bab i pendahuluan - etd. ?· melakukan penambangan timah dengan memanfaatkan kapal keruk dan kapal...

Download BAB I PENDAHULUAN - etd. ?· melakukan penambangan timah dengan memanfaatkan kapal keruk dan kapal isap.…

Post on 17-Sep-2018

215 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • 1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    I.1 Latar Belakang

    Pulau Bangka dan Belitung telah menjadi propinsi sendiri dengan keluarnya

    Undang-undang No. 27 Tahun 2000 tentang Pembentukan Propinsi Kepulauan

    Bangka Belitung tepatnya tanggal 21 Nopember 2000. Propinsi Kepulauan Bangka

    Belitung menjadi propinsi yang ke-33 dari seluruh Propinsi di Indonesia. Propinsi ini

    secara administratif dibagi menjadi 6 kabupaten dan 1 kota yaitu Kabupaten Bangka,

    Kabupaten Bangka Barat, Kabupaten Bangka Tengah, Kabupaten Bangka Selatan,

    Kabupaten Belitung, kabupaten Belitung Timur, dan Kota Pangkalpinang.

    Pembentukan propinsi baru mencanangkan berbagai rencana untuk

    pembangunan. Namun efek negatifnya adalah mengendurnya peraturan untuk

    praktek penambangan timah dasar laut yang dahulu hanya dilakukan oleh PT.Timah.

    Hal itu mengakibatkan bertambahnya praktek tambang ilegal di Selat Bangka.

    Selat Bangka sudah terkenal dengan kekayaan alam berupa timahnya sejak

    300 tahun yang lalu. Eksploitasi timah di Selat Bangka dilakukan dengan

    penambangan lepas pantai dan penambangan darat. Penambangan lepas pantai di

    Selat Bangka dilakukan dengan pengerukan tanah dasar laut yang menyebabkan

    rusaknya bentuk topografi dasar laut. Akibat yang ditimbulkan adalah bentuk

    topografi dasar laut perairan Bangka menjadi lebih curam sehingga daya abrasi

    pantai menjadi semakin kuat. Kerusakan menjadi lebih parah dengan maraknya

    penambangan ilegal dan penambangan legal yang masih berlangsung.

    Kegiatan penambangan timah lepas pantai di dasar laut yang bersifat legal

    melakukan penambangan timah dengan memanfaatkan kapal keruk dan kapal isap.

    Cara kerja dari kedua alat ini adalah dengan menggali dan menyedot pasir timah

    yang ada di dasar laut. Cara yang sama juga dilakukan dalam penambangan ilegal

    dengan menyelam langsung ke bekas bekas lubang penambangan timah legal yang

    telah ditinggalkan, lalu menyedot pasir timah dengan mesin pompa. Hal itu tentunya

  • 2

    akan menyebabkan dasar laut menjadi tidak teratur akibat dari lubang lubang yang

    ditimbulkan dari kegiatan penggalian dan pengisapan pasir timah lepas pantai.

    Lubang lubang ini dapat diketahui melalui penyajian informasi perubahan

    bentuk topografi dasar laut perairan Selat Bangka. Penyajian informasi yang

    dilakukan berupa analisis perubahan bentuk topografi dasar laut di perairan Selat

    Bangka. Data pengukuran batimetri dasar laut perairan Selat Bangka dan data

    pendukung lainnya diperlukan sebagai bahan untuk menganalisis perubahan bentuk

    topografi dasar lautnya. Analisis perubahannya dilakukan dengan membandingkan

    topografi dasar laut sebelum dan sesudah pembentukan propinsi Bangka Belitung.

    Hal ini dilakukan untuk mengetahui perubahan kondisi dari bentuk topografi dasar

    laut perairan Selat Bangka dalam bentuk visual tidak langsung sehingga bisa dilihat

    bentuk topografi dasar laut tersebut sebelum dan sesudah tahun 2000 di dasar laut

    Selat Bangka.

    I.2 Rumusan Masalah

    Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah mengenai perubahan

    yang terjadi di Selat Bangka dari tahun 1996 sampai dengan tahun 2012 akibat

    penambangan timah di dasar laut. Berdasarkan permasalahan tersebut maka

    pertanyaan yang diajukan sebagai berikut :

    1. Bagaimana perubahan bentuk topografi dasar laut Selat Bangka akibat

    penambangan timah lepas pantai?

    2. Berapa besarnya perubahan kedalaman dan volume yang dihasilkan di dasar

    laut Selat Bangka akibat penambangan timah lepas pantai?

    I.3 Batasan Masalah

    Batasan masalah yang digunakan dalam penelitian ini :

    1. Area penelitian mencakup wilayah Selat Bangka bagian selatan dengan

    koordinat 23859 24731 LS dan 1054744 1055427 BT.

    2. Penelitian ini menggunakan 2 epoch, peta batimetri tahun 1996 dalam bentuk

    digital dan data pengukuran batimetri bulan Juni 2012 di Selat Bangka.

    Penelitian ini dibatasi hanya dari 2 data tersebut walaupun penambangan

  • 3

    timah sudah dilakukan sejak zaman penjajahan Belanda dikarenakan

    ketersediaan data yang terbatas.

    3. Metode yang digunakan untuk penelitian ini adalah metode analisis

    perubahan mengunakan selisih kedalaman dan nilai volume yang dihasilkan

    antar 2 epok.

    4. Hasil yang dicapai adalah peta perubahan bentuk topografi dasar laut Selat

    Bangka.

    I.4 Tujuan Penelitian

    Tujuan dari penelitian ini adalah :

    1. Menyajikan informasi mengenai perubahan bentuk topografi dasar laut Selat

    Bangka akibat penambangan timah lepas pantai.

    2. Mengetahui besar perubahan kedalaman dan volume yang dihasilkan di Selat

    Bangka akibat penambangan timah lepas pantai.

    I.5 Manfaat Penelitian

    Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat yaitu didapatkan informasi yang

    lengkap tentang bentuk topografi dasar laut di Selat Bangka dan perubahan

    kedalaman serta volume yang dihasilkan terhadap bentuk topografi dasar laut akibat

    penambangan timah lepas pantai di Selat Bangka.

    I.6 Tinjauan Pustaka

    Poerbandono (2005) menyatakan bahwa penentuan kedalaman titik

    pemeruman, merupakan suatu proses pengukuran untuk memperoleh nilai suatu

    kedalaman yang bertujuan untuk menghasilkan gambaran bentuk topografi dasar

    perairan. Menurut prinsip dan karakter teknologi yang digunakan penentuan

    kedalaman dapat dilakukan dengan metode mekanik, optik atau akustik.

    Wibawa, H. K. (2006) meneliti tentang hasil analisis pada hasil survei hidro-

    oseanografi di kawasan rencana pelabuhan Oswald Siahaan, tepatnya di Desa

  • 4

    Labuhan Angin, Tapian Nauli, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara menghasilkan

    kontur topogafi yang relatif datar (kemiringan 0 2%), pengaruh arus terhadap

    perairan relatif kecil (< 0.3 m/dt),tinggi gelombang permukaan angin yang relatif

    kecil (< 10 cm), dan sedimentasi serta kadar garam relatif kecil. Kesimpulan dari

    penelitian tersebut menyatakan bahwa kawasan Labuhan Angin di Teluk Tapian

    Nauli sangat ideal untuk menjadi lokasi rencana pembangunan pelabuhan.

    Berdasarkan uraian diatas, penulis beracuan pada prinsip dan cara

    pengukuran batimetri untuk melakukan analisis perubahan topografi dasar laut

    menggunakan 2 buah peta batimetri yang dihasilkan dari hasil 2 pengukuran

    batimetri dalam kurun waktu yang berbeda. Penulis melakukan koreksi terhadap data

    batimetri dengan koreksi tranducer dan koreksi pasang surut agar data kedalaman

    hasil ukuran direduksikan ke bidang referensi tertentu. Data koordinat tersebut

    kemudian diproses menjadi peta batimetri lalu dibandingkan dengan peta batimetri

    lain yang telah terkoreksi untuk mengetahui perubahan kedalaman dan volume yang

    dihasilkan.

    I.7 Landasan Teori

    I.7.1 Survei Hidrografi

    Poerbandono (2005) mengatakan hidrografi adalah cabang ilmu yang

    berkepentingan dengan pengukuran dan deskripsi sifat dan bentuk dasar perairan

    serta dinamika badan air untuk tujuan navigasi dan aktivitas kelautan lainnya.

    Fenomena dasar perairan meliputi batimetri atau topografi dasar laut, jenis material

    dasar laut dan morfologi dasar laut. Dinamika badan air meliputi pasang surut dan

    arus. Data mengenai fenomena dasar perairan dan dinamika badan air dsistem

    referiperoleh melalui kegiatan survei hidrografi. Data tersebut diolah dan disajikan

    sebagai informasi geospasial yang mengacu pada suatu sistem referensi tertentu.

    Survei hidrografi dalam penelitian ini meliputi :

    1. Survei topografi

    2. Survei batimetri

    3. Pengamatan pasang surut air laut

  • 5

    I.7.1.1. Survei topografi. Survei topografi adalah pemetaan permukaan bumi

    fisik dan kenampakan hasil budaya manusia. Pengukuran dilakukan secara langsung

    untuk mendapatkan data teristris berupa data azimuth, data ukuran sudut dan jarak,

    serta data elevasi. Data data tersebut diperlukan untuk penggambaran topografi

    daerah tersebut berupa peta topografi. Kegiatan dalam survei topografi meliputi

    (Basuki, 2006):

    1. Persiapan

    Persiapan dalam melakukan survei meliputi persiapan peralatan,

    perlengkapan dan personil. Masing masing persiapan harus dipastikan

    lengkap sebelum terjun ke lapangan.

    2. Survei pendahuluan

    Survei pendahuluan dilakukan untuk melihat keadaan lapangan secara

    menyeluruh. Hasil dari survei ini dapat menentukan teknik pengukuran

    dan posisi titik titik kerangka peta (bench mark) yang dapat digunakan

    dalam pengukuran.

    3. Survei pengukuran

    Survei pengukuran merupakan kegiatan untuk mendapatkan

    kerangka kontrol pemetaan dan detil daerah pengukuran. Bench mark

    (BM) yang sudah dipasang dan ditandai menjadi titik titik kontrol

    pemetaan dan titik ikat pengukuran detil. Titik titik BM juga digunakan

    sebagai titik kontrol pemeruman pada survei batimetri.

    Titik titik tersebut diukur jarak, azimuth, sudut dan elevasinya

    terhadap titik BM lainnya dalam suatu poligon. Azimuth diukur untuk

    memberikan orientasi arah utara pada kerangka kontrol pemetaan.

    Pengukuran posisi detil dilakukan dengan pengikatan pada kerangka peta

    dengan metode jarak dan sudut.

    I.7.1.2. Survei batimetri. Survei batimetri adalah kegiatan untuk menentukan

    posisi titik di dasar perairan dalam suatu koordinat tertentu . Pengukuran dilakukan

    dalam lajur lajur pengukuran (pemeruman) yang diikatkan pada titik ikat di

Recommended

View more >