinreich (1953) untuk menyebut

adanya perubahan sistem suatu bahasa sehubungan dengan adanya persentuhan bahasa

tersebut dengan unsur-unsur bahasa lain yang dilakukan oleh penutur yang bilingual (Chaer

dan Leonie Agustina, 2004: 120). Interferensi yang dimaksud oleh Weinreich (dalam Chaer

dan Leonie Agustina, 2004: 122) adalah interferensi yang tampak dalam perubahan sistem

suatu bahasa, baik mengenai sistem fonologis, morfologis, maupun sistem lainnya.

Adanya penyimpangan dalam menggunakan suatu bahasa dengan memasukkan

sistem bahasa lain, yang bagi golongan puris (golongan yang mempertahankan kemurnian

bahasa) dianggap sebagai suatu kesalahan (Chaer dan Leonie Agustina, 2004: 124). Hockett

dalam Chaer dan Leonie Agustina (2004: 126) mengatakan bahwa interferensi dapat

dikatakan sebagai gejala perubahan terbesar, terpenting, dan paling dominan dalam bahasa.

Dengan demikian di satu sisi interferensi dipandang sebagai pengacauan karena

merusak sistem suatu bahasa, tetapi di sisi lain interferensi dipandang sebagai mekanisme

yang penting dan dominan untuk mengembangkan suatu bahasa. Bahasa-bahasa yang latar

belakang sosial budaya dan pemakaiannya luas (seperti bahasa Inggris dan bahasa Arab)

akan memberi kontribusi kosakata kepada bahasa-bahasa yang berkembang dan yang

mempunyai kontak dengan bahasa tersebut. Dalam proses ini bahasa yang memberi atau

mempengaruhi itu disebut bahasa sumber (bahasa donor), dan bahasa yang menerima

disebut bahasa penyerap (bahasa resipien), sedangkan unsur yang diberikan disebut unsur

serapan (importasi).

Menurut Soewito dalam Chaer dan Leonie Agustina (2004: 126) interferensi dalam

bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa Nusantara berlaku bolak-balik, artinya unsur bahasa

daerah dapat memasuki bahasa Indonesia dan bahasa Indonesia banyak memasuki bahasa-

bahasa daerah. Namun dengan bahasa asing, bahasa Indonesia hanya menjadi penerima dan

tidak pernah menjadi pemberi.

2. Integrasi

Telah dikatakan bahwa di satu sisi interferensi dipandang sebagai pengacauan

karena merusak sistem suatu bahasa, tetapi di sisi lain interferensi dipandang sebagai

mekanisme yang penting dan dominan untuk mengembangkan suatu bahasa. Dengan

interferensi kosakata bahasa resipien menjadi diperkaya oleh kosakata bahasa donor, yang

pada mulanya dianggap sebagai unsur pinjaman, tetapi kemudian tidak lagi karena kosakata

itu telah berintegrasi menjadi bagian dari bahasa resipien.

Mackey dalam Chaer dan Leonie Agustina (2004: 128) menjelaskan bahwa

integrasi adalah unsur-unsur bahasa lain yang digunakan dalam bahasa tertentu dan dianggap

sudah menjadi warga bahasa tersebut dan tidak dianggap lagi sebagai unsur pinjaman atau

pungutan.

Penerimaan unsur bahasa lain dalam bahasa tertentu sampai berstatus integrasi

memerlukan waktu dan tahap yang relatif panjang. Proses penerimaan unsur bahasa asing,

khususnya unsur kosakata, di dalam bahasa (Indonesia) pada awalnya tampak banyak

dilakukan secara audial. Artinya, mula-mula penutur Indonesia mendengar butir-butir

leksikal itu dituturkan oleh penutur aslinya, lalu mencoba menggunakannya. Apa yang

terdengar oleh telinga, itulah yang dianjurkan, lalu dituliskan.

Pada tahap berikutnya, terutama setelah pemerintah mengeluarkan Pedoman Umum

Pembentukan Istilah dan Pedoman Umum Ejaan yang Disempurnakan penerimaan dan

penyerapan kata asing dilakukan secara visual. Artinya, penyerapan itu dilakukan melalui

bentuk tulisan dalam bahasa aslinya, lalu bentuk tulisan itu disesuaikan menurut aturan yang

terdapat dalam kedua dokumen kebahasaan di atas.

Kalau sebuah kata serapan sudah ada pada tingkat integrasi, maka artinya kata

serapan itu sudah disetujui dan Converged into the new language (dipusatkan ke dalam

bahasa baru). Karena itu, proses yang terjadi dalam integrasi ini lazim juga disebut

konvergensi.

D. Kata Serapan

Menurut Hasanah (2005) kata serapan adalah kata-kata dari bahasa asing yang masuk

ke dalam bahasa Indonesia dan diperlukan untuk memperkaya bahasa Indonesia, serta dalam

perkembangannya menjadi milik tetap bahasa Indonesia.

Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (2005: 55) menyebutkan bahwa jika

dalam bahasa Indonesia atau bahasa serumpun tidak ditemukan istilah yang tepat, maka bahasa

asing dapat dijadikan sumber peristilahan Indonesia. Istilah baru dapat dibentuk dengan jalan

menerjemah

Recommended

View more >