bab i - usm

22
KATA PENGANTAR Menghormati martabat manusia merupakan prinsip dasar dari Konvensi- konvensi Jenewa. Orang-orang yang tidak turut serta secara aktif dalam pertikaian, termasuk yang tidak lagi turut serta karena cedera, sakit, tertawan ataupun sebab lainnya harus diperlakukan secara manusiawi dan dilindungi terhadap kejahatan perang. Bantuan dan perawatan harus diberikan kepada para korban tanpa diskriminsi apapun. Protokol-protokol tambahan memperluas perlindungan tersebut untuk korban pertikaian bersenjatan dan pihak militer dan sipil. Selanjutnya, penyerangan yang diarahkan ke rakyat sipil maupun sasaran sipil dilarang, dan setiap pihak yang terlibat dalam pertikaian serta pasukan tempurnya diwajibkan untuk menjalankan peperangan sesuai dengan peraturan-peraturan hukum humaniter yang telah disepakati. Ide penulisan buku diatas timbul karena wujud kepedulian yang besar terhadap masalah hak asasi manusia. Disamping itu untuk mempermudah para mahasiswa untuk memberikan kesempatan serta minat mahasiswa untuk mempelajari lebih dalam lagi. Buku ini tersusun tentu saja tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Untuk itu perlu kami sampaikan terimakasih atas bantuannya hingga diterbitkannya buku ini. Diakui pula oleh kami bahwa buku ini masih terdapat kekurangannya, maka dari itu kami membutuhkan saran-saran yang membangun terhadap kesempurnaan buku ini nantinya. Semoga buku ini bermanfaat bagi pengembangan masalah hukum, khususnya hukum humaniter internasional. Akhir kata sekali lagi kami sampaikan terimakasih. Semarang, Desember 2011-12-21 Penyusun i

Upload: others

Post on 17-Oct-2021

6 views

Category:

Documents


0 download

TRANSCRIPT

Page 1: Bab I - USM

KATA PENGANTAR

Menghormati martabat manusia merupakan prinsip dasar dari Konvensi-

konvensi Jenewa. Orang-orang yang tidak turut serta secara aktif dalam pertikaian,

termasuk yang tidak lagi turut serta karena cedera, sakit, tertawan ataupun sebab lainnya

harus diperlakukan secara manusiawi dan dilindungi terhadap kejahatan perang. Bantuan

dan perawatan harus diberikan kepada para korban tanpa diskriminsi apapun.

Protokol-protokol tambahan memperluas perlindungan tersebut untuk korban

pertikaian bersenjatan dan pihak militer dan sipil. Selanjutnya, penyerangan yang

diarahkan ke rakyat sipil maupun sasaran sipil dilarang, dan setiap pihak yang terlibat

dalam pertikaian serta pasukan tempurnya diwajibkan untuk menjalankan peperangan

sesuai dengan peraturan-peraturan hukum humaniter yang telah disepakati.

Ide penulisan buku diatas timbul karena wujud kepedulian yang besar terhadap

masalah hak asasi manusia. Disamping itu untuk mempermudah para mahasiswa untuk

memberikan kesempatan serta minat mahasiswa untuk mempelajari lebih dalam lagi.

Buku ini tersusun tentu saja tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Untuk itu

perlu kami sampaikan terimakasih atas bantuannya hingga diterbitkannya buku ini.

Diakui pula oleh kami bahwa buku ini masih terdapat kekurangannya, maka dari itu kami

membutuhkan saran-saran yang membangun terhadap kesempurnaan buku ini nantinya.

Semoga buku ini bermanfaat bagi pengembangan masalah hukum, khususnya hukum

humaniter internasional.

Akhir kata sekali lagi kami sampaikan terimakasih.

Semarang, Desember 2011-12-21

Penyusun

i

Page 2: Bab I - USM

Bab I

PENDAHULUAN

1.1. Istilah dan Pengertian Hukum Humaniter

Istilah hukum humaniter atau lengkapnya disebut international humanitarian law

applicable in armed conflict berawal dari istilah hukum perang (laws of war), yang

kemudian berkembang menjadi hukum sengketa bersenjata (laws of armed conflict), yang

akhirnya pada saat ini biasa dikenal dengan istilah hukum humaniter atau hukum

humaniter internasional.2

Hukum Humaniter (HH), sering kali juga disebut sebagai hukum-hukum dan

kebiasaan-kebiasaan perang, atau hukum konflik bersenjata, adalah batang tubuh hukum

yang mencakup Konvensi Jenewa dan Konvensi Den Haag beserta perjanjian-perjanjian,

yurisprudensi, dan Hukum Internasional Kebiasaan yang mengikutinya. HH menetapkan

perilaku dan tanggung jawab negara-negara yang berperang, negara-negara netral, dan

individu-individu yang terlibat peperangan, yaitu terhadap satu sama lain dan terhadap

orang-orang yang dilindungi, biasanya berarti orang sipil.

HH adalah wajib bagi negara yang terikat oleh perjanjian-perjanjian yang

relevan dalam hukum tersebut. Ada juga sejumlah aturan perang tak tertulis yang

merupakan kebiasaan, yang banyak di antaranya dieksplorasi dalam Persidangan

Mahkamah Perang Nuremberg. Dalam pengertian yang diperluas, aturan-aturan tak

tertulis ini juga menetapkan sejumlah hak permisif serta sejumlah larangan perilaku bagi

negara-negara yang berperang bila mereka berurusan dengan pasukan yang tidak reguler

atau dengan pihak non-penandatangan.

Haryomataram membagi HH menjadi 2 (dua) atura-aturan pokok, yaitu 1:

1. Hukum yang mengatur mengenai cara dan alat yang boleh dipakai untuk

berperang (Hukum Den Haag/ The Hague Laws);

2 Haryomataram, Sekelumit tentang Hukum Humanter, Sebelas Maret University Press, Surakarta, 1994, hlm 1.

1

1

Page 3: Bab I - USM

2. Hukum yang mengatur mengenai perlindungan terhadap kombatan dan penduduk

sipil dari akibat perang (Hukum Jenewa/ The Geneva Laws)

Sedangkan Mochtar Kusumaatmadja membagi hukum perang sebagai berikut2:

1. Jus ad bellum yaitu hukum tentang perang, mengatur tentang dalam hal

bagaimana negara dibenarkan menggunakan kekerasan bersenjata;

2. Jus in bello, yaitu hukum yang berlaku dalam perang, dibagi lagi menjadi 2 (dua)

yaitu:

a. Hukum yang mengatur cara dilakukannya perang (conduct of war). Bagian ini

biasanya disebut The Hague Laws.

b. Hukum yang mengatur perlindungan orang-orang yang menjadi korban perang.

Ini umumnya disebut The Geneva Laws.

Berdasarkan uraian diatas, maka HH terdiri dari dua aturan pokok, yaitu

Hukum DenHaag dan Hukum Jenewa3. Semula istilah yang digunakan adalah hukum

perang. Tetapi karena istilah perang tidak disukai, yang terutama disebabkan oleh trauma

Perang Dunia II yang menelan banyak korban, maka dilakukan upaya-upaya untuk

menghidarkan dan bahkan meniadakan perang. Upaya-upaya tersebut melalui 4:

1. Pembentukan LBB (Liga Bangsa-Bangsa). Karena para anggota organisasi ini

sepakat untuk menjamin perdamaian dan keamanan, maka p ara anggota

menerima kewajiban untuk tidak memilih jalan perang, bila mereka terlibat dalam

suatu permusuhan.

2. Usaha lain ialah terbentuknya Kellogg-Briand Pact atau disebut juga Paris Pact

tahun 1928. Secara resmi Pact ini disebut Treaty for The Renunciation of War.

Perjanjian ini ditandatangani oleh Jerman, Amerika Serikat, Belgia, Inggris,

Perancis, Italia, Jepang, Polandia dan Ceska. Di dalam preambul dinyatatakan

2 Haryomataram, Hukum Humaniter, CV Radjawali, Jakarta, 1994, hlm 2-3.3 Lihat The Federal Ministry of Defence of The Federal of Republic of Germany VR II 3, Humanitarian

Law in Armed Conflict, 1992, hlm 3.4 Haryomataram, Hukum Humaniter, op.cit, hlm 6.

2

Page 4: Bab I - USM

bahwa mereka menolak atau tidak mengajui perang sebagai alat politik nasional,

dan mereka sepakat akan mengubah hubungan mereka hanya dengan damai.

Sikap untuk menghindari perang berpengaruh dalam penggunaan istilah,

sehingga istilah hukum perang berubah menjadi Hukum Sengketa Bersenjata (Laws of

Armed Conflict)5. Istilah hukum sengketa bersenjata (Law of Armed Conflict) sebagai

pengganti hukum perang (Law of War) banyak dipakai dalam konvensi-konvensi Jeneva

1949 dan kedua Protokol Tambahan. Dalam perkembangan selanjutnya yaitu pada

permulaan abad ke-20, diusahakan untuk mengatur cara berperang yang konsepsi-

konsepsinya banyak dipengaruhi oleh asas kemanusiaan (humanity priciple).

Dengan adanya perkembangan baru ini maka istilah hukum sengketa bersenjata

mengalami perubahan lagi, yaitu diganti dengan istilah Hukum Humaniter yang berlaku

dalam sengketa bersenjata (International Humanitarian Law Applicable in Armed

Conflict) atau biasa disebut Hukum Humaniter Internasional (International

Humanitarian Law). Walaupun istilah yang digunakan berbeda-beda, yaitu Hukum

Perang, Hukum Sengketa Bersenjata dan Hukum Humaniter, namun istilah tersebut

memiliki arti yang sama.

Dalam kepustakaan hukum internasional istilah hukum humaniter merupakan

istilah yang dianggap relatif baru. Istilah ini lahir tahun 1970-an, ditandai dengan

diadakannya Conference of Government Expert on The Reaffirmation and Development

in Armed Conflict tahun 1971.

Sebagai bidang baru dalam hukum internasional, maka terdapat berbagai

rumusan atau definisi mengenai hukum humaniter dari para ahli dengan ruang

lingkupnya. Rumusan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Menurut Jean Pictet5 Hans Peter Gasser, International Humanitarian Law, Henry Dunant Institute, 1993, hlm 3.

3

Page 5: Bab I - USM

“International humanitarian law in the wide sense is constitutional legal provision

whether written and customary, ensuring respect for individual and his well being

2. Mochtar Kusumaatmadja mengemukakan bahwa hukum humaniter adalah:

“Bagian dari hukum yang mengatur ketentuan-ketentuan perlindungan korban

perang, berlainan dengan hukum perang yang mengatur perang itu sendiri dan

segala sesuatu yang menyangkut cara melakukan perang itu sendiri”

3. Geza Herzegh merumuskan hukum humaniter internasional sebagai berikut:

“Part of the rules of public international law which serve as the protection of

individuals in time of armed conflict. It’s place is beside the norm of warfare it is

closely related to them but must be clearly distinguish from these it’s purpose and

spirit being different”

4. Esbjorn Rosebland merumuskan hukum humaniter internasional dengan

mengadakan pembedaan antara:

The Law of Armed Conflict berhubungan dengan:

a.Permulaan dan berakhirnya pertikaian

b. Pendudukan wilayah lawan

c.Hubungan pihak bertikai dengan negara netral

Sedangkan law of Warfare ini antara lain mencakup:

a. Metoda dan sarana berperang

b. Status kombatan

c. Perlindungan yang sakit, tawanan perang dan orang sipil

5. Panitia Tetap (Pantap) Hukum Humaniter, Departemen Hukum dan Perundangan

undangan merumuskan sebagai berikut:

4

Page 6: Bab I - USM

“Hukum humaniter sebagai keseluruhan asas, kaidah dan ketentuan internasional

baik tertulis maupun tidak tertulis yang mencakup hukum perang dan hak asasi

manusia, bertujuan untuk menjamin penghormatan terhadap harkat dan martabak

seseorang”

Melihat pengertian dan atau definisi yang disebutkan di atas maka ruang

lingkupnya hukum humaniter dapat dikelompokkan dalam tiga kelompok, yaitu

aliran luas, aliran tengah dan aliran sempit. Jean Picket misalnya, menganut

pengertian hukum humaniter dalam arti luas, yaitu bahwa HH mencakup Hukum

Jenewa, Hukum Den Haag dan Hak Asasi Manusia. Sebaliknya Geza Herzegh

menganut aliran sempit, dimana menurutnya HH hanya menyangkut Hukum

Jenewa. Sedangkan Starke, menyatakan bahwa HH terdiri atas Hukum Jenewa

dan Hukum Den Haag6.

1.2. Asas-asas Hukum Humaniter

Dalam hukum humaniter dikenal ada tiga asas, yaitu:

1. Asas Kepentingan Militer (military necessity)

Berdasarkan asas ini maka pihak yang bersengketa dibenarkan menggunakan

kekerasan untuk menundukkan lawan demi tercapainya tujua dan keberhasilan

perang.

2. Asas Perikemanusiaan (humanity)

Berdasarkan asas ini maka pihak yang bersengketa diharuskan untuk

memperhatikan perikemanusiaan, dimana mereka dilarang untuk menggunakan

kekerasan yang dapat menimbulkan luka yang berlebihan atau penderitaan yang

tidak perlu.

3. Asas Ksatria (chivalry)

6 Haryomataram, op.cit, hlm 15-25.

5

Page 7: Bab I - USM

Asas ini mengandung arti bahwa di dalam perang, kejujuran harus diutamakan.

Penggunaan alat-alat yang tidak terhormat berbagai macam tipu muslihat dan

cara-cara yang bersifat khianat dilarang.

i

1.3. Tujuan

Hukum humaniter tidak dimaksudkan untuk melarang perang, karena dari sudut

pandang hukum humaniter, perang merupakan suatu kenyataan yang tidak dihindari.

Hukum humaniter mencoba untuk mengatur agar suatu perang dapat dilakukan dengan

lebih memperhatikan prinsip-prinsip perikemanusiaan. Mohammed bedjaoui mengatakan

bahwa tujuan hukum humaniter adalah memanusiawikan perang.

Ada beberapa tujuan hukum humaniter yang dapat dijumpai dalam berbagai

kepustakaan, antara lain sebagai berikut:

1. Memberikan perlindungan terhadap kombatan maupun penduduk sipil dari

penderitaan yang tidak perlu (unnecessary suffering).

2. Menjamin hak asasi manusia yang sangat fundamental bagi mereka yang jatuh

ke tangan musuh. Kombatan yang jatuh ke tangan musuh harus dilindungi dan

dirawat serta berhak diperlakukan sebagai tawanan perang.

3. Mencegah dilakukannya perang secara kejam tanpa mengenal batas. Disini

terpenting adalah asas perikemanusiaan 7 .

1.4. Asal Usul

Awalnya ada beberapa aturan yang tidak tertulis berdasarkan kebiasaan yang

mengatur tentang konflik bersenjata. Kemudian perjanjian-perjanjian bilateral (kartel)

yang kerincian aturannya berbeda-beda, perlahan-lahan mulai diberlakukan. Pihak-pihak

yang berperang kadangkala meratifikasinya setelah pertempuran berakhir. Ada juga

peraturan yang dikeluarkan oleh negara bagi pasukan-pasukannya. Kemudian hukum

yang dapat berlaku dalam konflik bersenjata adalah hukum yang terbatas baik dalam hal

waktu maupun tempat dan hukum itu sah hanya dalam satu pertempuran atau konflik

tertentu saja. Aturannya bervariasi tergantung pada masa, tempat, moral dan peradaban.

7 F rederic de Mullinen, Handbook on The Law of The War for Armed Forces, ICRC, Geneva, 1987, hlm 2.

6

Page 8: Bab I - USM

Ada dua orang yang memegang peranan penting dalam pembentukan hukum

humaniter, yaitu Henry Dunant dan Guillaume-Henri Dufour. Dunant memformulasikan

gagasannya dalam kenangan dari Solferino, diterbitkan pada tahun 1862. Berdasarkan

kekuatan pengalaman perang pribadinya, Jenderal Dufour mengggunakan tiap waktunya

untuk selalu memberikan dukungan moral secara aktif, salah satunya dengan memimpin

Konferensi Diplomatik tahun 1864.

Akan menjadi sebuah kesalahan bila mengklaim bahwa pendirian Palang Merah

tahun 1863 ataupun pengadopsian Konvensi Jenewa pertama tahun 1864 menandai

lahirnya hukum humaniter seperti yang dikenal sekarang ini.

Sebagaimana tidak ada satu masyarakat yang tidak memiliki seperangkat aturan

sendiri, demikian pula belum pernah ada perang yang tidak memiliki aturan jelas ataupun

samar-samar yang mengatur tentang mulai dan berakhirnya suatu permusuhan serta

dalam hal bagaimana perang itu dilaksanakan.

Secara keseluruhan, praktek-praktek berperang orang-orang primitif

menggambarkan aneka ragam jenis aturan perang internasional seperti yang diketahui.

Aturan pembedaan tipe musuh, aturan penentuan keadaan, kewenangan dan formalitas

untuk memulai dan mengakhiri perang, aturan pembatasan jumlah orang, waktu, tempat,

serta tata cara pelaksanaan dan pedoman berperilaku, bahkan aturan pencabutan atau

penghentian perang semua ada di dalamnya.

Hukum-hukum perang pertama telah diproklamsikan oleh sebagian besar

peradaban ribuan tahun sebelum masa sekarang. Banyak naskah kuno seperti

Mahabharata, Kitab Suci dan Al’Quran memuat aturan yang mendukung penghormatan

terhadap pihak lawan. Contoh, Viqayet, sebuah naskah yang ditulis pada akhir abad 13 di

masa kejayaan Negara Arab menguasai Spanyol, memuat sebuah pedoman perang yang

sesungguhnya. Konvensi tahun 1864 dalam bentuk perjanjian multilateral kemudian

dikodifikasi dan memperkuat hukum dan kebiasaan kuno yang terpencar dan terpisah

satu dengan lainnya untuk melindungi orang yang terluka dan mereka yang merawatnya.

7

Page 9: Bab I - USM

Bab III

PERJANJIAN-PERJANJIAN YANG MEMBENTUK HUKUMHUMANITER INTERNASIONAL

3.1. Kronologis Pengadopsian

Diawali dengan Konvensi Jenewa pertama tahun 1864, hukum humaniter yang

ada sekarang ini berkembang dalam berbagai tahap, seringkali disusun setelah sebuah

kejadian dimana Konvensi tersebut sangat dibutuhkan, untuk memenuhi perkembangan

kebutuhan akan bantuan kemanusiaan sebagai akibat dari berkembangnya persenjataan

dan konflik jenis baru.

3.2. Asal Usul Konvensi Den Haag 1899

Hukum Den Haag merupakan ketentuan hukum humaniter yang mengatur

mengenai cara dan alat berperang 11. Membicarakan Hukum Den Haag berarti

membicarakan hasil-hasil Konferensi Perdamaian I yang diadakan pada tahun 1899 dan

Konferensi Perdamaian II yang diadakan pada tahun 1907.

Konvensi Den Haag 1899

Konvensi-konvensi Den Haag tahun 1899 merupakan hasil Konferensi

Perdamaian I di Den Haag (18 Mei-29 Juli 1899)12. Konferensi ini merupakan prakarsa

Tsar Nicolas II dari Rusia yang berusaha mengulangi usaha pendahulunya Tsar

Alexander I yang menemui kegagalan dalam mewujudkan suatu Konferensi Internasional

di Brussel pada tahun 1874. Ide fundamental untuk menghidupkan lagi Konferensi

Internasional yang gagal itu adalah Rencana Konsepsi Persekutuan Suci (Holly Alliance

tanggal 26 September 1815 antara Austria, Prusia dan Rusia). Seperti diketahui bahwa

Quadruple Alliance yang ditandatangani oleh Austria, Prusia dan Inggris tanggal 20

September 1815 merupakan kelanjutan dari Kongres Wina September 1814-Juni 1815

merupakan kelanjutan dari Kongres Wina September 1814- Juni 1815 untuk

1 1 Arthur Nusbaum, Sejarah Hukum Internasional, Jilid I, Bina Cipta, Bandung, 1970 disadur oleh Sam Suhaedi Atmawiria, hlm 158.

12 Dietrich Schindler, The Laws of Armed Conflicts, Henry Dunant Institute, Genewa, 1981, hlm 49.

11

Page 10: Bab I - USM

mengevaluasi kembali keadaan di Eropa setelah Napoleon Bonaparte dikalahkan di

Waterloo tanggal 18 Juni 181513.

Konferensi yang dimulai pada tanggal 20 Mei 1899 itu berlangsung selama 2

bulan menghasilkan tiga konferensi dan tiga deklarasi pada tanggal 29 Juli 1899. Adapun

tiga konvensi yang dihasilkan adalah:

1. Konvensi I tentang Penyelesaian Damai Persengketaan Internasional

2. Konvensi II tentang Hukum dan Kebiasaan Perang di darat

3. Konvensi III tentang Adaptasi Azas-azas Konvensi Jenewa tanggal 22 Agustus

1864 tentang Hukum Perang Laut

Sedangkan tiga deklarasi yang dihasilkan adalah sebagai berikut:

1. Melarang penggunaan peluru yang bungkusnya tidak sempurna menutup bagian

dalam sehingga dapat pecah dan membesar dalam tubuh manusia.

2. Peluncuran proyektil dan bahan peledak dari balon, selama jangka lima tahun

yang berakhir di tahun 1905 juga dilarang.

3. Penggunaan proyektil yang menyebabkan gas-gas cekik dan beracun dilarang.

Konvensi –Konvensi Den Haag 1907

Konvensi-konvensi ini adalah merupakan hasil Konferensi Perdamaian ke II

sebagai kelanjutan dari Konferensi Perdamaian ke I tahun 1899 di Den Haag14. Dalam

hubungannya dengan ratifikasi Indonesia atas Konvensi-konvensi Den Haag pada tahun

1907 itu maka F Sugeng Istanto menjelaskan bahwa pada waktu berlangsungnya

Konferensi itu Indonesia masih bernama Hindia Belanda yang merupakan jajahan

Kerajaan Belanda sehingga ratifikasi yang ditetapkan oleh Kerajaan Belanda dengan

Undang-Undang (Wet) tanggal 1 Juli 1909 dan Keputusan Raja tanggal 22 Februari 1919

berlaku pula Hindia Belanda.

Ketika terjadi pengakuan kedaulatan oleh Kerajaan Belanda kepada Republik

Indonesia Serikat pada tanggal 27 Desember 1949, maka Hak dan Kewajiban Hindia

Belanda beralih kepada Republik Indonesia melalui Persetujuan Peralian yang

merupakan Lampira Induk Perjanjian KMB di Den Haag.

1 3 Marwati Djonoed Poeponegoro, Tokoh dan Peristiwa dalam Sejarah Eropa 1815-1945, Erlangga, Jakarta, 1982, hlm 132-282.

14 Haryomataram, op.cit, 1994, hlm 18.

12

Page 11: Bab I - USM

Ketika susunan negara mengalami perubahan dari Republik Indonesia Serikat

menjadi Republik Indonesia kesatuan, maka ketentuan peralihan UUDS 1950 telah

menjadi jembatan penghubung tetap sahnya ratifikasi itu, demikian juga ketika UUD

1945 berlaku kembali melalui Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1969, Pasal II Aturan

Peralihan telah menampung hal-hal yang belum diatur oleh UUD 1945 termasuk

Ratifikasi terhadap Konvensi Den Haag 1907 tersebut15.

3.3. Asal Usul Konvensi Jenewa 1949

Pada tahun 1874 sebuah Konferensi Diplomatik diselenggarakan di Brussels

atas inisiatif Kaisar Alexander II Rusia, mengadopsi sebuah Deklarasi Internasional

mengenai hukum-hukum dan kebiasaan perang. Naskahnya tidak diratifikasi

bagaimanapun juga karena beberapa negara yang hadir merasa berat untuk terikat dalam

sebuah perjanjian. Walaupun demikian, Rancangan Brussels menandai sebuah tahap

penting dalam pengkodifikasian hukum perang.

Pada tahun 1934, Konferensi Internasional Palang Merah ke-15 berlangsung di

Tokyo dan menyetujui naskah Konvensi Internasional mengenai kondisi dan

perlindungan bagi penduduk sipil yang memiliki kewarganegaraan musuh yang kebetulan

berada didaerah kekuasaan dari atau yang diduduki oleh salah satu negara yang

berperang, yang rancangannya disusun oleh ICRC. Tidak ada aksi yang diambil terhadap

rancangan naskah tersebut, pemerintah menolak untuk mengundang diadakannya

konferensi diplomatik untuk memutuskan pengadopsiannya. Sebagai hasilnya rancangan

Tokyo tidak diaplikasikan selama Perang Dunia Kedua dengan konsekuensi yang kita

semua mengetahuinya.

Empat konvensi Jenewa yaitu:

1. Perbaikan keadaan anggota angkatan bersenjata yang terluka dan sakit di medan

pertempuran darat.

2. Perbaikan keadaan anggota angkatan bersenjata di laut yang terluka, sakit dan

korban karam.

3. Perlakuan terhadap tawanan perang.1 5 F.Sugeng Istanto, Perlindungan Penduduk Sipil dalam Perlawanan Rakyat Semesta dan Hukum

Internasional, Andi Offset, Yogyakarta, 1992, hlm 183-184

13

Page 12: Bab I - USM

4. Perlindungan terhadap penduduk sipil pada waktu perang (baru).

3.4. Asal usul Protokol 1977

Konvensi Jenewa 1949 menandai suatu kemajuan pesat pada perkembangan

hukum humaniter. Setelah dekolonisasi, bgaimanapun juga ngara-negara baru mengalami

kesulitan untuk terikat dalam seperangkat aturan tertentu dimana mereka sendiri belum

merasa siap. Lebih jauh lagi, perjanjian yang mengatur perilaku pada waktu permusuhan

tidak dikembangkan sejak perjanjian Den Haag tahun 1907. Karena perevisian Konvensi

Jenewa mungkin menimbulkan ancaman bagi kemajuan-kemajuan yang dibuat tahun

1949, diputuskan untuk memperkuat perlindungan terhadap korban konflik bersenjata

dengan mengadopsi naskah baru dalam bentuk Protokol Tambahan untuk Konvensi

Jenewa.

14

Page 13: Bab I - USM

Bab IX

MEKANISME PENEGAKAN HUKUM HUMANITER

9.1. Perkembangan Dalam Hukum Humaniter

Salah satu aspek penting dari suatu kaidah hukum yaitu mengenai

penegakannya (law enforcement). Suatu perangkat hukum baru dapat dikatakan efektif

bila ia dapat diimplementasikan dan sanksinya dapat ditegakkan bila ada yang

melanggarnya. Untuk dapat ditegakkan maka di dalam perangkat hukum itu perlu ada

suatu mekanisme yang mengatur dan menetapkan bagaimana norma-norma itu dapat

ditegakkan.

Mekanisme penegakan Hukum Humaniter Internasional (HHI) dapat ditemukan

pada ketentuan-ketentuan yang terdapat pada Konvensi-konvensi Jenewa 1949, Protokol

Tambahan 1977 serta pada aturan-aturan lain yang mengatur mengenai mahkamah

kejahatan perang baik yang bersifat ad hoc maupun permanen.

9.2 Mekanisme Menurut Konvensi Jenewa 1949 dan Protokol tambahan 1977

Sebagaimana diketahui bahwa Pasal 1 Konvensi Jenewa memberikan kewajiban

bagi pihak peserta agung untuk menghormati dan menjamin penghormatan terhadap

Konvensi. Menghormati berarti negara bersangkutan harus melaksanakan ketentuan-

ketentuan yang ada di dalam Konvensi. Sedangkan menjamin penghormatan berarti

negara harus melakukan tindakan-tindakan yang diperlukan bila terjadi pelanggaran

terhadap ketentuan-ketentuan Konvensi, termasuk menjatuhkan sanksi bila diperlukan

(seperti Pasal 49 ayat (1)).

Berdasarkan ketentuan pasal tersebut di atas, maka negara yang telah

meratifikasi Konvensi Jenewa diwajibkan untuk menerbitkan suatu Undang-Undang

nasional yang memberikan sanksi pidana efekti kepada setiap orang yang melakukan atau

memerintah untuk melakukan pelanggaran berat terhadap Konvensi.

Mekanisme yang terdapat pada ketentuan ini adalah suatu mekanisme dimana

penegakan HHI yang dilaksanakan berdasarkan suatu proses peradilan nasional. Artinya,

bila terjadi kasus pelanggaran hukum humaniter maka si pelaku akan dituntut dan

60

Page 14: Bab I - USM

dihukum berdasarkan peraturan perundang-undangan nasional dan dengan menggunakan

mekanisme peradilan nasional yang bersangkutan.

Sejak awal ketika terjadi pelanggaran hukum humaniter atau ketika ada indikasi

mengambil tindakan yang diperlukan. Contoh, bila seorang prajurit melakukan

pelangaran HHI, maka Komandan atau atasannya harus mengambil tindakan yang

diperlukan untuk menghentikan pelanggaran tersebut dan bila perlu menjatumping hkan

hukuman kepada si pelaku.

Dalam ketentuan pasal 87 dinyatakan bahwa adanya komandan untuk

mencegah dan kalau perlu menghukum serta melaporkan kepada pihak yang berwenang

mengenai pelanggaran terhadap konvensi dan protokol. Kemudia pasal ayat 3 bahkan

ditekankan mengenai perlunya memberikan sanksi disiplin atau hukuman pidana kepada

mereka yang melanggar Konvensi dan Protokol.

Di lingkungan TNI bila ada seorang prajurit yang melakukan hukum humaniter

maka komandan atau atasan yang berwenang untuk menghukum, berkewajiban untuk

mengambil tindakan-tindakan sebagaimana yang dimaksud. Begitu seterusnya, sampai

kepada tingkat yang paling tinggi. Jika diperlukan, disamping menggunakan sistem

disiplin internal komando, maka institusi pengadilan (militer dan atau sipil) juga dapat

menjalankan fungsinya bagi tegaknya penghormatan terhadap ketentuan-ketentuan

hukum humaniter. Apabila mekanisme internal atau nasional ini tidak berfungsi atau

tidak difungsikan dengan baik, maka tahapan berikutnya kasus yang bersangkutan dapat

diambil alih oleh suatu mekanisme internasional (baik melalui pengadilan yang bersifat

ad hoc atau yang permanen).

Salah satu perkembangan baru yang terdapat dalam Protokol Tambahan 1977

antara lain mengenai mekanisme. Mekanisme yang dimaksud, yang dilakukan melalui

Komisi Internasional Pencari Fakta. Komisi pencari fakta merupakan penyempurnaan

atas ketentuan yang terdapat dalam Pasal 149 Konvensi IV yang mengatur mengenai

prosedur penyelidikan terhadap pelanggaran yang terjadi terhadap hukum humaniter atau

terhadap ketentuan-ketentuan Konvensi Jenewa62.

62 Arlina Permanasari, op.cit, hlm 184.

61

Page 15: Bab I - USM

9.3. Mahkamah Ad Hoc Kejahatan Perang

Dalam sejarah dikenal ada dua mahkamah yang mengadili penjahat perang

dunia II, yaitu Mahkamah Tokyo dan Mahkamah Nuremberg. Mahkamah Tokyo

dibentuk untuk mengadili para penjahat Jepang, sedangkan Mahkamah Nuremberg

dibentuk untuk mengadili para penjahat perang Nazi, Jerman.

Mahkamah Nuremberg dibentuk berdasarkan Piagam Nuremberg atau biasa

juga disebut dengan nama Piagam London. Sejak terbentuknya Mahkamah ini telah

menjatuhkan hukumannya kepada dua puluh empat tersangka. Ada tiga kategori

pelanggaran atau kejahatan yang menjadi yurisdiksi dari Mahkamah Nuremberg yaitu:

kejahatan terhadap perdamaian (crimes againts peace), kejahatan perang (war crimes),

dan kejahatan terhadap kemanusiaan (crimes againts humanity).

Pada Mahkamah Nuremberg ada empat orang Hakim ditambah dengan empat

hakim pengganti. Hakim-hakim tersebut berasal dari negara-negara yang menyusun

Statuta Mahkamah yaitu:

• Amerika Serikat : Francis Biddle, John Parker (pengganti)

• Inggris : Lord Justice Geoffrey Lawrence, Justice Norman Birkitt

(pengganti)

• Perancis : Prof. Donnedieu de Vabres, Judge R Falco

• Uni Sovyet : I.T. Niktchenko, Maj. Gen, A.F. Volchkof, Lt.Col

(pengganti)

Adapun mengenai penuntut atau prosecutor di Mahkamah Nuremberg ada

empat chief prosecutor yang masing-masing berasal dari keempat negara tersebut di atas.

Mahkamah penjahat perang Tokyo dibentuk pada tanggal 19 Januari 1946.

Nama resmi dari Mahkamah ini adalah International Military Tribunal for The Far East.

Berbeda dengan Mahkamah Nuremberg yang dibentuk Treaty yang disusun oleh

beberapa negara. Tokyo Tribunal dibentuk berdasarkan suatu pernyataan atau proklamasi

Komandan Tertinggi Pasukan Sekutu di Timur Jauh, Jenderal Douglas Mac Arthur.

Kemudian oleh Amerika Serikat disusun Piagam untuk Mahkamah ini yang pada

dasarnya mengacu kepada Piagam Mahkamah Nuremberg.

62

Page 16: Bab I - USM

Sama halnya dengan Mahkamah Nuremberg, Mahkamah Tokyo juga

mempunyai jurusdiksi terhadap tiga kejahatan, yaitu: kejahatan terhadap perdamaian

(crimes againts peace), kejahatan perang (war crimes), dan kejahatan terhadap

kemanusiaan (crimes againts humanity). Di dalam Piagam Mahkamah Tokyo dikatakan

bahwa alasan tindakan negara (Act of State) dan perintah atasan tidak dapat dijadikan

dasar untuk membebaskan tanggungjawab si pelaku, tetapi hal tersebut dapat dijadikan

dasar untuk mengurangi hukumannya. Hal yang sama juga diterapkan jika si pelaku

melakukan tindakan tersebut dalam kapasitanya sebagai pejabat resmi.

Pada Mahkamah Tokyo ini ada seorang chief prosecutor yang berasal dari

Amerika Serikat dan dibantu oleh sepuluh orang associate prosecutors. Setelah perang

dunia II selesai, kemudian telah dibentuk dua Mahkamah ad hoc lainnya yaitu Mahkamah

yang mengadili penjahat perang dieks- Yugoslavia serta di Rwanda. Perlu diketahui

bahwa pembentukan Mahkamah-mahkamah semacam itu adalah bersifat ad hoc atau

sementara, yang b erarti bahwa Mahkamah tersebut dibentuk untuk jangka waktu dan

daerah tertentu saja.

Mahkamah eks Yugoslavia dibentuk berdasarkan Resolusi Dewan Keamanan

PBB nomor 808 (22 Fabruari 1993) dan nomor 827 (25 Mei 1993). Perkembangan yang

terakhir kemudian Statuta Mahkamah eks Yugoslavia yang dibentuk berdasarkan

Resolusi DK-PBB No 827 tahun 1993 diamandemen oleh Resolusi DK PBB nomor 1166

tahun 1998.

Pasal 1 sampai dengan pasal 5 dari Statuta Mahkamah eks yugoslavia mengatur

mengenai kompetensi atau yurisdiksi mahkamah yaitu:

1. pelanggaran serius terhadap hukum humaniter

2. pelanggaran berat sebagaimana yang dimaksud dalam konvensi-konvensi Jenewa

1949

3. pelanggaran terhadap hukum dan kebiasaan perang

4. genocide

5. kejahatan terhadap kemanusiaan

Penjelasan dari pelanggaran atau kejahatan yang dimaksud di atas terdapat pada

Pasal-pasal yang mengaturnya. Misalnya, tentang pelanggaran berat. Statuta ini

63

Page 17: Bab I - USM

mengambil rumusan sebagaimana yang dimaksud dalam Konvensi Jenewa 1949. Begitu

juga misalnya apa yang dimaksud dengan kejahatan terhadap kemanusiaan (crimes

againts humanity) diuraikan pada ketentuan Pasal 5 Statuta.

Mahkamah eks Yugoslavia terdiri dari dua kamar (chambers) yaitu Trial

Chambers dan Appeals Chambers; Jaksa Penuntut Umum (Prosecutor) dan Panitera

(Registry). Hakim pada Trial Chamber berjumlah 3 orang sedangkan pada Appeals

Chamber hakimnya berjumlah 5 orang.

Mahkamah ad hoc lainnya yang telah dibentuk adalah mahkamah peradilan

kejahatan perang di Rwanda. Nama lengkap dari Mahkamah ini adalah International

Criminal tribunal for Rwanda (ICTR). Mahkamah ini dibentuk berdasarkan Resolusi

Dewan Keamanan PBB nomor 955 tanggal 8 November 1994. Tujuan dari dibentuknya

Mahkamah ini adalah untuk mengadili orang-orang yang melakukan genocide di Rwanda

dan mengadili warga negara Rwanda yang melakukan genocide dan serupa lainnya di

wilayah negara tetangga dan di Rwanda yang dilakukan antara 1 Januari 1994 sampai

dengan tanggal 31 Desember 1994.

Kompetensi Mahkamah Rwanda ditujukan untuk kejahatan-kejahatan sebagai

berikut:

1. Genocide

2. Crimes Againts Humanity

3. Pelanggaran terhadap pasal 3 ketentuan yang bersamaan dari Konvensi Jenewa

1949 dan Protokol Tambahan II 1977

Baik Mahkamah eks Yugoslavia maupun Mahkamah Rwanda menetapkan

individual criminal responsibility terhadap mereka yang melakukan kejahatan dan

atau pelanggaran sebagaimana yang dimaksud dalam Statuta. Adapun untuk hukum

acaranya maka ICTY menggunakan sistem common law, sedangkan ICTR

menggunakan campuran antara sistem civil law dan common law.

9.4 Mahkamah Pidana Internasional (International Criminal Court/ICC)

Pada bulan Juli 1998 masyarakat internasional mencatat suatu perkembangan

penting, yakni ketika disepakatinya. Statuta mahkamah pidana internasional

64

Page 18: Bab I - USM

(International Criminal Court selanjutnya ICC). Berbeda dengan Mahkamah ad hoc yang

telah dibentuk sebelumnya (misalnya Mahkamah Nuremberg, Tokyo, ICTY, dan ICTR),

maka ICC ini merupakan suatu mahkamah yang bersifat permanen.

Mahkamah ini dibentuk untuk mengadili orang-orang yang melakukan

kejahatan-kejahatan yang oleh masyarakat internasional dikategorikan sebagai kejahatan

serius sebagaimana ditetapkan dalam Statuta ICC, Mahkamah ini juga dibentuk sebagai

pelengkap (complementarity) dari mahkamah pidana nasional.

Mengenai complementarity tersebut merupakan hal yang penting. Maksudnya

adalah bahwa ICC baru menjalankan fungsinya apabila mahkamah nasional tidak dapat

menjalankan fungsinya dengan baik. Sehubungan dengan hal ini dalam Statuta dikatakan

bahwa ICC akan bekerja bila mahkamah nasional tidak mau (unwilling) dan tidak mampu

(unable) untuk mengadili pelaku kejahatan-kejahatan yang dimaksud. Dengan cara ini

berarti bila terjadi suatu kejahatan yang termasuk dalam yurisdiksi ICC, maka si pelaku

harus diadili dahulu oleh mahkamah nasionalnya. Bila mahkamah nasional tidak mau dan

atau tidak mampu mengadili si pelaku, maka barulah ICC akan menjalankan fungsinya

untuk mengadili si pelaku kejahatan yang bersangkutan.

Yurisdiksi ICC mencakup empat kejahatan yaitu kejahatan yang dikategorikan

sebgai the most serious crimes of concern to the international, yaitu64:

1. Genocide

2. Crimes againts humanity

3. War crimes

4. Crime of aggression

Tindakan-tindakan yang dapat dikategorikan sebagai genocide dijelaskan pada

pasal 6 Statuta ICC, yaitu tindakan yang ditujukan untuk memusnahkan seluruhnya

atau sebagian dari suatu bangsa, etnis, kelompok rasial atau agama tertentu. Yang

termasuk dalam kategori genocide menurut ketentuan Pasal ini adalah:

1. Killing members of the group

2. Causing serious bodily or mental harm to members of the group

6 4 Mc.Cormack Timothy LH, and gerry J Simpson, The Law of War Crimes national and International Approaches, Kluwer Law International, The hague, 1997, hlm 143.

65

Page 19: Bab I - USM

3. Deliberately inflicting on the group conditions of life calculated to bring about

it’s physical destruction in whole or in part

4. Imposing measures intended to prevent births within the group

5. Forcibly transferring children of the group to another group

Kejahatan-kejahatan yang dapat dikategorikan sebagai crimes againts humanity

dirumuskan secara lengkap dan rinci pada Pasal 7 Statuta ICC. Selanjutnya pasal 8

Statuta ICC menjelaskan apa yang dimaksud dengan war crimes, yaitu mencakup

pelanggaran berat sebagaimana yang dimaksud dalam Konvensi Jenewa dan

pelanggaran-pelanggaran serius lainnya terhadap hukum dan kebiasaan perang yang

diberlakukan pada sengketa bersenjata yang bersifat internasional dan non internasional.

Daftar dari kejahatan-kejahatan yang dimaksud secara lengkap diuraikan pada ketentuan

Pasal 8 Statuta ICC.

Mengenai crime of aggression belum dirumuskan secara lengkap di dalam

Statuta. Hanya pada pasal 5 ayat (2) dikatakan bahwa pelaksanaan yurisdiksi Mahkamah

terhadap kejahatan agresi ini akan dilaksanakan setelah diterimanya suatu ketentuan atau

pasal yang menentukan apa yang dimaksud dengan kejahatan tersebut serta syarat-syarat

apa yang diperlukan agar Mahkamah dapat melaksanakan yurisdiksinya atas kejahatan

agresi yang dimaksud.

Agar Mahkamah dapat melaksanakan yurisdiksinya maka negara yang

meratifikasi Statuta ICC menerima yurisdiksi Mahkamah. Ini berarti tindakan

meratifikasi Statuta ICC oleh suatu negara belum berarti bahwa Mahkamah dapat

melaksanakan yurisdiksinya di negara tersebut. Untuk itu masih diperlukan suatu

tindakan dari negara yang bersangkutan yang menyatakan bahwa negara tersebut

menerima yurisdiksi Mahkamah.

Hal ini antara lain diatur dalam Pasal 12 Statuta ICC. Beberapa asas pokok

hukum pidana diberlakukan menurut Statuta ini, misalnya tentang ne bis in idem, nullum

crimen sine lege, bulla poena sine lege, dan non retroactive.

66

Page 20: Bab I - USM

Seperti halnya dengan mahkamah yang lainnya, pada Statuta ICC ini juga

ditegaskan tentang tanggungjawab pidana individual (individual criminal responsibility).

Di samping itu pada Pasal 28 diatur mengenai tanggung jawab Komandan dan atasan

terhadap tindakan yang dilakukan oleh anak buah atau bawahannya.

67

Page 21: Bab I - USM

DAFTAR PUSTAKA

Andrey Sudjatmoko, 1999. Perlindungan Hak Asasi Manusia dalam Hukum Hak Asasi Manusia dan Hukum Humaniter Internasional, dalam Hukum Humaniter Kumpulan Tulisan, Pusat Studi Hukum Humaniter, fakultas Hukum, Universitas Trisakti, Jakarta.

Arlina Permanasari,dkk, 1999. Pengantar Hukum Humaniter, Internationak Committe of The Red Cross, Jakarta.

Arthur Nusbaum, Sejarah Hukum Internasional, Jilid I, Bina Cipta, Bandung, 1970 disadur oleh Sam Suhaedi Atmawiria.

Barda Nawawi Arief, 2004. Kebijakan Formulatif Kejahatan Perang Dalam Hukum Pidana, Makalah Masalah-Masalah Hukum, FH UNDIP, Semarang.

Dadang Siswanto, 2006. Formulasi Kejahatan Perang ke Dalam Hukum Nasional, Pengembangan Bahan Ajar Hukum Internasional.

Dietrich Schindler. 1981. The Laws of Armed Conflicts, Henry Dunant Institute, Genewa.

F.Sugeng Istanto. 1992. Perlindungan Penduduk Sipil dalam Perlawanan Rakyat Semesta dan Hukum Internasional, Andi Offset, Yogyakarta.

Frederic de Mullinen. 1987. Handbook on The Law of The War for Armed Forces, ICRC, Geneva.

Frits Kalshoven. 1991. Constraints on the Waging of War, Second Ed, ICRC, Geneva.

Hans-Peter, Gasser. 1993. International Humanitarian Law, An Introduction, Paul Haupt Publisher, Berne- Stuttgart-Vienna.

Hans Peter Gasser. 1993. International Humanitarian Law, Henry Dunant Institute.

Haryomataram. 1994. Sekelumit tentang Hukum Humanter, Sebelas Maret University Press, Surakarta.

\Haryomataram.1994. Hukum Humaniter, CV Radjawali, Jakarta.

Haryomataram.1988. Bunga Rampai Hukum Humaniter, Bumi Nusantara Jaya.

Horst Seibt,1994. Compendium of Case of International Humanitarian Law, ICRC Publication.

80

Page 22: Bab I - USM

International Commitee of the Red Cross, 1983. Understanding Humanitarian Law Basic Rules of Geneva Conventions and their Additional conventions and their Protocols, ICRC, Geneva.

Jamchid Momtaz, 1998. The Minimum Humanitarian Rules applicable in Periods of Internal Tension dalam International Review of The Red Cross, Special Edition, September.

Jean Piclet, 1985. Development and Principles of Intternational Humanitarian Law, Martinus Nijhoff Publisher.

J.G Starke. 1989. Introduction to International Law, Teenth Edition, Butterworth.

Marion Harrof Tavel, 1993. Action Taken by The International Comitte of The red Cross dalam Situation of International Violance, ICRC, No 294, May-June.

Marwati Djonoed Poeponegoro, 1982. Tokoh dan Peristiwa dalam Sejarah Eropa 1815-1945, Erlangga, Jakarta.

Masjhur Effendi, 1995. Moch Ridwan, Muslich Subandi, Pengantar dan Dasar-dasar Hukum Internasional, IKIP, Malang.

Mc.Cormack Timothy LH, and gerry J Simpson, 1997. The Law of War Crimes national and International Approaches, Kluwer Law International, The Hague.

Mochtar Kusumaatmadja, 1980. Hukum Internasional Humaniter dalam Pelaksanaan dan Penerapannya di Indonesia

Pictet, Jean, 1985. Development and Principles on International Humanitarian Law, Martinus Nijhoff Publishers.

Schindler Dietrich & Jiri Toman. 1981. The Laws of Armed Conflict: A Collection of Conventions, Resolutions and Other Document, Henry Dunant Institute, Geneva.

The Federal Ministry of Defence of The Federal of Republic of Germany VR II 3, 1992, Humanitarian Law in Armed Conflict.

81