bab i - usm

of 22 /22
KATA PENGANTAR Menghormati martabat manusia merupakan prinsip dasar dari Konvensi- konvensi Jenewa. Orang-orang yang tidak turut serta secara aktif dalam pertikaian, termasuk yang tidak lagi turut serta karena cedera, sakit, tertawan ataupun sebab lainnya harus diperlakukan secara manusiawi dan dilindungi terhadap kejahatan perang. Bantuan dan perawatan harus diberikan kepada para korban tanpa diskriminsi apapun. Protokol-protokol tambahan memperluas perlindungan tersebut untuk korban pertikaian bersenjatan dan pihak militer dan sipil. Selanjutnya, penyerangan yang diarahkan ke rakyat sipil maupun sasaran sipil dilarang, dan setiap pihak yang terlibat dalam pertikaian serta pasukan tempurnya diwajibkan untuk menjalankan peperangan sesuai dengan peraturan-peraturan hukum humaniter yang telah disepakati. Ide penulisan buku diatas timbul karena wujud kepedulian yang besar terhadap masalah hak asasi manusia. Disamping itu untuk mempermudah para mahasiswa untuk memberikan kesempatan serta minat mahasiswa untuk mempelajari lebih dalam lagi. Buku ini tersusun tentu saja tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Untuk itu perlu kami sampaikan terimakasih atas bantuannya hingga diterbitkannya buku ini. Diakui pula oleh kami bahwa buku ini masih terdapat kekurangannya, maka dari itu kami membutuhkan saran-saran yang membangun terhadap kesempurnaan buku ini nantinya. Semoga buku ini bermanfaat bagi pengembangan masalah hukum, khususnya hukum humaniter internasional. Akhir kata sekali lagi kami sampaikan terimakasih. Semarang, Desember 2011-12-21 Penyusun i

Author: others

Post on 17-Oct-2021

0 views

Category:

Documents


0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

konvensi Jenewa. Orang-orang yang tidak turut serta secara aktif dalam pertikaian,
termasuk yang tidak lagi turut serta karena cedera, sakit, tertawan ataupun sebab lainnya
harus diperlakukan secara manusiawi dan dilindungi terhadap kejahatan perang. Bantuan
dan perawatan harus diberikan kepada para korban tanpa diskriminsi apapun.
Protokol-protokol tambahan memperluas perlindungan tersebut untuk korban
pertikaian bersenjatan dan pihak militer dan sipil. Selanjutnya, penyerangan yang
diarahkan ke rakyat sipil maupun sasaran sipil dilarang, dan setiap pihak yang terlibat
dalam pertikaian serta pasukan tempurnya diwajibkan untuk menjalankan peperangan
sesuai dengan peraturan-peraturan hukum humaniter yang telah disepakati.
Ide penulisan buku diatas timbul karena wujud kepedulian yang besar terhadap
masalah hak asasi manusia. Disamping itu untuk mempermudah para mahasiswa untuk
memberikan kesempatan serta minat mahasiswa untuk mempelajari lebih dalam lagi.
Buku ini tersusun tentu saja tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Untuk itu
perlu kami sampaikan terimakasih atas bantuannya hingga diterbitkannya buku ini.
Diakui pula oleh kami bahwa buku ini masih terdapat kekurangannya, maka dari itu kami
membutuhkan saran-saran yang membangun terhadap kesempurnaan buku ini nantinya.
Semoga buku ini bermanfaat bagi pengembangan masalah hukum, khususnya hukum
humaniter internasional.
Semarang, Desember 2011-12-21
Istilah hukum humaniter atau lengkapnya disebut international humanitarian law
applicable in armed conflict berawal dari istilah hukum perang (laws of war), yang
kemudian berkembang menjadi hukum sengketa bersenjata (laws of armed conflict), yang
akhirnya pada saat ini biasa dikenal dengan istilah hukum humaniter atau hukum
humaniter internasional.2
Hukum Humaniter (HH), sering kali juga disebut sebagai hukum-hukum dan
kebiasaan-kebiasaan perang, atau hukum konflik bersenjata, adalah batang tubuh hukum
yang mencakup Konvensi Jenewa dan Konvensi Den Haag beserta perjanjian-perjanjian,
yurisprudensi, dan Hukum Internasional Kebiasaan yang mengikutinya. HH menetapkan
perilaku dan tanggung jawab negara-negara yang berperang, negara-negara netral, dan
individu-individu yang terlibat peperangan, yaitu terhadap satu sama lain dan terhadap
orang-orang yang dilindungi, biasanya berarti orang sipil.
HH adalah wajib bagi negara yang terikat oleh perjanjian-perjanjian yang
relevan dalam hukum tersebut. Ada juga sejumlah aturan perang tak tertulis yang
merupakan kebiasaan, yang banyak di antaranya dieksplorasi dalam Persidangan
Mahkamah Perang Nuremberg. Dalam pengertian yang diperluas, aturan-aturan tak
tertulis ini juga menetapkan sejumlah hak permisif serta sejumlah larangan perilaku bagi
negara-negara yang berperang bila mereka berurusan dengan pasukan yang tidak reguler
atau dengan pihak non-penandatangan.
Haryomataram membagi HH menjadi 2 (dua) atura-aturan pokok, yaitu 1:
1. Hukum yang mengatur mengenai cara dan alat yang boleh dipakai untuk
berperang (Hukum Den Haag/ The Hague Laws);
2 Haryomataram, Sekelumit tentang Hukum Humanter, Sebelas Maret University Press, Surakarta, 1994, hlm 1.
1
1
2. Hukum yang mengatur mengenai perlindungan terhadap kombatan dan penduduk
sipil dari akibat perang (Hukum Jenewa/ The Geneva Laws)
Sedangkan Mochtar Kusumaatmadja membagi hukum perang sebagai berikut2:
1. Jus ad bellum yaitu hukum tentang perang, mengatur tentang dalam hal
bagaimana negara dibenarkan menggunakan kekerasan bersenjata;
2. Jus in bello, yaitu hukum yang berlaku dalam perang, dibagi lagi menjadi 2 (dua)
yaitu:
a. Hukum yang mengatur cara dilakukannya perang (conduct of war). Bagian ini
biasanya disebut The Hague Laws.
b. Hukum yang mengatur perlindungan orang-orang yang menjadi korban perang.
Ini umumnya disebut The Geneva Laws.
Berdasarkan uraian diatas, maka HH terdiri dari dua aturan pokok, yaitu
Hukum DenHaag dan Hukum Jenewa3. Semula istilah yang digunakan adalah hukum
perang. Tetapi karena istilah perang tidak disukai, yang terutama disebabkan oleh trauma
Perang Dunia II yang menelan banyak korban, maka dilakukan upaya-upaya untuk
menghidarkan dan bahkan meniadakan perang. Upaya-upaya tersebut melalui 4:
1. Pembentukan LBB (Liga Bangsa-Bangsa). Karena para anggota organisasi ini
sepakat untuk menjamin perdamaian dan keamanan, maka p ara anggota
menerima kewajiban untuk tidak memilih jalan perang, bila mereka terlibat dalam
suatu permusuhan.
2. Usaha lain ialah terbentuknya Kellogg-Briand Pact atau disebut juga Paris Pact
tahun 1928. Secara resmi Pact ini disebut Treaty for The Renunciation of War.
Perjanjian ini ditandatangani oleh Jerman, Amerika Serikat, Belgia, Inggris,
Perancis, Italia, Jepang, Polandia dan Ceska. Di dalam preambul dinyatatakan
2 Haryomataram, Hukum Humaniter, CV Radjawali, Jakarta, 1994, hlm 2-3. 3 Lihat The Federal Ministry of Defence of The Federal of Republic of Germany VR II 3, Humanitarian
Law in Armed Conflict, 1992, hlm 3. 4 Haryomataram, Hukum Humaniter, op.cit, hlm 6.
2
bahwa mereka menolak atau tidak mengajui perang sebagai alat politik nasional,
dan mereka sepakat akan mengubah hubungan mereka hanya dengan damai.
Sikap untuk menghindari perang berpengaruh dalam penggunaan istilah,
sehingga istilah hukum perang berubah menjadi Hukum Sengketa Bersenjata (Laws of
Armed Conflict)5. Istilah hukum sengketa bersenjata (Law of Armed Conflict) sebagai
pengganti hukum perang (Law of War) banyak dipakai dalam konvensi-konvensi Jeneva
1949 dan kedua Protokol Tambahan. Dalam perkembangan selanjutnya yaitu pada
permulaan abad ke-20, diusahakan untuk mengatur cara berperang yang konsepsi-
konsepsinya banyak dipengaruhi oleh asas kemanusiaan (humanity priciple).
Dengan adanya perkembangan baru ini maka istilah hukum sengketa bersenjata
mengalami perubahan lagi, yaitu diganti dengan istilah Hukum Humaniter yang berlaku
dalam sengketa bersenjata (International Humanitarian Law Applicable in Armed
Conflict) atau biasa disebut Hukum Humaniter Internasional (International
Humanitarian Law). Walaupun istilah yang digunakan berbeda-beda, yaitu Hukum
Perang, Hukum Sengketa Bersenjata dan Hukum Humaniter, namun istilah tersebut
memiliki arti yang sama.
Dalam kepustakaan hukum internasional istilah hukum humaniter merupakan
istilah yang dianggap relatif baru. Istilah ini lahir tahun 1970-an, ditandai dengan
diadakannya Conference of Government Expert on The Reaffirmation and Development
in Armed Conflict tahun 1971.
Sebagai bidang baru dalam hukum internasional, maka terdapat berbagai
rumusan atau definisi mengenai hukum humaniter dari para ahli dengan ruang
lingkupnya. Rumusan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Menurut Jean Pictet 5 Hans Peter Gasser, International Humanitarian Law, Henry Dunant Institute, 1993, hlm 3.
3
“International humanitarian law in the wide sense is constitutional legal provision
whether written and customary, ensuring respect for individual and his well being
2. Mochtar Kusumaatmadja mengemukakan bahwa hukum humaniter adalah:
“Bagian dari hukum yang mengatur ketentuan-ketentuan perlindungan korban
perang, berlainan dengan hukum perang yang mengatur perang itu sendiri dan
segala sesuatu yang menyangkut cara melakukan perang itu sendiri”
3. Geza Herzegh merumuskan hukum humaniter internasional sebagai berikut:
“Part of the rules of public international law which serve as the protection of
individuals in time of armed conflict. It’s place is beside the norm of warfare it is
closely related to them but must be clearly distinguish from these it’s purpose and
spirit being different”
mengadakan pembedaan antara:
a.Permulaan dan berakhirnya pertikaian
b. Pendudukan wilayah lawan
Sedangkan law of Warfare ini antara lain mencakup:
a. Metoda dan sarana berperang
b. Status kombatan
5. Panitia Tetap (Pantap) Hukum Humaniter, Departemen Hukum dan Perundangan
undangan merumuskan sebagai berikut:
“Hukum humaniter sebagai keseluruhan asas, kaidah dan ketentuan internasional
baik tertulis maupun tidak tertulis yang mencakup hukum perang dan hak asasi
manusia, bertujuan untuk menjamin penghormatan terhadap harkat dan martabak
seseorang”
Melihat pengertian dan atau definisi yang disebutkan di atas maka ruang
lingkupnya hukum humaniter dapat dikelompokkan dalam tiga kelompok, yaitu
aliran luas, aliran tengah dan aliran sempit. Jean Picket misalnya, menganut
pengertian hukum humaniter dalam arti luas, yaitu bahwa HH mencakup Hukum
Jenewa, Hukum Den Haag dan Hak Asasi Manusia. Sebaliknya Geza Herzegh
menganut aliran sempit, dimana menurutnya HH hanya menyangkut Hukum
Jenewa. Sedangkan Starke, menyatakan bahwa HH terdiri atas Hukum Jenewa
dan Hukum Den Haag6.
1.2. Asas-asas Hukum Humaniter
1. Asas Kepentingan Militer (military necessity)
Berdasarkan asas ini maka pihak yang bersengketa dibenarkan menggunakan
kekerasan untuk menundukkan lawan demi tercapainya tujua dan keberhasilan
perang.
memperhatikan perikemanusiaan, dimana mereka dilarang untuk menggunakan
kekerasan yang dapat menimbulkan luka yang berlebihan atau penderitaan yang
tidak perlu.
5
Asas ini mengandung arti bahwa di dalam perang, kejujuran harus diutamakan.
Penggunaan alat-alat yang tidak terhormat berbagai macam tipu muslihat dan
cara-cara yang bersifat khianat dilarang.
i
Hukum humaniter tidak dimaksudkan untuk melarang perang, karena dari sudut
pandang hukum humaniter, perang merupakan suatu kenyataan yang tidak dihindari.
Hukum humaniter mencoba untuk mengatur agar suatu perang dapat dilakukan dengan
lebih memperhatikan prinsip-prinsip perikemanusiaan. Mohammed bedjaoui mengatakan
bahwa tujuan hukum humaniter adalah memanusiawikan perang.
Ada beberapa tujuan hukum humaniter yang dapat dijumpai dalam berbagai
kepustakaan, antara lain sebagai berikut:
1. Memberikan perlindungan terhadap kombatan maupun penduduk sipil dari
penderitaan yang tidak perlu (unnecessary suffering).
2. Menjamin hak asasi manusia yang sangat fundamental bagi mereka yang jatuh
ke tangan musuh. Kombatan yang jatuh ke tangan musuh harus dilindungi dan
dirawat serta berhak diperlakukan sebagai tawanan perang.
3. Mencegah dilakukannya perang secara kejam tanpa mengenal batas. Disini
terpenting adalah asas perikemanusiaan 7 .
1.4. Asal Usul
Awalnya ada beberapa aturan yang tidak tertulis berdasarkan kebiasaan yang
mengatur tentang konflik bersenjata. Kemudian perjanjian-perjanjian bilateral (kartel)
yang kerincian aturannya berbeda-beda, perlahan-lahan mulai diberlakukan. Pihak-pihak
yang berperang kadangkala meratifikasinya setelah pertempuran berakhir. Ada juga
peraturan yang dikeluarkan oleh negara bagi pasukan-pasukannya. Kemudian hukum
yang dapat berlaku dalam konflik bersenjata adalah hukum yang terbatas baik dalam hal
waktu maupun tempat dan hukum itu sah hanya dalam satu pertempuran atau konflik
tertentu saja. Aturannya bervariasi tergantung pada masa, tempat, moral dan peradaban.
7 F rederic de Mullinen, Handbook on The Law of The War for Armed Forces, ICRC, Geneva, 1987, hlm 2.
6
Ada dua orang yang memegang peranan penting dalam pembentukan hukum
humaniter, yaitu Henry Dunant dan Guillaume-Henri Dufour. Dunant memformulasikan
gagasannya dalam kenangan dari Solferino, diterbitkan pada tahun 1862. Berdasarkan
kekuatan pengalaman perang pribadinya, Jenderal Dufour mengggunakan tiap waktunya
untuk selalu memberikan dukungan moral secara aktif, salah satunya dengan memimpin
Konferensi Diplomatik tahun 1864.
Akan menjadi sebuah kesalahan bila mengklaim bahwa pendirian Palang Merah
tahun 1863 ataupun pengadopsian Konvensi Jenewa pertama tahun 1864 menandai
lahirnya hukum humaniter seperti yang dikenal sekarang ini.
Sebagaimana tidak ada satu masyarakat yang tidak memiliki seperangkat aturan
sendiri, demikian pula belum pernah ada perang yang tidak memiliki aturan jelas ataupun
samar-samar yang mengatur tentang mulai dan berakhirnya suatu permusuhan serta
dalam hal bagaimana perang itu dilaksanakan.
Secara keseluruhan, praktek-praktek berperang orang-orang primitif
menggambarkan aneka ragam jenis aturan perang internasional seperti yang diketahui.
Aturan pembedaan tipe musuh, aturan penentuan keadaan, kewenangan dan formalitas
untuk memulai dan mengakhiri perang, aturan pembatasan jumlah orang, waktu, tempat,
serta tata cara pelaksanaan dan pedoman berperilaku, bahkan aturan pencabutan atau
penghentian perang semua ada di dalamnya.
Hukum-hukum perang pertama telah diproklamsikan oleh sebagian besar
peradaban ribuan tahun sebelum masa sekarang. Banyak naskah kuno seperti
Mahabharata, Kitab Suci dan Al’Quran memuat aturan yang mendukung penghormatan
terhadap pihak lawan. Contoh, Viqayet, sebuah naskah yang ditulis pada akhir abad 13 di
masa kejayaan Negara Arab menguasai Spanyol, memuat sebuah pedoman perang yang
sesungguhnya. Konvensi tahun 1864 dalam bentuk perjanjian multilateral kemudian
dikodifikasi dan memperkuat hukum dan kebiasaan kuno yang terpencar dan terpisah
satu dengan lainnya untuk melindungi orang yang terluka dan mereka yang merawatnya.
7
3.1. Kronologis Pengadopsian
Diawali dengan Konvensi Jenewa pertama tahun 1864, hukum humaniter yang
ada sekarang ini berkembang dalam berbagai tahap, seringkali disusun setelah sebuah
kejadian dimana Konvensi tersebut sangat dibutuhkan, untuk memenuhi perkembangan
kebutuhan akan bantuan kemanusiaan sebagai akibat dari berkembangnya persenjataan
dan konflik jenis baru.
Hukum Den Haag merupakan ketentuan hukum humaniter yang mengatur
mengenai cara dan alat berperang 11. Membicarakan Hukum Den Haag berarti
membicarakan hasil-hasil Konferensi Perdamaian I yang diadakan pada tahun 1899 dan
Konferensi Perdamaian II yang diadakan pada tahun 1907.
Konvensi Den Haag 1899
Konvensi-konvensi Den Haag tahun 1899 merupakan hasil Konferensi
Perdamaian I di Den Haag (18 Mei-29 Juli 1899)12. Konferensi ini merupakan prakarsa
Tsar Nicolas II dari Rusia yang berusaha mengulangi usaha pendahulunya Tsar
Alexander I yang menemui kegagalan dalam mewujudkan suatu Konferensi Internasional
di Brussel pada tahun 1874. Ide fundamental untuk menghidupkan lagi Konferensi
Internasional yang gagal itu adalah Rencana Konsepsi Persekutuan Suci (Holly Alliance
tanggal 26 September 1815 antara Austria, Prusia dan Rusia). Seperti diketahui bahwa
Quadruple Alliance yang ditandatangani oleh Austria, Prusia dan Inggris tanggal 20
September 1815 merupakan kelanjutan dari Kongres Wina September 1814-Juni 1815
merupakan kelanjutan dari Kongres Wina September 1814- Juni 1815 untuk
1 1 Arthur Nusbaum, Sejarah Hukum Internasional, Jilid I, Bina Cipta, Bandung, 1970 disadur oleh Sam Suhaedi Atmawiria, hlm 158.
12 Dietrich Schindler, The Laws of Armed Conflicts, Henry Dunant Institute, Genewa, 1981, hlm 49.
11
mengevaluasi kembali keadaan di Eropa setelah Napoleon Bonaparte dikalahkan di
Waterloo tanggal 18 Juni 181513.
Konferensi yang dimulai pada tanggal 20 Mei 1899 itu berlangsung selama 2
bulan menghasilkan tiga konferensi dan tiga deklarasi pada tanggal 29 Juli 1899. Adapun
tiga konvensi yang dihasilkan adalah:
1. Konvensi I tentang Penyelesaian Damai Persengketaan Internasional
2. Konvensi II tentang Hukum dan Kebiasaan Perang di darat
3. Konvensi III tentang Adaptasi Azas-azas Konvensi Jenewa tanggal 22 Agustus
1864 tentang Hukum Perang Laut
Sedangkan tiga deklarasi yang dihasilkan adalah sebagai berikut:
1. Melarang penggunaan peluru yang bungkusnya tidak sempurna menutup bagian
dalam sehingga dapat pecah dan membesar dalam tubuh manusia.
2. Peluncuran proyektil dan bahan peledak dari balon, selama jangka lima tahun
yang berakhir di tahun 1905 juga dilarang.
3. Penggunaan proyektil yang menyebabkan gas-gas cekik dan beracun dilarang.
Konvensi –Konvensi Den Haag 1907
Konvensi-konvensi ini adalah merupakan hasil Konferensi Perdamaian ke II
sebagai kelanjutan dari Konferensi Perdamaian ke I tahun 1899 di Den Haag14. Dalam
hubungannya dengan ratifikasi Indonesia atas Konvensi-konvensi Den Haag pada tahun
1907 itu maka F Sugeng Istanto menjelaskan bahwa pada waktu berlangsungnya
Konferensi itu Indonesia masih bernama Hindia Belanda yang merupakan jajahan
Kerajaan Belanda sehingga ratifikasi yang ditetapkan oleh Kerajaan Belanda dengan
Undang-Undang (Wet) tanggal 1 Juli 1909 dan Keputusan Raja tanggal 22 Februari 1919
berlaku pula Hindia Belanda.
Ketika terjadi pengakuan kedaulatan oleh Kerajaan Belanda kepada Republik
Indonesia Serikat pada tanggal 27 Desember 1949, maka Hak dan Kewajiban Hindia
Belanda beralih kepada Republik Indonesia melalui Persetujuan Peralian yang
merupakan Lampira Induk Perjanjian KMB di Den Haag.
1 3 Marwati Djonoed Poeponegoro, Tokoh dan Peristiwa dalam Sejarah Eropa 1815-1945, Erlangga, Jakarta, 1982, hlm 132-282.
14 Haryomataram, op.cit, 1994, hlm 18.
12
menjadi Republik Indonesia kesatuan, maka ketentuan peralihan UUDS 1950 telah
menjadi jembatan penghubung tetap sahnya ratifikasi itu, demikian juga ketika UUD
1945 berlaku kembali melalui Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1969, Pasal II Aturan
Peralihan telah menampung hal-hal yang belum diatur oleh UUD 1945 termasuk
Ratifikasi terhadap Konvensi Den Haag 1907 tersebut15.
3.3. Asal Usul Konvensi Jenewa 1949
Pada tahun 1874 sebuah Konferensi Diplomatik diselenggarakan di Brussels
atas inisiatif Kaisar Alexander II Rusia, mengadopsi sebuah Deklarasi Internasional
mengenai hukum-hukum dan kebiasaan perang. Naskahnya tidak diratifikasi
bagaimanapun juga karena beberapa negara yang hadir merasa berat untuk terikat dalam
sebuah perjanjian. Walaupun demikian, Rancangan Brussels menandai sebuah tahap
penting dalam pengkodifikasian hukum perang.
Pada tahun 1934, Konferensi Internasional Palang Merah ke-15 berlangsung di
Tokyo dan menyetujui naskah Konvensi Internasional mengenai kondisi dan
perlindungan bagi penduduk sipil yang memiliki kewarganegaraan musuh yang kebetulan
berada didaerah kekuasaan dari atau yang diduduki oleh salah satu negara yang
berperang, yang rancangannya disusun oleh ICRC. Tidak ada aksi yang diambil terhadap
rancangan naskah tersebut, pemerintah menolak untuk mengundang diadakannya
konferensi diplomatik untuk memutuskan pengadopsiannya. Sebagai hasilnya rancangan
Tokyo tidak diaplikasikan selama Perang Dunia Kedua dengan konsekuensi yang kita
semua mengetahuinya.
Empat konvensi Jenewa yaitu:
1. Perbaikan keadaan anggota angkatan bersenjata yang terluka dan sakit di medan
pertempuran darat.
2. Perbaikan keadaan anggota angkatan bersenjata di laut yang terluka, sakit dan
korban karam.
3. Perlakuan terhadap tawanan perang. 1 5 F.Sugeng Istanto, Perlindungan Penduduk Sipil dalam Perlawanan Rakyat Semesta dan Hukum
Internasional, Andi Offset, Yogyakarta, 1992, hlm 183-184
13
3.4. Asal usul Protokol 1977
Konvensi Jenewa 1949 menandai suatu kemajuan pesat pada perkembangan
hukum humaniter. Setelah dekolonisasi, bgaimanapun juga ngara-negara baru mengalami
kesulitan untuk terikat dalam seperangkat aturan tertentu dimana mereka sendiri belum
merasa siap. Lebih jauh lagi, perjanjian yang mengatur perilaku pada waktu permusuhan
tidak dikembangkan sejak perjanjian Den Haag tahun 1907. Karena perevisian Konvensi
Jenewa mungkin menimbulkan ancaman bagi kemajuan-kemajuan yang dibuat tahun
1949, diputuskan untuk memperkuat perlindungan terhadap korban konflik bersenjata
dengan mengadopsi naskah baru dalam bentuk Protokol Tambahan untuk Konvensi
Jenewa.
14
Salah satu aspek penting dari suatu kaidah hukum yaitu mengenai
penegakannya (law enforcement). Suatu perangkat hukum baru dapat dikatakan efektif
bila ia dapat diimplementasikan dan sanksinya dapat ditegakkan bila ada yang
melanggarnya. Untuk dapat ditegakkan maka di dalam perangkat hukum itu perlu ada
suatu mekanisme yang mengatur dan menetapkan bagaimana norma-norma itu dapat
ditegakkan.
Tambahan 1977 serta pada aturan-aturan lain yang mengatur mengenai mahkamah
kejahatan perang baik yang bersifat ad hoc maupun permanen.
9.2 Mekanisme Menurut Konvensi Jenewa 1949 dan Protokol tambahan 1977
Sebagaimana diketahui bahwa Pasal 1 Konvensi Jenewa memberikan kewajiban
bagi pihak peserta agung untuk menghormati dan menjamin penghormatan terhadap
Konvensi. Menghormati berarti negara bersangkutan harus melaksanakan ketentuan-
ketentuan yang ada di dalam Konvensi. Sedangkan menjamin penghormatan berarti
negara harus melakukan tindakan-tindakan yang diperlukan bila terjadi pelanggaran
terhadap ketentuan-ketentuan Konvensi, termasuk menjatuhkan sanksi bila diperlukan
(seperti Pasal 49 ayat (1)).
Berdasarkan ketentuan pasal tersebut di atas, maka negara yang telah
meratifikasi Konvensi Jenewa diwajibkan untuk menerbitkan suatu Undang-Undang
nasional yang memberikan sanksi pidana efekti kepada setiap orang yang melakukan atau
memerintah untuk melakukan pelanggaran berat terhadap Konvensi.
Mekanisme yang terdapat pada ketentuan ini adalah suatu mekanisme dimana
penegakan HHI yang dilaksanakan berdasarkan suatu proses peradilan nasional. Artinya,
bila terjadi kasus pelanggaran hukum humaniter maka si pelaku akan dituntut dan
60
mekanisme peradilan nasional yang bersangkutan.
Sejak awal ketika terjadi pelanggaran hukum humaniter atau ketika ada indikasi
mengambil tindakan yang diperlukan. Contoh, bila seorang prajurit melakukan
pelangaran HHI, maka Komandan atau atasannya harus mengambil tindakan yang
diperlukan untuk menghentikan pelanggaran tersebut dan bila perlu menjatumping hkan
hukuman kepada si pelaku.
Dalam ketentuan pasal 87 dinyatakan bahwa adanya komandan untuk
mencegah dan kalau perlu menghukum serta melaporkan kepada pihak yang berwenang
mengenai pelanggaran terhadap konvensi dan protokol. Kemudia pasal ayat 3 bahkan
ditekankan mengenai perlunya memberikan sanksi disiplin atau hukuman pidana kepada
mereka yang melanggar Konvensi dan Protokol.
Di lingkungan TNI bila ada seorang prajurit yang melakukan hukum humaniter
maka komandan atau atasan yang berwenang untuk menghukum, berkewajiban untuk
mengambil tindakan-tindakan sebagaimana yang dimaksud. Begitu seterusnya, sampai
kepada tingkat yang paling tinggi. Jika diperlukan, disamping menggunakan sistem
disiplin internal komando, maka institusi pengadilan (militer dan atau sipil) juga dapat
menjalankan fungsinya bagi tegaknya penghormatan terhadap ketentuan-ketentuan
hukum humaniter. Apabila mekanisme internal atau nasional ini tidak berfungsi atau
tidak difungsikan dengan baik, maka tahapan berikutnya kasus yang bersangkutan dapat
diambil alih oleh suatu mekanisme internasional (baik melalui pengadilan yang bersifat
ad hoc atau yang permanen).
Salah satu perkembangan baru yang terdapat dalam Protokol Tambahan 1977
antara lain mengenai mekanisme. Mekanisme yang dimaksud, yang dilakukan melalui
Komisi Internasional Pencari Fakta. Komisi pencari fakta merupakan penyempurnaan
atas ketentuan yang terdapat dalam Pasal 149 Konvensi IV yang mengatur mengenai
prosedur penyelidikan terhadap pelanggaran yang terjadi terhadap hukum humaniter atau
terhadap ketentuan-ketentuan Konvensi Jenewa62.
61
Dalam sejarah dikenal ada dua mahkamah yang mengadili penjahat perang
dunia II, yaitu Mahkamah Tokyo dan Mahkamah Nuremberg. Mahkamah Tokyo
dibentuk untuk mengadili para penjahat Jepang, sedangkan Mahkamah Nuremberg
dibentuk untuk mengadili para penjahat perang Nazi, Jerman.
Mahkamah Nuremberg dibentuk berdasarkan Piagam Nuremberg atau biasa
juga disebut dengan nama Piagam London. Sejak terbentuknya Mahkamah ini telah
menjatuhkan hukumannya kepada dua puluh empat tersangka. Ada tiga kategori
pelanggaran atau kejahatan yang menjadi yurisdiksi dari Mahkamah Nuremberg yaitu:
kejahatan terhadap perdamaian (crimes againts peace), kejahatan perang (war crimes),
dan kejahatan terhadap kemanusiaan (crimes againts humanity).
Pada Mahkamah Nuremberg ada empat orang Hakim ditambah dengan empat
hakim pengganti. Hakim-hakim tersebut berasal dari negara-negara yang menyusun
Statuta Mahkamah yaitu:
• Inggris : Lord Justice Geoffrey Lawrence, Justice Norman Birkitt
(pengganti)
• Uni Sovyet : I.T. Niktchenko, Maj. Gen, A.F. Volchkof, Lt.Col
(pengganti)
empat chief prosecutor yang masing-masing berasal dari keempat negara tersebut di atas.
Mahkamah penjahat perang Tokyo dibentuk pada tanggal 19 Januari 1946.
Nama resmi dari Mahkamah ini adalah International Military Tribunal for The Far East.
Berbeda dengan Mahkamah Nuremberg yang dibentuk Treaty yang disusun oleh
beberapa negara. Tokyo Tribunal dibentuk berdasarkan suatu pernyataan atau proklamasi
Komandan Tertinggi Pasukan Sekutu di Timur Jauh, Jenderal Douglas Mac Arthur.
Kemudian oleh Amerika Serikat disusun Piagam untuk Mahkamah ini yang pada
dasarnya mengacu kepada Piagam Mahkamah Nuremberg.
62
(crimes againts peace), kejahatan perang (war crimes), dan kejahatan terhadap
kemanusiaan (crimes againts humanity). Di dalam Piagam Mahkamah Tokyo dikatakan
bahwa alasan tindakan negara (Act of State) dan perintah atasan tidak dapat dijadikan
dasar untuk membebaskan tanggungjawab si pelaku, tetapi hal tersebut dapat dijadikan
dasar untuk mengurangi hukumannya. Hal yang sama juga diterapkan jika si pelaku
melakukan tindakan tersebut dalam kapasitanya sebagai pejabat resmi.
Pada Mahkamah Tokyo ini ada seorang chief prosecutor yang berasal dari
Amerika Serikat dan dibantu oleh sepuluh orang associate prosecutors. Setelah perang
dunia II selesai, kemudian telah dibentuk dua Mahkamah ad hoc lainnya yaitu Mahkamah
yang mengadili penjahat perang dieks- Yugoslavia serta di Rwanda. Perlu diketahui
bahwa pembentukan Mahkamah-mahkamah semacam itu adalah bersifat ad hoc atau
sementara, yang b erarti bahwa Mahkamah tersebut dibentuk untuk jangka waktu dan
daerah tertentu saja.
Mahkamah eks Yugoslavia dibentuk berdasarkan Resolusi Dewan Keamanan
PBB nomor 808 (22 Fabruari 1993) dan nomor 827 (25 Mei 1993). Perkembangan yang
terakhir kemudian Statuta Mahkamah eks Yugoslavia yang dibentuk berdasarkan
Resolusi DK-PBB No 827 tahun 1993 diamandemen oleh Resolusi DK PBB nomor 1166
tahun 1998.
Pasal 1 sampai dengan pasal 5 dari Statuta Mahkamah eks yugoslavia mengatur
mengenai kompetensi atau yurisdiksi mahkamah yaitu:
1. pelanggaran serius terhadap hukum humaniter
2. pelanggaran berat sebagaimana yang dimaksud dalam konvensi-konvensi Jenewa
1949
4. genocide
5. kejahatan terhadap kemanusiaan
Penjelasan dari pelanggaran atau kejahatan yang dimaksud di atas terdapat pada
Pasal-pasal yang mengaturnya. Misalnya, tentang pelanggaran berat. Statuta ini
63
mengambil rumusan sebagaimana yang dimaksud dalam Konvensi Jenewa 1949. Begitu
juga misalnya apa yang dimaksud dengan kejahatan terhadap kemanusiaan (crimes
againts humanity) diuraikan pada ketentuan Pasal 5 Statuta.
Mahkamah eks Yugoslavia terdiri dari dua kamar (chambers) yaitu Trial
Chambers dan Appeals Chambers; Jaksa Penuntut Umum (Prosecutor) dan Panitera
(Registry). Hakim pada Trial Chamber berjumlah 3 orang sedangkan pada Appeals
Chamber hakimnya berjumlah 5 orang.
Mahkamah ad hoc lainnya yang telah dibentuk adalah mahkamah peradilan
kejahatan perang di Rwanda. Nama lengkap dari Mahkamah ini adalah International
Criminal tribunal for Rwanda (ICTR). Mahkamah ini dibentuk berdasarkan Resolusi
Dewan Keamanan PBB nomor 955 tanggal 8 November 1994. Tujuan dari dibentuknya
Mahkamah ini adalah untuk mengadili orang-orang yang melakukan genocide di Rwanda
dan mengadili warga negara Rwanda yang melakukan genocide dan serupa lainnya di
wilayah negara tetangga dan di Rwanda yang dilakukan antara 1 Januari 1994 sampai
dengan tanggal 31 Desember 1994.
Kompetensi Mahkamah Rwanda ditujukan untuk kejahatan-kejahatan sebagai
berikut:
2. Crimes Againts Humanity
3. Pelanggaran terhadap pasal 3 ketentuan yang bersamaan dari Konvensi Jenewa
1949 dan Protokol Tambahan II 1977
Baik Mahkamah eks Yugoslavia maupun Mahkamah Rwanda menetapkan
individual criminal responsibility terhadap mereka yang melakukan kejahatan dan
atau pelanggaran sebagaimana yang dimaksud dalam Statuta. Adapun untuk hukum
acaranya maka ICTY menggunakan sistem common law, sedangkan ICTR
menggunakan campuran antara sistem civil law dan common law.
9.4 Mahkamah Pidana Internasional (International Criminal Court/ICC)
Pada bulan Juli 1998 masyarakat internasional mencatat suatu perkembangan
penting, yakni ketika disepakatinya. Statuta mahkamah pidana internasional
64
(International Criminal Court selanjutnya ICC). Berbeda dengan Mahkamah ad hoc yang
telah dibentuk sebelumnya (misalnya Mahkamah Nuremberg, Tokyo, ICTY, dan ICTR),
maka ICC ini merupakan suatu mahkamah yang bersifat permanen.
Mahkamah ini dibentuk untuk mengadili orang-orang yang melakukan
kejahatan-kejahatan yang oleh masyarakat internasional dikategorikan sebagai kejahatan
serius sebagaimana ditetapkan dalam Statuta ICC, Mahkamah ini juga dibentuk sebagai
pelengkap (complementarity) dari mahkamah pidana nasional.
Mengenai complementarity tersebut merupakan hal yang penting. Maksudnya
adalah bahwa ICC baru menjalankan fungsinya apabila mahkamah nasional tidak dapat
menjalankan fungsinya dengan baik. Sehubungan dengan hal ini dalam Statuta dikatakan
bahwa ICC akan bekerja bila mahkamah nasional tidak mau (unwilling) dan tidak mampu
(unable) untuk mengadili pelaku kejahatan-kejahatan yang dimaksud. Dengan cara ini
berarti bila terjadi suatu kejahatan yang termasuk dalam yurisdiksi ICC, maka si pelaku
harus diadili dahulu oleh mahkamah nasionalnya. Bila mahkamah nasional tidak mau dan
atau tidak mampu mengadili si pelaku, maka barulah ICC akan menjalankan fungsinya
untuk mengadili si pelaku kejahatan yang bersangkutan.
Yurisdiksi ICC mencakup empat kejahatan yaitu kejahatan yang dikategorikan
sebgai the most serious crimes of concern to the international, yaitu64:
1. Genocide
Tindakan-tindakan yang dapat dikategorikan sebagai genocide dijelaskan pada
pasal 6 Statuta ICC, yaitu tindakan yang ditujukan untuk memusnahkan seluruhnya
atau sebagian dari suatu bangsa, etnis, kelompok rasial atau agama tertentu. Yang
termasuk dalam kategori genocide menurut ketentuan Pasal ini adalah:
1. Killing members of the group
2. Causing serious bodily or mental harm to members of the group
6 4 Mc.Cormack Timothy LH, and gerry J Simpson, The Law of War Crimes national and International Approaches, Kluwer Law International, The hague, 1997, hlm 143.
65
3. Deliberately inflicting on the group conditions of life calculated to bring about
it’s physical destruction in whole or in part
4. Imposing measures intended to prevent births within the group
5. Forcibly transferring children of the group to another group
Kejahatan-kejahatan yang dapat dikategorikan sebagai crimes againts humanity
dirumuskan secara lengkap dan rinci pada Pasal 7 Statuta ICC. Selanjutnya pasal 8
Statuta ICC menjelaskan apa yang dimaksud dengan war crimes, yaitu mencakup
pelanggaran berat sebagaimana yang dimaksud dalam Konvensi Jenewa dan
pelanggaran-pelanggaran serius lainnya terhadap hukum dan kebiasaan perang yang
diberlakukan pada sengketa bersenjata yang bersifat internasional dan non internasional.
Daftar dari kejahatan-kejahatan yang dimaksud secara lengkap diuraikan pada ketentuan
Pasal 8 Statuta ICC.
Mengenai crime of aggression belum dirumuskan secara lengkap di dalam
Statuta. Hanya pada pasal 5 ayat (2) dikatakan bahwa pelaksanaan yurisdiksi Mahkamah
terhadap kejahatan agresi ini akan dilaksanakan setelah diterimanya suatu ketentuan atau
pasal yang menentukan apa yang dimaksud dengan kejahatan tersebut serta syarat-syarat
apa yang diperlukan agar Mahkamah dapat melaksanakan yurisdiksinya atas kejahatan
agresi yang dimaksud.
meratifikasi Statuta ICC menerima yurisdiksi Mahkamah. Ini berarti tindakan
meratifikasi Statuta ICC oleh suatu negara belum berarti bahwa Mahkamah dapat
melaksanakan yurisdiksinya di negara tersebut. Untuk itu masih diperlukan suatu
tindakan dari negara yang bersangkutan yang menyatakan bahwa negara tersebut
menerima yurisdiksi Mahkamah.
Hal ini antara lain diatur dalam Pasal 12 Statuta ICC. Beberapa asas pokok
hukum pidana diberlakukan menurut Statuta ini, misalnya tentang ne bis in idem, nullum
crimen sine lege, bulla poena sine lege, dan non retroactive.
66
Seperti halnya dengan mahkamah yang lainnya, pada Statuta ICC ini juga
ditegaskan tentang tanggungjawab pidana individual (individual criminal responsibility).
Di samping itu pada Pasal 28 diatur mengenai tanggung jawab Komandan dan atasan
terhadap tindakan yang dilakukan oleh anak buah atau bawahannya.
67
Andrey Sudjatmoko, 1999. Perlindungan Hak Asasi Manusia dalam Hukum Hak Asasi Manusia dan Hukum Humaniter Internasional, dalam Hukum Humaniter Kumpulan Tulisan, Pusat Studi Hukum Humaniter, fakultas Hukum, Universitas Trisakti, Jakarta.
Arlina Permanasari,dkk, 1999. Pengantar Hukum Humaniter, Internationak Committe of The Red Cross, Jakarta.
Arthur Nusbaum, Sejarah Hukum Internasional, Jilid I, Bina Cipta, Bandung, 1970 disadur oleh Sam Suhaedi Atmawiria.
Barda Nawawi Arief, 2004. Kebijakan Formulatif Kejahatan Perang Dalam Hukum Pidana, Makalah Masalah-Masalah Hukum, FH UNDIP, Semarang.
Dadang Siswanto, 2006. Formulasi Kejahatan Perang ke Dalam Hukum Nasional, Pengembangan Bahan Ajar Hukum Internasional.
Dietrich Schindler. 1981. The Laws of Armed Conflicts, Henry Dunant Institute, Genewa.
F.Sugeng Istanto. 1992. Perlindungan Penduduk Sipil dalam Perlawanan Rakyat Semesta dan Hukum Internasional, Andi Offset, Yogyakarta.
Frederic de Mullinen. 1987. Handbook on The Law of The War for Armed Forces, ICRC, Geneva.
Frits Kalshoven. 1991. Constraints on the Waging of War, Second Ed, ICRC, Geneva.
Hans-Peter, Gasser. 1993. International Humanitarian Law, An Introduction, Paul Haupt Publisher, Berne- Stuttgart-Vienna.
Hans Peter Gasser. 1993. International Humanitarian Law, Henry Dunant Institute.
Haryomataram. 1994. Sekelumit tentang Hukum Humanter, Sebelas Maret University Press, Surakarta.
\ Haryomataram.1994. Hukum Humaniter, CV Radjawali, Jakarta.
Haryomataram.1988. Bunga Rampai Hukum Humaniter, Bumi Nusantara Jaya.
Horst Seibt,1994. Compendium of Case of International Humanitarian Law, ICRC Publication.
80
International Commitee of the Red Cross, 1983. Understanding Humanitarian Law Basic Rules of Geneva Conventions and their Additional conventions and their Protocols, ICRC, Geneva.
Jamchid Momtaz, 1998. The Minimum Humanitarian Rules applicable in Periods of Internal Tension dalam International Review of The Red Cross, Special Edition, September.
Jean Piclet, 1985. Development and Principles of Intternational Humanitarian Law, Martinus Nijhoff Publisher.
J.G Starke. 1989. Introduction to International Law, Teenth Edition, Butterworth.
Marion Harrof Tavel, 1993. Action Taken by The International Comitte of The red Cross dalam Situation of International Violance, ICRC, No 294, May-June.
Marwati Djonoed Poeponegoro, 1982. Tokoh dan Peristiwa dalam Sejarah Eropa 1815- 1945, Erlangga, Jakarta.
Masjhur Effendi, 1995. Moch Ridwan, Muslich Subandi, Pengantar dan Dasar-dasar Hukum Internasional, IKIP, Malang.
Mc.Cormack Timothy LH, and gerry J Simpson, 1997. The Law of War Crimes national and International Approaches, Kluwer Law International, The Hague.
Mochtar Kusumaatmadja, 1980. Hukum Internasional Humaniter dalam Pelaksanaan dan Penerapannya di Indonesia
Pictet, Jean, 1985. Development and Principles on International Humanitarian Law, Martinus Nijhoff Publishers.
Schindler Dietrich & Jiri Toman. 1981. The Laws of Armed Conflict: A Collection of Conventions, Resolutions and Other Document, Henry Dunant Institute, Geneva.
The Federal Ministry of Defence of The Federal of Republic of Germany VR II 3, 1992, Humanitarian Law in Armed Conflict.
81