bab i pendahuluan 1.1 latar ?· bentuk tulis. pengungkap modalitas dalam bahasa inggris bisa lebih...

Download BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar ?· bentuk tulis. Pengungkap modalitas dalam bahasa Inggris bisa lebih dari…

Post on 16-Mar-2019

212 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sebagai makhluk sosial, manusia selalu berinteraksi dengan orang lain

menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi. Artinya, pemakaian bahasa hampir

selalu merupakan aktivitas sosial. Manusia tidak selalu bicara, menyimak,

membaca dan menulis untuk diri mereka sendiri, melainkan dalam suatu

interkomunikasi dengan orang lain (Falk, 1973: 59). Hal ini terkait dengan apa

yang dikemukakan Halliday (1985:34) bahwa bahasa secara universal memiliki

dua fungsi yaitu fungsi ideasional dan fungsi interpersonal. Dengan fungsi

ideasional, manusia menggunakan bahasa untuk memahami dunia. Dengan fungsi

interpersonal, manusia memfungsikan bahasa untuk berkomunikasi dengan

manusia lainnya.

Dalam berkomunikasi, manusia terkadang menyampaikan pikiran dan

sikapnya. Konsep ini dikenal dengan modalitas, yaitu sistem semantis di mana

manusia menggunakan bahasa untuk mengungkapkan sikap atau pikirannya dalam

tuturannya. Modalitas memiliki kedudukan yang penting dalam setiap bahasa dan,

seperti yang dikemukakan Bloomfield (1933:273), merupakan salah satu

fenomena kesemestaan bahasa. Setiap bahasa memiliki unsur lingual yang dapat

digunakan untuk menggambarkan sikap pembicara dalam tuturannya. Sebagian

bahasa mengungkapkannya secara gramatikal dan sebagian lainnya dengan

menggunakan berbagai alat leksikal, ataupun secara suprasegmental.

2

Penggambaran sikap pembicara secara gramatikal, lazim disebut modus

(mood), yaitu pemakaian bentuk konjugasi verba, misalnya pada bahasa Indo-

Eropa (Lyons, 1968:304). Pengungkapan sikap pembicara secara leksikal berarti

bentuk bahasa yang digunakan berupa kata, frase, atau klausa. Dalam bahasa

Inggris hal itu terlihat pada pemakaian kata kerja bantu modal (modal auxiliary

verb) seperti may dan must (1), adverbia modal seperti possibly, certainly (2), atau

pada kontruksi klausa seperti it is certain that dan it is possible that (3).

(1) He enter the room.

(2) He enters the room.

(3) a. It is certain that he enters the room. b. It is possible that he enters the room.

Kalimat he enters the room merupakan proposisi aktual dan objektif.

Dengan hadirnya satuan-satuan lingual dalam kurung kurawal yang merupakan

pengungkap modalitas, maka ciri faktual dan objektif dari proposisi tersebut

hilang dan menjadi nonfaktual serta subjektif. Pada contoh di atas, predikasi

tentang enter-nya pelaku yang dikatakan He oleh pembicara bukan lagi

merupakan hal yang objektif faktual dan keseluruhan proposisi menjadi informasi

subjektif nonaktual yakni berupa pikiran atau sikap pembicara setelah hadirnya

pengungkap modalitas. Oleh karena itu, Lyon (1977:797) juga mengatakan bahwa

modalitas berkaitan dengan subjektivitas dari pembicara.

Unsur suprasegmental seperti intonasi dan jeda juga dapat digunakan

untuk mengungkapkan sikap pembicara. Dalam komunikasi lisan, unsur

suprasegmental itu tidak dapat dipisahkan dari permasalahan modalitas. Namun,

masalah itu tidak dibahas karena sumber data dalam penelitian ini adalah dalam

3

bentuk tulis. Pengungkap modalitas dalam bahasa Inggris bisa lebih dari yang

secara tradisional disebut kata kerja bantu modal seperti terdapat pada penjelasan

di atas. Karena luasnya ruang lingkup modalitas dan unsur pengungkapnya, maka

kajian ini dibatasi hanya pada pembahasan kata kerja bantu modal (atau disebut

modal saja, lihat 1.6 hal 10), yaitu can, may, must, will, shall sebagai modal

primer, dan could, might, would, should, ought to sebagai bentuk sekundernya

(Perkins, 1983:29), sebagai pengungkap sistem modalitas bahasa Inggris serta

padanannya dalam bahasa Indonesia. Topik ini sengaja dipilih karena modal

dalam bahasa Inggris memiliki peran yang sangat penting sebagai pengungkap

sistem modalitas bahasa tersebut.

Dalam contoh (1), kalimat he may enters the room dapat bermakna it is

possible that he enters the room yaitu pembicara yang hanya menilai kebenaran

dari ungkapannya atau bermakna he is allowed to enter the room yaitu

pembicara mengizinkan subjek untuk menjadi pelaku aktualisasi peristiwa. Hal ini

menunjukkan may dalam kalimat tersebut mengungkapkan jenis modalitas yang

berbeda. Selain itu, may dan might dalam contoh (1) dapat mengungkapkan

makna modalitas yang sama, karena kedua kalimat tersebut bisa dipahami dengan

makna it is possible that he enters the room. Namun, penggunaan might

menggambarkan tingkat keyakinan pembicara yang berbeda dengan penggunaan

may. Penggunaan might juga menunjukkan pembicara yang mengandaikan

kebenaran tuturannya bergantung pada kondisi lain yang dia praanggapkan. Oleh

karena itu, might dikatakan merupakan modal sekunder dari modal primer may.

4

Modal mempunyai banyak kerumitan karena setiap modal mengungkap

modalitas yang berbeda bergantung konteks kalimat ataupun wacananya. Modal

selalu mengalami perubahan karena setiap penutur bahasa menggunakannya

dengan makna yang berbeda-beda sesuai dengan kesukaannya (Kreidler,

1998:240). Perhatikan contoh yang dikutip dari salah satu sumber data yaitu novel

Twilight dan novel terjemahannya berikut.

(4) "You can come home whenever you want I'll come right back as soon as you need me." (Twilight (Tw)/Page 4 (P4)). Kau bisa pulang kapanpun kau mau aku akan segera datang begitu kau membutuhkanku. (Twilight terjemahan (Twi)/Halaman 16 (H16)).

(5) I wondered if my mom would send me my folder of old essays (Tw/P15). Aku membayangkan apakah ibuku mau mengirimkan folder esai-esai lamaku. (Twi/H27). Penerjemahan modal di atas ke dalam bahasa Indonesia bisa dikatakan

tepat karena mengungkap makna modalitas yang sama. Pada (4) dan (5), masing-

masing can dan would bisa dipadankan dengan kata kerja bisa dan mau sehingga

makna tuturan dapat dipahami dengan tepat. Penanda modalitas pada (4) yaitu can

dan bisa sama-sama mengungkapkan makna modalitas deontik yaitu makna

keizinan, dan pada (5) would dan mau sama-sama mengungkapkan modalitas

dinamik bermakna keinginan. Perhatikan contoh lainnya berikut ini.

(6) This was a stipulation from my mother, so that we could stay in touch easily. (Tw/P8). Ini permintaan ibuku, supaya kami gampang berkomunikasi. (Twi/H21). Could (6) sebagai pengungkap modalitas dinamik yang menyatakan

kemampuan tidak dipadankan ke dalam pengungkap modalitas bahasa

Indonesia. Contoh di atas menunjukkan bahwa bentuk supaya kami gampang

berkomunikasi hanya merupakan proposisi faktif tanpa pikiran tokoh cerita atau

5

tanpa modalitas, sedangkan modalitas bersifat nonfaktif. Agar penggunaan could

dan kalimat di atas secara keseluruhan dapat dipahami dengan makna yang tepat,

maka bentuk terjemahannya harus menggunakan pengungkap modalitas yang

sepadan dengan could, yaitu kata dapat/bisa yang juga merupakan pengungkap

modalitas dinamik bermakna kemampuan, sehingga terjemahannya menjadi

supaya kami dapat/bisa gampang berkomunikasi. Perhatikan contoh berikut.

(7) The isolation must be their desire. (Tw/P32). Mereka memang suka menyendiri. (Twi/44).

Kalimat (7) diterjemahkan ke dalam kalimat bahasa Indonesia tanpa

pengungkap modalitas sehingga makna yang dihasilkan tidak sepadan.

Terjemahan di atas memperlihatkan ciri kefaktifan. Selain itu, yang menjadi

subjek yang dikenai modalitas adalah frasa the isolation, sehingga terjemahannya

pun harus menunjukkan bahwa the isolation menyendiri yang dikenai penanda

modalitas. Maka dalam kalimat tersebut, must harus diterjemahkan dengan

pengungkap modalitas epistemik bermakna kepastian yaitu pasti, sehingga

terjemahannya menjadi menyendiri pasti menjadi kesukaan mereka.

Contoh-contoh di atas hanyalah beberapa permasalahan fungsi dan makna

modal sebagai salah satu pengungkap sistem modalitas bahasa Inggris dan

padanannya dalam bahasa Indonesia. Penulis tidak menemukan penelitian

mendalam yang mengkhususkan pembicaraannya mengenai fungsi modal sebagai

pengungkap modalitas bahasa Inggris dan padanannya yang tepat dalam bahasa

Indonesia, sehingga penulis tertarik untuk melakukan penelitian ini. Tentunya

masih banyak contoh lain yang akan dianalisis dan penulis akan berusaha

membahas setiap modal dan padanannya yang tepat secara terperinci.

6

1.2 Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas, permasalahan dalam penelitian ini dapat

dirumuskan sebagai berikut:

1. Bagaimana fungsi kata kerja bantu modal primer dalam mengungkap

sistem modalitas bahasa Inggris?

2. Bagaimana fungsi kata kerja bantu modal sekunder dalam mengungkap

sistem modalitas bahasa Inggris?

3. Bagaimana padanan kata kerja bantu modal bahasa Inggris dalam bahasa

Indonesia?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah di atas, penelitian ini bertujuan untuk:

1. Mendeskripsikan fungsi kata kerja bantu modal primer dalam mengungkap

sistem modalitas bahasa Inggris.

2. Mendeskripsikan fungsi kata kerja bantu modal sekunder dalam

mengungkap sistem modalitas bahasa Inggris.

3. Mendeskripsikan padanan kata kerja bantu mod