bab i pendahuluan 1.1 latar belakang masalah melindungi berbagai macam satwa-satwa langka yang ada...

Download BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah melindungi berbagai macam satwa-satwa langka yang ada di…

Post on 10-Mar-2019

214 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan sumber daya alam,

baik hayati maupun non hayati. Sumber daya alam hayati Indonesia dan

ekosistemnya mempunyai kedudukan dan peranan penting bagi kehidupan manusia

khususnya bagi penduduk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sumber daya alam

hayati Indonesia dan ekosistemnya yang mempunyai kedudukan serta peranan

penting bagi kehidupan adalah karunia Tuhan Yang Maha Esa, oleh karena itu perlu

dikelola dan dimanfaatkan secara lestari, selaras, serasi dan seimbang bagi

kesejahteraan masyarakat Indonesia pada khususnya dan umat manusia pada

umumnya, baik masa kini maupun masa depan sejalan dengan Pasal 33 ayat (3)

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 bahwa bumi dan air dan

kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan

untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Permasalahan lingkungan hidup yang kini menjadi permasalahan dunia tidak

terlepas dari adanya pengelolaan terhadap lingkungan hidup yang tidak terkontrol

dengan baik. Dampak negatif yang muncul dalam pengelolaan lingkungan hidup

tidak terlepas dari hakekat pembangunan yang secara sadar melakukan pemanfaatan

sumber daya alam untuk dapat mencapai tujuan pembangunan. Mengingat akan

dampak negatif tersebut, berbagai usaha dilakukan Pemerintah Indonesia sebagai

penanggung jawab utama dalam pengelolaan lingkungan hidup di Indonesia agar

2

tercipta lingkungan hidup yang baik dan sehat. Dengan melindungi berbagai macam

satwa-satwa langka yang ada di Indonesia.

Indonesia memiliki kekayaan satwa yang beragam. Sederet rekor dan catatan

kekayaan dimiliki oleh negeri ini. Namun Indonesia juga merupakan salah satu

penyumbang kepunahan satwa di dunia. Hal ini disebabkan karena masih banyaknya

perburuan-perburuan liar dan perdagangan ilegal yang dilakukan di Indonesia. Makin

lama, semakin panjang daftar jenis satwa Indonesia yang masuk dalam kategori

terancam kepunahan. Salah satu satwa yang terancam punah di Indonesia adalah

penyu. Penyu adalah salah satu satwa langka peninggalan dari zaman purba yang

dilindungi oleh Pemerintah Indonesia. Kehidupan penyu saat ini mulai terancam

punah akibat gangguan-gangguan oleh manusia, predator, lingkungan maupun penyu

itu sendiri. Penyu merupakan satwa langka yang bukan hanya milik negara tertentu

saja, akan tetapi menjadi milik dunia sehingga semua bangsa di dunia

berkepentingan untuk menjaga kelestariannya.

Penyu merupakan hewan langka yang dilindungi oleh Pemerintah Indonesia

tentu saja memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi, sehingga terjadi perdagangan

dan penyelundupan penyu yang terjadi di perairan Indonesia. Penyelundupan satwa

penyu merupakan tindak pidana yang sangat kompleks, di mana tindak pidana ini

melibatkan banyak pihak mulai dari pemburu sampai dengan eksportir. Oleh karena

itu, sangat penting bagi Indonesia memiliki pengaturan yang tegas mengatur hal-hal

yang berkaitan dengan penyelundupan penyu. Sebagai negara kepulauan dengan

kondisi geografis wilayah perairan yang luas, Indonesia menempati posisi yang

3

rentan terhadap berbagai bentuk penyelundupan, termasuk salah satunya

penyelundupan satwa penyu.

Negara-negara di dunia membentuk suatu perjanjaian yang dinamakan CITES

(Convention on International Trade in Endangered Species) adalah suatu Perjanjian

Internasional antar pemerintah (Negara Anggota) yang ditandatangani di

Washington, D.C., pada tanggal 3 Maret 1973.1 Selanjutnya diubah di Bonn, Jerman

Barat, pada tanggal 22 Juni 1979, yang kemudian diratifikasi dengan Keputusan

Pemerintah No. 43 Tahun 1978. Tujuan dari CITES itu sendiri adalah untuk

memastikan bahwa perdagangan internasional jenis satwa dan tumbuhan liar (atau

bagian dan produk olahannya yakni produk yang terbuat dari bagiannya) tidak

mengancam kelestariannya. CITES merupakan perjanjian yang memuat tiga lampiran

(appendix) yang terdiri dari :

a. Appendix I yang memuat daftar dan melindungi seluruh spesies

tumbuhan dan satwa liar yang terancam dari segala bentuk perdagangan

internasional secara komersial,

b. Appendix II yang memuat daftar dari spesies yang tidak terancam

kepunahan, tetapi mungkin akan terancam punah apabila perdagangan

terus berlanjut tanpa adanya pengaturan,

c. Appendix III yang memuat daftar spesies tumbuhan dan satwa liar yang

telah dilindungi di suatu negara tertentu dalam batas-batas kawasan

habitatnya, dan memberikan pilihan (option) bagi negara-negara anggota

1 Chairul Saleh dkk. 2005, Peraturan Perundang-Undangan Penanganan Kasus PeredaranIlegal Tumbuhan dan Satwa Liar, WWF for living planet. Jakarta, h. 8.

4

CITES bila suatu saat akan dipertimbangkan untuk dimasukkan ke

Appendix II, bahkan mungkin ke Appendix I.2

Penyu secara Internasional telah dimasukkan dalam Appendix 1 CITES, hal

ini berarti bahwa penyu telah dinyatakan sebagai satwa yang terancam punah dan

tidak dapat diperdagangkan dalam bentuk apapun.3

Setelah diratifikasinya CITES, pemerintah Indonesia mengambil langkah

bertahap untuk melindungi penyu laut. Langkah awal pemerintah dalam memberikan

perlindungan terhadap satwa penyu dimulai dari Tahun 1978 melalui Keputusan

Menteri Pertanian No. 237/Kpts/Um/5/1978, tanggal 29 Mei Tahun 1978, tentang

Penetapan Jenis-jenis Binatang Liar Yang Dilindungi dan memberikan status

terlindungi untuk jenis penyu belimbing (Dermochelys coriacea). Tahun 1980

melalui Keputusan Menteri Pertanian No. 716/Kpts/-10/1980, tanggal 4 Oktober

Tahun 1980 tentang Penetapan Jenis-jenis Binatang Liar Yang Dilindungi,

memberikan status terlindungi untuk jenis penyu lekang (Lepidochelys olivacea) dan

penyu tempayan (Caretta-caretta). Tahun 1990 melalui Undang-undang No. 5 Tahun

1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, Larangan

terhadap segala bentuk eksploitasi terhadap Satwa yang dilindungi. Tahun 1996

melalui Keputusan Menteri Kehutanan No. 882/Kpts/2/1996, tentang Penetapan

Jenis-jenis Binatang Liar Yang Dilindungi, memberikan status terlindungi untuk

jenis Penyu Pipih (Natatordepressa). Tahun 1996 melalui Keputusan Menteri

Kehutanan No. 771/Kpts/2/1996, tentang Penetapan Jenis-jenis Binatang Liar Yang

2http://www.dephut.go.id/INFORMASI/SETJEN/PUSSTAN/INFO_III01/IV_III01.htm,(diakses tanggal 26 Oktober 2015).

3 Chairul Saleh dkk. Op. Cit., h. 10.

5

Dilindungi, memberikan status terlindungi untuk jenis penyu sisik (Eretmochelys

imbricata). Tahun 1999 melalui Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 7

Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa dan Peraturan

Pemerintah Republik Indonesia No. 8 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan Jenis

Tumbuhan dan Satwa, Perlindungan terhadap semua jenis penyu di Indonesia,

termasuk penyu hijau.

Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya

Alam Hayati dan Ekosistemnya (selanjutnya disebut Undang-undang KSDAHE)

merupakan payung hukum untuk memberi perlindungan terhadap berbagai jenis

tumbuhan dan satwa, salah satunya adalah penyu. Larangan terhadap segala aktivitas

pemanfaatan satwa-satwa yang dilindungi, sudah sangatlah jelas diatur sebagaimana

ketentuan dalam Undang-undang KSDAHE, Pasal 21 ayat (2) yang berbunyi :

Setiap orang dilarang untuk :

a. menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara,mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaanhidup;

b. menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakansatwa yang dilindungi dalam keadaan mati;

c. mengeluarkan satwa yang dilindungi dari suatu tempat di indonesia ketempat lain didalam atau diluar Indonesia;

d. memperniagakan, menyimpan atau memiliki kulit, tubuh atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat daribagian-bagian satwa tersebut atau mengeluarkannya dari suatu tempat diIndonesia ke tempat lain didalam atau di luar Indonesia;

e. mengambil, merusak, memusnahkan, memperniagakan, menyimpan ataumemiliki telur dan/ atau sarang satwa yang dilindungi.

Ketentuan dari larangan-larangan di atas, diikuti pula dengan sanksi-sanksi

dari tindak pidana perdagangan satwa dilindungi. Sebagaimana juga diatur dalam

Undangundang KSDAHE Pasal 40 menyatakan :

6

1. barang siapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuansebagaimana dimaksud dalam Pasal19 ayat (1) dan Pasal33 ayat (1)dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dandenda paling banyak Rp. 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).

2. barang siapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuansebagaimana dimaksud dalam Pasal21 ayat (1) dan ayat (2) serta Pasal33ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dandenda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

3. barang siapa karena kelalaiannya melakukan pelanggaran terhadapketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal19 ayat (1) dan Pasal33ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dandenda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

4. barang siapa karena kelalaiannya melakukan pelanggaran terhadapketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) dan ay