bab i pendahuluan 1.1. latar belakang - repository usm

219
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tugas akhir merupakan hasil tertulis dari pelaksanan suatu laporan, yang dibuat untuk pemecahan masalah tertentu dengan menggunkan kaidah-kaidah yang berlaku dalam bidang ilmu tersebut. Universitas Semarang (USM) memberlakukan tugas akhir kepada mahasiswa setingkat strata satu (S1) jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknis untuk memperoleh gelar sarjana. Laporan tugas akhir ini sebagai perwujudan dari metode pembelajaran melalui bangku kuliah pada semester-semester sebelumnya diharapkan mahsiswa dapat menerapkan untuk memecahkan suatu masalah berdasarkan langkah-langkah berfikir sistematis, logis dan data yang akurat serta analisis yang tepat. Sehingga laporan yang telah disetujui dapat dipertanggung jawabkan kepada masyarakat dalam bidang perencanaan dan usaha jasa konstruksi. Peran kepolisian Negara Republik Indonesia merupakan lembaga negara yang berperan dalam memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, serta memberikan perlindungan, pengeyoman, dan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka terpeliharanya keamanan dalam Negri. Kepolisaian daerah (Polda) merupakan satuan pelaksana utama kewilayahan yang dibawah kekuasaan kopolri. Polda bertugas menyelenggarakan tugas Polri pada tingkat kewilayahan tingkat satu seperti Provinsi atau daerah istimewa. Polda dipimpin oleh kepala kepolisian Negara Republik Indonesia daerah (Kapolda), sedangkan kapolda dibantu oleh wakil Kapolda (wakapolda). Sebagai lembaga pemerintah daerah di Kota Semarang perlu adanya perbaikan infrastruktur gedung untuk memudahkan akses masyarakat terhadap kepolisian daerah. Perencanaan gedung perkantoran Mapolda lima lantai bertujuan untuk penunjang kinerja Kepolisian Replublik indonesia serta pelayanan masyarakat di Provinsi Jawa Tengah, Semarang. Perencanaan dalam susunan Laporan Tugas Akhir berisi pembahasan perencanaan konstruksi gedung dengan ilmu penunjang yang dimulai dari tahap pradesain, perencanaan, konstruksi (analisa dan perhitungan struktur), operasional hingga memasuki tahap pembiayaan proyek yang siap untuk ditenderkan.

Upload: others

Post on 02-Oct-2021

4 views

Category:

Documents


0 download

TRANSCRIPT

Page 1: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Tugas akhir merupakan hasil tertulis dari pelaksanan suatu laporan, yang

dibuat untuk pemecahan masalah tertentu dengan menggunkan kaidah-kaidah yang

berlaku dalam bidang ilmu tersebut. Universitas Semarang (USM) memberlakukan

tugas akhir kepada mahasiswa setingkat strata satu (S1) jurusan Teknik Sipil Fakultas

Teknis untuk memperoleh gelar sarjana. Laporan tugas akhir ini sebagai perwujudan

dari metode pembelajaran melalui bangku kuliah pada semester-semester sebelumnya

diharapkan mahsiswa dapat menerapkan untuk memecahkan suatu masalah

berdasarkan langkah-langkah berfikir sistematis, logis dan data yang akurat serta

analisis yang tepat. Sehingga laporan yang telah disetujui dapat dipertanggung

jawabkan kepada masyarakat dalam bidang perencanaan dan usaha jasa konstruksi.

Peran kepolisian Negara Republik Indonesia merupakan lembaga negara yang

berperan dalam memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan

hukum, serta memberikan perlindungan, pengeyoman, dan pelayanan kepada

masyarakat dalam rangka terpeliharanya keamanan dalam Negri. Kepolisaian daerah

(Polda) merupakan satuan pelaksana utama kewilayahan yang dibawah kekuasaan

kopolri. Polda bertugas menyelenggarakan tugas Polri pada tingkat kewilayahan

tingkat satu seperti Provinsi atau daerah istimewa. Polda dipimpin oleh kepala

kepolisian Negara Republik Indonesia daerah (Kapolda), sedangkan kapolda dibantu

oleh wakil Kapolda (wakapolda). Sebagai lembaga pemerintah daerah di Kota

Semarang perlu adanya perbaikan infrastruktur gedung untuk memudahkan akses

masyarakat terhadap kepolisian daerah. Perencanaan gedung perkantoran Mapolda

lima lantai bertujuan untuk penunjang kinerja Kepolisian Replublik indonesia serta

pelayanan masyarakat di Provinsi Jawa Tengah, Semarang.

Perencanaan dalam susunan Laporan Tugas Akhir berisi pembahasan

perencanaan konstruksi gedung dengan ilmu penunjang yang dimulai dari tahap

pradesain, perencanaan, konstruksi (analisa dan perhitungan struktur), operasional

hingga memasuki tahap pembiayaan proyek yang siap untuk ditenderkan.

Page 2: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

2

1.2. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan di atas ,masalah-

maslah dapat dirumuskan seperti dibawah ini :

a. Bagaimana merencanakan suatu gedung yang dapat memenuhi standar yang

nantinya digunakan sebagai sarana kegiatan yang memadai ?

b. Apakah perencanaan konstruksi tersebut layak di pergunakan ?

1.3. Maksud dan Tujuan Perencanaan

Perencanaan Struktur Gedung Perkantoran Mapolda Lima Lantai Kota

Semarang ini bermaksud untuk mempermudah Kepolisian Republik Indonesia di Kota

Semarang dan mempermudah masyarakat untuk mengakses nya. Sehingga dengan

berdirinya gedung ini diharapkan keamanan dan ketertiban masyarakat dapat tercapai.

Sedangkan tujuan perencanaan Struktur Gedung Perkantoran Mapolda di Kota

Semarang adalah :

a. Dapat merencanakan Konstruksi Lima Lantai Perkantoran Mapolda Kota Semarang

sehingga dapat di pergunakan untuk mempermudah masyarkat dalam fasilitas

keamanan dan ketertiban di Kota Semarang.

b. Merencanakan konstruksi gedung dengan referensi / acuan Standar Nasional

Indonesia (SNI).

1.4. Lokasi Perencanaan Proyek

Perencanaan Pembangunan Gedung Lima Lantai Kantor Polda Jawa Tengah

berada di Jalan Purwosari Raya RT 05 RW 02 Kelurahan Rejosari Kecamatan

Semarang Timur.

Page 3: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

3

Gambar 1.1. Lokasi Perencanaan

1.5. Sistematika Penulisan Laporan

Dalam menyusun Proposal Tugas Akhir, terdapat sistematika penyusunan yang

harus dipenuhi, antara lain :

BAB I Pendahuluan

Merupakan bab yang berisi latar belakang masalah, maksud dan

tujuan penulisan, pokok bahasan, dan batasan masalah, metodologi

penelitian serta sistematika penulisan.

BAB II Tinjauan Pustaka

Menguraikan teori dasar berdasarkan kajian pustaka tentang

Perencanaan Gedung Perkantoran Mapolda Lima Lantai tahap pradesain,

perencanaan, konstruksi (analisa dan perhitungan struktur), operasional

hingga memasuki tahap anggaran pembiayaan proyek.

BAB III Metodologi

Pada bab ini dijelaskan mengenai pendekatan metode yang

digunakan dalam analisis studi, dan metodologi yang digunakan dalam

mengerjakan tugas akhir. Metodologi yang digunakan meliputi

pengumpulan data dan metode analisis.

Lokasi

Page 4: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

4

BAB IV Perhitungan Struktur

Pada bab ini menguraikan tentang perhitungan struktur bawah yaitu

pondasi serta struktur atas, meliputi : struktur kolom, balok dan pelat

dengan pehitungan gempa.

BAB V Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS)

Bab ini menguraikan tentang syarat-syarat umum, syarat-syarat

administrasi dan syarat-syarat teknis.

BAB VI Rencana Anggaran Biaya (RAB)

Berisikan tentang anggaran biaya sesuai dengan daftar analisa

satuan pekerjaan, volume pekerjaan dan pembuatan time schedule

langkah kerja yang telah direncanakan.

BAB VII Penutup

Pada bab ini berisi kesimpulan dan saran yang bisa diberikan dari

hasil Perencanaan Struktur Gedung Lima Lantai Kantor Polda Jawa

Tengah

Page 5: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

5

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tinjauan Umum

Bangunan gedung adalah wujud fisik hasil pekerjaan konstruksi yang menyatu

dengan tempat kedudukannya, sebagian atau seluruhnya berada di atas dan/atau

didalam tanah dan/atau air, yang berfungsi sebagai tempat manusia melakukan

kegiatannya, baik untuk hunian atau tempat tinggal, kegiatan keagamaan, kegiatan

usaha, kegiatan social, budaya, maupu kegiatan khusus (UU No.28/2002).

Dalam tahapan perencanaan struktur gedung lima lantai kantor Polda Jawa

Tengah ini perlu dilakukan pendekatan ilmu perencanaan dan konstruksi bangunan.

Dimana konstuksi tersebut harus memenuhi persyaratan – persyaratan yang telah

ditetapkan antara lain pesyaratan keamanan, bahaya kebakaran dan persyaratan

kesehatan. Dalam perencanaan juga harus di utamakan kekuatan struktur harus kuat

menahan beban yang ada di atasnya, beban horizontal seperti beban angin dan juga

dengan mengeluarkan biaya yang ekonomis.

Pada bab ini akan dijelaskan langkah – langkah dalam perhitungan struktur

mulai dari perhitungan rangka atap, pelat, balok, kolom dan tangga sampai dengan

perhitungan struktur pondasi. Perhitungan ini diperlukan agar dalam pelaksanaan

pembangunannya tidak mengalami kegagalan konstruksi.

2.2. Pedoman Yang Dipakai

Dalam perencanaan struktur gedung bertingkat harus mengacu pada syarat –

syarat dan ketentuan yang berlaku dalam SNI perencanaan gedung. Adapun syarat –

syarat dan ketentuan serta rumus yang berlaku terdapat pada buku pedoman sebagai

berikut :

1. Pedoman Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Rumah dan Gedung (SNI 03-1726-

2012).

2. Tata Cara Perencanaan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung (SNI T-15-03-

2002).

3. Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung (SNI 03-2847-

2013).

Page 6: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

1

6

4. Tata Cara Perencanaan Struktur Baja Untuk Bangunan Gedung (SNI 03 – 1729 –

2002)

5. Pedoman Perencanaan Pembangunan untuk Rumah dan Gedung (PPURG 1987).

2.3. Mutu Bahan

Dalam perencanaan Pembangunan Gedung Lima Lantai Kantor Polda Jateng,

digunakan bahan/ material dengan spesifikasi seperti dibawah ini :

Beton : (Fc) = 30 Mpa

: (Fc) = 35 Mpa

Baja : Fy = 240 Mpa (Tulangan Sengkang)

Ec = 4700 Fc

= 25742,96 Mpa

Es = 2,1 x 106 Kg/cm

2

= 2,1 x 105 Mpa

2.4. Konsep Perencanaan Struktur

Dalam perencanaan struktur konstruksi suatu bangunan, perlu diperhatikan

konsep desain untuk pemilihan elemen baik secara struktural maupun fungsional.

Dalam perencanaan kali ini ditinjau perencanaan struktur gedung berdasarkan beban

lateral dan beban gempa.

2.4.1. Desain Terhadap Beban Lateral

Hal penting pada struktur bangunan tinggi adalah stabilitas dan

kemampuannya untuk menahan gaya lateral, baik yang disebabkan oleh angin

maupun gempa bumi (Juwana, 2005). Beban angin lebih terkait pada dimensi

ketinggian bangunan, sedangkan beban gempa lebih terkait pada masa

bangunan. Kolom pada bangunan tinggi perlu diperkokoh dengan system

pengaku untuk dapat menahan gaya lateral, agar deformasi yang terjadi akibat

gaya horizontal tidak melampaui ketentuan yang disyaratkan. Pengaku gaya

lateral yang lazim digunakan adalah portal penahan momen, dinding geser atau

rangka pengaku.

Page 7: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

1

7

Setiap struktur harus dianalisis untuk pengaruh gaya lateral static dan

gaya dinamis yang diaplikasikan secara independent di kedua arah orthogonal.

Pada setiap arah yang ditinjau, gaya lateral harus diaplikasikan secara simultan

di tiap lantai. Untuk tujuan analisis, gaya lateral tiap lantai dihitung sebagai

berikut (SNI 1726 : 2012) :

Fx = 0,01.Wx

Dimana :

Fx = gaya lateral rencana yang dipalikasikan pada lantai x

Wx = bagian beban mati total seluruh struktur yang bekerja pada lantai x.

2.4.2. Analisis Struktur Terhadap Gempa

Pada Perencanaan Struktur Gedung Lima Lantai Kantor Polda Jateng

menggunakan Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK). Struktur

bangunan gedung harus diklasifikasikan sebagai beraturan atau tidak beraturan.

Struktur yang tidak memenuhi ketentuan di atas ditetapkan sebagai gedung

tidakberaturan horizontal dan vertikal bangunan gedung.

Untuk struktur gedung beraturan, pengaruh gempa rencana dapat ditinjau

sebagai pengaruh beban gempa ekuivalen, sehingga analisisnya dilakukan

berdasarkan analisis statik ekuivalen. Sedangkan untuk gedung yang tidak

memenuhi kriteria tersebut, ditetapkan sebagai gedung tidakberaturan dengan

pengaruh beban rencana ditinjau sebagai pengaruh pembebanan dinamik dan

analisisnya dilakukan berdasarkan analisis respons dinamik.

2.4.2.1. Perencanaan Struktur Gedung Simetris

Struktur gedung beraturan dapat direncakan terhadap

pembebanan gempa nominal akibat pengaruh gempa rencana dalam

arah masing-masing sumbu utama denah tersebut.

Pembebanan gempa nominal akibat pengaruh gempa rencana

pada struktur gedung beraturan ditampilkan sebagai beban-beban

gempa nominal statik ekuivalen yang menagkap pada pusat masa

lantai-lantai bertingkat.

a. Beban Geser Dasar Nominal Statik Ekuivalen (V) yang terjadi

ditingkat dasar dapat dihitung menurut persamaan :

Page 8: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

1

8

𝑽 = 𝑪 . 𝑰

𝑹𝑾𝒕

Dimana :

I = faktor keutamaan struktur (tabel 2.6).

C = nilai faktor respon gempa yang didapat dari respon

spektrum gempa rencana untuk waktu getar alami

fundamental T.

Wt = berat total gedung termasuk beban bidup yang sesuai.

b. Beban Geser Dasar Nominal V harus dibagikan sepanjang tinggi

struktur gedung menjadi beban gempa nominal statik ekuivalen (Fi)

yang menangkap pada pusat massa lantai tingkat ke-I, menurut

persamaan :

𝑭 = 𝑾𝒊 . 𝒁𝒊

(𝑾𝒊 . 𝒁𝒊𝒏𝒊=𝟏 )

𝑽𝒙

Dimana :

Wi = berat lantai tingkat ke-I, termasuk beban hidup yang

sesusai.

Zi = ketinggian lantai tingakt ke-I diukur dari taraf penjepitan

lateral

n = nomor lantai tingkat paling atas

c. Rasio perbandingan antara tinggi struktur gedung dan ukuran

denahnya dalam arah pembebanan gempa sama dengan atau

melebihi 3, maka nilai 0,1 V harus dianggap sebagai beban

horizontal terpusat yang meangkap pada pusat massa lantai tingkat

paling atas, sedangkan 0,9 V sisanya dibagikan sepanjang tinggi

struktur gedung menjadi beban-beban gempa nominal statik

ekuivalen.

d. Waktu getar alami fundamental struktur gedung beraturan dalam

arah masing-masing sumbu utama dapat ditentukan dengan rumus

Reyleigh sebagai berikut :

Page 9: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

1

9

𝑻 = 𝟔, 𝟑 𝑾𝒊 . 𝒅𝒊

𝒏𝒊=𝟏 ²

𝒈 . 𝑭𝒊 . 𝒅𝒊𝒏𝒊=𝟏

Dimana :

di = simpangan horizontal lantai tingkat ke-I dinyatakan dalam

mm.

g = percepatan gravitasi yang ditetapkan sebesar 9,81 mm/dt².

e. Apabila aktu getar alami fundamental Ti struktur gedung untuk

penentuan faktor respon gempa C ditentukan dengan rumus

empirik atau didapat dari hasil analisis fibrasi bebas 3 dimensi,

nilainya tidak boleh menyimpang melebihi 20% dari yang dihitung

menurut rumus Rayleigh.

2.4.2.2. Perencanaan Struktur Gedung Asimetris

Perencanaan struktur gedung tidak beraturan dianalisis dengan

analisis dinamik. Untuk analisis terhadap beban gempa dinamik,

lantai-lantai dari bangunan dianggap sebagai diafragma kaku. Dengan

model ini, massa-massa dari setiap bangunan dipusatkan pada titik

berat lantai (model massa terpusat / lumped mass model).

1. Ketidakberaturan Horizontal

Struktur bangunan gedung yang mempunyai satu atau lebih

tipe ketidakberaturan harus dianggap mempunyai ketidakberaturan

struktur horizontal.

Page 10: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

1

10

Tabel 2.1. Ketidakberaturan Horizontal pada Struktur

Tipe dan penjelasan ketidakberaturan Pasal

referensi

Penerapan

kategori desain

seismik

1a.

Ketidakberaturan torsi didefinisikan ada jika simpangan antar

lantai tingkat maksimum, torsi yang dihitung termasuk tak

terduga, di sebuah ujung struktur melintang terhadap sumbu

lebih dari 1,2 kali simpangan antar lantai tingkat rata-rata

dikedua ujung struktur. Persyaratan ketidakberaturan torsi

dalam pasal-pasal referensi berlaku hanya untuk struktur

dimana diafragmanya kaku atau setengah kaku.

7.3.3.4

7.7.3

7.8.4.3

7.12.1

Tabel 13

12.2.2

D, E, dan F

B, C, D, E dan F

C, D, E, dan F

C, D, E, dan F

D, E, dan F

B, C, D, E, dan F

1b.

Ketidakberaturan torsi berlebihan didefinisikan ada jika

simpangan antar lantai tingkat maksimum, torsi yang dihitung

termasuk tak terduga, disebuah ujung struktur melintang

terhadap sumbu lebih dari 1,4 kali simpangan antar lantai

tingkat rata-rata dikedua ujung struktur. Persyaratan

ketidakberaturan torsi berlebihan dalam pasal-pasal referensi

berlaku hanya untuk struktur dimana diafragmanya kaku atau

setengah kaku

7.3.3.1

7.3.3.4

7.7.3

7.8.4.3

7.12.1

Tabel 13

12.2.2

E dan F

D

B, C, dan D

C dan D

C dan D

D

B, C, dan F

2.

Ketidakberaturan sudut dalam didefiniskan ada jika kedua

proyeksi denah struktur dari sudut dalam lebih besar dari 15

persen dimensi denah struktur dalam arah yang ditentukan

7.3.3.4

Tabel 13

D, E, dan F

D, E, dan F

3.

Ketidakberaturan diskontinuitas difragma didefinisikan ada

jika terdapat difragma dengan diskontinuitas atau variasi

kekakuan mendadak, termasuk yang mempunyai daerah

terpotong atau terbuka lebih besar dari 50 persen daerah

difragma bruto yang melingkupinya, atau perubahan

7.3.3.4

Tabel 13

D, E, dan F

D, E, dan F

Page 11: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

1

11

kekakuan difragma efektif lebih dari 50 persen dari suatu

tingkat ke tingkat selanjutnya

4.

Ketidakberaturan pergeseran melintang terhadap bidang

didefinisikan ada jika terdapat diskontuinitas dalam lintasan

tahanan gaya lateral, seperti pergeseran melintang terhadap

bidang elemen vertical

7.3.3.3

7.3.3.4

7.7.3

Tabel 13

12.2.2

B, C, D, E, dan F

D, E, dan F

B, C, D, E, dan F

D, E, dan F

B, C, D, E, dan F

5.

Ketidakberaturan sistem nonparalel didefinisikan ada jika

elemen penahan gaya lateral vertikal tidak paralel atau

simetris terhadap sumbu-sumbu ortogonal utama sistem

penahan gaya gempa

7.5.3

7.7.3

Tabel 13

12.2.2

C, D, E, dan F

B, C, D, E, dan F

D, E, dan F

B, C, D, E, dan F

(Sumber : Standar Perencanaan Ketahanan Gempa untuk

Struktur Bangunan Gedung SNI 1726 : 2012 )

2. Ketidakberaturan Vertikal

Struktur bangunan bangunan gedung yang mempunyai satu

atau lebih tipe ketidakberaturan harus dianggap mempunyai

ketidakberaturan vertikal. Struktur dirancang untuk kategori desain

seismik.

Tabel 2.2. Ketidakberaturan Vertikal pada Struktur

Tipe dan penjelasan ketidakberaturan Pasal

referensi

Penerapan

kategori desain

seismik

1a.

Ketidakberaturan Kekakuan Tingkat Lunak

didefinisikan ada jika terdapat suatu tingkat

dimana kekakuan lateralnya kurang dari 70

persen kekakuan lateral tingkat di atasnya atau

Tabel 13 D, E, dan F

Page 12: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

1

12

kurang dari 80 persen kekakuan rata-rata tifa

tingkat di atasnya

1b.

Ketidakberaturan Kekakuan Tingkat Lunak

Berlebihan didefinisikan ada jika terdapat suatu

tingkat dimana kekakuan lateralnya kurang dari

60 persen kekakuan lateral tingkat di atasnya

atau kurang dari 70 persen kekakuan rata-rata

tiga tingkat di atasnya

7.3.3.1

Tabel 13

E, dan F

D, E, dan F

2

Ketidakberaturan Berat (Massa) didefinisikan

ada jika massa efektif semua tingkat lebih dari

150 persen massa efektif tingkat didekatnya.

Atap yang lebih ringan dari lantai di bawahnya

tidak perlu ditinjau

Tabel 13 D,E, dan F

3

Ketidakberaturan Geometri Vertikal

didefinisikan ada jika dimensi horizontal sistem

penahan gaya gempa di semua tingkat lebih dari

130 persen dimensi horizontal sistem penahan

gaya gempa tingkat didekatnya

Tabel 13 D,E, dan F

(Sumber : Standar Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur

Bangunan Gedung SNI 1726 : 2012 )

2.5. Perencanaan Struktur Bangunan

2.5.1. Pembebanan

Secara umum, beban luar yang bekerja pada struktur dapat dibedakan

menjadi beban statis dan beban dinamis.

2.5.1.1. Beban Statis

Beban statis adalah beban yang bekerja secara terus – menerus

pada suatu struktur. Beban statis juga diasumsikan dengan beban –

beban yang secara perlahan – lahan timbul serta mempuyai variable

besaran yang bersifat tetap (steady states). Dengan demikian, jika

Page 13: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

1

13

suatu beban mempunyai perubahan intensitas yang berjalan cukup

perlahan sedemikian rupa sehingga pengaruh waktu tidak dominan,

maka beban tersebut dapat dikelompokkan sebagai beban statik (static

load). Deformasi dari struktur akibat beban statik akan mencapai

puncaknya jika beban ini mencapai nilainya yang maksimum. Beban

statik pada umumnya dapat dibedakan menjadi beban mati dan beban

hidup.

1. Beban Mati

Berdasarkan SNI – 1727 – 2013, beban mati adalah berat

seluruh bahan konstruksi bangunan yang terpasang, termasuk

dinding, lantai, atap, plafond, tangga, dinding partisi tetap,

finishing, klading gedung dan komponen arsitektural dan struktal

lainnya serta perlatan layan yang terpasang termasuk berat keran..

Semua metode untuk menghitung beban mati sebuah elemen adalah

berdasarkan atas tinjauan berat satuan material yang terlihat dan

berdasarkan volume elemen tersebut.

Menurut Pedoman Perencanaan Pembebanan untuk Rumah

dan Gedung tahun 1987 beban mati pada struktur terbagi menjadi

2, yaitu beban mati akibat bahan bangunan dan beban mati akibat

komponen gedung.

Tabel 2.3. Berat Sendiri Bahan Bangunan

Material Berat

Baja 7850 kg/m3

Beton Bertulang 2400 kg/m3

(Sumber : Pedoman Perencanaan Pembebanan untuk

Rumah dan Gedung 1987)

Page 14: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

1

14

Tabel 2.4. Berat Sendiri Komponen Gedung

Material Berat

Adukan semen per cm tebal 21 kg/m2

Dinding pasangan bata merah

setengah batu

Langit-langit

Eternit, tebal maksimum 4mm

Penggantung langit-langit kayu

(max. 5 m)

250 kg/m2

11 kg/m2

7 kg/m2

Penutup lantai keramik 24 kg/m2

(Sumber : Pedoman Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan

Gedung 1987)

2. Beban Hidup

beban hidup berdasarkan SNI – 1727 – 2013 adalah beban

yang diakibatkan oleh pengguna dan penghuni gedung atau

pekerja, peralatan lain yang tidak teramasuk beban konstruksi dan

beban lingkungan, seperti beban angin, beban hujan, beban gempa,

beban banjir atau beban mati.

Tabel 2.5. Beban Hidup pada Lantai Gedung

No. Penggunaan Berat Keterangan

1 lantai dan tangga rumah

tinggal

200 kg/m² (kecuali yang

disebut pada no.

2)

2 - lantai dan tangga rumah

tinggal sederhana

125 kg/m²

- gudang-gudang selain untuk

toko, pabrik, bengkel

3 - sekolah dan ruang kuliah 250 kg/m²

- Kantor

- toko, toserba

Page 15: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

1

15

- Restoran

- hotel, asrama

- rumah sakit

4 ruang olahraga 400 kg/m²

5 ruang dansa 500 kg/m²

6 lantai dan balkon dalam dari

ruang pertemuan

400 kg/m² (masjid, gereja,

ruang

pagelaran/rapat,

bioskop dengan

tempat duduk

tetap)

7 panggung penonton 500 kg/m² (tempat duduk

tidak tetap /

penonton yang

berdiri)

8 tangga, bordes tangga dan

gang

300 kg/m² (no. 3)

9 tangga, bordes tangga dan

gang

500 kg/m² (no. 4, 5, 6, 7)

10 ruang pelengkap 250 kg/m² (no. 3, 4, 5, 6, 7)

11 - pabrik, bengkel, gudang 400 kg/m² (minimum)

- perpustakan, ruang arsip,

toko buku

- ruang alat dan mesin

12 gedung parkir bertingkat :

- lantai bawah 800 kg/m²

- lantai tingkat lainnya 400 kg/m²

13 balkon yang menjorok

bebas keluar

300 kg/m² (minimum)

(Sumber : Pedoman Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan

Gedung 1987)

Tabel 2.6. Beban Hidup pada Atap Gedung

No. Bagian atap Berat Keterangan

1 atap / bagiannya yang

dapat dacapai orang,

termasuk kanopi

100 kg/m² (atap dak)

2 atap / bagiannya yang tak dapat dicapai orang (diambil minimum) :

- beban hujan (40 -

0,8 s

)

kg/m² (s = sudut atap, min. 20 kg/m2, tak

perlu ditinjau bila s > 50° )

- beban terpusat 100 kg/m²

3 balok / gording tepi

bagian kantilever

200 kg/m²

(Sumber : Pedoman Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung 1987)

Page 16: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

1

16

2.5.1.2. Beban Dinamis

Beban dinamis adalah beban yang bekerja secara tiba – tiba

pada struktur. Pada umumnya beban ini tidak bersifat tetap (unsteady-

state) serta mempunyai karakteristik besaran dan arah yang berubah

dengan cepat. Deforamsi pada struktur akibat beban dinamik ini uga

akan berubah – ubah secara cepat. Beban dinamis seperti beban akibat

getaran gempa atau angin.

1. Beban gempa

Gempa bumi adalah fenomena getaran yang dikatikan dengan

kejutan pada kerak bumi. Pada saat bangunan bergetar, maka

timbul gaya – gaya pada struktur bangunan karena adanya

kecendrungan massa bangunan untuk mempertahankan dirinya dari

gerakan. Gaya yang timbul disebut gaya inersia.

Menurut PPPURG 1987, beban gempa adalah semua beban

statik ekuivalen yang bekerja pada gedung atau bagian gedung

yang menirukan pengaruh dari getaran tanah akibat gempa itu.

Dalam hal pengaruh gempa pada struktur gedung ditentukan

berdasarkan suatu analisa dinamik, maka yang diartikan dengan

beban gempa disini adalah gaya-gaya di dalam struktur tersebut

yang terjadi oleh gerakan tanah akibat gempa itu.

Dalam menentukan factor respon gempa (C) dapat ditentukan

dari diagram spectrum gempa rencana sesuai dengan wilayah

gempa dan kondisi jenis tanahnya untuk waktu getar alami

fundamental.

a) Wilayah Gempa dan Spektrum Respon

Besar kecilnya beban gempa yang diterima suatu

strukturtergantung pada lokasi dimana struktur bangunan

tersebut akan dibangun seperti terlihat pada Gambar Peta

Wilayah Gempa berikut.

Page 17: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

1

17

Gambar 2.1. Peta Wilayah Gempa Indonesia

Sumber : Standar Perencanaan Ketahanan Gempa untuk struktur Bangunan Gedung(SNI1726-2012)

Harga dari faktor respon gempa (C) dapat ditentukan dari

Diagram Spektrum Gempa Rencana, sesuai dengan wilayah

gempa dan kondisi jenis tanahnya untuk waktu getar alami

fundamental.

Gambar 2.2. Spektrum Respons

Sumber : Standar Perencanaan Ketahanan Gempa untuk

struktur Bangunan Gedung(SNI 03-1726-2002)

Page 18: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

1

18

Tabel 2.7.Spektrum Respons Gempa Rencana

Sumber : Standar Perencanaan Ketahanan Gempa untuk

struktur Bangunan Gedung(SNI 03-1726-2002)

b) Faktor Keutamaan Gedung

Faktor keutamaan gedung adalah suatu koefisien yang

diadakan untuk memperpanjang waktu ulang dari kerusakan

struktur – struktur gedung yang relatif lebih utama, untuk

menanamkan modal yang relatif besar pada gedung itu. Waktu

ulang dari kerusakan struktur gedung akibat gempa akan

diperpanjang dengan pemakaian suatu faktor keutamaan. Faktor

keutamaan I menurut persamaan :

𝑰 = 𝑰𝟏 𝒙 𝑰𝟐

Dimana :

𝐼1 = faktor keutamaan untuk menyesuaikan periode ulang

gempa berkaitan dengan penyesuaian probabilitas

terjadinya gempa selama umur gedung,

𝐼2 = faktor keutamaan untuk menyesuaikan umur gedung

tersebut.

Wilayah

Gempa

Tanah Keras

Tc = 0,5 det.

Tanah Sedang

Tc = 0,6 det.

Tanah Lunak

Tc = 1,0 det.

Am Ar Am Ar Am Ar

1

2

3

4

5

6

0,10

0,30

0,45

0,60

0,70

0,83

0,05

0,15

0,23

0,30

0,35

0,42

0,13

0,38

0,55

0,70

0,83

0,90

0,08

0,23

0,33

0,42

0,50

0,54

0,20

0,50

0,75

0,85

0,90

0,95

0,20

0,50

0,75

0,85

0,90

0,95

Page 19: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

1

19

Tabel 2.8. Faktor Keutamaan untuk Berbagai Gedung dan

Bangunan

Kategori gedung

Faktor Keutamaan

I1 I2 I

Gedung umum seperti untuk

penghunian, perniagaan dan

perkantoran

1,0 1,0 1,0

Monumen dan bangunan monumental 1,0 1,6 1,6

Gedung penting pasca gempa seperti

rumah sakit, instalasi air bersih,

pembangkit tenaga listrik, pusat

penyelamatan dalam keadaan darurat,

fasilitas radio dan televise

1,4 1,0 1,4

Gedung untuk menyimpan bahan

berbahaya seperti gas, produk minyak

bumi, asam, bahan beracun

1,6 1,0 1,6

Cerobong, tangki di atas menara 1,5 1,0 1,5

Sumber : Standar Perencanaan Ketahanan Gempa untuk

Struktur Bangunan Gedung(SNI 03-1726-2002)

c) Daktilitas Struktur Gedung

Faktor daktilitas struktur gedung μ adalah rasio antara

simpangan maksimum struktur gedung akibat pengaruh gempa

rencana pada saat mencapai kondisi diambang keruntuhan δm

dan simpangan struktur gedung pada saat terjadinya pelelehan

pertama δy, yaitu :

𝟏, 𝟎 ≤ 𝝁 = 𝜹𝒎

𝜹𝒚 ≤ 𝝁𝒎

Page 20: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

1

20

Dimana :

μ = 1,0 yaitu nilai faktor daktilitas untuk struktur bangunan

gedung yang berperilaku elastik penuh.

μm = nilai faktor daktilitas maksimum yang dapat dikerahkan

oleh sistem struktur bangunan gedung yang

bersangkutan.

Tabel 2.9. Parameter Daktilitas Struktur Gedung

Sistem dan subsistem struktur

gedung

Uraian sistem pemikul beban

gempa µm Rm

f

Pers.

(39)

1. Sistem dinding penumpu

(Sistem struktur yang tidak

memiliki rangka ruang pemikul

beban gravitasi secara

lengkap. Dinding penumpu

atau sistem bresing memikul

hampir semua beban gravitasi.

Beban lateral dipikul dinding

geser atau rangka bresing).

1. Dinding geser beton bertulang 2,7 4,5 2,8

2. Dinding penumpu dengan

rangka baja ringan dan bresing

tarik

1,8 2,8 2,2

3. Rangka bresing dimana

bresingnya memikul beban

gravitasi

a. Baja 2,8 4,4 2,2

b. Beton bertulang (tidak

untuk Wilayah 5 & 6)

1,8 2,8 2,2

2. Sistem rangka gedung

(Sistem struktur yang pada

dasarnya memiliki rangka

ruang pemikul beban gravitasi

secara lengkap. Beban lateral

dipikul dinding geser atau

rangka bresing).

1. Rangka bresing eksentris baja

(RBE)

4,3 7,0 2,8

2. Dinding geser beton bertulang 3,3 5,5 2,8

3. Rangka bresing biasa

a. Baja 3,6 5,6 2,2

b. Beton bertulang (tidak

untuk Wilayah 5 & 6)

3,6 5,6 2,2

Page 21: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

1

21

4. Rangka bresing konsentrik

khusus

a. Baja 4,1 6,4 2,2

5. Dinding geser beton bertulang

berangkai daktail

4,0 6,5 2,8

6. Dinding geser beton bertulang

kantilever daktail penuh

3,6 6,0 2,8

7. Dinding geser beton bertulang

kantilever daktail parsial

3,3 5,5 2,8

3. Sistem rangka pemikul momen

(Sistem struktur yang pada

dasarnya memiliki rangka ruang

pemikul beban gravitasi secara

lengkap. Beban lateral dipikul

rangka pemikul momen terutama

melalui mekanisme lentur)

1. Rangka pemikul momen khusus

(SRPMK)

a. Baja 5,2 8,5 2,8

b. Beton bertulang 5,2 8,5 2,8

2. Rangka pemikul momen

menengah beton (SRPMM)

3,3 5,5 2,8

3. Rangka pemikul momen biasa

(SRPMB)

a. Baja 2,7 4,5 2,8

b. Beton bertulang 2,1 3,5 2,8

4. Rangka batang baja pemikul

momen khusus (SRPMK)

4,0 6,5 2,8

4. Sistem ganda

(Terdiri dari : 1) rangka ruang yang

memikul seluruh beban gravitasi;

2) pemikul beban lateral berupa

dinding geser atau rangka bresing

1. Dinding geser

a. Beton bertulang dengan

SRPMK beton bertulang

5,2 8,5 2,8

b. Beton bertulang 2,6 4,2 2,8

Page 22: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

1

22

dengan rangka pemikul momen.

Rangka pemikul momen harus

direncanakan secara terpisah

mampu memikul sekurang-

kurangnya 25% dari seluruh beban

lateral; 3) kedua sistem harus

direncakan untuk memikul secara

bersama-sama seluruh beban

lateral dengan memperhatikan

interaksi/sistem ganda)

dengan SRPMB baja

c. Beton bertulang dengan

SRPMM beton bertulang

4,0 6,5 2,8

2. RBE baja

a. Dengan SRPMK baja 5,2 8,5 2,8

b. Dengan SRPMB baja 2,6 4,2 2,8

3. Rangka bresing biasa

a. Baja dengan SRPMK

baja

4,0 6,5 2,8

b. Baja dengan SRPMB

baja

2,6 4,2 2,8

c. Beton bertulang dengan

SRPMK beton bertulang

(tidak untuk Wilayah 5 &

6)

4,0 6,5 2,8

d. Beton bertulang

dengan SRPMM beton

bertulang (tidak untuk

Wilayah 5 & 6)

2,6 4,2 2,8

4. Rangka bresing konsentrik

khusus

a. Baja dengan SRPMK

baja

4,6 7,5 2,8

b. Baja dengan SRPMB

baja

2,6 4,2 2,8

5. Sistem struktur gedung kolom

kantilever : (Sistem struktur yang

Sistem struktur kolom kantilever 1,4 2,2 2

Page 23: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

1

23

memanfaatkan kolom kantilever

untuk memikul beban lateral

6. Sistem interaksi dinding geser

dengan rangka

Beton bertulang biasa (tidak untuk

Wilayah 5 & 6)

3,4 5,5 2,8

7. Subsistem tunggal

(Subsistem struktur bidang yang

membentuk struktur gedung

secara keseluruhan)

1. Rangka terbuka baja 5,2 8,5 2,8

2. Rangka terbuka beton

bertulang

5,2 8,5 2,8

3. Rangka terbuka beton

bertulang dengan balok beton

pratekan (tergantung pada indeks

baja total)

3,3 5,5 2,8

4. Dinding geser beton bertulang

berangkai daktail penuh

4,0 6,5 2,8

5. Dinding geser beton bertulang

kantilever parsial

3,3 5,5 2,8

Sumber : Standar Perencanaan Ketahanan Gempa untuk

struktur Bangunan Gedung(SNI 03-1726-2002)

d) Pembatasang Waktu Getar

Untuk mencegah penggunaan struktur yang terlalu

fleksibel, nilai waktu getar struktur fundamental harus dibatasi.

Dalam SNI 03-1726-2002 Kota Semarang masuk dalam wilayah

gempa 2 diberikan batasan sebagai berikut :

𝑻 < 𝜉𝑛

Dimana :

T = waktu getar struktur fundamental

n = jumlah tingkat gedung

ξ = koefisien pembatas

Page 24: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

1

24

Tabel 2.10.Koefisien Pembatas

Wilayah Gempa Koefisien Pembatas (ς)

1 0,20

2 0,19

3 0,18

4 0,17

5 0,16

6 0,15

Sumber : Standar Perencanaan Ketahanan Gempa untuk

struktur Bangunan Gedung (SNI 03-1726-2002)

e) Jenis tanah

Pengaruh gempa rencana di muka tanah harus ditentukan

dari hasil analisis perambatan gelombang gempa dari kedalaman

batuan dasar ke muka tanah denganpercepatan puncak untuk

batuan dasar.

Gelombang gempa merambat melalui batuan dasar di

bawah permukaan tanah dari kedalaman batuan dasar ini

gelombang gempa merambat ke permukaan tanah sambil

mengalami pembesaran atau amplifikasi bergantung pada jenis

lapisan tanah yang berada jenis lapisan tanah yang berada di atas

batuan dasar tersebut. Ada 3 kriteria yang dipakai untuk

mendefinisikan batuan dasar yaitu standar penetrasi test (N),

kecepatan rambat gelombang dgeser (Vs) dan kekuatan geser

tanah (Su).

Jenis tanah ditetapkan sebagai tanah keras, tanah sedang

dan tanah lunak, apabila untuk lapisan setebal 30 m paling atas

dipenuhi syarat-syarat yang terdapat dalam tabel.

Page 25: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

1

25

Tabel 2.11. Jenis-Jenis Tanah

Jenis tanah Vs (m/dt) N Su (Kpa)

Keras Vs ≥ 350 N ≥ 50 Su ≥ 100

Sedang 175 ≤ Vs < 350 15 ≤ N < 50 50 ≤ Su < 100

Lunak Vs < 175 N <15 Su < 50

Khusus Diperlukan evaluasi khusus ditiap lokasi

Sumber : Standar Perencanaan Ketahanan Gempa untuk struktur

Bangunan Gedung (SNI 03-1726-2002)

Perhitungan nilai hasil penetrasi standar rata-rata (N) :

𝑵 = 𝒕𝒊

𝒎𝒊=𝟏

𝒕𝒊𝑵𝒊

𝒎𝒊=𝟏

Dimana :

Ti = tebal lapisan tanah ke i

Ni = nilai hasil test penetrasi standar lapisan tanah ke – i

M = jumlah lapisan tanah yang ada di atas batuan dasa

2. Beban angin

beban angin adalah semua beban yang bekerja pada gedung

atau bagian gedung yang disebabkan oleh selisih dalam tekanan

udara (PPPURG 1987),. Beban angin yang berdasarkan PPPURG

1987 ditentukan dengan menganggap adanya tekanan positif dan

negatif yang bekerja tegak lurus pada bidang-bidang yang ditinjau.

2.5.2. Perencanaan Pembebanan

Untuk keperluan desain perlu diperhitungkan kemungkinan terjadinya

kombinasi pembebanan (Load Combination) dan beberapa kasus beban yang

dapat bekerja secara bersamaan selama umur rencana. Kombinasi pembebanan

ini disebabkan oleh bekerjanya beban mati, beban hidup dan beban gempa.

Nilai-nilai tersebut dikalikan dengan suatu faktor beban, dengan tujuan agar

Page 26: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

1

26

struktur dan komponennya memenuhi syarat kekuatan dan layak pakai

terhadap berbagai kombinasi pembebanan.

Untuk perencanaan beton bertulang, kombinasi pembebanan ditentukan

berdasarkan “Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung

“(SNI 03 – 2847 – 2002) sebagai berikut :

Kombinasi pembebanan :

U = 1,4 D

U = 1,2 D + 1,6 L

U = 1,2 D + 1,0 L ± 1,0 E

Dimana : D = beban mati

L = beban hidup

E = beban gempa

Dalam menentukan kuat recana suatu komponen struktur, maka kuat

minimalnya harus direduksi dengan factor reduksi keuatan sesuai dengan sifat

beban, hal ini dikarenakan adanya ketidakpastian kekuatan bahan terhadap

pembebanan.

2.5.3. Faktor Reduksi Kekuatan

Faktor reduksi kekuatan bahan adalah suatu bilangan yang bersifat

mereduksi kekuatan bahan, dengan tujuan untuk mendapatkan kondisi paling

buruk jika pada saat pelaksanaan nanti terdapat perbedaan mutu bahan yang

ditetapkan sesuai standar bahan yang ditetapkan dalam perencanaan

sebelumnya. Besarnya faktor reduksi kekuatan bahan yang digunakan

tergantung dari pengaruh gaya yang bekerja pada suatu elemen struktur sesuai

SNI 03-2847-2002 pasal 11.3.2.

Page 27: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

1

27

Tabel 2.12. Faktor Reduksi Kekuatan

Nomor Kondisi Pembebanan Faktor

Reduksi

1.

Beban lentur tanpa beban aksial 0,8

2.

Beban aksial, dan beban aksial dengan lentur :

a. Gaya aksial tarik, dan aksial tarik dengan lentur 0,8

b. Gaya aksial tekan dan aksial tekan dengan lentur

Komponen struktur dengan tulangan spiral 0,7

Komponen struktur lainnya 0,65

3.

Geser dan torsi 0,75

a. Pada komponen struktur penahan gempa yang

kuat

0,55

b. Pada hubungan balok-kolom yang diberi tulangan

diagonal

0,8

4.

Tumpuan pada beton kecuali untuk daerah

pengangkuran pasca tarik

0,65

5. Daerah pengankuran pasca tarik 0,85

6.

Penampang lentur tanpa beban aksial pada

komponen struktur pratarik dimana panjang

penanaman strand-nya kurang dari panjang

penyaluran yang ditetapkan

0,75

Beban lentur, tekan, geser, dan tumpu pada beton

polos structural

0,55

Sumber : Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung SNI

03-2847-2002 pasal 11.3

2.6. Struktur

2.6.1. Struktur Atas (Upper Structure)

2.6.1.1. Rangka Atap

Atap adalah bagian dari suatu bangunan yang berfungsi sebgai

penutup seluruh ruangan yang ada dibawahnya terhadap pengaruh

panas, debu, hujan, angina tau untuk keperluang perlindungan.

Konstruksi rangka atap yang digunakan adalah rangka atap kuda –

kuda dan pelat atap. Rangka atap atau kuda – kuda adalah suatu

susunan rangka batang yang berfungsi untuk mendukung beban atap

termasuk juga berat sendiri dan sekaligus memberikan bentuk pada

atap.

Page 28: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

1

28

Analisis beban atap diperhitungkan terhadap beban mati, beban

hidup, dan beban angin. Analisis pembebanan berdasarkan Pedoman

Perencanaan Pembebanan untuk Gedung. Sedangkan analisis gaya

batang kuda-kuda dengan analisis tak tentu menggunakan program

SAP2000.

1. Gording

Salah satu unsur dalam kuda – kuda adalah gording, gording

dianggap sebagai gelagar yang menumpu bebas di atas dua

tumpuan. Desain gording berdsasarkan peraturan SNI 03 -1729 –

2002 adalah sebagai berikut :

Gambar 2.3. Gording

a. Pembebanan gording :

Beban mati (D)

D = q = berat sendiri profil (qs) + berat atap (qa)

Beban mati (L) = beban pekerja (p)

Tekanan Angin (w)

b. Momen yang terjadi akibat pembebanan

Akibat beban mati

𝑴𝒙 = 𝟏

𝟖 𝒙 𝒒𝐬𝐢𝐧𝜶 𝒙 𝒍𝟐 dan 𝑴𝒚 =

𝟏

𝟖 𝒙 𝒒 𝐜𝐨𝐬𝜶 𝒙 𝒍𝟐

Akibat beban hidup

𝑴𝒙 = 𝟏

𝟒 𝒙 𝒑𝐬𝐢𝐧𝜶 𝒙 𝒍𝟐 dan 𝑴𝒚 =

𝟏

𝟒 𝒙 𝒑𝐜𝐨𝐬𝜶 𝒙 𝒍𝟐

Akibat beban angin

a) Angin tekan

Page 29: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

1

29

𝑴𝒙 = 𝟏

𝟖 𝒙 𝒘 𝒙 𝒍 𝒙 (𝟎, 𝟎𝟐𝜶 − 𝟎, 𝟎𝟒)

b) Angin hisap

My = –0,4

c. Kontrol tegangan yang terjadi

Mu ≤ Mn

Keterangan :

Mu = Kombinasi beban momen terfaktor

= factor reduksi kekuatan

Mn = Kekuatan Momen Nominal

d. Kontrol lendutan

𝑓𝑥 = 5. 𝑞𝑥. 𝑙4

384. 𝐸. 𝐼𝑦+

𝑝𝑥. 𝑙3

48. 𝐸. 𝐼𝑦

𝑓𝑦 = 5. 𝑞𝑦. 𝑙4

384. 𝐸. 𝐼𝑥+

𝑝𝑦. 𝑙3

48. 𝐸. 𝐼𝑥

𝒇 = 𝒇𝒙𝟐 + 𝒇𝒚𝟐 < 𝑓 𝑖𝑗𝑖𝑛 (𝟏

𝟓𝟎𝟎𝒙 𝒍)

Keterangan notasi rumus kontrol tegangan dan lendutan

My = momen terhadap sumbu x-x

My = momen terhadap sumbu y-y

x = tegangan arah sumbu x-x

y = tegangan aah sumbu y-y

fx = lendutan arah sumbu x-x

fy = lendutan arah sumbu y-y

q = beban merata

l = bentang gording

E = modulus elastisitas baja

I = momen inersia profil

wx = momen tahanan arah sumbu x-x

wy = momen tahanan arah sumbu y-y

Page 30: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

1

30

2. Batang Kuda – Kuda

Desain kuda – kuda didesain dengan memperhatikan

batasan – batasan sebagai berikut :

a. Untuk menghindari tekuk pada tahap pelaksanaan maupun

akibat gaya yang bekerja, kelangsingan maksimum batang harus

memenuhi ketentuan sebagai berikut :

a) Konstruksi utama tidak boleh lebih dari 150

b) Konstruksi sekunder tidak boleh lebih dari 200

c) Angka kelangsingan () = Lk / imin dimana :

Lk = panjang tekuk ((m)

imin = jari – jari kelembaman minimum batang (m)

imin = 1

12 𝑏𝑕3

b. Tegangan yang terjadi () tidak melebihi tegangan yang

diijinkan (ijin)

Batang tekan, = 𝑃 𝑥 𝜔

2𝐹

Batang tarik, = 𝑃

𝐹 𝑛𝑒𝑡𝑡𝑜

Dimana :

P = gaya batang

F = luas penampang

F netto = F - baut

3. Sambungan Baut

a. Perencanaan Baut

Suatu baut yang memikul gaya terfaktor , Ru harus memenuhi

Ru ≤ ∅ Rn

(Tata cara perencanaan struktur baja untuk bangunan gedung ,

SNI 03-1729-2002, hal 99)

b. Baut dalam geser

Kuat geser rencana dari satu baut dihitung sebagai berikut :

Vd = ∅ fVn= ∅fr1〖fu〗^b Ab

(Tata cara perencanaan struktur baja untuk bangunan gedung ,

SNI 03-1729-2002, hal 100)

Page 31: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

1

31

c. Baut yang memikul gaya tarik

Kuat tarik rencana satu baut dihitung sebagai berikut :

Td = ∅ fTn= ∅f 0,75 〖fu〗^b Ab

(Tata cara perencanaan struktur baja untuk bangunan gedung ,

SNI 03-1729-2002, hal 100)

d. Kuat tumpu

Apabila jarak lubang tepi terdekat dengan sisi pelat dalam arah

kerja gaya > 1,5 kali diameter lubang, jarak antar lubang > 3 kali

diameter lubang, dan ada lebih dari satu baut dalam arah kerja

gaya, maka kuat rencana tumpu dapat dihitung sebagai berikut :

Rd = ∅ f Rn=2,4 ∅f.db.tp .fu

(Tata cara perencanaan struktur baja untuk bangunan gedung ,

SNI 03-1729-2002, hal 101)

e. Pelat pengisi pada sambungan yang tebal antara 6 mm-20 mm,

kuat geser nominal satu baut yang ditetapkan harus dikurangi

15%.

f. Sambungan tanpa slip

Pada sambungan tipe friksi yang menggunakan baut mutu tinggi

yang slip nya dibatasi , satu baut yang hanya memikul gaya

geser terfaktor , Vu dalam bidang permukaan friksi harus

memenuhi :

Vu = Vd (= ∅ Vn)

(Tata cara perencanaan struktur baja untuk bangunan gedung ,

SNI 03-1729-2002, hal 102)

g. Tata letak baut

Jarak antar pusat lubang pengencang tidak boleh kurang dari 3

kali diameter nominal pengencang. Jarak antara pusat

pengencang tidak boleh melebihi 15 tp.

(Tata cara perencanaan struktur baja untuk bangunan gedung ,

SNI 03-1729-2002, hal 102)

Page 32: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

1

32

2.6.1.2. Pelat Lantai

Pelat beton bertulang dalam suatu struktur dipakai pada lantai

dan atap. Pelat lantai dirancang dapat menahan beban mati dan beban

hidup secara bersamaan sesuai kombinasi pembebanan yang bekerja

di atasnya.

1. Konsep Desain struktur Plat / Slab Beton

Jenis / tipe-tipe plat :

a. Plat Slab

- Plat dengan penebalan pada kepala kolom / capital

- Plat tanpa balok, beban ringan / tidak besar, bentangan

kecil

- Plat digunakan apartment, hotel dengan tebal 12 – 25 cm,

bentang 4,5 – 7 m

b. Flate Plate

- Plat ini tebal sama, tanpa drop panel, tanpa cavital, plat

sebagai plafon langsung untuk keperluan estetika.

- Tebal 12 – 15 cm, bentang 4,5 – 7 m

c. Plat Lantai Grid 2 Arah

- Plat ini dengan balok grid / bersilang rapat pada 2 arah

dengan plat tipis, mengurangi berat sendiri plat.

- Bentang 9 – 12 m.

d. Plat Sistem Lajur

- Plat jenis ini mengutamakan ketinggian lantai.

- Dengan sistem balok lajur (band beam) dengan balok lurus

menyambung pada klom dan balok dibuat lebih lebar ke

arah lebarnya ( b > h )

e. Plat Sistem Plat dan Balok

- Plat jenis ini, plat ditumpu pada balok ( monolit ) dengan

bentang balok 3 – 6 m.

- Tebal plat dihitung sesuai fungsi plat, sesuai

keamanannya.

Page 33: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

1

33

- Plat ini banyak dipakai, kokoh, bawah plat bisa di plafon /

tidak di plafon.

- Beban lantai besar , bisa untuk plat beraturan dan tidak

beraturan, untuk fungsi estetika.

2. Desain Metode Pelat dan Balok ( tipe no. 5 )

Gambar 2.4 Metode Pelat dan Balok

- Beban luar ditahan momen arah x dan arah y,

- Tidak menghitung efek torsi / puntir,

- Defeksi pada titik silang lendutan sama,

Sehingga didapat dengan persamaan :

𝑎𝑟𝑎𝑕 𝑦 𝑙𝑒𝑛𝑑𝑢𝑡𝑎𝑛 = 5

384 𝑊𝑦 . 𝑙𝑦

4

𝐸 . 𝐼

𝑎𝑟𝑎𝑕 𝑥 𝑙𝑒𝑛𝑑𝑢𝑡𝑎𝑛 = 5

384 𝑙𝑥

4 . 𝑊𝑥

𝐸 . 𝐼

5

384 𝑙𝑥

4 . 𝑊𝑥

𝐸 . 𝐼 5

384 𝑊𝑦 . 𝑙𝑦

4

𝐸 . 𝐼

Page 34: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

1

34

W= Wx+ Wy

Dimana:

x, y = arah bentang plat.

𝑊𝑥 , 𝑊𝑦 = beban luar plat / beban yang bekerja pada plat.

𝑙𝑥 , 𝑙𝑦 = bentang plat

Kesimpulan :

a. Bentang pendek ( lx ) menerima beban > bentang panjang (

ly ).

b. Sehingga tulangan plat dipasang lebih dulu pada bentang

pendek.

c. Gaya plat yang bekerja menentukan aksi 1 arah ( one slab

way ) dan dua arah ( two slab way ).

3. Rasio / Perbandingan Bentang Plat

yaitu dengan mengidentifikasi rasio bentang pelat :

rasio ly/lx>2 ( desain pelat 1 arah / one way slab )

rasio ly/lx= 1 s⁄d 2 ( desain pelat 2 arah / two way slab )

Dimana :

Ly : lebar sisi panjang pelat lantai (m)

Lx : lebar sisi pendek pelat lantai (m)

4. Desain satu arah (One Way Slab)

Suatu pelat dikatakan pelat satu arah apabila 𝐿𝑦

𝐿𝑥> 2 , dimana Ly

adalah sisi panjang dan Lx adalah panjang sisi pendek.

Gambar 2.5. Pelat yang ditumpu pada 2 sisinya

Ly

L

x

Page 35: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

1

35

Dalam perencanaan struktur pelat satu arah , langkah-langkah nya

adalah sebagai berikut :

a. Penentuan tebal plat

Penentuan tebal plat terlentur satu arah tergantung pada

beban atau momen lentur yang bekerja, defleksi yang terjadi

dan kebutuhan kuat geser yang dituntut (Istimawan , 56).

Untuk pelat satu arah tanpa memperhitungkan lendutan dapat

menggunakan tabel 8 pada SNI 03-2847-2002 : 63)

Tabel 2.13. Minimum Pelat Satu Arah bila Lendutan Tidak

Dihitung

Sumber : (SNI 03-2847-2002 : 63)

Page 36: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

1

36

b. Menghitung beban mati plat termasuk beban sendiri pelat dan

beban hidup serta menghitung Momen Rencana (Wu).

Wu = 1,2 WD+1,6 WL

𝑊𝐷 = Jumlah Beban Mati Pelat (KN/m)

𝑊𝐿 = Jumlah Beban Hidup Pelat (KN/m)

c. Menghitung Momen Rencana (Mu) baik dengan cara

Koefisien atau Analisis.

Metode pendekatan berikut ini dapat digunakan untuk

menentukan momen lentur dan gaya geser dalam

perencanaan balok menerus dan pelat satu arah , yaitu pelat

beton bertulang dimana tulangannya hanya direncanakan

untuk memikul gaya-gaya dalam satu arah, selama :

a) Jumlah minimum bentang yang ada haruslah minimum

dua.

b) Memiliki panjang bentang yang tidak terlalu berbeda,

dengan rasio panjang bentang terbesar terhadap panjang

bentang terpendek dari dua bentang yang bersebelahan

tidak lebih dari 1,2.

c) Beban yang bekerja merupakan beban terbagi rata.

d) Beban hidup per satuan panjang tidak melebihi tiga kali

beban mati per satuan panjang, dan

e) Komponen struktur adalah prismatis.

Koefisien momen menurut SNI 03-2847-2002 Pasal 10.3.3

:52

Page 37: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

1

37

Gambar 2.6. Koefisien Momen

d. Perkiraan Tinggi Efektif (d)

Tinggi efektif merupakan hasil pengurangan dari tinggi

total dikurang selimut beton dan dikurang setengah diameter

tulangan. Untuk beton bertulang, tebal selimut beton

minimum yang harus disediakan untuk tulangan harus

memenuhi ketentuan sebagai berikut :

Page 38: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

1

38

Tabel 2.14. Selimut Minimum

(Sumber : SNI 03-2847-2002 : 41)

e. Menghitung 𝐾𝑝𝑒𝑟𝑙𝑢 (SNI 03-2847-2002 :61)

K = Mu/(∅ b d^2 )

K = koefisien tahanan (Mpa)

Mu = momen terfaktor pada penampang (kNm)

B = lebar penampang (mm) diambil 1 m

D = tinggi efektif pelat (mm)

-∅ = faktor reduksi kekuatan lentur tanpa beban aksial =

0,8

Page 39: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

1

39

f. Menentukan rasio penulangan (𝜌) dari tabel. Dalam

penggunaan 𝜌 ada ketentuan yaitu 𝜌𝑚𝑖𝑛 <𝜌<𝜌𝑚𝑎𝑥

Jika 𝜌<𝜌𝑚𝑖𝑛 maka menggunakan 𝜌𝑚𝑖𝑛

Jika 𝜌>𝜌𝑚𝑎𝑥 maka pelat dibuat lebih tebal

g. Hitung As yang diperlukan

As = ρ b d

As = Luas tulangan (mm²)

𝜌 = rasio penulangan

D = tinggi efektif pelat (mm)

B = lebar efektif

h. Memilih tulangan pokok yang akan dipasang

i. Memilih tulangan susut dan suhu dengan menggunakan tabel.

Untuk tulangan susut dan suhu dihitung berdasarkan

peraturan SNI 03-2847-2002 : 48 yaitu :

a) Tulangan susut dan suhu harus paling sedikit memiliki

rasio luas tulangan terhadap luas bruto penampang beton

sebagai berikut , tetapi tidak kurang dari 0,0014 :

- Pelat yang menggunakan batang tulangan ulir mutu

300......0,0020

- Pelat yang menggunakan batang tulangan ulir atau

jaring kawat las ( polos atau ulir) mutu 400......0.0018

- Pelat yang menggunakan tulangan dengan tegangan

lebih melebihi 400 Mpa yang diukur pada regangan

leleh sebesar 0,35% ........ 0,0018 x 400/f

b) Tulangan susut dan suhu harus dipasang dengan jarak

tidak lebih dari lima kali tebal pelat, atau 450 mm.

Page 40: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

1

40

j. Penggambaran

Gambar 2.7 Pelat Satu Arah

5. Desain dua arah (Two Way Slab)

a. Menentukan tebal pelat dimisalkan dengan suatu ketebalan

ln/36 (panel dalam) menurut SNI 03-2847-2002 : 66

b. Kontrol ketebalan plat dimisalkan dengan :

a) Untuk 𝛼𝑚 lebih besar dari 0,2 tapi tidak lebih besar dari

2,0 ketebalan plat minimum harus memenuhi

Tidak boleh kurang dari 120 mm

b) Untuk 𝛼𝑚 lebih besar dari 0,2 ketebalan plat minimum

harus memenuhi :

Tidak boleh kurang dari 90 mm.

Page 41: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

1

41

c. Menghitung beban yang bekerja pada pelat (beban mati

dan beban hidup). Kemudian hasil perhitungan akibat

beban mati dan beban hidup dikali dengan faktor beban

untuk mendapatkan nilai beban terfaktor.

Wu = 1,2 DL + 1,6 LL

d. Mencari momen

Mencari momen yang bekerja pada arah x dan y , dengan

cara penyaluran “metode koefisien momen plat”.

e. Mencari tebal efektif pelat

Untuk menentukan tinggi efektif pelat ditinjau dari 2

arah yaitu :

Arah x → dx = h – p – ½ ∅ tul arah x

Arah y → dy = h – p - ∅x – ½ ∅ tul arah y

f. Mencari nilai koefisien tahanan (k)

Faktor reduksi ∅ = 0,80 ; K = 𝑴𝒖

∅ 𝒃 𝒅𝟐

g. Mencari rasio penulangan (𝜌)

Rasio penulangan ini didapat berdasarkan koefisien

tahanan (k) yang telah didapat sebelumnya. Dengan

menggunakan tabel A-11 (Dipohusodo I, Struktur Beton

Bertulang)

h. Mencari luas tulangan (As)

Sebelum menentukan luas tulangan terlebih dahulu

meninjau nilai 𝜌 yang didapat.

a) Jika 𝜌<𝜌min , maka menggunakan 𝜌𝑚𝑖𝑛 maka As

yang digunakan As min.

b) Jika 𝜌 > 𝜌𝑚𝑎𝑥 , maka pelat dibuat lebih tebal

sehingga dilakukan perhitungan ulang.

Page 42: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

1

42

i. Mencari jarak antar tulangan (s)

S = 𝑳𝒖𝒂𝒔 𝟏 𝒃𝒂𝒕𝒂𝒏𝒈 𝒕𝒖𝒍𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏

𝑳𝒖𝒂𝒔 𝒉𝒊𝒕𝒖𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒙 𝟏𝟎𝟎𝟎 𝒎𝒎

j. Mengontrol jarak tulangan

Berdasarkan SNI 03 – 2847 – 2002 : 155 hasil dari

perhitungan s perlu dikontrol kembali terhadap 𝑠𝑚𝑎𝑘𝑠 .

Tulangan yang dipasang jaraknya tidak memenuhi jarak

maksimum perlu dikontrol kembali.

𝑺𝒎𝒂𝒌𝒔 = 𝟑 𝒙 𝒕𝒆𝒃𝒂𝒍 𝒑𝒍𝒂𝒕

k. Pengendalian retak terhadap lentur

Terbentuknya retak pada beton sudah mengeras

dapat menyebabkan air merembes dan menjadi korosi

pada tulangan. Retak didalam beton biasanya disebabkan

oleh :

a) Perubahan bentuk akibat susut, rangkak akibat beban

tetap, tegangan akibat suhu dan perbedaan unsur

kimia antara bagian beton.

b) Tegangan langsung akibat penerusan, beban

bertukar, dan lendutan jangka panjang.

c) Tegangan akibat beban lentur.

2.6.1.3. Balok

Balok dapat didefinisikan sebagai salah satu dari elemen

struktur portal dengan bentang yang arahnya horizontal, sedangkan

portal merupakan kerangka utama dari struktur bangunan, khusunya

bangunan gedung (Asroni, 2010). Beban yang bekerja pada balok

biasanya berupa beban lentur beban geser dan torsi (momen puntir).

1. Konsep Desain Balok

a. Balok segi empat ring, sloof, balok anak

b. Balok T balok induk tengah

c. Balok L balok tepi gedung

Page 43: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

1

43

2. Prinsip balok desain / perencanaan

a. Balok anak atau balok segi empat

Semua tulangan belum diketahui, sehingga isi tulangan

yang harus dihitung :

- Tulangan tarik ( + )

- Tulangan tekan ( - )

- Tulangan susut

- Tulangan sengkang / beugel

b. Balok induk tengah ( balok T )

Semua tulangan belum diketahui, sehingga isi tulangan

yang harus dihitung :

- Tulangan tarik (+)

- Tulangan tekan (-)

- Tulangan geser

- Tulangan puntir / torsi

c. Balok induk tepi / balok L

Isi tulangan yang harus dihitung sama balok T

- Tulangan tarik (+)

- Tulangan tekan (-)

- Tulangan geser

- Tulangan puntir / torsi

3. Prinsip desain balok segiempat tulangan rangkap

dd'

h

C

C

T

qn

Gambar 2.8 Tulangan Rangkap

Page 44: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

1

44

a. Problem desain ( tulangan tengah dulu ) penentuan b, d,

As, mutu beton ( fc’ ), mutu baja ( fy ), momen ( Mn ).

b. Penampang hasil desain tidak kaku diikuti, tetapi ambil

pembulatan.

c. Perbandingan b dan d 𝑏

𝑑= 0,4 𝑠 𝑑 0,6

4. Desain balok segiempat tulangan tunggal

a. Data :

F’c = 30 MPa

Fy = 400 MPa

Mu = dari analisis struktur

b. 𝑀𝑛 = 𝜌 . 𝑓𝑦 . 𝑏 . 𝑕2 (1 − 0,59 𝜌 . 𝑓𝑢

𝑓𝑐′ )

𝑀𝑢 = 𝑀𝐷 = ∅ . 𝑀𝑛 → 𝑘𝑎𝑙𝑎𝑢 𝑀𝑢

𝑀𝑛 = 𝑀𝑢

∅=

𝑀𝐷

c. 𝜌𝑏 = 0,85 𝑥 𝛽1 𝑥 𝑓′𝑐

𝑓𝑦 𝑥

600

600+𝑓𝑦

𝜌𝑚𝑎𝑥 = 0,75 𝑥 𝜌𝑏 → 𝜌𝑑𝑒𝑠𝑎𝑖𝑛 = 0,5 . 𝜌𝑚𝑎𝑥

d. 𝑅𝑛 = 𝜌 . 𝑓𝑦 (1 − 0,59 𝜌 . 𝑓𝑢

𝑓𝑐′ )

𝑏 . 𝑑2 = 𝑀𝑛

𝑅𝑛→ 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑏 = 0,5 𝑑

→ 𝑐𝑎𝑟𝑖 𝑑 𝑘𝑎𝑙𝑎𝑢 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑆𝐴𝑃

0,5 𝑑 . 𝑑2 = 𝑀𝑛

𝑅𝑛

𝑑3 = 𝑀𝑛

𝑅𝑛 . 0,5= ⋯……

𝑑 = ………3

= ⋯……

Page 45: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

1

45

e. 𝐴𝑠 = 𝜌 . 𝑏 . 𝑑 = ⋯…… 𝑚𝑚2 dengan tabel diperoleh

diameter tulangan.

𝑛 = 𝐴𝑠

𝐴𝑠 → 1 𝑡𝑢𝑙𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙

n = jumlah tulangan

𝜌 → 𝑐𝑒𝑘 → 𝜌 = 𝐴𝑠 → 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎𝑕 𝑡𝑢𝑙𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛

𝑏 . 𝑑 → 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑕𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔< 𝜌𝑏

𝑎 = 𝐴𝑠 . 𝑓𝑦

∅ . 𝑓𝑐′ . 𝑏

Dimana :

As = dari jumlah tulangan yang dihitung

b = hasil hitungan

𝑀𝑛 = 𝐴𝑠 . 𝑓𝑦 ( 𝑑 − 𝑎

2 )

𝑀𝑛 > 𝑀𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑝𝑒𝑟𝑙𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑀𝑢 > 𝑀𝑢 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑝𝑒𝑟𝑙𝑢𝑘𝑎𝑛

𝑎𝑚𝑎𝑛

5. Desain balok segiempat tulangan rangkap yang biasa

digunakan

a. Sudah ditentukan dulu f’c, fy,

Sudah dihitung mu dan Mneg,

b. b, d didesain dengan syarat b : d = 0,4 s/d 0,6

c. hitung sebagai balok tulangan tunggal

𝜌𝑏 = 0,85 𝑥 𝑓 ′𝑐

𝑓𝑦 𝑥 𝛽1

600

600 + 𝑓𝑦→ 𝛽1 = 0,85

𝜌𝑚𝑎𝑥 = 0,75 . 𝜌𝑏 → 𝜌𝑚𝑖𝑛 = 1,4

𝑓𝑦

𝜌𝑚𝑎𝑥 = 𝜌𝑏 → 𝑚𝑒𝑚𝑒𝑛𝑢𝑕𝑖 𝑏𝑎𝑙𝑜𝑘 𝑡𝑢𝑙𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑟𝑎𝑛𝑔𝑘𝑎𝑝

Page 46: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

1

46

𝐴𝑠 = 𝜌𝑏 . 𝑏 . 𝑑 = ⋯…… 𝑚𝑚2 → 𝑐𝑎𝑟𝑖 𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙

𝑎 = 𝐴𝑠 . 𝑓𝑦

∅ . 𝑓𝑐′ . 𝑏

Dimana :

As = luas dari jumlah tulangan

b = hitungan desain

d. momen

𝑀𝑛 = 𝐴𝑠 . 𝑓𝑦 ( 𝑑 − 𝑎

2 )

𝑀𝑚𝑎𝑥 = 𝑀𝑢 = Φ . 𝑀𝑛

> 𝑚𝑜𝑚𝑒𝑛 + 𝑕𝑎𝑠𝑖𝑙 𝑕𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑠𝑡𝑟𝑢𝑘𝑡𝑢𝑟

𝑀𝑚𝑎𝑥 = Φ . 𝑀𝑛1 → 𝑀𝑛1 = 𝑚𝑜𝑚𝑒𝑛 𝑛𝑒𝑔𝑎𝑡𝑖𝑓

→ 𝑕𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑠𝑡𝑟𝑢𝑘𝑡𝑢𝑟

𝐴𝑠′ =

𝑀𝑚𝑎𝑥1

0,80 . 𝑓𝑦 . 𝑕 − 𝑑′ = ⋯…… 𝑚𝑚2

𝐴𝑠′ = tulangan tekan

e. As tarik direduksi sesuai rasio momen

menuhi M ( + ) pada tulangan tunggal

𝐴𝑠 = 𝑀 +

𝑀𝑚𝑎𝑥 . 𝐴𝑠= ⋯……… 𝑚𝑚2 𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 𝑡𝑢𝑙𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛

𝜌 = 𝐴𝑠 𝑡𝑢𝑙𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑡𝑢𝑛𝑔𝑔𝑎𝑙

𝑀𝑟𝑒𝑑𝑢𝑘𝑠𝑖 . 𝑑= ⋯………

𝜌′ = 𝐴𝑠1 𝑡𝑒𝑘𝑎𝑛

𝑀𝑟𝑒𝑑𝑢𝑘𝑠𝑖 . 𝑑= ⋯……

𝜌 − 𝜌′ > 𝜌𝑏 → 𝑡𝑢𝑙𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑡𝑒𝑘𝑎𝑛, 𝑏𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑙𝑒𝑙𝑒𝑕.

f. Periksa kapasitas penampang ( kuat rencana )

𝐶𝑠 = 𝐴𝑠′ . 600 .𝑎 − 0,85 . 𝑑′

𝑎

𝐶𝑐 = 0,85 . 𝑓 ′𝑐 . 𝑎𝑏

Solusi :

𝑎1.2 = − 𝑏 ± 𝑏2 − 4𝑎𝑐

2𝑎

𝑎1 =

−𝑏 + 𝑏2 − 4𝑎𝑐

2𝑎

𝑎2 = −𝑏 − 𝑏2 − 4𝑎𝑐

2𝑎

𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑎 → 𝑎𝑚𝑏𝑖𝑙 +

Page 47: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

1

47

g. Regangan tulangan tarik

ℰ𝑠 = 0,003 .

510 . 𝑎

𝑎= ⋯……

ℇ𝑦 = 𝑓𝑦

ℇ𝑠= ⋯……

→ ℇ𝑠 > ℇ𝑦

h. Regangan tulangan tekan

ℇ𝑠′ = 0,003 .

𝑎 − 0,85 . 𝑑′

𝑎= ⋯…… < 𝑓𝑦

𝑓𝑠 = ℇ𝑠′ . ℇ𝑠 = ⋯……𝑀𝑃𝑎

Substitusi fs = fy dan fs’ ke persamaan Mn

𝑀𝑛 = 0,85 . 𝑓 ′𝑐 . 𝑎𝑏 𝑑 −

𝑎

2 + 𝐴𝑠

′ . 𝑓𝑠′ 𝑑 − 𝑑′

𝑀𝐷 = 𝑀𝑢 = Φ . 𝑀𝑛

i. Cek kesetimbangan

𝐶𝑠 + 𝐶𝑐 = 𝑇

𝑇 = 𝐴𝑠 . 𝑓𝑦

6. Balok T dan L

bc = 6 h t + bw bc = 16 h t + bwhf

bw ln bw

L

Gambar 2.9. Lebar Flens Efektif Balok T dan L

(Sumber : L. Wahyudi, Struktur beton Bertulang, 1997)

Balok T lebar efektif

𝑏𝑒 ≤ 16 . 𝑕𝑓 + 𝑏𝑤

𝑏𝑒 < 𝑙𝑛 + 𝑏𝑤

𝑏𝑒 <1

4 . 𝐿

𝑎𝑚𝑏𝑖𝑙 𝑡𝑒𝑟𝑘𝑒𝑐𝑖𝑙

Dengan L = bentang balok

Page 48: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

1

48

Balok L

𝑏𝑒 ≤ 6 𝑕𝑓 + 𝑏𝑤

𝑏𝑒 ≤ 0,5 𝑙𝑛 + 𝑏𝑤

𝑏𝑒 ≤ 1

12 𝐿 + 𝑏𝑤

𝑎𝑚𝑏𝑖𝑙 𝑡𝑒𝑟𝑘𝑒𝑐𝑖𝑙

7. Desain balok T dan L

a. 𝑞𝑛 ≤ 𝑕𝑓 → 𝑑𝑖𝑑𝑒𝑠𝑎𝑖𝑛 𝑏𝑎𝑙𝑜𝑘 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑏𝑤 = 𝑏𝑒

𝑎 ≤ 𝑕𝑓 𝑑𝑎𝑛 𝑐 ≤ 𝛽1 . 𝑕𝑓

bc

hf

bw

d

As

0,003

a

Es = Ey

C

T

(d

-a/2

)

Kesetimbangan gaya internal, c = T atau c – T = 0

𝑇 = 𝐴𝑠 . 𝑓𝑦

𝑒 = 0,85 . 𝑓 ′𝑐 . 𝑎𝑏 = 𝐴𝑠 . 𝑓𝑦

𝑎 = 𝐴𝑠 . 𝑓𝑦

∅ . 𝑓𝑐′ . 𝑏𝑒

= 1,18 . 𝜔𝑑

𝜌 = 𝐴𝑠

𝑏𝑒 . 𝑑 𝑑𝑎𝑛 𝜔 = 𝜌

𝑓𝑦

𝑓 ′𝑐

Maka momen nominal penampang :

𝑀𝑛 = 𝐴𝑠 . 𝑓𝑦 ( 𝑑 − 𝑎

2 )

Karena 𝑎 < 𝑕𝑓 𝑠𝑒𝑏𝑎𝑔𝑎𝑖 𝑏𝑎𝑙𝑜𝑘 𝑠𝑒𝑔𝑖 𝑒𝑚𝑝𝑎𝑡

𝑎 < 𝑎𝑏

𝜌 < 𝜌𝑏

𝜌𝑏 = 0,85 . 𝑓𝑐

′ . 𝛽1

𝐹𝑦 .

0,003 . 𝐸𝑠

0,003 . 𝐸𝑠 + 𝐹𝑦

b. qn pada badan balok didesain sebagai balok T dan L

𝑎 > 𝑕𝑓 𝑑𝑎𝑛 𝑐 > 𝛽1 . 𝑕𝑓

Gambar 2.10. Ukuran Penampang, Distribusi Regangan dan Gaya Internal

(Sumber : L. Wahyudi, Struktur beton Bertulang, 1997)

Page 49: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

1

49

Gambar 2.11. Ukuran Penampang, Distribusi Regangan

dan Gaya Internal pada Balok T

(Sumber : L. Wahyudi, Struktur beton Bertulang, 1997)

Bagian flens :

𝑇1 = 𝐴𝑠𝑓 . 𝑓𝑦

𝐴𝑠𝑓 = luas tulangan kondisi leleh

𝐶𝑓 = 0,85 . 𝑓′𝑐 . 𝑕𝑓 ( 𝑏𝑒 − 𝑏𝑤 )

Keseimbangan internal :

𝑇1 = 𝐶𝑓

𝐴𝑠𝑓 = 0,85 . 𝑓 ′

𝑐 . 𝑕𝑓 𝑏𝑒 − 𝑏𝑤

𝑓𝑦

𝑀𝑛1 = 𝐴𝑠𝑓 . 𝑓𝑦 𝑑 − 1

2𝑕𝑓

Bagian web ( badan ) :

𝐴𝑠 − 𝐴𝑠𝑓 → 𝑝𝑎𝑑𝑎 𝑘𝑜𝑛𝑑𝑖𝑠𝑖 𝑙𝑒𝑙𝑒𝑕

𝑇2 = 𝐴𝑠 − 𝐴𝑠𝑓 𝑓𝑦

𝐶𝑤 = 0,85 . 𝑓′𝑐 . 𝑏𝑤 . 𝑎

Keseimbangan internal :

𝑇2 = 𝐶𝑤

𝑎 = 𝐴𝑠 − 𝐴𝑠𝑓 𝑓𝑦

0,85 . 𝑓 ′𝑐 . 𝑏𝑤 . 𝑎

𝑀𝑛2 = 𝐴𝑠 − 𝐴𝑠𝑓 𝑓𝑦 . 𝑑 − 𝑎

2

𝑀𝑛 = 𝑀𝑛1 + 𝑀𝑛2

= 𝐴𝑠𝑓 . 𝑓𝑦 𝑑 − 1

2𝑕𝑓 + 𝐴𝑠 − 𝐴𝑠𝑓 𝑓𝑦 . 𝑑 −

𝑎

2

𝑀𝑢 = 0,8 . 𝑀𝑛

Page 50: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

1

50

c. kondisi seimbang balok ( balance )

Gambar 2.11 Keseimbangan Gaya Internal pada Balok T

Sumber : L. Wahyudi, Struktur beton Bertulang, 1997

𝑐

𝑑=

휀𝑢

휀𝑢 + 휀𝑦

Keseimbangan horizontal

𝑇 = 𝑇1 + 𝑇2 = 𝑐𝑓 + 𝑐𝑤

𝐴𝑠 . 𝑓𝑦 = 0,85 . 𝛽1 . 𝑓 ′𝑐 . 𝑏𝑤 . 𝑐 + 0,85 . 𝑓 ′

𝑐 𝑏 − 𝑏𝑤 𝑕𝑓

𝐴𝑠 . 𝑓𝑦 = 0,85 . 𝛽1 . 𝑓 ′𝑐 . 𝑏𝑤 . 𝑐 + 𝐴𝑠𝑓 . 𝑓𝑦

Definisi :

𝜌𝑤 = 𝐴𝑠

𝑏𝑤 . 𝑑

𝜌𝑓 = 𝐴𝑠 . 𝑓

𝑏𝑤 . 𝑑

𝜌𝑤𝑏 = 0,85 . 𝛽1 . 𝑓 ′

𝑐

𝑓𝑦

휀𝑢

휀𝑢 + 휀𝑦 + 𝜌𝑦

𝜌 𝑏 = 0,85 . 𝛽1 . 𝑓 ′

𝑐

𝑓𝑦

0,003 𝐸𝑠

0,003 𝐸𝑠 + 𝑓𝑦 + 𝜌𝑓

𝜌𝑤𝑏 𝑚𝑎𝑘𝑠 = 0,75 𝜌 𝑏 + 𝜌𝑓

𝜌𝑤 𝑚𝑎𝑘𝑠 = 0,75 𝜌𝑏 + 𝜌𝑓

→ 𝑎𝑔𝑎𝑟 𝑡𝑎𝑘 𝑟𝑢𝑛𝑡𝑢𝑕 ( 𝑔𝑒𝑠𝑒𝑟 𝑚𝑒𝑛𝑑𝑎𝑑𝑎𝑘 )

Catatan :

- 𝑎 ≤ 𝑕𝑓 → 𝑏𝑎𝑙𝑜𝑘 𝑝𝑒𝑟𝑠𝑒𝑔𝑖

- 𝜌 = 𝐴𝑠

𝑏𝑤 .𝑑 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝜌𝑚𝑖𝑛 =

1,4

𝑓𝑦 𝑀𝑃𝑎

Page 51: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

1

51

8. Perencanaan Tulangan Geser Dan Puntir

langkah-langkah perencanaan penampang terhadap gaya

geser adalah :

a. hitung gaya geser terfaktor 𝑉𝑢 pada penampang-penampang

kritis di sepanjang batang / elemen.

b. Untuk suatu penampang kritis, hitung kekuatan geser beton

𝑉𝑐 .

c. Cara mendimensi :

- Bila 𝑉𝑢 − 𝜙 𝑉𝑐 > 0,67 . 𝑏𝑤 . 𝑑 𝑓′𝑐 , ukuran balok

diperbesar.

- Bila 𝑉𝑢 − 𝜙 𝑉𝑐 < 0,67 . 𝑏𝑤 . 𝑑 𝑓′𝑐 , tentukan

jumlah tulangan geser untuk menahan kelebihan tegangan.

- Bila 𝑉𝑢 > 0,5 . 𝜙 𝑉𝑐 , gunakan tulangan geser

minimum.

𝑉𝑢 = 𝜙 𝑉𝑛

Dengan :

Vu = gaya geser terfaktor yang bekerja pada penampang

yang ditinjau

Vn = kuat geser nominal yang dihitung dari :

𝑉𝑛 = 𝑉𝑐 + 𝑉𝑠

dengan:

Vc = kekuatan geser nominal yang diberikan oleh beton.

Vs = kekuatan geser nominal yang diberikan oleh

tulangan badan.

d. Harga 𝑉𝑐 dihitung berdasarkan kondisi sebagai berikut :

- Untuk kombinasi geser dan lentur :

𝑉𝑐 =1

7 𝑓′𝑐 + 120 . 𝜌𝜔

𝑉𝑢 . 𝑑

𝑀𝑢 𝑏𝜔 . 𝑑

Dengan 𝜌𝜔 = 𝐴𝑠

𝑏𝜔 .𝑑 ;

𝑉𝑢 . 𝑑

𝑀𝑢 tidak perlu > 1

Alternatifnya, sebagai penyederhanaan persamaan diatas,

sering digunakan persamaan :

Page 52: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

1

52

𝑉𝑐 = 0,17 𝑓′𝑐 . 𝑏𝜔 . 𝑑 → 𝑀𝑃𝑎

- Untuk kombinasi geser dan aksial tekan :

𝑉𝑐 =1

7 𝑓′𝑐 + 120 . 𝜌𝜔

𝑉𝑢 . 𝑑

𝑀𝑀 𝑏𝜔 . 𝑑

Dengan : 𝑀𝑚 = 𝑀𝑢 − 1

8𝑁𝑢 4𝑕 − 𝑑

Atau melalui persamaan :

𝑉𝑐 = 1 +𝑁𝑢

14 . 𝐴𝑔

𝑓′𝑐6

𝑏𝜔 . 𝑑

Kedua nilai persamaan ≯ dari :

𝑉𝑐 = 0,3 𝑓′𝑐 . 𝑏𝜔 . 𝑑 1 +0,3 𝑁𝑢

𝐴𝑔 → 𝑀𝑃𝑎

- Untuk kombinasi geser dan aksial tarik :

𝑉𝑐 = 0,17 1 − 0,3𝑁𝑢

𝐴𝑔 𝑓′𝑐 . 𝑏𝜔 . 𝑑 → 𝑀𝑃𝑎

Dengan :

𝑁𝑢

𝐴𝑔 = MPa

Gaya tarik yang mempunyai harga 𝑉𝑐 = 0

e. Untuk kondisi tersebut diatas, berlaku ketentuan sebagai

berikut :

- Jika 𝑉𝑢 > 𝜙 𝑉𝑐 , perlu tulangan badan / sengkang dengan

gaya yang harus ditahan oleh sengkang sebesar :

𝑉𝑠 =𝑉𝑢

𝜙 − 𝑉𝑐

Untuk sengkang vertikal :

𝑉𝑠 =𝐴𝑣 . 𝑓𝑦 . 𝑑

𝑠

Untuk sengkang miring :

Page 53: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

1

53

𝑉𝑠 =𝐴𝑣 . 𝑓𝑦 . 𝑑 sin 𝛼 + cos 𝛼

𝑠

Untuk tulangan miring :

𝑉𝑠 = 𝐴𝑣 . 𝑓𝑦 sin 𝛼

Khusus untuk tulangan miring, harga 𝑉𝑠 harus

<0,25 𝑓′𝑐 . 𝑏𝜔 . 𝑑

Dengan :

s = jarak sengkang

𝛼 = sudut kemiringan sengkang

Nilai 𝑉𝑠 dari ke-2 persamaan diatas, harus

<0,67 𝑓′𝑐 . 𝑏𝜔 . 𝑑

- Jika 𝑉𝑢 < 𝜙 𝑉𝑐 , dan jika 𝑉𝑢 ≥1

2 𝜙 𝑉𝑐 , secara teoritis tidak

perlu tulangan badan, tetapi hanya disarankan sengkang

minimum.

- Jika 𝑉𝑢 ≥1

2 𝜙 𝑉𝑐 , tidak memerlukan sengkang

9. Tulangan Geser Minimum

Bila pada suatu komponen beton bertulang bekerja gaya

geser yang nilainya lebih kecil dari kekuatan geser beton Vc,

tetapi > 0,5 Vc, maka harus dipasang tulangan minimum :

𝑚𝑖𝑛𝑖𝑚𝑢𝑚 𝐴𝑣 = 50 𝑏𝑤 . 𝑆

𝑓𝑦

ketentuan ini tidak berlaku untuk pelat pondasi setapak,

struktur beton rusak, dan untuk balok yang memiliki tinggi total

tidak lebih dari nilai terbesar antara 250mm, 2,5 x tebal flens, 0,5

x lebar badan.

Page 54: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

1

54

10. Jarak Tulangan Geser

Berdasarkan SNI pasal 3.4.5(4), jarak tulangan geser yang

dipasang ⊥ terhadap sumbu aksial komponen struktur ≯ 1/2 d

atau smaks = 600 mm

2.6.1.4. Kolom

Kolom adalah komponen struktur bangunan yang tugas

utamanya menyangga beban aksial tekan vertical dengan bagian tinggi

yang tidak ditopang paling tidak tiga kali dimensi lateral terkecil.

Sedangkan komponen struktur yang menahan beban aksial vertikal,

dengan rasio bagian tinggi dan dimensi lateral terkecil kurang dari tiga

dinamakan pedestal (Dipohusodo, 1994).

1. Tulangan untuk kolom dibuat penulangan simetris berdasarkan

kombinasi Pu dan Mu. Untuk satu batang kolom dan dua

kombinasi pembebanan yaitu pada ujung atas dan ujung bawah

pada setiap freebody, masing-masing dihitung tulangannya dan

diambil yang terbesar.

2. Beban Desain Kolom Maksimum.

U = 1,2D + 1,6 L

3. Momen desain kolom maksimum untuk ujung atas dan ujung

bawah.

Mu = 1,2 MDL + 1,6 MLL

4. Nilai Kontribusi tetap terhadap deformasi (W.C Vis dan Gideon

Kusuma, 1993)

𝜷𝒅 = 𝟏, 𝟐 𝑫

𝟏, 𝟐 𝑫 + 𝟏, 𝟔 𝑳

5. Modulus elastisitas

𝑬𝒄 = 𝟒𝟕𝟎𝟎 𝒇𝒄′

𝑓𝑐′ = 𝑘𝑢𝑎𝑡 𝑡𝑒𝑘𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑡𝑜𝑛

6. Nilai Kekakuan Kolom dan Balok (W.C Vis dan Gideon Kusuma,

1993)

Page 55: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

1

55

𝑰𝒌 = 𝟏

𝟏𝟐𝒃. 𝒉𝟑

𝑰𝒃 = 𝟏

𝟏𝟐𝒃. 𝒉𝟑

𝑬. 𝑰𝒌 = 𝑬𝒄 .𝑰𝒈

𝟐,𝟓 (𝟏+ 𝜷.𝒅) untuk kolom

𝑬. 𝑰𝒃 = 𝑬𝒄 .𝑰𝒈

𝟓 (𝟏+ 𝜷.𝒅) untuk balok

7. Faktor Panjang Efektif kolom

Gambar 2.12 Diagram Nomogram Tekuk Kolom

(Sumber : Grafik dan tabel Perhitungan Beton Bertulang , W.C Vis dan

Gideon Kusuma, hal 112)

Dari hasil grafik di atas, maka dapat kita cari panjang

efektifitas kolom dengan rumus :

klu = k x Lu

8. Nilai eksentrisitas (Istimawan Dipohusodo,1994)

𝒆 = 𝑴𝒖

𝑷𝒖

Page 56: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

1

56

9. Menentukan A dan B (W.C Vis dan Gideon Kusuma, 1993)

=

𝑬. 𝑰𝒌

𝑰𝒌

𝑬. 𝑰𝒃

𝑰𝒃

10. Angka Kelangsingan Kolom

Untuk menghitung rasio kelangsingan kolom digunakan rumus

= 𝒌𝒍𝒖𝒓

Sedangkan ketentuan kolom langsing adalah sebagai berikut :

a. Rangka tanpa pengaku lateral < 22

b. Rangka dengan pengaku lateral < 34 -22 𝑀1−𝑏

𝑀2−𝑏 > 22

Menurut SNI 03-2847-2002, ayat 12.10.1 butir 5

a. Untuk semua komponen struktur tekan dengan < 100 harus

digunakan analisa pada tata cara perhitungan struktur beton

bertulang gedung.

b. Apabila < 34 -22 𝑀1−𝑏

𝑀2−𝑏 > 22 maka perencanaan harus

menggunakan metode perbesaran momen

11. Perbesaran Momen

𝑴𝒄 = 𝜹𝒃𝑴𝟐𝒃 + 𝜹𝒔𝑴𝟐𝒔

Untuk struktur rangka dengan berlaku, berlaku rumus :

𝑴𝒄 = 𝜹𝒃𝑴𝟐𝒃

𝜹𝒃 = 𝑪𝒎

𝟏 − 𝑷𝒖

𝑷𝒄

≥ 𝟏, 𝟎

𝑷𝒄 = 𝝅𝟐𝑬𝑰

(𝒌𝒍𝒖)𝟐

𝑪𝒎 = 𝟎, 𝟔 + 𝟎, 𝟒 𝒙 𝑴𝟏𝑩

𝑴𝟐𝑩 ≥ 𝟎, 𝟒 kolom dengan pengaku

𝑪𝒎 = 𝟏, 𝟎 kolom tanpa pengaku

Keterangan :

𝛿𝑏 = faktor pembesar momen pada struktur rangka dengan

pengaku.

Page 57: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

1

57

𝛿𝑠 = faktor pembesar ekstra pada struktur rangka tanpa

pengaku.

𝑀2𝑏 = momen kolom terbesar pada struktur rangka dengan

pengaku.

𝑀2𝑠 = momen kolom terbesar akibat goyangan ke samping pada

struktur rangka tanpa pengaku

12. Desain Tulangan Utama Kolom

Dalam mendesain tulangan kolom, dapat menggunakan grafik

berikut ini

Gambar 2.13. Perhitungan Tulangan Utama Kolom Dengan

Grafik

(Sumber grafik dan tabel perhitungan beton bertulang, W.C Vis

dan Gideon Kusuma, 1993)

Untuk koefisien sumbu vertikal digunakan rumus :

𝑷𝒖

∅ 𝒙 𝑨𝒈 𝒙 𝟎, 𝟖𝟓 𝒙 𝒇𝒄′

Untuk koefisien sumbu horizontal digunakan rumus :

𝑷𝒖

∅ 𝒙 𝑨𝒈 𝒙 𝟎, 𝟖𝟓 𝒙 𝒇𝒄′ 𝒙

𝒆𝒕

𝒉

Page 58: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

1

58

Rasio tulangan pada penampang kolom digunakan rumus :

= r x

Untuk menghitung luas tulangan digunakan rumus :

Ast = x Ag

13. Desain Tulangan Geser Kolom

Berdasarkan tata cara perhitungan struktur beton untuk

bangunan gedung, perencanaan penampang terhadap geser harus

didasarkan pada :

Ø Vn ≥ Vu

Vn = Vc+ Vs

keterangan :

Vc = Gaya geser nominal yang disumbangkan olehbeton (N)

Vs = Gaya geser nominal yang disumbangkan olehtulangan

geser (N)

Vu = Gaya geser ultimate yang terjadi (N)

Vn = 𝑉𝑢

∅ , dimana Ø = 0,75

Kuat geser maksimum untuk komponen struktur (SNI 03-

2847-2002 pasal 13.3.2.2) yaitu:

Vc = 0,3. 𝒇′𝒄.b.d. 𝟏 +𝟎,𝟑𝐏𝐮

𝐀𝐠𝐫

Vs =𝟐

𝟑. 𝒇′𝒄.b.d.

dimana :

Vn = kuat geser nominal (N)

Ø = faktor reduksi

f’c = kuat tekan beton (MPa)

b = lebar penampang kolom (mm)

d = tinggi efektif penampang kolom (mm)

Nu = gaya aksial yang terjadi (N)

Agr = luas penampang kolom (mm2)

Jika :

(Vn – Vc) <Vs , maka penampang cukup

Page 59: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

1

59

(Vn – Vc) ≥ Vs , maka penampang harus diperbesar

Vu < Ø Vc , maka tidak perlu tulangan geser

Vu ≥ Ø Vc , maka perlu tulangan geser

Jika tidak dibutuhkan tulangan geser, maka digunakan

tulangan geser minimum (Av) permeter. Luas tulangan geser

minimum untuk komponen struktur non prategang dihitung

dengan :

Av min =𝟕𝟓 𝐟′𝐜 .𝐛.𝐬

𝟏𝟐𝟎𝟎𝐟𝐲<Av =

𝟏

𝟑

𝒃.𝒔

𝒇𝒚

dengan demikian diambil Av terbesar, jarak sengkang

dibatasi sebesar 5

2.

2.6.1.5. Tangga

Struktur tangga digunakan untuk melayani aksebilitas antar

lantai pada gedung yang mempunyai tingkat lebih dari satu. Tangga

merupakan komponen yang harus ada pada bangunan yang berlantai

banyak. Walaupun sudah ada peralatan transportasi vertikal di gedung,

tangga tetap diperlukan karena tidak memerlukan tenaga mesin,

1. Antrede yaitu bagian anak tangga bidang horizontal yang

merupakan bidang pijak telapak kaki.

2. Optrede yaitu bagian anak tangga vertikal yang merupakan selisih

tinggi antara dua anak tangga yang berurut.

Syarat umum tangga :

1. Mudah dilewati

2. Kuat dan kaku

3. Ukuran tangga harus sesuai dengan sifat dan fungsinya

4. Aterial yang digunakan harus baik

5. Letak tangga harus strategis

6. Sudut kemiringan tidak boleh lebih dari 45º

Syarat khusus tangga :

1. Untuk bangunan rumah tinggal

Page 60: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

1

60

- Antrede = 25 cm (minimum)

- Optrede = 20 cm (maksimum)

- Lebar tangga = 80-100 cm

2. Untuk perkantoran dan lain-lain

- Antrede = 25 cm (minimum)

- Optrede = 17 cm (maksimum)

- Lebar tangga = 120-200 cm

3. Syarat hordes

𝐿𝑏𝑜𝑟𝑑𝑒𝑠 = 𝐼𝑛 + (𝑎 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑎𝑖 2𝑎)

a = antrede

o = optrede

In = langkah normal diambil antara 57-65

In = a+2O

4. Lebar tangga dipengaruhi oleh fungsi tangga pada jenis bangunan

tertentu. Misalnya lebar tangga untuk gedung bioskop atau pasar

swalayan akan berbeda dengan lebar rumah tangga biasa. Lebar

tangga dibedakan menjadi dua yaitu :

a. lebar tangga efektif adalah lebar yang dihitung mulai dari sisi

dalam rimbat tangan (pegangan) yang satu sampai dengan

sisi dalam rimbat tangan yang lainnya.

b. lebar tangga total adalah lebar efektif tangga ditambah dua kali

tebal rimbat tangan (t), ditambah lagi dua kali pijakan (s)

diluar rimbat tangan.

Lebar tangan total = lebar efektif + 2t + 2s

Keterangan :

T = 4-6 cm

S = 5-10 cm

Page 61: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

1

61

Tabel 2.15. Ukuran Lebar Tangga Ideal

NO Digunakan Untuk Lebar Efektif (cm) Lebar Total

1 1 orang ±65 ±85

2 1 orang + anak ±100 ±120

3 1 orang + bagasi ±85 ±105

4 2 orang 120-130 140-150

5 3 orang 180-190 200-210

6 > 3 orang >190 >210

Sumber: Konstruksi Bangunan Gedung : 17

c. Sudut kemiringan maksimum 45º

d. tinggi bebas diatas anak tangga 2,00 m

Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perencanaan tangga :

1. Menentukan ukuran antrede dan optrede setelah diketahui tinggi

ruangan yang akan dibuatkan tangga.

2. Menentukan jumlah antrede dan optrede.

3. Menentukan panjang tangga.

4. Menghitung pembebanan tangga :

a. Beban Mati

- Berat sendiri tangga

- Berat sendiri bordes

- Berat spesi dan ubin

- Beban sandaran

b. Beban Hidup

5. Merencanakan tulangan

a. Menentukan momen yang bekerja

b. Mencari tulangan yang diperlukan

c. Mengontrol tulangan

d. Menentukan jarak spasi

e. Merencanakan tulangan torsi dan geser

Page 62: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

1

62

𝑲 = 𝑴𝒖

𝝓 𝒃 𝒅𝟐

As = 𝝆 𝒃 𝒅

(Dasar-dasar Perencanaan Beton Bertulang, W.C Vis dan Gideon

Kusuma hal 45)

a) Tulangan pembagi

As = 0,25 b h

b) Tulangan geser :

V = 𝑽

𝒃.𝒅

Dengan V adalah gaya geser rencana pada penampang yang

ditinjau. (Tata cara perhitungan struktur beton bertulang

gedung, SNI 03-2847-2002 hal 245)

2.6.2. Struktur Bawah (Substructure)

2.6.2.1. Daya Dukung Tanah

Dalam merencanakan struktur pondasi haru memperhatikan

daya dukung tanah. Daya dukung (Bearing Capacity) adalah

kemampuan tanah untuk mendukung beban gedung dari struktur

pondasi maupun bangunan diatasnya tanpa terjadikeruntuhan geser.

Sedangkan daya dukung batas (Ultimate Bearing Capacity) adalah

daya dukung terbesar dari tanah, daya dukung ini merupakan

kemampuan tanah mendukung beban dan diasumsikan tanah mulai

terjadi keruntuhan, besarnya daya dukung dibagi dengan angka

keamanan. (Wesley, 1997). Untuk rumusnya adalah :

𝒒𝒂 = 𝒒𝒖

𝑭𝑲

Dimana :

qa = daya dukung yang diijinkan

Page 63: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

1

63

qu = daya dukung terbesar dari tanah

FK = angka keamanan

Dengan menggunakan kelompok tiang pancang sehingga

digunakan rumus terzaghi untuk menghitung daya dukung tanah.

𝒒𝒖 = 𝟏, 𝟑𝑪. 𝑵𝒄 + 𝑫𝒇. 𝜸. 𝑵𝒒 + 𝟎, 𝟒. 𝜸. 𝑩. 𝑵𝜸

Dimana :

qu = daya dukung ultimit pondasi

C = kohesi tanah

Nc = faktor daya dukung terzaghi

Df = kedalaman dasar pondasi

= berat volume tanah

Nq = faktor daya dukung terzaghi

B = lebar pondasi dianggap 1,00 meter

N = faktor daya dukung terzaghi

2.6.2.2. Tegangan Kontak

Tegangan kontak yang bekerja di bawah pondasi akibat beban

struktur di atasnya (Upper Structure) diberi nama tegangan kontak

(Contact Pressure).

Gambar 2.14. Tegangan Kontak Akibat Beban Aksial

Page 64: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

1

64

Untuk menghitung tegangan kontak digunakan rumus :

𝝇 = 𝑸

𝑨+

𝑴𝒙. 𝒙

𝑰𝒚+

𝑴𝒚. 𝒚

𝑰𝒙

apabila yang bekerja diatasnya adalah beban aksial saja dan

tepat pada titik beratnya maka digunakan rumus :

𝝇 = 𝑸

𝑨

Dimana :

= tegangan kontak (Kg/cm2)

Q = beban aksial total (ton)

A = luas bidang pondasi (m2)

Mx, My = Momen total sejajar respektif terhadap sumbu x dan

sumbu y (tm)

x,y = jarak dari titik berat pondasi ke titik dimana tegangan

kontak dihitung sepanjang respektif sumbu x an sumbu y

(m)

Ix, Iy = momen inersia respektif terhadap sumbu x dan sumbu y

(m4)

Tegangan kontak ini sangan berguna terutama didalam

perhitungan faktor keamanan. Kapasitas daya dukung dihitung

berdasarkan sifat – sifat tanah dan dimensi pondasi. Sedangkan

tegangan kontak dihitung berdasarkan beban struktur di atas pondasi.

Secara umum factor keamanan didefinisakan sebagai berikut :

𝑺𝑭 = 𝑲𝒂𝒑𝒂𝒔𝒊𝒕𝒂𝒔

𝑩𝒆𝒃𝒂𝒏 =

𝑲𝒂𝒑𝒂𝒔𝒊𝒕𝒂𝒔 𝒅𝒂𝒚𝒂 𝒅𝒖𝒌𝒖𝒏𝒈

𝑻𝒆𝒈𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏 𝑲𝒐𝒏𝒕𝒂𝒌

Hubungan antara kapasitas daya dukung dengan tegangan

kontak dalam bentuk faktor keamanan adalah

a. SF = 1, artinya tegangan kontak sama dengan kapasitas daya

dukung. Lapis tanah dalam keadaan seimbang menerima

beban.

b. SF > 1, artinya tegangan kontak lebih dari mobilisasi kapasitas

daya dukung. Lapis tanah dapat menerima beban.

Page 65: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

1

65

c. Sf < 1, artinya tegangan kontak lebih besar dari mobilisasi

kapasitas daya dukung. Lapis tanah tidak dapat menerima

beban.

Kapasitas dukung yang digunakan biasanya kapasitas daya dukung

ultimate, tetapi apabila dikehendaki SF lebih konservatif, kapasitas

daya dukung yang digunakan aalah kapasitas daya dukung ijin.

2.6.2.3. Kapasitas Daya Dukung Pondasi Tiang

Kapasitas daya dukung pondasi tiang dapat dianalisis dengan

metode berdasarkan hasil sondir. Tes sondir atau cone penetration test

(CPT) pada dasarnya adalh untuk memperoleh tahanan ujung (q) dan

tahanan selimut (c) sepanjang tiang. Tes sondir ini biasanya dilakukan

pada tanah – tanah kohesif dan tidak dianjurkan pada tanah berkerikil

dan lemping keras (Wesley, 1997).

Berdasarkan faktor pendukungnya, daya dukung tiang pancang

dapat digolongkan sebagai berikut (Subianto, 1999) :

1. End Bearing Pile

End bearing pile adalah tiang pancang yang dihitung

berdasarkan tahanan ujung dan memindahkanbeban yang diterima

ke lapisan tanah keras. Rumus yang digunakan adalah :

𝑸𝒕𝒊𝒂𝒏𝒈 = 𝑨𝒕𝒊𝒂𝒏𝒈 𝒙 𝑷

𝟑

2. Friction Pile

Jika pemancangan tiang sampai pada lapisan tanah keras sulit

dilaksanakan karena letaknya sangat dalam, maka dapat digunakan

tiang pancang yang daya dukungnya berdasarkan perletakan antara

tiang dengan tanah. Rumus daya dukung yang diijinkan terhadap

tiang adalah :

𝑸𝒕𝒊𝒂𝒏𝒈 = ʘ 𝒙 𝑳𝒙 𝒄

𝟓

Page 66: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

1

66

3. End Bearing Pile And Friction Pile

End Bearing Pile And Friction Pile adalah Perhitungan tiang

pancang didasarkan pada tahanan ujung dan hambatan pelekat.

Rumusnya daya dukung yang diijinkannya adalah sebagai berikut :

𝑸𝒕𝒊𝒂𝒏𝒈 = 𝑨𝒕𝒊𝒂𝒏𝒈 𝒙 𝑷

𝟑+

ʘ 𝒙 𝑳𝒙 𝒄

𝟓

2.6.2.4. Tiang Pancang Kelompok

Pada saat pelaksanaan jarang dijumpai pondasi yang hanya

terdiri dari satu tiang pancang saja, tetapi terdiri dari beberapa tiang.

Teori membuktikan daya dukung kelompok tiang pancang tidak sama

dengan daya dukung tiang secara individu dikalikan dengan jumlah

tiang kelompok, melainkan lebih kecil karena adanya faktor effisiensi.

(Sarjono, 1998).

Jarak antara tiang pancang dalam kelompok tiang sangat

mempengaruhi perhitungan kapasitas daya dukung dari grup tiang

pancang. Untuk bekerja sebagai grup tiang ini biasanya harus

mematuhi peraturan bangunan pada daerah masing – masing. Oleh

karenanya penentuan jarak antar tiang (pile spacing) dibedakan

berdasarkan :

a. Jarak, pada umumnya S bervariasi, diantaranya :

a) Jarak minimum, S = 2d

b) Jarak maksimum, S = 6d

b. Fungsi tiang, fungsi tiang juga dapat mempengaruhi penentuan

jarak antar tiang, antara lain :

a) Sebagai friction pile, minimum S = 3d

b) Sebagai end bearing pile, minimum S = 3d

c. Klasifikasi tanah, penentuan pile spacing berdasasrkan klasifikasi

tanah yaitu :

a) Jika terletak pada lapisan tanah liat keras, minimal S = 3,5d

b) Jika didaerah lapis padat, minim S = 2d

Page 67: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

1

67

Perhitungan daya dukung tiang berdasarkan pada tekanan ujung,

sehingga kemampuan tiang dalam kelompok sama dengan

kemampuan tiang tunggal dikalikan banyaknya tiang.

𝑸𝒑𝒒 = 𝒏. 𝑸𝒔

Dimana :

Qpq = daya dukung kelompok tiang

n = banyaknya tiang pancang

Qs = daya dukung tian tunggal

Efisiensi daya dukung kelompok tiang dihitung berdasarkan clef

dan conus (Sarjono, 1998).. Rumus yang digunakan adalah :

𝑸𝒑𝒒 = 𝑬𝒇𝒇. 𝑸𝒕𝒊𝒂𝒏𝒈

𝑬𝒇𝒇 = 𝟏 − 𝜽

𝟗𝟎 𝒏 − 𝟏 𝒎 + 𝒎 − 𝟏 𝒏

(𝒎 + 𝒏)

Dimana :

Eff

= efisiensi daya dukung kelompok tiang

m = jumlah baris

n = jumlah tiang dalam 1 baris

= tan-1

( = d/s)

s = jarak antar tiang

𝑸𝒕𝒊𝒂𝒏𝒈 = 𝑨𝒕𝒊𝒂𝒏𝒈 𝑿 𝒑

𝟑+

ʘ 𝒙 𝑳 𝒙 𝒄

𝟓

Dimana :

Qtiang = daya dukung kesetimbangan tiang (Kg)

Atiang = luas permukaan tiang (m2)

p = nilai conus hasil sondir (KN/m2)

ʘ = keliling tiang pancang (m)

L = panjang tiang yang dimasukan ke dalam tanah (m)

C = harga cleep rata – rata (KN/m2)

3, 5 = faktor keamanan.

Page 68: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

68

BAB III

METODOLOGI

3.1. Uraian Umum

Bab ini berisi uraian langkah-langkah sistematis yang dilakukan dalam

melaksanakan perencanaan tugas akhir. Pada dasarnya Metodologi adalah kerangka

dasar dari penyelesaian tugas akhir dengan menggunakan studi sistematis kualitatif

dan kuantitatif melalui beberapa metode sebagai tahapan dalam melakukan proses

analisa terhadap permasalahan tugas akhir.

Dalam mengerjakan tugas akhir, digunakan analisis kualitatif dan analisis

kuantitatif yang bertujuan untuk saling melengkapi dan saling mengoreksi sejauh

mana ketepatan analisisnya. Metode analisis merupakan sebuah proses berkelanjutan

dalam menjalankan laporan perencanaan, dengan analisis awal menginformasikan data

yang kemudian dikumpulkan. Ketika perencana sudah selesai dalam mengumpulkan

data, maka langkah selanjutnya ialah menganalisis data yang telah diperoleh.

3.2. Pengumpulan Data

Data yang dijadikan bahan acuan penyusunan Laporan Tugas Akhir adalah data

sekunder.

3.2.1. Data Teknis

1. Data Mutu Material

a. Beton

Mutu beton = Fc 30 MPa (Kolom, Balok,

Plat, Tangga )

= Fc 35 MPa (Pondasi)

Modulus elastisitas beton (Ec) = 4700 𝑓𝑐 MPa

b. Baja

Mutu baja (fy) = 240 MPa

Modulus elastisitas baja (Es) = 2,1 x 105 Mpa

2. Data tanah

Data tanah yang diperoleh dari penelitian tanah Laboratorium

Mekanika Tanah UNDIP, antara lain :

a. Peta situasi titik sondir dan boring

Page 69: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

69

b. Direct shear test (Geser langsung)

c. Consolidation test

d. Data sondir test

e. Data boring test

f. Graph of sonding

g. Data soil test

h. Grain size accumulation curve

i. Liquid limit and plastic limit test

Dari berbagai macam data tanah diatas dapat diketahui karakteristik

tanah bagi perencanaan desain struktur bagian bawah dari bangunan yang

direncanakan. Data yang digunakan dalam perhitungan pondasi tiang

pancang adalah graph of sonding untuk mengetahui kedalaman tanah

keras.

3. Data pembebanan

Spesifikasi Pembebanan adalah besarnya pembebanan sesuai

dengan ketentuan – ketentuan yang berlaku pada peraturan pembebanan

Indonesia untuk gedung 1983 untuk dijadikan acuan bagi perhitungan

selanjutnya.

a. Beban mati

Plafond = 11 Kg/m2

Berat beton = 2400 Kg/m3

Berat adukan (t = 2 cm) = 42 Kg/m2

Berat lantai keramik = 24 Kg/m2

Pasangan batu bata = 1700 Kg/m3

b. Beban hidup

Beban pekerja = 100 Kg

Beban lantai = 250 Kg/m2

Beban tangga = 300 Kg/m2

Beban hujan = (40 – 0,8 s) Kg/m2

c. Beban gempa

Lokasi wilayah gempa = wilayah 4

Page 70: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

70

3.2.2. Data Non Teknis

Data non teknis berfungsi sebagai penunjang dalam perencanaan seperti

kondisi dan letak lokasi proyek

a. Fungsi bangunan : Gedung Lima Lantai Kantor Polda Jateng.

b. Jumlah lantai : 5 lantai

c. Lokasi : Jalan Imam Bonjol – Semarang

d. Penyelidika tanah : Laboratorium Mekanika Tanah Undip

3.3. Langkah – Langkah Perencanaan Struktur

3.3.1. Tahapan Perencanaan Atap

Tahapan dalam merencanakan struktur atap dapat dijelaskan seperti

berikut ini :

a. Tentukan denah dan konfigurasi atap beserta sistem strukturnya.

b. Estimesi dimensi elemen strukturnya.

c. Tentukan beban yang bekerja pada struktur.

d. Analisis struktur bangunan atap.

e. Desain elemen struktur termasuk detail jont dan perletakan serta alat

sambungnya.

3.3.2. Tahapan Perencanaan Struktur Portal (Pelat, Balok dan Kolom)

Tahapan dalam perhitungan perencanaan struktur yang terdiri dari pelat,

balok dan kolom adalah sebagai berikut ini :

1. Kumpulkan data perencanaan.

2. Kumpulkan data beban

3. Untuk perencanaan pelat digunakan perhitungan seperti berikut ini :

a. Tentukan tabel pelat (dengan bantuan syarat lendutan )

b. Hitung beban-beban

c. Tentukan momen yang menentukan

d. Hitung tulangan ρmin ≤ ρ ≤ ρmaks

e. Pilih tulangan

f. Periksa lebar retak secara memeriksa lebar jaringan S ≤ Smaks

g. Tebal plat dan tulangan memadai

Page 71: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

71

4. Untuk perencanaan balok digunakan perhitungan seperti berikut ini :

a. Tentukan syarat-syarat batas

b. Tentukan panjang bentang

c. Tentukan ukuran balok

d. Hitung beban-beban

e. Tentukan momen-momen yang menentukan

f. Hitung tulangan yang dibutuhkan

g. Pilih tulangan dan hitung tulangan tekan

h. Periksa lebar retak dengan memeriksa Smaks

i. Tentukan Besarnya Gaya Lintang

j. Tentukan tulangan penahan gaya lintang

k. Pilih tulangan

l. Ukuran balok dan tulangan memadai

5. Untuk perencanaan kolom tanpa pengaku digunakan perhitungan seperti

berikut ini :

a. Pilih ukuran kolom dan balok

b. Tentukan Et dan hitung EIk dan EIb

c. Hitung distribusi gaya orde satu tanpa dan dengan goyangan

d. tentukan EIk

e. Hitung Ψ dengan rumus Ψ = Σ

𝐸𝐼𝑘

𝐼𝑘

Σ 𝐸𝐼𝑏

Ib

f. Tentukan K dengan diagram nomogram 2.12

g. Hitung Cm dengan rumus CM = 0,6+0,4 ( 𝑀₁𝑏

𝑀₂𝑏 ) ≥0,4

h. Tentukan rumus δb dengan rumus δb = 𝐶 m

1− 𝑝ᵤ

𝜙𝑃 ᵤ ≥ 1,0

i. Tentukan rumus δs dengan rumus δs = 𝐶 m

1− 𝛴 𝑝ᵤ

𝛴 𝜙𝑃 ᵤ ≥ 1,0

j. Hitung e’ dari

𝑀𝑐

𝑃ᵤ et ≥ ( 15 + 0,03h) mm

k. Tentukan tulangan kolom dengan grafik 2.13

Page 72: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

72

3.3.3. Tahapan Perencanaan Tangga

Dalam merencanakan struktur tangga dapat dihitung melalui tahapan –

tahapan seperti dibawah ini:

a. Tentukan data perencanaan.

b. Tentukan beban yang bekerja pada struktur tangga.

c. Analisis struktur tangga.

d. Tentukan penulangan struktur tangga.

3.3.4. Tahapan Perencanaan Struktur Pondasi

Dalam menghitung perencanaan struktur pondasi suatu bangunan dapat

dilakukan dengan langkah – langkah seperti berikut ini :

a. Analisis dan penentuan parameter tanah.

b. Pemilihan jenis pondasi.

c. Analisis beban yang bekerja pada pondasi.

d. Estimasi daya dukung pondasi.

e. Desain pondasi

3.4. Rencana Teknis Pelaksanaan Studi

Penyusunan Tugas Akhir “Perencanaan Struktur Gedung Lima Lantai Kantor

Polda Jawa tengah.” dibatasi dalam waktu 6 bulan. Oleh karena itu, untuk dapat

menyelesaikan Laporan Tugas Akhir ini tepat pada waktunya diperlukan perencanaan

kerja yang tepat.

3.4.1. Tahap Pelaksanaan Studi

3.4.1.1. Persiapan dan perijinan

Langkah awal yang dilakukan dalam penyusunan Laporan akhir

adalah dengan melakukan persiapan periinan pembuatan Tugas Akhir

menurut bidang ilmu masing – masing. Ppada langkah ini, hal yang

perlu dilakukan adalah permohonan soal tugas yang diberikan oleh

pembimbing utama.

Page 73: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

73

3.4.1.2. Study literature

Study literature meliputi hal – hal yang berkaitan dengan

struktur bangunan gedung yang meliputi struktur pondasi, kolom,

balok, pelat dan atap.

3.4.1.3. Kompilasi data

Tahapan ini merupakan tahapan pengumpulan data yang

dibutuhkan untuk melengkapi laporan. Data tersebut adalah data yang

siap untuk dianalisis.

3.4.1.4. Analisis data

Berdasarkan data yang diperoleh kemudian dianalisis untuk

mengetahui apakah perencanaan bangunan tersebut telah sesuai atau

tidak.

3.4.1.5. Penyusunan laporan

Dalam tahapan ini data yang telah dianalisa kemudian

disimpulkan dan dibuat laporan tugas akhir.

3.4.2. Diagram Alir

Dalam pembuatan laporan diharapkan dapat memperoleh hasil yang

diinginkan dan selesai tepat pada waktunya. Secara sistematis rencana

penyusunannya dapat dilihat seperti pada gambar dibawah ini :

Page 74: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

74

Gambar 3.1. Diagram Alir untuk Menghitung Atap

Gambar 3.2. Diagram Alir untuk Menghitung Tulangan pada Pelat

(sumber : Dasar – dasar perencanaan beton bertulang, W.C Vis dan Gideon Kusuma, Hal.

76)

Page 75: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

75

Gambar 3.3. Diagram Alir untuk Perencanaan Balok

(sumber: Dasar – dasar perencanaan beton bertulang W.C Vis dan Gideon Kusuma, Hal.

133)

Page 76: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

76

Gambar 3.4. Diagram Alir Perencanaan Kolom tanpa Penahan

Sumber : Grafik dan tabel Perhitungan Beton Bertulang , W.C Vis dan Gideon Kusuma.

Hal. 109)

Page 77: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

77

Gambar 3.5. Diagram Alir untuk Menghitung Tangga

Gambar 3.6. Diagram Alir untuk Menghitung Pondasi

Page 78: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

78

3.4.3. Time Schedule Penyusunan Tugas Akhir

Kegiatan ini akan dilakukan dalam kurun waktu 3 bulan.

Tabel 3.1. Schedule Penyusunan Tugas Akhir

No Kegiatan Bulan ke -1 Bulan ke -2 Bulan ke -3

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

1. Pengajuan denah gambar gedung

2. Pembuatan proposal TA

3. Perhitungan struktur

4. Gambar dan detail struktur

5. Pembuatan RKS

6. Pembuatan RAB

7. Penutupan

8. Penjilidan TA

Page 79: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

79

BAB IV

PERHITUNGAN STRUKTUR

4.1. Perhitungan Atap

4.1.1. Data Teknis Perencanaan Atap

Dalam perhitungan atap, digunakan data teknis sebagai berikut :

Bentang kuda – kuda (L) : 13 m

Jarak antar kuda – kuda (I) : 4 m

Kemiringan atap () : 30

Penutup atap : Genteng (50 Kg/m2)

Sambungan konstrukti : Baut (BJ37)

Mutu baja profil siku : BJ 37

Tegangan leleh baja (fy) : 240 MPa

Tegangan Ultimit baja (fu) : 370 MPa

Tekanan Tiup Angin : 25 Kg/m2

Gambar 4.1. Denah Kuda – Kuda

Page 80: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

80

Gambar 4.2. Perspektif Kuda - Kuda

Gambar 4.3. Kuda – kuda Tipe 1

Gambar 4.4. Kuda – kuda Tipe 2

Page 81: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

81

4.1.2. Perhitungan Gording

Gambar 4.5. Gording CNP

Digunakan gording profil CNP16 (BJ37)

q = 18,8 Kg/m

Wx = 116 cm3

Wy = 18,3 cm3

Ix = 925 cm4

Iy = 85,3 cm4

1. Pembebanan

a. Beban mati

Beban penutup atap = 50 Kg/m2 x 2,89 = 144,50 Kg/m

Berat gording = 18,80 Kg/m +

q = D = 163,30 Kg/m

b. Beban hidup

P = 100 Kg

c. Beban angin

Tekanan tiup angin = 25 Kg/m2

Koefisien angin

Angin tekan = 0,02 – 0,4 = 0,02 x 30 – 0,4 = 0,2

Angin hisap = –0,40

Beban angin

Angin tekan = 0,2 x 2,89 x 25 = 14,45 Kg/m

Angin hisap = –0,40 x 2,89 x 25 = –28,90 Kg/m

d. Beban air hujan

Page 82: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

82

b = (40 – 0,8) x 2,89

= (40 – 0,8x 30) x 2,89

= 46,24 Kg/m

2. Momen Akibat Pembebanan

a. Beban mati

q = D = 163,30 Kg/m

qx = q.sin = 163,30 x sin30 = 81,65 Kg/m

qy = q.cos = 163,30 x cos30 = 141,42 Kg/m

Mx1 = 1

8𝑞𝑦. 𝑙2 My1 =

1

8𝑞𝑥. 𝑙2

Mx1 = 1

8141,42. 42 My1 =

1

881,65. 42

Mx1 = 282,84 Kg.m My1 = 163,30 Kg.m

b. Beban hidup

P = L = 100 Kg

Px = P.sin = 100 x sin 30 = 50 Kg/m

Py = P.cos = 100 x cos 30 = 86,60 Kg/m

Mx2 = 1

4𝑃𝑦. 𝑙 My2 =

1

4𝑃𝑥. 𝑙

Mx2 = 1

486,60.4 My2 =

1

450.4

Mx2 = 86,60 Kg.m My2 = 50 Kg.m

c. Beban angin

Beban angin tekan (W1) = 14,45 Kg/m

Beban angin hisap (W2) = –28,90 Kg/m

Mx3 hisap = 1

8𝑊2. 𝑙2 My3 tekan =

1

8𝑊1. 𝑙2

Mx3 hisap = 1

8(–28,90) . 42 My3 tekan =

1

814,45 . 42

Mx3 hisap = –57,80 Kg.m My3 tekan = 28,90 Kg.m

d. Beban air hujan

b = 46,24 Kg/m

bx = b. sin = 46,24 x sin 30 = 23,12 Kg/m

by = b. cos = 46,24 x cos 30 = 40,05 Kg/m

Mx4 = 1

8𝑏𝑦. 𝑙2 My4 =

1

8𝑏𝑥. 𝑙2

Page 83: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

83

Mx4 = 1

840,05. 42 My4 =

1

823,12. 42

Mx4 = 80,10 Kg.m My4 = 46,24 Kg.m

3. Kombinasi Pembebanan

a. Kombinasi primer

Mx = Mx1 + Mx4 My = My1 + My2

Mx = 182,84 + 80,10 My = 163,30 + 50

Mx = 362,93 Kg.m My = 213,30 Kg.m

b. Kombinasi sekunder

Mx = Mx1 + Mx3 + Mx4 My = My1 + My2 + My3 tekan

Mx = 182,84 + (–57,80 )+ 80,10 My = 163,30 + 50 + 28,90

Mx = 305,13 Kg.m My = 242,20 Kg.m

4. Kontrol Terhadap Tegangan

a. Kombinasi primer

f = 𝑀𝑥

𝑊𝑥+

𝑀𝑦

𝑊𝑦

= 36293

116+

21330

18,3

= 1478,45 Kg/cm2 < fy = 2400 Kg/cm

2 OK

b. Kombinasi sekunder

f = 𝑀𝑥

𝑊𝑥+

𝑀𝑦

𝑊𝑦

= 30513

116+

24220

18,3

= 1586,54 Kg/cm2 < fy = 2400 Kg/cm

2 OK

5. Kontrol Terhadap Lendutan

Gording diperhitungkan sebagai balok menerus di atas banyak tumpuan,

beban direduksi 75%.

qx = 75%.q.sin = 0,75 x 163,30 x sin30 = 61,24 Kg/m

qy = 75%.q.cos = 0,75 x 163,30 x cos30 = 106,07 Kg/m

Px = 75%.P.sin = 0,75 x 100 x sin 30 = 37,5 Kg/m

Py = 75%.P.cos = 0,75 x 100 x cos 30 = 64,95 Kg/m

fmax = 1

240 𝑥 𝑙 =

1

240 𝑥 400 = 1,60 cm

Page 84: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

84

a. Penurunan terhadap sumbu x

fx = 5 𝑥 𝑞𝑥 𝑥 𝐿4

384𝑥 𝐸𝐼𝑦+

𝑃𝑥 𝑥 𝐿3

48 𝑥 𝐸𝐼𝑦

= 5 𝑥 0,6124 𝑥 4004

384𝑥 2 𝑥 106 𝑥 85,3+

0,375 𝑥 4003

48 𝑥 2 𝑥 106 𝑥 85,3

= 1,20 cm < fmax = 1,60 cm OK

b. Penurunan terhadap sumbu y

fy = 5 𝑥 𝑞𝑦 𝑥 𝐿4

384𝑥 𝐸𝐼𝑥+

𝑃𝑦 𝑥 𝐿3

48 𝑥 𝐸𝐼𝑥

= 5 𝑥 1,0607 𝑥 4004

384𝑥 2 𝑥 106 𝑥 925+

0,6495 𝑥 4003

48 𝑥 2 𝑥 106 𝑥 925

= 0,19 cm < fmax = 1,60 cm OK

c. Total lendutan yang terjadi

f = 𝑓𝑥2 + 𝑓𝑦2

= 1,20 2 + 0,192

= 1,21 cm < fmax = 1,60 cm OK

Jadi lendutan yang terjad lebih kecil dari lendutan yang di ijinkan,

sehingga gording aman dari bahaya lendutan.

4.1.3. Perencanaan Kuda - Kuda

Beban – beban yang terjadi pada atap diantaranya adalah beban mati,

beban hidup dan beban angin.

1. Beban mati

a. Beban Berat Kuda – kuda

Untuk perhitungan beban berat sendiri kuda – kuda diperhitungan

dengan menggunakan bantuan Software SAP2000.

b. Beban Penutup Atap

Patap = 50 x jarak kuda – kuda x jarak gording

= 50 x 4 x 2,89

= 578 Kg

c. Beban Gording

Untuk perhitungan beban gording diperhitungan dengan

menggunakan bantuan software SAP2000.

d. Beban Plafond

Pplafond = 18 x 2,89 x 4

Page 85: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

85

= 208 Kg

e. Total Beban Mati

PD = Patap + Pplafond

= 578 + 208

= 786 Kg

Gambar 4.6. Input Beban Mati pada Kuda – kuda

2. Beban hidup

Beban hidup yang terjadi pada atap adalah beban dari pekerja.

PL = Ppekerja = 100 Kg

Gambar 4.7. Input Beban Hidup pada Kuda – kuda

3. Beban Angin

a. Angin Tekan

Perhitungan koefisien angin tekan

C = 0,02 - 0,4

= 0,02 x 30 – 0,4

= 0,2

Page 86: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

86

Perhitungan beban angin tekan

W = C. (4 x 2,89 ) x P sin

= 0,2 (4 x 2,89) x 25 sin 30

= 28,90 Kg/m2 ()

W = C. (4 x 2,89 ) x P Cos

= 0,2 (4 x 2,89 ) x 25 x cos 30

= 50,06 Kg/m2 ()

b. Angin Hisap

Perhitungan koefisien angin hisap

C = - 0,4

Perhitungan beban angin hisap

W = C. (4 x 2,89 ) x P sin

= -0,4 (4 x 2,89) x 25 sin 30

= -57,80 Kg/m2 ()

W = C. (4 x 2,89 ) x P Cos

= -0,4 (4 x 2,89 ) x 25 x cos 30

= -100,11 Kg/m2 ()

Gambar 4.8. Input Beban Angin pada Kuda –kuda

4. Kombinasi Pembebanan

Dalam perhitungan struktur kuda – kuda digunakan kombinasi

sebagai berikut :

a. Comb 1 =1,4D

b. Comb 2 = 1,2 D + 1,6 La

Page 87: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

87

c. Comb 3 = 1,2 D + 1,6 La + 0,8W

d. Comb 4 = 1,2 D + 1,3 W + 0,5 La

e. Comb 5 = 0,9 D 1,3 W

Gambar 4.9. Kombinasi Pembebanan pada Kuda – kuda

4.1.4. Perhitungan Profil Kuda – Kuda

1. Tegangan dan Lendutan pada Kuda – kuda

Dari hasil perhitungan SAP di dapat gaya batang maksimum dan lendutan

yang terjadi pada rangka kuda – kuda :

Tabel 4.1. Tegangan Kuda - Kuda

Frame DesignSect Ratio Frame DesignSect Ratio

Text Text Unitless Text Text Unitless

131 2L.60.60.6 0.91 145 2L.40.40.4 0.00

132 2L.60.60.6 0.74 146 2L.50.50.5 0.38

133 2L.40.40.4 0.24 147 2L.40.40.4 0.05

134 2L.60.60.6 0.05 148 2L.50.50.5 0.03

135 2L.60.60.6 0.05 149 2L.50.50.5 0.03

136 2L.40.40.4 0.24 151 2L.40.40.4 0.11

137 2L.60.60.6 0.73 152 2L.50.50.5 0.04

138 2L.60.60.6 0.91 153 2L.50.50.5 0.03

139 2L.40.40.4 0.51 154 2L.40.40.4 0.05

140 2L.40.40.4 0.50 155 2L.50.50.5 0.38

141 2L.40.40.4 0.38 156 2L.40.40.4 0.00

142 2L.40.40.4 0.39 325 2L.50.50.5 0.57

143 2L.40.40.4 0.50 326 2L.50.50.5 0.56

144 2L.40.40.4 0.50

Page 88: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

88

Lendutan maksimum yang terjadi pada rangka kuda – kuda

Joint text = 80

U1 = 0,05 mm

U2 = 2,92 mm

U3 = 8,76 mm

Cek lendutan rangka

𝛿 = 𝐿

360=

13000

360 = 36,11 mm

= 𝑈12 + 𝑈2

2 + 𝑈32

= 0,05 2 + 2,922 + 8,762

= 9,23 mm < 𝛿 = 36,11 mm

4.1.5. Perhitungan Sambungan Baut

1. Tinjauan Kekuatan Baut

Pada sambungan baut digunakan :

(d) baut = diameter ½” (d = 12,70 mm) tipe A325.

Tebal plat = 10 mm

tahanan baut digunakan baut diameter ½” (d = 12,70 mm) tipe A325.

a. Tahanan geser

Rn = .r1.fub.Ab

= 0,75 . 0,5. 825. (1/4 .12,702)

= 39170,79 N

= 3,92 ton

b. Tahanan tumpu

Rn = .2,4.db.tp.fup

= 0,75 . 2,4 .12,7 . 10 . 370

= 8,458 ton

Maka tahanan baut yang digunakan adalah Rn = 3,92 ton

2. perhitungan jarak baut d ½” (12,70 mm)

a. Jarak antar baut

3db < S < 15tp atau 200 mm

Page 89: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

89

3 . 12,70 < S < 15 . 10 atau 200 mm

38,1 < S < 150 atau 200 mm

S = 50 mm

b. Jarak baut ke tepi

1,5db < S < (4tp + 100 mm) atau 200 mm

1,5 . 12,70 < S < (4 . 10 + 100) atau 200 mm

19,05 < S < 140 atau 200 mm

S = 25 mm

3. Perhitungan Jumlah Baut

Untuk perhitungan jumlah baut yang harus digunakan, maka dapat

menggunakan rumus :

n = 𝑃

Rn

n = Jumlah baut

P = Gaya Aksial Maksimal pada batang (Kg)

Rn = Tahanan baut (Kg)

a. Perhitungan Baut Kuda – Kuda Tipe 1

Gambar 4.10. Gaya Aksial Kuda – kuda tipe 1

Page 90: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

90

Tabel 4.2. Perhitungan jumlah baut kuda – kuda tipe 1

Frame P Maks (ton) tahanan

baut (ton)

Jumlah Baut

Perhitu-ngan

dipakai

131 -6.94 3.92 -1.77 2

132 -5.63 3.92 -1.44 2

133 -1.91 3.92 -0.49 2

134 -1.25 3.92 -0.32 2

135 -1.28 3.92 -0.33 2

136 -1.93 3.92 -0.49 2

137 -5.61 3.92 -1.43 2

138 -6.92 3.92 -1.77 2

139 5.98 3.92 1.53 2

140 5.98 3.92 1.53 2

141 4.88 3.92 1.24 2

142 4.89 3.92 1.25 2

143 6.05 3.92 1.54 2

144 6.05 3.92 1.54 2

145 0.03 3.92 0.01 2

146 -1.34 3.92 -0.34 2

147 0.70 3.92 0.18 2

148 0.04 3.92 0.01 2

149 0.07 3.92 0.02 2

151 1.05 3.92 0.27 2

152 -0.21 3.92 -0.05 2

153 0.26 3.92 0.07 2

154 0.70 3.92 0.18 2

155 -1.32 3.92 -0.34 2

156 0.02 3.92 0.01 2

325 -4.86 3.92 -1.24 2

326 -4.87 3.92 -1.24 2

Page 91: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

91

b. Perhitungan baut kuda – kuda tipe 2

Gambar 4.11. Gaya Aksial Kuda – kuda 2

Tabel 4.3. Perhitungan Jumlah Baut Kuda – Kuda Tipe 2

Frame P Maks

(ton) tahanan

baut (ton)

Jumlah Baut

Perhitu-ngan

dipakai

17 1.36 3.92 0.35 2

254 5.14 3.92 1.31 2

255 3.88 3.92 0.99 2

256 1.11 3.92 0.28 2

257 1.11 3.92 0.28 2

258 0.03 3.92 0.01 2

259 1.29 3.92 0.33 2

4.1.6. Perhitungan Pelat Landasan dan Baut angkur

Tegangan tumpu pelat landasan

Mutu beton (fc’) = 30Mpa

Digunakan tebal pelat = 10 mm

P vertikal maks pada tumpuan

PV = 4,16 ton (Joint No. 14)

P horizontal maks pada tumpuan

PH = 3,41 ton (Joint No. 123)

Menghitung lebar pelat landasan efektif

Page 92: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

92

Gambar 4.12. Pemodelan Pelat Landasan

Lebar efektif pelat landasan

𝑎 = 2𝑒 + 𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑎𝑛𝑡𝑎𝑟 𝑝𝑟𝑜𝑓𝑖𝑙 𝐿 = 44 𝑚𝑚

σ beton = σ pelat landasan

9 =𝑃𝑣

𝐿 𝑥 𝑎

𝐿 =41627 𝑁

5 𝑥 44

L = 189 mm

𝐷𝑖𝑝𝑎𝑘𝑎𝑖 𝐿 = 200 𝑚𝑚

Gambar 4.13. Tampak Atas Pelat Landasan

t

a

h t pelat Pelat landasan

b

L pelat

l pelat

a

L pelat

l pelat

Page 93: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

93

Spesifikasi baut yang digunakan :

Tipe baut = A 327

Diameter = 12,7 mm

Fu = 825 Mpa

Periksa terhadap geser baut

Vd = .r1.fub.Ab

= 0,75 . 0,5. 825. (1/4 .12,702)

= 39170,79 N

= 3,92 ton

Jumlah baut

jumlah baut yang kebutuhan𝑁𝑢

𝜙 𝑉𝑑=

4,16

3,92= 1,06 𝑏𝑢𝑎𝑕

Jumlah Baut dipakai = 4 buah

4.2. Perhitungan Portal

4.2.1. Perhitungan Beban Angin

Gambar 4.14. Permodelan Luasan Beban Angin Per Titik Joint

1. Tekanan angin yang diperhitungkan

2. Koefisien angin dinding vertikal

Di pihak angi (angin tekan) = + 0,9

Di belakang angin (angin hisap) = -0,4

Page 94: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

94

3. Perhitungan beban angin

Untuk perhitungan beban angin digunakan rumus

W = P. C. L

Dimana :

P = tekanan angin yang diperhitungkan

C = Koefisien angin

L = Luas dinding yang terkena angin

Tabel 4.4. Perhitungan Angin Tekan pada Portal

NoP

(Kg/m2)C L (m2) W (Kg)

1 25 0.9 6.19 139.19

2 25 0.9 12.37 278.38

3 25 0.9 13.26 298.27

4 25 0.9 10.56 237.63

5 25 0.9 21.12 475.26

6 25 0.9 22.63 509.20

7 25 0.9 4.38 98.44

8 25 0.9 8.75 196.88

9 25 0.9 9.38 210.94

10 25 0.9 3.50 78.75

11 25 0.9 14.00 315.00

12 25 0.9 15.00 337.50

Tabel 4.5. Perhitungan Angin Hisap pada Portal

NoP

(Kg/m2)C L (m2) W (Kg)

1 25 -0.4 6.19 -61.86

2 25 -0.4 12.37 -123.73

3 25 -0.4 13.26 -132.56

4 25 -0.4 10.56 -105.61

5 25 -0.4 21.12 -211.23

6 25 -0.4 22.63 -226.31

7 25 -0.4 4.38 -43.75

8 25 -0.4 8.75 -87.50

9 25 -0.4 9.38 -93.75

10 25 -0.4 3.50 -35.00

11 25 -0.4 14.00 -140.00

12 25 -0.4 15.00 -150.00

Page 95: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

95

4.2.2. Perhitungan Beban Gempa

1. Lokasi Bangunan

Berdasarkan peta pada google maps, gedung kantor polda jawa tengah

terletak pada lintang -6.9802186 dan bujur 110.4105230.

Gambar 4.15. Koordinat Lokasi Gedung Kantor Polda Jawa Tengah

(sumber : Google Maps, 2017)

2. Menentukan Kategori Resiko Struktur Bangunan

Berdasarkan kategori resiko bangunna pada SNI 03-1726-2012. Gedung

lima lantai kantor polda jateng termasuk dalam kategori I dan II.

Page 96: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

96

Tabel 4.6. Kategori Resiko Gedung Lima Lantai Kantor Polda Jateng

Pemanfaatan

Kategori

Resiko

Gedung dan non gedung yang memiliki risiko rendah terhadap

jiwa manusia pada saat terjadi kegagalan, termasuk, tapi tidak

dibatasi untuk, antara lain :

- Fasilitas pertanian, perkebunan, pertemuan, dan perikanan

- Fasilitas sementara

- Gudang penyimpanan

- Rumah jaga dan struktur kecil lainnya

I

Semua gedung dan struktur lain, kecuali yang termasuk dalam

kategori risiko I,II,II,IV, termasuk, tapi tidak dibatasi untuk :

- Perumahan

- Rumah toko dan rumah kantor

- Pasar

- Gedung perkantoran

- Gedung apartemen / rumah susun

- Pusat perbelanjaan / mall

- Bangunan industri

- Fasilitas manufaktur

- Pabrik

II

Gedung dan non gedung yang dimiliki risiko ini tinggi terhadap

jiwa manusia pada saat terjadi kegagalan, termasuk, tapi tidak

dibatasi untuk :

- Bioskop

- Gedung pertemuan

- Stadion

- Fasilitas kesehatan yang tidak memiliki unit bedah dan unit

gawat darurat

- Fasilitas penitipan anak

- Penjara

- Bangunan untuk orang jompo

Gedung dan non gedung, yang tidak termasuk kedalam kategori

IV, yang memiliki potensi untuk menyebabkan dampak eonomi

yang besar dan / atau gangguan massal terhadap kehidupan

masyarakat sehari-hari bila terjadi kegagalan, termasuk, tapi

tidak dibatasi untuk :

- Pusat pembangkit listrik biasa

- Fasilitas penanganan air

- Fasilitas penanganan limbah

- Pusat telekomunikasi

Gedung dan non gedung yang tidak termasuk dalam kategori

risiko IV, ( termasuk tetapi tidak dibatasi untuk fasilitas

manufaktur, proses, penanganan, penyimpanan, penggunaan,

atau tempat pembuangan bahan bakar berbahaya, bahan kimia

berbahaya, limbah berbahaya, atau bahan yang mudah meledak)

yang mengandung bahan beracun atau peledak di mana jumlah

III

Page 97: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

97

kandungan bahannya melebihi nilai batas yang disyaratkan oleh

instansi yang berwenang dan cukup menimbulkan bahaya bagi

masyarakat jika terjadi kebocoran.

Gedung dan non gedung yang ditunjukan sebagai fasilitas yang

penting, termasuk tetapi tidak dibatasi untuk :

- Bangunan-bangunan monumental

- Gedung sekolah dan fasilitas pendidikan

- Rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya yang memiliki

fassilitas bedah dan unit gawat darurat

- Fasilitas pemadam kebakaran, ambulans, dan kantor polisi,

serta garasi kendaraan darurat

- Tempat perlindungan terhadap gempa bumi, angin badai, dan

tempat perlindungan darurat lainnya

- Fasiltas kesiapan darurat, komunikasi, pusat operasi dan

fasilitas lainnya untuk tanggap darurat

- Pusat pembangkit energi dan fasilitas publik lainnya yang

dibutuhkan saat keadaan darurat

- Struktur tambahan (termasuk menara telekomunikasi, tangki

penyimpanan bahan bakar, menara pendingin, struktur

stasiun listrik, tangki air pemadam kebakaran atau struktur

rumah atau struktur pendukung air mineral atau peralatan

pemadam kebakaran) yang disyaratkan untuk beroperasi

pada saat keadaan darurat

Gedung dan non gedung yang dibutuhkan untuk

mempertahankan fungsi struktur bangunan lain yang masuk ke

dalam kategori risiko IV.

IV

(Sumber: Standar Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung SNI 1726:2012)

3. Menentukan Faktor Keutamaan Gempa (Ie)

Berdasarkan hasil dari kategori resiko struktur bangunan, diperoleh faktor

keutamaan gempa (Ie) sebesar 1,0

Tabel 4.7. Faktor Keutamaan Gempa (Ie)

Kategori resiko Faktor keutamaan gempa, Ie

I atau II 1,0

III 1,25

IV 1,5 (Sumber: Standar Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung SNI

1726:2012)

4. Menentukan Kelas Situs (SA-SF)

Untuk menentukan klasifikasi kelas situs tanah local, maka dapat

dilakukan dengan menguji nilai penetrasi standar rata-rata. N profil tanah

yang mengandung beberapa lapisan tanah dan/atau batuan yang nyata

Page 98: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

98

berbeda, harus dibagi menjadi lapisan – lapisan yang diberi nomor ke 1

sampai ke –n dari atas ke bawah, sehingga ada total N lapisan tanah yang

berbeda pada lapisan 40 m paling atas tersebut. Nilai N untuk lapisan

tanah 40 m paling atas ditentukan sesuai dengan perumusan berikut :

N = ti

ni

tiNi n

i=1

ti = tebal setiap lapisan antara kedalaman 0 sampai 40 meter;

Ni = tahanan penetrasi standar 60 persen energi (N60) yang terukur langsung

di lapangan tanpa koreksi.

Tabel 4.8. Nilai Tes Penetrasi Standar Rata – Rata (N) Log

No. BH.1

No. ti (m) Ni t/N

1 0,00 - 2,00 = -2,00 8 0,250

2 2,00 - 4,00 = -2,00 9 0,222

3 4,00 - 6,00 = -2,00 17 0,118

4 6,00 - 8,00 = -2,00 3 0,667

5 8,00 - 10,00 = -2,00 2 1,000

6 10,00 - 12,00 = -2,00 3 0,667

7 12,00 - 14,00 = -2,00 3 0,667

8 14,00 - 16,00 = -2,00 7 0,286

9 16,00 - 18,00 = -2,00 20 0,100

10 18,00 - 20,00 = -2,00 18 0,111

11 20,00 - 22,00 = -2,00 22 0,091

12 22,00 - 24,00 = -2,00 24 0,083

13 24,00 - 26,00 = -2,00 44 0,045

14 26,00 - 28,00 = -2,00 59 0,024

15 28,00 - 30,00 = -2,00 56 0,036

16 30,00 - 32,00 = -2,00 60 0,033

17 32,00 - 34,00 = -2,00 60 0,033

18 34,00 - 36,00 = -2,00 60 0,033

19 36,00 - 38,00 = -2,00 56 0,036

20 38,00 - 40,00 = -2,00 60 0,033

Σ -40,00 4,545

Page 99: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

99

N =𝟒𝟎,𝟎𝟎𝟎

4,545

= 8,80

Tabel 4.9. Nilai Tes Penetrasi Standar Rata – Rata (N) Log

No. BH.2

No. ti (m) Ni t/N

1 0,00 - 2,00 = -2,00 10 0,200

2 2,00 - 4,00 = -2,00 8 0,250

3 4,00 - 6,00 = -2,00 18 0,111

4 6,00 - 8,00 = -2,00 2 1,000

5 8,00 - 10,00 = -2,00 2 1,000

6 10,00 - 12,00 = -2,00 3 0,667

7 12,00 - 14,00 = -2,00 2 1,000

8 14,00 - 16,00 = -2,00 22 0,091

9 16,00 - 18,00 = -2,00 24 0,083

10 18,00 - 20,00 = -2,00 21 0,095

11 20,00 - 22,00 = -2,00 18 0,111

12 22,00 - 24,00 = -2,00 28 0,071

13 24,00 - 26,00 = -2,00 55 0,036

14 26,00 - 28,00 = -2,00 60 0,033

15 28,00 - 30,00 = -2,00 60 0,033

16 30,00 - 32,00 = -2,00 57 0,035

17 32,00 - 34,00 = -2,00 60 0,033

18 34,00 - 36,00 = -2,00 60 0,033

19 36,00 - 38,00 = -2,00 60 0,033

20 38,00 - 40,00 = -2,00 60 0,033

Σ -40,00

4,951

N =𝟒𝟎,𝟎𝟎𝟎

4,951

= 8,079

Page 100: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

100

Tabel 4.10. Klasifikasi Situs Gedung Kantor Polda Jawa Tengah

Kelas situs vs (m/detik) N Atau Nch su (kPa)

SA (Batuan Keras) >1500 N/A N/A

SB (Batuan) 750 – 1500 N/A N/A

SC (Tanah keras, sangat padat dan batuan lunak)

350 – 750 >50 >100

SD (Tanah sedang) 175 – 350 15 – 50 50 - 100

SE (tanah lunak) <175 <15 <50

Atau setiap profil tanah yang mengandung lebih dari 3 m tanah dengan karateristik sebagai berikut : 1. Indeks plastisitas, PI > 20, 2. Kadar air, w > 40% 3. Kuat geser niralir su < 25 kPa

SF (Tanah khusus, yang membutuhkan investigasi geoteknik spesifik dan analisis respons spesifik situs)

Setiap profil lapisan tanah yang memiliki salah satu atau lebih dari karakteristik berikut: - Rawan dan berpotensi gagal atau runtuh akibat

beban gempa seperti mudah likuifaksi, lempung sangat sensitif, tanah tersementasi lemah

- Lempung sangat organik dan/atau gambut (ketebalan H > 3 m)

- Lempung berplastisitas sangat tinggi (ketebalan H > 7,5 m dengan Indeks Plasitisitas PI > 75) Lapisan lempung lunak/setengah teguh dengan ketebalan H > 35 m dengan su < kPa

Berdasarkan klafisikasi situs diatas, untuk kedalaman 40 meter dengan

nilai test penetrasi standar rata – rata log no. BH.1 ( N ) = 8,80 dan log no.

BH.2 ( N ) = 8,079 berada pada nilai N = < 15, maka tanah dilokasi

tersebut termasuk kelas situs SE (Tanah Lunak).

5. Menentukan Parameter percepatan Gempa (SS Dan S1)

Berdasarkan kelas situs dan lokasi wilayah gedung kantor Polda

Jawa Tengah didapat nilai parameter Ss dan S1 dimana parameter SS

(prcepatan batuan dasar pada periode pendek) dan parameter S1

(Percepatan batuan dasar pada periode 1 detik) Ss= 0,998 g dan S1 =

0,334 g

Page 101: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

101

Gambar 4.16. Respon spectra percepatan pendek 0,2 Detik

(Sumber: http://www.puskim.pu.go.id/desain_spektra_indonesia_2011)

Gambar 4.17. Respon spectra percepatan pendek 1 detik

(Sumber: http://www.puskim.pu.go.id/desain_spektra_indonesia_2011)

6. Menentukan Koefisien Situs

Untuk penentuan respons spektral percepatan gempa MCER di permukaan

tanah, diperlukan suatu faktor amplifikasi seismik pada perioda 0,2 detik

dan perioda 1 detik. Faktor amplifikasi meliputi faktor amplifikasi getaran

terkait percepatan pada getaran perioda pendek (01) dan faktor amplifikasi

terkait percepatan yang mewakili getaran perioda 1 detik (02):

SMS = Fa SS

SM1 = Fv S1

Kemudian dengan didapat nilai SMS, SM1 langkah selanjutnya adalah

mencari harga SDS , SD1menggunakan rumus empiris sebagai berikut:

SDS = 2/3 SMS

Page 102: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

102

SD1 = 2/3 SM1

Tabel 4.11. Koefisien Situs, Fa

Kelas Situs

Ss (Percepatan Respons Spektra Periode pendek,

T = 0,2 detik)

Ss < 0,25 Ss = 0,5 Ss = 0,75 Ss = 1 Ss > 1,25

SA 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8

SB 1 1 1 1 1

SC 1,2 1,2 1,1 1 1

SD 1,6 1,4 1,2 1,1 1

SE 2,5 1,7 1,2 0,9 0,9

SF SS

Tabel 4.12. Koefisien Situs, Fv

Kelas Situs

Ss (Percepatan Respons Spektra Periode pendek,

T = 1 detik)

S1 < 0,1 S1 = 0,2 S1 = 0,3 S1 = 0,4 S1 > 0,5

SA 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8

SB 1 1 1 1 1

SC 1,7 1,6 1,5 1,4 1,3

SD 2,4 2 1,8 1,6 1,5

SE 3,5 3,2 2,6 2,4 2,4

SF SS (Sumber: Standar Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung

SNI 1726:2012)

Maka untuk SS = 0,998 g dan S1 = 0,334 g, diperoleh nilai Fa dan Fv

(interpolasi):

Fa = 0.902

Fv = 2.532

Sehingga dapat dicari SMS dan SM1:

SMS = Fa SS

= 0.902 x 0,998 = 0.900 g

SM1 = Fv S1

= 2.532 x 0.334 = 0.846 g

Maka, selanjutnya menghitung SDS dan SD1:

SDS = 2/3 SMS

= 2/3 x 0.900 = 0.600 g

SD1 = 2/3 SM1

Page 103: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

103

= 2/3 x 0.846 = 0.564 g

7. Menentukan Spektrum Respon Desain (Sa)

Bila sprektrum respons desain diperlukan oleh tata cara ini dan

prosedur gerak tanah dari spesifik situs tidak digunakan, maka kurva

sprektrum respons desain harus dikembangkan dengan mengacu pada

gambar sprektrum respon gempa desain dan ketentuan dibawah ini:

T0 = 0,2 SD1

SDS Ts =

SD1

SDS

= 0,2 0,564

0,600 =

0,564

0,600

= 0,188 detik = 0,939 detik

Dalam menentukan periode fundamental struktur T dapat diperoleh

dari hasil analisis struktur yang akan ditinjau. Namun SNI Gempa 2012

memberi persyaratan bahwa periode fundamental yang akan dipakai

sebagai perhitungan tidak boleh melebihi dari batas atas periode

fundamental pendekatan yang mana nilainya adalah perkalian dari

koefisien periode batas atas (Cu) dengan periode pendekatan (Ta). Untuk

memudahkan pelaksanaan, periode alami fundamental T ini boleh

langsung digunakan periode pendekatan Ta.

Periode pendekatan ditentukan berdasarkan Persamaan berikut ini:

Ta = Ct . hnx

Tabel 4.13. Koefisien Batas Atas Periode Kantor Polda Jawa tengah

SD1 Koefisien Cu

> 0.4 1.4

0.3 1.4

0.2 1.5

0.15 1.6

< 0.1 1.7 (Sumber: Standar Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung

SNI 1726:2012)

Page 104: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

104

Tabel 4.14. Nilai Parameter Periode Pendekatan Ct Dan x Kantor

Polda Jawa Tengah

Tipe Struktur Ct x

Sistem rangka pemikul momen di mana rangka memikul 100 persen gaya

gempa yang disyaratkan dan tidak dilingkupi atau dihubungkan dengan

komponen yang lebih kaku dan akan mencegah rangka dari defleksi jika

dikenai gaya gempa:

Rangka baja pemikul momen 0.0724 0.8

Rangka beton pemikul momen 0.0466 0.9

Rangka baja dengan bresing eksentris 0.0731 0.75

Rangka baja dengan bresing terkekang

terhadap tekuk 0.0731 0.75

Semua sistem struktur lainnya 0.0488 0.75 (Sumber: Standar Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung SNI

1726:2012)

Ta = Ct . hnx

= 0,0466 x 18.000.9

= 0.628 detik

Dengan nilai SD1 = 0.561 g, maka didapat koefisien Cu = 1,4

T maks = Cu . Ta

= 1,4 x 0.628

= 0,8792 detik

Gambar 4.18. Spektrum Respon Desain

(Sumber: Standar Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung SNI

1726:2012)

Page 105: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

105

a. Untuk perioda yang lebih kecil dari T0, spektrum respons percepatan desain,

Sa harus diambil dari persamaan:

Sa = SDS (0,4 + 0,6 𝑇𝑇𝑂

)

b. Untuk perioda lebih besar dari atau sama dengan T0; dan lebih kecil dari

atau sama dengan Ts, spektrum respons percepatan desain, Sa, sama dengan

SDS

c. Untuk perioda lebih besar dari Ts. Maka, spektrum respons percepatan

desain, Sa , diambil berdasarkan persamaan:

Sa = 𝑆𝐷1𝑇

Tabel 4.15. Spektrum Respon Desain Kantor Polda Jawa Tengah

T T Sa T T Sa

(Detik) (Detik) (g) (Detik) (Detik) (g)

0 0 0.240 TS + 1.5 2.439 0.231157

T0 0.188 0.600 TS + 1.6 2.539 0.222053

Ts 0.939 0.600 TS + 1.7 2.639 0.213638

TS + 0.1 1.039 0.543 TS + 1.8 2.739 0.205839

TS + 0.2 1.139 0.495 TS + 1.9 2.839 0.198588

TS + 0.3 1.239 0.455 TS + 2.0 2.939 0.191831

TS + 0.4 1.339 0.421 TS + 2.1 3.039 0.185519

TS + 0.5 1.439 0.392 TS + 2.2 3.139 0.179609

TS + 0.6 1.539 0.366 TS + 2.3 3.239 0.174064

TS + 0.7 1.639 0.344 TS + 2.4 3.339 0.168851

TS + 0.8 1.739 0.324 TS + 2.5 3.439 0.163941

TS + 0.9 1.839 0.307 TS + 2.6 3.539 0.159308

TS + 1.0 1.939 0.291 TS + 2.7 3.639 0.15493

TS + 1.1 2.039 0.277 TS + 2.8 3.739 0.150787

TS + 1.2 2.139 0.264 TS + 2.9 3.839 0.146859

TS + 1.3 2.239 0.252 3 3.939 0.143131

TS + 1.4 2.339 0.241 4 4 0.140948

Page 106: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

106

Gambar 4.19. Spektrum Respon Desain Gedung Polda Jawa tengah

(Sumber: http://www.puskim.pu.go.id/desain_spektra_indonesia_2011)

8. Menentukan Kategori Desain Seismik (A-D)

Struktur harus ditetapkan memiliki suatu Kategori Desain Seismik (KDS)

yang mengikuti ketentuan seperti berikut:

1. Struktur dengan kategori resiko I, II, atau III dengan nilai S1 > 0,75

harus ditetapkan sebagi struktur dengan Kategori Desain Seismik E.

2. Struktur dengan kategori resiko IV dengan nilai S1 > 0,75 harus

ditetapkan sebagi struktur dengan Kategori Desain Seismik F.

Struktur yang memiliki ketentuan diluar ketentuan tersebut, jenis

Kategori Desain Seismiknya ditetapkan berdasarkan hubungan nilai SDS

dan SD1 terhadap Kategori Resiko Gedung.

Tabel 4.16. Kategori Desain Seismik berdasarkan Parameter

Respons Percepatan pada Periode Pendek, Kantor Polda Jawa

Tengah

Nilai SDS Kategori Resiko

I II III IV

SDS < 0,167 A A A A

0,167< SDS < 0,33 B B B C

0,33 < SDS < 0,5 C C C D

SDS > 0,5 D D D D

Page 107: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

107

(Sumber: Standar Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung SNI

1726:2012)

Tabel 4.17. Kategori Desain Seismik berdasarkan Parameter

Respons Percepatan pada Periode 1 Detik Kantor

Polda Jawa Tengah

Nilai SD1 Kategori Resiko

I II III IV

SD1 < 0,067 A A A A

0,067< SD1 < 0,133 B B B C

0,133 < SD1 < 0,2 C C C D

SD1 > 0,2 D D D D (Sumber: Standar Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung SNI

1726:2012)

SDS = 0.600 (SDS > 0,5) = Kategori Desain Seismik D (KDS D)

SD1 = 0.564 (SD1 > 0,2) = Kategori Desain Seismik D (KDS D)

9. Pemilihan Sistem struktur dan parameter sistem (R, Cd, 0)

Sistem penahan gaya gempa adalah Sistem Rangka Pemikul Momen

Khusus (SRPMK), dari parameter dan pemilihan sistem gedung didapat:

- R = 8

- Ω0 = 3

- Cd = 5,5

Tabel 4.18. Faktor R, Ω0, Dan Cd untuk Sistem Penahan Gaya

Gedung Kantor Polda Jawa Tengah

Sistem struktur beton

bertulang penahan

gaya gempa

R Ω0 Cd

Batasan sistem struktur

dan batasan tinggi

struktur (m)

B C D E F

A Sistem dinding penumpu

1 Dinding geser beton

bertulang khusus 5 2.5 5 TB TB 48 48 30

2 Dinding geser beton

bertulang biasa 4 2.5 4 TB TB TI TI TI

3 Dinding geser beton

polos didetail 2 2.5 2 TB TI TI TI TI

4 Dinding geser beton

polos biasa 1.5 2.5 1.5 TB TI TI TI TI

Page 108: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

108

5 Dinding geser

pracetak menengah 4 2.5 4 TB TB 12 12 12

6 Dinding geser

pracetak biasa 3 2.5 3 TB TI TI TI TI

B Sistem Rangka

1 Dinding geser beton

bertulang khusus 6 2.5 5 TB TB 48 48 30

2 Dinding geser beton

bertulang biasa 5 2.5 4.5 TB TB TI TI TI

3 Dinding geser beton

polos detail 2 2.5 2 TB TI TI TI TI

4 Dinding geser beton

polos biasa 1.5 2.5 1.5 TB TI TI TI TI

5 Dinding geser

pracetak menengah 5 2.5 4.5 TB TB 12 12 12

6 Dinding geser

pracetak biasa 4 2.5 4 TB TI TI TI TI

C Sistem rangka pemikul momen

1

Rangka beton

bertulang pemikul

momen khusus

8 3 5.5 TB TB TB TB TB

2

Rangka beton

bertulang pemikul

momen menengah

5 3 4.5 TB TB TI TI TI

3

Rangka beton

bertulang pemikul

momen biasa

3 3 2.5 TB TI TI TI TI

D Sistem ganda dengan rangka pemikul momen khusus

1 Dinding geser beton

bertulang khusus 7 2.5 5.5 TB TB TB TB TB

2 Dinding geser beton

bertulang biasa 6 2.5 5 TB TB TI TI TI

E Sistem ganda dengan rangka pemikul momen menengah

1 Dinding geser beton

bertulang khusus 6.5 2.5 5 TB TB 48 30 30

2 Dinding geser beton

bertulang biasa 5.5 2.5 4.5 TB TB TI TI TI

F Sistem interaktif dinding geser rangka dengan rangka pemikul

momen beton bertulang biasa dan dinding geser beton bertulang biasa

4.5 2.5 4 TB TI TI TI TI

G Sistem kolom kantilever didetail untuk memenuhi persyaratan :

1

Rangka beton

bertulang pemikul

momen khusus

2.5 1.25 1.5 10 10 10 10 10

2

Rangka beton

bertulang pemikul

momen menengah

1.5 1.25 1.5 10 10 TI TI TI

3 Rangka beton 1 1.25 1 10 TI TI TI TI

Page 109: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

109

bertulang pemikul

momen biasa (Sumber: Standar Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung SNI

1726:2012)

10. Output Repon Spektum

Base Shear

Gaya geser dasar (Base Shear) dinamik yang diisyaratkan SI 1726 – 2012

yaitu sebesar 85% dari gaya geser static.

Gambar 4.20. Tabel Output Base Reaction Beban Mati dan Beban Hidup

Pada Kolom GlobalFZ menunjukan nilai :

W Beban Mati Total = 33843184,41 Kg

W beban Hidup Total = 584372,32 Kg

W Total = W mati total + 30% W hidup Total

= 33843184,41 + 0,3 x 584372,32

= 34018496,11 Kg

Periksa gaya geser dasar static ekuivalen, dihitung dengan rumus :

V = Cs x W

Dengan :

Cs = 𝑆𝐷𝑆 𝑥 𝐼𝑒

𝑅

SDS = 0,600 g

I = 1 (Faktor Keutamaan)

R = 8,0 (Faktor Reduksi Gemmpa)

Maka didapat

V = 𝑆𝐷𝑆 𝑥 𝐼𝑒

𝑅 x W

= 0,600 𝑥 1

8,0 x 34018496,11

= 2551387,208 Kg

Page 110: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

110

Gambar 4.21. Tabel Output Bas Shear Respone Spektrum

Arah X

V Dinamik (Gempa X) = 4084738,92 Kg

85% V Statik = 0,85 x 2551387,208 = 2168679,127 Kg

4.2.3. Perhitungan Pelat

1. Perhitungan Tebal Pelat

Data teknis perhitungan elat

Fc = 30 Mpa

Fy = 240 Mpa

Tul. = 10 mm

Pelat S1 (pelat lantai Dimensi 250 x 500 cm)

Bentang pendek Lx = 2,50 m

Bentang panjang Ly = 5,00 m

β = 𝐿𝑦

𝐿𝑥 =

5,

2,50 = 2

h min = 𝐿𝑛 ( 0,8+(

𝑓𝑦

1500)

36+9𝛽

= 5000 ( 0,8+ (

240

1500)

36+9 .2

= 88,89 → 9 cm

h max = 𝐿𝑛 ( 0,8+(

𝑓𝑦

1500)

36

= 5000 ( 0,8+ (

240

1500)

36

= 133,33 → 13 cm

Maka digunakan tebal pelat 12 cm

Page 111: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

111

2. Perhitungan Pembebanan

a. Beban Mati (WD)

Beban mati pada pelat atap

Berat sendiri pelat = 2400 x 0,10 = 240 Kg/m2

Berat Spesi = 21 Kg/m2 x 2 = 42 Kg/m

2

Berat Plafond + Penggantung = 18 Kg/m2 +

Total = 300 Kg /m2

Beban mati pada pelat lantai

Berat sendiri pelat = 2400 x 0,12 = 288 Kg/m2

Berat Spesi = 21 Kg/m2 x 2 = 42 Kg/m

2

Berat Keramik = 24 Kg/m2

Berat Plafond + Penggantung = 18 Kg/m2 +

Total = 372 Kg /m2

b. Beban Hidup (WL)

Beban hidup pada pelat atap = 100 Kg/m2

Beban hidup pada pelat lantai = 250 Kg/m2

c. Kombinasi Pembebanan (Wu)

Kombinasi Pembebanan pada pelat atap

Wu = 1,2 WD + 1,6 WL

= 1,2 (300) + 1,6 (100)

= 520 Kg/m2 5,20 KN/m

2

Kombinasi pembebanan pada pelat lantai

Wu = 1,2 WD + 1,6 WL

= 1,2 (372) + 1,6 (250)

= 846,4 Kg/m2 8,46 KN/m

2

Page 112: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

112

3. Perhitungan Momen Pelat

Perhitungan momen pelat yang terjadi dapat dilihat pada tabel

berikut ini :

Tabel 4.19. Perhitungan Momen Pelat.

Pelat Lx Ly β Wu Perhitungan Momen (KNm)

(Cm) (Cm) (Ly/Lx) (KN/m2) x Mlx x Mly x Mtx x Mty

S1 250 500 2.00 8.46 58 3.07 15 0.79 82 -4.34 53 -2.80

S2 300 500 1.67 8.46 50 3.81 15 1.14 79 -6.02 54 -4.11

S3 300 400 1.33 8.46 39 2.97 19 1.45 69 -5.25 55 -4.19

S4 250 400 1.60 8.46 49 2.59 15 0.79 78 -4.12 54 -2.86

S5 200 400 2.00 5.20 58 1.21 15 0.31 82 -1.71 53 -1.10

S6 250 500 2.00 5.20 58 1.89 15 0.49 82 -2.67 53 -1.72

4. Perhitungan Tulangan

Tebal pelat atap (h) = 10 cm 100 mm

Tebal pelat lantai (h) = 12 cm 120 mm

Mutu Beton = 30 Mpa 300 Kg/cm2

Mutu Baja = 240 Mpa 2400 Kg/cm2

min = 1,4

𝑓𝑦 =

1,4

240 = 0,00583

Tebal selimut beton (p) = 20 mm

Diameter tul. x = 10

Diameter tul. y = 10

Tinggi efektif arah x

- Pelat atap

dx = h – p – ½x

= 100 – 20 – ½ 10

= 75 mm

- Pelat lantai

dx = h – p – ½x

= 120 – 20 – ½ 10

= 95 mm

Tinggi efektif arah y

- Pelat atap

dy = h – p – x – ½y

Page 113: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

113

= 100 – 20 –10 – ½ 10

= 65 mm

- Pelat lantai

dy = h – p – x – ½y

= 120 – 20 –10 – ½ 10

= 85 mm

a. Perhitungan Tulangan Lapangan Arah X

MLX = 3,07 KN/m2

Mu

b d2 = 3,07

1 𝑥 0,0952 = 339,81 KN/m2

Dari tabel 5.1i

Mu

b d2 = 300 = 0,0013

Mu

b d2 = 400 = 0,0017

Mu

b d2 = 432 diinterpolasi

= 0,0013 + 39,81

100 (0,0017 – 0,0013)

= 0,0015

Syarat < min < max

Maka dipakai min = 1,4

𝑓𝑦 =

1,4

240 = 0,0058

As = x b x d

= 0,00583 x 1000 x 95

= 553,85 mm2

Dipakai tulangan Ø10 – 125 ( 628 mm2

)

Tabel 4.20. Perhitungan Tulangan Lapangan Arah X

Pelat dx MLx Mu/bd2 min digunakan

As

(mm2)

Dipakai

Ø

(mm)

Jarak

(mm)

As

(mm2)

S1 95 3.07 339.81 0.0058 0.0015 0.0058 553.85 10 125 628.00

S2 95 3.81 421.83 0.0058 0.0018 0.0058 553.85 10 125 628.00

S3 95 2.97 329.03 0.0058 0.0014 0.0058 553.85 10 125 628.00

S4 95 2.59 287.08 0.0058 0.0012 0.0058 553.85 10 125 628.00

S5 75 1.21 214.47 0.0058 0.0009 0.0058 437.25 10 150 523.33

S6 75 1.89 335.11 0.0058 0.0014 0.0058 437.25 10 150 523.33

Page 114: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

114

b. Perhitungan Tulangan Lapangan Arah Y

MLY = 0,79 KN/m2

Mu

b d2 = 0,79

1 𝑥 0,0852 = 109 KN/m2

Dari tabel 5.1i

Mu

b d2 = 100 = 0,0004

Mu

b d2 = 200 = 0,0008

Mu

b d2 = 109 diinterpolasi

= 0,0004 + 9

100 (0,0008 – 0,0004)

= 0,0004

Syarat < min < max

Maka dipakai min = 1,4

𝑓𝑦 =

1,4

240 = 0,0058

As = x b x d

= 0,00583 x 1000 x 85

= 495,55m2

Dipakai tulangan Ø10 – 150 ( 523,33 mm2

)

Tabel 4.21. Perhitungan Tulangan Lapangan Arah Y

Pelat dy Mly Mu/bd2 min digunakan

As

(mm2)

Dipakai

Ø

(mm)

Jarak

(mm)

As

(mm2)

S1 85 0.79 109.78 0.0058 0.0004 0.0058 495.55 10 150 523.33

S2 85 1.14 158.08 0.0058 0.0006 0.0058 495.55 10 150 523.33

S3 85 1.45 200.23 0.0058 0.0008 0.0058 495.55 10 150 523.33

S4 85 0.79 109.78 0.0058 0.0004 0.0058 495.55 10 150 523.33

S6 65 0.31 73.85 0.0058 0.0004 0.0058 378.95 10 200 392.50

S7 65 0.49 115.38 0.0058 0.0005 0.0058 378.95 10 200 392.50

c. Perhitungan Tulangan Tumpuan Arah X

MTX = -4,34 KN/m2

Mu

b d2 = 4,34

1 𝑥 0,0952 = 489,42 KN/m2

Page 115: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

115

Dari tabel 5.1i

Mu

b d2 = 400 = 0,0017

Mu

b d2 = 500 = 0,0021

Mu

b d2 = 489,42 diinterpolasi

= 0,0017 + 89,42

100 (0,0021 – 0,0017)

= 0,0020

Syarat < min < max

Maka dipakai min = 1,4

𝑓𝑦 =

1,4

240 = 0,0058

As = x b x d

= 0,00583 x 1000 x 95

= 553,85 mm2

Dipakai tulangan Ø10 – 125 ( 628 mm2

)

Tabel 4.22. Perhitungan Tulangan Tumpuan Arah X

Pelat dx Mtx Mu/bd2 min digunakan

As

(mm2)

Dipakai

Ø

(mm)

Jarak

(mm)

As

(mm2)

S1 95 -4.34 480.42 0.0058 0.0020 0.0058 553.85 10 125 628.00

S2 95 -6.02 666.49 0.0058 0.0028 0.0058 553.85 10 125 628.00

S3 95 -5.25 582.12 0.0058 0.0024 0.0058 553.85 10 125 628.00

S4 95 -4.12 456.98 0.0058 0.0019 0.0058 553.85 10 125 628.00

S5 75 -1.71 303.22 0.0058 0.0013 0.0058 437.25 10 150 523.33

S6 75 -2.67 473.78 0.0058 0.0020 0.0058 437.25 10 150 523.33

d. Perhitungan Tulangan Tumpuan Arah Y

F MLY = -2,80 KN/m2

Mu

b d2 = 2,80

1 𝑥 0,0852 = 387,87 KN/m2

Dari tabel 5.1i

Mu

b d2 = 300 = 0,0013

Mu

b d2 = 400 = 0,0017

Mu

b d2 = 387,87 diinterpolasi

Page 116: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

116

= 0,0013 + 87,87

100 (0,0017 – 0,0012)

= 0,0017

Syarat < min < max

Maka dipakai min = 1,4

𝑓𝑦 =

1,4

240 = 0,0058

As = x b x d

= 0,00583 x 1000 x 85

= 495,55 mm2

Dipakai tulangan Ø10 – 150 ( 523,33 mm2

)

Tabel 4.23. Perhitungan Tulangan Tumpuan Arah Y

Pelat dy Mty Mu/bd^2 min digunakanAs

(mm2)

Dipakai

Ø

(mm)

Jarak

(mm)

As

(mm2)

S1 85 -2.80 387.87 0.0058 0.0017 0.0058 495.55 10 150 523.33

S2 85 -4.11 569.07 0.0058 0.0024 0.0058 495.55 10 150 523.33

S3 85 -4.19 579.61 0.0058 0.0024 0.0058 495.55 10 150 523.33

S4 85 -2.86 395.19 0.0058 0.0017 0.0058 495.55 10 150 523.33

S5 65 -1.10 260.92 0.0058 0.0011 0.0058 378.95 10 200 392.50

S6 65 -1.72 407.69 0.0058 0.0017 0.0058 378.95 10 200 392.50

e. Rekapitulasi Tulangan Pelat

Tabel 4.24. Rekapitulasi Tulangan Pelat

Pelat Tebal Pelat (Cm)

Lx Ly Lapangan Arah

X Lapangan Arah

Y Tumpuan Arah

X Tumpuan Arah

Y

(Cm) (Cm) Tul. Jarak (mm)

Tul. Jarak (mm)

Tul. Jarak (mm)

Tul. Jarak (mm)

S1 12 250 500 10 125 10 150 10 125 10 150

S2 12 300 500 10 125 10 150 10 125 10 150

S3 12 300 400 10 125 10 150 10 125 10 150

S4 12 250 400 10 125 10 150 10 125 10 150

S5 10 200 400 10 150 10 200 10 150 10 200

S6 10 250 500 10 150 10 200 10 150 10 200

Page 117: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

117

4.2.4. Perhitungan Balok

1. Data Balok

Mutu Beton (Fc) = 30 Mpa

Mutu Baja (Fy) = 240 Mpa

Selimut beton (p) = 40 cm

1 = 0.85

min = 1,4

𝐹𝑦 =

1,4

240 = 0,00583

b = 0,85 𝐹𝑐 .𝛽1

𝑓𝑦

600

600+𝑓𝑦

= 0,85 30 x 0.85

240

600

600+240

= 0,0645

max = 0,75 x b

= 0,75 x 0,0645

= 0,0484

Tul. Utama (p) = D16 mm

Tul. sengkang (s) = 10 mm

d = h – p – Øs - 1 2 Øp

= 600 – 40 – 10 – ½ x 16

= 542 mm

d' = p + Øs + 1 2 Øp

= 40 + 10 + ½ x 16

= 58 mm

Page 118: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

118

Tabel 4.25. Perhitungan Tinggi Efektif Balok

Tipe Balok

b h p (s) p d d' d'/d

mm mm mm mm mm mm mm

B1 300 600 16 10 40 542 58 0.11

B2 300 500 16 10 40 442 58 0.13

B3 250 400 16 10 40 342 58 0.17

B4 200 300 16 10 40 242 58 0.24

B5 200 350 16 10 40 292 58 0.20

B6 200 300 16 10 40 242 58 0.24

Tabel 4.26. Analisa Gaya Struktur Balok

Tipe Balok b h Vu Tu Mut Mul

mm mm KN KNm KNm KNm

B1 300 600 59.57 1.63 78.16 37.21

B2 300 500 78.26 2.67 83.99 71.26

B3 250 400 31.84 2.89 28.55 10.05

B4 200 300 21.09 0.16 14.58 3.76

B5 200 350 3.62 0.22 3.29 1.93

B6 150 300 3.55 0.08 4.54 1.34

2. Perhitungan Tulangan Tumpuan

= 0,80

Mt = 78,16 KNm

Rn = 𝑀𝑡

∅ 𝑥 𝑏 𝑥 𝑑2

= 78,16

0,80 𝑥 0,3 𝑥 0,5422

= 1108,58 KN/m2

= 0,85 𝐹𝑐

𝑓𝑦 1 − 1 −

2𝑅𝑛

0,85 𝑓𝑐

= 0,85 30

240 1 − 1 −

2 x 1108 ,58 x 10−3

0,85 30

= 0,00472

Karena < min, maka digunakan min

Page 119: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

119

Tabel 4.27. Rasio Tulangan Tumpuan Balok

Tipe Balok

b d Mut Rn min

mm mm KNm KN/m2 perlu

B1 300 542 78.16 1,108.58 0.00472 0.00583 0.00583

B2 300 442 83.99 1,791.41 0.00775 0.00583 0.00775

B3 250 342 28.55 1,220.45 0.00521 0.00583 0.00583

B4 200 242 14.58 1,556.34 0.00670 0.00583 0.00670

B5 200 292 3.29 240.96 0.00101 0.00583 0.00583

B6 200 242 4.54 483.99 0.00204 0.00583 0.00583

Setelah diketahui rasio tulangan yang dibutuhkan, kemudian

dihitung luas tulangan perlu.

As = x b x d

= 0,00583 x 300 x 542

= 948,50 mm2

As’ = 0,5x As

= 0,5 x 948,50

= 474,25 mm2

Digunakan tulangan D16, maka dibutuhkan tulangan sebanyak

ntarik = 𝐴𝑠

0,25 𝜋 𝑑2

= 948,50

0,25 𝜋 162

= 4,72 5 buah

ntekan = 𝐴𝑠

0,25 𝜋 𝑑2

= 474,25

0,25 𝜋 162

= 2,36 3 buah

Untuk tulangan tarik digunakan 5D16 (As = 1004,8 mm2)

Untuk tulangan tekan digunakan 3D16 (As’ = 602,88 mm2)

Page 120: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

120

Tabel 4.28. Tulangan Tumpuan Balok

Tipe

Balok

b d As Perlu (mm2) Tulangan Terpasang

mm mm perlu tarik tekan tarik tekan

B1 300 542 0.00583 948.50 474.25 4.72 ~ 5D16 (1004.8

mm2)

2.36 ~ 3D16 (602.88

mm2)

B2 300 442 0.00775 1,027.20 513.60 5.11 ~ 6D16 (1205.76

mm2)

2.56 ~ 3D16 (602.88

mm2)

B3 250 342 0.00583 498.75 249.38 2.48 ~ 3D16 (602.88

mm2)

1.24 ~ 2D16 (401.92

mm2)

B4 200 242 0.00670 324.07 162.04 1.61 ~ 2D16 (401.92

mm2)

0.81 ~ 2D16 (401.92

mm2)

B5 200 292 0.00583 340.67 170.33 1.70 ~ 2D16 (401.92

mm2)

0.85 ~ 2D16 (401.92

mm2)

B6 200 242 0.00583 282.33 141.17 1.40 ~ 2D16 (401.92

mm2)

0.70 ~ 2D16 (401.92

mm2)

3. Perhitungan Tulangan Lapangan

= 0,80

Ml = 37,21 KNm

Rn = 𝑀𝑙

∅ 𝑥 𝑏 𝑥 𝑑2

= 37,21

0,80 𝑥 0,3 𝑥 0,5422

= 527,79 KN/m2

= 0,85 𝐹𝑐

𝑓𝑦 1 − 1 −

2𝑅𝑛

0,85 𝑓𝑐

= 0,85 30

240 1 − 1 −

2 x 527,79 x 10−3

0,85 30

= 0,00222

Karena < min, maka digunakan min

Tabel 4.29. Rasio Tulangan Lapangan Balok

Tipe Balok

b d Mul Rn min

mm mm KNm KN/m2 perlu

B1 300 542 37.21 527.79 0.00222 0.0058 0.00583

B2 300 442 71.26 1,519.80 0.00653 0.0058 0.00653

B3 250 342 10.05 429.67 0.00181 0.0058 0.00583

B4 200 242 3.76 401.49 0.00169 0.0058 0.00583

B5 200 292 1.93 141.54 0.00059 0.0058 0.00583

B6 200 242 1.34 143.22 0.00060 0.0058 0.00583

Page 121: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

121

Setelah diketahui rasio tulangan yang dibutuhkan, kemudian

dihitung luas tulangan perlu.

As = x b x d

= 0,00583 x 300 x 542

= 948,50 mm2

As’ = 0,5x As

= 0,5 x 948,50

= 474,25 mm2

Digunakan tulangan D19, maka dibutuhkan tulangan sebanyak

ntarik = 𝐴𝑠

0,25 𝜋 𝑑2

= 948,50

0,25 𝜋 162

= 4,72 5buah

ntekan = 𝐴𝑠

0,25 𝜋 𝑑2

= 474,25

0,25 𝜋 162

= 2,36 2 buah

Untuk tulangan tarik digunakan 5D16 (As = 1004,80 mm2)

Untuk tulangan tekan digunakan 3D16 (As’ = 602,88 mm2)

Tabel 4.30. Tulangan Lapangan Balok

Tipe Balok

b d As Perlu (mm2) Tulangan Terpasang

mm mm perlu tarik tekan tarik tekan

B1 300 542 0.00583 948.50 474.25 4.72 5D16 (1004.8 mm2)

2.36 ~ 3D16 (602.88 mm2)

B2 300 442 0.00653 866.33 433.16 4.31 ~ 5D16 (1004.8 mm2)

2.16 ~ 3D16 (602.88 mm2)

B3 250 342 0.00583 498.75 249.38 2.48 ~ 3D16 (602.88 mm2)

1.24 ~ 2D16 (401.92 mm2)

B4 200 242 0.00583 282.33 141.17 1.40 ~ 2D16 (401.92 mm2)

0.70 ~ 2D16 (401.92 mm2)

B5 200 292 0.00583 340.67 170.33 1.70 ~ 2D16 (401.92 mm2)

0.85 ~ 2D16 (401.92 mm2)

B6 200 242 0.00583 282.33 141.17 1.40 ~ 2D16 (401.92 mm2)

0.70 ~ 2D16 (401.92 mm2)

Page 122: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

122

4. Perhitungan Tulangan Sengkang

Vu = 59,57 KN

Kuat geser beton tanpa memperhitungkan momen

Vc = 1 6 𝑓𝑐 𝑏 .𝑑

= 1 6 30 300 .542

= 148430 N

= 148,43 KN

Vc = 0,75 x Vc

= 0,75 x 148,33

= 111,32 KN

0,5Vc = 0,5 x 111,32

= 55,66

Karena 0,5Vc < Vu < Vc, maka digunakan tulangan geser minimum.

Tabel 4.31. Perhitungan Kuat Geser Beton

Tipe Balok

b d Vu Vc Vc 0.5 x Vc (KN)

Keterangan mm mm KN KN KN

B1 300 542 59.57 148.43 111.32 55.66 Tul. Geser Minimum

B2 300 442 78.26 121.05 90.79 45.39 Tul. Geser Minimum

B3 250 342 31.84 78.05 58.54 29.27 Tul. Geser Minimum

B4 200 242 21.09 44.18 33.14 16.57 Tul. Geser Minimum

B5 200 292 3.62 53.31 39.98 19.99 Tidak Perlu Tul.

Geser

B6 200 242 3.55 44.18 33.14 16.57 Tidak Perlu Tul.

Geser

Av,u = 75 𝐹𝑐 .𝑏 .𝑆

1200.𝑓𝑦

= 75 30 x 300 x 1000

1200 x 240

= 427,91 mm2

Av,u = 𝑏 .𝑆

3.𝑓𝑦

= 300 x 1000

3 x 240

= 416,67 mm2

Dipilih begel dengan diameter 10 mm

Spasi Begel, s = 1

4 𝜋 .𝑑2 .𝑆

𝐴𝑣,𝑢

Page 123: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

123

= 1

4 𝜋 x 102 x 1000

427,91

= 183,45 mm

s ≤ d/2 = 542/2 = 271 mm

s ≤ 600 mm

maka digunakan tulangan sengkang 10 – 150 (Av = 523mm2)

Tabel 4.32. Tulangan Geser Balok

Tipe Balok

b d Av,u s s d/2 (mm)

tulangan Terpasang Av

terpasang (mm2) mm mm 1 2 mm mm

B1 300 542 427.91 416.67 10 183.45 271.00 10 - 150 523

B2 300 442 427.91 416.67 10 183.45 221.00 10 - 150 523

B3 250 342 356.59 347.22 10 220.14 171.00 10 - 150 523

B4 200 242 285.27 277.78 10 275.18 121.00 10 - 120 654

Untuk Balok B5 dipakai tul. begel 6 mm

d/2 = 292/2

=146 mm

Maka digunakan tulangan geser 6 – 120 (Av = 236 mm2)

Untuk Balok B6 dipakai 6 mm

d/2 = 242/2

= 121 mm

Maka digunakan tulangan geser 6 – 120 (Av = 236 mm2)

5. Perhitungan Tulangan Torsi

Tu = 1625563,43 N.mm

Tn = 𝑇𝑢

=

1625563 ,43

0,75 = 2167417,91 Nmm

Acp = 300 x 600 = 180000 mm2

Pcp = 2 (300+600) = 1800 mm

Fc

12 𝐴𝑐𝑝

2

𝑃𝑐𝑝 =

0,75 30

12

180000 2

1800 = 6161878,77 Nmm

Tu < Fc

12 𝐴𝑐𝑝

2

𝑃𝑐𝑝 maka tidak diperlukan tulangan torsi.

Page 124: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

124

Tabel 4.33. Cek Kebutuhan Tulangan Torsi

Tipe Balok

b h Tu Tn Acp Pcp Fc

12 𝐴𝑐𝑝

2

𝑃𝑐𝑝

Cek Tulangan

Torsi mm mm Nmm Nmm mm2 mm

B1 300 600 1,625,563.43 2,167,417.91 180000 1800 6,161,878.77 Tidak Perlu

Tul Torsi

B2 300 500 2,672,993.97 3,563,991.96 150000 1600 4,813,967.79 Tidak Perlu

Tul Torsi

B3 250 400 2,888,484.23 3,851,312.31 100000 1300 2,633,281.53 Perlu Tul

Torsi

B4 200 300 161,433.65 215,244.87 60000 1000 1,232,375.75 Tidak Perlu

Tul Torsi

Untuk balok B3 karena memerlukan tulangan torsi maka dihitung dengan

rumus :

A0h = (250 – 2 x 40) x (400 – 2 x 40)

= 54400 mm2

A0 = 0,85 A0h

= 0,85 x 54400

= 46240 mm2

Luas Begel Torsi

𝐴𝑣𝑡

𝑠 =

𝑇𝑛

2.𝐴0𝑓𝑦𝑣 .𝑐𝑜𝑡𝜃

= 3,851,312.31

2 𝑥 46240 x 240 x cot 45

= 0.174 mm2

Luas begel torsi permeter

Avt = = 𝑇𝑛 .𝑠

2.𝐴0𝑓𝑦𝑣 .𝑐𝑜𝑡𝜃

= 3,851,312.31 x 1000

2 𝑥 46240 x 240 x cot 45

= 174 mm2

Avs = 523 mm2

Kontrol luas begel geser dan torsi (Avs + Avt)

Luas total begel = Avs + Avt

= 523 + 174

= 697 mm2

75 𝑓𝑐

1200 𝑏 .𝑆

𝑓𝑦𝑣 =

75 30

1200 250 𝑥 1000

240

Page 125: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

125

= 356,59 mm2

𝑏 .𝑆

3 𝑥 𝑓𝑦𝑣 =

250 𝑥 1000

3 𝑥 240

= 347,22 mm

Jadi Avs + Avt > 75 𝑓𝑐

1200 𝑏 .𝑆

𝑓𝑦𝑣 dan Avs + Avt >

𝑏 .𝑆

3 𝑥 𝑓𝑦𝑣 (OK)

Jarak begel total

s = 𝑛 𝑥 0,25𝑥 𝜋 𝑑2 𝑥 𝑆

Avs + Avt

= 2 𝑥 0,25𝑥 𝜋 102 𝑥 1000

698

= 224,93 mm

s = Ph/8

= 2 𝑥 ((250−2.40)+(400−2.40))

8

= 122,5 mm

s ≤ 300 mm

Maka digunakan begel 10 – 120 (Av = 654 mm2)

Tulangan Lentur torsi

At = 𝐴𝑣𝑡

𝑠 𝑥 𝑃𝑕

𝑓𝑦𝑣

𝑓𝑦𝑙 𝐶𝑜𝑡2𝜃

=0,174 𝑥 980 240

240 𝐶𝑜𝑡2452

= 170,52 mm2

Tulangan lentur

Ast = 3D16 + 3D16

= 6 x 0,25 x 3,14 x 162

= 1205,76 mm2

Kontrol luas tulangan longitudinal lentur dan torsi (At+ Ast)

At + Ast = 170,52 + 1205,76

= 1376,28 mm2

𝑏

6𝑓𝑦𝑣 =

250

6 𝑥 240

= 0,173 mm

𝐴𝑣𝑡

𝑠 = 0,174 >

𝑏

6𝑓𝑦𝑣 (OK)

5 𝑥 𝑓𝑐 .𝐴𝑐𝑝

12 𝑥 𝑓𝑦𝑙−

𝐴𝑣𝑡

𝑠 𝑃𝑕

𝑓𝑦𝑙

𝑓𝑦𝑙 =

5 𝑥 30 .100000

12 𝑥 240− 0,174 980

240

240

Page 126: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

126

= 780,39 mm2

At + Ast > 5 𝑥 𝑓𝑐 .𝐴𝑐𝑝

12 𝑥 𝑓𝑦𝑙−

𝐴𝑣𝑡

𝑠 𝑃𝑕

𝑓𝑦𝑙

𝑓𝑦𝑙 (OK)

Jumlah tulangan longitudinal torsi

n = 𝐴𝑡

0,25 𝑥 𝜋 𝑥 𝐷2

= 170,52

0,25 𝑥 𝜋 𝑥 162

= 0,85 2

Maka dipakai tulangan torsi 2D16.

4.2.5. Perhitungan Kolom

1. Kolom 50 x 50 Lantai 1

Pu = 1428,68 KN (Frame 191)

Vu = 2,50 KN (Frame 191)

Mu = 27,29 KNm (Frame 184)

Agr = 500 x 500

= 250000 mm2

Tulangan pokok (p) = D19

Tulangan sengkang (p)= 10

Selimut beton (p) = 40 mm

Mutu Beton (fc) = 30 Mpa

Mutu baja (fy) = 240 Mpa

min = 1,4

𝐹𝑦 =

1,4

240 = 0,00583

b = 0,85 𝐹𝑐 .𝛽1

𝑓𝑦

600

600+𝑓𝑦

= 0,85 30 x 0.85

240

600

600+240

= 0,0645

max = 0,75 x b

= 0,75 x 0,0645

= 0,0484

d = h – p - s – ½ p

= 500 – 40 – 10 – ½ x 19

Page 127: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

127

= 440,5 mm

d' = p + s + ½ p

= 40 + 10 + ½ x 19

= 59,5 mm

Perhitungan pengaruh tekuk

Ig kolom = 1/12 b h3

= 1/12 x 50 x 503

= 520833,33 cm4

Ig balok = 1/12 b h3

= 1/12 x 30 x 503

= 312500 cm4

Ec = 4700 𝑓𝑐

= 4700 30

= 25742,96 Mpa

= 257429,6 Kg/cm2

Dianggap d = 0,5

EI kolom =

Ec x Ig

2.5

1+ d

=

257429 ,6 x 520833 ,33

2.5

1+ 0,5

= 3,575 x 1010

Kgcm

EI balok =

Ec x Ig

5

1+ d

=

257429 ,6 x 312500

5

1+ 0,5

= 1,073 x 1010

Kgcm

A = 𝑬𝑰 𝒌𝒐𝒍𝒐𝒎

𝒍𝒖

𝑬𝑰 𝒃𝒂𝒍𝒐𝒌

𝒍𝒄

=

3,575 x 1010

400

1,073 x 1010

500

= 4,16

B = 0 (terjepit penuh)

Page 128: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

128

Gambar 4.21. Nomogram Tekuk Kolom tanpa Pengaku pada

Kolom K1a

Berdasarkan nomogram di atas, didapatkan nilai k = 1,45

r = 0,5 x P sisi Kolom

= 0,5 x 50

= 25 cm

= 𝑘 .𝑙𝑢

𝑟 < 22

= 1,45 𝑥 400

25 < 22

= 23,2 > 22 (Kolom tidak langsing)

Menghitung kapasitas kolom

EI kolom = 3,575 x 1010

Kgcm

Pc = 𝜋2 .𝐸𝐼

𝑘 .𝑙𝑢 2 = 3.142 .3,575 𝑥 1010

1,45 x 400 2 = 1047802 Kg = 1047,80 ton

Menghitung momen yang diperbesar akibat goyangan

𝑀𝑐 = 𝛿𝑠.𝑀𝑠 =𝑀𝑠

1− 𝑃𝑢

0,75.𝑃𝑐

Page 129: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

129

𝑀𝑐 =0,27

1−14,29

0,75.1047 ,80

= 0,275 ton.m

Persyaratan eksentrisitas minimal dari kolom

eamin = 15 + 0,03h

= 15 + 0,03 x 500

= 30 mm

Eksentrisitas beban

ea = 𝑀

𝑃

= 27,29

1428.68

= 0,019 m = 19 mm

Koefisien sumbu vertikal

𝑃

∅ 𝑥 𝐴 𝑥 0,85 𝑓𝑐 =

1428680

0,65 x 250000 x 0,85 x 30

= 0,35

Koefisien untuk sumbu horizontal

𝑃

∅ 𝑥 𝐴 𝑥 0,85 𝑓𝑐 +

𝑒𝑡

𝑕 = 0,35 x

19

500

= 0,013

Tulangan simetris 4 sisi

Dipilih 𝑑′

𝑕 =

59,5

500 = 0,15, untuk fc 30 digunakan = 1,2

Didapa r = 0

Sehingga rasio tulangan pada penampang :

= r x

= 0 x 1,2 = 0 < min (maka digunakan min)

Luas tulangan yang diperlukan

Ast = min x Ag

= 0,01 x 250000

= 2500 mm2

Digunakan tulangan D19, maka diperlukan tulangan sebanyak :

n = 𝐴𝑠𝑡

0,25𝜋𝑑2

= 2500

0,25 𝑥 3,14 𝑥 192

= 8,82 12

Page 130: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

130

Maka tulangan utama dipasang 12D19 (3400 mm2)

Tulangan sengkang

Pu = 1428,68 KN (Frame 191)

Vu = 2,50 KN (Frame 191)

Vn = 𝑉𝑢

= 2,5

0,8

= 3,125 KN

= 312,5 Kg

Tahanan Geser oleh Beton

𝑉𝑐 = 1 +𝑃𝑢

𝐴𝑔 .14 .

𝑓 ′𝑐

6. 𝑏. 𝑑

𝑉𝑐 = 1 +1428680

5002 .14 .

30

6 .500.440,5 = 283131,29 N = 283,13 KN

Faktor reduksi untuk geser dan puntir ϕ = 0,75

ϕ 𝑉𝑐 = 0,75 x 283,13 = 212,34 KN

𝑉𝑢 < ϕ 𝑉𝑐 → aman

Dipasang Tulangan Sengkang Minimal ø 10 -150 mm

2. Kolom 30 x 30 Lantai 1

Pu = 89,94 KN (Frame 952)

Vu = 0,95 KN (Frame 163)

Mu = 2,33 KNm (Frame 163)

Agr = 300 x 300

= 90000 mm2

Tulangan pokok (p) = D19

Tulangan sengkang (p)= 10

Selimut beton (p) = 40 mm

Mutu Beton (fc) = 30 Mpa

Mutu baja (fy) = 240 Mpa

min = 1,4

𝐹𝑦 =

1,4

240 = 0,00583

b = 0,85 𝐹𝑐 .𝛽1

𝑓𝑦

600

600+𝑓𝑦

Page 131: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

131

= 0,85 30 x 0.85

240

600

600+240

= 0,0645

max = 0,75 x b

= 0,75 x 0,0645

= 0,0484

d = h – p - s – ½ p

= 300 – 40 – 10 – ½ x 19

= 240,5 mm

d' = p + s + ½ p

= 40 + 10 + ½ x 19

= 59,5 mm

Perhitungan pengaruh tekuk

Ig kolom = 1/12 b h3

= 1/12 x 30 x 303

= 67500 cm4

Ig balok = 1/12 b h3

= 1/12 x 25 x 403

= 133333,33 cm4

Ec = 4700 𝑓𝑐

= 4700 30

= 25742,96 Mpa

= 257429,6 Kg/cm2

Dianggap d = 0,5

EI kolom =

Ec x Ig

2.5

1+ d

=

257429 ,6 x 67500

2.5

1+ 0,5

= 4,63 x 108 Kgcm

EI balok =

Ec x Ig

5

1+ d

=

257429 ,6 x 133333 ,33

5

1+ 0,5

Page 132: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

132

= 4,58 x 108 Kgcm

A = 𝑬𝑰 𝒌𝒐𝒍𝒐𝒎

𝒍𝒖

𝑬𝑰 𝒃𝒂𝒍𝒐𝒌

𝒍𝒄

=

4,63 x 108

400

14,58 x 108

400

= 1,01

B = 0 (terjepit penuh)

Gambar 4.22. Nomogram Tekuk Kolom tanpa Pengaku pada Kolom K2

Berdasarkan nomogram Gideon 4, didapatkan nilai k = 1,15

r = 0,5 h

= 0,5 x 30

= 15 cm

= 𝑘 .𝑙𝑢

𝑟 < 22

= 1,15 𝑥 400

15 < 22

= 30,67 > 22 (Kolom tidak langsing)

Page 133: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

133

Menghitung kapasitas kolom

EI kolom = 4,63 x 108 Kgcm

Pc = 𝜋2 .𝐸𝐼

𝑘 .𝑙𝑢 2 =

3.142 .4,63 𝑥 108

1,15 x 400 2 = 21573,70 Kg = 21,57 ton

Menghitung momen yang diperbesar akibat goyangan

𝑀𝑐 = 𝛿𝑠.𝑀𝑠 =𝑀𝑠

1− 𝑃𝑢

0,75.𝑃𝑐

𝑀𝑐 =0,023

1−0,90

0,75.21,57

= 0,024 ton.m

Persyaratan eksentrisitas minimal dari kolom

emin = 15 + 0,03h

= 15 + 0,03 x 300

= 24 mm

Eksentrisitas beban

et = 𝑀

𝑃

= 2,33

89,94

= 0,025 m = 25 mm

Koefisien sumbu vertikal

𝑃

∅ 𝑥 𝐴 𝑥 0,85 𝑓𝑐 =

89940

0,65 x 90000 x 0,85 x 30

= 0,06

Koefisien untuk sumbu horizontal

𝑃

∅ 𝑥 𝐴 𝑥 0,85 𝑓𝑐 +

𝑒𝑡

𝑕 = 0,06 x

25

400

= 0,0375

Tulangan simetris 4 sisi

Dipilih 𝑑′

𝑕 =

59,5

400 = 0,15, untuk fc 30 digunakan = 1,2

Didapa r = 0

Sehingga rasio tulangan pada penampang :

= r x

= 0 x 1,2 = 0 < min (maka digunakan min)

Luas tulangan yang diperlukan

Ast = min x Ag

Page 134: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

134

= 0,01 x 90000

= 900 mm2

Digunakan tulangan D19, maka diperlukan tulangan sebanyak :

n = 𝐴𝑠𝑡

0,25𝜋𝑑2

= 900

0,25 𝑥 3,14 𝑥 192

= 3,1 4

Maka tulangan utama dipasang 4D19 (1133 mm2)

Tulangan sengkang

Pu = 89,94 KN (Frame 952)

Vu = 0,95 KN (Frame 163)

Vn = 𝑉𝑢

= 0,95

0,8

= 1,1875 KN

= 118,75 Kg

Tahanan Geser oleh Beton

𝑉𝑐 = 1 +𝑃𝑢

𝐴𝑔 .14 .

𝑓 ′𝑐

6. 𝑏. 𝑑

𝑉𝑐 = 1 +89940

3002 .14 .

30

6 .300.240,5 = 70565,046 N = 70,57 KN

Faktor reduksi untuk geser dan puntir ϕ = 0,75

ϕ 𝑉𝑐 = 0,75 x 70,57 = 52,93 KN

𝑉𝑢 < ϕ 𝑉𝑐 → aman

Dipasang Tulangan Sengkang Minimal ø 10 -150 mm

3. Kolom 50 x 50 Lantai 2 - 5

Pu = 1098,83 KN (Frame 920)

Vu = 21,61 KN (Frame 927)

Mu = 37,75 KNm (Frame 903)

Agr = 500 x 500

= 250000 mm2

Tulangan pokok (p) = D19

Page 135: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

135

Tulangan sengkang (p)= 10

Selimut beton (p) = 40 mm

Mutu Beton (fc) = 30 Mpa

Mutu baja (fy) = 240 Mpa

min = 1,4

𝐹𝑦 =

1,4

240 = 0,00583

b = 0,85 𝐹𝑐 .𝛽1

𝑓𝑦

600

600+𝑓𝑦

= 0,85 30 x 0.85

240

600

600+240

= 0,0645

max = 0,75 x b

= 0,75 x 0,0645

= 0,0484

d = h – p - s – ½ p

= 500 – 40 – 10 – ½ x 19

= 440,5 mm

d' = p + s + ½ p

= 40 + 10 + ½ x 19

= 59,5 mm

Perhitungan pengaruh tekuk

Ig kolom = 1/12 b h3

= 1/12 x 50 x 503

= 520833,33 cm4

Ig balok = 1/12 b h3

= 1/12 x 30 x 503

= 312500 cm4

Ec = 4700 𝑓𝑐

= 4700 30

= 25742,96 Mpa

= 257429,6 Kg/cm2

Dianggap d = 0,5

Page 136: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

136

EI kolom =

Ec x Ig

2.5

1+ d

=

257429 ,6 x 520833 ,33

2.5

1+ 0,5

= 3,575 x 1010

Kgcm

EI balok =

Ec x Ig

5

1+ d

=

257429 ,6 x 312500

5

1+ 0,5

= 1,073 x 1010

Kgcm

A = 𝑬𝑰 𝒌𝒐𝒍𝒐𝒎

𝒍𝒖

𝑬𝑰 𝒃𝒂𝒍𝒐𝒌

𝒍𝒄

=

3,575 x 1010

350

1,073 x 1010

500

= 4,75

B = 𝑬𝑰 𝒌𝒐𝒍𝒐𝒎

𝒍𝒖

𝑬𝑰 𝒃𝒂𝒍𝒐𝒌

𝒍𝒄

=

3,575 x 1010

350

1,073 x 1010

500

= 4,75

Page 137: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

137

Gambar 4.23. Nomogram Tekuk Kolom tanpa Pengaku pada Kolom K1b

Berdasarkan nomogram Gideon 4, didapatkan nilai k = 2,15

r = 0,5h

= 0,5 x 50

= 25 cm

= 𝑘 .𝑙𝑢

𝑟 < 22

= 2,15𝑥350

25 < 22

= 30,1 > 22 (Kolom tidak langsing)

Menghitung kapasitas kolom

EI kolom = 3,575 x 1010

Kgcm

Pc = 𝜋2 .𝐸𝐼

𝑘 .𝑙𝑢 2 = 3.142 .3,575 𝑥 1010

2,15 x350 2 = 622475,60 Kg = 622,48 ton

Menghitung momen yang diperbesar akibat goyangan

𝑀𝑐 = 𝛿𝑠.𝑀𝑠 =𝑀𝑠

1− 𝑃𝑢

0,75.𝑃𝑐

𝑀𝑐 =0,38

1−10,99

0,75.622 ,48

Page 138: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

138

= 0,389 ton.m

Persyaratan eksentrisitas minimal dari kolom

emin = 15 + 0,03h

= 15 + 0,03 x 500

= 30 mm

Eksentrisitas beban

et = 𝑀

𝑃

= 37,75

1098.83

= 0,034 m = 34 mm

Koefisien sumbu vertikal

𝑃

∅ 𝑥 𝐴 𝑥 0,85 𝑓𝑐 =

1098830

0,65 x 250000 x 0,85 x 30

= 0,27

Koefisien untuk sumbu horizontal

𝑃

∅ 𝑥 𝐴 𝑥 0,85 𝑓𝑐 +

𝑒𝑡

𝑕 = 0,27 x

34

350

= 0,26

Tulangan simetris 4 sisi

Dipilih 𝑑′

𝑕 =

59,5

500 = 0,15, untuk fc 30 digunakan = 1,2

Didapa r = 0

Sehingga rasio tulangan pada penampang :

= r x

= 0 x 1,2 = 0 < min (maka digunakan min)

Luas tulangan yang diperlukan

Ast = min x Ag

= 0,01 x 250000

= 2500 mm2

Digunakan tulangan D19, maka diperlukan tulangan sebanyak :

n = 𝐴𝑠𝑡

0,25𝜋𝑑2

= 2500

0,25 𝑥 3,14 𝑥 192

= 8,82 12

Page 139: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

139

Maka tulangan utama dipasang 12D19 (3400 mm2)

Tulangan sengkang

Pu = 1098,83 KN (Frame 920)

Vu = 21,61 KN (Frame 927)

Vn = 𝑉𝑢

= 21,61

0,8

= 27,01 KN

= 270,1 Kg

Tahanan Geser oleh Beton

𝑉𝑐 = 1 +𝑃𝑢

𝐴𝑔 .14 .

𝑓 ′𝑐

6. 𝑏. 𝑑

𝑉𝑐 = 1 +1098830

5002 .14 .

30

6 .500.440,5 = 264182,84 N = 264,18 KN

Faktor reduksi untuk geser dan puntir ϕ = 0,75

ϕ 𝑉𝑐 = 0,75 x 264,18 = 198,14 KN

𝑉𝑢 < ϕ 𝑉𝑐 → aman

Dipasang Tulangan Sengkang Minimal ø 10 -150 mm

4.3. Perhitungan Tangga

4.3.1. Tangga Lantai 1

1. Data Teknis

Tinggi antar lantai = 400 Cm

Lebar Tangga = 400 Cm

Lebar Bordes = 215 Cm

Lebar tangga 1 = 200 Cm

Lebar tangga 2 = 200 Cm

O = Optrede (langkah tegak) = 20 cm

A = Antrede (Langkah datar) = 28 cm

Pengecekan Kenyamanan :

2.19 + 28 = 68 OK

Sudut kemiringan tangga ( = 25 – 45 )

tan = O

A =

20

28 = 0,71

Page 140: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

140

= 35 (25 < < 45 OK)

Gambar 4.24. Tangga Lantai 1

2. Perhitungan Pembebanan Tangga

a. Pembebanan Pelat Bordes

Beban mati :

Berat Keramik (t = 1 cm) = 0,01 x 2400 = 24 Kg/m2

Berat spesi (t = 2 cm) = 0,02 x 2100 = 42 Kg/m2

+

Total = 66 Kg/m2

Beban Hidup = 300 Kg/m2

b. Pembebanan Pelat Tangga

Beban mati :

Berat Keramik (t = 1 cm) = 0,01 x 2400 = 24 Kg/m2

Berat spesi (t = 2 cm) = 0,02 x 2100 = 42 Kg/m2

+

Total = 66 Kg/m2

Beban Hidup = 300 Kg/m2

3. Analisa Perhitungan Struktur Tangga

Dalam perhitungan analis struktur tangga, dilakukan dengan

menggunakan bantuan program SAP 2000. Beban yang dimasukan adalah

beban merata (Unifom Shell) dalam program SAP 2000. Kombinasi

pembebanan yang digunakan adalah sebagai berikut :

1,2 DL + 1,6 LL

Dimana :

Page 141: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

141

DL = Dead Load (beban mati)

LL = Live Load (beban hidup)

Tabel 4.34. Hasil Output Tangga Lantai 1

Jenis Pelat

Mmen Arah Sumbu X (M22)

Area

Text

M Tumpuan

(KN.m) AreaTex

M Lapangan

(KN.m)

Pelat Tangga 343 8,18 324 4,00

Pelat Bordes 254 9,79 251 2,71

Jenis Pelat

Mmen Arah Sumbu Y (M11)

Area

Text

M Tumpuan

(KN.m) AreaTex

M Lapangan

(KN.m)

Pelat Tangga 295 2,63 295 0,60

Pelat Bordes 290 7,72 269 2,28

4. Perhitungan Tulangan Pelat Tangga

Tebal pelat = 120 mm

Tebal penutup beton = 20 mm

a. Perhitungan tulangan tumpuan arah x

Mtx = 4,00 KNm

dx = h – p – ½

= 120 – 20 – ½ x 10

= 95 mm = 0,095 m

𝑀𝑢

𝑏 .𝑑2 = 4,00

1.0,0952

= 906,37 KN/m2

Dari tabel 5.1.i Buku Gideon seri 4 di dapat :

𝑀𝑢

𝑏 .𝑑2 = 900 = 0,0038

𝑀𝑢

𝑏 .𝑑2 = 1000 = 0,0043

Interpolasi = 0,0038 + 6,37

100 x ( 0,0043 – 0,0038)

= 0,0038

Karena < min, maka digunakan min

As = 0,00583 x 1000 x 95

= 553,85 mm2

Maka digunakan tulangan 10 – 125 (As = 628 mm2)

Page 142: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

142

b. Perhitungan tulangan lapangan arah x

Mlx = 4,00 KNm

dx = h – p – ½

= 120 – 20 – ½ x 10

= 95 mm = 0,095 m

𝑀𝑢

𝑏 .𝑑2 =

4,00

1.0,0952

= 443,21 KN/m2

Dari tabel 5.1.i Buku Gideon seri 4 di dapat :

𝑀𝑢

𝑏 .𝑑2 = 900 = 0,0017

𝑀𝑢

𝑏 .𝑑2 = 1000 = 0,0021

Interpolasi = 0,0017 + 43,21

100 x ( 0,0021 – 0,0017)

= 0,0019

Karena < min, maka digunakan min

As = 0,00583 x 1000 x 95

= 553,85 mm2

Maka digunakan tulangan 10 – 125 (As = 628 mm2)

c. Perhitungan tulangan tumpuan arah y

Mty = 2,63 KNm

dx = h – p – ½ -

= 120 – 20 – ½ x 10 – 10

= 85 mm = 0,085 m

𝑀𝑢

𝑏 .𝑑2 =

2,63

1.0,0852

= 364,01 KN/m2

Dari tabel 5.1.i Buku Gideon seri 4 di dapat :

𝑀𝑢

𝑏 .𝑑2 = 300 = 0,0013

𝑀𝑢

𝑏 .𝑑2 = 400 = 0,0017

Interpolasi = 0,0013 + 64,01

100 x ( 0,0017 – 0,0013)

= 0,0016

Karena < min, maka digunakan min

Page 143: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

143

As = 0,00583 x 1000 x 85

= 495,55 mm2

Maka digunakan tulangan 10 – 150 (As = 524 mm2)

d. Perhitungan tulangan lapangan arah y

Mly = 0,60KNm

dx = h – p – ½ -

= 120 – 20 – ½ x 10 – 10

= 85 mm = 0,085 m

𝑀𝑢

𝑏 .𝑑2 = 0,60

1.0,0852

= 83,04 KN/m2

Dari tabel 5.1.i Buku Gideon seri 4 di dapat :

𝑀𝑢

𝑏 .𝑑2 = 300 = 0,0013

Karena < min, maka digunakan min

As = 0,00583 x 1000 x 85

= 495,55 mm2

Maka digunakan tulangan 10 – 150 (As = 524 mm2)

5. Perhitungan Tulangan Bordes

Tebal pelat = 150 mm

Tebal penutup beton = 20 mm

a. Perhitungan tulangan tumpuan arah x

Mtx = 9,79 KNm

dx = h – p – ½

= 150 – 20 – ½ x 10

= 125 mm = 0,125 m

𝑀𝑢

𝑏 .𝑑2 =

9,79

1.0,1252

= 626,56 KN/m2

Dari tabel 5.1.i Buku Gideon seri 4 di dapat :

𝑀𝑢

𝑏 .𝑑2 = 600 = 0,0025

𝑀𝑢

𝑏 .𝑑2 = 700 = 0,0030

Page 144: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

144

Interpolasi = 0,0025 + 26,56

100 x ( 0,0030 – 0,0025)

= 0,0026

Karena < min, maka digunakan min

As = 0,00583 x 1000 x 125

= 728,75 mm2

Maka digunakan tulangan 10 – 100 (As = 785 mm2)

b. Perhitungan tulangan lapangan arah x

Mlx = 2,71 KNm

dx = h – p – ½

= 150 – 20 – ½ x 10

= 125 mm = 0,125 m

𝑀𝑢

𝑏 .𝑑2 = 2,71

1.0,1252

= 21,68 KN/m2

Dari tabel 5.1.i Buku Gideon seri 4 di dapat :

𝑀𝑢

𝑏 .𝑑2 = 100 = 0,0004

Karena < min, maka digunakan min

As = 0,00583 x 1000 x 125

= 728,75 mm2

Maka digunakan tulangan 10 – 100 (As = 785 mm2)

c. Perhitungan tulangan tumpuan arah y

Mty = 7,72 KNm

dx = h – p – ½ -

= 150 – 20 – ½ x 10 – 10

= 115 mm = 0,115 m

𝑀𝑢

𝑏 .𝑑2 = 7,72

1.0,1152

= 583,74 KN/m2

Dari tabel 5.1.i Buku Gideon seri 4 di dapat :

𝑀𝑢

𝑏 .𝑑2 = 500 = 0,0021

𝑀𝑢

𝑏 .𝑑2 = 600 = 0,0025

Page 145: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

145

Interpolasi = 0,0021 + 83,74

100 x ( 0,0025 – 0,0021)

= 0,0013

Karena < min, maka digunakan min

As = 0,00583 x 1000 x 115

= 670,46 mm2

Maka digunakan tulangan 10 – 100 (As = 785 mm2)

d. Perhitungan tulangan lapangan arah y

Mly = 2,28 KNm

dx = h – p – ½ -

= 150 – 20 – ½ x 10 – 10

= 115 mm = 0,115 m

𝑀𝑢

𝑏 .𝑑2 = 2,28

1.0,1152

= 172,40 KN/m2

Dari tabel 5.1.i Buku Gideon seri 4 di dapat :

𝑀𝑢

𝑏 .𝑑2 = 100 = 0,0004

𝑀𝑢

𝑏 .𝑑2 = 200 = 0,0008

Interpolasi = 0,0004 + 72,40

100 x ( 0,0008 – 0,0004)

= 0,0007

Karena < min, maka digunakan min

As = 0,00583 x 1000 x 115

= 670,45 mm2

Maka digunakan tulangan 10 – 100 (As = 785 mm2)

6. Perhitungan Balok Bordes

Mt = 8,96 KNm

Ml = 3,68 KNm

Vu = 5,54 KN

Tu = 1,16 KNm

d = h – p - s – ½ p

= 300 – 40 – 10 – ½ x 16

Page 146: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

146

= 242 mm

a. Perhitungan Tulangan Tumpuan

Mu = 2,28 KNm

𝑀𝑢

𝑏 .𝑑2 = 8,96

0,2.0,2422

= 764,98 KN/m2

Dari tabel 5.1.i Buku Gideon seri 4 di dapat :

𝑀𝑢

𝑏 .𝑑2 = 700 = 0,0030

𝑀𝑢

𝑏 .𝑑2 = 800 = 0,0034

Interpolasi = 0,0030 + 64,98

100 x ( 0,0034 – 0,0030)

= 0,0033

Karena < min, maka digunakan min

As = 0,00583 x 200 x 242

= 282,172 mm2

Maka digunakan tulangan 2D16 (As = 402 mm2)

b. Perhitungan Tulangan Lapangan

Mu = 3,68 KNm

𝑀𝑢

𝑏 .𝑑2 = 3,68

0,2.0,2422

= 314,19 KN/m2

Dari tabel 5.1.i Buku Gideon seri 4 di dapat :

𝑀𝑢

𝑏 .𝑑2 = 300 = 0,0013

𝑀𝑢

𝑏 .𝑑2 = 400 = 0,0017

Interpolasi = 0,0013 + 14,19

100 x ( 0,0017 – 0,0012)

= 0,0014

Karena < min, maka digunakan min

As = 0,00583 x 200 x 242

= 282,172 mm2

Maka digunakan tulangan 2D16 (As = 402 mm2)

Page 147: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

147

c. Perhitungan Tulangan Sengkang

Vu = 5,54 KN

Kuat geser beton tanpa memperhitungkan momen

Vc = 1 6 𝑓𝑐 𝑏 .𝑑

= 1 6 30 200 .242

= 44182,95 N

= 44,18 KN

Vc = 0,75 x Vc

= 0,75 x 44,18

= 33,14 KN

0,5Vc = 0,5 x 33,14

= 16,57 KN

Karena Vu < 0,5Vc maka digunakan tulangan geser 6

d/2 = 242/2

= 121

Maka digunakan tulangan geser 6 – 120 (Av = 234 mm2)

d. Perhitungan Tulangan Torsi

Tu = 1,16 KNm

= 1160000 N.mm

Tn = 𝑇𝑢

=

1160000

0,75 = 1546666,67 Nmm

Acp = 200 x 300 = 60000 mm2

Pcp = 2 (200+300) = 1000 mm

Fc

12 𝐴𝑐𝑝

2

𝑃𝑐𝑝 =

0,75 30

12

60000 2

1000 1232375 Nmm

Tu < Fc

12 𝐴𝑐𝑝

2

𝑃𝑐𝑝 maka tidak diperlukan tulangan torsi.

4.3.2. Tangga Lantai 2 – 4

1. Data Teknis

Tinggi antar lantai = 350 Cm

Lebar Tangga = 400 Cm

Lebar Bordes = 215

Lebar tangga 1 = 200 Cm

Page 148: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

148

Lebar tangga 2 = 200 Cm

O = Optrede (langkah tegak) = 18 cm

A = Antrede (Langkah datar) = 28 cm

Pengecekan Kenyamanan :

2.19 + 28 = 64 OK

Sudut kemiringan tangga ( = 25 – 45 )

tan = O

A =

18

28 = 0,64

= 33 (25 < < 45 OK)

Gambar 4.25. Tangga Lantai 2 - 4

2. Perhitungan Pembebanan Tangga

a. Pembebanan Pelat Bordes

Beban mati :

Berat Keramik (t = 1 cm) = 0,01 x 2400 = 24 Kg/m2

Berat spesi (t = 2 cm) = 0,02 x 2100 = 42 Kg/m2

+

Total = 66 Kg/m2

Beban Hidup = 300 Kg/m2

b. Pembebanan Pelat Tangga

Beban mati :

Berat Keramik (t = 1 cm) = 0,01 x 2400 = 24 Kg/m2

Berat spesi (t = 2 cm) = 0,02 x 2100 = 42 Kg/m2

+

Page 149: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

149

Total = 66 Kg/m2

Beban Hidup = 300 Kg/m2

3. Analisa Perhitungan Struktur Tangga

Dalam perhitungan analis struktur tangga, dilakukan dengan

menggunakan bantuan program SAP 2000. Beban yang dimasukan adalah

beban merata (Unifom Shell) dalam program SAP 2000. Kombinasi

pembebanan yang digunakan adalah sebagai berikut :

1,2 DL + 1,6 LL

Dimana :

DL = Dead Load (beban mati)

LL = Live Load (beban hidup)

Tabel 4.35. Hasil Output Tangga Lantai 2 - 4

Jenis Pelat

Mmen Arah Sumbu X (M22)

Area

Text

M Tumpuan

(KN.m) AreaTex

M Lapangan

(KN.m)

Pelat Tangga 643 10,60 35 7,97

Pelat Bordes 109 10,08 133 2,72

Jenis Pelat

Mmen Arah Sumbu Y (M11)

Area

Text

M Tumpuan

(KN.m) AreaTex

M Lapangan

(KN.m)

Pelat Tangga 125 7,66 14 2,6

Pelat Bordes 109 7,76 115 2,32

4. Perhitungan Tulangan Pelat Tangga

Tebal pelat = 120 mm

Tebal penutup beton = 20 mm

a. Perhitungan tulangan tumpuan arah x

Mtx = 10.60 KNm

dx = h – p – ½

= 120 – 20 – ½ x 10

= 95 mm = 0,095 m

𝑀𝑢

𝑏 .𝑑2 = 10.60

1.0,0952

= 1174,52 KN/m2

Dari tabel 5.1.i Buku Gideon seri 4 di dapat :

Page 150: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

150

𝑀𝑢

𝑏 .𝑑2 = 1100 = 0,0047

𝑀𝑢

𝑏 .𝑑2 = 1200 = 0,0051

Interpolasi = 0,0047 + 74,52

100 x ( 0,0051 – 0,0047)

= 0,0050

Karena < min, maka digunakan min

As = 0,00583 x 1000 x 95

= 553,85 mm2

Maka digunakan tulangan 10 – 125 (As = 628 mm2)

b. Perhitungan tulangan lapangan arah x

Mlx = 7,92 KNm

dx = h – p – ½

= 120 – 20 – ½ x 10

= 95 mm = 0,095 m

𝑀𝑢

𝑏 .𝑑2 = 7,97

1.0,0952

= 883,10 KN/m2

Dari tabel 5.1.i Buku Gideon seri 4 di dapat :

𝑀𝑢

𝑏 .𝑑2 = 800 = 0,0034

𝑀𝑢

𝑏 .𝑑2 = 900 = 0,0038

Interpolasi = 0,0034 + 83,10

100 x ( 0,0038 – 0,0034)

= 0,0037

Karena < min, maka digunakan min

As = 0,00583 x 1000 x 95

= 553,85 mm2

Maka digunakan tulangan 10 – 125 (As = 628 mm2)

c. Perhitungan tulangan tumpuan arah y

Mty = 7,66 KNm

dx = h – p – ½ -

= 120 – 20 – ½ x 10 – 10

= 85 mm = 0,085 m

Page 151: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

151

𝑀𝑢

𝑏 .𝑑2 =

7,66

1.0,0852

= 1060,21 KN/m2

Dari tabel 5.1.i Buku Gideon seri 4 di dapat :

𝑀𝑢

𝑏 .𝑑2 = 1000 = 0,0043

𝑀𝑢

𝑏 .𝑑2 = 1100 = 0,0047

Interpolasi = 0,0043 + 60,21

100 x ( 0,0047 – 0,0043)

= 0,0045

Karena < min, maka digunakan min

As = 0,00583 x 1000 x 85

= 495,55 mm2

Maka digunakan tulangan 10 – 150 (As = 524 mm2)

d. Perhitungan tulangan lapangan arah y

Mly = 2,63 KNm

dx = h – p – ½ -

= 120 – 20 – ½ x 10 – 10

= 85 mm = 0,085 m

𝑀𝑢

𝑏 .𝑑2 = 2,63

1.0,0852

= 364,01 KN/m2

Dari tabel 5.1.i Buku Gideon seri 4 di dapat :

𝑀𝑢

𝑏 .𝑑2 = 300 = 0,0013

𝑀𝑢

𝑏 .𝑑2 = 400 = 0,0017

Interpolasi = 0,0013 + 64,01

100 x ( 0,0017 – 0,0013)

= 0,0016

Karena < min, maka digunakan min

As = 0,00583 x 1000 x 85

= 495,55 mm2

Maka digunakan tulangan 10 – 150 (As = 524 mm2)

Page 152: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

152

7. Perhitungan Tulangan Bordes

Tebal pelat = 150 mm

Tebal penutup beton = 20 mm

a. Perhitungan tulangan tumpuan arah x

Mtx = 10,08 KNm

dx = h – p – ½

= 150 – 20 – ½ x 10

= 125 mm = 0,125 m

𝑀𝑢

𝑏 .𝑑2 = 10,08

1.0,1252

= 645,12KN/m2

Dari tabel 5.1.i Buku Gideon seri 4 di dapat :

𝑀𝑢

𝑏 .𝑑2 = 600 = 0,0025

𝑀𝑢

𝑏 .𝑑2 = 700 = 0,0030

Interpolasi = 0,0025 + 45,12

100 x ( 0,0030 – 0,0025)

= 0,0027

Karena < min, maka digunakan min

As = 0,00583 x 1000 x 125

= 728,75 mm2

Maka digunakan tulangan 10 – 100 (As = 785 mm2)

b. Perhitungan tulangan lapangan arah x

Mlx = 2,72 KNm

dx = h – p – ½

= 150 – 20 – ½ x 10

= 125 mm = 0,125 m

𝑀𝑢

𝑏 .𝑑2 =

2,71

1.0,1252

= 174,08 KN/m2

Dari tabel 5.1.i Buku Gideon seri 4 di dapat :

𝑀𝑢

𝑏 .𝑑2 = 100 = 0,0004

𝑀𝑢

𝑏 .𝑑2 = 200 = 0,0008

Interpolasi = 0,0004 + 74,08

100 x ( 0,0008 – 0,0004)

Page 153: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

153

= 0,0007

Karena < min, maka digunakan min

As = 0,00583 x 1000 x 125

= 728,75 mm2

Maka digunakan tulangan 10 – 100 (As = 785 mm2)

c. Perhitungan tulangan tumpuan arah y

Mty = 7,76 KNm

dy = h – p – ½ -

= 150 – 20 – ½ x 10 – 10

= 115 mm = 0,115 m

𝑀𝑢

𝑏 .𝑑2 = 7,72

1.0,1152

= 586,77 KN/m2

Dari tabel 5.1.i Buku Gideon seri 4 di dapat :

𝑀𝑢

𝑏 .𝑑2 = 500 = 0,0021

𝑀𝑢

𝑏 .𝑑2 = 600 = 0,0025

Interpolasi = 0,0021 + 86,77

100 x ( 0,0025 – 0,0021)

= 0,0013

Karena < min, maka digunakan min

As = 0,00583 x 1000 x 115

= 670,46 mm2

Maka digunakan tulangan 10 – 100 (As = 785 mm2)

d. Perhitungan tulangan lapangan arah y

Mly = 2,32 KNm

dy = h – p – ½ -

= 150 – 20 – ½ x 10 – 10

= 115 mm = 0,115 m

𝑀𝑢

𝑏 .𝑑2 = 2,32

1.0,1152

= 175,43 KN/m2

Dari tabel 5.1.i Buku Gideon seri 4 di dapat :

Page 154: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

154

𝑀𝑢

𝑏 .𝑑2 = 100 = 0,0004

𝑀𝑢

𝑏 .𝑑2 = 200 = 0,0008

Interpolasi = 0,0004 + 75,43

100 x ( 0,0008 – 0,0004)

= 0,0007

Karena < min, maka digunakan min

As = 0,00583 x 1000 x 115

= 670,45 mm2

Maka digunakan tulangan 10 – 100 (As = 785 mm2)

8. Perhitungan Balok Bordes

Mt = 9,07 KNm

Ml = 3,71 KNm

Vu = 22,45 KN

Tu = 5,18 KNm

d = h – p - s – ½ p

= 300 – 40 – 10 – ½ x 16

= 242 mm

a. Perhitungan Tulangan Tumpuan

Mu = 9,07 KNm

𝑀𝑢

𝑏 .𝑑2 =

9,07

0,2.0,2422

= 774,37 KN/m2

Dari tabel 5.1.i Buku Gideon seri 4 di dapat :

𝑀𝑢

𝑏 .𝑑2 = 700 = 0,0030

𝑀𝑢

𝑏 .𝑑2 = 800 = 0,0034

Interpolasi = 0,0030 + 74,37

100 x ( 0,0034 – 0,0030)

= 0,0033

Karena < min, maka digunakan min

As = 0,00583 x 200 x 242

= 282,172 mm2

Maka digunakan tulangan 2D16 (As = 402 mm2)

Page 155: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

155

b. Perhitungan Tulangan Lapangan

Mu = 3,71 KNm

𝑀𝑢

𝑏 .𝑑2 = 3,71

0,2.0,2422

= 316,74 KN/m2

Dari tabel 5.1.i Buku Gideon seri 4 di dapat :

𝑀𝑢

𝑏 .𝑑2 = 300 = 0,0013

𝑀𝑢

𝑏 .𝑑2 = 400 = 0,0017

Interpolasi = 0,0013 + 16,74

100 x ( 0,0017 – 0,0013)

= 0,0014

Karena < min, maka digunakan min

As = 0,00583 x 200 x 242

= 282,172 mm2

Maka digunakan tulangan 2D16 (As = 402 mm2)

c. Perhitungan Tulangan Sengkang

Vu = 22,45 KN

Kuat geser beton tanpa memperhitungkan momen

Vc = 1 6 𝑓𝑐 𝑏 .𝑑

= 1 6 30 200 .242

= 44182,95 N

= 44,18 KN

Vc = 0,75 x Vc

= 0,75 x 44,18

= 33,14 KN

0,5Vc = 0,5 x 33,14

= 16,57 KN

Karena 0,5Vc < Vu < Vc maka digunakan tulangan geser

minimum

Av,u = 75 𝐹𝑐 .𝑏 .𝑆

1200.𝑓𝑦

Page 156: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

156

= 75 30 x 200 x 1000

1200 x 240

= 285,27 mm2

Av,u = 𝑏 .𝑆

3.𝑓𝑦

= 200 x 1000

3 x 240

= 277,78 mm2

Dipilih begel dengan diameter 10 mm

Spasi Begel, s = 1

4 𝜋 .𝑑2 .𝑆

𝐴𝑣,𝑢

= 1

4 𝜋 x 102 x 1000

285,27

= 275,18 mm

s ≤ d/2 = 242/2 = 121 mm

s ≤ 600 mm

Maka digunakan tulangan geser 10 – 120 (Av = 654 mm2)

4.4. Perhitungan Pondasi

4.3.1. Perhitungan Pondasi PC1

1. Data Teknis

Beban yang bekerja pada pondasi

P(aksial) = 1428,622 KN

My = 14,058 KNm

Mx = 33,745 KNm

H = 17,165 KN

Kedalaman tiang pancang = 20 m

Nilai total friction (Tf) = 8,48 KN/cm

Nilai conus = 0,35 KN/cm2

Dimensi tiang pancang = 25cm x 25cm

2. Kapasitas Daya Dukung Pondasi

a. Kapasitas dukung ijin tiang pancang

Kapasitas dukung ijin tiang menggunakan combination bearing,

yaitu kombinasi antara friction bearing ( kekuatan lekatan terhadap

tanah ) dan conus point bearing (kuat dukung tanah dasar )

Page 157: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

157

Total friction (Tf) merupakan jumlah daya dukung yang

memanfaatkan lekatan antara tanah dengan permukaan tiang pancang

.Conus bearing merupakan kapasitas dukung yang memanfaatkan

daya dukung tanah dasar (Qc) dikalikan dengan luas permukaan ujung

tiang.

Qu = 𝑙𝑢𝑎𝑠 𝑂 𝑥 𝑄𝑐

3 +

𝑘𝑒𝑙𝑖𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑂 𝑥 𝑇𝑓

5

= 25 𝑥 25 𝑥 0,35

3 +

((2𝑥(25+25))𝑥 8,48

5

= 242,5156 KN

b. Jumlah tiang pancang yang dibutuhkan

n = 𝑝

𝑞𝑢

= 1428,622

242,516

= 5,891 ̴ maka digunakan 9 tiang pancang

c. Menghitung efisiensi grup tiang (E)

E = 1- arc tg 𝑛−1 𝑚+ 𝑚−1 𝑛

90.𝑚 .𝑛

Keterangan :

S = jarak antar pusat tiang pancang

m = jumlah baris tiang pancang

n = jumlah per 1 baris

E = 1- arc tg 3−1 3+ 3−1 3

90.3.3

= 0,73

d. Tambahan beban akibat berat pile cap (poer)

W = volume poer x BJ beton

= ( 1,8 x 1,8 x 0,8 ) x 2,4

= 6,221 KN

e. Resultan Beban yang bekerja pada pondasi

V = P + berat poer (W)

= 1428,622 + 6,221

= 1434,834 KN

f. Kapasitas daya dukung pondasi

= Qu x n x E

= 242,516 x 9 x 0,73

= 1586,546 KN

Page 158: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

158

Chek syarat aman

Kapasitas dukung pondasi > resultan beban yang bekerja

1586,545 > 1434,843 ( pondasi aman )

3. Keamanan Tiang Terhadap Mutu Beton

Pi = 𝑣

𝑛 +

𝑀𝑦 .𝑋𝑖

Ʃ𝑋𝑖 +

𝑀𝑥 .𝑦𝐼

Ʃ𝑌𝑖

Keterangan

Pi = beban yang diterima tiang ke- i

Xi = jarak titik pusat tiang i sejajar sumbu y

Yi = jarak titik pusat tiang i sejajar sumbu x

Tabel 4.36. Beban Akibat Pengaruh Momen pada Pondasi PC1

Tiang

No Xi (m) Yi (m) Xi2 Yi2 Mx (KN) My (KN) V(KN) Pi (KN)

1 -0,6 0,6 0,36 0.36 33,74562 14,05819 159,427 164,8957

2 0 0,6 0 0.36 33,74562 14,05819 159,427 168,8008

3 0,6 0,6 0.36 0.36 33,74562 14,05819 159,427 172,7058

4 -0,6 0 0.36 0 33,74562 14,05819 159,427 155,5219

5 0 0 0 0 33,74562 14,05819 159,427 159,4270

6 0,6 0 0.36 0 33,74562 14,05819 159,427 163,3320

7 -0,6 -0,6 0.36 0.36 33,74562 14,05819 159,427 146,1481

8 0 -0,6 0 0.36 33,74562 14,05819 159,427 150,0532

9 0,6 -0,6 0.36 0.36 33,74562 14,05819 159,427 153,9582

Jumlah 2,16 2,16

Setelah terpengaruh momen X dan Y distribusi beban berubah menjadi :

Berat tiang = 0,252 x 20 x 24

= 30 KN

P = P maks + Berat tiang

= 172,7058 + 30

= 202,7058 KN

Cek keamanan tiang terhadap mutu beton

Mutu beton yang di pakai

Fc = 35 Mpa

Fc ijin = 0,45 x 35 = 15,75 Mpa

P ijin = Fc ijin x A

= 15,75 x (250 x 250)

Page 159: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

159

= 984375 N ̴ P ijin 984,375 KN

Syarat aman Beban tiang < P ijin

202,7058 KN < 984,375 KN ( pondasi aman terhadap mutu beton )

4. Menghitung Tegangan Ijin Lateral

Menentukan jenis tiang panjang atau tiang pendek

𝐿

𝐷 < 12 tiang pendek

𝐿

𝐷 < 12 tiang panjang

20

0,25 = 80 < 12 tiang panjang

Menghitung tegangan ijin leteral

S = 𝑏𝑕2

6

S = 02,5𝑥0,252

6

S = 0,0026 m3

F = 0,60 x 𝑓𝑐 ′

F = 0,60 x 35

F = 3,55 Mpa

3550 KN/m2

Maka digunakan rumus

My = S x F

My = 0,0026 x 3550

My = 9,23 KNm

=𝑚𝑦

𝑐𝑢 𝑥 𝑑3 = 9,23

200 𝑥 0,253 = 2,953 ̴ 3

Page 160: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

160

Gambar 4.26. Grafik Broms pada PC1

Dari grafik diperoleh nilai 𝑕𝑢

𝑐𝑢 𝑥 𝑑𝑢 2 = 3,7

=𝑕𝑢

𝑐𝑢 𝑥 𝑑𝑢 2 =3,7

=𝑕𝑢

200 𝑥 0,252 = 3,7

Hu = 46,25 KN

Dengan SF = 3 maka diperoleh

Ha = 𝐻𝑢

𝑆𝐹 =

46,25

3 = 15,41 KN

Beban horizontal yang diterima setiap tiang

= 𝐻

𝑛 =

17,165

9

= 1,91 KN

Syarat aman : kapasitas dukung horizontal harus lebih besar dari pada gaya

horizontal yang bekerja

𝐻

𝑛 = 1,91 KN <

𝐻𝑢

𝑠𝑓 = 15,41 KN

Sehingga tiang aman terhadap gaya horizontal

Page 161: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

161

5. Perencanaan Pile Cap

a. Data Pile Cap

Tulangan pokok = D22

Selimut beton (p) = 60 mm

Ukuran poer = 1,8 x 1,8 m

Tinggi poer (h) = 0,8 m

Dimensi kolom = 50 x 50 cm

d’ = h - p + d tul + ½ d tul

= 800 - 60+22 + ½ x 22 = 93 mm

= 707 mm

Fc’ = 35 Mpa

Fy = 240 Mpa

P1 = Pmax = 172,7058 KN

Beban merata q akibat berat tanah diatas pile cap :

q = [h x γc + (ht – h) x γt ] x Lx

keterangan :

h = kedalaman pile cap

ht = kedalaman pile cap dari permukaan tanah

γc = berat jenis beton

γt = berat jenis tanah

q = [0,8 x 2,4 + (2 – 0,8 ) x 1,8 ] x 2,4

= 7,10 tonm

Berat sendiri 1 tiang pancang :

Qp =A x L x γc

= (0,25 x 0,25) x 20 x 2,4

= 3 ton

b. Tulangan pada pile cap arah Ly :

My = 14,058

Fc = 35 Mpa

Fy =240 Mpa

ρmin = 1,4

240 = 0,00583

ρbalance = 0,85 .35 𝑥 0,85

240

600

600+240

Page 162: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

162

= 0,0752

ρmax = 0,75 x ρbalance

= 0,75 x 0,0752

= 0,0564

h = 0,80 m

dy = 800 -60 -22-12 .22

=707 mm = 0,707 m

= 𝑀𝑢

𝑏 𝑥 𝑑𝑦2=

14,058

1.(0,707)2= 28,124 KN.m

2

𝑀𝑢

𝑏 𝑥 𝑑𝑦2 = 28,124 ρ = 0,0004

Karena ρ < ρmin maka digunakan ρmin

As Ly = ρmin .by.dy

= 0,00583x 1000 x 707

= 4121,81

Digunakan D22 (Ast 380 mm2 )

A tul = 1

4 𝑥 𝜋 𝑥 𝐷2 =

1

4 .3,14 . 22

2 = 380 mm

2

n = 𝑎𝑠 𝑙𝑦

𝑎 𝑡𝑢𝑙

n = 4121,81

380=10,84 ̴ maka jumlah tulangan adalah 12 tulangan

jarak tulangan b

𝑛=

1800

12 = 150 maka jarak tulangan adalah yang

digunakan 150 mm

c. Tulangan pada pile cap arah Lx

Mx = 33,745 KNm

Fc =35 Mpa

Fy = 240 Mpa

ρmin =1,4

240 = 0,00583

ρbalance = 0,85 .35 𝑥 0,85

240

600

600+240

= 0,0752

ρmax = 0,75 x ρbalance

= 0,75 x 0,0752

= 0,0564

Page 163: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

163

H = 0,80 m

dy = 800 -60 -12 .22

=729 mm = 0,729 m

𝑀𝑢

𝑏 𝑥 𝑑𝑦2=

33,745

1.(0,729)2= 63,49 KN.m

2

𝑀𝑢

𝑏 𝑥 𝑑𝑦2 = 63,49 ρ = 0,0004

Maka digunakan ρmin = 0,00583

As Ly = ρmin .by.dy

= 0,00583 x 1000 x 729

= 4250,07

Digunakan D

A tul = 1

4 𝑥 𝜋 𝑥 𝐷2 =

1

4 .3,14 . 22

2 = 380 mm

2

n = 𝑎𝑠 𝑙𝑦

𝑎 𝑡𝑢𝑙

n = 4250,07

380 = 11,18 ̴ 12 mm

jarak tulangan b

𝑛=

1800

12 = 150 maka jarak tulangan adalah yang

digunakan 150 mm

4.3.2. Perhitungan Pondasi PC2

1. Data Teknis

Beban yang bekerja pada pondasi

P(aksial) = 90,47 KN

My = 1,50 KNm

Mx = 5,20 KNm

H = 3,04 KN

Kedalaman tiang pancang = 20 m

Nilai total friction (Tf) = 8,48 KN/cm

Nilai conus = 0,35 KN/cm2

Dimensi tiang pancang = 25cm x 25cm

2. Kapasitas Daya Dukung Pondasi

a. Kapasitas dukung ijin tiang pancang

Page 164: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

164

Kapasitas dukung ijin tiang menggunakan combination bearing,

yaitu kombinasi antara friction bearing ( kekuatan lekatan terhadap

tanah ) dan conus point bearing (kuat dukung tanah dasar )

Total friction (Tf) merupakan jumlah daya dukung yang

memanfaatkan lekatan antara tanah dengan permukaan tiang pancang

.Conus bearing merupakan kapasitas dukung yang memanfaatkan

daya dukung tanah dasar (Qc) dikalikan dengan luas permukaan ujung

tiang.

Qu = 𝑙𝑢𝑎𝑠 𝑂 𝑥 𝑄𝑐

3 +

𝑘𝑒𝑙𝑖𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑂 𝑥 𝑇𝑓

5

= 25 𝑥 25 𝑥 0,35

3 +

((2𝑥(25+25))𝑥 8,48

5

= 242,5156 KN

b. Jumlah tiang pancang yang dibutuhkan

n = 𝑝

𝑞𝑢

= 90,47

242,516

= 0,37 maka digunakan 2 tiang pancang

c. Menghitung efisiensi grup tiang (E)

E = 1- arc tg 𝑛−1 𝑚+ 𝑚−1 𝑛

90.𝑚 .𝑛

Keterangan :

S = jarak antar pusat tiang pancang

m = jumlah baris tiang pancang

n = jumlah per 1 baris

E = 1- arc tg 3−1 3+ 3−1 3

90.3.3

= 0,90

d. Tambahan beban akibat berat pile cap (poer)

W = volume poer x BJ beton

= ( 0,60 x 1,20 x 0,8 ) x 2,4

= 1,38 KN

e. Resultan Beban yang bekerja pada pondasi

V = P + berat poer (W)

= 90,47 + 1,38

= 91,85 KN

f. Kapasitas daya dukung pondasi

Page 165: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

165

= Qu x n x E

= 242,516 x 2 x 0,9

= 435,36 KN

Chek syarat aman

Kapasitas dukung pondasi > resultan beban yang bekerja

435,36 KN > 91,85 KN ( pondasi aman )

3. Keamanan Tiang Terhadap Mutu Beton

Pi = 𝑣

𝑛 +

𝑀𝑦 .𝑋𝑖

Ʃ𝑋𝑖 +

𝑀𝑥 .𝑦𝐼

Ʃ𝑌𝑖

Keterangan

Pi = beban yang diterima tiang ke- i

Xi = jarak titik pusat tiang i sejajar sumbu y

Yi = jarak titik pusat tiang i sejajar sumbu x

Tabel 4.37. Beban Akibat pengaruh momen pada pondasi PC2

Tiang No Xi Yi Xi2 Yi2 Mx

(KN)

My

(KN)

V/n

(KN) Pi (KN)

1 0 0.3 0 0.09 5.2 1.5 45.93 54.59

2 0 -0.3 0 0.09 5.2 1.5 45.93 37.26

jumlah

0 0.18

Setelah terpengaruh momen X dan Y distribusi beban berubah menjadi :

Berat tiang = 0,252 x 20 x 24

= 30 KN

P = P maks + Berat tiang

= 54,59 + 30

= 84,59 KN

Cek keamanan tiang terhadap mutu beton

Mutu beton yang di pakai

Fc = 35 Mpa

Fc ijin = 0,45 x 35 = 15,75 Mpa

P ijin = Fc ijin x A

= 15,75 x (250 x 250)

= 984375 N ̴ P ijin 984,375 KN

Page 166: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

166

Syarat aman Beban tiang < P ijin

84,59 KN < 984,375 KN ( pondasi aman terhadap mutu beton )

4. Menghitung Tegangan Ijin Lateral

Menentukan jenis tiang panjang atau tiang pendek

𝐿

𝐷 < 12 tiang pendek

𝐿

𝐷 < 12 tiang panjang

20

0,25 = 80 > 12 tiang panjang

Menghitung tegangan ijin leteral

S = 𝑏𝑕2

6

S = 02,5𝑥0,252

6

S = 0,0026 m3

F = 0,60 x 𝑓𝑐 ′

F = 0,60 x 35

F = 3,55 Mpa

3550 KN/m2

Maka digunakan rumus

My = S x F

My = 0,0026 x 3550

My = 9,23 KNm

=𝑚𝑦

𝑐𝑢 𝑥 𝑑3 = 9,23

200 𝑥 0,253 = 2,953 ̴ 3

Page 167: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

167

Gambar 4.27. Grafik Broms pada PC2

Dari grafik diperoleh nilai 𝑕𝑢

𝑐𝑢 𝑥 𝑑𝑢 2 = 3,7

=𝑕𝑢

𝑐𝑢 𝑥 𝑑𝑢 2 =3,7

=𝑕𝑢

200 𝑥 0,252 = 3,7

Hu = 46,25 KN

Dengan SF = 3 maka diperoleh

Ha = 𝐻𝑢

𝑆𝐹 =

46,25

3 = 15,41 KN

Beban horizontal yang diterima setiap tiang

= 𝐻

𝑛 =

3,04

2

= 1,52 KN

Syarat aman : kapasitas dukung horizontal harus lebih besar dari pada gaya

horizontal yang bekerja

𝐻

𝑛 = 1,52 KN <

𝐻𝑢

𝑠𝑓 = 15,41 KN

Sehingga tiang aman terhadap gaya horizontal

Page 168: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

168

5. Perencanaan Pile Cap

a. Data Pile Cap

Tulangan pokok = D22

Selimut beton (p) = 60 mm

Ukuran poer = 0,6 x 1,2 m

Tinggi poer (h) = 0,8 m

Dimensi kolom = 30 x 30 cm

d’ = h - p + d tul + ½ d tul

= 800 - 60+22 + ½ x 22

= 707 mm

Fc’ = 35 Mpa

Fy = 240 Mpa

P1 = Pmax = 84,59 KN

Beban merata q akibat berat tanah diatas pile cap :

q = [h x γc + (ht – h) x γt ] x Lx

keterangan :

h = kedalaman pile cap

ht = kedalaman pile cap dari permukaan tanah

γc = berat jenis beton

γt = berat jenis tanah

q = [0,8 x 2,4 + (2 – 0,8 ) x 1,8 ] x 2,4

= 7,10 tonm

Berat sendiri 1 tiang pancang :

Qp =A x L x γc

= (0,25 x 0,25) x 20 x 2,4

= 3 ton

b. Tulangan pada pile cap arah Ly :

My = 1,5 KNm

Fc = 35 Mpa

Fy =240 Mpa

ρmin = 1,4

240 = 0,00583

Page 169: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

169

ρbalance = 0,85 .35 𝑥 0,85

240

600

600+240

= 0,0752

ρmax = 0,75 x ρbalance

= 0,75 x 0,0752

= 0,0564

h = 0,80 m

dy = 800 - 60 -22-12 .22

=707 mm = 0,707 m

= 𝑀𝑢

𝑏 𝑥 𝑑𝑦2 =1,50

1.(0,707)2 = 3,00 KN.m 2

𝑀𝑢

𝑏 𝑥 𝑑𝑦2 = 3,00 ρ = 0,0004

Karena ρ < ρmin maka digunakan ρmin

As Ly = ρmin .by.dy

= 0,00583x 1000 x 707

= 4121,81

Digunakan D22 (Ast 380 mm2 )

A tul = 1

4 𝑥 𝜋 𝑥 𝐷2 =

1

4 .3,14 . 22

2 = 380 mm

2

n = 𝑎𝑠 𝑙𝑦

𝑎 𝑡𝑢𝑙

n = 4121,81

380=10,84 ̴ maka jumlah tulangan adalah 12 tulangan

jarak tulangan b

𝑛=

1800

12 = 150 maka jarak tulangan adalah yang

digunakan 150 mm

c. Tulangan pada pile cap arah Lx

Mx = 5,2 KNm

Fc =35 Mpa

Fy = 240 Mpa

ρmin =1,4

240 = 0,00583

ρbalance = 0,85 .35 𝑥 0,85

240

600

600+240

= 0,0752

ρmax = 0,75 x ρbalance

= 0,75 x 0,0752

Page 170: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

170

= 0,0564

H = 0,80 m

dy = 800 -60 -12 .22

=729 mm = 0,729 m

𝑀𝑢

𝑏 𝑥 𝑑𝑦2 =5,20

1.(0,729)2 = 9,78 KN.m 2

𝑀𝑢

𝑏 𝑥 𝑑𝑦2 = 9,78 ρ = 0,0004

Maka digunakan ρmin = 0,00583

As Ly = ρmin .by.dy

= 0,00583 x 1000 x 729

= 4250,07

Digunakan D

A tul = 1

4 𝑥 𝜋 𝑥 𝐷2 =

1

4 .3,14 . 22

2 = 380 mm

2

n = 𝑎𝑠 𝑙𝑦

𝑎 𝑡𝑢𝑙

n = 4250,07

380 = 11,18 ̴ 12 mm

jarak tulangan b

𝑛=

1800

12 = 150 maka jarak tulangan adalah yang

digunakan 150 mm.

Page 171: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

171

BAB V

RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

PEKERJAAN : Gedung Lima Lantai Kantor Polda Jawa Tengah

LOKASI : Jl. Imam Bonjol - Semarang

TH. ANGGARAN : 2017-2018

5.1. SYARAT – SYARAT UMUM

Pasal 1

Peraturan Umum

Tatakala dalam penyelenggaraan bangunan ini dilaksanakan berdasarkan

peraturan-perturan sebagai berikut :

1. Sepanjang tidak ada ketentuan lain untuk melaksanakan pekerjaan

borongan bangunan di Indonesia, maka yang paling syah dan mengikat

adalah syarat-syarat umum ( disingkat SU )untuk melaksanakan pekerjaan

borongan bangunan di Indonesia ( AV ) yang disyahkan dengan surat

keputusan Pemerintah No. 9 tanggal : 28 Mei 1941 dan tambahan

Lembaran Negara No.14571.

2. UU RI No. 18 Tahun 1998 tentang Jasa Kontruksi.

3. Surat keputusan Presiden Replublik Indonesia No. 16 tahun 1994, yang

telah diubah denagn Kepres RI No. 6 tahun 1999 jo Kepres RI No. 17

tahun 2000 tentang pelaksanaan anggaran Pendapatan dan Belanja

Negara. Kepres RI No. 80 tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksaan

Pengadaan Barang / Jasa Instansi Pemerintah.

4. Kepmen Kimpraswil No. 332/KPTS/M/2002 tanggal 21 Agustus 2002

tentang Pedoman Teknis Pembangunan Bangunan Gedung Negara.

5. Kepmen Kimpraswil No. 339/KPTS/M/2003 tanggal 31 Desember 2003

tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengadaan Jasa Kontruksi oleh Instansi

Pemerintah.

Page 172: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

172

Pasal 2

Pemberi Tugas Pekerjaan

Yang bertindak sebagai pemberi tugas adalah Pemerintah Provinsi Jawa Tengah

selaku Pemilik Proyek.

Pasal 3

Direksi/Pengelola Proyek

Yang bertindak sebagai Direksi adalah Tim Direksi dari Owner/Pemilik yang

diangkat oleh Pihak Owner (Pemerintah Provinsi Jawa Tengah) sendiri.

Pasal 4

Konsultan Perencana Teknis

1. Yang bertindak sebagai perencana ( pembuat desain ) adalah perencana

teknis yang berbadan hukum

2. Perencana berkewajiban mengadakan pengawasan berkala dalam bidang

struktur dan pelaksanaan pekerjaan.

3. Perencana tidak dibenarkan merubah ketentuan-ketentuan pelaksanaan

pekerjaan sebelum mendapatkan ijin secara tertulis dari Pimpinan Proyek /

Pengelola Proyek

4. Bilamana perencana menjumpai kejanggalan-kejanggalan dalam pelaksanaan

atau menyimpang dari bestek/RKS supaya memberitahukan secara tertulis

kepada Pimpinan Proyek/Pengelola Proyek.

5. Perencana terikat UU Jasa Konstruksi No. 80 tahun 2003 dan PP yang

berlaku.

6. Konsultan Perencana diwajibkan membuat buku Pedoman perawatan gedung

proyek ini ( disampaikan kepada Pimpro ).

Pasal 5

Pengawas Lapangan

Page 173: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

173

1. Konsultan Pengawas Teknik Pembangunan akan ditentukan kemudian

oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah

2. Tugas Konsultan Pengawas adalah mengawasi pekerjaan sesuai gambar

Bestek / RKS dan perubahan-perubahan dalam berita acara selama

pelaksanaan sampai dengan serah terima pekerjaan ke I dan masa

pemeliharaan sampain serah terima pekerjaan ke II.

3. Pengawas lapangan tidak dibenarkan merubah ketentuan-ketentuan

pelaksanaan pekerjaan sebelum mendapat ijin tertulis dari pimpinan

proyek / pengelola proyek.

4. Bilamana pengawas lapangan menjumpai kejanggalan-kejanggalan dalam

pelaksanaan / menyimpang dari bestek, supaya segera memberitahukan

secara tertulis kepada pemimpin proyek /pengeola proyek

5. Konsultan Pengawas diwajibkan menyusun rekaman pengawas selama

pelaksanaan berlangsung 0 % sampai dengan seah terima pekerjaan ke II

dan disampaikan kepada Pimpinan Proyek.

Pasal 6

Rekanan/Pemborong/Kontraktor

Kontraktor adalah perusahaan berstatus Badan Hukum yang usaha

pokoknya adalah melaksanakan pekerjaan pemborongan bangunan yang

memenuhi syarat-syarat bonafiditas dan kualitas menurut Panitia Pelelangan

yang ditunjuk oleh Pimpinan Proyek untuk melaksanakan pekerjaan

Pembangunan Struktur Gedung Lima Lantai Arsip Perkantoran dan

Perpustakaan Provinsi Jateng Kab. Semarangtersebutsetelah SKPP dan SPMK

diterbitkanolehPemimpinProyek.

Syarat-syarat yang harus dipenuhi :

1. Perusahaan yang berstatus Badan Hukum yang usaha pokoknya adalah

melaksanakan pekerjaan pemborongan bangunan yang memenuhi syarat-

syarat bonafiditas dan kualitas menurut Panitia yang ditunjuk oleh

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk melaksanakan pekerjaan

pembangunan gedung tersebut setelah memenangkan pelelangan ini.

Page 174: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

174

2. Tercatat dalam Daftar Rekanan Mampu (DRM) yakni yang lulus dalam

prakualifikasi yang diadakan oleh Panitia Prakualifikasi tingkat Daerah

dengan klasifikasi A.

Pasal 7

Pemberian Penjelasan (Aanwijzing)

1. Pemberian Penjelasan (Aanwijzing) akan diadakan pada :

a. Hari :

b. Tanggal :

c. Waktu/ Jam :

d. Tempat :

2. Bagi mereka yang tidak dapat mengikuti Aanwijzing tidak

diperkenankan/tidak diperbolehkan mengikuti pelelangan.

Pasal 8

Pelelangan

1. Pelelangan dilakukan secara terbatas dengan undangan tertulis, kepada

pemborong atau rekanan yang tercatat dalam Daftar Rekanan Mampu

menurut bidang usaha dan klasifikasinya. Para undangan mendapat gambar-

gambar Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS) pada waktu yang telah

ditentukan.

Pemasukkan Surat Penawaran paling lambat pada :

a. Hari / tanggal :

b. Waktu :

c. Tempat :

2. Para pemborong/rekanan yang menerima undangan harus hadir pada waktu

dimulainya pemberian penjelasan.

3. Pada waktu pemberian penjelasan mengenai gambar, Rencana Kerja dan

Syarat-syarat (RKS) serta keterangan perubahan-perubahan lainnya yang

menjadi dasar pelaksanaan pekerjaan, dibuat berita Acara yang

Page 175: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

175

ditandatangani oleh Panitia dan sekurang-kurangnya 2 orang wakil dari

peserta.

4. Berita Acara Penjelasan merupakan bagian dari dokumen pelelangan

ditetapkan satu minggu setelah hari pemberian penjelasan pada :

a. Hari / tanggal :

b. Waktu :

c. Tempat :

5. Bagi pemborong/rekanan yang berhalangan hadir sendiri dalam mengikuti

pelelangan dapat mewakilkan orang lain dengan menyerahkan Surat Kuasa

di atas maerai Rp. 6000,00 dan ditandangani kedua belah pihak.

Pasal 9

Sampul Surat Penawaran

1. Sampul surat penawaran ukuran (25 x 40) cm warna putih dan tidak tembus

baca.

2. Sampul surat penawaran yang sudah berisi surat lengkap dengan lampiran-

lampiran dilem dan dilak di lima tempat, dan tidak diberi kode cap cincin

atau kop perusahaan dan kode lainnya.

3. Pada sampul surat penawaran di sebelah kiri atas dan disebelah kanan

bawah supaya dapat ditulis langsung tidak boleh dengan tempelan.

Contoh Sampul Penawaran

Tampak Depan

SURAT PENAWARAN PEKERJAAN:

PEMBANGUNAN STRUKTUR GEDUNG LIMA LANTAI KANTOR MAPOLDA

PROVINSI JATENG KOTA SEMARANG Hari / Tanggal : Waktu :

Tempat :

KEPADA

PANITIA LELANG

PROYEK PEMBANGUNAN STRUKTUR GEDUNG

LIMA LANTAI KANTOR MAPOLDA JATENG KOTA

SEMARANG. Jalan Imam Bonjol, Semarang, Jawa Tengah

40

25

Page 176: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

176

Tampak Belakang

Pasal 10

Persyaratan Penawaran

1. Penawaran yang diminta adalah penawaran yang lengkap menurut gambar,

ketentuan-ketentuan RKS serta berita Acara Aanwijzing.

2. Surat penawaran, Surat Pernyataan, Daftar RAB, Daftar Harga Satuan

Bahan dan Upah Kerja. Daftar Analisa Pekerjaan dan Daftar Harga Satuan

Pekerjaan halaman pertama dibuat di atas kertas kop nama perusahaan dan

harus ditandatangani oleh Direktur Pemborong yang bersangkutan dan di

bawah tanda tangan supaya disebutkan nama terang dan cap perusahaan.

3. Bilamana surat penawaran tidak ditandatangani oleh Direktur Pemborong

sendiri, maka harus dilampiri :

a. Surat Kuasa dari Direktur Pemborong yang bersangkutan dan diberi

materai Rp. 6.000,00.

b. Satu exemplar dari Statuten.

40

25

Page 177: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

177

4. Surat penawaran dan lampiran-lampirannya lengkap supaya dibuat rangkap

lima dan surat penawaran yang asli diberi materai Rp. 6.000,00 lalu

dibubuhi tanda tangan dan cap perusahaan di atas materai tersebut.

5. Surat penawaran dan lampiran-lampirannya lengkap supaya dimasukkan ke

dalam satu amplop.

6. Lampiran-lampiran Surat Penawaran adalah :

a. Fotocopy Surat Undangan.

b. Surat Penawaran.

c. RAB dan Rekapitulasi.

d. Daftar Harga Satuan Bahan dan Upah Kerja.

e. Daftar Analisa Harga Satuan Pekerjaan.

f. Time Schedule/ Rencana Pelaksanaan Pekerjaan.

g. Fotocopy Akte Pendirian perusahaan + perubahannya.

h. Fotocopy SIUJK dari Kanwil Dep. PU Jateng.

i. Fotocopy Surat Keterangan Pengusaha Kena Pajak (PKP).

j. Fotocopy NPWP.

k. Fotocopy TDR yang masih berlaku sub Bidang Perumahan dan

Permukiman kualifikasi A yang dapat beroperasi di Propinsi Jawa

Tengah.

l. Fotocopy Tanda Anggota Gapensi dan Kadin yang berlaku.

m. Fotocopy Referensi Bank Khusus untuk pekerjaan tersebut.

n. Fotocopy Neraca Perusahaan yang dikeluarkan Akuntan Publik yang

terakhir.

o. Daftar Susunan Pemilikan Modal Perusahaan.

p. Daftar Pengurus Perusahaan.

q. Daftar personil yang digunakan untuk proyek ini.

r. Daftar peralatan yang digunakan untuk proyek ini.

s. Fotocopy Jaminan Tender dari Bank Pemerintah Lembaga Keuangan

lain yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan dan berlaku tiga bulan.

t. Daftar referensi Pekerjaan disertai Fotocopy SPK-nya tiga tahun

terakhir.

u. Surat Kesanggupan bermaterai Rp. 6.000,00 untuk :

Page 178: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

178

- Mengadakan voorfinanclering (bagi yang tidak mengambil uang

muka)

- Mengasuransikan tenaga kerja ke Perum Astek

- Tunduk dan taat pada Peraturan Pemerintah Daerah setempat

- Jaminan Penawaran 1 – 3 %

- Jaminan Pelaksanaan 1 – 5 %

- Kerja sama dengan Koperasi

7. Surat-surat yang memakai Kop Surat Asli Perusahaan, adalah :

a. Surat Penawaran.

b. Halaman pertama RAB + Rekapitulasi.

c. Halaman pertama daftar harga satuan bahan + upah.

d. Halaman pertama daftar analisa.

e. Halaman pertama daftar harga satuan pekerjaan.

f. Daftar susunan pemilik modal perusahaan.

g. Surat kesanggupan.

8. Surat-surat asli yang ditujukan pada saat pemasukan penawaran :

a. Akte pendirian perusahaan dan perubahan.

b. Surat Ijin Usaha Jasa Konstruksi (SIUJK).

c. NPWP dan PKP.

d. Tanda Daftar Rekanan (TDR) yang masih berlaku.

e. Tanda Anggota Gepensi yang masih berlaku.

f. Surat jaminan tender (yang asli diserahkan).

9. Bilamana pada saat bersamaan rekanan mengikuti tender pada instalasi lain,

surat-surat asli dapat ditunjukkan pada ketua/sekretaris panitia untuk

dimintakan pengesahannya.

10. Bagi Pemborong yang sudah memasukkan surat penawaran tidak dapat

mengundurkan diri dan terikat untuk melaksanakan dan menyelesaikan

pekerjaan tersebut bilamana pekerjaan diberikan kepadanya menurut

penawaran yang diajukan.

11. Bagi rekanan yang mengundurkan diri setelah ditunjuk dikenakan sanksi

ialah :

a. Tidak diikutsertakan dalam tender yang akan datang.

Page 179: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

179

b. Dicatat dalam konduite.

c. Tender garansi dinyatakan hilang dan menjadi milikPemerintah Provinsi

Jawa Tengah

12. Bagi rekanan yang tidak mendapatkan pekerjaan, tender garansi dapat

diambil setelah ada pengumuman pemenang lelang.

13. Sistem Evaluasi menggunakan metode sistem gugur, dengan proses

penilaian adalah evaluasi administrasi, evaluasi teknik, evaluasi penawaran

harga.

Pasal 11

Jaminan Penawaran

Jaminan penawaran (tender garansi) berupa surat jaminan bank milik

pemerintah atau bank/lembaga keuangan lain yang ditetapkan oleh Menteri

Keuangan, tanggal 24 Februari 1988, No. 205/KMK.013/1988.

Bagi Pemborong yang telah ditunjuk, jaminan dapat diambil setelah SPK

diterbitkan.

Bagi Pemborong yang ditetapkan untuk melaksanakan pekerjaan, jaminan

penawaran diberikan kembali pada saat jaminan pelaksanaan diterima oleh

Pemimpin Proyek sekaligus menandatangani Surat Perjanjian Pemborongan.

Pasal 12

Surat Penawaran Yang Tidak Sah

Surat penawaran yang tidak sah dan dinyatakan gugur, bilamana :

1. Surat penawaran yang tidak dimasukkan ke dalam sampul surat penawaran.

2. Surat penawaran, surat pernyataan dan RAB yang seharusnya dibuat di atas

kertas kop perusahaan, ternyata tidak dibuat di atas kertas kop nama dari

pemborong yang bersangkutan.

3. Surat penawaran tidak ditandatangani oleh penawar.

4. Surat penawaran asli tidak bermaterai Rp. 6000,00 / tidak diberi tanggal dan

tidak terkena tanda tangan penawar / tidak ada cap perusahaan.

Page 180: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

180

5. Harga penawaran yang tertulis dengan angka tidak sesuai dengan yang

tertulis dengan huruf.

6. Tidak jelas besarnya jumlah penawaran baik yang tertulis dengan angka

maupun huruf.

7. Surat penawaran dari pemborong yang tidak diundang / mendaftar.

8. Terdapat salah satu lampiran yang tidak ditandatangani oleh penawar dan

tidak diberi cap dari pemborong (kecuali fotocopy).

Pasal 13

Waktu Pekerjaan

1. Pekerjaan harus sudah dimulai dengan nyata paling lambat tiga puluh hari

sesudah penunjukan pemenang pelelangan.

2. Waktu adalah jumlah dari kalender yang diperlukan untuk menyelesaikan

seluruh pekerjaan dengan sempurna dan diterima baik oleh Pemberi Tugas.

3. Tanggal permulaan pekerjaan adalah tanggal yang dipastikan dalam

pemberitahuan untuk memulai pekerjaan. Bila tidak ada pemberitahuan

untuk memulai pekerjaan, maka berlaku tanggal yang ditetapkan dalam

Surat Perjanjian Pekerjaan.

4. Pemborong harus menyerahkan pekerjaan hingga memenuhi persyaratan

paling lambat empat ratus hari kalender sesudah penunjukan pemenang

pelelangan.

Pasal 14

Penetapan Calon Pemenang Pelelangan

1. Apabila dalam harga penawaran telah dianggap wajar dan dalam batas

ketentuan mengenai harga satuan (harga standar) yang telah ditetapkan serta

telah sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang ada, maka Panitia menetapkan

tiga peserta yang telah memasukkan penawaran yang paling menguntungkan

bagi Owner dalam artian :

a. Penawaran secara teknis dapat dipertanggungjawabkan.

b. Perhitungan harga dapat dipertanggungjawabkan.

Page 181: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

181

c. Penawaran tersebut adalah terendah diantara penawar-penawar lainnya

yang memenuhi syarat-syarat tersebut dalam sub ayat 1a & sub ayat 1b.

2. Keputusan tersebut diambil oleh Panitia dalam suatu rapat yang dihadiri

oleh lebih dari 2/3 jumlah anggota. Apabila rapat pertama tidak dicapai

kuorum, maka rapat berikutnya dapat diambil keputusan apabila dihadiri

oleh lebih dari setengah jumlah anggota.

3. Berita Acara hasil pelelangan tersebut ditandatangani oleh Ketua dan semua

anggota Panitia.

4. Setelah Berita Acara hasil pelelangan selesai, Panitia membuat laporan

kepada pejabat berwenang untuk mengambil keputusan penetapan

pemenang pelelangan dengan disertai usul berikut penjelasan-penjelasan

tambahan yang didasari penetapan calon pemenang pelelangan dan

keterangan-keterangan lainnya yang dianggap perlu sebagai bahan

pertimbangan untuk mengambil keputusan.

Pasal 15

Penetapan Pemenang Pelelangan

1. Pejabat yang berwenang mengambil keputusan mengenai penetapan

pemenang pelelangan adalah Owner dalam hal ini adalahPemerintah

Provinsi Jawa Tengah

2. Pemerintah Provinsi Jawa Tengahberwenang menetapkan pemenang

pelelangan dan cadangan pemenang atau pemenang utama dan pemenang

kedua diantara calon-calon yang diusulkan oleh Panitia.

Pasal 16

Pengumuman Pemenang Lelang

1. Keputusan Pemerintah Provinsi Jawa Tengahtentang penetapan pelelangan

diumumkan kepada para peserta dalam suatu pertemuan yang diadakan

untuk keperluan tersebut. Penetapan pemenang pelelangan selanjutnya

diumumkan secara luas. Kepada para peserta yang keberatan atas penetapan

pemenang pelelangan diberikan kesempatan untuk mengajukan sanggahan

secara tertulis kepada pejabat yang berwenang menetapkan pemenang

Page 182: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

182

selambat-lambatnya dalam enam hari kerja, setelah diterimanya keputusan

tersebut dalam ayat 1 pasal ini.

2. Jawaban atas sanggahan diberikan secara tertulis selambat-lambatnya enam

hari kerja setelah sanggahan tersebut.

3. Penunjukan pemenang belum dapat dilakukan selama jawaban atas

sanggahan tersebut belum diterima oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

Pasal 17

Penunjukan Pemenang Lelang

1. Penunjukan Pemenang Lelang hanya dapat dilakukan setelah tidak ada

sanggahan atau telah ada sanggahan yang sudah diterima oleh Pemerintah

Provinsi Jawa Tengah

2. Berdasarkan penetapan pemutusan pemenang pelelangan, Pemimpin Proyek

menunjuk pemenang pelelangan tersebut sebagai pelaksanaan pekerjaan.

3. Apabila ternyata peserta yang menang mengundurkan diri, dalam hal ini

hanya dapat dilakukan dengan alasan yang dapat diterima oleh Pemimpin

Proyek. Dalam hal yang demikian jaminan penawaran yang bersangkutan

menjadi milik Owner.

4. Dalam hal pemenang pertama pelelangan mengundurkan diri sebagaimana

tersebut dalam ayat 3 di atas, maka pemenang urutan kedua ditunjuk sebagai

pelaksana pemborong, apabila pemenang yang bersangkutan menerima

pelelangan ulang.

5. Apabila pemenang urutan kedua tidak bersedia menerima persyaratan

tersebut maka harus diadakan pelelangan ulang sesuai dengan pasal 14

peraturan ini.

6. Surat Keputusan untuk penunjukan harus dibuat paling cepat delapan hari

kerja selambat-lambatnya sepuluh hari kerja setelah habisnya masa sanggah.

Surat Keputusan penunjukan tersebut harus segera disampaikan kepada

Pemborong/rekanan.

7. Penunjukan hanya berlaku untuk satu kali, ialah untuk melaksanakan

pekerjaan yang telah ditentukan atau yang menjadi pelelangan. Untuk

Page 183: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

183

melaksankan pekerjaan yang tidak termaktub dalam ayat-ayat atau tujuan

pelelangan semula sekalipun untuk pekerjaan yang sejenis harus diadakan

pelelangan sendiri.

8. Surat keputusan tersebut pada ayat 6 pasal ini berikut keputusan penetapan

pemenang, Berita Acara Hasil Pelelangan, Berita Acara Pembukaan Surat

Penawaran, Berita Acara Penjelasan serta Dokumen Pelelangan lainnya

merupakan dasar dari borongan yang akan diadakan.

Pasal 18

Pelelangan Ulang

Surat pelelangan mengalami kegagalan apabila :

1. Penawaran yang masuk kurang dari 5 (lima) pemborong dan yang sah

kurang.

2. Dilaluinya harga standar.

3. Harga-harga yang ditawarkan dianggap tidak wajar.

4. Apabila sanggahan dari rekanan ternyata tidak benar.

5. Berhubung dengan berbagai hal yang tidak memungkinkan mengadakan

pelelangan.

6. Dalam hal pelelangan gagal ataupun pemborong yang ditunjuk

mengundurkan diri atau pemenang urutan kedua tidak bersedia untuk

ditunjuk sebagai pelaksana, maka Panitia (Panitia Pelelangan yang baru)

atas permintaan Pemimpin Proyek yang bersangkutan mengadakan

Pelelangan baru/ulang.

Pasal 19

Penyelesaian Selanjutnya dengan Bea Materai

1. Surat keputusan penunjukan disertai Berita Acara pemberian penjelasan,

Berita Acara Pembukaan Surat Penawaran, Berita Acara Hasil Pelelangan,

Surat Keputusan Pemenang Lelang dan Surat Perjanjian Pemborong

disampaikan kepada :

a. Pemilik Proyek (Owner).

b. Pemborong / rekanan (Salinan autentik bermaterai)

c. Kantor Inspeksi Pajak

Page 184: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

184

d. Instalasi lain yang bersangkutan dengan rekanan sebanding dengan

jumlah borongan masing-masing.

2. Bea materai tersebut dipungut oleh Bendaharawan pada saat pembayaran

uang muka atau pembayaran pertama.

Pasal 20

Pelaksanaan Pemborong

1. Bilamana akan mulai pelaksanaan pekerjaan di lapangan, pihak Pemborong

supaya memberitahukan secara tertulis kepada Pimpinan Proyek / PTP.

2. Pemborong supaya menempatkan seorang kepala pelaksana yang ahli dan

diberi kuasa penuh oleh Direktur Pemborong untuk bertindak atas namanya.

3. Kepala pelaksana yang diberi kuasa penuh harus selalu berada di tempat

pekerjaan agar pekerjaan dapat berjalan dengan lancar sesuai dengan apa

yang ditugaskan Direksi.

4. Penunjukan kepala pelaksana dan pembantu-pembantu agar disertai

referensi pekerjaan dan diberitahukan kepada Pimpinan Proyek.

Pasal 21

Syarat-syarat Pelaksanaan

Kontraktor sebelum memulai melaksanakan pekerjaan diharuskan mengadakan

penelitian antara lain :

1. Lapangan atau lahan yang akan didirikan untuk bangunan yang akan

dikerjakan.

2. Gambar-gambar dan perubahannya secara menyeluruh berikut RKS dan

perubahannya.

3. Penjelasan-penjelasan yang tertuang dalam Berita Acara Aanwijzing.

Pekerjaan harus dilaksanakan menurut :

1. RKS dan gambar-gambar detail untuk keperluan ini.

2. RKS dan segala perubahan-perubahan yang tercantum dalam Berita Acara

Aanwijzing.

3. Petunjuk-petunjuk dari Pimpinan Proyek / PTP dan tim pengawas.

Page 185: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

185

Pasal 22

Penetapan Ukuran-ukuran dan Perubahan-perubahan.

1. Pemborong harus bertanggung jawab atas tepatnya pekerjaan menurut

ukuran-ukuran yang tercantum dalam gambar dan perubahan-perubahan.

2. Bilamana dalam pelasanaan pekerjaan diadakan perubahan-perubahan, maka

perencana harus memuat gambar perubahan (revisi) dengan tanda garis

berwarna di atas gambar aslinya, kesemuanya atas biaya perencana. Gambar

perubahan tersebut harus disetujui oleh Pimpinan Proyek / PTP secara

tertulis.

3. Di dalam melaksanakan pekerjaan pemborongan tidak boleh menyimpang

dari ketentuan-ketentuan yang termuat dalam RKS dan ukuran-ukuran

gambar kecuali seijin dan sepengetahuan Pimpinan Proyek / PTP secara

tertulis.

Pasal 23

Penetapan Ukuran-ukuran dan Perubahan-perubahan.

1. Pemborong harus mengurus penjagaan di dalam dan di luar jam kerja (siang

dan malam) dalam kompleks pekerjaan termasuk bangunan yang sedang

dikerjakan, gudang dan lain-lain.

2. Untuk kepentingan keaman dan penjagaan perlu diadakan penerangan

lampu-lampu pada tempat-tempat tertentu satu dan lain hal, atas kehendak

proyek.

3. Pemborong harus menjaga jangan sampai terjadi kebakaran atau sabotase si

tempat pekerjaan, alat-alat pemadam kebakaran atau alat-alat bantu yang

lain untuk keperluan yang sama harus selalu berada di tempat pekerjaan dan

masih berfungsi.

4. Segala resiko dan kemungkinan kebakaran yang menimbulkan kerugian di

dalam pelaksanaan pekerjaan dan bahan-bahan material judge gudang dan

lain-lain, sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemborong.

Page 186: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

186

Pasal 24

Kesejahteraan dan Keselamatan Kerja

1. Bilamana terjadi kebakaran, pemborong harus segera mengambil tindakan

dan segera membuat laporan tertulis kepada Pimpinan Proyek.

2. Pemborong harus menyediakan obat-obatan yang tersusun menurut syarat-

syarat Palang Merah dan setiap kali habis digunakan harus dilengkapi lagi.

3. Pemborong diwajibkan menaati undang-undang ketenagakerjaan setelah

SPK diterima, ASKES segera diurus.

Pasal 25

Penggunaan Bahan-bahan Bangunan

1. Semua bahan-bahan untuk pekerjaan ini sebelum digunakan harus mendapat

persetujuan dari Tim Pengawas / Pimpinan Proyek dan harus berkualitas

baik.

2. Semua bahan-bahan bangunan yang telah dinyatakan oleh Pimpinan Proyek

tidak dapat dipakai dan harus segera disingkirkan jauh-jauh dari tempat

pekerjaan dalam tempo 24 jam dan hal ini menjadi tanggung jawab

pemborong.

3. Bilamana Pimpinan Proyek / PTP sanksi akan mutu dan kualitas bangunan

yang akan digunakan, Pimpinan Proyek / PTP berhak meminta pemborong

untuk memeriksakan bahan-bahan bangunan tersebut di laboratorium bahan-

bahan bangunan yang akan ditentukan atas biaya pemborong.

4. Diutamakan penggunaan bahan produksi dalam negeri.

Pasal 26

Kenaikan Harga dan Force Mejeure

1. Semua kenaikan harga yang diakibatkan dan bersifat biasa, pemborong tidak

dapat mengajukan claim.

2. Semua kenaikan harga akiabat tindakan Pemerintah Republik Indonesia di

bidang moneter yang bersifat nasional, maka pemborong dapat mengajukan

Page 187: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

187

claim sesuai dengan keputusan dan pedoman resmi Pemerintah Republik

Indonesia.

3. Semua kerugian akibat force mejeur berupa bencana alam (gempa bumi,

angin topan, hujan lebat, pemberontakan, perang dan lain-lain kejadian)

yang mana dapat dibenarkan oleh pemerintah bukan menjadi tanggung

jawab pemborong.

4. Apabila terjadi force mejeur, pihak pemborong harus segera

memberitahukan secara tertulis kepada Pimpinan Proyek paling lambat 24

jam sejak mulai, demikian pula bila force mejeurberakhir.

Pasal 27

Lain-lain

1. Hal-hal yang belum tercantum dalam RKS ini, akan dijelaskan

dalamAanwijzing dan atau akan diberikan petunjuk oleh Pimpinan Proyek,

bilamana terdapat pekerjaan yang sifatnya menunjang penjelasan fisik dan

belum dijelaskan dalam RKS maupun gambar serta penjelasan pekerjaan,

pemborong harus tetap melaksanakan atas biaya pemborong

2. Contoh RAB (Bill of Quantity) yang diberikan, volume tidak mengikat,

pemborong harus menghitung sendiri.

3. Pemborong dalam pekerjaan ini diwajibkan mengurus dan membayar ijin

Mendirikan Bangunan. Surat Permohonan Ijin Mendirikan Bangunan dari

Pimpinan Poroyek sedangkan seluruh pengurusannya menjadi tanggung

jawab pemborong.

4. Besarnya biaya ijin mendirikan bangunan ini, pemborong harus

menanyakannya. pada Pemda setempat.

5. Apabila pengurus ijin tersebut harus dapat menyelesaikan, maka pemborong

harus dapat menunjukkan bukti pembayaran besarnya IBM dari Pemda

setempat kepada Pimpinan Proyek dan kesanggupan membayar apabila

masih ada kekurangan.

Page 188: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

188

5.2. SYARAT – SYARAT ADMINISTRASI

Pasal 1

Jaminan Lelang

1. Jaminan lelang (tender garansi) berupa Surat Jaminan Bank milik

Pemerintah atau Bank Umum/Lembaga Keuangan lain yang ditetapkan oleh

Menteri Keuangan tanggal 24 Februari 1988 Nomor : 205/KMK/013/1988.

2. Bagi Pemborong yang tidak ditetapkan sebagai pemenang pelelangan,

jaminan lelang dapat diambil setelah Panitia mengumumkan pengumuman

pemenang pelelangan.

3. Bagi Pemborong yang ditetapkan menjadi pemenang pelelangan, diberikan

kembali pada saat jaminan pelaksanaan diterima oleh Pemimpin Proyek

sekaligus menerima SPK.

Pasal 2

Jaminan Pelaksanaan

1. Jaminan Pelaksanaan ditetapkan sebesar 5% (lima persen) dari nilai kontrak

2. Jaminan Pelaksanaan diterima oleh Pemimpin Proyek pada saat menerima

SPK.

3. Jaminan Pelaksanaan dapat dikembalikan apabila prestasi mencapai

penyelesaian 100% dan pekerjaan sudah diserahkan untuk yang pertama

kalinya dan diterima dengan baik oleh Proyek (disertai berita acara

Penyerahan ke I).

Jaminan Uang Muka :

1. Besarnya sesuai dengan peraturan yang masih berlaku sebesar 20% dari

kontrak.

2. Uang muka dibayarkan setelah Pemborong menyerahkan Jaminan Uang

Muka dan setelah Pemborong menandatangani kontrak.

3. Pengembalian uang muka secara berangsur-angsur diperhitungkan dalam

tahap pembayaran, yang akan diatur dalam kontrak.

Page 189: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

189

4. Jaminan Uang Muka menjadi milik negara apabila terjadi pemutusan

perjanjian dan dapat dicairkan oleh Pemimpin Proyek secara langsung.

5. Jaminan Uang Muka harus dari Bank yang berdomisili di Semarang.

Pasal 3

Rencana Kerja (Time Schedule)

1. Pemborong harus membuat rencana kerja pelaksanaan pekerjaan yang

disetujui oleh Pemimpin Proyek selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari setelah

SPK diterbitkan serta daftar nama pelaksanaan yang dikerahkan untuk

penyelesaian proyek ini.

2. Pemborong diwajibkan melaksanakan pekerjaan menurut rencana kerja

tersebut.

Pasal 4

Laporan Harian dan Mingguan

1. Konsultan pengawas tiap minggu diwajibkan mengirimkan laporan kepada

Pemimpin Proyek mengenai prestasi pekerjaan disertai laporan harian.

2. Penilaian persentase kerja atas dasar pekerjaan yang sudah dikerjakan, tidak

termasuk adanya bahan-bahan di tempat pekerjaan dan tidak atas dasar

besarnya pengeluaran uang oleh Pemborong.

3. Contoh blangko harian dan mingguan dapat berkonsultasi dengan Proyek.

4. Atas keterlambatan pembuatan laporan harian dan mingguan oleh Konsultan

pengawas akan diatur secara teratur oleh pihak proyek.

Pasal 5

Pembayaran (Pasal 50 dari A.V)

1. Pembayaran uang muka dapat dibayarkan setelah Surat Perjanjian

Pemborongan selesai ditandatangani oleh pihak pertama dan pihak kedua

telah menyerahkan jaminan uang muka dari Bank lainnya atau Lembaga

Keuangan lainnya sebagaimana diatur dalam Keppres 16/1994 Tentang

Pelaksanaan Anggaran Pendapatan Belanja Negara, Bab I Pedoman Pokok,

Bagian Ketiga Pengeluaran Anggaran Pasal 22 ayat (4a) yang berbunyi :

Page 190: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

190

“Uang muka dapat diberikan sebesar 30% dari nilai surat perjanjian/kontrak

bagi golongan ekonomi lemah dan sebesar 20% dari nilai surat

perjanjian/kontrak bagi golongan bukan ekonomi lemah”. Dikarenakan

proyek diperuntukan bagi kontraktor yang bukan golongan ekonomi lemah

dan berdasar pada peraturan tersebut, maka uang muka diberikan sebesar

20% dari Nilai Kontrak serta dilakukan setelah selesainya penandatanganan

Surat Perjanjian Pemborongan ini oleh kedua belah pihak.

2. Pembayaran angsuran selanjutnya diatur sebagai berikut :

a. Angsuran pertama dibayarkan sebesar 30% dari nilai kontrak yang telah

dikurangi dengan 6% (30% dari uang muka) atau sebesar 24% dari Nilai

Kontrak, setelah pekerjaan mencapai prestasi 40% dan dinyatakan dalam

Berita Acara Pemeriksaan Kemajuan Prestasi Pekerjaan Pelaksanaan

yang diuat oleh pihak pertama dan diketahui pejabat yang berwenang.

b. Angsuran kedua dibayarkan sebesar 30% dari nilai kontrak yang telah

dikurangi dengan 6% (30% dari uang muka) atau sebesar 24% dari Nilai

Kontrak, setelah pekerjaan mencapai prestasi 70% dan dinyatakan daam

Berita Acara Pemeriksaan Kemajuan Prestasi Pekerjaaan Pelaksanaan

yang dibuat oleh pihak pertama dan diketahui pejabat yang berwenang.

c. Angsuran ketiga dibayarkan sebesar 30% dari nilai kontrak yang telah

dikurangi dengan 6% (30% dari uang muka) atau sebesar 24% dari Nilai

Kontrak, setelah pekerjaan mencapai prestasi 100% dan diserahkan

Pertama Kalinya (Serah Terima I) dinyatakan dengan Berita Acara yang

telah disetujui pihak pertama dan diketahui pejabat yang berwenang.

d. Angsuran keempat (terakhir) dibayarkan sebesar 10% dari nilai kontrak

yang telah dikurangi dengan 2% (10% dari uang muka) atau sebesar 8%

dari Nilai Kontrak, setelah pihak kedua menyelesaikan perbaikan-

perbaikan selama masa pemeliharaan dan pekerjaan diserahkan untuk

yang kedua kalinya (Serah Terima II) dinyatakan dengan Berita Acara

Serah Terima Kedua yangdisetujui pihak pertama dan diketahui pejabat

yang berwenang.

3. Tiap mengajukan pembayaran angsuran (termijn) harus disertai Berita Acara

Pemeriksaan, dilampiri daftar hasil kemajuan pekerjaan dan foto berwarna.

Page 191: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

191

4. Pada penyerahan pekerjaan baik pada penyerahan pertama maupun

penyerahan kedua harus disertai Berita Acara Pemeriksaan, dilampiri daftar

hasil kemajuan pekerjaaan dan foto berwarna. Khusus untuk penyerahan

kedua ditambah dengan As Built Drawing.

Pasal 6

Surat Perjanjian Pemborongan (Kontrak)

1. Surat Perjanjian Pemborongan/Kontrak seluruhnya dibubuhi materai Rp

6000,00 atas biaya pemborong.

2. Surat Perjanjian Pemborongan/Kontrak dibuat rangkap 15 (lima belas) atas

biaya pemborong.

3. Konsep Kontrak dibuat oleh Pemimpin Proyek, sedangkan lampiran-

lampiran dan seluruh Kontrak disiapkan oleh pemborong, antara lain:

a. Bestek dan Voorwaarden/ RKS yang disahkan.

b. Berita Acara Aanwijzing yang disahkan.

c. Berita Acara Pembukaan Surat Penawaran.

d. Berita Acara Evaluasi.

e. Usulan Penetapan Pemenang.

f. Penetapan dan Pengumuman Pemenang.

g. SPK (Gunning) dan Surat Penawaran besarta lampiran-lampirannya.

h. Foto copy Jaminan Pelaksanaan dan Gambar Pelaksanaan.

Pasal 7

Permulaaan Pekerjaan

1. Selambat-lambatnya dalam waktu 1 (satu) minggu terhitung dari SPK

(Gunning) dikeluarkan oleh Pemimpin Proyek, pekerjaan harus sudah

dimulai.

2. Bilamana ketentuan seperti tersebut pasal 7 di atas tidak dipenuhi, maka

jaminan pelaksanaan dinyatakan hilang dan menjadi milik pemerintah.

Page 192: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

192

3. Pemborong wajib memberitahukan kepada Pemimpin Proyek bila akan

memulai pekerjaan dan Pemborong wajib melakukan pemotretan dari 0%

sampai 100% dan dicetak menurut petunjuk konsultan pengawas.

Pasal 8

Penyerahan Pekerjaan

1. Jangka waktu pelaksanaan pekerjaan selama 150 hari kalender, termasuk

hari besar dan hari raya.

2. Pekerjaan dapat diserahkan uang pertama kalinya bilamana pekerjaan sudah

selesai 100% dan dapat diteriam dengan baik oleh Pemimpin Proyek dengan

disertai Berita Acara dan dilampiri daftar kemajuan pekerjaan.

3. Untuk memudahkan dalam suatu penelitian sewaktu diadakan pemeriksaan

teknis dalam rangka penyerahan ke I, maka surat permohonan pemeriksaaan

teknis yang diajukan kepada Pemimpin Proyek supaya dilampiri:

a. Daftar kemajuan pekerjaan

b. Empat album berisi foto berwarna yang menyatakan prestasi pekerjaan

4. Surat permohonan pemeriksaan teknis yang dikirim kepada pemimpin

proyek harus sudah dikirimkan selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari sebelum

batas waktu penyerahan pertama kalinya berakhir.

Pasal 9

Masa Pemeliharaan (Onderhoud Termijn)

1. Jangka waktu pemeliharaan adalah 30 (tiga puluh) hari kalender setelah

penyerahan pertama.

2. Bilamana dalam masa pemeliharaan (Onderhoud Termijn) terjadi kerusakan

akibat kurang sempurnanya dalam pelaksanaan atau kurang baiknya mutu

bahan-bahan yang dipergunakan, maka Pemborong harus segera

memperbaiki dan menyempurnakan.

3. Meskipun pekerjaan telah diserahkan yang kedua kalinya namun

Pemborong masih terikat pada pasal 9.

Pasal 10

Page 193: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

193

Perpanjangan Waktu Penyerahan

1. Surat permohonan perpanjangan waktu penyerahan petama yang diajukan

kepada Pemimpin Proyek harus sudah diterima selambat-lambatnya 15

(lima belas) hari sebelum batas waktu penyerahan pertaam kali berakhir dan

surat tersebut supaya dilampiri :

a. Data-data yang lengkap.

b. Time schedule baru yang sudah disesuaikan dengan sisa pekerjaan.

2. Surat permohonan perpanjangan waktu penyerahan tanpa data yang lengkap

tidak akan dipertimbangkan.

3. Permintaan perpanjangan waktu penyerahan pekerjaan yang pertama kalinya

dapat diterima oleh Pemimpin Proyek bilamana :

a. Adanya pekerjaan tambahan atau pengurangan (meer of minderwork)

yang tidak dapat dielakkan lagi setelah atau sebelum kontrak yang

ditandatangani oleh kedua belah pihak.

b. Adanya surat perintah tertulis dari Pemimpin Proyek tentang pekerjaan

tambahan untuk sementara waktu dihentikan.

c. Adanya force majeure (bencana alam, gangguan keamanan,

pemogokkan, perang) kejadian mana harus diteguhkan oleh yang

berwenang.

d. Adanya gangguan curah hujan terus menerus di tempat pekerjaan dan

secara langsung mengganggu pekerjaan yang dilaporkan oleh Konsultan

Pengawas dilegalisir oleh Unsur Teknis yang bersangkutan.

e. Pekerjaan tidak dapat dimulai tepat pada waktu yang telah ditentukan

karena lahan yang dipakai untuk bangunan masih ada masalah.

Pasal 11

Sanksi / Denda

1. Bilamana batas waktu penyerahan yang pertama kalinya dilampui (tidak

dipenuhi), maka pemborong dikenakan denda / diwajibkan membayar denda

1‰ (satu permil) tiap hari, maksimal 5% (lima persen).

2. Menyimpang dari pasal 49 A.V. terhadap segala kelalaian mengenai

peraturan atau tugas yang tercantum dalam bestek ini, maka sepanjang tidak

Page 194: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

194

aad ketetapan denda lainnya, pemborong dapat dikenakan denda sebesar 1‰

(satu permil) tiap kali terjadi kelalaian dengan tidak diperlukan

pengecualian.

3. Bilamana ada perintah untuk mengerjakan pekerjaan tambahan dan tidak

disebutkan jangka waktu pelaksanaannya, maka jangka waktu pelaksaan

tersebut tidak akan diperpanjang.

4. Bilamana jangka waktu penyerahan kedua yang telah ditetapkan dilampui,

maka pemborong dikenakan sama dengan sub 1.

Pasal 12

Pekerjaan Tambahan dan Pengurangan

1. Harga untuk pekerjaan tambahan yang diperintahkan secara tertulis oleh

Pemimpin Proyek , pemborong dapat mengajukan pembayaran tambahan.

2. Sebelum pekerjaan tambahan dikerjakan, pemborong agar mengajukan

kepada Pemimpin Proyek untuk diperhitungkan pembayarannya.

3. Didalam mengajukan daftar RAB pekerjaan tersebut ditambah 10%

keuntungan Pemborong dari Bouwsoom dan Pajak Jasa 10% dari jumlah

(Bouwsoom + keuntungan pemborong). Untuk memperhitungkan pekerjaan

tambahan dan pengurangan menggunakan harga satuan yang telah

dimasukkan dalam Penawaran (Kontrak).

4. Bilamana harga satuan pekerjaan belum tercantum dalam surat penawaran

yang diajukan, maka akan disesuaikan secara musyawarah.

Pasal 13

Dokumentasi

1. Sebelum pekerjaan dimulai, keadaan lapangan atau tempat pekerjaan masih

0% supaya diadakan pemotretan di tempat yang dianggap penting menurut

pertimbangan Direksi dengan ukuran 9 × 14 cm sebanyak 4 (empat) stel.

2. Setiap permintaan pembayaran termijn (angsuran) dan penyerahan pertama

harus diadakan pemotretan yang masing-masing menurut pengajuan termijn

dengan ukuran 9 × 14 cm sebanyak 4 (empat) stel.

Page 195: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

195

3. Sedangkan ukuran foto berwarna untuk penyerahan pekerjaan yang pertama

kalinya 10R sebanyak 4 (empat) stel, foto tersebut harus dimasukkan pigura.

Pasal 14

Pendaftaran Gedung

Konsultan Pengawas wajib membantu Pemimpin Proyek menyelesaikan

pendaftaran gedung untu mendapatkan himpunan daftar nomor (legger kart)

dari Direktorat Tata Bangunan di Jakarta, yang terdiri dari:

1. Gambar situasi sesuai dengan pelaksanaan, skala 1 : 500, sebanyak 8

(delapan) exemplar.

2. Gambar denah sesuai dengan pelaksanaan, skala 1 : 200, sebanyak 8

(delapan) exemplar.

3. Daftar perhitungan luas bangunan bagian luar dan bagian dalam.

4. Foto copy ijin bangunan sebanyak 8 (delapan) exemplar.

5. Akte/keterangan tanah sebanyak 8 (delapan) exemplar.

6. Kartu/legger sebanyak 8 (delapan) exemplar.

7. Foto copy pemasangan instalasi listrik dan penangkal petir sebanyak 8

(delapan) exemplar.

8. Surat penawaran dari instalatur, baik listrik maupun penangkal petir

(Depnaker) yang telah disetujui masing-masing instansi yang berwenang

bahwa pemasangan sudah 100% selesai sebanyak 8 (delapan) exemplar.

Pasal 15

Pencabutan Pekerjaan

1. Sesuai dengan Pasal 62 A.V. Sub 3b, Pemimpin Proyek berhak

membatalkan atau mencabut pekerjaan dari tangan Pemborong apabila

ternyata pihak pemborong telah menyerahkan pekerjaan keseluruhan atau

sebagian pekerjaan kepada pemborong lain, semata-mata mencari

keuntungan dari pekerjaan tersebut.

2. Pada pencabutan pekerjaan, Pemborong dapat dibayar hanya pekerjaan yang

telah selesai dan telah diperiksa serta disetujui oleh Pemimpin Proyek,

Page 196: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

196

sedangkan harga bangunan yang berada di tempat menjadi resiko

pemborong sendiri.

3. Penyerahan bagian-bagian seluruh pekerjaan kepada pemborong lain (order

aanemer) tanpa seijin tertulis dari Pemimpin Proyek tidak diijinkan.

4. Bilamana terjadi pihak kedua menyerahkan seluruhnya maupun sebagian

pekerjaan kepada pihak ketiga tanpa seijin pihak pertama, maka akan

diperingatkan oleh pihak pertama secara tertulis.

5.3. SYARAT – SYARAT TEKNIS

Pasal 1

Pekerjaan Persiapan

Sarana Pekerjaan

1. Sebelum kegiatan pelaksanaan dimulai, Kontraktor harus mengajukan

rencana mobilisasi kepada Direksi pekerjaan untuk disetujui.

2. Untuk perncanaan pelaksanaan pekerjaan, Kontraktor harus menyediakan

peralatan, material, tenaga kerja/tenaga ahli.

Daerah Kerja (Situasi)

1. Areal untuk daerah kerja disediakan oleh pemeri tugas.

2. Yang dimaksud daerah kerja adalah lokasi pekerjaan yang akan dikerjakan

atau diselesaikan oleh kontraktor.

3. Kontraktor dalam melaksanakan pekerjaan harus mempergunakan metode

kerja yang telah disetujui oleh Direksi Pekerjaan sehingga tidak

mengganggu stabilitas maupun kekuatan bangunan yang telah terpasang.

4. Apabila terjadi kerusakan ataupun ketidakstabilan kekuatan bangunan yang

telah terpasang, kontraktor wajib memulihkan seperti kondisi semula dengan

biaya kontraktor.

Ruang Direksi dan Ruang Gudang

1. Kontraktor diwajibkan membuat gudang yang cukup luas di tempat

pekerjaan lengkap dengan kunci dan perabotan yang diperlukan sesuai

dengan persetujuan Direksi Pekerjaan.

2. Gudang harus dibuat kontraktor dengan konstruksi memenuhi syarat-syarat

teknis bangunan.

Page 197: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

197

3. Penempatan material / peralatan kerja di luar gudang tidak boleh

mengganggu operasional dan penempatannya harus disetujui oleh Direksi

Pekerjaan

4. Kantor lapangan ini akan dipakai oleh manajer pelaksanan yang diberikan

kekuasaan untuk menerima instruksi dan lain-lain dari Direksi Pekerjaan.

Peralatan dan Sarana Kerja

1. Kontraktor harus menyediakan peralatan kerja yang baik dan siap pakai

yang diperlukan sesuai dengan macam dan volume pekerjaan.

2. Jika dipandang perlu selama pelaksanaan; kontraktor harus menambah

pekerja, kapasitas / kuantitas serta kualitas peralatan yang dipergunakan

bilamana ternyata terdapat kerusakan peralatan yang mengakibatkan

pelaksanaan pekerjaan terlambat dan kemajuan pekerjaan tidak seperti yang

diharapkan dalam time schedule.

3. Untuk pelaksanaan pekerjaan ini pemberi tugas / Direksi Pekerjaan tidak

menyediakan / meminjamkan peralatan kerja.

4. Selama pelaksanaan pekerjaan apabila kontraktor akan memindahkan /

mengangkut peralatan ke luar dari daerah pekerjaan, harus seijin tertulis dari

Direksi Pekerjaan.

5. Sarana kerja (air dan listrik) harus disediakan oleh kontraktor. Air yang

tersedia di lokasi tidak boleh digunakan untuk pekerjaan konstruksi.

Pembersihan Lapangan

1. Sebelum kontraktor memulai dengan pekejaan penggalian, penempatan

bahan urugan atau penimbunan bahan, semua bagian lapangan yang

dikerjakan atau ditempati, harus dibersihkan dari semua tumbuhan dan

sampah yang kemudian dibuang ke luar lokasi pekerjaan. Semua

pembiayaan dan tanggung jawab ditanggung kontraktor.

Pekerjaan Pengukuran dan Bouwplank

1. Sebelum pekerjaan dimulai, kontraktor harus melakukan pengukuran serta

pendistribusian titik-titik kontrol sesuai ketelitian yang diperluakan. Hal ini

berguna untuk penentuan, antara lain: letak dan kedudukan bangunan,

elevasi galian, batas daerah kerja, elevasi titk pembantu dan elevasi titik

Page 198: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

198

ikat. Masing-masing pengukuran harus disesuaikan dengan gambar rencana

dan dilaporkan pada Direksi Pekerjaan guna mendapatkan persetujuan.

2. Titik tetap (ikat). Sebelum pekerjaan dimulai kontraktor harus membuat BM

yang baru dari titik utama/BM yang terdekat. Pada tiap lokasi bangunan

ditempatkan sebuah titik kontrol yang diikatkan dengan titik tetap. Bahan

dari kedua titik tersebut dibuat dari beton masing-masing berukuran

(30×30×80)cm dan (20×20×80)cm yang ditanamkan cukup kuat menurut

petunjuk Direksi Pekerjaan.

3. Bouwplank dibuat dan dipasang di tempat yang tidak terganggu dan

kedudukanny harus selalu terkontrol atau tidak berubah. Bahan Bouwplank

ditentukan dari papan, dari kayu sekualitas kayu kamper.

Dasar Ukuran Tinggi dan Pengukuran

1. Kontraktor harus membuat peil pokok / patok utama untuk setiap unit

pekerjaan yang memerlukan bouwplank.

2. Peil pokok tersebut harus diikatkan ketinggiannya dengan peil yang sudah

ada atau terhadap tinggi peil setempat yang disetujui oleh Direksi Pekerjaan

atas biaya kontraktor.

3. Kontraktor harus memberitahukan kepada Dewan Pekerjaan dalam waktu

tidak kurang dari 48 jam sebelum dimulai pemasangan patok-patok

bouwplank.

4. Jika pemasangan bouwplanksalah maka kotraktor harus membetulkan

sampai disetujui oleh Direksi Pekerjaan atas biaya kontraktor

Keamanan dan Ketertiban

1. Kontraktor harus dapat menangulangi keamanan dan ketertiban dalam

lingkungan proyek.bial terjadi kehilangan barang, peralatan dan bahan-

bahan material adalah tanggung jawab kontraktor.

Gambar Spesifikasi Teknik

1. Bila dalam gambar-gambar pelaksanaan terdapat kekurangan atau kurang

jelas, maka spesifikasi teknik digunakan dengan maksud tersebut selain

maksud-maksud penjelasan lainnya.

Page 199: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

199

Pasal 2

Pekerjaan tanah

Umum

1. Kontraktor harus menyediakan tenaga kerja, bahan perlengkapan, alat

pengangkut dan piranti lain yang diperlukan untuk pekerjaan tanah.

2. Semua penggalian dan cara pengurugan harus sesuai dengan ketentuan

spesifikasi dan disetujui Direksi pekerjaan.

3. Karena sifat tanah yang berbeda, ada kemungkinan terjadi perubahan

perancangan pada pelaksanaan pekerjaan untuk tanah dengan persetujuan

Direksi pekerjaan.

Pekerjaan Galian

1. Bahan galian daerah pembangunan dapat dipergunakan bila memadai untuk

urugan. Penggalian melebihi batas yang ditentukan harus diurug kembali

sehingga mencapai pile yang ditetapkan dengan bahan urugan yang

dipadatkan. Toleransi pelaksanaan yang dapat diterima untuk penggalian

adalah ± 50 mm terhadap keratakan pile yang ditentukan.

2. Galian tanah dimulai setelah pemasangan patok/ bouwplank disetujui oleh

Direksi Pekerjaan.

3. Galian tanah harus dilakukan menurut ukuran dalam, lebar yang sesuai

dengan pile-pile yang tercantum dalam gambar.

4. Kemiring pada galian harus pada sudut kemiringan (talud) yang aman.

5. Dasar galian harus bebas dari lumpur, humus dan air.

6. Apabila galian melebihi kedalaman yang ditentukan, kontraktor harus

mengisi/ mengurangi daerah tersebut dengan bahan-bahan yang sesuai

dengan syarat-syarat pengisian bahan pondasi yang sesuai dengan

spesifikasi pondasi.

7. Kontraktor harus menjaga agar lubang-lubang galian pondasi tersebut bebas

dari longsor tanah, bila perlu dilindungi oleh alat-alat penahan tanah dan

bebas dari genangan air sehingga pekerjaan pondasi dapat dilakukan dengan

baik sesuai dengan sepesifikasi.

8. Kontraktor hendaknya menyiapkan tempat yang disetujui oleh Direksi

Pekerjaan untuk menampung tanah hasil galian oleh kontraktor.

Page 200: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

200

Pekerjaan Urugan

1. Bahan urugan harus dipadatkan sekurang-kurangnya mencapai kepadatan

95% AASHTO.

2. Urugan pasir dilakukan dibawah semua lantai dengan tebal sesuai gambar

termasuk lantai rabat.

3. Pada bekas galian pondasi sebelah dalam bangunan diurug dengan pasir.

4. Urugan pasir harus disiram air kemudian ditumbuk hingga padat dengan

ketebalan 10 cm.

5. Bahan urugan untuk pelaksanaan pengerasan harus disebarkan dalam

lapisan-lapisan yang rata dengan ketebalan tidak melebihi 30 cm pada

keadaan gembur.

6. Gumpalan-gumpalan tanah harus digemburkan dan bahan tersebut harus

dicampur dengan cara menggaruk atau cara sejenisnya hingga diperoleh

lapisan yang kepadatannya sama.

7. Setiap lapisan harus diarahkan pada kepadatan yang dibutuhkan dan

diperiksa melalui pengujian lapangan sebelum dimulai dengan lapisan

berikutnya. Bila bahan tersebut tidak mencapai kepadatan yang dikehendaki,

lapisan tersebut diulang kerjakan untuk mendapatkan kepadatan yang

dibutuhkan.

Penyangga penahan tanah

1. Kontraktor harus membuat untuk penyangga-penyangga penahan tanah yang

diperlukan selama pekerjaan dan galian tambahan atau bila urugan

diperlukan.

2. Kontraktor diharuskan untuk melaksanakan dan merawat semua tebing dan

galian yang termasuk dalam kontrak, memperbaiki longsoran-longsoran

tanah selama massa kontrak dan masa pemeliharaan.

Pekerjaan Dewatering

1. Penggalian tanah harus dikerjakan dalam keadaan kering.

2. Permukaan air tanah yang diturunkan harus dalam keadaan terkontrol penuh

setiap waktu untuk menghindari fluktuasi yang dapat mempengaruhi

kestabilan penggalian (longsor).

Page 201: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

201

3. Untuk mencegah kehilangan butit-butir tanah akibat pemompaan maka

harus disediakan filter-filter secukupnya dan dipasang sekeliling sumur yang

dipompa.

4. Jumlah dan kapasitas pompa harus diadakan secukupnya.

5. Sistem pemompaan tidak boleh mengakibatkan penurunan dari jalan-jalan/

bangunanyang ada.

6. Setiap pipa-pipa dewatering yang tertinggal setelah pengecoran lantai harus

ditutup dari dalam dan luar untuk mencegah kebocoran plat.

Pasal 3

Pekerjaan Tiang Pancang

1. Pekerjaan tiang pancang meliputi penyediaan tenaga kerja dan bahan-bahan

material untuk pekerjaan tersebut dan perlengkapannya, serta mesin-mesin

yang diperlukan.

2. Sebelum dilaksanakan pekerjaan tiang pancang dilakukan pengukuran-

pengukuran untuk menentukan titik-titik dimana tiang akan dipancangkan

sesuai gambar yang telah disetujui oleh Direksi pekerjaan serta petunjuk

dari brosur-brosur peralatan yang akan ditempatkan pada pondasi tiang

pancang tersebut.

3. Metode pengangkatantiang pancang menggunakan dua macam yaitu:

a. Pengangkatan lurus dengan dua tumpuan yang setiap tumpuan berjarak

masing-masing 2.071 m dari kedua ujung tiang sehingga momen yang

terjadi pada tiang seimbang, metode ini digunakan untuk memindahkan

tiang pancang.

b. Pengangkatan membentuk sudut α dengan pengangkatan satu tumpuan

yang berjarak 2,929 dari pangkal tiang dan 17,071 dari ujung tiang

dengan metode pengangkatan ini momen lebih besar. Sehingga

perhitungan tulang dihitung dengan metode ini dan digunakan pada saat

pemancangan.

Pasal 4

Pekerjaan Pondasi

Page 202: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

202

1. Pekerjaan pembuatan pondasi meliputi penyediaan tenaga kerja dan bahan-

bahan material untuk pekerjaan tersebut dan perlengkapannya, serta mesin-

mesin yang diperlukan.

2. Sebelum dilaksanakan pekerjaaan pondasi dilakukan pengukuran-

pengukuran untuk menentukan as-as pondasi dan lubang kedudukan serta

petunjuk dari brosur-brosur peralatan yang akan ditempatkan pada pondasi

tersebut.

3. Untuk menjaga kemungkinan adanya air dalam tanah galian baik pada saat

penggalian maupun pekerjaan pondasi dilakukan, pihak pemborong harus

menyediakan pompa yang dapat digunakan bila diperlukan.

4. Tanah asli sebagai dasar harus sudah padat dan selanjutnya diatasnya

dipadatkan lagi dengan pasir urug setalah itu dibuatkan lantai beton tumbuk

1Pc : 3Ps : 5Kr setebal sesuai gambar.

Pasal 5

Pekerjaan Lantai Kerja

1. Lantai kerja dengan bentuk dan tebal seperti gambar dibuat dengan

campuran 1 Pc : 2 Ps : 3 Kr harus dibuat dibawah setiap kontruksi beton

bertulang yang langsung terletak diatas tanah.

Pasal 6

Pekerjaan Pasangan Batu

1. Pekerjaan pasang dilaksanakan pada bagaian kontruksi yang ditunjukkan

dalam gambar kontrrak dan tempat lainnya yang ditunujuk Direksi

pekerjaan.

2. Batu yang dipakai untuk pasangan tidak boleh berbentuk bulat melainkan

batu belah. Kotoran yang melekat pada permukaan batuan harus dibersihkan

bebas jenis tidak humus serta cacat-cacat lain. Batu tersebut harus

mempunyai berat jenis tidak kurang dari 2,5 t/m3 dan sebelum dipasang

batu-batu itu harus dibasahi ada rongga antar batu.

3. Pemasangan batu harus tersusun rapi, seluruhnya terselimuti oleh adukan

dan tidak boleh ada rongga antar batu.

Page 203: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

203

4. Semua pasangan batu yang tampak dari luar, permukaannya harus rata,

susunan batu antara yang satu dengan yang lainnya harus diatur (dengan

jarak 1 – 1,5 cm).

5. Batu harus dipasang dengan tangan sedemikian rupa sehingga setiap batu

terbungkus seluruhnya oleh adukan. Perbandingan campuran untuk semua

pekerjaan pasangan batu menggunakan campuran 1Pc : 3Pp, dan campuran

1Pc : 2 Pp kecuali ditentukan oleh Direksi Pekerjaan.

6. Bila pekerjaan dihentikan karena hujan lebat, maka pasangan yang masih

baru harus dilindungi dengan baik.

Pasal 7

Pekerjaan Pembesian

1. Baja tulangan harus memenuhi ketentuan fy = 240 MPa (Tegangan leleh

karakteristik 240 kg/cm2).

2. Semua baja tulangan yang digunakan harus memenuhi syarat bebas dari

kotoran, lapisan lemak, minyak, kasar dan tidak bercacat.

3. Sebelum besi dipasang, besi beton harus dalam keadaan bersih, dan

kebersihan ini harus tetap terjaga sampai proses pengecoran.

4. Pembengkokkan besi harus dilakukan tenaga ahli dengan menggunakan alat

sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan cacat, patah, retak-retak dan

sebagainya.

5. Sebelum penyetelan dan pemasangan kontraktor harus membuat rencana

kerja pemotongan dan pembengkokan baja tulangan yang sebelumnya

mendapat persetujuan dari Direksi Pekerjaan.

6. Besi beton harus dibentuk dengan teliti hingga tercapai bentuk dan dimensi

sesuai gambar rencana. Besi tulangan dengan kondisi yang tidak lurus atau

dibengkok dengan tidak sesuai dengan gambar tidak diperkenankan

dipasang.

7. Bila besi tulangan telah siap didudukan pada balok beton kecil yang

berfungsi sebagai selimut beton. Dalam segala selimut beton tidak boleh

kurang dari 3 cm.

Page 204: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

204

8. Pada tulangan rangkap, tulangan atas harus ditunjang pada tulangan bawah

oleh batang-batang penunjang atau ditunjang lansung pada cetakan bawah

atau lantai oleh blok-blok beton yang tinggi.

Pasal 8

Pengujian Adukan Beton

1. Mutu beton yang dipakai sesuai dengan petunjuk yang ada pada gambar

rencana. Untuk memperoleh beton yang diinginkan kontraktor harus

membuat adukan percobaan (mix design).

2. Pemborong sekurang-kurangnya empat minggu sebelum memulai pekerjaan

beton harus membuat adukan percobaan (trial mixes) dengan menggunakan

contoh bahan-bahan beton yang akan digunakan nantinya.

3. Agar supaya kualitas beton yang diigunakan dapat dikontrol dengan baik

harus dilakukan test-test oleh laboratotium (Slump test and Compression

test) yang mendapat persetujuan dari Direksi Pekerjaan.

4. Jumlah benda uji dibuat sesuai ketentuan dalam SNI dan mutu beton harus

diperiksa untuk umum 3 hari, 7 hari dan 28 hari untuk setiap macam adukan

yang diambil contohnya.

5. Cetakan bendauji berbentuk silinder dan memenuhi syarat SNI, adapun

ukuran kubus coba adalah diameter alas 15 cm2 x tinggi 30 cm

2.

Pengambilan adukan beton harus dibawah pengawasan Direksi dan

prosedurnya harus memenuhi syarat-syarat dalm SNI.

6. Kubus coba harus diidentifikasi dengan suatu kode yang dapat menunjukkan

tanggal pengecoran pembuatan adukan dan lain-lain yang perlu dicatat.

7. Kontraktor diharuskan membuat percobaan pendahuluan (trial test) atas

kubus coba sejumlah 20 buah untuk setiap proporsi adukan yang

dikehendaki dan untuk masing-masing percobaan pada umur 3,7 dan 28

hari.

8. Laporan hasil percobaan harus segera diserahkan kepada Direksi utnuk

diperiksa dan disetujui dimana harus dicantumkan harga karakteristik,

deviasi, slump, tanggal pengecoran dan pengetesan yang dilakukan.

Page 205: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

205

9. Tidak boleh lebih dari satu diantara 20 nilai hasil percobaan kubus coba

berturut-turut terjadi kurang dari kuat tekan karaktertistik rencana.

10. Semua biaya diatas mejadi tanggung jawab kontraktor.

Pasal 9

Pekerjaan Atap Baja Ringan

1. Pekerjaan struktur atap baja ringan ialah bagian-bagian yang dalam gambar

rencana dinyatakan sebagai konstruksi struktur baja ringan.

2. Baja ringan yang digunakan dengan spesifikasi sebagai berikut :

a. Mutu Baja profil siku : BJ 37

b. Tegangan Leleh Baja : Fy 240 Mpa

c. Tegangan Ultimate Baja : Fu 370 Mpa

d. Penutup Atap : Genteng ( ukuran 50 Kg/m2)

e. Menggunakan sambungan Baut (BJ 37) , dimana baut yang dipakai

harus memenuhi standart desaign

3. Pola pengukuran , pola yang dan peralatan yang dibutuhkan untuk menjamin

ketelitian pekerjaan harus disediakan oleh kontraktor pabrikasi. Semua

pengukuran harus dilakukan dengan menggunakan pita-pita baja yang tekah

disetujui.

Pasal 10

Pekerjaan Bekisting

1. Acuan dibuat dari kayu dan multipleks / tripleks dengan tebal minimum 9

mm serta harus memenuhi syarat-syarat kekuatan, daya tahan dan

mempunyai permukaaan yang baik untuk pekerjaan finishing.

2. Acuan harus dipasang sesuai dengan ukuran-ukuran jadi yang ada di dalam

gambar dan menjamin bahwa ukuran-ukuran tersebut tidak akan berubah

sebelum dan selama pengecoran.

3. Acuan harus dipasang sedemikian rupa sehingga tidak akan terjadi

kebocoran atau hilangnya air selama pengecoran, tetap lurus dan tidak

goyang.

Page 206: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

206

4. Acuan harus dibersihkan dari segala kotoran yang melekat, seperti

potongan-potongan kayu, paku, tahi geraji, tanah dan sebagainya yang akan

dapat merusak beton yang sudah jadi pada waktu pembongkaran acuan.

5. Cetakan harus menghasilkan konstruksi akhir yang mempunyai bentuk dan

ukuran dan batas-batas yang sesuai dengan gambar.

6. Cetakan harus kokoh dan cukup rapat sehingga dapat dicegah kebocoran,

cetakan harus diberi ikatan-ikatan atau penyangga / penyongkong

secukupnya sehingga terjamin kedudukan dan bentuknya yang tetap.

7. Cetakan dan acuan harus dibuat dari bahan yang baik, tidak meresap air,

mudah dibongkar tanpa merusak konstruksi beton. Oleh karena itu cetakan

diolesi dengan pelumas.

Pasal 11

Pekerjaan Adukan Beton

Adukan beton yang dibuat setempat harus memenuhi syarat :

1. Pelaksanaan penakaran semen dan agregat harus dengan kotak-kotak

takaran yang volumenya sama sesuai hasil trial mix dan disetujui oleh

Direksi Pekerjaan.

2. Banyaknya air untuk campuran beton harus sesuai dengan aturan yang

berlaku sehingga tercapai sifat workability sesuai dengan penggunaanya.

3. Adukan beton dibuat dengan menggunakan alat pengadaan mesin (batch

mixer), type dan kapasitasnya harus mendapat persetujuan Direksi

Pekerjaan.

4. Kecepatan pengadukan sesuai rekomendasi dari pembuat mesin tersebut.

5. Jumlah adukan beton tidak boleh melebihi kapasitas mesin pengaduk dari 2

menit.

6. Lama pengadukan tidak kurang dari 2 menit sesudah semua bahan berada

dalam mesin pengaduk.

7. Mesin pengaduk yang tidak dipakai lebih dari 30 menit harus dibersihkan

dahulu sebelum adukan beton yang baru dimulai.

Pasal 12

Page 207: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

207

Pekerjaan Pengecoran Beton

1. Pengecoran tidak boleh dikerjakan sebelum pemasangan acuan telah benar-

benar sempurna.

2. Sebelum pekerjaan pengecoran dimulai, semua alat-alat, material dan

pekerjaan harus ada di tempat termasuk perlengkapan penerangan bilamana

pengecoran diperkirakan sampai malam.

3. Pengecoran dilakukan sebaiknya setelah pengadukan dan beton mulai

mengeras. Pekerjaan pengecoran beton harus diselesaikan dalam waktu

paling lama 20 menit sesudah keluar dari mixer.

4. Adukan beton tidak boleh dijatuhkan lebih tinggi 1,5 meter dan tidak

diperkenankan menimbun beton dalam jmlah yang banyak di satu tempat.

5. Untuk dinding beton, pengecoran dilakukan lapis demi lapis horisontal

setebal kurang dari 30 cm menurun.

6. Slump test harus dilakukan selama pelaksanaan pengecorn untuk menjamin

agar nilai air semen sesuai yang disyaratkan.

7. Beton dipadatkan dengan menggunakan vibrator selama pengecoran

berlangsung dan dilakukan sedemikian rupa sehingga tidak merusak acuan

maupun posisi tulangan.

Page 208: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

208

BAB VI

RENCANA ANGGARAN DAN BIAYA

6.1. Pendahuluan

Untuk mengetahui dana Pelaksanaan fisik yang telah direncanakan, maka

diperlukan Rencana Anggaran Biaya. Rencana anggaran biaya ini meliputi biaya

langsung dan biaya oprasional yang dibutuhkan dalam pelaksanaan pekerjaan. Kondisi

dasar yang mempengaruhi perhitungan biaya pelaksanaan adalah :

1. Upah Tenaga Kerja

Upah tenaga kerja ini sesuai dengan ketentuan yang dikeluarkan oleh Mentri

Tenaga kerja dan departemen Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah

2. Harga Dasar Bahan Bangunan

Harga dasar bahan bangunan diambil dari harga daftar harga dasar bahan bangunan

di lokasi pekerjaan (Semarang)

3. Harga Penggunaan Alat Berat

Harga pengunaan alat berat ini diperhitungkan terhadap tiga komponen, yaitu biaya

sewa, biaya oprasional, dan biaya perawatan dengan dasar sesuai dasar ketentuan

mentri pekerjaan umum tentang penggunaan peralatan tahun 1991.

Dari ketiga kondisi diatas, besaran harga satuan upah dan bahan untuk perhitungan

rencana anggaran biaya pembangunan Gedung Perkantoran Lima Lantai Polda Jateng ini

didasarkan pada harga satuan upah dan bahan bangunan dilokasi pekerjaan yang ditetapkan

oleh Pemerintah.

Page 209: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

I PEKERJAAN PERSIAPAN 94.763.125,00Rp

II PEKERJAAN TANAH 19.424.947,20Rp

III PEKERJAAN PONDASI 2.031.542.892,80Rp

IV PEKERJAAN LANTAI 1 1.071.830.189,14Rp

V PEKERJAAN LANTAI 2 892.768.831,36Rp

VI PEKERJAAN LANTAI 3 907.480.756,54Rp

VII PEKERJAAN LANTAI 4 907.480.756,54Rp

VIII PEKERJAAN LANTAI 5 857.643.010,04Rp

IX PEKERJAAN ATAP 260.476.586,18Rp

JUMLAH 7.043.411.094,80Rp

PROFIT 10% 7.747.752.204,28Rp

PPN 10% 8.522.527.424,71Rp

DIBULATKAN 8.522.528.000,00Rp

TERBILANG : Delapan Milyar Lima Ratus Dua Puluh Dua Lima Ratus Dua Puluh Delapan

Ribu Rupiah

NO URAIAN PEKERJAAN JML HARGA (Rp)

REKAPITULASI RABPerencanaan Struktur Gedung Lima Lantai Kantor Polda Jateng

Page 210: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

I

1 Pembersihan lapangan m2 17.043.000,00Rp 0,242 0,242 100%

2 Perataan / pemadatan tanah m2 58.995.000,00Rp 0,838 0,419 0,419

3 Pagar keamanan m' 18.454.800,00Rp 0,262 0,262

4 Pemasangan papan nama ls 270.325,00Rp 0,004 0,004

II

1 Galian PC 1 m3 16.358.760,00Rp 0,232 0,077 0,077 0,077

2 Galian PC 2 m3 330.480,00Rp 0,005 0,005

3 Galian septic tank m3 860.625,00Rp 0,012 0,012 90%

4 Galian peresapan m3 516.375,00Rp 0,007 0,007

5 Timbunan PC 1 m3 1.230.292,80Rp 0,017 0,017

6 Timbunan PC 2 m3 24.854,40Rp 0,000 0,000

7 Septictank m3 64.725,00Rp 0,001 0,001

8 Timbunan Peresapan m3 38.835,00Rp 0,001 0,001

III

1 Pondasi tiang pancang Titik 1.266.000.000,00Rp 17,974 3,595 3,595 3,595 3,595 3,595

2 PC 1 m3 496.286.189,67Rp 7,046 2,349 2,349 2,349 80%

3 PC 2 m3 10.358.360,41Rp 0,147 0,147

4 Pekerjaan sloof (30/50) m3 258.898.342,73Rp 3,676 1,838 1,838

IV

1 Pekerjaan Pelat Lantai m3 454.598.488,06Rp 6,454 2,151 2,151 2,151

2 Pekerjaan Pelat Atap m3 10.331.053,36Rp 0,147 0,147

3 Pekerjaan Kolom K1a m3 274.749.725,80Rp 3,901 1,950 1,950

4 Pekerjaan Kolom K2 m3 15.111.953,75Rp 0,215 0,107 0,107 70%

5 Pekerjaan Balok B1 m3 24.554.494,68Rp 0,349 0,174 0,174

6 Pekerjaan Balok B2 m3 171.565.290,76Rp 2,436 1,218 1,218

7 Pekerjaan Balok B3 m3 58.967.665,10Rp 0,837 0,419 0,419

8 Pekerjaan Balok B4 m3 11.800.897,51Rp 0,168 0,084 0,084

9 Pekerjaan Balok B5 m3 29.852.837,51Rp 0,424 0,212 0,212

10 Pekerjaan Balok B6 m3 8.649.740,47Rp 0,123 0,061 0,061

11 Pekerjaan Tangga m3 9.918.094,06Rp 0,141 0,141

12 Pekerjaan Balok Bordes m3 1.729.948,09Rp 0,025 0,025

60%

V

1 Pekerjaan Pelat Lantai m3 403.106.749,93Rp 5,723 2,862 2,862

2 Pekerjaan Kolom K1b m3 181.781.136,65Rp 2,581 1,290 1,290

3 Pekerjaan Balok B1 m3 24.554.494,68Rp 0,349 0,174 0,174

4 Pekerjaan Balok B2 m3 171.565.290,76Rp 2,436 1,218 1,218

5 Pekerjaan Balok B3 m3 50.122.515,34Rp 0,712 0,356 0,356

6 Pekerjaan Balok B4 m3 11.800.897,51Rp 0,168 0,084 0,084

7 Pekerjaan Balok B5 m3 29.852.837,51Rp 0,424 0,212 0,212 50%

8 Pekerjaan Balok B6 m3 8.649.740,47Rp 0,123 0,061 0,061

9 Pekerjaan Tangga m3 9.605.220,43Rp 0,136 0,136

10 Pekerjaan Balok Bordes m3 1.729.948,09Rp 0,025 0,025

VI

1 Pekerjaan Pelat Lantai m3 417.818.675,11Rp 5,932 2,966 2,966

2 Pekerjaan Kolom K1b m3 181.781.136,65Rp 2,581 1,290 1,290

3 Pekerjaan Balok B1 m3 24.554.494,68Rp 0,349 0,174 0,174

4 Pekerjaan Balok B2 m3 171.565.290,76Rp 2,436 1,218 1,218 40%

5 Pekerjaan Balok B3 m3 50.122.515,34Rp 0,712 0,356 0,356

6 Pekerjaan Balok B4 m3 11.800.897,51Rp 0,168 0,084 0,084

7 Pekerjaan Balok B5 m3 29.852.837,51Rp 0,424 0,212 0,212

8 Pekerjaan Balok B6 m3 8.649.740,47Rp 0,123 0,061 0,061

9 Pekerjaan Tangga m3 9.605.220,43Rp 0,136 0,136

10 Pekerjaan Balok Bordes m3 1.729.948,09Rp 0,025 0,025

VII 30%

1 Pekerjaan Pelat Lantai m3 417.818.675,11Rp 5,932 2,966 2,966

2 Pekerjaan Kolom K1b m3 181.781.136,65Rp 2,581 1,290 1,290

3 Pekerjaan Balok B1 m3 24.554.494,68Rp 0,349 0,174 0,174

4 Pekerjaan Balok B2 m3 171.565.290,76Rp 2,436 1,218 1,218

5 Pekerjaan Balok B3 m3 50.122.515,34Rp 0,712 0,356 0,356

6 Pekerjaan Balok B4 m3 11.800.897,51Rp 0,168 0,084 0,084

7 Pekerjaan Balok B5 m3 29.852.837,51Rp 0,424 0,212 0,212

8 Pekerjaan Balok B6 m3 8.649.740,47Rp 0,123 0,061 0,061

9 Pekerjaan Tangga m3 9.605.220,43Rp 0,136 0,136 20%

10 Pekerjaan Balok Bordes m3 1.729.948,09Rp 0,025 0,025

0,000

VIII 0,000

1 Pekerjaan Pelat Lantai m3 417.818.675,11Rp 5,932 2,966 2,966

2 Pekerjaan Kolom K1b m3 181.781.136,65Rp 2,581 1,290 1,290

3 Pekerjaan Balok B1 m3 24.554.494,68Rp 0,349 0,174 0,174

4 Pekerjaan Balok B2 m3 171.565.290,76Rp 2,436 1,218 1,218

5 Pekerjaan Balok B3 m3 50.122.515,34Rp 0,712 0,356 0,356 10%

6 Pekerjaan Balok B4 m3 11.800.897,51Rp 0,168 0,084 0,084

IX

1 Pekerjaan Kolom Atap m3 25.968.733,81Rp 0,369 0,369

2 Pekerjaan Pelat Atap m3 145.667.852,38Rp 2,068 2,068

3 Pekerjaan Kuda Kuda Kd1 Unit 49.000.000,00Rp 0,696 0,348 0,348

4 Pekerjaan Kuda Kuda Kd2 Unit 12.000.000,00Rp 0,170 0,085 0,085

5 Pekerjaan Gording CNP 16 m' 27.840.000,00Rp 0,395 0,198 0,198 0%

JUMLAH 7043411095 100,00

Rencana Mingguan 0,661 0,685 3,595 3,672 6,021 6,045 7,948 8,925 8,524 8,513 8,654 8,538 6,362 6,362 6,523 3,122 1,993 2,437 0,792 0,631

Kumulatif Rencana Mingguan 0,661 1,345 4,940 8,613 14,634 20,679 28,626 37,552 46,076 54,589 63,243 71,780 78,142 84,503 91,026 94,148 96,141 98,578 99,369 100,000

PEKERJAAN LANTAI 4

PEKERJAAN LANTAI 5

PEKERJAAN ATAP

Time SchedulePerencanaan Struktur Gedung Lima Lantai Kantor Polda Jateng

BULAN 3 BULAN 4 BULAN 5

PEKERJAAN PERSIAPAN

PEKERJAAN TANAH

BOBOT (%)BULAN 1 BULAN 2

PEKERJAAN PONDASI

PEKERJAAN LANTAI 1

PEKERJAAN LANTAI 2

PEKERJAAN LANTAI 3

NO URAIAN PEKERJAAN SATUAN JML HARGA (Rp)

Page 211: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

I 94.763.125,00Rp

1 Pembersihan lapangan m2 1.748,00 9.750,00Rp 17.043.000,00Rp

2 Perataan / pemadatan tanah m2 1.748,00 33.750,00Rp 58.995.000,00Rp

3 Pagar keamanan m' 168,00 109.850,00Rp 18.454.800,00Rp

4 Pemasangan papan nama ls 1,00 270.325,00Rp 270.325,00Rp

II 19.424.947,20Rp

1 Galian PC 1 m3 285,12 57.375,00Rp 16.358.760,00Rp

2 Galian PC 2 m3 5,76 57.375,00Rp 330.480,00Rp

3 Galian septic tank m3 15,00 57.375,00Rp 860.625,00Rp

4 Galian peresapan m3 9,00 57.375,00Rp 516.375,00Rp

5 Timbunan PC 1 m3 95,04 12.945,00Rp 1.230.292,80Rp

6 Timbunan PC 2 m3 1,92 12.945,00Rp 24.854,40Rp

7 Septictank m3 5,00 12.945,00Rp 64.725,00Rp

8 Timbunan Peresapan m3 3,00 12.945,00Rp 38.835,00Rp

III 2.031.542.892,80Rp

1 Pondasi tiang pancang Titik 422,00 3.000.000,00Rp 1.266.000.000,00Rp

2 PC 1 m3 114,05 4.351.555,39Rp 496.286.189,67Rp

3 PC 2 m3 2,30 4.495.816,15Rp 10.358.360,41Rp

4 Pekerjaan sloof (30/50) m3 54,45 4.754.790,50Rp 258.898.342,73Rp

IV 1.071.830.189,14Rp

1 Pekerjaan Pelat Lantai m3 74,16 6.129.968,83Rp 454.598.488,06Rp

2 Pekerjaan Pelat Atap m3 1,60 6.456.908,35Rp 10.331.053,36Rp

3 Pekerjaan Kolom K1a m3 44,00 6.244.311,95Rp 274.749.725,80Rp

4 Pekerjaan Kolom K2 m3 1,44 10.494.412,33Rp 15.111.953,75Rp

5 Pekerjaan Balok B1 m3 5,09 4.823.686,68Rp 24.554.494,68Rp

6 Pekerjaan Balok B2 m3 30,75 5.579.359,05Rp 171.565.290,76Rp

7 Pekerjaan Balok B3 m3 8,00 7.370.958,14Rp 58.967.665,10Rp

8 Pekerjaan Balok B4 m3 1,62 7.284.504,64Rp 11.800.897,51Rp

9 Pekerjaan Balok B5 m3 5,25 5.686.254,76Rp 29.852.837,51Rp

10 Pekerjaan Balok B6 m3 1,20 7.208.117,06Rp 8.649.740,47Rp

11 Pekerjaan Tangga m3 3,17 3.128.736,30Rp 9.918.094,06Rp

12 Pekerjaan Balok Bordes m3 0,24 7.208.117,06Rp 1.729.948,09Rp

V 892.768.831,36Rp

1 Pekerjaan Pelat Lantai m3 65,76 6.129.968,83Rp 403.106.749,93Rp

2 Pekerjaan Kolom K1b m3 38,50 4.721.587,97Rp 181.781.136,65Rp

3 Pekerjaan Balok B1 m3 5,09 4.823.686,68Rp 24.554.494,68Rp

4 Pekerjaan Balok B2 m3 30,75 5.579.359,05Rp 171.565.290,76Rp

5 Pekerjaan Balok B3 m3 6,80 7.370.958,14Rp 50.122.515,34Rp

6 Pekerjaan Balok B4 m3 1,62 7.284.504,64Rp 11.800.897,51Rp

7 Pekerjaan Balok B5 m3 5,25 5.686.254,76Rp 29.852.837,51Rp

8 Pekerjaan Balok B6 m3 1,20 7.208.117,06Rp 8.649.740,47Rp

9 Pekerjaan Tangga m3 3,07 3.128.736,30Rp 9.605.220,43Rp

10 Pekerjaan Balok Bordes m3 0,24 7.208.117,06Rp 1.729.948,09Rp

VI 907.480.756,54Rp

1 Pekerjaan Pelat Lantai m3 68,16 6.129.968,83Rp 417.818.675,11Rp

2 Pekerjaan Kolom K1b m3 38,50 4.721.587,97Rp 181.781.136,65Rp

3 Pekerjaan Balok B1 m3 5,09 4.823.686,68Rp 24.554.494,68Rp

4 Pekerjaan Balok B2 m3 30,75 5.579.359,05Rp 171.565.290,76Rp

PEKERJAAN LANTAI 1

PEKERJAAN PONDASI

PEKERJAAN TANAH

PEKERJAAN PERSIAPAN

Rencana Anggaran Biaya

JML HARGA (Rp) JUMLAHHARGA SAT (Rp)

Perencanaan Struktur Gedung Lima Lantai Kantor Polda Jateng

NO URAIAN PEKERJAAN SATUAN VOLUME

PEKERJAAN LANTAI 3

PEKERJAAN LANTAI 2

Page 212: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

5 Pekerjaan Balok B3 m3 6,80 7.370.958,14Rp 50.122.515,34Rp

6 Pekerjaan Balok B4 m3 1,62 7.284.504,64Rp 11.800.897,51Rp

7 Pekerjaan Balok B5 m3 5,25 5.686.254,76Rp 29.852.837,51Rp

8 Pekerjaan Balok B6 m3 1,20 7.208.117,06Rp 8.649.740,47Rp

9 Pekerjaan Tangga m3 3,07 3.128.736,30Rp 9.605.220,43Rp

10 Pekerjaan Balok Bordes m3 0,24 7.208.117,06Rp 1.729.948,09Rp

VII 907.480.756,54Rp

1 Pekerjaan Pelat Lantai m3 68,16 6.129.968,83Rp 417.818.675,11Rp

2 Pekerjaan Kolom K1b m3 38,50 4.721.587,97Rp 181.781.136,65Rp

3 Pekerjaan Balok B1 m3 5,09 4.823.686,68Rp 24.554.494,68Rp

4 Pekerjaan Balok B2 m3 30,75 5.579.359,05Rp 171.565.290,76Rp

5 Pekerjaan Balok B3 m3 6,80 7.370.958,14Rp 50.122.515,34Rp

6 Pekerjaan Balok B4 m3 1,62 7.284.504,64Rp 11.800.897,51Rp

7 Pekerjaan Balok B5 m3 5,25 5.686.254,76Rp 29.852.837,51Rp

8 Pekerjaan Balok B6 m3 1,20 7.208.117,06Rp 8.649.740,47Rp

9 Pekerjaan Tangga m3 3,07 3.128.736,30Rp 9.605.220,43Rp

10 Pekerjaan Balok Bordes m3 0,24 7.208.117,06Rp 1.729.948,09Rp

VIII 857.643.010,04Rp

1 Pekerjaan Pelat Lantai m3 68,16 6.129.968,83Rp 417.818.675,11Rp

2 Pekerjaan Kolom K1b m3 38,50 4.721.587,97Rp 181.781.136,65Rp

3 Pekerjaan Balok B1 m3 5,09 4.823.686,68Rp 24.554.494,68Rp

4 Pekerjaan Balok B2 m3 30,75 5.579.359,05Rp 171.565.290,76Rp

5 Pekerjaan Balok B3 m3 6,80 7.370.958,14Rp 50.122.515,34Rp

6 Pekerjaan Balok B4 m3 1,62 7.284.504,64Rp 11.800.897,51Rp

IX 260.476.586,18Rp

1 Pekerjaan Kolom Atap m3 5,50 4.721.587,97Rp 25.968.733,81Rp

2 Pekerjaan Pelat Atap m3 22,56 6.456.908,35Rp 145.667.852,38Rp

3 Pekerjaan Kuda Kuda Kd1 Unit 7,00 7.000.000,00Rp 49.000.000,00Rp

4 Pekerjaan Kuda Kuda Kd2 Unit 4,00 3.000.000,00Rp 12.000.000,00Rp

5 Pekerjaan Gording CNP 16 m' 348,00 80.000,00Rp 27.840.000,00Rp

JUMLAH 7.043.411.094,80Rp

PEKERJAAN ATAP

PEKERJAAN LANTAI 5

PEKERJAAN LANTAI 4

Page 213: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

HARGA BAHAN JUMLAH

/ UPAH HARGA

Rp Rp

1 1 m³ PC1

Beton 1,000 m3 1.160.193,00Rp 1.160.193,00Rp

Begesting pilecap 2,222 m2 88.140,00Rp 195.847,08Rp

Besi 139,619 kg 21.455,00Rp 2.995.515,31Rp

4.351.555,39Rp

2 1 m³ PC2

Beton 1,000 m3 1.160.193,00Rp 1.160.193,00Rp

Begesting pilecap 5,000 m2 88.140,00Rp 440.700,00Rp

Besi 134,930 kg 21.455,00Rp 2.894.923,15Rp

4.495.816,15Rp

3 1 m³ Sloof 30 x 50

Beton 1,000 m3 1.160.193,00Rp 1.160.193,00Rp

Begesting Sloof 6,670 m2 88.140,00Rp 587.893,80Rp

Besi 140,140 kg 21.455,00Rp 3.006.703,70Rp

4.754.790,50Rp

4 1 m³ Kolom K1a

Beton 1,000 m3 1.107.525,00Rp 1.107.525,00Rp

Begesting Kolom 8,000 m2 161.265,00Rp 1.290.120,00Rp

Besi 179,290 kg 21.455,00Rp 3.846.666,95Rp

6.244.311,95Rp

5 1 m³ Kolom K1b

Beton 1,000 m3 1.107.525,00Rp 1.107.525,00Rp

Begesting Kolom 8,000 m2 39.492,00Rp 315.936,00Rp

Besi 153,723 kg 21.455,00Rp 3.298.126,97Rp

4.721.587,97Rp

6 1 m³ Kolom K2

Beton 1,000 m3 1.107.525,00Rp 1.107.525,00Rp

Begesting Kolom 13,333 m2 2.805,00Rp 37.399,07Rp

Besi 435,772 kg 21.455,00Rp 9.349.488,26Rp

10.494.412,33Rp

7 1 m³ Balok B1

Beton 1,000 m3 1.107.525,00Rp 1.107.525,00Rp

Begesting Balok 8,330 m2 169.047,00Rp 1.408.161,51Rp

Besi 107,574 kg 21.455,00Rp 2.308.000,17Rp

4.823.686,68Rp

8 1 m³ Balok B2

Beton 1,000 m3 1.107.525,00Rp 1.107.525,00Rp

Begesting Balok 8,667 m2 169.047,00Rp 1.465.130,35Rp

Besi 140,140 kg 21.455,00Rp 3.006.703,70Rp

5.579.359,05Rp

9 1 m³ Balok B3

ANALISA HARGA SATUAN BETON

No. URAIAN PEKERJAAN KOEF SAT.

Page 214: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

Beton 1,000 m3 1.107.525,00Rp 1.107.525,00Rp

Begesting Balok 10,500 m2 169.047,00Rp 1.774.993,50Rp

Besi 209,203 kg 21.455,00Rp 4.488.439,64Rp

7.370.958,14Rp

10 1 m³ Balok B4

Beton 1,000 m3 1.107.525,00Rp 1.107.525,00Rp

Begesting Balok 13,330 m2 169.047,00Rp 2.253.396,51Rp

Besi 182,875 kg 21.455,00Rp 3.923.583,13Rp

7.284.504,64Rp

11 1 m³ Balok B5

Beton 1,000 m3 1.107.525,00Rp 1.107.525,00Rp

Begesting Balok 10,857 m2 169.047,00Rp 1.835.343,28Rp

Besi 127,867 kg 21.455,00Rp 2.743.386,49Rp

5.686.254,76Rp

12 1 m³ Balok B6

Beton 1,000 m3 1.107.525,00Rp 1.107.525,00Rp

Begesting Balok 13,333 m2 169.047,00Rp 2.253.903,65Rp

Besi 179,291 kg 21.455,00Rp 3.846.688,41Rp

7.208.117,06Rp

12 1 m³ Balok Bordes

Beton 1,000 m3 1.107.525,00Rp 1.107.525,00Rp

Begesting Balok 13,333 m2 169.047,00Rp 2.253.903,65Rp

Besi 179,291 kg 21.455,00Rp 3.846.688,41Rp

7.208.117,06Rp

13 1 m³ Plat Lantai

Beton 1,000 m3 1.107.525,00Rp 1.107.525,00Rp

Begesting Pelat 8,330 m2 214.465,00Rp 1.786.493,45Rp

Besi 150,825 kg 21.455,00Rp 3.235.950,38Rp

6.129.968,83Rp

14 1 m³ Plat Atap

Beton 1,000 m3 1.107.525,00Rp 1.107.525,00Rp

Begesting Pelat 10,000 m2 214.465,00Rp 2.144.650,00Rp

Besi 149,370 kg 21.455,00Rp 3.204.733,35Rp

6.456.908,35Rp

15 1 m³ Tangga Lantai

Beton 1,000 m3 1.107.525,00Rp 1.107.525,00Rp

Begesting Pelat 6,309 m2 214.465,00Rp 1.353.059,69Rp

Besi 31,142 kg 21.455,00Rp 668.151,61Rp

3.128.736,30Rp

Page 215: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

Pekerjaan :

Lokasi :

Tahun :: 2017-2018

HARGA BAHAN JUMLAH

/ UPAH HARGA

Rp Rp

I PEKERJAAN PERSIAPAN

1 1 m² Membersihkan lapangan dan perataan

Tenaga

Pekerja 0,1 Oh 60.000,00Rp 6.000,00Rp

Mandor 0,05 Oh 75.000,00Rp 3.750,00Rp

Jumlah 9.750,00Rp

2 1 m² Perataan atau Pemadatan Tanah

Tenaga

Pekerja 0,5 Oh 60.000,00Rp 30.000,00Rp

Mandor 0,05 Oh 75.000,00Rp 3.750,00Rp

Jumlah 33.750,00Rp

3 1 m' Pagar Keamanan

Bahan

Kayu Dolken diameter 8-10 /400m 1,25 Btg

Portland Semen 2,5 Kg 1.272,00Rp 3.180,00Rp

Seng Gelombang 3"-5" 1,2 Lbr 29.000,00Rp 34.800,00Rp

Pasir Beton 0,005 m3 258.000,00Rp 1.290,00Rp

Koral Beton 0,009 m3 126.000,00Rp 1.134,00Rp

Kayu 5/7x4m Kayu Kruing 0,072 m3 13.000,00Rp 936,00Rp

Paku Biasa 2"-5" 0,06 Kg 16.000,00Rp 960,00Rp

Meni Besi 0,45 Kg 45.000,00Rp 20.250,00Rp

Tenaga

Tukang Kayu 0,4 OH 80.000,00Rp 32.000,00Rp

Pekerja 0,2 OH 60.000,00Rp 12.000,00Rp

Kepala Tukang 0,02 OH 90.000,00Rp 1.800,00Rp

Mandor 0,02 OH 75.000,00Rp 1.500,00Rp

Jumlah 109.850,00Rp

4 1 Unit Pemasangan papan nama Ls 270.325,00Rp

II PEKERJAAN TANAH

1 1 m³ Galian tanah biasa sedalam 2 meter

Tenaga

Pekerja 0,9 OH 60.000,00Rp 54.000,00Rp

Mandor 0,045 OH 75.000,00Rp 3.375,00Rp

Jumlah 57.375,00Rp

2 1 m³ Urugan kembali

Tenaga

Pekerja 0,192 OH 60.000,00Rp 11.520,00Rp

Mandor 0,019 OH 75.000,00Rp 1.425,00Rp

Jumlah 12.945,00Rp

DAFTAR ANALISA PEKERJAAN

URAIAN PEKERJAANNo. KOEF SAT.

: Pembangunan Gedung Lima Lantai Kantor Polda Jateng

: Jl. Imam Bonjol, Semarang

Page 216: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

III PEKERJAAN STRUKTUR BETON

1 1 M³ Beton Fc 30 MPa

Bahan

Beton Ready Mix Fc 30 1,05 M³ 940.500,00Rp 987.525,00Rp

Alat Bantu 1 Ls 60.000,00Rp 60.000,00Rp

Tenaga

Pekerja 1 Oh 60.000,00Rp 60.000,00Rp

Jumlah 1.107.525,00Rp

1 1 M³ Beton Fc 35 MPa

Bahan

Beton Ready Mix Fc 35 1,05 M³ 990.660,00Rp 1.040.193,00Rp

Alat Bantu 1 Ls 60.000,00Rp 60.000,00Rp

Tenaga

Pekerja 1 Oh 60.000,00Rp 60.000,00Rp

Jumlah 1.160.193,00Rp

1 1 Titik Tiang pancang Square Pile 25cm x 25 cm Sedalam 20 mLs 3.000.000,00Rp

2 1 Kg Pembesian dengan Besi polos

Bahan

Besi beton polos 1,05 Kg 9.900,00Rp 10.395,00Rp

Kawat beton 0,015 Kg 22.000,00Rp 330,00Rp

Tenaga

Pekerja 0,07 Oh 60.000,00Rp 4.200,00Rp

Tukang besi 0,07 Oh 80.000,00Rp 5.600,00Rp

Kepala tukang 0,007 Oh 90.000,00Rp 630,00Rp

Mandor 0,004 Oh 75.000,00Rp 300,00Rp

Jumlah 21.455,00Rp

3 1 M² Pasang bekisting untuk sloof & pile cap

Bahan

Kayu sembarang 0,045 M³ 550.000,00Rp 24.750,00Rp

Paku biasa 2' - 5" 0,3 Kg 16.000,00Rp 4.800,00Rp

Minyak bekisting 0,1 Lt 23.000,00Rp 2.300,00Rp

Tenaga

Pekerja 0,52 Oh 60.000,00Rp 31.200,00Rp

Tukang kayu 0,26 Oh 80.000,00Rp 20.800,00Rp

Kepala tukang 0,026 Oh 90.000,00Rp 2.340,00Rp

Mandor 0,026 Oh 75.000,00Rp 1.950,00Rp

Jumlah 88.140,00Rp

4 1 M² Pasang bekisting untuk kolom

Bahan

Kayu sembarang 0,04 M³ 550.000,00Rp 22.000,00Rp

Paku biasa 2' - 5" 0,4 Kg 16.000,00Rp 6.400,00Rp

Minyak bekisting 0,2 Lt 23.000,00Rp 4.600,00Rp

Balok kayu sembarang 0,015 M³ 2.194.000,00Rp 32.910,00Rp

Plywood 0,35 Lbr 62.000,00Rp 21.700,00Rp

Kayu dolken/Laut Ø 3"-4"/4 m 2 Btg 13.000,00Rp 26.000,00Rp

Tenaga

Pekerja 0,3 Oh 60.000,00Rp 18.000,00Rp

Tukang batu 0,33 Oh 80.000,00Rp 26.400,00Rp

Kepala tukang 0,033 Oh 85.000,00Rp 2.805,00Rp

Mandor 0,006 Oh 75.000,00Rp 450,00Rp

Jumlah 161.265,00Rp

Page 217: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

5 1 M² Pasang bekisting untuk balok

Kayu sembarang 0,04 M³ 550.000,00Rp 22.000,00Rp

Paku biasa 2' - 5" 0,4 Kg 16.000,00Rp 6.400,00Rp

Minyak bekisting 0,2 Lt 23.000,00Rp 4.600,00Rp

Balok kayu sembarang 0,018 M³ 2.194.000,00Rp 39.492,00Rp

Plywood 0,35 Lbr 62.000,00Rp 21.700,00Rp

Kayu dolken/Laut Ø 3"-4"/4 m 2 Btg 13.000,00Rp 26.000,00Rp

Tenaga

Pekerja 0,32 Oh 60.000,00Rp 19.200,00Rp

Tukang batu 0,33 Oh 80.000,00Rp 26.400,00Rp

Kepala tukang 0,033 Oh 85.000,00Rp 2.805,00Rp

Mandor 0,006 Oh 75.000,00Rp 450,00Rp

Jumlah 169.047,00Rp

6 1 M² Pasang bekisting untuk plat lantai

Kayu sembarang 0,04 M³ 550.000,00Rp 22.000,00Rp

Paku biasa 2' - 5" 0,4 Kg 16.000,00Rp 6.400,00Rp

Minyak bekisting 0,2 Lt 23.000,00Rp 4.600,00Rp

Kayu sembarang 0,015 M³ 2.194.000,00Rp 32.910,00Rp

Plywood 0,35 Lbr 62.000,00Rp 21.700,00Rp

Minyak bekisting 6 Btg 13.000,00Rp 78.000,00Rp

Tenaga

Pekerja 0,32 Oh 60.000,00Rp 19.200,00Rp

Tukang batu 0,33 Oh 80.000,00Rp 26.400,00Rp

Kepala tukang 0,033 Oh 85.000,00Rp 2.805,00Rp

Mandor 0,006 Oh 75.000,00Rp 450,00Rp

Jumlah 214.465,00Rp

7 1 M² Pasang bekisting untuk tangga

Bahan

Kayu sembarang 0,03 M³ 550.000,00Rp 16.500,00Rp

Paku biasa 2' - 5" 0,4 Kg 16.000,00Rp 6.400,00Rp

Minyak bekisting 0,15 Lt 23.000,00Rp 3.450,00Rp

Kayu sembarang 0,015 M³ 2.194.000,00Rp 32.910,00Rp

Plywood 0,35 Lbr 62.000,00Rp 21.700,00Rp

Minyak bekisting 2 Btg 13.000,00Rp 26.000,00Rp

Tenaga -Rp

Pekerja 0,32 Oh 60.000,00Rp 19.200,00Rp

Tukang batu 0,33 Oh 80.000,00Rp 26.400,00Rp

Kepala tukang 0,033 Oh 85.000,00Rp 2.805,00Rp

Mandor 0,006 Oh 75.000,00Rp 450,00Rp

Jumlah 155.815,00Rp

IV PEKERJAAN STRUKTUR BAJA

1 1 Unit Kuda - kuda Tipe 1 Ls 7.000.000,00Rp

2 1 Unit Kuda - kuda Tipe 2 Ls 3.000.000,00Rp

3 1 m' Gording CNP 16 Ls 80.000,00Rp

Page 218: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

1 Pekerja OH 60.000,00Rp

2 Mandor OH 75.000,00Rp

3 tukang listrik OH 80.000,00Rp

4 tukang kayu OH 80.000,00Rp

5 kepala tukang kayu OH 90.000,00Rp

6 tukang batu OH 80.000,00Rp

7 kep. Tukang batu OH 85.000,00Rp

8 tukang besi OH 80.000,00Rp

9 kep. Tukang besi OH 90.000,00Rp

10 tukang cat OH 80.000,00Rp

11 kep. Tukang cat OH 85.000,00Rp

12 tukang plitur OH 80.000,00Rp

13 tukang gali OH 60.000,00Rp

14 tukang ledeng OH 80.000,00Rp

1 Pasir pasang M3 258.000,00

2 Pasir beton M3 276.000,00

3 Koral beton M3 126.000,00

4 Paku biasa 2" - 5" Kg 16.000,00

5 Batu Belah/Kali 15-20cm Kg 144.000,00

6 Kayu papan 3/20 M3 1.760.000,00

7 Kayu Albasia M3 550.000,00

8 Kayu 5-7 M3 13.000,00

9 Besi Strip Kg 9.900,00

10 Semen Portland Kg 1.272,00

11 Bata merah Bh 450,00

12 Seng plat M' 29.000,00

13 Pintu Jendela Aluminium Bh 64.000,00

14 Kaca polos 3 mm M2 60.000,00

15 Kunci 2 slaag royal Bh 39.000,00

16 Plywood 4 mm Lbr 62.000,00

17 Kayu Dolken 5-7 Btg 13.000,00

18 Seng gelombang bjls 20 - 7" Lbr 29.000,00

19 Pasir urug M³ 210.000,00

20 Besi beton polos Kg 9.900,00

21 Kawat beton Kg 22.000,00

22 Kayu sembarang M³ 550.000,00

23 Minyak bekisting Lt 23.000,00

24 Balok kayu Rasamala M³ 2.194.000,00

25 Plywood Lbr 242.000,00

DAFTAR UPAH PEKERJA

NO JENIS PEKERJA SATUAN HARGA

DAFTAR HARGA BAHAN

NO JENIS BAHAN SATUAN HARGA

Page 219: BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Repository USM

26 Kayu dolken 5-7 Btg 13.000,00

27 Bata merah Bakar Kelas II Bh 450,00

28 Bondbeam 40 x 20 x 20 cm Bh 36.000,00

29 kayu borneo super M³ 3.850.000,00

30 Lem kayu Kg 36.000,00

31 Teakwood 4' x 8' x 4 mm Lbr 75.000,00

32 Besi profil WF Kg 13.200,00

33 Meni besi Kg 45.000,00

34 Seng plat 3' x 6' bjls 35 Lbr 29.900,00

35 Paku biasa ½" - 1" atau skrup Kg 16.000,00

36 kayu borneo super M³ 3.850.000,00

37 Flincote / meni besi Kg 45.000,00

38 Atap genteng beton Bh 54.000,00

39 Paku biasa 2" - 5" Kg 16.000,00

40 Nok atap genteng beton Bh 7.200,00

41 Semen warna Kg 6.000,00

42 Gypsum board (120 x 240 x 9) mm Lbr 62.000,00

43 Paku sekrup Kg 14.000,00

44 Atap genteng beton natural Bh 54.000,00

45 Nok atap genteng beton Bh 7.200,00

46 Kayu dolken/Laut Ø 3"-4"/4 m btg 13000

47 Beton Ready Mix Fc 30 M³ 940.500,00

48 Beton Ready Mix Fc 35 M³ 990.660,00