bab i morbili

36
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Morbili dalam sejarah anak telah dikenal sebagai pembunuh terbesar, meskipun adanya vaksin telah dikembangkan lebih dari 30 tahun yang lalu, virus campak ini menyerang 50 juta orang setiap tahun dan menyebabkan lebih dari 1 juta kematian. Insiden terbanyak berhubungan dengan morbiditas dan mortalitas penyakit campak yaitu pada negara berkembang, meskipun masih mengenai beberapa negara maju seperti Amerika Serikat 1 . Program pencegahan dan pemberantasan campak di Indonesia pada saat ini berada pada tahap reduksi dengan pengendalian dan pencegahan KLB (Kejadian Luar Biasa). Hasil pemeriksaan sampel darah dan urin penderita campak pada saat KLB menunjukkan IgM positif sekitar 70-100 persen. Insiden rate semua kelompok umur dari laporan rutin Puskesmas dan Rumah Sakit selama tahun 1992-1998 cenderung menurun, terutama terjadi penurunan yang tajam pada semua kelompok umur. Tahun 1997-1999 kejadian campak dari hasil penyelidikan KLB cenderung meningkat, kemungkinan hal ini terjadi berkaitan dengan dampak krisis pangan dan gizi, namum masih perlu dikaji secara mendalam dan komprehensive. 1

Upload: sigit-arya-danu-ii

Post on 27-Oct-2015

101 views

Category:

Documents


5 download

DESCRIPTION

kasus

TRANSCRIPT

Page 1: Bab i Morbili

BAB IPENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Morbili dalam sejarah anak telah dikenal sebagai pembunuh terbesar,

meskipun adanya vaksin telah dikembangkan lebih dari 30 tahun yang lalu, virus

campak ini menyerang 50 juta orang setiap tahun dan menyebabkan lebih dari 1 juta

kematian. Insiden terbanyak berhubungan dengan morbiditas dan mortalitas

penyakit campak yaitu pada negara berkembang, meskipun masih mengenai

beberapa negara maju seperti Amerika Serikat1.

Program pencegahan dan pemberantasan campak di Indonesia pada saat ini

berada pada tahap reduksi dengan pengendalian dan pencegahan KLB (Kejadian

Luar Biasa). Hasil pemeriksaan sampel darah dan urin penderita campak pada saat

KLB menunjukkan IgM positif sekitar 70-100 persen. Insiden rate semua kelompok

umur dari laporan rutin Puskesmas dan Rumah Sakit selama tahun 1992-1998

cenderung menurun, terutama terjadi penurunan yang tajam pada semua kelompok

umur. Tahun 1997-1999 kejadian campak dari hasil penyelidikan KLB cenderung

meningkat, kemungkinan hal ini terjadi berkaitan dengan dampak krisis pangan dan

gizi, namum masih perlu dikaji secara mendalam dan komprehensive.

Sidang WHA (World Health Assembly) tahun 1998, menetapkan

kesepakatan global untuk membasmi polio atau Eradikasi Polio (Rapo), Eliminasi

Tetanus Neonatorum (ETN) dan Reduksi Campak (RECAM) pada tahun 2000.

Beberapa negara seperti Amerika, Australia dan beberapa negara lainnya telah

memasuki tahap eliminasi campak. Pada sidang CDC/PAHO/WHO tahun 1996

menyimpulkan bahwa campak dimungkinkan untuk dieradikasi, karena satu-satunya

pejamu (host) atau reservoir campak hanya pada manusia dan adanya vaksin dengan

potensi yang cukup tinggi dengan efikasi vaksin 85 persen. Diperkirakan eradikasi

akan dapat dicapai 10-15 tahun setelah eliminasi.

1

Page 2: Bab i Morbili

B. Ruang Lingkup Masalah

Mengingat luasnya permasalahan maka penulis membatasi masalah yaitu

“bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan Morbili”.

C. Tujuan Penulisan

1. Tujuan Umum

Diharapkan mahasiswa mampu melaksanakan asuhan keperawatan pada anak

dengan Penyakit morbili.

2. Tujuan Khusus

a. Diharapkan mahasiswa mampu memahami konsep dasar morbili.

b. Diharapkan mahasiswa mampu melaksanakan pengakjian pada anak dengan

penyakit morbili

c. Diharapkan mahasiswa mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada

anak dengan penyakit morbili

d. Diharapkan mahasiswa mampu menyusun rencana tindakan keperawatan

pada anak dengan penyakit morbili.

e. Diharapkan mahasiswa mampu melaksanakan tindakan keperawatan pada

anak dengan penyakit morbili.

f. Diharapkan mahasiswa mampu melaksanakan evaluasi pada anak

dengan penyakit jantung morbili.

D. Metode Penulisan

Didalam pembuatan makalah ini, penulis menggunakan metode deskripsi.

1. Tekhnik penulisan.

a. Metode perpustakaan

Yaitu diambil dari buku Keperawatan Anak.

a. Metode IT

Yaitu menggunakan media internet.

2

Page 3: Bab i Morbili

E. SISTEMATIKA PENULISAN

Adapun sistematika penulisan Makalah Asuhan Keperawatan ini terdiri dari

4 bab, yang mana dari perbab dan isi dalam bab tersebut diuraikan sebagai berikut:

BAB I : PENDAHULUAN

Bab yang memberikan gambaran awal dari Makalah Asuhan Keperawatan yang

berisikan: latar belakang, ruang lingkup masalah, tujuan, metode penulisan,

sistematika penulisan

BAB II : ISI MAKALAH

Bab yang berisi tentang isi dari makalah yang terdiri dari Definisi Morbili, Anatomi

dan Fisiologi, Etiologi, Manifestasi Klinis, Pemeriksaan Penunjang,

Penatalaksanaan Medik dan Penatalaksanaan Keperawatan.

BAB III : ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN MORBILI

Konsep dasar keperawatan: Yang menjadikan dasar pedoman untuk kasus dan

meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi, implementasi, evaluasi.

BAB IV : PENUTUP

Bab yang berisi tentang kesimpulan dan saran.

3

Page 4: Bab i Morbili

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. Pengertian

Morbili adalah penyakit virus akut, menular yang ditandai dengan 3 stadium,

yaitu stadium prodormal ( kataral ), stadium erupsi dan stadium konvalisensi, yang

dimanifestasikan dengan demam, konjungtivitis dan bercak koplik ( Ilmu

Kesehatann Anak Edisi 2, th 1991. FKUI ).

Morbili adalah penyakit anak menular yang lazim biasanya ditandai dengan

gejala-gejala utama ringan, ruam serupa dengan campak ringan atau demam, scarlet,

pembesaran serta nyeri limpa nadi ( Ilmu Kesehatan)

Morbili ialah penyakit infeksi virus akut, menular yang ditandai dengan 3

stadium yaitu : stadium inkubasi, stadium prodromal dan stadium erupsi

(Rampengan, 1997: 90). Campak adalah organisme yang sangat menular ditularkan

melalui rute udara dari seseorang yang terinfeksi pada orang lain yang rentan

(Smeltzer, 2001:2443). Morbili ialah penyakit infeksi virus akut, menular yang

ditandai dengan 3 stadium, yaitu : a. stadium kataral, b. stadium erupsi dan

stadirum konvelensi. (Rusepno, 2002:624)

Morbili ialah penyakit infeksi virus akut, menular yang ditandai dengan 3

stadium, yaitu (1) stadium kataral, (2) stadium erupsi dan (3) stadirum konvelensi.

(Ngastiyah, 1997:351). Campak, measles atau rubeola adalah penyakit virus akut

yang disebabkan oleh virus campak. (Hardjiono, 2004:95)

Campak adalah demam eksantematosa akut oleh virus yang menular ditandai

oleh gejala prodromal yang khas, ruam kulit dan bercak koplik. (Ovedoff, 1995:451)

. Morbili adlah penyakit infeksi virus akut yang ditandai oleh tiga stadium yaitu

stadium kataral, stadium erupsi, dan stadium konvalensi (Suriadi, 2001:211)

4

Page 5: Bab i Morbili

B. Anatomi dan Fisiologi

Pernafasan (respirasi) merupakan peristiwa menghirup udara dari luar yang

mengandung O2 (oksigen ) kedalam tubuh serta menghembuskan CO2

(karbondioksida) sebagai sisa dari oksidasi keluar dari tubuh. Adapun guna

pernafasan banyak sekali diantaranya : Mengambil O2 yang kemudian dibawa

keseluruh tubuh untuk mengadakan pembakaran, mengeluarkan CO2 sebagai sisa

dari pembakaran karena tidak digunakan lagi oleh tubuh dan menghangatkan dan

melembabkan udara. ( Syaifuddin. 2006 )

Sistem respirasi terdiri dari:

1. Saluran nafas bagian atas

Pada bagian ini udara yang masuk ke tubuh dihangatkan, disarung dan

dilembabkan.

2. Saluran nafas bagian bawah

Bagian ini menghantarkan udara yang masuk dari saluran bagian atas ke alveoli.

Saluran Nafas Bagian Atas

a. Rongga hidung

Hidung terdiri dari hidung luar dan cavum nasi di belakang hidung luar.

Hidung luar terdiri dari tulang rawan dan os nasal di bagian atas, tertutup pada

5

Page 6: Bab i Morbili

bagian luar dengan kulit dan bagian dalam dengan membran mukosa.

Merupakan saluran udara yang pertama, yang terdiri dari 2 kavum nasi,

dipisahkan oleh septum nasi. Didalamnya terdapat bulu-bulu yang berguna

untuk menyaring udara, debu dan kotoran. Bagian luar terdiri dari kulit, lapisan

tegah terdiri dari otot-otot dan tulang rawan. Dasar dari rongga hidung dibentuk

oleh tulang rahang atas, keatas rongga hidung berhubungan dengan sinus para

nasalis. Adapun fungsi dari nasal ini sebagai saluran udara pernafasan,

penyaring udara pernafasan yang dilakukan bulu-bulu hidung, dapat

menghangatkan udara oleh mukosa serta membunuh kuman yang masuk

bersamaan dengan udara pernafasan oleh leucosit yang terdapat dalam selaput

lendir ( mukosa) atau hidung.

b. Faring

Merupakan tempat persimpangan antara jalan nafas dan pencernaan.

Terdapat dibawah dasar tengkorak, dibelakang rongga hidung dan mulut sebelah

depan vertebra cervicalis. Keatas berhubungan dengan rongga hidung dengan

perantaraan lubang (Koana) kedepan berhubungan dengan rongga mulut.

Rongga faring terdiri atas 3 bagian, yaitu :

Nasofaring (terdapat pharyngeal tonsil dan Tuba Eustachius).

Orofaring (merupakan pertemuan rongga mulut dengan faring, terdapat

pangkal lidah).

Laringofaring (terjadi persilangan antara aliran udara dan aliran

makanan).Bagian anterior menuju laring, bagian posterior menuju

esophagus.Saluran Nafas Bagian Bawah

a.  LaringLaring merupakan lanjutan dari pharing yang terletak didepan

6

Page 7: Bab i Morbili

esophagus. Bentuknya seperti kotak segi tiga dengan sebelah samping

mendatar dan didepan menonjol. Laring ini dibentuk oleh tulang rawan yang

dihubungkan oleh jaringan ikat, pada laring terdapat selaput pita

suara.Trakhea

Trachea merupakan lanjutan dari laring, dibentuk oleh cincin tulang

rawan yang berbentuk huruf C. Diantara tulang rawan dihubungkan oleh

jaringan ikat dan otot polos yang panjangnya 11,2 cm, lebarnya ± 2cm. Mulai

dari bawah laring segitiga vetebra tirakalis lima dan akan bercabang menjadi

bronchus kiri dan kanan. Trachea juga dilapisi oleh selaput lendir ( mukosa )

yang mempunyai epitel torak yang berbulu getar. Permukaan mukosa ini selalu

basa oleh karena adanya kelenjar mukosa. Trachea berfungsi untuk menyaring

debu-debu yang halus dari udara pernafasan.

b. Bronchus

Bronchus merupakan cabang trachea sehingga vetebra thorakalis lima

yaitu terdiri dari bronchus kiri dan brochus kanan. Bronchus ini dibentuk oleh

cincin tulang rawan yang ukurannya lebih kecil dari trachea yang dilapisi oleh

selaput lendir. Perbedaan bronchus kiri dan bronchus kanan adalah : bronchus

kiri lebih kecil, horizontal dan lebih panjang sedangkan brochus kanan lebih

besar, vertikal dan lebih pendek.

c. Bronchiolus

7

Page 8: Bab i Morbili

Bronchiolus merupakan cabang dari bronchus yang mana struktur sama

dengan brochus hanya saja ukuran dan letaknya berbeda. Bronchiolus suda

memasuki lobus paru-paru sedangkan bronchus masih diluar paru-paru.

Bronchiolus akan bercabang lagi menjadi Bronchiolus terminalis yang

struktunya sama dengan Bronchiolus dan letaknya lebih dalam di jaringan paru-

paru. Diujungnya baru terdapat rongga udara yaitu alveolus dan dinding dari

alveolus merupakan jaringan paru-paru.

d. Paru – paru ( pulmo )

Paru-paru ( pulmo ) terletak dalam rongga dada yang terdiri dari paru kiri

dan kanan, diantara paru kiri dan kanan terdapat jantung, Pembuluh darah besar

trachea bronchus dan esophagus. Disebelah depan, dibelakang dan lateral Paru-

paru berkontak dengan dinding dada, sebelah bawah berkontak dengan

diafragma dan sebelah medial adalah tempat masuk bronchus kiri, kanan dan

tempat masuk pembuluh darah arteri dan vena pulmonalis. Bentuk dari paru ini

seperti kubah ( segitiga ) yang puncaknya disebut apek pulmonum dan alasnya

disebut basis pulmonal.

Jaringan paru-paru ini bersifat elastis sehingga dapat mengembang dan

mengempis pada waktu bernafas. Didalam paru-paru terdapat kantong-kantong

udara ( alviolus ), alviolus ini mempunyai dinding yang tipis sekali dan pada

dindingnya terdapat kapiler –kapiler pembuluh darah yang halus sekali dimana

terjadi difusi oksigen dan CO2. Jumlah alviolus ini ± 700 juta banyaknya

dengan diameter 100 micron. Luasnya permukaan dari seluruh membran

respirasi ini kalau direntang adalah 90 m2 atau ± 100 kali luas tubuh, akan tetapi

hanya 70 m2 yang dipergunakan untuk pernafasan selebihnya tidak

mengembang.( Sylvia A,1995 ).

Setiap paru-paru dilapisi oleh membran serosa rangkap dua yaitu pleura.

Selaput ini merupakan jaringan ikat yang terdiri dari dua lapisan yaitu pleura

viseral yang langsung melengket pada dinding paru-paru, masuk kedalam fisura

dan memisahkan lobus satu dengan yang lainnya, membran ini kemudian dilipat

kembali sebelah tampuk paru-paru dan membentuk pleura parietalis dan

melapisi bagian dalam diding dada. Pleura yang melapisi iga-iga adalah pleura

kostalis, bagian yang menutupi diafragmatika dan bagian yang terletak di leher

8

Page 9: Bab i Morbili

adalah peleura servicalis. Pleura ini diperkuat oleh membran oleh membran yang

kuat yang disebut dengan membran supra renalis ( fasia gison ) dan diatas

membran ini terletak arteri subklavia.

Diantara kedua lapiasan pleura ini terdapat eksudat untuk melicinkan

permukaannya dan menghindari gesekan antara paru-paru dan dan dinding dada

sewaktu bernafas. Dalam keadaan normal kedua lapisan ini satu dengan yang

lain erat bersentuhan. Ruang atau rongga pleura itu itu hanyalah ruang yang

tidak nyata, tetapi dalam keadaan tidak normal udara atau cairan akan

memisahkan kedua pleura dan ruangan diantaranya akan menjadi lebih jelas.

Pernafasan paru-paru merupakan pertukaran oksigen dengan karbon

dioksida yang terjadi pada paru-paru. Adapu tujuan pernafasan adalah

memenuhi kebutuhan jaringan terhadap oksigen dan mengelurkan sisa

pembakaran berupa karbondioksida dari jaringan. Pernafasan menyangkut dua

proses :

1. Pernafasan luar ( eksternal ) adalah : Absorbsi O2 dari luar masuk kedalam

paru-paru dan pembungan CO2 dari paru-paru keluar.

2. Pernafasan dalam ( internal ) ialah : Proses transport O2 dari paru-paru ke

jaringan dan transport CO2 dari jaringan ke paru-paru.

Pernafasan melalui paru-paru ( ekternal ), oksigen diambil melalui mulut

dan hidung pada saat pernafasan dimana oksingen masuk melalui trachea sampai

ke alvioli berhubungan dengan darah dalam kapiler pulmonar. Alvioli

memisahkan oksigen dari darah, Oksigen menembus membran diambil oleh sel

darah merah dibawah ke jantung dan dari jantung dipompakan keseluruh tubuh.

Sementara itu karbondioksida sebagai sisa metabolisme dalam tubuh akan

dipisahkan dari pembuluh darah yang telah mengumpulkan karbondioksida itu

dari seluruh tubuh kedalam saluran nafas.(Sylvia A,1995).

Kapasitas paru-paru. Merupakan kesanggupan paru-paru dalam

menampung udara didalamnya. Kapasitas paru-paru dapat dibedakan sebagai

berikut :

1. Kapasitas total. Yaitu jumlah udara yang dapat mengisi paru-paru pada

inspirasi sedalam-dalamnya. Dalam hal ini angka yang kita dapat tergantung

pada beberapa hal: Kondisi paru-paru, umur, sikap dan bentuk seseorang,

9

Page 10: Bab i Morbili

2. Kapasitas vital. Yaitu jumlah udara yang dapat dikeluarkan setelah ekspirasi

maksimal Dalam keadaan yang normal kedua paru-paru dapat menampung

udara sebanyak ± 5 liter.

Waktu ekspirasi, di dalam paru-paru masih tertinggal 3 liter udara. Pada

waktu kita bernapas biasa udara yang masuk ke dalam paru-paru 2.600 cm3 (2

1/2 liter), Jumlah pernapasan. Dalam keadaan yang normal: Orang dewasa: 16-

18 x/menit, Anak-anak kira-kira : 24x/menit, Bayi kira-kira : 30 x/menit, Dalam

keadaan tertentu keadaan tersebut akan berubah, misalnya akibat dari suatu

penyakit, pernafasan bisa bertambah cepat dan sebaliknya.

C. Etiologi

Penyebabnya adalah virus morbili yang terdapat dalam sekret nasofaring dan

darah sealma masa prodormal sampai 24 jam setelah timbul bercak-bercak. Virus ini

berupa virus RNA yang termasuk famili Paramiksoviridae, genus Morbilivirus.

a. Penyebab penyakit ini adalah sejenis virus yang tergolong dalam famili

paramyxovirus yaitu genus virus morbili. Virus ini sangat sensitif terhadap

panas dan dingin, dan dapat diinaktifkan pada suhu 30oC dan -20oC, sinar

matahari, eter, tripsin, dan beta propiolakton. Sedang formalin dapat

memusnahkan daya infeksinya tetapi tidak mengganggu aktivitas komplemen.

(Rampengan, 1997 : 90-91)

b. Penyebab morbili adalah virus morbili yang terdapat dalam sekret

nasofaring dan darah selama masa prodromal sampai 24 jam setelah timbul

bercak-bercak, cara penularan dengan droplet dan kontak (Ngastiyah, 1997:351)

c. Campak adalah suatu virus RNA, yang termasuk famili

Paramiksoviridae, genus Morbilivirus. Dikenal hanya 1 tipe antigen saja; yang

strukturnya mirip dengan virus penyebab parotitis epidemis dan parainfluenza.

Virus tersebut ditemukan di dalam sekresi nasofaring, darah dan air kemih,

paling tidak selama periode prodromal dan untuk waktu singkat setelah

munculnya ruam kulit. Pada suhu ruangan, virus tersebut dapat tetap aktif

selama 34 jam. (Nelson, 1992 : 198)

10

Page 11: Bab i Morbili

d. Metode penyebaran sekresi nasopharingeal. (Smeltzer, 1992:1895)

e. Virus morbili terdapat dalam serkret nasofaring dan darah selama

stadium kataral sampai 24 jam setelah timbul bercak di kulit. (Mansjoer,

200:417)

f. Penyakit campak disebabkan oleh morbili ditularkan melalui secret

pernafasan atau udara.

g. Timbulnya wabah morbilli dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti

lingkungan pendidikan, ekonomi, pengasuhan anak dan poling dominan adalah

faktor persepsi.

h. Campak ditularkan oleh percikan lidah. Virus campak menyerang dan

memperbanyak diri diselaput lendir saluran pernafasan bagian atas, masuk ke

peredaran darah dan menyebar keseluruh tubuh. Penyakit campak tidak ada

obatnya tapi akan sembuh sendiri, kekebalan tubuh dapat menaklukkan penyakit

campak.

i. Penyakit campak bisa ringan tapi bisa berat dan juga menimbulkan

kecacatan atau kematian yaitu virus morbili berat ringannya tergantung

imunnya. Khususnya imun yang bisa didapat imunisasi morbili dan tergantung

pada keadaan ekonomi, gizi kurang. (www.geocities.com)

j. Biasanya campak menyerang anak-anak yang berusia kurang dari 10

tahun, tetapi orang-orang yang belum pernah terkena penyakit ini dapat juga

diserang berapapun juga usianya. (Wahyudi, 2000 : 106)

D. Patofisiologi

Penularan terjadi secara droplet dan kontak virus ini melalui saluran

pernafasan dan masuk ke system retikulo endothelial, berklembang biak dan

selanjutnya menyebar ke seluruh tubuh. Hal tersebut akan menimbulkan gejala pada

saluran pernafasan, saluran cerna, konjungtiva dan disusul dengan gejala patoknomi

berupa bercak koplik dan ruam kulit. Antibodi yang terbentuk berperan dalam

timbulnya ruam pada kulit dan netralisasi virus dalam sirkulasi. Mekanisme

imunologi seluler juga ikut berperan dalam eliminasi virus.

11

Page 12: Bab i Morbili

PATHWAY

12

Virus Morbili

Droplet/kontak

Sekret nasofaring dan darah

Eksudat serous Proliferasi sel mononukleus

Peningkatan polimorfeneukleus di

seketar kapiler

MK: Gangguan rasa aman dan nyaman

Page 13: Bab i Morbili

E. Manisfestasi Klinis

Masa tunas/inkubasi penyakit berlangsung kurang lebih dari 10-20 hari dan

kemidian timbul gejala-gejala yang dibagi dalam 3 stadium.

1. Stadium kataral (prodormal)

Stadium prodormal berlangsung selama 4-5 hari ditandai oleh demam ringa

hingga sedang, batuk kering ringan, coryza, fotofobia dan konjungtivitis. Menjelang

akhir stadium kataral dan 24 jam sebelum timbul enantema, timbul bercak koplik

yang patognomonik bagi morbili, tetapi sangat jarang dijumpai. Bercak koplik

berwarna putih kelabu, sebesar ujung jarum dan dikelilingi oleh eritema.

Lokalisasinya dimukosa bukalis berhadapandengan molar dibawah, tetapi dapat

menyebar tidak teratur mengenai seluruh permukaan pipi. Meski jarang, mereka

dapat pula ditemukan pada bagian tengah bibir bawah, langit-langit dan karankula

lakrimalis. Bercak tersebut muncul dan menghilang dengan cepat dalam waktu 12-

18 jam. Kadang-kadang stadium prodormal bersifat berat karena diiringi demam

13

Stadium kataris (proudromal) 4-5 hari -Panas-Lemah-Batuk-Konjungtivitis-Ruam selaput lendir-Bercak koplit

Stadium erupsi-Batuk meningkat-Ruam selaput lendir-bercak koplik

Stadium konvalensi(penyembuhan)- Erupsi

berkurang

Page 14: Bab i Morbili

tinggi mendadak disertai kejang-kejang dan pneumoni. Gambaran darah tepi ialah

limfositosis dan leukopenia.

2. Stadium erupsi

Coryza dan batuk-batuk bertambah. Timbul enantema / titik merah

dipalatum durum dan palatum mole. Terjadinya eritema yang berbentuk makula

papula disertai dengan menaiknya suhu tubuh. Eritema timbul dibelakang telinga

dibagian atas lateral tengkuk, sepanjang rambut dan bagian belakang bawah.

Kadang-kadang terdapat perdarahan primer pada kulit. Rasa gatal, muka bengkak.

Terdapat pembesaran kelenjar getah bening disudut mandibula dan didaerah leher

belakang. Juga terdapat sedikit splenomegali, tidak jarang disertai diare dan muntah.

Variasi dari morbili yang biasa ini adalah “Black Measles” yaitu morbili yang

disertai perdarahan pada kulit, mulut, hidung dan traktus digestivus.

3. Stadium konvalesensi

Erupsi berkurang meninggalkan bekas yang berwarna lebih tua (hiperpigmentasi)

yang bisa hilang sendiri. Selain hiperpigmentasi pada anak Indonesia sering

ditemukan pula kulit yang bersisik. Hiperpigmentasi ini merupakan gejala

patognomonik untuk morbili. Pada penyakit-penyakit lain dengan eritema atau

eksantema ruam kulit menghilang tanpa hiperpigmentasi. Suhu menurun sampai

menjadi normal kecuali bila ada komplikasi.

F. Komplikasi

Pada penyakit campak terdapat resistensi umum yang menurun sehingga

dapat terjadi alergi (uji tuberkulin yang semula positif berubah menjadi negatif).

Keadaan ini menyebabkan mudahnya terjadi komplikasi sekunder seperti:

1. Bronkopnemonia

14

Page 15: Bab i Morbili

Bronkopneumonia dapat disebabkan oleh virus campak atau oleh

pneumococcus, streptococcus, staphylococcus. Bronkopneumonia ini dapat

menyebabkan kematian bayi yang masih muda, anak dengan malnutrisi energi

protein, penderita penyakit menahun seperti tuberkulosis, leukemia dan lain-lain.

Oleh karena itu pada keadaan tertentu perlu dilakukan pencegahan.

2. Komplikasi neurologis

Kompilkasi neurologis pada morbili seperti hemiplegi, paraplegi, afasia,

gangguan mental, neuritis optica dan ensefalitis.

3. Encephalitis morbili akut

Encephalitis morbili akut ini timbul pada stadium eksantem, angka

kematian rendah. Angka kejadian ensefalitis setelah infeksi morbili ialah 1:1000

kasus, sedangkan ensefalitis setelah vaksinasi dengan virus morbili hidup adalah

1,16 tiap 1.000.000 dosis.

4. SSPE (Subacute Scleroting panencephalitis)

SSPE yaitu suatu penyakit degenerasi yang jarang dari susunan saraf pusat.

Ditandai oleh gejala yang terjadi secara tiba-tiba seperti kekacauan mental,

disfungsi motorik, kejang, dan koma. Perjalan klinis lambat, biasanya meninggal

dalam 6 bulan sampai 3 tahun setelah timbul gejala spontan. Meskipun

demikian, remisi spontan masih dapat terjadi. Biasanya terjadi pada anak yang

menderita morbili sebelum usia 2 tahun. SSPE timbul setelah 7 tahun terkena

morbili, sedang SSPE setelah vaksinasi morbili terjadi 3 tahun kemudian.

Penyebab SSPE tidak jelas tetapi ada bukti-bukti bahwa virus morbilli

memegang peranan dalam patogenesisnya. Anak menderita penyakit campak

sebelum umur 2 tahun, sedangkan SSPE bisa timbul sampai 7 tahun kemudian

SSPE yang terjadi setelah vaksinasi campak didapatkan kira-kira 3 tahun

kemudian. Kemungkinan menderita SSPE setelah vaksinasi morbili adalah 0,5-

1,1 tiap 10.000.000, sedangkan setelah infeksi campak sebesar 5,2-9,7 tiap

10.000.000.

15

Page 16: Bab i Morbili

5. Immunosuppresive measles encephalopathy

Didapatkan pada anak dengan morbili yang sedang menderita defisiensi

imunologik karena keganasan atau karena pemakaian obat-obatan

imunosupresif.

G. Penatalaksanaan a. Medis

Pengobatan simptomatik dengan antipiretika bila suhu tinggi, sedativum, obat batuk

dan memperbaiki keadaan umum. Tindakan lain ialah pengobatan segera terhadap

komplikasi yang timbul.

b. Keperawatan

1. Kebutuhan nutrisi

a. Mengusahakan cairan masuk lebih banyak dengan memberikan banyak

minum

b. Pemberian saat buah-buahan atau buah yang banyak mengandung air

seperti jeruk atau lainnya yang anak sukai.

c. Susu dibuat agak encer dan jangan terlalu manis, berikan dalam keadaan

hangat, bila perlu ditawarkan apakah mau campur sirop atau coklat.

d. Berikan makanan lunak misalnya bubur pakai kuah, sup, dan lain-lain,

usahakan sedikit tapi sering.

e. Berikan makan TKTP jika suhu turun dan nafsu makan mulai timbul.

2. Gangguan suhu tubuh

a. Beri obat penurun panas atau antibiotik bila tidak juga turun sebelum

enantem atau eksantem (campaknya keluar).

b. Beri obat penurun suhu tubuh dengan obat antipiretikum dan jika tinggi

sekali juga diberikan sedativa untuk mencegah terjadinya kejang.

16

Page 17: Bab i Morbili

3. Gangguan rasa aman dan nyaman

a. Beri bedak salisil 1% untuk mengurangi rasa gatal.

b. Usahakan agar anak tidak tidur di bawah lampu karena silau.

c. Selama demam tinggi jangan dimandikan tetapi sering-sering di bedak saja.

d. Di lap muka, tangan, dan kaki.

e. Jika suhu turun untuk mengulangi rasa gatal dapat dimandikan dengan PK

1/1000 atau air hangat saja dan jangan terlalu lama. Dapat juga dengan

phisohex atau bethadine.

4. Risiko terjadi komplikasi

a. Diubah sikap baringnya beberapa kali sehari dan berikan bantal untuk

meninggikan kepala. Dudukkan anak pada waktu minum atau dipangku.

b. Jangan membaringkan pasien di depan jendela atau membawa pasien ke luar

rumah selama masih demam (bila anak terkena angin, batuk akan menjadi

lebih parah).

5. Kurangnya pengetahuan orang tua mengenai penyakit

a. Penyuluhan pemberian gizi yang baik bagi anak agar mereka tidak mendapat

infeksi dan tidak akan mudah timbul komplikasi yang berat. (Ngastiyah,

1997: 356-357)

Pencegahan

Anak-anak seharusnya diberikan vaksin campak pada umur 15 bulan, jika

tidak divaksinasi, anak akan terkena campak, gamma globulin diberikan

setelah kejadian dapat meminimalkan atau mencegah penyakit ini.

(Thomson,1995:884).

H. Pemeriksaan Penunjang

a. Pemeriksaan darah tepi hanya ditemukan adanya leukopeni.

17

Page 18: Bab i Morbili

b. Dalam sputum, sekresi nasal, sediment urine dapat ditemukan adanya

multinucleated giant sel yang khas.

c. Pada pemeriksaan serologi dengan cara hemaglutination inhibition test dan

complement fiksatior test akan ditemukan adanya antibody yang spesifik dalam

1 – 3 hari setelah timbulnya ras dan mencapai puncaknya pada 2 – 4 minggu

kemudian.

I. Pencegahan

1. Imunisasi aktif.

Imunisasi campak awal dapat diberikan pada usia 12-15 bulan tetapi

mungkin diberikan lebih awal pada daerah dimana penyakit terjadi (endemik).

Imunisasi aktif dilakukan dengan menggunakan strain Schwarz dan Moraten.

Vaksin tersebut diberikan secara subcutan dan menyebabkan imunitas yang

berlangsung lama. Dianjurkan untuk memberikan vaksin morbili tersebut pada

anak berumur 10 – 15 bulan karena sebelum umur 10 bulan diperkirakan anak

tidak dapat membentuk antibodi secara baik karena masih ada antibodi dari ibu.

Akan tetapi dianjurkan pula agar anak yang tinggal di daerah endemis morbili dan

terdapat banyak tuberkulosis diberikan vansinasi pada umur 6 bulan dan

revaksinasi pada umur 15 bulan. Di Indonesia saat ini masih dianjurkan

memberikan vaksin morbili pada anak berumur 9 bulan ke atas.

Vaksin morbili tersebut dapat diberikan pada orang yang alergi terhadap

telur. Hanya saja pemberian vaksin sebaiknya ditunda sampai 2 minggu sembuh.

Vaksin ini juga dapat diberikan pada penderita tuberkulosis aktif yang sedang

mendapat tuberkulosita. Akan tetapi vaksin ini tidak boleh diberikan pada wanita

18

Page 19: Bab i Morbili

hamil, anak dengan tuberkulosis yang tidak diobati, penderita leukemia dan anak

yang sedang mendapat pengobatan imunosupresif.

2. Imunisasi pasif.

Imunisasi pasif dengan kumpulan serum orang dewasa, kumpulan serum

konvalesens, globulin plasenta atau gamma globulin kumpulan plasma adalah

efektif untuk pencegahan dan pelemahan campak. Campak dapat dicegah

dengan menggunakan imunoglobulin serum dengan dosis 0,25 mL/kg diberikan

secara intramuskuler dalam 5 hari sesudah pemajanan tetapi lebih baik sesegera

mungkin. Proteksi sempurna terindikasi untuk bayi, anak dengan penyakit kronis

dan untuk kontak dibangsal rumah sakit anak.

3. Isolasi

Penderita rentan menghindari kontak dengan seseorang yang terkena

penyakit campak dalam kurun waktu 20-30 hari, demikian pula bagi penderita

campak untuk diisolasi selama 20-30 hari guna menghindari penularan

lingkungan sekitar.

19

Page 20: Bab i Morbili

BAB III

KONSEP DASAR KEPERAWATAN

A. Pengkajian

1. Pengkajian Data Dasar

a) Biodata

Terdiri dari biodata pasien dan biodata penanggung jawab.

b) Proses keperawatan

a. Keluhan utama

Keluhan utama pada pasien dengan morbili yaitu demam terus-menerus

berlangsung 2 – 4 hari. (Pusponegoro, 2004 : 96)

b. Riwayat keperawatan sekarang

20

Page 21: Bab i Morbili

Anamnesa adanya demam terus-menerus berlangsung 2 – 4 hari, batuk,

pilek, nyeri menelan, mata merah, silau bila kena cahaya (fotofobia), diare,

ruam kulit. (Pusponegoro, 2004 : 96)

Adanya nafsu makan menurun, lemah, lesu. (Suriadi, 2001 : 213)

c. Riwayat keperawatan dahulu

Anamnesa pada pengkajian apakah klien pernah dirawat di Rumah Sakit

atau pernah mengalami operasi (Potter, 2005 : 185). Anamnesa riwayat

penyakit yang pernah diderita pada masa lalu, riwayat imunisasi campak

(Wong, 2003 : 657). Anamnesa riwayat kontak dengan orang yang

terinfeksi campak. (Suriadi, 2001 : 213)

d. Riwayat Keluarga

Dapatkan data tentang hubungan kekeluargaan dan hubungan darah,

apakah klien beresiko terhadap penyakit yang bersifat genetik atau

familial. (Potter, 2005 : 185)

e. Pola pengkajian fungsional menurut Gordon

Alasan penulis menggunakan pola pengkajian fungsional menurut Gordon

adalah bahwa pola fungsional Gordon ini mempunyai aplikasi luas untuk

para perawat dengan latar belakang praktek yang beragam model pola

fungsional kesehatan terbentuk dari hubungan antara klien dan lingkungan

dan dapat digunakan untuk perseorangan, keluarga, dan komunitas. Setiap

pola merupakan suatu rangkaian perilaku yang membantu perawat

mengumpulkan, mengorganisasikan dan memilah-milah data. (Potter, 1996

: 15)

Pola-pola fungsional kesehatan Gordon

21

Page 22: Bab i Morbili

1) Persepsi kesehatan – pola managemen kesehatan, menggambarkan pola

pemahaman klien tentang kesehatan, dan kesejahteraan, dan bagaimana

kesehatan mereka diatur.

2) Pola metabolik – Nutrisi, menggambarkan konsumsi relatif terhadap

kebutuhan metabolik dan suplai gizi, meliputi pola konsumsi makanan

dan cairan, keadaan kulit, rambut, kuku, dan membran mukosa, suhu

tubuh, tinggi, dan berat badan.

3) Pola eliminasi, menggambarkan pola fungsi ekskresi (usus besar,

kandung kemih, dan kulit); termasuk pola individu sehari-hari,

perubahan atau gangguan, dan metode yang digunakan untuk

mengendalikan ekskresi.

4) Pola aktivitas – olahraga, menggambarkan pola olahraga, aktivitas,

pengisian waktu senggang, dan rekreasi, termasuk aktivitas kehidupan

sehari-hari, tipe dan kualitas olah raga, dan faktor-faktor yang

mempengaruhi pola aktivitas (seperti otot – saraf, respirasi, dan

sirkulasi).

5) Pola tidur – istirahat, menggambarkan pola persepsi-sensori dan pola

kognitif; meliputi keadekuatan bentuk sensori (penglihatan,

pendengaran, perabaan, pengecapan, dan penghidu), pelaporan

mengenai persepsi nyeri, dan kemampuan fungsi kognitif.

6) Pola persepsi – kognitif, menggambarkan pola persepsi sensori dan

pola kognitif; meliputi keadekuatan bentuk sensori (penglihatan,

pendengaran, perabaan, pengecapan, dan penghidu), pelaporan

mengenai persepsi nyeri, dan kemampuan fungsi kognitif.

7) Pola persepsi diri – konsep diri, menggambarkan bagaimana seseorang

memandang dirinya sendiri; kemampuan mereka, gambaran diri, dan

perasaan.

22

Page 23: Bab i Morbili

8) Pola hubungan peran, menggambarkan pola keterikatan peran dengan

hubungan; meliputi persepsi terhadap peran utama dan tanggung jawab

dalam situasi kehidupan saat ini.

9) Pola reproduksi – seksualitas, menggambarkan kepuasan atau

ketidakpuasan dalam seksualitas : termasuk status reproduksi wanita.

10) Pola koping – toleransi stres, menggambarkan pola koping umum dan

keefektifan keterampilan koping dalam mentoleransi stres.

11) Pola nilai – kepercayaan, menggambarkan pola nilai, tujuan atau

kepercayaan (termasuk kepercayaan spiritual) yang mengarahkan

pilihan dan keputusan gaya hidup. (Potter, 1996 : 16)

2. Pemeriksaan Fisik :

1) Mata : terdapat konjungtivitis, fotophobia.

2) Kepala : sakit kepala.

3) Hidung : Banyak terdapat secret, influenza, rhinitis/koriza, perdarahan

hidung (pada stad eripsi ).

4) Mulut & bibir : Mukosa bibir kering, stomatitis, batuk, mulut terasa pahit.

5) Kulit : Permukaan kulit ( kering ), turgor kulit, rasa gatal, ruam makuler

pada leher, muka, lengan dan kaki (pada stad. Konvalensi), evitema, panas

(demam).

6) Pernafasan : Pola nafas, RR, batuk, sesak nafas, wheezing, renchi, sputum

7) Tumbuh Kembang : BB, TB, BB Lahir, Tumbuh kembang R/ imunisasi.

Pola Defekasi : BAK, BAB, Diare.

9) Status Nutrisi : intake – output makanan, nafsu makanan.

23

Page 24: Bab i Morbili

3. Keadaan Umum : Kesadaran, TTV

B. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa yang mungkin muncul pada pasien Morbili adalah

1. Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan

dengan anoreksia.

2. Ganguan peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan infeksi virus.

3. Gangguan rasa aman dan nyaman berhubungan dengan adanya demam, tidak

enak bedan, pusing, mulut terasa pahit, kadang-kadang muntah dan gatal.

4. Resiko terjadi komplikasi berhubungan dengan daya tahan tubuh yang

menurun.

5. Kurangnya pengetahuan orang tua tentang penyakit.

24